Soto Mie Bogor, Ini Dia 7 Paling Enak

Soto mie Bogor merupakan kuliner kota hujan yang cocok disantap saat hujan. Foto: shutterstock

Soto Mie Bogor adalah masakan segar yang enak disantap kalau hujan mengguyur kota itu. Ini adalah kuliner turunan soto yang dimiliki banyak kota dan daerah di Indonesia. Tak ada yang betul-betul genuine suatu tempat.

Soto Mie Bogor

Namun bicara soal soto, banyak pakar kulinari yang satu paham bahwa masakan ini memiliki pengaruh dari budaya Tionghoa dan Melayu. Ini sejalan dengan pendapat seorang ahli sejarah yang menyebut bahwa salah satu akar masakan soto di Indonesia berawal dari makanan khas Cina peranakan yang tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Nama masakannya adalah caudo. Kemudian lebih dikenal dengan sebutan soto.

Pendapat tersebut mungkin ada benarnya melihat adanya masakan berkuah kaldu yang disajikan dengan bakmi di Malaysia dan Singapura. Disebut mee soto di Malaysia dan Singapura, ini adalalah hidangan mie berkuah kaldu berbumbu yang lazim ditemukan di Indonesia. Di kedua negara tersebut bakmi atau mie berarti mi telur dari tepung terigu, garam, dan telur.

Soto mie Bogor banyak disajikan odel kaki lima dari Bogor hingga Jakarta.
Soto mie masakan berkuah enak dijajakan dari restoran hingga kaki lima. Foto shutterstock

Sementara nama soto merujuk kepada hidangan sup berkuah khas Indonesia. Di Indonesia soto mie dianggap salah satu jenis hidangan soto atau mi berkuah.

Masakan soto di masing-masing daerah memiliki ciri khas sesuai dengan nama soto khas suatu tempat. Soto sendiri kalau dari segi kuah yang dipakai dibagi menjadi dua macam soto yaitu soto bening dan soto dengan santan.

Berbeda dengan kuah soto pada umumnya yang berkuah bening atau menggunakan santan, kuah soto mie Bogor terlihat berwarna kemerahan yang timbul dari campuran cabai merah dalam bumbunya, terutama tomat.

Di Bogor, masakan sotonya menggunakan bumbu rempah-rempah terdiri dari kunyit, ketumbar, jahe, dan bawang putih. Tak lupa, masakan ini juga dilengkapi dengan bawang goreng dan irisan jeruk nipis yang memberikan sensasi rasa yang unik dan segar.

Soto mie Bogor mendapat tambahan bahan mie kuning dan mie putih. Selain itu, soto mie Bogor memiliki ciri khas soto dengan risoles dengan pilihan daging atau ayam yang ditambah tomat, kentang, lobak, dan emping.

Risol inilah ciri khas paling kentara dari masakan kota hujan ini dan tidak dimiliki soto-soto di kota lain. Ada yang menyebut ini merupakan kembangan dari masyarakat Eropa yang tinggal di Bogor ketika zaman kolonialisme. Mereka punya makanan yang namanya risolles. Namun tak ada bukti yang pasti.

Soto Mie Bogor Kumplit shutterstock
Semangkok soto mie komplit menggugah selera. Foto: shutterstock

Hidangan berkuah yang pedas dan gurih ini cocok untuk disantap sebagai pendamping nasi, baik saat makan siang maupun makan malam. Tanpa nasi pun ia sudah bisa mengenyangkan karena adanya mie dan risol.

Rasanya semakin pedas jika disajikan dengan sambal yang merupakan campuran cabai rawit dan cuka, serta jeruk nipis untuk menambah kesegaran rasanya.

Lalu warung soto mie mana yang popular di Bogor jika ingin menyantapnya? Berikut tujuh warung yang bisa jadi pilihan.

Soto Mie Mang Ohim

Kedai soto mie ini merupakan salah satu yang paling terkenal di Bogor. Pelanggan bisa membeli sejak pukul 6 pagi hingga sore. Di tempat makan ini pelanggan mendapatkan soto mie dengan irisan daging yang besar risoles renyah. Bahkan jika masih kurang, pelanggan bisa membeli risoles secara satuan.

Soto Mie Mang Ohim; Jalan Raya Taman Cimanggu Nomor 22, Tanah Sereal, Bogor

Soto Mie Bogor Super

Warungnya sederhana, namun soto mienya dikenal enak. Masakannya terkenal dengan kuah soto mienya yang berempah dan daging empuk. Sebagai pelengkap, bisa menambahkan pula emping melinjo.

Soto Mie Super; Jalan Arzimar I, Tegal Gundil, Bogor Utara.

Soto Mie Bogor shutterstock
Risol adalah pmbeda soto ini dengan masakan sejenis dari daerah lain. Foto: shutterstock

Soto Mie Bogor Baru Bang Bule

Cita rasa soto mie di warung ini kuahnya yang segar terasa makin nikmat dengan tambahan sambal. Salah satu kelebihan warung ini adalah porsinya yang cukup banyak. Selain itu, risolesnya juga lumayan besar. Harga per porsinya pun terjangkau.

Soto Mie Bang Bule; Jalan Bogor Baru A6 No.13, Tegallega, Bogor.

Soto Mie Kesatuan

Tempat makan satu ini sering juga disebut dengan nama soto Pak Haji Oman. Warung makannya sudah berjualan lebih dari 25 tahun. Kedainya sederhana dan fasilitas seadanya, namun selalu jadi incaran para pemburu wisata kuliner Bogor. Dibandingkan dengan soto mie lainnya, rasa kuah soto mie di sini tidak terlalu berempah. Daging sapinya juga empuk. Soto Mie Kesatuan; Jalan Rangga Gading No.25, Gudang, Bogor.

Soto Mie Pak Kumis

Yang ini bisa ditemui jika sedang berburu kuliner ke Jalan Surya Kencana, selain itu ada beberapa cabangnya yang lain. Di kedai ini pelanggan bisa menikmati kuah segar dengan potongan daging cukup banyak. Kelebihan lain dari tempat ini adalah tambahan risolnya.

Soto Mie Pak Kumis; Jalan Suryakencana, Bogor

Soto Mie Agih

Tempat makan ini tidak cocok bagi mereka yang muslim karena menawarkan menu soto mie dengan pilihan daging babi. Kelezatannya bisa dicicipi dengan menuju ke lokasinya yang terletak Surya Kencana. Dengan harga yang cukup murah, pelanggan bisa menyantap gurih dan lembutnya iga babi.

Soto Mie Agih; Jalan Suryakencana Nomor 311, Bogor

Soto Mie Ciseeng

Ini satu lagi soto mie yang tidak bisa dikonsumsi kaum muslim karena juga menyajikan daging babi. Letaknya tidak terlalu jauh dari Soto Mie Agih.

Soto Mie Ciseeng, Jalan Suryakencana Nomor 280, Bogor.

agendaIndonesia

*****

Batagor Bandung, Kisah Kang Isan Pada 1973

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Batagor Bandung sudah menjadi salah satu makanan wajib pengunjung kota kembang ini. Selain untuk jajan makan di tempat, juga untuk oleh-oleh di bawa pulang ke rumah.

Batagor Bandung

Buat sebagian orang Jakarta, Bandung kadang seperti kantin jaman sekolah saja. Tempat untuk jajan makanan-makanan enak. Kadang cuma untuk isi perut ps “istirahat siang”. Salah satu yang mudah dan diincar kalau ke Bandung tentu saja adalah Batagor, alias bakso tahu goreng. Makanan berbahan ikan dengan bumbu saus kacang.

Ada beberapa kedai batagor Bandung di ibukota Jawa Barat ini, yang terkenal di kalangan pecinta kuliner. Sebut saja nama-nama Batagor Kingsley, Batagor Riri, Batagor Cuplis, atau Batagor Haji Isan. Yang terakhir ini mungkin namanya beberapa tahun terakhir tidak sepopuler yang lain, namun jangan salah, konon, yang terakhir inilah yang disebut-sebut “penemu” makanan yang kemudian disebut batagor tersebut.

EyquIUwh Batagor Bandung shutterstock
Batagor Bandung dari cemilan menjadi makanan favorit bahkan oleh-oleh. Foto Shutterstock

Batagor adalah kuliner yang tercipta karena ketidaksengajaan. Dari laporan sejumlah media, beberapa pendapat menyebut jika batagor adalah kuliner yang secara tidak sengaja dibuat oleh perantau asal Purwokerto, Jawa Tengah, yakni Isan sekitar tahun 1973. Ia kala itu merantau ke Bandung dengan niat mencari pekerjaan.

