Green Bowl Bali nigel tadyanehondo unsplash

Green Bowl, nama pantai di Bali yang semakin sering didengar namun masih jarang disambangi wisatawan. Terutama bagi mereka yang tak terlalu menggemari berselancar atau surfing. Dan, ini yang mungkin menjadi alasan utamanya, untuk mecapainya orang harus menuruni 330 anak tangga. Wow!

Green Bowl Bali

Untuk masyarakat umum, pantai ini sudah punya sebutan lain. Sepuluh atau 20 tahun lalu mungkin orang menyebut pantai ini dengan sebutan pantai Bali Cliff. Ini karena di atas tebing pantai ada hotel berbintang bernama Bali Cliff. Namun, sesungguhnya masyarakat setempat menyebut pantai ini sebagai pantai Ungasan, karena lokasinya di daerah Pura Batu Pageh, Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Bagi penikmat Bali, dan pernah berkunjung ke pantai Pandawa, suasana Green Bowl mirip dengannya. Baik pasir, gelombang, dan pemandangannya. Ini karena keduanya memang berada dalam satu deretan garis pantai Kuta Selatan. Hanya saja, bibir pantai Green Bowl tidak sepanjang Pandawa yang ada di timurnya.

Perubahan nama Bali Cliff atau Ungasan menjadi Green Bowl, yang dalam bahasa Indonesia berarti mangkok hijau, muncul omongan mulut ke mulut para peselancar. Mereka bercerita, di saat air laut surut, karang-karang yang melengkung dan ditumbuhi lumut hijau akan terbentuk menyerupai mangkok. Jika orang mulai menuruni tebing, pemandangan pantai menyerupai mangkok berwarna hijau.

Meski tak jauh dari pantai Pandawa, Green Bowl tidak seramai pantai-pantai lain di Bali. Kebanyakan para peselancar yang memburu lokasi ini karena menyuguhkan ombak yang tinggi dan menantang.  “Ramainya pengunjung di pantai tergantung ombak, kalau ombak lagi jelek, ya sepi,” ujar Wayan, seorang pemilik warung di area pantai ini.

Suasana pantai sebagai surga peselancar mulai kelihatan jika kita berkendara dari Jimbaran, iring-iringan wisatawan asing bersepeda motor. Ciri khasnya: di salah satu sisinya terlihat mereka membawa papan selancar. Wajah mereka menunjukkan kegembiraan.

Tujuan mereka jelas, pantai berpasir putih dengan air yang bergradasi warna biru muda, biru, hingga biru kehijauan. Letaknya di balik tebing yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon. Pantai Green Bowl. Pantai yang tidak dicapai dengan mudah. Untuk sebagian orang, jalur ke pantai ini bisa membuat putus asa. Bagaimana tidak, ada 330 anak tangga yang harus dituruni sebelum menjejak di pasir putihnya.

Pantai Green Bowl nigel tadyanehondo unsplash

Tapi jangan khawatir. Jika penasaran ingin melihat pantai ini, ada atraksi penghilang rasa bosan saat menuruni anak tangga. Wisatawan bisa sambil mencermati tingkah lucu monyet-monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon lain di kanan-kiri tangga.

Turun 300-an anak tunggu pasti melelahkan, tapi rasa capai itu akan terbayar begitu melihat air laut nan biru, berpadu pasir putih, tebing, dan pepohonan. Wisatawan, jika pun tak ingin berselancar, bisa berjemur atau rebahan di pasir dengan tenang karena pengunjung pantai ini masih minim.

Mengingat omongan Wayan di atas, dan masih jarangnya pengetahuan tentang pantai ini, biasanya para peselancar mencari tahu terlebih dulu sebelum menuju pantai ini. Informasi bahakan sudah diulik sebelum terbang ke Bali. Ini menghindari kekecewaan seandainya tiba di lokasi pada musim dan kondisi yang kurang pas. Begitupun banyak peselancar yang terus datang ke Green Bowl karena ombak di pantai ini tergolong stabil. “Green Bowl jadi salah satu favorit peselancar yang datang ke Bali karena gulungan ombaknya stabil,” ujar Wayan.

Selain berselancar, beberapa wisatawan memilih berjemur dan bermain  air di pinggir pantai. Ada beberapa gua yang bisa dijadikan tempat berteduh kala terik mentari menguat. Beberapa gua yang terjadi karena proses alam menambah eksotisme pantai ini. Di sebuah gua terlihat jejak-jejak upacara umat Hindu.

Garis Pantai Green Bowl tergolong pendek karena dibatasi jajaran karang besar dan tebing yang menjulang tinggi. Kontur alam tersebut menambah gaung nama pantai sebagai salah satu pantai tersembunyi.

Lokasinya di Jalan Raya Bali Cliff, Kuta Selatan, untuk mencapainya masih jarang kendaraan umum dengan rute ke tempat ini. Karenanya, umumnya pengunjung harus menyewa kendaraan roda dua atau empat meski sebenarnya lokasinya cukup mudah. Dari arah Kuta, pengunjung menuju arah Garuda Wisnu Kencana. Tidak jauh akan ditemukan perempatan, wisatawan bisa mengambil belokan ke kiri.

Sebelum turun tebing menuju pantai, ada area parkir yang cukup luas dan warung-warung permanen. Terdapat fasilitas kamar kecil dan kamar mandi untuk membilas tubuh setelah berselancar atau bermain di pantai. Di area parkir ini, seperti biasa, wisatawan akan dikerubungi para pedagang asongan, umumnya ibu-ibu penjual aksesori dan kerajinan tangan. Ada juga yang menawarkan jasa pijat. Nah, yang terakhir ini penting, setelah naik turun 600-an anak tangga, pijat kaki pastilah menyenangkan.

F. Rosana/Dok. TL/nigel tadyanehondo-unsplash

Yuk bagikan...

Rekomendasi