3 Warung Legendaris Bandung yang Tetap Digandrungi

Mie Koclok Bandung

3 warung legendaris Bandung ini mungkin bisa menjadi pilihan saat mencari sarapan atau bahkan makan malam di ibukota Jawa Barat ini. Ada yang punya sejarah sangat panjang.

3 Warung Legendaris Bandung

Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum. Kira-kira begitulah kalimat gambaran kalimat untuk kemolekan tanah yang melingkupi Kota Bandung ini di mata sang budayawan kawakan, Martinus Antonius Weselinus Brouwer. Kalimat tersebut menyiratkan limpahan kekayaan alam yang tak ada habisnya dan dapat dinikmati secara komplet: melalui amatan dan pengecapan. Karena itu, urusan soal cecap-mencecap kuliner Bandung, tak perlu khawatir. Ada banyak penganan legendaris yang bisa dijajal dari pagi sampai malam. Di antaranya, tiga warung yang namanya cukup naik daun.

Kentang Ongklok Bu Eha andi prasetyo
Menu kuliner Bandung berupa kentang ongklok di Warung Nyonya Veteran, Bandung. Dok. TL

Sarapan di Warung Nyonya Veteran

Potret Soekarno berbingkai usang terlihat menyoroti gerik Nyonya Eha yang lincah menghitung harga lauk yang kudu dibayar pelanggannya. Di samping bingkai foto itu, terpajang sejumlah artikel koran harian yang memuat cerita tentang warung yang berlokasi di tengah Pasar Cihapit, kompleks Jalan Riau, ini. Salah satunya menyebut kalau si pemilik warung merupakan keluarga veteran. Mereka lantas bersahabat baik dengan istri kedua mantan Presiden RI—Soekarno—Inggit Garnasih. “Mertua saya dulu memang dekat sekali dengan Bu Inggit. Beliau dan anak-anaknya pak Karno, seperti Guruh dan Guntur, sering makan di sini,” tutur perempuan berusia 70-an itu, meyakinkan.

Dulu warung yang buka di kompleks perumahan Belanda itu jadi favorit para penggede pada masanya. “Warung ini buka sejak 1948 dan sempat vakum setahun karena keadaan politik yang genting,” tutur perempuan berkerudung itu. Menu utamanya ialah empal gepuk, perkedel, dan ati limpa yang dipertahankan sampai kini. Ada juga beberapa menu yang sudah dihilangkan, di antaranya kentang ongklok dan kastrol kacang merah. Hal ini disebabkan juru masaknya, yakni mertua Eha, tutup usia. Kini, menu makin bervariasi, tapi tetap menonjolkan ciri masakan Sunda, salah satunya pepes oncom. Warung yang buka sedari subuh ini bakal diserbu antara pukul 07.00 hingga 09.00. Selepas itu, menu sudah tak lengkap.

Warung Bu Eha

Alamat: Pasar Cihapit, Jalan Cihapit No. 8A, Cihapit, Bandung Wetan, Cihapit, Bandung Wetan

Harga mulai Rp 5.000 hingga Rp 40 ribu

Menikmati Siang di Lembang

Menjelang siang, mencicipi dinginnya Lembang sembari mengisi perut adalah harmonisasi yang hampir sempurna. Nasi timbel menjadi salah satu menu khas Sunda yang enak disantap di dataran tinggi ini.  Restoran yang menyediakan menu tersebut adalah Warung Hejo. Lokasinya kira-kira 300 meter dari De Ranch—peternakan kuda yang terbuka untuk umum. Sesuai dengan namanya, restoran ini mengangkat konsep budaya lokal. Hanya, bangunannya dipadukan dengan gaya Jawa. Di lahan yang tak lebih dari 200 meter persegi itu, berdiri rumah joglo dengan koleksi benda-benda kuno. Ada sepeda ontel, radio, dan motor klasik model Prancis. Sementara itu, di halamannya ada taman yang bisa digunakan untuk bersantap lesehan a la piknik keluarga.

Soal menu, Warung Hejo menyediakan berbagai olahan Sunda yang dikolaborasikan dengan sentuhan Jawa. Nasi timbel, misalnya. Paket nasi dibungkus daun pisang lengkap dengan komplemennya, yakni teri, tempe, tahu, ayam, dan lalapan, ini disandingkan dengan sayur asam berbumbu manis, seperti yang umum dimasak orang Jawa Tengah. Meski sentuhan khas Sunda masih dominan, utamanya dengan penambahan sambal cabai hijau. Ada juga menu lain, seperti ikan mas goreng, cimplung, karedok, dan pepes peda.

Warung Hejo

Jalan Kayu Ambon, Nomor 102, Kayu Ambon, Lembang, Bandung Barat

Harga mulai Rp 5.000 hingga Rp 50 ribu

Seduhan Malam Mi Kocok Bandung

Orang-orang bergantian keluar-masuk warung sederhana yang letaknya tak jauh dari perempatan Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan, Lengkong, itu. Kendaraan berjajar rapat, hampir menutupi pintu masuk. Kursi di dalam bangunan bergaya konvensional itu selalu penuh. Semua pengunjung sama-sama menunggu sang idola, yakni mi kocok. Ketika ditiriskan, asapnya mengepul, membumbungkan wangi yang membikin perut melintir lapar. Daun bawang, kikil, dan tauge berturut-turut dimasukkan ke mangkuk, menjadi teman mi. Begitu mendarat di meja, mi dengan kuah segar itu langsung habis dilahap.

Gaung Mi Kocok Mang Dadeng sudah terdengar sejak 1967. Dulu, orang tua Dadeng—yang kini namanya dipakai untuk warung itu—menjual mi kocok dengan gerobak yang dipikul. Ia berjualan keliling, dari rumah ke rumah. Hingga lama-lama, karena cita rasanya, mi itu kesohor. Mi kocok kemudian diteruskan kakak-kakak Dadeng, dan selanjutnya Dadeng, hingga 1990. Kini, warung itu sudah melewati generasi ketiga.

Mi Kocok Bandung Mang Dadeng

Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan Nomor 67, Turangga, Lengkong, Bandung

Harga mulai Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu

F. Rosana/A. Prasetyo/Dok. TL

Taman Buah Mekarsari, Wisata 264 Hektare

Taman Buah Mekarsari merupakan salah satu agrowisata terbesar di dunia.

Taman Buah Mekarsari bisa dibilang merupakan sentra pelestarian ragam buah-buahan tropis terbesar di dunia. Tak hanya eksis sebagai objek wisata saja, taman ini juga berfungsi sebagai pusat pembudidayaan serta penelitian berbagai varietas buah-buahan serta bibit-bibitnya.

Taman Buah Mekarsari

Tak kurang sekitar 100 ribu pohon yang terdiri dari 1.470 varietas buah-buahan yang kini dirawat dan dilestarikan di sini. Selain itu, beragam jenis sayuran, bunga dan tanaman hias lainnya juga dapat ditemukan di taman di kawasan Cileungsi, Jawa Barat ini.

Taman buah Mekarsari ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 264 hektare. Dulunya, lahan ini merupakan bekas perkebunan karet. Oleh mendiang Tien Soeharto, istri mendiang Presiden Soeharto, lahan ini kemudian diubah menjadi tempat percontohan, penelitian dan pembudidayaan buah-buahan.

Taman Buah Mekarsari juga menyediakan spot untuk mengenal fauna.
Berinteraksi dengan hewan sebagai edukasi utuk anak. Foto: DOk Taman Buah Mekarsari

Harapannya, taman ini dapat meningkatkan kualitas buah-buahan Indonesia. Di sisi lain, taman juga mampu membuka lapangan kerja dan edukasi bagi mereka yang ingin atau sedang bekerja di bidang perkebunan buah-buahan pada khususnya, dan juga masyarakat luas pada umumnya.

Lalu, taman buah Mekarsari ini juga diperuntukkan sebagai objek wisata yang menarik dan mengedukasi. Dan yang tak kalah penting, taman ini dapat menjadi alat promosi bagi hasil budidaya buah-buahan Indonesia, tidak hanya dalam skala nasional tetapi juga secara internasional.

Setelah pembangunan dimulai sejak, akhirnya pada 14 Oktober 1995 taman tersebut rampung dan resmi dibuka. Peresmian taman ini dilakukan oleh mantan presiden Soeharto kala itu, bertepatan dengan perayaan hari pangan sedunia.

Pada dasarnya, mayoritas buah-buahan musiman yang umum ditemui di Indonesia seperti jeruk, pisang, nangka, nanas, melon, durian, jambu biji, jambu air, duku, lengkeng, salak, markisa, mangga, alpukat, belimbing dan buah naga dapat ditemui di taman ini.

