Surabi Bandung, 100 Tahun Kudapan Sedap

Surabi Bandung dengan kuah kinca adalah varian paling popular. Foto: shutterstock

Surabi Bandung atau yang terkadang juga disebut serabi, bisa disebut salah satu warisan budaya tradisional Bandung, utamanya dalam hal kuliner. Konon, makanan cemilan mirip pancake ini sudah dinikmati masyarakat kota ini sekitar satu abad lamanya.

Surabi Bandung

Kudapan ini disebut atau dituliskan sebagai ‘surabi’ karena berasal dari istilah Bahasa Sunda ‘sura’, yang kira-kira artinya besar atau agung. Penamaan demikian dikarenakan makanan ini dulunya lebih umum disajikan kepada kaum kerajaan dan bangsawan.

Pada perkembangannya, surabi Bandung masa kini juga terinspirasi dari pancake yang disukai orang-orang Belanda di zaman kolonial dulu. Sehingga surabi kemudian tidak hanya muncul sebagai makanan khas Bandung saja, tetapi juga daerah-daerah lainnya di tanah air.

Kendati demikian, masing-masing serabi memiliki beberapa perbedaan dan ciri khasnya sendiri. Serabi Solo misalnya, cenderung mempunyai rasa yang manis dengan adonan yang tipis, sementara surabi Bandung bercita rasa gurih dengan adonan yang lebih tebal.

Pun begitu, pada dasarnya serabi-serabi tersebut merupakan kudapan yang terbuat dari bahan-bahan yang kurang lebih sama, seperti tepung beras, santan dan parutan kelapa. Bahan-bahan tersebut dibuat menjadi adonan yang kemudian dimasak di atas tungku kayu bakar atau arang.

Surabi Bandung dibuat dengan tembikar yang cukup tebal di atas api.
Pembuatan surabi Bandung. Foto: shutterstock

Surabi Bandung sendiri selain dimasak dengan cara demikian, juga menggunakan cetakan berbentuk mangkok dari tanah liat untuk adonannya. Dengan menggunakan cetakan ini, surabi biasanya cenderung lebih gosong di bagian bawah dan lembut di bagian atasnya.

Cara memasak surabi ini secara umum masih coba terus dipertahankan hingga kini. Alasannya, serabi yang dibuat dengan metode demikian memiliki tekstur, bentuk, aroma serta rasa yang khas. Cita rasa ini sangat sulit didapatkan jika menggunakan peralatan masak yang modern.

Keunikan surabi Bandung yang asli adalah rasanya yang cenderung gurih dan kerap menggunakan pelengkap seperti abon atau oncom. Alhasil, cita rasanya lebih mengarah ke gurih, asin dan bahkan pedas.

Walau demikian, seiring perkembangan jaman surabi juga memiliki beragam variasi baru untuk dapat mengikuti selera konsumen hingga kini. Surabi kinca misalnya, merupakan varian yang menggunakan topping kinca atau gula merah cair.

Surabi Bandung shutterstock
Aneka surabi dengan toppingnya. Foto: shutterstock

Selain itu, banyak pedagang-pedagang surabi Bandung yang kini mulai berkreasi dengan bermacam jenis tambahan topping lainnya. Mulai dari keju, coklat, vanilla, bakso, sosis, mayonnaise, buah-buahan seperti pisang, durian dan lain-lainnya.

Kalau tertarik untuk mencoba serabi di sekitar kota kembang, ada beberapa rekomendasi tempat yang mungkin bisa jadi pilihan menarik. Salah satunya adalah Surabi Cihapit yang berada di Jalan Sabang, kawasan Bandung bagian timur.

Surabi Cihapit boleh dibilang merupakan salah satu kedai serabi yang paling terkenal di Bandung. Sejak 1993, mereka sudah berjualan surabi dengan menggunakan gerobak, hingga kini memiliki kedai sendiri.

Layaknya penjual surabi kaki lima lainnya, awalnya mereka lebih banyak berjualan serabi tradisional. Namun seiring berjalan waktu, mereka kini juga turut menawarkan beragam jenis varian serabi seperti keju, coklat, pisang, kismis, abon, sosis dan sebagainya.

Biasanya mereka berjualan pada dua sesi, setiap pagi pada jam 6 sampai 12 serta sore pada pukul 15 hingga 21. Namun khusus pada hari Minggu, Surabi Cihapit hanya beroperasi pada pagi hari.

Harganya pun tergolong cukup terjangkau. Kalau ingin mencoba jenis surabi tradisional dengan oncom atau kinca, satu porsinya sekitar Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Sedangkan ragam varian lainnya berkisar dari Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu.

Surabi Bandung Oncom shutterstock
Surambi oncom yang gurih dan enak. Foto: shutterstock

Tempat lain yang tak kalah menarik untuk dicoba adalah Surabi Kinca Suji Ekarasa. Terletak di area Jalan Burangrang, surabi yang mereka jajakan terkenal dengan aroma dan cita rasa pandan yang khas, dengan warna kehijauan dan tekstur yang lembut.

Seperti namanya, surabi yang menjadi jualan utama di tempat ini adalah surabi kinca. Namun beberapa jenis surabi lain seperti serabi oncom, atau serabi durian dengan paduan rum juga dapat ditemukan di sini. Harganya pun bersahabat, mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 9 ribu.

Kedai surabi Bandung lainnya yang sayang untuk dilewatkan adalah Surabi Radja. Berlokasi di Jalan Pluto Selatan II, kedai ini memang baru mulai berjualan sejak tahun 2006, tetapi dengan cepat mereka berhasil meraih banyak pelanggan.

Salah satu alasannya adalah penggunaan telur pada proses pembuatannya, yang kemudian membuat tekstur surabi yang begitu lembut sampai terasa lumer di mulut. Pengunjung akan mendapat pilihan surabi yang dibuat dengan atau tanpa telur.

Tak hanya itu, varian yang ditawarkan juga begitu banyak, mulai dari kinca, oncom, pisang, coklat, keju, sosis, abon, strawberry, serta beragam perpaduan dari pilihan topping tersebut. Ditambah lagi, harganya juga terbilang murah dibanding kedai-kedai serabi Bandung lainnya.

Satu porsi dengan satu pilihan topping berkisar dari Rp 4 ribu hingga Rp 7,5 ribu. Kalau ingin memadukan dua atau tiga jenis pelengkap, harganya mulai dari Rp 4,5 ribu sampai Rp 12 ribu. Surabi Radja buka setiap hari pada pagi (06.30 – 09.00) dan sore hari (16.30 – 21.00).

Akhirnya, satu hal yang perlu diperhatikan bagi yang ingin mencoba adalah serabi pada umumnya merupakan makanan yang tidak begitu tahan lama. Maka disarankan untuk menyantapnya langsung selagi hangat atau setidaknya dihabiskan pada hari itu juga.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Taman Nasional Alas Purwo, Suaka Sejak 1939

Taman Nasional Alas Purwo salah satu sorga bagi peselancar

Taman Nasional Alas Purwo adalah sebuah sorga di ujung tenggara pulau Jawa. Bagi banyak pecinta jelujur gelombang laut, ujung selatan kawasan ini adalah sebuah paradiso.

Taman Nasional Alas Purwo

Kawasan Alas Purwo sendiri sebelum menjadi taman nasional semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan. Ini diketahui berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 stbl 456 tanggal 01 September 1939. Luas areanya mencapai 62 ribu hektare.

Pada 1992, di zaman pemerintahan Presiden Suharto, Suaka Margasatwa ini diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo dengan luas kawasan 43 ribu hektare. Dan pada 2014 luasnya menjadi 44.037,30 Hektare.

