3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Tahi Gejrot Wardi

3 menu sarapan di Pasar Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, ini terlihat biasa. Mungkin karena sebagian dari kita sudah biasa menikmatinya di kota asal. Mungkin di Jakarta. Atau kota lainnya. Tapi, selalu saja ada nuansa lain ketika menikmatinya di tempat makanan itu berasal. Originalitas, mungkin.

3 Menu Sarapan di Pasar Kanoman

Di kota Udang ini, banyak makanan khas yang selalu saja ngangeni jika lama tak disantap. Tapi kali ini kita tak bicara makanan besar, seperti layaknya empal gentong atau empal asem yang lebih asyik dimakan siang hari. Kuah yang panas dan sambal… hhff…

Kali ini kita menyambangi Cirebon untuk menikmati sarapan. Denyut kehidupan warga Cirebon, seperti juga di kota-kota lain di Indonesia bisa jadi bermula dari pasar-pasar tradisional. Makanan-makanan ndeso yang maknyus di banyak kota dan jadi klangenan umumnya memang ditemui di pasar tradisional. Di Cirebon, kita bisa menemukannya di pasar Kanoman. Dinamai demikian mungkin karena letaknya yang di depan Keraton Kanoman ini.

Dari sejarahnya, pada zaman Belanda sekitar abad 19, pasar ini dibangun oleh pemerintahan kolonial untuk menggembosi kekuasaan dan wibawa sultan. Para pedagang dari segala penjuru digiring ke pasar tersebut supaya keadaan makin ramai dan eksistensi keraton makin tenggelam. Dari latar cerita yang demikian, tak heran bila kini, di pasar itu terdapat beragam jejak peninggalan sejarah, termasuk kuliner, yang masih bertahan. Berikut 3 kuliner yang layak dicicipi jika mampir ke Pasar Kanoman.

Tahu Gejrot Wardi

Wardi menggelar tampah pikulnya di sudut Pasar Kanoman, tepat di pojok perempatan jalan menghadap ke arah Mall Cirebon. Tampah pikul itu berisi penuh tahu pong dan botol-botol air gula Jawa—disebut juga juruh. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 3.000 biji tahu dan puluhan botol juruh di sana. “Ini pasti habis dalam sehari,” kata pria 40-an itu, yang sedang sibuk membuat ulekan bawang merah dan cabai hijau—bumbu utama tahu gejrot. Bumbu itu ditaruhnya di piring tanah atau layah berkuran segenggaman tangan orang dewasa. Sepuluh biji tahu dimasukkan ke dalamnya, diiris-iris, lantas disirami juruh hingga tampak mengambang memenuhi piring.

Yang namanya tahu gejrot, kata Wardi, sudah mendarah daging buat orang Cirebon. Apalagi buat anak-anak muda. Penganan ini biasanya menjadi teman nongkrong sambil menyeruput teh. “Kalau Manado punya pisang goreng, kami punya tahu gejrot,” katanya.

Dua belas tahun sudah pria itu membuka lapak kecilnya di Pasar Kanoman. Setiap jam tampah pikulnya ramai dikerubuti pengunjung yang kelar belanja. Memang, tahu gejrot Wardi punya rasa yang khas. Apalagi, tak seperti penjaja tahu gejrot lain, Wardi tak memakai bawang putih untuk memberi rasa gurih pada racikannya. Cukup bawang merah dan cabai rawit hijau. “Kuncinya perbanyak bawang merah supaya rasa gurihnya lebih keluar,” tuturnya. Wardi menyediakan kemasan tahu gejrot bungkus buat pengunjung yang kepingin membawanya sebagai oleh-oleh.

Tahu Gejrot Wardi

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga Rp 10 ribu per porsi

Docang, Lontong dan Oncom Bertemu

francisca christy rosana docang 2
Kuliner Cirebon, Docang. Dok. Rosana

Pagi-pagi benar, orang-orang Cirebon gemar menyantap penganan ini untuk menu sarapan, selain nasi Jamblang. Penampakannya sangat sederhana. Dalam sepiring docang, hanya terdapat lontong, bodo atau baceman oncom, irisan daun singkong, tauge, dan kerupuk. Lantas, semua komplemen itu disiram dengan kuah rebusan oncom yang diproses dalam waktu 4-5 jam.

Dilihat sekilas, docang memang mirip dengan lontong sayur. Hanya, kuahnya lebih bening lantaran tidak menggunakan santan. Rasanya juga tak macam-macam karena tak kaya bumbu. Orang Jawa bilang, masakan ini cenderung tercecap anyep. Juga, ada rasa getir yang tersisa di lidah setelah sesuap docang masuk ke perut.

Kendati punya rasa dan penampakan yang sangat sederhana, docang memiliki jejak histori yang tak main-main. Makanan ini oleh warga setempat dipercaya sebagai penganan para wali zaman dulu. Racikan sederhana ini disesuaikan dengan kehidupan para penyebar agama yang penuh keprihatinan.

Docang mulai sulit ditemukan di Cirebon. Orang-orang setempat bilang, tak banyak yang bisa atau mau memasaknya. Di Pasar Kanoman, makanan ini hanya dapat ditemukan di depan deretan warung oleh-oleh di sebrang gapura utama.

Docang Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 12 ribu

Buka mulai pukul 06.00-10.00

Apem yang Tak Manis

Lain Jawa Tengah, lain lagi Jawa Barat. Lain bahasanya, lain pula karakter penganan daerahnya. Apem, misalnya. Jawa Tengah punya jajanan ini. Jawa Barat pun demikian. Sama bentuk dan penampakan luarnya. Bahan dasarnya juga tak jauh beda. Namun keduanya memiliki rasa yang berlainan. Di Jawa Barat, apem, yang umum dijual para penjaja penganan tradisional, punya rasa yang gurih dan cenderung asin. Berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki rasa manis.

Namun, kala bertandang ke Pasar Kanoman, perpaduan lidah Sunda dan Jawa justru tercitra dari makanan yang punya wujud bulat tersebut. Lantaran berada di wilayah pertemuan dua masyarakat dari kelompok yang berbeda ini, apem, sebagai makanan tradisional, pun terdampak akulturasi. Apem di Cirebon memiliki padanan rasa yang gurih bercampur manis. Manisnya berasal jadi air gula Jawa yang disiramkan di atasnya. Kala menyantap apem Cirebon, yang terbayang adalah pertemuan lidah Sunda dan Jawa dalam sebuah produk budaya.

Jajanan Pasar Kanoman

Alamat: Pasar Kanoman, Lemahwungkuk, Cirebon

Harga per porsi Rp 6.000

F. Rosana

Museum Geologi Bandung, Unik Sejak 1929

Museum Geologi Bandung menjadi salah satu ikon wisata di ibukota Jawa Barat.

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu objek wisata ibu kota Jawa Barat bagi mereka yang ingin belajar lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kebumian di Indonesia. Di museum ini terdapat beragam koleksi material geologi di Indonesia, seperti fosil, batuan dan sebagainya.

Museum Geologi Bandung

Berlokasi di jalan Diponegoro, museum ini berdekatan dengan dua landmark ikonik kota kembang lainnya, yakni Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Museum ini didirikan pada 16 Mei 1929, bertepatan dengan 4th Pacific Science Congress yang diadakan di Bandung kala itu.

Pembangunan dimulai sejak setahun sebelumnya, dengan gaya art deco yang diarsiteki H. M. van Schouwenburg. Awalnya, gedung ini dalam masa pendudukan Belanda diperuntukkan sebagai pusat penelitian geologi dan sumber daya mineral di Indonesia.

Museum Geologi Bandung awalnya merupakan Geologisch Laboratorium untuk penelitian geologi, mineral dan pertambangan.
Bagian depan Museum Geologi. Foto: Dok Wikimedia

Gedung ini lantas dinamakan Geologisch Laboratorium, dimana lembaga penelitian geologi, mineral dan pertambangan Belanda Dienst van den Mijnbouw bekerja. Tugasnya meliputi laporan serta pengumpulan contoh-contoh temuan seperti batuan, mineral dan fosil.

Setelahnya, dilakukan pemetaan, analisa dan penyimpanan temuan-temuan itu di gedung tersebut. Tujuannya untuk mengetahui lokasi-lokasi di tanah air yang sarat akan bahan tambang, serta dokumentasi akan kegiatan pertambangan tersebut.

