Liburan ke Cilacap tak cuma menikmati Nusa Kambangan, ada pula tradisi yang dilakukan sejak 1875.

Liburan ke Cilapacap, Jawa Tengah, pengunjung bisa menikmati atraksi sedekah laut. Ebuah tradisi yang sudah berjalan lebih hampir 150 tahun. Selain itu, masih ada Teluk Penyu dan Benteng Pendem menjadi kegiatan wisata yang mencuri perhatian wisatawan. Cilacap Tak lagi hanya dikenal karena Pulau Nusakambangan.

Liburan ke Cilacap

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa memiliki makna penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, sebagai masyarakat bahari, warga Cilacap memiliki kalender rutin sedekah laut. Ini merupakan upacara adat nelayan berupa prosesi Larung Sesaji yang disebut Jolen ke Laut Selatan sebagai wujud rasa syukur serta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan nelayan dapat makmur sentosa.

Liburan ke Cilacap salah satunya mennikmati rangkaian tradisi larung sesaji.
Larung Sesaji, tradisi memberikan melarung sesaji di Cilacap sejak 1875. Foto: Dok. shutterstock

Merunut sejarah, kegiatan tersebut bermula dari perintah Bupati Cilacap III, Kanjeng Adipati Raden Bei Tjakrawerdana III (1873-1877) kepada sesepuh nelayan Pandanarang yang bernama Ki Ansa Manawi untuk melarung sesaji atau Jolen ke Laut Selatan pada Jumat Kliwon di bulan Suro tahun 1875. Tujuannya, untuk menjaga keselamatan warga Cilacap.

Tetapi tradisi tersebutsempat terhenti danbaru dihidupkan kembalipada masa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga saat ini terus dilestarikan sebagai salah satu atraksi budaya di Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan tiap Jumat atau Selasa Kliwon di Bulan Sura.

Rangkaian gelar budaya sedekah laut diawali dengan berziarah ke Karang Bandung di Pulau Nusakambangan oleh para sesepuh nelayan, sehari sebelum prosesi larungansesaji. Pada malam harinya dilakukan tasyakuran di Pendopo Wijayakusuma Sakti Kab. Cilacap yang dihadiri para nelayan dan pejabat di lingkungan Pemkab Cilacap. Prosesi Larunganpada upacara ini berlangsungdi Pantai Selatan Cilacap dan meriah karena melibatkan banyak kelompok nelayan dan masyarakat sekitar.

Iring-iringan kirab tersebut terdiri dua perempuan berkuda, barisan prajurit bertombak, barisan umbul-umbul, 14 putri domas,14 putri pengiring, kereta kuda yang membawa Bupati Cilacap dan istri serta pejabat lainnya, sejumlah becak, dan prajurit pembawa jolen. Prosesi dimulai dari pelepasan iring-iringan kelompok nelayan yang dipimpin Tumenggung Duta Pangarsa dengan membawa Jolen (sesaji berupa kepala kerbau yang dihias meriah) oleh Bupati Cilacap dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu. Di Pantai Teluk Penyu, Tumenggung Duta Pangarso meminta izin kepada Bupati untuk memerintahkan para nelayan melarung jolen di Laut Selatan (sebelah selatan Pulau Nusakambangan).

Liburan ke Cilacap, selain menikmati tradisi lama, juga ada wisata pantai di teluk Penyu.
Panorama pantai Teluk Penyu di Cilacap, Jawa, Tengah. Foto:: Dok. shutterstock

Keunikan budaya di Cilacapitu tak bisa dipisahkan dari geografis wilayahnya yang berada di Jawa Tengah, tapi berbatasan pula dengan Provinsi JawaBarat. Sehingga budaya yang berakulturasi yaitu Jawa dan Sunda begitu lekat di Cilacap Ini. Pesona alamnya yang sebagian berada di pesisir pantai selatan memiliki keindahan luar biasa. Di antaranya Pantai Teluk Penyu yang berlatarkan Pulau Nusakambangan yang eksotis dan misterius.

