Ayam Tangkap Khas Aceh, 1 Ekor Dipotong 24

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Nangroe Aceh Darusalam. Ada banyak pilihan di sini, salah satu yang terkanal adalah ayam tangkap.

Ayam tangkap khas Aceh menjadi salah satu ikon kuliner masyarakat Serambi Mekah, selain bakmi Aceh. Dedaunan dan rempah bumbunya menjadi pembeda dengan sajian ayam goreng dari daerah lain.

Ayam Tangkap Khas Aceh

Nama masakan ayam tangkap sendiri sampai saat ini belum ada yang tahu dari mana asal-usulnya. Secara bercanda, masyarakat Aceh suka menyebut jika nama tersebut muncul dari kebiasaan orang setempat yang baru menangkap ayamnya ketika akan dimasak. Bisa jadi informasi ini cuma guyon, namun bisa jadi hal itu benar. Dan menunjukkan bagaimana “fresh”-nya bahan utama masakan ini sebelum disajikan.

Meskipun tak diketahui sejak kapan masakan ini ada dalam khasanah budaya kulinari Aceh, namun banyak sumber menyebut jika masakan ini sudah ada sejak lama. Setidaknya sudah ada lima-enam generasi di belakang.

Keunikan ayam tangkap ini dibandingkan jenis kuliner ayam goreng lain adalah saat disajikan. Ayam goreng tersebut, selain ukuran potongannya yang kecil-kecil tak seperti layaknya potongan ayam yang dibagi empat atau delapan, disajikan dengan daun-daunan. Ada daun temurui dan daun pandan yang dirajang kasar serta digoreng renyah. Apabila dicicipi daun-daun tersebut mungkin terasa aneh meskipun chrunchy. Tapi bila mengunyahnya dipadukan dengan ayam gorengnya, akan menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat.

Ayam tangkap ini terbuat dari bahan dasar ayam potong, daun temurui, daun pandan dan cabe hijau. Untuk cabe hijaunya biasanya menggunakan yang panjang yang nantinya akan disajikan bersama dengan daun temurui dan daun pandan. Sedangkan bumbu yang digunakan di antaranya bawang putih, bawang merah, cabe rawit, kunyit, jahe, dan air asam jawa.

Dalam proses pembuatan tangkap ini, seperti disebut di muka, biasanya dipotong kecil-kecil. Dari banyak resep yang beredar di masyarakat, umumnya satu ekor ayam akan dipotong menjadi 24 bagian. Ada yang menyebut, karena ditangkap dan disembelih sesaat akan diolah, pemotongan kecil-kecil itu agar bumbu dan rempah cepat meresap ke dalam daging. Begitupun, saat ini banyak juga yang memotong ayam sesuai dengan keinginan.

Setelah itu, potongan daging kemudian direndam bersama bumbu hingga meresap, meskipun tak terlalu lama –kurang lebih 15 hingga 30 menit– lalu daging ayam digoreng hingga matang. Ketika mendekati matang, daun temurui, cabe hijau dan daun pandan dimasukan dan digoreng bersama daging ayam tadi. Setelah semuanya matang, semua lalu tiriskan. Ayam Tangkap biasanya disajikan langsung bersama dengan daun-daunan yang sudah digoreng tersebut.

ayam tangkap khas Aceh, sebagai salah satu ikon kuliner Serambi Mekah.
Ayam Tangkap Khas Aceh sebagai ikon kuliner negeri Serambi Mekah. Foto:shutterstock

Di banyak rumah makan masakan Aceh, penyajian ayam tangkap biasanya dengan dedaunan yang menutupi ayam sehingga terlihat ayam sengaja diletakkan di bawah dedaunan. Dedaunan ini selain sebagai daya tarik hidangan, sekaligus bisa dijadikan sebagai lalapan kering pelengkap potongan ayam.

Pada umumnya, para pencinta ayam tangkap ketika menyantapnya akan mengkombinasikan dengan sambal kecap yang telah dicampur dengan potongan bawang merah dan cabai hijau. Sebagian lagi menggunakan bawang goreng. Satu hal yang pasti, hampir semua restoran Aceh menggunakan ayam kampung sebagai bahan utama. Hal ini untuk mempertahankan cita rasa.

Lalu di mana ayam tangkap ini di Banda Aceh dapat dinikmati? Berikut sejumlah restoran atau warung makan yang cukup dikenal dengan ayam tangkapnya.

Rumah Makan Hasan; di Jalan Profesor Ali Hasyimi, Pango, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Ini konon merupakan salah satu tempat makan ayam tangkap paling enak di Aceh. Kelezatan ayam tangkap yang dihidangkan di tempat ini bisa dibuktikan dari eksistiensinya yang sudah ada sejak 1989. Rumah makan ini memiliki tiga cabang di Aceh. Restoran ini berada yang buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai 9 malam.

Rumah Makan Specifik Aceh; di Jalan Hasan Dek nomor 14-16, Banda Aceh.

Rumah makan ini dimiliki warga asli Aceh dan dianggap sebagai ayam tankap dengan rasa yang original. Warung makan yang buka setiap hari ini hampir selalu ramai pengunjung.

Ayam Pramugari; di Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda, Paya-Ue, Blang Bintang

Nama rumah makan ini diambil karena awalnya banyaknya pramugari yang membeli ayam tangkap di tempat ini. Mungkin karena dekat dengan bandar udara. Nama yang unik ini mampu membuat orang penasaran mencicipinya.

Rumah Makan Ayam Tangkap Cut Dek; Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh.

Ini merupakan satu rumah makan yang menyajikan ayam tangkap paling enak di Aceh. Bahkan rumah makan yang berdiri sejak 1996 ini hampir selalu ramai pembeli. Rumah Makan ini buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai dengan 10 malam

Rumah makan Bu Sie Itek Bireun; di Jalan Teuku Umar, Setui, Banda Aceh, di sebelah masjid masjid Meukeutop

Ini merupakan salah satu rumah makan yang populer di kalangan pelancong luar kota. Mungkin karena mereka juga menyediakan menu gulai bebek. 

Lalu di mana jika orang ingin mencicipi ayam tangkap di Jakarta?

Ayam Tangkap Aceh Jakarta; Jl. Menteng No.10 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat 

Ayam & Bebek Tangkap Atjeh Rayeuk; Jl. Ciranjang No.36, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Sudah pernah mencicipi ayam tangkap? Ayo agendakan tangkap ayammu.

agendaIndonesia

****

Pasar Apung Banjarmasin, Sensasi Belanja Sejak 1526

Pasar apung Banjarmasin menjadi salah satu ikon pariwisata kota ini, selain sebagai prasarana ekonomi.

Pasar apung Banjarmasin, atau kadang disebut pasar terapung, adalah ikon ibukota Kalimantan Selatan. Bukan sekedar ikon kota, ia bahkan tumbuh sebagai potensi pariwisata di daerah ini.

Pasar Apung Banjarmasin

Pasar apung Banjarmasin atau dikenal juga sebagai Pasar Apung Lokbang Intan ternyata sudah berusia lebih tua dari kotanya. Bahkan jauh lebih tua dari usia Indonesia. Ia ternyata sudah ada sejak tahun 1526. Jauh bahkan sebelum Kerajaan Banjar berdiri.

Di Banjarmasin sesungguhnya ada dua pasar terapung besar, di Muara Kuin dan Siring Pierre Tendean di sungai Martapura. Namun yang banyak dikenal memang yang di Muara Kuin. Ini pasar terapung tertua.

Tertua? Ya, ternyata sejarah pasar apung ini sangat panjang. Menurut catatan sejarah setempat keberadaan dan berkembangnya Pasar Apung Lokbang Intan tak lepas dengan berdirinya Kerajaan Banjar. Berdasar catatan, pasar tersebut bahkan lebih tua dari usia kerajaannya. Jika Kerajaan Banjar ada sekitar 1595, pasar ini sudah ada sejak abad ke-14. Berdirinya Kerajaan Banjar membuat pasar tersebut menjadi semakin hidup.

Kawasan pasar apung itu tadinya merupakan bagian dari pelabuhan sungai yang bernama Bandarmasih. Pelabuhan sungai ini meliputi aliran Sungai Barito, dari Sungai Kuin hingga Muara Sungai Kelayan, Banjarmasin Selatan. Berdasarkan catatan sejarahnya, Pasar Terapung merupakan pasar yang tumbuh secara alami karena posisinya yang berada di pertemuan beberapa anak sungai sehingga menjadikan kawasan ini sebagai tempat perdagangan.