Tampuk pengelolaan gedung ini pun turut berpindah-pindah dari masa ke masa. Saat Jepang mengambil alih, gedung ini sempat berganti nama dua kali menjadi Kogyo Zimusho dan Chishitsu Chosacho.

Pasca kemerdekaan, gedung ini kemudian dikelola oleh Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Pada perkembangannya, mereka sempat harus memindahkan pekerjaan beserta dokumen terkait di berbagai kota lain, lantaran upaya Belanda merebut kekuasaan kembali.

Setelah Indonesia mendapatkan kedaulatannya lagi, gedung tersebut kembali dioperasikan seperti semula. Kini fungsinya tak hanya sebagai pusat penelitian dan dokumentasi, namun juga sebagai sarana eksibisi dan edukasi kepada masyarakat umum tentang ragam ilmu kebumian.

Selain batuan mineral, Museum Geologi Bandung juga menampilkan sejumlah fosil yang ada di Indonesia.

Untuk meremajakan bangunan tersebut, pada 1999 dilakukan renovasi yang turut disponsori pemerintah Jepang lewat lembaganya Japanese International Cooperation Agency (JICA), yang mengurusi bantuan pembangunan pada negara-negara berkembang.

Setelah pengerjaan renovasi selesai, pada 23 Agustus 2000 Museum Geologi Bandung kembali dibuka untuk umum oleh wakil presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Museum kemudian dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga saat ini.

Secara mendasar, Museum Geologi Bandung adalah bangunan dua lantai yang masing-masing terdiri atas tiga ruangan utama. Ada tiga kategori utama yang dipertunjukkan di museum ini, yaitu sejarah geologi Indonesia, kemudian perkembangannya, serta fungsinya bagi kehidupan masyarakat.

Jika dirinci, museum ini menjadi rumah bagi 250 ribu jenis temuan batuan dan mineral, serta 60 ribu jenis temuan fosil. Selain memamerkan beragam koleksi tersebut, terdapat juga peragaan-peragaan yang dikemas dalam bentuk maket.

Masuk ke Museum Geologi Bandung, pengunjung akan menemukan pusat informasi terkait museum, serta relief peta Indonesia beserta detail geografisnya dan informasi terkait geologi yang dipertunjukkan dalam layar lebar dengan animasi.

Dari sini, pengunjung bisa memasuki area sayap barat atau sayap timur. Pada area sayap barat, dapat ditemukan koleksi batuan dan mineral, ditambah maket yang memperagakan lempeng tektonik di sekitar Indonesia, serta gunung berapi aktif dan contoh material vulkaniknya.

Sedangkan sayap timur memamerkan beragam koleksi temuan fosil dan artefak makhluk hidup di masa lalu. Contohnya kura-kura raksasa, gajah, badak dan ikan air tawar purba, serta tengkorak manusia purba yang ditemukan di lokasi seperti Trinil, Ngandong dan Sangiran.

Museum Geologi Bandung AntaraNews
Sejumlah koleksi fosil dan kerangka di Museum Geologi. Foto: Dok. Antaranews

Serta koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah kerangka serta cetakan kaki dari Tyrannosaurus Rex, salah satu dinosaurus karnivor paling terkenal. Selain itu, terdapat pula maket penjelasan mengenai proses pembentukan fosil dan minyak bumi.

Naik ke lantai dua, pengunjung akan disambut oleh maket pertambangan emas di area Pegunungan Tengah di Papua. Pertambangan emas ini disebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan konon bahkan salah satu yang terbesar di dunia.

Di sebelah maket tersebut, dapat ditemukan pula beberapa contoh batuan yang ditemukan di area pertambangan tersebut, yang disimpan di dalam lemari kaca. Tak jauh dari situ, terdapat pula miniatur peragaan alat pengeboran minyak dan gas alam.

Khusus di lantai dua, area sayap barat dikhususkan kepada staf museum saja. Namun, di area sayap timur, terdapat setidaknya 7 section yang memberi penjelasan tentang bagaimana aspek-aspek geologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Misalnya, di salah satu section dijelaskan tentang sebaran sumber daya mineral di Indonesia dan apa saja manfaat serta kegunaannya. Section lainnya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di tanah air.

Kemudian terdapat area yang menceritakan upaya pembudidayaan sumber daya mineral, baik secara tradisional maupun modern. Diperlihatkan pula barang-barang dari bahan mineral yang lazim dipakai sehari-hari, seperti sendok, garpu, panci, piring, cangkir, tabung gas dan lainnya.

Ada pula area yang memaparkan hal-hal terkait sumber daya air. Mulai dari apa saja kegunaan dan pemanfaatannya, serta apa saja yang bisa mempengaruhi kelestariannya dan cara-cara yang dapat dilakukan agar mampu membantu melestarikannya.

Area lain menjelaskan pengolahan atas beragam jenis komoditas mineral dan energi lainnya, serta beragam kegunaan dan manfaatnya. Tak lupa, dipaparkan pula bagaimana pentingnya mengelola sumber daya tersebut serta upaya-upayanya.

Serta dua section lainnya yang tak kalah penting adalah mengenai aspek geologi yang terkait dengan gunung berapi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Satu area menceritakan apa saja sisi positif yang dimiliki Indonesia dengan banyaknya gunung berapi aktif tersebut. Di sisi lain, area lainnya juga menjelaskan apa saja bahayanya dari segi potensi bencana alam dan cara-cara untuk mengantisipasinya.

Saat ini, Museum Geologi Bandung buka hampir setiap hari kecuali pada hari Senin, Jumat dan setiap hari libur nasional. Khusus untuk hari Senin, pengelola museum menawarkan layanan virtual tour yang diadakan lewat siaran langsung di Youtube, atau lewat live conference via Zoom.

Lain daripada itu, museum buka pada hari lainnya mulai dari jam 09.00 hingga jam 15.00 pada hari biasa, dan jam 14.00 pada akhir pekan. Untuk tiket masuk, dikenakan biaya Rp 3 ribu untuk umum, Rp 2 ribu untuk pelajar dan Rp 10 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pengadaan virtual tour dan hal-hal lain terkait Museum Geologi, dapat menghubungi (022) 7213822, atau lewat akun resmi Instagram @geomuzee.

Museum Geologi Bandung

Jl. Diponegoro no. 57, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P./Berbagai Sumber

*****

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi

Manado dalam 1 cangkir kopi, mungkin ini jarang dibayangkan orang tentang ibukota Sulawesi Utara itu. Kulinari Manado, tentu saja, dipersepsi banyak orang dari luar wilayah ini adalah masakan-masakan eksotis. Kita mungkin akan membayangkan Pasar Beriman Tomohon. Tapi, kopi?

Manado Dalam 1 Cangkir Kopi

Dalam beberapa tahu terakhir ini, sesungguhnya kota Manado mulai dibanjiri warung-warung kopi. Ini terjadi seiring dengan hadirnya tempat-tempat nongkrong anak muda di sana. Misalnya saja, di kawasan perekonomian Gunung Mas. Atau tempat yang sering disebut boulevard.

Ada yang warung kopi biasa, tapi tak kurang kafe-kafe kopi modern. Ini memunculkan kebiasaan atau coffee culture baru di sini. Bersosialisasi seraya mencecap secangkir kopi.

Gaya ini segera saja meluas ke belbagai kota di sekitar Manado, termasuk Tomohon. Di tanah yang dingin itu, kopi menjadi sahabat pergaulan.

Jika sempat mampir ke Manado, ada beberapa pilihan kedai kopi yang layak dikunjungi sambil menikmati kota Tinutuan ini.

Secangkir Kopi Para Egalitarian

Ada sebuah gang kecil bernama Jalan Roda bila pelancong menjejakkan langkah 500 meter dari Zero Point Manado. Namun, kalau tak teliti betul, Warung Jarod—begitulah warga sekitar biasa menyebut— yang terletak di area Pecinan, tidak bakal tampak. Sebab, muka gang dipenuhi oleh parkir kendaraan roda dua. Gang itu juga bukan jalan lalu lintas umum. Keberadaannya sudah disulap menjadi tempat nongkrong.

Tepat di badan gang, kursi-kursi plastik dan meja kayu ditata memanjang. Dari pangkal sampai ujung, kedai-kedai sederhana berdiri. Seluruhnya menjajakan kopi, juga pisang goreng sambal roa khas Negeri Celebes. Aroma khas biji kopi Kotamobagu yang sudah dihaluskan merebak memenuhi gang, mulai pukul 7 pagi hingga tengah malam.

