Mengejar Awan Mahameru di Atas 3676 Meter

Mengejar awal mahameru sebagai atap jawa sungguh bukan perjalanan mudah.

Mengejar awan Mahameru adalah impian para petualang alam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Selain curam, medannya juga berpasir yang membuat setiap selangkah mendaki, kaki malah bisa merosot mundur lima langkah.

Mengejar Awan Mahameru

Perjalanan ini sendiri sudah jauh saya lakukan. Bahkan sebelum masa pandemi, namun tetap saja menarik buat saya kenang. Saya ingat, saat itu hampir menjelang tengah malam saat sampai di pos Kalimati. Hawa dingin sudah menyerbu badan bahkan saat sebelum sampai pos ini. 

Sambil duduk di atas sebuah batu, berulangkali saya mencoba merapatkan jaket yang menempel di tubuh. Tapi nyaris tak ada gunanya. Di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut menuju puncak Semeru, sia-sia saja melawan dinginnya udara yang mendekati nol derajat.

Mengejar awan Mahameru adalah impian para penjelajah alam di tanah Jawa.
Danau Ranukumbolo, tempat para pendaki biasa mendirikan tenda untuk bermalam sebelum menuju puncak Semeru. Foto: Dok. Unsplash


Mencoba mencari hangat, saya berjalan berkeliling. Mendekati sekelompok orang yang tengah duduk mengelilingi api unggun kecil. Mereka penduduk sekitar Semeru yang biasa menawarkan jasa porter. “Kapan akan berangkat muncak?” tanya salah seorang dari mereka. “Tengah malam nanti, pak,” ujar saya.


“Berjalan saja, jangan pikirkan akan sampai atau tidak. Jika berjalan terus, tidak terasa nanti sampai di atas,” ujar laki-laki setengah baya tadi seakan memberi tip sekaligus menguatkan semangat.


Semeru, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung yang sudah banyak diimpikan para pendaki.

Untuk saya sendiri, angan-angan mengejar awan Mahameru di ketinggian 3.676 mdpl sudah ada sejak remaja, meski saya bukan pendaki. Dan kesempatan itu pun akhirnya datang. Dengan menumpang kereta Matarmaja saya menuju Malang dari Jakarta. Selanjutnya bersama 16 teman menumpang jeep hingga pos Ranu Pane, desa terakhir untuk menuju Semeru. 


Malam itu di Kalimati, berarti tinggal sekitar tiga kilometer menuju puncak. Tapi perjuangan justru baru dimulai. Medan yang akan kami tapaki selanjutnya, selain curam, adalah medan berpasir. Satu langkah mendaki, kaki bisa merosot lima langkah.


Tepat pukul 12 malam rombongan memulai perjalanan menuju puncak. Di tengah kegelapan, kami merayapi sela pepohonan dengan penerangan dari headlamp. Semakin tinggi mendaki, saya semakin sulit bernapas. Hidung terasa nyeri ketika menghirup udara. Kepala saya pening. Tampaknya asupan oksigen yang kurang lancar mulai mempengaruhi peredaran darah di kepala.


Saya tetap berjalan. Pikiran saat itu masih normal untuk mengatakan, saya harus terus berjalan. Saya tidak mau menyerah. Apalagi, di sekitar pos Arcopodo, kami menjumpai beberapa batu nisan yang dibuat untuk menandai pendaki yang meninggal saat pendakian. Sambil melangkah, doa semakin deras terucap dalam hati.


Lepas dari pos Kelik, kami mulai menapaki pasir. Meski kondisi gelap gulita, saya dapat merasakan pasir raksasa Mahameru berdiri tegak di depan kami. Saya menyesal tidak menggunakan geiter sebagai penutup kaki. Pasir dan kerikil masuk ke dalam sepatu dan sampai di bawah tapak kaki. Menginjak kerikil-kerikil membuat saya melangkah dengan rasa nyeri. Berulangkali saya melepas sepatu dan mengeluarkan kerikil.

Mengejar awan Mahameru yang berada di ketinggian 3676 di atas permukaan laut.
Puncak Semeru terlihat di kejauhan. Foto: Dok. unsplash


Hampir fajar. Rombongan sudah berpencar. Saya menoleh ke belakang. Masih ada dua teman. “Ayoo semangaaat…,” teriak seseorang.  Saya masih berada di tengah pasir, saat rona merah matahari dari bawah awan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di Jakarta, matahari terbit sering saya anggap hal biasa. Tapi sini, setiap kejadian alam adalah keajaiban. Terduduk di pasir, saya merasa beruntung dapat menikmati kuasa-Nya.


Hari telah pagi. Suasana hampir terang. Puncak Semeru belum juga terlihat. Saya melangkah dengan sisa-sisa napas. Tenggorokan terasa kering. Persediaan minum sudah habis pula. Seorang pendaki yang berjalan mendahului saya, mencoba memberi semangat. “Puncak sebentar lagi, paling 50 meter,” ujarnya tanpa ditanya.

Duh, bahkan 5 meter menanjak di pasir yang miring sangat jauh berbeda dengan di permukaan datar. Jangankan berjalan, mencari pijakan di pasir saja, kaki harus meraba agar tidak merosot ke bawah lagi.


Di tepian pasir, beberapa pendaki tergolek tidur. Saya mencoba merebahkan diri di pasir Semeru. Luar biasa, lebih nikmat dibanding ketika di spring bed mahal. Kantuk menyerang, hampir saya tertidur. O.. tidak! Saya segera bangkit. Saya bergegas, khawatir kehabisan waktu, karena setelah pukul 9.00 pendaki tidak bisa menuju puncak. Semua harus turun. Angin yang mungkin membawa asap beracun dari kawah Semeru akan bergerak ke jalur pendakian.


Tubuh saya benar-benar lemas, 10 meter menjelang puncak. Dari atas sekelompok pendaki berjalan turun. “Sini, mana tongkatnya, saya tarik,” dia berteriak. Saya mengangsurkan trekking pole saya. Ia menarik tongkat yang saya genggam hingga tubuh saya terangkat naik. Teman di belakangnya melanjutkan menarik tongkat saya.


Saya seperti mendapat semangat baru. Saya tahu, puncak hanya beberapa langkah lagi. Satu…dua…tiga. Hopla!! Dengan sisa tenaga saya mencapai tanah datar Semeru. Saya tersungkur dan meneteskan air mata, tidak percaya akhirnya mencapai harapan mengejar awan Mahameru. 
Saya bangkit menatap hamparan abu-abu puncak Semeru. Melangkahkan kaki mengitari puncak dengan buncahan rasa yang sulit saya definisikan. Semalaman bergelut dengan pasir dan bebatuan Mahameru, inilah akhir perjalanan. Puncak Mahameru dikelilingi kepingan awan. Saya seperti berada di negeri atas awan puncak tanah Jawa.

agendaIndonedia/TL/Ika C/Rita

*****

5 Sentra Belanja Batik di Kota Solo

Pasar Klewer adalah salah satu dari 5 sentra belanja batik di kota SOlo.

