Masakan Makassar, 5 Menu Untuk Makan Siang

Wisata kuliner memang asyik, tapi awa dengan metabolisme tubuh. Foto shutterstock

Masakan Makassar selalu menggoda selera. Kota yang pernah menjadi pusat transit perdagangan rempah-rempah terbesar pada masa kolonial, memiliki beragam warisan kekayaan. Salah satunya kuliner. Rasanya semua bahan pangan ada di kulinari kota Angin Mamiri ini.

Masakan Makassar

Segala jenis olahan yang kaya bumbu terdapat di kota yang dulunya bernama Ujung Pandang itu. Misalnya rica-rica, coto, atau konro. Kekayaan kuliner dengan paduan bumbunya yang royal dihimpun dari perpaduan budaya masak berbagai bangsa melalui para pedagang yang konon pernah mampir di Makassar.

Buat orang Jakarta, untuk menyantap kuliner otentik Makassar tentu tak perlu jauh-jauh pergi ke Sulawesi Selatan. Kuliner itu sekarang sudah bisa ditemui di banyak kota. Termasuk Jakarta.

Ada sejumlah restoran yang khusus menyediakan kuliner Makassar dengan bahan-bahan masakan asli yang didatangkan dari Sulawesi Selatan. Ada restoran Sulawesi@Megakuningan yang berlokasi di Kawasan Mega Kuningan. Ada Sop Konro Karebosi di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading. Semuanya enak.

Cobalah sekali-kali agendakan makan siang dengan menjajal beragam masakan di resto-resto dengan menu khas masakan Makassar. Berikut ini masakan kuliner khas Makassar yang bisa menjadi pilihan dan cocok untuk makan siang.

Ikan Kaneke Bakar Tradisional

Kaneke adalah ikan khas perairan Celebes dan Papua. Saat disajikan di restoran, ikan yang juga dikenal dengansebutan sweetlips ini umumnya dipilih yang memiliki ukuran besar dengan kisaran berat mencapai1,7 kilogram. Menyantapnya pun ramai-ramai, bahkan bisa untuk 10 orang.

Ikan kaneke dibakar menggunakan arang batok. Sistem pembakaran alami membuat aroma makin harum. Tekstur kaneke tidak rusak oleh pembakaran lantaran waktu memasaknya tidak terlalu lama, yakni berkisar 20 menit.

Ikan kaneke nikmat disantap dengan tiga sambal khas, yakni dabu-dabu, mangga camangi, dan petis. Meski judulnya sambal, rasa pedasnya tak terlalu menyiksa. Bila dicocol, pedasnya sambal juga tidak merusak rasa asli ikan.

Sukang Rica Parape

Ikan sukang atau dikenal juga dengan sebutan ikan kambing-kambing juga berasal dari perairan Sulawesi. Ikan ini cukup berdaging dan tak banyak durinya. Jadi kalau makan masakan Makassar ikan sukang tak perlu repot memilah daging dengan durinya.

Masakan Makassar sangat lengkap, dari ikan laut hingga olahan daging sapi.
Ikan Sukang Rica. Foto: Dok. shutterstock

Selain gampang disantap, bumbu khas yang disiram di atas ikan membikin lidah tak berhenti bergoyang. Menariknya, dalam sekali penyajian, ikan ini dihidangkan dengan dua bumbu yang bisa dipilih, yakni rica (pedas) dan parepe (manis).

Bumbu manis berasal dari bumbu bawang putih, gula aren, dan resep rahasia lainnya. Bawang, meski terlihat mendominasi, aromanya tak mencolok, juga tidak membuat mulut bau.

Sementara itu, bumbu rica pedas dikhususkan bagi pecinta sambal. Cabai yang digunakan ialah yang berjenis rawit. Aroma dan warnanya segar, menggugah selera makan.

Coto Makassar

Belum makan masakan Makassar rasanya kalau belum makan coto. Masakan ini sekilas tak ada bedanya dengan soto santan daging sapi. Namun kuahnya lebih keruh dan mlekoh. Ini karena kuahnya juga memanfaatkan kacang tanah.

Masakan Makassar yang terkenal tentu saja coto Makassar. Awalnya menggunakan jerohan sapi, kini banyak yang menyajikan daging juga.
Coto Makassar cocok disantap dengan buras. Foto: Dok. shutterstock

Mirip dengan soto Betawi, awalnya coto Makassar dimasak dengan jerogan sapi. Namun dalam perkembangannya banyak yang menawarkan daging sapi.

Orang-orang Makassar asli biasanya menyantap coto dengan buras. Buras mirip dengan ketupat, namun bentuknya persegi panjang dan ukurannya lebih kecil. Namun buat yang tak biasa menyantap buras, masakan ini bisa dimakan dengan nasi putih biasa.

Mie Titi

Mie titi adalah mi kering asli Makassar. Mie ini disajikan bersama kuah sagu yang kental. Kuahnya sendiri terasa kenyal dan gurih. Jika tak memiliki bayangan soal masakan Makassar ini, bisa membayangkan ifumi di resto-resto Chinese food. Mie-nya digoreng kering lalu disiram dengan masakan sayuran.

Masakan Makassar juga ada yang berupa bakmi kering dengan sayuran.
Mie Titi mirip dengan ifumi. Foto: dokumentasi milik Resep Koki

Sayurannya sendiri di dalamnya terdapat jamur hitam, bakso ikan, sawi putih, cumi-cumi, dan udang. Bila kuah disiram ke mie, tekstur mi yang kering akan melembek.

Ayam Topalada

Ayam topalada sebenarnya merujuk pada masakan ayam cabai merah. Namun bumbunya lebih royal karena dicampur dengan sereh dan rempah-rempah lainnya.

Ayam topalada merupakan alternatif bagi tamu yang tak suka olahan-olahan seafood. Merahnya ayam tak cuma berasal dari cabai, tapi juga saus merah. Bukan saus pabrikan, saus merah itu didatangkan langsung dari Makassar.

Tentu saja masih banyak masakan Makassar lain yang cocok disantap untuk makan siang. Ada konro, sop, atau palubasa. Semuanya enak.

Di Jakarta, selain di Sulawesi@MegaKuningan, pecinta kuliner Makassar juga bisa menemukan masakan Makassar serupa di beberapa restoran di Jakarta. Misalnya di Pondok Ikan Bakar Ujung Pandang. Restoran ini terletak di Jalan Gandaria 1, Jakarta Selatan. Menu yang tersaji pun serupa. Ada ikan kaneke, sukang, juga coto Makassar dan mie titi.

Bila ingin menyantap masakan khas Makassar dengan suasana yang lebih santai, Anda dapat melipir ke kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Daeng Tata, dengan kedainya  Mamink Daeng Tata, menjajakan menu-menu khas Makassar. Warung pinggir jalan ini menjajakan coto Makassar dan sop konro khas Sulawesi Selatan. Disediakan juga menu ikan. Namun, jenis yang tersedia tak cukup komplet.

agendaIndonesia/Rosana

*****

Ini 4 Pantai Eksotis Dengan Pasir Hitam

Pantai Parangtritis micbima unsplash

Ini 4 pantai eksotis dengan pasir hitam. Banyak orang mungkin terpesona dengan pantai-pantai berpasir putih. Dengan kombinasi air laut yang biru cemerlang, pantai-pantai itu memang mempesona. Tapi pantai yang berpasir hitam pun sesungguhnya tak kalah menawan.

Ini 4 Pantai Eksotis

Putih dalam banyak hal dinilai lebih cantik, bahkan pasir pantai. Biasanya, orang akan berburu pantai-pantai berpasir putih, yang begitu jelas menunjukkan keindahan. Bahkan tak di tempat yang lebih terbatas, ada pantai-pantai dengan pasir berwarna pink akibat ulah ganggang di perairan tersebut.

Begitupun tak berarti pantai-pantai berpasir hitam tak memancarkan pesona. Buktinya, ada sejumlah pantai berpasir hitam yang terkenal di kalangan wisatawan dan dari masa ke masa selalu diburu wisatawan.

Jika sesekali ingin menikmati pantai-pantai berpasir hitan ada sejumlah pilihan. Selain pantai Senggigi di Pulau Lombok, beberapa di antara lainnya berada di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Pilihan itu bisa disimak di bawah ini.

