Air Terjun Madakaripura, Tebing 200 Meter

Air Terjun Madakaripura di Probolinggo merupakan air terjun tertinggi ke dua di Indonesia.

Air terjun Madakaripura dua-tiga tahun terakhir semakin dikenal para petualang juga wisatawan. Terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, air terjun Madakaripura memiliki pesona alam yang tak luar biasa. Tidak hanya menawarkan keindahan alam saja, air terjun ini juga punya potensi storynomic tourism, spot wisata dengan latar belakang cerita, yang layak untuk dikembangkan.

Air Terjun Madakaripura

Konon, Air Terjun Madakaripura menjadi tempat pertapaan terakhir Maha Patih Majapahit Gadjah Mada. Itu dilakukannya hingga akhir masa hidupnya. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Gadjah Mada moksa atau menghilang. Mitos ini merujuk pada pemilihan nama Madakaripura yang diambil dari tiga kata yang saling berhubungan.

air terjun Madakaripura memiliki sejumlah mitos, di antaranya ini merupakan tempat pertapaan terakhir Gadjah Mada.
Air terjun Madakaripura di Probolinggo, Jawa Timur. Foto: dok. shuterstock

Mada merupakan penggalan dari Gadjah Mada,  Kari yang berarti peninggalan, dan Pura bermakna sembahyang atau semedi. Berdasarkan cerita tersebut, masyarakat setempat percaya bahwa air terjun Madakaripura tersebut adalah air terjun abadi. Pasalnya, selama ini debit air terjun tersebut tidak pernah mengalami kekeringan.

Cerita mengenai Mahapatih Gadjah Mada ini diperkuat dengan hadirnya arca atau patung Gadjah Mada yang berada di kawasan ini. Tepatnya berada di area parkir kawasan ini. Jadi, saat wisatawan memakirkan kendaraan di sini.

Meskipun untuk menuju ke Air Terjun Madakaripura wisatawan harus trekking terlebih dahulu, namun pesona yang ditawarkan sangat sepadan dengan perjuangan tersebut. Rasa lelah akan terbayar lunas saat sesampainya pengunjung di lokasi air terjun ini.

Pemandangan hijau yang ada di sekitar air terjun di Probolinggo ini juga menjadi daya tarik sendiri. Banyak pepohonan rindang membuat susananya segar dan pemandangannya semakin asri. Tempat ini juga sangat cocok untuk mereka yang menikmati alam.


Terlepas dari mitos-mitos yang menyelimutinya, salah satu daya tarik dari air terjun ini adalah tinggi tebing yang menjadi turunnya air sangat tinggi dan diperkirakan sekitar 200 meter. Ketinggian ini sekaligus menobatkan Madakaripura sebagai air terjun tertinggi di Pulau Jawa dan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia.

Saat ini Madakaripura tercatat sebagai air terjun tertinggi kedua di Indonesia. Adapun air terjun tertinggi di Indonesia yang diketahui hingga saat ini adalah air terjun Ponot di Sumatera Utara dengan ketinggian sekitar 250 meter.


Selain karena ketinggiannya, pesona Air Terjun Madakaripura juga tampak dari bentuk tebing di sekelilingnya. Tebingnya memiliki bentuk melingkar, sekilas seperti gelas raksasa yang tinggi menjulang.

Uniknya lagi, air terjun ini berbentuk gua dengan ketinggian kurang lebih 200 meter. Dan memiliki luas kurang lebih 25 meter. Air terjunnya pun melingkar. Nah, sebelum menuju air terjun utama, wisatawan akan disambut dengan empat air terjun. Dimana, salah satunya berbentuk seperti sebuah rongga.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, rongga tersebut adalah tempat moksa Patih Gadjah Mada. Bila dilihat secara geografis, letak dari air terjun ini berada di ujung lembah yang cukup dalam. Terletak di kaki bukit pegunungan Tengger.

Keunikan lainnya, air tidak hanya mengalir dari tengah air terjun saja, namun juga melalui celah-celah tebing yang menyempit. Hal ini membuat suasana di bawah air terjun seolah sedang turun hujan. Ini karena air yang menetes dari segala arah membuat area sekitar air terjun tampak seperti sedang gerimis.

Karena itu, jika pengunjung atau wisatawan berkunjung ke Air Terjun Madakaripura disarankan untuk menggunakan jas hujan agar tidak basah. Jatuhnya air juga menghadirkan gelombang air yang sangat dramatis serta membentuk kolam alami di bawah air terjun. Air di kolam alami tersebut memiliki warna biru yang transparan dan menyegarkan mata.

Untuk menuju lokasi Air Terjun Madakaripura, para pengunjung bisa mengandalkan transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Dari Kota Probolinggo, wisatawan harus berkendara ke arah Dusun Branggah, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang. Lokasi ini berjarak kurang lebih 37 km dari pusat Kota Probolinggo.

Air terjun Madakaripura bisa dicapai dari kota Probolinggo di Jawa Timur.
Patung Kuda Cipta Wilaha salah satu ikon Probolinggo. Foto: Dok shuterstock

Sesampainya di pintu masuk Air Terjun Madakaripura, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum, wisatawan tetap harus melakukan trekking untuk sampai ke titik lokasi air terjun. Perjalanan ini membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari pintu masuk.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Air Terjun Madakaripura adalah akhir musim penghujan,yaitu antara Mei hingga Juni. Kunjungan juga lebih baik dilakukan di pagi hari, karena kemungkinan besar cuaca sedang cerah.

agendaIndonesia

*****

Kampung Bena Flores, 9 Suku dan 45 Rumah

Kampung Bena Rosana

Kampung Bena Flores, Nusa Tenggara Timur, kampung adat yang lekat mengesankan kehidupan zaman batu atau megalitikum. Kampung ini berada di Ngada, sebuah kabupaten di tengah Pulau Flores, yang pada 1995 diakui UNESCO masuk daftar World Heritage Tentative List sebagai daerah dengan kategori kebudayaan.

Kampung Bena Flores

Di kabupaten Ngada, tradisi dan adat kental dijunjung. Masyarakat dari beragam kelompok masih eksis. Mereka terbagi atas beberapa suku. Anggota-anggota suku hidup di perkampungan adat. Salah satu yang terbesar adalah Kampung Adat Bena.

Pemgunjung jika baru pertama kali menginjakkan kaki di kampung ini, akan merasa memasuki lorong waktu dan menatap kehidupan masa lalu. Sebab, modernisasi minim sekali dirasakan. Orang-orangnya masih mempertahankan budaya lampau, penduduk yang menganut paham matrilineal itu umumnya masih mengunyah sirih pinang, melakoni aktivitas berladang, dan menenun kain tradisional.

AgendaIndonesia pernah menyusuri perkampungan adat tersebut. Inilah catatan perjalanan selama mengunjungi Kampung Bena. Perjalanan dimulai dari Kota Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada.

Perlu perjalanan darat kurang lebih 9 jam dari Labuan Bajo untuk menjangkau lokasi ini. Atau, bisa juga menggunakan jalur udara menuju Bandar Udara Soadi, dilanjutkan perjalanan darat kurang lebih satu jam.

Sepanjang 19 kilometer, hampir tak terlihat kehidupan di jalan yang menghubungkan Kota Bajawa dan Kampung Bena. Selepas perkotaan kecil, hanya hutan dan pegunungan yang tampil di kanan-kiri jalanan.

Medannya pun tak main-main. Tanjakan, turunan, dan kelokan esktrem serta-merta bisa dijumpai. Laurent (37 tahun), warga asli Bajawa, yang memberi tumpangan menuju Kampung Bena, hati-hati betul mengatur gas motornya. “Jalanan licin. Lumpur turun kalau habis hujan,” kata Laurent. Meski sedang kemarau, misalnya, cuaca Bajawa tak bisa ditebak. Wilayahnya yang terletak di dataran tinggi membuat hujan sekonyong-konyong bisa turun.

Kampung Bena Flores dengan gunung Inerie-nya

Kira-kira 30 menit setelah berjibaku dengan medan yang berliku-liku, pemandangan berubah. Kini, yang tampak adalah kantong-kantong perkampungan di lereng gunung. “Itu Gunung Inerie,” kata Laurent. Gunung Inerie tampil menjulang. Ini merupakan gunung api dengan puncak tertinggi di pulau Flores. Ketinggiannya 2.245 meter di atas permukaan laut.

