5 Makanan Tasikmalaya yang Unik dan Nikmat

5 makanan Tasikmalaya berikut ini adalah masakan dan cemilan atau oleh-oleh dari kota yang sering disebut sebagai mutiara dari Priangan Timur. Sejak zaman Belanda, Tasikmalaya, yang membentang dari Kabupaten Sukabumi hingga Kabupaten Ciamis, menjadi jantung perekonomian di daerah Priangan Timur.

5 Makanan Tasikmalaya

Namun, Tasikmalaya tak hanya kuat di sektor perdagangan, ia juga mutiara yang digemari karena daya tarik wisata kulinernya. Jika sempat main ke kota di Jawa Barat ini, cobalah cicipi satu atau dua makanan di bawah ini.

Nasi Cikur

Jawa Barat memiliki segudang kuliner khas yang patut untuk dicicipi. Salah satunya adalah nasi cikur Tasikmalaya yang pembuatannya dicampur dengan kencur muda. Nasi cikur mungkin belum seterkenal nasi tutug oncom, namun sesungguhnya masakan ini tak kalah nikmatnya.

Nasi ini terbuat dari bumbu biasa seperti garam, bawang putih, cabai merah, serta tentu saja, cikur yang berarti kencur. Kencurnya sendiri dipilih yang masih sangat muda dengan tunas berwarna putih. Ini membuat nasi terasa renyah dan agak getir, memancing selera untuk segera menyantapnya bersama telur dadar, serundeng, atau suwiran daging ayam.

Mungkin banyak yang berpikir cara membuat nasi cikur ini seperti memasak nasi uduk, ternyata tidak demikian. Kebanyakan nasi cikur Tasikmalaya dibuat dengan cara mirip memasak nasi goreng.

Setelah matang, nasi ini biasanya disajikan dengan beberapa lauk pauk berupa tempe orek, ikan asin, irisan tipis telur dadar, ayam, dan lauk lain tergantung keinginan sang penjual. Tidak ketinggalan bawang goreng yang ditabur di atas nasi cikur, tahu goreng, mentimun, kerupuk emping, serta sambal ulek merah yang selalu hadir melengkapi hidangan ini.


Di mana membelinya?

Nasi Cikur Teh Rena, Jl. Panyerutan, Nagarawangi, Kec. Cihideung, Tasikmalaya,

RM To Rahmat, Jl. Cikalang Girang, Kahuripan, Tawang, Kahuripan, Kec. Tawang, Tasikmalaya

Kantin 43, Jalan Tentara Pelajar, Empangsari, Kecamatan Tawang

5 makanan Tasikmalaya yang unik dan nikmat salah satunya nasi Cikur, nasi dengan bumbu khusus kencur.
Masakan khas Tasikmalaya berupa Nasi Cikur. Foto: Ilustrasi

Nasi Tutug Oncom

Sajian yang tidak boleh terlewat saat mengunjungi Tasikmalaya adalah nasi tutug oncom. Makanan ini terdiri atas nasi putih yang dicampur oncom, yang sudah disangrai dan dibumbui. Nasi tutug oncom di sini terkenal karena kenikmatan oncom yang disajikan. Selain itu, ada sambal sebagai penambah kenikmatan tutug oncom. Nasi tutug oncom cocok disajikan dengan gorengan, telur ceplok, dan ayam goreng.

Penggemar hidangan ini kerap menyebutnya dengan nasi TO (Tutug Oncom). Tutug berarti menumbuk. Nasi pada menu ini memang dibuat dengan cara ditumbuk dan diaduk bersama oncom. Selain itu, bawang merah, bawang putih, kencur, cabai rawit, kemangi, garam, dan gula dibubuhkan sebagai penyedapnya.

Di mana membelinya?

Nasi TO Benhil, Jalan Dadaha, Kahuripan, Kecamatan Tawang

TO Kalektoran,Jalan Kalektoran (100 meter dari Masjid Agung Kota Tasikmalaya)

Kupat Tahu

Sesungguhnya menu ini bisa ditemukan di kota-kota lain, namun di Tasikmalaya komposisinya sangat khas. Bumbunya terdiri dari berbagai rempah, seperti daun bawang, kacang tanah, parutan kelapa, cabai, garam, gula aren, asam, dan santan. Kupat berasnya pulen. Kualitas tahunya juga tak sembarangan, biasanya didatangkan dari daerah Nagrog, Kecamatan Indihiang.

Ciri khas kupat tahu ini, tahunya kering dengan bumbu yang lembut di lidah. Pelanggan bisa memesan tahu tersebut digoreng setengah matang, matang, kering, atau kering sekali sampai kriuk. Bumbu kacangnya yang meresap, disajikan dengan kupat beras namun tanpa ada tauge dalam menu ini. Jangan lupa sampingannya, yakni bala-bala, bakwan, dan juga kerupuk.

Di mana membelinya?

Kupat Tahu Kabita, Jalan Tarumanagara Nomor 36, Kecamatan Tawang

Kupat Tahu Mangunreja, Jl. Raya Garut Km 2, Kampung Toblongan

Soto Ayam Pataruman

Soto Ayam Pataruman ini adalah soto ayam ala Tasikmalaya yang disajikan dengan campuran kuah santan yang mirip dengan soto Betawi dengan rasa gurih dan sedap. Bedanya dengan soto Betawi, santannya tipis saja.

Biasanya dalam seporsi soto ayam Pataruman adalah adanya suwiran daging ayam kampung bagian dada, paha, kulit, ati ampela, telor, ceker, bahkan juga kepala. Biasanya akan ada kedelai goreng, irisan daun bawang dan tak ketinggalan juga dengan bawang goreng dan jeruk nipis. Makin enak disantap hangat-hangat dengan pelengkap nasi.

Di mana membelinya?

Soto Ayam Pataruman, Jalan Pataruman Nomor 23, Yudanagara, Cihideung

Kolontong

Kolontong adalah camilan yang berbahan dasar beras ketan. Camilan ini dibuat seperti ketika membuat opak, tetapi proses dilanjutkan dengan pemanasan, biasanya memakai pasir panas. Cocok dijadikan buah tangan bagi keluarga di rumah.

Toko Oleh-oleh Nesa; Jalan Paseh Nomor 106, Tuguraja, Cihideung

agendaIndonesia

*****

Kerak Telor Betawi, Simbol Yang ‘Go Public’ Pada 1970

Kuliner khas Betawi, ada 5 yang diajajakan di Jakarta Fair 2022.

Kerak telor Betawi menjadi salah satu simbol masyarakat Betawi di Jakarta. Ia hampir setara dengan tanjidor dan ondel-ondel, wakil budaya masyarakat Betawi.

Kerak Telor Betawi

Banyak orang Jakarta barangkali baru ngeh kalau ada makanan bernama kerak telor ketika ada hajatan besar ulang tahun DKI Jakarta atau ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Di acara-acara raya seperti itu, biasanya para pedagang kerak telor bermunculan. Baik yang memang sehari-hari berdagang kerak telor, ataupun yang cuma musiman.

Sesungguhnya, kapan awal mula makanan yang sangat khas Jakarta ini? Soal waktu yang tepat, belum ada dokumen yang mencatatnya. Namun, kerak telor dipercaya telah ada sejak zaman kolonial Belanda di Indonesia.

Dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, ada dua versi ‘lahirnya’ kerak telor ini. Dikutip dari laman indonesia.go.id, di masa lampau kawasan Menteng merupakan salah satu daerah dengan ketersediaan kelapa yang cukup banyak. Atas dasar kondisi tersebut, masyarakat di sana kemudian mencoba memanfaatkannya sebagai bahan campuran untuk membuat makanan.

Hingga suatu ketika ketika sekelompok masyarakat Betawi di kawasan Menteng tersebut mencoba bereksperimen dengan mencampurkan beberapa bahan dengan kelapa untuk dijadikan sebagai makanan. Mereka mencampurkannya dengan beberapa bahan untuk diolah. Termasuk telur ayam. Setelah itu terciptalah kerak telor yang lezat nan gurih tersebut.

Cerita lain mengisahkan, kerak telor lahir dari atas tantangan warga Belanda di Jakarta yang menginginkan makanan yang sehat dari bangsa pribumi sebagai pembuka. Mengutip dari nativeindonesia.com, atas tantangan tersebut, para ahli masak asal Betawi yang biasa melayani warga Belanda saat itu menawarkan sebuah kreasi omelette, makanan pembuka saat sarapan warga asing. Kali ini para juru masak membuat omelette dengan perpaduan ketan putih yang diracik dengan rempah asli Indonesia.

