Serabi Solo Notosuman, Legitnya Sejak 1923

Serabi Solo Notosuman menjadi penganan khas dari kota di Jawa Tengah itu.

Serabi Solo Notosuman sudah pasti menjadi salah satu kuliner pilihan ketika berkunjung ke kota di pusat Jawa Tengah ini. Ia sudah seperti lunpia bagi kota Semarang.

Serabi Solo Notosuman

Serabi Solo sendiri adalah jajanan tradisional yang  diperkirakan sudah ada atau dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Dikutip dari sejumlah sumber, makanan ini beberapa kali disebut dalam Serat Centhini yang ditulis para pujangga Keraton Surakarta pada 1814 hingga 1823 atas perintah Sri Sunan Pakubuwana V.


Penganan serabi Solo ini adalah makanan khas Solo yang aslinya bentuknya bulat seperti piring dengan sedikit kerak di sekelilingnya. Tekstur serabi Solo ini kenyal namun di tengahnya tetap lembut, dan memiliki rasa yang sangat legit.

Serabi Solo Notosuman berbeda dengan surabi dari Bandung, meskipun bentuknya mirip.
Serabi Solo disebut-sebut dalam Serat Centini dari abad 19. Foto: shutterstock


Serabi Solo memiliki perbedaan dengan kue surabi Bandung. Jika penganan dari ibukota Jawa Barat itu menggunakan bahan dasar tepung terigu dan disiram dengan kuah gula kelapa cair, serabi dari Solo terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan  dan gula. 

Ini membuat yang dari Solo sudah memiliki rasa manis dan gurih. Karena itu serabi Solo ini dihidangkan tanpa dressing kuah manis.
Tiap daerah tentu memiliki kekhasan masing-masing. Ada serabi kering ada serabi basah dengan memakai kuah. Ada pula yang menambahkan topping dengan beragam rasa dan aroma.

Serabi Solo diolah dari bahan-bahan yang terdiri dari tepung beras, pandan, vanilla, gula, santan kelapa, dan garam. Biasanya dimasak menggunakan semacam tembikar kecil terbuat dari tanah liat dan dipanggang di atas arang.

Pemasakan serabi Solo umumnya dilakukan sekaligus dalam beberapa tembikar yang dipanaskan di atas tungku arang. Proses pemasakan biasanya selama kurang lebih tiga menit. Jadi setelah adonan dituang ke tembikar, ia ditutup. Sesekali tutupnya diintip untuk melihat kematangannya.


Proses penyajian atau menyantapnya pun berbeda dengan surabi Bandung. Di kota Paris van Java itu, surabi biasanya disajikan dalam piring. Bentuknya pun tetap bulat. Di atasnya diberi topping pilihan konsumen.

Serabi Solo Notosuman digulung dan  dibungkus daun pisang.
Serabi Solo Notosuman dibungkus dengan daun pisang. Foto: shutterstock


Sementara itu, saudaranya di Solo, setelah matang serabi digulung dengan daun pisang agar mudah ketika dimakan. Serabi Solo tersedia dalam beberapa varian rasa, seperti rasa original, cokelat, dan nangka. Saat ini ada pula varian lain.

Setelah melewati sejulah masa, serabi Solo yang paling terkenal adalah Serabi Solo Notosuman. Serabi Notosuman ini pada awalnya dirintis oleh pasangan suami istri, Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan pada 1923.

Serabi Solo Notosuman lahir dari ketidaksengajaan. Menurut Hoo Khik Nio, anak dari Ny. Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan, pada  mulanya, orang tuanya tidaklah bermaksud membuat serabi, tapi apem. Penganan Jawa lainnya yang bentuknya mirip serabi. Biasanya bentuknya lebih padat.

Pembuatan itu terjadi tanpa disengaja, karena ada tetangga yang minta bantuan dibuatkan apem untuk selamatan. Pada saat itu sang tetangga meminta agar apem pesanannya bentuknya lebih pipih atau tipis.

Ternyata “apem” buatan Ny. Hoo Ging Hok enak karena teksturnya yang lembut. Sang tetangga pun tak menyebutnya sebagai apem karena bentuknya yang berbeda. Ia lebih memilih menamainya sebagai serabi. Sejak itulah makanan apem pipih itu dikenal dengan nama serabi. 

Serabi Dari Solo shutterstock
Serabi Solo Notosuman lebih lembut dari kue apem. Foto: shutterstock

Nama Serabi Solo Notosuman atau sering disebut sebagai Serabi Notosuman ini diambil dari nama Jalan Notosuman di Solo, lokasi toko milik pasangan suami istri berada. Jalan Notosuman sendiri kini sudah berganti nama menjadi Jalan Muhammad  Yamin.

Sejak dirintis oleh Hoo Geng Hok dan Tan Giok Lan, saat ini kedai Serabi Notosuman sudah diteruskan oleh generasi keempat. Di Jalan Muh, Yamin itu ada beberapa kedai penjual serabi Solo Notosuman. Mereka umumnya masih kerabat atau tetangga.
Kualitas rasa dan bahan baku tetap diutamakan agar rasa serabinya sama seperti resep turun temurun yang diwariskan. Salah satu rahasia kelezatan serabi Notosuman adalah penggunaan beras cendani yang berkualitas dan sengaja ditumbuk sendiri untuk menjaga kualitas rasa, tekstur, dan kebersihannya.
Bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan Serabi Notosuman Solo sebenarnya biasa saja. Serabi Notosuman hanya menggunakan tepung beras, pandan, gula, santan, garam, dan vanila. Karena menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, Serabi Notosuman ini hanya dapat bertahan selama 24 jam saja.

agendaIndonesia

*****

Lurik Motif 3-4, Lurik Khas Abdi Dalem

Motif kain lurik

Lurik motif 3-4, lurik khas abdi dalem Kraton Yogyakarta. Mungkin ini jarang ada yang tahu. Motif 3-4, dalam narasi aslinya disebut motif telu pat, ini artinya tiga-empat.

Lurik Motif 3-4

Kain lurik, sejak lama seakan diidentik sebagai bahan pakaian yang dipakai oleh para bangsawan dan abdi dalem di kalangan kraton Yogyakarta. Motif telu pat yang disebut di muka adalah yang biasa dipergunakan oleh para abdi dalem. Biasanya menggunakan pewarnaan biru dengan kombinasi hitam atau putih.

Motif telu pat, yang berarti tiga-empat, itu disebut demikian karena merujuk pada jalinan tenunan benang. Tiga garis benang berjejeran dengan empat garis benang warna lainnya.

Ini tak sembarangan jejeran benang. Ada filosofinya. Pola jejeran benang itu konon menandakan kedekatan antara sinuhun atau raja dan rakyatnya. Seperti layaknya motif kain-kain tradisional yang berasal dari dalam kraton-kraton di Jawa, motif lurik juga diciptakan para sultan melalui proses perenungan yang dalam. Ada harapan dan cita-cita dari sang sultan dalam setiap tarikan benangnya.

Lurik konon berasal dari kata dalam bahasa Jawa lorek yang berartigaris atau garis-garis. Bentuknya sederhana seperti pagar. Harapannya supaya para pemakai lurik selalu terlindungi hidupnya dalam kesederhanaan.

Saat ini boleh dikata hanya dalam hitungan jari industri rumahan di Yogyakarta yang menghasilkan kain lurik secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Selebihnya sudah dikelola perusahaan kain dengan mesin tekstil. Yang memprihatinkan, para penenun kain lurik ini rata-rata mereka yang sudah berumur. Jarang sekali terjadi regenerasi penenun kain lurik di Yogyakarta.

Saat ini, usia penenun kain lurik paling muda sekitar 40 tahunan. Cukup banyak yang berusia 50-60. Dari generasi sebelumnya, masih ada yang berumur 80 tahunan, tapi mereka biasanya menenun dari rumah. Pemilik pekerjaan yang datang ke rumah mereka memberikan order dan petunjuk. Jika ada yang baru. Namun biasanya mereka menenun motif-motif yang sudah lama mereka kerjakan.

Awal tahun 60-an adalah masa-masa kejayaan penenun kain lurik. Di desa Krapyak Wetan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, cukup banyak penenun yang mengerjakan kain lurik di rumah. Di desa itu, di daerah Sewon Bantul, saat ini masih dapat ditemui sejumlah perajin kain lurik. Tapi jumlahnya sangat sedikit.

