Dolan Ke Sumatera Barat, Ini 5 Sorganya

Dolan ke Sumatera Barat biasanya orang berkunjung ke rumah gadang. Foto: shutterstock

Dolan ke Sumatera Barat ada sejumlah spot atau destinasi wisata yang sudah dihapal para wisatawan. Jalan-jalan di seputar kota Padang, rumah gadang, atau jam gadang di Bukit Tinggi, Danau Singkarak, atau menyeberang ke Mentawai. Di luar itu sesungguhnya masih banyak pilihan destinasi ketika dolan ke Sumatera Barat.

Dolan ke Sumatera Barat

Memiliki banyak potensi wisata alam unggulan membuat Indonesia menjadi salah satu destinasi liburan bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki wisata alam yang indah dan layak dikunjungi tentu saja Sumatera Barat.

Dikelilingi gunung berapi dan danau, membuat Sumatera Barat menjadi salah satu provinsi yang kaya destinasi wisata alam. Menariknya, di balik wisata alam yang ditawarkan terselip budaya dan legenda yang berkembang secara luas.

Dolan ke Padang kita wajib mencicipi Sate Padang. Foto shutterstock
Sate Padang salah satu kuliner andalan Sumatera Barat, Foto: shutterstock

Jika wisatawan sempat dolan ke Sumatera Barat, mungkin sejumlah spot atau destinasi ini bisa menjadi alternatif.

Lubuak Rantiang

Lokasi obyek wisata yang terkenal dengan keindahannya ini berada di Sungai Angah, Bangek, Balai Gadang, Koto Tangan, Kota Padang. Jika dari kota Padang, air terjun ini berada sekitar 25 kilometer. 

Lubuak Rantiang merupakan wisata alam Sumatera Barat yang menjadi “harta karun” di dalam hutan. Uniknya, disebut lubuak karena air terjunnya memiliki kolam di aliran sungainya.

Meskipun hanya setinggi enam meter, namun air terjun yang dikenal dengan Lubuak Ngalauan, atau Sarasah Lubuak Rantiang ini menyuguhkan panorama indah. Belum lagi dilengkapi dengan air berwarna kehijauan bening yang sangat menyegarkan untuk berenang. Bisa menjadi pilihan ketika dolan ke Sumatera Barat.

Air Terjun Ngarai shutterstock
Air Terjun Nyarai di Sumatera Barat. Foto: shutterstock

Air Terjun Nyarai

Masih tentang air terjun, wisata alam tersembunyi di Sumatera Barat selanjutnya adalah Air Terjun Nyarai. Saking indahnya pemandangan yang ditawarkan, Air Terjun Nyarai disebut mirip dengan Grand Canyon di Amerika Serikat.

Berlokasi di Hutan Gamaran, Kecamatan lubuk Alung, Kabupaten Pariaman, Air Terjun Nyarai cukup sulit dijangkau. Karena kita harus menembus hutan terlebih dahulu. Berjarak sekitar 33 kilometer dari pusat Kabupaten Padang Pariaman dan membutuhkan waktu perjalanan sekitar satu jam. Namun, setelah itu keindahan air terjun setinggi 8 meter akan menghapus rasa lelah kita.

Air Terjun Nyarai “ditemukan” oleh Ritno Kurniawan yang hobi bertualang. Temuannya ini seakan mengubah pola pikir masyarakat setempat yang sebelumnya mendapat penghasilan dari menebang pohon di hutan, kini mengelola objek wisata Air Terjun Nyarai. Hingga akhirnya, pada April 2013 Air Terjun Nyarai mulai dikelola sebagai objek wisata andalan Kabupaten Padang.

Dolan ke SUmatera Barat Pulau Pasumpahan shutterstock
Main ke Pulau Pasumpahan adalah salah satu pilihan saat dolan ke SUmatera Barat. Foto; shutterstock

Pulau Pasumpahan

Berlibur ke Sumatera Barat jangan lupa mengunjungi pulau terindah di sana, yaitu Pulau Pasumpahan. Berada di perairan Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Pulau Pasumpahan memiliki keindahan laut yang sudah dikenal hingga wisatawan mancanegara.

Hamparan pasir putih yang bersih, terumbu karang cantik yang masih terjaga, hingga arus air yang tenang menjadi alasan Pulau Pasumpahan dijuluki Maldives-nya Sumatera Barat.

Uniknya, cerita Malin Kundang tidak hanya ditemukan di Pantai Air Manis, namun juga di Pulau Pasumpahan. Konon, Pulau Pasumpahan adalah tempat di mana ibu Malin Kundang mengutuk dan menyumpah anaknya.  Setelah dikutuk, tubuhnya berubah menjadi batu di Pulau Pisang, Pantai Air Manis. Sejak saat itu “pasumpahan” yang berarti disumpah, menjadi nama pulau ini.

Danau Kembar

Danau Kembar menjadi salah satu wisata alam di Sumatera Barat yang wajib dikunjungi. Berlokasi di dataran tinggi sebelah timur Padang, Danau Kembar memiliki pemandangan indah dan udara yang sejuk, hingga 14-16 derajat Celcius. Di sini kita bisa menyusuri keindahan danau yang terdiri dari Danau Atas dan Danau Bawah dengan menyewa perahu.

Namun di balik keindahan tersebut, ada legenda yang dipercaya masyarakat setempat. Konon, Danau Kembar didapat berkat kemenangan pertarungan Ninik (petinggi adat) dengan seekor naga besar yang jahat di kawasan tersebut.

Singkat cerita, naga kalah dan membentuk tubuhnya menyerupai angka delapan. Darahnya pun terus mengalir dan menggenang dari bagian ekor hingga kepala, yang kemudian berubah menjadi danau yang besar.

Dari pertarungan itu terbentuk dua nama daerah di sekitar Danau Kembar, yaitu Kecamatan Lembah Gumanti, yang berarti Lembah Naga Nan Mati. Kemudian, Aia Sirah (Air Merah) karena air di daerah ini berwarna merah yang dipercaya darah naga yang masih hidup terus mengalir.

Pemandian Alam Sako Tapan

Masih tentang air, surga tersembunyi di Sumatera Barat selanjutnya adalah Pemandian Alam Sako Tapan. Dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, bebatuan yang berjajar rapi di pinggir kolam dan udara yang sejuk memberikan pengalaman berwisata yang tak terlupakan.

Selain terdiri dari bebatuan dan pemandangan alam yang indah, kebersihan Pemandian Alam Sako Tapan masih sangat terjaga. Sehingga akan membuat wisatawan merasa sangat nyaman. Satu yang menarik, Pemandian Alam Sako Tapan masih menjunjung tinggi tradisi dan budaya turun-menurun. Sebab di sini kita masih bisa menikmati tradisi Balimau yang dilakukan setiap bulan Ramadan.

Upacara Balimau di Pemandian Alam Sako Tapan dilakukan dengan cara mandi menggunakan air jeruk nipis. Konon, kegiatan mandi dengan air jeruk nipis ini dapat melindungi badan dan hati menyambut bulan Ramadan.

agendaIndonesia

*****

Menyelam di 4 Pulau Di Derawan

Menyelam di 4 pulau di Derawan, salah satunya di Pulau Maratua

Menyelam di 4 pulau di Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kini menjadi alternatif para pecinta aktifitas bawah laut. Keindahan taman lautnya dianggap setara dengan Wakatobi atau Bunaken.

Menyelam di 4 Pulau di Derawan

Kapal cepat yang saya tumpangi merapat di dermaga Kampung Payung-Payung di Maratua, Derawan, ketika matahari mulai turun ke bumi. Begitupun hawa teriknya masih terasa menyengat kulit. Kalimantan di tengah tahun memang sedang terik-teriknya. Ini tentu waktu yang bagus untuk perjalanan menikmati pantai dan aktifitas air lainnya.

Menuju Maratua bukanlah perjalanan yang pendek. Dimulai sejak terbang dari Bandara Sukarno Hatta di Tangerang menuju Bandara Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, di Balikpapan, selama sekitar 2 jaman. Ini lalu ditambah terbang dari kota minyak di Kalimantan Timur itu ke Bandara Kalimarau di Berau sekitar hampir satu jam. Berakhir? Belum. Perjalanan dari ibu kota Kabupaten Berau itu masih masih berlanjut. Kali ini harus melaju dengan kapal laut selama kurang lebih 3 jam.

