Susu Sapi Boyolali, 1 Sentra Susu Segar

Susu sapi Boyolali sentra susu di Jawa.

Susu sapi Boyolali menjadi salah satu daya tarik pelancong datang ke kota kecil di Jawa Tengah itu. Terlebih lagi kini kota tersebut sudah menjadi satu rangkaian dari jalan tol TransJawa. Jika berjalan dari Semarang ke arah Solo, ada exit di Boyolali.

Susu Sapi Boyolali

Kabupaten Boyolali mendapat sebutan sebagai Kota Susu. Ini mengingat daerah ini merupakan penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah. Kota ini bahkan punya patung sapi perah raksas sebagai ikon daerahnya.

Boyolali memiliki banyak peternakan sapi perah, terutama di daerah selatan dan dataran tinggi yang berhawa sejuk, di mana banyak tersedia pakan hijau yang sangat mendukung perkembangbiakan ternak.

Susu sapi Boyolali selain dikonsumsi langsung juga menjadi aneka produk olahan.
Susu sapi sesudah dari perahan. Foto; shutterstock

Kabupaten yang terletak sekitar 25 kilometer sebelah barat Kota Surakarta ini kadang dijuluki juga sebagai New Zealand Van Java atau Selandia Baru dari Jawa. Sebutan ini berdasarkan kesamaan keduanya, yakni sama-sama sentra produsen susu dan daging sapi.

Sebagian besar wilayah Boyolali terletak di dataran tinggi sehingga cocok untuk menjadi tempat budi daya sapi perah. Dengan potensi budidaya sapi sebesar ini, wajar jika Boyolali menjadi kota Susu. Selain sapi perah, kota tersebut juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong.

Potensi pariwisata di Kabupaten Boyolali juga sangat besar. Ada berbagai wisata alam, wisata edukasi, sejarah dan budaya yang ada di daerah ini. Yang kian dkembangkan tentu saja soal produksi sapi.

Memanfaatkan peternakaan sapi perah yang ada, seperti wisata sapi perah Cepogo, wisata Selo, wisatawan bisa datang dan melihat langsung dan terlibat dalam proses pemerahan susu sapi, hingga susu diolah menjadi berbagai produk olahan seperti keju, kerupuk susu, dodol susu, atau yogurt.

Keju mozarela dari Boyolali berawal ketika ada warga negara Belanda yang mencoba mengembangkan produk susu.
Keju Mozarela produksi Boyolali dari susu sapi lokal. Foto: Tokopedia

Di wilayah Boyolali juga terdapat beberapa gunung, dua di antaranya adalah Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Ke dua gunung tersebut menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur.

Suhu dan kondisi alam yang tepat inilah yang membuat ratusan sapi perah bisa berkembang biak dengan baik di Boyolali. Kota ini menjadi salah satu pemasok susu di Indonesia. Per harinya, produksi susu sapi bisa mencapai 120 ribu liter.

Tapi main atau mampir ke Boyolali tak lengkap jika tak mencicipi produk susu dan turunan kulinernya. Jika tak langsung dikonsumsi, bisa dijadikan oleh-oleh.

Yang pertama tentu saja mencicipi susu segarnya secara langsung. Tradisi nongkrong malam-malam di kedai susu berawal dari kota ini. Wisatawan bisa mendatangi kedai-kedai minum susu terbaik di Boyolali untuk merasakan nikmatnya susu sapi Boyolali yang segarnya alaminya.

Banyak tempat yang menyajikan minuman dan makanan berbahan dasar susu sapi Boyolali. Di antara semua kedai susu, yang paling populer di kalangan warga adalah Waroeng Spesial Susu Segar (SSS).

Selain SSS, pelancong juga bisa mencoba susu sapi Boyolali di kedai Mas Bejo. Susu Segarnya yang khas membuatnya didatangi banyak pengunjung dari dalam kota maupun pelancong.

Berlokasi di di Jalan Pandanaran No 241, Susu Segar Mas Bejo menyediakan berbagai macam menu susu yang harganya sangat murah. Dengan uang kurang dari Rp 10 ribu, wisatawan sudah bisa menikmati segelas susu sapi segar dengan rasa favorit.

Selain susu segar, produk khas daerah Boyolali pertama adalah tahu susu. Makanan ini merupakan olahan dari susu dengan cita rasa yang khas dan unik.

Perbedaan itu bisa dilihat dari aroma dan rasa yang lebih manis. Dari segi tekstur, tahu di sini sangatlah lembut dan kenyal. Bahkan, ada beberapa yang ketika pertama kali dipegang langsung hancur atau rapuh seketika.

Tahu susu kerap dijadikan oleh-oleh khas Boyolali yang tahan lama. Wisatawan bisa membawa tahu susu yang masih mentah yang dikemas dalam plastik. Harganya pun terjangkau yang ditemukan di toko oleh-oleh sekitar Boyolali.

Selain tahu susu, susu sapi Boyolali juga dioleh menjadi dodol susu. Berbeda dengan dodol dari daerah lain, dodol susu memiliki rasa yang lebih manis dan creamy. Kudapan ini cocok untuk wisatawan yang menyukai makanan manis. Rasa dodol susu relatif mudah diterima di lidah semua kalangan, dari anak kecil hingga orang tua.

Makanan khas dari Boyolali yang dapat dijadikan oleh-oleh selanjutnya adalah Keju Meneer. Makanan hasil fermentasi susu sapi ini berasal dari daerah Selo.

Dulunya ada warga Belanda yang tinggal di daerah itu dan berkeinginan untuk mengembangkan potensi susu sapi di wilayah ini dengan baik. Dengan keinginannya tersebut, ia membuat produk keju dengan rasa yang sangat gurih. Keju meneer bisa tahan sekitar tujuh hari di perjalanan.

Abon Sapi Boyolali Tokopedia
Abon sapi Boyolali. Foto: Tokpedia

Kota Boyolali tidak hanya terkenal sebagai daerah penghasil susu sapi segar terbesar di Jawa Tengah, tetapi daerah itu juga dikenal dengan olahan daging sapinya. Karena itu, tidak lengkap jika para wisatawan belum mencicipi sekaligus membawa olahan daging sapi dari daerah ini. Seperti dendeng atau abon.

Dalam proses pengolahannya, produsen menggunakan daging sapi pilihan dan bumbu yang berkualitas agar bisa menghasilkan dendeng sapi bercita rasa khas. Daging sapi harus diiris setipis mungkin sebelum dibumbui dan direndam dalam bumbu rempah.

Setelah beberapa waktu, daging sapi berbumbu dikeringkan secara maksimal. Dendeng sapi yang sudah jadi kemudian dikemas dalam plastik yang direkat dan bisa dibawa untuk perjalanan jauh. 

Produk olahan daging lainnya adalah abon sapi khas Boyolali. Sama seperti abon pada umumnya, bentuknya serabut berwarna kecoklatan terang hingga kehitaman. Cita rasanya dominan gurih dan manis sehingga cocok dijadikan sebagai makanan pendamping nasi.