Tapi, seperti kisah-kisah perantau pencari kerja, Isan tak juga mendapatkan pekerjaan. Sekadar untuk mengisi waktu dan tidak menganggur, Isan kemudian coba-coba jualan bakso dengan berkeliling. Selama bertahun-tahun ia melakoni masuk-keluar gang dengan pikulan dagangannya, berkeliling di daerah tempat tinggalnya di seputaran Jalan Kopo.

Tapi, biasalah, seperti pedagang makanan lainnya. Tak setiap hari dagangan Isan laris manis. Bahkan setiap hari ada saja tahu bakso dagangannya yang tidak terjual habis. Selalu saja ada sisa tahu baksonya.

Pada awalnya, Isan melakukan hal sederhana untuk dagangannya yang tidak laku itu agar tidak mubadzir. Ia membagi-bagikan sisa tahu baksonya ke para tetangganya. Sampai suatu ketika, ketika tahu baksonya tersisa sangat banyak. Tetangganya mungkin juga tak nyaman menerima pemberian yang banyak. Apa akal?

Batagor Bandung seperti pangsing shutterstock
Batagor Bandung intinya adalah digoreng. Foto: ilustrasi shutterstock

Di tengah kebingungannya, ia lantas mencoba menggoreng tahu baksonya. Niatnya hanya agar tahu bakso tak serta merta jadi basi. Namun kemudian ia mencoba makan tahu bakso hasil gorengannya. Unik. Walhasil, selain ia konsumsi sendiri, bakso yang ia goreng ia bagikan juga ke para tetangga di gang Situ Saeur, Kopo, Bandung. Dan ternyata mereka justru makin suka.

Tahu bakso yang telah digorengnya kemudian ia beri saus kacang yang ia racik khusus. Rupanya, para tetangganya sangat suka dengan tahu bakso goreng tersebut. Bahkan, tetangganya mulai memesan tahu bakso goreng buatannya. Mulai saat itulah, Isan membuat kuliner yang kemudian disebut batagor atau batagor Bandung

Menurut cerita, awalnya Isan masih mengkukus dulu bakso tahunya. Sesuai jualannya seperti sebelumnya. Bahkan sempat masih berjualan dua varian: bakso tahu kukus dengan kuah, dan yang digoreng. Namun, belakangan ia lebih banyak berjualan batagor. Caranya pun tak lagi dikukus terlebih dahulu, namun langsung digoreng dari bahan mentahnya. Hasilnya ternyata lebih disukai konsumennya.

Usaha Isan makin tumbuh dan berkembang. Tak hanya pelanggan atau pembeli dari kota Bandung. Orang dari tempat dan kota lain pun mulai datang mendengar keunikan makanan Bandung ini. Dengan kian berkembangnya usahanya, pada 1985, Isan memindahkan tempat dagangnya ke rumah yang lebih luas di Jalan Bojongloa nomor 38. Di tempat ini, konsumen makin mudah menikmati batagor Isan.

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Pada 1991, Isan menunaikan ibadah haji, sejak itu batagor dagangannya lebih dikenal sebagai Batagor Haji Isan. Ia meninggal pada 2010, usaha batagornya diteruskan keponakannya, karena Haji Isan tidak memiliki putra.

Meski begitu, kreatifitasnya menciptakan batagor telah menginspirasi banyak orang. Batagor kini telah dikenal banyak masyarakat Indonesia dan tersebar luas di berbagai kota di Indonesia. Bahkan di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang dorongan yang berjualan batagor.

Di Bandung sendiri ada sejumlah tempat yang kemudian menjadi ikon kuliner kota ini karena berjualan batagor. Batagor H. Isan sendiri kini telah memiliki beberapa cabang, yakni di Jalan Cikawao, di jalan Lodaya, atau di jalan Ciateul. Sementara itu, tempat-tempat kuliner batagor di Bandung yang jadi ikon adalah Batagor Kingsley di Jalan Veteran; Batagor Riri di Jalan Burangrang, atau Batagor Abuy, juga Batagor H. Darto.

Batagor mana yang jadi favoritmu?

agendaIndonesia

******

Bakpia Yogya, Oleh-oleh Khas Sejak 1940-an

Bakpia Yogya

Bakpia Yogya menjadi pilihan pertama jika orang ingin membawa oleh-oleh dari kota pelajar ini. Tentu saja selain gudeg.

Bakpia Yogya

Makanan tersebut merupakan oleh-oleh tradisional terpopuler dari Yogyakarta. Ada perasaan tidak komplit jika ke Yogyakarta tidak membeli bakpia. Hampir di setiap toko oleh-oleh di kota ini menyediakan makanan ini.

Bakpia sendiri adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu yang, awalnya hanya dengan diisi dengan kacang hijau biasa disebut kumbu dan belakangan muncul dengan sejumlah varian isi, yang dipanggang. Makanan yang dianggap menjadi ciri khas Yogya ini sejatinya berasal dari negeri Cina.

Dari laporan tirto.id yang mengutip penelitian Amelia Puspita Sari dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan judul Bakpia Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya Indonesia dan Tiongkok di Bidang Kuliner (Studi Kasus Bakpia 29), tertulis bakpia terbentuk dari pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Nama bakpia sendiri memang berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang secara harfiah bermakna kue atau roti berisi daging. Bakpia memang datang dari negeri Tiongkok dibawa para imigran Tionghoa pada awal abad 20. Bakpia masuk Indonesia sejak 1930-an. Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia.

Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia. Kemudian ia dibawa oleh keluarga-keluarga pedagang Tionghoa yang datang dan kemudian menetap di kota Yogya.

Bakpia awalnya dulu dibuat menggunakan isian daging dan minyak dari babi. Namun, kemudian melihat penduduk Yogya yang lebih banyak yang muslim, bakpia lantas dimodifikasi menjadi kue yang tidak lagi menggunakan minyak babi. Isiannya pun diganti dengan kacang hijau sehingga sepenuhnya menjadi makanan yang halal. Hasil adaptasi cita rasa bakpia ini juga disesuaikan dengan lidah masyarakat Yogyakarta.

Makanan ini pertama kali dibawa pendatang asal Tiongkok, Kwik Sun Kwok, pada 1940-an ke Yogyakarta. Pada saat itu Kwik menyewa sebidang tanah di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, milik seorang warga lokal bernama Niti Gurnito.

bakpia yogya di antaranya bakpia kukus tugu jogja

Pada awalnya, kue ini hanya menjadi camilan tradisional dalam keluarga. Namun dalam perkembangannya kemudian makanan ini mulai diperjualbelikan ke publik. Salah satu keturunan keluarga Tionghoa, Goei Gee Oee, kemudian memproduksi bakpia sebagai industri rumahan. Bakpia yang didirikannya bernama Bakpia Pathuk 55.

Langkah ini kemudian diikuti oleh Liem Yu Yen sekitar tahun 1948 yang diberi nama Bakpia Pathuk 75. Sampai 1970, praktis bakpia baru diproduksi oleh dua keluarga ini di Pathuk, Yogyakarta.

Pada 1980-an, bakpia semakin populer dan mulai muncul produsen-produsen rumahan bakpia di kawasan Pathuk. Para pembuat bakpia umumnya menggunakan menyulap dapur atau sebagian rumah mereka untuk membuat bakpia. Mereka kemudian membuka toko di rumah masing-masing untuk memasarkan bakpia buatannya. Bakpia dikemas menggunakan dus atau kertas karton. Bakpia-bakpia ini kemudian dikenal dengan sebutan Bakpia Pathuk.

Seperti dikutip dari Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja (Suryo Sukendro, 2009), pada masa itu, para produsen bakpia belum mengenal istilah merek dagang. Secara sederhana para produsennya menjual dengan merek dagang berupa nomer rumah pembuatnya, seperti Bakpia Pathuk 25, 75 dan masih banyak lagi.

Pelabelan Bakpia merek dagang nomor rumah tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan. Begitupun, beberapa tahun terakhir mulai ada yang yang menggunakan nama yang bukan nomor rumah.

Berjalannya waktu dan berkembangnya selera masyarakat, bakpia tak hanya berisi kacang hijau dan kumbu ketan hitam. Sejumlah varian isi mulai ditawarkan. Mulai dari coklat, keju, ubi ungu, susu, bahkan hingga tiramisu dan teh hijau. Cara memasakmya pun mulai bervariasi. Jika dulunya hanya dipanggang, belakangan –mungkin terinsprasi model brownis yang dikukus, bakpia muncul pula dengan model kukus.

