Desa Adat Sasak Ende Dan 29 Rumahnya

Keunikan rumah adat Sasak di Desa Ende.

Desa Adat Sasak Ende adalah perkampungan Suku Sasak di Lombok yang dikenal terus bertahan menjaga adat leluhur. Termasuk jumlah rumahnya yang 29 buah.

Desa Adat Sasak Ende

Papu Linip, 75 tahun, tersenyum lebar. Perempuan tua itu dibalut busana tradisional lambung berwarna hitam dan kain tenun Sasak. Ia sudah hafal betul menyambut tetamu yang datang ke Desa Adat Ende di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Sebagai salah satu kampung yang mempertahankan tradisi dan budaya suku Sasak, kedatangan wisatawan menjadi bagian dari keseharian masyarakat di sini.

“Papu” dalam bahasa Sasak bermakna nenek, sedangkan “Linip” adalah nama anak pertamanya. Sebelum menjadi nenek, ia dikenal sebagai Ina Linip, atau ibunya Linip. Demikian tradisi suku Sasak memanggil seseorang. Para pria disebut ama, sedangkan kakek disebut mame. Seperti umumnya perempuan tua, sehari-hari ia anteng mengunyah sirih dan kapur di beranda rumahnya atau nyiruh. “Bisa lima kali sehari,” ucapnya.

Desa Adat Ende terdiri atas 29 rumah dan 125 jiwa. Rumahnya dikenal sebagai bale tani, maknanya tak lain rumah petani. Sebab, semua warga memiliki mata pencarian sebagai petani. Bangunan lain adalah lumbung dengan kaki-kaki bangunan lebih tinggi. Merupakan tempat penyimpanan padi. “Satu lumbung untuk satu keluarga besar,” kata Papu Linip.

Selain itu, ada berugak, yang menjadi tempat berkumpul warga. Pada bangunan tanpa sekat ini, warga bisa bercengkerama, atau menenun. Adapun bangunan lain yang saya temukan adalah bale jajar, yang biasanya digunakan untuk pesta pernikahan dan tempat bermusyawarah antarwarga. Sesuai dengan tradisi, keempat bangunan terbuat dari bahan alam. Bagian atas menggunakan alang-alang kering, yang setiap 5-6 tahun akan diganti. Kemudian, kayu digunakan untuk tiang-tiang.

Yang unik adalah lantai tanah di bagian depan bale tani. Bagian luar rumah tersebut tidak menggunakan semen. Sebagai penggantinya, digunakan perekat alami yang sudah turun-temurun dari nenek moyang suku Sasak, yakni kotoran sapi atau kerbau.

Desa Adat Sasak Ende

Menurut sang pemandu, yang tak lain cucu Papu Linip, bagian luar bale tani tersebut dibiarkan berupa tanah karena mengacu pada ajaran Islam, manusia berasal dari tanah. Lantas, dipilih kotoran kerbau atau sapi karena dua hewan tersebut lambang kerja keras. “Dipilih kotoran yang masih baru karena daya lekatnya lebih tinggi,” ia menjelaskan.

Tanah yang sudah pecah-pecah menjadi tanda perekat itu sudah habis. Jadi bale luar tersebut kembali diolesi kotoran. Biasanya, ketika bale tani diolesi kotoran pada pagi hari, penghuni sudah bisa kembali menempati rumahnya saat asar. Artinya, bau kotoran sudah hilang. “Biasanya dua kali seminggu,” kata Papu Linip tentang pengolesan kotoran hewan itu. Dalam tradisi suku Sasak, yang harus mengoleskan kotoran adalah kaum perempuan. Sebab, perempuan-lah yang mengurus rumah tangga.

Lantas, si nenek pun memperagakan cara mengolesnya. Ternyata menggunakan tangan langsung. Kotoran hewan itu dicampur dengan sedikit air, tanah liat, bambu, kayu, dan alang-alang. Keunikan lain, atap pada bagian depan atau di bale luar dirancang pendek. Inilah salah satu tradisi agar tamu yang masuk memberi penghormatan terlebih dahulu.

Bale luar menjadi ruang tidur kaum pria dan anak-anak usia 10 tahun ke atas. Sedangkan bagian dalam dijadikan tempat tidur kaum hawa, selain menjadi dapur dan tempat menyimpan perabot. Pria yang masih menjadi pengantin baru akan tidur di dalam bersama istrinya, hingga mempunyai satu anak. Untuk tidur, mereka beralaskan tikar dari daun pandan.

Tidak jauh dari bale tani dan lumbung, ada juga kandang hewan. Selain bertani, masyarakat beternak. Bahkan sapi menjadi sesuatu yang paling berharga bagi masyarakat. Sebab, sapi punya aneka fungsi, merupakan traktor tradisional di sawah, bisa juga dijual bila memerlukan dana, dan kotorannya juga digunakan untuk menyemen rumah.

Bahkan, bila sapi dicuri, yang mencarinya bisa seluruh warga. Bahkan bukan hanya warga satu kampung, melainkan juga kampung tetangga. Gotong royong menjadi ciri lain suku Sasak. Baik saat ada warga yang ditimpa kedukaan, maupun pesta hingga membuat bangunan.

Saat saya datang, kaum lelaki tengah membuat bangunan di bagian depan gerbang masuk, dan kaum perempuan memasak bersama-sama. Saat hidangan sudah matang, mereka makan bersama atau begibung. Sajiannya berupa nasi, dengan sayuran yang dibubuhi gurita hingga hidangan bersantan itu terasa gurih.

Karena para perempuan kebanyakan memasak, yang menenun hari itu tidak terlalu banyak. Ina Dangker, atau ibunya Dangker, hari itu memilih bermain berira, salah satu alat tenun. Nah, berira ini juga menjadi senjata bila ada maling. Konon, maling pun lebih takut kepada wanita karena kekuatannya bisa luntur. Menenun menjadi keahlian yang wajib dimiliki perempuan Sasak. Bahkan menjadi syarat sebelum menikah, sehingga anak-anak perempuan belajar menenun sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Di Desa Rambitan, selain Desa Adat Ende, ada Desa Adat Sade. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer. Bila dibanding Ende, perkampungan Sade lebih padat. Selain di Lombok Tengah, ada Desa Adat Segenter di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Desa Adat Suku Sasak ini berada di dekat jalur pendakian ke Gunung Rinjani dari sisi Senaru. Konsepnya lebih-kurang sama, dan ruang antara rumah cukup lebar sehingga nyaman dikelilingi. Satu lagi yang berbeda dengan kampung Sasak di Lombok Tengah, tentunya hawa di sekitarnya yang sejuk karena berada di daerah pegunungan. l

Kawin Lari & Nyokolan

Bila kebanyakan suku mempunyai cara lamaran dengan sejumlah kerumitan, pada suku Sasak yang ada keunikan. Sebab, bila sudah sama-sama suka, untuk bisa menikah ada tradisi menculik calon mempelai wanita. Yang melakukan tak lain sang kekasihnya. Dilakukan tengah malam, si wanita tentunya sudah diberi tahu terlebih dulu, dia akan diculik dan dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Keluarga perempuan biasanya menunggu hingga 24 jam, sampai yakin bila anak perempuannya telah diculik untuk dinikahi sang pujaan hatinya.

Selain itu, untuk pestanya, dikenal dengan nyongkolan, yakni mengarak pengantin keliling kampung untuk memperkenalkan kepada warga. Diiringi gendang khas Lombok yang dikenal dengan gendang beleg atau gendang besar. Tentunya, terasa meriah. l

Rita N./Frann/Dok. TL

Pasar Kaki Langit Yogya, Wisata Sejak 2015

Pasar Kaki Langit Bantul Yogyakarta menawarkan wisata kuliner dan kesenian. Foto: dok. Kemenparekraf

Pasar Kaki Langit bukan jenis wisata peninggalan masa lalu di daerah Yogyakarta ini. Tempat ini merupakan pengembangan kreatifitas masyarakat di kawasan tersebut. Dinamakan wisata Pasar Kaki Langit karena letaknya berada di Desa Wisata Kaki Langit. Dirintis sejak 2015, warga setempat meyakini bahwa kaki diibaratkan sebagai langkah untuk terus maju.

Pasar Kaki Langit

Dikembangkan sebagai desa wisata, Kaki Langit termasuk salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Penghargaan yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf).