Ini dia 5 sentra belanja Batik di kota Solo yang direkomendasikan bagi wisatawan yang hendak berbelanja pakaian maupun kain batik khas kota ini. Selaras dengan panggilannya sebagai kota batik, Solo dikenal dengan budaya batiknya yang melegenda. Batik Solo, yang cenderung berwarna coklat atau gelap sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati, dikenal dengan beragam jenis motifnya, dengan masing-masing filosofi dan peruntukannya.

Ini 5 sentra belanja batik di kota Solo untuk oleh-oleh
Tugu Slamet Riyadi di Gladak, Solo, menuju Pasar Klewet sebagai satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo. Foto: shutterstock

5 Sentra Belanja Batik di Kota Solo

Seperti motif Sidomukti yang melambangkan kemakmuran dan keberkahan, sehingga kerap digunakan pada adat pernikahan Jawa. Atau motif Parang, yang melambangkan semangat pantang menyerah, dan dulu kerap digunakan oleh pasukan perang saat akan bertempur. Beragam motif-motif tersebut kini dapat ditemui di berbagai pusat belanja seperti di 5 sentra belanja batik di kota Solo berikut ini.

  1. Pasar Klewer

Salah satu dari 5 sentra belana batik di kota Solo yang paling terkenal dan ikonik adalah Pasar Klewer, yang berlokasi di jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat nomor 5A. Berupa bangunan dua lantai yang kini menampung ribuan kios dan pedagang, khususnya batik, Pasar Klewer adalah sentra perbelanjaan garmen terbesar di Solo.

Dulunya, tempat ini merupakan tempat perhentian kereta api yang juga digunakan sebagai tempat berdagang. Oleh warga setempat, lokasi ini awalnya lazim dikenal sebagai Pasar Slompretan, yang merujuk kepada suara klakson kereta api yang dianggap menyerupai suara slompret, atau terompet dalam bahasa Jawa.

Belakangan, tempat ini kemudian didominasi oleh pedagang batik, yang kerap berkeliaran menawarkan batik dagangannya sambil diletakkan di pundaknya. Banyaknya batik yang dibawa di pundak mereka, membuatnya terlihat berantakan atau kleweran dalam bahasa Jawa. Maka kemudian area tersebut juga dikenal sebagai Pasar Klewer.

Kawasan perdagangan ini semakin ramai dan berkembang sejak pasca kemerdekaan, sehingga muncul wacana untuk membangun sebuah pasar terpadu untuk menampung pedagang-pedagang batik tersebut. Maka pada 1970 di area tersebut didirikanlah bangunan dua tingkat, yang setahun kemudian diresmikan menjadi Pasar Klewer oleh Presiden Soekarno.

Banyak hasil kerajinan batik yang dapat ditemui di sini, baik itu batik tulis maupun batik cap. Mulai dari kain, baju, seprai, sarung bantal, hingga beragam aksesoris bermotif batik. Selain itu, pasar ini juga kerap menampung kerajinan batik dari luar Solo, seperti batik Yogyakarta, Semarang, Banyumas, Pekalongan dan sebagainya.

5 sentra belaja batik di kota SOlo-- Kampung Batik Andreas Hie shutterstock

Pada perkembangannya, Pasar Klewer tak hanya menjadi satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo saja, tapi juga menjadi tempat berkumpulnya pedagang kerajinan tangan lainnya, seperti kayu ukir. Bahkan, terdapat beberapa kedai-kedai makanan yang menarik untuk dicoba pecinta kuliner, seperti Warung Selat Gajahan, Tengkleng Klewer bu Edi, dan Gule Goreng pak Samin.

Lokasinya yang berdekatan dengan Keraton Solo dan Masjid Agung Surakarta, menjadikannya sebagai lokasi belanja batik yang strategis, terutama bagi wisatawan yang mencari batik untuk oleh-oleh. Tak hanya itu, pasar yang buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 16.00 ini juga dikenal dengan harganya yang murah dan masih bisa ditawar.

  • Kampung Batik Kauman

Salah satu alternatif lain bagi wisatawan yang hendak berbelanja di 5 sentra belanja batik di kota Solo adalah dengan beberapa kampung wisata tematik yang menjadi pusat kerajinan batik. Seperti misalnya Kampung Batik Kauman, yang merupakan pusat industri batik tertua di Solo. Lokasinya pun tak jauh dari Keraton Solo, Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta.

Di sepanjang area jalan Trisula III, berjejer deretan sekitar 30 toko dan pabrik batik rumahan yang dapat dikunjungi. Wilayah ini aslinya merupakan kawasan pemukiman abdi dalem Keraton, yang mana banyak dari kalangan abdi dalem tersebut yang berprofesi sebagai pembatik yang bertugas untuk menyuplai kebutuhan sandang Keraton.

Oleh karenanya, kebanyakan hasil kerajinan batik di sini banyak dipengaruhi dengan motif-motif batik yang sering digunakan oleh Keraton. Meski dalam perkembangannya kini, selain ragam motif klasik ala Keraton yang masih berupa batik tulis dari tangan, tersedia pula varian batik cap serta batik yang mengkombinasikan teknik batik tulis dan cap.

Yang istimewa, selain bisa berbelanja ragam produk batik yang dijajakan, pengunjung juga dapat mengambil paket workshop membatik bersama beberapa orang dalam satu sesi. Layanan workshop tersebut saat ini dikelola oleh dua usaha batik setempat, Batik Gunasti dan Batik Gunawan.

Dalam workshop tersebut, pengunjung akan belajar dan merasakan proses pembuatan batik tulis secara tradisional. Dari cara menata kain yang akan dibatik, melihat pewarnaan cairan malam atau cairan yang akan digunakan untuk mencanting, sampai proses mencanting di atas kain tersebut.

Yang perlu dicatat, bagi yang tertarik untuk mencoba workshop tersebut harus membuat reservasi terlebih dulu, dan dalam rombongan atau jumlah orang tertentu. Layanan workshop tersebut tersedia setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 08.00 hingga 15.00, dan pengunjung akan dikenakan biaya Rp 55 ribu.

Nuansa klasik ala kampung Jawa tempo dulu juga menjadikan tempat ini lokasi yang menarik untuk berfoto dan bersantai, serta tersedia beberapa kafe di sekitarnya untuk melepas penat setelah berkeliling dan berbelanja batik. Buka dari jam 08.00 hingga 18.00, direkomendasikan untuk berkunjung kala pagi atau sore hari, agar tidak kepanasan.