Namun, taman buah Mekarsari ini juga menjadi tempat pembudidayaan beberapa jenis buah-buahan yang cukup langka dan tidak banyak beredar, seperti sawo kecik, maja, kepel, kesemek, mundar, menteng, rukam dan lain-lainnya.

Rumah Pohon untuk menginap di Taman Buah Mekarsari.

Selain usaha pelestarian, taman ini juga menjadi sentra penelitian untuk mengkaji dan menguji bibit-bibit unggul dari buah-buahan tersebut. Bahkan pengunjung juga dapat membeli bibit unggul tersebut untuk ditanam sendiri, mulai dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Tak hanya itu, beberapa kajian yang dilakukan di taman ini juga meliputi eksperimen persilangan antara beberapa varietas buah-buahan, misalnya ‘nangkadak’ yang merupakan hasil dari persilangan antara buah nangka dan cempedak.

Untuk dapat berkeliling menikmati pemandangan asri kebun buah-buahan ini, ada beberapa cara yang dapat ditempuh. Salah satunya adalah garden drive thru, yakni berkeliling taman dengan menggunakan mobil pribadi.

Dalam rute yang akan ditempuh, beberapa titik pemberhentian disesuaikan dengan musim panen beberapa jenis buah. Pengunjung dapat berhenti untuk melihat-lihat buah yang siap panen dari pohonnya, serta mencoba buahnya langsung.

Selain itu, akan ada spot-spot pemberhentian lainnya, seperti plaza air terjun yang disediakan bagi yang ingin berfoto. Pengunjung akan dikenakan tiket per orang seharga Rp 70 ribu, atau Rp 60 ribu bagi anak-anak usia di bawah sepuluh tahun.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan kereta keliling yang disediakan pengelola taman. Ada beberapa tarif yang dikenakan bergantung pada paket tiket terusan wahana yang dipilih, mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu.

Pengunjung juga dimungkinkan untuk berkeliling taman buah Mekarsari dengan menggunakan sepeda. Namun khusus untuk yang ingin menggunakan sepeda diminta untuk melakukan reservasi terlebih dulu, serta datang dalam jumlah rombongan tertentu.

Selain kebun buah-buahan, di area taman ini sendiri terdapat beragam jenis wahana rekreasi bagi pengunjung. Misalnya area piknik di sekitar danau dengan beberapa wahana air yang tersedia, seperti sepeda air dan perahu naga.

Ada pula area peternakan D’Farm yang menjadi rumah bagi berbagai hewan ternak seperti kelinci, kuda, domba, ikan dan lain-lainnya. Pengunjung dapat memberi makan kepada hewan-hewan tersebut, memancing ikan serta berkuda.

Pilihan wahana lainnya pun menyesuaikan berbagai usia pengunjung. Bagi anak-anak dengan usia 12 tahun ke bawah, tersedia wahana bermain seperti Istana Balon dan area kegiatan outbond KidsBound.

Adapun bagi yang dewasa dapat menikmati fasilitas seperti berkeliling area taman dengan all-terrain vehicle (ATV), fish therapy untuk kaki, serta area kegiatan outbond khusus untuk dewasa MaxBound dan area panahan.

Bagi yang ingin menginap, disediakan fasilitas penginapan Rumah Pohon, berupa cottage bernuansa kayu di area pepohonan rimbun. Tersedia kelengkapan seperti air conditioning (AC), televisi dan shower air hangat.

Tiap satu cottage dapat ditempati oleh empat orang. Untuk tarif sewa per malam dihargai Rp 990 ribu, sudah termasuk dengan sarapan yang disajikan dan dapat dinikmati di area teras tempat pengunjung dapat menikmati nuansa alam yang asri.

Pengelola juga menyediakan area camping yang dapat direservasi, dengan beberapa fasilitas penunjang seperti area barbecue dan tenda yang muat untuk lima orang. Sesekali juga akan ada event khusus saat musim panen, seperti musim panen salak atau durian.

Untuk tiket masuk masing-masing wahana dan fasilitas taman, rata-rata berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Khusus untuk area outbond KidsBound dan MaxBound, tiket masuknya seharga Rp 30 ribu dan Rp 35 ribu, sedangkan ATV dikenai tarif Rp 40 ribu.

Selain tiket masuk taman dan fasilitas tersebut, bagi yang membawa kendaraan bermotor juga membayar tiket masuk kendaraan. Untuk pengguna motor dikenakan Rp 10 ribu, mobil Rp 20 ribu, serta bus Rp 40 ribu.

Yang perlu diperhatikan, untuk saat ini Taman Buah Mekarsari hanya buka untuk umum pada akhir pekan dan hari libur nasional, dari jam 09.00 sampai jam 15.00. Untuk kedatangan pada hari biasa dikhususkan bagi rombongan dan perlu membuat reservasi lebih dulu.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081250029779, 081280988009, atau via email di mekarsari@mekarsari.com, serta dapat mengunjungi akun resmi Instagram @mekarsari_fruitgarden dan Twitter @tamanmekarsari.

Taman Buah Mekarsari

Jl. Raya Cileungsi-Jonggol Km. 3, Bogor

agendaIndonesia/Audha Alief P./Berbagai Sumber

*****

Wisata Jayapura, 3 Wajah Keindahan

Pantai Jayapura Andi Aryadi

Wisata Jayapura di Papua kini tampaknya kalah moncer dibanding Raja Ampat, bahkan Tambrauw. Padahal dulunya, kota ini yang menjadi tujuan pertama jika ingin berkunjung ke tanah cendrawasih itu. Padahal Jayapura tak kalah menarik dan indahnya dibanding sejumlah tempat di Papua lainnya.

Wisata Jayapura

Jika ingin ke Jayapura dari Jakarta, merupakan sebuah perjalanan panjang. Dengan penerbangan langsung diperlukan waktu sekitar 5 jam 20 menit. Namun, bila transit hingga dua kali, pengunjung harus meluangkan waktu 9 jam hingga belasan jam. Biasanya penerbangan akan transit di Makassar, lalu di Biak atau Sorong, sebelum menuju Jayapura.

Bandar udaranya terletak di Sentani, ini sekitar 30-an kilometer dari pusat kotanya. Butuh waktu sekitar 50 menit hingga satu jam dari bandara ke Jayapura melewati kota kecil Abepura, di mana Universitas Cendrawasih berada.

Dulu mungkin orang pergi ke Jayapura, dan Papua, umumnya urusan pekerjaan. Saat ini rasanya lebih banyak orang yang berkunjung untuk urusan wisata. Perjalanan tamsya alam, kata orang. Dan sepertinya, setelah berkunjung ke beberapa lokasi di Papua, Jayapura masih yang terlengkap untuk urusan traveling. Dari atraksi budaya, obyek wisata danau, laut, bukit, hingga tentunya kuliner.

Wilayahnya yang berbukit-bukit tapi mempunyai lahan pesisir membuat Jayapura memiliki obyek wisata beragam. Bahkan, selepas Bandara Sentani pun, tur sejatinya sudah bisa dimulai. Keluar dari bandara, kita bisa langsung check ini di hotel di kawasan Danau Sentani. Dari yang bagian dari hotel chain hingga yang lokal. Yang lake side pun ada.

Dengan singgah di Danau Sentani, yang bisa dicapai dalam waktu 15 menit dari bandara. Di sini, pengunung bisa melepas lelah setelah perjalanan panjang sembari menikmati hidangan lokal di restoran yang berdiri di tepi danau. Dari papeda sampai ikan mujair Danau Sentani yang maknyus.

Danau Sentani memiliki sumber daya alam yang kaya juga indah. Ada berbagai spesies ikan air tawar yang hidup di dalam danau ini. Beberapa di antaranya menjadi spesies endemik Sentani.

Selain menyuguhkan keberagaman alam, danau yang secra adminstrasi berada di wilayah Kabupaten Jayapura ini juga memiliki bukit yang indah. Lucunya, orang setempat suka menyebutnya sebagai Bukit Teletubbies. Mungkin karena tanah berbukitnya yang landai seperti di dalam serial televisi Teletibbies. Mereka yang berkunjung ke bukit ini tak akan melewatkan keindahan matahari terbenam (sunset), momen yang banyak ditunggu-tunggu wisatawan.

Di Sentani jita juga bisa juga singgah ke Bukit MacArthur, menengok jejak Jenderal Douglas MacArthur dari militer Amerika Serikat pada 1944, sekaligus menikmati keindahan alam Papua dari ketinggian. Terletak di Ifar Gunung, melewati jalan menanjak yang penuh kehijauan kiri-kanan. Dari atas tampak juga hamparan Danau Sentani dan pegunungan Cyclops. Atau, bila ingin melihat Jayapura dari ketinggian, ada bukit lain yang bisa disinggahi, yakni Bukit Pemancar. Datang di sore hari, akan terlihat kerlip lampu-lampu di pusat kota.