Harga dari abon sapi khas Boyolali ini relatif terjangkau. Abon Sapi juga memiliki ketahanan yang lama karena kering dan tidak ada air di dalam kemasannya sehingga cocok untuk dibawa dengan perjalanan yang lama.

Jadi kapan dolan ke Boyolali? Cobalah mampir sebentar saat perjalanan dari Jakarta, Semarang atau kota lainnya dan melintasi kota ini. Kalau tak sempat main lama, produk susu dan olahannya bisa jadi alternatif buah tangan.

agendaIndonesia

*****

Pedang-pedang Indah Cibatu Sejak 1985

Pedang-pedang indah Sukabumi, selain indah juga syarat sejarah. Foto: TL-Rully kesuma

Pedang-pedang indah Cibatu, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, adalah kerajinan yang tak hanya elok, pedang-pedang ini pun dipesan karena nilai sejarahnya. Tak selamanya alat yang berkesan keras dan berbahaya ini sesungguhnya memiliki nlai seni yang tinggi. Bahkan juga ada syiar agama.

Pedang-pedang Indah

Betul, ada kisah sejarah perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya terkait pedang-pedang indah itu. Kisahnya, di seantero jazirah Arab orang mengenal Amru bin Abda Wudd sebagai kesatria Quraisy yang ganas. Ketika Perang Khandaq berlangsung, ia menantang duel para pengikut Nabi Muhammad. “Siapa di antara pengikut Muhammad yang berani berduel denganku?” ujarnya.

Tantangan tersebut tak ayal membuat para sahabat Nabi kecut. Mereka mengenal betul siapa Amru bin Abda Wudd. Tak hanya memiliki tubuh yang besar dan tegap, Amru mahir memainkan tombak dan pedang. Suasana menjadi hening dan mencekam. Tak seorang pun menerima tantangan tersebut.

Ali bin Abi Thalib, yang mendengarkan tantangan itu, gelisah. Ia memohon izin kepada Nabi untuk melayani tantangan tersebut, tapi tak dikabulkan. Beberapa kali memohon, akhirnya Ali diizinkan juga.

Pertarungan dahsyat tak terelakkan lagi. Suara keras benturan pedang terjadi berulang-ulang. Tak beberapa lama, pertarungan berhenti. Tubuh Amru bin Abda Wudd ambruk dengan bahu terbelah. Wajah Rasulullah berseri-seri melihat kemenangan Ali. Beliau lantas bersujud syukur di atas tanah dan mengucapkan, “Laa saifa illa Dzulfiqar wa laa fataa illa Ali.” Artinya, tidak ada pedang kecuali Pedang Dzulfiqar dan tidak ada pemuda segagah Ali.

“Kalimat itu tergores di sarung Pedang Dzulfiqar atau Dzulfaqor,” kata Haji Aas Asyari, perajin pedang, golok, dan pisau di Cibatu, Sukabumi. Ia pun menunjuk ke salah satu pedang berwarna emas.

Pedang-pedang indah Cibatu, SUkabumi, dipesan untuk kecintaan pada keindahan, bukan kekerasan,
Pedang-pedang indah karya Pak Haji Aas Asyari, Sukabumi. Foto: Dok. TL/Rully K

Pedang yang dipajang di salah satu dinding ruangan itu memang lebih mencolok ketimbang pedang-pedang indah lainnya. Selain warnanya berkilau, desainnya menawan. Bentuk pedang itu melengkung khas pedang Arab. Begitu pula gagangnya.

Namun, kata pria yang akrab disapa Pak Haji itu, pedang tersebut hanyalah replika pesanan dari salah satu konsumen. “Pedang yang asli konon sudah tidak ada lagi. Karena sudah dibuang ke laut. Sebab, berbahaya jika jatuh ke tangan orang lain,” ujarnya.

Selain memiliki pedang bermata dua yang memiliki simbol jihad dan keberanian Ali bin Abi Thalib itu, Haji Aas menyimpan Pedang Al-Battar. Sama halnya dengan Pedang Dzulfiqar, pedang ini replika pesanan seorang konsumen. Meski replika, kata Pak Haji, pedang itu dibuat nyaris sama dengan bentuk aslinya.

Untuk Pedang Al-Battar, misalnya, di sarung dan gagangnya terdapat 555 butir batu permata. Khusus di gagangnya, bertabur 150 butir permata. Walhasil, pedang dengan panjang hampir 100 sentimeter itu lumayan berat. Menurut dia, pedang aslinya masih tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Pria 61 tahun ini mengaku mewarisi keahlian ayahnya, Haji Syarifudin, yang memulai usaha sedari muda, pada 1985. Selain melayani pembuatan pedang-pedang indah untuk para kolektor, Haji Aas melayani pembuatan samurai, golok, dan pisau dari perguruan bela diri, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI. Pelanggan tetapnya adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia dan Persatuan Pencak Silat dari Belanda.

Mengenai harga, ia mengatakan tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan. “Karena desain yang rumit membutuhkan waktu pengerjaan yang lama,” ucapnya. Untuk senjata tajam jenis golok, harganya bisa lebih dari Rp 250 ribu. Sedangkan harga pedang atau samurai mencapai setidaknya Rp 5 juta.

Meskipun masih menggunakan peralatan sederhana, perajin yang menamai usahanya Golok Pusaka itu sudah menghasilkan ribuan senjata tajam. Pedang-pedang indah karyanya tidak hanya dipesan pelanggan atau peminat dari Indonesia, tapi juga hingga mancanegara, seperti negeri seberang Brunei Darusalam dan Malaysia.

Lalu, apakah Pak Haji melayani pembuatan golok pusaka yang konon memiliki kesaktian? “Bisa saja. Tapi sekarang sudah jarang yang memesan golok seperti itu. Pembuatannya lebih rumit dan lama karena butuh ritual. Yang mengerjakannya juga harus berpuasa terlebih dulu dan menentukan tanggal pembuatannya,” ujar Pak Haji, yang mengaku masih memiliki kemampuan seperti itu. Wow!

DI Cibatu sendiri kini tumbuh semacam sentra kerajinan senjata tajam. Tak hanya pedang dan golok, namun juga pisau-pisau khusus. Banyak pelanggan luar negeri yang dating untuk memesan pisau-pisau ini.

agendaIndonesia/TL/Andry T./Rully K.

*****

2 Wisata Balikpapan, Udara Laut dan Hutan

iStock 509316323

Kota kilang minyak di Kalimantan Timur ini tak hanya tumbuh sebagai kota bisnis, tapi juga tempat wisata Balikpapan. Bandar udara yang tergolong anyar karena baru diresmikan pada September 2014 ini pun terlihat megah dan hadir dengan nama baru Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Berupa gedung berkonsep eco-airport dengan langit-langit tinggi, terdiri atas empat lantai, dan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. 