Pantai Plengkung atau G land shutterstock
Pantai Plengkung di ujung selatan Alas Purwo, surga bagi peselancar. Foto: dok. humas Pemkab Banyuwangi

Secara geografis Taman Nasional Alas Purwo yang terletak ujung Tenggara Pulau Jawa berada di antara 8,446456°-8,780444° Lintang Selatan dan 114,224625°-114,605157° Bujur Timur. Secara administrasi berada di wilayah pemerintahan Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Untuk menuju ke sini, pertama-tama wisatawan menuju ke Banyuwangi. Bisa dari Surabaya menyurus pantai utara Jawa Timur. Atau dari Jember melalui jalur selatan. Bisa pula dari Bali dengan menyeberang dari pelabuhan Gilimanuk ke pelabuhan Ketapang. Dari Banyuwangi kemudian menuju ke selatan masuk kawasan Alas Purwo.

Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai) sampai hutan hujan dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu, savana buatan dan hutan tanaman.

Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Alas Purwo termasuk tinggi. Ini diketahui dari lebih 700 jenis tumbuhan, mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai formasi vegetasi. Tumbuhan khas pada taman nasional ini adalah Sawo Kecik dan jenis yang dilindungi yaitu Sadeng.

Akses Jalan Taman Nasional Alas Purwo Pemda Kb. Banyuwangi
Jalan menuju kawasan Alas Purwo. Foto: Dok. Humas Pemkab Banyuwangi

Di samping kaya akan jenis flora, Taman Nasional Alas Purwo juga kaya fauna daratan, baik kelas mamalia, aves, dan herpetofauna (reptil dan amfibi). Sampai saat ini teridentifikasi 45 jenis mamalia ditemukan di Alas Purwo.

eberapa jenis mamalia yang sering dijumpai di kawasan Alas Purwo di antaranya Banteng (Bos javanicus), Rusa Timor (Rusa timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Lutung Budeng (Tracypithecus auratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).

Sedangkan jenis burung-burungan atau aves teridentifikasi lebih dari 250 jenis burung. Beberapa jenis burung yang sering dijumpai di antaranya Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Ayam Hutan Hijau (Galus varius), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), Kuntul Kecil (Egreta garzeta), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Merak Hijau Jawa (Pavo muticus muticus), Dara Laut Jambul (Sterna bergii) dan Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris).

Dari kelas amfibi dan reptil, sampai saat ini telah teridentifikasi 70 jenis herpetofauna yang terdiri 17 jenis amfibi dan 53 jenis reptil. Di antara jenis yang ditemukan terdapat 7 jenis reptil yang dilindungi yaitu Penyu Lekang/ Abu-Abu (Lepidochelys olivacea), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Biawak Abu-Abu (Varanus nebulosus), Ular Sanca Bodo (Python bivittatus) dan Buaya Muara (Crocodylus porosus).

Terdapat banyak lokasi obyek dan daya tarik wisata di dalam taman nasional, ini, di antaranya beberapa pantai yang unik dan potensial seperti ombak yang cocok untuk olah raga surfing, pantai tempat peneluran penyu, pantai yang berpasir putih, terumbu karang serta laguna yang dipenuhi burung migran pada musim-musim tertentu.

Kawanan Banteng di Alas Purwo Humas Pemkab Banyuwangi
Savana Sadengan tempat ngmpul fauna. Foto: dok. Humas Pemkab Banyuwangi

Savana terdapat di padang pengembalaan Sadengan. Walaupun padang pengembalaan Sadengan dibuat oleh manusia, padang pengembalaan sekunder, namun keberadaannya menjadi sangat penting karena merupakan habitat bagi mamalia besar seperti banteng, kijang, dan rusa.

Sadengan dibuka sebagai feeding ground seluas kurang lebih 80 hektare pada 1978. Setelah dilakukan pembukaan hutan kemudian mulai ditanami jenis-jenis rumput seperti rumput balung (Arudinella setosa), Dischantium caricosum, lamuran (Polytrias amaura) dan merakan (Heteropgon contortus).

Vegetasi hutan alam yang ada di Taman Nasional Alas Purwo sebagian besar terdapat pada zona inti, yaitu kawasan bagian timur dan sebagian kecil pada zona rimba yang terletak di bagian selatan timur kawasan dan tengah kawasan (sebelah timur zona penyangga).

Jenis-jenis vegetasi pohon dominan di formasi vegetasi ini antara lain: kepuh (Sterculia foetida), bendo (Artocarpus elastica), kedawung (Parkia roxburghii), kemiri (Aleurites moluccana), beringin (Ficus benjamina), kedondong hutan (Spondias pinnata).

Sedangkan hutan tanaman di Alas Purwo terdiri dari hutan tanaman jati (Tectona grandis), kesambi (Schleichera oleosa), mahoni (Swietenia macrophylla), johar (Casia siamea), legaran (Alstonia villosa), akasia (Acacia auriculiformis) dan sonokeling (Dalbergia latifolia).

Hutan tanaman yang ada merupakan bekas milik Perhutani yang sekarang menjadi bagian dari kawasan. Hutan Tanaman tersebar di beberapa blok di antaranya Blok Buyukan sampai Bedul dengan jenis tanaman mahoni, pada Blok Kucur dan Curah Jero.

Hutan Mangrove di kawasan ini sebagian besar terdapat di sepanjang Sungai Segoro Anak, terdapat di beberapa Blok Hutan seperti Blok Pondok Welit, Teluk Pangpang dan Perpat.

Dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh Taman Nasional Alas Purwo, di temukan tidak kurang dari 26 jenis mangrove yang sebagian besar didominasi oleh beberapa jenis mangrove seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorhyza, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris.

Vegetasi pantai terdapat di bagian selatan dan bagian utara. Pada bagian selatan membentang dari arah Grajagan (Segoro Anak) sampai Plengkung dengan panjang bentangan sekitar 30 kilometer, dan Plengkung–Tanjung Slakah dengan panjang bentang sekitar 50 kilometer.

Vegetas pantai bagian utara membentang dari Tanjung Sembulungan sampai Tanjung Slakah dengan panjang sekitar 40 kilometer dan lebar rata-rata vegetasinya dari pantai ke daratan (ke arah atas) sekitar 250 – 300 m. Jenis tanaman yang mendominasi formasi hutan pantai adalah ketapang, sawo kecik, waru laut, keben, dan nyamplung.

Ayo agendakan perjalananmu ke Banyuwangi dan kunjungi Alas Purwo.

agendaIndonesia

*****

Pantai Sukamade, Tempat Penyu Bertelur Ditemukan Pada 1927

Pantai Sukamade dengan araksi utama penyu bertelur dan Pelepasan Tukik di Sukamade shutterstoc

Pantai Sukamade, pantai tempat penyu mendarat dan bertelur adalah temuan kolonial Belanda pada 1927. Bertahun-tahun kemudian, pantai ini masih menjadi tempat terfavorit Penyu Hijau untuk menetaskan turunannya.

Pantai Sukamade

Malam sudah turun. Suasana di Sukamade praktis gelap, ketika beberapa orang terlihat berjalan menembus hutan, melintasi jalan tanah berlapiskan dedaunan kering. Mereka rombongan wisatawan asing yang ditemani petugas jagawana berjalan menuju pantai dengan panduan cahaya senter.

Sesekali petugas jagawana menyorotkan cahaya senternya menerangi jalan selebar tiga meter yang di kiri-kanan dipenuhi pepohonan besar khas hutan tropis. Sekitar satu kilometer berjalan menembus hutan, sinar bulan yang kala itu sedang penuh mulai menembus lebatnya ‘kanopi’ pohon. Makin jauh sinarnya semakin menerangi jalan. Jalan tanah berlapiskan daun  beralih menjadi berpasir, keheningan hutan berganti dengan deburan ombak. Senter pun dimatikan, saatnya puncak atraksi di pantai itu: menunggu kedatangan penyu yang akan bertelur.

Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal sebagai habitat tempat penyu bertelur secara alami. Belakangan, mungkin sekitar 30-an tahun terakhir, tempat ini memiliki fasilitas penetasan telur-telur penyu semi alami yang menambah nilai tersendiri bagi penikmat wisata pantai. Pasalnya wisatawan yang datang dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik, anak penyu, sebagai bentuk usaha dari konservasi penyu.