Karang Hawu, Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Dari Jakarta bisa mengarahkan kendaraan menuju Ciawi, kemudian mengambil arah ke Sukabumi hingga menemukan arah ke Pelabuhan Ratu. Berada di Kecamatan Cisolok, Sukabumi, di tepi pantai terpampang jelas namanya. Namanya juga menunjukkan ciri dari pantai yang memiliki karang menjorok ke laut dan memiliki lubang yang berbentuk seperti tungku memasak. Dalam bahasa Sunda, ‘hawu’ berarti ‘tungku’.

Lekat dengan legenda Nyi Loro Kidul, pantai ini banyak diburu saat liburan, termasuk oleh para peselancar. Sebab, ombaknya yang menggoda. Berkarang dan berpasir hitam ternyata membuahkan pesona tersendiri. Apalagi di kawasan wisata ini dengan mudah ditemukan beragam kelas akomodasi, rumah makan, gerai suvenir, hingga tempat penyewaan perlengkapan berselancar di laut. Di sepanjang jalur Sukabumi selatan pun bisa ditemukan pantai-pantai lain, seperti Cimaja, Pelabuhan Ratu.

Pangandaran

Pantai Pangandaran, yang kini berada di Kabupaten Pangandaran, tidak pernah sepi dari kunjungan turis. Dari waktu ke waktu, wisatawan terus meningkat. Apalagi ditambah pilihan obyek wisatanya. Menyodorkan keindahan mentari terbit dan tenggelam, pantai ini sebagaian memiliki pasir hitam. Meski pasirnya tampak gelap, tidak pernah membuat turis berpaling.

Berjarak sekita 400 kilometer dari Jakarta dan 223 kilometer dari Bandung, perjalanan panjang melalui jalur darat ditempuh untuk mencapai pantai ini. Namun pantai tetap diburu, apalagi ada pilihan singkat dengan penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusumah menuju Bandara Nusa Wiru dengan frekueunsi satu kali sehari oleh maskapai Susi Air. Tak hanya menikmati pantai dan keindahan yang bisa dicicipi, ada pengalaman lagi saat menjelajah Cagar Alam Pananjung, Cukang Taneuh, Pantai Batu Karas, dengan segudang kegiatan.

Parang Tritis, Bantul

Pantai yang berjarak sekitar 27 kilometer di selatan Yogyakarta ini dikenal dengan gundukan pasirnya. Hamparan pasirnya yang cokelat kehitaman muncul di beberapa layar lebar. Ini justru menjadi ciri khas dan area untuk mengadakan berbagai kegiatan, selain menjadi lokasi yang nyaman untuk menikmati debur ombak dan keindahan mentari tenggelam.

Di sore hari, pelancong bisa menyusuri pantai dengan berbagai cara, mulai dengan berjalan kaki, naik bendi, menunggang kuda, hingga mengendarai ATV. Pantai ini juga kerap menjadi tempat pemotretan pasangan untuk prewedding. Sebab, kala senja datang, tempat ini terasa romantis. Pantai yang menjadi bagian dari Kabupaten Bantul ini juga kerap dikunjungi para penggemar sandboarding untuk beraksi.  

Senggigi, Lombok Barat

Meski pantai-pantai di Pulau Lombok banyak yang menonjolkan pesona pasir putihnya, pantai Senggigi tetap tak pernah sepi. Apalagi menjadi pintu untuk mencapai tiga pulau kecil atau gili yang sekarang namanya sudah begitu kondang, yakni Meno, Air, dan Trawangan. Dengan keindahan mentari tenggelam, pantai berpasir hitam ini menjadi tempat mengasyikkan untuk menikmati senja.

Apalagi di kawasan Senggigi, telah berjajar hotel-hotel berbintang dan beragam kafe sehingga menjadi kawasan wisata yang hidup dari pagi hingga tengah malam. Bahkan untuk penyuka belanja, khususnya kerajinan tangan, di pantai juga bisa ditemukan pasar seni. Dijual pula aneka kain lokal, kerajinan dari kayu, rotan, dan material lainnya.

Agendakan main ke pantai-pantai berpasir hitam. Dan agendakan Indonesiamu mulai sekarang.

Rita N-TL

Nasi Jamblang Cirebon, 2 yang Legendaris

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock

Nasi jamblang Cirebon sudah menjadi klangenan bagi mereka yang pernah mencobanya. Tidak saja untuk masyarakat Cirebon sendiri, namun juga mereka yang pernah melawat ke kota udang di Jawa Barat ini.

Nasi Jamblang Cirebon

Nasi jamblang barangkali mirip seperti nasi uduk yang lekat dengan Jakarta atau nasi kucing dengan warga Yogyakarta. Aslinya, nasi Jamblang punya ciri khas dengan bungkus daun jati. Tapi belakangan, mungkin karena alasan kepraktisan, ada yang menggantinya dengan daun pisang, bahkan tak kurang yang memilih menggunakan piring saja.

Asal usul nasi yang lezat untuk sarapan ataupun makan siang ini berasal dari  Desa Jampang, Kabupaten Cirebon. Karena unik dan juga murah, nasi jamblang akhirnya populer dan menyebar ke seantero Cirebon. Lauknya, antara lain ikan asin, sate kerang, perkedel, tahu sayur, tempe, aneka pepes, ayam goreng dan lauk yang paling khas seperti tumis cumi hitam dan paru goreng yang renyah dan gurih.

Jika Anda sesekali melawat ke Cirebon, atau melewatinya saat perjalanan dari Jakarta ke arah timur, atau sebaliknya, dan ingin menikmati kuliner khas Cirebon berikut dua pilihan nasi Jamblang yang legendaris.

Nasi Jamblang Pelabuhan

Lokasinya mungkin agak nyempil, di ujung gang senggol di Jalan Pasuketan, Panjunan Lemahwungkuk, Cirebon. Masyarakat setempat menyebutnya nasi Jamblang Pelabuhan. Petunjuk menuju tempat ini hanyalah sebuah papan nama kecil. Di sampingnya ada tanda panah yang mengarahkan orang menuju jalan setapak—jalan masuk ke warung itu.

Memang cukup sulit mencari papan penanda warung sederhana yang sudah buka sejak 1970 ini. Apalagi, kadang-kadang, papan nama nasi jamblang pelabuhan tertutup barisan mobil yang berjejalan parkir di depan gang.

Namun, kesulitan tersebut sebanding dengan rasa santapan yang didapat ketika pelancong sudah sampai di depan meja panjang yang digelar Asneri, penerus kedua warung nasi jamblang itu. Di meja tersebut tersedia berbagai menu rumahan yang tampak nikmati, lagi menggairahkan.

Ada tempe goreng, telur dadar, oseng kerang, daging sapi, dan yang paling spesial: sontong serta semur tahu. Semua menu itu dikemas sederhana, tapi punya cita rasa bintang lima.

Lauk-pauk selengkap ini nikmat disantap bersama nasi yang istimewa, yakni nasi jamblang. Nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus daun jati dengan ukuran mini. Nasi jamblang umum menjadi menu sarapan sehari-hari orang Cirebon.

Nasi jamblang pelabuhan milik keluarga Asneri menjadi favorit lantaran punya aroma yang wangi. Musababnya, daun yang dipakai untuk membungkus adalah daun jati yang masih muda. Daun jati muda memberi aroma khas dan mempengaruhi citarasa. Tekstur nasinya juga pas, tak dimasak terlalu pulen, dan empuk seperti ketan.

Keunikan rasa nasi Jamblang miliki keluarga Asneri sudah diakui oleh orang luar maupun orang asli Cirebon. Kata Asneri, resep masakan yang dipakai untuk mengolah bumbu adalah resep temurun dari keluarga yang dipertahankan, waktu demi waktu.

Nasi Jamblang Mang Dul

Pilihan lain untuk menikmati nasi Jamblang di Cirebon adalah legenda yang lain, nasi Jamblang Mang Dul. Uhan, Mang Dul sudah buka sejak tahun 1970. Sama seperti nasi jambalng PelabWarung yang berlokasi di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo Nomor 8, Pekiringan, Kesambi, Cirebon, ini lumayan lega. Meski tak luas sekali, warung makan yang berkapasitas tak lebih dari seratus pengunjung ini, setiap pagi riuh dipenuhi tamu.