Banjar atau Banjarmasin memang memiliki kondisi alam dengan banyaknya aliran sungai. Saking banyaknya aliran sungai yang melintas di kota atau kawasan ini, konon sampai mencapai 60 sungai besar dan kecil, mulai dari sungai Martapura, sungai Barito dan sungai Kuin serta puluhan sungai lainnya yang membelah wilayah Banjarmasin dan menjadikan kawasan ini sebagai delta atau kepulauan.

Banyaknya sungai juga membuat Banjarmasin dikenal dengan sebutan negeri beribu sungai. Itu sebabnya kawasan ini memiliki prasarana transportasi sungai. Demikian pula roda perekonomiannya. Dengan membuka lapak di sungai memudahkan para pedagang yang membawa barang dagangan berupa hasil bumi dari arah hulu untuk melakukan jual-beli.

Pada gilirannya, pasar apung ini tidak saja sebagai tempat untuk berdagang, tapi menjadi pusat segala macam kegiatan bagi warganya. Termasuk kemudian jadi tujuan wisata. Selain sungainya yang punya daya pikat tersendiri, masih banyak destinasi menarik yang sangat sayang jika hanya dilihat sambil lalu.

Pasar Apung Banjarmasin menjadi ikon wisata ibukota Kalimantan Selatan.
Patung Bekantan di Kota Banjarmasin ikon wisata kota ini selain Pasar Apung Banjarmasin. Foto: ilustrasi shutterstock

Jika punya kesempatan mengunjungi Banjarmasin, kota yang bisa ditempuh sekitar 1 jam dan 45 menit dari Jakarta ini, via penerbangan, rasanya wajib untuk mencoba menikmati sensasi belanja di atas sungai. Kabarnya proses jual-beli, kadang antarpedagang masih terjadi proses jual beli model barter, sudah berlangsung sejak pukul tiga pagi. Namun, ramainya perdagangan mulai pukul enam pagi.

Untuk bisa mendatangi pasar yang berada di desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, orang biasanya bangun subuh untuk menuju lokasi yang berjarak sekitar 50 menit perjalanan dari pusat kota Banjarmasin. Para pelancong harus sudah menyiapkan diri sejak usai shalat subuh atau sekitar pukul 5 Waktu setempat. Banjarmasin masuk wilayan waktu Indonesia bagian Tengah (WITA).

Cara bergegas ini, selain karena membutuhkan jarak tempuh yang cukup lama menuju lokasi dengan menggunakan perahu klotok, dari lokasi penyewaan kapal klotok di Warung Soto Banjar Bang Amat, pasar ini juga hanya beroperasi mulai pukul 6 hingga sekitar pukul 9 saja.

Satu kapal klotok bisa disewa dengan tarif Rp 350-400 ribu. Kapal jenis ini bisa ditumpangi 15 hingga 20 orang. Jadi jika kebetulan hanya bepergian sendirian atau berdua, jangan ragu berkenalan dengan orang dan sharing biaya. Jikapun mampu membayar sendiri biaya sebesar itu, perjalanan beramai-ramai sangat menyenangkan. Termasuk ketika harus sharing barang belanjaan. Sebab kadang ada pisang yang dijual satu tandan, padahal kita hanya menginginkan satu sisir saja.

Perjalanan dini hari di atas kapal pun menyenangkan. Sambil membelah sungai Martapura dengan kapal klotok, wisatawan akan disajikan pemandangan berupa aktifitas keseharian warga yang tinggal dipinggiran sungai tersebut. Mulai dari memancing ikan, masak, mandi juga berbagai kegiatan lainnya.

Begitu kapal klotok yang kita tumpangi tiba di pasar terapung Lok Baintan, para pedagang yang menggunakan perahu dayung langsung saling berlomba merapat ke perahu klotok agar bisa menjajakan barang dagangannya. Perahu pedagang yang sangat banyak inilah yang mampu menampilkan pemandangan unik dan menawan. Di sini juga para pelancong bisa menjajal naik ke perahu pedagang, pindah atau turun ke kapal mereka. Duduk di kapal mereka sambil menawar barang dagangan rasanya pemandangan yang cukup instagramable.

Rata-rata pedagangnya wanita berumur. Uniknya, di zaman seperti saat ini, sistem barter kadang masih berlaku. Biasanya memang sesama pedagang saja, namun, bisa saja jika memiliki barang yang cukup berharga untuk kebutuhan sehari-hari coba saja tawarkan.

Adapun barang yang dijual oleh para pedagang di pasar terapung Lok Baintan ini berupa beragam sayuran, buah-buahan, makanan tradisional, hingga suvenir. Bahkan sambil berbelanja kebutuhan atau barang oleh-oleh, dengan harga yang sangat terjangkau para pelancong juga bisa menikmati sajian kuliner seperti sate di atas perahu.

Menarik? Ayo kalau ada kesempatan main ke Banjarmasin dan mencoba belanja di pasar terapung.

agendaIndonesia

*****

Danau Kembar, Keindahan Di 1900 Meter

Danau kembar di Kabupaten Solok, menikmati matahari terbit di Danau Diateh.

Danau Kembar di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mungkin masih kurang dikenal banyak pecinta traveling. Danau Kembar ini adalah Danau Di Atas, atau masyarakat Minang suka menyebutnya Danau Diateh, dan Danau Di Bawah.

Danau Kembar

Keindahan alam Solok tak hanya Danau Diateh dan Dibawah, tapi juga Danau Talang, dan terlihat pula Danau Singkarak. Pelengkap untuk menikmati keindahan itu tentu saja secangkir kopi arabika Solok.

Danau kembar terdiri dari Danau Diateh dan Danau Di bawah. Lokasinya berdekatan.
Keindahan Danau Diateh di Kabupaten Solok, Sumatera Utara. Foto: Dok. TL


Jika punya waktu, cobalah mampir menikmati keindahan Danau Kembar. Atau, sempatkan menginap di resor milik di tepi Danau Diateh. Ada satu dua resor, di antaranya milik Pemerintah Kabupaten Solok yang disewakan untuk para pengunjung. Bisa menikmati keindahan danau dari kamar, atau menanti matahari terbit dengan latar danau.

Seperti pagi itu. Di tengah hawa dingin dan desiran angin di sela-sela pohon pinus, kita bisa keluar dari vila dan menyusuri jalan setapak. Matahari muncul di balik bukit di ujung danau. Air danau tampak biru keperakan. Walau matahari belum muncul, langit sudah terang dengan warna biru muda. Bukit-bukit di seberang danau juga sudah bermandikan cahaya.

Pinggiran danau sebagian besar ditumbuhi tanaman air dan rumput. Inilah kelebihan Danau Diateh, banyak vegetasinya. Rumput di sekitarnya membuat danau begitu alami. Untaian embun yang menempel di rumput berkelip terkena cahaya. Ada pula rumput yang sedang berbunga. Seraya duduk di rerumputan, kita bisa menunggu saat-saat kemunculan sang mentari di balik bukit.

Perlahan cahaya jingga yang memanjang mulai ke luar. Panorama sekitar tiba-tiba merona jingga. Bahkan rumput yang seakan berbunga merah. Sepotong pagi yang sempurna.

Pagi itu bisa pengunjung habiskan dengan berkeliling resor, menuruni tangga batu ke tepi danau. Resor itu dikepung hutan pinus. Di ujung danau di sebelah barat daya terlihat Gunung Talang yang jika pagi seperti memantulkan cahaya, dengan latar langit biru di belakangnya.

Di pinggir danau, bebek-bebek berenang dengan damainya. Tempat ini paling indah di tepi danau. Kadang kita harus memutar sedikit ketika menyusuri pinggiran danau, karena jalan setapak dari beton dan batu kali kadang terhalang dengan rambatan rumput riang-riang yang tingginya hingga dua meter.

Seusai menikmati sunrise, pengunjung bisa melakukan perjalanan ke Bukit Cambai, jaraknya sekitar 3 kilometer dari resor.  Tempat ini menjanjikan pemandangan tiga danau dari atas bukit tertinggi di kawasan wisata Danau Kembar yang berada di ketinggian 1.900 meter dari atas permukaan laut (mdpl). Hanya beda 697 meter dari puncak Gunung Talang yang tingginya 2.597 mdpl.

Tiga rangkaian danau di kaki Gunung Talang ini adalah Danau Dibawah, Danau Diateh, dan Danau Talang. Danau Diateh dan Danau Dibawah adalah danau tektonik yang terbentuk dari pergeseran patahan Sumatera, sedangkan Danau Talang merupakan danau vulkanik yang dulunya salah satu kawah Gunung Talang yang meletus.

