Gunung Purba Toba ledakannya menyimpan sejuta misteri

Gunung Toba Purba mungkin tak seterkenal danaunya. Padahal jauh di masa lampau, gunung ini pernah meletus dengan dahsyat depngan efek yang luar biasa.

Gunung Toba Purba

Awal Desember lalu, Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba tampak sedikit lebih dingin dari biasanya. Maklum, sejak tengah malam, hujan deras hampir merata melanda pulau itu dan sekitarnya.

Di tepian danau berair biru yang luas itu, sebuah perahu kecil mengapung dengan seorang nelayan di atasnya. Sesekali, ombak kecil menghantam perahu kecil itu dan membuat air danau masuk ke dalamnya. Meski dengan perlengkapan seadanya, nelayan itu terlihat terampil memanen aneka ikan air tawar yang memang melimpah ruah di Danau Toba. Ikan-ikan air tawar itu selanjutnya dijual ke rumah-rumah makan yang terdapat di sekitar Tuk Tuk, sebagian lagi dijual ke pembeli dari Silintong, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Ikan air tawar aneka jenis seperti ikan mujair dan nila merupakan kekayaan alam Danau Toba. Danau Toba merupakan danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Danau ini memiliki panorama yang indah, membuatnya menjadi salah satu tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Di balik keindahan Danau Toba, tersembunyi jejak letusan maha dahsyat Gunung Toba purba yang terjadi sekitar 74 ribu tahun silam. Ketika itu, gunung raksasa ini meletus dengan dahsyatnya yang berimbas pada kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Berbagai penelitian yang dilakukan geolog dari berbagai negara menyimpulkan bahwa letusan Gunung Toba purba merupakan salah satu letusan super vulkano terbesar sepanjang sejarah.

Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina hingga Afrika Selatan. Letusan terjadi selama seminggu dan melontarkan debu vulkanik hingga ketinggian 10 kilometer di atas permukaan laut.

Menurut beberapa bukti Deoxyribonucleic Acid (DNA) yang ditemukan, letusan ini juga menyusutkan jumlah jumlah populasi manusia di dunia saat itu. Bahkan yang cukup mengejutkan, penyebaran debu vulkanik terekam hingga Kutub Utara. Hal ini menggambarkan betapa dahsyatnya letusan Gunung Toba purba.

Letusan itu menyebabkan terbentuknya kaldera raksasa yang kemudian dikenal sebagai Danau Toba. Akibat tekanan magma dari dalam perut bumi, lalu muncul sebuah pulau di tengah Danau Toba yang diberi nama Samosir. Di pulau inilah diyakini sebagai tempat asal usul leluhur suku Batak.

Para tetua adat di Samosir mengatakan Danau Toba merupakan sebuah fenomena yang tidak saja penting bagi bangsa Indonesia, tapi juga masyarakat dunia. Danau Toba masih menyimpan sejuta misteri yang patut untuk diungkap. Inilah yang menjadi daya tarik geolog lokal maupun mancanegara untuk melakukan penelitian mendalam tentang Danau Toba.

Kawasan Danau Toba yang tersebar di tujuh kabupaten memiliki potensi geologi purba terbaik di muka bumi ini. Atas dasar itulah Danau Toba dan kawasan sekitarnya diusulkan sebagai anggota Geopark UNESCO sejak 2012 silam. Sebagai geopark, Toba memiliki 42 geosite yang dibagi dalam empat geo area yakni Kaldera Haranggaol, Porsea, Sibandang dan Pulau Samosir.

Khusus untuk Samosir, kekayaan potensi geopark dan budaya suku Batak dapat menarik banyak wisatawan domestik maupun mancanegara di masa mendatang. Keragaman potensi wisata dan jejak letusan gunung purba inilah yang akan menjadi surga wisata geopark di Danau Toba.


Gabungan antara budaya masyarakat Batak dan wisata geopark merupakan modal besar untuk mengembangkan kawasan Danau Toba dan sekitarnya di masa mendatang. Geoparkpurba Toba diakui sebagai anggota Global Geopark Network UNESCO pada 2019 yang lalu. Sembilan tahun setelah diusulkan.

Danau Toba memang menarik sebagai destinasi wisata. Bukan hanya keindahan alam yang dapat dinikmati, tapi budaya suku Batak yang mengakar kuat menjadikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pilihan wisatawan lokal maupun internasional.

Berkaitan dengan sejarah suku Batak, di Pulau Samosir terdapat peninggalan-peninggalan sejarah masyarakat Batak di masa lampau. Di Tomok, misalnya, terdapat makam Raja Sidabutar, penguasa kawasan Tomok di masa lalu. Makam batu berusia ratusan tahun ini terbuat dari batu utuh tanpa persambungan dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar.

Gunung Toba Purba menyimpan sejuta misteri.
Pertunjukan boneka Sigale-gale di Tomok. Foto: Dok. TL/Tony H

Peninggalan sejarah masyarakat Batak dari batu juga terdapat di Desa Siallagan, Desa Ambarita. Obyek wisata ini adalah Batu Parsidangan, terbuat dari batu yang disusun sedemikian rupa pada masa pemerintahan Raja Siallagan sebagai tempat untuk men- gadili dan mengksekusi para kriminal. Di sekitar Batu Parsidangan terdapat pohon-pohon berukuran besar yang rindang. Masih di lokasi yang sama, terdapat Museum Huta Bolon, tempat penyimpanan benda-benda kuno masyarakat Batak. Di lokasi ini wisatawan juga dapat melihat pertunjukan Sigale-gale, sebuah boneka dari kayu yang dibalut busana adat Batak lengkap dengan kain Ulos. Boneka Sigale-gale dapat menari mengikuti irama musik tradisional gondang.

Di sebelah utara Pulau Samosir, terdapat obyek wisata alam berupa pemandian air panas. Letaknya hanya sekitar 3 kilometer dari Pangururan. Tak jauh dari pemandian air panas, tepatnya di Desa Lumban Suhi-suhi, Anda dapat menjumpai kelompok masyarakat yang masih mengerjakan tenun tradisional Ulos.

Bagaimana dengan wisatawan yang ingin menikmati suasana pantai? Jangan khawatir, Danau Toba memiliki pantai yang tak kalah indahnya dengan pantai di Bali. Namanya Pantai Sukken. Pantai ini memiliki pasir putih yang masih alami dan menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba.

Sedikit bergeser ke tengah pulau, terdapat sebuah danau kecil, Sidihoni. Danau ini menjadi keunikan tersendiri dengan sebutan ‘danau di atas danau’. Obyek wisata lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Aek sipitu dai (air tujuh rasa) di daerah Boho, Desa Limbong.

Aek sipitu dai adalah tujuh buah pancuran yang masing-masingnya memiliki rasa berbeda-beda. Air yang mengalir di pancuran ini berasal dari tujuh buah mata air yang bergabung di dalam satu tempat labuan (bak panjang) namun ketika dialirkan ke tujuh pancuran rasanya bisa kembali terpisah.

TL/agendaIndonesia

****

Yuk bagikan...

Rekomendasi