Pusat-pusat produksi bakpia pun meluas, tidak lagi hanya terpusat di Pathuk. Kini, selain di Pathuk sentra produksi bakpia bisa dijumpai di daerah Glagahsari (selatan Kusumunegara); di daerah Wirobrajan; bahkan di kawasan Minomartani dan jalan Kaliurang di Utara Yogyakarta. Masing-masing dengan kekhasan rasa dan pelanggannya sendiri-sendiri.

Bakpia telah melewati sejumlah zaman dan tetap bertahan sebagai oleh-oleh khas Yogya nomor satu.

Beberapa sentra bakpia khas Yogya.

Bakpia Pathuk 75; Jalan AIP Jl. Karel Sasuit Tubun No.75, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Kurniasari; Jl. Glagahsari No.91, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164

Bakpiaku; Jl. Kaliurang No.81, Kocoran, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Bakpia Pathuk 25; Jalan AIP Karel Sasuit Tubun No.65, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Merlino; Jl. R. E. Martadinata B No.24, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55253

Bakpia Citra; Jl. Mataram, Suryatmajan, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55213

Bakpia Kukus Tugu; Jl. Kaliurang KM.5,5 No.10A, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284

agendaIndonesia

*****

Karimun Jawa, 3 Jam Di utara Jepara

Karimun Jawa, keindahan di utara pulau Jawa.

Karimun Jawa adalah surga pecinta pantai pasir putih yang tak jauh dari Jawa. Ia seperti kalah pamor dari pantai-pantai di Bali atau Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Mungkin juga karena lokasinya yang harus menempuh perjalanan laut 2-3 jam dari kota Jepara.

Karimun Jawa

Untuk menuju ke Karimun Jawa, terutama dari Jakarta, biasanya orang menuju ke Semarang terlebih dahulu. Tentu dengan menggunakan penerbangan. Rute Jakarta-Semarang dilayani sejumlah maskapai penerbangan, seperti Garuda Indonesia, Lion Air, atau Air Asia.

Dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, kita menuju ke Dermaga Samudra Tanjung Emas, melanjutkan perjalanan dengan pelayaran 3,5-4 jam menuju Karimun Jawa.

Bila cukup punya waktu dan ingin menikmati wisata di utara Jawa, semisal Demak dan Kudus, pengunjung bisa mencapai Karimun jawa melalui Jepara. Via perjalanan darat, Semarang-Jepara bisa dicapai sekitar 1,5 jam. Dari sini, pengunjung tinggal menyeberang dari Dermaga Kartini di Jepara ke Pelabuhan Penyeberangan Karimun Jawa dengan waktu tempuh 2,5-3 jam.

Bagi yang suka mabuk laut, di masa sebelum pandemi, ada pilihan terbang dari Bandara Ahmad Yani, Semarang, dengan pesawat Cassa 212 milik Deraya Air ke Bandara Dewandaru, Karimun Jawa. Jika ingin menggunakan cara ini, periksa dulu ketersediaan penerbangannya.

karimun Jawa mempunyai banyak pantai dengan pasir putih.
Pantai di Karimun Jawa dengan pasir putihnya yang eksotis. Foto: Dok. shutterstock

Tiba di Karimun Jawa, pengunjung dapat menyewa kendaraan roda dua atau empat untuk mengelilngi pulau itu. Untuk sepeda motor, tarifnya Rp 75-100 ribu per hari. Sedangkan tarif mobil sekitar Rp 500-650 ribu, tergantung jarak. Misalnya, jika ingin mencapai pantai Tanjung Pengantin, perlu waktu 2-3 jam jika menggunakan mobil. Sedangkan bila naik sepeda motor cukup satu jam. Akses jalan menuju Tanjung Pengantin tidak terlalu bagus, kecil, dan berbukit.

Tanjung Pengantin adalah salah satu spot wisata yang diminati banyak pengunjung. Ceritanya, ada dua bukit batu setinggi tujuh meter menghadap ke barat di tengah Pantai Tanjung Pengantin, Desa Batulawang, Kecamatan Kemojan, Karimun Jawa. Di depannya, ada batu yang lebih kecil berbentuk seperti meja. Pengantin terkutuk, demikian nama kedua batu karang yang berdiri gagah itu.

Penduduk setempat percaya dua batu besar ini adalah jelmaan Ahmad dan Fatimah, sepasang muda-mudi yang dikutuk karena kawin lari. Disebut “batu pengantin” karena posisinya yang seperti pengantin sedang mengucapkan ijab kabul.

Terlepas dari legenda yang yang ada, Tanjung Pengantin memiliki panorama alam yang sangat indah. Terletak di perbatasan dua pantai dangkal dan dalam, pantai ini menghadirkan warna kontras yang memukau. Biru untuk laut dalam dan hijau muda pada laut dangkal.

Karimun Jawa memiliki sejumlah pulau, di antaranya adalah pulau Menjangan besar.
Menikmati pantai di pulau Menjangan Besar, Karimun Jawa, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Di laut dangkal, pengunjung dapat berjalan kaki hingga 50 meter ke tengah untuk mendekati batu pengantin. Air laut yang dilewati paling tinggi hanya sebatas dada. Sepanjang 50 meter itu, jalur laut yang dilewati berupa karang yang ditumbuhi rumput laut. Tepat di bawah batu pengantin terdapat gua bawah laut berdiameter tujuh meter. Bila beruntung, penyelam yang menjelajahi gua bawah laut dapat menemukan sarang ikan kerapu macan atau Epinepehelus fuscoguttatus.

Kerapu macan berukuran besar dengan panjang mencapai 120 sentimeter. Ikan ini tersebar luas di wilayah Indo Pasifik. Sepuluh tahun terakhir, kerapu menjadi ikan favorit untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat, daya tahan terhadap perubahan lingkungan relatif kuat, juga harga jualnya yang lumayan bagus.

Tanjung Pengantin berada di Kecamatan Kemojan menjadi tempat berdiam suku Bugis yang menyeberang dari Makassar ke Karimun Jawa. Meskipun akulturasi sudah terjadi di Karimun Jawa, orang-orang Bugis ini tetap mempertahankan budaya mereka. Salah satunya dengan membentuk Kampung Bugis, yang bercirikan rumah-rumah panggung khas Bugis.

Rumah Bugis ini menjadi salah satu atraksi yang cukup memikat bila p engunjung ingin mengeksplorasi Pulau Karimun Jawa bagian utara. Sebab, selama ini yang terkenal dari Karimun Jawa adalah pantainya. Padahal, tinggal di Kampung Bugis dapat menjadi alternatif wisata yang menarik.

Pengunjung bahkan bisa meminta sajian khas Bugis, seperti barongko atau pisang kukus, lapek Bugis, dan coto. Warga Bugis di Karimun Jawa butuh waktu lebih lama untuk mencari bahan makanan. Mereka harus menyeberangi laut ke Jepara untuk mendapat bahan-bahannya.

Selain Tanjung Pengantin, wisatawan bisa belajar melaut ala nelayan Bugis sekaligus mencari ikan di Pantai Batulawang. Atau, ada empat pulau yang bisa dikunjungi.

Karimun Jawa  memiliki sejumlah atraksi, selain pantai juga ada yang menantang, berenang bersama hiu.
Salah satu atraksi yang menantang di pulau Menjangan Besar, Karimun Jawa, adalah berenang bersama ikan hiu. Foto: doc. shutterstock

Pulau Menjangan Besar. Bila masih belum puas dengan satu lokasi wisata, berlayarlah menggunakan perahu nelayan menuju Pulau Menjangan Besar. Ini merupakan pulau terdekat yang menawarkan atraksi unik, yakni berenang bersama hiu. Di pulau ini memang ada penangkaran hiu, selain pengembangbiakan penyu.

Pulau Menjangan Kecil. Menyuguhkan air kehijauan dengan terumbu karang dan ikan-ikan yang menggoda, Pulau Menjangan Kecil bisa dicapai hanya 15 menit dari Menjangan Besar. Airnya berwarna hijau transparan, menyajikan pemandangan gugusan terumbu karang nan menawan. Wisatawan pun seolah terbang di atas air sambil dikelilingi ikan zebra ekor putih (Dascyllus aruanus).

Pulau Tanjung Gelam. Pulau ini bisa menjadi tujuan berikutnya setelah Pulau Menjangan Kecil. Dapat dicapai lewat darat maupun laut, Tanjung Gelam memiliki pantai berpasir putih dihiasi pohon-pohon kelapa dengan posisi miring. Cocok untuk rileks sembari menikmati keindahan mentari tenggelam.

Pulau Cemara Besar. Perlu waktu satu jam dari Pulau Karimun Jawa untuk mencapai pulau yang berada di Taman Nasional Karimun Jawa ini. Anda harus berhati-hati saat berada di perairan pulau berpasir putih dan tenang ini. Sebab, terdapat sejumlah ikan beracun.