Danau Diateh dan Danau Dibawah sering dijuluki Danau Kembar karena letaknya berdampingan dengan jarak terdekat sekitar 500 meter. Ke duanya hanya dipisahkan ladang sayuran dan jalan raya.

Di Danau Diateh, pengunjung bisa berperahu dengan ikut kapal nelayan. Danau seluas 17,20 kilometer persegi ini permukaan airnya berada pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut dengan bagian terdalamnya sekitar 44 meter. Tidak banyak aktivitas wisata di danau yang indah ini. Hanya ada beberapa orang nelayan yang memukat ikan dari atas perahu.

Sementara Danau Di Bawah panoramanya indah, air danaunya biru tua dikelilingi punggungan bukit yang hijau dan dipenuhi sayuran. Permukaan airnya pada ketinggian 1.462 meter di atas permukaan laut lebih rendah daripada Danau Diateh. Karena itulah dinamakan Danau Di Bawah. Luasnya 16.90 kilometer persegi, tapi kedalamannya ada yang mencapai 86 meter.

Danau Talang jaraknya agak jauh dari dua danau ini. Dari Danau Di Bawah, sekitar 4,5 kilometer. Namun lebih dekat dengan Gunung Talang, karena terbentuk dari salah satu kawah gunung yang meletus pada masa lampau. Jalan menuju ke danau ini tidak mudah, melewati medan yang berat dan mendaki. Jika hujan turun, banyak kubangan lumpur dan batunya juga besar-besar. Mungkin karena itulah Danau Talang jarang dikunjungi.

Danaunya tidak terlalu luas, tapi tampak alami. Di pinggirnya masih banyak pohon dan tanaman perdu. Gunung Talang yang berada di belakangnya kelihatan lebih dekat. Danau Talang ini dikelilingi ladang sayuran yang sangat subur dengan tanah yang gembur dan hitam. Mungkin karena letusan Gunung Talang pada 11 April 2005.

Jalanan dari beton di Bukit Cambai sengaja dibangun untuk menjadikan kawasan itu destinasi wisata di kawasan Danau Kembar. Di atas bukit malah sudah dibangun menara untuk mengamati tiga danau. Bahkan, bukan tiga danau saja, melainkan Danau Singkarak juga kalau langit cerah akan kelihatan dari jauh. Jadi dari bukit itu pengunjung bisa menikmati empat danau.

Danau Kembar di Kabupaten Solok juga mempunyai keunggulan soal kopi arabika.
Salah satu keunggulan Kabupaten Solok adalah kopi arabikanya yang sudah mulai mendunia. Foto: Dok. TL

 Namun Solok tak hanya danau, ada suguhan lain: kopi arabika. Mungkin belum cukup dikenal secara umum, namun para pecinta kopi umumnya sudah mengenal meski masih jarang ditemukan di pasaran. Di daerah itu, ada Gabungan Kelompok Tanikopi di Surian, jaraknya sekitar 35 kilometer dari danau.

Kopi arabika Solok sedang naik daun. Ditanam petani di dataran tinggi Danau Kembar, Lembah Gumanti hingga ke Surian. Karena berada pada jajaran dataran tinggi yang sama, aromanya juga hampir mirip, beraroma rempah, ada aroma serai, kulit kayu manis, dan lemon. Pada Maret 2016, kopi honey dari Solok Radjo bahkan meraih penghargaan di ajang Melbourne International Coffee Expo 2016 dan meraih medali perak.

agendaIndonesia/Dok. TL

*****

Ayam Lodho Pak Yusuf, Gurihnya Dari 1987

Ayam lodho Pak Yusuf adalah ikon kuliner khas Trenggalek, Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf bisa menjadi pilihan kuliner utama untuk dicoba saat sedang berada di daerah Trenggalek. Rasanya tak berlebihan jika makanan yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu hidden gem, khususnya di antara kuliner-kuliner asli Jawa Timur.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Di atas kertas, ayam lodho terlihat cukup sederhana sebagai sebuah hidangan. Dari pandangan visual, sekilas ia terlihat agak mirip seperti ayam opor, terlebih dengan penggunaan kuah bersantan, meski secara cara penyajian dan pelengkapnya sedikit ada perbedaan.

Kalau ayam opor dimasak dengan cara merebusnya dengan bumbu-bumbu pelengkapnya, ayam lodho disajikan dengan cara dibakar terlebih dulu sembari dilumuri bumbu. Setelah jadi dan daging lebih empuk, barulah ia direbus dan dihidangkan dengan kuah pelengkapnya.

Ayam Lodho Pak Yusuf menjadi daya tarik wisata di Trenggalek, selain Goa Lowo.
Goa Lowo di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Foto Humas Pemkab Trenggalek

Istilah ‘lodho’ sendiri kurang lebih berarti empuk atau lunak, yang mana merujuk pada daging ayam yang empuk setelah dibakar sedemikian rupa. Meski ada pula yang mengatakan bahwa ‘lodho’ juga dapat merujuk pada cita rasa kental di mulut karena kuah santannya.

Oleh karenanya pula, ayam yang digunakan dalam memasak makanan ini umumnya merupakan jenis ayam kampung. Diyakini, daging ayam kampung bila dimasak lama tidak menjadi hancur dagingnya, dan cita rasa kuahnya dapat lebih meresap serta berpadu lebih baik dengan daging gurihnya.

Sebelum dibakar, ayam akan terlebih dulu dilumuri garam. Setelah daging menjadi lebih empuk dan kadar airnya berkurang, barulah ia dimasak dengan kuah yang dibuat dari rempah seperti ketumbar, cabe, kemiri, merica, lengkuas, sereh, kunyit, bawang putih dan merah, serta santan.

Dalam penyajiannya, ayam lodho umumnya dihidangkan dengan nasi gurih, atau racikan nasi yang agak mirip dengan nasi uduk. Sebagai sayurnya, kerap pula ditambahkan sayur urap yang berisikan daun singkong, taoge, timun dan parutan kelapa.

Secara umum, tak diketahui secara pasti kapan makanan ini pertama kali muncul. Ada yang meyakini bahwa kuliner ini sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, karena ia berasal dari budaya persembahan sesajen kepada leluhur.

Budaya tersebut lazim disebut slametan njangkar, yang diadakan tiap sebulan sekali oleh para nelayan setelah munculnya bulan purnama. Berlangsungnya adat ini tak lepas dari kepercayaan warga saat itu kepada Nyi Roro Kidul, yang diyakini sebagai penguasa laut selatan Jawa.

Ayam Opor shutterstock
Ayam Opor yang lebih dikenal di banyak daerah di Jawa. Foto: shutterstock

Harapannya, dengan hajatan dan persembahan sesajen ini para warga yang berprofesi sebagai nelayan dapat senantiasa dilindungi saat melaut. Selain itu, mereka dapat pulang dengan selamat sambil membawa berkah hasil laut yang melimpah dan menguntungkan.

Dari budaya tersebut, makanan ini kemudian menjelma menjadi salah satu santapan merakyat yang masih terus dilestarikan dan diminati hingga kini. Cita rasa kuah yang kental, serta gurih dan pedasnya ayam menyatu harmonis dengan hangatnya nasi dan segarnya sayur urap.

Dan bisa dibilang, warung ayam lodho pak Yusuf merupakan salah satu yang berada di garda terdepan dalam mempopulerkan kuliner ini. Sejak kemunculannya pada 1987, warung ini mampu merintis jalannya menjadi warung penjaja ayam lodho paling populer.

Disinyalir, masakan ayam lodho Pak Yusuf masih terasa otentik dan mendekati resep dari leluhur di masa lalu. Maka jangan heran jika warung aslinya yang berada di kawasan jalan raya Kedunglurah, Trenggalek, ini masih kerap dipenuhi pengunjung, baik lokal maupun pendatang.

Meski demikian, warung ini berproses bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya bisa diterima dan disukai konsumen. Saat pertama kali membuka warungnya, pengunjung tidak langsung berbondong-bondong datang.

Awalnya, banyak yang mempertanyakan mengapa Yusuf, si empunya warung, berani menjajakan makanan yang hanya populer sebagai sesajen bagi kalangan tua warga setempat. Namun, ia bergeming dan terus berusaha menyempurnakan racikan ayam lodhonya.

Bisa dibilang, usaha ini hampir sepenuhnya merupakan usaha mandiri keluarganya. Ayam yang digunakan berasal dari peternakan yang dikelola keluarganya, dan beberapa rempah diambil langsung dari kebun di belakang warung tersebut.