  • Kampung Batik Laweyan

Kampung sentra industri dan perbelanjaan batik Solo lainnya adalah Kampung Batik Laweyan. Lokasinya berada di jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat nomor 521. Dari arah Kampung Batik Kauman dan Keraton Solo, tinggal menyusuri jalan Dr. Radjiman Wedyadiningrat ke arah barat sampai di lokasi.

Kampung dengan area seluas 24 hektare ini merupakan kawasan tempat tinggal pengusaha dan pedagang batik, serta menjadi salah satu pusat syiar dakwah agama Islam pada masanya. Bahkan, tempat ini menjadi saksi berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI), asosiasi dagang pribumi pertama di Indonesia, yang didirikan oleh pahlawan nasional K.H. Samanhudi.

Disinyalir, nama Laweyan berasal dari istilah jawa ‘nglawiyan’, yang kurang lebih artinya berlebih-lebih. Ini merujuk kepada komunitas di area tersebut yang didominasi pengusaha batik yang tergolong kaum orang kaya, atau dianggap orang dengan harta serta gaya hidup berlebih kala itu.

Ada pula versi yang mengatakan bahwa nama Laweyan berasal dari kata ‘lawe’, bahasa Jawa untuk kain atau bahan pakaian. Alasannya, daerah ini dulunya merupakan kebun kapas yang menjadi bahan baku pembuatan kain atau pakaian kala itu. Disebut bahwa industri garmen dan batik di daerah ini sudah ada sejak masa kerajaan Pajang di abad 15, dan semakin maju pada tahun 1900-an.

Karena itu pula, produk batik buatan Kampung Batik Laweyan cenderung lebih berani dan berwarna, yang belakangan sering disebut dengan batik sudagaran. Batik sudagaran merupakan jenis batik yang bermotif lebih unik dan ekspresif karena tidak terbatasi oleh pakem tertentu, berbeda dengan Kampung Batik Kauman yang batiknya bermotif lebih klasik karena banyak dipakai untuk keperluan resmi pihak Keraton Solo.

Nuansa di kampung ini juga didominasi oleh bangunan-bangunan berdinding tinggi dan gang-gang kecil, cukup menarik bagi yang ingin berfoto di sekitar area kampung ini. Di sepanjang jalan berderet puluhan toko dan pabrik batik – buka dari jam 08.00 hingga 21.00 – yang menjajakan beragam produk batik dan kerajinan tangan bertemakan batik dengan harga bersahabat.

Yang unik, pengunjung bisa memesan produk batik tertentu, dengan pilihan motif serta bahan sesuai selera. Terkadang, hasil pesanan juga bisa diambil dan dibayar hari itu juga. Atau bagi yang ingin merasakan pengalaman membatik, tersedia paket kursus singkat membatik selama 2 jam, dengan biaya Rp 30 ribu.

  • Pusat Grosir Solo

Bagi yang sekedar ingin mencari produk batik Solo dengan mudah dalam satu tempat yang terpadu, Pusat Grosir Solo alias PGS jadi pilihannya. Bertempat di jalan Mayor Sunaryo, lokasinya strategis dan mudah dijangkau, di area pusat kota Solo dan terapit antara Benteng Vastenburg dan Alun-Alun Lor Surakarta.

Berdiri sejak 2005, PGS menjadi salah satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo, di mana sekitar ratusan pedagang batik melayani pembelian secara grosir maupun eceran. Tak hanya itu, di dalam bangunan lima lantai tersebut kini terdapat pula kios-kios pedagang kerajinan tangan, serta area khusus kuliner tradisional dan pusat oleh-oleh.

Lokasinya yang strategis dan gaya one stop shopping yang diusung menjadikannya pilihan mudah dan nyaman manakala ingin berbelanja produk batik Solo. Apalagi, sekarang tersedia pula aplikasi khusus yang menghubungkan konsumen dengan pedagang di PGS, sehingga info seperti barang yang tersedia, hingga pemesanan secara online dapat diakses langsung secara online.

House of Danar Hadi sebagai satu dari 5 sentra belanja batik di kota SOlo.
Ruang pamer batik di House of Danar Hadi
  • House of Danar Hadi

Dalam industri batik, ada beberapa nama yang cukup tersohor di kalangan umum. Salah satunya adalah Danar Hadi, yang sudah eksis sejak 1967. Mereka kini sudah memiliki beberapa cabang di berbagai kota, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta, dan tentu saja Solo. Ini satu dari 5 sentra belanja batik di kota Solo.

Namun, cabang Danar Hadi atau yang biasa mereka sebut sebagai House of Danar Hadi di Solo memiliki keunikan tersendiri. Yang pertama, House of Danar Hadi Solo terletak di jalan Slamet RIyadi nomor 261, tepatnya di sebuah area cagar budaya bernama Ndalem Wuryaningratan, yakni bekas kediaman Pangeran Wuryaningrat yang merupakan cucu dari Pakubuwono IX.

Keunikan lainnya, tempat ini bukan hanya sekedar gerai produk batik Danar Hadi saja, tetapi juga merupakan sebuah museum batik. Tersimpan setidaknya sekitar 10.000 jenis kain batik, dengan motif dan dari periode yang berbeda-beda. Capaian ini dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai koleksi batik terbanyak.

Bahkan, museum ini tidak hanya menampilkan batik-batik dari berbagai daerah di Indonesia saja. Namun terdapat pula batik-batik yang berasal atau terinspirasi dari budaya luar, seperti batik Jawa Hokokai yang terpengaruh budaya Jepang, atau batik-batik yang terinspirasi dari budaya seperti Belanda dan Tiongkok.

Keunikan tersebut menjadikannya destinasi belanja batik Solo yang menarik, sekaligus tempat untuk belajar tentang sejarah dan jenis-jenis batik. Museum buka setiap hari dari jam 09.00 hingga 16.30, dengan pengunjung membeli tiket masuk Rp 35 ribu untuk umum, dan Rp 8 ribu untuk pelajar.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Laksa Di Indonesia, Ini 4 Yang Terkenal

Laksa di Indonesia merupakan salah jenis masakan yang terkenal dan disukai banyak orang.

Laksa di Indonesia adalah salah satu masakan yang sangat popular, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh budaya Melayu dan Tionghoa. Asal-usul laksa di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan pasti, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa laksa pertama kali muncul di wilayah Malaysia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

laksa di Indonesia

Laksa masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan migrasi penduduk pada zaman kolonial, terutama pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, juga terdapat pengaruh dari imigran Tionghoa yang membawa resep-resep masakan mereka ke Indonesia. Secara historis, laksa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari kekayaan kuliner Indonesia.