Pengunjung yang datang tak terbatas pada kalangan tertentu. Pejabat, pegawai negeri sipil, anak muda, ibu rumah tangga, buruh kasar, dan pengangguran, semua terlibat dalam obrolan satu meja. Sembari meneguk kopi seharga Rp 6.000 yang nikmat, juga pisang goreng Rp 10 ribu per 20 biji, mereka riuh membicarakan isu-isu terhangat. Soal politik, ekonomi, budaya, hingga gosip para pemeran opera sabun. Warkop Jarod, nama bekennya, mencitrakan sebuah tempat ngopi yang egaliter: tak membedakan kelas, meleburkan semua status sosial.

Warkop Jarod

Alamat: Jalan Roda, Pinaesaan, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara

Kopi, Musik, dan Senandung Para Dara

Lain Warkop Jarod, lain pula Rumah Kopi Billy. Kafe sederhana yang sudah 5 tahun berdiri, dan berlokasi di Jalan Sam Ratulangi, Manado, itu jadi tempatnya anak muda mengobrol santai sembari berbagi canda. Tak tampak wajah-wajah separuh baya menduduki kursi. Pun begitu dengan ibu-ibu rumah tangga. Semuanya berwajah 20-30-an. Sambil mengobrol, suara-suara merdu pengamen, yang umumnya mahasiswa mencari dana untuk kegiatan, memenuhi ruangan. Gerombolan silih berganti. Mayoritas yang bersenandung adalah dara-dara manis, sementara para pria bertugas menabuh cajon atau memetik gitar.

Suasana makin cair ditemani secangkir kopi. Sama dengan Warkop Jarod, kopi di sini menggunakan kopi asli Kopikotamobagu. Kopi robusta itu rasa dan aroma khas. Nikmat disantap bersama susu kental manis. Perpaduan gurih, manis, dan pahit bercampur, layaknya obrolan yang terceletuk dari muda-mudi yang mengobrol seru di tempat itu.

Umumnya, kopi seharga Rp 9.000 ini enak disantap bersama pisang goroho goreng seharga Rp 20 ribu atau mi cakalang seharga Rp 18 ribu. Kenikmatannya mencapai puncak kala kopi disajikan bersama klapertart khas Manado yang bisa dibeli di tempat terpisah, misalnya di Klapertart Chstine, yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso.

Bila Rumah Kopi Billy di Jalan Sam Ratulangi penuh, pengunjung bisa beranjak ke cabangnya yang terletak di Jalan 17 Agustus.

Rumah Kopi Billy

Jl. Sam Ratulangi No.134, Titiwungan Utara, Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara

Minum Kopi Berlatar Danau Linow

Minum kopi saja sudah nikmat, apalagi sambil memandang lanskap yang menawan. Di kompleks wisata Danau Linouw, terdapat restoran yang menyajikan hidangan utama kopi Kotamobagu dan pisang goroho tepung goreng. Ada juga pisang spatu yang jadi pemanis. Kedai cukup mewah itu tak bernama. Namun orang sering menyebutnya Kafe atau Restoran Linow.

Pemilik, yang juga seorang aktivis keagamaan, mengelola restoran sekaligus danau. Jadi, pengunjung cukup membayar Rp 25 ribu untuk secangkir kopi Kotamobagu sekaligus sebagai dana retribusi masuk danau. Sementara, pisang goreng dijual Rp 25 ribu per piring.

Di muka danau, kopi yang memang sudah memiliki citra rasa legit, terasa tambah nikmat. Menyeruput secangkir, sembari memandang keindahan bentang alam, serta bukit yang mengelilingi, menjadi cara untuk menyempurnakan liburan di Tomohon.   

Restoran Danau Linow

Alamat: Lahendong, Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

F. Rosana

Tengkleng Solo, Dicecap Mulai Abad 19

Tengkleng Solo berawal dari tulang kambing yang tak disukai orang Belanda.

Tengkleng Solo adalah makanan khas kota ini, tampilannya mirip gulai kambing. Tentu ada bedanya, bahan dasar tengkleng adalah tulang belulang dan jeroan. Kuahnya juga lebih encer dibandingkan gulai daging kambing.

Tengkleng Solo


Tulang belulang kambing yang diolah menjadi masakan dan disukai orang memang unik. Ini ada latar belakangnya. Tengkleng Solo mulai dikenal ketika Indonesia masih dalam zaman kolonialisme Belanda di abad 19.

Dari catatan Wikipedia, sajian tengkleng muncul karena dulu para bangsawan dan orang-orang Belanda saja yang bisa menikmati gulai daging kambing. Sedangkan para pekerja dan tukang masak hanya kebagian kepala, kaki, tulang, dan jerohan saja.

Sementara versi lain menyebut, tengkleng lahir di era pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu terjadi kesulitan mencari bahan pangan. Untuk bertahan hidup, masyarakat terpaksa mengolah limbah bahan pangan seperti tulang belulang dan jeroan kambing.

Tengkleng Solo lahir menjadi kulinari karena kreatifitas orang Solo terhadap bahan pangan.
Semangkok tengkleng Solo bisa menjadi teman yang hangat. Foto: shutterstock

Namun kreatifitas orang Solo memang luar biasa. Para tukang masak tak kehilangan akal, mereka mengolah bahan-bahan tersebut menjadi makanan yang sedap dengan banyak bumbu. Justru ciri khas utama Tengkleng adalah pada bahan dasarnya.

Bahan utama tengkleng adalah tetelan atau tulang belulang kambing beserta bagian-bagian tubuh kambing yang tak diinginkan bangsawan pada masa itu. Kulit, jerohan, kaki, tulang-tulang iga, bahkan kepala kambing.

Tulang dan jeroan kambing itu dimasak dengan bumbu yang ada seperti kelapa, kunyit, serai, jahe, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kayu manis, cengkeh, garam, bawang putih, bawang merah, pala, dan kemiri. Kuah gulai yang tidak begitu kental dengan kaldu tulang memberikan citarasa lebih nikmat jika dibandingkan gulai daging kambing biasa.


Nama tengkleng sendiri juga muncul pada zaman itu, di mana banyak warga masyarakat makan menggunakan piring dari kaleng atau seng. Masakan yang terdiri dari tulang-belulang itu bertemu dengan piring seng menimbulkan bunyi “kleng-kleng-kleng”.

Meski berawal dari sejarah yang kurang enak, tengkleng justru tumbuh menjadi salah satu makanan khas Solo. Tengkleng Solo digemari bukan saja oleh warga lokal, tapi juga wisatawan pemburu makanan enak.
Lalu kalau wisatawan mencari tempat makan tengkleng Solo yang paling enak, kemanakah pilihannya? Berikut lima pilihannya.

Tengkleng Solo berkembang menjadi kuliner dengan aneka pilihan daging atau bahannya.
Sepincuk tengkleng dari Warung Bu Edi Pasar Klewer. Foto: Milik Kompas

Tengkleng Klewer Bu Edi

Ini warung tengkleng Solo yang legendaris, wisatawan wajib mampir ke kedai makan milik Bu Edi. Tengkleng di sini sudah menjadi favorit masyarakat Solo sejak 1970-an.

Keunikan tengkleng di sini adalah cara penyajiannya yang menggunakan daun pisang dipincuk. Warung Tengkleng Bu Edi berlokasi di Pasar Klewer, Gajahan, atau tepatnya di Jalan DR. Radjiman, Kauman, Ps. Kliwon, Surakarta.

Harga yang ditawarkan untuk satu porsi tengkleng Solo paling enak sangat murah yaitu 25 ribu saja. Pengunjung bisa menikmati tengkleng istimewa ini setiap hari mulai pukul 12.00 sampai 16.00 WIB .

Warung Tengkleng Bu Pon

Daging kambing memiliki bau yang khas sehingga banyak orang enggan mengkonsumsi olahan kuliner ini. Padahal, citarasa daging kambing tidak kalah enak dengan daging lain.Tapi cobalah tengkleng kambing yang memiliki rasa istimewa di Tengkleng Bu Pon

Warungnya berlokasi di Shelter Lojiwetan, Jalan Kapten Mulyadi, Surakarta. Mereka buka setiap hari mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB. Harga seporsi makanan lumayan terjangkau kantong pelajar dan mahasiswa alias sekitar 25 ribu rupiah saja.

