Soto Kadipiro, Sruputan Nikmat Sejak 1921

Soto Kadipiro Yogyakarta adalah kuliner legendaris kota pelajar ini. Foto: gudegnet

Soto Kadipiro selama puluhan tahun sudah menjadi salah satu ikon khasanah kuliner Yogyakarta. Boleh dibilang, warung soto ini adalah salah satu yang tertua dan paling legendaris di kota pelajar ini.

Soto Kadipiro Yogyakarta

Soto tentu sudah menjadi makanan yang tidak asing lagi di lidah orang Indonesia. Meskipun terbagi menjadi beragam jenis pada tiap daerah di seluruh penjuru negeri, pada dasarnya soto merupakan kuliner berkuah yang dibuat dari rebusan daging bahannya.

Daging bahan baku soto bisa bermacam-macam, dari daging ayam, sapi, kambing, hingga kuda. Daging tersebut kemudian direbus dengan racikan bumbu hingga menjadi kaldu yang gurih. Soto kemudian disajikan dengan potongan dagingnya plus sayuran, seperti taoge dan kubis.

Konon, makanan ini dinamakan soto karena berasal dari istilah dialek Hokkian ‘shao du’, yang secara harafiah kurang lebih artinya ‘jeroan berempah‘. Ini merujuk kepada cara memasak daging atau jeroan dengan bumbu rempah hingga menjadi kaldu harum dan gurih.

Sato Kadipiro Yogyakarta awalnya dijual pikulan.
Soto, termasuk soto kadipiro, dipercaya mendapat pengaruh dari kuliner Tionghoa. Foto: shutterstock

Soto sendiri dipercaya merupakan makanan yang dibawa oleh para pendatang dari Tiongkok pada sekitar abad ke-19. Awalnya soto populer di kawasan pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah, sebelum menyebar ke daerah lain dan berkembang dengan ciri khasnya masing-masing.

Salah satu soto yang sudah eksis sejak lama, bahkan dari era pra-kemerdekaan adalah soto Kadipiro. Soto ini populer dengan nama demikian karena mengambil nama daerah warung soto ini pertama kali berdiri.

Awal kemunculan soto ini berasal dari seorang penjual soto keliling bernama Karto Wijoyo. Sejak 1921, ia sudah berjualan soto keliling dengan pikulan. Barulah pada 1928 ia mampu mendirikan warung soto yang kini dikenal luas sebagai soto Kadipiro.

Hingga kini, sudah sekitar 100 tahun lebih warung soto ini melayani pembeli dan pecintanya. Setelah Karto berpulang pada 1972, operasional warung soto ini terus dilanjutkan oleh anak-anaknya dan cucu-cucunya. Hingga kini sudah generasi ke tiga bahkan ke empat soto ini menjadi dari bisnis keluarga tersebut.

Beberapa kerabat keluarga mereka pun turut mendirikan warung-warung lain bertajuk soto Kadipiro, dengan resep yang kurang lebih sama. Maka jangan heran, bila terdapat cukup banyak warung soto Kadipiro lainnya yang bertebaran di Yogyakarta.

Mungkin agak sulit bagi orang awam bisa memahami mengapa soto ini bisa begitu legendaris. Secara bahan dan pembuatannya, soto Kadipiro terlihat cukup mirip seperti soto ayam lainnya.

Warung Soto Kadipiro Yogya
Warung soto di jalan Wates ini masih mirip saat pertama berdiri. Foto: Istimewa

Warungnya yang asli pun juga cenderung tua dan sederhana, dengan papan tulisan penanda warung soto Kadipiro di bagian depan warung yang masih dipertahankan hingga kini. Rumah berarsitektur tua dengan pintu dan tiang kayunya juga sejak dulu tak banyak berubah.

Di dalamnya terdapat jejeran kursi dan meja, namun yang cukup unik adalah meja serta kursi yang menghadap langsung ke tempat penyajian soto tersebut. Karyawan yang bertugas akan menyajikan soto dari gentongnya ke hadapan pengunjung yang duduk di situ.