Balikpapan memang punya pilihan beragam destinasi. Di seputar kota ataupun hutan-hutan di pinggiran kota. Di dalam kota, misalnya, wisatawan bisa menikmati pantai dan kuliner serta pemandangan laut dari ketinggian. Ada Pantai Melawai dan Kemala, yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Jangan lupa juga mencicipi hidangan dari kepiting yang tersedia di sejumlah restoran. Hidangan yang satu ini memang lekat dengan kota ini. 

Yang Khas Wisata Balikpapan

Masih di pusat kota, pelancong juga berbelanja berbagai kerajinan khas Suku Dayak serta olahan makanan di Pasar Kebun Sayur. Benda-benda khas dari rotan dan bambu hingga batu warna-warni, yang berupa gelang, kalung, dan cincin, bisa ditemukan di sini. Selain itu, ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya, terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 kilometer dari pusat kota. Anda bisa bersua dengan ribuan ekor buaya, yang terdiri atas tiga jenis, yaitu buaya muara, supit, dan air tawar, yang menempati lahan seluas 5 hektare itu. Bisa juga berbelanja produk dari kulit buaya. 

Jika ingin menikmati hawa khas hutan, saatnya mengintip konservasi orang utan dan beruang madu yang dikelola Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat kota. 

Anda akan melalui jalur tanpa aspal dengan di sisi kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Selain orang utan, ada juga kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang berbeda.

Masih di daerah yang sama, ada pilihan lain, yakni Taman Nasional Bangkirai. 

Merupakan hutan konservasi seluas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Daya tarik lainnya adalah jembatan gantung sepanjang 64 meter dengan ketinggian 30 meter di atas tanah. l

F. Rossana

Bakpia Balong Solo, 1 Kotak Isi 5

Bakpia Balong Solo, pia khas Solo, alternatif oleh-oleh.

Bakpia Balong Solo tentu tidak terlalu akrab di telinga pecinta cemilan. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama bakpia lebih dikenal sebagai makanan oleh-oleh khas dari Yogya, dan ke dua bakpia Solo ini masih belum bersertifikasi halal. Jadi memang harus hati-hati untuk yang muslim.

Bakpia Balong Solo

Bakpia sendiri adalah makanan khas Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya lokal Indonesia, khususnya Jawa. Bakpia adalah semacam pastri khas Fujian, salah satu daerah di Tiongkok, berupa kue yang terdiri dari gulungan kulit panggang dengan varian isi.

Kulit bakpia dibuat dari campuran tepung terigu, gula, dan garam yang kemudian dibentuk menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian diisi dengan isian, apapun isiannya, dan dibentuk bulat pipih.

Kota Solo memiliki kekayaan kulinari yang luar biasa, terasuk Bakpia Balong SOlo.

Pada awalnya, isian bakpia berisi daging babi (non-halal) dan kundur yang memiliki nama lain bakpia asin. Namun karena diasimiliasi dengan budaya Indonesia yang mayoritas beragama Islam, isian bakpia ini diganti dengan varian lain, seperti kacang hijau, keju, dan varian lainnya.

Jika pembuat bakpia di Yogyakarta cepat melakukan penyesuaian terkait kehalalan makanan ini, rupanya tidak demikian dengan produsen di Solo. Mereka membuat produknya tetap dengan patron resep lama mereka.

Barangkali itu sebabnya, jika mendengar kata ‘bakpia,’ mungkin yang terbayang di pikiran orang adalah Yogyakarta. Namun, sebenarnya Kota Bengawan ternyata juga memiliki bakpia legendaris yang sudah menjadi andalan cukup lama.

Adalah Bakpia Balong Solo, yang diproduksi dan dijual toko ‘Sumber Rejeki’. Ini adalah makanan khas peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah cukup melegenda di Kota Solo.

Dilansir dari sebuah sumber, kuliner ini disebutkan sudah ada sejak 1960-an dengan salah satu ciri khasnya dikenal karena ukurannya yang besar. Lebih besar dari ukuran bakpia dari yang selama ini dikenal dari Pathok Yogyakarta.

Pia Balong Solo IG
Bakpia Balong Solo ukurannya lebih besar. Foto IG Bakpia Balong

Bakpia Balong Solo ini sudah dikelola oleh tiga generasi dan menurut penjelasan pengelolanya saat ini, ukuran bakpia mereka yang lebih besar ini mengacu pada ukuran asli dari negara asalnya, yaitu Tiongkok. Pengelolanya pun mengetahuinya saat berkunjung ke Tiongkok.

Awalnya, Bakpia Balong Solo ini hanya tersegmentasi untuk komunitas masyarakat Tionghoa di Solo saja. Namun seiring berjalannya waktu, Bakpia Balong ini bisa dinikmati secara luas oleh kalangan masyarakat dan hingga sekarang menjadi oleh-oleh khas Solo.

Dalam perkembangannya pula varian isinya berkembang. Jika tadinya hanya daging saja, terutama daging babi yang non-halal, kemudian memakai isiannya memakai yang halal. Sayangnya, lagi-lagi, mereka belum memisahkan proses produksi yang halal dan non-halal.

Bakpia ini bisa ditemukan di kawasan Pecinan di Kota Solo, tepatnya di Jalan Kapten Mulyadi Nomor17, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta atau tidak jauh dari lokasi Pasar Gede Hardjonagoro. Penamaan ‘Balong’ sendiri diambil dari kawasan Pecinan yang bernama Kampung Balong.

Bakpia ini terkenal sejak lama. Meskipun tokonya kecil tapi masih bertahan hingga saat ini. Sekarang tokonya dengan pintu kaca dan ruangannya sudah berpendingin udara. Kemasan bakpianya juga lebih modern dan satuan dikemas dalam box kecil warna putih. Rasanya pun lebih bervariasi. Ada buah-buahan, kopi, atau daging.

Kalau yang dulu familiar dengan kemasan Bakpia Balong Solo yang masih dibungkus plastik isi 5 pia, sekarang sudah berubah, pakai kotak. Kemasan saat ini lebih Clean and light. Mereka rupanya mulai mengikuti perkembangan zaman. Dari rasa isinya tetap sama, baik dari rasa maupun ukurannya.

Bakpia Balong saat ini sekarang memiliki tujuh varian rasa yaitu chocolate pie, cheese pie, red Bean pie, mung Bean pie, chocolate cheese pie, durian pie dan meat pie. Bagi pecintanya, semua rasanya enak dan layak menjadi buah tangan saat sedang ke solo. Tapi sekali lagi, hati-hati jika tidak mengkosumsi produk non-halal.

Bakpia Solo IG

Bagi yang senang, disebut rasa bakpianya khas dan beda dengan bakpia tempat lain. Rasa kacang ijonya dikombinasi dengan tangkue (manisan winter melon) yang belum pernah ditemui di bakpia produk lain di Yogyakarta.