Pantai ini merupakan salah satu tempat bertelurnya beberapa spesies penyu, di antaranya penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik, penyu slengkrah. Dari ke empat jenis itu, penyu hijau-lah yang paling sering ditemui di pantai ini.

Lokasinya sendiri berjarak sekitar 97 km ke arah barat daya dari Banyuwangi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu dari Segitiga Emas Banyuwangi, yaitu satu dari tiga tempat tujuan wisata utama yang ada di Banyuwangi, dua di antaranya Gunung Ijen, atau lebih dikenal sebagai Kawah Ijen, dan Pantai Plengkung. Sejarah pantai ini pertama kali di temukan pada masa pendudukan Belanda tahun 1927.

Sukamade memang berada di dalam kerimbunan perkebunan kopi dan coklat yang sekarang dikelola PTPN. Dulunya perkebunan-perkebunan ini pengelolaannya di tangan pemerintahan pendudukan Belanda.

Perjalanan menuju pantai ini dari Banyuwangi memiliki keasyikan tersendiri. Walaupun hampir seluruh jalan di Banyuwangi beraspal mulus, tapi sekitar 20 kilometer terakhir jalanannya berbatu sehingga lebih pas jika menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda. Sepuluh kilometer setelah memasuki kawasan taman nasional jalan makadam menghadang.

Separuh jalanan di hutan lebat adalah menaiki bukit, separuhnya lagi menurun sebelum mencapai pantai. Bagi yang senang kegiatan alam bebas menggunakan kendaaan SUV yang mengguncang guncang badan dan menyeberangi sungai tanpa jembatan merupakan keasyikan tersediri sebelum menikmati ketenangan di pantai Sukamade.

Setidaknya ada dua sungai yang harus diseberangi tanpa jembatan. Kadang, jika beruntung, pengunjung bisa mengekor di belakang traktor perkebunan yang kebetulan sedang membawa hasil kebun melintasi sungai selebar sekitar 30-40-an meter. Setidaknya mereka hapal jalur yang tidak dalam atau berbatu. Ke dalaman air sekitar 25-50 centimeter. Jika tak bertemu traktor, ada baiknya ada yang turun untuk mengamati kedalaman sungai.

Sebagai tempat tujuan ekowisata di kawasan konservasi, di tempat ini wisatawan dapat secara langsung menyaksikan penyu bertelur, melepas tukik, camping hingga berkano pada sore hari sambil menunggu matahari tenggelam. Terdapat beragam fasilitas yang ada di pantai Sukamade antara lain pondok wisata, camping ground yang dilengkapi pendopo sebagai ruang pertemuan, jalan trail wisata, information center, laboratorium dan pondok kerja. Tentu saja, atraksi utama tetap penyu bertelur dan pelepasan tukik.

Di Sukamade penyu biasa datang untuk bertelur pada malam hari, karenanya segala jenis alat penerang dilarang digunakan di pantai di sini. Ini agar penyu bisa merasa nyaman. Setiap malam petugas mengamati kedatangan penyu, selain untuk mendata juga untuk menyelamatkan telur dari predator seperti babi hutan dan ulah manusia yang menjual telurnya.

Telur dikumpulkan untuk kemudian dibawa ke tempat penetasan. Seperti malam itu, saat AgendaIndonesia mampir, kami menunggu datangnya penyu dari jam 20.00 – 24.00 sambil menemani petugas berpatroli menyusuri pantai. Hampir setiap malam selalu ada penyu datang bertelur. Jika beruntung, kita bisa melihat penyu datang dari laut lalu menggali pasir untuk meletakkan telur-telurnya.

Petugas jagawana biasanya mengambil telur-telur dari lubang aslinya, lalu ditanam kembali di lubang-lubang penetasan yang dilindungi pada keesokan harinya. Seperti yang dilakukan setelah malam itu.

Matahari belum terlalu tinggi, ketika petugas menanam kembali telur-telur penyu yang diambil malam sebelumnya. Selain menanam telur, petugas juga mengajak wisatawan yang datang untuk melepaskan telur yang sudah menetas, dinamai dengan sebutan tukik, ke habitatnya, lautan luas.

Anak penyu atau tukik  secara naluri akan kembali ke laut, berenang mengarungi samudra kehidupannya. Hingga suatu saat, jika mereka survive, tukik-tukik yang sudah menjadi penyu dewasa kembali ke Sukamade. Bertelur.

Rully K./Dok. TL

Tahu Bungkeng Sumedang, 1 Abad Sejarah Tahu

Tahu Bungkeng Sumedang cikal bakal tahu Sumedang

Tahu Bungkeng Sumedang, yang usianya kini sudah lebih dari satu abad, bisa dibilang merupakan saksi sejarah terciptanya salah satu kudapan favorit masyarakat Indonesia dewasa ini, yakni tahu sumedang. Lewat sejarahnya yang panjang, ia turut mempopulerkan jajanan rakyat tersebut.

Tahu Bungkeng Sumedang

Di masa sekarang, akan terhitung cukup mudah untuk menemukan tahu Sumedang. Dari beragam penjual aneka gorengan di pinggir jalan, hingga toko-toko makanan seperti kue basah dan sejenisnya, kerap ditemukan tahu Sumedang yang turut dijajakan.

Populernya kudapan ini bukanlah tanpa sebab. Tahu Sumedang sendiri merupakan jenis olahan tahu yang memiliki ciri-ciri seperti bentuk yang relatif kecil, bagian kulit yang agak garing, isi di dalamnya yang cenderung kosong serta rasa yang gurih.

Karakteristik tersebut membuatnya mudah dan enak untuk dikonsumsi dalam beragam kesempatan, seperti saat ingin ngemil makanan ringan ataupun sebagai hidangan pembuka sebelum makan siang atau malam. Apalagi tahu terasa semakin nikmat saat disantap hangat.

Gerai Tahu Bungkeng IG Tahu Bungkeng
Pembeli di depan gerai Tahu Bungkeng. Foto: IG Tahu Bungkeng

Seperti namanya, tahu Sumedang memang terlahir di salah satu kabupaten provinsi Jawa Barat tersebut, sekitar 45 kilometer dari kota Bandung. Begitu identiknya tahu sebagai identitas dan makanan khas mereka, Sumedang lantas juga kerap dikenal sebagai kota tahu.

Yang menarik, tahu Sumedang ternyata merupakan resep yang dibawa dari Tiongkok. Semua berawal pada awal tahun 1900-an, ketika seorang imigran dari Tiongkok bernama Ong Kino datang ke Indonesia untuk pindah dan menetap.

Setelah tiba di Sumedang, ia kemudian memutuskan tinggal di sana bersama keluarganya. Masa-masa awal kepindahan mereka ke Tanah Air terasa agak sulit, lantaran istrinya yang merasa homesick dan kangen dengan masakan tradisional Tiongkok.

Sebagai usaha untuk mengatasi kerinduan tersebut, Ong Kino kerap mencoba memasak beberapa makanan-makanan khas Tiongkok yang biasa mereka santap dulu. Salah satu resep yang ia buat adalah olahan tahu yang kemudian menjadi cikal bakal tahu Sumedang.

Tahu, atau doufu/tofu dalam bahasa Mandarin, memang merupakan salah satu makanan yang populer bagi masyarakat Tiongkok. Berkat cara pengolahannya yang mudah serta harganya yang ekonomis, tahu disinyalir sudah populer dikonsumsi rakyat Tiongkok sejak tahun 950 Masehi.

Biasanya, mereka membuat tahu dari olahan kacang kedelai yang direndam air sekitar 4-6 jam, kemudian digiling, direbus, disaring dan diendapkan sehingga berbentuk padat. Setelahnya, tahu kemudian dipotong-potong lebih kecil, umumnya dengan bentuk kotak-kotak.

Awalnya, resep tersebut hanya dibuat oleh Ong Kino untuk sang istri, serta beberapa tetangga, kerabat dan sanak saudara sesama imigran di kala perayaan hari raya etnis Tionghoa. Ternyata, banyak dari mereka yang menyukai tahu buatannya tersebut.