Tengkleng Bu Pon ini memiliki varian sangat lengkap mulai iga, sumsum atau bagian kepala kambing yang khas. Sensasi rasa menikmati tengkleng Solo paling enak Bu Pon juga bisa disesuaikan dengan selera pengunjung. Mau level lebih pedas dan panas? Konsumen bisa meminta tambahan cabai rawit lebih banyak.

Kedai Tengkleng Bu Jito Dlidir

Salah satu rekomendasi tengkleng Solo yang tak kalah enak dan popular di kalangan masyarakat Solo adalah tengkleng Bu Jito Dlidir. Istimewa karena memiliki citarasa kuah yang gurih. Rasa rempah yang kuat akan membuat pecinta kuliner kambing langsung jatuh cinta dengan olahan tulangannya.

Di sini selain tengkleng, pengunjung juga bisa menikmati aneka masakan lain seperti sate, gulai, dan tongseng kambing. Harga yang dibandrol di sini berkisar mulai 20 ribu ke atas sesuai menu yang dipesan.

Warung ini berlokasi di kawasan Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 67, Kadipiro, Surakarta. Buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00 WIB.

Warung Tengkleng Pak Manto

Ini pilihan untuk mereka yang ingin mencoba sensasi pedas. Wisatawan wajib datang ke Tengkleng Rica Pak Manto. Menu tengkleng Solo paling enak di sini memang ditawarkan khusus untuk para pecinta pedas.

Penyajian yang berbeda dengan citarasa sedap tak kalah dengan rasa tengkleng biasa. Dijamin pecinta kuliner bakal ketagihan menikmati setiap gigitan rica daging kambing di tempat Pak Manto ini.

Atau, jika ingin menikmati tengkleng dengan rasa yang berbeda, tapi tak suka sensasi pedas, pengunjung bisa memesan tengkleng goreng yang lebih diterima lidah.

Alamat tengkleng Solo Pak Manto ini berada di Jalan Honggowongso Nomor 36, Sriwedari, Laweyan. Mereka buka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam. Harga satu porsi tengkleng di tempat Pak Manto sekitar 30 ribu rupiah.

Tengkleng Kepala Kambing Mbak Diah

Tertarik mencoba tengkleng kepala kambing yang anti mainstream? Anda harus mencicipi seporsi tengkleng di Desa Tanjunganom ini. Kuah yang begitu gurih dengan citarasa kuat membuat Tengkleng Mbak Diah digandrungi banyak orang.

Porsi melimpah bisa dinikmati pengunjung dengan mengeluarkan uang sebesar sekitar 25 ribu rupiah saja untuk satu porsi. Warung Tengkleng Mbak Diah berlokasi di Desa Tanjunganom RT 002/RW 001, Kwarasan, Grogol, Tj. Ongih, Sukoharjo.

Ayo kapan ke Solo dan menikmati tulang kambing yang maknyus.

agendaIndonesia

*****

Di Pasar Kranggan Yogya Menyantap 3 Kuliner Ndeso

Jogja Travel Mart 2022 mempertemukan buyer dan seller--FotoYogyakarta iStock

Di Pasar Kranggan Yogya menyantap 3 kuliner ndeso pada pagi hari sungguh sebuah perjalanan menikmati Yogyakarta. Konon sebuah kota bisa dipelajari dari lanskap makanan jalanan atau penganan di pasar tradisional. Dan, jajanan pasar memang selalu bikin kangen, selain tentunya bikin kenyang.

Di Pasar Kranggan Yogya

Pasar memang tempat semua hal berkumpul, termasuk deretan hidangan. Tak terkecuali di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Di pagi hari, selain urusan belanja kebutuhan sehari-hari, sejatinya kita bisa mencecap sejumlah makanan yang enak. Meskipun jenisnya “cuma” kuliner ndeso Yogya.

Ada yang ringan dan hangat, seperti wedang tahu, menu sarapan gandos rangin, atau yang mengenyangkan semisal soto. Cukup lengkap!

Kehangatan Sereguk Wedang Tahu

Wedang Tahu Pasar Kranggan
Menikmati kuliner ndeso, Yogyakarta wedang tahu. Dok. TL

Di perempatan Jalan Kranggan, Yogyakarta, ada sebuah gerobak kecil berwarna merah dengan kain rentang bertuliskan “Wedang Tahu Jogja”. Aromanya menggoda. Tak tahan segera memesan. Dan kuah kecokelatan yang disiram mangkuk putih berornamen merah khas Tionghoa langsung membikin ngiler. Hangatnya wedang sudah tercitra sebelum minuman itu masuk ke tubuh. Kenikmatan makin genap kala bahan utama sari tahu diciduk dari kuali. Teksturnya lembut dan kenyal saat disendok. Sekali regukan, wedang dipercaya dapat mengusir masuk angin.

Yang membikin warung ramai, selain unik, adalah keramahan si empunya lapak. Sukardi tak pelit ilmu. Kepada siapa pun ia berbagi resep. “Sari kedelai di-blender, diperas, lalu dikasih campuran pengental. Itu sudah langsung jadi. Tinggal tambah kuahnya, pakai racikan rempah-rempah biasa. Jahenya pakai yang emprit, kecil tapi pedas. Oh iya, kedelainya pakai yang impor dari Amerika, kalau lokal, sulit dijumpai di pasar,” tuturnya mencerocos.

Perempuan yang sudah punya lima cabang warung itu mengaku belajar dari majikannya dulu yang keturunan Tionghoa. Minuman ini memang dari Negeri Bambu. Sejak akhir abad ke-19, para imigran asal Cina yang bertandang ke Indonesia mendobrak cara orang mengkonsumsi tahu dengan suguhan berupa minuman hangat.

Wedang Tahu Bu Sukardi

Jalan Kranggan Nomor 75, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta,

Buka pukul 06.30-09.00

Harga Rp 6.000 per mangkuk

Babad Semangkuk Soto Sampah

Bukan berarti komponennya terdiri atas bahan-bahan sisa makanan, tapi terselip cerita khusus di baliknya. “Yang memberi nama soto sampah justru pelanggan, karena dulu di depan warung ini ada bak sampah besar,” tutur Fina Kurniawati, generasi kedua pemegang tampuk kepemimpinan warung yang berdiri pada 1970-an itu. Tapi bisa jadi karena lauknya beragam, yang bila diteropong dari jauh, wujudnya mirip meja yang berserakan sampah makanan. Maklum, ada sekitar 30 pilihan, di antaranya sate usus, telur puyuh, ayam, paru goreng, jeroan, dan aneka gorengan.

Soto berkuah bening dengan nasi yang dicampur di dalam mangkuk. Isinya pun standar, seperti kubis, bihun jagung, bawang goreng, seledri, dan taoge pendek. Yang membikin spesial dagingnya. Bukan daging ayam atau daging sapi yang dipilih, melainkan tetelan yang membuat kaldu terasa gurih. Warung buka hingga dinihari, atau 20 jam dalam sehari. Hanya dipatok Rp 5.000 per mangkuk. Sedangkan lauk-pauk dibanderol mulai Rp 1.000 hingga Rp 5.000.

Soto Sampah Kranggan

Jalan Kranggan Nomor 2, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-03.00

Harga Rp 5.000 per mangkuk soto

Alih Budaya Si Legit Gandos

Kue pancong namanya di Jakarta. Masyarakat Betawi menggubahnya dari kelapa, tepung beras, dan gula. Namun di Bandung disebut bandros. Lantas di Yogyakarta, dikenal sebagai gandos rangin. “Bahannya sama, hanya rasanya disesuaikan dengan masyarakat setempat. Kalau di Yogya, karena orang-orangnya suka manis, adonannya diberi banyak gula,” tutur Siti Kholimah, perempuan 35 tahun yang membuka lapak di perempatan Pasar Kranggan.

Puan keturunan Sunda-Jawa itu menyebut kelapa yang dipakai yang masih muda, lantas diparut. Selanjutnya, semua bahan dicampur, dibubuhi air secukupnya. Sesudahnya, tinggal dimasukkan ke cetakan hingga warnanya menjadi kecokelatan. Setelah matang, umumnya, orang Sunda memberi tambahan saus gula merah. Masyarakat Jawa menyebutnya juruh. “Kalau di Yogyakarta sih biasanya hanya pakai taburan gula pasir,” ucap Siti. Menjadi favorit untuk sarapan. Harganya dibanderol Rp 5.000 untuk sepuluh potong kue. Tak heran kalau gerobak sederhananya sejak 1999 diburu warga.