Hingga akhirnya tiba masanya kain lurik bisa dihasilkan mesin tekstil. Selain efisiensi dari rantai produksi dan waktu pengerjaan, kain lurik hasil mesin harus diakui hasilnya lebih halus. Proses produksinya pun sangat cepat. Akibatnya bisa diduga, jumlah perajin lurik tradisional di kampung-kampung di Bantul pun anjlok. Kalah melawan kerasnya persaingan dengan mesin.

Tentu, ada yang masih mencoba bertahan dengan menghasilkan lurik-lurik dari ATBM. Mereka menggunakan bagian depan rumahnya menjadi ruang pamer kain-kain lurik siap jual buatan pekerjanya. Sedangkan produksi mengunakan bagian belakang rumah.

Tenun lurik hasil ATBM umumnya memiliki dua lebar yang berbeda, yaitu 70 dan 100 sentimeter. Ini tergantung panjang alat tenun. Panjang satu gulungan motif bisa mencapai 100 hingga 150 meter. Keseluruhan proses penenunannya bisa mencapai waktu satu bulan. Semua tergantung tenaga penenun. Ada juga yang sanggup mengerjakan10 meter dalam waktu sehari saja. Kain-kain lurik yang sudah jadi siap dijual dalam kisaran harga Rp 30-50 ribu per meter.

Seiring dengan perkembangan zaman, para penenun kain lurik kini tidak hanya menggarap motif-motif tradisional milik kraton. Banyak desain dan motif baru. Upaya pemerintah melestarikan jenis kain ini, memunculkan kreasi desain-desain baru. Terlebih saat ini, banyak sekolah dan kantor yang menggunakan kain lurik sebagai seragam pada hari-hari tertentu. Tiap lembaga kadang menginginkan desain sendiri.

Di Yogyakarta sendiri kain lurik kalah populer cengan batik. Para penenun luriknya pun tak sebanyak pemegang canting batik. Meski banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa kain lurik usianya lebih tua dari batik dan bahkan dikenal masyarakat Jawa sejak zaman

Salah satu relief di Candi Borobudur pun ada yang menggambarkan perempuan sedang menenun. Ada pula prasasti Raja Erlangga yang pernah menyebutkan salah satu motif kain lurik sebagai Tuluh Watu. Dari berbagai penemuan sejarah itu, diketahui bahwa lurik tidak hanya dikenal masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jika memiliki kesempatan berkunjung ke perajin tenun lurik, Anda akan tertarik melihat proses skir, yaitu proses penyusunan motif untuk selembar kain lurik. Benang-benang yang akan digunakan, disusun menyerupai bentuk rak. Melihat proses skir layaknya tarian ribuan benang warna-warni.

Biasanya para penenun menggunakan benang katun putih yang kemudian diberi pewarna sintetis. Setelah motif disusun dalam proses skir, benang-benang tersebut akan ditenun melalui ATBM.

Selain didesak modernisasi teknologi tekstil, jumlah perajin kain lurik ATBM yang jumlahnya tidak banyak, juga semakin berkurang. Ini terjadi di saat tiba musim tanam dan panen di sawah. Para perajin lurik beralih menjadi buruh tanam di sawah-sawah yang penghasilannya lebih cepat.

Jumlah penenun lurik memang semakin sedikit, meski kain lurik pamornya masih lumayan moncer seiring kampanye pelestarian jenis kain ini. Namun, jika melihat dari perajinnya, kini hanya hitungan jari. Jika berkunjung ke sentra perajin lurik, kini ruangan produksinya praktis sepu. Suara alat tenun yang beradu pun nyaris seperti gending monggang. Gending kematian.

Dari Liputan TL.

Kurnia Lurik

Krapyak Wetan RT 05 Nomor 133 Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta

Tak jauh dari cagar budaya Panggung Krapyak

Produk-produknya sudah bisa dipesan lewat media online di Instagram @kurnialurik_jogja

Sari Puspa Lurik

Desa Wisata Kerajinan Sangubanyu, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman

Sekitar 15 kilometer dari pusat kota Yogyakarta

Bisa dicapai melalui Jalan Godean ke arah Selatan atau dari Jalan Wates ke arah Utara

Seruit Dan 3 Jenis Sambal Lampung

Seruit dan 3 sambal

Seruit dan 3 jenis sambal Lampung adalah acara makan bersama dengan sajian ikan dan sambal yang khas.

Mencari makanan khas Lampung tergolong sulit. Ketika menyusuri rumah makan atau restoran yang berada di Bandar Lampung atau Teluk Betung, kebanyakan yang ada ialah hidangan dari daerah lain, bisa khas Jawa atau Padang. Hingga saya menemukan kata yang mungkin terbilang cukup asing dan bikin penasaran; seruit.

Seruit dan 3 Jenis Sambal

Inilah rupanya hidangan asli di Provinsi Lampung dan disantap secara turun-temurun. Beruntung masih ada restoran yang menyajikannya, meski mencarinya memang tergolong jarang.

Sajian seruit lazimnya dimakan bersama-sama. Kenikmatan dan kebersamaan memberi warna pada nyeruit atau makan seruit.  Terdiri atas tiga sajian, yakni ikan, sambal, dan lalapan, selain tentunya nasi hangat. Tapi yang tersaji tampak begitu berlimpah karena pilihan ikannya beragam. Demikian juga sambal dan lalapannya.

Ragam Ikan

Untuk prosesnya, terdiri atas dua pilihan; digoreng atau dibakar. Untuk rasa yang gurih, tentu lebih baik digoreng. Ikan bakar pun memiliki aroma khas yang menggundang selera. Jenis ikan umumnya ikan besar penghuni sungai yang banyak ditemukan di provinsi ini, semisal ikan belida, baung, layis, dan ikan mas yang lebih mudah ditemukan saat ini. Saya pertama kali mencicipi sajian seruit dengan ikan mas. Beruntung kemudian mencicipi ikan baung yang memang khas daerah ini.

Proses pembuatannya, setelah dibersihkan, ikan diberi bumbu yang dihaluskan. Bumbu terdiri atas bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah itu, ikan dibakar selama 10 menit. Saat sudah setengah matang, ikan diolesi kecap manis dan campuran bawang putih, garam, serta ketumbar.

Tiga Jenis Sambal

Terasi, Mangga, dan Tempoyak. Tiga jenis sambal ini bikin bersantap seruit menjadi meriah. Ketiganya menggoda. Sambal terasi ialah campuran dari cabe merah, cabe rawit, garam, dan terasi bakar. Aroma terasinya menggoda. Apalagi rasa pedas membuat nafsu makan meningkat. Warna merahnya pun cukup menggoda.

Sambal tempoyak tak kalah soal aroma. Aromanya khas durian. Tempoyak memang hidangan khas di meja makan penduduk Pulau Sumatera, tidak terkecuali di Lampung. Sambal ini terbuat dari buah durian yang sudah difermentasi. Daging durian matang yang telah diberi garam dan cabe disimpan dalam stoples tertutup kurang lebih selama 4 hari. Lebih baik menyimpannya di dalam ruangan dengan suhu stabil, bukan di lemari es.

Tempoyak berumur 4-5 hari cocok dijadikan sambal karena sudah terasa asam, tapi juga masih ada manisnya. Membuat sambal tempoyak cukup mudah. Siapkan irisan bawah merah dan bawang putih serta cabe merah, kemudian digoreng dan tambahkan tempoyak. Bisa ditambahkan sedikit gula, tergantung selera.

Sambal mangga, terlihat dengan irisan mangga yang kelihatannya begitu segar. Sambal ini menggunakan kuini muda sehingga rasa asamnya benar-benar terasa. Bahannya seperti pada umumnya sambal, yakni cabe merah, bawang merah, terasi bakar, sedikit garam dan gula, serta buah kuini yang dicincang kasar. Cabe dan bawang merah diulek kasar, baru diberi bumbu lain dan campurkan dengan kuini.

Pelengkap lain selain ikan dan sambal serta nasi hangat adalah lalapan. Selain berupa sayuran umum, seperti daun kemangi, jengkol, selada air, dan daun jambu monyet, ada yang unik, yakni terong bakar.