Masyarakat Papua dalam Festival Danau Sentani
Wisata Jayapura dalam Festival Danau Sentani. Dok. TL

Paling strategis jika ingin berkunjung ke jayapura sesungguhnya saat berlangsung Festival Danau Sentani. Tahun ini, jika jadi diselenggarakan pada 20 Oktober hingga 2 November 2020, merupakan pelaksanaan ke 12.Beruntung bila Anda datang  berbarengan dengan Festival Danau Sentani. Kesempatan menyimak budaya dalam festival tersebut bisa membuat perjalanan dengan menu lengkap.

Puas menikmati Sentani, tujuan selanjutnya adalah Jayapura. Setelah danau dan bukit, saatnya daerah pantai yang disusuri. Ada beberapa pantai yang bisa dipilih dalam tur esok harinya. Pilihannya adalah Pantai Harlem, Pantai
Base G, Pantai Hamadi, Pantai Dok 2, Pantai Amai, Pantai Tablanusu, dan Pantai Holtekamp. Bila mampir ke Pantai Hamadi, bisa sekalian belanja pernak-pernik suvenir berupa kerajinan tangan khas Papua di sana.

Dari pantai-pantai itu, yang paling unik tentu Pantai Tablanusu. Sesungguhnya, pantai ini bisa dikunjungi saat menginap di Sentani, sebab jika hendak ke Desa Wisata Tablanusu, sebab posisinya lebih dekat dari sini.

Dari Sentani untuk menuju desa ini pengunjung bisa naik bus atau mobil menuju Dermaga Deppare dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalannanya menurun dan mendaki melalui hutan lebat. Tablanusu sendiri berarti batu menangis. Sebagian besar Desa Tablanusu diselimuti batu koral berwarna hitam. Di mana-mana hamparan batu alam mengkilap. Hampir mirip pantai di Belitung. Jadi jika pengunjung berjalan di pantai dengan menginjak batu koral akan menimbulkan suara seperti orang menangis.

Selain itu, jika ke Jayapura, sekarang wisatawan gandrung mengunjungi perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Dikenal sebagai Desa Skow, yang ditempuh dua jam dari Jayapura. Desa Skow berbatasan langsung dengan Desa Wutung
di Papua Nugini.

Kemudian, bagi pelancong yang doyan nongkrong dengan keindahan alam, ada tempat yang lagi naik daun, yakni Skyline yang berada di Entrop. Hanya 15 menit dari pusat Kota Jayapura. Pemandangannya berupa Teluk Youtefa dan jembatan Holtekamp yang panjangnya mencapai 1,8 kilometer.

Lalu ambil hari lain untuk mengunjungi Kali Genyem. Lokasinya ada di Berab, Nimbokrang, Jayapura. Kali ini sering disebut Kali Biru atau Kali Biru Genyem.

Jaraknya memang cukup jauh, lokasinya harus ditempuh oleh wisatawan dari kota Jayapura sekitar 3 jam. Medannya turun naik melalui perbukitan dan pegunungan.

Untuk masuk ke Kali Biru, wisatawan yang menggunakan kendaraan bermotor dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10 ribu. Sedangkan yang menggunakan  mobil dikenakan tiket Rp 50 ribu.

Meskipun jarak tempuhnya cukup jauh dari kota Jayapura, tapi wisatawan akan disuguhi atraksi air kali yang sangat jernih dan berwarna biru. Rasa lelah dari jauhnya perjalanan yang ditempuh akan terbayarkan lunas di wisata Kali Biru Genyem ini. Bukan hanya pemandangan alamnya saja yang menarik dan menakjubkan untuk didatangi. Masyarakat atau penduduk setempat selalu bersikap ramah menyambut para wisatawan yang berlibur di Kali Biru.

Obyek wisata alam yang letaknya di kawasan perkampungan Genyem ini sangat dikenal para pecinta alam. Selain itu, ada atraksi lain yang tak kalah memikat melihat aktiviras burung cendrawasih. Mungkin belum sepopular Tambrauw, tapi Genyem termasuk habitat burung ini.

Nah, siapa bilang Jayapura kalah indah dengan daerah lain di Papua? Ayo agendakan Indonesia-mu sekarang.

F. Rosana

Asem-asem Koh Liem, 1 Legendaris Semarang

Asem asem Daging Koh Liem

Asem-asem Koh Liem Semarang punya banyak penggemar meski belum sepopular loenpia atau bandeng. Juga mungkin masih kalah terkenal dibandingkan dengan Restoran Oen di Jalan Pemuda, Semarang. Tapi, percayalah, warung makan ini punya penggemar yang fanatik: setiap kali ke Semarang belum mantap jika tak menyeruput kuah asam-manis-pedasnya.

Asem-asem Koh Liem

Lokasi restoran atau warung makan Asem-asem Koh Liem sesungguhnya ada di pusat ibu kota Jawa Tengah itu. Begitu dekat dengan Jalan Gajah Mada, salah satu jalan utama di sana. Namun, karena posisinya di jalan satu arah, orang harus sedikit memutar untuk mencapainya.

Warung makan atau restorannya tak terlalu besar. Menempati satu bangunan bertingkat dari sebuah deret ruko di Jalan Karang Anyar, Semarang. Tempat makannya menempati lantai dasar. Ruangnya terbuka, hanya dibatasi satu partisi kecil yang tertulis namanya yang memisahkan dengan area parkir. Jangan berpikir ada ruang parkir besar, hanya cukup dua mobil dan sejumlah motor.

Dulu, warung tersebut sangat sederhana, cerita yang empunya warung. Bangunannya hanya gubuk tua di pinggir jalan. Didirikan oleh suami-istri Pik Swie Lie alias Koh Liem, yang meninggal pada 2019 lalu. Suarti (53 tahun), ini adalah menantu Koh Liem yang meneruskan mengelola tempat makan ini, mengenang, warungnya menjadi saksi perkembangan kuliner dari masa ke masa. Di tengah era yang semakin modern, mertuanya tetap berkukuh menyajikan kuliner tradisional.

Jika penikmat asem-asem daging mampir ke warung makan ini, aroma dari panci berisi sayur asem-asem Koh Liem langsung menyengat hidung. Aromanya tercium sampai muka warung, mengundang orang untuk bergegas masuk dan memesan. Asap mengepul saban hari, mulai pagi sampai sore. Menu utamanya ya memang asem-asem daging. Meskipun masih banyak menu lainnya

Asem asem Daging Koh Liem

Warung  ini bolehlah disebut salah satu legenda yang banyak dikenal warga sebagai salah satu warung makan tertua di Semarang. Tertulis tahun pertama rumah makan itu berdiri pada salah satu sudut bangunan, yakni pada 1978. Pengaturan duduknya juga tak banyak berubah: ada satu ‘bar’ tempat penerima pesanan yang dikelilingi meja dengan kursi-kursi.

Memang, warung Koh Liem seperti warteg. Pemasaknya di tengah, sedangkan tempat duduk pelanggannya mengitari dapur mini. Di situ, tak cuma asem-asem disediakan. Namun juga berbagai lauk. Ada 50 menu totalnya. Beberapa di antaranya adalah capcay, sayur tahu, udang goreng, sayur bening, sayur lodeh, dan sayur rumahan lainnya.

Begitu kita duduk dan memesan, kuah bening kecoklatan dituang cepat oleh para pelayan warung. Dengan posisi duduk seperti itu, pengunjung bisa menyaksikan secara langsung kuah asem-asem berpindah dari panci perebusan ke mangkuk klasik bergambar ayam jago.

“Yang terkenal memang asem-asemnya karena resepnya dari Oma (istri Koh Liem),” ujar Suarti saat ditemui di warungnya.

Koh Liem  lalu menurunkan resepnya ke anak mantu. Menurut Suarti, rahasia menu andalannya terletak pada campuran tiga bumbu dapur yang membuat sayur tersebut segar, yakni asem Jawa, belimbing wuluh, dan tomat muda. Juga pada daging dan urat yang menjadi komplemen utama pada sayur tersebut.

Sayur asem-asem Koh Liem memang benar-benar segar. Meski isinya sederhana, yakni hanya daging sapi bagian sendoro alias daging dalam, urat, daging usus alias kisi, urat, dan potongan cabai Jepang, semangkuk sayur itu memiliki rasa yang amat kaya. Rasa asam dari asam Jawa-nya tak terlalu mencolok. Sebab, diseimbangkan dengan dua sayuran pencipta rasa asam lainnya, yakni tomat muda dan belimbing wuluh.