Adapun perkampungan di kaki Gunung Inerie yang tampak dari sisi jalan raya adalah kampung-kampung adat. Salah satunya Kampung Bena, yang terhitung paling besar.

Laurent menghentikan laju motornya di bawah tanah lapang luas dengan pepohonan bambu di sekelilingnya. Di depan tanah lapang itu tampak sebuah permukiman dengan rumah-rumah tradisional berjajar serta berhadapan.

Inilah Kampung Adat Bena. Sebelum masuk ke kampung adat, wisatawan harus membayar tiket masuk. Biayanya Rp 25 ribu untuk turis lokal. Setelah mendapatkan tiket, wisatawan akan dipinjami ikat kepala. Ikat kepala ini wajib dipakai sebagai salah satu syarat masuk perkampungan.

Menyusuri kampung Bena, pengunjung akan merasa diapit rumah-rumah kuno nan unik. Bentuk perkampungan itu berundak-undak, seperti desa di perbukitan. Bangunan rumah penduduknya masih terbuat dari kayu beratap rumbai-rumbai.

Di sana berdiri kira-kira 45 rumah. Uniknya, keluarga yang tinggal di rumah-rumah tersebut berasal dari sembilan suku, yakni suku Bena, Ago, Dizi, Dizi Azi, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Khopa, Wahto, dan Ngada.

Pembedanya, rumah mereka dipisahkan oleh tingkatan-tingkatan. Masing-masing suku menempati satu tingkat. Tingkat paling tengah dihuni oleh suku Bena. Sebab, suku itu dianggap paling tua dan menjadi pionir pendiri kampung. Komunikasi antarsuku tersebut berlangsung menggunakan bahasa setempat, yakni Nga’dha.

Rumah-rumah di perkampungan adat dibangun dengan mempertahankan kontur asli tanah. Itulah sebabnya, bentuk kampung tersebut berundak-undak. Di ujung kampung, ada sebuah bukit kecil. Bukit itu menjadi titik kumpul masyarakat untuk berdoa dan beribadah. Di sana bersemayam patung Bunda Maria.

Patung Bunda Maria berdiri di tengah bebatuan yang ditata seperti gua. Di sekeliling gua juga terdapat batu-batu besar.

Bebatuan tak cuma bisa dijumpai di bukit. Di muka tiap rumah pun terdapat bebatuan besar dengan ujung runcing. Laurent menyebut, keberadaannya merupakan simbol pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang.

Masyarakat Kampung Adat Bena hidup mempertahankan tradisi leluhur mereka sejak zaman batu. Karena itulah kampung ini disebut kampung megalitikum.

Di beranda rumah-rumah, perempuan menggelar alat tenun bukan mesin. Setiap hari para mama—sebutan untuk perempuan sudah beristri—memintal benang dan menenunnya menjadi kain tradisional yang dipasarkan kepada wisatawan.

Tenunan itu alami. Pewarnanya berasal dari akar tumbuh-tumbuhan.

Ritus hidup masyarakat adat Kampung Bena menarik perhatian wisatawan asing. Suzanne van den Beek, warga asli Belanda, yang ditemui di Kampung Bena, mengaku tak menyangka bisa menjumpai perkampungan zaman batu di masa modern. “Ini luar biasa mengagumkan dan saya belum pernah menjumpainya sebelumnya,” tuturnya.

Kampung Bena menjadi salah satu bukti sejarah bahwa peradaban masyarakat adat yang banyak bermukim di Flores masih terus hidup.

F. Rosana

Keindahan Ungaran Dari Ketinggian 1.200 Meter

Candi gedong Songo moto moto sc unsplash

Keindahan Ungaran lebih terasa dinikmati dari ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Menikmati gumpalan awan dan mengejar matahari di dua tempat berbeda.

Keindahan Ungaran

Angin pegunungan bersilir-silir menerpa tubuh. Embusan dinginnya perlahan  mulai menusuki tulang. Namun gumpalan awan kental bak lautan di kaki Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, berhasil mengalihkan perhatian. Bentangannya yang bergumpal-gumpal terhampar alami dan memancarkan pesona keindahan. Apalagi saat mentari pagi sudah hadir menyapa, cahayanya menerobos gumpalan awan dan menyembulkan bias jingga. Wow!

Momen seperti itu memang hanya dapat dinikmati menjelang matahari terbit, tepatnya sebelum matahari memecahkan gumpalan-gumpalan awan yang melayang. Terbayar sudah upaya saya dinihari tadi agar dapat berada di negeri di atas awan ini. Meski saya harus bergegas meninggalkan Kota Semarang jauh sebelum matahari menampakkan batang hidungnya dan ayam jago berkokok.

Mungkin akan makin lengkap rasanya jika secangkir minuman dan penganan hangat turut menemani. Namun sayang warung-warung di area parkir Wisata Alam Sidomukti belum ada yang buka. Dapat dimaklumi karena hari masih terbilang pagi buta. Sepi dan sunyi. Hanya kicau burung dan tonggeret yang terdengar.

Keindahan Ungaran dari ketinggian 1200 meter

Decak kagum tiada berkesudahan. Saya makin memahami betapa kecilnya anak manusia dibanding kemegahan alam ciptaan Sang Khalik. Tak terasa, momen indah itu begitu cepat berlalu. Matahari mulai meninggi. Gumpalan awan pun perlahan melayang dan terpisah satu sama lain. Kini, pemandangan telah berganti, tak kalah indah. Tampak rindangnya pepohonan, lembah yang curam, dan jurang yang memisahkan punggung gunung.

Menurut Fauzy, sopir yang mengantar saya, kawasan Umbul Sidomukti memang telah menjadi wisata alternatif di Bandungan, di samping wisata Candi Gedong Songo dan Bandungan. Salah satu objek yang menarik adalah kolam renang dengan dinding bebatuan alami berbentuk terasering.

Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, ketiga kolam renang itu diapit jurang di kedua sisinya. Kolam renang terletak menonjol di tepi lereng sehingga siapapun yang sedang berendam dapat menyaksikan pemandangan luas dari kejauhan, awan berarak serta hamparan lembah dataran rendah Kota Ambarawa, Rawapening, dan sekitarnya.

Uniknya lagi, sumber utama air kolam berasal dari mata air di tengah kolam renang paling atas. Airnya jernih, sejuk, dan terasa menyegarkan saat saya menyentuhnya. Jika kolam bagian atas sudah penuh, air akan jatuh ke kolam di bawahnya. Begitu seterusnya hingga mencapai kolam ketiga yang berada paling bawah. Sementara, jika air kolam ketiga sudah penuh, air akan dibiarkan jatuh, mengalir ke kali.

Selain kolam renang, Umbul Sidomukti sebenarnya juga dijadikan sarana outbound. Permainannya terkesan menantang karena terdapat dua pilihan trek, yakni marine bridge di lembah dan rappelling menuruni lembah di sisi kolam. Sementara permainan flying fox memiliki lintasan sekitar110 meter dan menyeberangi lembah di antara dua lereng bukit.

Jalan mencapai lokasi kawasan ini memang berliku dan naik-turun. Jalan pun tidak terlalu lebar. Saat berpapasan, mobil harus saling mengalah, bergantian. Syukur, waktu dan jarak tempuh tidak terlalu lama untuk tiba di Umbul Sidomukti, Desa Sidomukti, Bandungan, Semarang. Hanya sekitar 36 kilometer dari Kota Semarang.

Matahari makin meninggi. Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di tempat ini. Namun keindahan Brown Canyon, yang belakangan populer di Semarang, terus membayangi. Ya, saya harus bergegas. Kini, giliran mengejar matahari tenggelam di Brown Canyon.

Ada banyak rute untuk bisa sampai ke Brown Canyon, seperti lewat Pasar Meteseh via Tembalang dan Kedungmundu atau Rumah Sakit Umum Daerah Klipang. Namun yang perlu diperhatikan adalah kendaraan yang ditumpangi. Sebaiknya, gunakan kendaraan roda empat yang memiliki ground clearance yang lumayan tinggi. Sebab, kontur jalan menuju lokasi ini merupakan jalan pedesaan yang jauh dari kata mulus dan cenderung bergelombang.

