Desa Wisata Kasongan Yogya, 1 Sentra Kerajinan Gerabah

gerabah kasongan

Desa wisata Kasongan Yogya adalah salah satu tujuan wisata bagi wisatawan yang mengunjungi kota pelajar ini. Ia tumbuh menjadi sentra kerajinan gerabah. Dari barang perabot sehari-hari, hingga barang seni.

Desa Wisata Kasongan Yogya

Desa Wisata Kasongan yang berada di kawasan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini merupakan pusat kerajinan gerabah yang terkenal. Selama puluhan tahun telah menghasilkan beragam jenis kerajinan gerabah dalam bentuk barang-barang seperti guci, meja, kursi, peralatan makan dan minum, patung hingga peralatan kecil seperti tempat pensil, wadah lilin, asbak dan lain lain.

Barang-barang itu kini dikenal luas dan dicari tidak hanya dari konsumen dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Setiap harinya ratusan pengrajin memproduksi barang-barang kerajinan di beberapa workshop yang terletak berjejer di kanan kiri jalan area desa ini.

Di mana sesungguhnya letak Desa Kasongan? Bagi mereka yang tinggal di Yogya, atau setidaknya pernah menetap di kota ini, tentu paham letaknya. Namun, bagi yang tidak, mungkin ada baiknya mempelajari rute menuju ke desa ini.

Setidaknya ada dua jalur utama menuju ke Kasongan. Pertama, jalan dari kota Yogyakarta menuju ke Kabupaten Bantul. Dan, ke dua, adalah melalui jalan Parangtritis. Dari arah Yogya, ke dua jalur ini bisa ditandai dari benteng yang menyelimuti Kraton Yogyakarta.

Jalur ke Bantul biasanya menggunakan ancar-ancar pojok Benteng Barat, atau orang Yogya menyebutnya Jokteng Kulon. Sedangkan jalan ke arah Parangtritis bisa dimulai dari pojok Benteng Timur atau biasa disebut Jokteng Timur.

Desa Kasongan ini berimpit dengan wilayah lain yang menghasilkan kerajinan dari bahan kulit. Namanya Desa Manding. Di sisi lain, Desa Kasongan juga dekat dengan area pengrajin wayang kulit, atau biasa dikenal sebagai kerajinan tatah sungging.

Area Kasongan ini sendiri pada awal mulanya menjadi tempat pengrajin gerabah setelah para penduduk pendatang mendapati area ini kosong ditinggal penghuni sebelumnya. Selain para penduduk baru ini mulai bekerja mencari penghasilan dari bercocok tanam dan mengelola lahan sawah yang ditinggalkan, ada pula yang kemudian mencoba berkreasi membuat barang-barang dari tanah liat.

Pada awalnya barang-barang yang dibuat merupakan barang kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan dapur, namun lambat laun kreasi gerabahnya mulai berubah. Mereka merambah ke barang-barang kesenian lainnya seperti guci, patung dan sebagainya.

Bahkan pada perkembangannya pada tahun 1970-an, salah satu seniman kenamaan Yogyakarta Sapto Hudoyo turut membantu menggalakkan usaha kerajinan gerabah ini. Ia mengajarkan bahwa gerabah juga adalah produk kesenian. Ia mempunyai nilai seni. Dari situ kemudian para pengrajin mulai bereksperimen dan mengombinasikan dengan beberapa bahan lainnya seperti batok kelapa, bambu, kayu dan lainnya sebagai tambahan hiasan atau ornamen tertentu.

Salah satu kelebihan lokasi sentra kerajinan ini adalah konsumen bisa mendapatkan harga yang relatif lebih murah. Ini jika dibandingkan orang harus mencari barang-barang kerajinan di tempat-tempat lainnya. Dan lebih mudah untuk menawar secara langsung.

Harga barang-barangnya sendiri bervariasi, mulai dari puluhan ribu Rupiah untuk barang kecil seperti tempat pensil, patung kecil dan lainnya hingga jutaan Rupiah untuk barang yang lebih besar seperti guci, pot bunga atau wuwung, sebuah hiasan dengan berbagai corak dan motif yang biasanya diletakkan di atas atap rumah. Harga juga tergantung berdasarkan ragam motif yang dimiliki oleh barang tersebut, meskipun tersedia juga barang-barang seperti guci yang dibiarkan polos atau hanya dicat sederhana untuk memberikan kesan sentuhan akhir yang lebih natural dan original.

Selain bisa berbelanja ragam barang kerajinan gerabah, tersedia juga layanan tour dimana tamu bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatannya, bahkan juga ikut mengikuti kursus singkat bagaimana membuat barang dari tanah liat di ruangan-ruangan workshop tersebut.

Kios-kios dan galeri di Kasongan biasanya melayani konsumen dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Kini kios-kios tersebut dikelola oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Koperasi Seni Kerajinan Kasongan Setya Bawana yang berada langsung di bawah naungan Dinas Perindagkop Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi via telpon di (0274) 370549 atau (0274) 413340.

Kuliner Khas Betawi, 5 Ada Di Jakarta Fair

Kuliner khas Betawi, ada 5 yang diajajakan di Jakarta Fair 2022.

Kuliner khas Betawi saat ini ada yang mudah dicari di banyak tempat di Jakarta, namun tak sedikit yang hanya muncul saat berlangsung peristiwa-peristiwa khusus. Misalnya di pameran dagang atau saat perkawinan dalam masyarakat Betawi.

Kuliner Khas Betawi

Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2022 atau yang dikenal juga dengan sebutan Jakarta Fair 2022 tahun ini kembali hadir setelah absen selama dua tahun akibat pandemik Covid-19. Ada beragam kegiatan seru yang dapat dilakukan saat berkunjung ke acara ini. Salah satu aktivitas yang tak boleh ketinggalan saat mengunjungi Jakarta Fair 2022 adalah wisata kuliner.

Kuliner khas Betawi salah satunya adalah kerak telor yang dari ceritanya bermula dari omelet.
Penjaja kerak telor sedang memasaknya. Foto: Dok. shutterstock

Ini menjadi catatan khusus karena di tempat ini banyak ditawarkan makanan-makanan enak Betawi. Seperti disebut di atas, banyak yang mudah dijumpai, namun tak sedikit yang semakin jarang. Apa saja yang bisa dicicipi?