Tamu dari beragam daerah datang pada pukul 08.00-09.00, yakni pada jam-jam sarapan. Kursi-kursi yang ditata memanjang, sejajar, dan berhadap-hadapan tak pernah lowong. Memang, nasi Jamblang yang kesohor lantaran merupakan langganan bekas Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, itu.

Nasi Jamblang Mang Dul sama seperti nasi Jamblang yang dijual ditempat lain: dikemas kecil-kecil, dibungkus dengan daun jati, dan dihidangkan dengan beragam lauk. Yang membedakan adalah rasa olahan lauk-pauknya yang seolah lebih berbumbu dan nasinya yang punya aroma lebih wangi. Bila berkunjung ke sini, cobalah nikmati tahu semur, sotong, dan sambal merahnya. Tapi jika ingin yang lain, pilihannya ada banyak.

Saat masuk ke warung, pelanggan akan langsung tertuju pada tempat pengambilan nasi yang disajikan secara prasmanan. Nasinya ditata dalam bungkusan-bungkusan daun jati yang khas. Penggunaaan daun jati ini, konon, terinspirasi sejak jaman Belanda, saat mengerjakan jalan raya Pos. Dan ini terus dilestarikan. Mungkin sebagai pembeda dengan nasi-nasi campur di daerah lain.

Pengunjung di warung ini bisa memilih berbagai lauk yang beraneka ragam. Pembeli dapat langsung mengambil sendiri lauk pilihannya. Dari sambal goreng, daging sapi dendeng, hati sapi, tahu kuah, tempe, telor dadar, perkedel, paruh, dan banyak lainnya.

Selain untuk sarapan, nasi Jamblang juga menjadi santapan favorit selama bulan Ramadhan. Banyak pengunjung yang datang sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga sambil mencicipi menu kaya akan lauk ini. Ramainya memang pas berbuka puasa. Kadang tak sedikit yang menikmatinya untuk sahur.

Nah, kapan punya agenda ke Cirebon? Yuk, agendakan Indonesia-mu.

RITA N/F. ROSANA/SHUTTERSTOCK

Bihun Bebek Asie, Legenda Medan Sejak 1930

Bihun Bebek Asie di Medan sudah berjualan sejak 1930.

Bihun Bebek Asie atau kadang disebut juga sebagai Bihun Bebek Kumango Medan adalah salah satu kulinari ibu kota Sumatera Utara itu yang umurnya lebih tua dari usia Indonesia. Ya, inilah salah satu spot kuliner legendaris Medan, rumah makan ini sudah ada sejak 1930.

Bihun Bebek Asie

Medan, kita tahu, adalah kota yang terkenal dengan berbagai destinasi kulinernya. Tidak saja rasanya enak, kota ini juga banyak memiliki tempat dan makanan yang hanya bisa ditemukan di sini. Bihun Beberk Asie Kumanggo adalah salah satu yang terkenal di sini. 

Bayangkanlah bihun yang ditaburi dengan daging bebek. Masakan ini memang merupakan salah satu kuliner Medan, Sumatra Utara yang populer. Sajian khas ini terdiri dari bihun, daun selada, daun bawang, dan daging bebek rebus yang dijamin empuk.

Istana Maimun Medan menjadi salah satu ikon ibu koya Sumatera Utara ini.

Aslinya warung makan ini adalah juga sebuah kedai kopi. Orang Medan menyebutnya kedai Bihun Bebek Asie atau kadang secara gampangan orang juga menyebutnya kedai kopi Kumango karena berada di Jalan Kumango, atau tepatnya berada di belakang kantor Harian Analisa.

Orang menyebut bihun bebek Asie karena pemilik kedai ini bernama Asie. Bihun bebek Asie terletak di deretan ruko-ruko tua dengan jendela-jendela lebar di bagian depannya. Tempatnya cukup mencolok karena paling ramai dengan deretan mobil-mobil di depannya.

Asie sudah berjualan di sini selama puluhan tahun dan mempunyai pelanggan yang setia, selain wisatawan dari luar kota yang ingin mencoba mencicipi gurihnya bihun bebek di sini.

Kedai di Jalan Kumango Medan itu sesungguhnya tampilannya sederhana saja. Namun tempatnya selalu ramai. Menu andalannya, dan satu-satunya menu makanan yang tersedia adalah bihun bebek.

Dan asal tahu saja, bihun bebek yang satu ini terkenal sebagai yang termahal di kota Medan. Per porsi bihun bebek di sini sejak akhir 2022 lalu dibandrol Rp 100 ribu.

Lantas apa ciri khas yang paling menonjol dari bihun bebek di sini? Pertama dan utama adalah porsi bihun dan daging bebeknya yang selalu melimpah.

Karena itu, jika ada yang bertanya kenapa harganya tidak dibuat murah atau lebih murah agar bisa dinikmati lebih banyak kalangan? Jawaban pemiliknya sederhana: orang sejak lama sudah mengenal mereka dengan porsi yang melimpah.

Bihun yang dipergunakan di kedai ini memiliki tekstur yang mirip dengan tanghun lantaran memanfaatkan tepung beras dan tepung kanji. Salah satu bagian terbaik tentu saja adalah daging bebeknya yang empuk namun tidak terlalu lembek.

Tidak ketinggalan taburan bawang goreng di atasnya yang menambah kenikmatan bihun bebek khas Medan ini. Biasanya, bihun bebek disajikan dengan dua macam pilihan kuah, yakni kuah rempah dan kuah kaldu bebek.

Bihun Bebek Medan shutterstock
Ilustrasi Tampilan bihun bebek pada umumnya. foto: shutterstock

Keunggulan Bihun Bebek Asie ini adalah resep mengolah kaldu bebeknya sampai kental dan super enak rasanya. Kuahnya sangat tajam dengan aroma kaldu bebek tapi minim minyak dan lemak. Jernih dan ringan rasanya, dengan taburan kucai tanpa aroma amis daging bebek. 

Dengan perpaduan bahan-bahan tersebut, rasanya para pecinta kuliner dapat merasakan citarasa yang begitu sedap. Sambelnya terasa sedikit dan samar-samar ada rasa asam juga. Bagian terbaik dari hidangan ini tentu saja suwiran daging bebek yang melimpah. Pengunjung juga diperkenankan memesan lauk tambahan, misalnya saja hati atau ampela.

Jalan-jalan ke kota Medan belum lengkap rasanya jika belum mencicipi bihun bebek satu ini. Di Medan, Bihun Bebek Asie memang di daulat menjadi kedai yang menyediakan bihun bebek yang paling enak.

Kedai ini mulai buka dan melayani pembeli Senin hingga Jumat mulai pukul 07.00 WIB. Warga Medan biasa mengunjungi kedai ini untuk menyantap sarapan.

Bihun Bebek Asie IG %40madeyogasudharma
Bihun Bebek Asie. Foto: milik IG Made Yoga Sudharma

Jadi sejak pagi sekali, kedai ini  sudah sangat ramai orang yang antri buat beli bihun bebeknya. Saran saja untuk pengunjung dari luar kota, agar bisa mendapat seporsi bihun ini, datanglah sebelum pukul 8 pagi. Atau akan kehabisan.Menu bihun di sini akan habis dalam beberapa jam saja.

Juga jangan datang Sabtu atau Minggu. Karena mereka melayani banyak pelanggan di hari biasa, kedai ini tutup saat weekend

Kedai Bihun Bebek Asie Kumango, Jalan Kumango Nomor 15, Kesawan, Medan.

agendaIndonesia

*****

Surga Wisata Bali, 3 Butuh Perjuangan

Surga Wisata Bali ternyata tak semuanya tinggal turun mobik dan duduk. Ada juga yabg butuh perjuangan. Foto: shutterstock

Surga wisata Bali mempunyai paket yang komplet. Mulai atraksi berupa garden park, resor-resor mewah, desa-desa wisata, pantai-pantai menawan atau pantai perawan, pertunjukan-pertunjukan budaya, hingga alam pegunungan yang asri.