Setelah melewati jalan bergelombang yang sempat membuat badan terguncang, akhirnya saya tiba di lokasi. Namun sebelumnya, beberapa warga setempat memungut karcis masuk. Maklum saja, tempat ini memang bukanlah obyek wisata yang dikelola resmi oleh pemerintah daerah atau dinas pariwisata setempat.

Lokasi ini awalnya hanya berupa bukit dan dijadikan proyek galian C untuk ditambang pasir, tanah urug, dan batu padas. Lambat laun, akibat penggalian tersebut, terbentuklah tebing-tebing karena tidak semua bukit menjadi area proyek galian.

Karena bentuknya yang unik, Brown Canyon sering dijadikan latar belakang pemotretan. Tekstur tebingnya unik dan lubang-lubang bekas galian yang telah menampung air hujan menambah kesan eksotis. Banyak pengunjung yang berfoto mengabadikan diri sore itu untuk diunggah ke media sosial atau sekadar menuntaskan rasa penasaran. Sumiyati, misalnya. Perempuan setengah baya asal Jakarta itu mengaku tertarik mengunjungi Brown Canyon setelah menyaksikan tayangan di salah satu televisi swasta.

Karena masih bersifat obyek wisata dadakan, jangan berharap pengunjung mendapati fasilitas seperti toilet, tempat istirahat, atau tempat ibadah di lokasi ini. Yang ada hanya warung kaget yang didirikan oleh warga setempat. Seorang pemilik warung mengungkapkan jika tambang itu sebetulnya sudah ditinggalkan. Tapi, tak semua lahan habis digali. Misalnya, ada dua lahan yang dibiarkan begitu saja sehingga terkesan membentuk bukit ukuran mini. Posisinya berdekatan. Menurutnya, para penggali tidak berani memapas bukit itu karena terdapat makam keramat di atasnya.

Terlepas benar atau tidak, setidaknya kisah itu menjadi mitos yang makin menambah daya tarik Brown Canyon. Kisah itu asyik didengarkan sembari menikmati kopi panas dan sepotong pisang goreng yang masih hangat. Dari kejauhan, mentari mulai jatuh. Bulat merah bagai kuning telur ayam terselip di antara dua bukit mungil. Awan kelabu sempat menutupinya, lalu pergi lagi hingga sang mentari benar-benar tenggelam di ufuk barat. l

Boks

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Semarang, Jawa Tengah. Waktu tempuh hanya 50 menit. Lanjutkan perjalanan lewat darat sekitar 36 kilometer atau sekitar 1,5 jam karena lalu lintas ramai. Tidak ada bus umum untuk mencapai Umbul Sidomukti atau Brown Canyon. Pastikan Anda menggunakan kendaraan sewa.

Andry T. /N. Dian/Dok. TL/unsplash

Green Bowl Bali, Surfing dan 330 Anak Tangga

Surga wisata Bali tak semuanya bisa dicapai dengan mudah. Ada yang butuh hiking terlebih dahulu, seperti green bowl.

Green Bowl, nama pantai di Bali yang semakin sering didengar namun masih jarang disambangi wisatawan. Terutama bagi mereka yang tak terlalu menggemari berselancar atau surfing. Dan, ini yang mungkin menjadi alasan utamanya, untuk mecapainya orang harus menuruni 330 anak tangga. Wow!

Green Bowl Bali

Untuk masyarakat umum, pantai ini sudah punya sebutan lain. Sepuluh atau 20 tahun lalu mungkin orang menyebut pantai ini dengan sebutan pantai Bali Cliff. Ini karena di atas tebing pantai ada hotel berbintang bernama Bali Cliff. Namun, sesungguhnya masyarakat setempat menyebut pantai ini sebagai pantai Ungasan, karena lokasinya di daerah Pura Batu Pageh, Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Bagi penikmat Bali, dan pernah berkunjung ke pantai Pandawa, suasana Green Bowl mirip dengannya. Baik pasir, gelombang, dan pemandangannya. Ini karena keduanya memang berada dalam satu deretan garis pantai Kuta Selatan. Hanya saja, bibir pantai Green Bowl tidak sepanjang Pandawa yang ada di timurnya.

Perubahan nama Bali Cliff atau Ungasan menjadi Green Bowl, yang dalam bahasa Indonesia berarti mangkok hijau, muncul omongan mulut ke mulut para peselancar. Mereka bercerita, di saat air laut surut, karang-karang yang melengkung dan ditumbuhi lumut hijau akan terbentuk menyerupai mangkok. Jika orang mulai menuruni tebing, pemandangan pantai menyerupai mangkok berwarna hijau.

Meski tak jauh dari pantai Pandawa, Green Bowl tidak seramai pantai-pantai lain di Bali. Kebanyakan para peselancar yang memburu lokasi ini karena menyuguhkan ombak yang tinggi dan menantang.  “Ramainya pengunjung di pantai tergantung ombak, kalau ombak lagi jelek, ya sepi,” ujar Wayan, seorang pemilik warung di area pantai ini.

Suasana pantai sebagai surga peselancar mulai kelihatan jika kita berkendara dari Jimbaran, iring-iringan wisatawan asing bersepeda motor. Ciri khasnya: di salah satu sisinya terlihat mereka membawa papan selancar. Wajah mereka menunjukkan kegembiraan.

Tujuan mereka jelas, pantai berpasir putih dengan air yang bergradasi warna biru muda, biru, hingga biru kehijauan. Letaknya di balik tebing yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon. Pantai Green Bowl. Pantai yang tidak dicapai dengan mudah. Untuk sebagian orang, jalur ke pantai ini bisa membuat putus asa. Bagaimana tidak, ada 330 anak tangga yang harus dituruni sebelum menjejak di pasir putihnya.

Pantai Green Bowl nigel tadyanehondo unsplash

Tapi jangan khawatir. Jika penasaran ingin melihat pantai ini, ada atraksi penghilang rasa bosan saat menuruni anak tangga. Wisatawan bisa sambil mencermati tingkah lucu monyet-monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon lain di kanan-kiri tangga.

Turun 300-an anak tunggu pasti melelahkan, tapi rasa capai itu akan terbayar begitu melihat air laut nan biru, berpadu pasir putih, tebing, dan pepohonan. Wisatawan, jika pun tak ingin berselancar, bisa berjemur atau rebahan di pasir dengan tenang karena pengunjung pantai ini masih minim.

Mengingat omongan Wayan di atas, dan masih jarangnya pengetahuan tentang pantai ini, biasanya para peselancar mencari tahu terlebih dulu sebelum menuju pantai ini. Informasi bahakan sudah diulik sebelum terbang ke Bali. Ini menghindari kekecewaan seandainya tiba di lokasi pada musim dan kondisi yang kurang pas. Begitupun banyak peselancar yang terus datang ke Green Bowl karena ombak di pantai ini tergolong stabil. “Green Bowl jadi salah satu favorit peselancar yang datang ke Bali karena gulungan ombaknya stabil,” ujar Wayan.

Selain berselancar, beberapa wisatawan memilih berjemur dan bermain  air di pinggir pantai. Ada beberapa gua yang bisa dijadikan tempat berteduh kala terik mentari menguat. Beberapa gua yang terjadi karena proses alam menambah eksotisme pantai ini. Di sebuah gua terlihat jejak-jejak upacara umat Hindu.

Garis Pantai Green Bowl tergolong pendek karena dibatasi jajaran karang besar dan tebing yang menjulang tinggi. Kontur alam tersebut menambah gaung nama pantai sebagai salah satu pantai tersembunyi.

Lokasinya di Jalan Raya Bali Cliff, Kuta Selatan, untuk mencapainya masih jarang kendaraan umum dengan rute ke tempat ini. Karenanya, umumnya pengunjung harus menyewa kendaraan roda dua atau empat meski sebenarnya lokasinya cukup mudah. Dari arah Kuta, pengunjung menuju arah Garuda Wisnu Kencana. Tidak jauh akan ditemukan perempatan, wisatawan bisa mengambil belokan ke kiri.