Kerak Telor, Omelet van Batavia

Makanan ini rasanya bisa disebut sebagai ciri kuliner khas Betawi. Sebagai tradisi, ia mungkin sejajar dengan tanjidor, Ia tak sekadar tradisional, namun pada mulanya merupakan makanan yang diinspirasi sejak zaman colonial.

Karena itu, tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Jakarta Fair tanpa mencicipi kerak telor. Salah satu tempat yang menyajikan kuliner khas Betawi di Jakarta Fair adalah Kampung Betawi.


Jajanan berbahan dasar telur ini merupakan salah satu ikon makanan khas Betawi. Dikutip dari artikel di aganedaIndonesia.com, kerak telor mempunyai tekstur yang mirip telur dadar. Namun, cita rasanya sangat berbeda.
Adapun keunikan cita rasa sajian tersebut berasa utari penggunaan bahan baku yang beragam. Mulai dari ketan, ebi, kelapa parut sangrai, dan tak lupa bahan utamanya yaitu telur ayam atau telur bebek. Sebelum disajikan, kerak telor diberi bumbu halus yang terbuat dari campuran kelapa parut sangrai, cabai merah, kencur, merica, jahe, dan gula pasir.
Nyang Manis Dari Betawi

Penganan manis ini praktis lebih jarang dijumpai dibanding kerak telor. Alasannya sederhana, pembuatannya yang lama. Pembuatan dodol Betawi memerlukan waktu 8-10 jam, bergantung kondisi api. Volume api dapat berpengaruh pada kualitas dodol. Jika api terlalu besar, maka dodol bisa menjadi gosong.

Kuliner khas Betawi ada juga yang manis seperti dodol, yang membuatnya butuh 8-10 jam.
Dodol Betawi penganan tradisional khas Jakarta. Foto: Dok. Shoope

Alasan lainnya barangkali kalah promosi dengan produk sejenis dari daerah lain. Jenang atau dodol dari kota lain juga cukup progresif melakukan perbaikan dalam tampilannya, terutama kemasannya. Dodol Betawi pun bukan tak melakukan, hanya mungkin masih berproses.

Dodol Betawi sebagai kuliner khas Betawi dibuat menggunakan tiga bahan utama, yakni ketan, gula merah, dan santan. Selain rasa original tersebut, biasanya penjual juga menyajikan dodol rasa durian, ketan hitam, dan lainnya. Cara memasaknya cukup mudah, yakni dengan mencampurkan semua bahan tersebut kemudian diaduk. Pembuatan dodol Betawi terbilang melelahkan lantaran membutuhkan waktu memasak yang cukup panjang.


Gurih Sedap yang Terus Populer
Soto gurih dengan kuah santan yang berisi daging sapi, paru, organ sapi, hingga jeroan ini adalah kuliner khas Betawi yang masih moncer hingga saat ini. Masih banyak yang menjajakannya, dan umumnya sangat digemari karena rasanya yang memang maknyus.

Khuliner khas Betawi yang paling populer saat ini adalah soto Betawi. Ia nyaris dapat dijumpai di banyak sudut Jakarta.
Soto Betawi yang disukai oleh banyak kalangan. Foto: Dok. shutterstock

Saat disajikan, soto ini biasanya ditambahkan dengan tomat, seledri, bawang goreng, dan emping. Bersama dengan nasi hangat, sambal, jeruk nipis dan acar, soto ini pun semakin nikmat disantap. Soto Betawi memiliki rasa yang cenderung berbeda dari soto-soto dari daerah lain.

Soto ini cepat menjadi favorit banyak orang lantaran memiliki rasa yang gurih khas yang berbeda dengan soto lainnya. Campuran santan dan susu memberikan perpaduan rasa gurih santan dengan sensasi creamy dari susu. Kini, para penggemar soto Betawi mungkin punya tempat favorit masing-masing dalam menikmati sajian soto gurih ini.

Desert yang Bikin Kenyang

Makan kerak telor akan lebih nikmat bila didampingi minum, atau lebih tepat makan, es selendang mayang. Ya, ini memang desert atau kuliner pencuci mulut yang cukup padat.

Kuliner khas Betawi ada pula yang berupa desert, yak ni es selendang mayang yang terbuat dari tepung beras seperti puding.

Kamu mungkin belum cukup familiar dengan es selendang mayang. Minuman segar khas masyarakat Betawi ini memang kurang popular karena makin jarang yang menjajakannya. Padahal  rasanya legit dan unik.

Es selendang mayang terbuat dari isian mirip seperti puding atau kue lapis yang terbuat dari tepung sagu aren serta kuah santan yang gurih. Kue lapisnya biasanya berwarna putih-hijau-merah muda. Minuman ini dulu sering dijajakan pedagang kala menjelang tengah hari sampai sore hari. Selendang mayang ramai dijual saat Batavia memasuki musim panas.


Sayur Yang Digoreng

Tauge ata toge goreng adalah kuliner khas zaman dulu. Ini bisa ditemui di Jakarta dan Bogor. Uniknya, meskipun namanya toge goreng, namun cara memasaknya cenderung direbus. Biasanya memasaknya memang di atas nampan, sehingga kesannya seperti menggoreng.

Selain memasaknya yang masih tradisional, cara pengemasan makanan juga masih menggunakan daun patat dan diikat dengan tali dari bambu. Makanan khas Jakarta dan Bogor ini biasanya dijajakan kaki lima dengan menggunakan pikulan. 

Seporsi makanan ini biasanya terdiri dari rebusan tauge, daun kucai, mie kuning, ketupat, dan tahu kemudian disiram dengan kuah tauco. Ini adalah hasil fermentasi dari kedelai.

Lahirnya masakan ini, seperti juga kerak telor, diduga pergaulan orang Tionghoa dengan masyarakat Eropa di Batavia, yaitu melalui spaghetti dengan pasta tomat yang masam. Kemudian Tionghoa peranakan mengubah pasta tomat dengan tauco yang merupakan fermentasi kedelai. Hasil dari modifikasi spaghetti yang menyesuaikan dengan lidah lokal lahirlah toge mie, yang di dalamnya terdapat mi seperti mie spaghetti, tahu pengganti daging, taoco, dan diberi tomat masam khas Tionghoa. Taburan akhir di atas kuah taoco diberi gula aren yang dicairkan. Di beberapa penjual, terutama yang di luar Jakarta, banyak yang mengganti gula aren dengan kecap.