XClFGYSu Tahu Bungkeng Sumedang IG tahu Bungkeng

Usut punya usut, tahu buatan Ong Kino dinilai mempunyai cita rasa gurih yang unik, yang membuatnya dianggap lebih nikmat dari tahu-tahu kuning dan putih yang umumnya beredar saat itu. Dari testimoni positif tersebut, ia memberanikan diri untuk menjualnya untuk umum.

Kebetulan, setelah pindah ke Sumedang, ia mencari nafkah sebagai penjual ragam makanan ringan seperti keripik singkong dan tapioka. Tempatnya berjualan di kawasan jalan Sebelas April, hingga kini menjadi lokasi toko Tahu Bungkeng.

Meskipun terhitung mendapatkan respon positif dari pembelinya, saat itu tahu buatannya belumlah mencapai popularitas puncaknya. Hingga pada 1917, salah satu anaknya bernama Ong Boenkeng menyusul datang ke Indonesia untuk membantunya berbisnis.

Salah satu langkah besar yang dilakukan Ong Boenkeng dalam membantu bisnis ayahnya, adalah dengan memodifikasi resep tahu tersebut. Setelah tahu sudah jadi, ia mencoba bereksperimen dengan cara menggorengnya.

Caranya menggoreng tahu pun terhitung unik. Ia mencoba menggoreng tahu-tahu itu dengan api yang cukup besar, sehingga hasilnya tahu menjadi garing di bagian kulitnya dan kopong di bagian dalamnya. Ini kemudian menjadi karakteristik utama dari tahu Sumedang.

Suatu ketika bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Soeriaatmadja, yang kebetulan melintas di depan toko, mencium aroma harum dari tahu yang sedang dimasak. Ia kemudian memutuskan untuk singgah dan mencoba tahu yang dimasak oleh Ong Boenkeng kala itu.

Sang bupati ternyata sangat menyukai tahu tersebut, dan mendorongnya agar terus berjualan dan meraih kesuksesan. Sejak saat itu, dari mulut ke mulut popularitas tahu Bungkeng Sumedang semakin meningkat dan pelanggan semakin bertambah, bahkan dari luar kota dan luar negeri.

Setelah Ong Boenkeng mengambil alih usaha dari sang ayah pada tahun 1940-an, orang-orang pada umumnya kemudian menyebut tokonya sebagai tahu Bungkeng atau tahu Bungkeng Sumedang, yang pada prinsipnya merupakan pelafalan namanya secara kearifan lokal.

Nori Tofu IG Tahu Bungkeng

Pada saat usaha dikelola oleh generasi ketiga Ong Yoekim di kisaran tahun 1970 hingga 1980-an, tahu Bungkeng Sumedang meraih puncak kesuksesan dengan rata-rata produksi 2.000 hingga 3.000 tahu per hari. Bahkan saat permintaan memuncak toko bisa memproduksi sampai 7.000 tahu.

Meski demikian, sejak tahun 1990-an mulai banyak toko-toko yang menjual tahu sejenis, bahkan beberapa di antaranya merupakan usaha dari mantan pegawai di toko tahu Bungkeng Sumedang. Sejak itu, orang-orang mulai menyebut tahu tersebut secara umum sebagai tahu Sumedang.

Walaupun tahu Sumedang sudah menjadi jajanan yang umum dan mudah ditemukan di mana pun, bukan berarti pamor tahu Bungkeng meredup total. Bagaimana pun, status mereka sebagai pionir tahu Sumedang yang asli membuatnya senantiasa spesial dan diburu wisatawan.

Oleh Ong Chechiang alias Suriadi, bersama dengan anak-anaknya sebagai generasi keempat dan kelima dari usaha ini, toko tahu Bungkeng Sumedang hingga kini masih terus berjualan dan menjadi kepingan sejarah tempat lahirnya kudapan rakyat khas Sumedang tersebut.

Cita rasa asli tahu Bungkeng sebagai sang pelopor tahu Sumedang selalu dipertahankan, lewat penggunaan kacang kedelai jenis lurik yang dinilai punya sari pati lebih bagus dan banyak, serta metode memasak tahu dan kualitas air untuk mengolah kedelai yang senantiasa dijaga.

Alhasil, ciri khas tahu yang gurih, berkulit garing serta isian yang kopong pun selalu konsisten. Bahkan ada anggapan, harus mencoba tahu Bungkeng untuk merasakan cita rasa tahu Sumedang yang asli, karena konon tahu lainnya terkadang kalah gurih, bahkan cenderung asam.

Satu ciri khas lainnya yang unik adalah tahu yang disajikan bisa dipasangkan dengan sambal yang diracik menggunakan cabe rawit, tomat dan tauco. Rasa pedas dan segar berpadu apik dengan tahu hangat yang bercita rasa gurih.

Selain itu, tahu Bungkeng juga bisa disantap dengan lontong atau nasi. Harga tahu per potongnya pun hanya sekitar Rp 1 ribu, dengan tambahan Rp 1 ribu untuk lontong, Rp 5 ribu untuk nasi dan Rp 3 ribu untuk sambalnya.

Seiring perkembangannya, tahu Bungkeng pun senantiasa berinovasi dengan ragam produknya. Seperti tahu gehu alias tahu isi, atau Nori Tofu yang sejatinya merupakan tahu Sumedang dengan tambahan nori atau olahan rumput laut ala Jepang.

Wisatawan yang datang untuk membeli sebagai oleh-oleh juga dapat membeli tahu yang masih mentah. Jika membeli yang sudah dimasak, bisa memesan dari 10 hingga 100 tahu dalam satu kemasannya, dengan perkiraan awet sekitar satu setengah hingga dua hari.

Dan untuk menjangkau lebih banyak konsumen, tahu Bungkeng kini memiliki dua cabang tambahan. Satu di antaranya terletak di kawasan jalan Jendral Sudirman, Bandung. Setiap cabangnya buka dari jam 07.00 sampai jam 18.00.

Tahu Bungkeng

Jl. Sebelas April no. 53, Sumedang

Jl. Mayor Abdurachman no. 80, Sumedang

Jl. Jendral Sudirman no. 393, Bandung

Instagram: tahu.bungkeng

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Eksotisme Kepulauan Selayar, 157 Kilometer dari Makassar

Eksotisme Kepulauan Selayar menjanjikan pantai putih yang elok.

Eksotisme Kepulauan Selayar jarang dirambah traveler Indonesia. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh dari Makassar, 157 kilometer, dan melewati laut. Menikmati udara sejuk, laut jernih, dan sajian daging ikan yang manis, adalah pesona yang dijanjikan pulau ini.

Eksotisme Kepulauan Selayar

Langit terlihat sembuat jingga di Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Dua jam perjalanan dengan Kapal Motor Feri Bontoharu dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, terasa sangat menyenangkan. Berteduh di bawah langit biru yang dihiasi titik-titik awan putih, dengan sesekali ada atraksi lumba-lumba dan ikan terbang yang melompat ke permukaan air. Wow, menyenangkan.

Begitu kapal sandar di pelabuhan, perjalanan dilajutkan dengan bus sekitar 1,5 jam menuju Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Malam sudah menyelimuti Benteng saat bus tiba di kota kecil itu. Sepiring nasi santan, sambal belimbing, dan ikan bakar kikang, yang menjadi salah satu sajian khas daerah kepulauan ini, menjadi hal pertama yang menyambut perjalanan kami malam itu. Tampilan kikangsebenarnya biasa saja, tak tercium bau amis sama sekali. Dagingnya putih, bersih, dan empuk. Rasanya manis.

