Wisata Religi Demak Masjid Agung shutterstock

Wisata religi Demak bukanlah hal baru. Bagi banyak orang, terutama kaum muslim yang tinggal di pulau Jawa, salah satu hal yang sering diimpikan adalah sholat di masjid Agung Demak.

Wisata Religi Demak

Demak, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, dahulunya adalah Kerajaan Islam pertama dan terbesar di pulau Jawa. Kota ini sekitar 31 kilometer di timur Semarang. Dari catatan sejarah, Demak didirikan oleh semacam perserikatan pedagang Islam di utara Jawa yang dipimpin Raden Patah, salah seorang putra Raja Brawijaya V dari kerajaan Majapahit.

Berdirinya kerajaan Demak ini tidak lepas dari peran Wali Songo, sembilan wali yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Raden Patah sendiri sewaktu muda belajar ajaran Islam kepada Sunan Ampel, salah satu dari Wali Songo.

Sebelum berdiri sebagai kerajaan sendiri, wilayah Demak merupakan bagian dari Majapahit. Raden Patah, sebagai anak raja Majapahit, ditugaskan sebagai Adipati Bintoro, Demak, pada abad 15. Pengaruh Majapahit saat itu boleh dikatakan berada di ambang keruntuhan. Pada tahun 1500 dengan dukungan para wali, Bintoro menyerang Majapahit dan mengalahkannya.

Kadipaten Demak kemudian termasuk wilayah yang melepaskan diri dari Majapahir dan menjadi kerajaan yang mandiri. Dan Raden patah menjadi raja pertama Demak. Selama memerintah, Raden Patah banyak dibantu oleh Wali Sanga yang berperan sebagai penasihat. Awal pemerintahannya ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Demak dan perluasan wilayah.

Raden Patah wafat pada tahun 1518 dan pemerintah dipimpin oleh Pati Unus, putranya. Pati Unus menginginkan Kerajaan Demak menjadi kerajaan dengan kekuatan maritim yang kuat. Hal ini ditandai dengan kuatnya armada laut Kerajaan Demak.

Portugis yang saat itu tengah berusaha menguasai perdagangan di Asia Tenggara, merasa terganggu dengan keberadaan Demak. Hingga beberapa kali Kerajaan Demak melakukan pertempuran dengan Portugis di Selat Malaka.

Serangan-serangan tersebut dipimpin Dipati Unus, yang tak lain merupakan putra Raden Patah. Meskipun pada akhirnya serangan tersebut gagal, tetapi ia mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang menyeberang ke utara sebagai penghargaan atas keberaniannya. Setelah kematian Pati Unus pada saat pertempuran melawan Portugis, Demak dipimpin Sultan Trenggono (1521-1546) yang membawa Demak ke masa keemasan.

Setelah masa pemerintahan Sultan Trenggono, Demak praktis mulai mengalami kemunduran. Mulai muncul kerajaan-kerajaan di Selatan Jawa. Mulai dari Kerajaan Pajang hingga lahirnya Kasultanan Yogya dan Kasunanan Solo.

Begitupun, Demak masih meninggalkan sejumlah jejak masa lalu yang memperlihatkan mereka sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam. Baik di Jawa, maupun di Indonesia. Karena itu, di masa kini, saat jalan-jalan ke Demak, para wisatawan bisa menikmati suasana religiusitas kota yang sering disebut sebagai Kota Santri ini.

Selain memiliki sejarah yang sangat kuat, Demak memiliki peninggalan tempat bersejarah yang menarik.

Jika punya agenda main ke Demak, tempat pertama yang wajib kunjung tentu saja adalah Masjid Agung Demak. Masjid ini terletak di Desa Kauman, Kecamatan Demak Kota. Jika wisatawan datang dari arah Semarang letak masjid ini persis di sisi timur laut Alun-alun kota Demak.

Masjid yang didirikan pada 1479, ini saat sudah berumur sekitar 6 abad masih berdiri kokoh, meskipun sudah direnovasi beberapa kali. Kala awal dibangun, masjid tersebut masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi yang diasuh Sunan Ampel.

Bagi banyak orang yang bepergian dari Jakarta, Cirebon, atau Semarang ke arah Surabaya, biasanya menyempatkan sholat di masjid ini. Kadang mereka rela menunggu beberapa waktu jika saat waktu sholat belum tiba dan cukup punya waktu. Jika tidak, mereka rela untuk sekadar menunaikan sholat sunah di salah satu masjid tertua di Indonesia ini.

Jika sudah sampai masjid Agung Demak, jangan lupa untuk mengunjungi

Museum Masjid Agung Demak yang lokasinya tak jauh dari masjid, tepatnya di sisi utara masjidnya. Mudahnya akses ke museum tersebut memungkinkan wisatawan Masjid Agung senantiasa menyempatkan diri singgah pula ke museumnya.

Museum memiliki sejumlah koleksi menarik terkait sejarah siar Islam di Jawa, seperti serat-serat dan kitab kuno yang ditulis para Wali Songo. Misalnya saja, terdapat kitab tulisan tangan tafsir juz 15-30 Alquran karya Sunan Bonang.

Selain kolekasi pustaka, ada pula di museum itu artefak terkait Masjid Agung Demak seperti beduk dan kentongan wali dari abad XV. Bahkan sakatatal atau saka guru Masjid Agung Demak yang konon dibikin oleh Sunan Kalijaga. Ada pula Pintu Bledeg yang konon dibuat oleh Ki Ageng Sela pada 1466. Ia adalah guru Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang mendirikan Kesultanan Pajang.

Masih di seputaran kompleks Masjid Agung Demak, wisatawan juga bisa berziarah ke makam raja-raja Demak. Makam raja-raja Demak, terletak di bagian utara Masjid Agung. Makam raja-raja Demak itu terawat dengan baik, di sana terdapat makam antara lain Raden Patah, Pangeran Trenggono, sampai Arya Penangsang, adipati Jipang yang meninggal dalam pertempuran dengan pasukan Pajang.

Jika punya cukup waktu, sempatkan pula berziarah ke makam Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisongo. Sunan Kalijaga wafat pada 1520 lalu dimakamkan di Desa Kadilangu, sebelah timur-tenggara Demak. Makam Sunan Kalijaga sekarang menjadi situs yang sering didatangi peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di tanah air. Sunan Kalijaga dianggap istimewa di antara ke sembilan wali karena kental memanfaatkan tradisi Jawa dalam penyiaran agama Islam di Indonesia.

agendaIndonesia

*****

Yuk bagikan...

Rekomendasi