Bau dagingnya pun tidak beraroma menyengat alias prengus dalam bahasa Jawa. Teksturnya empuk dan lembut lantaran direbus sampai dua jam. Sedangkan kuahnya terasa manis khas masakan Jawa Tengah. Manisnya lain lantaran menggunakan kecap asli Semarang, yakni kecap Mirama.

Tiap-tiap sendok yang masuk mulut rasanya meningkatkan gairah selera makan. Pengunjung tampak tak rela menuntaskan semangkuk asem-asem itu. Mereka rata-rata menyeruput sampai tetes kuah terakhir. Cukup dinikmati dengan nasi putih saja. Jika mau lebih nikmat nasi putihnya bisa langsung disiram asem-asem daging sapi, alias asem-asem campur. Sebab, bisa juga dipesan nasi putihnya terpisah.

Saat ditanya lebih lanjut seputar bumbu, Suarti enggan menerangkan. Menurut dia, campuran racikan lainnya ialah rahasia dapur. “Rahasianya Oma yang diturunkan sekarang ke anak-anaknya,” ujarnya. Perempuan asli Semarang itu mengatakan telah menerima resep warisan yang sampai sekarang kudu dijaga konsistensinya.

Salah satu cara untuk menjaga konsistensi rasa adalah tak membuka cabang. “Kalau mau makan asem-asem Koh Liem ya harus ke sini,” kata Suarti. Warung ini adalah bangunan ketiga yang ditempati keluarga mereka untuk menjajakan asem-asem. Dua bangunan sebelumnya berlokasi tak jauh dari alamat warung yang sekarang.

Bila ingin menjajal asam-asam Koh Liem, Anda bisa berkunjung ke warungnya mulai pukul 07.00 sampai 17.00. Harga seporsi asem-asem dibanderol Rp 35 ribu.

F. ROSANA-TL

Pesona 3 Danau di Kaki Gunung Lemongan

Pesona 3 danau di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bisa menjadi alternatif liburan dan mengunjungi alam pedesaan.

Pesona 3 danau di kaki Gunung Lemongan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih jarang ada yang meliriknya. Danau atau ranu dalam istilah setempat kalah popular dari Ranu Kumbolo di jalur pendakian Gunung Semeru, yang juga berada di kabupaten Lumajang.

Pesona 3 Danau

Asal tahu saja, tiga per empat wilayah Gunung Semeru berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sisanya ada di Kabupaten Malang. Karenanya, Lumajang kerap dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki pesona alam terbaik di Jawa Timur, selain Malang.

Pesona 3 danau di kawasan Gunung Lemongan, Lumajang tak kalah indah dengan Ranu Kumbolo yang juga berada di Kabupaten Lumajang.
Matahari terbit Ranu Pakis di Lumajang. Foto:: Dok shutterstocj

Itu tentu termasuk danau-danau alamnya. Ada pesona 3 danau di Kabupaten Lumajang di Gunung Lemongan, meskipun kalah popular dibandingkan gunung Semeru.

Gunung Lemongan adalah sebuah gunung berapi tipe maar, di Jawa Timur. Gunung ini merupakan bagian dari kelompok pegunungan Iyank, di mana puncaknya adalah disebut Puncak Tarub dengan ketinggian 1.651 meter. Gunung Lemongan termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yaitu Lumajang dan Probolinggo.

Pesona 3 danau memiliki atraksi kemegahan matahari terbit. Tontonan ini bisa dinikmati dari tiga kawasan danau yang saling berdekatan, yaitu: Ranu Klakah, Ranu Bedali, dan Ranu Pakis.

Jarak tempuh antara Ranu Bedali ke Ranu Pakis berkisar 7 kilometer. Sedangkan jarak tempuh Ranu Bedali ke Ranu Klakah sekitar 6 Km dan semuanya bisa dijangkau dengan mudah. Seperti apa sih gambaran ketiga danau ini?

Ranu Klakah

Terletak di Desa Tegal Randu Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, sekitar 20 kilometer dari arah utara Kota Lumajang. Ranu klakah memiliki pesona yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Pesona 3 danau merupakan atraksi menarik utujk menyaksikan matahari terbit di Lumajang,
Ranu Klakah dengan latar belakang Gunung Lemongan. Foto: milik Lumajang Satu.com

Danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanis ini membentang seluas 22 hektare. Sedangkan kedalamannya mencapai 28 meter. Dalam sekilas pengamatan, danau itu tampak tenang dan tak beriak. Tak terlihat ada aktivitas makhluk hidup apa pun di dalamnya.

Namun, diam-diam, ranu atau danau maar yang letaknya 10 kilometer di utara kota ini ternyata menjadi habitat hidup bagi ribuan ikan mujair. Tempat ini memang menjadi tempat budi daya ikan air tawar.

Ranu Klakah terpatri abadi, tepat di muka Gunung Lemongan. Seperti lukisan, pada pagi hari, cahaya matahari yang kemerahan akan mengantung di atas danau berlatar gunung itu. Pantulan sinarnya membikin danau kemilauan, bak cermin hidup yang menimbulkan refleksi. Gunung dan bayangannya di ekor Ranu Klakah pun seperti dua segitiga yang bertaut.

Ranu Pakis

Lokasi wisata Ranu Pakis berada di Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Namun dari pusat kota butuh menempuh jarak sekitar 20 ,5 kilometer atau kurang lebih 45 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Rute menuju Ranu Pakis dari pusat kota Lumajang melewati jalur utama penghubung antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Ketika memasuki pusat kecamatan Klakah, di sekitar pasar, belok ke arah timur atau ambil jalan ke arah Desa Tegal Randu menuju Ranu Klakah.

Dari Ranu Klakah perjalanan lanjut sekitar satu kilometer hingga menemui pintu masuk menuju Ranu Pakis. Akses jalan cukup baik dan bisa dilewati kendaraan roda dua ataupun empat. 

Ranu Pakis ini memiliki warna air biru kehijau-hijauan yang berbeda dengan Ranu Badeli. Di sini airnya terlihat berwarna hijau segar. Ranu Pakis memiliki ketinggian 600 meter di atas permukaan laut , dengan luas sekitar 50 hektare, dan kedalaman 26 meter.

Selain memiliki keindahan yang unik, di Ranu Pakis biasanya para penduduk juga membudidayakan ikan air tawar. Contoh ikan yang di budidayakan adalah mujahir dan nila. Kadang bila berkunjung ke Ranu Pakis, wisatwan disuguhi atraksi nelayan yang sedang menjaring ikan.

Ranu Bedali

Ranu Bedali adalah sebuah danau di Kecamatan Ranuyoso, Lumajang, dan merupakan salah satu tempat wisata alami yang ada di kabupaten ini. Letaknya sekitar kurang lebih 15 kilometer di sebelah utara kota Lumajang. Danau ini tempatnya mudah dijangkau dengan berbagai macam kendaraan pribadi, tidak terlalu ramai pemandangannya indah cocok untuk liburan keluarga.

Ranu Lumajang shutterstock edit
Air terjun di Ranu Bedali. Foto: Dok. shutterstock

Ranu Bedali merupakan rangkaian dari pesona 3 danau, yaitu Ranu Bedali, Ranu Klakah dan Ranu Pakis. Sebagai rangkaian kawasan Segitiga Ranu, dengan jarak 7 Km dari Ranu Pakis atau 6 kilometer dari Ranu Klakah. Objek wisata Ranu bedali ini mempunyai keinggian 700 meter di permukaan laut dengan luas danau 25 hektare dengan kedalaman 28 meter.

Di Ranu Bedali  terdapat air terjun yang memiliki debit air yang cukup besar dan jernih, sehingga menambah keindahan alam. Keindahan di Ranu Bedali yang masih asri beserta tambahan fasilitas yang menunjang lainnya bisa menarik banyak wisatawan.

agendaIndonesia

*****

Abhayagiri Resto, 1 Senja di Timur Yogya

Abhayagiri Resto

Abhayagiri Resto, ini sebuah jamuan lengkap di senja hari di Yogyakarta. Menu istimewanya, lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Abhayagiri Resto, Menikmati Sunset

 Di pelataran restoran Abhayagiri, Yogyakarta, turis dari beragam latar belakang saling berjumpa. Mereka berganti-gantian memincing spot foto. Meja-meja makan yang berantakan ditinggalkan begitu saja tatkala burit mulai muncul. Maklum, di seberang utara, pemandangan Gunung Merapi disapu langit oranye dibelah atap-atap rumah warga menjadi primadona. Tak ketinggalan Candi Prambanan yang bertengger gagah tepat di muka “ancala”, menyempurnakan amatan.