Bisa juga menuju Derawan melalui Tarakan. Jadi dari Balikpapan terbang ke Bandara Juwata di Tarakan. Da.ri sini tetap dilanjutkan dengan kapal laut selama kurang lebih 3,5 jam

Buat yang tak biasa, mungkin perjalanan estafet nonstop seperti itu membosankan. Tak sedikit teman yang memilih berhenti di Balikpapan dulu satu malam. Atau bermalam di Berau. Tapi jika waktu libur tidak cukup panjang, pilihannya perjalanan terusan tadi.

Percayalah, rasa lelah naik-turun aneka moda transportasi tadi akan terbayarkan begitu kapal yang kita tumpangi mendekati pulau. Sejak dasar laut mulai mengintip dari balik birunya air, sejumlah atraksi sudah mulai bermunculan: ikan-ikan laut beraneka jenis dan ukuran. Bahkan, jika beruntung, sejak masih agak ke tengah laut, menurut cerita awak speedboad yang saya tumpangi, kita bisa bertemu kawanan lumba-lumba. Atraksi yang tiap hari bisa kita temui.

Kepulauan Derawan kini semakin sering menjadi pilihan para pecinta aktifitas bawah laut. Setelah Bunaken di Sulawesi Utara, lalu Raja Ampat di Papua Barat, serta Wakatobi di Sulawesi Tenggara, orang juga milirik kawasan ini untuk menyelam. Setidaknya ada lima pulau yang bisa dipilih jika ingin mengunjungi Derawan: Pulau Derawan; pulau Sangalaki; Maratua, Manimbora, atau Kakaban.

Saya dan beberapa teman tiba di Kampung Payung-payung dan memutuskan menginap di pulau Maratua. Pulau ini adalah yang terbesar di antara pulau yang ada di Derawan.

Pulau Maratua berada di selatan pulau Tarakan dan berada di kawasan laut Sulawesi. Pulau yang berbentuk mirip huruf U ini mempunyai luas sekitar 2.375,7 hektare dengan sekitar 3 ribu orang penduduk. Pulau ini merupakan pulau terbesar di Derawan. Terdapat empat kampung di sini, yaitu Kampung Payung-Payung, Bohe Bukut, Bohe Silian, dan Teluk Alulu. Penginapan dan resor mulai marak, baik yang dikelola penguasaha swasta maupun penduduk setempat. Sejak pulau ini naik daun, wisatawan asing lebih banyak yang berkunjung dibanding wistawan domestik.

Pulaunya memang memiliki eksotisme dan keindahan yang membuat jatuh hati. Karakteristik dari Maratua hampir mirip dengan pulau Derawan. Meski sudah mulai dikunjungi wisatawan, Maratua sesungguhnya masih seperti wilayah pesisir yang baru berkembang. Masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan mempunyai kapal. Kapal-kapal tersebut, di samping untuk mencari ikan, juga untuk mengangkut penumpang, baik penduduk Maratua maupun wisatawan yang akan menyeberang ke Berau atau Tanjung Redep.

Pagi-pagi, setelah sarapan, semua sudah tak sabar terjun ke air. Pasir pantai yang putih dan air yang biru betul-betul memanggil untuk menjeburkan diri. Entah sekadar berenang atau menyelam dan melihat berbagai jenis ikan. Dari lion fish sampai pari putih. Saat permukaan air dangkal, penyu pun sering menampakkan diri.

Pulau ini menawarkan keindahan pantai yang masih alami, belum banyak dijelajahi wisatawan. Panorama bawah lautnya juga mempesona. Tak hanya batu karang yang masih alami, biota laut pun turut menjadi daya tarik wisata pulau ini.

Capai di Maratua? Kami bergeser memilih menyelam atau snorkeling di Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Kami memilih Kakaban dulu, sebab ada yang unik di pulau ini: di tengah pulau terdapat Danau Kakaban dengan bermacam biota laut, termasuk ubur-ubur. Ini jenis ubur-ubur yang istimewa karena tidak menyengat. Ada beberapa jenis ubur-ubur di sini. Namun yang terbanyak adalah golden jellyfish dan moon jellyfish.

Awalnya, tentu saja, ada kekhawatiran untuk terjun di perairan dengan ubur-ubur di sekitar kita. Bagaimana kalau menyengat? Atau skadar menempel di kulit? Tapi lupakan kekhawatian itu, berenang dan snorkeling dengan dikelilingi ubur-ubur ternyata aman-aman saja. Kadang ada senssasi tersendiri jika tersentuh mereka.

Lelah di tengah Kakaban, kita bisa pindah ke area pantainya. Berenang dan snorkeling di laut lepas. Tapi, jika ingin menyelam di perairan laut lepas, pulau Sangalaki bisa menjadi pilihan.

menyelam dengan Penyu shutterstock

Pulau ini boleh dikata merupakan pulau yang terindah di Derawan. Pasir putihnya terasa lembut di kaki. Di sekitarnya terdapat taman laut dan terkenal dengan wisata selam. Pesona bawah laut Sangalaki dihiasi biota laut yang indah meski tetap harus hati-hati jika berada di depat mereka, di antaranya ikan pari manta. Hewan laut yang bentang tubuhnya bisa mencapai 7 meter.

Di perairan Sangalaki, yang banyak ditemui adala ikan Pari Mantai Karang. Ini lebih kecil sedikit dari Manta di laut lepas. Begitupun, ia tetap menakjubkan.

Bosen dengan air laut, di Sangalaki ada konservasi penyu. Pengunjung bisa menikmati proses dari penyu bertelur sampai menetasnya tukik (anak penyu), kemudian dilepas di laut. Sangalaki memang merupakan Taman Wisata Alam, yang menjadi tempat wisata sekaligus tempat para penyu kembali ke darat untuk bertelur dan menghasilkan tukik-tukik. Suatu kesempatan yang langka bila wisatawan dapat melihat langsung penyu sedang bertelur pada malam hari.

Berbeda dengan Maratua, pulau Sangalaki tidak berpenduduk. Sebab, seperti disebut tadi, pulau ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Hanya terdapat sebuah resor yang dikelola swasta. Selebihnya, pulau tersebut dihuni dan dijaga petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Tugas para penjaga tersebut adalah mengawasi dan membantu melestarikan proses penangkaran penyu. Setiap malam, mereka secara bergantian mengelilingi pulau untuk menemukan penyu yang sedang naik ke darat dan mencari lokasi untuk bertelur. Mereka harus mencatat waktu dan posisi penyu bertelur. Karenanya, setelah dua pekan, para petugas dengan mudah mendapatkan lokasi keluarnya tukik-tukik dari dalam pasir.

F. Rosana

Pasir Pantai Ngurbloat Kei Nomor 1 Lembutnya

Pasir Pantai Ngurbloat, untuk menujunya mendarat dulu di Airport Sadsuitubun di Langgur

Pasir Pantai Ngurbloat di Pulau Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, disebut-sebut sebagai nomor 1 di dunia lembutnya. Pantai Ngurbloat atau sering pula disebut sebagai Pantai Pasir Panjang yang lokasinya berada di pesisir Desa Ngilngof ini memang memiliki pasir sehalus bedak bayi. Jika itu dianggap hiperbola, warga setempat suka menyebut, “Sering dijuluki pasir selembut tepung,” kata Budhi Toffi, dari Dinas Pariwisata Maluku Tenggara.

Pasir Pantai Ngurbloat

Julukan tersebut benar-benar bukan alias yang hiperbola. Saat mengunjunginya Kepulauan Kei, dan merasakan langsung halusnya tekstur pasir di sana. Menginjakkan kaki di Pantai Ngurbloat, telapak serasa bersentuhan dengan tumpukan tepung. Tak terasa sedikit pun kepingan pecahan karang atau tekstur kasar seperti saat sedang menginjak kaki di pasir pantai-pantai lain.

Butiran-butirannya pun sangat kecil, bak bedak bayi. Lembutnya tekstur pasir Pantai Ngilngof membuat takjub wisatawan. “Kalau jalan di pantai kakinya enggak sakit,” tutur Paul, pelancong asal Jakarta.

Gaung pantai yang berjarak 12 kilometer dari Bandar Udara Karel Sadsuitubun di kota Langgur, ibukota Maluku Tenggara ini, tak cuma kesohor sebagai pantai dengan pasir yang lembut. Panjang bibir pantainya, yang membentang sejauh 3 kilometer, juga menyita perhatian. “Maka itu dinamakan Pantai Pasir Panjang, yang dalam bahasa lokal disebut Ngurbloat,” ucap Budhi.

Pantai Ngurbloat Kei Kecil
Pasir Pantai Ngurbloat yang terkenal lembut.