Kebanyakan rumah makan menyajikan ikan dengan sambal secara terpisah. Namun sesungguhnya tradisi menyantap seruit ialah mencampurkan ikan dengan sambal. Setelah digoreng atau dibakar, ikan dipilih dagingnya, lalu dicampurkan ke dalam sambal.

Pilihan Rumah Makan

1. Rumah Makan Rusdi Gendut

Jalan Pangeran Tirtayasa Sukabumi, Bandar Lampung.

Karena di Lampung sangat jarang rumah makan yang menjual makanan khas Lampung, Rusdi pun berusaha untuk memulainya. Ia ingin melestarikan tradisi makan seruit. 

2. Dapoer Tatu

Jalan Putri Balau no 24, Kedamaian

Bandar Lampung

Rumah makan dijalankan oleh sebuah keluarga, pasangan Sunda-Lampung, dengan bentuk bangunan berupa saung-saung yang nyaman.

Kisaran Harga

Seruit kerap dijual dalam bentuk paket sehingga Anda tidak perlu repot-repot memilih menu. Paket seruit meliputi nasi, ikan, beberapa jenis sambal, dan lalapan yang dipatok pada kisaran Rp 45 ribu.

Rita N/A. Probel

Nasi Liwet Yu Sani, Gurihnya Sejak 1980

Nasi Liwet Yu Sani solo adalah salah satu legenda kuliner khas kota ini.

Nasi Liwet Yu Sani selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon kuliner tradisional Solo, Jawa Tengah. Dari sejak masih berjualan keliling hingga menjadi tenda kaki lima di tepi jalan, penggemarnya tak pernah surut dan kini selalu diburu wisatawan penggemar kuliner.

Nasi Liwet Yu Sani

Berbicara soal nasi liwet, sebenarnya ada dua jenis nasi liwet yang dikenal umum di Indonesia, yakni nasi liwet ala Sunda dan Jawa. Nasi liwet di Solo sendiri merupakan jenis nasi liwet Jawa, yang mirip dengan nasi uduk karena dimasak menggunakan santan.

Pertama, nasi dimasak dengan santan sehingga terasa lebih pulen dan harum. Selain itu, nasi juga dibumbui dengan beberapa rempah-rempah seperti pala, jahe, daun salam, daun serai dan kayu manis agar aroma dan cita rasanya semakin kuat.

Nasi Liwet Yu Sani cuma memiliki dua cabang. Dua-duanya selalu diserbu penggemarnya.
Ilustrasi nasi liwet Solo. Foto: dok. milik sajiansedap.id

Setelah jadi, nasi kemudian diguyur kuah dan sayur labu siam hangat yang memberikan sensasi gurih pedas. Dan sebagai pelengkap, nasi kemudian ditambahkan lauk pauk seperti ayam suwir dan telur pindang rebus.

Salah satu ciri khas nasi liwet Solo lainnya adalah cara penyajiannya. Secara tradisional, nasi liwet di Solo biasanya disajikan dengan menggunakan pincuk daun pisang, yang dibuat berbentuk kerucut.

Bagi warga Solo sendiri, nasi liwet sudah menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kuliner tradisional ini masih menjadi salah satu favorit warga kota batik ini untuk sarapan, santap siang maupun malam. Warung-warung penjaja nasi liwet pun mudah untuk ditemukan.

Bahkan, nasi liwet merupakan salah satu makanan yang banyak beredar kala gelaran Grebeg Maulud, perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi tradisi setiap tahunnya di Solo.

Disinyalir, salah satu alasan mengapa nasi liwet sangat populer pada perayaan tersebut adalah karena pada masa lalu, perayaan Grebeg Maulud diwarnai dengan pembuatan nasi samin, alias nasi yang dibuat menggunakan minyak samin.

Nasi samin disebut-sebut merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah pada masanya. Namun, karena sulitnya mendapatkan minyak samin di Solo masa itu, akhirnya sebagai alternatif nasi dimasak dengan menggunakan santan yang lebih terjangkau.

Sayur Labu Siam shutterstock
Sayur labu siam menjadi pendamping wajib nasi liwet Solo. Foto: shutterstock

Menurut keterangan resmi pemerintah kota Solo, nasi liwet Solo pertama kali dibuat oleh warga Desa Menuran, Kabupaten Sukoharjo. Resep tersebut kemudian dijual kepada umum, termasuk warga Solo.

Ternyata, kuliner ini disukai banyak orang dan terus populer hingga kini. Bisa jadi, selera warga Solo yang cenderung menyukai kuliner dengan cita rasa gurih menjadi salah satu alasan mengapa nasi liwet begitu populer dan menjadi salah satu ikon kuliner kota Solo.

Di Solo mungkin banyak penggemar kuliner mengenal nasi liwet adanya di kawasan Keprabon. Penjualnya yang terkenal adalah Wongso Lemu. Belakangan, banyak penjual menempelkan kata “Wongso Lemu” pada gerainya. Ini membuat keraguan konsumen.

Tak heran penjual nasi liwet di Solo begitu menjamur. Jika sudah pernah mencoba di Keprabon, tak ada salahnya mencoba salah satu yang bisa dibilang juga legendaris, yakni nasi liwet Yu Sani. Yang kini berjualan di kawasan jalan Veteran, tak jauh dari Alun-alun Kidul/Selatan Solo.

Usut punya usut, Yu Sani termasuk sang perintis usaha ini. Dulunya ia berjualan nasi liwet dengan berkeliling kota Solo. Dari tempat tinggalnya di desa Baki, selatan kota Solo, ia berjalan keliling kota menjajakan nasi liwet buatannya sejak 1980.

Telur Pindang shutterstock
Telur pindang adalah lauk nasi liwet selain ayam suwir. Foto: shutterstock

Setelah semakin populer dan digemari, ia akhirnya membuka warung tenda kaki lima di jalan Veteran. Belakangan, terdapat pula satu cabang di area Solo Baru, tepatnya di jalan Ir. Soekarno, dusun II Langenharjo, Kabupaten Sukoharjo.

Yang cukup unik di nasi liwet Yu Sani adalah ketika disajikan, nasinya juga diguyur santan kental, yang tentunya semakin menambah cita rasa gurih. Tambahan lauk pauknya pun beragam, mulai dari telur pindang rebus, tahu dan tempe bacem, usus, ati ampela, dan lain lain.

Ayam yang digunakan pun berjenis ayam kampung, begitu pula telurnya. Pengunjung nantinya bisa memilih tambahan bagian tubuh dari ayam yang disuwir, mulai dari sayap, tepong/dada, paha, kepala, uritan, hingga jeroan, hingga brutu.

Masuk ke dalam warung tenda Nasi Liwet Yu Sani, pengunjung akan disambut dengan baskom-baskom pilihan lauk pelengkap nasi liwet. Untuk pilihan tempat duduk, disediakan area meja dengan kursi, atau area lesehan.

Yang tak kalah menarik, salah satu daya tarik utama nasi liwet Solo yang membuatnya populer adalah harganya yang ekonomis. Satu porsi nasi liwet dengan lauk ayam suwir saja harganya hanya Rp 9 ribu.

Kalau mau menambah ayam suwiran, harganya berkisar antara Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan dengan menambah lauk seperti telur, usus, tahu dan tempe, harganya mulai dari Rp 11 ribu hingga Rp 14 ribu.

Maka jangan heran, kendati warung nasi liwet Yu Sani biasa buka dari jam 17.00 hingga jam 23.00, sering kali makanan sudah ludes terjual sebelum jam tutup. Maklum, sejak warung dibuka pun pengunjung kerap sudah mengantre, sehingga disarankan untuk datang lebih awal.

Nasi Liwet Yu Sani

Jl. Veteran, Solo

Jl. Ir. Soekarno no. 8, Solo Baru

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Hangat-hangat ala Bandung, 4 Minuman Asyik

hangat-hangat ala bandung, minuman yang membuat badan tidak kedinghinan

Hangat-hangat ala bandung saat udara mulai terasa dingin ketika memasuki musim hujan, ada pilihan asik, yakni bandrek, bajigur, ronde, atau sekoteng. Keempatnya bisa menjadi teman nongkrong yang menyenangkan.