Setengah bagian Yogyakarta, beserta ikon-ikonnya, sore itu sukses dibingkai dengan gangsar dari atas bukit. Ya, Abhayagiri memang bernaung di salah satu babakan tertinggi di “nagari kesultanan”, sebaris dengan Bukit Boko. Sesuai dengan namanya, abhaya berarti tidak ada bahaya atau aman, sedangkan giri artinya bukit atau gunung. Jadi Abhayagiri merupakan tempat di atas bukit yang tenang, jauh dari kerawanan.

Untuk menjangkaunya, perlu berkendara lebih-kurang 40 menit dari pusat kota melewati jalan menanjak dan berkelok, searah dengan tujuan Candi Boko dan Candi Ijo. Tak mengherankan, kalau banyak pengunjung, sengaja ingin menepi di tempat ini untuk sekadar menikmati kudapan, menjangkau ketenangan, lalu berswafoto dengan latar belakang panorama yang apik.

Di salah satu sudut yang menghadap ke barat daya, sebuah beranda petak beralas kayu dikelilingi lampu taman dengan penerangan temaram menjadi titik yang paling banyak diincar, khususnya untuk memotret. Sebab, di sana, tamu akan menghadapi jamuan pandang yang langka, yakni lanskap segaris antara Abhayagiri, Candi Prambanan, dan Gunung Merapi.

Dari titik itu pula, kawasan restoran yang lapang membentang dan terbagi atas beberapa paruhan tampak gamblang. Di sisi kanan, ada rumah joglo beralas rumput sintetis, juga kolam renang. Pengunjung, yang umumnya keluarga, mengobrol asyik sembari berseloroh di bawah bangunan persegi panjang dengan dominasi elemen kayu.

Di bagian rusuk atau tengah, segaris dengan beranda pandang, terhampar halaman dengan kursi serta meja yang ditata rapi mengitari sebuah batu besar. Batu itu tak pernah disingkirkan oleh pihak restoran, mulai proses pembangunan hingga Abhayagiri berdiri pada 2012—tentu sampai sekarang. Justru keberadaannya memperdalam kesan natural.

Di titik ini, pasangan-pasangan muda mengobrol intim. Suasana romantis terbangun dari pemandangan lampu-lampu kota yang mengitari, hawa dingin yang langsung menerpa kulit, serta tumbuhnya ilalang yang mendramatisasi keadaan.

Sementara itu, di bibir kiri, terhampar sebuah panggung alam, tempat pentasnya pergelaran seni Ramayana yang dihelat pada waktu-waktu tertentu. Panggung ini terbuat dari bebatuan. Letaknya menghadap tepat ke candi. Bangunan kuno tersebut sungguhan, bukan rekaan. Namanya serupa dengan lokasi bernaungnya restoran: Sumberwatu. Dalam papan keterangan tertulis, benda sejarah yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 oleh para penganut agama Buddha tersebut telah dikonservasi lembaga warisan budaya setempat pada 2013.

Keberadaannya membangkitkan sangkaan magis, sekaligus menguatkan kesan kejawen.

Petang tiba. Cokekan, musik tradisional asli Jawa Tengah—jenis kesenian yang kini nyaris punah—mengiramakan malam. Larasnya berpadu dengan bunyi tonggeret atau garengpung—atau nama ilmiahnya Cicada.Karena itu, griya tempat berkudap sekalian berkongko yang dibangun di atas lahan 3 hektare ini seketika jadi riuh. Bukan hanya karena musiknya yang membubung, melainkan juga makin sesaknya pengunjung.

“Biasanya tak seramai sekarang. Hari ini, semua bangku sudah ludes direservasi. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur atau juga karena kami sedang menggelar promo menu buffet,” tutur Dewi, perempuan berparas njawani yang menjadi pramusaji itu.

Memang, di momen-momen tertentu, seperti akhir tahun, restoran yang dilengkapi fasilitas vila dan hotel ini memasang menu khusus. Kala Travelounge bertandang pun, Abhayagiri sedang menawarkan promosi all-you-can-eat seharga Rp 150 ribu per orang dengan waktu kunjungan maksimal 120 menit. Dengan demikian, kudapan bergaya lokal dan western yang kesohor, semisal Chicken Steak Teriyaki, Abhayagiri Duck Speciale, Pan Roasted Salmon, Apple Crumble, Nasi Campur, Archila Churros, dan Beef Black Pepper, tak tersaji.

Sementara itu, hidangan yang bebas dilahap tamu adalah menu-menu yang umumnya disajikan kala masyarakat Jawa Tengah punya hajat, semisal soto ayam, rawis (juga dikenal dengan sebutan karedok), bakmi Jawa, dan dori goreng tepung untuk menu utama. Tersedia pula hidangan cuci mulut, seperti brownies, mini pie,dan cake green tea kukus yang menyandang predikat jawara.

Umumnya, rasa masakan yang tersaji kurang menggelitik lidah. Semisal bakmi Jawa, kuah yang dihidangkan terlalu asin. Hidangan lain, seperti soto ayam, pun tak terlalu berkarakter. Namun hal itu tak diambil hati oleh para pengunjung karena umumnya mereka datang dengan tujuan utama menikmati pemandangan, bukan buat berselancar lidah. l

Abhayagiri Restaurant

Sumberwatu Heritage Resort, Sumberwatu RT 02 RW 01

Sambirejo, Prambanan,

Sleman, DI Yogyakarta

Operasional

Setiap hari pukul 11.00-22.00

Menu

Abhayagiri Chicken Steak

Beef Black Pepper

Bakmi Jawa

Soto Ayam

Harga

Antara Rp 35 ribu hingga Rp 200 ribu.

F. Rosana/Hindra/Dok-TL

Taman Safari Bali, Satwa di 40 Hektare

Taman Safari Bali wahana wisata dan edukasi di Bali.

Taman Safari Bali atau dikenal juga sebagai Bali Safari and Marine Park adalah tempat wisata yang berisi aneka satwa dari berbagai penjuru dunia yang habitatnya didesain mendekati aslinya. Kawasan ini merupakan objek wisata yang dibangun di atas lahan seluas 40 hektare.

Taman Safari Bali

Bali Safari & Marine Park ini seperti juga Taman Safari di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, menyediakan tempat bagi satwa liar seperti di habitat aslinya. Di Bali ini taman safarinya  dibangun dengan perpaduan kebudayaan masyarakat Bali dan cocok untuk dikunjungi untuk segala usia. 

Bali Safari & Marine Park ini ada di Jalan Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Lokasinya menempati atau berada di tiga desa di Gianyar, yaitu Desa Lebih, Desa Serongga, dan Desa Medahan. Sama dengan yang di Bogor atau di Jawa Timur, Taman Safari Bali dimiliki dan dikelola oleh Taman Safari Indonesia. Taman Safari Indonesia, memang ahli dalam konservasi hewan dan terkenal dalam menyelenggarakan eksebisi serta pertunjukan binatang.

Taman Safari Bali petulangan kecil di habitan satwa.

Taman Safari Indonesia, memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam hal penyediaan wahana taman safari. Pengalaman tersebut membuat Taman Safari Bali, menjadi salah satu taman safari terbaik di Indonesia dan menjadi tempat wisata untuk anak-anak ketika liburan di pulau dewata.

Bali Safari Marine Park juga dijadikan tempat pengembangbiakan bagi satwa yang terancam punah. Harimau Putih dari India yang sangat langka sedang dicoba dikembangbiakkan agar terjaga keberadaannya.

Tempatnya ada di Tigers of Ranthambore yang merupakan tiruan dari benteng kuno yang berada di India. Benteng ini menjadi tempat berdiamnya harimau putih yang sangat langka tadi.

Selain Harimau Putih, di sini ada berbagai jenis satwa langka yang berasal dari tiga negara yaitu Indonesia, India dan Afrika. Ini terdiri dari 60 species dan 400 ekor satwa langka yang berasal dari Indonesia, misalnya Jalak Putih, Burung Hantu, Tapir, Buaya, Babi Rusa dan Harimau Sumatra.

Dari India, selain Harimau Putih, ada lainnya yaitu Rusa Tutul, Beruang Himalaya, Nilgai dan Black Buck. Satwa langka dari Afrika juga tidak ketinggalan seperti Kuda Nil, Burung Unta, Singa, Babbon, Zebra dan Blue Wildebeest.

Taman Safari Bali juga memiliki petualangan berkeliling pada malam hari.
Night Safari, berkeliling dengan kendaraan khusus. Foto: dok. BSMP

Selain mempelajari hewan yang mulai langka dan upaya konservasinya, anak-anak ketika main ke Taman Safari Bali dapat menikmati beberapa pertunjukan. 