Laksa sendiri merupakan hidangan yang kaya akan sejarah dan pengaruh budaya, dan nama “laksa” memiliki asal-usul yang menarik. Mengutip dari kompas.com, ada beberapa teori yang dilansir Mashable South East Asia. Di sana disebut bahwa nama “laksa” memiliki hubungan dengan pertukaran budaya melalui Jalur Sutera dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Laksa di Indonesia merupakan masakan yang dipengaruhi budaya Persia dan peranakan Tionghoa.
Laksa Assam. Foto: shutterstock

Salah satu teori terkait dengan nama “laksa” berasal dari kamus A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson terbitan 1901. Menurut kamus ini, kata “laksa” memiliki arti “100 ribu” dalam bahasa Sansekerta. Namun, hubungan antara angka ini dengan hidangan laksa tidak begitu jelas, sehingga masih menjadi misteri.

Masih dari artikel yang sama, ada teori lain mengenai asal-usul kata “laksa” yakni berasal dari bahasa Persia. Kata “laksa” diyakini berasal dari kata “lakhshah” yang merupakan salah satu jenis bihun. Pengaruh Persia dalam perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutera dapat menjelaskan kemungkinan asal-usul kata “laksa” dari bahasa Persia.

Dengan demikian, nama “laksa” mungkin muncul akibat interaksi budaya yang kompleks melalui Jalur Sutera, yang menghubungkan berbagai wilayah dan budaya di Asia Tenggara. Pengaruh dari bahasa Sansekerta dan Persia mungkin merupakan salah satu dari banyak elemen yang membentuk identitas kuliner laksa, mencerminkan kekayaan warisan budaya yang mengakar dalam hidangan yang begitu terkenal dan dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan masakan laksa di Indonesia? Terdapat beberapa jenis masakan laksa yang populer, di antaranya adalah:

Laksa Betawi

Laksa Betawi shutterstock
Laksa Betawi. Foto: shutterstock

Laksa ini tentu saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Laksa Betawi memiliki kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah. Beberapa bahan utamanya adalah mie, telur rebus, tauge (kecambah), irisan ketupat, dan daun bawang. Di Jakarta pecinta kuliner bisa menemui masakan ini di Kafe Betawi.

Ada beberapa gerai rumah makan ini, di antaranya di mal Senayan City dan Kuningan Plaza.

Laksa Bogor

Jenis laksa di Indonesia ini merupakan variasi laksa yang juga berasal dari Jawa Barat, terutama daerah Bogor. Laksa jenis ini memiliki ciri khas kuah yang kental berwarna kuning kehijauan dan menggunakan mie kuning tebal. Dalam hidangan ini, biasanya terdapat irisan ayam, telur rebus, tauge, dan daun seledri.

Kekhasan Laksa Bogor terdapat pada penggunaan oncom yang biasanya dipanggang terlebih dahulu. Terkadang juga dapat disantap dengan ketupat maupun perkedel sebagai pelengkap hidangan.

Untuk dapat menikmati masakan ini, berikut adalah warung makan yang terkenal dengan laksa Bogor. Coba datiag ke Laksa Gang Aut di Jalan Surya Kencana. Warung yang aslinya Bernama Laksa Mang Wahyu ini sudah berjualan sejak 1960-an

Laksa Palembang

Laksa di Indonesia ini berasal dari Sumatera Selatan, terutama daerah Palembang. Aslinya mirip dengan pempek yang menggunakan kuah yang terbuat dari santan, udang, dan rempah-rempah. Sering juga disebut sebagai laksan atau leksan.

Untuk yang ingin mencicipi Laksan Palembang bisa dating ke Sarapan Cek Leni di Jalan KH M. Asyik Nomor 1502, Palembang

Laksa Medan

Laksa ini berasal dari Sumatera Utara, terutama daerah Medan. Laksa Medan adalah hidangan yang terbuat dari bihun putih, timun, ikan, daun mint, dan saus asam jawa.

Laksa Medan berbahan dasar saus ikan yang sedikit asam. Rasa yang ditawarkan juga asam dan segar. Cocok untuk sore hari karena sajian ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi.

Di ibukota Sumatera Utara ini mudah mencari masakan laksa Medan, cobalah dating ke Jalan Yose Rizal. Di sepanjang jalan ini ada sejumlah tempat makan yang menjajakannya, tapi cobalah Rumah Makan Laksa Yose Rizal.

Laksa Ayam shutterstock
Laksa Ayam. Foto: shutterstock

Lalu dari sejumlah laksa tersebut, manakan yang paling enak dan terkenal? Laksa yang paling terkenal di Indonesia sulit untuk ditentukan karena setiap daerah memiliki varian dan cita rasa yang berbeda. Namun, Laksa Betawi mungkin salah satu jenis laksa yang paling dikenal secara nasional karena popularitasnya di wilayah metropolitan Jakarta, ibu kota Indonesia.

Perlu diingat bahwa variasi laksa dapat berbeda-beda bahkan di dalam satu daerah, tergantung pada bahan lokal yang tersedia dan resep keluarga atau warisan budaya. Keberagaman inilah yang membuat masakan laksa di Indonesia begitu menarik dan lezat untuk dinikmati.

agendaIndonesia

*****

Wisata Ke Batam, 15 Kilometer Dari Singapura

Wisata Ke Batam Jembatan Balerang

Wisata ke Batam pada masanya pernah begitu popular bagi banyak orang Indonesia. Maklum, hingga 31 Desember 2010, orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri dulu harus membayar fiskal sebesar Rp 1 juta. Dan, jika berangkat dari Batam, untuk perjalanan satu hari biaya itu bisa dipangkas separuhnya.

Wisata Ke Batam

Soal jalan-jalan dengan menghemat biaya fiskal adalah cerita masa lalu. Kini Batam terus berbenah menjadi spot wisata yang mandiri. Makin banyak pengunjung yang memang mau menikmati Batam itu sendiri. Tentu, tak menutup kemungkinan ada saja ada pengunjung yang selain main ke pulau ini seraya melirik ke negeri Singa. Maklum, jarak antara ke dua pulau ini cuma 15 kilometer. Dengan kapal fery, jarak ini biasanya ditempuh 40-45 menit.

Batam adalah kota sekaligus pulau yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagai kota, Batam adalah kota terbesar di provinsi ini. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasanSelat Singapura dan selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang kini terkoneksi oleh Jembatan Barelang yang sekaligus menjadi ikon kota ini.

Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam, saat ini bernama BP Batam, kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk. Dalam tempo 40 tahunan penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat. Jumlah penduduk mencapai 1.150.000 jiwa pada sensus 2012.

Kota ini sejatinya terus dikembangkan menjadi kawasan wisata terpadu yang cukup lengkap. Selain memiliki sejulah spot alam yang menarik, punya petilasan sejarah, dan tak kalah penting ia juga dikembangkan untuk wisata belanja. Batam merupakan bagian dari kawasan khusus perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun (BBK).