Nah sudah pernahkah mencicipi makanan-makanan itu? Kalau belum ayo agendakan mencicipi kuliner khas Betawi ini.

agendaIndonesia

*****

Empat Pantai Tersembunyi Di Jawa Barat (Bagian 3)

karang hawu shutterstock 398880607

Empat pantai tersembunyi di Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Pantai Tersembunyi

Nama besar kawasan wisata Pangandaran rasanya telah menenggelamkan pantai-pantai lain di Jawa Barat. Akibatnya, pada hari-hari libur, pengunjungnya selalu membludak. Padahal, banyak wisatawan yang tidak suka keriuhan dan memilih tempat-tempat yang lebih tenang. Untuk itu, masih banyak pantai lain yang masih alami dan sepi pengunjung karena letaknya yang tersembunyi. Cobalah menyambangi empat pantai tersembunyi berikut ini untuk merasakan keasriannya.

  1. Pantai Santolo

Dari pusat kota Garut, para wisatawan masih harus menempuh sekitar 88 kilometer menuju Kecamatan Cikelet, Garut Selatan. Perjalanan melalui area pegunungan yang sempit dan berkelok-kelok, dengan jurang di satu sisi dan hutan di sisi lainnya. Namun begitu sampai di kawasan pantai, panorama pesisir yang unik segera menyambut. Perjalanan yang mendebarkan segera terbayar dengan sambutan itu.

Unik karena terdapat hamparan batuan, besar dan kecil, di beberapa sudut pantai. Tak hanya itu, di sudut lain ada jembatan tali yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil, membuatnya menjadi pemandangan yang menarik.

Jangan lewatkan pula Pulau Santolo yang bersejarah. Dengan naik perahu sekitar 15 menit, Anda akan sampai di dermaga batu peninggalan Belanda. Ketika era kolonial, sekitar 1850, pantai inimemangpernah difungsikan sebagai dermaga untuk mengangkut rempah-rempah menuju kapal besar di tengah laut.

Setelah Belanda pergi, kawasan ini menjadi perkampungan nelayan. Karenanya, Pantai Santolo memiliki pusat pelelangan ikan yang menjual cumi, udang, dan aneka ikan laut yang masih segar. Pengunjung pun dapat langsung menikmatinya di warung makan dekat situ. 

  • Pantai Rancabuaya

Masih di Garut, Rancabuaya yang berada di Kecamatan Caringin berjarak sekitar 135 kilometer dari pusat kota. Meski cukup jauh, kondisi jalannya mulus dan bisa ditempuh menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. 

Pantai yang dijadikan lokasi syuting film Perahu Kertas ini merupakan tipe pantai berbatu karang. Ini membuat kawasan tersebut membentuk semacam kolam-kolam kecil nan jernih saat laut surut. Beberapa ekor ikan tampak terjebak di dalamnya, seolah-olah menanti untuk disapa. 

Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan dari atas bukit yang berada di sekitar pantai. Bagi yang ingin bermalam, dapat menyewa vila atau pondok yang dilengkapi rumah makan bergaya lesehan.

  • Pantai Karang Tawulan

Pantai Karang Tawulan berada di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.Sebenarnya lokasinya tidak sulit dijangkau, sekitar 90 kilometer dari alun-alun kabupaten. Namun karena kurang populer, pengunjungnya belum terlalu banyak. 

Ombak yang tidak terlalu besar membuat pelancong dapat berenang di beberapa sisi pantai. Cobalah datang ke Pantai Karang Tawulan pada sore hari. Jika beruntung, kawanan burung camar akan menyapa dalam perjalanan pulangnya ke Nusa Manuk, pulau kecil di tengah pantai yang menjadi rumahnya. 

  • Pantai Karang Hawu

Karang Hawu hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari Palabuhanratu atau 73 kilometer dari pusat Kota Sukabumi. Namun suasananya jauh lebih tenteram. Tebingnyamenjorok ke laut, dengan deburan ombak yang menghantam bibir tebing, membuatnya semakin menawan.

Nama hawu yang berarti tungku berasal dari bentuk tebing karangnya yang berlubang. Beberapa orang meyakini bahwa air yang tertampung dicekungan batu karang tersebutdapat memberikanberkahdan mengobati berbagai penyakit.Kawasan ini memang masih lekat dengan cerita-cerita mistis yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Dengan kesejukan udara dan airnya yang jernih, pantai sepanjang empat kilometer ini menjadi lokasi yang pas untuk bersantai dan menenangkan pikiran.

*****

Empat Mutiara Jawa Barat (Bagian 2)

ujung genteng shutterstock 1069249550

Empat mutiara Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau di kawasan selatan provinsi ini. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Mutiara Jawa Barat

Pengetahuan masyarakat tentang kawasan selatan provinsi Jawa Barat, terutama pantai-pantainya, mungkin didominasi dengan Pangandaran. Daerah di ujung tenggara provinsi ini. Dulu, saat Banten masih menjadi bagian dari Jawa Barat, masih ada pantai Anyer, pantai Carita, atau Tanjung Lesung untuk menunjuk kekayaan alam pantai di sini.

Seiring perjalanan waktu, Banten dimekarkan menjadi provinsi tersendiri, Pangandaran seolah menjadi satu-satunya ingatan publik tentang wisata pantai di Jawa Barat. Betulkah demikian? Tunggu dulu. Daerah pinggiran daratan di selatan provinsi ini ternyata menyimpan banyak mutiara. Setidaknya ada empat mutiara Jawa Barat yang layak dikunjungi.

Ujung Genteng adalah salah satu desa di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Beragam pantainya memiliki nama-nama sendiri, tetapi biasanya wisatawan menyebut semuanya dengan nama Ujung Genteng. Pantai-pantai di sini memang tampak serupa, yakni masih alami, bersih, dan berhadapan langsung dengan ombak samudera yang cukup besar.

Meski mirip, ada pula sejumlah karakteristik pantai yang menjadikannya spesial. Semisal di Pantai Minajaya, biasanya ada warga yang mencari lobster dan jukut hejo (rumput hijau) di tepi laut. Pengunjung bisa membeli dan memakannya di saung-saung di sekitar pantai. Sementara di Pantai Tenda Biru, terdapat kawasan hutan lindung yang dijaga pasukan TNI AU.