Surga Wisata Bali

Hampir semua tempat di Bali rasanya telah kondang bagi para wisatawan, domestic maupun manca negara. Aksesnya pun gampang untuk menuju lokasi-lokasi wisata tersebut. Sarana transportasi cukup lengkap, jalan menuju spot-nya pun relatuf gampang.

Namun, bila ada wisatawan yang ingin sensasi liburan yang lain, Bali punya setidaknya tiga surga tersembunyi yang perlu disambangi dengan hiking. Di antaranya tiga tempat berikut ini.

  1. Bukit Campuhan

Pesona Bukit Campuhan, Ubud, semakin viral di dunia maya. Sekitar 11 ribu foto bertagar #bukitcampuhan telah diunggah oleh para pengguna akun Instagram.

Surga Wisata Bali menyimpan banyak keindahan. Ada yang perlu perjuangan untuk mencapainya, seperti Bukit Campuhan di Gianyar.
Bukit Campuhan di Kabupaten Gianyar, Bali. Foto: dok. shutterstock

Sejumlah travel influencer yang sedang naik daun, seperti Kadekarini dan Anggey Anggraini, pun beberapa kali mengunggah foto dengan latar bukit itu. Dalam potret yang ditampilkan di akun berbagi gambar tersebut, keduanya tampak sedang menyusuri Campuhan. Lanskap terasering persawahan di kanan-kiri menjadi ikonnya. Sungguh surga wisata Bali.

Kami lantas mencoba menyambangi bukit itu pada pekan pertama Februari lalu. Ternyata tak mudah menemukan jalan untuk sampai tujuan.

Dari Kota Denpasar, jalan menuju Campuhan harus ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dengan waktu perjalanan lebih-kurang 1 jam. Bisa juga menumpang shuttle bus dari Pantai Kuta arah Pasar Ubud dengan waktu tempuh lebih lama, yakni 1,5-2 jam.

Setelah tiba di Pasar Ubud, yang juga merupakan pusat aktivitas daerah itu, tak ada petunjuk pasti menuju Bukit Campuhan. Dalam peta digital pun tak tedapat informasi akses jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan bila wisatawan ingin pergi ke sana.

Satu-satunya lokasi terdekat dengan Bukit Campuhan yang bisa diakses kendaraan adalah Kafe Karsa. Kafe Karsa letaknya di balik vila-vila mewah di pedesaan Ubud. Untuk menuju ke sana, wisatawan bisa melewati jalanan berliku serta tanjakan dan jalan menurun cukup terjal.

Selepas sampai di Kafe Karsa, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki atau hiking. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Jalur pertama melewati pematang sawah di belakang Kafe Karsa. Jalur kedua melewati jalan buntu yang letaknya 500 meter dari kafe itu.

Keduanya sama saja menawarkan trek yang lumayan. Perjalanan sekitar dua  kilometer harus ditempuh dengan medan naik-turun melewati jalan setapak.

Namun, setibanya di Bukit Campuhan, rasa lelah akan terbayar dengan pesona alam Ubud yang masih sangat asri. Panorama bukit hijau membentuk prisma tampak membentang di depan mata.

2. Pantai Nyang Nyang

Surga wisata Bali berupa pantai yang terletak di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, ini pernah dinobatkan sebagai Pantai Terbaik Layak Kunjung 2018 oleh CNN Travel International. Pantai tersebut menjadi satu-satunya pantai di Indonesia yang masuk daftar pantai terbaik, bersanding dengan Railay Beach di Thailand, Bazaruto Archipelago di Mozambik, dan Sant Sebastia Beach di Spanyol.

Surga wisata Bali tersedaia dari bukit hingga pantai. Seperti Pantai Nyangnyang.
Pantai Nyangnyang, Bali. Foto: shutterstock

Nyang Nyang masuk jajaran prestasi ini lantaran punya garis pantai yang sangat panjang dengan pasir berwarna keemasan.

Sebelum dinobatkan jadi pantai terbaik, kamipernah mengunjungi Nyang Nyang pada Maret 2017. Warga lokal, Gede Arya, menunjukkan jalan menuju pantai tersebut yang ternyata masih berupa bebatuan kapur yang digempur.

Dari arah Pantai Kuta, jalan menuju Nyang Nyang searah dengan jalur menuju Uluwatu, yakni melewati Jalan Raya Uluwatu Pecatu. Papan petunjuk menuju pantai pun hampir tak terlihat.

Patokan pasti menuju Nyang Nyang adalah Jalan Batu Nunggalan, jalan kecil di tepi Jalan Raya Uluwatu Pecatu. Ujung Jalan Batu Nunggalan adalah jalan buntu. Dari jalan buntu itu tampak garis Pantai Nyang Nyang membentang panjang. Namun letaknya jauh di bawah tebing.

Buat turun ke pantai, wisatawan kudu hiking. Jaraknya tak sampai 1 kilometer, namun kemiringannya cukup bikin kaki gemetar. Disarankan membawa tongkat penopang untuk jalan supaya tak jatuh terperosok saat melewati jalur bebatuan kapur yang terjal dan licin.

3. Green Bowl

Tak jauh dari Nyang Nyang, tepatnya di Desa Ungasan, terdapat pantai yang dulunya merupakan area privat sebuah vila. Pantai ini sekarang dinamai Green Bowl.

Surga wisata Bali tak semuanya bisa dicapai dengan mudah. Ada yang butuh hiking terlebih dahulu, seperti green bowl.
Green Bowl Bali. Foto: Dok. Unsplash-Nigel T.

Mirip dengan Nyang Nyang, Green Bowl terletak jauh di bawah tebing. Buat menuju ke sana, wisatawan kudu menuruni 300 anak tangga dengan pemandangan kanan-kiri berupa semak-semak. Beberapa anak tangga licin karena sudah berlumut. 

Green Bowl, menurut Made, pemilik warung di dekat pantai itu, lebih kondang di kalangan turis asing. Memang, saat itu, pengunjung pantai mayoritas adalah wisatawan mancanegara. 

Wisman tampak mendatangi pantai ini untuk berselancar. Kata Made, Green Bowl memang tempatnya surfer. Tepi pantainya tidak terlalu luas, tapi gelombang lautnya cukup besar. Airnya juga masih sangat jernih.

Gemar petualangan? Mungkin sekali-kali perlu diagendakan kunjunganmu ke tiga tempat tersebut.

agendaIndonesia/Rosana

*****

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Masjid Agung Sumenep

Sumenep 2 peninggalan sejarah Indonesia di pulau Madura, Jawa Timur. Satu tentang kisah keraton Sumenep dan lainnya soal Sumenep sebagai penghasil garam.

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Lantunan salawat para ibu terdengar nyaring dari Kubah Bindara Saod, salah satu raja Sumenep yang bernama asli Raden Tumengung Tirtonegoro. Terdengar juga suara lirih doa dari Kubah Pangeran Jimat, raja Sumenep yang lain. Kubah mereka memang bersebelahan. Saya terdiam di pagi yang hangat, di Asta Tinggi, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep, Madura. Kompleks itu berada di daerah perbukitan. Angin yang bertiup perlahan menyadarkan saya, yang sudah terlalu lama terpaku.

Meninggalkan kompleks pemakaman penuh warna itu, kaki melewati makam-makam lain, yang tentu saja masih keluarga keraton. Uniknya, beberapa dipulas warna-warni. Ada beberapa gapura dan bangunan atau kubah yang dipoles warna-warna terang juga. Di pemakaman yang didirikan pada 1750 ini, ada juga makam Pangeran Diponegoro.

Jajaran ibu penjaja kembang dan air mawar pun saya tinggalkan. Sementara di sisi kiri-kanan saya, para peziarah silih berganti memasuki pemakaman. Setelah menghirup udara segar dalam-dalam, saya melewati gapura putih megah yang menjadi pintu masuk dan keluar. Berada di Kebon Agung, jarak dari pusat kota, hanya sekitar 2,6 kilometer. Hingga saya memilih melepas lapar di Rumah Makan Kartini, di Jalan Diponegoro. Suguhan khasnya cakee—lontong kuah kari—tentunya cukup mengenyangkan. Pilihan lain yang cukup menggoda, nasi campur.