Untuk ke Batam tentu saja paling mudah menggunakan penerbangan dari Jakarta. Ada banyak jadwal penerbangan ke kota ini, tinggal disesuaikan dengan acara yang disusun selama di Batam.

Jika melakukan perjalanan ke Batam untuk liburan, pulau ini memiliki koleksi pantai yang indah dan beragam. Wisatawan bisa memilih, pemandangan gugusan pulau, Singapura, atau Jembatan Barelang yang megah itu. Salah satu pantai yang memiliki potensi wisata bahari adalah Pantai Tanjung Pinggir.

Pantai ini berada di kawasan Sekupang, Kota Batam. Bila tak sedang musim kabut asap, gedung-gedung di Singapura terlihat jelas, bahkan Marina Bay Sands sekalipun. Tanjungpinggir dikepung bebatuan, namun pantainya yang kecoklatan masih sangat leluasa untuk digunakan bermain atau berjalan-jalan di pinggirnya.

Ada pula Pantai Nongsa yang memiliki pemandangan sangat cantik dan banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan pantai dengan pasir putihnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Nongsa, hanya sekitar 10 menit jika ditempuh dari bandara. Banyak wisatawan yang datang ke tempat wisata ini untuk menikmati keindahan lautnya, mereka juga dapat menginap di hotel sekitar pantai.

Pilihan kunjungan lainnya adalah ke kampung Vietnam di Pulau Galang. Tempatnya sekitar 50 kilometer dari Kota Batam dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Kampung Vietnam merupakan bekas kamp pengungsian warga Vietnam pada saat Perang Vietnam berlangsung atau setelah berakhir di akahir 60-an hingga 70-an.

Di Kampung Vietnam ada gereja tua, vihara, barak pengungsian, penjara hingga patung Buddha tidur. Beberapa bangunan memang banyak yang telah menjadi puing-puing, seperti rumah sakit dan penjara. Semua bangunan tersebut menjadi saksi bisu tentang kehidupan para pengungsi di masa lalu.

Secara historis Indonesia pernah punya pengalaman ikut menangani pengungsi dari Vietnam atau yang kerap dijuluki sebagai manusia perahu. Pemerintah Indonesia saat itu memilih Pulau Galang untuk menampung para manusia perahu tersebut.

Pemerintah Indonesia mengizinkan mereka mengungsi ke tempat tersebut untuk sementara waktu hingga perang saudara di Vietnam reda. Setelah terjadi  perdamaian di Vietnam, para pengungsi mulai kembali ke negaranya dan membiarkan tempat tersebut kosong. Hingga saat ini tempat itu menjadi tempat wisata yang unik karena ada sebuah desa yang tidak berpenghuni namun memiliki suasana yang tidak lazim di Indonesia.

Wisata Ke Batam Ocarina

Pilihan selanjutnya, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil adalah bermain ke Ocarina. Orang Jakarta barang kali memiliki Taman Impian Jaya  Ancol, nah kalau orang Batam punya yang namanya Ocarina, yaitu wahana permainan seluas sekitar 40 hektare yang dibuka pada 2008. Tempat ini sekarang menjadi wisata hiburan paling populer bagi masyarakat Batam dan sekitarnya.

Dengan lokasi berada di pinggir pantai, bisa dimanfaatkan pengunjung untuk keperluan liburan keluarga. Pada hari libur tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun luar daerah.

Wisata lain yang menarik adalah belanja. Pada masanya, banyak orang dari luar Batam yang pergi ke sini untuk berbelanja barang-barang impor, khususnya barang elektroni. Harganya memang relatif miring. Saat ini, dengan makin terbukanya perdagangan dan transaksi daring, harga murah menjadi relatif. Namun jika ada yang ingin mencoba peruntungan, bisa main ke Batam City Square, Panbil Mall, Nagoya Hill, atau Pasar Aviari. Yang terakhir ini banyak menjual barang bekas dengan kondisi bagus eks negara tetangga.

Jadi, kapan punya agenda main ke Batam?

agendaIndonesia

*****

Tato Orang Mentawai, 7 Motif Titi Sebagai Identitas

Tato Orang Mentawai

Tato orang Mentawai atau Titi, dalam masyarakat Mentawai bukan sekadar rajah di kulit mereka. Ia mengandung makna dan menjadi ciri khas masyakat setempat. Ada pula pembuat khusus, ia disebut sipatiti.

Tato Orang Mentawai

Di sejumlah desa di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, seperti Desa Madobag atau Ugai, masyarakat asli setempat masih melakukan rajah pada kulit mereka. Jika kita berkunjung ke uma, ini sebutan untuk rumah tradisional suku Mentawai, biasanya saat bertemu dengan yang empunya uma, kita akan melihat torehan garis lurus, lengkung, tebal, halus, hingga setiap titik berwarna kehitaman di sekujur kulit tubuhnya. Itulah yang disebut titi, tato khas mereka.

Bagi mereka yang tak memahami titi, mungkin goresan itu hanya sebagai jenis motif rajah saja. Tapi tunggu dulu, ternyata setiap bentuk goresan itu ada maknanya. Termasuk posisi mereka dalam masyarakat tersebut.

Dua orang laku-laku dengan usia yang sama, misalnya, titi-nya bisa berbeda. Bahkan kadang buat mata awam, bisa saja rajah di kedua pria tersebut terlihat sama. Tapi ternyata ada bagian yang berbeda. Misalnya, yang satu tidak memiliki dua simbol di bahu kanan-kirinya. Atau, seorang pria muda Mentawai, bisa saja sama sekali tak punya titi di kulit tubuhnya.

Seni tato Mentawai memang memiliki daya tarik tersendiri. Konon, ini merupakan salah satu seni rajah tubuh tertua di dunia, bahkan ada yang menyebut ia lebih tua dari seni tato di Mesir. Sayangnya, titi perlahan memudar. Masyarakat Mentawai masa kini tak lagi suka memaparkan identitas diri mereka melalui medium sekujur kulitnya. Terutama di kalangan generasi mudanya. Padahal, dulunya itu adalah simbol jati diri mereka dari waktu ke waktu.

Selain harus melalui ritual, pembuatan tato bagi suku Mentawai harus dilakukan bertahap. Tahap pertama dilakukan saat seseorang berusia 11-12 tahun atau masa akil balig. Rajahnya pun hanya boleh dilakukan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua, kala orang tersebut berusia 18-19 tahun dan rajahan dilanjutkan ke bagian paha. Tahap ketiga, di masa dewasa di bagian tubuh lain.