Atraksi utama tentu saja 4×4 Safari Package. Wisatawan dapat melihat satwa liar dari dekat menggunakan jeep  4×4. Kendaraan ini sudah dilengkapi perlengkapan khusus sehingga aman bagi pengunjung.  Melalui wahana ini, wisatawan bisa merasakan sensasi berinteraksi langsung dengan satwa di alam bebas. 

Selain itu ada Animal Education show di Hannuman Stage. Ini adalah Taman Hanuman dengan sebuah panggung yang terdapat pertunjukan satwa yang juga memberikan pengetahuan tentang satwa langka.

Atraksi yang juga menarik buat anak-anak, bahkan orang dewasa, adalah Elephant Conservation & Education Show di Kampung Gajah. Ini merupakan area dengan museum gajah, kandang gajah, tunggang gajah, souvenir, dan, warung gajah.

Elephant Bathing di Taman Ganesha di mana taman ini memiliki sebuah patung Ganesha setinggi sembilan meter yang merupakan pintu masuk menuju Bali Theater. Di taman ini pengunjung bisa berinteraksi secara dekat dengan gajah-gajah yang sedang mandi.

Pada malam hari pengunjung dapat melihat satwa liar yang berkeliaran di habitatnya. Ada harimau yang naik ke kendaraan kerangkeng khusus pengunjung. Lumayan memacu adrenalin.

Ada juga restoran yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Uniknya ada resto untuk sarapan yang berdekatan dengan kandang macan. Jangan khawatir, pengunjung restoran dipisahkan dengan panel kaca yang aman dari para raja hutan tersebut.

Sarapan dengan Singa di Safari Bali BSMP
Sarapan di depan singa. Foto: dok. BSMP

Untuk menikmati pengalaman sarapan unik ini, pengunjung harus menginap di Mara River Safari Lodge yang berada di kompleks Taman Safari Bali. 

Namun Taman Safari Bali tentu tak cuma interaksi dengan hewan. Ada atraksi lainnya. Kegiatan lainnya adalah Balinese Holy Water Procession di Tirta Sulasih. Tirta Sulasih adalah tempat pemandian suci dengan nuansa kebudayaan Bali. Pengunjung bisa menyaksikan kegiatan sehari-hari masyarakat Bali dengan budayanya.

Bagi yang ingin belanja oleh-oleh, berbagai barang kerajinan khas Bali dan aksesoris berbentuk binatang banyak dijual di areal pertokoan yang dikenal dengan nama Peken Bali. Atau ada pula kelas menari Bali dan memainkan alat musik gambelan Bali di Bale Banjar.

The Bali Agung Show Taman Safari Bali juga menyajikan pertunjukkan seni yakni The Bali Agung Show. Pertunjukan ini merupakan perpaduan seni teater tradisional dan modern yang menampilkan lebih dari 150 penari dan pemusik Bali.

Taman Safari Bali dilengkapi pula beberapa fasilitas antara lain, Kawasan Fun Zone yang disediakan khusus untuk anak-anak berusia maksimal 10 tahun. Ada berbagai permainan dengan tarif Rp 10 ribu untuk setiap permainan seperti, Mery Go Round, Clumbing Car dan Go Go Bouncer.

Di sini juga terdapat kuda poni maupun onta tunggangan dengan tarif Rp 20 ribu per orang sedangkan untuk berkeliling dengan menunggang gajah selama 30 menit dikenai tarif Rp 100 ribu. Seperti di taman safari lainnya juga, pengunjung bisa berfoto dengan beberapa binatang dengan tarif Rp 20 ribu.

Bali Safari & Marine Park buka mulai pukul 09:00 – 17:00. Untuk dapat memasuki Bali Safari & Marine Park, pengunjung dikenakan biaya tiket masuk. Harga tiket masuk Taman Safari Bali untuk wisatawan domestik: pengunjung dewasa (di atas 12 tahun), Rp 150 ribu/orang; anak-anak (umur 3 – 12 tahun) Rp 135 ribu/orang. Sedangkan untuk bayi di bawah 3 tahun dihitung gratis.

Dengan membayar tiket masuk sesuai dengan harga tiket tersebut pengunjung akan mendapatkan satu kali safari journey, menonton animal show; dan elephant show.

agendaIndonesia

*****

Kopi Merapi, 1 Peninggalan Kolonial Belanda

Kopi Merapi di Cangkringan, Yogyakarta

Kopi Merapi adalah satu peninggalan kolonial Belanda. Mungkin di sekitar tahun 1930-an ia mulai ditanam, tapi baru belakangan setelah erupsi gunung Merapi pada 2010 tempat ini menjadi omongan dan belakangan jadi tujuan wisata.

Kopi Merapi, Peninggalan Kolonial

Kopi yang ditanam di lereng Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta ini bukan cuma mengharumkan nama kopi Nusantara, namun juga menjadi catatan bangkitnya perekonomian penduduk lokal dari erupsi besar-besaran yang terjadi 10 tahun lalu.

Kini saat liburan ke kawasan Kaliurang dan sekitarnya, ada satu warung kopi yang tak boleh dilewatkan. Kopi Merapi, begitu namanya, terletak di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Di warung ini pengunjung dapat menikmati seduhan biji kopi yang ditanam langsung di tanah vulkanik lereng Merapi, baik jenis arabika maupun robusta.

Sebelum erupsi, warga yang terhimpun dalam Koperasi Merapi memiliki lahan seluas 800 hektare. Namun, sewaktu fenomena alam itu terjadi, lahan tersebut tertutup abu hingga lahan yang tersisa tinggal 50 hektare. “Warga mulai menanam kembali kopi dan kini sudah sekitar 500 hektare lahan bisa dimanfaatkan kembali,” kata Ketua Koperasi Merapi Sumijo di Kaliurang, Yogyakarta.

Kopi Merapi pun mulai diproduksi dan dikirim ke luar daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan Tangerang. Saatmengunjungi koperasi tersebut dan menyaksikan berkarung-karung biji kopi siang sangrai ditumpuk di gudang. “Ini pesanan,” kata Juwanto, pegawai koperasi Kopi Merapi yang ditemui di tempat yang sama.

Pada zaman dulu, cerita Sumijo, kopi hasil perkebunan di sekitar Merapi dikenal dengan sebutan kopi meneer. Disebut demikian sebab awalnya tanaman kopi di lereng Merapi itu diperkenalkan pada masa kolonial Belanda. Orang-orang Belanda yang tinggal di Jawa Tengah dan sekitar Yogyakarta melihat lereng Merapi yang sejuk cocok untuk ditanami kopi.

Selain kopi meneer atau menir, kopi Merapi pernah pula disebut sebagai kopi Turgo. Ini merujuk pada lokasi perkebunannya di dekat wilayah Desa Turgo. Namun, tentu saja,  nama Turgo jarang orang yang tahu. Kecuali saat terjadi erupsi Merapi yang lalu. Akhirnya, mereka kemudian menyebut nama komoditas mereka sebagai kopi Merapi.

Begitupun, perjalanan kopi merapi sebagai komoditas tidaklah meroket. Bahkan nyaris jarang diketahui orang. Bahkan bagi masyarakat Yogyakarta, yang posisinya di kaki gunung Merapi, keberadaan kopi Merapi tak banyak dikenal.

Baru beberapa tahun belakangan ini, masyarakat mengenal adanya Kopi Merapi. Ini bisa dipahami, sebab meski sudah mulai diperkenalkan sebagai tanaman sejak zaman kolonial, warga sekitar lereng Merapi mulai menanam secara intensif pada sekitar 1984-an. Kopi yang ditanam berjenis Robusta. Sedangkan kopi Arabika mulai dikembangkan di sini sejak 1990-an awal.

Selain itu, kopi hasil panen kebun-kebun kopi di sekitar Merapi, yang kawasannya tak terlalu besar itu, oleh para petaninya lebih banyak dijual dalam bentuk mentah atau biji basah. Hal ini membuat penghasilan dari menanam kopi menjadi tak maksimal.

Baru pada 2004, menurut Sumijo, dirinya mencoba membuat rintisan Koperasi Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama Kebun Makmur. KUB didirikan untuk menyiasati agar harga kopi yang dijual para petani harganya stabil dan tak dimainkan para tengkulak.

Berbagai inovasi pernah mereka lakukan supaya harga kopinya bisa mengalami peningkatan ekonomi. Setelah sekian “percobaan’,  akhirnya koperasi membuat kopi kemasan atau siap saji. Mereka kemudian juga mencoba menjual biji kopi kering maupun kopi serbuk dalam bungkus kiloan dan sachet.

Selain membuat berbagai olahan produk kopi, Sumijo juga membuat sebuah warung Kopi Merapi di daerah Cangkringan. Pada 17 November 2012, Sumijo dan Sukirah istrinya, secara resmi membuka warung kopi Merapi di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Sumijo menjelaskan konsep yang diusung di warung Kopi Merapi miliknya adalah tradisional. Artinya cara pengolahan biji kopi semua dengan cara tradisional nenek moyang zaman dulu.