Tak disangka warga Belanda yang memberi tantangan amat menyukainya. Sejak saat itu kerak telor mulai popular dijadikan sebagai sajian khas dari masyarakat pribumi di Batavia.

Di masa itu, mungkin karena menjadi makanan orang-orang Belanda, kerak telor terus menunjukkan pamornya yang gemilang. Rasanya hampir seluruh warga Belanda di Batavia begitu menyukainya. Bahkan saat itu kudapan tersebut kerap dijadikan makanan pembuka oleh warga Eropa di sana dan dikenal sebagai omelette versi lokal.

Sampai di situ, tak ditemukan penjelasan kapan makanan ini mulai dikenal masyarakat luas. Catatan hanya menyebutkan, pada awal tahun 1970-an, saat DKI Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin, dan ia membuat program promosi dalam rangka ulang tahun Jakarta berupa Jakarta Fair, kerak telor disebut mulai go public. Bang Ali memang dikenal gencar mempromosikan Jakarta dengan budaya yang genuine Betawi.

Masyarakat Betawi mulai memberanikan diri menjajakan kerak telor di pasaran. Dan ternyata banyak orang menyukai makanan ini. Bahkan, dulu kerak telor menjadi makanan favorit masyarakat kelas elit atau atas di Jakarta. Dan seiring dengan berkembangnya saat itu, kerak telor menjadi makanan yang disukai semua kalangan masyarakat.

Mengenai kerak telor, kini nampaknya kita tak bisa dengan mudah menemukan makanan khas Betawi ini. Namun jangan sedih dulu, kerak telor bisa ditemukan dengan mudah pada saat ada perayaan besar di Jakarta seperti event Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta). Di Jakarta juga telah ada beberapa warung yang menjajakan kerak telor.

Namun, waktu berjalan, saat ini untuk mendapatkan kerak telor, gampang-gampang susah. Seperti disebut di muka, sekarang ini kerak telor seringnya muncul hanya di perayaan-perayaan. Misalnya di bulan Juni-Juli saat merayakan ulang tahun Jakarta. Atau, kadang jika kampung-kampung di Jakarta ada yang menyelenggarakan pameran atau bazaar, maka penjual kerak telor bermunculan.

kerak telor Betawi awalnya dibuat atas permintaan masyarakat Belanda, sempat dianggap sebagai omellette rasa lokal.
Kerak telor Betawi dibuat oleh pedagangnya di acara-acara bazaar di Jakarta. Foto: ilustrasi

Kerak telor merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan dan telur, lalu ebi sangrai, cabai merah, dan bawang goreng sebagai taburan yang kemudian disajikan bersama serundeng juga topping lainnya. Kerak telor umumnya dimasak menggunakan wajan dan dinikmati saat masih hangat agar rasa gurihnya semakin menggugah selera. Dulu pembuat kerak telor menggunakan telur bebek, namun belakangan banyak yang menggunakan telur ayam.

Resep kerak telor sesungguhnya beredar di mana-mana, termasuk di internet. Tapi, ternyata orang awam belum tentu bisa memasak kerak telor, seperti yang dilakukan pedagang kerak telor.

Persiapan untuk membuat kerak telor membutuhkan waktu lebih dari sehari. Terutama di tahap awal saat membuat beras ketannya lunak tanpa dimasak, yaitu dengan cara direndam semalaman. Jika tidak, beras ketan yang hanya dimasak sebentar saat kerak telor dibuat bakal terasa seperti nasi yang belum matang.

Sudah pernah mencoba kerak telor? Sekali-kali agendakan untuk mencicipi kuliner pusaka Nusantara ini.

agendaIndonesia

*****

8 Destinasi Wisata Yang Ramai Selama Pandemi

8 destinasi wisata disebut naik daun selama pandemi Covid-19 ini. Sejak pandemi COVID-19 dan kasusnya muncul di Indonesia sejak Maret 2020 lalu, masyarakat harus tetap berada di rumah. Seluruh kegiatan mereka pun terpaksa berhenti, termasuk pariwisata. Terutama ketika pemerintah menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang cukup ketat.

8 Destinasi Wisata

Situasi agak berubah ketika peraturan mulai dilonggarkan, dan terdapat sejumlah tempat yang dulunya kurang dilirik tanpa disadari menjadi bersinar. Selain, tentu saja satu-dua destinasi yang sudah unggul sejak dulu.

Pandemi menciptakan sebuah tren baru bagi masyarakat untuk berwisata, seperti wisata alam, staycation (diam saja di suatu tempat) dan roadtrip, yakni perjalanan via jalan darat –umumnya kendaraan pribadi, karena dianggap lebih aman. Beberapa destinasi wisata pun menjadi pilihan favorit selama masa pandemi untuk mereka yang butuh melepaskan penat atau rindu jalan-jalan.

Berikut adalah daftar destinasi wisata yang naik daun sepanjang 2020 versi kantor berita Antara.

Sentul Hill Trekking
Kegiatan mendaki di kawasan Sentul, Bogor, menjadi primadona bagi masyarakat yang rindu berpergian dan melakukan wisata alam. Melintasi jalan setapak yang naik turun, sawah, perbukitan, sungai, goa, dinding bebatuan dan berakhir berendam di curug dengan pemandangan air terjun sangat menggiurkan untuk pelancong.

Tak heran kegiatan trekking di Sentul begitu diminati selama pandemi. Di sini Anda bisa melakukan perjalanan sendiri atau menggunakan jasa pemandu wisata.

Jaraknya yang tak terlalu jauh dari Jakarta pun membuat wisata ini memiliki nilai plus. Belum lagi para selebritas yang kerap mengunggah kegiatan mereka saat melakukan trekking seperti Luna Maya, Dian Sastrowardoyo, Sigi Wimala, Vidi Aldiano, Sophia Latjuba, hingga Wulan Guritno. 

8 destinasi wisata salah satunya ke Puncak  di wilayah Bogor
Trekking di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.



Curug dan goa di Sentul
Kawasan Sentul, Bogor ternyata memiliki tempat wisata alam yang masih sangat asri, beberapa di antaranya adalah Curug Leuwi Hejo, Curug Kencana, Curug Hordeng, Curug Ciburial dan Curug Kembar.

Untuk dapat mencapai tempat ini, tentu harus melakukan trekking terlebih dahulu. Trekking dengan perjalanan yang cukup berat ini pun akan terbayarkan saat melihat lanskap air terjun dan udaranya yang menyegarkan.

Ada juga Goa Agung Garunggung yang memiliki mulut goa menganga secara vertikal. Tempatnya memang tidak terlalu besar, namun pemandangannya membuat tempat ini menjadi salah satu primadona.

Gunung Pancar Bogor
Sebelum masa pandemi, Gunung Pancar, Sentul, Bogor sudah menjadi favorit masyarakat untuk berwisata singkat. Saat masa PSBB dilonggarkan, tempat yang menawarkan pemandangan hutan pinus ini pun menjadi pilihan utama untuk dikunjungi.

Selain trekking, pengunjung juga bisa menginap dengan mendirikan tenda yang sudah disediakan oleh pengelola. Liburan singkat dengan pemandangan alam pun bisa didapatkan untuk melepaskan penat selama PSBB.

Bagi yang memiliki anggaran lebih, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur juga menjadi primadona saat pandemi COVID-19. Belum lagi tiket murah yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan saat jalur kembali dibuka, masyarakat dan juga selebritas berbondong-bondong mengunjungi kawasan tersebut.

Tempat-tempat yang paling menjadi incaran para turis adalah Bukit Cinta untuk menyaksikan sunset, jelajah Pulau Kelor, menyaksikan komodo di Taman Nasional Komodo, berburu foto di bukit Pulau Padar hingga menikmati indahnya Air Terjun Cuanca Wulang.

8 destinasi wisata selama pandemi 2020 adalah satunya wisatawan melakukan perjalanan dengan model roadtrip.
Roadtrip, perjalanan melalui jalur darat dengan kendaraan pribadi menjadi pilihan wisata saat pandemi. Foto:ilustrasi-unsplash



Bali
Sejak pandemi COVID-19, tren terbaru ke Bali tidak lagi menggunakan pesawat terbang, melainkan lewat perjalanan darat. Banyak wisatawan yang berasal dari pulau Jawa berkunjung ke Bali dengan menggunakan mobil pribadi, karena dianggap lebih aman dan tidak berdekatan dengan orang lain di pesawat.