Sebelum turun tebing menuju pantai, ada area parkir yang cukup luas dan warung-warung permanen. Terdapat fasilitas kamar kecil dan kamar mandi untuk membilas tubuh setelah berselancar atau bermain di pantai. Di area parkir ini, seperti biasa, wisatawan akan dikerubungi para pedagang asongan, umumnya ibu-ibu penjual aksesori dan kerajinan tangan. Ada juga yang menawarkan jasa pijat. Nah, yang terakhir ini penting, setelah naik turun 600-an anak tangga, pijat kaki pastilah menyenangkan.

F. Rosana/Dok. TL/nigel tadyanehondo-unsplash

Singgah 1 Hari di Makassar

Rute penerbangan baru Super Jet Air adalah ke Makassar

Singgah 1 hari di Makassar? Jangan khawatir, Anda tetap akan punya pengalaman menarik. Mulai dari wisata sejarah dan kuliner, juga santai menikmati keindahan mentari tenggelam di pantai.

Singgah 1 Hari di Makassar

Saya beberapa kali menikmati transit di kota anging Mamiri ini. Baik perjalanan dari Jakarta ke Jayapura di Papua. Atau, Jakarta ke Manado di Sulawesi Utara. Kadang cuma satu-dua jam. Tapi kadang hingga delapan jam. Itu jika tidak mendapatkan penerbangan langsung. Pernah sekali waktu, harus mendarat pagi sekali karena penerbangan sekitar dua jam dari Jayapura dan karena perbedaan wilayah waktu, jam 6.30 pagi waktu Makassar. Celakanya baru malam hari penerbangan ke Yogyakarta via Surabaya. Menunggu di Bandar Udara Hasanuddin?

Saya memilih ke kota. Dengan taksi atau menyewa mobil yang banyak ditawarkan di bandara, menuju pusat kota memerlukan waktu sekitar 30-an menit jika lancar melalui jalan tol. Pilihannya: sarapan khas Makassar.

Coto Makassar

Di pagi hari, mulailah dengan sarapan coto Makassar. Beberapa kali ke kota ini, saya punya dua kedai coto favorit. Pertama, di rumah makan Coto Nusantara yang berada di Jalan Nusantara. Posisinya berada di depan pelabuhan laut Sukarno Hatta. Buka mulai 06.30, restoran ini menyajikan soto yang menjadi pilihan yang menggoda di pagi hari.

Ruang kedainya tak terlalu besar, namun bisa menampung cukup banyak tamu. Saat makan siang, siap-siaplah mengantri jika mau mengudap coto di sini. Selain antri, jika datang beramai, jangan berpikir harus duduk satu kelompok bersama. Kadang, satu orang duduk di dekat pintu masuk, yang lainnya ada di dalam. Prinsipnya, kosong diisi.

Pilihan coto lainnya adalah Coto Gagak. Jangan salah, ini bukan soto dengan daging gagakm tapi ini karena cotonya berada Jalan Gagak. Di Makassar ini ada yang unik, beberapa tempat makan populer ada di jalan dengan nama yang menimbulkan asosiasi. Misalnya, jika ingin makan palubasa, di sini ada dua yang terkenal: Pallubasa Onta dan Pallubasa Srigala. Itu karena yang satu ada di jalan Onta, dan lainnya di Jalan Srigala.

Dengan perut terisi coto, kita bisa memulai keliling kota. Bisa memulai jalan sehat dengan mengelilingi Fort Rotterdam atau kadang disebut Benteng Ujung Pandang. Lokasinya hanya sekitar satu kiloan dari Coto Nusantara. Benteng ini dibangun pada 1554 oleh Raja Gowa. Tanpa biaya masuk, orang bisa jalan-jalan sembari mengenal sejarah di sini. Di masa lalu, benteng ini menjadi saksi bisu perjuangan Indonesia. Kini dipergunakan sebagai pusat budaya dan seni yang tertata apik dan bersih.

Perjalanan kemudian bisa dilanjutkan ke Museum La Galigo, yang berada dalam Fort Rotterdam. Memiliki koleksi barang-barang dari sejumlah kerajaan di Sulawesi Selatan, juga benda-benda prasejarah. Seusai keliling Fort Rotterdam dan Museum La Galigo, masih ada satu lagi jejak sejarah yang bisa diintip, yakni Benteng Somba Opu, yang berada di perbatasan Makassar dengan Gowa. Benteng yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Fort Rotterdam ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa.

Setelah menelusuri sejarah, saatnya makan siang. Nah, ini saatnya menyeruput kuah gurih pallubasa— sejenis soto berkuah santan dengan isi daging sapi dan jeroan. Kita bisa memilih, modelnya seperti soto Betawi di Jakarta, kondimen bisa memilih.

Seperti cerita di atas, pallubasa bisa dicicipi di Pallubasa Serigala di Jalan Serigala Nomor 54, Makassar. Atau pallubasa Onta. Tentu saja nama warungnya bukan itu, tapi jika menyebut seperti itu, semua sopir taksi atau mobil persewaan sudah tahu maksudnya.

Pilihan lain untuk makan siang adalah sop konro atau konro bakar. Ini adalah makanan dari iga sapi. Pilihan saya biasanya adalah Konro Karebosi. Lokasinya dekat dengan lapangan olahraga dan mal Karebosi. Tak tepat di sisi lapangan, tapi di jalan sebelahnya, jalan Gunung Lompobatang..

Setelah perut kenyang, saatnya berburu oleh-oleh. Silakan singgah ke Somba Opu Shopping Center. Satu kawasan dengan beragam toko yang menjual barang-barang khas lokal. Semisal, songkok khas Bugis, sarung Makassar, ukiran Toraja, atau beragam camilan, juga obat gosok, seperti minyak akar lawang dan kayu putih.

Ketika sore hari, cobalah bersantai di Pantai Losari sembari menikmati keindahan mentari tenggelam. Ada deretan kafe tenda dengan jajanan khas. Salah satunya tentu pisang epe, pisang bakar yang dipenyet dan diguyur gula merah cair. Sajian ini kini tampil dengan berbagai variasi, seperti cokelat, keju, dan lain-lain. Minumannya bisa pilihan yang hangat, seperti saraba atau kopi Toraja.

Hmmm… semua ini bisa melengkapi satu hari Anda yang tak terlupakan, di Makassar. Jadwalkan kembali untuk datang ke Makassar dan melaju ke Tana Toraja, atau menyusuri Pantai Bira di Bulukumba, juga menyeberang ke pulau-pulau di sekitar dengan waktu lebih panjang. Untuk saat ini, acaranya cukup icip-icip, melihat obyek bersejarah dan pantai, tentunya juga berbelanja.

*****

3 Pantai Di Jember Dengan Aura Mistis

3 pantai di Jember dikenal memiliki aura mistis. Masyarakat setempat sering mengadakan ritual khusus di sana.

3 pantai di Jember, Jawa Timur, mungkin kalah terkenal dibandingkan pantai-pantai di Banyuwangi. Yang membedakan adalah, ketiga pantai di Jember ini lekat dengan kesan mistis. 3 pantai di Jember ini ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu.

3 Pantai di Jember

Siang itu terik mentari benar-benar memanggang kulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan pasir hitam. Gulungan ombak yang mencoba memberikan alunan alam dan hijaunya deretan pohon pandan seakan tak mampu mengusir hawa panas di Pantai Puger, Jember, Jawa Timur, yang kian terasa gersang pada tengah hari itu. Ini tujuan pertama dari 3 pantai di Jember kali ini.

3 pantai di Jember memberi kesan mistis karena masih adanya ritual-ritual dari masyarakat setempat.
Pantai Puger Jember yang menjadi bagian dari Cagar Alam Watangan Puger. Foto: Anditya H/Dok. TL

Dua pemancing di bibir pantai —hanya mereka manusia yang kami temui siang itu, juga tak kalah dirundung sunyi. Sedari pagi tak ada satu pun umpan mereka yang disambar ikan. Toh, keduanya masih menaruh harapan.

Mereka menunggu sembari membakar umpan mereka sendiri berupa ikan mungil yang seukuran dua jari dewasa untuk teman nasi. Lumayan untuk mengganjal perut yang sudah lapar.

Tak ada kata indah bagi sebuah wisata bernama pantai. Meski begitu, pantai yang terletak 40 kilometer di sebelah barat daya dari Kota Jember ini sangat terkenal. Ya, pantai di ujung selatan Jember itu dikenal sebagai salah satu tujuan wisata mistis.