Berbagai keunikan serta ciri khas itulah yang bisa jadi alasan mengapa warung soto ini terus eksis dan digandrungi hingga kini. Bagi mereka yang sudah berumur banyak, warung soto ini menjadi ajang nostalgia zaman dulu, baik bersama keluarga maupun teman.

Namun, ada lagi satu keunikan soto Kadipiro yang mampu membuat yang tua selalu datang kembali dan yang muda ikut penasaran untuk mencoba. Soto ayam di warung ini beda dengan kebanyakan karena hanya dibuat dari ayam kampung.

Disebutkan bahwa penggunaan ayam kampung ini menjadikan kuah kaldu soto tersebut menjadi begitu gurih dan unik. Bahkan konon semakin banyak daging ayam yang direbus untuk menjadi kaldu, maka semakin lezat pula hasil kuah kaldunya.

Tak hanya itu, ayam yang digunakan untuk bahan baku soto ini juga selalu disembelih dan dipotong setiap pagi untuk memastikan kualitas daging selalu fresh, serta cita rasa kuah kaldu yang selalu gurih dan nikmat.

Untuk memasaknya pun masih menggunakan kuali dari tanah liat dan kayu bakar. Metode tradisional ini masih terus dipertahankan hingga kini, demi menjaga aroma dan cita rasa khas dari soto ini.

Di dalam semangkok soto ini, dapat ditemukan isian berupa potongan daging ayam, taoge, kubis, seledri dan bawang goreng. Pengunjung kemudian bisa memesan sendiri soto yang sudah dicampur atau dipisah dengan nasinya.

Interior Warung Soto Kadipiro Bantulpedia
Warung Kadipiro milik generasi ke dua. Foto: Bantulpedia

Sebagai teman makan soto, biasanya disediakan lauk seperti perkedel kentang, tahu dan tempe bacem, ati ampela goreng, serta sate telur puyuh. Selain itu, bisa juga meminta suwiran ayam kampung goreng dengan bawang goreng serta kecap yang menambah unik cita rasa.

Harganya pun tergolong terjangkau. Satu mangkok soto ayam campur dihargai Rp 15 ribu, sedangkan yang pisah biasanya sedikit lebih mahal sekitar Rp 3-4 ribu. Lauk-lauknya juga hanya sekitar Rp 2 ribu hingga Rp 12 ribu.

Untuk yang ingin potongan ayam kampung, harganya mulai dari Rp 12 ribu sampai Rp 21 ribu, tergantung dari bagian ayam mana yang diinginkan. Tersedia pula ragam minuman seperti teh dan jeruk panas maupun dingin, soda gembira dan es tape hijau, dengan harga mulai dari Rp 3,5 ribu.

Pada hari biasa, warung soto ini bisa menghabiskan 75 hingga 80 ekor ayam. Tetapi di kala akhir pekan, warung tersebut bisa menggunakan 120 hingga 150 ekor ayam. Tak heran, pengunjung di akhir pekan biasanya memang begitu membludak.

Sehari-harinya saja, warung soto ini normalnya buka dari jam 08.00 hingga sekitar jam 14.30. Tetapi dari setelah jam makan siang pun – sekitar jam 13.00 – sering kali soto yang dijajakan sudah laris manis terjual.

Oleh karena minat pengunjung yang tak pernah surut, warung soto Kadipiro ini umumnya selalu buka setiap hari. Terkadang warung akan tutup pada hari besar seperti Idul Fitri, namun biasanya hanya akan tutup sekitar 2-3 hari, dan setelahnya akan buka kembali.