Kelebihan roadtrip menuju Bali ini, wisatawan juga bisa mampir ke destinasi wisata lain seperti Surabaya dan juga Banyuwangi sebelum akhirnya menyeberang Pulau Bali.

Banyuwangi
Untuk yang tidak memiliki banyak waktu menyeberang ke Bali, Banyuwangi adalah pilihan favorit-nya selama pandemi COVID-19. Biasanya wisatawan akan menginap di Hotel Ketapang Indah yang menyajikan panorama Pulau Bali di kejauhan.

Ada beberapa wisatawan yang memilih untuk diam di hotel karena pemandangannya dirasa sudah cukup Indah, tapi ada juga sebagian yang memilih untuk mengeksplorasi wilayah Banyuwangi dengan mendatangi tempat-tempat seperti Kawah Ijen, Jawatan Benculuk, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater hingga Puncak Sejati, Gunung Rawung. 

Bandung
Alasan utama Bandung menjadi tujuan utama selama pandemi adalah dekat dengan Jakarta. Buat yang ingin menginap atau sekadar perjalanan-pulang pergi untuk menikmati kulinernya serta mendapat suasana baru, Bandung masih menjadi primadona warga Jakarta.

Puncak
Sejak PSBB dilonggarkan, banyak orang yang berkunjung ke puncak untuk melepas penat. Liburan singkat dan mendapat udara segar setelah berbulan-bulan di dalam rumah, membuat puncak tempat idaman masyarakat bahkan bisa dicapai hanya dengan menggunakan motor

agendaIndonesia

Kampung Daun Bandung, Ngariung Sejak 99

Kampung Daun Bandung terselip di antara perumahan, meskipun langsung berhadapan dengan alam.

Kampung Daun Bandung tengah berjalan menjadi legenda wisata kuliner di ibukota Jawa Barat ini. Spot wisata yang terletak di kawasan Lembang ini telah lama menjadi pilihan bagi para pelancong yang ingin menikmati makanan enak dengan suasana tradisional seperti di pedesaan.

Kampung Daun Bandung

Tempat ini awalnya memang merupakan daerah pedesaan asli, yang berada di antara desa Cigugur dan Cihideung. Kalau digambarkan, lokasi ini secara umum merupakan lembah dan hutan yang berada di sekitar area perbukitan setempat. Belakangan lokasi resto ini memang menjadi di dalam sebuah komplek pemukiman.

Pada 1999, lokasi ini kemudian diubah menjadi kafe tempat berkumpul sambil menikmati alam pedesaan. Oleh para pendirinya, Kampung Daun didesain dengan tema Culture Gallery and Café, dengan empat saung utama yang dibuat saat pertama berdiri.

Kampung Daun Bandung tadinya lebih fokus sebagai tempat nongkrong, kini semakin cocok untuk tempat kumpul keluarga.
Salah satu saung di Kampung Daun Bandung. Foto: dok. agendaIndonesia

Kesan yang akan timbul pertama kali adalah nuansa pedesaan yang tradisional, asri dan nyaman dengan pemandangan alam lembah dan hutan. Akan terlihat tebing-tebing berbatu dengan suara latar air terjun yang bergemericik di sekitarnya.

Tak hanya itu, saat cuaca cerah akan terlihat pemandangan gunung Tangkuban Perahu yang tak terlalu jauh dari lokasi tersebut. Dan pada saat malam hari dapat terlihat pula pemandangan kerlap-kerlip sinar kota Bandung.

Ditambah pula, pengunjung akan melihat lampu-lampu bergantungan di sepanjang jalan menuju saung-saung tempat makan. Dulunya di sepanjang jalan ini berjejer di samping kanan kiri lampu oncor atau obor, serta api unggun di area tengah tempat ini. Ini membuat tempat ini semakin indah dan menghangatkan suasana, serta tentunya semakin memberikan nuansa tradisional.

Saat masuk, pengunjung dapat menemukan booth penjual penganan tradisional seperti dodol, kembang gula, serta kue-kue tradisional lainnya. Terdapat pula wahana permainan tradisional seperti congklak.

Sekarang ini ada sekitar 50 saung-saung yang terdapat di tempat ini, yang dibuat dengan detail-detail ornamen bernuansa tradisional. Ukuran tiap saung pun berbeda-beda, sehingga dapat mengakomodasi pengunjung yang datang dalam jumlah kecil maupun besar.

Ini membuat Kampung Daun Bandung juga kerap menjadi tempat pilihan untuk acara-acara gathering seperti arisan, reuni, kumpul keluarga besar dan lain-lain. Maka biasanya kalau penunjung ingin mampir ke tempat ini, direkomendasikan untuk booking terlebih dulu agar kebagian tempat.

Menu makanan dan minumannya pun sekarang semakin beragam. Bila saat pertama kali buka dulu Kampung Daun Bandung hanyalah sebuah kafe tempat nongkrong dengan hidangan cemilan seperti serabi Bandung dan poffertjes, kini sudah ada banyak pilihan makanan yang tersedia.

Kampung Daun Bandung sering dipakai untuk arisan atau acara-acara korporat.
Ada pula gaya makan lesehan dengan menu tradisional Sunda di Kampung Daun Bandung. Foto: dok agendaIndonesia

Mayoritas menu-menu yang disediakan adalah masakan tradisional seperti ayam bakakak goreng dan bakar, nasi tutug oncom, nasi kukus, ikan gurame bakar dan goreng dengan sambal dabu, tumis keciwis bawang putih, tumis toge asin jambal, dan lain sebagainya.

Setiap bulannya mereka juga kerap menghadirkan menu-menu spesial khusus di bulan tersebut, semisal ikan gurame goreng dengan sambal kecombrang, sate ayam dan kambing dengan sambal dabu, hingga dessert seperti es krim cincau hijau.

Selain menu-menu tersebut, tersedia juga ragam pilihan masakan pasta dan pizza. Dan bagi yang hanya ingin makanan ringan, masih tersedia poffertjes, serabi Bandung, cireng, serta gorengan seperti tahu, bakwan dan tempe mendoan.

Menu minuman tradisionalnya yang menghangatkan tubuh pun juga tak kalah menarik. Ada wedang uwuh, wedang bunga telang, wedang jahe serai, bandrek, bajigur, bir pletok, kopi tubruk, kopi bakar dan lainnya.

Namun yang menjadi catatan, harga makanan di tempat ini tak bisa dikatakan terlalu murah. Harga makanan memang mulai dari Rp 15 ribu bagi beberapa pilihan makanan cemilan, tetapi bagi beberapa pilihan main course bisa berkisar dari Rp 40 ribu hingga Rp 150 ribu.

Sambil berkumpul dan menyantap hidangan, biasanya akan ada lantunan musik tradisional khas Sunda. Pada saat malam hari, terkadang juga diadakan pertunjukan live music yang menambah ramai suasana.

Kampung Daun Bandung menyediakan pernak-pernik untuk anak-anak hingga remaja.
Galeri pernak-pernik di Kampung Daun Bandung. Foto: Dok. agendaIndonesia

Dan sesuai dengan konsepnya sebagai Culture Gallery and Café, Kampung Daun Bandung juga menyediakan galeri yang memamerkan dan menjual berbagai jenis souvenir. Bagi pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh bisa mendatangi dan melihat-lihat galeri tersebut.

Saat ini, Kampung Daun kini juga menyediakan layanan bagi mereka yang ingin menyelenggarakan sesi foto prewedding maupun perhelatan private wedding. Untuk acara private wedding,tempat ini menyediakan kuota maksimal 150 orang undangan.

Satu hal yang layak untuk dipertimbangkan, direkomendasikan untuk datang ke tempat ini pada sore atau malam hari. Karena selain nuansa pedesaannya, salah satu daya tarik utama tempat ini adalah suasananya di malam hari, dihiasi obor dan api unggun yang terasa indah dan syahdu.

Selain itu, mengingat lokasinya berada di kawasan perbukitan, suhu di tempat ini biasanya cukup dingin, terlebih pada saat malam hari. Sehingga pengunjung disarankan untuk menggunakan pakaian yang hangat agar tak kedinginan.

Kampung Daun Bandung buka setiap hari dari jam 11.00 hingga jam 23.00 pada hari biasa dan jam 00.00 kala weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (022) 2787915, atau via email cafekampungdaun@gmail.com serta mengunjungi situs resmi kampungdaun.id dan akun resmi Instagram @kampungdaun.

Kampung Daun

Jl. Sersan Bajuri no. 88, Perumahan Villa Triniti, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Desa Batuan Bali, 1 Relik Sejarah Kuno

Desa Batuan Bali adalah gambaran kehidupan masyarakat Bali sejak zaman dulu.