Sebelumnya, pada 2017, desa ini menjadi salah satu kandidat Kampung Adat Terpopuler dalam Penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2017. Sementara Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 adalah ajang pemberian penghargaan kepada desa wisata yang memiliki prestasi.

Di balik namanya, “Kaki Langit” sendiri memiliki makna yang sangat kuat. “Kaki” melambangkan langkah untuk maju ke depan, sedangkan “Langit” adalah ciptaan Tuhan yang tidak ada batasnya. Sehingga, makna di balik nama “Kaki Langit” menggambarkan tentang setiap langkah penduduk setempat yang terus maju untuk mencapai cita-cita dan setinggi langit.

Pasar Kaki Langit menjadi bagian dari Desa Wisata Kaki Langit.
Pasar Kaki Langit di Bantul, Yogyakarta. Foto: shutterstock

Pasar Kaki Langit yang berlokasi di Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta ini memiliki banyak potensi dan dikelola dengan baik. Salah satunya adalah Pasar Seni Kaki Langit. Pasar ini sudah ada sejak Desember 2017, dan masih eksis hingga sekarang.

Meskipun namanya “pasar”, namun Pasar Seni Kaki Langit berbeda dengan pasar-pasar pada umumnya. Begitu tiba, wisatawan akan disambut banyak pedagang dengan menggunakan pakaian adat Jawa. Sehingga, saat mengunjungi Pasar Seni Kakilangit wisatawan akan langsung merasakan suasana tempoe doeloe yang rasanya Indonesia sekali.

Keunikan lain dari Pasar Kaki Langit terdapat pada metode pembayarannya. Di sini tidak menerima mata uang resmi, baik kertas maupun logam. Melainkan menggunakan kreweng, koin kayu khas Pasar Kakilangit yang dipakai untuk berbelanja.

Tidak perlu bingung, karena nominal yang tertera di koin kayu kreweng sesuai dengan nominal Rupiah yang umum digunakan. Misalnya koin angka “5” setara Rp 5 ribu, dan koin angka “10” setara dengan Rp 10 ribu.

Pengunjung harus menukarkan Rupiah dengan kreweng sebelum berbelanja di Pasar Kaki Langit. Setelah itu, wisatawan baru bisa menjajal berbagai kuliner jadul khas Pasar itu. Di antaranya gudeg manggar, thiwul, kicak, cemplon, lemet, sayur bobor, sayur jambu mete, sambal terong, sambal jenggot, mie lethek, pecek, dan berbagai kuliner jadul lainnya.

Pasar Kaki Langit juga menampilkan kesenian-kesenian tradisional.
Kesenian di Pasar Seni Kaki Langit. Foto: Dok. Kemenparekraf

Uniknya lagi, demi menjaga kelestarian alam, di sini tidak menggunakan plastik atau styrofoam, cara penyajian makan di Pasar Kakilangit sangat ramah lingkungan, yakni menggunakan perkakas tradisional, seperti mangkuk dari tempurung kelapa, piring dari anyaman rotan, alat makan dari bambu, hingga daun pisang untuk membungkus makanan yang dibawa pulang.

Bukan hanya sekadar mencicipi berbagai kuliner jadul yang khas saja, di Pasar Seni Kaki Langit wisatawan juga bisa menikmati kesenian khas Desa Wisata tersebut. Salah satu kesenian yang khas adalah Gejog Lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu Desa Wisata Kakilangit dengan pakaian lurik.

Gejog Lesung adalah penampilan memukulkan alu, semacam tongkat dari kayu, ke dalam lesung, alat menumbuk padi yang berbentuk seperti perahu. Karena dipukul secara beriringan, bertemunya alu dan lesung menghasilkan suara berirama yang asyik ketika didengar.

Gejog Lesung Kaki Langit Kemenparekraf
Gejok Lesung yang dimainkan ibu-ibu setempat. Foto: Kemenparekraf

Selain Gejog Lesung, masih ada berbagai pertunjukan seni dan budaya yang tidak kalah menarik. Seperti Cokean, Tarian Budi Astuti, Tarian Gambyong, hingga Karawitan yang kerap dipentaskan di Pasar Seni ini setiap Sabtu dan Minggu.

Pasar Seni Kaki Langit juga dilengkapi dengan berbagai permainan tradisional anak-anak yang mungkin sudah jarang ditemui, seperti gangsing, miniatur mobil dari kayu, hingga ketapel. Kemudian, wisatawan juga bisa mencoba membuat jamu tradisional di Pasar Kakilangit. Sebagai oleh-oleh, wisatawan juga bisa membeli produk ekonomi kreatif hasil karya masyarakat sekitar.

Selain ada Pasar Kaki Langit, di Desa Wisata ini wisatawan juga bisa melakukan berbagai aktivitas seru lainnya. Seperti berkeliling Desa Wisata Kakilangit menggunakan jeep. Atau jika ingin menginap bisa mengunjungi “Atap Langit” yang menyediakan homestay dengan limasan dan joglo khas Yogyakarta.

Kemudian, ada pula “Langit Terjal” tempat yang cocok bagi pecinta wisata adrenalin yang menantang, dan “Langit Ilalang” untuk wisata outbound atau jelajah alam. Menaik kan? Ayo agendakan bermain ke Desa Wisata Kaki Langit, Bantul.

agendaIndonesia

*****

3 Serangkai Palembang: Ampera, Musi, dan Benteng Kuto Besak

Liburan ke Palembang selama 3 hari 2 malam banyak di sekitar sungai Musi.

3 serangkai Palembang, yakni jembatan Ampera, Sungai Musi, dan Benteng Kuto Besak menjadi ikon pariwisata ibukota Sumatera Selatan. Ditambahkan kulinarinya, ia menjadi perjalanan yang menentramkan hati.

3 Serangkai Palembang

Bayangan menikmati Sungai Musi sembari menyeruput kuah pindang sudah terbayang ketika check in di bandara Sukarno Hatta, Tangerang. Penerbangan yang tergolong pendek dari Ibu Kota negeri untuk bisa menjejakkan kaki di wilayah yang dulu merupakan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 ini.

Hanya mengudara tak sampai 60 menit, maka Sungai Musi, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan tentunya sederet hidangan khasnya, bisa mengisi liburan. Ketiga hal memang menjadi tiga serangkai yang lekat dengan Palembang, Sumatera Selatan. Ketiganya berada saling berdekatan.

Begitu menjejakan kaki di Palembang, pengemudi taksi, setelah bertanya tujuan utama, langsung menawari rute perjalanan menyeberangi jembatan Ampera. Jika tak terburu-buru, tawaran ini layak disambut.

Berada di pusat kota, Jembatan Ampera memang menjadi ikon kota ini. Bahkan pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Penghubung dua sisi kota itu menyimpan sejarah, karena merupakan hadiah dari Presiden Sukarno untuk masyarakat Palembang. Jembatan yang dibangun pada 1962 dan diresmikan pada 1965 tersebut menggunakan dana hasil pampasan perang Jepang. Berciri warna merah dan memunculkan kerlip keindahan lampu di malam hari.

Berdiam di tepian Sungai Musi memandang jembatan ini menjadi kenangan indah selama di kota tersebut. Apalagi bila menjajal menyusuri Sungai Musi dengan perahu, melihat kesibukan masyarakat di sepanjang tepiannya. Anak-anak yang bermain menikmati sore di Kampung Kapiten, kesibukan umat muslim di masjid yang juga berada di tepian sungai. Sebuah kenikmatan senja yang mengasyikkan dari sini.

Ada pilihan menarik sambil menikmati sore di Sungai Musi, yakni menikmati hidangan di atas rumah makan terapung. Tentunya dengan hidangan khas berupa beragam pindang ikan yang rasanya segar.

Bila ingin hidangan tanpa nasi tapi tetap khas setempat dengan bahan-bahan ikan penghuni sungai, tentunya ada pilihan lain. Apalagi kalau bukan pempek, dan kawan-kawannya. Bisa dengan mudah ditemukan dari pedagang keliling hingga berbagai rumah makan. Pempek dan rekan-rekannya saja sudah cukup banyak pilihan, belum lagi olahan dari ikan lainnya, seperti burgo, laksa, dan celimpungan. Selain itu, ada mi celor yang gurih tapi menggoda. Soal perut, sudah pasti akan terpuaskan selama berlibur di kota ini.