Gandos Rangin Siti

Perempatan Pasar Kranggan, Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta

Buka pukul 07.00-10.00

Harga Rp 5.000 per sepuluh potong

F. Rosana/Hindra/TL

Mangut Lele Mbah Marto, Diasap Sejak 1960

Mangut Lele Mbah Marto di Bantul menjadi pilihan kuliner ketika ke kota pelajar ini. Foto: Kompas

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu kuliner klangenan di Yogyakarta, khususya di Kabupaten Bantul. Mangut sendiri merupakan masakan khas Mataraman atau sekitar daerah Jogja, Solo, Semarang, dan Kendal yang sangat terkenal.

Mangut Lele Mbah Marto

Sejatinya masakan seperti apakah mangut ini? Untuk orang Jawa daratan, menu olahan ikan lele ini untuk menambah variasi masakan berbahan ikan. Di sana ada bumbu-bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, dan jahe.

Semuanya diulek menjadi satu. Bumbu yang dihaluskan dengan proses ulek tentunya akan mengeluarkan minyak alami dari bahan-bahan mentah yang akan membuat bumbu lebih beraroma.

Mangut lele Mbah Marto menjadi salah satu ikon Kabupaten Bantul, selain ada Parntai Parangtritis dan lainnya.
Pantai Parangtritis ikon wisata di Bantul, selain ada Mangut Lele. Foto: shutterstock

Proses selanjutnya adalah menumis bumbu yang telah dihaluskan tadi bersama dengan gula merah, cabai merah besar, daun salam, daun jeruk, serai, serta lengkuas. Bila sudah wangi ditambahkan santan, berikut lelenya.

Makanan mangut tentu saja sesungguhnya tidak menjadi monopoli lele, bisa saja menggunakan ikan lain atau bahkan ayam. Namun olahan ikan lele dengan bumbu santan yang gurih, biasanya dengan kuah pedas ini sungguh  menerbitkan selera.

Dan berbeda dengan mangut lele daerah lain, di Bantul lele yang akan dibuat mangut biasanya diasapi terlebih dahulu. Setelah itu baru dimasak dengan bumbu-bumbu tadi.

Di warung Mangut Lele Mbah Marto, ikan lele dalam masakan mangut lele diasap bukan digoreng. Tujuannya agar lele lebih tahan lama dan tidak cepat tengik.

Selain itu, hasilnya ada aroma khas yang smoky den tekstur kenyal daging lele yang tetap terjaga. Rasanya menjadi semakin sedap setelah dimasak dengan santan dan bumbu mangut.

Mangut Lele Yogya Sajian Sedap
Mangut adalah pilihan lain mengolah dan menikmati lele. Foto: milik sajian sedap.id

Salah satu tempat terbaik untuk menikmati mangut lele asap di Yogyakarta tentu saja di Warung Mangut Lele Mbah Marto di Bantul. Warungnya  berada di tengah desa dan untuk mencapainya cukup sulit, karena mencari lokasinya agak tersembunyi.

Lokasi persisnya cukup nyempil alias bersembunyi di tengah kampung. Dapur asli Mangut Lele Mbah Marto ini tepatnya berada di Jalan Sewon Indah RT 04, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada petunjuk arah, saat pelancong masuk dari Jalan Parangtritis.

Mbah Marto sudah mulai berjualan mangut lele di Bantul ini sejak 1960. Ia kemudian tumbuh menjadi kuliner yogya yang legendaris dan termasyhur. Banyak pencinta kuliner yang jauh-jauh datang untuk menikmati makanan bercita rasa pedas itu.

Belakangan, sejak beberapa tahun lalu, ada tiga rumah makan yang sama-sama mengklaim sebagai penerus mangut lele Mbah Marto sehingga kadang membuat pelanggan bingung. Tapi sudahlah, cobalah ke semuanya dan tentukan mana yang paling enak.

Masakan ini cocoknya dimakan untuk makan siang. Meski bisa saja dimakan malam. Jika mampir ke Warung Mangut Lele Mbah Marto menjelang maka siang,akan terlihat asap-asap dari sisa pengasapan lele dan pemasakan  berdesakan keluar dari dapur yang berukuran sekitar 4×4 meter melalui lubang-lubang ventilasi.

Dapur Mangut Lele Mbah Marto IG%40backpackerid
Suasana dapur Mangut Lele Mbah Marto. Foto: milik IG @backpacker.id

Suasana dapur cukup ramai, terutama ketika jam makan siang, meski masakan-masakan utama sudah siap saji, ada saja masakan tambahan yang dikerjakan asisten warung ini. Banyak juga pembeli yang langsung mengambil lauk di dapur ini.

Di warung Mbah Marto ini, pengunjung memang diperbolehkan masuk ke dapur untuk mengambil makanan sendiri. Terserah mau mengambil lauk atau sayur yang mana, atau lele mau dipadukan dengan beberapa sayur juga boleh, asal nanti ketika membayar disebutkan tambahan lauk yang dipakai.

Orang yang membantu memasak terlihat sesekali mengaduk isi beberapa panci berukuran besar di atas tungku. Atau memasukkan kayu ke tungku agar api tidak mati. Dinding batu bata di seputar dapur itu telah berubah menjadi hitam karena jelaga perapian.

Di dapur itu juga terlihat meja atau lincak bambu dengan nasi di bakul besar yang bisa diambil sendiri pembeli. Lalu ada baskom-baskom yang berjejer berisi sayur dan lauk. Ada setidaknya enam baskom berisi mangut lele, gudeg, krecek, telur dan tahu areh, juga ayam opor, dan lainnya.

Suasana di dapur Mangut Lele Mbah Marto ini memang benar-benar tradisional. Mungkin itu yang membuat para pemburu kuliner tidak terlalu bermasalah untuk blusukan ke tempat makan ini demi bisa berburu menu andalan warung Mbah Marto yaitu mangut lele.

Cobalah jika mampir ke Yogyakarta, arahkan tujuan ke selatan kota ini, ke Bantul dan mencoba mangut lele khas mbah Marto ini. Satu porsi mangut lele ini biasanya dibanderol dengan harga kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung jumlah ikan.

agendaIndonesia

*****

Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL

Nain dan Siladen, 2 Rahasia Laut Manado

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.

Nain dan Siladen, 2 rahasia Laut Manado betul-betul belum banyak yang tahu. Pulau-pulau di perairan Minahasa Utara yang menawan ini kini menjadi alternatif jika berkunjung ke Manado dan Sulawesi Utara. Terutama jika sudah pernah ke Bunaken.

Nain dan Siladen, Wisata Laut Manado

Dari sebuah gedung gergasi di Jalan Boulevard Kota Manado, yang condong menghadap ke barat daya, tampak perairan Celebes membentang luas tak ada habisnya. Di muka pandangan, garis laut tegas membelah langit dan laut dengan marka imajiner. Disapu kabut tipis bekas gerimis, air di beranda Samudra Pasifik menjadi tampak misterius dan penuh teka-teki. Di tengah laut, semu-semu pulau seluas tak lebih dari 10 kilometer persegi menampakkan diri. Namanya Taman Laut Bunaken, di baliknya terdapat Gunung Manadotua.

Kring. Notifikasi berbunyi. Nama “Daeng” muncul mengirim pesan. “Hari ini cerah. Mudah-mudahan besok juga. Kalau cuaca oke, kita berangkat ke Pulau Nain dan Siladen. Jangan lagi ke Bunaken atau Manadotua kalau mau betul bertualang.” Begitulah pesan Daeng, penduduk suku Bajau, yang bermukim di Manado, mengingatkan pertemuan. Penawaran menarik.

Pagi-pagi sekali, berbekal nasi kuning yang dibeli di rumah makan legendaris bernama Saroja, kaki saya asyik meniti lorong Pelabuhan Calaca. Lokasinya tepat di depan Pasar 45, dekat pusat perdagangan Manado tempo dulu. Sembari celingak-celinguk mencari Daeng, bau ikan cakalang fufu mengalihkan fokus. Gorengan pisang goroho berona kuning keemasan juga turut merayu. Kopi Kotamobagu—perpaduan arabika dan robusta—menyeruak penciuman. Namun langkah tak boleh berbelok. Maklum, jarum jam mengejar.