Desa Batuan Bali merupakan tempat yang tepat bagi pelancong yang ingin melihat dan memahami lebih dekat tentang sejarah dan budaya tradisional masyarakat Bali. Desa yang berada di Kabupaten Gianyar itu hingga kini masih menyimpan beberapa potongan adat dan budaya Bali tempo dulu.

Desa Batuan Bali

Desa ini sejak dulu kala memang sudah identik dengan karya seni dan budayanya. Salah satu bukti kuatnya dapat ditemui dari beberapa peninggalan bangunan candi serta pahatannya yang terdapat di Pura Puseh, salah satu pura tertua di Bali yang usianya sudah sekitar 1.000 tahun.

Ini terdokumentasikan dalam sebuah prasasti yang berada di dalam pura tersebut. Prasasti itu diyakini dibuat pada awal tahun 1020-an, yang memberi gambaran kehidupan dan sistem sosial masyarakat di desa tersebut pada masa itu.

Artefak di utaraPura Puseh Desa Batuan Kemendikbud
Sejumlah artefak di Pura Puseh Desa Batuan Bali. Foto: Dok. Kemendikbud

Diceritakan bahwa desa tersebut awalnya bernama Baturan. Di desa ini terdapat penduduk yang sebagian besar berprofesi dalam bidang seni budaya, seperti citrakara (pelukis), undagi (pengrajin kayu) dan sulpika (pemahat patung).

Disebutkan pula, salah satu alasan utama warga desa ini menekuni seni budaya tersebut adalah sebagai simbol yadnya, yaitu keikhlasan berkarya wujud bersyukur kepada Sang Pencipta. Semangat ini jugalah yang membuat banyak warga desa Batuan Bali masih berkesenian hingga kini.

Salah satu kesenian desa Batuan Bali yang paling terkenal adalah lukisannya. Lukisan dari desa Batuan dikenal memiliki gaya abstrak yang inspirasinya datang dari cerita rakyat, cerita mistis serta mitos sehari-hari yang kadang digambarkan dalam lukisan tentang penyihir atau monster.

Lukisan yang dibuat juga biasanya terlihat ramai dengan detail-detail, yang sering kali berhubungan dengan kisah kehidupan warga sehari-harinya. Begitu detailnya lukisan ini, ia akan terlihat begitu memenuhi kanvas.

Desa Batuan Bali salah satunya dikenal karena karya-karya lukisannya.
Ilustrasi lukisan seniman Bali. Foto: Dok. shutterstock

Dan salah satu ciri khas lukisan desa Batuan Bali adalah dominannya warna hitam dan putih yang menimbulkan kesan kelam dan mencekam. Seni melukis di desa ini disebut telah populer sejak 930-an dan menjadi salah satu seni lukisan Bali paling mahsyur.

Kini pengunjung bisa menemui beberapa galeri-galeri pelukis di desa Batuan. Beragam lukisan dipajang dan bahkan beberapa di antaranya dijual. Harganya pun cukup mahal, paling tidak bisa mencapai jutaan, bahkan puluhan juta rupiah.

Kalau tak punya budget untuk membeli lukisan, ada souvenir seperti cangkang telur yang dilukis ala desa Batuan Bali. Ada yang menggunakan cangkang telur ayam, bebek atau bahkan burung unta asli, ada juga yang hanya tiruan dari kayu. Harganya pun lebih terjangkau, mulai dari Rp 50 ribu.

Desa batuan Bali juga terkenal karena lukisan pada cangkang telur.
Lukisan pada cangkang telur. Foto: dok Tempo dari gettyimage

Selain seni melukis, warga desa Batuan Bali juga merupakan pekerja seni lainnya, seperti memahat patung, mengukir kayu, menenun, dan membuat topeng. Beberapa lainnya juga masih melestarikan budaya tari tradisional.

Salah satu tari tradisional yang identik dengan desa Batuan adalah Tari Gambuh. Seni tari ini kabarnya sudah eksis sejak abad ke-15, yang menggabungkan elemen-elemen seperti tarian, nyanyian, akting dan drama, serta elemen seni visual lainnya.

Tari Gambuh biasanya berisi atraksi tari dengan drama lakon, diiringi oleh seperangkat gamelan yang dinamai gamelan pegambuhan. Tarian ini biasanya dilakukan pada Odalan, salah satu hari raya di Bali yang dirayakan sekitar enam bulan sekali.

Odalan pada dasarnya merupakan perayaan dimana masyarakat Hindu di Bali memohon kepada para dewa agar turun ke Bumi dan memberi rahmatnya kepada Bali dan warganya. Caranya, mereka melakukan beragam ritual dan kesenian tradisional, seperti Tari Gambuh.

Selain itu, Tari Gambuh biasanya juga dilakukan pada festival perayaan bulan purnama, atau di acara-acara seperti pernikahan di desa Batuan Bali. Anda bisa menyaksikan atraksi tari ini kala mereka tampil di sekitar kawasan Pura Puseh.

Rumah-rumah tradisional di sekitar desa ini juga merupakan daya tarik turis lainnya. Rumah tradisional ini bercirikan atap yang terbuat dari rumput ilalang, serta pintu depan berukuran kecil dengan daun pintu yang terbuat dari tanah liat.

Arsitektur rumah tradisional seperti ini menjadi keunikan tersendiri yang tak anda lihat di tempat lainnya. Maka tak jarang beberapa orang melakukan sesi foto seperti pre-wedding dan sebagainya dengan menggunakan latar rumah tradisional ini.

Kurang afdol pula kalau tidak masuk berkeliling di Pura Puseh. Pura yang hingga kini masih digunakan untuk warga setempat sembahyang ini memiliki beragam ornamen ukiran khas Bali, dengan lukisan-lukisan yang menceritakan berbagai lakon cerita rakyat bernapaskan Hindu.

Di Pura Puseh juga pengunjung bisa melihat prosesi sembahyang umat Hindu, serta beragam upacara adat dan keagamaan. Pergelaran tari tradisional seperti Tari Gambus dan sebagainya juga biasa diadakan di sekitar wilayah pura tersebut.

Untuk bisa masuk ke dalam pura, pengunjung akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 10 ribu. Selain itu, anda juga diminta untuk menggunakan kain dan menggunakannya dengan cara dililit di pinggang, bagaikan sarung. Kain ini dipakai selama berkunjung ke pura sampai selesai.

Yang perlu diingat, setiap pengunjung diminta untuk tidak menyentuh ukiran, lukisan atau benda-benda yang berkaitan dengan prosesi sembahyang di pura ini. Pengunjung juga diminta berhati-hati untuk tidak melangkahi sesembahan di sekitar area pura.

Di desa ini, pengunjung juga bisa belajar seni melukis, mengukir dan memahat ala desa Batuan. Hanya perlu membayar Rp 100-150 ribu untuk short course. Beragam pilihan guest house sebagai fasilitas penginapan juga tersedia.

Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi via email di desabatuan@gmail.com, atau mengunjungi akun Twitter resmi @BatuanDesa serta akun Instagram resmi @desa.batuan.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

5 Warung Nasi Pecel Oke di Madiun

Ini 5 warung nasi pecel oke di Madiun. Foto: shutterstock

Ini dia 5 warung nasi pecel oke di Madiun yang paling direkomendasikan bagi wisatawan pecinta kuliner. Sebab, sesuai dengan panggilannya sebagai kota pecel, Madiun kadung identik dengan kuliner nasi pecelnya yang khas, murah meriah dan mudah ditemukan di setiap sudut kota. Ini adalah 5 warung nasi pecel oke, beberapa di antaranya yang dianggap paling terkenal dan legendaris.

Ini 5 warung nasi pecel oke di Madiun, Jawa Timur.

5 Warung Nasi Pecel Oke

  1. Nasi Pecel Pojok Madiun

Bisa dikatakan, Nasi Pecel Pojok Madiun merupakan salah satu dari 5 warung nasi pecel oke di Madiun yang paling terkenal dan melegenda. Maklum, sudah sejak 1965 silam mereka mulai berjualan nasi pecel. Dan sesuai namanya, lokasinya di jalan HOS Cokroaminoto nomor 121 memang berada di satu pojok jalan tersebut.

Secara mendasar, salah satu keunikan nasi pecel khas Madiun adalah cita rasanya yang cenderung lebih gurih dan pedas, sesuai dengan selera orang Jawa Timur pada umumnya. Terlebih bila dibandingkan dengan nasi pecel dari daerah-daerah di Jawa Tengah yang karakter rasanya lebih manis.