Pantai Ngurbloat menghadap langsung ke pulau-pulau kecil. Pulau-pulau itu tercatat dalam area Kawasan Sepuluh Pulau. Tak jauh dari kawasan, terdapat sejumlah spot menyelam atau diving. Salah satu spotnya hanya berjarak 600 meter dari bibir Pantai Ngurbloat. Spot tersebut memiliki tekstur dasar laut yang curam atau membentuk cliff .

Pantai Ngurbkoat kesohor setelah agenda wisata nasional, Festival Meti Kei, digelar di sini pada 2017. Untuk menuju Pantai Ngurbloat, wisatawan bisa menumpang angkutan umum dari Pasar Langgur. Tarifnya Rp 5.000 sekali jalan. Angkutan lokal itu berhenti tepat di jalan raya depan pantai.

Bisa juga menunggang travel dari Bandara Karel Sadsuitubun dengan tarif Rp 150 ribu. Bila wisatawan datang bergerombol ke Pantai Ngurbloat, Budhi menyarankan mereka menyewa mobil dengan harga berkisar Rp 600 ribu, sudah termasuk sopir dan bahan bakar minyak. Adapun tarif retribusi per mobil Rp 20 ribu, sedangkan motor Rp 5 ribu.

Namun berkunjung ke Pulau kei Kecil tak cuma pantai Ngurbloat. Ada atraksi lain, berenang di dalam gua. Ini yang terus ditawarkan pemerintah setempat sebagai salah satu atraksi untuk wisatawan. Adalah Gua Hawang atau Hawang Cave di Pulau Kei Kecil sebagai tempat untuk berenang di dalamnya. Gua yang berjarak 24 kilometer dari Bandar Udara (Bandara) Karel Sadsuitubun Langgur ini memiliki kolam air payau di dalamnya.

Kolam Gua Hawang berasal dari aliran mata air Evu yang arus airnya lantas bermuara di laut. Di gua ini, wisatawan bisa berenang bebas di antara stalaktit dan stalagmit. Konon, berenang di sini bisa awet muda. Airnya berkhasiat mengencangkan sel-sel wajah yang mengendur.

Dari jalan masuk menuju gua, kolam air payau itu tampak jelas. Airnya kebiruan seperti air laut. Juga bergradasi antara tosca, biru muda, dan biru tua. Saking jernihnya, dasar goa di beberapa sisi tampak jelas dari tepi kolam.

Di tengah gua, terdapat sebuah stalagmit yang menjulang tinggi bak tongkat bumi muncul dari permukaan. Stalagmit ini menjadi titik pemisah antara air dalam dan air dangkal. Air dalam berkedalaman sampai 3,5 meter. Sedangkan sisi dangkal hanya memiliki kedalaman 1,5 meter.

Kala masuk ke air, suhu kolam itu terasa sangat dingin. Namun segar. Bak berenang di laut yang jernih, tapi airnya tak asin. Di dinding-dinding gua, muncul tetesan air murni langsung dari stalaktit. Tetesan itu menimbulkan bunyi pung pung dan akan membuat sensasi berenang di alam liar makin seru.

Wisatawan yang berenang di Gua Hawang akan ditemani oleh anak-anak lokal. Mereka tak sungkan memandu turis untuk menyelam menyusuri dinding-dinding relief di gua tersebut.

Untuk menuju lokasi, perjalanan menuju Gua Hawang bisa ditempuh dengan menumpang angkutan umum dari Pasar Langgur dengan tujuan Desa Leguan. Angkutan tersebut akan melewati kawasan wisata Gua Hawang. Tarifnya Rp 7 ribu sekali jalan.

Selain wisata alamnya, saat melancong ke Pulau Kei jangan lupa berburu kuliner malam hari. Cobalah mencicipi olahan rica-rica ikan baronang dan sakuda. Dua ikan ini menjadi menu wajib yang pasti direkomendasikan warga lokal kepada para pelancong. Baronang dan sakuda ialah jenis ikan yang paling banyak dijumpai di perairan Kei. Kedua ikan ini memiliki daging yang tebal dengan rasa bawaan yang memang sudah gurih.

Baronang dan sakuda umumnya dimasak dengan campuran cabai keriting, bawang putih, bawang merah, dan kemiri, lantas dibakar. Bumbu rica-rica yang kuat, dipadu aroma bebakaran ikan yang wangi, berhasil membangkitkan selera makan. Apalagi ikan-ikan tersebut langsung dipasok dari nelayan setempat, yang sudah pasti segar.

Lezatnya ikan baronang dan sakuda rica-rica sukses membikin turis jatuh hati. Salah satunya Anggi, wisatawan asal Jakarta, yang ditemui di warung Forganza. “Enak banget. Juara. Ada sensasi manisnya. Mungkin karena ikannya adalah ikan segar,” tuturnya. Rasa rica-rica ikan baronang dan sakuda makin sedap terasa saat dikudap bersama sambal terasi. Terasinya pun didatangkan langsung dari Kepulauan Aru.

Untuk melengkapi santap malam, warga lokal biasanya menambahkan sayur bunga pepaya pada menu utamanya. Sayur ini menjadi pelengkap yang wajib ada, selain sambal terasi. “Makan ikan tanpa sayur bunga pepaya itu rasanya aneh,” kata seorang teman yang menemani jalan kali ini.

F. ROSANA

11 Spot Wisata Keren di Sulawesi Utara

Liburan di Likupang dengan pilihan pantai dan bukit

11 spot wisata keren di Sulawesi Utara mesti menjadi agenda liburan yang akan datang Anda. Sudah sejak lama provinsi ini menjadi salah satu destinasi tujuan para wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam yang tiada duanya. Baik itu menyelam, snorkeling, menikmati pantai hingga wisata rohani.

11 Spot Wisata Keren

Terlebih kini muncul nama baru yang digadang-gadang menarik perhatian wisatawan nusantara dan mancanegara, yakni Likupang. Promosi besar-besaran tentang Likupang mendorong sejumlah spot lain di Sulawesi Utara ikut naik daun. Jadi jika mengagendakan mampir ke provinsi ini, jelajahi 11 spot wisata keren berikut.

Likupang

Pilihan pertama saat ini sebagai salah satu dari 11 spot wisata keren di Sulawesi Utara tentu saja adalah Likupang. Di sini banyak pilihan menikamti alam, mulai dari snorkeling, diving, atau trekking ke sejumlah bukit seperti Bukit Pulisan dan Larata.

11 spot wisata keren di Sulawesi Utara, salah satunya Likupang sebagai destinasi wisata prioritas
Pantai di Likupang.

Likupang merupakan satu dari lima destinasi super prioritas pemerintah. Posisinya ada di Kabupaten Minahasa Utara. Selain digadang-gadang menjadi salah satu nirwana Indonesia setelah Bali, Likupang memang mempunyai banyak keindahan alam dan budaya yang menarik untuk dijelajahi.

Taman Laut Bunaken

Ini merupakan destinasi wisata unggulan di Sulawesi Utara yang menjadi Segitiga Terumbu Karang Dunia. Pada 2005, Taman Laut Bunaken telah dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi lokasi incaran penyelam dari seluruh dunia. Hingga saat ini Taman Laut Bunaken menjadi rumah lebih dari 3.000 jenis ikan, reptil, moluska, dan mamalia laut.

Pulau Manado Tua

Yang satu ini sama dengan Bunaken, termasuk spot wisata lama Sulawesi Utara. Sebagai destinasi wisata, Manado Tua memiliki beragam pantai yang menarik. Pantai-pantai itu misalnya Apang Datu, Apeng Gugu, Apeng Salah, dan Batu Layar.

Waktu terbaik mengunjungi pulau ini adalah saat nyare atau ketika air laut dalam kondisi surut. Pada saat itu pengunjung bisa menikmati gugusan terumbu karang di permukaan karang tanpa harus menyelam atau snorkeling.

Pulau Siladen

Pulau Siladen disebut-sebut sebagai surga para perenang, karena punya air laut yang tenang dan jernih. Destinasi wisata di Sulawesi Utara ini berlokasi di sebelah timur wisata Bunaken dan punya pemandangan bawah laut yang menakjubkan. Pengunjung dapat melihat biota laut dan terumbu karang di sini, bahkan tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Pulau Mahoro

Pulau ini memeiliki pasir putih yang begitu bersih dengan air laut yang bening. Pemandangan ini semakin cantic karena dipadukan dengan jajaran bukit hijau yang membentang sepanjang pulau. Pulau Mahoro pernah menjadi lokasi pengambilan gambar reality show Korea Selatan: Law of The Jungle.