Setelah urusan perut selesai, dua rekan di sana, kami sempat menjelajahi sudut-sudut kota di malam hari sebelum akhirnya beristirahat. Ini kegiatan yang layak dilakukan jika perjalanan ke tempat baru. Benteng kotanya tak terlalu besar, sehingga tak lama menikmatinya di malam hari

Agenda pertama keesokan harinya adalah perjalanan ke Pulau Gusung. Pulau ini membentang di depan Kota Benteng. Jalan-jalan ke pulau ini untuk melihat “tabungan ikan” dalam keramba tancap dan keramba apung milik warga Desa Bontolebang, Kecamatan Bontoharu. Seperti namanya, tiang-tiang keramba tancap itu ditancapkan ke laut dengan kedalaman sekitar 5 meter. Jaring yang digunakan berbentuk persegi, setiap bagian ujungnya terpaut pada sebuah pancang.

 Di dalam kotak inilah terperangkap ikan kerapu jenis sunu yang dibudidayakan warga. Menurut warga Desa Bontolebang, bibit ikan ditangkap dari alam. Warna-warni ikan sunu dengan tubuh berbintik-bintik ini sungguh menyajikan pemandangan menakjubkan. “Akuarium alam,” begitu orang biasa menyebutnya.

Pelayaran menuju Desa Bontolebang dilakukan dengan perahu jo’lloro bermesin motor milik Kepala Desa. Tampak tiang-tiang keramba dihinggapi bangau. Mendekati Pulau Gusung, air laut terlihat hijau karena tanaman lamun, senada dengan pohon-pohon kelapa yang berjejer rapi di tepian pulau. Sambutan warga seramah lambaian nyiur. Rumah-rumah berdiri dengan begitu teratur di antara rimbunan pohon kelapa, berjejer menghadap jalan kecil yang terbuat dari paving block. Suguhan kelapa muda dari warga melengkapi perjalanan kali ini.

Sebelum kembali ke Benteng, pengunjung diajak lagi melihat bagaimana ikan-ikan dalam “akuarium alam” diberi makan. Saharuddin alias Opa, seorang petugas, menenteng ember berisi potongan ikan segar. Begitu suguhan itu dimasukkan, seketika ikan-ikan berkerumun dan berebutan pakan. Jangan coba-coba Anda menurunkan tangan maupun kaki ke keramba, bisa-bisa menjadi sasaran ikan karena dianggap pakan.

Perjalanan di hari yang gerah dan melelahkan itu ditutup dengan menikmati ketenangan sore di Pantai Baloiya, Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu. Obyek wisata yang disebut-sebut mirip Tanah Lot di Bali ini berjarak sekitar 10 kilometer dari Benteng. Saat menuju Pantai Baloiya, pengunjung akan melewati museum tempat penyimpanan Gong Nekara. Gong ini memiliki luas lingkaran 396 sentimeter persegi, luas lingkar pinggang 340 sentimeter persegi, dan tinggi 95 meter. Konon, ini adalah gong terbesar di Asia Tenggara dan tertua di dunia.

Dari cerita penduduk setempat, Gong Nekara tidak sengaja ditemukan oleh Sabuna dari Kampung Rea-rea pada 1686 di sawah Raja Putabangun, Papaniohea. Gong bercorak unik ini lantas dipindahkan ke Bontobangun dan menjadi kalompoang atau arajang—benda yang dikeramatkan setelah berakhirnya pemerintahan Dinasti Putabangun pada 1760.

Setelah melewati Bontobangun, kami memasuki kawasan Bontosikuyu. Hanya sekitar 15 menit berkendaraan roda empat pemandangan pantai yang eksotis dengan keindahan hamparan pasir putih menyambut ramah. Panjang pantai mencapai 300 meter. Sebuah batu besar di tengah pantai tampak bagian atasnya ditumbuhi tanaman asoka.

Eksotisme Kepulauan Selayar belum banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Pantai Baloiya di kepulauan Selayar dengan keindahan matahari tenggelam. Foto: Dok. shutterstock

Tak jauh dari tempat itu, terdapat gua alam Baloiya, jaraknya sekitar 500 meter. Di Desa Patikarya ada beberapa gua yang saling berhubungan. Jika waktu kunjungan cukup, pengunjung bisa menjelajahi goa-goa tersebut. Sayang, kunjungan kali ini waktu kami terbatas, sehingga perjalanan ke Baloiya terpaksa disudahi. Kami bergegas kembali ke Benteng untuk makan malam dan istirahat. Tentu tak lupa mencari sedikit buah tangan, selain olahan serba ikan, Selayar terkenal sebagai penghasil emping, kenari, dan jeruk Selayar. Jangan sungkan membawanya, sebab Selayar tak setiap hari kita kunjungi. Dari Benteng kita harus naik feri ke Pelabuhan Bira, Bulukumba. Lalu, disambung perjalanan sekitar 5 jam via darat menuju Makassar.

 Taman Nasional Takabonerate

Selayar juga terkenal dengan Taman Nasional Takabonerate—taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshalla dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luasnya mencapai 220 ribu hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 kilometer persegi.

Rasanya perlu waktu sekitar sepekan untuk menikmati secara lengkap pesona Selayar karena infrastruktur yang belum lengkap. Jika perjalanan dilakukan mulai dari Jakarta, maka pengunjung harus terbang dulu ke Makassar di Sulawesi Selatan, baru ke Kepulauan Selayar. Bila beruntung, kadang ada jadwal penerbangan dari Makassar langsung ke Selayar dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Ini akan membantu menghemat waktu perjalanan.

Irma/TL/agendaIndonesia

*****

Kuliner Khas Maluku, Ini 6 Harus Dicoba

Kuliner khas Maluku di antaranya adalah papeda yang juga khas Papua.

Kuliner khas Maluku sudah tentu menjadi hal yang layak dicicipi saat traveler jalan-jalan ke Ambon. Ada banyak ragam kuliner yang menggugah selera dan sayang jika dilewatkan.

Kuliner Khas Maluku

Makanan paling ikonik dari Ambon, juga Maluku dan Papua, tentu saja adalah papeda. Menu makanan utama ini terbuat dari sagu ini biasanya disantap bersama sup ikan dengan lauk sampingan lain, seperti sambal colo-colo, kohu-kohu, atau ikan komu asar. Buat yang mencari masakan berbahan beras atau nasi ada nasi lapola.

Selain makanan utama, ada juga camilan yang tak kalah enak, beberapa di antaranya adalah rujak natsepa, pisang asar, asida, dan roti kering kenari. Makanan Khas Maluku banyak sekali variasi dan rasanya.

Masyarakat Maluku mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokoknya. Hasil laut yang melimpah melahirkan aneka makanan khas Maluku. Ada juga kue khas yang juga lezat rasanya. Selera kudapan itu ternyata digemari wisatawan.

Bandra Patimura Ambon

Papeda

Ini, seperti disebut di muka,  kuliner khas Maluku dan Papua. Bahan dasarnya adalah tepung sagu, yang dimasak hingga terlihat seperti bubur. Teksturnya kental dan lengket dengan warna putih, rasanya tawar. Sekilas penampilannya mirip lem kertas.

Makanan tradisional ini biasanya disantap bersama mubara atau ikan tongkol, yang sudah ditambahkan bumbu kunyit. Kandungan serat di dalam papeda sangat tinggi, tapi rendah kalori.

Cara memakan papeda sangat unik, yakni dengan menyeruputnya langsungdari piring. Bisa juga menggulungnya menggunakan sumpit. Bagi yang tidak terbiasa biasanya merasa kesulitan. Tapi itulah keunikan menyantap papeda.

Ikan Asar

Ini adalah kuliner khas Maluku berupa ikan asap atau ikan asar yang diolah secara sederhana dengan diasap. Soal rasa, sangat lezat. Ikan yang digunakan biasanya ikan cakalang atau ikan tuna. Karena dagingnya lebih tahan ketika proses pengasapan.

Selain disantap di tempat, wisatawan  bisa menjadikannya buah tangan buat keluarga atau kerabat. Karena ikan asar memiliki daya tahan hingga tujuh hari. Kuliner ini bisa disantap bersama nasi dan sambal colo-colo (sambal khas Maluku).

Cara pengasapan ikan asar adalah dengan ditusuk menggunakan bambu. Pengasapan biasanya membutuhkan waktu satu jam. Biasanya saat dijual ikan masih tertusuk bambu.