Tak jauh dari Sungai Musi, jangan lupa juga menengok Benteng Kuto Besak yang dulu menjadi pusat Kesultanan Palembang Darussalam, yang diprakarasi oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Benteng ini dibangun pada 1780 dan menjadi saksi perlawanan masyarakat Sumatera Selatan pada masa penjajahan Belanda. Di malam hari, permainan lampu dari benteng tersebut pun membuahkan keindahan tersendiri yang bisa dinikmati ketika berada di tepian Sungai Musi.

Palembang dan sekitarnya menjadi destinasi unggulan yang dijual dalam paket pemasaran pariwisata Indonesia. Ia bergandengan dengan enam destinasi lainnya (Jakarta, Jakarta dan sekitarnya, Palembang dan Sumatera Selatan, Bali, Pulau Komodo, serta Banyuwangi).

Selain kawasan Musi yang biasanya menjadi pilihan utama jalan-jalan, ada destinasi lain yang ditawarkan Palembang, yakni Pasar 26 Ilir. Buat para pemburu kuliner, pasar ini dikenal sebagai sentra makan-makan. Sebuah pasar yang merupakan pusat souvenir dan makanan sehingga wisatawan yang berkunjung ke Palembang dapat dengan mudah membeli oleh-oleh dan mengisi perut.

3 serangkai Palembang, yang layak dicoba pempek Lala di pasar Ilir palembang

Posisinya, lagi-lagi, tak jauh dari Jembatan Ampera, jembatan yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang terpisahkan oleh Sungai Musi. Lokasi pasarnya sesungguhnya tak jauh  dari jembatan, mungkin sekitar 500–an meter, namun jika menggunakan kendaraan roda empat, lalu lintasnya harus sedikit memutar.

Bila wisatawan hendak menyusuri pasar, ada beberapa rekomendasi jenis kuliner dan tempat makan terpopuler yang bisa dipilih. Setidaknya ada tiga pilihan makanan di pasar tersebut: pempek, mi celor, dan es kacang merah.

Pertama, tentu saja, pempek. Jika pengunjung tak fanatik dengan merek tertentu yang sudah kondang di Palembang, seperti Pempek Candy atau Pak Raden, Pasar 26 Ilir adalah sentra pempek. Sepanjang gang pasar itu terdapat penjual pempek. Salah satu yang populer adalah pempek Lala.

Pempek Lala terletak di bagian tengah gang Pasar 26 Ilir, tepatnya di Jalan Mujahidin nomor 23, Talang Semut, Palembang. Warung ini termasuk yang paling ramai saban harinya di antara warung-warung lainnya. Tempatnya tampak seperti bangunan sederhana, meja-kursinya adalah meja-kursi panjang yang terbuat dari kayu. Namun selalu penuh dari pagi sampai sore hari.

3 serangkai Palembang dan menikmati kuliner pempek Lala
Wisata Palembang ke Pasar Ilir dan menikmati pempek Lala.

Pengunjung yang ingin menikmati kuliner pempek Lala harus sabar mengantre. Kadang-kadang antreannya bisa sampai 30 menit. Keunggulan pempek Lala adalah cukonya yang kental dan sangat khas aroma ikannya. Harganya pun murah. Sebutir pempek dibanderol Rp 2.000-an. Bila ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, terutama pada masa-masa liburan, sebaiknya pengunjung memesan dulu sehari sebelumnya. Bila langsung datang, mereka umumnya akan kehabisan kardus untuk pengepakan pempek.

Ada pempek, pasti ada es kacang merah. Es ini selalu menjadi teman santap yang cocok bagi penganan berkuah cuko tersebut. Maka itu, di semua warung pempek di Palembang, termasuk Pasar 26 Ilir, pasti tersedia es kacang merah.

Es kacang merah sebenarnya seperti es campur. Hanya, tak ada buah-buahan dalam mangkuk es tersebut. Semua isinya adalah kacang merah. Sedangkan manisnya es kacang merah berasal dari sirup dan susu kental manis. Es kacang merah di hampir seluruh warung di Pasar 26 Ilir dibanderol dengan harga yang sama, yakni Rp 7.500.

Makanan ke tiga yang harus dicoba adalah mi celor. Mi celor menjadi salah satu kuliner idaman para wisatawan saat mengunjungi Palembang. Mi ini biasa disantap untuk sarapan dan makan siang. Di Pasar 26 Ilir, mi celor pun jadi primadona selain pempek dan es kacang merah.

Mi celor merupakan mi kuning dengan kuah santan dicampur dengan kaldu yang kental. Mi kuning yang digunakan untuk memasaknya adalah mi khusus dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan mi pada umumnya. Mirip penampakannya dengan mi Aceh.

Mi celor dimasak dengan kuah susu. Penyajiannya pun hanya dengan telur rebus dan suwiran ayam. Namun rasanya teramat gurih. Kuliner ini bisa dijumpai di warung HM Syafei di kompleks Jalan Mujahidin, Pasar 26 Ilir.

Lain kali agendaindonesia akan cerita soal pempek, tapi sudah pernahkan Anda berkunjung ke Palembang?

F. Rosana

Petualangan Di Tangkahan Dengan Fauna Seberat 2700 Kilo

Petualangan di Tangkahan dengan Naik Gajah

Petualangan di Tangkahan dengan fauna seberat 2700 kilogram bisa menjadi semacam perjalanan safari ala Indonesia. Bermain dengan gajah, dan tubing di tengah hutan.

Petualangan Di Tangkahan

Gajah sudah benar-benar ada di depan mata. Ehmmm… bukan di seberang lautan seperti peribahasa. Dengan berat sekitar 2.700 kilogram, gajah itu terlihat begitu jelas. Sekelompok hewan dengan kuping lebar itu tengah mengunyah rumput di halaman kantor Conservation Response Unit di Tangkahan, Langkat, Sumatera Utara.

Seketika lupa perjalanan kemarin sore selama tiga jam dengan jarak 98 kilometer dari Medan. Perjalanan yang meletihkan, sekaligus penuh kebingungan. Bagaimana tidak, ada jalur panjang di tengah kebun kelapa sawit dengan debu beterbangan. Sejenak tak ingat pula, malam penuh kegelapan di homestay Bamboo River. Belum lagi suara-suara binatang di hutan yang begitu nyaring. Salah satunya mungkin orangutan atau monyet ekor panjang.

Area untuk konservasi gajah itu memang sudah dikembangkan menjadi Kawasan Ekowisata Tangkahan. Berada di salah satu sisi Taman Nasional Gunung Leuseur, ada banyak aktivitas yang bisa dijalani. Pagi hari, memandikan gajah tentunya bisa jadi pilihan. Setelah menyeberangi jembatan gantung di atas Sungai Batang Serangan, saya bergabung dengan para mahout atau pelatih gajah. Ada tujuh gajah yang dimandikan pagi itu. Kelompok gajah yang digunakan untuk patroli hutan tersebut mempunyai jadwal mandi dua kali, pukul 08.00 dan pukul 16.00.

Bukan hal yang mudah membawa hewan superberat itu dari kantor Conservation Response Unit turun ke sungai. Namun, manakala sudah masuk ke air, suara kecipak air terdengar tak berhenti-henti. Para mahout membersihkan badan gajah dengan sikat hingga bersih. Bahkan hingga menguras kotorannya dari bagian dubur di tepian sungai hingga tak mengotori sungai. Sungai menjadi sumber air bagi masyarakat Desa Sei Serdan dan Namo Sialang yang tinggal di sekitar Sungai Batang Serangan dan Buluh.

petualangan di Tangkahan dengan Gajah gajah

Saya merasakan keriangan bermain air, hingga tak lama saatnya para gajah yang tengah menyemburkan air itu harus beranjak. Giliran saya mencoba menaiki salah satunya dan membawanya ke tempatnya berkumpul sebelum melakukan patroli. Wooow, saya terguncang-guncang perlahan. Perjalanan singkat yang menyenangkan.

Berikutnya, giliran turis-turis asing yang ikut berkeliling hutan dengan para mahout. Mereka memilih tur dengan gajah. Ada paket pendek hanya sekitar satu hingga tiga jam. Ada pula hingga menginap di hutan yang berlangsung tiga hari. Saya lebih memilih trekking setengah hari di dalam hutan. Seusai sarapan, perjalanan ditemani dua pemandu pun dimulai. Kedua pemuda setempat itu membawa ban dalam untuk tubing untuk perjalanan pulang.