Memang, beberapa warung soto Kadipiro yang lain di sekitar daerah itu ada yang mungkin buka lebih lama dengan stok soto lebih banyak. Tapi kalau mau mencoba nuansa dan cita rasa warung soto Kadipiro yang asli, disarankan untuk datang lebih awal agar tak kehabisan. Jika sotonya habis, biasanya di muka warung ada papan tulis kecil dengan tulisan “Soto Habis”.

Soto Kadipiro (Asli)

Jl. Wates no. 33, Yogyakarta

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pesona Teluk Mandeh, 1 Keindahan Sumatera

Pesona Teluk Mandeh di Sumatera Barat layak dilirik wisatawan.

Pesona Teluk Mandeh rasanya masih jarang dibicarakan jika orang mengobrolkan soal wisata Sumatera Barat. Padahal kawasan wisata ini memiliki sederet pulau kecil dan teluk yang tenang tanpa ombak yang indah. Berikut ini kisah perjalanan ke Mandeh.

Pesona Teluk Mandeh

Kapal motor Barakuda perlahan meninggalkan Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Pagi di akhir April, cuaca begitu cerah. Satu per satu kapal-kapal besar yang membuang jangkar di tengah laut terlampaui. Rombongan hari itu menyasar ke Kawasan Mandeh yang sudah ditetapkan sebagai kawasan wisata baharí beberapa tahun lalu.

Pesona Teluk Mandeh bisa dinikmati dengan jelas dari puncak bukit.
Lanskap Teluk Mandeh dilihat dari ketinggian bukit. Foto: Dok. shutterstock

Terletak di Pantai Carocok, Tarusan, di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pesona Teluk Mandeh ini terdiri atas teluk yang berlekuk-lekuk dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Penuh keindahan, airnya bening biru kehijauan, terumbu karang berlimpah, dan pasirnya putih menggoda.

Buat masyarakat yang tinggal di Padang, rasanya pasti mengenal Mandeh. Orang bisa menjajal jalur darat. Jaraknya harus ditempuh dalam satu jam yang kemudian disambung perahu kecil untuk mencapai pulau-pulaunya. Kali ini, mencoba merasakan rute laut langsung. Dari Pelabuhan Bungus yang hanya dalam 30 menit perjalanan, kapal mulai melewati satu per satu pulau-pulau kecil yang termasuk dalam kawasan wisata yang luasnya mencapai 18 ribu hektare ini.

Kemudian, kapal melewati Pulau Pasumpahan dan Pulau Sikuai. Pulau Sikuai sudah dikelola sejak 1994. Di antara jejeran pulau kelapa di pulau ini terlihat puluhan cottages yang dibangun dari pantai hingga bukit-bukit. Ini merupakan pesona Teluk Mandeh.

Sempat menjadi primadona turis lokal maupun asing. Keindahan sekaligus fasilitasnya cukup lengkap. Bahkan ada jalur trekking ke puncak bukit tempat wisatawan bisa menikmati matahari terbenam. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir berhenti beroperasi karena ada masalah dalam pengelolaan.

Masih banyak pulau tak berpenghuni di sekitar Pulau Sikuai, seperti Pulau Sirandah dan Pulau Bintangor. Saat melewati Pulau Pagang terlihat beberapa penginapan sederhana dengan dermaga kecil.

Kapal juga melewati sebuah tanjung yang menjorok ke laut, nyaris seperti sebuah pulau. Itulah Tanjung Pamutusan. Diberi nama demikian karena memang nyaris putus dari daratan Sumatera dan hanya terhubung dengan pantai sempit berpasir putih, seperti semua jalan ke daratan. Sebuah dermaga kecil dibangun di sana. Begitupn ini merupakan bagian dari pesona Teluk Mandeh.


Di kejauhan juga terlihat Pulau Marak. Enam tahun lalu, pulau itu pernah menjadi kawasan konservasi siamang oleh kelompok konservasi Kalawet. Namun, akhirnya, hewan itu dipindahkan ke daratan Sumatera  karena takut terkena bencana tsunami.