Gohu Ikan Maluku Kemendikbudritek
Gohu ikan. Foto: Dok. Kemendikbudristek

Gohu Ikan Maluku

Kalau di Jepang ada sashimi, di Maluku dan Maluku Utara ada Gohu Ikan, yang merupakan makanan khas Maluku berbahan dasar daging ikan mentah. Biasanya masyakat menggunakan ikan cakalang dan ikan tuna. Cara pembuatannya terbilang mudah, dengan memotong daging ikan seperti dadu. Kemudian mencucinya, dan melumurinya dengan perasan lemon, dan garam. Sesudah itu bisa menambahkan daun kemangi. Lalu adonan itu didiamkan beberapa saat.

Untuk menambah selera, biasanya ditambahkan bumbu tumisan cabe rawit, dan bawang merah yang dirajang. Bumbu itu dituangkan di atas ikan, dan siap dinikmati.

Ikan Kuah Pala Banda Budaya Indonesia 0rg
Ikan Kuah Pala Banda. Foto: Dok Budaya Indonesia.org

Ikan Kuah Pala Banda

Masyarakat Maluku memang kreatif dalam mengolah hasil lautnya. Ikan Kuah Pala Banda adalah kreasi kuliner yang wajib wisatawan cicipi. Sesuai namanya, kudapan ini berasal dari Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Di mana daerah ini sangat terkenal sebagai penghasil komoditi rempah-rempah, yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.

Santapan lezat ini menggunakan bahan dasar ikan kerapu atau ikan kakap. Berbagai bumbu digunakan, seperti merica, pala, dan jenis rempah lainnya. Rasanya asam bercampur dengan rasa pedas. Dulunya, makanan ini adalah hidangan istimewa untuk para pejabat Belanda. Kudapan ini makin nikmat disantap bersama nasi, ulang-ulang, dan sambal bekasang.

Nasi Lapola

Nasi juga digemari masyarakat Maluku. Nasi lapola adalah bukti kuliner khas Maluku, yang menjadi makanan pokok sebagian masyarakatnya. Bahan dasarnya adalah beras, parutan kelapa muda, dan kacang tolo. Biasanya kudapan ini disantap berbarengan dengan lauk, seperti kohu-kohu (olahan ikan teri atau tongkol basah), dan lalapan mentah.

Memasak berasnya harus menggunakan api kecil, agar hasilnya lebih bagus. Beras dimasak hingga setengah matang, dan ditambahkan pula kelapa parut yang sudah diberikan bumbu bawang putih, bawang merah, cabai merah, dan jeruk nipis. Sesudah itu, adonan nasi lapola dikukus sampai matang. Biasanya juga dinikmati dengan sambal colo-colo. Sambal khas Maluku dengan komposisi kecap, bawang merah, cabai rawit, dan tomat.

Woku Komo-komo

Kuliner khas Maluku ini terbuat dari tepung, yang merupakan hasil olahan dari teras batang rumbia. Sehingga woku komo-komo sebenarnya lebih cocok sebagai lauk makanan pokok. Proses pembuatannya dengan merendam sagu di dalam air. Supaya meningkatkan citarasanya digunakan beragam bumbu pilihan, seperti jahe, serai, bawang putih, yang ditumis bersamaan.

Kemudian ditambahkan juga jeroan ikan dan juga air. Semuanya dimasak sampai terlihat matang. Lalu, bawang putih dan bawang merah ditumis sampai nampak kecoklatan. Selanjutnya, menambahkan irisan daun bawang, merica, garam, dan santan kental.

Sesudah matang, sagunya didiamkan terlebih dahulu hingga dingin. Jeroan ikannya dipotong-potong seperti bentuk dadu. Seterusnya jeroan ikan dan sagu yang sudah dipotong-potong dibungkus dengan daun woka. Nah, tahapan terakhir adalah memanggang bungkusan daun woka tersebut menggunakan bara api.

Panggang sampai terlihat kering daunnya, sebagai pertanda makanan sudah matang. Selain dikenal dengan sebutan woku komo-komo, kudapan ini juga dikenal dengan nama sagu komo-komo.

Perjalanan menuju ke Kota Ambon bisa ditempuh melalui transportasi laut dan udara. Untuk jalur laut, Ambon memiliki sebuah pelabuhan bernama Pelabuhan Yos Sudarso yang terletak di Jl. Yos Sudarso, Kel Honipopu, Sirimau, Kota Ambon. Pelabuhan ini menyediakan perjalanan antar pulau, seperti dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Kupang, dan Jayapura. 

Sedangkan untuk transportasi udara, Sobat Pesona bisa mengambil rute perjalanan menuju Bandara Internasional Pattimura Ambon dari beberapa kota besar di Indonesia, antara lain Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. 

Ayo ke Ambon dan nikmati kuliner khas Maluku.

agendaIndonesia

*****

Taman Nasional Bunaken, Indah Sejak 1885

Taman Nasional Bunaken adalah sorga bawah laut di Sulwesi Utara.

Taman Nasional Bunaken di Provinsi Sulwesi Utara merupakan bagian dari  kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Istilah Segitiga Terumbu Karang itu sendiri adalah istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang kaya akan terumbu karang.

Taman Nasional Bunaken

Bunaken merupakan sorga bawah laut di Indonesia yang boleh disebut paling dikenal oleh para penyelam. Jauh sebelum kawasan Raja Ampat di Papua Barat dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara menjadi idola keindahan laut selanjutnya.

Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa indah pemandangan laut yang bisa dijelajahi para pecinta alam bawah laut di Taman Nasional Bunaken. Untuk para pecinta wisata alam bawah laut, layak mengagendakan untuk menyelami keindahan dan pesona dari Taman Nasional Bunaken, surga bawah laut di Sulawesi Utara.

Senja di kota Manado, Sulawesi Utara.
Senja di Manado

Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas wilayah yang didominasi oleh perairan. Oleh karena itu Indonesia dikenal akan kekayaan lautnya. Tak hanya dalam hal sumber daya perikanannya, bentang alam bawah laut Indonesia juga tersohor keindahannya.

Bunaken adalah taman nasional seluas 890,65 kilometer persegi, di mana 97 persennya merupakan habitat perairan laut. Sisa tiga persennya merupakan daratan. Wilayah daratan ini meliputi beberapa pulau, yakni pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Mantehage, pulau Naen, serta pulau Siladen.

Di dalam kawasan Taman Nasional Bunaken terdapat pula Gunung Manado Tua yang sudah tak lagi aktif. Kedekatan dengan gunung itu memang karena secara administratif kawasan ini terletak di Kecamatan Wori, Kotamadya Manado, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

Jarak Bunaken dari pelabuhan Manado dibutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit untuk menyebrang ke pulau terdekat, yakni pulau Siladen. Sementara itubutuh waktu sekitar 60 menit untuk menuju pulau terjauh di Taman Nasional Bunaken yakni pulau Naen.

Taman Nasional Bunaken penetapannya berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 730/Kpts-II/1991 yang diteken pada 15 Oktober 1991. Sedangkan peresmian Taman Nasional Bunaken dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Desember 1992 di Bongohulawa.

Dalam penetapannya itu, fungsi pokok Taman Nasional Bunaken antara lain memberikan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Selain itu juga berfungsi sebagai pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Meski baru ditetapkan pada 1991, nama Bunaken  sudah dikenal sejak 1885. Itu terjadi ketika masyarakat Tanjung Parigi memilih pindah ke arah tenggara, tepatnya di tepi pantai yang menghadap Kota Manado.

Terumbu Karang Taman Nasional Bunaken shutterstok
Snorkeling di Taman Nasional Bunaken. Foto: shutterstock


Tempat baru itu oleh masyarakat yang pindah itu disebut sebagai Wunakeng, yang berasal dari kata Kiwunakeng yang artinya tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, daerah ini disebut juga dengan nama Bunaken yang berasal dari kata Pamunakeng yang artinya tempat singgah kapal-kapal.