Hangat-hangat ala Bandung

Di saat musim hujan dan masa liburan di Bandung, rasanya ada yang bisa dilakukan selain diam . Tapi, ayo cari penghdi kamar hotel. Minuman hangat tersebar di beberapa titik di kota Kembang ini. Ada beberapa minuman khas Parahyangan yang sengaja disajikan untuk membuat tubuh tisa diserak lagi kedinginan. Sebut saja bandrek yang bisa diseruput sambil nongkrong berdua bersama teman.

hangat-hangat ala Bandung menjadi pilihan saat memasuki musim hujan.
Bandrek, minuman hangat khas masyarakat tanah Pasundan. Foto: dok. shutterstock

 Bandrek di Hutan Pinus

Sekelompok pengendara sepeda motor trail memacu tunggangannya melintasi jalan berkelok, melewati beberapa orang yang mengayuh sepeda perlahan. Mereka berada di antara pohon pinus dataran tinggi Bandung bagian utara Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Tujuan mereka sama, yakni menuju warung bandrek Ibu Ipah di sekitar hutan pinus Tahura Ir. H. Djuanda yang buka sejak 2004.

Minuman hangat ini merupakan campuran jahe, cabai Jawa (cabe areuy dalam bahasa Sunda), gula aren, kolang-kaling, dan serutan kelapa. Ada dua jenis bandrek yang disajikan. Pertama, bandrek orisinal dengan rasa jahe yang dominan seharga Rp 10 ribu per gelas. Bila tidak terlalu suka rasa jahe yang kuat, Anda bisa memilih jenis kedua. Jenis kedua merupakan bandrek spesial dengan tambahan susu kental manis seharga Rp 12 ribu per gelas. Kudapan yang paling pas berupa aneka gorengan (pisang, peuyeum, tahu isi) seharga Rp 2 ribuan, atau tape ketan hitam yang dibungkus daun jambu.

Warung Bandrek Ibu Ipah; Tahura Ir. H. Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan,

Bandung

Bandrek Sejak 1958

Bajigur adalah minuman hangat asli Tanah Pasundan, perpaduan antara santan, gula Jawa, dan kolang-kaling. Santan cukup dominan dengan rasa manis dan gurih. Harganya Rp 10 ribu per gelas. Teman untuk menikmatinya ialah gorengan. Berada di pusat kuliner Jalan Cilaki, Bandung, warung ini menyediakan gorengan tahu, pisang, nangka, dan nanas dengan harga satuan  Rp 2 ribuan.Warung bajigur Hj Siti Maemunah tergolong warung bajigur tertua yang masih bertahan di Bandung.

Dirintis oleh Maemunah sejak 1958, tak heran jika warung bajigur ini memiliki banyak pelanggan fanatik dari beberapa kota besar. Dulu, warung ini dikenal dengan nama Bajigur Supratman karena awalnya dibuka di Jalan Supratman. Setelah ada penataan kawasan, warung pindah ke Jalan Cilaki. Karenanya, kini terkenal dengan nama Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah. Setelah Maemunah wafat, warung ini dikelola oleh anak-anaknya dan menjadi salah satu ikon kuliner malam Kota Bandung. Lokasi warung ini hanya sekitar 300 meter dari Gedung Sate.

Warung Bajigur Hj. Siti Maemunah; Jalan Cilaki, Bandung

hangat-hangat ala Bandung menjadi ciri kota yang ng berhawa dingin ini.cenderu
Sekoteng Bandung, bisa dipesan dingin, bisa pula dibuat yang hangat. Foto: Dok. shutterstock

Denting Tukang Sekoteng

Dentingan mangkok yang khas di malam hari kerap menjadi penanda penjaja sekoteng mulai berkeliling menyusuri jalanan, meski ada juga yang mangkal di tempat keramaian. Sekoteng terdiri atas air jahe dan campuran rempah lain, air gula, lalu diberi taburan potongan roti tawar berbentuk dadu, pacar cina, kacang tanah, dan kue simping manis. Menurut salah seorang pedagang sekoteng keliling yang sudah berjualan sejak 1975, jarang ada tukang sekoteng mangkal.

“Hampir semuanya keliling, tapi sekarang semakin jarang. Mungkin orang-orang sekarang tidak terlalu suka ya,” ujarnya. Dengan harga Rp 15 ribu per mangkok, pedagang sekoteng lain tetap setia menyusuri jalanan kota. Sesekali mereka berhenti di tempat-tempat ramai, seperti Gedung Sate atau taman-taman kota yang kerap dikunjungi warga.

Tukang Sekoteng Keliling; Sekitar Gedung Sate, Bandung

Ronde Jahe Alketeri

Nyempil di mulut gang dengan suasana warung kuno sederhana justru menjadi ciri khas dan daya tarik sendiri dari Warung Ronde Jahe Alketeri  di Jalan Alketeri, Bandung. Area warung sangat sempit dan memanjang sekitar 5 x 2 meter. Kondisinya masih sama seperti pertama kali buka pada 1984. Nyonya Guat, 83 tahun, masih tetap setia menyapa para pelanggannya. Ia juga meracik pesanan dengan sabar.

Ronde jahe atau wedang ronde buatannya berupa ronde dari tepung beras ketan yang dibentuk bulat tanpa isi. Ada pula yang bulat besar dengan isi kacang. Ronde disiram air jahe panas, air pandan, dan gula aren. Bagi yang tidak suka gula aren, bisa diganti dengan gula pasir cair. Rasanya enak dengan tekstur empuk kenyal dan air jahe yang manis, segar, sera harum. Harganya Rp 20 ribu per mangkok. Nyonya Guat tinggal di kawasan ini sejak 1940-an. Ia pernah berganti-ganti usaha, mulai warung nasi, warung sate, hingga akhirnya menemukan usahanya yang pas dan tetap bertahan hingga kini, yaitu ronde jahe.

Ronde jahe Alketeri kini dikenal sebagai salah satu warisan kuliner Bandung yang wajib dicicipi para pemburu kuliner. Hasil kerja keras Nyonya Guat kini berbuah 11 cabang yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan modern di Bandung dan satu cabang di Palembang.

Ronde Jahe Alketeri; Jalan Alkateri Bandung

TL/agendaIndonesia

*****

Jazz Di Alam Terbuka, 3 Yang Unik

Jazz di alam terbuka salah satunya Jazz Atas Awan di Dieng sebagai bagian dari .Dieng Culture Festival

Jazz di alam terbuka pasti menjadi tontonan yang asyik. Lepas dari ruang yang serba terbatas, music dinikmati seraya menikmati alam terbuka. Tentu ada tantangannya, mungkin tata suara perlu penanganan khusus agar keindahan musik tetap asyik menyusuk ke telinga.

Jazz Di Alam Terbuka

Di Indonesia menikmati musik jazz sambil merasakan sejuknya udara pegunungan dan indahnya lanskap alam punya beberapa pilihan. Penggemar musik jazz bisa menjadikannya salah satu itenarary dari rangkaian agenda liburannya.

Berikut ada beberapa pilihan menikmati jazz di alam terbuka.

Jazz Gunung Bromo

Ternyata pertunjukan musik jazz tidak hanya enak ditonton di dalam gedung bermesin penJazzdingin. Musik jazz juga asik dinikmati di tengah sejuknya udara pegunungan. Jazz Gunung salah satunya. Pergelaran rutin tersebut biasanya diadakan pada pertengahan tahun ke dua alias antara Juli hingga Desember.

Jazz di alam terbuka salah satunya jazz gunung Bromo di Jawa Timur yang sudah berjalan selama 13 tahun.
Jazz Gunung Bromo di Jawa Timur. Foto: Dok. TL/Rosana

Tahun 2022 ini perhelatan tersebut memasuki penyelenggaraan yang ke 13. Perjalanan yang pendek, ibarat manusia ia sudah masuk masa akil balik. Tahun ini rencananya akan digelar pada Jumat dan Sabtu, 22 dan 23 Juli 2022.