“Biasanya pengunjung ramai pada Kamis atau malam Jumat untuk melakukan ritual. Apalagi saat malam 1 Suro,” kata Mahat, petugas loket pintu masuk pantai tersebut.

Lantas kami diajak menyusuri kawasan Cagar Alam Watangan yang letaknya tak jauh dari pantai. Menurut dia, di tempat itu terdapat Kolam Penampungan Mata Air Kucur, Mata Air Seribu, dan Petilasan Mbah Kucur.

Menurut Mahat, dinamai Kucur karena terdapat petilasan bekas pertapaan Mbah Kucur, seorang prajurit yang tugasnya mengawal Pangeran Puger dari Kerajaan Mataram. “Pangeran Puger mengakhiri tapanya dan kembali ke Mataram, tapi pengawalnya tidak ikut dan menetap di Puger Kucur,” ia memaparkan.

Untuk mencapai ke kawasan tersebut, pengunjung harus menyeberangi muara dengan menumpang perahu motor. Kolam Penampungan Mata Air Kucur langsung terlihat sesaat setelah perahu ditambatkan. Kolam buatan ini merupakan penampungan air yang keluar dari mata air. Beberapa remaja lokal terlihat asyik berenang di kolam yang berukuran tak terlalu besar itu.

Tak jauh dari kolam terdapat sebuah saung tertutup. Saung ini, kata Mahat, merupakan petilasan Mbah Kucur. Sedangkan lokasi Mata Air Seribu relatif jauh dari tempat itu. Pengunjung harus melalui jalan setapak dengan mendaki.

Setibanya di lokasi, terlihat beberapa mata air yang keluar dari dinding bukit. Sulit menghitung jumlah mata air, tapi memang banyak. Mungkin karena itu dinamakan Mata Air Seribu atau Mata Air Sewu.

Di sebelah mata air terdapat gua kecil. Tempat itu, ucap Mahat, dijadikan tempat bertapa. Memang terlihat bekas jejak manusia dengan alas tikar serta puntung rokok berserakan. Tak ingin berlama-lama di tempat itu, kami segera bergegas menuju Pantai Watu Ulo.

Untuk menuju pantai ini dibutuhkan waktu tempuh hanya sekitar 30 menit dari Pantai Puger. Tempat tersebut lebih layak disebut pantai karena tidak gersang dan terdapat banyak warung. Lebih ”hidup” ketimbang Pantai Puger. Meski lebih layak disebut wisata pantai, tohtetap saja pantai ini menyimpan kesan mistis. Betapa tidak, bekas sesaji berupa kembang tujuh rupa berserakan di susunan batu panjang.

Konon susunan batu panjang itu dianggap menyerupai tubuh ular. Menurut kisah yang beredar, pemuda desa bernama Raden Mursodo berhasil mengait ikan ajaib bernama Mina yang bisa berbicara.

Mina meminta agar dilepaskan dan tidak dibunuh untuk dijadikan makanan. Sebagai gantinya, ikan tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.

Namun sayang, tak berapa lama kemudian, seekor ular besar bernama Nogo Rojo langsung memakan Mina. Raden Mursodo yang geram segera melawan sang ular raksasa dan membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Legenda inilah yang menjadi salah satu versi mengenai asal-muasal terbentuknya Watu Ulo di pantai Jember.

Senja mulai jatuh. Pengunjung bergegas meninggalkan pantai mistis kedua itu dan kemudian menuju Pantai Papuma. Lokasinya tidak terlalu jauh. Tepatnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember. Kira-kira hanya sekitar 1 km dari Pantai Watu Ulo.

 Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Disebut Malikan karena ada batu-batu yang bisa berbunyi khas saat terkena ombak. Batu Malikan merupakan karang-karang pipih yang mirip seperti sebuah kerang besar yang menjadi dasar sebuah batu karang besar.

Pemandangan pantainya sangat eksotis. Pasir putihnya terhampar bak permadani. Sedangkan di area setelah parkir yang teduh, berderet warung-warung sederhana siap dengan ikan bakar dan es kelapa muda.

Pantai seluas sekitar 50 hektare dan dikelilingi hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani ini terlihat lebih menarik. Sayangnya, wisatawan dilarang keras berenang di pantai ini karena gelombangnya sangat kuat. Meski begitu, wisatawan tetap bisa menikmati keindahan pantai ini sembari berjalan atau duduk di tepi pantai.

Senja benar-benar telah jatuh. Semburat jingganya muncul dari balik bukit. Bias sinarnya menerpa pasir putih dan kapal-kapal yang tertambat di pinggir pantai. Semakin menambah semangat para pemancing cumi sore itu.

Sementara di ujung pantai, tak jauh dari tanjung, tampak dua orang sedang melakukan ritual. Mereka, hanya dengan menggunakan kemban, dimandikan oleh seseorang secara bergantian. Entah ritual untuk apa. Namun yang pasti, keindahan pantai selatan di Jawa Timur ini semakin lengkap karena ada pesona mistis di dalamnya.

Kunjungan ke 3 pantai di Jember ini: Pantai Puger, Pantai Watu Ulo, dan Pantai Papuma sebenarnya bisa dilakukan dalam satu hari. Namun harus memulai perjalanan pada pagi hari. Sebaiknya, setelah tiba di Bandara Notohadinegoro, Jember, hari pertama digunakan untuk berkeliling kota dan beristirahat. Baru esok paginya dapat melakukan penelusuran di tiga pantai tersebut.

agendaIndonesia/TL/Andry T./Anditya H

*****

Warkop Di New York, 1 Lokal Warna Global

Warkop di New York, milik orang Indonesia. Menjual kopi gula aren dan Indomie telur kornet rasa Amerika.

Warkop di New York, rasanya ini biasa saja. Banyak tempat ngopi di kota tersibuk di dunia itu. Coffe Shop bertebaran di hamper tiap sudut kota. Tapi, warung kopi Indonesia dengan segala menu lokal Indonesia di New York?

Warkop Di New York

Awal tahun 2022 ini, masyarakat di Indonesia karena pemberitaan di media konvensional juga pesan di media sosial, heboh dengan informasi pembukaan Warkop di New York atau Warkop NYC yang berada di jantung kota New York, Amerika Serikat. Tepatnya di Kawasan Hell’s Kitchen, Manhattan, New York.

Yang membuat ‘heboh’ karena mereka mengusung konsep warung kopi dan warmindo (warung Indomie) ala Indonesia. Jadi Warkop NYC ini menyajikan berbagai makanan dan minuman khas Indonesia. Kopi dari merek-merek di Indonesia, juga mie instan.

Segera saja Warkop ini berhasil mencuri perhatian warganet. Terlebih untuk Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di New York, mereka menyambut baik warkop di New York tersebut. Ada harapan rasa kangen tanah air yang terobati.

Warkop di New York menjadi semacam destinasi baru orang Indonesia yang mampir ke New York.
Omar Karim di depan Warkop NYC miliknya. Foto: Instagram Warkop NYC


“Kami merasa, warkop ini merupakan everyday place for everyone di Indonesia. Ini cocok dengan karakter kota New York yang punya fast pace dan juga melting point,” kata Omar Karim Prawiranegara, founder sekaligus owner dan pengelola Warkop New York ini.
Selain soal peluang usaha, Omar dan sejumlah temannya melihat ada hal lain: memperkenalkan kuliner dan budaya Indonesia. Dan ini bisa dilakukan di mana saja.

Mereka memilih dari sebuah tempat “kecil” di sebuah sudut kota besar di Amerika Serikat pada 3 Maret 2022 lalu. Tiga orang berkawan, Omar Karim Prawiranegara, Teguh Chandra, dan Cut Lakeisha, serta Ditto “Percussion” dan istrinya yang bergabung sebagai investor, menyuarakan tentang kopi Indonesia.

Warkop NYC sukses merepresentasikan warung kopi khas Indonesia yang sederhana, tapi kental dengan kearifan lokal. “Kami merasa, warkop itu everyone’s place,” kata Omar sambal berverita konsep yang mereka usung cocok dengan gaya hidup warga kota New York.