Lambat laun, masakan ayam lodho Pak Yusuf mulai bisa diterima di lidah dan disenangi pengunjungnya. Perpaduan rasa gurih dan pedasnya dianggap pas dengan selera umumnya, terutama bagi warga sekitaran Jawa Timur.

Semakin lama, semakin banyak pula yang mendatangi warungnya. Dari yang tadinya hanya berupa bangunan kecil dan sederhana dari bambu, kini warung tersebut sudah berubah wujud menjadi bangunan permanen yang lebih luas untuk menampung banyaknya pengunjung.

Ayam Lodho Khas Trenggalek Pemkab Trenggalek
Ayam Lodho siap disantap. Foto: Humas Pemkab Trenggalek

Kendati demikian, resep, bahan baku serta cara penyajiannya masih sama dari dulu. Di bawah pengelolaan Ayub, sang anak, beberapa upaya menjaga kualitas masakan ayam lodho pak Yusuf meliputi bahan baku yang dipasok mandiri, cara memasak yang menggunakan tungku kayu bakar, dan sebagainya.

Hal ini membuatnya amat disenangi warga setempat maupun pelancong karena dianggap masih terasa otentik hingga kini. Bahkan karena tingginya permintaan, akhirnya mereka membuka beberapa cabang di kota-kota tetangga, seperti Tulungagung, Kediri, dan Blitar.

Dari pilihan menunya, dalam satu porsi dengan nasi dan sayur urapnya, dibagi berdasarkan ukuran sepotong ayamnya: kecil, reguler, medium dan super. Masing-masing dihargai dari Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu, yang bisa disantap langsung atau dibungkus sebagai nasi kotak.

Pengunjung juga bisa memesan ayam atau sayur urapnya secara terpisah. Tak hanya itu, ada juga pilihan untuk memesan ayam satu ekor utuh, dengan pilihan ukuran kecil, reguler, medium, super dan jumbo yang harganya mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 130 ribu.

Tak mengherankan bila kini pelanggannya begitu beragam. Mulai dari warga lokal yang sekedar menikmati santap pagi, siang atau malam, turis yang ingin mencoba kuliner otentik, hingga pesanan-pesanan nasi kotak untuk acara tertentu, bahkan pesanan dari luar kota.

Ayam lodho pak Yusuf buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 22.00. Karena buka dari pagi, maka warung ini hampir bisa dipastikan selalu ramai dari sejak waktu sarapan, makan siang hingga makan malam, sehingga disarankan untuk datang lebih awal di jam-jam tersebut.

Ayam Lodho Pak Yusuf

Jl. Raya Kedunglurah, Trenggalek

Telp. (0355) 879311 / 081335123770

Instagram @ayamlodho

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Sate Gebug Malang, Setusuknya Rp 25 Ribu

Sate Gebug Malang sudah mulai berjualan sejak 1920.

Sate Gebug Malang tak ada hubungannya dengan perkelahian, meski namanya menyiratkan itu. Ini adalah warung makan dan kulinari legendaris di kota di jawa Timur tersebut. Usianya telah melewati satu abad.

Sate Gebug Malang

Nama tempat makannya Warung Sate Gebug. Di muka warung ada semacam spanduk kain dengan tulisan, salah satunya angka 1920. Rupanya ini merupakan pernyataan bahwa mereka sudah buka sejak tahun tersebut. Sate Gebug di Malang ini memang memiliki usia lebih dari 100 tahun karena berdiri sejak 1920. Mereka mampu bertahan selama berpuluh tahun lamanya, sehingga tempat makan di Malang ini memiliki pelanggan beragam dan datangnya dari berbagai kota di Indonesia. Dari awal buka, Sate Gebug belum pindah tempat sama sekali.

Warung sate legendaris itu berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat 113 A, Malang, Jawa Timur https://www.agendaindonesia.com/bakwan-malang-1-nama-berasosiasi-ke-2-jenis-makanan/. Dilihat dari luar, warung berukuran sekitar 7 X 8 meter itu tidak berbeda jauh dengan warung-warung pada umumnya. Perbedaan baru akan dilihat jika sudah masuk ke dalamnya.

Rupanya bangunan warung ini mengalami sedikit tata letak. Awalnya rumah atau ruang aslinya hanya berukuran 3X3 meter yang posisinya ada di dalam. Itu adalah bekas bangunan peninggalan Belanda. Pada mulanya bangunan “di dalam” warung inilah yang menjadi tempat berjualan.

Seiring berjalannya waktu, warung itu melengkapi dirinya dengan semacam teras untuk pengunjung menikmati makanan yang mereka pesan. Bangunan di dalam warung itu yang dijadikan tempat untuk meracik masakan yang disajikan kepada pengunjung. Belakangan teras itu pun menjadi bangunan tersendiri. Itulah sebabnya bangunan awal warung itu tidak tampak dari luar. Bangunan awal pada warung itu sudah ditetapkan menjadi cagar budaya.

Adalah pasangan suami istri Yahmon dan Karbuwati, keduanya kini sudah meninggal, yang pada 1920 membeli bangunan tersebut dari pemiliknya yang merupakan orang Belanda. Pemilik aslinya menggunakan bangunan itu sebagai tempat penjualan es. Pada akte bangunan yang bertahun 1910, memang disebut itu adalah toko es batu. Setelah dibeli, Yahmon sekeluarga lantas menggunakannya untuk berjualan sate.

Lalu apa yang khas dari warung sate ini? Secara umum mereka berjualan empat menu utama yang semuanya berbahan baku daging sapi, yaitu sop, soto, rawon dan sate gebuk. Semuanya enak, namun yang istimewa adalah sate sapi gebuknya. Cita rasa yang khas dari satenya membuat warung itu terus mendapat banyak pelanggan. Saat ini warung tersebut sudah dikelola oleh generasi ke-3.

Sate di sini tidaklah dibuat dengan cara memotong-motong dadu daging sapinya. Namun daging sapi dipotong agak besar dan diiris agak melebar. Lantas, nah ini istimewanya, dagingnya lantas “digebugi” atau mungkin lebih tepat digepuki dengan kayu ulekan untuk sambel. Digepuki secara perlahan untuk melepaskan jaringan otot yang mungkin terikut di daging. Proses penggepukan inilah yang membuat satenya menjadi lebih empuk.

Setelah digepuki, dagingnya menjadi pipih seperti daging dendeng. Seluruhnya lantas direndam dalam ramuan bumbu. Sesudah beberapa waktu direndam, daging-dagingnya mulai ditusuki dengan lidi bambu. Terlihat besar-besar, sepintas satu tusuk yang sudah selesai mirip sate buntel dari Solo. Satu kilogram daging rata-rata bisa menjadi delapan atau sembilan tusuk saja.

Daging yang dipilih pun bukan dari sembarang bagian, tapi khusus daging has atau lulur dalam, atau sering disebut tenderloin. Bagian daging sapi yang minim lemak. Karena pilihan jenis dagingnya, warung ini konon sampai harus menggunakan empat pemasok. Kabarnya mereka memilih tidak berjualan jika tidak tersedia daging yang sesuai resep aslinya.

Sikap tersebut konon ditanamkan almarhum pak Yahmon kepada anak-cucunya. Kualitas bahan penting untuk mempertahankan mutu dan kelezatan masakan yang sudah diharapkan pelanggan. Sikap inilah yang konon membuat mereka harus mencoret salah satu menu makanan. Menu lodeh yang menggunakan lodeh tewel merah harus dihapus karena bahannya tidak ada.

Dalam sehari, warung sate ini bisa menghabiskan 20 hingga 40 kilogram daging has dalam. Biasanya, mereka buka sejak pukul 8 pagi dan tutup pada jam 4 sore. Sedangkan untuk hari Jumat dan hari besar Islam warung ini tutup.

Melihat ukurannya, sate gebuk yang masih ada lemaknya dijual dengan harga Rp 25 ribu satu tusuknya. Sedangkan sate gebuk yang tanpa lemak harganya Rp 30 ribu per tusuknya. Masakan lainnya, sop, soto dan rawon, harganya dibandrol Rp 15 ribu per mangkok.

Bagaimana, tertarik mencoba menu sate gebuk? Ayo agendakan mencobanya jika punya kesempatan mampir ke Malang.

agendaIndonesia

Dari Teluk Bone, 4 Masakan Yang Asam Gurih

Dari Teluk Bone di Sulawesi Selatan, ada masakan yang khas kawasan ini. Sulawesi dan ikan laut rasanya seperti pasangan yang tak terpisahkan. Itu yang ada di benak kami ketika menyambangi Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Dari Teluk Bone

Kabupaten Luwu Timur yang beribukota di Malili posisinya di Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Kota ini berada di tepi Teluk Bone. Selain Malili, kota yang paling dikenal tentu saja Soroako, kota kecamatan yang menghadap ke danau Matano yang indah.