Pantai Teluk Penyu initerletak sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Cilacap ke arah selatan. Kondisi pantainya landai, dan jika dilihat dari atas berbentuk seperti bulan sabit dengan pemandangan Pulau Nusakambangan serta kapal-kapal nelayan, dengan latar belakang Benteng Pendem Cilacap. Dinamakan Teluk Penyu karena konon, dahulu banyak terdapat penyu di sekitar teluk ini. Sedikit berbeda dengan pantai selatan pada umumnya yang memiliki ombak besar, Pantai Teluk Penyu karena terlindung Pulau Nusakambangan dari arah Samudera Hindia, maka ombaknyapun tidak terlalu besar.

Berbagai atraksi dan rangkaian kegiatan besar pariwisata sering diselenggarakan di Pantai Teluk Penyu diantaranya Gelar Budaya Adat Nelayan Sedekah Laut setiap Selasa atau Jumat Kliwon di bulan Sura, Festival Perahu Naga (Dragon Boat Race Open Tournament) tiap Maret dan Festival Layang-layang tingkat Nasional tiap September.

Di dekat pintu masuk dan sepanjang Pantai Teluk Penyu terdapat aneka cenderamata serta makanan khas hasil laut yangdapat dinikmati sambil merasakan sejuknya semilir angin laut selatan di bawah pohon waru atau di payung-payung pantai yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.

Liburan ke Cilacap orang bisa menikmati Benteng Pendem peninggalan Belanda.
Benteng Pendem peninggalan zaman Belanda yang masih tersisa di Cilacap. Foto: Dok. shutterstock

Berwisata ke Cilacap, tak lengkap tanpa berkunjung ke Benteng Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” terletak 0,5 km arah selatan Pantai Teluk Penyu. Benteng ini merupakan peninggalan Hindia Belanda yang dibangun rentang 1861 – 1879 sebagai benteng pertahanan dengan luas 10,5 hektare. Keseluruhan bangunan benteng ini masih dipertahankan seperti bentuk aslinya yang terdiri dari barak atau ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang akomodasi, dan landasan meriam, yang dikelilingi parit dengan kedalaman 3 meter.

Sejak selesai dibangun mulai 1861 hingga 1942, benteng ini dipergunakan sebagai markas tentara Belanda untuk pertahanan pantai Pulau Jawa di bagian selatan karena letaknya yang strategis dan terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Kemudian pada 1942 sampai 1945 Benteng Pendem dimanfaatkan sebagai Markas Tentara Dai Nippon (Jepang) di era penjajahan Jepang.

Setelah Jepang kalah perang, antara 1945-1950 Benteng Pendem itu diambil alih kembali oleh tentara Belanda sampai 1950.

Selanjutnya, Benteng Pendem tidak berfungsi apapun, hingga pada 1952-1965 dijadikan markas TNI/Pasukan Banteng Loreng
dan dalam perkembangannya dimanfaatkan sebagai tempat latihan pasukan RPKAD (sekarang Kopassus) sampai 1965 dan meninggalkan bangunan monumen dua peluru di pintu gerbang selatan. Kemudian, sekitar 21 tahun setelah itu, Benteng Pendem terlantar tanpa ada yang memanfaatkannya.

Benteng Pendem baru mulai kembali dimanfaatkan keberadaanya pada 1986 dengan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 hektare untuk dibangun dermaga kapal dan kantor serta tangki-tangki minyak area 70. Hingga akhirnya pada 26 November 1986, seorang warga Cilacap bernama Ady Wardoyo (Pemilik CV. Wardoyo) mencoba menggali dan menata kembali lingkungan Benteng Pendem dan mulai 28 April 1987 secara resmi dibuka sebagai tempat wisata sampai saat ini.

Benteng Pendem Cilacap kini telah dilengkapi dengan fasilitas berupa gazebo, ayunan atau tempat bermain, area pemancingan, perahu bebek, motor ATV, mushola, panggung hiburan dan toko cenderamata. Berbagai kegiatan pariwisata sering dilaksanakandi tempat ini antara lain lomba menggambar dan mewarnai, memancing, festival musik, tari dan calung Banyumasan.

agendaIndonesia

*****

Yuk bagikan...

Rekomendasi