Dan karakter tersebut pula yang menjadi daya tarik nasi pecel di warung ini. Nasi pecel disajikan di atas piring dengan bungkus pincuk daun pisang, dengan isian sayur seperti kangkung, daun pepaya, daun singkong, kacang panjang, taoge, dan turi yang kemudian diguyur bumbu kacang yang spicy.

Sebagai teman makan, tersedia lauk seperti tahu dan tempe bacem, lidah dan otak sapi, ati ayam, sate telur puyuh, telur ceplok, dan sebagainya. Setelah memilih lauknya, jangan lupa untuk mengambil rempeyek sebagai pelengkap. Dan sebagai catatan, pengunjung juga bisa meminta kadar pedas bumbu kacangnya sesuai selera, sehingga tak perlu khawatir akan kepedasan.

Selain nasi pecel, tersedia pula dua menu lain yang juga menarik untuk dicoba, yakni nasi rawon dan nasi Bali. Dan yang lebih menarik lagi, harga seporsi nasi pecel di sini hanya Rp 8 ribu saja. Wajar jika kemudian warung yang buka dari jam 05.00 sampai jam 23.00 ini menjadi salah satu tempat santap sarapan, siang dan malam favorit warga setempat.

Nasi Pecel Madiun Enak shuterstock
Ini satu dari 5 warung nasi pecel oke di Madiun, Jawa Timur. Foto shutterstock
  • Depot Nasi Pecel 99

Di kawasan jalan HOS Cokroaminoto tersebut, terdapat pula satu dari 5 warung nasi pecel oke lainnya yang tak kalah hits dan ramai. Depot Nasi Pecel 99, yang alamat persisnya jalan HOS Cokroaminoto nomor 99, juga merupakan destinasi kuliner Madiun yang populer, bahkan kerap dikunjungi figur publik, baik dari dunia hiburan maupun kalangan pemerintahan.

Salah satu nilai jual yang membuatnya digandrungi banyak orang adalah bumbunya yang khas. Sejak mulai berjualan nasi pecel pada 1987, pemilik warung ini selalu konsisten meracik bumbu pecelnya sendiri, yaitu bumbu yang dibuat dari kacang yang disangrai, kemudian dicampur dengan daun jeruk.

Bumbu kacang tersebut melumuri nasi pecel yang berisikan sayur seperti bayam, daun pepaya, taoge, kacang panjang, dan kemangi. Sebagai pelengkap, di atasnya kemudian ditaburi serundeng. Sementara pilihan lauknya meliputi ayam goreng, telur ceplok, telur asin serta olahan sapi seperti daging empal, paru, babat, limpa, otak, dan lain lain.

Tersedia juga varian menu lain seperti nasi rawon, nasi Bali dan garang asem, alias olahan ayam dengan bumbu dan kuah yang bercita rasa asam dan pedas. Kalau masih dirasa kurang lengkap, pengunjung juga bisa menambah rempeyek dan kerupuk puli, kerupuk khas Jawa Timur yang terbuat dari beras atau nasi.

Harganya juga masih tergolong bersahabat. Satu porsi nasi pecel dihargai Rp 10 ribu, sementara pilihan lauknya berkisar dari Rp 2,5 ribu hingga Rp 24 ribu. Warung ini buka dari jam 05.30 sampai 22.30, sehingga Depot Nasi Pecel 99 menjadi opsi menarik baik saat santap sarapan, makan siang atau malam.

  • Nasi Pecel Sri Tanjung

Faktanya, nasi pecel di Madiun bukan hanya jadi santapan favorit kala sarapan atau makan siang saja, tapi juga menjadi bagian kuat dari skena kuliner malam di kota kereta ini. Masih di sekitaran jalan HOS Cokroaminoto, ada sebuah dari 5 warung nasi pecel oke yang khusus berjualan di malam hari, yaitu Nasi Pecel Sri Tanjung.

Warung ini terhitung unik karena hanya mulai berjualan dari jam 18.00 hingga 03.00 dini hari. Wujudnya pun berupa warung tenda sederhana yang memanjang di area trotoar tepi jalan HOS Cokroaminoto nomor 143. Namun jangan salah, warung ini kerap dipadati pengunjung hingga tengah malam.

Banyak yang beranggapan bahwa nasi pecel di sini merupakan salah satu yang terenak di Madiun. Harganya yang seporsi hanya Rp 8 ribu juga tentu menjadi daya tarik lainnya. Apalagi ketika melihat ragam pilihan lauknya, mulai dari ayam bakar, empal, kikil, telur gulung, rolade, paru, babat, sate udang, dan lainnya.

Belum lagi pelengkap seperti rempeyek udang, kerupuk lempeng, atau keripik tempe. Semua lauk dan pelengkap tersebut harganya berkisar dari Rp 2 ribu sampai Rp 22 ribu. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat membeli bumbu pecel dari Nasi Pecel Sri Tanjung. Harganya Rp 60 ribu per kg.

  • Nasi Pecel Bu Sugeng

Warung nasi pecel lainnya yang bisa menjadi alternatif wisata kuliner malam di Madiun adalah Nasi Pecel Bu Sugeng. Bukan cuma buka saat malam hari, mereka bahkan buka selama 24 jam setiap harinya. Sehingga sebenarnya warung yang bertempat di jalan Kompol Sunaryo ini bisa saja dikunjungi kapanpun.

Namun karena itu pula, banyak pelanggannya datang saat malam hari, bahkan dini hari. Karena lokasinya berdekatan dengan stasiun kereta api Madiun, tak jarang pengunjungnya adalah penumpang kereta api yang hendak makan malam sebelum berangkat, atau mereka yang baru tiba di Madiun tengah malam atau dini hari.

Keunikan lainnya dari warung ini adalah menu-menunya. Di sini, pengunjung langsung memesan nasi pecel berdasarkan jenis lauknya, seperti misalnya daging empal, paru, limpa, babat, lidah, telur dadar atau telur ceplok. Untuk rentang harganya mulai dari Rp 16 ribu sampai 21 ribu.

Selain nasi pecel, ada pula menu-menu lain seperti nasi rawon, nasi sayur asem dan nasi sayur lodeh, yang semuanya dihargai Rp 8 ribu. Untuk minumannya, mereka mengunggulkan es tomat yang harganya Rp 4 ribu. Pengunjung juga dapat membeli bumbu pecel yang dipakai Nasi Pecel Bu Sugeng, yang dibandrol Rp 80 ribu per kg.

Brem Suling Gading meneruskan tradisi pengolahan makanan khas Madiun. Foto: dok iStock
  • Warung Nasi Pecel Yu Gembrot

Satu lagi warung nasi pecel di Madiun yang legendaris dan jadi rekomendasi bagi wisatawan pecinta kuliner adalah Warung Nasi Pecel Yu Gembrot, yang berada di jalan Imam Bonjol nomor 33. Tempat ini juga jadi salah satu warung nasi pecel favorit banyak figur publik tanah air, yang terlihat dari foto-foto yang terpajang di dinding warung tersebut.

Usut punya usut, usaha nasi pecel ini sudah eksis sejak 1942, ketika nasi pecel masih dijajakan dari rumah ke rumah. Hingga akhirnya sang anak yang akrab dipanggil Yu Gembrot melanjutkan bisnis tersebut dan berjualan di area dekat Pasar Besi Joyo. Dari yang tadinya hanya bersifat warung semi permanen, pada 1990 akhirnya berpindah ke bangunan permanen yang digunakan hingga kini.

Dalam kurun waktu tersebut, Warung Nasi Pecel Yu Gembrot meraih banyak pelanggan dan jadi rekanan di kalangan kantor dinas pemerintah daerah yang kerap memesan untuk acara tertentu. Bahkan, nasi pecel buatan mereka beberapa kali diikutkan dalam lomba festival kuliner di tingkat provinsi dan nasional.

Sepiring nasi pecel yang beralaskan daun pisang berisikan sayur seperti daun singkong, daun pepaya, kacang panjang, taoge, timun krai, dan kembang turi. Bumbu kacangnya kental dan tak berminyak, dengan pilihan rasa pedas, sedang dan tidak pedas, membuatnya lebih bisa diterima banyak lidah.

Menurut mereka, menu-menu yang paling laris dan digandrungi oleh pengunjung adalah nasi pecel empal, nasi pecel lidah, nasi pecel limpa dan nasi pecel telur ceplok. Kendati demikian, mereka juga menyediakan varian lauk lainnya seperti paru, otak, tahu dan tempe bacem, telur dadar, serta tetelan.