Menyambangi Ujung Genteng tak lengkap tanpa bertemu penghuni khasnya, yakni penyu hijau. Di Pantai Pangumbahan, Anda bisa menyaksikan penyu-penyu naik ke daratan untuk bertelur. Lalu dengan latar belakang tenggelamnya mentari di ufuk barat, petugas konservasi akan melepaskantukik-tukik ke laut.Dengan keempat kaki yang kelak berfungsi sebagai sirip, mereka berlari-lari kecil menuju samudera, meninggalkan para pelancong yang menyemangatinya dari kejauhan.

Jika menggunakan angkutan umum, dari Terminal Sukabumi, naik angkutan ke Lembur Situ, lalu ke Surade, baru ada angkot menuju Ujung Genteng. Jika menyewa atau membawa kendaraan pribadi, tentu lebih banyak tempat yang bisa dijelajahi, misalnya Curug Cikaso dan Curug Luhur. Tersedia pulacottage dan bungalow bagi turis yang ingin menginap.

SelainUjung Genteng, Jawa Barat juga punya Desa Cipatujahyang berada sekitar 74 kilometerke arah selatan dari pusat kota Tasikmalaya. Namun perjalanan panjang ini akan terbayarkan ketika Anda sampai di kawasan pantainya. Hamparan pasirnya sangat lebar dan panjang, cocok untuk aktivitasberjemur dan melakukan rekreasi pantai lainnya.

Pantai seluas 115 hektareini merupakan pantai berkarang. Karena itulah banyak terumbu di mana ikan-ikan berkembang biak.Sementara di daratan, terdapat perkebunan kelapa yang subur dan hamparan rumput yang luas. Harmoni alam ini membuat Cipatujah sebagai paket lengkap antara keelokan alam dan kearifan budaya masyarakatnya.

Sebagai contoh, pada masa tertentu, penduduk setempat mengadakan ritual larung sesaji alias hajat laut sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan dan doa agar nelayan selalu diberi keselamatan. Di samping itu, sehari-harinya, para peternak yang tinggal di sekitar situ kerap menggembalakan kerbaunya di padang rumput dekat pantai. Sesekali mereka melakukan atraksi balap kerbau yang diiringi tabuhan pencak, rampak kendang, dan alunanirama angklung yang banyak mengundang orang untuk menontonnya. 

…(Mutiara…. Bagian 3)

Tradisi Pemakaman Di Indonesia, 4 Yang Unik

Tradisi pemakaman di Indonesia ada bagian masyarakat yang melakukannya dengan unik dan kaya falsafah.

Tradisi pemakaman di Indonesia ada beberapa yang luar biasa, dan kaya akan kebudayaan setempat. Ada istiadat pemakaman tak semata mengubur sanak saudara atau keluarga yang meninggal, namun memiliki falsafah yang dalam.

Tradisi Pemakaman di Indonesia

Upacara pemakaman di sejumlah daerah ini merupakan serangkaian kegiatan yang rumit terkait, karena adanya ikatan adat dan tradisi setempat. Kadang ada yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun hingga berbulan-bulan. Soal biaya ini, kadang ada kebiasaan tersendiri. Ada adat masyarakat yang menabung terlebih dahulu hingga terkumpul uang untuk melaksanakan upacara pemakaman secara lengkap.

Upacara adat ngaben dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, misalnya, memiliki tiga jenis: Ngaben Sawa Wedana; Ngaben Asti Wedana; dan Swasta. Ngaben sendiri adalah pemakaman keluarga dengan tradisi pembakaran. Sawa Wedana dilakukan terhadap jenasah langsung setelah meninggal. Biasanya 3-7 hari setelah meninggal.

Sementara ngaben Asti Wedana, biasanya dilakukan pada mereka yang meninggal kemudian dimakamkan atau dikuburkan terlebih dahulu. Sehingga yang dimakamkan biasanya adalah kerangkanya. Sedangkan ngaben Swasta adalah pembakaran tanpa adanya jenasah atau kerangka. Biasanya karena yang meninggal berada di luar negeri dan tidak memungkinkan dibawa pulang, atau meninggal karena kecelakaan pesawat, misalnya.

Selain ngaben, masih ada beberapa tradisi pemakaman yang unik di Indonesia. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Rambu Solo di Tana Toraja

Tana Toraja mempunyai upacara adat yang biasa dilakukan, yakni Rambu Solo. Upacara Rambu Solo merupakan upacara pemakaman. Pada upacara ritual ini, penduduk Toraja percaya arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, memang terkenal unik. Ada jenazah yang digantung bersama dengan petinya pada dinding tebing, selain ditaruh dalam gua. Ada pula yang dikubur di lubang tebing. Di Buntu Pune dan Kete Kesu, misalnya. Erong atau peti mati digantung pada dinding tebing. Sementara itu, di Londa, erong tak hanya digantung di dinding tebing, tapi juga ditaruh dalam gua. Lain halnya dengan erong-erong di Lemo. Erong di sana dimasukkan dalam dinding tebing yang sudah dilubangi.

Selain itu, ada Baby Grave. Letaknya di Kambira, tidak terlalu jauh dari Lemo. Di desa yang terletakdi tenggara Rantepao ini, terdapat kuburan bayi di batang pohon Taraa. Mayat bayi diletakkan dalam lubang pohon tanpa dibungkus apa pun. Lubang ini kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Tidak ada bau busuk sama sekali meskipun terdapat banyak lubang pohon berisi jenasah.

Tradisi pemakaman di Indonesia mempunyai beragam warna. Salah satu di antaranya adalah di Trunyan, Bali.
Kehidupan tradisi di Desa Trunyan , Kintamani, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Trunyan Bali

Seperti diceritakan di muka, di Bali umumnya orang yang meninggal akan dikubur atau dibakar dengan upacara ngaben. Namun generasi penerus keturunan Bali Aga di Desa Trunyan punya tradisi berbeda. Orang yang meninggal justru ditaruh di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Warga desa yang terletak
di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, ini memang memiliki tradisi unik yang masih dipertahankan sejak dulu hingga sekarang. Mereka “menguburkan” jenazah dengan cara dibaringkan di atas tanah yang disebut Sema Wayah.