Jauh di ujung dermaga, pria 30 tahun berkulit legam, berkaus puntung dan bercelana boxer, melambaikan tangan. “Yang ini jo kapalnya,” kata dia sembari menunjuk speed boat putih-ungu.

Tak lama kemudian, kapal kami melaju cepat melewati Jembatan Soekarno yang menjadi ikon baru kota multikultural ini. Pemandangan di samping berupa daratan Manado yang didominasi kontur berbukit, sementara lanskap di hadapan adalah laut lepas dan mercusuar kecil, yang menimbulkan efek dramatis.

“Kita mau ke Pulau Nain (Naen), pulau tempat saya lahir,” tutur Daeng memecah lamunan. Ini adalah pulau terjauh dalam kawasan Taman Nasional Bunaken. Bahkan lebih jauh daripada Mantehage, yang bisa dijangkau dengan waktu tempuh 1,5 jam dari daratan. Secara administratif, Nain termasuk bagian dari Kecamatan Wori, Minahasa.

Pulau tersebut terbagi atas dua wilayah, yaitu Nain Besar dan Nain Kecil. Nain Besar berpenduduk padat. Mayoritas merupakan suku Bajo atau Bajau. Suku ini berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Umumnya mereka hidup di atas laut. Sering disebut gipsi laut. Sedangkan Nain Kecil merupakan pulau tak bertuan. Misterius, tapi menawan.

Bunyi mesin kapal mendadak mati. “Baling-baling tersangkut plastik,” kata Daeng. Kapal bergoyang, melanting ke kanan dan kiri. Untungnya gelombang belum besar. Padahal di daerah laut dalam itu, kalau cuaca buruk, ombak bisa menggulung hingga 5 meter. Lewat dua jam, kapal melaju memecah samudra. Lamat-lamat pulau di ujung Minahasa Utara itu mulai tampak. Nain Besar dan Nain Kecil dari kejauhan berhadapan. “Kita akan bersandar di sana, Nain Kecil,” ujar Daeng.

Air laut biru tua berubah tosca. Perairan dangkal mengucapkan selamat datang dan ragam karang pun tampak. Aduhai, pulau itu seperti tempat yang menyimpan banyak misteri. Dingin, tapi cantik. Di pinggirnya terdapat bebatuan layaknya pantai-pantai di Belitung. Pasirnya putih dan halus.

Tumbuhan bakau leluasa hidup mempercantik serambi samping. Di muka pulau, Nain Besar berdiri gagah. Lekuk-lekuk bentang alamnya nyata terlihat. Konturnya seperti membentuk bukit-bukit kecil. Rumah-rumah warga tersaru pepohonan subur. Di Nain Kecil, ada banyak rumah panggung, tapi tak berpenghuni. Pulau ini hanya menjadi persinggahan petani rumput laut. Tak heran, keramba bertebaran sepanjang perjalanan menuju pulau itu.

Masih jarang pelancong datang. “Wisatawan hanya datang kalau Pasir Timbul, harta karun Pulau Nain, menampakkan diri, misalnya pada Juni hingga Agustus,” tutur Daeng. Pasir Timbul adalah secuil nirwana di pulau ini. Di masa-masa tertentu dan di jam-jam khusus, seperti kala purnama, di siang hari, ketika air sedang surut, pulau yang hanya berisi pasir putih itu unjuk diri. “Setiap hari sebenarnya juga akan kelihatan, tapi tergantung keadaan. Hanya alam yang tahu kapan pulau itu tampak, kapan dia akan tenggelam,” tuturnya.

Tak lama di Nain, kapal kami bergerak ke Siladen, pulau yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Bunaken. Di tengah perjalanan, Daeng berkisah, sepanjang pelayaran nanti, kalau beruntung, kami bisa menyaksikan lumba-lumba menari mengikuti laju kapal. “Namun lagi-lagi itu rahasia laut. Tak ada yang tahu lumba-lumba kapan datang,” tuturnya. Sampai mendarat di Siladen, tak ada satu pun mamalia laut itu yang muncul.

Untungnya senyum anak-anak bermain ayunan di pinggir pulau memantik gembira. “Halo cici—sapaan untuk kakak perempuan.” Satu per satu mereka mengajak berjabat tangan. Di sampingnya, para orang tua berkumpul sembari minum kopi. “Selamat datang di Siladen. Jangan kaget kalau sepi. Pulau ini hanya dihuni 128 keluarga,” ucap Daniel, penduduk setempat.

Saya pun duduk di antara warga suku Sanger, menikmati bibir pantai. Di seberang lautan, Pulau Bunaken terlihat jelas. Begitu juga dengan Manadotua. Orang-orang asing lalu-lalang, tak peduli terik. Mereka menenteng alat snorkel untuk sekadar bersemuka dengan ikan goropa atau nemo. Juga dengan koral berwarna-warni. “Di sini cocok buat orang yang mencari ketenangan. Makanya bule suka dengan Siladen,” tutur Daniel menyela lamunan.

Di balik kecantikannya, sejatinya pulau ini menyimpan setitik pilu. Daniel berkisah lahan di pulau ini sebagian besar dimiliki John Rahasia, sejarawan yang berpengaruh pada masa Orde Baru sekaligus penulis Penemuan Kembali Tagaroa. Sehingga belum sepenuhnya merdeka. Selain itu, listrik belum optimal dirasakan. “Hanya ada pukul 6 sore sampai 11 malam,” kata dia. Mereka bisa melakukan perputaran uang lantaran bantuan keluarga John Rahasia, yakni dengan merekrut masyarakat setempat bekerja di resornya.

Infrastruktur juga belum maksimal. Terutama kesehatan dan pendidikan. Hanya ada SD. “Kalau kesehatan, hanya ada puskesmas. Itu pun belum tentu buka,” ujarnya. Warga setempat dan pelancong yang tengah menginap dan mengalami gangguan kesehatan, tutur Daniel, lebih memilih pergi ke Kota Manado untuk memeriksakan diri. “Kala sakit, kami dan para tamu yang datang biasanya ke Siloam Manado saja, yang jelas pelayanannya,” ucapnya berkisah. Mereka biasa memanfaatkan kapal cepat milik resor atau menumpang kapal nelayan untuk menuju kota.

Obrolan terus diramu sampai jauh. Anak-anak ikut bercengkerama. Kadang menarik tangan untuk turut berlari-lari kecil menyusuri pantai dengan pasir selembut susu bubuk. Juga meremas-remas biskuit dan menebarnya di tepi pantai, berharap ikan-ikan hias mendekat.

Matahari tak sadar jatuh ke barat, menggantung di atas Manadotua. Lamat-lamat langit berubah oranye. Daeng mengajak saya beranjak. Siladen makin jauh dari pandangan. Pulau itu tampak seperti rumah baru. Lagi-lagi laut mengutarakan berlaksa kisah istimewanya lewat penghuni pulau. Di ujung bilik kapal cepat milik Daeng, rahasia-rahasia samudra akan segera menepi di daratan Negeri Nyiur Melambai.

F. Rosana/A. Prasetyo

2 Wajah Labuan Bajo

labuan Bajo

2 wajah Labuan Bajo mengiringi saya dalam perjalanan ke Nusa Tenggara Timur kali itu. Daratan nan hijau dan laut yang biru.

Jo memegang kendali setir. Tangannya luwes memutar kemudi, ke kiri, lantas ke kanan. Mobil beringsut membelah Bukit Melo, bergeser ke arah timur daratan Flores. Sekonyong-konyong, kakinya menginjak rem.

2 Wajah Labuan Bajo

Tangannya ayal-ayal membuka jendela. “Lihat ke kanan,” katanya. Serentak, tiga orang—saya, Andi, dan Lorens—menggeser pandangan. Karpet-karpet alam bersanding dengan bentangan bahar terhampar membangun komposisi yang pas, biru laut, hijau bukit, dan putih markah cumulonimbus. Lapisan lanskap Labuan Bajo bisa leluasa kami pandang dari ketinggian kurang lebih 700 meter.

Tak lama kemudian, Jo menginjak pedal gas. “Kita harus sampai Cunca Wulang sebelum terik,” ujarnya dengan logat Manggarai. Tempat yang dimaksud adalah air terjun yang berlokasi di Kampung Warsawe. Pamornya memang belum terlampau kesohor layaknya Pulau Komodo atau Rinca. Namun keunikannya tak bisa dipandang sebelah mata.