Saya tak membayangkan perjalanan yang akan dilalui. Jadilah semua yang ditemui menjadi sederet kejutan. Jalan perlahan menanjak, kemudian menyeberangi sungai, melalui pohon-pohon karet, sejumlah tanaman obat, bertemu dengan babi, dikelilingi pacet yang menyelip di antara jari-jari kaki, juga menempel di tengkuk. Hmmm… yang terakhir ini malah baru saya temukan setelah kembali dari perjalanan.

Terbanyak tentunya hewan kecil itu mendekam di sekitar jari-jari kaki, seakan minta diajak menjelajah sisi lain taman nasional ini. Bagian lain yang menjadikan perjalanan kali ini sebuah petualangan tentu saja masuk ke gua kelelawar. Di sepanjang gua, saya harus berjalan dengan berjongkok. Gua terasa lembap, dan ada aroma khas begitu kuat tercium. Hewan malam itu tergantung di langit-langit gua. Penyusuran berakhir setelah saya menemukan sebersit cahaya yang kemudian membesar. Saya keluar dari gua dan dihadapkan pada sebuah sungai. Luar biasa!

Setelah hilang rasa kaget sekaligus heran, saya turun ke sungai. Ajakan berendam di air panas di seberang sungai tak saya tolak. Rupanya di seberang ada gua kecil yang memiliki mata air panas. Setelah rasa air dingin, saya langsung merasakan kehangatan. Duduk manis di air hangat yang jernih, saya benar-benar menikmatinya. Tak lama, sang pemandu memanggil, ban-ban sudah tersambung. Barang pun sudah dikemas dan dibalut plastik. Saatnya mengalun mengikuti aliran sungai. Kupu-kupu warna-warni di tepi sungai hinggap sejenak di tangan, dan suara burung nan nyaring seperti ingin mengucapkan selamat jalan.

Tak perlu lagi melangkah menyusuri bukit. Bokong saya benamkan di tengah ban, sementara kedua kaki di luar menahan badan. Saatnya meluncur, wrrr… dinginnya air sungai mulai merendam sebagian badan. Sungai cukup lebar, antara 8-10 meter, tapi tak membuat saya cemas karena arusnya tergolong tenang. Apalagi semakin jauh mengalun, sungai semakin datar. Aha, rupanya aksi tubing saya berakhir di tempat pemandian gajah tadi pagi.

Sang pemandu menarik ban ke tepian, saya pun segera turun. Lalu melangkah ke warung untuk mengisi perut. Menjelang sore, saatnya kembali ke penginapan untuk membasuh badan yang penuh keringat, juga kotoran kelelawar, tanah, dan tentu saja pacet yang menempel di tengkuk. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Penerbangan yang harus diambil tentunya menuju Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ada banyak maskapai yang melayani rute dengan penerbangan 2 jam 20 menit ini, seperti Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Kemudian, lanjutkan dengan perjalanan darat sekitar empat jam atau berjarak 143 kilometer dari Kualanamu menuju pusat konservasi gajah di Tangkahan, Langkat.

Catatan Kecil

1. Konservasi Gajah. Berjarak sekitar98-100 kilometer dari Medan,kawasan ekowisata Tangkahan ini merupakan tempat konservasi gajah. Karena itu, saat datang, pengunjung harus lapor terlebih dulu ke Visitor Center. Kawasan Ekowisata Tangkahan dikelola Lembaga Pariwisata Tangkahan.

2. Homestay sederhana. Tidak ada akomodasi mewah di sini. Kebanyakan berupa homestay sederhana dengan tarif Rp 100-350 ribu per malam. Baik akomodasi maupun paket tur dikelola masyarakat di bawah Community Tour Operator.

3. Bermalam. Bukan liburan yang bisa dilakoni dalam waktu singkat. Jadi Anda tentu saja harus bermalam, luangkan setidaknya dua hari semalam.

4. Perlengkapan. Berada di lingkungan hutan, siapkan losion antinyamuk, jas hujan, dan sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki.

Aktivitas

1. Trekking. Menyusuri bukit, masuk ke gua kelelawar, menuju air terjun, hingga tubing. Bisa pilih paket pendek sekitar dua jam hingga perjalanan setengah hari selama tujuh jam.

2. Menginap di Gua Kambing. Tersedia juga paket trekking dengan menginap di Gua Kambing.

3. Tur gajah. Menaiki gajah menuju sisi hutan terdekat hingga bermalam dan tiba di Bukit Lawang, Bahorok, di sisi lain taman nasional ini. Bukit Lawang merupakan konservasi orangutan. Paket dari tiga jam hingga tiga hari.

Rita N./Toni H/Dok TL

Kampung Adat Cireundeu, Singkong Sejak 1918

Kampung adat Cireundeu di Cimahi mempertahankan tradisi leluhur.

Kampung adat Cireundeu mirip dengan desa-desa adat lain di Jawa Barat. Perkembangan peradaban mendorong bergesernya fungsi kebutuhan primer. Bahan makanan menjadi komoditas dan rumah menjadi instrumen investasi. Di tengah laju modernitas itu, sejumlah daerah di Jawa Barat masih mempertahankan pola kehidupan tradisional. Masyarakat adat ini teguh memegang warisan leluhur untuk senantiasa hidup selaras dengan alam.

Kampung Adat Cireundeu

Sebagian besar warga kampung-kampung adat di provinsi ini menggantungkan mata pencaharian sebagai petani. Mereka menjaga kelestarian lingkungannya dengan menghindari produk-produk sintetis, seperti pupuk, plastik, obat, dan sabun dari bahan kimia. Dengan keunikan karakteristik ini, kampung adat justru menjadi magnet bagi orang-orang yang jenuh dengan aktivitas serba instan dan udara kota yang polutif.

Kampung adat Cireundeu berada di Kelurhan Leuwigajah, Cimahi Selatan, Jawa Barat.
Rumah Kampung adat Cireundeu. Foto: Dok. shutterstock

Kampung adat Cireundeu yang berada di kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Cimahi, Jawa Barat, agak berbeda dari kampung adat lainnya. Tanaman pertaniannya bukan padi, melainkan singkong. Masyarakatnya tidak mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, tetapi rasi, singkatan dari beras singkong.

Awalnya pada 1918, penduduk Kampung adat Cirendeu mulai berpindah pola makan, dari beras ke singkong. Ini terjadi sesudah penjajah menyita lahan padi mereka melalui pemberlakuan tanam paksa atau Cultuurstelsel.

Sesudah itu, mereka terus melanjutkan peralihan tersebut mengikuti arahan dari Haji Ali atau Mama Ali yang menjadi tokoh setempat sampai terjadi bencana alam pada sekitar 1920-an. Pada saat itu terjadi bencana kekeringan yang berdampak pada kebun dan sawah masyarakat Cireundeu. Keluarga Haji Ali pun mulai mengenalkan pemanfaatan singkong yang diolah jadi beras.

Kamp;ung Adat Cireundeu terkenal karena hanya mengkonsumsi beras singkong.
Beras singkong atau rasi produksi masyarakat Kampng adat Cireundeu. Foto: Javalane

Seluruh warga kampung tersebut diminta Haji Ali untuk menanam singkong. Hal itu karena singkong dapat bertahan dalam bermacam kondisi. Semenjak itu masyarakat kampung adat tersebut mulai berpindah dan mengganti nasi dengan rasi, yaitu beras singkong untuk makanan utama mereka.

Sampai sekarang, secara turun temurun penduduk adat mengonsumsi singkong yang dinamakan dengan rasi untuk jadi pengganti makanan pokok. Cara pengolahan singkong dilakukan dengan cara digiling, kemudian diendapkan lalu disaring sehingga menghasilkan aci atau sagu.

Ampas dari olahan tersebut kemudian dikeringkan serta dibuat jadi rasi atau beras singkong. Selain itu, singkong juga diolah jadi bermacam camilan seperti opak, cireng, bolu, atau simping, bahkan jadi dendeng kulit singkong yang dijual sebagai oleh-oleh sesudah dikemas. Rasa kenyang karena mengkonsumsi singkong lebih lama daripada padi. Karenanya penduduk kampung adat ini hanya makan dua kali sehari.