Setiap motif titi, yang dirajahkan pada kulit tubuh, memiliki arti. Masing-masing merepresentasikan simbol-simbol penghormatan orang-orang suku Mentawai pada roh dan pada keyakinannya. Secara umum, dikenal tujuh macam motif yang berlaku bagi laki-laki dan tiga motif bagi perempuan, yaitu Sarepak Abak, Durukat, Sikaloinan, Gagai, Boug, Saliou, dan Soroi.

Tato Orang Mentawai Proses Mentato
Proses membuat titi di masyarakat Mentawai.

Sarepak abak, biasanya ditorehkan di punggung, melambangkan keseimbangan kehidupan di alam. Ini merupakan representasi dari cadik (penyeimbang) pada pompon (perahu) yang menjadi alat transportasi sehari-hari.

Durukat, ditorehkan di bagian dada, simbol jati diri suku, menunjukkan batas wilayah kesukuan. Umumnya memanfaatkan garis-garis halus yang kemudian diisi titik-titik dan motif lokpok (bentuknya menyerupai daun). Sikaloinan, ditorehkan pada bagian pangkal lengan hingga siku, simbol jati diri suku, merepresentasikan paipai sikaloinan (ekor buaya).

Gagai, ditorehkan pada lengan laki-laki/perempuan, simbol kepiawaian menangkap ikan. Motif Boug, ditorehkan pada bagian paha, simbol jati diri suku, penggambarannya memanfaatkan bentuk garis-garis lengkung. Saliou, ditorehkan pada betis hingga pergelangan kaki dengan ragam rias lengkung garis yang indah.

Sementara itu, Soroi, khusus kaum pria, simbol jati diri kesukuan, biasanya ditorehkan pada bagian pusar, merepresentasikan keindahan rumbai-rumbai bulu ekor ayam.

Satu catatan penting, terlihat sekali bahwa seorang sipatiti tidak boleh mengabaikan faktor simetris dalam pelaksanaan tugasnya. Pengaturan jarak dari setiap gores garis hingga titik diperhitungkan dengan penuh presisi dalam hitungan satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari, dan seterusnya.

Untuk membuat titi, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Untuk melakukannya, suku Mentawai mengenal keberadaan sipatiti. Meski tidak diangkat secara adat, ia adalah seorang laki-laki dan tidak boleh perempuan yang dipercaya sebagai sang pembuat tato. Ia seorang yang memiliki keahlian merajah sekaligus memahami simbol-simbol yang lazim digunakan termasuk maknanya. Setiap pertemuan, jasa seorang sipatiti akan dibayar dengan seekor babi atau beberapa ekor ayam.

Proses pembuatan titi tidak sesederhana. Sebelumnya, harus digelar acara adat Punen Kepa untuk menyingkirkan pengaruh jahat dan ancaman terjadinya malapetaka di kampung yang warga yang akan membuat titi. Pada puncak punen, biasanya dilakukan perjalanan ke Siberut, yang diyakini sebagai asal orang Mentawai. Perjalanan laut yang dikenal dengan istilah bulepak itu dilakukan beramai-ramai dalam satu sampan bermuatan cukup besar. Di daerah itu, mereka harus mengambil manik-manik khas Siberut sebagai syarat.

Apabila semua berhasil membawa manik-manik khas Siberut kembali dengan selamat, warga bisa memulai menjalani upacara inisiasi pembuatan titi, yang dikenal dengan nama Punen Enegat. Upacara tersebut dipimpin oleh sikerei atau seorang dukun Mentawai dan dilakukan di putukurat, yang merupakan tempat khusus berlangsungnya proses pembuatan titi.

Titi adalah sebuah kearifan lokal, ia tak harus menjadi milik semua orang, namun tentu sayang jika ini akan terus memudar.

agendaIndonesia

*****

Bakmi Jawa, Istimewa Dimasak Setiap 1 Pesanan

Bakmi Jawa SHUTTERSTOCK

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.

Bakmi Jawa

Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.

Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.

Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.

Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.

Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.

Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.

bakmi Jawa Sedang dimasak

Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.

Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.

Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.

Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.

Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.

Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:

Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.

Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan). 

Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.

Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.

Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3

Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan

Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Pinggiran, Ini 5 Yang Sedap

Kuliner pinggiran tidak saja tempatnya yang menyempil, namun juga cita rasa yang sedap.

Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.

Kuliner Pinggiran

Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan  yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.

Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.

Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.

Ayam Betutu Pak Sanur 

Kuliner pinggiran di Bali bisa dicoba ke Ayam Betutu Pak Sanur di Ubud

Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera. 

Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan

Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali

Es Dawet Telasih Bu Dermi 

Es Dawet Bu Dermi Tokped

Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.

Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan. 

Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo

Pawon Mbah Gito 

Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.

Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh. 

Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman

Mangut Lele Mbah Marto 

Mangut Lele Mbah Marto shutterstock
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock

Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.

Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik. 

Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.

Mangut Lele Mbah Marto; Jl. Sewon Indah, Panggungharjo, Sewon, Bantul

Warung Tuman

Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam. 

Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu. 

Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.

Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Kereta Api Indonesia dan 50 Railfans

Kereta Api Indonesia atau KAI ternyata punya penggemar atau railfans.

Kereta Api Indonesia ternyata memiliki penggemar fanatik. Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang disukai, terutama jika hal tersebut sudah menjadi suatu hobi. Hobi dengan bidang transportasi tentunya hal yang biasa di dengar misalnya mobil dan motor. Hal tidak biasa yang muncul adalah hobi dengan alat transportasi umum seperti bis, pesawat, kapal laut bahkan kereta api . yang dikelola Kereta Api Indonesia

Kereta Api Indonesia

Di kereta api para penggemarnya biasa disebut dengan railfans atau komunitas pecinta kereta api. Masyarakat yang tempat tinggalnya terkoneksi dengan jalur kereta api tentunya tidak asing dengan orang-orang yang tiba-tiba muncul membawa sejumlah kamera dan alat perekam digital. Ini terutama di daerah yang memiliki spot menarik bagi seorang railfans untuk mengabadikan kereta api yang lewat.

Mereka umumnya tahu bahwa jalur kereta api bukan tempat untuk bermain. Sehingga hal yang di utamakan adalah keselamatan yang harus selalu di patuhi saat hunting foto-foto atau video kereta api. 

Kereta Api Indonesia memiliki penggemar yang disebut sebagai railfans.
Salah satu rangkaian kereta api Indonesia yang sedang melakukan perjalanan. Foto: Dok. PT KAI

Railfans tidak hanya senang fotografi atau videografi saja, namun kehadiran mereka juga membantu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam melayani para pelanggan. Seperti pada masa angkutan Lebaran tahun 2022 lalu, para railfans dari berbagai daerah secara sukarela terlibat dalam memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan perjalanan kereta di stasiun-stasiun.