Kopi Merapi memiliki jenis arabika dan robusta. Keduanya ditanam di ketinggian 700-1.200 mdpl. Kopi ini hidup di kawasan Kaliadem, tepat di kaki gunung.

Menjelang Mei, petani setempat bersiap menyambut panen raya kopi. Biji-biji yang telah dipanen lalu akan diproses di Koperasi Merapi, yakni di Jalan Kaliuran KM 20, Sleman. Wisatawan yang datang pun dapat melihat proses lengkapnya. Mulai penjemuran kopi, sangrai, hingga penggilingan.

Pada saat-saat panen, pengunjung bisa menyaksikan kopi yang baru mulai dipanen itu diproses di koperasi. Lantas, berkesempatan pula untuk menjajal rasa asli kopi arabica. Kopi Merapi memiliki keistimewaan after taste atau rasa yang tertinggal dengan karakter fruitty alias buah-buahan yang kuat.  Sebab, kopi ini ditanam di dekat tanaman cokelat, mangga, kelapa, dan buah-buahan lainnya.

Bila diminum tanpa gula, seteguk kopi Merapi pun akan terasa lembut. “Bodinya ringan,” kata Sumijo.

Wisatawan bisa membawa pulang kopi Merapi sebagai buah tangan. Per 250 gram arabica, kopi Merapi dijual RP 50 ribu, sedangkan robusta Rp 30 ribu. Selain bisa menikmati kopi, pelancong yang datang ke koperasi dapat bermain-main di kebun kopi. Letaknya tepat di belakang gedung koperasi.

F. Rosana

Taman Mini Indonesia Indah, Wajah 38 Daerah

Taman Mini Indoesia Indah menajdi wahana melestarikan kebudayaan Indonesia.

Taman Mini Indonesia Indah atau biasa disebut TMII adalah cara “mudah” mengenal Indonesia dan semua tradisi serta kebudayaannya. Ini adalah taman bagi wajah seluruh provinsi di Indonesia. Sayangnya, hingga Juli 2023 baru ada 33 anjungan dari 38 provinsi yang ada di Indonesia.

Taman Mini Indonesia Indah

Dari Sabang hingga Merauke, ribuan ragam corak adat dan budaya telah melengkapi berbagai aspek kehidupan di Indonesia. Masing-masing adat dan budaya Indonesia ini telah menjadi identitas setiap daerah di seluruh penjuru Nusantara.

Kekayaan Nusantara inilah yang menjadi gagasan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) oleh Ibu Negara waktu itu, Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal sebagai Tien Soeharto. Berdiri di atas area seluas 150 hektare, Taman Mini hadir sebagai rangkuman kebudayaan 27 provinsi (waktu itu, 1970-an) bangsa Indonesia dalam bentuk miniatur kepulauan.

Taman Mini Indonesia Indah terdiri dari anjungan-anjungan dari 38 daerah.
Rumah Gadang sebagai salah satu simbol budaya Minangkabau. Foto: dok. shutterstock

Taman ini dibangun lengkap dengan anjungan daerah, bangunan dan arsitektur tradisional, kesenian daerah, juga taman rekreasi. Tak luput pula berbagai macam wahana yang menawarkan sarana seni, rekreasi, dan edukasi bagi pengunjung.

Gagasan ini tercetus pada 13 Maret 1970 dan diresmikan pada 1975 dengan harapan agar budaya dan kekayaan Indonesia dapat terus dilestarikan dengan baik. Harapannya agar keunggulan unik masing-masing daerah Nusantara dapat selalu terjaga untuk generasi mendatang.

Semuanya ada yang diwakili oleh anjungan daerah. Ada pula yang hadur melalui sejumlah museum, misalnya Museum Fauna; Dunia Laut Tawar; Taman Burung, atau film yang diputar di Theater Keong Emas.

Anjungan daerah adalah bangunan-bangunan rumah adat yang bercirikan arsitektur tradisional khas daerah Indonesia. Hingga Juli 2023 sudah 33 Anjungan Daerah yang dibangun berderet mengelilingi danau Miniatur Arsipel Indonesia. Ini melambangkan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Tiap provinsi menampilkan sekurangnya tiga bentuk rumah adat khas daerah, berada di satu kawasan yang disediakan untuk provinsi bersangkutan. Ke depan seiring pemekaran provinsi-provinsi di Indonesi, akan dibangun anjungan lainnya.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sejarah dari banyaknya suku bangsa dan budaya yang menghiasi nusantara. Setiap corak peristiwa sejarah kita turut berperan dalam membangun Indonesia menjadi negara yang kini kita kenal. Hal ini menjadi salah satu dari segelintir alasan mengapa melestarikan sejarah Indonesia harus menjadi prioritas generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Taman Burung TMII dok TMII
Taman Burung TMII menjadi wahana untuk mengamati dan mempelajari burungburung. Foto: dok TMII

Selaras dengan tema yang diusung TMII yaitu tempat wisata edukasi budaya Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah menghadirkan 18 museum yang merangkum berbagai sejarah Indonesia melalui wisata edukasi. Setiap museum yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah dibangun untuk memenuhi pengetahuan masyarakat akan sejarah kehidupan, sosial, peradaban, budaya, teknologi Indonesia dan masih banyak lagi.

Mulai dari Museum Keprajuritan, Museum Hakka, Museum Listrik sampai Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptil, setiap museum di TMII memiliki beragam tema dan pameran yang dapat membawa pengunjung merasakan pengalaman belajar sejarah yang unik.

Di sini, pengunjung bisa menambah pengetahuan sambil bermain dengan teknologi interaktif Virtual Reality (VR), menonton film, menyaksikan peragaan ketenagalistrikan, membuat batik, dan masih banyak lagi.

Museum fauna Indonesia “Komodo” memiliki tema dunia satwa Indonesia yang menghadirkan satwa-satwa yang hidup maupun yang telah diawetkan. Bangunan arsitektur dari museum ini berbentuk seperti Komodo, salah satu spesies reptil purba khas Nusa Tenggara Timur, dan menempati lahan seluas 10.120 meter persegi. 

Pameran keanekaragaman fauna nusantara yang terdapat di museum ini disajikan berdasarkan kelompok persebarannya, yakni dari barat ke timur. Ini menunjukkan persebaran hewan dari Sumatera sampai Papua.

Tidak hanya itu, museum ini juga memamerkan keanekaragaman berdasarkan persebaran dari pantai ke pegunungan, untuk menunjukkan habitat masing-masing satwa Indonesia.

Museum Fauna TMII dok TMII
Museum Faunsa TMII. Foto: dok TMII

Taman Reptilia yang menghadirkan koleksi reptil hidup memperbolehkan pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan satwa-satwa unik yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah seperti ular sanca, ular berkaki, komodo, biawak, penyu, kura-kura buaya, iguana, dan masih banyak lagi reptil lainnya.

Selain itu, pengunjung anak-anak juga dapat menelusuri rasa ingin tahunya lebih lanjut dengan bermain bersama ular sanca di Taman Sentuh, yang tentunya lengkap dengan pengawasan para ahli dari spesies tersebut.

Sementara itu, mengambil tema Indonesia dan Dunia Air Tawar, taman ini memamerkan keanekaragaman hayati air tawar yang didominasi berbagai ekosistem akuarium untuk sarana rekreasi, pendidikan, penelitian, konservasi alam dan juga atraksi bagi pengunjung.

Menyimpan 6.000 ekor satwa dari 126 spesies yang berbeda, Dunia Air Tawar Taman Mini  merupakan taman biota air tawar terbesar dan terlengkap kedua di dunia serta terbesar di Asia.

Spesies-spesies di taman ini berasal dari berbagai perairan di Indonesia, seperti Arwana (Scleropages formosus), hiu gergaji (Pristis microdon), ikan buntal, dan lain-lain, maupun spesies yang berasal dari belahan dunia lain seperti ikan piranha, ikan kupu-kupu, dan masih banyak lagi.

Selain terdapat koleksi yang menakjubkan, taman ini dilengkapi museum, perpustakaan, auditorium, akuarium Nusantara, Pojok Reptilia, dan ruang karantina untuk pengembangbiakan koleksi dan penampungan hasil petani dan nelayan yang dapat diperjualbelikan kepada masyarakat. Taman ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat dan mahasiswa untuk melakukan observasi dan penelitian yang berkaitan dengan edukasi dan peluang bisnis.

Yang tak kalah serunya tentu menonton keindahan Indonesia melalui layar IMEX di Teater Keong Emas. Teknologi ini membuat penontonnya serasa terbang dan menyelam di lokasinya.