Kampung adat Cireundeu dikelilingi sejumlah gunung, seperti Gunung Cimenteng, Gunung Gajahlangu atau Gunung Kunci.
Warga kampung adat Cireundeu mengolah singkong jadi bahan panganan. Foto: Dok. Javalane

Kampung adat Cireundeu berada di tempat yang sekelilingnya tertutup oleh gunung, lokasi tepatnya berada di lembah Gunung Cimenteng, Gunung Gajahlangu, dan Gunung Kunci.

Nama Kampung Cireundeu ternyata berasal dari nama pohon, yaitu “pohon reundeu”. Pohon ini banyak ditemui tumbuh di sekitar daerah tersebut dan diyakini tanaman tersebut mempunyai khasiat jadi tanaman herbal yang dapat digunakan untuk penyembuhan banyak penyakit.

Mereka memegang teguh warisan tradisi leluhur yang mengakar kuat. Sebagian besar penduduk Cirendeu tak suka merantau serta berpisah dengan sanak saudaranya. Kampung ini dihuni oleh 65 kepala keluarga yang sebagian besar bermata mata pencahariannya sebagai petani singkong. Luas Kampung Adat tersebut sekitar 64 hektare, yang sekitar 60 hektarenya diperuntukan bagi pertanian dan sisanya menjadi pemukiman.

Demi kelestarian alam, penduduk membagi hutan menjadi tiga bagian, yaitu leuweung larangan (hutan larangan), leuweung tutupan (hutan reboisasi), dan leuweung baladahan (hutan pertanian). Leuweung Larangan atau hutan larangan yakni hutan yang pepohonannya tak boleh ditebang karena pohon-pohon tersebut berfungsi sebagai penyimpanan air khususnya bagi penduduk Kampung adat Cireundeu.

Leuweung Tutupan atau hutan reboisasi yakni hutan yang dipakai untuk reboisasi. Pepohonan di hutan ini bisa atau boleh dipergunakan, tapi penduduk harus mengganti pohon lama dengan menanam pohon yang baru.

Leuweung Baladahan atau hutan pertanian, yakni hutan yang bisa digunakan oleh masyarakat setempat untuk berkebun. Biasanya lahan tersebut ditanami dengan jagung, singkong atau ketela, kacang tanah, dan umbi-umbian.

Masyarakat adat di Kampung Cireundeu kebutuhan airnya didapatkan dari mata air yang berada di lereng Gunung Gajahlangu. Mata airnya bernama Caringin. Tak hanya Caringin, kampung ini juga mengandalkan mata air yang bernama Nyimas Ende.

Bagi perempuan yang sedang haid dilarang untuk mendekat ke area mata air ini agar lokasi mata air terjaga kesuciannya. Menurut kepercayaan penduduk setempat itu adalah kabuyutan atau hal yang dihormati sekali.

Salah satu hal yang juga terus dipertahankan masyarakat desa ini adalah prinsip hidupnya. Mereka memegang teguh “Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman. Artinya, senantiasa melestarikan cara, ciri, dan keyakinan masing-masing, tetapi tetap beradaptasi pada perubahan zaman. Misalnya, mengikuti perkembangan teknologi berupa listrik, televisi, atau ponsel. 

Jika berkunjung pada malam tahun baru Saka Sunda, yang biasanya jatuh pada bulan Oktober, wisatawan akan berkesempatan menyaksikan Upacara Syura-an yang dirayakan sebagai rasa syukur atas rahmat Tuhan. Para pemuka adat, warga, dan pemerintah kota akan datang dan turut meramaikan acara adat tersebut.

agendaIndonesia

*****

Banda Neira Maluku, 500 Tahun Sejarah Kita

Banda Neira Maluku merukan surga di timur Indonesia. Foto: shuttertock

Banda Neira Maluku ratusan tahun menjadi saksi dan lokasi sejarah perebutan kekuasaan bangsa-bangsa Eropa di Asia. Bangsa Inggris, Belanda, dan Portugis, juga Jepang saling sikut untuk menguasai kepulauan ini. Itu bahkan berlangsung sejak 1529.

Banda Neira Maluku

Banda Neira merupakan salah satu dari sepuluh pulau vulkanik di Kepulauan Banda, Provinsi Maluku. Di balik keindahan alamnya, Banda Neira Maluku pernah menjadi daerah penghasil rempah pala satu-satunya di dunia. Sekitar 500 tahun lalu, nilai segenggam pala setara dengan segenggam emas.

Karena itu Banda Neira menjadi tempat pertama di nusantara yang dikuasai Belanda sebelum Batavia. Dan, seperti disebut di muka, Banda Neira Maluku sempat menjadi wilayah yang diperebutkan Inggris, Belanda, hingga warga lokal untuk mempertahankan wilayah.

Banda Neira Maluku menjadi perebutan bangsa-bangsa Eropa karena pala.
Istana Mini di Banda Neira Maluku. Foto: Dok. Kemendikbud

Akibatnya pada 1609 terjadilah perang yang melibatkan warga lokal yang dibantu Inggris untuk melawan Belanda. Pertikaian antara Belanda dan Inggris tidak kunjung berhenti. Bahkan saat akhirnya terjadilah pertukaran Pulau Run di Kepulauan Banda Neira yang ketika itu dikuasai Inggris, dengan Nieuw Amsterdam atau Pulau Manhattan di New York, Amerika Serikat milik Belanda. Ini semua demi memonopoli pala.

Di sisi lain sejarahnya, Banda Neira juga pernah menjadi tempat pengasingan sejumlah tokoh pergerakan Indonesia seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, Cipto Manukusumo, juga Iwa Kusumasumantri yang dilakukan oleh Belanda pada 1936. Sebelum akhirnya dua di antaranya Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Rumah Pengasingan Hatta-Syahrir di Sukabumi pada 1 Februari 1942 untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sungguh fakta sejarah yang menarik mengiringi keindahan Banda Neira. Lantas, bagaimana dengan keindahan alamnya? Digadang-gadang destinasi wisata Banda Neira Maluku merupakan surga di timur Indonesia sebagai kawasan yang menjanjikan.

Keindahan alam Banda Neira tidak perlu diragukan lagi. Sebagai surga di timur Indonesia, Banda Neira memiliki pemandangan alam eksotis dan masih terjaga hingga sekarang.

Tak hanya keindahan laut yang berkilauan mengelilingi setiap sudut Banda Neira. Namun juga terumbu karang dan kekayaan bawah laut, yang membuat Banda Neira menjadi tempat menyelam yang diakui secara internasional.

Belum lagi dengan adanya peninggalan situs bersejarah yang akan membawa kita mengenal lebih dalam keindahan Banda Neira sebagai daerah yang pernah diperebutkan bangsa Eropa.

Pulau Hatta

Terletak di ujung timur Kepulauan Banda, Pulau Hatta sebelumnya bernama Pulau Rozengain. Memiliki hamparan pasir putih yang terbentang luas dengan ombak yang tidak terlalu besar adalah keunggulannya.

Salah satu spot terbaik di Pulau Hatta ada di Kampung Lama. Daya tarik tempat wisata ini adalah taman laut yang indah, pantai yang bersih, hingga adat istiadat yang masih terjaga dengan baik.

Keindahan bawah laut adalah juaranya, karena terdapat berbagai jenis ikan dan terumbu karang yang masih terjaga. Satu lagi yang tak kalah menarik, Pulau Hatta sangat cocok untuk penikmat senja.

Pulau Pisang

Selanjutnya adalah Pulau Pisang, atau juga dikenal dengan Pulau Syahrir. Nama lain tersebut diberikan karena Pulau Pisang sering dikunjungi oleh Perdana Menteri pertama Indonesia tersebut.

Hanya perlu waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Pulau Neira, kita bisa langsung menikmati keindahan keindahan alam di Pulau Pisang yang juga menjadi surga para penyelam. Di bawah laut Pulau Pisang kita bisa bertemu gerombolan ikan dan biota laut yang indah di kedalaman rata-rata 18-25 meter.