Keindahan dan keanekaragaman hayati alam bawah laut di kawasan Taman Nasional Bunaken sendiri telah dikenal oleh para penyelam sejak 1975. Lalu pada 2005, Taman Nasional didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebuah taman nasional yang terkenal karena kekayaan terumbu karangnya.

Dari data yang ada, setidaknya ditemukan 390 spesies terumbu karang yang dapat ditemukan di wilayah perairan Bunaken. Area terumbu karang terdiri dari fringing, patch reef, serta barrier. Terdapat pula reef plat yang mengelilingi pulau-pulau yang ada di Bunaken, kecuali pulau Manado Tua.

Kekayaan alam lain di Bunaken adalah beberapa spesies alga yang kebanyakan berasal dari suku Halimeda, Caulerpa, dan Padina. Atau rumput laut yang didominasi spesies Thalassia hemprichii, Thalassaodendron ciliatum, dan Enhallus acoroides.

Di kawasan Taman Nasional Bunaken juga masih terdapat beberapa vegetasi di kawasan hutan bakau seperti Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. serta vegetasi yang hidup di daratan seperti woka, sagu, kelapa, beberapa jenis palem, pisang, mangga, silar, dan lainnya.

Taman Nasional Bunaken TN Bunaken

Selain vegetasi, kawasan perairan Bunaken merupakan rumah bagi berbagai spesies ikan, mamalia laut, reptil, hingga moluska. Setidaknya ada sekitar 91 spesies ikan seperti ikan kakatua, ikan kuda gusumi, ikan lolosi ekor kuning, hingga ikan moorish idol dan berbagai ikan lainnya.

Selain itu, terdapat pula biota lain seperti ikan duyung, kima raksasa, penyu sisik, penyu belimbing, hingga penyu hijau yang hidup di perairan ini.

Untuk wilayah daratan  Taman Bunaken, bisa ditemukan satwa-satwa seperti kuskus beruang, kuskus kerdil Sulawesi, monyet hitam Sulawesi, babi Sulawesi, tarsius, rusa, burung camar, merpati laut, hingga burung bangau.

Jika sedang jalan ke Sulawesi Utara, jangan sapai ketinggalan memasukkan Bunaken dalam agenda perjalanan. Selain tentu Likupang yang sedang naik daun.

agendaIndonesia

*****

Jajanan Yogya, 4 Yang Bikin Kangen

Bakmi Mbah Hadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Jajanan Yogya selalu bikin kangen, terutama buat mereka yang pernah tinggal atau mengenyam pendidikan di kota pelajar ini. Yogya memang kota yang penuh daya tarik dan membuat orang yang pernah berkunjung kesana selalu merasa ingin “kembali” ke jajanan tempo dulu mereka .

Jajanan Yogya Tempo Dulu

Meskipun di tengah gempuran kuliner kontemporer dan waralaba raksasa, baik dari dalam maupun luar negeri, sejumlah jajanan asli Yogja masih tetap bisa bertahan hingga sekarang. Selain karena rasa dan lokasinya yang bikin kangen, juga suasana guyup, santai, dan klangenan yang membuat mereka mampu menembus jaman. Beberapa destinasi wisata jajanan tradisional hingga saat ini tetap kebanjiran pecintanya, berikut empat di antaranya.

Bakmi Pele Alun-Alun Utara

Bakmi Jawa yang sangat populer di Yogya adalah Bakmi Pele. Lokasinya yang sangat strategis di area pojok timur Pagelaran Alun-Alun Utara, membuat warung ini sangat mudah diingat. Didirikan pertama kali pada 1983 oleh Suharjiman, yang sehari-harinya bekerja sebagai pelatih bola anak-anak. Karena ada kaitannya dengan sepakbola itulah, maka tempat ini kemudian dikenal sebagai Bakmi Pak Pele atau Bakmi Pele.

Begitu warung dibuka di senja hari, antrian sudah mulai terlihat. Kalau pas akhir pekan atau libur panjang di Yogya, jangan harap pesanan kita bisa segera hadir di meja dengan cepat. Bisa-bisa harus menunggu cukup lama. Pada musim liburan mereka biasa menjual hingga 500 porsi per harinya. Dahsyat ya? Tips kami, sebaiknya jangan datang ke sini dalam keadaan sangat lapar. Hal tersebut dikarenakan mereka memasak pesanan kita maksimal hanya dua porsi untuk sekali masak. Sekali lagi, konon ini untuk menjaga cita rasanya.

Menu-menu yang tersedia di sini sangat bervariasi: selain mie rebus, mie goreng dan mie nyemek. Yang khas dari mie di sini adalah campuran tambahan telor bebeknya dan kol. Selain mie jawa, rupanya mereka juga punya menu andalan ayam rica-rica yang tidak ada di list dan hanya dibuat “based on request”. Adapun minuman andalan di sini yang menjadi favorit pengunjung yaitu wedang jahe panas yang diseduh dengan gula jawa.

Bakmi Pele

Arel Pojok Timur Pagelaran Alun-Alun Utara Yogyakarta

Buka jam 17.30 – 24.00

Lotek  Dan Gado-Gado Teteg Baciro

Disebut Lotek Teteg karena di awal berdiri pada 1968 lokasinya berada di sekitar teteg sepur (bahasa Jawa yang artinya pintu palang kereta api) di daerah Baciro. Karena pertimbangan keselamatan perkeretaapian, warung ini pindah lokasi di areal parkir Kantor DPD Golkar di Baciro.

Lotek merupakan makanan khas Jawa yang kaya sayur-sayuran. Bumbunyaterdiri dari kacang goreng, gula merah, cabe, bawang putih, kencur, air asam, dan garam. Campuran bumbu tersebut diuleg di dalam cobek batu hingga halus. Bumbu inilah yang kemudian dicampur dengan rebusan beberapa sayuran seperti bayam, kangkung, tauge, kol, kacang panjang . Dalam penyajiannya dilengkapi dengan kerupuk bawang.

Yang menarik perhatian di warung Lotek Teteg ini adalah cobek besar dengan ukuran diameter sekitar 80 cm. Diperlukan ketrampilan dan tenaga yang cukup kuat dalam proses menguleg bumbu tersebut. Tak heran, tugas menguleg bumbu dilakukan oleh seorang laki-laki .

Lotek dan Gado-gado Teteg

Jl. Argolubang 184 , Baciro, Yogyakarta

(timur Stasiun Lempuyangan)

Buka jam 8.30-16.00

Lotek Dan Gado-Gado Bu Bagyo Colombo

Masih menu makanan yang sama, gado-gado dan lotek. Ini nama lain yang legendaris di kota pelajar ini. Bermula dari usaha kecil di Jalan Moses Colombo, di samping Universitar Sanata Darma pada 1985. Sekarang pemiliknya telah membuka cabang di lebih dari 10 lokasi menyebar se antero Yogya dan sekitarnya. Jumlah karyawan yang bekerja di sini hampir 150 orang.

Untuk menjaga cita rasanya, setiap karyawan yang bertugas meng”uleg” adonan harus melewati pelatihan intensif selama kurun waktu tertentu. Bahkan untuk gado-gadonya, bumbunya dikirim langsung dari pusatnya di Colombo.

Yang khas dari racikan Lotek dan Gado-Gado Colombo ini adalah selain campuran bumbu kacang dan rebusan aneka sayur, tersedia bakwan goreng yang dipotong kecil-kecil yang diaduk bersama bumbunya. Rasa bakwan yang renyah dan gurih ini yang membuat penikmatnya ketagihan untuk menghabiskan hingga sendok terakhir.

Lotek dan Gado-gado Bu Bagyo Colombo

Pusat; Jl. Moses Gatotkaca No.3 Yogyakarta

(samping kampus Universitas Sanata Dharma)

Buka jam 09.00-17.00

SGPC Bu Wiryo

Destinasi kuliner ini merupakan tempat sarapan pagi yang cukup terkenal di Yogyakarta. SGPC sendiri kependekan dari Sego Pecel. Bagi sebagian orang yang pernah kuliah di Universitas Gadjah Mada dan sekitarnya, biasanya rasanya ada yang kurang bila belum absen sarapan di warung ini.