Buka dari jam 06.00 hingga 21.30, harga nasi pecel di warung ini berkisar dari Rp 9 ribu hingga 15 ribu, bergantung dari pilihan lauknya. Porsinya yang tergolong pas dan tidak terlalu banyak, membuatnya banyak dipilih sebagai tempat sarapan. Dan untuk melayani lebih banyak pengunjung, kini juga terdapat cabang di jalan HOS Cokroaminoto.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Punthuk Setumbu, Keindahan Borobudur Jam 5 Pagi

Punthuk Setumbu adalah sebuah pilihan menikmati ufuk fajar 2021 nanti. Melihat matahari pertama di tahun itu muncul di belakang Candi Borobudur pastilah menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Punthuk Setumbu

Awalnya, Punthuk Setumbu, yang terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa tengah, hanyalah perbukitan biasa dengan ladang milik masyarakat setempat. Tempat ini menjadi terkenal saat seorang fotografer mengabadikan pemandangan sekitar kawasan ini dan menayangkannya. Pemandangan yang diabadikan itu adalah Candi Borobudur dengan latar belakang matahari terbit.

Namanya makin “mendunia” ketika film Ada Apa Dengan Cinta?2 diputar. Salah satu adegan dalam film tersebut dilakukan di tempat tersebut. Semakin hari, kawasan perbukitan ini semakin ramai oleh pengunjung. Dan hingga saat ini dibuka untuk umum sebagai objek wisata.

Tujuan utama wisatawan datang ke Punthuk Setumbu tentu saja untuk mengambil foto matahari terbit. Tak heran, mereka rela datang di pagi buta supaya tidak terlewat momen tersebut.

Punthuk Setumbu berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna punthuk sebagai gundukan atau perbukitan. Sedangkan setumbu sendiri artinya adalah tumbu atau lebih tepatnya tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Jadi nama punthuk setumbu memiliki arti bukit yang bentuknya mirip tempat nasi yang terbuat dari anyaman.

AgendaIndonesia berkesempatan mampir ke tempat ini sekitar empat tahun lalu. Beberapa saat setelah film yang dibintangi Dian Sanstrowardoyo dan Nicolas Saputra itu tayang dan kebetulan ada liputan ke Yogyakarta.

Saat liputan harus terhenti, karena jadwal satu narasumber sedikit mundur karena sedang keluar kota. Apa yang harus dikerjakan? Berpikir cepat, teman fotografer yang menemani mengusulkan mengambil gambar matahari terbit di Punthuk Setumbu.

Diskusinya kemudian, apakah kami berangkat dari Yogya pada pagi-pagi buta, atau memilih menginap di seputaran Borobudur? Kami memilih yang pertama supaya bisa meninggalkan barang-barang di penginapan di Yogya daripada menggotongnya mondar-mandir.

Namun berangkat dari Yogya itu artinya kami harus bangun pagi lewat tengah malam lantas bergegas menembus gelap menuju Muntilan lalu belok ke barat arah Borobudur. Bukan waktu yang nyaman melakukan perjalanan. Terutama karena harus menyetir mobil.

Untungnya perjalanan pagi itu lumayan asyik. Keluar dari hotel jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan praktis sepi. Jalur Yogyakarta-Magelang yang biasanya sesak di pagi hingga siang hari, ketika itu nyaris kosong. Jarak dari kota Yogya ke Borobudur sejauh sekitar 40 kilometer yang biasanya ditempuh 1,5 jam, pagi itu cuma dilalap dalam waktu sekitar 35 menit. Itupun dengan kecepatan yang cukup santai.

Pukul 2.35 menit kami sampai di depan Pasar Borobudur. Pasar tradisional yang berjarak sekitar satu kilometer dari candi. Masih cukup sepi, hanya beberapa orang menurunkan dagangan. Kepada mereka kami bertanya soal arah menuju Punthuk Setumbu.

Dari pasar sesungguhnya tak terlalu jauh. Hanya sekitar 2-3 kilometer dan jalanan beraspal halus. Setidaknya ketika itu. Kami sempat berpikir cari kopi dulu di sekitar pasar. Namun para pedagang menyarankan langsung naik saja. Mereka juga menyebut ada warung kopi di titik awal naik.

Kami mengikuti saran tersebut sambil berpikir kemungkinan lokasinya yang sepi dan gelap. Ternyata kami keliru. Menjelang sampai di dekat jalan naik jalanan tampak ramai. Banyak mobil, dari mobil kecil hingga minibus, berjajar parkir. Di bagian lain puluhan sepeda motor juga terparkir cukup rapi. Suasana cukup ramai, dan yang jelas cukup terang.

Loket retribusi naik Punthuk Setumbu ada di dekat warung makan. Satu orang lokal dikenai Rp 20 ribu.

Pukul 3.30-an sejumlah portir meminta kami mulai mendaki. Mendaki? Ya, untuk ke Punthuk Setumbu kami harus menaiki tangga memutari bukit setinggi 400-an meter. Ada deretan anak tangga yang dibagi dalam tiga stage. Di tiap akhir stage ada bordes untuk berhenti sejenak ambil nafas. Di sana biasanya ada portir yang menjaga dan memberi cahaya dari senter. Bersama kami ada sekitar 20-an pengunjung.

Punthuk Setumbu, sebuah bukit di barat candi Borobudur. Sebuah tempat untuk menyaksikan matahari terbit dengan pemandangan Borobudur.
Pengunjung Punthuk Setumbu mengabadikan matahari terbit dengan latar depan candi Borobudur.

Hampir setengah jam berjalan, kami sampai puncak. Ini lebih mencengangkan lagi. Ternyata di puncak hampir mirip pasar malam. Ada sekitar 200-an orang di sana. Masing-masing telah mengambil posisi. Duduk atau berdiri. Entah siapa yang mengatur, tapi posisinya seperti orang duduk di ampitheater. Agak melengkung menatap ke satu arah.

Cukup banyak yang membawa kamera cukup serius (baca: dengan tripod dan lensa tele). Saat itu doa semua orang sama: tidak ada mendung dan matahari muncul dengan ceria.

Dan doa kami semua terwujud. Sekitar 27 menit setelah adzan subuh mengema di lembah, sebaris warna jingga muncul di cakrawala. Menit demi menit matahari beringsut naik. Hingga pada satu ketinggian, secara dramatis siluet Borobudur muncul dari balik kabut pagi dengan cahaya matahari menyorotinya. Luar biasa.

Dan drama itu berlangsung sekitar 30-an menit. Selesai selepas pukul 5 pagi. Maka perlahan para penikmat matahari terbit itu turun bukit.

Teman fotografer menyebut pengalaman itu sebagai cara lain menikmati candi Borobudur. Ia mungkin benar, saya seperti melihat Borobudur yang ‘baru’. Yang berbeda dengan saat masa kanak-kanak dulu.

Ayo, jangan lupa agendakan perjalananmu ke Magelang dan nikmati pesona elok dari perbukitan menoreh. Serta menikmati opera Borobudur di saat fajar menyingsing.

Waktu terbaik untuk datang ke kawasan ini pada adalah saat musim kemarau, yakni mulai Juli hingga Agustus. Pada saat itu, matahari kemungkinan besar tak terhalang awan atau mendung.

agendaIndonesia

****

Brongkos Handayani Yogya, Sedapnya Sejak 1975

Brongkos Handayani Yogya menjadi salah satu kuliner yang diburu saat wisatawan datang ke kota pelajar ini. Ia menjadi alternatif masakan jika bosan dengan gudeg atau bakmi Jawa.

Brongkos Handayani Yogya

Sesungguhnya brongkos di kawasan Yogyakarta tak cuma Handayani, tempat terkenal lainnya ada di pinggiran Kali Krasak, di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. DI sana ada brongkos Warung Ijo Ibu Padmo. Tapi kali ini kita cicipi dulu Handayani.

Lokasi warung makan Brongkos Handayani gampang dicari. Pertama-tama kita menuju Alun-Alun Kidul, atau Alun-Alun Selatan, orang Yogya biasa menyebut Alkid. Dari alun-alun ini, tinggal menuju ke arah Plengkung Gading, ini adalah bangunan serupa terowongan kecil di selatannya. Tapi jangan terlalu jauh, sebab lokasi Handayani ada di gerbang keluar alun-alun. Nempel ke dinding alun-alun.

Saat ini, brongkos Handayani bolehlah disebut salah satu kuliner legendaris Yogyakarta. Mungkin karena ia berjualan di sekitar tempat yang ramai dikunjungi. Alun-alun Kidul Yogyakarta memang tidak pernah sepi.