Banda Neira Maluku pernah menjadi tempat pembuangan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia.
Lanskap Banda Neira antara gunung dan lautan biru, perpaduan yang luar biasa. Foto: shutterstock

Gunung Api Banda

Bukan di laut, spot wisata di Banda Neira Maluku selanjutnya adalah Gunung Api Banda. Gunung dengan nama asli Gunung Ganapus ini memiliki ketinggian 656 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Jika tertarik, puncak Gunung Ganapus bisa dicapai dalam waktu 3-4 jam saja. Jangan khawatir, saat tiba di puncak Gunung Ganapus rasa lelah akan langsung terbayar dengan melihat keindahan Banda Neira dari ketinggian yang dikelilingi hamparan hijau yang luas.

Bahkan di sini juga menjadi rumah bagi 23 jenis burung endemik. Menariknya, Gunung Ganapus juga memiliki spot menyelam yang cantik dan diakui dunia, yaitu Magma Flow.

Lava Flow

Berbeda dengan kedua pulau sebelumnya, Lava Flow memiliki pasir hitam dan terumbu karang yang diselingi oleh sisa-sisa reruntuhan Gunung Api Banda.

Jauh dari kata mengerikan, justru bekas letusan gunung berapi ini menghasilkan vegetasi bawah laut tumbuh dengan subur, rimbun, dan indah. Salah satu biota laut penghuni perairan Lava Flow adalah Lion Fish. Bahkan spot ini sering disebut sebagai “Temple of Lion Fish”

Uniknya, karena gunungnya masih aktif, maka sesekali ada uap panas yang merembes dari sela pasir hitam yang pekat. Bahkan, saat berenang air laut terasa lebih hangat dibandingkan biasanya.

Benteng Belgica Banda Neira
Dari Benteng Belgica orang bisa memantau kedatangan orang dan kapal dari laut. Foto: dok. shutterstock

Benteng Belgica

Tidak hanya pemandangan alam, Banda Neira juga menyimpan nilai sejarah penting bagi Indonesia. Terdapat situs sejarah Benteng Belgica yang menjadi ikon Banda Neira.

Bangunan berbentuk pentagonal ini ada di ketinggian 30 mdpl. Siapa sangka, ternyata bangunan yang berlokasi di Bukit Tabaleku Naira Tenggara, Pulau Neira, Maluku ini merupakan buatan bangsa Portugis pada abad ke-16.

agendaIndonesia/kemenparekraf-berbagai sumber

*****

Nostalgia Pasar Baru Dengan 4 Kulinernya

Nostalgia Pasar Baru dan menikmati kulinernya

Nostalgia Pasar Baru bisa dimulai dengan menjajal empat makanan yang dulu pernah menjadi hit orang Jakarta. Ayo sekali-kali main ke Pasar Baru di Jakarta Pusat, dan nikmati suguhan legendaris di pusat keramaian Jakarta tempo dulu.

Nostalgia Pasar Baru

Bakmi Kelinci

Gang Kelinci, tak hanya ngetop karena ada lagu lawas yang dibawakan penyanyi Lilis Surjani. Tapi juga dikenal karena ada rumah makan yang berdiri sejak 1957, dengan suguhan bakmi. Awalnya, hanya warung kecil dengan gerobak, kini menjadi restoran dengan daya tampung 140 orang dan memiliki delapan cabang di Jakarta.

Salah satu menu favorit, bakmi ayam cah jamur. Semangkuk bakmi kuning yang jumlahnya berlimpah, dipadu dengan suwiran ayam, jamur merang, dan caisim. Tentunya plus kuah dengan dua butir bakso. Kali pertama diseruput, rasa rempah-rempahnya sangat pekat. Sandy, kepala karyawan di Bakmi Gang Kelinci, menyebutkan, kekuatan sajian ini juga terletak pada bakso sapi yang mereka buat sendiri. “Tak pesan di luar, 100 persen isinya daging,” ujarnya. Ditambah pangsit goreng yang renyah. Semangkuk bakmi ayam cah jamur bakso dibanderol Rp 31.500. Jangan lupa memesan jus semangka yang pas disantap bersama hidangan yang gurih ini.

Bakmi Gang Kelinci (Pusat)

Jalan Kelinci Raya Nomor 1-3, Pasar Baru, Jakarta Pusat

Harga makanan Rp 25-40 ribu, minuman Rp 4-16 ribu.

Buka pukul 07.00-21.00

Bakmi Aboen

Tepat di samping Bakmi Gang Kelinci, ada jalan setapak yang hanya muat dilalui satu sepeda motor. Di ujung jalan, terdapat warung makan legendaris Bakmi Aboen. Dari luar, bangunannya khas Cina. Papan namanya berwarna kuning keemasan, terlihat menyala. Di atapnya terdapat patung katak hijau. Menurut warga sekitar, katak itu merepresentasikan kebaikan.

Ruang tak cukup besar, hingga tamu harus rela berbagi meja. Namun justru di sinilah asyiknya.

Para pengunjung mayoritas memesan bakmi non-halal. Namun saya tergoda bakmi ayam jamur—semangkuk mi, lengkap dengan cacahan daging ayam, sawi hijau, dan jamur merang. Ditambah pangsit rebus daging babi dengan tekstur yang kenyal. Semangkuk bakmi ayam dihargai Rp 25 ribu dan pangsit kuah setengah porsi (berisi lima) dibanderol Rp 15 ribu. Cocok disantap bersama es kelapa jeruk nan segar seharga Rp 21 ribu.

Bakmi Aboen

Belakang Kongsi Nomor 16, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Harga bakmi Rp 27.500-44 ribu.

Buka pukul 07.00-20.00 (Senin-Sabtu)

Pukul 07.00-17.30 (Minggu)

Nostalgia Pasar Baru dan nikmati kulinernya seperti Eskrim Tropik

Es Krim Tropik

Lelah menyusuri pertokoan, saatnya mencicipi es krim legendaris di RestoranTropik. Tak jauh dari gerbang utama Pasar Baru, menurut Mayti Imelda, anak Hartono—pendiri restoran— nama resto dipilih sesuai dengan iklim di Indonesia. Tak ada papan nama di depannya. “Papan namanya memang sedang kami lepas. Pelanggan sudah tahu karena restoran kami tak pernah berpindah tempat,” tutur Mayti. Tempat es krim legendaris ini hadir sejak 1950-an. Menu utamanya tutty frutty, es krim berbentuk balok yang bermuatan cokelat, moka, dan vanila. Sayangnya, sewaktu saya mampir, menu andalan itu sedang habis. Maklum, mereka membuatnya tak dalam jumlah besar. Hanya lima hari sekali Mayti dan dua saudaranya memproduksinya, berhubung tanpa menggunakan pengawet.

Alhasil, saya memesan combinasi, berupa tiga scoop es krim vanila, teh hijau, dan stroberi. Dipermanis dengan wafer cokelat dan buah kaleng. Teksturnya terasa lembut dengan stroberi yang kental. Manisnya pun tak berlebihan. “Ya, memang, karena susunya murni, langsung dari peternak sapi,” ujar Mayti. Bahan alami inilah yang membuat es krim gampang mencair. Hanya beberapa menit, bunga-bunga es berubah menjadi air susu, tapi tetap enak dinikmati. Sayangnya, rasa teh hijau dan vanilanya tak sekuat stroberi. Es krim combinasi dijual Rp 38 ribu, sedangkan satu scoop es krim plus buah dihargai Rp 28 ribu. Selain es krim, tersedia menu Indonesia dan Oriental, seperti cap cay dan gado-gado.

Restoran Tropik

Kompleks Pasar Baru 28A, Jakarta Pusat

Harga es krim Rp 18-38 ribu, harga makanan Rp 12-45 ribu

Buka pukul 10.00-20.00 (Senin-Sabtu) dan 10.00-16.00 (Minggu)

Cakue Ko Atek

Ada sebuah lapak mungil berukuran sekitar 2×4 meter bercat hijau yang ramai dikerumuni orang. Mereka sedang menunggui laki-laki berusia 60-an mengulur-ulur adonan tepung. “Sreeng…” begitu bunyinya kala Koh Atek, pemilik warung, mencelupkan adonan ke minyak panas. Yang satu ini memang tak terlalu lawas karena bisnis keluarga ini dimulai pada 1971. Tapi termasuk yang banyak diburu.