Awalnya, kata Omar, ketika berniat membuat Warkop NYC, ia mengaku tidak mengenal siapa-siapa dan benar-benar mulai dari nol. Dirinya lantas bercerita, mencari tempat dan mengurus proses izin adalah hal yang tersulit. Meski begitu, Omar berhasil menghadirkan Warkop NYC secara mandiri, berdiri sendiri, dan belum ada sentuhan bantuan dari lembaga Indonesia waktu itu.

“Kami sangat senang, karena respons yang kami dapatkan sangat baik. Bahkan, sebulan setelah pembukaan Warkop NYC, masih banyak orang yang mengantre. Semua orang penasaran dan mau mencoba menu yang kami sediakan,” ucap Omar.

Ketika Warkop NYC buka pertama kali, pengunjung yang datang hampir 80 persen adalah orang Indonesia. Kini, variasi pengunjung sudah berimbang 50:50, antara Diaspora dengan warga lokal.

Ini tentu tidak luput dari liputan media lokal New York, seperti eater dan NY Times. Hal tersebut membuat warga lokal datang dan mencoba. Rata-rata per hari warkop ini bida didatangi 8-100 pengunjung. Jumlahnya bisa naik dua kali lipat saat akhir pekan.

Lalu menu apa yang menarik warga lokal dari Warkop New York ini? Salah satu menu terlaris di Warkop NYC adalah internet. Orang Indonesia sudah tahu dong menu ini singkatan mi instan yang disajikan dengan telur dan kornet. Mereka biasanya makan sambal menyeruput es kopi susu aren.  Selain dua produk itu, Omar dan timnya juga menambah variasi menu baru seperti bubur kacang ijo.

Warkop di New York menyediakan minuman-minuman siap konsumsi yang disukai warga lokal.
Produk ready to drink dari Warkop NYC. Foto: instagram warkop NYC

Meski baru berdiri beberapa bulan, kehadiran Warkop NYC cukup menyita perhatian warga lokal dan menjadi viral di Indonesia. Salah satu keunikan dari Warkop NYC adalah dengan menghadirkan “kearifan lokal” Indonesia, seperti bungkus sachet bubuk minuman yang digantung dan ruangan dengan warna khas warkop pada umumnya.

Tidak ada kursi nyaman khas kafe-kafe modern, pelanggan duduk di kursi plastik yang sering disediakan di warkop-warkop di Indonesia. Praktis dan khas.

Mendapatkan begitu banyak perhatian, Omar ingin apa yang dia capai juga bisa menular kepada pelaku industri kuliner lainnya, khususnya yang ingin membuka restoran di luar negeri. Untuk itu, Omar juga berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan dukungan yang lebih baik lagi untuk pelaku bisnis kuliner Indonesia agar semakin berkembang.

Bagi beberapa orang indonesia yang berkunjung kebetulan berkunjung ke kota New York, Warkop NYC kini justru menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat destinasi wisata. Nongkrong di warkop di Big Apple.

agendaIndonesia

*****

Desa Lerep Ungaran, Buka 35 Hari Sekali

Pasar Lerep Ungaran menawarkan pariwisata tradisional alternatif. Foto: dok. Kemenparekraf

Desa Lerep Ungaran, Jawa Tengah, bisa menjadi contoh memberdayakan masyarakat sekaligus memberi alternatif wisata untuk publik. Berwisata di desa wisata memang menyenangkan. Tak sekadar berlibur, namun sekaligus mengenal budaya dan ciri khas setiap desa yang dikunjungi.

Desa Lerep Ungaran

Setelah pandemi, ada kemungkinan wisatawan memilih destinasi kunjungan yang mengedepankan rasa aman, nyaman, bersih, dan sehat seiring keberlanjutan lingkungan.

Oleh karena itu, tak heran jika saat ini desa wisata menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Selain sebagai alternatif tempat berwisata, ia juga sebagai penggerak dan kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ada banyak desa wisata yang bisa dikunjungi, salah satunya Desa Lerep di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Desa wisata ini telah mendapatkan sertifikasi sebagai desa wisata berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), tentu tidak heran jika Desa Lerep Ungaran menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan.

Desa Lerep Ungaran pasarnya hanya buka setiap 35 hari, yakni pada hari Minggu Pon.
Desa Wisata Lerep di Ungaran menawarrkan alternatif liburan. Foto: dok. Kemenparekraf

Salah satu keunikan yang ditawarkan Desa Lerep Ungaran adalah pasar kuliner jaman dulu, atau biasa dikenal sebagai Pasar Djadjanan Ndeso Tempo Doeloe Lerep yang telah ada sejak tiga tahun lalu.

Sesuai dengan namanya, “Pasar Jadul Lerep” menghadirkan makanan lokal tradisional, namun dengan konsep yang unik dan berbeda dengan pasar pada umumnya. Seperti apa itu?

Pasar yang berlokasi di Kompleks Embung Sebligo Desa Lerep ini seakan akan membawa pengunjung masuk ke zaman dahulu. Berbeda dengan pasar pada umumnya, penjual di Pasar Jadul Lerep Ungaran menggunakan kostum tradisional khas masyarakat Jawa

Seperti mengenakan atasan lurik berwarna cokelat atau hijau, dan dilengkapi dengan bawahan batik. Ada pula penjual yang menggunakan kebaya saat melayani pembeli.

Kuliner Tradisional Pasar Lerep Ungaran Dok. Kemenparekraf
Jajanan tradisional di Pasar Desa Lerep Ungaran. Foto; DOk. Kemenparekraf

Keunikan lain yang menambah kekhasan Pasar Lerep Ungaran adalah jadwal dibukanya pasar yang hanya pada Minggu Pon saja. Itu artinya, pasar ini hanya buka setiap 35 hari sekali, sesuai hari pasaran Jawa.

Dari sajian yang dijajakan di Pasar Lerep juga unik. Bahkan mungkin sulit kita temui di pasar biasa. Seperti pecel, bubur tumpang, krupuk gendar, nasi iriban, dawet nganten, bubur suwek, lodheh, serabi caonan, serta masih banyak makanan dan minuman yang memanjakan lidah sejak suapan pertama.

Menariknya, semua makan dan minuman yang dijual di Pasar Lerep menggunakan bahan-bahan organik. Selain itu, uang yang dipakai untuk bertransaksi menggunakan semacam koin dari kayu.

Untuk mendapatkannya, kita hanya perlu menukarkan uang kertas dengan koin yang disediakan di area pintu masuk Pasar Lerep. Setiap uang koin kayu yang disediakan nominalnya sama dengan nilai rupiah. Mulai dari pecahan Rp 1.000, Rp 5 ribu, hingga Rp 10 ribu.

Sama dengan transaksi bayar membayar pada umumnya, pengunjung juga akan mendapatkan uang kembalian dengan koin kayu. Jangan khawatir, jika uang koin kayu masih tersisa, kita bisa menukarkannya dengan uang Rupiah saat keluar dari pasar.

Desa Wisata Lerep mengembangkan konsep wisata berwawasan lingkungan. Salah satu keunggulan dari Pasar Lerep, yaitu meniadakan kemasan plastik.

Sebagai gantinya, warga Desa Lerep Ungaran menggunakan daun jati, daun pisang, daun aren, batok kelapa, anyaman bambu, atau mangkok dari tanah liat sebagai wadah makanan dan minuman. Bahkan, sendok yang digunakan pun menggunakan sendok kayu.

Untuk pelengkap, suasana kuliner dengan konsep zaman dulunya juga dilengkapi dengan iringan musik gamelan. Perpaduan iringan musik gamelan, makanan tradisional yang lezat, sekaligus pemandangan embung berlatar Gunung Ungaran pastinya memberikan pengalaman liburan yang berbeda dari biasanya.

Jajanan Pasar Lerep Ungaran Diskominfo Ungaran
Minuman yang dijajakan juga jenis tradisional. Foto: DOk. Diskominfo Kab. Semarang

Di pasar jajanan ndeso pengunjung betul-betul akan disuguhi gaya hidup yang go green. Berbagai makanan dan minuman tradisional berbahan serba alami, kemasan go green berupa pembungkus dari daun pisang serta daun jati dan anyaman daun kelapa hijau sebagai pengikat seperti tas. 