Pentasnya yang kesohor mampu memikat wisatawan internasional. Setiap tahun, ada sekitar 4.000 pengunjung hadir menikmati pergelaran tersebut. Tahun ini akan diselenggarakan di Amphitheater, Jiwa Jawa Resort Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

Pertunjukan jazz di alam ini pasti unik. Panggungnya hanya beratapkan awan. Penonton duduk di kursi bebatuan dan beralaskan rumput. Sambil menikmati artis-artis ternama, penonton bisa melihat panggung amphitheater terbuka di Jiwa Jawa Resort Bromo dengan latar belakang keindahan Pegunungan Tengger. Jadi penonton akan mendapatkan dua keindahan sekaligus.

Jazz di alam terbuka ini diinisiasi tiga serangkai: Sigit Pramono, Butet Kertarajasa, dan almarhum Djaduk Ferianto. Nikmati musiknya, dan jika beruntung bisa dapat bonus matahari terbit di Bromo.

Sesungguhnya, Jazz Gunung ini akan punya “saudara kembar”, yakni Jazz Gunung Ijen. Namun pelaksanaanya belum seperti yang diselenggarakan di Gunung Bromo.

Jazz Atas Awan Dieng

Pertunjukan musik jazz bertajuk “Jazz Atas Awan” kembali digelar di dataran tinggi Dieng pada 2022. Pertunjukan yang dimulai diselenggarakan pada 2010 ini digelar di seputaran Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, sebagai bagian dari Dieng Culture Festival.

Dieng Culture Festival atau DCF sudah menjadi agenda tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara. Gelaran jazz ini merupakan ruang apresiasi terhadap musikus-musikus muda lokal yang menggeliat di dunia pertunjukan jazz di Indonesia.

Ciri khas Jazz Atas Awan ialah panitia tidak memberi tahu siapa saja artis yang akan tampil. Mereka menyimpan rapat-rapat bintang tamu. Panitia ingin orang hadir ke Dieng Culture Festival bukan karena artisnya, tapi lantaran ingin menyaksikan harmonisasi kemegahan gunung dan lantunan musik yang syahdu. Suhu yang mencapai 4 derajat Celsius membuat penonton wajib menggunakan pakaian hangat selama menonton.

Tahun ini jazz di alam yang dikenal dengan sebutan Jazz Atas Awan ini akan  hingga 4 September 2022 di Desa Wisata Dieng Kulon, Kecamatan Batur. Selain ada pertunjukan music, pengunjung bisa menikmati rangkaian candi-candi Pandawa, atau Telaga Warna. Tertarik? Ayo agendakan liburan akhir pekanmu.

Maumere Jazz Fiesta Flores

Tak hanya berlangsung di gunung, jazz di alam terbuka juga bisa dilaksanakan di tepi laut atau pantai. Dan, siapa bilang Indonesia bagian timur sepi akan hiburan musik berkelas.

Di Nusa Tenggara Timur ada Maumere Jazz Fiesta Flores yang pernah digelar pertama kali pada Agustus 2017. Ajang jazz di alam terbuka ini pernah diselenggarakan lagi pada 2018. Sayangnya setelah itu belum terselenggara lagi.

Pilihan tempat untuk pelaksanaan perdana pentas ini jatuh di hutan mangrove atau bakau milik Babah Akong dengan luas lebih-kurang 70 hektare. Letaknya di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Salah satu pelopor musik jazz era modern, Barry Likumahuwa, turut mengisi acara ini.

Festival jazz di hutan bakau merupakan acara pertama di Indonesia yang mempromosikan kawasan timur Indonesia lewat pertunjukan musik. “Konser ini terbuka luas untuk masyarakat dan digelar gratis. Kita ingin daerah ini semakin dikenal melalui potensi budaya dan wisatanya. Hal-hal unik akan terus dilakukan demi daerah dan masyarakat Kabupaten Sikka,” ujar Melchias Markus Mekeng, tokoh masyarakat Maumere.

agendaIndonesia

*****

Keju Lokal Indonesia, Ini 5 Yang Creamy

Produk keju menjadi penguat rasa pada resep-resep masakan.

Keju lokal Indonesia pasti sudah banyak yang sering mengkonsumsinya. Mungkin tanpa sadar mengetahui jika itu adalah produk buatan sejumlah daerah di Indonesia, karena membelinya di jaringan supermarket dunia.

Keju Lokal Indonesia

Keju memang bukan makanan asli Indonesia, ia masuk dan dikenal di negeri ini karena dibawa orang-orang Belanda pada zaman kolonial. Produk ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari susu.

Untuk konsumsinya, keju dapat disantap langsung atau dijadikan bahan campuran pada hidangan. Cita rasa keju umumnya manis dan asin. Rasa ini dapat ditemukan di banyak produk pastry dan kue seperti puff pastry, cheese cake, roti isi , atau masakan-masakan pasta Italia. 


Bertahun lamanya, masyarakat Indonesia memahaminya kalau keju adalah buatan luar negeri. Produk impor, atau setidaknya jika diproduksi di Indonesia ia menggunakan merek luar negeri.

Keju lokal Indonesia ada berbagai macam jensnya dari cheddar, mozarella, hingga keju danke.


Ternyata beberapa daerah di Indonesia sudah dikenal memproduksi keju  dengan mengandalkan bahan-bahan lokal. Meski mungkin keju Eropa masih mendominasi pasar dunia, tapi keju lokal Indonesia juga merupakan produk  berkualitas. Pabriknya tersebar di beberapa daerah.


Keju lokal Indonesia punya kualitas yang tak kalah baik. Produsen keju lokal ini tak main-main soal kualitas dan rasa. Berikut lima keju lokal Indonesia yang patut dicoba dan menjadi pilihan utama.


Keju Indrakila Boyolali
Di Boyolali, Jawa Tengah, selain jadi sentra susu sapi, juga ada produsen keju yang cukup terkenal. Indrakila adalah pabrik keju pertama di Jawa Tengah, pendirinya pemuda asli Boyolali bernama Noviyanto.


Keju Indrakila ini mulai dibuat pada 2009 lalu dan kini produksinya sudah terbilang besar. Dalam sehari, pabrik mampu menghasilkan 50 kilogram keju dari sembilan varian berbeda. Keju Indrakila bahkan membuat keju jenis Boyobert yang berasal dari kata Boyolali Camembert.

Keju Lokal Indonesia dari Boyolali jenis mozarella
Keju MOzarella Indrakila dari Boyolali.

Berawal memanfaatkan kelebihan produksi susu sapi di daerahnya, Noviyanto kemudian mengolahnya menjadi produk keju dengan nama Indrakila. Keju Indrakila mempunyai kualitas yang tak kalah dari produk keju buatan luar negeri.

Pembuatan keju Indrakila ini  menggunakan 99 persen susu sapi segar lokal yang sudah dipanaskan dicampur dengan garam dan bakteri Lactobacillus untuk mengasamkan susu dan bakteri Streptococcus untuk menggumpalkan susu.

Salah satu varian keju Indrakila adalah jenis mozzarella diakui sebagai keju dengan rasa yang paling mendekati keju mozarella impor.

Keju Baros Sukabumi
Di kawasan Sukabumi juga ada pabrik keju bernama Baros. Keju yang dihasilkan awalnya jenis keju gouda dengan empat varian. Selain memproduksi keju, pabrik ini juga menyediakan paket tur untuk pengunjung yang ingin mengetahui proses pembuatan keju.

Bagipenggemar keju, keju gouda bukan jenis yang asing. Namanya mengacu pada Kota Gouda, Belanda, yang tak lain merupakan asal mula produk keju jenis ini. Keju gouda berwarna kuning tua, termasuk dalam golongan keju semi padat (semi hard cheese) hingga padat (hard cheese).

Rachmantio adalah nama pengusaha keju lokal Indonesia dengan bendera PT Bukit Baros Cempaka di Sukabumi. Pengusaha kelahiran Cirebon ini mengolah dan memproduksi keju gouda dengan masa pemeraman antara 1,5 bulan hingga lebih dari empat bulan.

Keju Baros Sukabumi IG
Keju gouda Baros dari Sukabumi.

Berkat ketekunannya, produk keju gouda bermerek Baros sejajar dengan produk-produk keju impor di rak-rak supermarket. Ia mengaku memilih gouda, dan bukan cheddar, karena kualitasnya.

Awalnya, Keju Baros fokus memproduksi jenis keju gouda. Belakangan mereka juga memproduksi keju jenis lain.