Saat ini ukuran bakpianya, meski tetaplebih besar dari bakpia umumnya, sedikit lebih kecil dibandingkan dulu dan harganya pun sudah naik. Satu box berisi lima seharga Rp 30 ribu. Ini bisa jadi alternatif oleh-oleh dari Solo buat teman yang bukan muslim.

agendaIndonesia

*****

Terbuai Gelombang di Pantai Bali Selatan

shutterstock 186

Sehari pasca-Kuningan, penjor-penjor masih berdiri gagah di sepanjang lorong gang-gang di Denpasar, Bali. Juga di pantai Bali di Pulau Dewata itu. Janur kuning belum berubah kecokelatan. Bunga-bunga di canang juga tampak baru kemarin sore ditata di papan persembahan. Pagi itu, para perempuan berkamen dengan rambut disanggul berlalu-lalang di sepanjang Sunset Road, Badung, Bali, diikuti para lelaki dengan aksesori udeng di kepala. “Mereka akan sembahyang di pura-pura keluarga,” kata Made Arya, warga asli Singaraja, yang bebeapa hari itu mengantar perjalanan di Bali. 

Mobil melaju ke selatan menuju pesisir Pulau Seribu Pura. Kian dekat pantai, tempat-tempat persembahyangan kian banyak dijumpai. Orang-orang mengantar doa makin berlipat jumlahnya. Kontras dengan warga-warga asing yang melaju santai membawa papan selancar, beriringan ke arah yang sama. 

Pantai Bali Setelah Kuta

Lamat-lamat, lantunan Kuta Bali Andre Hehanusa terdengar dari radio. …Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku, di Kuta Bali cinta kita… Made Arya memutar tombol volume. “Kuta dulunya memang ramai. Apalagi setelah upacara Kuningan begini. Namun orang sekarang mungkin agak bosan. Mereka mau yang lebih indah, yang lebih menantang. Yang asyik, ya, Bali bagian selatan, di pantai-pantai yang belum terjamah,” tuturnya. 

Mobil Made membelah jalan bertebing karst. Roda-rodanya luwes mengikuti jalur-jalur sempit dan berkelok. Patung Garuda Wisnu Kencana tampil di kiri jalan. Tak lama, sebuah papan kayu kecil di persimpangan jalan menarik pandangan. Pantai Gunung Payung. Begitulah tulisan yang tertera. Belum banyak literatur yang mengulas pantai ini. 

Jalan masuknya berupa jalur menuju kawasan golf di Uluwatu. Begitu sampai, sebuah lorong dengan dinding penuh tumbuhan merambat menyambut dan menuntun langkah menuju lokasi suara ombak terpecah karang bernaung. Jalannya cukup besar dengan kontur menurun. Namun semakin lama semakin menyempit. Jalan rata berubah menjadi tangga-tangga batu yang licin. Kanan-kiri semak belukar. 

Paralayang di langit Selatan Pulau Bali
Paralayang di langit Selayan pulau Bali.

“Jalan ke bawah masih jauh, buddy,” kata pria Australia berusia 30 tahun kepada rekan sejawatnya dalam bahasa Inggris. Napasnya tersengal. Sebab, sebelah tangannya menggendong papan selancar. DI seperempat jalan, terdapat sebuah spot, yang sering digunakan untuk berfoto, berupa tanah lapang dengan pemandangan lepas pantai. Diteropong dari atas, lanskap yang tersaji ialah hamparan Gunung Payung dengan pasir putih disapu ombak. Terlihat beberapa orang kulit putih berjemur santai sembari menikmati bir. 

Perjalanan masih cukup jauh. Kaki kembali melangkah. Kian ke bawah, tangga curam menghadang. Lanskap pantai dan gunung karang mulai tak terlihat. Lorong makin gelap. Sekitar 20 menit kemudian, lorong itu menemui ujungnya. Cahaya merasuk sedikit-sedikit. Hamparan pasir menyambut. Di anak tangga terakhir, saya seperti berada di sebuah gerbang yang membawa ke dunia lain. Oasis tanpa batas yang bersanding dengan lautan membikin jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Di ujung pantai, dekat dengan gunung karang, bule Australia yang saya temui di perjalanan tadi sudah melucuti pakaian luarnya dan berlari-lari kecil. Sejurus kemudian, papan itu diajak menari di atas gelombang. Sesekali terempas dan tubuhnya jatuh terpelanting ombak. 

“Deretan pantai Bali selatan memang surganya para surfer,” ucap Made memecah hening. Pantai Gunung Payung menjadi salah satu favorit lantaran punya gelombang yang besar. Namun yang berlaga di sini ialah kalangan profesional, juga yang siap mental digulung ombak ganas hingga 2-3 meter. Belum lagi, karakter pantai di bagian selatan tersebut sebagian besar berkarang. 

Melihat keadaan alamnya, memori langsung mengantarkan saya kepada obrolan bersama seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Denpasar, dokter Netty Santyari, beberapa waktu lalu. Ia berkisah tentang tarian gelombang yang diam-diam menghanyutkan. Banyak cerita para peselancar mengalami kecelakaan bila tak siap menghadapi tarian ombak yang elusif. Yang menakjubkannya adalah para peselancar itu kerap mengalami bencana tak terduga. “Rumah sakit tempat saya bertugas, Rumah Sakit Siloam Denpasar, sering menerima pasien yang cedera karena surfing. Tebak, mereka kebanyakan bukan mengalami patah tulang, tapi cedera wajah karena terbentur papan surfing,” tutur Netty kala itu.

Para peselancar dari luar negeri itu akhirnya harus tinggal lebih lama di Bali untuk mendapatkan perawatan intensif pemulihan wajah melalui operasi plastik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Jadi tak heran kalau yang berani bermain dengan gelombang selatan adalah para peselancar yang sudah andal dan siap menanggung segala risiko terburuk. 

Gunung Payung bukan satu-satunya pilihan. “Ada Green Bowl dan Nyang-nyang yang tak kalah elok untuk berselancar,” ucap Made. Dua pantai ini memiliki karakter serupa dengan Gunung Payung, sama-sama butuh perjalanan panjang menuruni bukit berbatu untuk sampai tujuan. Bahkan Green Bowl memiliki anak tangga lebih banyak. Sekitar 300 undak-undakan. 

Namun keindahan lanskap yang menyerupai gadis berkuntum, kalis dan suci, akan membayar peluh yang mengalir. Bibir pantainya tak terlalu luas, tapi bersih tak terkira. Pasirnya lembut bak bubuk gula halus. Karang-karang yang bercokol mendekati tebing mengesankan pemandangan yang dramatis. Ditambah, dengan gelombang laut yang memiliki ritme memikat. 

Dulu, pantai di Desa Ungasan ini merupakan area privat salah satu resor premium. Namun kini dibuka untuk umum. “Kalau mauberselancar di sini, paling bagus pukul 5 sampai 9 pagi atau 4 sore hingga 7 malam,” ucap Ketut Sane, warga setempat. Ia berkisah, Green Bowl memiliki pusaran gelombang di tengah laut yang membikin arus menyapu lebih ganas. Karena itu, ada jam-jam khusus saat ritme gelombang lebih stabil, tak terlalu rendah, juga tinggi. Di samping itu, Green Bowl cocok untuk merefleksikan diri atau sekadar sebagai media buat mendengar puisi alam paling merdu di dunia, ombak dan kicau burung laut yang bersahut-sahutan. 