Tak lama, azan Zuhur pun terdengar. Saatnya saya bergeser ke Masjid Agung Sumenep yang hanya beberapa meter dari rumah makan ini. Gerbang putih dengan polesan keemasan di beberapa titik itu langsung menyedot perhatian saya. Orang berduyun-duyun melewatinya. Saya pun tak mau ketinggalan. Melangkah di bawah gapura atap bersusun yang kental dengan budaya Tiongkok itu, saya menengadah mencermati arsitektur salah satu masjid tertua di negeri ini. Merupakan perpaduan beragam budaya; Cina, Eropa, Jawa, dan Madura.

Dibangun pada 1779-1787, dulu dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep. Kini menjadi Masjid Agung Sumenep. Saya melipir ke sisi kiri, karena kaum perempuan hanya mendapat bagian di teras masjid. Namun, seusai salat, saya menengok ke bagian dalam. Ada mihrab dan mimbar ganda dengan detail unik.

Sebagian jemaah siang itu ternyata para pelaku wisata religi. Sumenep memang gudang sejarah yang kental dengan keagamaan. Masjid yang dibangun Kanjeng R. Tumengung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI, ini salah satunya. Dulu merupakan tempat ibadah keluarga keraton, lokasinya memang tak jauh dari Keraton Sumenep. Setelah menunaikan ibadah, giliran istana yang saya jelajahi.

Gerbang keraton atau Labang Mesem mirip dengan gapura Masjid Agung Sumenep, hanya dalam ukuran lebih kecil dan sederhana. Warna yang digunakan sama, putih dan kuning. Ada limasan berundak tiga di bagian puncaknya. Arsiteknya ternyata sama dengan Masjid Agung, yakni warga keturunan Tionghoa bernama Lauw Piau Ngo.

Di sebelah kiri gerbang atau di sebelah timur, ada Taman Sare yang dulu merupakan pemandian keluarga kerajaan. Di istana ini ada beberapa hal unik, seperti Al Quran tulisan tangan berukuran raksasa, kereta kencana Kerajaan Sumenep, dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Inggris. Tepat di seberang Labang Mesem, ada Museum Keraton dengan sejumlah koleksi, seperti pedang, foto-foto kerajaan di masa lalu, kereta kencana, dan alat musik jadul.

Siang yang teduh di akhir Januari, kota yang ditempuh dalam empat jam dari Surabaya ini tak lagi diterpa sinar mentari yang terik. Cukup nyaman bagi saya menengok berbagai peninggalan PT Garam untuk mengenang Sumenep sebagai penghasil garam tersohor di masa lalu. Dari pusat kota, saya pun perlahan menuju Kalianget, kawasan yang dibangun VOC, kemudian diteruskan di masa penjajahan Belanda saat ingin menguasai pusat garam di Madura ini.

Di sebuah jalan dengan kiri-kanan pepohonan rimbun, mata saya menangkap deretan bangunan lawas yang lebih-kurang didirikan pada 1914-1925. Rupanya, saya sudah memasuki kawasan Kalianget. Mata kian awas menyimak kiri-kanan, di mana rumah-rumah tua terus berbaris. Ada pula lapangan tenis. Hingga kendaraan berhenti di sebuah gedung tua tanpa label. Setelah maju beberapa meter, terlihat bangunan dengan papan nama PT Garam (Persero) yang masih terpasang.

Di seberangnya, terlihat bangunan tua lain, konon dulu digunakan sebagai tempat hiburan, sejenis bioskop. Sedangkan gedung tua sebelum kantor PT Garam, ternyata Gedung Sentral yang menjadi pusat listrik. Tak jauh dari sana, saya menemukan lapangan dengan gapura sederhana. Untaian besi di atas gapura bertuliskan “Lapangan Taman Merdeka”. Di tengah lapangan ada sebuah tugu mini. Puncaknya dicat merah, juga di bagian bawahnya. Sederhana, tapi bikin saya penasaran.

Sebuah sepeda ontel berdiri tanpa teman di taman itu. Pemiliknya rupanya bapak tua yang tengah menyambit rumput. “Itu Tugu Kemerdekaan,” ujarnya. Kemudian saya bertemu dengan penarik becak berbaju garis merah-putih khas Madura. Ia menjelaskan lebih detail. Tugu Merdeka didirikan untuk memperingati perlawanan terhadap Belanda. Ia bertutur Belanda menyerang dari arah laut, dan rakyat pun berjuang menahannya di lapangan ini. Hingga ada lubang atau benteng pertahanan mini di ujung lapangan.

Lantas, Eri—begitu bapak itu menyebut namanya—bercerita tentang PT Garam di masa kejayaannya. Ia pun menunjukkan bekas gudang dan penampung air di bagian belakang kantor perusahaan itu. “Rumah-rumah bekas karyawan sekarang disewain dengan harga murah,” ucapnya. Sedangkan gudang-gudang dan kantor kosong, hanya menyimpan seonggok kenangan dan kejayaan saat Sumenep menjadi penghasil garam terkenal, saat kapal-kapal dari berbagai negara singgah di pelabuhan ini.

Langit mulai gelap. Ketika hujan sering turun di Bumi Pertiwi ini, Sumenep pun tak ketinggalan diguyur air dari atas. Saya harus beranjak, dan tentunya akan kembali esok pagi, karena perjalanan ke Gili Labak, dimulai dari Dermaga Kalianget. l

Gili Berpasir Putih

gili labak di Sumenep, Madura, Jawa Timur
Wisata Sumenep di Gili Labak. Dok. Rully K-TL

Dengan bantuan staf hotel, saya mendapat kontak pemilik perahu yang akan membawa ke Gili Labak. Sewa per kapal cukup tinggi, sekitar Rp 1 juta. Jadi saya pun bergabung dengan sejumlah penumpang lain dengan biaya per orang cukup Rp 75 ribu.

Selepas subuh, kendaraan melaju langsung ke Dermaga Kalianget. Semangkuk mi dan teh panas mengisi perut yang kosong sebelum saya menuju rumah pemilik perahu. Terbagi dari beberapa rombongan, dan akhirnya saya mendapat jatah rombongan terakhir yang baru berangkat pukul 06.30. Perahu berkapasitas 20 orang itu mulai melewati Pulau Talango, tepat di seberang dermaga. Pulau ini terkenal diburu peziarah karena di sana ada makam Sayyid Yusuf.


Awalnya laut tenang, tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang Gili Labak, ombak mengajak bergoyang. Akhirnya, setelah 2 jam di laut, kaki menginjak pantai berpasir putih nan halus. Saya mencoba berkeliling pulau kecil dengan ukuran 5 hektare itu. Tidak terlalu lama, sekaligus tak melelahkan. Ada beberapa pilihan spot untuk selfie atau wefie, dari jembatan, dermaga, sampai pepohonan kering. Tentunya bikin pelancong, yang kebanyakan lokal, bisa mejeng sana-sini.

Terlihat beberapa tenda berdiri di tepi pantai. Ada juga rumah-rumah penduduk yang disewakan. Sedangkan ikan-ikan lebih banyak berada di sisi belakang pulau. Hanya sayang, karena kerap surut, terumbu karang pun sering diinjak-injak hingga terlihat banyak yang mati. Seperti saat pulang, karena di bagian depan ombak begitu tinggi, perahu menaikkan penumpang dari sisi belakang.


Jangan terlena hingga sore di Gili Labak. Sebab, lewat siang, ombak terus meninggi. Berangkat sekitar pukul 14.00 pun ombak tak berhenti mengayun-ayun perahu, dan semburan air membuat penumpang di bagian depan basah kuyup. Seperti yang saya alami, rasa asin begitu lekat di badan. Dengan ombak tinggi, perjalanan pulang pun akhirnya berakhir setelah 2,5 jam. l

Rita N./Rully K./Dok TL

Toko Roti Sidodadi, Jadul Sejak 1954

Toko Roti Sidodadi satu legenda kuliner Bandung.

Toko Roti Sidodadi Bandung adalah kenang-kenangan kota Paris van Java ini sejak awal kemerdekaan Indonesia. Toko roti ini dibuka sekitar 1954, setahun sebelum Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di kota ini.