Mereka kebanyakan berasal dari pelajar yang merelakan waktu liburan sekolah untuk menjadi relawan dengan membantu pelanggan atau masyarakat yang hendak menggunakan kereta api. Terkadang untuk membantu masyarakat yang sekadar bertanya terkait jadwal perjalanan kereta api di stasiun.

Jumlah railfans ini tak cukup besar. Di wilayah operasional KAI Jawa dan Sumatera saja terdapat setidaknya 50 komunitas railfans binaan KAI yang sering berkolaborasi dengan manajemen KAI melakukan kegiatan sosialisasi dan berkontribusi dengan cara mereka sendiri untuk kemajuan perkeretaapian Indonesia.

Dari 50 komunitas railfans tersebut 23 di antaranya membantu KAI dalam posko angkutan Lebaran tahun 2022 ini, yakni Jejak Railfans, Train Photograph Railfans Indonesia, Edan Sepur Wilayah Jakarta, Bandung, serta Cirebon, GM-MarKA, RD One, National Railfans, Sedulur Sepur, Forum Railfans Area 1, Victory Railfans.

Kemudian ada Sahabat Kereta Api Daop 2 bandung dan Daop 8 surabaya, Railfans Cianjur, KRDE Daop 4 semarang dan Daop 9 jember, Spoorlimo, Railfans Jombang +43, Railfans Enam Delapan Kediri, Pecel +64 Madiun, Si Puong, RF+444 Malang, dan terakhir Osing Train Community.

Masing-masing Railfans ini memiliki anggota yang bervariasi jumlahnya, yakni di kisaran 20 hingga 400 orang dan rata-rata masih berstatus pelajar.  Selama posko, terdapat sejumlah kegiatan yang dikerjakan oleh para anggota railfans tersebut secara sukarela. Di antaranya, mengantarkan pelanggan agar tak salah nomor kursi dan masuk kereta.

Kereta Api Indonesia terbantu dengan adanya railfans, terutama di saat peak season.
Railfans KAI membantu melayani secara sukarela masyarakat yang membutuhkan informasi kereta api. Foto: Dok. PT KAI

Selain itu mereka juga membantu melakukan pengawasan protokol kesehatan, membantu memberikan informasi aturan perjalanan kereta, membawakan tas milik pelanggan, membantu pelanggan yang kebingungan saat melakukan boarding atau check in, dan memberitahukan informasi jadwal keberangkatan maupun kedatangan kereta. Mereka juga tidak segan untuk membantu lansia dan pelanggan yang memiliki kebutuhan khusus.

Vice President Public Relations PT KAI Joni Martinus mengaku senang dan bangga bisa berkolaborasi dengan railfans yang selalu mendukung KAI dalam segala hal. KAI memberikan apresiasi yang tinggi kepada komunitas pecinta KA atau railfans atas kontribusi pada angkutan Lebaran tahun 2022.

“Di balik kelancaran angkutan Lebaran ini tentunya ada peranan railfans yang membantu. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman railfans karena telah bahu membahu menyukseskan angkutan Lebaran tahun 2022 dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan mewujudkan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, sehat, dan selamat,” ucap Joni.

Kehadiran railfans di stasiun, selain membantu pelayanan juga memberikan semangat kepada para pekerja KAI lainnya dalam melaksanakan tugas selama posko. 

Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan di KAI tidak terbatas hanya pada posko angkutan Lebaran saja, namun juga pada posko Nataru (Natal dan Tahun Baru), kerja bakti membersihkan stasiun, serta melakukan edukasi dan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang.  Kegiatan ini pun di pandang positif oleh masyarakat bahkan oleh dinas terkait.

Joni mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh beberapa railfans khususnya dalam mengedukasi keselamatan perjalanan kereta api kepada masyarakat. Bahkan, beberapa aksi tersebut adalah inisiatif railfans itu sendiri. Hal ini merupakan bentuk kecintaan pada perkeretaapian secara nyata.

Bagi KAI, peran railfans sangat strategis dalam upaya mendukung kemajuan perkeretaapian, dimana masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang sama guna memajukan perkeretaapian di Indonesia.

“Railfans memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan perkeretaapian yang terus dilakukan oleh KAI. Dari kegiatan-kegiatan positif tersebut diharapkan mampu menambah kualitas pelayanan dan memberikan citra positif untuk KAI maupun bagi railfans itu sendiri,” tutup Joni.

agendaIndonesia

*****

Menyusur Pesisir Selatan Bali Dalam 2 hari

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Belig

Menyusur pesisir Selatan Bali, mengikuti garis pantai yang terentang dari Badung sampai Tabanan. Sekali lagi Bali, tak ada habis-habisnya menikmati pulau Dewata ini.

Menyusur Pesisir Selatan Bali

Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan— Bali, disatukan oleh garis pantai yang merentang panjang. Kedekatan secara geografis ini membuat tipikal pantai-pantai di wilayah ini memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik.

HARI PERTAMA: Petitenget, Batu Belig, Berawa.

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau joging, berkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung, Bali. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima.

Pantai Batu Belig

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing.

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini.

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam.

Warung Mina

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang.

HARI KE DUA: Batu Bolong, Echo Beach, Pantai Seseh, dan Tanah Lot

Lak-lak Bali Rama

Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan  bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga  lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Bolong

Pantai Batu Bolong

Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis.

Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara.

Echo Beach

Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail.

Pantai Seseh

Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini  kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal.

Tanah Lot

Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing.

Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan.

Pie Susu Dhian

Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli pie susu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Pie susu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu.

agendaIndonesia

*****

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang (2)

Toko Oen Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang. Foto shutterstock

Ini bagian ke dua 8 kuliner tradisional khas Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Nah ini 8 kuliner tradisional khas Malang.

Kota Malang shutterstock
Salah satu landmark Kota Malang. Foto: shutterstock

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang

  • Toko Oen Malang

Malang tak hanya dikenal dengan destinasi kuliner main course saja, tapi beberapa kedai kudapannya juga menarik untuk dicoba. Seperti misalnya Toko Oen Malang, yang sudah berjualan penganan cemilan seperti es krim dan produk pastry seperti roti, kue basah dan kue kering sejak 1930.

Nuansa era pra kemerdekaan itu masih amat kental terasa dari gaya eksterior dan interior bangunannya, yang masih dipertahankan dan kini telah menjadi cagar budaya. Plang tulisan berbahasa Belanda dan barisan pramuniaga berseragam pelayan ala Eropa tempo dulu akan menyambut pengunjung begitu memasuki kedai ini. Ini satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang.

Faktanya, Toko Oen merupakan sebuah rantai usaha kedai makanan ringan yang pertama kali buka di Yogyakarta pada 1910, sebelum kemudian membuka cabang-cabang lainnya seperti di Semarang, Malang dan Jakarta. Pada perkembangannya, kedai di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup dan menyisakan cabang di Semarang dan Malang saja.