Pada awalnya SGPC berlokasi di sebuah lahan sempit di fakultas Tekonolgi Pertanian UGM, atau di sebelah timur Kantor Pusat UGM, dan didirikan sejak 1959 oleh keluarga Wiryosoenarto. Sejak 1994 mereka pindah ke areal yang lebih luas di Jl. Agro sebelah Utara Selokan Mataram atau utara Fakultas Peternakan.

Menu utama yang disediakan tentunya nasi pecel berisikan aneka sayuran seperti bayam, kangkung, kacang panjang, tauge dan kol. Ada juga menu tambahan lain, yakni  nasi sop. Nasi sop nya unik karena dikombinasikan dengan sayur bayam. Yang khas dari warung ini adalah semua kelengkapan menu, yaitu lauk pauknya, disajikan rapi berjajar di satu meja memanjang. Kita tinggal pilih dan ambil sesuai selera. Apa saja? Ada telor ceplok, tahu tempe goreng, aneka camilan gorengan tempo dulu dan juga sate kerang dan sate telor puyuh.

Kalau masih belum puas makan di tempat, kita bisa membeli bumbu pecelnya saja. Harganya? Siap-siap merogoh kocek lebih dalam, Rp 150 ribu/kg. Cukup mahal untuk ukuran bumbu pecel. Tapi bagi sebagian orang yang  punya keterikatan emosional dengan rasa SGPC Bu Wiryo aang membelinya.

SGPC Bu Wiryo

Jl. Agro CT VIII No. 10, Klebengan Yogyakarta

Buka : jam 06.00 – habis (sore)

7 Puncak Indonesia, Indah Dan Menantang

7 puncak indonesia dcngan titik tertinggi di Puncak Jaya Wijaya di Papua. (shutterstock)

7 Puncak Indonesia bagi para pendaki gunung di negeri ini merupakan impian untuk menggapainya. Semuanya merupakan titik tertinggi dari Sabang sampai Merauke, dengan keindahan dan tantangannya masing-masing.

7 Puncak Indonesia

Indonesia tidak hanya dikenal sebagai jalur cincin api (ring of fire) atau rangkaian gunung-gunung berapi, ia juga dikenal karena memiliki banyak gunung tertinggi. Daftar puncak tertinggi di Indonesia ini membawa nama Indonesia menjadi tujuan destinasi sport tourism, khususnya bagi wisatawan yang menikmati tantangan alam.

Sport tourism merupakan wisata yang mengkombinasikan antara olahraga dan pariwisata. Kegiatan ini banyak disukai baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

7 puncak Indonesia dengan puncak tertinggi di Sumatera adalah Gunung Kerinci.
Gunung Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Foto: shutterstock

Salah satu sport tourism yang punya banyak penggemar adalah mendaki gunung danjuga treking. Di dunia para pendaki memiliki daftar gunung yang termasuk dalam World Seven Summits atau tujuh puncak benua yang diidam-idamkan untuk didaki.

Dalam konteks yang lebih kecil, para pendaki gunung di dalam negeri juga memiliki daftar “Seven Summit Indonesia” atau 7 puncak Indonesia. Selain karena ketinggiannya, 7 puncak Indonesia itu juga seakan mewakili pulau-pulau di di Indonesia. Mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga di tanah  Papua.

Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya di Papua

Puncak Jaya atau yang juga dikenal dengan Carstensz Pyramid di Papua, merupakan gunung dengan puncak tertinggi di Indonesia. Gunung yang menjadi lokasi sport tourism ini memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Puncak tertinggi di Indonesia ini merupakan sebuah gunung karang (limestone) dengan salju abadi. Selain menjadi 7 puncak Indonesia, Carstensz Pyramid juga dinobatkan sebagai salah satu dari World Seven Summits.

Untuk mencapai puncak Seven Summit Indonesia ini, pendaki harus memiliki keahlian panjat tebing yang mumpuni. Jalur pendakian untuk mencapai puncak Carstensz Pyramid ada dua, yakni dari melalui Ilaga dan lewat Sugapa.

Gunung Kerinci di Sumatera

Menjadi gunung tertinggi di pulau Sumatera, Gunung Kerinci layak dinobatkan sebagai salah satu 7 puncak Indonesia. Gunung Kerinci memiliki ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Lokasi Gunung Kerinci berada di perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi. Gunung Kerinci terletak di Taman Nasional Kerinci Seblat yang juga menjadi taman nasional terbesar di Indonesia.

Salah satu 7 puncak Indonesia ini telah ditetapkan sebagai World Heritage Site dengan kategori Tropical Rainforest Heritage of Sumatra. Selain itu, Gunung Kerinci juga menyandang status sebagai gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara.

Gunung Semeru Atap Jawa

Pegunungan Semeru dengan latar depan Gunung  Bromo. Foto husniati salma unsplash
Pegunungan Semeru dengan Puncak Mahameru sebagai Atap Pulau Jawa. Foto: unsplash

Terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Gunung Semeru masuk dalam jajaran puncak tertinggi di Indonesia. Gunung Semeru memiliki ketinggian 3.676 mdpl.

Gunung Semeru merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia, sehingga kurang lebih 20 menit sekali kawahnya mengeluarkan abu vulkanik. Seven Summit Indonesia ini berada di bawah pengawasan administrasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Daya tarik utama Gunung Semeru adalah karakteristik medannya yang bervariasi. Kita dapat menemukan lanskap padang sabana, hutan cemara, danau gunung, hingga hutan montana dalam perjalanan menuju puncak Gunung Semeru. Jalur ke Semeru merupakan salah satu yang terindah.

Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat

Masuk dalam salah satu dari 7 puncak Indonesia, Gunung Rinjani merupakan gunung tertinggi di gugusan kepulauan Sunda Kecil. Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl.

PARIWISATA WISATA ALAM shutterstock 755563108 Chanwit Ohm d167fb33a1
Gunung Rinjani di Lombok. Foto: dok. shutterstock

Gunung Rinjani menjadi gunung berapi aktif kedua tertinggi di Indonesia. Salah satu puncak tertinggi di Indonesia ini berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu daya tarik Gunung Rinjani adalah danau kaldera yang berada di puncaknya.

Untuk mencapai puncak tertinggi di Indonesia ini kita bisa melewati dua jalur pendakian, yakni dari Sembalun dan Senaru.

Gunung Bukit Raya di Kalimantan

Pulau Kalimantan juga menjadi salah satu lokasi sport tourism yang masuk dalam Seven Summit Indonesia. Gunung Bukit Raya memiliki ketinggian 2.278 mdpl dan masuk dalam jajaran puncak tertinggi di Indonesia.

Gunung Bukit Raya berada di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Secara administratif puncak tertinggi di Indonesia ini berada di bawah pengawasan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya. Gunung Bukit Raya bukan termasuk dalam gunung berapi.

Gunung Latimojong Atap Sulawesi

Seven Summit Indonesia juga terdapat di Pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Selatan yakni Gunung Latimojong yang memiliki ketinggian 3.430 mdpl. Puncak tertinggi Gunung Latimojong berada di puncak Rantemario.

Salah satu daya tarik dari Gunung Latimojong adalah ragam jenis satwa yang menghuni lokasi ini. Jika beruntung, kita dapat menjumpai anoa dan babi rusa selama pendakian. Jalur pendakian yang umum dipakai untuk mencapai puncak Rantemario adalah jalur Kecamatan Baraka.

Gunung Binaiya di Maluku

Gunung Binaiya merupakan salah satu puncak tertinggi di Indonesia yang terletak di Kepulauan Maluku. Puncak Binaiya memiliki ketinggian 3.027 mdpl dan berada di pulau Seram, Maluku.

Gunung Binaiya termasuk dalam pegunungan karst dan tidak aktif. Keunikan dari gunung ini adalah medannya yang bervariasi. Gunung Binaiya memiliki hutan dengan ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, hingga hutan subalpin.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****