Posisi jenazah berjejer bersandingan, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh pada waktu prosesi. Jadi, yang terlihat hanya bagian muka jenazah melalui celah bambu ”Ancak Saji”. Ancak
Saji adalah anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi melindungi jenazah dari serangan atau gangguan binatang buas.

Dayak Benuaq, Kalimantan Timur

SUKU Dayak Benuaq atau suku Dayak Bentian di Kalimantan Timur

juga memiliki prosesi khusus untuk menguburkan manusia yang sudah meninggal. Kuburan akan mudah ditemukan di halaman samping rumah atau tepi jalan menuju kampung suku Dayak Benuaq.

Uniknya, jenazah orang Benuaq atau Bentian tidak dikubur dalam tanah atau tebing layaknya tradisi suku lain. Kuburan berbentuk kotak itu disangga tiang atau digantung dengan tali. Setelah beberapa tahun, kuburan tersebut dibuka lagi, lalu tulang-belulang jenazah didoakan dan dimasukkan dalam kotak bertiang permanen.

Tradisi pemakaman di indonesia ada berbagai ragamnya dan keunikannya. Salah satunya Waruga di Minahasa.
Waruga, pemakaman di Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Foto: Dok. shuterstock

Waruga, Minahasa

Di Minahasa zaman dulu, ada memiliki tradisi untuk membuat makam yang nantinya akan mereka tempati sendiri. Mereka juga percaya bahwa makam harus dibuat seindah mungkin untuk menghormati roh si orang meninggal.
Waruga merupakan makam yang terdiri dari dua batu. Batu pertama berbentuk peti dan batu ke dua berbentuk menyerupai limas. Biasanya, waruga akan dihiasi ornamen ukiran hewan, manusia, tanaman, ataupun geometri. Beberapa waruga juga memiliki ornamen berupa kisah hidup manusia.

agendaIndonesia

*****

3 Kampung Adat di Flores yang Unik

Bena

3 kampung adat di Flores, mungkin belum banyak yang tahu. Pulau di Nusa Tenggara Timur ini mungkin lebih dikenal karena ke-eksotisan alamnya, juga ragam budayanya. Padahal, wilayah ini memiliki jejak budaya berupa kampung adat yang harus terus dijaga kelestariannya.

3 Kampung Adat di Flores

Pemandangan berupa barisan pegunungan tampak elok mengelilingi kampung-kampung adat ini. Kampung adat apa saja yang ada di sepanjang Flores ini.

Kampung Bena

Di tengah Pulau Flores, tepatnya 19 kilometer di sisi selatan Bajawa, masih di Kabupaten Ngada dan berporoskan Gunung Inerie (2245 mdpl), kampung adat yang mengesankan kehidupan zaman batu ini bisa dijumpai. Di tanah adat itu, sekitar sembilan suku yang terdiri atas 326 orang menempati 45 rumah kayu, yang dibangun sejajar dan berhadap-hadapan. Sembilan suku itu adalah Bena, Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, serta Ago. Pembedanya, rumah dipisahkan oleh tingkatan-tingkatan. Masing-masing suku menempati satu tingkat. Tingkat paling tengah dihuni suku Benayang dianggap paling tua danpionir pendiri kampung. 

Tradisi dipertahankan di sini, seperti mengunyah sirih pinang, berladang, serta menenun kain tradisional. Pemandangan berupa barisan pegunungan mengelilingi kampung tersebut. Komunikasi antarsuku menggunakan bahasa daerah, yakni Nga’dha. Perlu perjalanan darat lebih kurang sembilan jam dari Labuan Bajo untuk menjangkau lokasi ini. Bisa juga via udara menuju Bandar Udara Soadi, dilanjutkan perjalanan darat lebih kurang satu jam. 

Kampung Wae Rebo

Tujuh rumah kerucut berjuluk mbaru niang, yang dipercaya merupakan warisan nenek moyang dari Minang, berdiri gagah di puncak gunung sebuah desa bernama Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketujuhnya disusun melingkar, membentuk perkampungan mini yang misterius. Rumah itu menjulang tinggi mencapai 15 meter. Di dalamnya bercokol ruangan lima lantai dan setiap tingkat memiliki makna berlainan. 

Tingkat pertama disebut luntur, tempat berkumpul keluarga. Tingkat kedua adalah loteng atau lobo untuk menyimpan logistik dan kebutuhan sehari-hari. Tingkat ketiga ialah lentar, penyimpananbenih tanaman. Keempat disebut lempa rae, gudang stok makanan bila terjadi kekeringan. Terakhir, hekang kode, biasanya sebagai tempat sesaji. Untuk menjangkaunya, pelancong harus menuju Desa Denge sekitar dua jam dari Rutengdengan kendaraan bermotor. Dilanjutkan pendakian sekitar tiga sampai empat jam dengan medan cukup ekstrem. 

Kampung Gurusina

Tak hanya Bena, Kabupaten Ngada punya Kampung Gurusina. Letaknya di Desa Watumanu, Jerebu’u, masih di kaki Gunung Inerie. Kampung tersebut ditengarai sudah ada sejak 5.000 tahun silam dan digadang-gadang menjadi yang tertua di tanah bunga, Flores. Terdiri atas33 rumah yang dihuni tiga suku besar: Kabi, Agoazi, dan Agokae. Penataan rumahnya mirip di Kampung Bena, yakni berjajar dan berhadap-hadapan. Para lelakipunmenjadi peladang cengkeh, kemiri, kakao, serta jambu mete. 

Hanya tradisi menyimpan ari-ari anaknya di dalam batok kelapa, yang membuat masyarakat ini unik. Ari-ari itu lantas ditempatkan di dahan pohon yang paling tinggi dan rindang. Dengan tradisi ini, anak-anak dipercaya akan menjadi penurut serta pelindung. Selain itu, kelak dapat menaburkan perdamaian di mana pun. 

F. Rosana

Mutiara Tersembunyi di Jawa Barat (Bagian 1)

pantai madasari shutterstock 741165235
pangandaran shutterstock 775689541
Salah satu pantai di Jawa Barat, yakni Pantai Pangandaran dari udara (shutterstock)

Mutiara tersembunyi di Jawa Barat, tepatnya di kawasan selatan provinsi ini menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Mutiara Tersembunyi di Jawa Barat

Siapa berani menantang ombak Samudera Hindia? Jika sedang ganas-ganasnya, derunya memekakkan telinga, juga arusnya akan mengempaskan setiap kapal yang lewat. Namun di pesisir Pangandaran, sebuah tanjung mampu meredam amarah sang samudera. Nelayan Sunda pun beramai-ramai berlindung di balik naungannya, menjadikannya rumah dan sumber pangan.