Tak jauh dari Green Bowl, Nyang-nyang turut menjadi bagian pesisir Pulau Dewata yang merayu buat dinikmati kesyahduannya. Untuk menjangkaunya, perlu terpelanting, tergelangsar, atau terperosok ke jalan berbatu putih. Bukan hiperbola. Sebab, kemiringan jalur tersebut hampir membentuk sudut 80 derajat. 

Sembari bersusah menuruni jalur licin dan berkerikil, lagi-lagi saya bersemuka dengan para turis dari Eropa dan Australia. Beberapa juga berbahasa Rusia. Wisatawan dari kedua benua ini memang terkenal paling doyan menjangkau lokasi yang menantang adrenalin. “Semangat! Setelah ini, kita akan bermain-main dengan ombak. Eh, mana papan surfing-mu?” ujarnya menyapa. 

Saya hanya nyengir sembari memincingkan mata jauh ke depan. Jalur berbatu ini seakan tak berujung. Sekonyong-konyong, debur yang makin terdengar lantang membikin kaki meloncat girang. Bule-bule tadi sudah sampai duluan. Mereka sibuk memainkan papan selancarnya di atas gelombang. 

Saya berdiam mengeringkan keringat di karang besar yang siap menopang badan. Mata asyik menyimak angin yang menyapu gelombang, dan pasir meliuk-liuk terinjak kaki. Matahari berarak pulang. Langit mulai bergaris, berkecamuk memadukan semburat kuning, merah, dan biru tua. Turis-turis mengangkat papan selancarnya. Orang-orang meninggalkan pura di sekitar pantai. Sambil memejamkan mata, terbayang pengembaraan pulang meniti kaki mendaki jalur berbatu yang terjal dan ekstrem. 

F. Rossana/A. Prasetyo

Jambi, 2 Situs Warisan Dunia

Taman Nasional Gunung Kerinci/shutterstock

Jambi mungkin masih jarang dilirik wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal untuk dikunjungi. Padahal daerah ini memiliki begitu banyak hal yang layak untuk dinikmati. Dua di antaranya bahkan merupakan situs warisan dunia.

Sesungguhnya banyak penerbangan menuju ke Jambi, ibukota provinsi Jambi. Baik dari Jakarta, maupun dari kota lain seperti Padang, Medan atau Batam.

Jambi dan Candi Muaro Jambi

Berada di daerah pesisir Sumatera, Bandar Udara (Bandara) Sultan Thaha Syarifudin Jambi dapat dicapai dengan penerbangan hanya dalam 1 jam 15 menit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang. Jarak yang tergolong pendek. Di provinsi ini, ada berbagai objek wisata yang tergolong istimewa, yakni Candi Muaro Jambi dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Keduanya telah dicatat Unesco sebagai situs warisan dunia yang harus dijaga selain beberapa tempat wisata seputar Jambi. 

Candi Muaro Jambi adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Candi ini merupakan salah satu kompleks candi terluas di Indonesia. Ciri khasnya adalah susunan batu bata merah pada semua bagian candi. Pada 2009, badan dunia United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan candi ini sebagai situs warisan dunia yang wajib dilindungi. Candi ini ditemukan oleh S.C Crooke, seorang letnan berkebangsaan Inggris pada 1820. Candi Muaro Jambi sempat dipugar oleh pemerintah Indonesia pada 1975. Hingga kini terhitung ada 61 buah candi yang sebagian besar tertutup tanah.

Bagi para pencinta alam, yang menarik dari provinsi ini tentunya, kawasan pegunungannya. Salah satunya, Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia. Umumnya, pendakian dimulai dari Desa Kersik Tua, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Desa dengan hamparan kebun teh nan luas. Salah satu yang terkenal dari Jambi memang buah tangan berupa teh Kayu Aro yang berkualitas ekspor. Kebun teh di Kersik Tuo merupakan bagian dari perkebunan teh Kayu Aro. 

Ada beberapa keistimewaan dari teh Kayu Aro. Di antaranya, merupakan perkebunan teh tertua di negeri ini karena sudah ada sejak masa penjajahan Belanda pada 1925. Tergolong terluas dan tertinggi kedua di dunia setelah perkebunan teh Darjeeling di India. Luasnya sekitar 2.500 hektare dan berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Selain itu, tehnya merupakan teh hitam berkualitas tinggi.

Di sekitar Gunung Kerinci juga ada Taman Nasional Kerinci Seblat yang menantang sekaligus menggoda bagi para pencinta alam. Taman Nasional ini juga telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Pesonanya tidak hanya keberagaman jenis flora dan fauna yang tumbuh, tapi juga keindahan Gunung Kerinci dan Danau Kerinci. Danau ini luasnya mencapai 5.000 meter persegi dengan tinggi 783 meter di atas permukaan laut. Danau ini pun kaya akan ikan-ikan. 

Di kawasan ini bisa ditemukan sejumlah objek wisata, seperti Danau Gunung Tujuh, yang dikelilingi oleh tujuh buah gunung. Gunung-gunung menjadi pembatas tepian. Danau ini merupakan salah satu danau terluas di Asia Tenggara. Danau seluas 960 hektare ini berada di Desa Pelompek Kecamatan Kayu Aro. Biasanya, untuk mencapainya para pencinta alam harus berjalan kaki selama 3-5 jam. Melelahkan sekaligus menggairahkan.

F. Rossana

Babat Gongso Semarang, Ini 5 Yang Enak

Babat gongs Semarang merupakan kuliner kota ini yang wajib dicoba.

Babat gongso Semarang merupakan olahan dari jerogan sapi jenis babat, isi perut, yang ditumis dengan berbagai bumbu dan bercita rasa pedas manis. Di Semarang biasanya babat gongso ini dijual oleh para padagang nasi goreng.

Babat Gongso Semarang

Sesungguhnya, babat gongso Semarang merupakan tumis babat dan bumbu sebelum dimasak atau dijadikan kondimen nasi goreng. Ia bisa dimakan dengan nasi sepakai lauk. Bisa pula dimakan tanpa nasi, atau malah dengan mie goreng.

Dengan fleksibiltas seperti itu, babat gongso bisa dinikmati kapan saja, baik untuk sarapan, makan siang atau malam hari. Selain itu, pecintanya dapat pula membuat makanan khas Semarang ini di rumah.

Lalu bagaimana sejatinya masakan ini bermula? Jongkie Tio dalam buku Semarang Tempo Doeloe menuliskan bahwa gongso adalah istilah Jawa untuk cara memasak makanan setengah kering. Begitupun, ia sedikit ragu masakan tersebut khas Jawa, karena kala itu sebagian besar masakan Jawa dimasak dengan dibakar. Besar kemungkinan masakan tersebut dipengaruhi budaya luar, misalnya Tiongkok.

Kota Semarang memiliki banyak pilihan kuliner, seperti babat gongso Semarang.