Cheta N./TL/agendaIndonesia

*****

Selat Solo, Sejarah Dan 5 Yang Terenak

Selat Solo adalah maksakan campuran tradisional Jawa dan Eropa. Kreasi Kraton SOlo. Foto: shutterstock

Selat Solo adalah masakan khas kota Solo, Jawa Tengah, yang dalam penyajiannya memiliki pengaruh masakan Eropa. Pada masa kolonial, warga Belanda dan orang Eropa membawa bahan-bahan makanan serta teknik memasak khas Eropa. Pengaruh inilah yang tampil dalam masakan selat.

Selat Solo

Awal mula lahirnya masakan ini berawal sejak benteng Vastenburg dibangun sekitar tahun 1745, tepat di depan gapura Keraton Surakarta Hadiningrat. Di sini sering terjadi pertemuan dan rapat antara pihak keraton dan Belanda. Setiap pertemuan biasanya disajikan masakan oleh pihak keraton. namun tidak sesuai dengan selera masyarakat Belanda.

Petinggi atau bangsawan Belanda saat ini menginginkan makanan berbahan utama daging, sedangkan sang raja terbiasa dengan sajian sayur. Atas dua kebiasaan ini, dikreasikan lah menu baru dengan mengkombinasikan bahan seperti kentang, wortel, buncis, timun, daun selada, telur, dan kuah kecap. Kemudian dari pertemuan dua kebudayaan tersebut melahirkan satu kuliner khas Kota Surakarta, yaitu selat Solo.

Selat Solo perpaduan antara beefsteak Eropa dan Salad.
Telur rebus atau semur telur adalah ciri khas Selas SOlo. Foto: shutterstock

Dalam perkembangannya, terjadi penyesuaian tampilan. Petingi Belanda menginkan ada daging steak, dalam bahasa Belanda disebut biefstuk, yang disajikan dalam ukuran besar dan dimasak setengah matang dalam selat.

Sementara itu, sang raja atau bangsawan Solo terbiasa makan dengan sajian sayur dan tidak terbiasa makan daging besar. Alhasil, daging yang semestinya dimasak setengah matang diubah menjadi daging cincang yang dicampur sosis, telur, dan tepung roti.
Selat Solo sendiri sering disebut perpaduan antara bistik atau beefsteak dan salad. Nama selat diambil dari kata dalam bahasa Belanda, slachtje, yang artinya salad.

Kata ini sesungguhnya juga bermakna hasil penyembelihan daging yang dalam penyajiannya dalam bentuk potongan kecil. Masyarakat Jawa pada wakti itu mungin sedikit kesulitan menyebut kata slachtje, kemudian mereka mengucapkannya dengan kata selat.

Hidangan Selat Solo kini umumnya terdiri dari galantine, sayur wotel, buncis, selada air, kentang goreng serta saus asam manis yang berasal dari perbaduan tomat dan kecap manis yang dikentalkan.

Galantine sendiri bisa disebut sebagai hidangan utama atau main course pada selat.

Ini umumnya berbasis daging sapi, ayam, bebek atau unggas lainnya. Pembuatannya daging cincang yang dicampur sosis, telur, dan tepung roti dicampur kemudian dibentuk menyerupai lontong dan dibungkus menggunakan daun pisang.

Ketika hendak disajikan daging yang sudah dicampur tersebut dikukus hingga matang. Daging yang sudah matang didinginkan, kemudian daging diiris tebal dan digoreng menggunakan sedikit margarine. Kadang ada pula restoran yang mengganti galantine dengan daging semur.

Saat ini jika wisatawan mampir ke restoran di Solo dan memesan Selat Solo, tampilannya terdiri dari daging olahan yang telah digoreng atau daging yang dimasak dengan kuah encer khas Jawa, wortel rebus, buncis rebus, irisan tomat, daun selada, dan kentang goreng untuk memberikan rasa kenyang. Di atas daun selada bisanya diberi saus mustard.

Selat Solo karena Raja Solo yang suka sayuran.
sajian lengkap Selat Solo di resto Adem Ayem. Foto: IG Adem Ayem

Ciri khas Selat Solo lainnya saat ini adalah adanya irisan telur rebus. Kombinasi ini menjadikan Selat Solo berwarna dan menggugah selera. Sementara perbedaan Selat Solo dan steak Eropa adalah steak Eropa biasanya disajikan selagi panas, sedangkan Selat bisa disajikan dalam kondisi dingin. Namun sejumlah rumah makan dapat menyajikannya dalam kondisi hangat sesuai permintaan tamu.
Lalu jika tengah main ke Solo dan ingin menikmati selat, restoran manakah yang sajiannya paling enak? Berikut lima restoran atau warung yang terkenal dengan sajian selatnya.

Warung Selat Mbak Lies

Warung makan ini terkenal dengan selat solonya dan sudah berdiri sejak 1978. Meski tempatnya agak tersembunyi karena harus melewati gang, tidak sedikit orang yang berburu ke sini untuk mencicipi seporsi selat solo yang sungguh nikmat.

Selain rasanya yang gurih dan manis, selat solo di sini juga dilengkapi dengan lidah sapi, telur, kentang, wortel, buncis, dan juga mustard khas Belanda. Jangan kaget dengan kuah selat solo yang dingin karena memang penyajiannya demikian.

Warung Selat Solo Mbak Lies

Jalan Veteran, Gg. 2 No.42, Serengan, Surakarta

Selat Kusumasari

Restoran ini sudah buka sejak 1990 dan hingga kini tetap mempertahankan rasa selat yang mereka sajikan sejak awal berdiri. Di sini tidak hanya selat, namun juga menawarkan aneka makanan yang tak kalah enak seperti seperti gado-gado dan es krim.

Selat Kusumasari

Jalan Slamet Riyadi No.111, Kemlayan, Serengan, Surakarta

Stasiun Balapan Solo KAI
Turun dari kereta di Stasiun Balapan bisa langsung menuju Vien’s. Foto: KAI

Selat Vien’s

Resto ini memiliki beberapa cabang namun yang paling banyak dikunjungi adalah yang di Jalan Hasanudin. Mungkin karena lokasinya yang dekat dengan Stasiun Kereta Balapan. Karena banyak pengunjung, pengunjung harus agak sabar mengantri.

Selat Vien’s

Jalan Hasanudin No.99 C, Punggawan, Surakarta

Omah Selat

Omah selat adalah restoran di Solo yang masih menempati bangunan rumah khas Jawa yang klasik. Interior tempat ini juga didominasi barang-barang kuno sehingga nuansa masa lalunya masih sangat terasa.

Omah Selat

Jalan Gotong Royong No.13, Jagalan, Surakarta

Selat Tenda Biru Pak Bejo

Selat segar dibanderol Rp16.000 dengan porsi daging yang memuaskan. Dilengkapi telur rebus dan aneka sayuran khas seperti selada, kentang goreng, wortel, dan buncis.

Jika pengunjung beruntung makan, bisa mencoba es gempol pleret. Minuman tradisional ini sangat terkenal di sini. Terdiri dari gempol dan pleret dari adonan tepung beras. Teksturnya unik, lembut sekaligus kenyal pas dikunyah. Disajikan sama kuah santan, gula jawa cair dan es batu.

Selat Tenda Biru Pak Bejo

Jalan KH Samanhudi No 10, Purwosari, Laweyan, Solo. 

agendaIndonesia

*****

Konro Karebosi, Direbus 2 Kali Hingga Empuk

Konro Karebosi mulai berjualan sejak 1968. Foto: shurtterstock

Konro Karebosi sudah jadi salah satu ciri khas Makassar. Ia seakan ‘landmark’ ibukota Sulawesi Selatan itu. Kuliner dari kota Angin Mamiri ini sudah lekat di benak banyak orang selama bertahun-tahun lamanya, walaupun kini sudah banyak restoran-restoran dengan menu masakan konro lainnya.

Konro Karebosi

Konro, atau iga sapi dalam bahasa Bugis, merupakan salah satu kuliner yang tak boleh dilewatkan kala berkunjung ke ibu kota Sulawesi Selatan ini. Baik dalam format sop konro maupun konro bakar, keduanya sama-sama bercita rasa unik dan menggugah selera. Satu kata: enak.

Konon, kuliner ini dulu tercipta dari budaya orang Makassar saat merayakan hari raya atau perhelatan besar seperti pernikahan. Uniknya, dulu justru bukan sapi sebagai bahan dasar makanan ini, melainkan kerbau.

Kepercayaan masyarakat ini meyakini bahwa kerbau adalah hewan yang spesial dan hanya boleh dimakan pada acara tertentu saja. Inilah sebabnya beberapa dari kuliner asli Makassar awalnya juga terbuat dari daging kerbau, seperti Pallu Basa dan Coto Makassar.