Toko Roti Sidodadi

Untuk banyak orang, Toko Roti Sidodadi merupakan prasasti bagi hidup mereka. Berusia sekitar 70 tahun, banyak pelanggan mereka yang sudah sepuh, namun mereka tetap berkunjung ke toko ini jika mampir ke ibukota Jawa Barat ini.

Awalnya, Toko Sidodadi ini hanya memproduksi kue carabikang yang terbuat dari tepung beras. Hingga kini, kue tersebut masih dibuat. Setiap pengunjung bisa menyaksikan langsung pembuatan carabikang secara tradisional di bagian depan toko.

Toko Roti Sidodadi sudah ada sejak tahun 1954, setahun sebelum KTT Asia Afrika.
Jalan Oto Iskandar Dinata, Bandung. Foto: unsplash

Baru pada 1960-an, Sidodadi membuat roti yang dibuat secara tradisional dengan tangan. Mereka juga membuatnya tanpa bahan pengawet, sehingga rotinya hanya bisa bertahan 3-4 hari.

Proses pembuatan adonan rotinya menghabiskan waktu satu malam. Sementara pemanggangannya dilakukan pada pagi hari. Jadi selalu fresh. Mereka memanggang dua kali, pagi-pagi sekali untuk dijajakan pada pukul 10 pagi, dan pemanggangan siang untuk dijajakan pada pukul 4 sore.

Dalam perkembangannya, toko ini kemudian juga memproduksi roti-roti dan kue-kue yang lain. Aneka jajanan roti disediakan di sini, mulai dari roti manis dan asin. Tak hanya itu, mereka juga menyajikan berbagai makanan gorengan dan jajanan pasar.

Untuk roti rasa manisnya, ada roti cokelat, susu, kopi, kismis, nanas dan rasa manis lainnya. Sedangkan untuk rasa asinnya ada roti sosis, bakso sapi, smoked beef, bakso ayam dan roti kornetnya. Masing-masing memiliki penggemarnya.

Toko Roti Sidodadi kompas
Toko Sidodadi di Bandung. Foto: Milik kompas.com

Toko Roti Sidodadi ini tetap bertahan menjadi toko roti favorit di Bandung. Ini bisa terlihat dari ramainya pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan yang mengantre untuk memesan roti di sini.

Toko Roti Sidodadi itu sendiri merupakan usaha roti keluarga. Sejak awal mengambil lokasi di Jalan Otto Iskandar Dinata Nomor 255, Kecamatan Astanaanyar, Bandung. Letaknya yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Bandung menjadikan toko roti ini menjadi pilihan favorit masyarakat Bandung dan mereka yang pernah tinggal di kota ini.

Bangunan Toko Roti Sidodadi hingga kini masih terlihat kuno. Di sisi depannya ada tulisan cukup besar bertuliskan “Toko Sidodadi” dengan huruf berwarna merah.

Bangunannya praktis tak banyak berubah sejak dulu. Di bagian luar toko, atau di pinggir jalan, masih terlihat pedagang-pedagang kecil buah atau penganan ikut menjajakan dagangan mereka dengan ember atau baskom.  

Suasana di dalam toko pun masih mirip masa lalu. Ia bukanlah bakery-bakery modern yang berhawa sejuk. Jejeran showcase-nya juga masih terlihat model lama. Pendek kata, bagi mereka yang pernah datang ke toko ini 30 tahun lalu akan mendapatkan kesan yang sama.

Menariknya, rasa roti dari toko yang satu ini tidak berubah dari zaman dahulu kala. Teksturnya empuk, rasanya yang enak menjadikan toko Roti Sidodadi selalu dipenuhi para pengunjung atau pelanggan setianya.

Toko Roti Sidodadi saat ini telah dikelola oleh generasi ke tiga dari pendiri awalnya. Penamaan “Toko Sidodadi” itu sudah ada sejak zaman awal toko tersebut berdiri. 

Tak ada penjelasan kenapa nama itu yang diambil dan mengapa dalam bahasa Jawa. Nama yang berarti “Jadi Dilakukan” atau “Jadi Dibuat” dalam bahasa Jawa.

Produk Roti Toko Sidodadi IG wa.nk
Roti dan kemasan Toko Sidodadi. Foto: Dok. IG wa.nk

Tak hanya itu keunikan toko roti ini. Hal lain yang tak berubah dari sejak awal toko ini beroperasi adalah kemasannya yang melegenda. Bungkus atau packaging rotinya sangat terkesan jadul.

Terbuat dari plastik berwarna putih dengan gambar berwarna merah seorang perempuan membawa roti tawar. Di bagian atas gambar terdapat tulisan nama toko roti dan alamatnya.

Selain itu tertera pula bahan baku yang digunakan serta nomor perizinan. Di paling bawah kemasan terdapat imbauan bertuliskan “Jadilah Peserta KB Lestari” dan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”.
Kemasan ini menambah kesan klasik dari roti Sidodadi. Sang pemilik sepertinya ingin mempertahankan kesan atau image itu. Citra bahwa roti atau toko roti mereka adalah legenda kuliner Bandung, yang bahkan kemasannya pun tak berubah sejak dulu.


Ayo sekali-kali agendakan jajan roti di Sidodadi. Dengan harga yang terjangkau, para pelanggan dapat merasakan roti legendaris di Kota Bandung dengan berbagai varian rasa yang tidak kurang dari 30 pilihan rasa.

agendaIndonesia

*****

Pasar Triwindu Solo Antik Sejak 1939

Pasar Triwindu Solo berdiri sejak tahun 1939.

Pasar Triwindu Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu tujuan khusus wisatawan yang mengunjungi kota ini. Ia seakan menjadi surga bagi pecinta barang antik atau tiruannya, ya pasar ini memang dikenal sebagai pusatnya penjualan barang-barang antik dan kuno.

Pasar Triwindu Solo

Pasar Triwindu Solo berada di sisi selatan Pura Mangkunegaran, ia hanya berjarak sekitar 350 meter dari kraton itu. Kedekatan lokasi itu karena memang Triwindu merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran. Pasar ini dibangun di selatan kompleks Kraton Mangkunegaran, tepatnya di sisi timur kalan raya yang mengarah ke gapura istana. Secara administratif berada di wilayah kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta atau Solo.

Pasar Triwindu Solo dibangun untuk memperingati 24 tahun masa bertahta KGPAA Mangkunegara VII.
Pasar Triwindu Solo yang terletak di Jalan Diponegoro. Foto: dok. shutterstock

Ia disebut Triwindu karena dibangun pada 1939 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai peringatan 24 tahun (atau tiga windu) masa pemerintahannya. Pada 5 Juli 2008, pasar ini dipugar dan dibuat bangunan baru yang disesuaikan dengan arsitektur budaya Solo. Awalnya, tempat ini bernama Windujenar lantas seiring perkembangan berubah menjadi Pasar Triwindu.

Pasar Triwindhu Ngarsapura adalah pasar barang antik, tiruannya, serta onderdil khusus (klithikan). Barang klithikan ini, misalnya, tuts mesin ketik kuno. Atau lampu sepeda onthel lawas yang sudah tak ada di toko-toko sepeda.

Bagi kolektor barang antik, Solo menjadi surga yang menyediakan beragam benda bernilai sejarah dan suvenir jaman dulu. Pasar Windujenar atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Triwindu menjadi sentranya. Terletak di kawasan Ngarsopura di Jalan Diponegoro, pasar ini menawarkan keunikan bertransaksi: berbagai barang antik yang boleh ditawar.

Pasar ini ketika dipugar dibuat menjadi dua lantai, sehingga kios-kios yang awalnya berhimpitan menjadi agak longgar. Pada lantai satu digelar barang-barang lawas dan antik. Sementara itu di lantai dua, mayoritas barang yang ditawarkan adalah onderdil kendaraan tua.

Di lantai satu dagangan yang digelar mulai gramofon buatan Eropa, senjata pusaka, kamera tua, ukiran, peralatan rumah tangga lawas hingga mainan antik. Ada juga mata uang kuno, baik yang berbentuk koin atau kertas, misalnya yang dikeluarkan pada 1800-an; topeng, piring kuno buatan 1960, aneka kain batik lawas, dan perkakas rumah tangga. Kemudian ada radio kuno, jam tangan bekas, patung, lampu hias kuno, hingga mainan tradisional tempo dulu, seperti dakon dan lainnya.