Agar rasa dan kualitasnya sama seperti keju asal kota Gouda, perusahaan ini sempat mendatangkan  ahli keju Gouda dari Belanda untuk mengajarkan cara pembuatan keju kepada karyawannya. Susu sebagai bahan utamanya berasal dari sapi Friesian Holstein yang didatangkan langsung dari Belanda.

Keju Lembang Bandung
Keju yang diproduksi di Bandung ini punya merek Keju Lembang. Usaha produksi keju skala mikro ini didirikan sejak 2013 di kawasan Lembang yang terkenal sebagai salah satu pusat susu Indonesia.


Produk keju mozzarella di pabrik ini terkenal dengan kualitasnya yang lezat dan mirip seperti keju Italia. Kualitas keju produksi ini bahkan diawasi langsung oleh ahli keju di bawah supervisi akedmisi dari Teknik Kimia, ITB.

Keju Yogyakarta
Dari kota pelajar Yogyakarta ada juga produsen keju artisan yang menarik. Keju dengan label Mazaarat ini mengusung tagline sebagai keju alami yang sehat dan berkualitas. Total ada 14 jenis keju yang dibuat di pabrikan ini. Mulai dari keju mozzarella, halloumi, feta, ricotta hingga keju gouda. Keju di tempat ini diproduksi dalam skala kecil namun tetap mengandalkan kualitas premium.


Bahan utama keju Mazaraat Artisan Cheese adalah susu kambing dan sapi namun organik. Artinya, sapi dan kambing tersebut dipastikan hanya memakan rumput yang bebas pestisida atau pupuk kimiawi serta bebas dari suntikan hormon antibiotik pemacu produksi susu.

Selain itu, keju Mazaraat Artisan Cheese tidak mengandung bahan pengawet, aditif, perasa buatan, pewarna kimiawi atau bahan GMO (genetically modified organism) sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama

Keju Rosalie Bali
Rosalie Cheese menciptakan keju spesial dengan sentuhan unik pada rasa lokal. Produsen keju yang pabriknya berada di Denpasar, Bali, ini menggunakan bahan-bahan alami, tanpa pengawet dan pewarna. Susu yang digunakannya pun berasal dari kambing etawa dan saanen yang diambil dari peternak di Kecamatan Negara, Bali.

Salah satu alasan menggunakan susu kambing adalah karena kambing beranak dan melahirkan secara natural dan tidak perlu disuntik seperti sapi.

Selain itu, susu kambing juga lebih mudah dicerna tubuh manusia serta cocok untuk mereka yang intoleransi terhadap laktosa.

Rosalie Cheese menyediakan beberapa varian antara lain black-pepper goat, plain goat feta, black and white cheese, camembert dengan moringa (daun kelor), serta crotting cheese dengan bungkus daun anggur.

Ayo mulai mengkosumsi keju lokal Indonesia yang creamy-nya tak kalah dengan keju impor.

agendaIndonesia

*****

1 Senja di Lombok Timur, Mengejar Ribuan Buih

Pantai Gili Pasir

1 senja di Lombok Timur, memburu ribuan buih air laut, dan menapak di jutaan pasir. Pulau-pulau kecil dengan pasir halus, tersebar dari Tanjung Luar sampai Sekaroh.

1 Senja di Lombok Timur

Udara mulai bergeser terik, meski masih terbilang pagi. Meninggalkan Pantai Seger di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, saya tak ingin hanya berputar di sekitar kawasan wisata Kuta. Jadilah kendaraan melaju ke bagian timur. Maklum, kabarnya ada sebongkah keindahan di sana. Melewati perkampungan yang adem karena penuh pepohonan, hingga akhirnya melaju di atas aspal mulus dengan salah satu sisi yang tandus. Aroma khas pesisir mulai tercium. Perjalanan satu jam sudah.

Setelah melaju di Jalan TGH Moh. Mutawalli, kendaraan pun berbelok ke kanan di depan kantor Desa Serumbung, Kecamatan Jerowaru. Rasa panas pun menerpa, saya menutup jendela rapat-rapat. Tak ada arahan menuju pantai, tapi saya percaya dengan pengemudi yang paham betul Lombok.

Di pertigaan terlihat kerumunan warga yang baru ke luar dari kantor Kepala Desa Ekas Buana. Saya lihat kiri-kanan kebun jagung yang mengering, jalan kecil tanah pun berdebu. Namun, hanya dalam jarak 400 meter, samudra pun sudah di depan mata. Debur ombak nyaring terdengar. Pantai yang begitu panjang, diapit dua bukit bebatuan.

Perjalanan 1 jam lebih dari Kuta pun menjadi tak terasa. Saya memilih menaiki bukit batu agar bisa memandang pantai dan samudra dari ketinggian. Apalagi di balik bukit ternyata ada pantai kecil yang juga begitu sepi. Di ujung lain, terlihat ada bagian pantai dengan pasir putih, sedangkan di dekat saya berdiri, tepian pantai penuh dengan karang. Tak ada turis berkeliaran. Ketika menuruni bukit, baru saya bertemu dua ibu yang membawa keranjang. Rupanya mereka hendak mencari kerang-kerang yang bersembunyi di balik karang.

Pantai Pink
Wisata pantai di Lombok Timur, salah satunya ke pantai Pink. shutterstock.

Saat kendaraan baru beranjak, barulah saya bersua dengan dua turis bule yang mengendarai sepeda motor. Mereka mengarah ke pasir putih yang berada di sisi kiri. Di sana memang lebih nyaman untuk berjemur atau sekadar leyeh-leyeh di tepi pantai. Pantai landai dengan pasir yang lembut.

Satu surga harus saya tinggalkan siang itu. Karena Lombok Timur masih menyimpan “surga-surga” lain, kali ini saya masih harus berkendara satu jam lagi dari Desa Ekas Buana menuju sisi yang berlawanan, yakni Tanjung Luar. Ada sejumlah pulau kecil, dan tentunya Pantai Pink, yang namanya sudah berkibar di kalangan pelancong.

Atas saran pengemudi, saya dan kawan mendatanginya via laut, alias berperahu. “Lewat darat harus lewat hutan Sekaroh dengan jalan rusak, dan kalau kemalaman pas pulang, gelap itu,” ujarnya. Sebagai orang yang tak paham wilayah, saya sepenuhnya percaya kepada pria asli Lombok itu.

Jadi kami pun menuju sebuah pelabuhan kecil di Dusun Telong Elong, Desa Pringgasela Timur, Lombok Timur. Sebenarnya, bisa juga berperahu dari Labuan Pandan, tapi lagi-lagi menurut si pengemudi yang bernama Kadir itu, jaraknya terlalu jauh. Kadir berbaik hati pula memesan pisang goreng sebelum kami tiba. Dengan bekal minuman dan pisang goreng panas, kaki pun melangkah riang. Sudah terbayang keindahan pantai-pantai di Tanjung Luar.

Mendung seperti tiba-tiba menyergap. Saya segera ke perahu nelayan, paling tidak tentunya berharap hanya gerimis yang turun dan langit pun segera cerah kembali. Perahu melaju melewati Gili Re, pulau dengan penduduk terbanyak di Tanjung Luar. Di sini pula, Mak Heri, nelayan yang mengantar kami, tinggal. Keramba terlihat di sekeliling pulau. Tujuan pertama rupanya Gili Pasir, yang dicapai hanya dalam 15 menit. Ehmm… Benar-benar hanya ada gundukan pasir, bendera merah putih, dan bintang-bintang laut yang menampakkan diri di tepian pantai.

Sederhana suasananya tapi bahagia rasanya dan saya ingin berlari menuju dua sisi pasir yang tak seberapa luas itu. Sayang, tak lama hujan deras turun dan sempat masuk ke dalam perahu. Tapi kami mencoba menunggu dan berharap hujan segera berhenti. Doa rupanya terkabul, hujan hanya sesaat. Saya pun kembali berlari di pasirnya yang halus dan tertawa lepas.

Tak bisa terlalu lama rupanya, karena perjalanan ke pulau selanjutnya lebih panjang. Melewati tambak-tambak ikan, juga tempat pembudidayaan mutiara. Sang nelayan sempat menunjuk Pantai Pink 2 yang dari kejauhan terlihat pasirnya yang merah muda. Terlihat sepi, tapi perahu terus melaju hingga sekitar 30 menit, dan tibalah di Gili Petelu. Pulau kecil dengan tiga bukit karang, juga pantai berpasir putih yang mini. Terlihat satu keluarga tengah menikmati keindahan bawah lautnya. Perairannya yang jernih memang menggoda.