Konto Karebosi awalnya berjualan di kawasan Lapangan Karebosi, Makassar.
Konto Karebosi awalnya berupa sop. Foto: shutterstock

Ketika itu, kerbau yang disembelih akan diambil bagian tulang iganya, kemudian dimasak dengan racikan kuah yang berasal dari kacang tanah yang telah direbus dan kemudian dihaluskan. Kuah kemudian akan cenderung berwarna coklat gelap.

Seiring berjalannya waktu, populasi kerbau mulai menurun dan warga mulai kesulitan mencari bahan baku iga kerbau, apalagi harganya ikut menjadi mahal. Oleh sebab itu, masyarakat beralih menggunakan iga sapi karena lebih mudah ditemukan dan harganya lebih terjangkau.

Ditambah dengan bumbu-bumbu dapur seperti merica, buah kluwek, pala, ketumbar, kencur, kunyit, cengkeh dan kayu manis membuat rasanya begitu gurih bercampur spicy. Aromanya pun tajam dan kuat, khas rempah-rempah Indonesia.

Kuliner ini kemudian dipopulerkan oleh seorang pria bernama H. Hanafing. Dulunya sehari-hari berprofesi sebagai guru, ia kemudian mengisi waktu luangnya dengan berjualan sop konro di kawasan lapangan Karebosi pada 1968. Mulailah era Konro Karebosi.

Tak disangka, warungnya tersebut menjadi ramai oleh pengunjung dan laris manis. Akhirnya sekitar empat tahun kemudian, ia memutuskan untuk memindahkan warungnya ke ruko di jalan Gunung Lompo Battang.

Tempatnya tak jauh dari lokasi awal warung pertama kali buka. Alasan dipindahkannya warung tersebut agar dapat melayani lebih banyak konsumen. Namun sebagai identitas agar tetap dikenali, nama Konro Karebosi lantas tetap dipertahankan.

Lantas, apa alasan sop konro buatan Konro Karebosi ini begitu digemari? Ternyata, rahasianya ada pada bagaimana konro Karebosi tersebut diolah. Mengolah iga sapi memerlukan teknik khusus dan proses yang tak sebentar.

Biasanya, cara memasak konro adalah merebusnya paling tidak dua kali dengan air rebusan yang berbeda. Ini dilakukan agar konro menjadi empuk, mudah dipisahkan dari tulang, dan tidak amis.

Dalam resep yang dipakai Konro Karebosi, setiap kali konro direbus akan memakan waktu hingga empat jam. Hasilnya, selain cita rasa dari iga serta bumbunya benar-benar meresap, daging pun jadi terasa begitu lembut dan mudah lumer di mulut.

Kombinasi antara daging iga yang begitu empuk, serta bumbu yang sedap untuk diseruput, membuat Konro Karebosi senantiasa kebanjiran pengunjung. Bahkan setelah kini usaha dijalankan oleh sembilan anak H. Hanafing dan sudah buka cabang di tempat lain, restoran aslinya tak pernah sepi.

Setelah resep ini terbukti disukai banyak orang, mereka pun mencoba berinovasi dengan menu baru agar mampu menjaring lebih banyak pelanggan. Maka pada sekitar tahun 1990-an, mereka mulai mencoba bereksperimen dan mencari resep baru yang berbeda.

Setelah rangkaian trial and error, akhirnya pada tahun 2000-an muncullah menu konro bakar yang juga digemari banyak orang. Makanan ini terinspirasi oleh steak pada umumnya yang dibakar lalu dibumbui, tetapi kemudian konro bakar diramu dengan bumbu ala Makassar.

Konro bakar merupakan mengembangan menu yang pintar.
Konro Bakar from Makassar Indonesia

Awalnya konro akan diolah seperti biasanya, sebelum kemudian dibakar dengan olesan kecap. Setelah dibakar, daging iga tersebut akan terasa garing di luar, namun tetap empuk di dalamnya.

Bumbu kacang yang digunakan juga dipadu dengan cabe dan perasan jeruk nipis, yang menambah sensasi unik di lidah. Serta tak lupa taburan bawang goreng di atasnya, membuat makanan ini juga cepat akrab di lidah dan menggaet penggemar tersendiri.

Baik sop konro maupun konro bakar biasanya ditemani buras sebagai teman makannya. Buras ini seperti lontong. Khusus konro bakar, biasanya Konro Karebosi juga menyediakan kuah sop untuk menambah cita rasa saat menyantap.

Secara harga, sop konro dan konro bakar dihargai sekitar Rp 40 ribu hingga 50 ribu. Harga tersebut belum termasuk buras atau nasi. Harga ini termasuk cukup bersahabat, karena di restoran lain atau cabang-cabang di kota lainnya, harga menunya bisa sampai kisaran Rp 60 ribu hingga 70 ribu.

Selain itu, menu di restoran aslinya hanya itu dan tidak berubah sampai sekarang. Berbeda dengan restoran lain, atau cabang-cabang di kota lain yang terkadang menambahkan menu-menu lain seperti Coto Makassar, dan cemilan seperti es Pallubutung, es Pisang Ijo dan lain-lain.

Konro Karebosi buka setiap hari dari jam 10.30 sampai jam 22.30. Untuk info lebih lanjut dapat mengunjungi laman Instagram resmi @sopkonrobakarkarebosi.

Konro Karebosi; Jl. Gunung Lompo Battang no. 41-43, Makassar

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ulos, Pernikahan, Kelahiran, Dan Kematian (2)

Ulos sibolang

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia memiliki arti sejak perjodohan, kelahiran, hingga kematian.

Ulos, Jenis Dan Kegunaannya

Di dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis kain ini. Dalam membuatnya, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Ulos Jugia. Disebut juga ulos naso ra pipot atau pinunsaan. Hanya untuk orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anak laki-laki dan perempuan. Nilainya tertinggi dan disimpan dalam parmonang-monangan (lemari).

Ragi Hidup. Rangkaian dua kata ini bermakna lambang kehidupan. Coraknya memberi kesan kainnya hidup. Muncul dalam warna hitam-putih. Memiliki nilai tinggi. bisa digunakan untuk kesempatan suka maupun duka. Pada saat pernikahan, kain ini diberikan orang tua pengantin wanita kepada ibu pengantin pria. Bila ada sesepuh meninggal, ulos ragi hidup dikenakan oleh si sulung. Jenis ini paling banyak ditemukan dalam upacara adat Batak.

Ragi Hotang. Diberikan kepada pengantin agar terjadi ikatan batin seperti rotan (hotang). Disebut juga sebagai ulos marjabu. Disampirkan ke bahu keduanya, ujung kanan dipegang pengantin pria dan kiri wanita, lalu diikat di tengahnya. Sedangkan saat kematian, digunakan untuk menutup jenasah atau membungkus tulang manakala penguburan untuk kedua.

Ulos Sadum. Memiliki warna ceria, dengan dominasi warna merah, sehingga banyak digunakan untuk upacara suka cinta. Meski bisa juga untuk suasana lara.

Ulos Runjat. Digunakan orang kaya dan digunakan sebagai ulos edang-edang yang digunakan untuk ke pesta pernikahan.  Diberikan juga kepada pengantin oleh keluarga terdekat.

Ulos Sibolang. Lebih banyak digunakan orang untuk acara duka cinta, namun sebenarnya bisa juga digunakan untuk suasana suka cita. Lazimnya pada saat berduka digunakan yang dominan hitam sedangkan saat suka lebih banyak warna putih. Yang putih ini pun digunakan dalam upacara pernikahan. Orang tua pengantin perempuan mangulosi ayah pengantin pria, untuk mabolang-bolangi (menghormatinya).

Suri-suri panjang. Coraknya berbentuk sisir memanjang dan dulu digunakan untuk hande-hande atau ampe-ampe. Lebih panjang dari yang biasanya,  hingga dua kalinya.

Mangiring.  Motifnya beriringan dan merupakan simbol dari kesuburan dan kesepakatan. Diberikan orang tua sebagai parompa kepada cucunya. Digunakan juga untuk pakaian sehari-hari dalam bentuk tali-tali oleh kaum Adam dan sebagai tudung oleh kaum Hawa.

Bintang Maratur. Memunculkan bintang-bintang yang beraturan sebagai lambang dari orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Bahkan juga dalam soal kekayaan dan kemuliaan, ditunjukkan berada dalam tingkatan yang sama. Corak ini juga menunjukkan harapan agar setelah anak pertama lahir anak-anak lainnya.