Seperti disebut di muka, keunikan penjualan barang-barang antik dan kuno yang dijual di pasar ini harganya bervariasi. Mulai harga yang termurah dari ribuan rupiah saja, ratusan ribu hingga puluhan juga rupiah. Para pembeli yang datang ke pasar ini sebagian besar para pelancong yang hobi mengkoleksi barang-barang antik dan kuno. Mereka tidak saja dari segala penjuru daerah di Indonesia, tetapi juga kolektor dari mancanegara (luar negeri). Seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan lainnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu Sudarsono bercerita bahwa lahan yang digunakan sebagai pasar tersebut awalnya difungsikan sebagai alun-alun Mangkunegaran. Pembangunan sebagai Pasar Triwindu menurutnya memiliki dua versi. Versi pertama adalah ketika pada 1939, ketika Pura Mangkunegaran dipimpin KGPAA Mangkunegara VII, ia membangunnya sebagai ulang tahun jumeneng yang ke 24.

Sedangkan versi kedua, menurut Sudarsono, adalah KGPAA Mangkunegara VII berniat memberi hadiah ulang tahun ke 24 untuk putrinya, Gusti Putri Mangkunegara VII yang bernama Noeroel Kamaril.

iNamun bisa jadi kebaradaan pasar ini merupakan gabungan kedua versi tersebut, yakni membangun pasar sebagai perayaan bertahta selama tiga windu dan kemudian pasar itu kemudian dihadiahkan kepada Gusti Noeroel bertepatan dengan ulang tahunnya ke 24. Nama Triwindu berasal dari kata ‘Tri’, dalam bahasa Jawa yang berarti tiga. Sedang ‘windu’ artinya delapan. Kemudian diterjemahkan dalam bilangan angka 24 yang berarti tiga kali delapan.

“Nama Pasar Windujenar pada Juni 2011 berubah nama jadi Pasar Triwindu hingga sekarang,” kata pria tersebut.

Pasar Triwindu dimanfaatkan sekitar 200an pedagang menjajakan koleksinya. Selain tujuan kdiriolektor barang antik dan kuno, Pasar Triwindu juga menjadi tujuan wisata. Menurutnya, pengunjung pasar Triwindu ada tiga kategori. “Wisatwan dari Solo sendiri, dari luar kota, dan mancanegara. Tetapi kebanyakan yang belanja di sini dari luar kota,” katanya.

Seorang pedagang Pasar Triwindu mengaku sudah lama berjualan barang antik sejak pasar itu masih bernama Windujenar. Menurutnya, banyak pembeli datang membeli barang antik dan kuno selain untuk koleksi pribadinya, namun tak sedikit untuk dijual kembali di kota asalnya.

Menurutnya, ada perbedaan antara pembeli kolektor dengan pembeli pedagang atau setengah kolektor-pedagang. Kolektor umumnya tak banyak menawar harga barang jika sudah cocok dengan barang yang diinginkannya. Sementara yang berpikir untuk menjual kembali biasanya melakukan tawar menawar.

Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya menjadi incaran para kolektor barang antik
Salah satu sudut Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya. Foto: dok. shuterstock

Tren barang antik yang dicari para pembeli rupanya juga selalu berganti sesuai jamannya. Periode 1970-1990, misalnya, banyak pembeli dari mancanegara yang datang membeli barang antik dan kuno. Barang antik atau kuno yang dibeli kebanyakan keris, patung, dan arca. Pembelinya adalah kolektor dari Belanda, Inggris dan Australia. Kemudian pada era 1990-2000-an para pembeli yang datang ke Pasar Triwindu mencari lampu kristal kuno atau perabotan rumah tangga.

Triwindu, yang sampai sekarang muka sejak pukul sembilan pagi dan tutup kadang sampai malam menjadi primadona dan pilihan bagi para kolektor yang ingin mencari barang-barang antik dan kuno.

Jika pandemi sudah mereda dan ada rencana ke Solo, tak ada salahnya agendakan kunjungan ke Triwindu.

agendaIndonesia

Bakmi Mbah Hadi, Di 1 Sudut SPBU Terban

Bakmi Mbah Hadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta.

Bakmi Mbah Hadi bisa jadi menjadi satu cerita tentang bakmi Jawa dari kota Yogyakarta yang bertahan puluhan tahun. Gumbreg Hadisumarto pemilik sekaligus perintis warung ini bahkan hampir lupa kapan ia mulai berjualan. Yang jelas bakmi ini sudah ada sejak sebelum tahun 1990.

Bakmi Mbah Hadi

Mbah Hadi, begitu ia biasa dipanggil, sama seperti cerita banyak kuliner legendaris di Indonesia, memulai usahanya dari kecil. Dulu sekali ia membuka usahanya dengan gerobal dorong yang kemudian mangkal di bagian depan terminal bus kecil di kawasan Terban, atau di sisi barat Jalan C. Simanjuntak.

Ketika itu gerobaknya hanya dilengkapi satu meja dan dua bangku panjang. Kebanyakan pembeli membawa pulang, karena hampir pasti tak mendapat tempat duduk.

Bakmi mbak Hadi di Yogya lokasinya ada di dalam SPBU, menjadi slah satu ikon bakmi Jawa seperti Tugu Pal Putih
Tugu Pal Putih Yogya, landmark kota pelajar. Foto: shutterstock

Bakmi Jawa memang merupakan salah satu makanan khas dan favorit masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Bakmi Jawa atau mi Jawa awalnya dikenal sebagai bakmi rebus atau dalam bahasa jawa disebut bakmi godhog yang dimasak dengan bumbu dan rempah yang khas masakan Jawa.

Meskipun awalnya pembeli umumnya memilih memesan bakmi godhog, bakmi jawa memiliki banyak variasi masakannya. Ada bakmi rebus yag berkuah, bakmi goreng, bakmi nyemek, ini kembangan dari bakmi godhog yang kuahnya sudah hampir habis.

Penjual bakmi jawa di Yogyakarta biasanya  juga menjual nasi goreng. Dan yang tak kalah unik adalah gaya magelangan di dalam menu masakannya. Ini adalah nasi goreng yang dicampur dengan mie goreng.

Keistimewaan bakmi jawa adalah pada cara pengolahannya. Penjualnya masih memasak menggunakan anglo yakni tungku dari tanah liat dan api dari arang. Setiap pembeli bakmi jawa meskipun memesan dengan jumlah posri yang banyak, namun penjual bisanya membuatnya tetap satu per satu porsi.

Demikian juga yang dilakukan di warung bakmi Mbah Hadi. Mereka memasak satu er satu setiap pesanan. Saat ini mereka menggunakan tiga juru asak dengan tiga anglo agar pembeli bisa cepat terlayani.

bakmi Mbah Hadi sedang dimasak  dengan anglo.
Bakmi Jawa biasanya dimasak porsi demi porsi dengan anglo dari tembikar. Foto: shutterstock

Keistimewaan bakmi Mbah Hadi adalah pada suwiran daging ayam kampung dan telur bebek sebagai bahan membuatnya. Rasa yang akan diperoleh dari bahan-bahan tersebut akan membuat rasa bakmi Jawa menjadi khas.

Penjual bakmi Jawa umumnya berasal dari Desa Piyaman, Wonosari, Gunung kidul, Yogyakarta. Dulu penjualnya juga biasanya mulai menjajakan dagangannya mulai senja dengan menggunakan gerobak tempat memasak bakmi di depan tempat usaha mereka.

Waktu berlalu, Terminal bus Terban direvitalisasi dan warung gerobag bakmi mbah Hadi pun terpaksa tersingkir. Sesungguhnya ia bisa saja berjualan di tempat lain, namun orang Yogya kadung mengenal bakminya juga dengan sebutan bakmi Terban.

Mbah Hadi dan keluarganya pun kemudian berupaya mencari lokasi di sekitar tempat lama. Kebetulan stasiun pompa bensin umum Terban yang terletak di sekatan terminal juga tengah direvitalisasi, jadilan warung bakmi Mbah Hadi mendapat tempat di belakang SPBU Terban ini.