Pantai Malalayang

Lokasi pantai ini tak jauh dari pusat kota Manado sehingga sangat mudah untuk dijangkau. Salah satu daya tarik Pantai Malalayang adalah panorama matahari terbenamnya yang cantik. Dari pantai ini, wisatawan juga dapat melihat Bunaken dan Manado Tua di kejauhan.

Tak hanya pulau-pulau cantik, Sulawesi Utara juga memiliki spot-spot nonpantai sebagai bagian dari 11 spot wisata keren di provinsi ini.

Danau Linow

11 spot wisata keren di Sulawesi Utara dari pantai, pulau, danau hingga air terjun.
Danau Linow di Sulawesi Utara. Foto: Dok. shutterstock

Danau Linow memiliki keunikan berupa warna air danau yang bisa berubah-ubah. Biasanya ada 3 warna air danau yang muncul, yakni hijau, biru, dan kuning kecokelatan. Ketika pertama kali datang ke Danau Linow, bau belerang yang pekat akan langsung tercium. Konon bau ini muncul karena sisa letusan Gunung Mahawu ratusan tahun silam.

Air Terjun Kima Atas

Destinasi wisata di Sulawesi Utara satu ini bisa dibilang masih tersembunyi, karena terletak di antara hutan yang hijau nan asri sehingga masih sangat sepi pengunjung. Meski begitu, panorama air terjun setinggi 8 meter dari Air Terjun Kima Atas tetap menawan. Di lokasi ini, Pengunjung dapat berenang di kolam kecil yang terbentuk dari jatuhan Air Terjun Kima Atas.

Air Terjun Tinoor

Destinasi wisata di Sulawesi Utara berikut ini sering dijuluki sebagai surga tersembunyi di Minahasa. Pasalnya, di sini ada beberapa air terjun yang saling bertemu satu sama lain, sehingga tampak membentuk untaian benang putih nan halus. Ditambah lagi, lokasi Air Terjun Tinoor berada di kaki gunung sehingga membuat suasana di sekitar makin sejuk dan asri.

Air Terjun Tumimperas

Suara gemercik air yang merdu menjadi salah satu daya tarik Air Terjun Tumimperas. Sementara pesona utama dari destinasi wisata di Sulawesi Utara ini terletak pada airnya yang berwarna biru jernih. Air Terjun Tumimperas memiliki tinggi sekitar 52 meter dan dikelilingi oleh pepohonan hijau sehingga menambah kesejukannya.

Taman Hutan Raya Gunung Tumpa

Selain laut dan pantai, wistawan juga bisa melihat seluruh kota di Sulawesi Utara dari ketinggian. Ini bisa dilakukan jika berkunjung ke Taman Hutan Raya Gunung Tumpa. Berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, wisatawan dapat menikmati pemandangan Gunung Lokon, Gunung Klabat, dan Pulau Manado Tua dari lokasi tempat satu ini.

Itu 11 spot wisata keren di Sulawesi Utara. Masukkan dalam agendamu megunjungi tempat-tempat tersebut.

agendaIndonesia

*****

Kipo, Penganan Kotagede Dari Abad 16

Kipo merupakan warisan kuliner Mataram Islam sejak abad 16.

Kipo rasanya banyak yang belum pernah mendengar nama ini, bahkan sebagian masyarakat Yogyakarta. Padahal ini adalah salah satu kuliner khas Yogyakarta. Makanan ini berukuran tak lebih besar dari ukuran ibu jari orang dewasa.

Kipo

Ya, makanan ini saat ini mungkin hanya dapat ditemui di Kotagede, kawasan yang berada di bagian tenggara wilayah Kota Yogyakarta. Produk ini dibuat dengan bahan lokal seperti tepung ketan, gula kelapa, daging kelapa, dan daun suji. Bahan-bahan baku itu sesungguhnya tak sulit ditemui di pasar-pasar tradisional yang ada di manapun.

Makanan yang memiliki rasa manis dan legit ini cukup banyak digemari tidak saja masyarakat lokal Yogyakarta, Kipo juga disukai oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke kota Pelajar ini. Namun entah kenapa, makanan ini semakin langka.

Kipo merupakan penganan manis yang disukai oleh Sultan Agung.
Kipo di antara pengananan jajan pasar lainnya. Foto: dok. shutterstock

Kalau merunut sejarahnya, makanan ini sudah ada pada abad ke-16. Pada waktu itu, konon kipo menjadi makanan favorit Sultan Agung.

Selain itu, makanan ini memiliki sejarah yang panjang. Makanan ini disebutkan dengan nama “Kupo” dalam Serat Centhini. Dan dipercaya menjadi kudapan favorit raja-raja Mataram Islam. Namun, seiring perjalanan waktu, makanan ini sempat hilang peredarannya sehingga keberadannya sempat dilupakan.

Ya, bahkan kini, meski ada upaya untuk mengangkatnya kembali, ia telah menjadi satu dari banyaknya makanan khas Jogja yang sudah mulai langka. Banyak orang pasti akan sulit menemukan makanan khas satu ini.

Sekarang ini, salah satu yang masih bertahan menjajakan Kipo ini adalah Bu Djito. Ia memang sejak puluhan tahun lamanya menjajakan penganan ini. Lokasinya berada di Jalan Mondorakan Nomor 27, Kotagede. Selain Kipo sebagai menu andalannya, di kios ini juga terdapat aneka camilan yang disajikan dalam etalase.

Kue tradisional ini yang telah ada dari masa kerajaan Mataram Islam ini pernah mengalami masa punah. Bahkan hingga tahun 1940-an orang sudah tidak membuatnya lagi seiiring dengan kebudayaan kerajaan Mataram yang runtuh.

Setelah bertahun-tahun hilang, makanan ini kembali dipopulerkan oleh Mbah Mangun Irono pada tahun 1946 bersama teman-temannya. Namun karena hanya dia yang telaten membuat Kipo, Mbah Mangunlah yang terus berjualan kue tersebut di Jalan Mondokaran yang dulunya menjadi pasar tiban -pasar kaget kalau di Jakarta, saat pagi hari.

Saat Mbah Mangun sudah lanjut usia, usaha kipo-nya kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Paijem Djito Suhardjono. Ia berjualan di depan rumahnya. Sebab jika menunggu hari pasaran, waktu berjualannya hanya lima hari sekali. 

Namun, jika hari pasaran, Paijem membawa kipio ke Pasar Legi di Kotagede. Mungkin karena terbatasnya tempat berjualan ini, pada waktu itu kipo hanya dikenal di kalangan masyarakat kelas bawah saja.

Pasar Legi yang merupakan pasar awal mula penjualan Kipo kini telah berubah wajah menjadi pasar Kotagede. Pasar yang masih menjalanan aktivitas jual beli hingga saat ini. Di pasar ini, kadang ada warga yang ikut berjualan kipo.

Toko dan pasar ini lah yang akhirnya mengenalkan kembali kipo kepada masyarakat Yogyakarta. Paijem dan keluarganya terus mempertahankan usaha kue tradisonal satu ini.

Selain nama kupo dari sejarahnya, ketika dikenalkan kembali ke masyarakat oleh mbah Mangun, banyak pembeli kue yang bertanya seraya menunjuk kue ini, “Iki opo”. Pertanyaan itu dalam Bahasa Indonesia artinya, “ini apa?”

Pertanyaan yang kerap muncul tersebut akhirnya menjadikan lebel kue unik ini dan bisa diterima oleh masyarakat Jogja. “Nah dari awal itulah mungkin mereka yang belum pernah melihat baru itu, oh makanan tradisional yang notabene lucu karena bentuknya yang kecil, orang juga belum pernah merasakan. Mereka kan terus bertanya ‘iki opo’, kemudian tercetus nama kipo,” terang Paijem. 
Kipo memiliki bentuk lonjong, dengan tekstur kenyal, dan juga warnanya yang kehijauan serta isiannya yang terdiri dari parutan kepada dan gula jawa cair. Bahan utama dari kue ini adalah tepung beras yang dicampur tepung ketan. Adonannya kemudian dicampur dengan parutan kelapa, daun suji, dan pewarna hijau alami serta daun pandan. Tujuannya untuk menimbulkan aroma harum khas makanan unik ini.

Adonannya kemudian dicetak pada piring tanah liat lalu dipanggang dengan alas daun pisang. Setelah hampir masak, adonan parutan kelapa dimasukan bersama dengan gula jawa dan dilipat menjadi dua lalu dipanggang lagi hingga matang. Jika diingat lagi mungkin mirip dengan penganan klepon.

Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, menyebut bahwa kipo adalah jajanan asli Yogyakarta yang tidak terkontaminasi kudapan asing. Kesederhanaan cara pembuatannya juga teknik memasaknya, membuat makanan ini cukup berat harus bersaing melawan kue-kue yang dioleh dengan teknik yang canggih.

Tapi kipo pernah rebound dan menarik perhatian masyarakat. Rasanya kita harus mengagendakan mencicipi kipo jika berkunjung ke Kotagede.

agendaIndonesia

*****

Nepal Van Java, Kaliangrik Di 1600 Mdpl

Nepal van Java di Dusun Butuh, Kaliangkrik Magelang menjadi salah satu pilihan wisata. Foto: shutterstock

Nepal van Java setahun belakangan ini sedang ramai dibicarakan di ranah industri pariwisata Indonesia. Ini karena keindahannya yang identik dengan pedesaan di Nepal, sehingga Dusun Butuh yang terletak di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Magelang, menjadi omongan wisatawan domestik dan mancanegara.

Nepal Van Java

Dsun Butuh di Kaliangrik ini dikembangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menjadi desa wisata. Pertimbangannya ada ribuan desa yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagian besar memiliki potensi wisata dan ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan.

Nepal van Java berlokasi di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dusun Butuh merupakan dusun tertinggi di Kabupaten Magelang, yaitu dengan ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Oleh karena itu, saat wisatawa berkunjung akan merasakan udara yang bersih, asri, dan sejuk.

Pertanyaannya kemudian, mengapa dikenal dengan sebutan Nepal van Java? Julukan tersebut diberikan karena letak desa wisata ini yang berada di lereng Gunung Sumbing, dan rumah-rumah penduduknya terlihat bertumpuk khas perumahan di Nepal. Bahkan, saat cuaca sedang cerah kita bisa melihat langsung keindahan Gunung Sumbing yang menjadi latar belakang Dusun Butuh. Karena itu ia disebut Nepal van Java.

Nepal van Java disebut demikian karena suasananya layaknya pedesaan di Nepal.
DUsun Butuh di Kaliangkrik, Magelang, mendapat julukan Nepal van Java. Foto: shutterstock

Ada yang berpendapat, Dusun Butuh mengandalkan pemandangan yang instagramable saja. Betulkah demikian? Tunggu dulu, banyak hal bisa dilakukan saat berkunjung ke Dusun Butuh, atau ke Kaliangkrik dan sekitarnya.

Yang paling utama adalah jelajah kampung. Kita dapat berkeliling desa dan merasakan suasana Dusun Butuh yang asri dan ramah. Tak ada salahnya pula mengikuti aktivitas sehari-hari warga Dusun Butuh, yaitu bertani. Bercocok tanam atau memetik sayur sendiri di Dusun Butuh.

Nepal van Java juga memang dilengkapi berbagai spot yang Instagramable yang dapat kita gunakan untuk berfoto dan membagikannya di media sosial. Beberapa tempat tersebut ada di Gapura Dusun, Teras Nepal, Taman Depok, Teras Masjid, hingga Gapura Pendakian.

Setelah lelah melakukan jelajah kampung, tersedia pula kedai-kedai kopi menawarkan pemandangan indah 360 derajat. Termasuk jika mau menikmati sun rise yang indah, desa wisata Dusun Butuh terdapat beberapa homestay yang nyaman untuk jadi tempat beristirahat, sambil menunggu waktu matahari mulai menyingsing.

Beberapa homestay di antaranya adalah Bintang Homestay, ada pula Wanto Murah, Omah Biru, Shakyla, dan Amanah Homestay. Tarifnya aman di kantong, mulai dari Rp 130 ribu per malam. DI sekitarnya juga banyak tempat makan dan warung kopi.

Nepal Vam Java di Kaki Gunung Sumbing shutterstock
Suasana Dusun Butuh di Kaliangkrik. Foto: shutterstock

Untuk menuju ke Nepal van Java terdapat dua rute yang bisa kita pilih, yaitu melalui Yogyakarta dan Semarang. Bedanya, jika dari Yogyakarta kita membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Sedangkan jika dari Semarang dan menggunakan jalan tol, kita memerlukan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan.

Apabila sudah mulai memasuki Kota Magelang, ikuti jalur menuju Pasar Kaliangkrik, yang jaraknya sekitar 12 kilometer. Dari pasar tersebut wisatawan bisa mengikuti jalan hingga tiba di Sekolah Dasar Negeri Desa Temanggung.

Kemudian ambil kanan, dan naik sekitar 6 kilometer ke arah basecamp Sumbing melalui Dusun Butuh, Kaliangkrik. Nantinya kita bisa menemukan lokasi Nepal van Java, sekitar 400-500 meter sebelum basecamp Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik.

Selain atraksi tersebut, wisatawan juga mengunjungi sejumlah tempat yang masih berada di Kecamatan Kaliangkrik. Misalnya saja main ke Silancur Highland.


Silancur Highland berlokasi di Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik. Tepatnya di tenggara kaki Gunung Sumbing dan berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melalui tempat wisata tersebut, wisatawan bisa melihat deretan pegunungan indah yang membentang di sisi timur saat cuaca sedang cerah, mulai dari Gunung Merapi hingga Ungaran.

Mangli Sky View Di Sekiar Kaliangrik Pemda Kabupaten Magelang
Mangli Sky View di kawasan Kaliangkrik. Foto: DOk. Kabupaten Magelang


Di sisi barat, pengunjung akan disuguhi pemandangan Gunung Sumbing yang berdiri dengan megah di ketinggian 3.371 mdpl. Pemandangan matahari terbit saat pagi atau gemerlapnya lampu Kota Magelang ketika senja menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan Silancur Highland.

Wisatawan bisa pula berkemah di kawasan ini jika ingin menikmati pemandangan tersebut. Ada juga taman yang dipenuhi oleh bunga warna-warni yang bisa dijadikan sebagai spot yang Instagramable berlatar belakang pegunungan.


Masih di Desa Mangli, pengungnjung juga bisa berwisata menembus awan dengan berkunjung ke Mangli Sky View. Tempat ini berada di ketinggian 1.570 mdpl di sebelah timur Gunung Sumbing.

Hamparan awan di langit cerah merupakan panorama yang disajikan Mangli Sky View. Selama berada di sana, wisatawan bisa berkemah sambil menikmati pemandangan gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Tidar, Giyanti, Ungaran, dan Sumbing.


Spot lain yang bisa dikunjungi saat di seputaran Kaliangkrik adalah Curug Silawe di Dusun Kopeng, Desa Sutopati. Letaknya yang berada di kaki Gunung Sumbing tidak hanya membuat air curugnya dingin, udara di sekitarnya juga sangat sejuk. Air terjun ini memiliki ketinggian hingga 60 meter. Pepohonan yang mengelilinginya membuat suasan menjadi lebih asri dan tenang.

Sudah pernah main ke Nepal van Java? Jika belum ayo agendakan liburanmu ke tempat ini.

agendaIndonesia

*****


3 Nirwana Geopark Tanah Air

3 nirwana geopark, salah satunya di Geopark Ciletuh

3 Nirwana geoopark di Indonesia bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan masa liburan. Tunggu, apa itu wisata geopark? Sederhana, ini jenis pariwisata berbasis alam.

3 Nirwana Geopark

Geopark atau Geological Park adalah wilayah dengan unsur geologi yang sangat kaya, di mana semua pihak wajib menjaga, menggunakan, dan mengembangkan seluruh warisan alam yang terkandung di dalamnya termasuk nilai-nilai dalam ekologi, arkeologi, sosiologi, dan seni dan budaya.

Indonesia memiliki sekitar 15 kawasan Geopark yang sangat menakjubkan, misalnya saja Ciletuh Pelabuhanratu, Sukabumi, di Jawa Barat; lalu ada Gunung Sewu di Yogyakarta; juga ada

Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat; Danau Toba Sumatera Utara, Gunung Batur Bali, , Merangin di Jambi, dan Banyuwangi Geopark di Jawa Timur. Kali ini kami pilihkan tiga di antaranya yang layak kunjung.

Geopark Ciletuh

Sukabumi, Jawa Barat punya primadona baru, Geopark Ciletuh. Kawasan ini menawarkan pantai, air terjun, hingga puncak gunung kapur dengan lanskap yang amat elok. Saat bertandang ke tanah Sunda tersebut, pengunjung akan disuguhi bentang alam berbentuk amfiteater raksasa. Tatanannya laksana tapal kuda. Dari puncak pegunungan, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan yang langsung menghadap ke Samudera Hindia ini.