“Cakue ini rahasianya ada di kualitas tepung sama tarikannya. Sayangnya, belakangan ini kualitas tepung menurun. Padahal mereknya sama,” tutur Koh Atek. Saya kemudian mencicipi penganan yang dijual Rp 4.000 per buah itu. Kulitnya garing, tapi dalamnya basah dan empuk saat dikunyah. Ketika ditambahkan saus sambal, saya makin tahu kenapa cakue ini amat terkenal. Sausnya memang tak biasa, pedas, gurih, dan asin jadi satu. Cakue dijual dengan kue bantal. “Menurut tradisi Cina memang begitu, enggak boleh dipisah antara cakue dan kue bantal. Tidak elok namanya,” ucapnya.

Cakue dan Kue Bantal Koh Atek

Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Buka pukul 07.00-16.00

Harga cakue dan kue bantal Rp 4.000

F. Rosana/Charisma A./Dok. TL

Sei Sapi NTT, Daging Asap Jawara API 2020

Sei sapi NTT (Nusa Tenggara Timur) menjadi makanan tradisional dari Indonesia terpopular dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 yang diumumkan akhir Mei 202 lalu. Dalam puncak acara pengumuman para pemenang yang dipusatkan di Hotel Inaya Bay, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sejumlah potensi wisata di provinsi tersebut memenangi kategorinya.

Sei Sapi NTT

Anugerah Pesona Indonesia atau API 2020 merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diadakan untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus mendorong peran serta berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerah masing-masing. Sei sapi sendiri menang sebagai makanan tradisional terpopular.

Sei sapi sendiri merupakan salah satu sajian khas Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Rote Ndao. Dilansir dari situs resmi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ‘sei’ sendiri dalam bahasa Rote artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang. Daging ini kemudian diasapi dengan bara api. Biasanya kayu yang dipakai untuk asap apinya untuk memanggang adalah kayu pohon kesambi.

Sepanjang dua tiga tahun terakhir, popularitas masakan daging sei sapi meluas tidak saja di kawasan Nusa tenggara Timur, namun juga hingga Jakarta dan sejumlah kota lain di Indonesia. Ia langsung saja menjadi makanan berbahan sapi yang popular. Mulai menyusul popularitas rendang dan sate.

Lalu, kapan sesungguhnya sei sapi mulai dibuat oleh masyarakat NTT? Hingga saat ini belum ada penjelasan yang pasti mulai kapan pengolahan daging menjadi sei ini dimulai. Namun, diketahui jika sei merupakan teknik memasak tradisional yang dilakukan selama berhari-hari oleh suku Molo, masyarakat Kepulauan Timor, atau kini Nusa Tenggara Timur, khususnya wilayah pulau Timor Barat dan Timor Tengah Selatan. Suku Molo tinggal di Pegunungan Mutih, pulau Timor di wilayah Tengah Selatan.

Sei menggunakan teknik mematangkan daging dengan menggunakan arang yang diletakkan jauh dari tempat pemanggangannya. Jarak daeging dan bara api bisa mencapai dua meter. Tujuannnya, daging bisa masak tanpa ada aroma asap yang merasuk ke dalamnya.

Tungku untuk bara api posisinya terpisah dengan tempat mematangkan daging. Sementara bara api harus terus menyala tanpa dikipasi agar tidak menghasilkan asap. Supaya bara pada arang awet, Suku Molo menggunakan kayu kosambi yang tebal dan besar. Mereka juga menggunakan daun kosambi sebagai penutup daging agar matang sempurna. Daun kosambi berfungsi sebagai penahan panas saat daging sedang disei sekaligus menjaga rasa dan warna asli daging.

Awalnya, masyarakat setempat menggunakan daging babi hutan untuk membuat sei. Salah satu yang dikenal adalah sei babi dari Teunbaun, daerah yang terletak kurang lebih 40 kilometer dari Kupang.

sei sapi NTT keluar sebagai jawara pada Anugerah pesona Indonesia 2020 sebagai makanan terpopular.
Masakan berbahan sei sapi dari Nusa Tenggara Timur yang sudah dimasak bergaya kekinian. Foto: Dok. shutterstock

Seiring berjalannya waktu, masakan ini mengalami asimilasi. Masyarakat pendatang di NTT mengganti daging babi dengan daging sapi agar halal dan bisa dikonsumsi lebih banyak orang. Selain menggunakan daging sapi, kini bahan sei juga banyak yang menggunakan daging ayam hingga ikan.

Lewat proses seperti diceritakan di atas, daging sei punya keunikan tersendiri, selain aroma dan rasanya yang khas, pengolahan dengan cara tersebut membuat daya tahan dagingnya lebih lama. Dengan demikian, daging bisa awet disimpan lebih lama.
Sei yang asli diasap tanpa menggunakan garam. Alasannya, Suku Molo yang tinggal di wilayah pegunungan tidak mengenal garam. Garam dibawa orang pesisir. Untuk rasa, pada awalnya sei biasanya dihidangkan dengan sambal khas NTT yang disebut sambal luat, ini terdiri dari irisan bawang putih, bawang merah, dan cabai.


Secara otentik, sei sapi kian lezat jika disantap bersama jagung olahan khas Pulau Timor, yaitu jagung bose. Namun di restoran-restoran di perkotaan atau masakan sei yang sudah sampai pulau Jawa, sei dinikmati bersama nasi daun jeruk dan sambal luat. Bahkan tak sedikit restoran-restoran sei di Jawa yang mengolahnya menjadi masakan beraneka. Tertarik?

Jika kebetulan mampir di Kupang, NTT, dan ingin mencicipi sei sapi, berikut pilihannya. Bagi yang muslim, ada baiknya bertanya dulu soal pilihannya.

Sei Oom Bai; Desa Baun, 25 kilometer dari Kupang

Restoran Bambu Kuning; Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1, Kupang

Restoran Aroma, Jl. Shooping Center, Fatutuli, Kupang

agendaIndonesia

*****

Cabuk Rambak, Irisan Kupat Dalam 1 Pincuk

Cabuk Rambak menjadi kuliner Solo yang semakin langka. Foto: shutterstock

Cabuk rambak mungkin semakin dilupakan orang. Bagi kebanyakan orang, kuliner ini mungkin begitu sederhana: irisan ketupat tipis-tipis yang diletakkan pada pincuk daun pisang dan disiram dengan saus kacang wijen.

Cabuk Rambak

Bagi mereka yang sering menikmati masakan-masakan tradisional dengan resep-resep yang cukup rumit, cabuk rambak praktis bukan pilihan utama. Ia bahkan lebih sederhana dibandingkan dengan ketupat tahu di Magelang atau ketupat opor.

Namun, cabuk rambak punya ikatan sejarah yang panjang dengan masyarakat kota Solo. Dari cerita sejumlah pedagang makanan ini yang juga semakin sedikit, cabuk rambak berawal dari kuliner di dalam Kraton Surakarta. Awalnya ini adalah makanan sela yang ringan, namun cukup untuk mengisi perut.

Dulu sekali, makanan ini dijajakan ketika berlangsung Sekaten di alun-alun Kraton. Ada pedagang yang berjualan khusus ini selama sebulan, lantas menghilang ketika Sekaten selesai.

Bisa jadi karena kesederhanaan tampilan dan cara membuatnya, membuat makanan ini tidak cukup popular untuk masyarakat luar Solo. Kalah pamor dibandingkan dengan selat Solo, sate buntel, atau thengkleng kambing.

Makanan tradisional ini memang tergolong mulai langka di Kota Solo. Hanya di tempat-tempat kuliner maupun dipasar-pasar tradisional yang akan dapat pengunjung jumpai makanan ini.

Nama cambuk rambak memang terdengar sedikit aneh, bumbu dan bahan yang digunakan juga cukup unik. Penyajiannya, seperti disebut di muka,  memiliki ciri khas sendiri, yaitu menggunakan daun pisang yang dibentuk atau lebih sering dikenal dengan nama pincuk. Satu porsi makanan ini berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat.

Cabuk Rambak berasal dari kata “Cabuk” dan “Rambak”. Cabuk mengacu pada wijen yang merupakan bahan u2782tama saus atau bumbunya. Sedangkan Rambak sejatinya adalah krupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.

Pada awalnya, dulunya cabuk rambak ini memang dihidangkan bersama krupuk kulit atau rambak. Namun, karena harga rambak semakin mahal maka krupuk kulit ini diganti dengan krupuk nasi (karak) yang kemudian krupuk nasi ini juga disebut dengan nama “Rambak”.