Dalam perkembangannya, babat gongso menjadi makanan khas Semarang dengan rasanya yang manis berkat penggunaan kecap. Ada versi dengan rasa yang lebih pedas, ini biasanya menambah cabai keriting atau rawit merah.

Babat biasanya direbus sampai empuk, potong kecil-kecil, lalu dicampur bumbu. Sedangkan gongso di sini artinya ditumis, jadi masakan ini tanpa kuah. Gongso biasanya dimasak dengan minyak di atas penggorengan, diorak-arik di atas wajan hingga setengah kering. Irisan bawang merah hampir selalu ada dalam pemasakan gongso. Konon, masakan yang digongso memiliki cita rasa dan aroma.

Saat berkunjung ke Semarang, wisatawan bakal dengan mudah menemukan orang berjualan babat gongso, yang biasanya juga menjajakan nasi goreng. Namun, ada beberapa tempat yang legendaris, khususnya untuk masakan babat gongso Semarang. Berikut lima warung babat gongso Semarang yang enak dan terkenal. 

Nasi Goreng Babat Sedang Dimasak Dok.
Nasi goreng babat gongso sedang dimasak. Foto: Dok. Pexels

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Pecinta kuliner jalanan saat melancong ke Semarang belum lengkap rasanya jika belum mencoba Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Berlokasi di Jalan Pemuda, dekat dengan Jembatan Mberok Kota Lama, tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Tempatnya dengan tenda.

Jika sedang sangat ramai, pengunjung bahkan harus rela makan melipir di pinggir kali. Mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat gemar makan di tempat ini.

Berdiri sejak 1971, Nasi Goreng Babat Pak Karmin terbilang legendaris. Tempatnya tak pernah berpindah sejak awal mula dibuka. Hingga saat ini, pemiliknya hanya membuka satu cabang di Jalan MH Thamrin Semarang yang dikelola oleh anak pertamanya.

Beragam sajian babat gongso Semarang yang bisa menjadi pilihan pengunjung ke tempat ini, di antaranya nasi goreng babat dan nasi babat.
Nasi babat gongso akan disajikan dengan rasa manis-pedas yang mampu menggoyang lidah. Sementara untuk nasi goreng, potongan babat yang dimasak lembut akan dicampurkan dengan bumbu gurih yang meresap pada nasi.
Warung ini buka setiap hari dari pukul 08.00-22.00 WIB.

Babat Gongso dan Nasi Goreng Pak Hengky

Babat gongso yang satu ini dari dulu memasaknya menggunakan tungku kayu bakar. Cara tersebut membuat hidangan menjadi lebih harum dan gurih. Tidak mengherankan jika nasi goreng babat Pak Hengky selalu ramai pembeli. Selain babat gongso, pengunjung juga bisa menikmati nasi goreng babat dan paru goreng di sana.

Berada di Jalan Puri Anjasmoro Blok K, kedai tersebut buka setiap hari dari pukul 17.00 sampai 23.00 WIB.

Nasi Goreng Babat Pak Taman

Pecinta kuliner bisa menemukan kedai ini di Jalan Stadion Selatan, Karangkidul, Semarang Tengah. Nasi Goreng Pak Taman namanya yang sudah buka sejak 1986. Kedai legendaris ini buka pukul 07.00-16.00 WIB dan hampir selalu ramai dikunjungi pembeli, khususnya pada jam makan siang.

Seporsi makanan di Pak Taman dihargai sekitar Rp 28 ribu. Untuk kantong warga Semarang mungkin tak bisa dibilang murah, namun kalau dilihat dari rasa harga tersebut cukup sesuai.

Babat Gongso Semarang Sajian Sedap
Babat gongso Semarang yang maknyus. Foto: Dok. Sajian Sedap

Babat Gongso Pak Sumarsono

Seperti babat gongso Pak Hengky, warung makan Pak Sumarsono juga menggunakan tungku kayu sebagai alat memasaknya. Kedai Pak Sumarsono berada di Jalan Puri Anjasmoro Nomor 54. Kedai tersebut hampir selalu buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga tengah malam, dengan harga seporsi gongso sekitar Rp 25 ribuan.

Babat Gongso Pak Sabar

Masih ada satu lagi yang layak dicoba yakni kedai nasi goreng Pak Sabar yang berada di Jalan Depok. Kedai tersebut sejatinya merupakan spesialis tahu pong, satu kuliner yang juga khas Semarang. Namun, pengnjung bisa memesan nasi goreng babat atau babat gongsonya.

Buka dari sore hingga menjelang tengah malam, seporsi makanan di sana hanya dibanderol sangat bersahabat dengan kantong.

agendaIndonesia

*****

Untaian 213 Pulau Eksotik di Mentawai

Untaian 213 pulau di mentawai, ombak bergulung yang dilihat dari jendela penginapan.

Untaian 213 pulau di Mentawai, Sumatera Barat, mengalun indah dengan rangkaian pasir putih, laut biru, dan gulungan ombak. Semuanya seakan mengucapkan, “Aloita”  yang artinya selamat datang.

Untaian 213 Pulau

Apa istimewanya Mentawai? Hawanya sudah tentu panas. Begitupun jangan pernah melewatkan keindahan mentari terbit di pulau yang berada di tengah Samudra Indonesia ini. Perjalanan seminggu ke Kawasan ini tentu tak kan cukup. Menjejaki satu demi satu pulau dari ratusan yang ada.

Di ujung selatan ada pulau Sipora. Cobalah menginap di Dusun Katiet, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya laut. Bahkan ketika jika membuka jendela di penginapan, yang tampak semata gulungan ombak.

Untaian 213 pulai di Mentawai dengan pulau dan ombak lautnya adalah sorga bagi para peselancar.
Peselencar menikmati ombak di kawasan Mentawai. Foto: Dok. shutterstock

Ini pulau kecil. Berjalan kaki dalam hitungan menit, pengunjung sudah berada di ujung pulau. Dan tampaklah Pulau Pagai Utara, yang berada di sebelah Sipora. Dusun yang biasanya sepi itu, beberapa hari terakhir cukup ramai.

Pagi itu, sembari menikmati matahari, terlihat peselancar menari bersama ombak. Sinar kekuningan dari langit menyoroti badannya. Setelah beberapa meter berjalan, ia menaiki papan selancar dan mengayuhnya hingga ke tengah pantai. Bertemu dengan gulungan ombak, tubuhnya meliuk-liuk.

Di depan Pantai Katiet, yang berpasir putih dengan jajaran pohon kelapa, bisa ditemukan dua titik selancar dengan ombak yang menantang: Hollow Tree alias Lances Right dan Lances Left.

Bagi para penggemar olahraga selancar, tinggal berhari-hari di pulau-pulau itu memang menyenangkan. Di sepanjang pantai di Pulau Sipora bisa ditemukan deretan ombak yang menggoda. Nama ombak-ombaknya rata-rata berbahasa asing. Sudah pasti ini karena para peselancar asing yang memberikan julukan.