Kata Pangandaran sendiri diyakini berasal dari kata pangan yang bermakna makanan dan daran yang berarti pendatang. Berkat kehadiran tanjung tersebut, orang bisa mencari ikan, bahkan bermukim dan berladang dengan tenang. Tanjung ini pula yang mendasari penamaan salah satu desa di situ, yakni Desa Pananjung.

Karena memiliki keanekaragaman satwa dan tanaman langka, pada 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan margasatwa dengan luas 530 hektare. Lalu pada 1961, setelah ditemukannya bunga Raflesia padma,status berubah menjadi cagar alam.Jika berkunjung ke sana, mampirlah ke cagar alamnya untuk menjelajahi hutan lindung, gua-gua, dan keanekaragaman hayatinya.

Namun daya tarik utama Kabupaten Pangandaran pastilah eksotisme pantainya. Pantai Pangandaran. Dari sini, wisatawan dapat menikmati panorama matahari terbit, sekaligus terbenam. Hal ini karena adanya bentukpantainya yang menjorok ke laut, sehingga tinggal bergeser sedikit,bisa berada disisi barat ataupuntimur.

Di pantai barat Pangandaran, bentangan pasirnya sangat luas. Keluarga, terutama anak-anaknya, dapat puas bermain beralaskan pasir pantai, dikelilingi perairan Samudera Hindia. Sementara di pantai timur, kondisinya sedikit berbeda. Areal pasirnya tidak terlalu luas, tapi airnya lebih tenang. Di sini suasananya lebih tenang, dengan titik-titik foto yang menarik.

Berjalan sekitar tiga kilometer ke arah tanjung, Anda akan menemui Pantai Pasir Putih. Sesuai namanya, hamparan pasir di sini memang tampak berwarna putih bersih, memberikan perbandingan yang kontras dengan warna hijau pepohonan dan biru laut di sekelilingnya.

Bergeser sedikit lebih jauh, masih banyak pantai lain di sekitarnya yang menjadi favorit wisatawan. Ada Pantai Batu Hiu yang berada kurang lebih 14 kilometer dari Pangandaran. Pantai ini didominasitebing-tebing batu karangyang salah satunya berbentuk mirip ikan hiu.Dengan sedikit mendaki tebing, wisatawan dapat menikmati lanskap birunya Samudera Hindia dengan ombak putih yang bergulung mendekat.

Sementara sekitar 39 kilometer ke arah barat, ada Pantai Madasari yang dihiasi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Namanya memang masih asing, tetapi pesona yang ditawarkan tak kalah dari pantai lainnya. Apalagi Madasari memiliki area perkemahan yang cukup luas. Bayangkan berkemah di pesisir dengan iringan bunyi ombak menghantam bukit-bukit karang. 

Paling tidak ada 21 pantai di Kabupaten Pangandaran. Ada Pantai Bojong Salawe, Karang Nini, Karang Tirta, Cikaracak, Karang Senggeul, dan masih banyak lagi. Masing-masing memiliki daya pikatnya tersendiri yang membuat Anda segan beranjak dari keelokan pesisir yang tak ada habisnya.

…….. (Mutiara … bagian 2)

Taman Narmada Lombok, Bikinan Raja Pada 1727

Taman Narmada Lombok bukan sekadar taman kota biasa, namun memiliki sejarah panjang.

Taman Narmada Lombok di dekat Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, bukanlah sebuah taman kota yang biasa-biasa saja. Ia memiliki sejarah panjang dengan falsafah yang ternyata cukup dalam. Jika tak punya agenda ke pantai saat berkunjung ke pulau Lombok, cobalah main ke taman ini.

Taman Narmada Lombok

Sisa air hujan masih menggenang di mana-mana, ketika kami sampai di pintu masuk Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Hujan yang mengguyur sejak pusat kota Mataram, memang baru berhenti turun. Namun justru akibat guyuran air hujan itulah kesejukan obyek wisata taman yang merupakan cagar budaya ini semakin terasa. Udara sejuk dan terasa segar.

Ketika sampai di sana, rasanya tempat tersebut biasa-biasa saja. Dari luar tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa. Mungkin itu pula banyak wisatawan yang berkunjung ke Lombok masih jarang yang mengenal dan mengunjungi taman ini.

Gerbang utama menutupi bagian dalam taman yang didirikan oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karangasem, pada 1727. Inilah salah satu jejak Kerajaan Karangasem saat menguasai Mataram.

Setelah melangkah masuk, barulah pengunjung bisa menemukan taman dalam lingkungan asri dengan gerbang utama dari bata merah. Pengunjung perlu membayar tiket masuk senilai Rp 6 ribu untuk wisatawan domestik. Dari pusat kota, Taman Narmada dapat dicapai dengan mudah dan cepat. Cukup dalam 20 menit karena hanya berjarak sekitar 11 kilometer.

Sebelum melangkah lebih jauh, pengunjung bisa terlebih dulu mencermati denah yang dipasang di depan pintu masuk. Maklum, luas taman mencapai sekitar hampir tiga hektare. Harapannya, tentu jangan sampai ada tempat yang terlewati.

Setiap area di dalam taman ini diberi nama khusus. Bahkan, untuk gerbang pun ada nama tersendiri. Ada yang disebut Gapura Gelang atau Paduraksa. Di setiap taman dengan nama berbeda-beda itu, umumnya terdapat bangunan, taman,dan kolam. Dari depan, perjalanan dimulai dengan menikmati Jabalkap, taman kecil plus telaga kembar yang tergolong mini.

Taman Narmada Lombok, sebuah taman yang dibangun oleh Raja Karangasem Lombok pada 1727.
Kolam dalam area Taman Narmada, Lombok, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Kemudian, ada pula Mukedas, yang memiliki beberapa bangunan, seperti Sanggah Pura, Balai Pameraja, Balai Pameraja, dan Balai Loji. Selain taman dan kolam, di area ini ada pura. Letaknya di bagian timur, dikenal sebagai Pura Kelasa atau Pura Narmada. Ada pula Bale Tenang, yang digunakan keluarga raja di masa silam untuk bersantai. Bangunan itu terbuat dari kayu dengan dominan berwarna hijau.