Ada banyak lokasi yang bisa dikunjungi kala bertandang ke sana. Perlu tiga hari untuk penjelajahan yang komplet. Bila cuma punya waktu sehari, pilihannya adalah Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung, Curug Awang, Curug Sodong, dan Puncak Darma. Jangan lupa membawa ban serep untuk kendaraan karena jalan yang dilalui berupa bebatuan yang rumpil.

Awalnya, wilayah Geopark Ciletuh hanya mencakup tiga kecamatan di Sukabumi. Kini kawasan ini memiliki luas sekitar 128 ribu hektare dan mencakup 74 desa di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Cisolok, Kecamatan Cikakak, Kota Pelabuhan Ratu, Kecamatan Simpenan, Kecamatan Waluran, Kecamatan Ciemas, Kecamatan Ciracap, dan Kecamatan Surade.

Geopark Ciletuh juga telah diakui UNESCO sebagai Global Geopark pada April 2018. Di dalamnya terdapat keanekaragaman hayati dan budaya, selain disebut di muka memiliki lanskap alam yang sangat istimewa. Alam yang natural dan asri juga menjadi daya tarik.

3 nirwana Geopark salah satunya di Gunung Sewu
3 nirwana geopark, slah satunya di Gunung Sewu, DI Yogyakarta.

Geopark Gunung Sewu

Jangan hanya berputar-putar di Malioboro kalau sedang menyambangi Kota Yogyakarta. Cobalah ke arah tenggara dan nikmati moleknya Gunung Sewu, wisata geopark kelas dunia yang diakui UNESCO sejak tahun 2015 lalu. Ada beragam kekayaan alam di sana, misalnya pantai, tebing, dan gunung purba. Namun, yang paling kondang adalah gua. Kawasan wisata yang berlokasi di Kabupaten Gunungkidul ini memiliki gua yang dalamnya mencapai 200 meter. Ada juga yang panjangnya 200 meter. Di dalamnya hidup beragam jenis ikan, serangga, kelelawar, bahkan krustasea.

Karakteristik guanya bermacam-macam. Ada yang kering, ada juga yang basah. Gua yang basah adalah gua yang di dalamnya terdapat sungai, dan cara menyusurinya dengan rafting. Salah satu gua basah yang terkenal bernama Pindul. Letaknya di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo.

Geopark Gunung Sewu memiliki luas hingga mencapai 1.802 kilometer persegi yang terbagi menjadi tiga geoarea, yaitu Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Itu artinya 3 kabupaten di dua provinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Masing-masing kawasan memiliki geosite, yakni Gunungkidul dengan 13 lokasi; Wonogiri dengan 7 lokasi; dan Pacitan dengan 13 lokasi. Total ada 33 lokasi geosite di Gunung Sewu. Dengan tiga kawasan tersebut, Geopark Gunung Sewu menjadi tempat wisata lengkap, mulai dari pantai di kawasan Gunungkidul, goa di pacitan, hingga industri kreatif masyarakatnya

Geopark Karst Maros-Pangkep

Secuil nirwana pegunungan karst juga bisa dijumpai di belahan timur Indonesia, Sulawesi Selatan. Orang-orang sering menyebutnya kawasan Maros-Pangkep. Kabarnya merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah yang berada di Yunnan, Guizhou, dan Guangxi, Cina. Berbeda dengan karakter pegunungan karst di daerah lain yang berbentuk kerucut (conical hill), di Maros-Pangkep bentuknya menyerupai menara. Ada yang berdiri sendiri, ada pula yang kelompok. Deretannya pun tampak cadas dan teramat menantang.

Seperti kawasan karst pada umumnya, Geopark Maros-Pangkep juga dihiasi banyak gua. Gua-gua itu menyimpan kekayaan hayati yang tak ternilai. Selain itu, jejak kehidupan manusia prasejarah juga ditemukan di dalam sejumlah gua. Di sini juga ada bermacam-macam gua, di antaranya Gua Ara, Gua Awal, Gua Batu Ejaya, Gua Bola Batu, Gua Cadang, dan Gua Leang Balisao. Ada satwa endemis yang hidup di sekitarnya, yakni monyet hitam. Sebanyak 125 jenis kupu-kupu pun hidup di daerah tersebut.

Geopark Maros-Pangkep ditetapkan sebagai taman nasional geopark  di Indonesia sejak 24 November 2017. Status itu diberikan oleh Komite Nasional Geopark Indonesia pada Seminar Nasional Geopark Belitung. Kawasan karst di Maros-Pangkep luasnya mencapai 43 ribu hektare.

F. Rosana

8 Spot Mountain Bike Asyik Di Indonesia

8 spot mountain bike yang asyik di Indonesia. Foto: shutterstock

8 spot Mountain Bike berikut ini pasti sudah dikenal para pecinta gowes di gunung Indonesia. Semuanya merupakan tempat-tempat yang menantang, namun sekaligus memiliki pemandangan yang elok.

8 Spot Mountain Bike

Bersepeda gunung memang salah satu olahraga yang menjadi kegemaran sejumlah orang. Selain olahraganya menantang, baik yang model uphill maupun yang downhill, biasanya lokasi untuk kegiatan ini memiliki pemandangan alam yang indah. Jadi sambil berolahraga bisa sekaligus bertamasya.

Ada pula kegiatan bersepeda di gunung yang seru-seruan saja. Berkumpul Bersama teman-teman seraya seru-seruan olahraga, kadang dibarengi dengan suasana piknik. Berikut ini ada sejumlah trek untuk bersepeda gunung di Indonesia. Ada yang untuk pemula, ada yang untuk yang sudah advance. Beberapa bahkan pernah dipakai untuk standar kejuaraan nasional sepeda gunung, ini 8 spot mountain bike di Indonesia.

Cihuni, Tengerang, Banten

Bagi pecinta sepeda gunung yang tinggal di daerah, Tangerang dan sekitarnya, Banten, ada satu tempat mountain bike yang menarik untuk dikunjungi. Atau bahkan dicoba buat gowes, yakni trek Cihuni. Setiap trek di Kawasan ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

Misalnya, trek Cihuni Hill Park 1 yang terletak di sebuah bukit di Desa Cijantra atau familier dikenal dengan Gunung Batu. Meski jalurnya tergolong tidak terlalu panjang, namun bersepeda di Cihuni cukup menguras energi, karena treknya berliku dan penuh tanjakan serta turunan bersambung.

Namun, udara sejuk dan pemandangan indah bakal dapat menyegarkan tubuh sekaligus menghilangkan rasa lelah karena menelusuri trek.

Cisaruni, Garut, Jawa Barat

Ini menjadi salah satu trek mountain bike terbaik di Indonesia karena menyuguhkan keindahan pemandangan alam khas perkebunan teh yang menyegarkan mata. Begitupun, trek Cisaruni terkenal menantang dan memacu adrenalin.

Trek Cisaruni mencapai lebih dari 25-30 kilometer dengan medan yang unik. Berbagai variasi tanjakan dan turunan yang menantang.

Trek ini berada di antara Gunung Cikuray dan Gunung papandayan, dengan ketinggian hingga 1640 meter di atas permukaan laut (mdpl) bisa menjadi agenda berwisatamu. Bisa dikomninasikan dengan camping bermalam dan membuat api unggun.

Suasana dengan suhu 18-24 derajat, dengan pemandangan kebun teh membuat aktivitas bersepedamu di sini tak hanya ajang untuk menguji adrenalin saja. Jalur yang akan kamu tempuh cukup jauh dengan waktu 6-7 jam.

Cikole, Bandung

8 spot mountain bike yang asyik di Indonesia beberapa pernah dipakai untuk kejuaraan nasional, bahkan internasional.
Bersepeda di trek Cikole, salah satu dari 8 spot mountain bike di Indonesia. Foto: DOk. shutterstock

Tempat terbaik lainnya, salah satu dari 8 spot mountain bike berikutnya adalah Cikole di Kawasan Lembang, Bandung, Jawa Barat. Trek Cikole sering menjadi incaran para pecinta sepeda gunung karena memiliki jalur menantang.

Trek Cikole memiliki dua jalur sepeda favorit. Pertama adalah trek Downhill Mountain  yang dilengkapi berbagai rintangan. Kedua, trek All Mountain  yang didominasi tanah dan bebatuan kecil sepanjang 16,5 kilometer.

Membentang di sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan melewati hutan pinus Cikole, trek mountin bike di sini pernah diperginakan sebagai tempat lomba pada PON 2015 dan menjadi trek Teras CAF 1st Series 2021 pada 2 dan 3 Oktober tahun lalu.