Taman Mini Indonesia Indah

Jl Raya Taman Mini, Jakarta Timur. DKI Jakarta, Indonesia.

Senin Sampai Jumat: 6-17

Sabtu Minggu, & libur nasional : 5-17

agendaIndonesia

*****

Liburan Ke Likupang, 1 Destinasi Super

Liburan di Likupang, salah satu surga wisata bahari di Indonesia utara.

Liburan ke Likupang di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, yuk! Inilah salah satu destinasi super prioritas Indonesia yang perlu dilirik buat mereka yang senang dengan wisata bahari.

Liburan ke Likupang

Mungkin sebagian dari kita masih belum begitu familiar dengan surga tersembunyi di Kabupaten Minahasa Utara. Termasuk kenyataan kalau Likupang ini menyimpan banyak sekali tempat wisata alam yang dapat dieksplorasi.

Liburan ke Likupang, salah satu surga wisata bahari di sebelah utara Indonesia.
Wisata pantai di Likupang, Sulawesi Utara. Foto: Dok. shutterstock

Sejak masa kanak-kanan kita, bila menyebut destinasi favorit di Sulawesi Utara, maka nama yang muncul kalua bukan Manado, pastilah Bunaken. Yang terakhir ini bahkan lebih dahulu popular dibandingkan Raja Ampat dan Wakatobi.

Nama Likupang memang masih sangat jarang diketahui wisatawan. Sejatinya Likupang memiliki potensi wisata yang luar biasa indah, dan pastinya tak kalah dari Manado maupun Bunaken.

Bermodalkan keindahan alam yang dimiliki, membuat liburan ke Likupang kian mendapat sorotan dan berpotensi menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia kelas dunia. Sebut saja di antaranya hamparan perbukitan hijau, pantai pasir putih yang indah, bawah laut yang masih terjaga, atau kuliner menggugah selera.

Jika berangkat dari Jakarta atau Makassar dengan penerbangan pagi, pengunjung bisa langsung menuju Likupang. Cobalah dulu mengunjungi Desa Bahoi, desa ekowisata yang berada di Kecamatan Likupang Barat. Butuh waktu sekitar 1,5 jam menggunakan mobil dari Bandara Sam Ratulangi di Manado menuju desa ini. Desa Bahoi punya beragam tempat wisata, mulai dari hutan bakau hingga keindahan alam bawah lautnya yang mempesona.

Liburan ke Likupang tak hanya pantai, ada pulau bukit dan danau. Seperti Danau Linau.
Danau Linau di Likupang, Sulawesi Utara. Foto: dok. shutterstock


Masyarakat desa pun sangat sadar akan prinsip-prinsip ekowisata. Ini tampak dari keberadaan ekosistem hutan bakau di Desa Bahoi yang dikelola sendiri oleh masyarakat. Kegiatan lain yang bisa dilakukan di Desa Bahoi adalah snorkeling dan diving.
Pilihan lain adalah ke desa wisata Pulisan di Likupang Timur. Berjarak sekitar 48 km dari Kota Manado, ada banyak hal yang bisa dieksplor di desa ini. Misalnya mengunjungi berbagai destinasi wisata perbukitan di Likupang. Mulai dari Bukit Pulisan hingga Bukit Larata.

Desa wisata Pulisan menawarkan paket wisata laut yang lengkap. Desa ini terletak di jantung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang. Untuk bisa sampai di Pantai Pulisan, meski jaraknya ‘hanya’ sekitar 48 kilomater, wisatawan harus menempuh perjalanan darat selama sekitar dua jam dari kota Manado. Meski cukup jauh, semua terbayar oleh eksotisme pantai berpasir putih ini. Selain terumbu karang beraneka warna, Kamu bisa melihat pemandangan di dalam air dengan jelas. Tak hanya itu, adanya batu karang yang menyerupai gua,menjadi daya tarik tersendiri.

Di kawasan pantai Pulisan juga terdapat bukit padang sabana yang memiliki suasana menyejukkan. Dari bukit yang memperlihatkan hamparan padang rumput dengan pemandangan laut yang indah. Untuk menuju ke puncaknya, wisatawan harus melewati perjalanan yang agak menantang selama satu jam. Namun, saat mencapai puncak, perjuangannya bakal terbayar lunas.

Selain Bukit Pulisan, destinasi wisata perbukitan di Likupang yang bisa dikunjungi adalah Bukit Larata. Tidak kalah memesona, Bukit Larata juga menawarkan keindahan bukit savana dengan padang rumput yang berpadu dengan pemandangan laut.

Tentu saja liburan ke Likupang tetap menjadi surga bagi para pecinta wisata pantai dan bahari. Selain pantai Pulisan, wisata pantai di Likupang berikutnya adalah Pantai Paal. Berlokasi di Desa Marinsow, Kecamatan Likupang Timur, Pantai Paal dikenal dengan pemandangan eksotis dan air laut berwarna gradasi biru tosca yang cantik.

Keindahan pemandangan laut di pantai Pulisan dan Paal sangat cocok untuk snorkeling, berjemur, atau sekadar menikmati hembusan angin dan mendengarkan deburan ombak menenangkan. Jika tak puas dengan ke duanya masih ada Pantai Sampiran, dan Pantai Surabaya.

Jika pun masih tak puas dengan pantai-pantai tersebut, wisayawan bisa menciptakan pengalaman baru berlibur di Likupang dengan mengunjungi Pulau Lihaga, yang dikenal memiliki keindahan bawah laut tiada duanya.

Dari likupang pengunjung bisa naik kapal bermotor ke Pulau Lihaga. Ada dua jenis kapal bermotor yang disewakan. Tarif untuk menyewa kapal bermotor dengan kapasitas penumpang maksimal 15 orang, berkisar Rp100 ribu per orang. Namun bila berkunjung secara rombongan lebih dari 20 orang, bisa juga menyewa kapal dengan tarif sebesar Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

Pulau seluas 8 hektare ini memiliki pasir putih lembut dan air laut berwarna biru yang sangat jernih. Air lautnya yang sangat tenang sangat cocok untuk snorkeling sambil menikmati keindahan bawah laut yang menakjubkan.

Setelah keliling ke berbagai destinasi wisata di Likupang, perut terasa lapar dan waktunya mencicipi makanan khas Likupang yang lezat. Bubur tinutuan merupakan makanan khas yang sangat identik dengan kuliner Sulawesi Utara.

Liburan ke Likupang jangan lupa mencicipi kulinernya. Salah satunya ada bubur tinutuan.
Bubur tinutuan atau bubur Manado. Foto: shutterstock

Masyarakat mengenalnya juga dengan sebutan bubur Manado. Namun, bubur ini tak hanyak ada di Manado, melainkan juga di Likupang. Bubur tinutuan sangat khas,di dalamnya ada beragam sayuran segar. Sebut saja kangkung, bayam, kemangi, pipilan jagung, ubi, dan labu kuning. Sebagai pelengkap, biasanya akan ada cakalang atau cacahan daging sapi yang ditaburkan di atas bubur.

Selain itu ada juga milu siram, sup jagung yang dibuat dengan udang atau daging ikan. Cita rasa asam dari jeruk nipis dan pedas dari cabai, jadi kombinasi rasa yang unik untuk melengkapi eksplorasi para wisatawan di Likupang.

Jika ingin yang lain, coba sarapan yang lebih ringan saja yaitu pisang goroho yang dicocol dengan sambal roa. Jenis pisang ini hanya tumbuh di Sulawesi Utara. Bentuknya panjang dan ramping.

Pisang ini diolah dengan cara diiris tipis lalu digoreng. Namun, ada juga yang digoreng dengan baluran tepung. teksturnya akan mirip dengan keripik pisang tetapi dimakan dengan sambal. Sebagai pendamping pisang goroho dan sambal roa, masyarakat lokal biasanya menyeduh secangkir kopi, teh, atau minuman hangat lainnya.

Satu lagi makanan khas Sulawesi Utara yang menggunakan ikan cakalang sebagai bahan untuk mengolahnya. Namanya lalampa. Makanan yang terbuat dari ketan yang diisi dengan ikan cakalang, dan dibungkus dengan daun pisang satu ini memiliki aroma harum dan rasa gurih yang dapat menggoyang lidah.

Lalampa ini mirip dengan lemper. Namun, ada beberapa hal yang membedakan. Pertama, isian lalampa berupa ikan cakalang. Kedua, selain dikukus, lalampa juga harus dibakar. Sebelum dibakar, lalampa diolesi dengan minyak sayur sehingga aromanya dan rasanya lebih kuat.

Ayo agendakan liburan ke Likupang. Nikmati alam dan kulinernya.

agendaIndonesia

*****