Meski tidak bisa terbilang istimewa, menjajal snorkeling di sini bisa menjadi pilihan. Bila tidak, cukuplah dengan menebar remah-remah roti, rombongan ikan pun menampakkan diri. Saat langit mulai tak terang lagi, perahu kembali dinaiki. Di sisi kanan Gili Petelu sudah terlihat hamparan Pantai Pink, yang ternyata warna kemerahannya tak terlalu kuat bila dibanding Pantai Pink 2. Bisa jadi, karang-karang merah yang membikin pasir menjadi kemerahan sudah tak lagi banyak singgah di pantai yang terletak di Desa Sekaroh ini.

Ombak begitu tenang di tepi pantai. Berjajar beberapa perahu, terasa sepi. Hanya ada satu anak seusia siswa taman kanak-kanak bermain di pantai, dan orang tuanya menunggu di tepian. Kelompok turis bisa jadi sudah pulang karena senja sudah menjelang. Tinggal segerombol nelayan yang nongkrong di sebuah warung. Sejenak saya ingin menikmati pantai dalam keheningan, sementara rekan saya langsung mendaki bukit yang ada di salah satu sisi. Tentunya untuk mencari tempat pengambilan foto terbaik.

Anjing-anjing berlarian, gonggongannya memecah hening. Saya menengadah ke langit, rupanya warnanya mulai gelap. Saatnya menyusul teman, mendaki ke bukit. Segerombolan kambing dan seorang nenek saya temukan di atas bukit, plus setumpuk kelapa muda. Duduk di bangku kayu sembari menyeruput air kelapa hijau tampaknya bisa bikin menanti senja semakin nikmat. Langit mulai menguning, memerah, dan rekan saya tiba-tiba muncul dari ujung bukit. Masih ada warna merah dan berbaur gelap di langit, tapi kami memilih kembali ke perahu. Lebih asyik menikmati senja di tengah lautan.

Perasaan saya perjalanan pulang lebih panjang. Mungkin karena perahu tak mampir-mampir. Lampu-lampu di tempat budi daya mutiara, dan bagan ikan yang terapung, menjadi penerang laju perahu. Tak ada satu pun yang berbicara. Sesekali Mak Heri menyapa rekannya yang menjaga bagan ikan. Hanya ada suara ombak terhantam perahu dan mesin perahu yang saling bersahutan. Kami kembali dalam hening, seakan tak rela meninggalkan langit yang jingga. Apalagi dermaga kecil di Dusun Telong Elong yang dituju tampak gelap gulita. l

Rita N/Fran-TL

Bolu Bakar Tunggal, 2 Varian Yang Enak

Bolu Bakar Tunggal Bandung jadi satu inovasi oleh-oleh lagi dari Bandung.

Bolu bakar Tunggal belakangan ini menjadi salah satu penganan ringan yang cukup ramai digandrungi di Bandung. Berawal dari popularitas di kalangan warga lokal, kini ia menjadi salah satu alternatif oleh-oleh yang diburu banyak pendatang dan wisatawan di kota kembang.

Bolu Bakar Tunggal

Warga Bandung sendiri sejak dulu memang sudah dikenal begitu menggemari roti bakar. Banyak tempat-tempat penjual roti bakar yang kondang di kota ini, seperti Roti Gempol yang melegenda. Bolu bakar Tunggal pun lantas menjadi salah satu inovasi yang terlahir dari tren ini.

Kemunculan bolu bakar bisa jadi dipelopori oleh toko Tunggal, sebuah toko sekaligus produsen beragam jenis biskuit, kue kering dan basah. Usut punya usut, perusahaan bernama lengkap PT Tunggal Inti Kahuripan ini ternyata sudah eksis sejak 1962.

Bolu Bakar Tunggal Bandung menjadi ikon pariwisata baru, seperti halnya Gedung Sate.

Salah satu produk mereka yang cukup sukses dan melegenda adalah biskuit marie. Biskuit marie Tunggal terbilang populer di kalangan warga Bandung, utamanya bagi anak kecil yang gemar menyantap biskuit marie untuk cemilan, atau ketika sedang sakit dan tidak nafsu makan.

Yang cukup unik, perusahaan ini tergolong punya karakter inovatif dan selalu ingin mencoba hal baru pada produk-produknya. Sadar akan ketenaran biskuit marie buatannya, mereka lantas mencoba bereksperimen dengan varian yang baru, salah satunya adalah biskuit marie tutung.

Biskuit marie tutung ini sejatinya adalah biskuit marie yang dibuat lebih gosong, dengan penampilan yang lebih gelap, layaknya makanan overcooked. Biskuit marie ini memiliki cita rasa cenderung pahit gurih dibandingkan biasanya.

Ternyata, inovasi ini terbilang cukup berhasil karena peminatnya pun tetap banyak. Padahal, harga biskuit marie tutung ini bisa lebih mahal sekitar Rp 20 ribu ketimbang varian original, tapi nyatanya varian ini juga banyak digemari konsumen.

Selain dikenal dengan biskuit marie, toko Tunggal juga memproduksi beragam produk-produk lain seperti bagelen, soes kering, wafer, brownies kukus, dan sebagainya. Tak heran jika produk mereka kemudian kerap menjadi oleh-oleh wisatawan.

Tak cuma itu, mereka juga dikenal membuat bolu berbentuk balok-balok memanjang, yang tersedia dalam bermacam pilihan rasa, mulai dari coklat, pandan, pisang, peuyeum, kopi, dan lain-lainnya. Harga satu kemasannya pun berkisar dari Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

Namun, sesuai dengan prinsip perusahaan yang gemar berinovasi dan mencoba menelurkan produk-produk baru yang unik, toko Tunggal pun turut bereksperimen dengan produk bolu mereka. Hasilnya, mereka memperkenalkan bolu bakar Tunggal pada 2004 silam.

Bolu Bakar Bandung IG
Bolu Bakar Tunggal menjadi ikon baru oleh-oleh dari Bandung. Foto: IG Bolu Bakar

Metode mereka dalam membuat bolu pun terbilang unik dan berbeda dari kebanyakan. Awalnya, sebagai bahan baku mereka menggunakan roti yang dibuat sedemikian rupa dari adonan bolu, sehingga teksturnya terasa sangat lembut dan halus.

Roti tersebut lantas dibelah di tengahnya, untuk kemudian diisi dengan isiannya. Pada bolu yang biasa, roti tersebut kemudian dimasak dalam oven. Sementara, untuk bolu bakar Tunggal roti lantas dimasak di atas alat pemanggang.

Setelah jadi, cita rasa yang dimiliki bolu bakar Tunggal ini bisa dibilang sangat unik. Rotinya tetap terasa lembut, bahkan tergolong creamy dan mudah lumer di mulut. Karakter ini yang membuatnya terasa berbeda dibanding roti bakar lainnya.

Secara mendasar, ada dua tipe bolu bakar yang ditawarkan, yakni varian rasa manis dan asin. Pada varian rasa manis, terdapat rasa keju, keju spesial, coklat, roombutter, kopi, kelapa susu, kacang coklat, nanas, pisang dan strawberry.

Sedangkan varian rasa asin terdiri dari rasa abon, abon pedas, tuna, tuna pedas, serta smoked beef keju. Sebagai catatan, varian rasa asin relatif sedikit lebih mahal sekitar Rp 16 ribu hingga Rp 54 ribu dibandingkan varian rasa manis.

Rata-rata harga varian rasa manis berkisar dari Rp 46 ribu hingga Rp 66 ribu. Adapun harga varian rasa asin mulai dari Rp 62 ribu hingga Rp 100 ribu bagi rasa smoked beef keju sebagai varian termahal. Harga yang terbilang premium, namun nyatanya tak menyurutkan animo.

Bolu Bakar Tunggal Bandung IG
Bolu Bakar Tunggal dengan coklat yang meleleh. Foto: IG BoluBakar

Salah satu varian yang cukup populer dan diunggulkan adalah rasa roombutter, yang terasa gurih, beraroma harum dan menambah karakter bolu bakar yang lembut. Varian ini disarankan untuk disantap kala masih hangat, karena karakter roombutter cepat meresap ke dalam bolu.