Wonogondang, Yogyakarta

Pilihan terbaik berikutnya untuk ber-mpountin bike di Indonesia adalah di Wonogondang, Yogyakarta. Ini tempatnya di Kawasan lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman. Wonogondang terkenal dengan trek sepeda gunungnya yang unik yang terbentuk karena proses alam.

Treknya menantang dengan pemandangan alam yang indah. Trek Wonogondang sudah sering dijadikan sebagai lokasi kejuaraan nasional maupun internasional sepeda gunung. Salah satunya ASEAN MTB Cup Seri II 2015.

Sidomukti, Semarang, Jawa Tengah

Salah satu lokasi bersepeda gunung yang tidak kalah menantang dari 8 spot mountain bike adalag Sidomukti, Semarang. Walaupun lintasan termasuk sangat pendek, hanya sekitar 1,5 kilometer, namun lintasas Sidomukti termasuk trek dengan obstacle yang sangat menantang.

Beberapa trek yang menantang dan mampu memacu adrenalin berupa jembatan, speed jump, rock garden, double jump, dan banyak lagi. Trek Sidomukti ini pernah menjadi venue Kejuaraan Nasional 76 Indonesia Downhill 2016.

Kaki Gunung Salak, Bogor

Lokasinya di tengah-tengah perkebunan sayur dan kebun teh di kaki Gunung Salak, trek sejauh 2,2 km bisa dicoba untuk berakhir pekan. Lahan luas bertanah merah dengan hamparan pegunungan ini sudah sering menjadi kunjungan para pesepeda untuk berolahraga ekstrem ini.

Cobalah sekali-kali datang pada akhir pekan. Para pecinta kegiatan alam akan bertemu dengan banyak pesepeda dan bergabung untuk melakukan trekking jalan.

Telaga Sarangan, Karanganyar, Jawa Tengah

Tidak perlu mendaki dengan menenteng sepeda sampai ke Puncak Gunung Lawu untuk merasakan tantangan downhill. Untuk menikmati salah satu dari 8 spot mountain bike terbaik ini cukup tuntun sepedamu sampai di jalanan menanjak hingga Telaga Sarangan. Lalu jajallah treknya..

Trekking jalur Sarangan pada kaki Gunung Lawu ini sudah tiga kali menjadi venue Kejurnas Indonesian Downhill secara berturut-turut pada 2013, 2014, dan 2015.

Gunung Tengah, Klungkung, Bali

Indonesia memiliki Gunung Tengah, Klungkung, Bali, yang bisa dikatakan hampir menyerupai trek di Meksiko yang disebut sebagai trek terbaik di dunia. Trek di Klungkung ini sangat asyik karena pemandangan dari gunung yang berhadapan langsung ke arah laut.

Sayangnya keindahan itu adalah sekelebat keindahan yang tak bisa dinikmati saat melakukan trekking di sini. Butuh konsentrasi tinggi untuk melakoni turunan sepanjang 1,2 kilometer dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Pada 31 Oktober 2015, Gunung Tengah menjadi lokasi untuk perlombaan Asia Pacific Downhill Challenge 2015.

agendaIndonesia

*****

Pasar Kaki Langit Yogya, Wisata Sejak 2015

Pasar Kaki Langit Bantul Yogyakarta menawarkan wisata kuliner dan kesenian. Foto: dok. Kemenparekraf

Pasar Kaki Langit bukan jenis wisata peninggalan masa lalu di daerah Yogyakarta ini. Tempat ini merupakan pengembangan kreatifitas masyarakat di kawasan tersebut. Dinamakan wisata Pasar Kaki Langit karena letaknya berada di Desa Wisata Kaki Langit. Dirintis sejak 2015, warga setempat meyakini bahwa kaki diibaratkan sebagai langkah untuk terus maju.

Pasar Kaki Langit

Dikembangkan sebagai desa wisata, Kaki Langit termasuk salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Penghargaan yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf).

Sebelumnya, pada 2017, desa ini menjadi salah satu kandidat Kampung Adat Terpopuler dalam Penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2017. Sementara Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 adalah ajang pemberian penghargaan kepada desa wisata yang memiliki prestasi.

Di balik namanya, “Kaki Langit” sendiri memiliki makna yang sangat kuat. “Kaki” melambangkan langkah untuk maju ke depan, sedangkan “Langit” adalah ciptaan Tuhan yang tidak ada batasnya. Sehingga, makna di balik nama “Kaki Langit” menggambarkan tentang setiap langkah penduduk setempat yang terus maju untuk mencapai cita-cita dan setinggi langit.

Pasar Kaki Langit menjadi bagian dari Desa Wisata Kaki Langit.
Pasar Kaki Langit di Bantul, Yogyakarta. Foto: shutterstock

Pasar Kaki Langit yang berlokasi di Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta ini memiliki banyak potensi dan dikelola dengan baik. Salah satunya adalah Pasar Seni Kaki Langit. Pasar ini sudah ada sejak Desember 2017, dan masih eksis hingga sekarang.

Meskipun namanya “pasar”, namun Pasar Seni Kaki Langit berbeda dengan pasar-pasar pada umumnya. Begitu tiba, wisatawan akan disambut banyak pedagang dengan menggunakan pakaian adat Jawa. Sehingga, saat mengunjungi Pasar Seni Kakilangit wisatawan akan langsung merasakan suasana tempoe doeloe yang rasanya Indonesia sekali.

Keunikan lain dari Pasar Kaki Langit terdapat pada metode pembayarannya. Di sini tidak menerima mata uang resmi, baik kertas maupun logam. Melainkan menggunakan kreweng, koin kayu khas Pasar Kakilangit yang dipakai untuk berbelanja.

Tidak perlu bingung, karena nominal yang tertera di koin kayu kreweng sesuai dengan nominal Rupiah yang umum digunakan. Misalnya koin angka “5” setara Rp 5 ribu, dan koin angka “10” setara dengan Rp 10 ribu.

Pengunjung harus menukarkan Rupiah dengan kreweng sebelum berbelanja di Pasar Kaki Langit. Setelah itu, wisatawan baru bisa menjajal berbagai kuliner jadul khas Pasar itu. Di antaranya gudeg manggar, thiwul, kicak, cemplon, lemet, sayur bobor, sayur jambu mete, sambal terong, sambal jenggot, mie lethek, pecek, dan berbagai kuliner jadul lainnya.

Pasar Kaki Langit juga menampilkan kesenian-kesenian tradisional.
Kesenian di Pasar Seni Kaki Langit. Foto: Dok. Kemenparekraf

Uniknya lagi, demi menjaga kelestarian alam, di sini tidak menggunakan plastik atau styrofoam, cara penyajian makan di Pasar Kakilangit sangat ramah lingkungan, yakni menggunakan perkakas tradisional, seperti mangkuk dari tempurung kelapa, piring dari anyaman rotan, alat makan dari bambu, hingga daun pisang untuk membungkus makanan yang dibawa pulang.

Bukan hanya sekadar mencicipi berbagai kuliner jadul yang khas saja, di Pasar Seni Kaki Langit wisatawan juga bisa menikmati kesenian khas Desa Wisata tersebut. Salah satu kesenian yang khas adalah Gejog Lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu Desa Wisata Kakilangit dengan pakaian lurik.

Gejog Lesung adalah penampilan memukulkan alu, semacam tongkat dari kayu, ke dalam lesung, alat menumbuk padi yang berbentuk seperti perahu. Karena dipukul secara beriringan, bertemunya alu dan lesung menghasilkan suara berirama yang asyik ketika didengar.

Gejog Lesung Kaki Langit Kemenparekraf
Gejok Lesung yang dimainkan ibu-ibu setempat. Foto: Kemenparekraf

Selain Gejog Lesung, masih ada berbagai pertunjukan seni dan budaya yang tidak kalah menarik. Seperti Cokean, Tarian Budi Astuti, Tarian Gambyong, hingga Karawitan yang kerap dipentaskan di Pasar Seni ini setiap Sabtu dan Minggu.

Pasar Seni Kaki Langit juga dilengkapi dengan berbagai permainan tradisional anak-anak yang mungkin sudah jarang ditemui, seperti gangsing, miniatur mobil dari kayu, hingga ketapel. Kemudian, wisatawan juga bisa mencoba membuat jamu tradisional di Pasar Kakilangit. Sebagai oleh-oleh, wisatawan juga bisa membeli produk ekonomi kreatif hasil karya masyarakat sekitar.

Selain ada Pasar Kaki Langit, di Desa Wisata ini wisatawan juga bisa melakukan berbagai aktivitas seru lainnya. Seperti berkeliling Desa Wisata Kakilangit menggunakan jeep. Atau jika ingin menginap bisa mengunjungi “Atap Langit” yang menyediakan homestay dengan limasan dan joglo khas Yogyakarta.