Menjelang siang, seraya menikmati ombak pengunjung bisa menyantap pical Padang—sajian sejenis gado-gado. Sang penjual memang berasal dari ibu kota Sumatera Barat itu.

Setelah perut kenyang, sebaiknya nongkrong saja. Siang hari bukan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Panasnya mentari begitu membakar. Cobalah bersantai ditemani kelapa muda sembari melihat aksi para peselancar lagi. Tidak ada lokasi lain yang bisa jadi sasaran selain pantai. Ibu kota Kecamatan Sipora Selatan, Sioban, pun harus ditempuh lewat jalur laut selama 20 menit.

Selepas siang, dengan perahu cepat wisawatan bisa meninggalkan dusun yang punya pantai bersih dan air laut nan biru ini. Perjalanan menuju Tuapejat, ibu kota kabupaten yang berada di ujung utara Pulau Sipora.

Meski satu pulau, kota tersebut harus ditempuh dengan perahu cepat sekitar 1,5 jam. Terkadang bahkan butuh waktu 2 jam, tergantung pada ombak dan angina.

Jika beruntung pengunjung bisa melaju dengan perahu cepat, sehingga Tuapejat dapat dicapai dalam 5,5 jam dari Pelabuhan Bungus, Padang. Waktu tempuh ini tergolong pendek dibanding dengan naik kapal kayu regular rute Padang-Mentawai, yang rata-rata memakan waktu 10 jam.

Biasanya, pengunjung memang tidak langsung ke Sipora. Di awal, pengunjung akan menyusuri pantai-pantai seputar ibu kota kabupaten, di antaranya Pantai Mapadegat. Esoknya, baru menyusuri pulau lain.

Untaian 213 pulau eksotik di mentawai dengan pasir putih dan tarian ombak.
Ombak yang menari dan peselancar yang meliulk. Foto: DOk. unsplash

Kepulauan Mentawai terdiri atas empat pulau besar: Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Namun masih ada 200-an pulau kecil yang tentunya tak kalah menggoda para pencinta bahari dan alam. Total, seperti disebut di muka, Mentawai adalah untaian 213 pulau.

Mengunjunhgi Mentawai, dari Jakarta rute pertama tentu menuju Bandara Internasional Minangkabau di Padang. Perjalanan dilanjutkan dengan kapal laut dari Pelabuhan Bungus. Rata-rata perjalanan memakan waktu 10 jam dengan KM Ambu-ambu, KM Sumber Rezeki Baru, dan KM Pulau Simasin. Jadwal keberangkatan tidak setiap hari, sehingga Anda perlu mengecek jadwal sebelum membuat rencana perjalanan. Umumnya, perjalanan dilakukan malam hari.

Perjalanan laut dari Siberut ke Tuapejat atau sebaliknya, wisatawan akan tak habis-habis disuguhi keindahan beragam pulau, seperti Pulau Kandui dengan dua resor yang tersembunyi di balik pepohonan.

Di sisi lain, pulau itu memiliki halaman berupa laut lepas. Tentunya dengan ombak yang menggoda para tamu yang sebagian besar peselancar dari berbagai negara. Ada juga Pulau Karangmajat, yang dikenal karena keindahan alam bawah lautnya diburu para penyelam dan penggemar snorkeling. Laut di sekitar Mentawai memang surga bagi peselancar dan penyelam.

Di setiap penjuru kabupaten ini bisa ditemukan setidaknya 400 titik selancar. Sungguh sebuah untaian 213 pulau yang eksotis. Bahkan di Pulau Siberut, yang terkenal dengan taman nasional dan budaya, juga ada spot khusus bagi peselancar. Misalnya di Pulau Nyangnyang.

Jika menuju ke arah Sipora dari Siberut, akan melihat pasir putih yang panjang di Pulau Masilok. Juga ada pulau-pulau kecil lain. Orang juga bisa bermalam di sebuah resor di Pulau Simakakang, yang dicapai dalam 15 menit dari Tuapejat.

Di sekeliling pulau ini, terdapat pulau-pulau kecil yang bisa dikunjungi. Ada dua pulau karang yang menjadi penahan ombak dari laut lepas di dekatnya, selain pulau kecil yang hanya terdiri atas pasir. Salah satu yang tampak indah adalah Pulau Togat, yang juga dilengkapi resor. Masura Bagata (terima kasih), Mentawai. Benar-benar sebuah surga di tengah samudra!

Sudah pernah mengunjungi Mentawai? Jika belum, mungkin mulai dipikirkan untuk mengagendakannya. Menikmati untaian 213 pulau berikut keindahannya.

Berikut ada beberapa tips yang bisa dipakai untuk pegangan. Di Kawasan ini sementara ini hanya ada Bank Nagari, yakni di Tuapejat. Jadi, sebaiknya pengunjung membawa uang tunai yang memadai.

Untuk menjelajahi kabupaten ini umumnya Anda harus menggunakan transportasi laut yang menguras kantong. Harga makanan dan minuman serta barang-barang lainnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Padang.

agendaIndonesia/TL/Rita

*****

Ayam Taliwang Dan 3 Menu Sumbawa Barat

Makanan Khas Taliwang

Pernah menikmati sajian ayam Taliwang? Menu ini ada di banyak kota di Indonesia, namun pernahkah pernahkah membayangkan menikmatinya di tempat aslinya?

Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan deretan pantai-pantainya yang berpasir putih. Juga gulungan ombaknya yang mengundang para peselancar dari berbagai dunia datang. Bagi mereka yang bukan pecinta selancar dan lebih menikmati kulinari dalam perjalanannya, Sumbawa Barat punya olahan dapur yang menarik dicicipi. Dipadu dengan nasi, ada empat pilihan yang khas kabupaten ini. Soal rasanya, tentu tak perlu diragukan. Semua jempolan! 

Ayam Taliwang Yang Asli

Sop Tulang Plus Sedotan 

Lazimnya sedotan disediakan ketika ada suguhan minuman. Tapi di RM Sayang Anak, Taliwang, sedotan juga disertakan dalam mangkuk berisi sop tulang. Rupanya, sedotan di sini bisa digunakan untuk mendapatkan sumsum yang berada di bagian dalam tulang. Maklum, yang disajikan lengkap berupa tulang berukuran besar. Kikil terasa empuk dan kuahnya gurih. 

Meski, saat saya datang, yang diolah hanya kaki dan kikil dari sapi. “Aslinya memang kerbau, tapi kadang sukanya tamu juga, jadi, ya, sekarang kebanyakan sapi,” ujar Lindayani, 43 tahun, pemilik rumah makan. Ia menyebut, yang membedakan adalah kaki kerbau biasanya ukurannya lebih besar dibanding kaki sapi. Untuk cara pengolahannya, tulang direbus dulu dengan dibubuhi bumbu, seperti jahe, merica, bawang merah, dan penyedap rasa. Manakala telah empuk dan dibuat sop, diberi lagi bumbu yang ditumis lebih dulu. Per porsi satu mangkuk sop ini dipatok di kisaran Rp 25 ribu. 