Warung ini menjadi kuliner klangenan karena pemiliknya sudah mulai berjualan sejak tahun 1975. Ya, 45 tahun yang lalu Adijo, sang pemilik kedai ini, mulai membuka warungnya di sini. Awalnya Adijo berjualan es campur dengan cara berkeliling. Itu dilakukannya sekitar tahun 1960-an. Ketika mulai berjualan dengan membuka warung di selatan Alun-alun Kidul, ia melengkapinya dengan berjualan brongkos.

Usaha kuliner yang sudah berjalan sekitar 45 tahun ini saat ini dilanjutkan anak-anak Adijo dan istrinya Saridjem. Tidak ada yang berubah dari resepnya. Konon salah satu rahasia yang dimiliki brongkos Handayani adalah menggunakan 16 macam bumbu.

Lalu sebenarnya, apa sih brongkos itu? Brongkos jelas masakan yang lezat. Jika dilihat sekilas tampilan brongkos mirip dengan rawon, namun ada perbedaan mendasar dari kedua masakan tersebut, yakni jika kuah kentalnya brongkos menggunakan santan, sementara rawon tidak memakai. Kemiripan warna kuah ke dua masakan muncul karena keduanya menggunakan kluwek.

Selain itu, secara tipis ada rasa yang manis menjadi cirikhas masakan Jawa, khususnya Yogyakarta. Bagi Masyarakat Jawa masakan ini biasa disebut “Jangan Brongkos”. “Jangan” di sini adalah bahasa Jawa untuk “sayur”. Menurut sejarahnya, brongkos berasal dari bahasa Inggris, Brown Horst yang artinya daging cokelat. Namun karena penyebutannya susah, di lidah orang Jawa ia menjadi brongkos.

Tidak ada catatan pasti kapan masakan ini masuk dalam daftar kulinari Jawa atau Yogya. Dugaan sementara, ia masuk bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda ke Yogyakarta. Dugaan lain, ia justru dibawa oleh para bangsawan Jawa yang bersekolah ke Eropa.

Yang jelas, masakan ini sudah menjadi menu sarapan orang-orang Jawa zaman dulu. Di kota gudeg itu sendiri cukup jarang rumah makan yang menjual menu brongkos. Bisa jadi karena dulunya brongkos hanya disajikan untuk kaum ningrat. Mengapa? Bahan baku brongkos yang menggunakan daging sapi membuat hanya kaum bangsawan saja yang mampu menikmatinya. Namun seiring perkembangan, ada beberapa tempat makan ataupun warung yang menyediakan brongkos sebagai menu yang bisa dinikmati.

Selain daging, brongkos biasanya berisi kulit melinjo dan kacang tolo. Daging sapi yang dipilih biasanya yang cukup banyak mengandung lemak, atau dalam bahasa Jawa disebut koyor. Bagi mereka yang tidak terlalu menyukai daging sapi, terlebih yang berlemak atau gajih, beberapa tempat makan menyediakan penggantinya seperti tahu atau telur ayam rebus.

Kuah brongkos yang berwarna cokelat cenderung terasa manis, namun juga muncul rasa gurih yang berasal dari santan. Tak perlu khawatir jika Anda penikmat makanan pedas, sebab sepiring brongkos biasanya dilengkapi cabai rawit utuh yang bisa digerus dan menambah sensasi pedas.

Meskipun brongkos sering diasosiasikan dengan Yogyakarta, semur daging dan kacang pedas ini cukup marak dalam tradisi Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejumlah daerah di wilayah ini, seperti Demak, Solo, atau Magelang juga mempunyai masakan brongkos. Tentu dengan versi dan keistimewaannya masing-masing.

Di Handayani, bahkan kita bisa meminta ekstra cabe rawit jika benar-benar ingin merasakan pedas. Di warung ini, biasanya orang memilih menu Brongkos Koyor. Ini artinya menu lengkap: nasi, brongkos dengan daging, telur ayam, dan tahu. Tapi seperti disebut di atas, bisa saja pengunjung hanya memilih daging saja tanpa telur. Atau sebaliknya, hanya telur.

Selain brongkos, warung ini juga menyediakan menu lain, meski tak terlalu favorit, yakni soto ayam dan pecel. Begitupun, apa pun masakan yang dipilih, biasanya pengunjung melengkapinya dengan memesan minuman es campur. Ini cukup khas warung makan ini. Ingat bukan, pemilik warung ini dulunya berjualan es? Bentuknya sederhana: sirup merah dengan kelapa muda dan tape singkong lalu disiram air santan encer dan es batu.

Brongkos dan masakan tradisional lainnya, adalah warisan kuliner Indonesia yang patut terus diapresiasi. Sesekali cobalah mampir ke Handayani dan menikmati brongkosnya. Atau, kalau pas main ke warung ini dan sedang kenyang, bisa membeli brongkos dalam kaleng. Handayani boleh disebut pelopor brongkos dalam kaleng. Menarik bukan?

agendaIndonesia

*****

Coto Makassar, Sejarah Dan 6 Yang Terenak

Coto Makassar adalah kuliner wajib ketika mengunjungi ibukota Sulawesi Selatan.

Coto Makassar sudah pasti mudah ditebak adalah makanan tradisional dari ibukota Sulawesi Selatan itu. Rasanya sebagian besar wisatawan nusantara familiar dengan masakan berkuah ini.

Coto Makassar

Setiap wisatawan yang datang ke Makassar, salah satu agenda kunjungannya adalah mencicipi coto. Ada yang langsung datang ke gerai atau warung terkenal, ada yang ke tempat yang menjualnya secara random. Maklum menu ini banyak ditemui di jalan-jalan protokol, bahkan di pusat perbelanjaaan.

Masakan tradisional khas Makassar ini sudah ada sejak Kerajaan Gowa masih berdiri. Kala itu kerajaan ini berpusat di Sombaopu sekitar1538 masehi, posisi wilayahnya ada di selatan kota Makassar.

Pelabuhan Paotore Makassar shutterstock
Pelabuhan Paotere di Makassar. Foto: shutterstock

Pada mulanya, coto merupakan hidangan khusus bagi kalangan istana Kerajaan Gowa. Ketika ada tamu istimewa atau ritual adat, coto akan menjadi hidangannya.

Namun ada pula cerita yang mengatakan bahwa coto justru dikreasikan oleh rakyat biasa dan disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas untuk menjaga kerajaan di pagi hari.

Dalam catatan sejarah yang dikutip dari arsip pemerintah kota Makassar, pada abad 16, hidangan coto Makassar sebagai kuliner khas juga mendapat pengaruh dari kuliner Cina yang telah ada saat itu. Hal ini dapat dilihat dari jenis sambal yang digunakan, yakni sambal tauco sebagai salah satu identitasnya.

Kelezatan yang memanjakan lidah ketika menikmati hidangan coto tidak terlepas dari pengolaaan berbagai jenis bumbu yang digunakan. Coto memiliki cita rasa tinggi karena memiliki bumbu segudang rempah.


Tidak tanggung-tanggung, dalam meramu jenis bumbu yang digunakan pada coto Makassar ini dilakukan pencampuran 40 jenis bumbu lokal (rampa patang pulo). Ini terdiri kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sereh yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seledri, daun perei, lombok merah, lombok hijau, gula tala, asam, kayu manis, garam, pepaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jeroan.

Semangkok Coto Makassar shutterstock

Rasa dan aroma khas yang dihasilkan oleh bumbu pada hidangan coto Makassar ini juga berfungsi sebagai penawar zat yang terdapat dalam hati, babat, jantung, dan limpah yang banyak mengandung kolesterol.

Coto sekilas seperti sup daging ini memang masakan berupa rebusan jeroan bercampur daging sapi yang diiris-iris lalu dibumbui dengan racikan bumbu khusus. Coto Makassar memiliki cita rasa gurih yang berasal dari rebusan daging, jeroan, dan rempah-rempah.

Coto biasa dinikmati dengan ketupat yang dibungkus dengan daun kelapa dan buras atau burasa, yaitu sejenis ketupat yang dibungkus daun pisang. Burasa terbuat dari beras yang dicampur santan dan diberi sedikit garam, lalu dibungkus dengan daun pisang dan diikat secara khusus kemudian dikukus.
Lalu dari begitu banyak warung makan yang menawarkan coto Makassar di kota angin mamiri ini, manakah yang layak dijadikan pilihan utama untuk dicicipi?