Langkah pengunjung saat menyusuri jalanan taman tidak selalu berpijak pada lahan datar. Beberapa kali harus naik turun tangga. Taman memang dirancang seperti Gunung Rinjani, dengan jalur dan lahan berundak-undak. Bagian yang paling tinggi atau diumpamakan sebagai puncak gunung adalah Pura Kelasa, sedangkan kolam taman ibarat Danau Segara Anak. Telaga Padmawangi, yang menjadi kolam hiasan saat ini, dulu merupakan tempat dayang-dayang berenang. Pada masa itu kolam banyak ditumbuhi bunga tunjung atau padma.

Ketinggian taman yang berbeda-beda justru memberi keuntungan bagi wisatawan. Sebab, begitu datang, segera terlihat bahwa taman ada di mana-mana. Pengunjung bisa memandang ke seluruh sudut taman tanpa halangan. Tidak hanya kolam yang menjadi hiasan dalam taman, kolam renang pun hadir di arena ini. Di sinilah umumnya keramaian setiap hari berpusat.

Tidak semua bangunan di sini asli buatan periode 1727. Karena berbagai kerusakan, pemerintah daerah sempat melakukan rekonstruksi pada 1980-1988.

Awalnya, taman memang dibuat sebagai tempat upacara Pekalem, yang diadakan setiap purnama kelima tahun Caka. Upacara ini semula diadakan di puncak Gunung Rinjani, yang berada pada ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Namun karena medan yang sulit, dibuat taman dengan kontur seperti gunung kedua tertinggi di Indonesia tersebut. Lengkap dengan miniatur Danau Segara Anak. Lahan ini akhirnya digunakan juga sebagai tempat peristirahatan raja.

Taman Narmada Lombok dibangun sejak 1727.
Sebuah pagi di sekitar Taman Narmada, Lombok Barat. Foto: dok.shutterstock

Bagi pengunjung, ada daya tarik lain yang tergolong unik yaitu Balai Pertirtaan, yang memiliki air bersumber dari Gunung Rinjani. Bahkan, air ini merupakan hasil pertemuan tiga sumber mata air, yaitu Lingsar, Suranadi, dan Narmada. Ada kepercayaan masyarakat setempat: siapa yang membasuh muka dan meminum air di Balai Pertirtaan,dia akan menjadi awet muda. Nama taman ini sendiri dipetik dari kata Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang dianggap suci bagi umat Hindu.

agendaIndonesia

****

Rumah Oleh-Oleh Gudeg Kaleng Bu Lies Sejak 1990

Sentra Gudeg Wijilan juga tempat untuk mencari oleh-oleh, di antaranya gudeg dalam kaleng.

Rumah oleh-oleh gudeg kaleng Bu Lies adalah rumah makan sekaligus toko oleh-oleh gudeg kaleng yang terletak di kawasan Jalan Wijilan, sebelah timur Alun-alun Utara, kota Yogyakarta. Area ini kerap dikenal sebagai kampung Wijilan, atau sering juga disebut Sentra Gudeg Wijilan.

Rumah Oleh-oleh Gudeg Kaleng

Sentra Gudeg Wijilan adalah di mana banyak penjual gudeg yang telah menjajakan makanannya di sepanjang jalan ini sejak tahun 1940-an. Gudeg Bu Lies sendiri sudah eksis sejak tahun 1990-an dan kini menjadi salah satu restoran gudeg terpopuler di area ini.

Namun salah satu yang membuat restoran gudeg ini unik adalah salah satu produk yang mereka tawarkan, yakni gudeg kaleng. Ide gudeg kaleng ini adalah gudeg yang mampu awet dan tahan lama, karena banyaknya konsumen yang membeli gudeg bukan hanya untuk disantap langsung tetapi juga untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Gudeg kering seperti yang biasa dijual di sini biasanya hanya bertahan sekitar 1 hari, membuatnya agak sulit untuk dijadikan oleh-oleh. Oleh karenanya, Gudeg Bu Lies berinovasi dengan gudeg kaleng, dimana gudeg yang dikemas di dalam kaleng ini mampu awet hingga 1 tahun. Inovasi ini pertama dilakukan pada tahun 2011, lewat pengetesan yang juga dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Setelah menemukan metode yang sesuai, pada tahun 2012 produk ini resmi dijual secara umum.

Gudeg sendiri merupakan masakan yang menggunakan nangka muda atau yang dalam istilah Jawa lazim disebut gori. Setelah diramu dengan bumbu-bumbu dan dimasak di atas tungku bakar, gudeg ini dimasukkan ke dalam kaleng yang sebelumnya telah disterilisasi terlebih dulu. Kemudian dilakukan proses pasteurisasi saat kaleng masih terbuka dan setelah ditutup, untuk memastikan bakteri-bakteri yang membuat makanan basi telah dinetralisir. Setelah dikarantina selama 10 hari, produk akhirnya siap untuk dijual kepada konsumen. Proses panjang ini juga memastikan bahwa gudeg kaleng tidak menggunakan bahan pengawet apapun, agar tetap layak dikonsumsi dan juga tidak mengurangi kualitas serta rasa asli dari gudeg. Tak lupa, gudeg kaleng ini pun juga telah bersertifikat halal dari MUI.

Tersedia beberapa jenis varian dari gudeg kaleng, seperti gudeg kaleng tahu telur, ayam, ayam telur, sambal krecek, vegetarian dan mercon bagi yang menyukai sensasi pedas. Harganya berkisar dari Rp. 30.000,00 hingga Rp. 40.000,00, dan dikemas dalam kaleng yang kecil dan mudah untuk dibawa. Gudeg Bu Lies buka setiap hari dari jam 5 pagi hingga jam 10 malam.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (0274) 450164, serta bisa mengunjungi website resmi www.gudegbulies.com.