Makanan dan minuman yang dijual di pasar jajanan ndeso sangat bervariasi jenisnya seperti sego iriban, sego jagung goreng, lontong sayur, soto, dawet brokohan, dawet nganten, ndok gluduk, cetil, gatot, tiwul, dan lain sebagainya. Ada pula nasi gudangan dan nasi gudeg a la Desa Lerep

Kepala Desa Lerep Sumariyadi menjelaskan bahwa pasar jajanan tradisional digelar untuk mendukung pengembangan desa wisata. Selain itu juga untuk memberdayakan perekonomian warga. “Selain ada homestay, warga juga berperan mendukung pengembangan desa wisata itu dengan membuat aneka kuliner tradisional seperti ini,” katanya.


Pihak pengelola desa wisata, menurutnya, memfasilitasi usaha ekonomi produktif warga dengan menggelar pasar jajanan tradisional setiap Minggu Pon.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Gunung Rinjani, Keindahan Gunung Bintang 5

Gunung Rinjani jonas verstuyft unsplash 1

Gunung Rinjani, bagi pecinta dan anak gunung, dikenal sebagai gunung dengan keindahan alam bintang lima. Untuk Indonesia, konon, ia cuma kalah dengan Gunung Semeru di Jawa Timur. Meskipun punya potensi gempa dan erupsi, daya tarik Rinjani memang luar biasa. Gunung ini sejak 2018 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai geopark global, setelah sebelumnya pada 2013 diusulkan menjadi geopark oleh Ikatan ditetapkan sebagai geopark nasional.

Gunung Rinjani, Gunung Bintang Lima

Lima tahun terakhir ini Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pernah ditutup dua kali untuk pendakian. Pertama pada 2018 lalu, karena gempa besar yang menghantam Lombok. Sempat dibuka kembali menjelang akhir 2019, namun kemudian ditutup kembali karena adanya pandemi Covid-19.

Saat ini, pendakian ke gunung ini perlahan mulai dibuka kembali dengan mengedapankan protokol kesehatan. Jumlah pendaki pun masih dibatasi, itu pun tak sampai puncak atau turun ke danau Segara Anak. Namun, bagi para penggila gunung, pembukaan ini sudah membuat mereka menarik nafas lega. Umumnya, pendaki gunung memiliki kesan mendalam tentang pendakian Gunung Rinjani.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani Dedy Asriadi mengatakan, gunung Rinjani oleh pendaki gunung sering dijuluki sebagai gunung di atas gunung. Karena,“Gunung ini berdiri di atas Gunung Batu Raji,” katanya.

Di atas puncak Rinjani setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl), pendaki bahkan menyaksikan panorama alam yang komplet. Ada Danau Segara Anak alias danau maar yang tampak dari puncak. Dan, “Di tengah danau itu berdiam Gunung Batu Raji yang masih aktif,” katanya.

Suhu harian air permukaan danau Segara Anak, cerita Dedy, berkisar 20-22 derajat celcius. Menurutnya, inilah salah satu keajaiban Segara Anak yang merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di dunia.

Sementara itu, bagi mereka yang menggemari fotografi, memotret matahari terbit di puncak Gunung Rinjani merupakan momen yang sempurna. Ia bukan hanya memperoleh pemandangan cahaya muncul di antara gumpalan awan, tapi juga lanskap Nusa Tenggara Barat yang tampil jelas di depan mata. Kadang, jika cuaca terang, “Bahkan dari puncak Rinjani kita bisa menyaksikan Gunung Tambora,” kata seorang pendaki yang dtemui di Sembalun, salah satu desa rute menuju Rinjani.

Gunung Tambora sendiri berlokasi di Bima, Pulau Sumbawa, sebelah timur Lombok. Jaraknya dari Lombok berkisar 416 kilometer. Semu-semu kaldera Tambora membikin kemolekan pemandangan di puncak Rinjani tak tergantikan. 

Rinjani merupakan gunung dengan lanskap terkomplet dengan panorama tercantik. “Di sepanjang jalur pendakian, kita bisa menemui air terjun,” ujar sang pendaki lagi.

Pemandangan samping kanan dan kiri selama menempuh perjalanan ke puncak pun tak membuatnya bosan. Sebab, ia dapat menjumpai hamparan savana, hutan, dan danau di tengah jalur pendakian yang bakal menjadi obat letih. “Treknya pun lengkap, mulai yang landai sampai menyusuri tebing,” ujarnya.

Saat ini para pendaki hanya diperbolehkan naik ke Rinjani melalui empat pintu pendakian, yaitu desa Senaru di Kabupaten Lombok Utara, Sembalun dan Timbanuh di Kabupaten Lombok Timur, dan Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah. “Selain itu tidak diperkenankan,” kata Dedy.

Gunung Rinjani merupakan surga bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Menurut Dedy, dari jalur yang sering digunakan oleh pendaki, “Jalur Senaru merupakan jalur pendakian paling ramai,” ujarnya.

Ramainya jalur tersebut disebabkan selain sebagai jalur wisata trekking, juga kerap dipergunakan sebagai jalur pendakian masyarakat adat. Mereka mendaki Rinjani untuk ritual adat atau keagamaan di puncak Rinjani atau danau Segara Anak.

Ada beberapa tradisi yang masih kerap dilaksanakan masyarakat adat, yaitu upacara Roah Asuhan Gunung. Tradisi ini dilakukan Kampung Adat Senaru pada akhir musim kemarau sebagai permohonan agar gunung dan kehidupan di bawahnya kembali hidup. Ada pula di Kampung Adat Sembalun Bumbung, Lombok Timur, tiap tiga tahun sekali juga terdapat upacara Ngayu-ayu (rahayu, selamat), yang merupakan ajakan untuk melestarikan alam.

Di Desa Bayan, Lombok Utara, juga terdapat pesta Gawe Alip. Dulunya tradisi ini dilakukan setiap delapan tahun sekali bertepatan dengan tahun Alip. Namun, Pesta Gawe Alip kini dilakukan setiap ada musibah, seperti banjir bandang, tanah longsor, atau kebakaran hutan. Tujuannya, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dunia aman, damai, dan sejahtera.

Untuk pendaki, jalur Senaru rute pendakiannya adalah Senaru-Pelawangan Senaru-Danau Segara Anak dengan berjalan kaki. Bagi pendaki, untuk naik ke Rinjani, “Waktu tempuhnya sekitar 10 – 12 jam melalui jalur wisata di dalam hutan primer,” katanya. 

Sepanjang jalan trail telah disediakan sarana peristirahatan pada setiap pos. Dari pintu gerbang Senaru sampai Segara Anak terdapat tiga pos. Sejak dari Senaru jalur yang ditempuh langsung mendaki hingga dinding kaldera Rinjani. Setelah itu baru turun ke danau Segara Anak. Pendakian ke puncak Rinjani, umumnya dilakukan pada pukul 2 dini hari, agar dapat menikmati matahari terbit dari puncak gunung, sekaligus bila cuaca cerah bisa menikmati lanskap Pulau Lombok dan Bali. 

Sementara itu, Jalur Sembalun digemari wisatawan yang ingin trekking. Rute yang dilalui adalah gerbang Sembalun Lawang-Pelawangan- Sembalun-Puncak Rinjani. Jalur Sembalun merupakan rute panjang, yang membutuhkan waktu 9-10 jam. Jalur ini sangat dramatis karena melintasi padang savana dan punggung gunung yang berliku-liku dengan jurang di sebelah kiri dan kanan.

Tiba di Plawangan Sembalun, pendaki akan menghadapi dua pilihan, yaitu mendaki ke puncak Rinjani atau turun ke Segara Anak. Dari Plawangan ke puncak Rinjani dapat ditempuh sekitar 3 jam dengan kondisi jalan yang terus menanjak dan gersang. Apabila memilih ke Segara Anak dapat ditempuh selama 2,5 jam dengan menuruni tebing. Di tepi danau para pendaki dapat menyaksikan kerucut gunung Barujari dan Gunung Mas. Untuk mencapai Barujari dari tepi danau dapat di tempuh selama 1,5 jam.

Dibandingkan jalur Senaru, jalur Sembalun ini tidak terlalu curam. Pemandangan savananya yang membuat para pendaki menggemari jalur ini. Jalur ini memamerkan lembah yang menghijau di sebelah timur Rinjani, dan indahnya Selat Alas dan Pulau Sumbawa di kejauhan.