Kota ini berjarak sekitar 500 kilometer dari Makassar. Sejak tiba di Soroako, Kecamatan Nuha, petugas hotel yang kami inapi sudah mewanti-wanti agar mencicipi kapurung, sajian semacam sup yang populer di Luwu. “Di sini, kapurung ada di dekat pasar, tapi biasanya buka di pagi hari,” kata Roni, pegawai hotel tersebut.

Atas rekomendasi ini, keesokan harinya masakan inilah yang pertama kami buru. Selanjutnya, baru saya mencicipi aneka hidangan ikan dan sayur yang khas.

Kapurung yang Kenyal

Setelah menikmati sejumlah “pantai” yang terkenal di tepi Danau Matano, lanskapnya d seperti pantai meskipun berada di tepi danau. Kami lantas singgah ke Kapurung Musdalifah, ini semacam warung rumahan di Jalan Incoiro, Soroako.

Warung itu berseberangan dengan asrama anggota Brigade Mobil. Teras rumah pemilik warung dimanfaatkan sebagai tempat makan. Kami pun menyantap kapurung hangat tanpa basa-basi.

Hidangan semacam sup ini banyak dijajakan di Luwu dan sekitarnya. Kapurung diolah dari sagu yang tumbuh melimpah di sini. Tanaman khas wilayah Indonesia timur itu dicampur dengan air dan dimasak hingga kenyal, lalu dibentuk bulat-bulat. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam kuah ikan yang telah dibumbui terasi, cabai, dan paccukka, yang merupakan campuran asam patikala, belimbing, dan mangga muda.

Rasanya kenyal, segar, dan asam. Kapurung terkadang diberi tambahan sayuran, seperti kangkung, kacang panjang, tomat, jagung muda, terung, daun pakis, dan bayam. Disajikan hangat-hangat, kapurung enak di- makan sendiri ataupun dipadu dengan ikan bakar.

Kapurung Musdalifah

Jalan Incoiro, Soroako Luwu Timur

Dari Teluk Bone wisatawan bisa mengunjungi Danau Matano dan menikmati kuliner di kawasan itu.
Dari Teluk Bone, bisa mampir ke Danau Matano untuk mencicipi keindahannya dan kulinernya. Foto: ilustrasi-shutterstock

Segarnya Parede

SOROAKO terletak di pegunungan. Kalau betul-betul mau mencoba masakan ikan daerah Luwu, kita harus menuju tepi laut. Maka, kami melanjutkan petualangan kuliner ke Malini di tepi Teluk Bone. Daerah ini bisa dicapai dalam satu jam bermobil dari Soroako. Kami mampir di Rumah Makan Aroma Laut, yang sering jadi tempat bupati dan pejabat daerah mengadakan pertemuan.

Pegawai rumah makan menunjukkan sejumlah ikan yang bertumpuk di kotak pendingin. “Ikannya masih segar, baru saja tiba,” kata dia meyakinkan kami. Saya memilih seekor ikan kakap. Karena ikan itu besar, dia menyarankan untuk membaginya dalam beberapa jenis masakan: ikan bakar, ikan goreng, dan parede. Kami mengiyakan. Sekitar seperempat jam kemudian, semua hidangan tersaji di meja.

Rumah makan itu tepat di tepi teluk dan menjorok ke pantai. Matahari yang terbenam di Teluk Bone menemani kami menyantap habis semua sajian, termasuk parede. Ini tak lain sup ikan khas masyarakat Luwu dan Palopo.

Ikan yang digunakan biasanya ikan laut, seperti kakap dan lamuru terutama bagian kepalanya. Ikan direbus bersama bumbu kunyit, ratca (serutan mangga muda dengan sambal terasi), cabai, dan asam patikala. Kuahnya kuning pucat, rasanya asam bercampur pedas. Rasa yang khas keluar dari asam patikala dan mangga muda. Aroma harum juga berasal dari asal patikala. Parede biasanya disajikan hangat sebagai lauk untuk nasi.

Aroma Laut

Lampia, Malili
Luwu Timur


Lawa’, Sayuran Yang Khas

LAWA’ (baca: lawak) adalah makanan  khas Luwu yang mirip urap. Bahan da- sarnya daging ikan yang dihancurkan dan sayuran, semisal pakis. Ada juga yang menggunakan jantung pisang. Pakis terlebih dulu direndam dalam cuka atau perasan jeruk nipis. Bahan itu lalu dicampur dengan bumbu parutan kelapa yang sudah ditumis bersama garam, cabai, dan bawang merah.

Rasanya asam, gurih, dan pedas. Lawa’ biasa disajikan dengan ruji atau dange, yakni sagu bakar. Lawa’ juga menjadi sajian yang sering kali dipadukan dengan kapurung.

Aroma Laut

Lampia, Malili Luwu Timur

Dange, Padanan Lawa’

Di Luwu Timur, sagu diolah menjadi beragam sajian, seperti kapurung dan dange. Sagu bakar atau dange memang telah menjadi hidangan khas baik di Luwu Timur maupun Luwu Utara. Dibuat dengan cara dipipihkan hingga menjadi lempengan tipis.

Rasanya hambar dan agak keras. Karena itu, dange dipadu dengan olahan lain, misalnya lawa’ dan sup ikan. Dange tergolong tahan lama, sehingga sering menjadi bekal para nelayan untuk melaut.

Aroma Laut

Lampia, Malili, Luwu Timur

agendaIndonesia/Pernah Diterbitkan di TL

*****

Sarapan Tradisional Bangkalan, 3 Yang Perlu Dicoba

Sarapan Tradisional Bangkalan Madura perlu dicoba selain bebek Sinjay ada 3 pilihan lain.

Sarapan tradisional Bangkalan di pulau Madura mungkin banyak orang akan langsung terpikir nasi bebek Sinjay yang memang sudah sangat kondang. Namun, sesungguhnya, Bangkalan tidak cuma mempunyai bebek, ia juga punya sejumlah masakan untuk sarapan. Jika cukup punya waktu, pesan saja bebeknya untuk dibungkus dan dibawa pulang, sementara sarapannya coba yang lain.

Sarapan Tradisional Bangkalan

Bangkalan, kota yang berada di Pulau Madura tapi dapat dicapai dalam waktu satu jam dari Surabaya via Jembatan Suramadu ini, sesungguhnya mempunyai pilihan segudang menu sarapan.

Namun, dalam perjalanan singkat ke Madura dan Jawa Timur, saya menemukan satu titik yang menyajikan tiga menu pilihan khas. Selain lokasinya berdekatan, yakni di ujung Jalan KH Hasyim Asyari yang tidak jauh dari SMPN 2 Bangkalan, harganya juga tidak menguras kantong. Semua di bawah Rp 10 ribu. Ketiganya adalah nasi jagung, topak lodeh, dan tajin Sobih.

Ke tiganya bisa menjadi alternatif pilihan sebelum melanjutkan perjalanan ke Madura. Baik ke Pamekasan untuk berburu batik, atau sekedar jalan-jalan di seputar kota Bangkalan sebelum kembali ke Surabaya atau tujuan perjalanan lainnya di Jawa Timur.

sarapan tradisional Bangkalan menjadi lebih mudah sejak adanya Jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Foto:shutterstock

Nasi Jagung Ikan Tongkol

Dalam bahasa daerah, orang Madu
ra menyebutnya nasek ampog. Jagung memang bahan makanan yang lekat dalam keseharian masyarakat Pulau Madura. Karena itu, tak mengherankan muncul olahan bernama nasi jagung. Menu olahan beras ini dicampur dengan jagung pipilan yang telah dikeringkan dan ditumbuk. Menu ini lahir karena kesulitan beras pada masa lalu, tapi kini tetap enak dinikmati karena menjadi sajian khas di pagi hari.

Dulu, nasi jagung diolah dengan lebih banyak beras dibanding jagung. Namun dalam perjalanan kali ini saya menemukan Ibu Astuti. Pedagang nasi jagung yang telah berjualan selama delapan tahun di ujung Jalan Hasyim Asyari tersebut menyebutkan menggunakan
1,5 kilogram beras dengan 1 kilogram jagung yang sudah dikeringkan.