Sitoluntuho-bolean. Biasanya digunakan sebagai ikat kepala bagi pria atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna, kecuali diberikan kepada anak baru lahir sebagai parompa.

Jungkit. Ini jenis nanidondang atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari kain tersebut.

Lobu-lobu. Yang satu ini digunakan untuk keperluan khusus, terutama orang yang sering dirundung malam, misal kematian anak, karena itu dipesan langsung oleh yang memerlukannya.


Dua Ulos

(berdasar ukuran)

  1. Na Balga. Inilah jenis untuk kelompok masyarakat papan atas. Biasanya digunakan pada upacara adat saat mangulosi maupun digunakan sebagai pakaian resmi.
  2. Na Met-met. Jenis yang hanya digunakan sehari-hari. Ukurannya panjang dengan lebarnya jauh lebih kecil dari biasanya. Tidak digunakan dalam upacara adat.

Arti harfiah. Berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindungi dari  udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber panas bagi manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiganya, yang paling nyaman dan akrab dengan kehidupan tak lain kain tradisional ini.

Penggunaan. Kain ini digunakan bisa digunakan dari bagian tubuh atas hingga bawah. Dihadanghon bila disampirkan di bahu atau menjadi selendang. Untuk wanita disebut hoba-hoba  (bahu) atau ampe-ampe (selendang). Diabithon sebagai sarung atau saong. Dililithon ketika  dililitkan di kepala atau pinggang.  Pada pria disebut detar bila digunakan sebagai penutup kepala dan haen bila digunakan di bawah.

Uis atau Hiou. Suku Batak menyebut kain yang digunakan upacara adat dan sehari-hari adalah ulos. Suku Karo menamainya uis. Untuk jenisnya ada nama sendiri, seperti uis beka buluh, uis jungkit dilaki, uis nipeh padang rusak, uis nipes benang iring. Sedangkan suku Simalungun mengenalnya sebagai hiou. Muncul dengan motif yang berlainan juga, termasuk kekhasan pada penggunaannya sebagai penutup kepala.

Rita N./Toni H./Dok. TL

Adat Sekaten, Beda Yogya dan Solo (2)

Adat Sekaten Solo secara umum sama dengan yang digelar Kraton Yogyakarta, urutan detilnya yang ada perbedaan. Foto: Surakarta.go.id

Adat Sekaten yang diselenggarakan di Surakarta atau Solo secara garis besar, rentetan kegiatan serta pelaksanaannya bisa dibilang cukup serupa dengan yang diadakan di Yogyakarta. Kalau pun ada perbedaan, itu lebih pada detail-detail kecil.

Adat Sekaten

Adat Sekaten Solo juga diadakan selama sepekan dan pada kurun waktu yang sama pula dengan yang di Yogyakarta. Rangkaian acaranya pun mirip, ditandai dengan dikeluarkannya gamelan pusaka keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Masjid Agung Surakarta.

Selama satu minggu, kedua gamelan pusaka Surakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, dimainkan selama gelaran adat Sekaten berlangsung. Di sela-sela permainan tersebut, juga aka nada pembacaan doa-doa serta ayat-ayat suci Al-Quran.

Adat Sekaten Solo memiliki beberapa hal yang berbeda dengan yang diselenggarakan di Yogyakarta.
Keraton Surakarta Hadiningrat. Foto: shutterstock

Konon, gamelan Kyai Guntur Madu merupakan peninggalan dari era Sri Susuhunan Pakubuwono IV, sementara Kyai Guntur Sari adalah peninggalan dari masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo di kerajaan Mataram.

Sebelum kegiatan tersebut, ada pula ritual yang dilakukan bagi para pengrawit (pemain seni karawitan) yang bertugas. Melakukan puasa, memberikan sesajen berupa kembang dan buah buahan kepada kedua gamelan pusaka, serta mengenakan seragam khusus selama acara berlangsung merupakan beberapa di antaranya.

Acara dibuka dengan adat Miyos Gongso, yaitu dibawanya kedua gamelan pusaka tersebut menuju area bangsal utara dan selatan masjid oleh sekitar 120 abdi dalem keraton. Dari situ, Kyai Guntur Madu akan dimainkan terlebih dulu, baru setelahnya Kyai Guntur Sari dimainkan.

Adat permainan pembuka kedua gamelan tersebut, yang disebut sebagai Ungeling Gongso, dianggap sebagai representasi akan dua kalimat syahadat. Ketika Kyai Guntur Madu dimainkan pertama kali, gending yang dimainkan berjudul ‘Rabbuna’ yang berarti Tuhan, representasi dari kalimat ‘aku percaya tiada Tuhan selain Allah’.

Setelahnya, pengrawit memainkan Kyai Guntur Sari dengan gending berjudul ‘Roukhun’. Secara etimologi, kata ini bermakna nabi atau khalifah, yang kemudian bisa dimaknai sebagai kalimat ‘aku percaya Nabi Muhammad adalah rasul Allah’.

Setiap harinya gamelan akan dimainkan mulai dari jam 09.00 sampai waktu sholat Dzuhur. Kemudian dimainkan lagi setelah sholat Ashar sampai waktu Maghrib. Setelah Isya, gamelan dimainkan kembali sampai pukul 24.00.

Gamelan juga tidak boleh dimainkan dari Maghrib di hari Kamis hingga setelah sholat Jumat. Kesemuanya menjadi tanda menghormati sholat lima waktu serta hari Jumat yang sakral bagi umat Muslim, sejalan dengan khitah Sekaten sebagai alat syiar Islam.

Ada pula beberapa adat lain yang serupa, misalnya seperti mengunyah sirih ketika gamelan pertama kali mulai dimainkan. Adat ini dipercaya sebagai doa agar senantiasa sehat dan awet muda.

Begitu pula budaya pasar malam sebagai pelengkap perayaan Sekaten. Di Solo, pasar malam Sekaten diadakan di alun alun utara dan selatan. Warga pun dapat datang serta berpartisipasi dengan berjualan kuliner-kuliner khas Solo, sebagai wujud turut meramaikan gelaran tersebut.

Tetapi memang ada beberapa perbedaan kecil pada detail pelaksanaan acara. Seperti misalnya tidak adanya budaya pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW serta Udhik-Udhik, alias menebarkan koin logam, beras dan bunga seperti yang dilakukan Sri Sultan di Yogyakarta.

Pada perayaan adat Sekaten di Solo juga tidak terdapat adat Numpak Wajik sebagai tanda persiapan pembuatan gunungan yang akan diarak pada acara puncak Grebeg Mulud. Tidak ada pula prosesi Kundur Gongso, yaitu pengembalian gamelan-gamelan pusaka kembali ke tempatnya.

Sebaliknya, salah satu adat Sekaten Solo yang tidak terdapat di perayaan Sekaten Yogyakarta adalah penggunaan janur kuning sebagai hiasan di bangsal masjid. Nantinya, beberapa janur tersebut akan diperebutkan warga sekitar sebagai tanda keberkahan.

Selain itu, di Yogyakarta gamelan-gamelan pusaka sudah mulai dimainkan pada malam sebelum pekan puncak perayaan Sekaten dilangsungkan. Pertunjukan gamelan ini berlangsung dari pukul 19.00 hingga 23.00.

Setelahnya, baru akan terjadi prosesi pemindahan gamelan-gamelan tersebut menuju Masjid Gede Kauman. Sementara di Solo, gamelan baru mulai dimainkan setelah prosesi Miyos Gongso dilaksanakan.

Perbedaan lainnya juga terletak pada detail pelaksanaan acara puncak, yakni Grebeg Mulud. Di Yogyakarta, gunungan yang dibuat biasanya sekitar 5 hingga 6 buah. Adapun di Solo, gunungan yang dibuat hanya ada dua, yaitu gunungan jaler dan estri.

Gunungan jaler merepresentasikan gunungan laki-laki, sedangkan gunungan estri sebagai gunungan perempuan. Lain daripada itu, gunungan tersebut sama-sama diarak dari keraton menuju masjid untuk didoakan, sebelum dibawa keluar dan diperebutkan oleh warga.

Adat Sekaton Solo diselenggarakan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.
Patung Slamet Riyadi sebagai salah satu landmark Surakarta yang berada di mulut masuk Alun-ALun Utara Keraton Solo. Foto: Dok. shutterstock

Isi dari gunungan tersebut pun sama-sama hasil alam seperti sayuran, buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Warga setempat juga sama-sama percaya bahwa isi dari gunungan tersebut bermakna keberkahan, sehingga berebut mengambil isinya turut menjadi budaya.