Satu porsi cabuk rambak berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat, terbuat dari wijen dan parutan kelapa yang disangrai. Rasa cabuknya sendiri cenderung gurih.

Saos  wijen atau yang disebut dengan cabuk adalah campuran dari wijen yang disangrai serta kelapa muda yang diparut. Kedua bahan itu dimasak dengan ditambah bumbu yang dihaluskan, yaitu daun jeruk purut, bawang putih, kemiri, kencur, lada bubuk serta gula dan garam. Cara memasak saos tersebut dengan menambahkan air dan mengaduknya hingga saos mengental.

Cabuk artinya ampas wijen yang telah diambil minyaknya. Akan tetapi cabuk yang digunakan saat ini sebagai saos adalah wijen utuh tanpa diambil minyaknya terlebih dahulu. Ini karena saat ini sudah jarang orang yang membuat minyak wijen secara tradisional sehingga cukup sulit mencari ampas wijen.

Saat berkunjung ke Solo, wisatawan wajib mencicipi kuliner tradisional yang makin susah ditemui ini. Umumnya, cabuk rambak bisa ditemukan di penjual nasi liwet. Buat penjajanya sendiri, mungkin perlu ada modifikasi dari resepnya. Misalnya, ada tambahan telur pindang atau irisan tahu dan tempe bacem. Ini agar cabuk rambak tak berhenti menjadi pilihan kuliner saat wisatawan mampir ke Solo.

Bila ada yang berkunjung ke Solo dan ingin mencicipi masakan tradisional ini, cobalah menujulah kami ke kawasan Jalan Yos Sudarso. Menjelang malam, penjual nasi liwet dan cabuk rambak berjejeran di sepanjang jalan ini.

DI sana pengunjung bisa juga datang ke Bu Parni Nasi Liwet Dan Cabuk Rambak. Tempat ini buka mulai jam 5 sore hingga lewat tengah malam. Berada di emper jalan, tempatnya biasanya selalu penuh terutama jika akhir pekan. Jika tidak terlalu ingin menikmati malam, bisa beli dibungkus dan dinikmati di penginapan atau hotel.

Tempat lain yang juga menjual cabuk rambak adalah Warung Lesehan Cabuk Rambak Bu Tuminah. Lokasinya di Jalan Menteri Supeno, Stadion Manahan, dan buka mulai pagi menjelang siang. Sekitar pukul 11.

Pilihan lainnya adalah Cabuk Rambak Bu Sastro di Jalan Untung Suropati, Pasar Kliwon. Yang ini biasanya justru buka pada pagi hari. Sehingga cocok untuk sarapan sambal jalan-jalan pagi.




agendaIndonesia

*****

Tari Topeng Cirebon, 5 Jenis Yang Unik

Tari Topeng Cirebon merupakan kesenian yang pernah dipakai untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.

Tari topeng Cirebon merupakan salah satu kesenian asli daerah di pesisir utara Jawa Barat. Dan sesuai namanya, tarian ini dimainkan dengan mengenakan topeng atau kedok sebagai aksesoris utama. Topeng-topeng yang dipergunakan ini merupakan simbol-simbol dari karakter yang dimainkan dalam tarian tersebut.

Tari Topeng Cirebon

Tari topeng tidak hanya menyuguhkan keindahan dalam gerak, namun juga sarat akan aneka simbol yang penuh makna. Simbol-simbol ini direpresentasikan dalam bentuk topeng, jumlah topeng, hingga jumlah gamelan pengiringnya.

Masing-masing topeng memiliki makna yang disampaikan dalam setiap tari topeng. Ini meliputi nilai kepemimpinan, cinta, dan kebijakan yang disampaikan melalui media tari.

Tari topeng Cirebon memiliki akar pada kesenian di daerah lain di sekitar wilayah tersebut. Ini meliputi tari-tari topeng dari Subang, Indramayu, Majalengka, Jatibarang, hingga Brebes. Sampai saat ini masih belum diketahui pasti pencipta dari tarian ini. Pasalnya ada banyak versi cerita yang kerap dianggap sebagai asal usul tarian topeng.

Tari Topeng Cirebon awalnya hanya dipentaskan di dalam kraton Cirebon. Kraton asepuhan Cirebon.
Kraton Kasepuhan Cirebon. Foto: Dok. TL

Salah satu versi cerita yang paling terkenal adalah tari topeng dibuat pertama kali pada zaman Majapahit. Pasca runtuhnya kerajaan terbesar di Nusantara tersebut, tari topeng dipertahankan oleh Kesultanan Demak. Lalu menyebar ke wilayah Cirebon yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak.

Meski saat ini tari topeng menyebar di berbagai kalangan di Cirebon, namun awalnya tidak demikian. Tari topeng masih menjadi tarian eksklusif di dalam Keraton saja. Hingga suatu ketika raja-raja Cirebon tak memiliki dana memelihara semua kesenian Keraton.

Akibatnya para penari dan penabuh gamelan mencari sumber pendapatan di luar Keraton. Dan akhirnya tarian ini menyebar menjadi kesenian rakyat hingga ke pelosok-pelosok Cirebon.

Setelah Islam masuk pada masa Sunan Gunung Jati, tepatnya pada 1470, Cirebon kemudian dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Pada masa itu tari topeng Cirebon pun dipergunakan sebagai media untuk mengenalkan agama Islam bersama dengan seni pertunjukan lain.

Setiap tari topeng Cirebon menggunakan jenis topeng yang berbeda-beda, setidaknya ada lima jenis topeng yang umum dipentaskan. Ke lima jenis topeng itu dikenal dengan nama Panca Wanda, yakni masing-masing topeng Kelana, Tumenggung, Rumyang, Samba, dan Panji.

Tari Topeng Cirebon shutterstock
Warna topeng mencermikan sifat dan sikap lakon yang dijalani penarinya. Foto: dok shutterstock

Tiap detail dari tari topeng memiliki nilai filosofis tersendiri. Nilai filosofis tersebut bisa dilihat dari karakteristik topengnya. Ini digambarkan melalui warna dari masing-masing topeng yang juga melambangkan siklus hidup manusia.

Misalnya, topeng panji yang memiliki wajah putih bersih memiliki makna suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Sedangkan topeng samba yang memiliki karakter anak-anak sebagai simbol keceriaan dan kelincahan.

Masa dewasa diwakili dengan topeng rumyang, gerakannya pun semakin mantap menunjukkan manusia yang mendekati kemapanan. Topeng temanggung menceritakan siklus kehidupan manusia yang telah menginjak masa kematangan dan kemapanan sempurna.

Sedangkan topeng kelana menggambarkan seseorang yang sedang marah. Biasanya, saat mengenakan topeng kelana gerakan yang akan dilakukan penari bercirikan gerak tubuh energik, lincah, dan bersemangat. Gerak tari topeng kelana menggambarkan seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah, dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.

Tari topeng Cirebon merupakan jenis tarian sakral yang membutuhkan ritual khusus sebelum mementaskannya. Menurut kepercayaan setempat, umumnya para penari akan melakukan puasa, pantang, hingga semedi sebelum melakukan tari topeng.

Bahkan sebelum melakukan pertunjukkan tari topeng, masyarakat percaya bahwa harus disediakan dua sesaji. Dalam sesaji yang pertama berisi bedak, sisir, dan cermin yang melambangkan perempuan. Sedangkan, sesaji yang kedua berisi cerutu dan rokok sebagai lambang lelaki. Ada juga bubur merah yang menjadi lambang manusia dan bubur putih sebagai lambang dunia atas.

Selain itu, tari topeng Cirebon tidak bisa dipisahkan dari gerakannya yang indah nan gemulai. Ciri khas tarian ini terletak pada gerakan tangan yang gemulai dengan diiringi musik gendang dan rebab yang mendominasi sepanjang pementasan.

Tari Topeng Cirebon pada zaman dahulu biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di blandongan atau tenda-tenda pesta atau di bale yakni panggung yang memakai obor sebagai penerangannya. Begitupun dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern juga dipertunjukan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya

Saat ini tari topeng Cirebon tidak hanya dipentaskan dalam hajatan di kampung-kampung saja. Tarian ini telah eksis hingga panggung mancanegara, seperti Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

agendaIndonesia

*****