Coto Makassar dan Buras shutterstock
Coto Makassar biasanya disaantap dengan buras. Foto: shutterstock

Coto Nusantara 1

Kedai ini buka dari pukul 07.00-17.00 WITA dan merupakan tempat makan coto enak paling terkenal di Makassar. Di sini wisatawan bisa menikmati coto dengan harga sekitar Rp 25 ribu belum termasuk PPN, dan bisa memilih coto isi daging saja atau campur dengan jeroan.
Coto Nusantara 1; Jalan Nusantara Baru Nomor 42, Ende, Wajo, Makassar
Aroma Coto Gagak

Meskipun Namanya membawa nama gagak, tak berarti mereka menggunakan bahan daging burung gagak. Bernama demikian karena warung ini berada di jalan Gagak. Keistimewaan kedai ini, selain rasanya memang enak, mereka buka 24 jam. 

Aroma Coto Gagak merupakan tempat makan coto legendaris di Makassar yang punya menu coto dengan harga Rp 30 ribu per porsinya. pengunjung juga bisa membeli bumbu coto gagak untuk dibawa pulang dengan jumlah per kilogram.
Aroma Coto Gagak, Jalan Gagak Nomor 27, Mariso, Kota Makassar.
Coto Daeng Sirua

Kedai ini buka secara ‘normal’, yakni dari pukul 08.00-20.00 WITA. Satu porsi menu coto ini dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per mangkuknya. pengunjung bisa tambah ketupat dengan harga Rp 2 ribu.
Coto Daeng Sirua, Jalan Abdullah Daeng Sirua Nomor 10, Panakkukang, Makassar.

Coto Paraikatte

Kedai ini buka lebih pagi yakni pukul 7 dan tutup menjelang tengah malam, 23 WITA. Ada menu Coto dengan harga Rp 18 ribu atau sekitar Rp 12 ribu untuk paket hematnya. Tambah degan ketupat pandan hanya Rp 2 ribu.
Coto Paraikatte, Jalan A. P. Pettarani Nomor 125, Rappocini, Makassar.
Coto Maros

Hidangan coto di kedai ini mulai dijajakan dari pukul 08.00-00.00 WITA. Coto kuah kental ini punya isian daging yang banyak. Harga per mangkuk coto sekitar Rp 23 ribu. Wisatawan bisa menikmatinya dengan es kelapa.
Coto Maros, Jalan Urip Sumoharjo, Maccini, Makassar

Coto Bagadang Fly Over

berada di Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Sinrijala, Panakkukang, Kota Makassar. Buka dari pukul 07.00-02.00 WITA. Ada satu porsi menu Coto dengan harga Rp 17 ribu, namun jika ingin membawa pulang harganya menjadi Rp 20 ribu.
Coto Bagadang Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo Nomor 156, Panakkukang, Makassar


Manapun yang mau dipilih untuk disantap, semuanya enak.

agendaIndonesia

*****

Pulau Weh, Mengunjungi Indonesia di Titik 0

Dari Sabang hingga Takengon bisa dilakukan dalam waktu 5 hari.

Pulau Weh atau pulau We mungkin banyak anak milenial yang kurang mengetahuinya. Tapi kalau kita menyebut satu-satunya kota di atas pulau ini, yakni Sabang, mungkin mereka akan segera tahu, ini pulau paling barat dari Indonesia.

Pulau Weh

Orang Indonesia biasanya memang lebih mengerti Sabang daripada pulau Weh. Sabang adalah simbol ujung barat dari deret kepulauan Nusantara, dengan simbol ujung timurnya di Merauke. Ya, bila Indonesia diibaratkan sebuah deret aritmatika, Sabang dan pulau Weh adalah bilangan paling awal, bilangan 0.

Karena itu mengunjungi titik 0 Indonesia, yang ditandai dengan tugu Kilometer 0, tentu menjadi cerita yang seru. Apalagi jika wisatawan bisa mendapatkan sertifikat” Kilometer 0” yang ditandatangani Walikota Sabang.

Tugu Kilometer 0 itu lokasinya kurang lebih 29 kilomter dari pusat kota Sabang, dengan waktu tempuh ksekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor. Tugu setinggi 20 meter itu berwarna krem dan merah muda dengan lambang Garuda yang sedang menggengam angka 0 di puncaknya.

Pulau Weh sendiri berada di ujung utara pulau Sumatera dan menjadi bagian dari Daerah Istimewa Aceh. Ia terbentuk akibat letusan gunung berapi pada zaman pleistosen, letusan yang menyebabkan daratan Weh terpisah dari daratan Sumatera. Pulau ini terletak di Laut Andaman.

Karena terbentuk karena letusan gunung berapi, menyebabkan masih banyak ditemukan batuan-batuan vulkani di pulau ini. Ini juga berpengaruh pada kesuburan tanahnya. Sebagian tutupan hutan hijau yang masih utuh dapat dijumpai di bagian barat pulau ini. Dan, meskipun hanya kecil dengan luas sekitar 120-an kilometer persegi, pulau Weh memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter

Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer. Dari Banda Aceh, jarak Sabang sekitar 32 kilometer. Menuju Sabang bukan hal sulit, ini bisa dicapai dengan perjalanan laut dari Banda Aceh. Ada dua jenis kapal yang bisa mengantar ke Sabang, pertama kapal cepat yang menempuh perjalanan selama 30 menit harga tiketnya Rp 60 ribu per orang. Pengunjung juga bisa memilih kapal reguler, hanya saja waktu tempuhnya lebih lama, yakni sekitar dua jam. Harganya tiketnya lebih murah, yakni Rp 23 ribu per orang.

Sejumlah teman menyarankan, tidak ada salahnya jika memilih kapal yang lebih lambat. Sebab, kadang jika beruntung penumpang kapal reguler ini mendapatkan tontonan menarik. Selain disuguhi pemandangan laut yang indah, dalam perjalanan penumpang bisa melihat lumba-lumba berlompatan di permukaan laut, mereka seakan mengiringi perjalanan itu.

Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh, yakni Pulau Klah, Rubiah, Seulako, dan pulau Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah yang paling terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya yang indah.

Pulau Rubiah berada di teluk di muka kota Sabang. Konon namanya diambil dari nama seorang perempuan, Cut Nyak Rubiah, yang makamnya ditemukan di pulau tersebut. Akses menuju pulau Rubiah adalah melalui Pantai Iboih atau yang nama lokalnya Teupin Layeu di kota Sabang. Waktu tempuh menuju Rubiah sekitar 5-10 menit dengan perahu motor dari Iboih.

Perairan di seputar pantai Iboih dan pulau Rubiah memang diperuntukkan untuk pariwisata. Penangkapan ikan secara masif dilarang di perairan ini, karena dianggap dapat merusak terumbu karang. Perairan bawah air di kawasan ini konon disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di Sumatera.

Jika tidak berminat menyelam, pengunjung bisa snorkling dan mengamati kecantikan laut dari permukaan. Ada banyak menjumpai kumpulan ikan (schooling fish) yang berenang di seputaran terumbu karang. Biaya menyewa peralatan snorkling di Iboih atau Rubiah sekitar Rp 40 ribu. Sedang tarif untuk satu kali menyelam Rp 400 ribu.

Bilapun tak ingin menyeberang ke Rubiah, pengunjung bisa menikmati pantai Iboih atau pantai Teupin Layee. Suasana pantainya asri dengan panorama yang indah. Warung makan, toko pakaian, dan kedai kopi mudah ditemukan di sini. Wisatawan pun bisa menikmati ikan hias dan terumbu karang dengan menggunakan perahu kaca di seputar pantai.

Pilihan wisata lain adalah pantai Anoi Itam di sisi selatan Pulau Weh, butuh waktu sekitar 30 menit dari Sabang dengan motor motor. Keistimewaan pantai ini pada pasirnya yang hitam. Dalam bahasa Aceh, Anoi Itam berarti pasir hitam. Salah satu hal menarik di pantai ini adalah adanya Benteng Anoi Itam. Benteng ini adalah salah satu tempat yang menjadi pertahanan serdadu Jepang saat mereka masuk Sabang. 

Dari benteng tersebut, wisatawan juga bisa melihat hamparan laut berwarna biru kehijauan yang memukau. Di titik ini, wisatawan juga bisa melakukan pemotretan dengan latar Gunung Seulawah Agam yang menjulang kokoh di kejauhan di daratan Aceh.

Tapi terlepas dari apapun yang memang asyik itu, berkunjung ke titik Kilometer 0 Indonesia adalah pengalaman yang luar biasa. Ayo agendakan kunjunganmu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****