Kemudian, ada pula “Langit Terjal” tempat yang cocok bagi pecinta wisata adrenalin yang menantang, dan “Langit Ilalang” untuk wisata outbound atau jelajah alam. Menaik kan? Ayo agendakan bermain ke Desa Wisata Kaki Langit, Bantul.

agendaIndonesia

*****

3 Serangkai Palembang: Ampera, Musi, dan Benteng Kuto Besak

Liburan ke Palembang selama 3 hari 2 malam banyak di sekitar sungai Musi.

3 serangkai Palembang, yakni jembatan Ampera, Sungai Musi, dan Benteng Kuto Besak menjadi ikon pariwisata ibukota Sumatera Selatan. Ditambahkan kulinarinya, ia menjadi perjalanan yang menentramkan hati.

3 Serangkai Palembang

Bayangan menikmati Sungai Musi sembari menyeruput kuah pindang sudah terbayang ketika check in di bandara Sukarno Hatta, Tangerang. Penerbangan yang tergolong pendek dari Ibu Kota negeri untuk bisa menjejakkan kaki di wilayah yang dulu merupakan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 ini.

Hanya mengudara tak sampai 60 menit, maka Sungai Musi, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan tentunya sederet hidangan khasnya, bisa mengisi liburan. Ketiga hal memang menjadi tiga serangkai yang lekat dengan Palembang, Sumatera Selatan. Ketiganya berada saling berdekatan.

Begitu menjejakan kaki di Palembang, pengemudi taksi, setelah bertanya tujuan utama, langsung menawari rute perjalanan menyeberangi jembatan Ampera. Jika tak terburu-buru, tawaran ini layak disambut.

Berada di pusat kota, Jembatan Ampera memang menjadi ikon kota ini. Bahkan pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Penghubung dua sisi kota itu menyimpan sejarah, karena merupakan hadiah dari Presiden Sukarno untuk masyarakat Palembang. Jembatan yang dibangun pada 1962 dan diresmikan pada 1965 tersebut menggunakan dana hasil pampasan perang Jepang. Berciri warna merah dan memunculkan kerlip keindahan lampu di malam hari.

Berdiam di tepian Sungai Musi memandang jembatan ini menjadi kenangan indah selama di kota tersebut. Apalagi bila menjajal menyusuri Sungai Musi dengan perahu, melihat kesibukan masyarakat di sepanjang tepiannya. Anak-anak yang bermain menikmati sore di Kampung Kapiten, kesibukan umat muslim di masjid yang juga berada di tepian sungai. Sebuah kenikmatan senja yang mengasyikkan dari sini.

Ada pilihan menarik sambil menikmati sore di Sungai Musi, yakni menikmati hidangan di atas rumah makan terapung. Tentunya dengan hidangan khas berupa beragam pindang ikan yang rasanya segar.

Bila ingin hidangan tanpa nasi tapi tetap khas setempat dengan bahan-bahan ikan penghuni sungai, tentunya ada pilihan lain. Apalagi kalau bukan pempek, dan kawan-kawannya. Bisa dengan mudah ditemukan dari pedagang keliling hingga berbagai rumah makan. Pempek dan rekan-rekannya saja sudah cukup banyak pilihan, belum lagi olahan dari ikan lainnya, seperti burgo, laksa, dan celimpungan. Selain itu, ada mi celor yang gurih tapi menggoda. Soal perut, sudah pasti akan terpuaskan selama berlibur di kota ini.

Tak jauh dari Sungai Musi, jangan lupa juga menengok Benteng Kuto Besak yang dulu menjadi pusat Kesultanan Palembang Darussalam, yang diprakarasi oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Benteng ini dibangun pada 1780 dan menjadi saksi perlawanan masyarakat Sumatera Selatan pada masa penjajahan Belanda. Di malam hari, permainan lampu dari benteng tersebut pun membuahkan keindahan tersendiri yang bisa dinikmati ketika berada di tepian Sungai Musi.

Palembang dan sekitarnya menjadi destinasi unggulan yang dijual dalam paket pemasaran pariwisata Indonesia. Ia bergandengan dengan enam destinasi lainnya (Jakarta, Jakarta dan sekitarnya, Palembang dan Sumatera Selatan, Bali, Pulau Komodo, serta Banyuwangi).

Selain kawasan Musi yang biasanya menjadi pilihan utama jalan-jalan, ada destinasi lain yang ditawarkan Palembang, yakni Pasar 26 Ilir. Buat para pemburu kuliner, pasar ini dikenal sebagai sentra makan-makan. Sebuah pasar yang merupakan pusat souvenir dan makanan sehingga wisatawan yang berkunjung ke Palembang dapat dengan mudah membeli oleh-oleh dan mengisi perut.

3 serangkai Palembang, yang layak dicoba pempek Lala di pasar Ilir palembang

Posisinya, lagi-lagi, tak jauh dari Jembatan Ampera, jembatan yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang terpisahkan oleh Sungai Musi. Lokasi pasarnya sesungguhnya tak jauh  dari jembatan, mungkin sekitar 500–an meter, namun jika menggunakan kendaraan roda empat, lalu lintasnya harus sedikit memutar.

Bila wisatawan hendak menyusuri pasar, ada beberapa rekomendasi jenis kuliner dan tempat makan terpopuler yang bisa dipilih. Setidaknya ada tiga pilihan makanan di pasar tersebut: pempek, mi celor, dan es kacang merah.

Pertama, tentu saja, pempek. Jika pengunjung tak fanatik dengan merek tertentu yang sudah kondang di Palembang, seperti Pempek Candy atau Pak Raden, Pasar 26 Ilir adalah sentra pempek. Sepanjang gang pasar itu terdapat penjual pempek. Salah satu yang populer adalah pempek Lala.

Pempek Lala terletak di bagian tengah gang Pasar 26 Ilir, tepatnya di Jalan Mujahidin nomor 23, Talang Semut, Palembang. Warung ini termasuk yang paling ramai saban harinya di antara warung-warung lainnya. Tempatnya tampak seperti bangunan sederhana, meja-kursinya adalah meja-kursi panjang yang terbuat dari kayu. Namun selalu penuh dari pagi sampai sore hari.

3 serangkai Palembang dan menikmati kuliner pempek Lala
Wisata Palembang ke Pasar Ilir dan menikmati pempek Lala.

Pengunjung yang ingin menikmati kuliner pempek Lala harus sabar mengantre. Kadang-kadang antreannya bisa sampai 30 menit. Keunggulan pempek Lala adalah cukonya yang kental dan sangat khas aroma ikannya. Harganya pun murah. Sebutir pempek dibanderol Rp 2.000-an. Bila ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, terutama pada masa-masa liburan, sebaiknya pengunjung memesan dulu sehari sebelumnya. Bila langsung datang, mereka umumnya akan kehabisan kardus untuk pengepakan pempek.

Ada pempek, pasti ada es kacang merah. Es ini selalu menjadi teman santap yang cocok bagi penganan berkuah cuko tersebut. Maka itu, di semua warung pempek di Palembang, termasuk Pasar 26 Ilir, pasti tersedia es kacang merah.

Es kacang merah sebenarnya seperti es campur. Hanya, tak ada buah-buahan dalam mangkuk es tersebut. Semua isinya adalah kacang merah. Sedangkan manisnya es kacang merah berasal dari sirup dan susu kental manis. Es kacang merah di hampir seluruh warung di Pasar 26 Ilir dibanderol dengan harga yang sama, yakni Rp 7.500.

Makanan ke tiga yang harus dicoba adalah mi celor. Mi celor menjadi salah satu kuliner idaman para wisatawan saat mengunjungi Palembang. Mi ini biasa disantap untuk sarapan dan makan siang. Di Pasar 26 Ilir, mi celor pun jadi primadona selain pempek dan es kacang merah.

Mi celor merupakan mi kuning dengan kuah santan dicampur dengan kaldu yang kental. Mi kuning yang digunakan untuk memasaknya adalah mi khusus dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan mi pada umumnya. Mirip penampakannya dengan mi Aceh.

Mi celor dimasak dengan kuah susu. Penyajiannya pun hanya dengan telur rebus dan suwiran ayam. Namun rasanya teramat gurih. Kuliner ini bisa dijumpai di warung HM Syafei di kompleks Jalan Mujahidin, Pasar 26 Ilir.

Lain kali agendaindonesia akan cerita soal pempek, tapi sudah pernahkan Anda berkunjung ke Palembang?

F. Rosana