Varian rasa coklat dan keju juga termasuk yang paling laku dibeli konsumen. Untuk penggemar keju, tersedia rasa keju spesial yang diberikan selai keju ekstra. Bahkan varian smoked beef keju pun tergolong cukup populer, kendati harganya yang paling mahal dibanding varian lainnya.

Bagi yang tertarik, dapat langsung berkunjung ke toko dan pabrik pusatnya di kawasan jalan Sudirman. Kini, area toko telah disulap bergaya café kekinian, cocok bagi pengunjung yang ingin langsung menyantap makanan sambil menikmati nuansa open kitchen.

Selain itu, sudah tersedia pula banyak toko cabang yang menyediakan bolu bakar bagi yang sekedar ingin membeli sebagai oleh-oleh. Yang perlu diingat, bolu bakar normalnya awet pada suhu ruangan sekitar dua hingga tiga hari, sementara dalam suhu kulkas bisa sampai seminggu.

Bolu Bakar Tunggal

Pusat: Jl. Sudirman no. 570-574, telp. (022) 6013712

Cabang:

  • Cihampelas Walk Lt. 2, Jl. Cihampelas no. 160
  • Paskal Hyper Square, Jl. Pasir Kaliki no. 25

Instagram: bolubakartunggal_

agendaIndonesia/audha alief P

*****

5 Yang Manis Gurih Khas Balikpapan

IMG 2987

5 yang manis gurih khas Balikpapan sebagai buah tangan dari kunjungan ke kota minyak di Kalimantan Timur itu.

Lazimnya, oleh-oleh dari Balikpapan, Kalimantan Timur, berupa olahan ikan laut. Umumnya, bisa dikategorikan kerupuk, tapi dengan bentuk yang berbeda-beda, semisal amplang dan kuku macan. Belum lagi olahan penghuni laut yang lain, seperti peyek kepiting atau abon. Sebenarnya, ada pilihan lain tanpa bahan dari laut, di antaranya bolu gulung, mantau, emping, dodol, dan lempo. Tentu rasanya berbeda. Cenderung manis dan ada juga yang gurih. Yang pasti, tetap menggoda sebagai oleh-oleh untuk sanak saudara.

5 Yang Manis Gurih Khas Balikpapan

5 yang manis gurih khas balikpapan
5 yang manis gurih khas Balikpapan salah satunya bingka bakar. doc. TL

Bingka Bakar

Bagi Anda penggemar bingka bakar yang juga bisa ditemukan di beberapa daerah lain, seperti Banjarmasin dan Batam, di Balikpapan pun bisa ditemukan olahan yang sama. Memang kue ini khas kuliner masyarakat Melayu. Terbuat dari kentang yang dibubuhi daun pandan, bingka bakar terasa lebih lembut dan tetap aroma pandannya membuat orang berselera untuk mencicipinya. Dengan bentuk seperti bunga dengan pinggirnya yang berlekuk-lekuk, kue ini tampak tampil cantik. Namun ada juga beberapa orang yang membuatnya dalam bentuk yang lain.

Per buah bingka bakar pandan ini dipatok Rp 27 ribu,. Bisa dibeli sebelum berangkat ke Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan. Salah satunya di Gulung Jenebora, yang juga menyediakan beragam oleh-oleh termasuk bolu gulung.

Gulung Jenebora

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 429

Balikpapan

Gulung Pelangi

Seperti di kota lain, pengusaha kuliner di Balikpapan pun melakukan modifikasi olahan dan membuatnya menjadi oleh-oleh khas, selain makanan tradisional yang sudah dikenal luas. Salah satunya bolu gulung Jenebora. Dari tampilannya, bolu dibikin menarik karena dibuat warna-warni.

Bolu gulung dalam warna pelangi–merah biru kuning hijau—itu, nama sebenarnya ialah Bolu Gulung Rainbow Naga. Di bagian tengahnya bisa ditemukan selai. Selain itu, ada bolu gulung berwarna hijau, namanya Jenebora Gulung Green Tea. Pilihan lain berupa rasa durian dan nanas. Bolu bisa diperoleh dengan harga Rp 40-55 ribu. Gerainya berada di pusat kota. Karenanya, dengan mudah, bangunan yang dipulas merah di beberapa bagiannya itu ditemukan. Tertera pula labelnya dalam huruf berukuran besar. Selain bolu gulung, beragam olahan khas lokal bisa ditemukan di sini.

Gulung Jenebora

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 429

Balikpapan 

Dodol Rasa Buah

Balikpapan memiliki jenis buah yang unik. Tampilannya mirip durian, tapi rasanya berbeda. Buah lai namanya. Namun untuk olahannya yang bisa dibawa pulang, tetap durian yang diproses. Tentu untuk membuang penasaran, tak ada salahnya mencicipi buah lai yang harum dengan warna kuningnya yang menggoda. Soal rasa, ternyata durian yang menjadi juara. Nah, untuk dibawa pulang, ada dodol atau lempok durian dengan rasa durian yang lebih kuat.

Bagi yang gandrung dengan buah beraroma keras ini, saatnya untuk memborong  lempok. Tapi bila tak kuat dengan aroma buah berduri ini, ada pilihan dodol dari salak. Adonan berupa santan kelapa, tepung ketan, gula pasir, gula merah, dan garam ini diberi tambahan berupa daging buah salak  matang yang sudah dihancurkan. Rasa manis bercampur rasa asam buah salak membuat dodol memiliki rasa yang khas. Tentu berbeda dengan dodol dari buah durian. Dijual dalam kemasan yang bermacam-macam, dodol dibanderol mulai Rp 20 ribu.

Bisa ditemukan di berbagai gerai oleh-oleh, termasuk pusat oleh-oleh Pasar Inpres Kebun Sayur.

Pasar Inpres Kebun Sayur

Jalan Letjen Suprapto

Balikpapan

Mantau Asin dan Manis

Roti mantau tak lain dari roti sepan atau roti kukus. Roti ini memiliki kekhasan berupa tekstur yang lembut.  Roti bisa disantap untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Roti yang satu ini termasuk sajian khas Balikpapan. Biasanya, roti kukus ini digoreng terlebih dulu sehingga terasa gurih dan dipadu dengan olahan sapi atau kepiting lada hitam.

Untuk dibawa sebagai oleh-oleh, mantau dikemas dalam satu kotak dengan isi sebanyak 10 buah. Sedangkan lada hitam dikemas dalam wadah terpisah. Hanya memang saat membawanya sebagai oleh-oleh, Anda sebaiknya membeli tepat di hari penerbangan ke kota asal karena roti kukus ini hanya bertahan 2 hari di udara terbuka. Bila disimpan di lemari es, bisa tahan hingga 7 hari. Tapi untuk daya tahan lebih tinggi, bisa disimpan di freezer hingga mantau pun tahan 30 hari. Satu paket mantau dan sapi lada hitam dijual Rp 60 ribu.

Pusat Pondok Mantau

Jalan Jenderal A Yani Nomor 28 RT 49

(Gang GAMA/Masjid Nurul Ihsan)

Balikpapan

Emping Pedas-Manis

Emping biasanya menjadi teman menyantap nasi plus soto atau hidangan lain. Emping memang tak melulu berasa asin dan berbentuk lebar. Adapula emping dalam ukuran lebih kecil dan lebih tebal dengan rasa manis. Nah, bila ke Balikpapan, Anda akan menemukan rasa baru dari olahan emping ini, yakni pedas. Jadilah emping pedas-manis. Olahan dari Kampoeng Timoer, yang dikenal membuat peyek dari kepiting, ini tak ada salahnya jadi oleh-oleh.

Dibuat dalam kemasan 100 gram, emping pedas-manis yang membuat mengemil sulit dihentikan ini dibanderol Rp 12 ribu. Bisa ditemukan di berbagai gerai oleh-oleh saat Anda meluncur ke bandara dari pusat kota Balikpapan atau di tempat pembuatannya langsung.

Peyek Kepiting Kampoeng Timoer

Jalan Strat 2 Nomor 30 RT 017

Balikpapan

Rita N.