Nasi jagung ditempatkan di wadah, bersebelahan dengan lauk pauk dan sayuran padanannya. Pagi itu, saya menemukan lauk berupa tongkol sengkeseng atau ikan tongkol yang ditumis dengan tomat, bawang merah, plus sayuran. Satu bungkus yang cukup mengenyangkan itu dia banderol hanya Rp 8.000. Ia berjualan sejak pukul 06.30. Biasanya, pukul 08.00 dagangannya sudah habis.

Meski tergolong tidak banyak lagi yang berjualan, nasi jagung masih bisa ditemukan di beberapa tempat. Astuti menyebutkan lokasi itu ada di Pasar Sorjen, Bangkalan.

Topak Lodeh Nan Gurih

Bersebelahan dengan penjual nasi jagung, saya menemukan ibu yang berjualan dengan menu khas lain, yakni topak lodeh. Rupanya makanan ini merupakan perpaduan potongan ketupat atau lontong dengan sayur lodeh. Uniknya, kuahnya dibuat kental dengan rasa gurih. Sehingga rasanya nikmat benar di lidah. Penjaja juga menjualnya dalam wadah bambu.

Selain berisi lontong atau ketupat, dalam wadah yang disekat daun pisang itu ada juga tambahan berupa jagung tumbuk, kerupuk kulit kuah lodeh, sayur pepaya muda berkuah kental karena menggunakan santan dan tepung beras,

serta parutan kelapa yang disangrai dengan irisan cabe merah. Ibu Sukarni, sang penjaja makanan ini, berjualan pukul 05.00-08.00. Harganya juga cukup irit untuk sarapan, yakni Rp 6.000. Jenis penganan ini juga bisa ditemukan di Pasar Senen, Bangkalan.

Si Manis Tajin Sobih

Bila ingin yang manis, pilihannya adalah tajin Sobih. Nama belakang dari tajin atau bubur itu adalah nama desa di Kecamatan Bangkalan. Nah, sebagian besar pedagang bubur Sobih di Bangkalan ternyata berasal dari desa itu. Saya mendapati Ibu Khoiriyah, salah seorang penjual bubur Sobih, di seberang pedagang topat lodeh dan nasi jagung. Berbekal bakul dari anyaman bambu, ia berjualan mulai pukul 05.00 hingga 10.00.

Tajin Sobih tak lain terbuat dari bubur sumsum dengan guyuran gula merah cair. Namun ada tiga panci kecil yang dipadu menjadi teman tajin Sobih dengan warna berbeda-beda, yakni bubur srintil dan bubur mutiara santan. Bungkus menu sarapan yang manis ini juga menggunakan daun pisang. Harganya per pincuk hanya Rp 3.000. Penjual menu ini tergolong banyak, dari yang nangkring sampai berkeliling.

agendaIndonesia

****

Kuliner Yogyakarta, 7 Yang Pedas Menyengat

Jogja Fashion Week 2022 diselenggarakan di tiga venue.

Kuliner Yogyakarta persepsi orang selalu dikaitkan dengan gudeg, masakan berbahan nangka muda dengan rasa dominan manis. Bahkan semua masakan di kota pelajar ini cenderung dipersepsikan makanan yang manis. Tapi, betulkah demikian?

Kuliner Yogyakarta

Ternyata tak semua sajian di kota ini berasa manis, ada pula olahan yang membuat lidah terasa terbakar. Rasanya ada kuliner yang perlu Anda coba bila bepergian ke Yogyakarta, dan mencari alternatif selain gudeg.

Gudeg tentu jangan sampai dilewatkan, namun kali ini kami coba mengenalkan warisan kuliner Yogyakarta selain gudeg. Cukup banyak warung yang melejit dan ramai dikunjungi karena keberanian menggunakan cabai dalam olahan maskan andalannya. Berikut tujuh yang mungkin bisa dikunjungi.

Entok Slenget Kang Tanir

“Entok”dalam bahasa Jawa adalah sebutan untuk itik manila, sedangkan “slenget”berarti rasa yang menyengat. Kang Tanir memberi nama warungnya sesuai dengan spesialisasinya memasak rica-rica itik pedas yang mampu menyengat lidah pembelinya. Lokasi warung kuliner Yogyakarta ini terletak di daerah Turi. Dari pusat Kota Yogya, setidaknya 45 menit berkendara menuju warung ini.

Kuliner Yogyakarta tak cuma gudeg, tapi juga entok yang pedas menyengat.
Entok Slenget Pak Tanir, tampilan bisa buruk, tapi rasa bisa bikin kangen. Foto: Dok. TL

Meskipun jauh, dijamin tidak akan menyesal berkunjung ke mari. Kanan-kiri jalan dipenuhi hamparan sawah dan kebun salak pondoh. Pada akhir pekan, jalanan menuju Turi akan disesaki kendaraan yang hendak berwisata di lereng Gunung Merapi di Kaliurang.

Warung Kang Tanir buka pukul 16.30, di mana udara Turi menjadi cukup dingin menjelang gelap. Jadi ini saat yang tepat untuk memesan sepiring entok slenget dengan nasi panas. Anda bisa meminta tingkat kepedasan yang sesuai toleransi lidah.

Biasanya kang Tanir akan mengambil beberapa cabai rawit untuk ditumbuk kasar. Lalu dimasukkan ke dalam satu wajan berisi potongan entok yang telah direbus sebelumnya. Setelah ditambah kecap dan bumbu lain, semua campuran itu dimasak dengan api besar.

 Entok slenget dibanderol Rp 30 ribu per porsi, termasuk nasi, sepiring potongan kubis mentah dan mentimun segar, plus teh atau jeruk hangat. Jika hendak berkunjung di akhir pekan, pastikan Anda datang lebih awal. Sebab, hanya dalam waktu 2-3 jam, stok daging entok bisa ludes seketika. Ada pula pilihan lain, thengkleng entok, yang ini cukup banyak tulangannya.

Entok Slenget Kang Tanir; Pasar Agropolitan Pules, Donokerto, Turi, Sleman.


Penyetan Mas Kobis

Sekitar 10 tahun lalu, warung Penyetan Mas Kobis hanya menempati sepetak poskamling di daerah Universitas Negeri Yogyakarta. Warung ini menjadi andalan mahasiswa, terutama yang doyan pedas. Namun sekarang, warung ini memiliki tempat yang luas dan banyak cabang sehingga menjangkau berbagai kalangan.

Kuliner Yogyakarta ternyata menyimpan masakan-masakan yang berasa pedas.

Penyetan Mas Kobis menyediakan menu berupa ayam, tahu, tempe, telur, ikan nila, ati ampela, dan lele dengan kisaran harga Rp 5 ribu-20 ribu. Buka pukul 11.00- 23.00. Jangan lupa selalu cantumkan seberapa pedas sambal yang Anda inginkan. Dua atau 20 cabai pun akan tetap dilayani. Cabai-cabai ini ditumbuk kasar dengan bawang putih, lalu ditambah sedikit minyak goreng panas. Kemudian lauk yang Anda pesan akan digeprek atau dihancurkan di dalam cobek berisi sambal bawang tadi. Bahkan, jika Anda memesan terung atau kol goreng pun, akan turut digeprek. Hasil akhir penampakan menu di warung ini memang terkesan berantakan. Tapi itulah ciri khas Penyetan Mas Kobis selama bertahun-tahun. Meskipun tak menarik dilihat, tidak berarti tak sedap di lidah, bukan?

Penyetan Mas Kobis; Jalan Pandega Marta, Mlati,Yogyakarta

Kebelet Belut

Tidak semua orang menggemari masakan belut. Sebagian bahkan merasa jijik dan geli membayangkan hewan aslinya yang licin dan hidup di sekitar sawah. Tapi tak sedikit pula yang menyukai daging belut karena lembut dan gurih. Jika Anda termasuk di dalamnya, cobalah kuliner Yogyakarta yang khas dengan mampir ke warung Kebelet Belut yang memiliki berbagai olahan masakan belut.

Ada belut goreng kering yang dicampur dengan sambal merah atau sambal hijau dalam satu cobek. Ada pula belut goreng yang dihidangkan terpisah dengan sambal bawang pedas. Bosan dengan goreng-gorengan, cobalah varian lain, yaitu garang asem belut dengan cita rasa asam manis karena dimasak menggunakan belimbing wuluh dan santan.

Sebagai makanan berkolesterol tinggi, kerap kali sambal belut disandingkan dengan potongan bawang putih mentah sebagai penurun kolesterol secara alami. Meskipun berspesialisasi mengolah belut, warung ini juga menyediakan lele dan ayam goreng.