Bahkan, Toko Oen Malang secara kepemilikan sudah tak lagi dipegang oleh keluarga pemilik usaha aslinya, karena mereka kini hanya fokus mengelola cabang Semarang. Namun tak perlu khawatir, karena pengelola yang baru memastikan bahwa otentisitas dan kualitas menu-menu yang ditawarkan di kedai ini tetap dipertahankan.

Berada di area pusat kota, tepatnya jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 5 yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang, Gereja Kayutangan dan pusat perbelanjaan Sarinah, menjadikannya lokasi yang strategis bagi siapapun untuk berkunjung dan klangenan, melepas penat sambil menyantap ragam kudapan ringan yang ditawarkan.

Es krim buatan homemade menjadi salah satu menu primadona. Pengunjung bisa memilih es krim single scoop dengan pilihan rasa seperti coklat, vanilla, mocca, strawberry, sampai durian. Selain itu, tersedia juga varian kombinasi dan sundae seperti tutti frutti, napolitaine, banana split, tropicana cream, chocolate parfait, dan sebagainya.

Menu makanan ringan dan salad mereka juga banyak diminati pengunjung. Mayoritas merupakan makanan yang bergaya Belanda karena kedai ini dulunya digemari orang-orang Belanda. Contohnya pilihan pastry seperti saucijzenbrood, kippenbrood dan garnalebrood yang sejatinya adalah roti puff dengan isian daging giling sapi, ayam dan udang.

Ada pula pilihan salad seperti huzarensalade, italiaansesalade, dan groentensalade, yakni salad daging, salad ayam dan salad sayur serta buah-buahan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu main course seperti steak, burger, galantin, dan sandwich yang terbilang cukup digemari.

Yang menjadi catatan, karena memang sejak dulu didesain untuk menjadi kedai kudapan kelas atas, harga makanannya juga tak bisa dibilang murah. Seperti es krim yang punya range harga dari Rp 25 ribu hingga 60 ribu, atau salad yang berkisar dari Rp 35 ribu sampai 50 ribu. Makanan main course seperti steak juga dihargai mulai dari Rp 75 ribu sampai 80 ribu.

Tetapi, pengunjung datang ke sini bukan hanya membeli cita rasa makanannya, tetapi juga membeli pengalaman selayaknya kembali ke era kolonial; melihat dan merasakan bagaimana suasana nongkrong di masa itu, sambil menyicipi menu-menu otentik yang menjadi kegemaran kaum Belanda tempo dulu.

  • Orem Orem Arema

Nama makanan yang satu ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar orang, tapi tetap menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para pemburu 8 kuliner tradisional khas Malang. Dan kedai penjual orem orem paling hits di Malang adalah Orem Orem Arema, yang berada di jalan Blitar nomor 14.

Orem orem sejatinya merupakan jenis makanan berkuah yang berisikan potongan tempe, ketupat, ayam suwir, telur asin, taoge dan ditaburi bawang goreng. Adapun kuahnya terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, daun salam, lengkuas, daun jeruk, ketumbar, dan kemiri yang diolah dengan menggunakan santan.

Orem-orem Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang
Orem-orem Malang. Foto: shutterstock

Kemunculan makanan ini disinyalir berawal dari kehidupan masyarakat di masa pra kemerdekaan. Saat itu, untuk sekedar bisa membuat dan makan soto ayam atau daging saja terasa sulit, karena kelangkaan dan harga daging ayam dan sapi yang oleh sebagian besar kalangan saat itu dianggap mahal.

Oleh karena itu, beberapa orang kemudian berkreasi membuat makanan sejenis soto dengan menggunakan isian potongan tempe, yang dianggap lebih terjangkau. Dari situ, orem orem kemudian hadir sebagai alternatif soto pada umumnya. Bahkan, tak jarang ia khusus disajikan dalam hajatan tertentu saja.

Meski demikian, pada perkembangannya kebanyakan orem orem yang bisa ditemukan saat ini sudah dilengkapi dengan beberapa tambahan isian di dalamnya. Seperti halnya di Orem Orem Arema, dimana pengunjung dapat memilih orem orem original atau dengan tambahan telur dan ayam suwir.

Dan sejak mereka mulai berjualan pada 1995, mereka terus menjadi salah satu rekanan utama kedai orem orem di Malang. Cita rasa gurih dan segarnya orem orem yang otentik menjadi daya tarik utama. Apalagi, dengan harganya yang hanya dibandrol Rp 8 ribu untuk orem orem original, serta Rp 11 ribu dengan tambahan telur asin dan Rp 12 ribu dengan tambahan ayam suwir, membuatnya sangat ramah kantong.

  • Tahu Lontong Lonceng

Satu lagi rekomendasi 8 kuliner tradisional khas Malang legendaris adalah Tahu Lontong Lonceng. Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 66, kedai tahu lontong yang sudah berjualan sejak 1935 ini dulunya berada di bawah sebuah tugu lonceng milik Belanda, sehingga pelanggannya kemudian kerap memanggilnya sebagai Tahu Lontong Lonceng.

Secara tampilannya, kedai ini cenderung terlihat kecil dan sederhana. Pun demikian dengan menunya, yang secara umum menawarkan tiga jenis makanan: tahu telur dengan lontong, tahu telur dengan nasi, serta tahu lontong tanpa telur. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp 11 ribu untuk tahu lontong tanpa telur, dan Rp 13 ribu untuk tahu telur dengan lontong maupun nasi.

Tahe Tek shutterstock
Tahu Tek yang mirip Tahu Lontong. Foto: shutterstock

Dilihat dari penampilannya pun, ia terlihat seperti kuliner olahan tahu dan lontong pada umumnya. Dalam satu porsinya, terdapat irisan tahu dan taoge, dengan atau tanpa telur, yang dilumuri bumbu kacang dan disajikan dengan lontong atau nasi, serta dapat disantap dengan beberapa pilihan kerupuk.

Namun, satu hal yang membuatnya unik adalah hampir semua bahan bakunya dibuat sendiri alias homemade. Hal ini dilakukan agar dapat senantiasa menjaga tahu lontong buatannya selalu dengan cita rasanya yang otentik. Seperti tahunya yang dikenal terasa lembut, serta bumbu kacangnya yang berpadu gurih.

Otentisitas rasa, ditambah dengan harga yang ekonomis, membuatnya masih banyak digemari orang dari berbagai kalangan, dari warga sampai wisatawan, baik orang kantoran sampai anak kuliahan. Tak heran, jika kedai kecil yang buka dari jam 11.00 hingga jam 22.00 ini masih kerap dipenuhi pengunjung setiap jam makan siang dan malam.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–