Warung bakmi ini memang terletak di dalam area SPBU, tepatnya di pojok utara. Jadi untuk menuju ke sini adalah masuk ke dalam SPBU. Jangan kaget kalau warung mbah Hadi ini berupa bangunan mungil yang cukup modern.

Selain di dalam warung, pengunjung juga bisa memilih area luar ruangan yang berada di belakang. Banyak yang suka dengan yang di luar, sebab di sini ada pemandangannya. Suasana Kali Code dan kerlap-kerlip lampu kota.

Bakmi Godog Jogja shutetrstock
Kuah bakmi godhog enak ketika disruput, hangatnya sampai ke seluruh badan. Foto: shutterstock

Porsi masakan bakmi di warung ini cukup besar. Jadi sesungguhnya cukup memesan satu porsi untuk satu orang. Namun kadang ada pula pelanggan yang memasan dua secara bergantian: godhog dulu, lalu disusul dengan yang goreng.

Dengan tiga tungku dan tiga pemasak berikut tiga asisten masak (mereka bertugas mengatur kipas, mengisi arang, dan menyiapkan piring), pelayanannya cukup cepat. Meski pada jam-jam sibuk, orang tetap harus sabar mengantre.

Kuah bakmi rebusnya benar-benar enak dan gurih. Pemakaian telur bebeknya membuat kuahnya betul-betul terasa istimewa. Belum lagi bumbunya yang cukup berani. Satu hal lagi yang menarik adalah tekstur bakminya yang kenyal dan besar. Benar-benar pas untuk disantap dengan bumbu-bumbu yang digunakan.

Hal yang menarik juga dari mbah Hadi adalah di sini pembeli bisa mengajukan permintaan khusus untuk campuran bakmiya. Di warung bakmi jawa ini, misalnya, pengunjung bisa meminta daging ayam yang dipakai adalah brutu atau kepala. Sepanjang masih ada, permintaan akan dilayani.

Warung bakmi Jawa Mbah Hadi ini buka antara pukul 18.00 – 23.00 WIB. Jika ingin lebih nyaman, hindari datang pada pukul 19.00 hingga 21.00, karena itu adalah puncak keramaian. Meski buka hingga pukul 23, mereka menerima pesanan terakhir pada pukul 22.

Warung Bakmi Jawa Mbah Hadi;  Jalan C. Simanjuntak Nomor 1 (di dalam SPBU Pertamina Terban), Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. 

agendaIndonesia

*****

3 Nasi Campur Pamekasan Buat Sarapan

3 nasi campur buat sarapan di pamekasan

3 nasi campur Pamekasan buat sarapan rasanya menjadi menu yang banyak ditemukan di kota penghasil garam di Madura ini. Nasi pulen itu dipadu dengan beragam lauk yang kebanyakan berbahan dari sapi. Meski ada juga yang menawarkan sajian dari ayam.

3 Nasi Campur Pamekasan

Nah, bila ingin sarapan khas, setidaknya bisa pilih dari tiga jenis nasi campur yang banyak diburu di Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini. Uniknya, meski sama-sama nasi campur, nama dan rasanya berbeda-beda.

Nase Jhejhen Dendeng Ragi

Sembari menelusuri Jalan Jokotole, saya sudah membayangkan nase jhejhen atau nasi jajan. Untung pencarian tak perlu waktu lama. Saya temukan juga gang di sebelah gedung ruang pamer Toyota , Pamekasan. Dari mulut gang, setelah bertanya kepada kaum ibu yang sedang mengerubungi tukang sayur, saya diarahkan ke sebuah warung sederhana. Saya langsung menuju dapur, menemui Ibu Hamiyah, 75 tahun. Ia telah menjalankan usaha yang diwariskan mertuanya ini selama 50 tahun. “Dulu buka restoran di depan, jualannya macam-macam, nasi rawon, kaldu, dan lain-lain,” tuturnya.

Sejak mertuanya tidak tinggal di kota ini, atau pada 1985, ia memilih berjualan di dalam gang dan hanya berjualan nase jhejhen dengan lauk dendeng ragi, semur daging, telur petis ola, sambal goreng kentang, dan sambal. Per porsi dipatok Rp 10 ribu. “Tapi mau beli berapa juga bisa, anak-anak kadang cuma Rp 5.000 atau Rp 8.000,” ujarnya. Dalam menjalankan usahanya, ia dibantu anaknya, Emi. Yang menjadi ciri khas adalah dendeng ragi yang ditaburi serundeng. Ia mengolah dendeng dan parutan kelapa dipanggang di oven hingga kering, jadi tidak tergantung sinar matahari. Rasanya yang garing dan gurih bikin banyak orang yang pesan. Ia patok Rp 300 ribu per kilogram. Uniknya, karena berjualan di rumah, setiap kali habis, ia membuat lagi menu untuk nase jhejhen. Padahal, sebagai menu sarapan, orang sudah berdatangan sejak pukul 05.30.

Nase Jhejhen

Jalan Jokotole

Kawasan Parteker

Pamekasan

Buka pukul 05.30-habis

Nase Jamila Lauk Meriah

Nasi campur yang satu ini memilih nama orang yang pertama kali menjualnya, yakni Jamila. Sekarang perempuan itu sudah tiada dan diteruskan oleh menantunya, Sutri. Jamila memulai usahanya pada 1953, sedangkan sang menantu menjalankan usaha ini sekitar 25 tahun. Ada beberapa wadah dari kaleng dengan olahan yang berbeda-beda di depan ibu dengan empat anak ini setiap paginya. Tentunya, membuat air liur tak tertahankan sekaligus bingung karena pilihan begitu beragam. Bayangkan otak goreng, limpa goreng, pepes tongkol, semur ati sapi, telur rebus, perkedel, paru dan hati goreng, juga sambal terasi. Harga tergantung pilihan menu, dengan tiga jenis lauk, harganya berkisar Rp 25 ribu. Bumbunya begitu kental, membuat sarapan lezat yang mengenyangkan untuk memulai hari. Setiap hari buka pukul 05.00-pukul 09.30, dan menurut Sutri, ia menghabiskan sekitar 10 kilogram beras.

Nase Jamila

Jalan Agus Salim Nomor 46

Pamekasan

Buka pukul 05.00-09.30

Nase Ramoy Usus Sapi

Nase Ramoy
3 nasi campur Pamekasan buat sarapan, salah satunya adalah nase ramoy.

Jenis nasi campur ini bisa ditemukan di beberapa tempat. Maklum, nase ramoy sudah membuka cabang. Cuma, jangan cari papan nama nase ramoy, karena olahan nasi campur yang buka hingga malam hari ini berada di sejenis warung tegal dengan nama Warung Barokah. Saya menemukannya di Jalan Pintu Gerbang, tak jauh dari Pasar Batik Tradisional Pamekasan atau Pasar 17 Agustus. Bangku panjang terisi penuh siang itu, saya pun menunggu sejenak, hingga dua orang beranjak.

Aroma khas menggoda tiba-tiba tercium. Ternyata berasal dari olahan usus yang menjadi menu khas di warung ini. Jeroan sapi itu diolah di atas tungku kayu, membuat masakan terasa nikmat. Pantas bila kebanyakan kaum pria di sekeliling saya begitu lahap menyuap nasi usus. Selain usus, ada pilihan menu lain, seperti otak goreng, ayam goreng, serta olahan dari sapi lainnya. Olahan ini dimasak oleh Hajah Aisyah, 60 tahun. Saya bertemu dengan menantunya Nabila, 35 tahun, yang bertugas di lini depan, melayani para pembeli. Nasi usus hanya dipatok Rp 5.000, sedangkan nasi usus plus otak goreng Rp 10 ribu. Harga tergantung lauk yang dipilih. Anda tak hanya bisa memilihnya untuk sarapan, tapi juga makan siang dan malam karena warung buka hingga malam. Uniknya, minuman yang disediakan berupa air putih hangat dengan rasa jahe, disiapkan dalam gelas kaleng jadul. Konon, jenis air ini untuk menghilangkan lemak yang menempel di bibir dan lidah.

Warung Barokah

Jalan Pintu Gerbang 130 A

Pamekasan

Buka pukul 05.30-20.00

Rita N./R. Kesuma/Dok. TL