Menuju ke kepingan nirwana di “tanah bunga” butuh kesabaran. Hampir dua jam kami melewati jalan terjal, berliku, dan hanya bisa dilalui satu mobil. Pemandangan kanan-kiri berupa hutan. Jurang menganga lebar. Jalan hotmix berjawat menjadi aspal rusak. Tak ada kendaraan lalu-lalang, juga warga yang bermukim.

labuan bajo 01
Cunca Wulang di Labuan Bajo. Dok. TL

Kabut pagi luruh. Pendar surya memantul di kaca mobil. Sejangkauan pandang di depan, rumah-rumah penduduk tampak samar-samar. Bentuknya stereotipe, pendek dan beratap seng. Oto—istilah orang Manggarai untuk menyebut mobil—berhenti di depan pondok kecil. Pria berperawakan ceking, berambut ikal, dan berkulit legam mendekat. “Tabe gula (selamat pagi). Dopo no’o kali oto ho’o (mobil hanya bisa sampai sini),” ujarnya sambil menyunggingkan senyum. Tangannya mengajak berjabat. “Siprianus Kabe.”

 Sipri mengajak kami memarkir kendaraan di ujung jalan setapak. Lima meter di depannya, tampak jalan tanah menurun. Hanya bisa dilalui satu orang. Jalurnya licin lantaran hujan menerpa beberapa hari terakhir. “Perjalanan dimulai,” ucap Lorens, local guide yang turut mendampingi, membakar semangat.

Sipri, Lorens, saya, Andi, dan Jo beriringan menyintas medan tak terduga. Sesekali bersiul, lalu berdendang untuk menampik lelah. Pemandangan sana-sini berupa pohon kemiri, komoditas utama warga setempat. Akarnya yang melintang membantu menahan tubuh supaya tak terpeleset jalur berlumpur. Keringat merebas, padahal matahari belum terik. Sraaak. Kaki terperosok. “Tenang, sebentar lagi jalan berbatu,” tutur Sipri.

Sejurus kemudian, jalur yang dimaksud si anak Manggarai itu kami jumpai. Lebih lebar dan mudah dilalui. Orang-orang bilang ini “bonus”. Sayangnya tak terlampau panjang. Sekitar 15 menit melintas, tantangan kembali menghadang. Hutan alami membentang. Derik siye—serangga hutan—lamat-lamat sampai ke kuping. Lorens mengambil posisi paling muka, menuntun rombongan memasuki lorong gelap. “Kalau berjumpa piton, jangan panik. Biasa saja,” ucap Sipri.

Hati berdebar. Bukan lantaran harus menempuh jalur terjal dan berlumpur, melainkan cemas bertemu binatang liar. Selain mungkin menjumpai ular, sewaktu-waktu juga dapat bersemuka dengan babi hutan, babi landak, dan babirusa. Daripada memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak, pandangan pun saya alihkan ke kanan-kiri.

Ada yang menarik. Tali-tali alami menjuntai dari pepohonan besar, mirip dengan yang sering dijumpai dalam film Tarzan. Kalau beruntung, monyet-monyet bergelantungan di sana, menemani perjalanan. Gedebuk. Tubuh kembali terantuk akar, menandakan pandangan harus fokus.

Rasanya sudah banyak percakapan dan nyanyian didendangkan, tapi suara air terjun belum terdengar. Malahan jalan yang harus dilewati kian menggila. Kadang membuat kaki terkesot-kesot mengikuti turunan yang kemiringannya nyaris 90 derajat, atau melompat melintasi pohon tumbang.

Peluh mengalir, tuturan melirih. Sengal-sengal napas tertangkap kuping. Gemericik air yang laun terdengar tiba-tiba membangkitkan spirit. Ritme langkah mengencang. Tak sampai seputaran jam, sungai berbatu dialiri air tosca menyapa pandang.

Di ujung sana, air terjun setinggi 70 meter berdiri gagah. Debitnya deras menghantam batu kali. Cipratannya meruap dan airnya meletup-letup laksana kembang api. Di kanan dan kirinya terdapat tebing berjenjang. Umumnya digunakan untuk atraksi lompat. Jebuuur. Lorens menerjunkan badan dari tebing setinggi 30 meter. “Segar,” teriaknya dari bawah.

Bentang yang menawan genap membayar kesulitan kami menjangkau lokasi ini. Angin yang menyapu bambu belang mengiramakan nada alam serta memalingkan kepenatan. Dua turis asal Jerman melucut pakaian, lalu asyik memeragakan gaya katak di sela-sela bebatuan. Menyelam, lantas mentas. Sekejap kemudian, kakinya asyik melompat di bebatuan laksana kancil.

Lanskap yang membikin hati ria kabarnya makin elok saat musim kering tiba. Ada pantulan cahaya membentuk bulan menggantung di atas air terjun kala siang. Itulah yang membuatnya dinamakan Cunca Wulang yang berarti bulan di atas air terjun. Pelangi kadang-kadang muncul melengkung di antara tebing yang mengapit gerojogan.

Sipri mengeluarkan ponsel pintar, lalu mengajak saya menuju spot terbaik untuk berfoto. Meloncat dari satu batu ke batu lain, tibalah kami di titik tengah. Dalam bingkai lensa, saya diapit tebing dengan lata belakang air meluncur hebat.

“Saya unggah di Facebook, ya,” tutur Sipri. Saya heran bagaimana ia bisa mengakses Internet di tengah hutan begini. “Tenang, jaringan Telkom sudah kencang,” ucapnya menyamber. “Kalau ingin lebih kencang, ada Wi-Fi ID, tapi di kota nanti (Labuan Bajo),” tuturnya seakan membaca kerutan tak percaya lawan bicaranya.

Sejurus setelah asyik berselancar di media sosial, Sipri lantas tak henti menyerocos tentang keindahan Labuan Bajo dan titik-titik nirwana yang mengelilinginya. Darat ataupun laut tak terbantahkan keelokannya. “Ini baru darat, besok kau harus ke laut,” katanya. Menggenapi tantangan Sipri, saya lantas gerak cepat. Pulau Kelor ada di angan-angan. Bukan lagi Komodo atau Rinca.

Deru kapal milik Ibrahim, pelaut berusia 60-an, pada pagi selanjutnya mengantarkan kami menuju surga di sisi barat Labuan Bajo. Geber lanskap samudera mulai tersibak. Ikan-ikan melompat mengikuti tarian ombak, mengantarkan kapal menuju lokasi. Di sisi kiri terhampar daratan Flores dengan bukit-bukit membentuk kukusan. Musim hujan membikin barisan kerucut-kerucut alam itu menghijau, membawa ingatan pada bukit Gurten di Swiss.

Kapal kami mengikuti arus, menuju sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Selama 2 jam tubuh digoyang ombak di atas dek kayu, hingga akhirnya Ibrahim melemparkan tali, mencari tempat bersandar. Ikan-ikan mendekat, koral warna-warni mengucapkan selamat datang. Di tengah pulau terbentang bukit kerucut. Bentuknya hampir presisi, mendekati sempurna. Ada jalur kecil berbatu kapur untuk mengantarkan kami menuju puncak.

Kemiringan 80 derajat harus ditempuh. Keringat lagi-lagi tak terelak. Kaki harus seimbang menopang bobot tubuh dan menyisihkan batu-batu rapuh. Perjuangan terbayar saat sampai di puncak. Pemandangan laut bersanding dengan gugusan daratan Nusa Tenggara Timur bagian barat menjadi sajian utama. Segaris dengan amatan, tampak gradasi air dengan rona tosca, biru muda, dan biru tua meliuk-liuk mengikuti garis laut.

Tak ingin hanya mengecap keindahan dari atas bukit Pulau Kelor, kaki merayu kembali turun ke bibir pantai. Nemo mengajak menari di dalam air, memaksa badan menceburkan diri dengan alat snorkeling yang lengkap. Tanpa dipantik repih-repih roti atau makanan ikan, para penghuni laut datang mendekat.