Selebihnya, kedua upacara adat tersebut bisa dikatakan tak punya perbedaan signifikan lainnya. Niat dan semangat luhur dari keduanya pun sama-sama untuk merayakan, serta rasa syukur sebagai umat Islam dalam rangka hari raya Maulid Nabi Muhammad SAW.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Adem Ayem Solo, Legendaris Sejak 1969

Adem Ayem Solo adalah legenda kulinari kota ini. Foto IG Adem Ayem

Adem Ayem Solo layak disebut salah satu legenda kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah. Ia bisa menjadi salah satu opsi destinasi kuliner kala bertandang ke kota ini. Restoran ini menyediakan beragam pilihan kuliner khas kota ini, mulai dari gudeg Solo, nasi timlo, dan lain lainnya.

Adem Ayem Solo

Rumah makan ini sudah menemani masyarakat menikmati andrawina, tak hanya di kalangan warga Solo, tetapi menjadi klangenan wisatawan yang dolan ke Solo. Maklum, restoran ini sudah berdiri sejak 1969 dan dalam kurun waktu tersebut mampu meraih banyak pelanggan setia.

Salah satu pelanggan restoran ini adalah presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Semasa hidupnya, ia disebut-sebut kerap memesan hingga puluhan gudeg kendil, saat sedang berada di kediaman keluarganya di Ndalem Kalitan.

Begitu pula mendiang presiden Indonesia ke empat Abdurrahman Wahid yang juga pernah menjadi pelanggan, sejak sebelum menjadi presiden. Bahkan, pria yang akrab dengan panggilan Gus Dur ini dulunya punya area meja dan kursi favoritnya sendiri.

Adem Ayem Solo yang berdiri sejak1969 menjadi salah satu ikon kulinari kota Solo.
Patung Slamet Riyadi menjadi ikon kota Solo, sama seperti rumah makan Adem Ayem. Foto: shutterstock

Tak lupa, presiden Joko Widodo pun dikabarkan cukup sering makan di Adem Ayem Solo ini sejak masih menjabat sebagai Walikota Solo. Kabar yang beredar, ia kerap memesan gudeg kendil dan memberikannya kepada tamu-tamunya sebagai oleh-oleh.

Dengan reputasi yang demikian tersohor, tak ayal Adem Ayem Solo menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Solo. Sang pendiri dan pemilik restoran, Lies Rosmijati, hingga kini masih terus mengomandoi jalannya aktivitas restoran sehari-hari.

Tak tanggung-tanggung, wanita berusia 74 tahun ini bahkan masih berbelanja kebutuhan bahan-bahan masakan setiap paginya. Ia pun masih turut serta dalam proses mengolah dan memasak, sembari mengawasi kinerja pegawai-pegawainya.

Pada masa-masa awal ia mulai membuka restoran ini, beberapa pelanggan sempat mengeluhkan cita rasa masakan yang kurang pas, lantaran ibu lima anak kelahiran Yogyakarta itu terbiasa dengan masakan khas kota pelajar tadi yang cenderung lebih terasa manis.

Perlahan-lahan ia mencoba mengubah racikan masakan-masakannya, sehingga dapat menyesuaikan lidah orang Solo yang lebih gemar kuliner bercita rasa gurih. Usahanya pun berhasil dan restorannya semakin dibanjiri pengunjung.

Komitmen ini menjadi wujud usahanya untuk mempertahankan reputasi Adem Ayem Solo yang sudah melegenda. Ia bahkan pernah mencoba membuka cabang di kota lain, dan meskipun responnya cukup baik, ia memutuskan untuk menutupnya dan fokus pada restoran aslinya.

Adem Ayem Solo sendiri dikenal menyajikan beberapa menu-menu kuliner khas Solo. Salah satu menu andalannya adalah gudeg Solo, yang disajikan dengan nasi dan tambahan ayam, telur dan sambal goreng krecek pada satu porsinya.

Nasi Gudeg Adem Ayem Solo adem ayem IG
Gudeg Solo berbeda dengan gudeg Yogya yang cenderung manis, Ini lah salah satu sajian andalan Adem Ayem Solo. Foto: IG Adem Ayem

Kalau datang beramai-ramai bersama keluarga atau teman, bisa juga memesan gudeg kendil, yaitu gudeg yang disajikan dengan kendil, atau tempat penyimpanan dan penyajian makanan dari tanah liat. Gudeg kendiltersedia dalam pilihan ukuran kecil maupun besar.

Bagi kebanyakan orang, gudeg mungkin lebih identik sebagai kuliner khas Yogyakarta, namun rupanya Solo memiliki versi gudeg sendiri. Gudeg Solo disebut lebih bercita rasa gurih, berbeda dengan gudeg Yogyakarta yang cenderung terasa manis.

Kuliner lainnya yang patut dicoba adalah nasi liwet. Kuliner populer dari kota batik ini merupakan olahan nasi yang dimasak dengan air santan, dan disajikan dengan sayur labu siam, ayam suwir dan telur rebus.

Konon, nasi liwet Solo tercetus dari budaya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Warga setempat merayakan hari besar tersebut dengan makan nasi yang diolah minyak samin, yang disebut merupakan salah satu makanan favorit Rasulullah.

Namun karena minyak samin tidak banyak beredar dan agak sulit untuk didapatkan, maka sebagai gantinya nasi kemudian diolah dengan air santan. Resep tersebut lantas menjadi populer dan kini sangat lazim ditemukan di Solo.

Selain itu, kuliner kota Solo yang sayang untuk dilewatkan di restoran ini adalah nasi timlo. Makanan berkuah bening ini cukup mirip dengan soto, yang disajikan dengan ayam suwir, potongan ati ampela, irisan sosis Solo, bihun dan telur pindang.

Selat Solo Adem Ayem Adem Ayem IG
Kulinari Solo lain yang disajikan adalah Selat SOlo. Foto: IG Adem Ayem

Bagi pecinta ayam goreng, Adem Ayem Solo juga menyediakan ayam goreng kremes yang juga direkomendasikan. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung, yang dimasak dengan bumbu yang gurih dan kremesan yang renyah.

Menu-menu yang lebih ringan seperti galantin dan selat Solo pun juga tersedia di Adem Ayem. Untuk minuman, teh kampul alias teh dengan irisan jeruk peras yang segar turut melengkapi jajaran kuliner khas Solo di restoran ini.

Harga makanan-makanan tersebut pun tergolong relatif terjangkau. Nasi gudeg istimewa dengan tambahan lauk komplit misalnya, harganya Rp 37 ribu. Adapun nasi liwet dan nasi timlo, masing-masing dihargai Rp 33,5 ribu dan Rp 28 ribu.

Bagi yang ingin memesan gudeg kendil, harganya Rp 263 ribu untuk yang ukuran besar dan Rp 230 ribu untuk ukuran kecil. Sedangkan ayam goreng disediakan dalam wujud utuh seharga Rp 116 ribu atau Rp 29 ribu per potong.

Untuk hidangan ringan seperti galantin atau selat Solo sama-sama dihargai Rp 31,5 ribu, sementara teh kampul harganya Rp 16 ribu. Pilihan minuman lainnya bervariasi dari es cincau, es kelapa muda gula Jawa dan lainnya yang berkisar dari Rp 5,5 ribu hingga Rp 26,5 ribu.

Adem Ayem terletak di area pusat kota Solo, tepatnya di kawasan jalan Slamet Riyadi. Untuk mencari restoran ini pun terbilang cukup mudah, lantaran lokasinya tak jauh dari Loji Gandrung, bangunan bersejarah yang kini difungsikan sebagai rumah dinas walikota Solo.

Sebagai catatan bagi yang tertarik mencoba, restoran ini biasanya lebih ramai pada akhir pekan dan hari libur, utamanya pada musim liburan seperti saat libur Idul Fitri. Selain itu, saat malam hari biasanya kerap ada pertunjukan live music keroncong.

Adem Ayem buka setiap hari dari jam 06.00 hingga jam 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0271) 712891, atau lewat akun resmi Instagram @ademayem_solo.

Rumah Makan Adem Ayem; Jl. Slamet Riyadi no. 342, Solo

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Ulos, Persaudaraan, Pengharapan dan Sebuah Nasehat (Bagian 1)

Ulos Kain tradisional Batak shutterstock

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia juga mengandung arti persaudaraan, pegharapan dan nasehat.

Ulos, Adat Dan Tradisi

Di sepotong siang yang terik, pada sebuah rumah berlantai semen berdinding tembok tanpa cat di Desa Penampangan, Samosir, Sumatera Utara, Rini yang kini berusia 12 tahun itu tengah berasyik-masyuk bersama hasoli dan turak. Di sekitarnya tampak pula pagabe, baliga, hatudungan, sidurukan, pamapan, panghulhulan, dan juga panggiunan. Berbagai nama tersebut di atas bukanlah nama teman bermain dari sang dara, melainkan bagian-bagian dari alat tenun. Di sudut yang lain si nenek memendangi sang cucu yang tengah martonung (menenun), dengan rasa bungah.