Kebelet Belut; Jalan Ipda Tut Harsono 42, Timoho; Yogyakarta

Iwak Kalen

Iwak kalen dalam bahasa Jawa artinya ikan kali atau sungai kecil. Warung ini memang khusus menyediakan makanan yang berasal dari ikan sungai dan tambak. Menu andalannya adalah ikan wader, udang air tawar, dan ikan kutuk, atau populer sebagai ikan gabus.

Kuliner Yogyakarta sangat beragam dari yang manis hingga yang pedas. Dari ayam hingga ikan sungai.
Iwak kalen yang berarti ikan dari kali atau sungai kecil seperti ikan wader. Foto: Dok. TL

Tak ketinggalan juga aneka sambal disediakan, seperti sambal tomat segar, sambal terasi matang, sambal bawang, dan sambal kecap. Anda juga bisa memilih apakah lauk akan digoreng, dibakar, ditumis bersama sambal, dimasak mangut pedas, atau dibuat sup.

Lokasinya bersebelahan dengan persawahan dengan suasana perdesaan yang kental. Bagi wisatawan atau pengunjung yang suntuk dengan hiruk-pikuk perkotaan, warung Iwak Kalen bisa menjadi pilihan. Makan enak sembari memanjakan mata.

Iwak Kalen; Jalan Godean KM 9, Gang Mandungan, Genitem, SidoagungGodean, Sleman

Oseng-oseng Mercon Bu Narti

Istilah mercon digunakan banyak kuliner di Jawa Tengah, Yogya, dan Jawa Timur untuk menunjukkan masakan yang dijual biasanya sangat pedas. Jika berkunjung ke warung bu Narti di kawasan Kauman, orang akan langsung paham jenis masakan apa yang dijual: orang-orang yang sedang makan dengan raut wajah terengah-engah dan mata setengah melotot. Tak sedikit yang makan sambil mengelap peluh di keningnya.

Inilah efek menyantap oseng-oseng mercon. Makanan kreasi Bu Narti ini kini telah menjadi kuliner khas Yogyakarta. Berdiri sejak 1998 warung ini terkenal hingga ke berbagai kota, menarik setiap pejalan untuk mencoba.

Dilihat dari bentuknya, hidangan yang disajikan biasa saja. Hanya nasi putih panas ditemani oseng-oseng sederhana berisi kikil, gajih, kulit, dan tulang muda. Orang Jogja menyebutnya koyoran. Terlihat sangat berminyak, ditambah kepungan irisan cabai rawit yang bijinya menempel di koyoran.

Masakan ini karena sangat berminyak akan cepat membeku. Ngendal kata orang Jawa. ngan lemak yang begitu banyak. Maka makanlah dengan cepat. Panas nasi putih juga bisa membantu memperlambat proses pembekuan lemak. Toh, makan mercon selezat ini mana bisa lambat-lambat, semua gerak cepat. Jika tak kuat dengan serangan rasa pedas, ada menu lain seperti ayam, burung puyuh, dan lele.

Oseng-oseng Mercon Bu Narti; Jl. KH ahmad Dahlan, Gang Purwodiningratan, Yogyakarta

Gudeg Mercon Bu Tinah

Satu lagi masakan yang memajang kata mercon di sajiannya. Kali ini adaptasi dari kuliner Yogyakarta, gudeg. Jadi ini gudeg yang tidak sekadar manis.

Gudeg Mercon Bu Tinah yang terletak di Jalan Asem Gede di kawasan Kranggan ini merupakan warung gudeg favorit.

Sebenarnya banyak warung gudeg, namun, warung Gudeg milik Bu Tinah ini sangat populer dan termasuk salah satu pilihan bagi mereka yang tak terlalu suka makanan manis.

Gudeg buatan Bu Tinah ini bisa dibilang tidak biasa dan punya keunikan. Gudegnya memiliki citarasa yang pedas dengan kuah santan yang kental dan gurih. Rasa pedas Gudeg ini sangat dominan. Rasa pedasnya nendang banget, ini berasal dari oseng-oseng mercon kreceknya.

Dimana krecek tersebut ditabur dengan ranjau cabai rawit yang ekstra pedas. Belum lagi dengan tambahan sayur lombok ijo yang membuat makanan ini pedasnya meledak di mulut. Meski terkenal dengan rasa pedasnya, Gudeg ini tetap memiliki rasa manis.

Warung Bu Tinah ini buka setiap malam dan memiliki pelanggan yang lumayan banyak. Terutama setiap malam minggu tak pernah sepi pengunjung. Warungnya sangat sederhana, yaitu berupa warung tenda di pinggir trotoar.

Gudeg Mercon Bu Tinah; Jalan Asem Gede, Jetis, Yogyakarta

Jadi kalau ke Yogyakarta dan ingin membakar lidah, jangan lupa agendakan mencicipi kuliner pedas ini ya.

agendaIndonesia

*****

Nusa Penida Bali, Ini 6 Tempat Wajib Dikunjungi

Tenun Rangrang adalah produk kerajinan dari masyarakat Nusa Penida, Bali,

Nusa Penida Bali semakin banyak dikunjungi wisatawan. Ikon berupa pantai dengan karang yang membentuk jari kelingking menjadi potret yang banyak diburu wisatawan.

Nusa Penida Bali

Nusa Penida sendiri adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara pulau Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung dan masuk ke dalam Kabupaten Klungkung. Di dekat pulau ini terdapat juga pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Dua pulau ini relatif lebih dulu dikenal oleh wisatawan. Perairan pulau Nusa Penida terkenal dengan kawasan selamnya di antaranya terdapat di Crystal BayManta Point, Batu Meling, Batu Lumbung, Batu Abah, Toyapakeh, dan Malibu Point.

Pulau kecil tersebut saat ini praktis termasuk tempat wisata pantai atau laut yang masih alami di Bali. Untuk ke Nusa Penida saat ini makin mudah, karena semakin banyak paket tur ke sini dan adanya layanan fast boat ke pulau ini.

Cara paling umum ke Nusa Penida adalah dengan fastboat dari Pantai Sanur. Dari pantai ini ada fastboat yang berangkat tiap satu atau dua jam sekali. Tergantung perusahaan fastboat yang mengelola. Pantai Sanur bukan satu-satunya tempat memilih fastboat ke Nusa Penida, wisatawan juga bisa menumpang kapal cepat ini dari Tanjung Benoa.

Dari ke dua tempat di daratan pulau Bali, Wisatawan akan menyeberang menuju Pelabuhan Banjar Nyuh di Nusa Penida. Jika memilih jalan sendiri tanpa menggunakan jasa biro perjalanan, pengunjung bisa menyewa mobil atau sepeda motor di sekitar Banjar Nyuh. Ini perlu sebab di pulau ini tidak ada kendaraan umum yang bisa membawa ke sumlah spot wisata.

Lalu, apa saja yang paling menjadi primadona Nusa Penida? Berikut enam daerah wisata di Nusa Penida yang paling sering dikunjungi wisatawan.

Nusa Penida Bali, salah satu yang menjadi ikonnya adalah Pantai Kelingking, yang fotonya tersebar ke seluruh dunia.
Pantai Kelingking di Nusa Penida Bali, kini menjadi salah satu ikon wisata pulau Dewata. Foto: Unsplash

Pantai Kelingking

Pantai Kelingking atau Karang Dawa terletak di Desa Buga Mekar. Pantai ini bisa disebut ikonnya Nusa Penida. Hampir semua travel inflencer Indonesia pernah melakukan sesi pemotretan di sini. Lanskap utamanya berupa laut dan tebing karang. Salah satu tebing karang di Nusa Penida berbentuk seperti jari kelingking. Konon, sarat akan nilai historis. Untuk menuju Pantai Kelingking, wisatawan harus getol bertanya kepada warga sekitar. Sebab, lokasinya tak tertangkap baik oleh GPS. Wisatawan juga harus berhati-hati kalau membawa motor sendiri lantaran jalurnya rusak dan berkelok-kelok.

Broken Beach

Dari sejumlah pantai dengan karang bolong di Indonesia, Broken Beach atau Pantai Uug merupakan salah satu yang tereksotis. Potret pantai ini bila ditangkan menggunakan kamera udara tampak seperti sumur raksasa. Karang itu membentuk lingkaran yang besar dengan lubang menganga lebar di tengahnya. Di dalam lubang itu terdapat kolam air laut yang lebih mirip teluk. Broken Beach tak jauh-jauh amat dari Pantai Kelingking. Keduanya sama-sama berlokasi di Desa Bunga Mekar.