RM Sayang Anak 

Jalan Raya Taliwang Balat, Taliwang, Sumbawa Barat,

Buka: Pukul 10.00-21.00

Ayam Taliwang di Tempat Asalnya

Taliwang, kota kecamatan yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat, namanya sudah kesohor. Menyebut namanya pasti kebanyakan orang sembari menahan air liur. Maklum, yang dikenal adalah ayam Taliwang. Olahan ayam kampung dengan bumbu berasa pedas bikin orang ketagihan. Jadi rasanya belum komplet kalau belum mencicipi sajian tersebut saat berada di kota ini. Saya pun saat menelusuri kota ini, ada beberapa warung tenda ayam Taliwang. Hidangan khas ini juga menjadi menu di sejumlah rumah makan. 

Nah, di antaranya yang bisa menjadi pilihan adalah Rumah Makan Totang Rasa dan Warung Taliwang Mbak Nur, warung tenda yang lokasinya juga tak jauh dari Totang Rasa. Tersedia ayam yang diolah dengan cara digoreng atau dibakar, tentu yang membikin rasanya kian mantap adalah bumbunya. Terdiri atas cabai, terasi, bawang merah, asam jawa, dan sedikit gula, yang membuahkan aroma sedap. Rasa pedasnya pun sudah pasti bikin nafsu makan melonjak. Ayam ini diolah dengan cara dibakar lebih dulu, kemudian dikeprek, lantas diberi bumbu, lalu dibakar lagi. Per porsi berupa satu ekor ayam kampung dipatok pada kisaran Rp 35 ribu. Lebih nikmat lagi dilengkapi dengan plecing kangkung, yakni paduan kangkung, tauge, dan kacang tanah goreng yang diguyur sambal. 

RM Totang Rasa 

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 51, Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 08.00-21.00

Warung Taliwang Khas Lombok Mbak Nur , Jalan Jenderal Sudirman, Taliwang, Sumbawa Barat 

Sepat nan Segar

Ikan berkuah di hadapan saya ini sekilas tidak terlalu menarik. Dikenal sebagai olahan sepat, akhirnya saya pun mencobanya dan rasanya ternyata sedap dan menyegarkan. Inilah hidangan ikan khas Sumbawa. Bisa menggunakan jenis apa saja, bisa kerapu, kakap merah atau putih, bisa juga yang lainnya. Ikan terlebih dulu dibakar, baru disiapkan bumbu yang terdiri atas cabai, bawang merah yang dibakar, belimbing wuluh, jeruk munte, tomat, serta daun aru dan daun ruku atau di daerah lain dikenal dengan daun kemangi. Disiapkan bahan lain juga berupa terung ungu yang dibakar terlebih dulu. Hasilnya, ikan yang lembut dengan kuah yang bening tapi segar. Aroma wangi dari dedaunan yang ditambahkan pun menambah rasa sedap. Per porsi 14 ribu. 

RM Sayang Anak Jalan Labuhan Balat, Bugis Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 10.00-21.00

Singang Berkuah Kuning

Sama-sama ikan, tapi antara singang dan sepat dari tampilannya saja sudah berbeda. Bila sepat terlihat kuahnya yang bening dengan potongan cabai, dedaunan, dan belimbing wuluh, singang yang menonjol adalah kuahnya yang berwarna kekuningan. Berbahan ikan, bisa pilih tergantung selera. Bisa berupa ikan bandeng, kakap, atau yang lain. Bumbunya terdiri atas cabai merah, bawang putih, bawang merah, merica, kemiri, kunyit, asam jawa, serta daun ruku. Ikan berkuah kuning ini berasa lebih gurih ketimbang sepat. Meski tetap terasa ada sedikit rasa asam dan pedas. 

RM Sayang Anak 

Jalan Labuhan Balat, Bugis 

Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 10.00-21.00

Rita N/Fran

5 Makanan Khas Garut yang Unik

jajanan khas garut

Petualangan ke Talaga Bodas atau wisata sejarah ke Candi Cangkuang di Kabupaten Garut tak lengkap jika belum mencicipi makanan khas Garut ini. Aneka makanan ini umumnya manis, kecil, dan tahan lama sehingga sangat pas dijadikan buah tangan bagi kerabat di kota lain. Kebanyakan orang hanya mengenal dodol Garut. Padahal ada banyak pilihan lain yang tak kalah lezat.

Rekomendasi Makanan Khas Garut

makanan khas garut dodol

Dodol Garut

Garut telah begitu identik dengan dodolnya, seperti Semarang dengan lumpia dan Yogyakarta dengan bakpianya. Jenisnya sangat beragam, seperti dodol wijen, dodol kacang, dodol nanas, dodol nangka, dodol tomat, dodol durian, dan buah-buahan lainnya. Ada pula gabungan cokelat dan dodol yang populer dengan nama Chocodot.

Burayot Garut

Burayot adalah makanan dari campuran gula merah, tepung beras, dan kacang tanah, lalu diolah dengan minyak kelapa. Proses penggorengannya memunculkan aroma khas dari makanan tersebut. Seiring semakin banyaknya penggemar, kini tersedia varian rasa, dari rasa durian, cokelat, kacang hijau, dan masih banyak lagi.

makanan khas garut dorokdok

Dorokdok Garut

Jika dilihat sekilas, dorokdok tak ubahnya seperti kerupuk kulit pada umumnya, padahal bahan bakunya berbeda. Kerupuk kulit terbuat dari kulit kerbau, sedangkan dorokdok terbuat dari kulit sapi. Dorokdok diolah menggunakan rempah-rempah dan tanpa bahan pengawet. Pengolahannya memerlukan waktu lima sampai tujuh hari karena harus direbus dan dijemur dulu sebelum digoreng. Dorokdok tersedia dalam dua versi, original dan pedas.

makanan khas garut emplod

Emplod Garut

Emplod dikenal juga dengan sebutan endog lewo. Artinya, telur yang terbuat dari Kampung Lewo. Bahan dasarnya singkong yang telah digiling dan diperas, kemudian didiamkan selama 24 jam. Selanjutnya, singkong dicampur dengan parutan kelapa dan aneka bumbu. Adonan emplod dibentuk menjadi bulatan kecil sebesar kelereng, baru kemudian digoreng. 

makanan khas garut ladu

Ladu Garut

Tekstur ladu atau disebut juga dengan malangbong ini mirip dodol, tetapi sedikit lebih kasar dan keras. Ladu terbuat dari bahan dasar tepung ketan yang diolah bersama campuran gula aren dan parutan kelapa. Rasa manis yang tidak terlalu dominan memberikan perbedaan dengan dodol. Sementara teksturnya yang cenderung renyah memberi sensasi yang unik ketika digigit dari makanan khas Garut yang satu ini.

Demikian ulasan 5 makanan khas Garut, sebuah kabupaten di provinsi Jawa Barat yang layak Anda coba bila berkunjung ke kota yang terkenal dengan julukan ‘Garut Swiss van Java’ atau Swissnya Jawa ini.