Pilihan lain, melalui jalur Torean. Desa Torean menawarkan pemandangan ladang, padang pengembalaan, perkebunan, dan merupakan kawasan hutan produksi. Sepanjang perjalanan, pendaki melintasi jalanan yang diapit dua gunung dan menemui aliran Sungai Kokok Putih.

F. Rosana

*****

3 Pantai di Karangasem Dengan Pasir Putihnya

3 pantai di Karangasem salah satunya Blue Lagoon

3 Pantai di Karangasem, Bali, ini seakan tersembunyi dari jangkauan orang. Tapi sesungguhnya, ia menjadi oase bagi banyak wisatawan pecinta pantai.

3 Pantai di Karangasem

Melancong tak selalu berharap bertemu dengan suasana yang ramai, bahkan saat memilih Bali sebagai destinasi wisata. Saya lebih dulu mencari lokasi yang terbilang tenang. Hasilnya, ditemukan tiga pantai yang dibilang nyempil. Petunjuk jalan menuju pantai pun jarang. Paling tidak, itulah yang dialami ketika saya menelusuri Karangasem untuk mencari Virgin Beach.

Pantai yang terletak di Desa Perasi, Karangasem, ini tak cukup terkenal, termasuk oleh sopir sekaligus pemandu yang menemani saya. Ketut, pria asal Sanur, mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Virgin Beach. Walhasil, setelah melewati Jalan Raya Candidasa menuju Jalan Raya Bugbug, yang kiri dan kanannya penuh pemandangan hijau, kendaraan dikendarai perlahan.

Papan nama cukup jelas bertuliskan Virgin Beach pun di depan mata. “Waktu saya lewat beberapa waktu lalu, rasanya tak ada plang pantai itu,” ucap Ketut. Saya tersenyum. Bisa jadi pantai ini memang tersembunyi. Dari jalan utama menuju Amlapura, kendaraan berbelok ke kanan, masuk ke Jalan Pantai Perasi, mengikuti anak panah. Pantai masih sekitar 2 kilometer.  Setelah melalui jalan kampung, tibalah saya di area parkir. Saat kendaraan berhenti, giliran kaki pengunjung yang harus melangkah. Jalan menurun dan berbatu sepanjang 500 meter pun saya tapaki.

3 pantai di karangasem, Bali, salah satunya Virgin Beach

Saya menemukan jalan berujung gang sempit di antara dua kios. Suara debur ombak kian kencang terdengar. Mulanya tidak berharap menemui keindahan. Namun, begitu  melayangkan pandangan ke pantai sepanjang 600 meter itu, senyum saya langsung melebar. Meski terbilang pendek, pantai itu benar-benar menggoda. Wow, pasirnya lembut dan putih. Gradasi warna airnya biru menantang tubuh menceburkan diri ke dalamnya. Warga setempat menyebutnya Pantai Pasir Putih. Karena berada di Desa Perasi, dikenal pula dengan Pantai Perasi.

Belasan kafe sederhana menjadi pilihan untuk melepas dahaga. Kursi-kursi menjadi tempat untuk berleha-leha. Saya berjalan menyusuri pantai. Ada deretan perahu nelayan di bagian ujung. Para nelayan pun menyediakan jasa untuk mengantar saya ke lokasi penyelaman atau snorkeling. Tak lama setelahnya, sebuah perahu dengan empat turis perempuan menepi. Puluhan turis asing, dibalut bikini dan busana santai, menerjang ombak. Seperti saya, mereka menelusuri pantai. Saat gelap, tak ada pilihan selain meninggalkan pantai. Tidak ada penerangan, terutama di jalan, karena kiri dan kanan tanah kosong. Hanya gerombolan sapi yang asik memamah biak.

Perjalanan pulang cukup menanjak, membuat saya terengah-engah. Tentu dua pantai lain tak saya kunjungi hari ini. Saya menuju ke Candidasa, menginap di sebuah hotel. Esok pagi giliran Blue Lagoon yang akan dicapai dengan perahu. Cuaca yang cerah di April membuat saya bisa langsung menatap langit biru dengan awan putih kala pagi. Blue Lagoon berada tak jauh dari Padang Bai. Bisa dicapai via darat, tapi bila menginap, ditempuh dengan perahu menjadi pilihan yang lebih tepat.

Saya tiba pukul 09.00 di teluk tersebut. Kapal hilir mudik di Padang Bai. Belum ada perahu datang membawa turis untuk snorkeling atau menyelam.  Di depan tampak sebuah pantai yang juga pendek dan terlihat sepi. Tak jauh dari jungkung yang mengantar saya, ada sebuah area mengapung, lengkap dengan sejumlah permainan, di antaranya seluncuran yang langsung ke laut.

Tak lama, jungkung atau perahu kayu lain berdatangan. Perahu cepat pun tampaknya membawa turis-turis dari Cina. Rombongan orang itu menaiki area terapung. Sebagian meluncur dan menikmati air laut, sebagian melaju kencang dibawa banana boat dan jenis permainan lain. Sebagian lagi tampak mencoba mencermati ikan dengan snorkeling. Ramai lah pagi itu.

Tak terasa terik sinar mentari mulai terasa di kulit. Saatnya melepas keindahan di bawah laut dengan rangkaian bukit di sekeliling teluk. Masih ada satu pantai lagi hari ini yang akan disinggahi. Namun, saya memilih melalui jalur darat. Letaknya tak jauh dari Pelabuhan Padang Bai. Dari arah Candidasa, Blue Lagoon berada sebelum Pelabuhan Padang Bai, sementara Pantai Bias Tugel, yang menjadi sasaran selanjutnya, berada setelah pelabuhan tersebut.

Siang hari, saya meninggalkan Candidasa. Entahlah, kali ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke pantai. Bagaimana pun, paling asik menikmati pesisir saat pagi atau sore. Namun tak ada pilihan. Sebab, hari ini saya harus meninggalkan Pulau Dewata. Dari Candidasa, saya ke Padang Bai sebelum pintu pelabuhan kendaraan berbelok ke kanan, sebuah jalan kecil dengan beberapa homestay. Namanya Gang Mumbul.

Sekitar 600 meter, jalan kecil itu berujung di jalan yang diapit dua tembok. Terlihat deretan mobil di sisi kanan. Ruang parkir yang sempit membuat kendaraan yang keluar harus mundur. Gerbang itu dijaga beberapa pemuda setempat. Mereka menariki uang retribusi. Saya menembus panas di antara dua dinding tembok, menuruni tangga, hingga bertemu dengan lubang di dinding kiri. Di sinilah saya harus berbelok karena di ujung jalan tebing langsung ke samudera.

Berikutnya, saya harus menyusuri jalan setapak di antara pepohonan. Hingga kembali, saya disuguhi pantai pendek yang menawan. Panjang pantainya hanya sekitar 400 meter. Di situ pun hanya ada beberapa warung. Namun justru jadi pilihan sejumlah turis asing. Payung warna-warni menjadi tempat berteduh kala sinar surya menyengat kuat. Saya memilih duduk manis, sebab teriknya terlalu menyakiti kulit. Lain halnya dengan para pemilik kulit pucat yang terlihat asik bergumul dengan ombak. Mungkin lain kali saya harus datang lebih sore agar butiran pasir yang lembut bisa lebih lama merendam kaki.

Tak lengkap melaut tanpa mencicipi hidangan khasnya. Selepas Padang Bai, Ketut membawa saya singgah ke Lesehan Sari Baruna, tak jauh dari Goa Lawah, Klungkung, sebelum mengantarkan saya ke bandara. Satu paket sate ikan, sop ikan,  dengan nasi seharga Rp 23 ribu pun melepas rasa lapar. Saya siap terbang ke Jakarta.

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilihan terbang ke Bali memang begitu banyak. Setiap maskapai nasional menawarkan beberapa kali penerbangan dalam sehari. Penerbangan dari negara tetangga pun langsung mencapai Bandara Ngurah Rai. Dari bandara, Anda bisa langsung mengarah ke Karangasem. Pilihannya bisa menginap di Padang Bai, Manggis, atau Candidasa.

Rita N./B. Rahmanita/Dok. TL