Nusa Penida Bali dengan salah satu ikonnya Angle's Billabong
Angel’s Billabong di Nusa Penida Bali. Foto: unsplash

Angel’s Billabong

Angel’s Billabong adalah pantai dengan karang yang membentuk koridor. Di tengah karang tersebut terdapat air laut dengan warna gradasi, yakni biru muda, biru tua, dan tosca. Berlokasi di Sakti, Nusa Penida, Angel’s Bilabong, 300 meter dari Brokeb Beach, pantai ini masuk daftar wajib kunjung. Apalagi buat penghobi renang. Airnya yang amat jernih membuat mereka ingin segeran menceburkan diri ke kolam alami itu.

Pantai Atuh

Pantai Atuh terdapat di Pejukutan, Nusa Penida. Pantai ini memiliki atmosfer yang sangat positif. Laut biru dengan gradasinya dapat langsung menyegarkan pikiran. Pantai Atuh hanya bisa dinikmati dari atas tebing. Dari sebrang tebing itu terdapat bukit-bukit kapur kecil yang wujudnya seperti lanskap di Raja Ampat.

Untuk menuju Pantai Atuh, wisatawan harus berjalan cukup jauh dari arah parkiran kendaraan. Jalurnya menurun dan cukup terjal. Namun perjalanannya tak akan terasa karena panorama sepanjang jalan cukup membikin berdecak kagum.

Pura Dalem Penataran

Nsua Penida tak cuma punya pantai. Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah pura. Salah satunya Pura Dalem Penataran. Pura tersebut berlokasi di Jalan Ped-Buyuk.

Suasana pura yang tergolong tertua itu kental dengan budaya Hindu-Bali yang khas. Bangunannya besar dan banyak memiliki ornamen. Pura Dalem cocok buat para turis yang doyan wisata kultur.

Nusa Penida Bali menjadi salah satu tujuan untuk diving dengan spotnya di Manta Point.
Manta Point sebagai salah satu tujuan diving di Nusa Penida Bali. Foto: Unsplash

Manta Point

Manta point sebenarnya merupakan titik untuk diving. Bisa ditempuh menggunakan spead boat dari dermaga Nusa Penida. Panorama bawah laut menjadi salah satu andalannya. Para penyelam di Manta Point dapat dengan jelas berenang dengan manta-manta atau pari raksasa. Bisa juga berenang bersama mereka.

Nah, kamu sudah mengepak koper atau ransel buat liburan ke Nusa Penida?

agendaIndonesia

*****

Tahu Telur Pak Jayen, Gurih Sejak 2007

Tahu Telur Pak Jayen menjadi salah satu pilihan kuliner malam di Surabaya. IG SurabayaFoodis

Tahu telur Pak Jayen beberapa tahun belakangan ini begitu tersohor sebagai salah satu pilihan kuliner malam di Surabaya. Rasanya yang gurih, porsinya yang mengenyangkan, serta harganya yang terjangkau menjadi daya tarik yang membuatnya selalu diburu.

Tahu Telur Pak Jayen

Secara umum, tahu telur memang merupakan salah satu jenis kuliner yang cukup lumrah ditemukan pada berbagai daerah di sekitar Jawa Timur. Juga beberapa daerah di Jawa lainya. Makanan ini juga kerap disebut tahu tek, yang disinyalir berasal dari suara tahu yang dipotong kecil-kecil.

Dari wujudnya, mungkin bisa dikatakan jika makanan ini punya kemiripan dengan ketoprak atau lotek. Ia terdiri dari tahu goreng, telur dadar, potongan timun, taoge, serta lontong dan kentang yang kemudian dilumuri dengan bumbu kacang yang mengandung petis dan bawang putih.

Tahu Telur Pak Jayen sesungguhnya adalah tahu tek.
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura Foto: shutterstock

Perpaduan dari tahu yang hangat dan empuk, segarnya taoge dan timun, serta gurihnya bumbu kacang dengan petisnya tersebut begitu menggoda lidah. Porsinya yang biasanya juga cukup banyak membuatnya terbilang cukup mengenyangkan.

Salah satu penjaja tahu telur yang terbilang paling populer saat ini adalah tahu telur Pak Jayen, yang telah melayani pelanggan setianya sejak 2007. Kedai tahu telur tersebut berada di kawasan Gubeng, tepatnya di jalan Dharmahusada.

Lokasinya berada tak jauh dari stasiun kereta api Gubeng dan Rumah Sakit Dr. Soetomo. Awalnya, tempat mereka berjualan digunakan bergantian oleh pedagang gudeg di pagi hari dan jasa pencuci mobil di siang hari, sehingga mereka baru buka saat sore hingga malam.

Hal tersebut justru menjadi peruntungan tersendiri, tatkala pengunjung mulai ramai berdatangan memenuhi kedai ini. Usut punya usut, meski tahu telur sendiri terbilang kuliner yang cukup umum di kota pahlawan tersebut, ada sejumlah keunikan yang dimilikinya.

Yang pertama dan utama adalah cita rasanya yang begitu unik dan nikmat. Paduan bumbu kacang, petis dan bawang putihnya beraroma sangat khas dan terasa kental, gurih nan menggigit di lidah. Cita rasa ini rupanya begitu digemari oleh warga Surabaya.

Cita rasa bumbunya tersebut selalu dijaga agar senantiasa terasa fresh. Kerap kali mereka baru membuat bumbu ketika akan menghidangkan makanan, dengan racikan petis dari Sidoarjo dan bawang putih yang secara khusus sudah disiapkan.

Tahu Telur Surabaya shutterstock
Tahu Telur Surabaya dengan rasa gurih dari petis. Foto: shutterstock

Kemudian porsinya yang terasa pas, tidak terasa kurang maupun berlebihan. Sebagai kuliner malam hari, Tahu Telur Pak Jayen cocok sebagai hidangan main course saat makan malam, tetapi juga masih nikmat sebagai kudapan yang cukup mengisi perut kala malam mulai larut.

Umumnya ada tiga jenis menu tahu telur yang disediakan. Tahu telur komplit, tahu tek tanpa telur, serta tahu telur porsi jumbo. Untuk tahu telur komplit dan tahu tek tanpa telur dihargai Rp 20 ribu, sedangkan untuk yang porsi jumbo harganya Rp 25 ribu.

Lain dari itu, pengunjung juga dapat memesan tahu telurnya sesuai selera. Mulai dari tingkat kepedasan dan jumlah cabe yang digunakan, isi kondimen yang diinginkan atau tidak, sampai detail kecil seperti kerupuk yang digabung atau dipisah.

Satu hal lain yang cukup unik di Tahu Telur Pak Jayen, bila meminta kerupuk untuk dipisah, biasanya pembeli akan diberikan sekantung plastik kerupuk berukuran besar, terutama bagi yang memesan untuk dibawa pulang. Saat masuk ke dalam kedai, kerap terlihat tumpukan plastik berisi kerupuk tersebut.

Beberapa hal tersebut menjadikan tahu telur Pak Jayen sebagai salah satu kuliner tahu telur paling tersohor di Surabaya. Walaupun hanya buka dari sore sampai malam, tak jarang pengunjung hingga mengantri, bahkan mendekati tengah malam.

Lontong Balap Surabaya shutterstock
Tahu telur mirip dengan lontong balap, berbeda dikuahnya. Foto shutterstock

Oleh karenanya, dibuka pula sebuah cabang yang juga masih terletak di area jalan Dharmahusada. Lokasinya kini berupa kedai dengan bangunan permanen, untuk dapat melayani lebih banyak pengunjung.

Kendati terkadang harus antri memesan, begitu makanan telah dipesan biasanya akan datang sekitar 10-15 menit. Setiap pramusaji memiliki perannya sendiri, seperti pembuat bumbu, pemotong, penggoreng, dan seterusnya agar pesanan dapat cepat dihidangkan.

Tahu telur Pak Jayen buka dari jam 17.00 hingga jam 00.00, meski terkadang dikarenakan ramainya pengunjung bisa saja mereka tutup lebih awal karena sudah laris terjual. Sudah jadi maklum bila kedai terlihat ramai hingga jam 22.00 lebih, dipenuhi penggemar kuliner malam.

Selain itu, hingga kini kedai utamanya masih sering penuh hingga harus mengantri, sehingga tak ada salahnya untuk menyambangi cabang yang satu lagi jika sekedar ingin mencobanya. Toh secara cita rasa, tak ada bedanya dan dijamin tetap sama enaknya.

Tahu Telur Pak Jayen

Jl. Dharmahusada Indah I, Blok C no. 2, Surabaya

Jl. Dharmahusada no. 112, Surabaya

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****