Hasoli adalah  tempat gulungan benang dan turak  yang terbuat dari bambu kecil yang berfungsi memasukkan benang di sela-sela benang yang ditenun.  Turak dan hasoli menyatu dan berjalan seiring. Turak lah yang membuka jalan sehingga benang bisa menari di antara untaian benang lain sehingga membentuk beragam motif. Pendukung lainnya, pagabe berupa dua potong kayu yang mengapit tubuh, sehingga menopang tubuh sekaligus menjadi penahan alat tenun. Pamapan termasuk bagian utama dari alat tenun, berupa kayu besar dan dua kayu di kiri dan kanan.

Di bagian tengah, di antara benang dan kain setengah jadi, ada baliga, yang memadatkan benang-benang yang terjalin. Sidurukan adalah tempat menaruh baliga. Ada pula panghulhulan berfungsi seperti palet pada mesin jahit, penggiunan adalah penarik benang. Benangnya sendiri disebut giun, dan alat untuk memasang benang sebelum ditenun adalah hatonungan. Lantas alat tenun itu sendiri tak lain alat tradisional gedogan.

Itulah seperangkat alat tenun yang telah menjadi teman akrab Rini sejak kelas 5 Sekolah Dasar, Jemarinya yang lentik selalu memainkannya lidi-lidi yang membentuk konfigurasi benang menjadi motif atau corak kain. Ini dilakukannya selama 2-3 jam saban pulang sekolah. Kini Rini biasa merampungkan selembar ulos berukuran panjang 1,5 meter lebar 40 sentimeter dalam sepekan. “Dia masih anak-anak, lidi yang dipakai baru lima, belum bisa bikin yang pakai banyak warna,” kata si opung.

Dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis ulos. Dalam membuat ulos, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Menurut penuturan si nenek Rini, masyarakat sekarang cenderung menyukai ulos yang dipenuhi dengan benang emas. Menurut si opung, makin banyak warna makin tinggi nilai rupiahnya. Ulos biasa dijual pada kisaran harga Rp 150-400 ribu. Tak jauh dari rumah Rini itu, ada pula beberapa rumah yang juga memproduksi ulos. Biasanya, dalam setiap rumah prosuksi, paling tidak ada lima perempuan penganggit. Seorang di antaranya sudah dalam tingkat mahir, atau beraksi dengan 12 lidi.

Di desa yang berlokasi sekitar 40 km dari Tomok, pelabuhan kecil untuk penyeberangan feri ke Parapat, ini memang dihuni oleh banyak penenun, hingga menjadi magnet tersendiri bagi para pedagang ulos. Di satu jalan desa saja, dalam jarak hanya 500 meter sudah ada tiga kelompok penenun, salah satunya memiliki keunikan karena masih tinggal di rumah adat dan mereka menggelar tikar di depan rumah dan duduk beramai-ramai menenun. Selalu ada pedagang dari luar yang rutin datang mengumpulkan kain adat tersebut.

Di halaman tanah memanjang itu ada dua kelompok perempuan asik dengan gedogan. Salah satunya perempuan boru Silalahi, 62 tahun. Di kiri kanan diapit saudaranya. Tak hanya ulos tapi juga songket Batak pun dibuatnya. Kain songket dalam warna kuning dan biru tampak mencolok. Semuanya ia pajang di tali yang merentang di depannya sehingga mirip jemuran. Perempuan ramah itu mengaku bisa membuat ulos jenis apapun dan dari daerah manapun di Sumatera Utara. “Bisa pesan kalau mau,” ujarnya.

Jenis ulos setiap wilayah di Sumatera Utara berbeda. Ibu lima anak itu bisa dengan rinci menjelaskan beberapa perbedaan itu. Ulos Batak Toba, misalnya, kebanyakan bercirikan  warna redup, dominasi pada hitam dan abu-abu dengan corak yang lebih simpel. Berbeda lagi dengan ulos Karo. Banyak menggunakan warna dasar merah dan terang. Dan kain tradisional itu disebut sebagai uis. Sedangkan ulos Tarutung  memunculkan corak beragam dan warna cerah. Demikian juga dengan ulos Simalungun yang bermain dalam warna biru, merah, dan oranye selain juga hitam. Dikenal sebagai hoiu.

Hanya beberapa meter dari boru Silalahi, empat perempuan lanjut usia tengah tenggelam dalam keasyikan memainkan baliga dan lidi. Tanpa bersuara. Keempatnya menenun dengan teknik ikat lungsi – mengikat benang yang disusun memanjang – dan ketekunan menjadi modal utamanya. Tak mengherankan lebih banyak kaum Hawa dan lebih dominan juga yang berusia lanjut ketimbang remaja. Beruntung di Samsosir, jumlah penenun masih cukup banyak. Di Desa Perbaba, dekat Pangururan, pun bisa ditemukan lagi kelompok penenun.

Bahkan pengusaha kain ulos di Pematang Siantar pun, banyak yang belajar menenun di Samosir, dan beberapa malahan memang berasal dari kabupaten tersebut. Di Parluasan, tak jauh dari pasar, penenun berkumpul di beberapa rumah, setiap rumah ada sekitar 5-7 penenun. Sejumlah penenun Samosir pun mengadu nasib ke Medan. Di ibu kota Sumut, aneka ulos dan songket itu dijual di Pasar Sentral atau tepatnya di Pusat Pasar Lama. 

Ada sekitar 12 kios yang menjajakan aneka kain tradisional, tak hanya ulos tapi juga aneka songket, lengkap dengan kebaya. Salah satunya milik boru Simbolon yang mengusung nama UD Parna Tex, ia menjual kain dari harga Rp 15 ribu hingga Rp 1,5 juta. Satu motif pun bisa berbeda harga, tergantung jenis benang dan pengerjaannya, misal ulos ragi hotang ada yang dijual Rp 50 ribu, tapi ada pula yang lebih halus Rp 150-200 ribu.

Ulos memang tak bisa terpisahkan dari kehidupan suku Batak. Dalam suka maupun duka. Bahkan setiap masa penting dalam kehidupan seseorang pun tak lepas dari ulos. Ada tiga momen penting yang dimaknai dengan ulos, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Setiap kesempatan itu, ulos yang digunakan berbeda. Sewaktu lahir, kakek nenek memberi ulos parompa atau ulos gendong, kemudian ketika menikah akan menerima ulos hela (ulos untuk menantu) dan ketika meninggal mendapat ulos saput. Pemberinya adalah kelompok marga dari istri atau dalihan natulo yang disebut sebagai hula-hula.

Jadilah mangulosi atau memberi ulos menjadi ritual yang penting dalam adat Batak. Pemberian itu tak hanya seperti kado biasa, ketika seorang pelancong membeli ulos sebagai suvenir dan menyebarkannya kepada handai tulan atau sahabat ketika kembali ke kota asalnya. Melainkan mengandung makna yang dalam, yakni pemberian restu, menunjukkan rasa kasih sayang, pengharapan pada hal-hal yang baik. Makna itu tersurat dalam pepatah lawas, Ijo pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong. Maknanya, jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Maka ketika diberikan kepada menantu laki-laki, ulos berarti sebuah nasehat agar paham kerabat yang harus dihormati, hormat kepada kerabat istri dan lemah lembut kepada keluarga. Bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, ulos juga menjadi sebuah penghormatan terhadap jasanya sebagai istri. Sekaligus juga menjadi tanda bahwa dia telah menjadi janda. Secara umum, ada beberapa ketentuan dalam ritual adat ini. Misal yang diberi ulos haruslah secara silsihan keturunan berada pada tingkatan di bawah pemberi ulos, kemudian jenis yang diberikan juga harus sesuai dengan kesempatannya. Apakah kelahiran, pernikahan atau kematian? Motif dan warnanya selalu berbeda.

Dari motif ada pula nama-nama khususnya dan corak pun menjadi sebuah simbol. Beberapa yang dikenal luas adalah ragidup, ragi hotang. bintang maratur, sadum, suri-suri panjang, mangiring. Lantas dari penggunaannya, ulos bisa digunakan di beberapa bagian tubuh, seperti di kepala, penutup bahu, selendang, di bagian tubuh bawah hingga menjadi kain gendongan. Makna, fungsi dan kesempatan penggunaannya membuat ulos memang begitu kompleks sekaligus menjadi sebuah kebanggaan bangsa ini.

Rita N./Toni H./Dok. TL