Sepi dan sunyi membikin saya merasa memiliki pulau seutuhnya. Di tempat itu memang hanya ada segelintir orang, rombongan kami dan rombongan satu kapal yang baru saja mendarat. Salah satu penumpangnya bernama Carita. Turis asal Jakarta yang lama tinggal di Swedia itu langsung berlari-lari kecil, lantas berteriak histeris melambungkan kegembiraan. “Ah, tidak usah sampai ke tengah laut, di pinggir saja banyak ikan. Cantik sekali,” tuturnya.

Lantaran terlampau antusias, Carita sampai lupa melakoni pemanasan sebelum menceburkan diri di air. “Hati-hati kram dan cedera,” ujar saya berteriak kepadanya. “Sulit mencari pertolongan medis,” ujar saya lagi.

Umar, awak kapal yang mengantarkan Carita sampai di pulau itu, langsung menceletuk. “Soal medis tak usah khawatir, sudah ada rumah sakit di sini. Rumah Sakit Siloam. Baru satu tahun lalu dibuka. Letaknya di Jalan Gabriel Campur,” tuturnya menyamber. Carita dan saya sama-sama menyunggingkan senyum dan sekonyong-konyong merasa aman.

Surya lambat laun meruyup ke barat. Angin sepoi-sepoi berganti lantam. Saatnya kembali ke darat. Ibrahim sudah menghidupkan kembali mesin kapalnya. Biduk yang kami tumpangi berbelot, melawan arus. Sayup-sayup lagu Bandaneira mengiringi perjalanan pulang. Laut dan langit dan hal-hal yang tak kita bicarakan, biar jadi rahasia, menyublim ke udara, hirup dan sesalkan jiwa.

Boks

Akses: Dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pilih penerbangan langsung ke Bandara Udara Labuan Bajo dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Waktu tempuhnya kurang-lebih 2 jam 25 menit. Bisa juga transit melalui Bandara Internasional Ngurah Rai yang berlokasi di Pulau Bali. Maskapai yang tersedia, di antaranya Sriwijaya, Lion Air, Batik Air, AirAsia, dan Garuda, lantas disambung dengan pesawat perintis NAM dan Wings Air.

F. Rosana/A. Prasetyo

Dolan Ke Pulau Macan, 2 Jam Dari Jakarta

Dolan ke Pulau Macan bisa menjadi alternatif wisata bahari di sekitar Jakarta.

Dolan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu menjadi salah satu alternatif jika ingin liburan di pantai berpasir putih yang bagus dan tak perlu jauh-jauh dari Jakarta. Berada di kawasan Kepulauan Seribu, Pulau Macan menjanjikan liburan bahari yang asyik.

Dolan Ke Pulau Macan

Di antara barisan pulau di wilayah Kepulauan Seribu, Pulau Macan bisa menjadi pilihan staycation yang tenang di akhir pekan. Pulau ini menawarkan eksklusivitas dibandingkan pulau-pulau lain di kawasan ini.

Dolan ke Pulau Macan ini nyaman untuk yang senang ketenangan, karena setiap hari hanya menerima paling banyak 40 wisatawan.

Pulau ini wajib dikunjungi untuk pelancong yang menyukai wisata alam yang tenang dan privat. Terdiri dari Pulau Macan Besar dan Pulau Macan Kecil, pulau ini menyuguhkan konsep yang unik yaitu eco resort dengan fasilitas lengkap. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini.

Dolan ke Pulau Macan cocok untuk yang enang laut dan staycation.
Snorkeling bisa enjadi pilihan ketika dolan ke Pulau Macan. Foto: pulaumacan.id

Secara administratif, Pulau Macan Besar berada di wilayah Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Luas pulau hanya sekitar 6,13 hektare. Pulau resort ini dimiliki dan dikelola oleh swasta dan diperuntukkan untuk pariwisata dengan nama Tiger Islands Village and Eco Resort.

Pulau Macan boleh dikatakan merupakan salah satu wisata Pulau Seribu yang paling bagus karena mengusung konsep eco-resort. Meskipun pulau ini tidak begitu luas, namun memiliki  fasilitas yang lengkap, pemandangan keren di pagi dan sore hari, arus laut yang tenang, dan peralatan watersport yang bisa dipergunakan secara gratis.

Soal nama, meskipun namanya Pulau Macan, pengunjung tak perlu membayangkan sesuatu yang ‘sangar’ seperti macan. Jangan khawatir, tidak ada hewan macan di pulau ini. Bahkan, nuansa yang bisa dinikmati selama berwisata di pulau ini jauh dari kata-kata ‘ngeri’.

Salah satu hal unik ketika dolan ke Pulau Macan adalah setiap bangunan kamarnya dibangun di tepian pantai. Ini membuat pengunjung dapat langsung berenang di laut atau duduk santai, bahkan ketika baru bangun tidur.

Dolan ke pulau Macan, bia tidur dengan ilustrasi musik gelombang air laut.
Kamar-kamar yang langsung menhadap ke laut, bangun tidur bisa langsung nyemplung. Foto: dok pulaumacan.id

 

Atau, bisa juga sekadar bermalas-malasan sambil  mata menyapu cahaya matahari terbit dengan laut biru. Hal unik lainnya adalah, pada saat air laut surut, wisatawan akan menemukan sebuah pulau kecil yang diikuti barisan pasir putih memanjang yang menyambung dengan pulau utama. Bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, atau menggunakan kayak.


Fasilitas akomodasi yang disediakan oleh pengelola adalah sejumlah cottage privat dengan akses langsung ke laut. Kapasitas cottage bervariasi, mulai dari untuk dua  orang hingga 7 orang.

Nama-nama cottage yang disediakan menunjukkan konsep eco-resort yang diusung, seperti eco cabin, redbrick room, driftwood hut, tropical bungalow, island hut, sunset hut, zet hut, atau coral hut.

Di antara beberapa jenis cottage ini, type Sunset Hut adalah yang paling populer, terutama bagi wisatawan yang senang menikmati matahari tenggalam. Cottage-nya menghadap ke barat dengan pandangan bebas hambatan ke arah matahari terbenam.

Kapasitas cottage ini maksimal untuk empat orang, sehingga ideal untuk keluarga. Di dalamnya juga terdapat kamar mandi utama.

Kapasitas masing-masing cottage yang kecil menunjukkan kalau pulau ini memang mengusung tema eco-wisata yang sangat privat dan eksklusif. Mudah ditebak jika harga paket wisatasaat dolan ke Pulau Macan relatif lebih mahal.

Kayak di Pulau Macan pulaumacanid
Berkayak bia hop in hop off di seputar Pulau Macan. foto: dok. pulaumacan.id

Ketika dolan ke Pulau Macan, pengunjung juga dapat menikmati makanan yang diolah langsung dari hasil kebun organik milik pengelola.  

Pulau Macan yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu mudah dijangkau dari ibukota. Pelancong bisa pergi hari Sabtu pagi dan kembali ke Jakarta pada Minggu sore.

Akses akomodasi ke Pulau Macan tidak sulit. Ada dua alternatif keberangkatan kapal yang bisa dipilih wisatawan, yaitu melalui Ancol atau lewat  Muara Angke (Kali Adem). Kedua pemberangkatan tersebut menggunakan jenis kapal yang berbeda, tentu dengan harga yang berbeda pula.


Harga kapal cepat via Ancol bergantung tujuan pulau yang dikehendaki. Semakin jauh pulau yang dituju, maka semakin mahal ongkos yang dikeluarkan. Secara umum, tiket kapal cepat via Ancol berkisar antara Rp125 ribu sampai Rp375 ribu per orang untuk sekali jalan.
Kapal feri mungkin lebih ekonomis. Harganya juga bergantung tujuan pulau yang dituju. Begitupun bila tujuan pulau yang dituju jauh, harga tiket masih cukup terjangkau.


Secara umum, harga tiket kapal feri via Kali Adem Muara Angke berkisar antara Rp85 ribu sampai Rp105 ribu untuk sekali jalan.
Untuk jam keberangkatan kapal, kapal cepat via Ancol berangkat pukul 08.00 WIB dan kapal feri via Muara Angke berangkat pukul 07.30 WIB. Jika berangkat dari Muara Angke, wisatawan sebaiknya datang lebih awal, agar tidak mengantre lama dan panjang.


Bagi Anda yang pergi ke Muara Angke menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat menitipkan kendaraan Anda di lahan parkir khusus yang disediakan. Besaran tarif parkir menginap Rp 25 ribu untuk motor dan Rp 50 ribu untuk mobil.

agendaIndonesia

*****