 

Cabang-cabang:

– Jl. Wijilan no. 5, telp. (0274) 450164

– Jl. Wijilan no. 5b, telp. (0274) 412294

– Jl. Gamelan no. 26, telp. (0274) 417444

Komunitas Drone, 1 Pesawat Sejuta Angle

Komunitas drone semakin banyak di Indonesia, selain belajar menerbangkan pesawat, mereka juga belajar fotografi dan videografi

Komunitas drone adalah satu kelompok kegiatan dengan mengejar sejumlah kompetensi. Bukan sekadar menerbangkan pesawat nirawak, namun juga menumbuhkan kemampuan fotografi, videografi. Bahkan memberikan manfaat lain seperti dokumentasi. Jadi ini bukan sekadar hobi semata.

Komunitas Drone

Matahari siang bolong pada awal Maret lalu benar-benar perkasa. Teriknya memanggang siapa dan apa pun yang ada di bawahnya. Beberapa gumpalan tipis awan putih berarak menghindari keperkasaannya.

Entah dari mana munculnya, sebuah pesawat mungil melintas di udara. Sesekali terbang merendah dan kembali meninggi meski tidak menembus awan. UFO (unidentified flying object) kah? Rupanya bukan. Karena benda itu tak lain dari drone alias unmanned aerial vehicle (UAV) yang sedang dicoba seorang pembeli.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, drone kian populer. Di kalangan militer dikenal sebagai ”mesin pembunuh” karena memiliki serangan yang mematikan dan daya jelajah yang sangat luas.

Beberapa tahun lalu chief executive officer  raksasa retail online Amazon, Jeff Bezos, mengenalkan konsep layanan Amazon Prime Air. Yang memungkinkan barang yang dipesan konsumen di Amazon.com akan diantar menggunakan drone dalam waktu 30 menit setelah mereka menekan tombol “beli”.

Menurut Asha Wadya, anggota DJI Phantom Indonesia, pemanfaatan pesawat nirawak itu pun kini berkembang luas hingga menyentuh penghobi. Selain hobi juga dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan sebagai fotografer ataupun videografer. ”Bisa dibilang drone ini menggabungkan tiga hobi sekaligus: radio control, videografi, dan fotografi,” kata dia. Bahkan, ia menambahkan, beberapa media massa sudah memanfaatkan drone ini.

Komunitas drone tumbuh untuk meningkatkan apresiasi dan kompetensi memanfaatkan pesawat nirawak.
Drone jenis Phantom. Foto: Dok. Unsplash

Pemanfaatan drone, kata Asha, tak lepas dari kemampuan yang dimilikinya. Drone lebih stabil, sehingga memungkinkan untuk mengabadikan gambar atau video. Pesawat yang dikendalikan melalui remote control dengan frekuensi 2,4 dan 5,8 Ghz juga mampu terbang setinggi 400 meter dan sejauh lebih dari 1,5 kilometer.

”DJI Phantom II bisa terbang selama 15-20 menit sekali terbang,” ia mengungkapkan sambil menyebut seri terbaru bisa terbang lebih tinggi dan durasi yang lebih lama.

Selain itu, drone dilengkapi dengan fasilitas GPS. Jika kehilangan jejak, fitur ini memungkinkan pesawat akan kembali ke titik keberangkatan semula. ”Tinggal diatur dan dikunci saja GPS-nya,” ujar Asha.

Tak jarang pesawat tersebut dijual sepaket dengan mounting (dudukan) action camera seperti GoPro yang didesain ringan, kompak, dan memiliki lensa lebar. Walhasil, tidak repot merakit perangkat tambahan lain.

Komunitas drone mengembangkan minat dan hobi sekaligus menjadi profesi yang menjanjikan.
Drone sedang mengudara. Foto: Dok. unsplash

Hasil foto ataupun video dengan drone ini mengagumkan. Sudut pandang aerial dengan perspektif menghadap ke bawah membuat foto ataupun video menjadi dramatis dan menakjubkan.

Lantas, berapa harga sebuah drone yang dinilai cocok buat pemula? Asha menyebut sekitar belasan juta untuk sebuah drone DJI Phantom 2. Itu belum termasuk action camera. Jika ingin sudah lengkap dengan kamera bisa mencapai Rp 20 juta lebih. Asha memperkirakan perkembangan drone akan semakin pesat di Tanah Air. ”Tahun 2015 mungkin dapat dibilang sebagai awal tahunnya drone,” ucapnya.

Aman dan Bertanggung Jawab

Kendati Phantom keluaran DJI Innovations termasuk paling mudah dikendalikan di kelasnya, namun Asha menyarankan pemula yang baru mencoba drone untuk berlatih di lapangan terbuka, bermain rendah, dan berlatih orientasi sesering mungkin sebelum terbang lebih tinggi.

”Jika terjadi crash, selain bisa merusak drone, bisa membahayakan orang lain di sekitarnya,” katanya. Oleh karena itu, komunitas drone DJI Phantom Indonesia menjunjung semboyan flysafe & fly responsible.

Komunitas drone yang didirikan pada 11 Mei 2014 itu merupakan wadah berkumpulnya pengguna drone buatan Da-Jiang Innovations Science and Technology Co, Ltd (DJI) Phantom asal Cina. Perusahaan ini didirikan Frank Wang pada 2006 di Shenzhen, Tiongkok.

Meski usia DJI Phantom Indonesia kurang dari setahun, anggotanya kian bertambah. Sampai tulisan ini diturunkan, setidaknya ada 600 anggota yang terdaftar dalam media sosial DJI Phantom Indonesia. “Anggota kami datang dari berbagai profesi. Mulai dari siswa SMP, kalangan media, penghobi, videografer, fotografer, dosen, DJ, hingga musikus,” katanya.

Asha mempersilakan siapa saja yang tertarik bergabung dengan DJI Phantom Indonesia. ”Silakan saja bergabung lewat media sosial Facebookkami. Tak perlu harus punya drone terlebih dulu,” kata dia.

Hal itu diakui oleh Agung Setiawan. Pria berusia 37 tahun yang berprofesi sebagai DJ ini mengaku awalnya mengenal drone berawal dari kebiasaan mendokumentasikan kegiatannya saat ia beraksi di luar kota. ”Namun setelah mempelajari lebih jauh, ternyata kamera yang saya gunakan bisa dipasangkan dengan drone. Sejak saat itu, saya langsung tertarik dengan drone. Hitung-hitung sekalian belajar jadi videografer,” ujarnya merendah.

agendaIndonesia/TL/Andry T.

*****