Kapal kembali mengarungi kawasan Mandeh dengan melewati Pulau Cubadak—pulau terluas di kawasan ini. Mencapai 706 hektare, di pulau ini berdiri resor Cubadak Paradiso Village yang dikelola warga Prancis.


Kebanyakan wisatawan Eropa berlibur di sana. Mereka umumnya berburu ketenangan Mandeh sembari menjajal beragam aktivitas. Misalnya, bermain kayak keliling pulau, menyelam, berenang, dan tentu saja menikmati matahari terbenam dari puncak bukit batu di Pulau Cubadak  setiap sore.

Pesona Teluk Mandeh terdisi dari pantai-pantai berpasir putih yang masih sepi, pulau-pulau kecil dan lainya.
Pulau Pagang di kawasan Teluk Mandeh dari atas. Foto: Dok. shutterstock

Masih ada pulau-pulau kecil lain, yakni Pulau Traju, Pulau Sironjong Besar, Sironjong Kecil, Pulau Setan Besar, dan Pulau Setan Kecil. Pada Maret lalu, saya sempat menjejakkan kaki di Pulau Setan Besar—pulau yang tidak terlalu besar. Pantainya berpasir putih serta ditumbuhi berbagai vegetasi mangrove. Di bagian barat pulau terdapat bukit batu.

Akhirnya, di Teluk Mandeh, kapal membuang jangkar. Melalui jalur laut langsung dari Pelabuhan Bungus memerlukan waktu 1,5 jam atau lebih cepat 30 menit dibanding via darat.  Tujuannya adalah Nagari Mandeh dan perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil. Melewati muara sungai yang penuh mangrove. Sekitar 15 menit menyusuri sungai, wisatawan tiba di Mandeh—nama Nagari yang dijadikan nama kawasan wisata ini. Sebenarnya ada tujuh nagari dalam kawasan tersebut.

Rumah-rumah penduduk yang membelakangi tepian sungai kebanyakan terbuat dari kayu. Keasrian begitu kental. Sungai yang jernih dan bukit-bukit dipadati pepohonan. Pengunjung bisa mengamati pembuatan kapal bagan yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

Kapal itu ternyata dibuat sendiri oleh warga setempat dari kayu. Bentuknya yang unik terdiri atas sepasang perahu setinggi 2 meter dengan panjang 10 meter yang tersambung berjajar dan di kedua sisinya menggunakan cadik.
Pada malam hari, kapal-kapal bagan ini terlihat anggun di tengah laut dengan dilengkapi lampu-lampu petromaks untuk menarik perhatian ikan-ikan. Di Teluk Mandeh ada lokasi kapal tenggelam.

Situs Shipwreck atau kapal tenggelam itu adalah kapal dagang Belanda dengan nama Boelongan Nederland yang dibuat pada 1915. Kapal ini mengangkut hasil bumi Nusantara untuk keperluan Belanda. Kapal itu dibombardir tentara Jepang pada 28 Januari 1942 saat sedang bersembunyi di Teluk  Mandeh. Situs ini bisa dikunjungi para penyelam yang ingin mencermati kapal yang patah dua dengan dinding-dindingnya yang berlubang karena peluru.

Dari teluk, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Carocok. Tujuannya memang Puncak Mandeh yang bisa dicapai dari dermaga dengan mobil dalam 15 menit. Jalanan mendaki menuju panorama satu Puncak Mandeh, yang berada di sebuah bukit yang tinggi dan menghadap ke teluk.

Lokasi ini dibangun pemerintah daerah seukuran tiga kali lapangan voli dan bisa digunakan untuk tempat parkir serta memandang lepas ke laut Mandeh. Beberapa pohon pun menjadi peneduh.

Lanskap Mandeh pun terbentang indah di depan mata. Laut tenang dikelilingi bukit-bukit yang berlekuk-lekuk menyerupai pulau. Padahal masih bagian dari daratan Sumatera. Di depannya ada gugusan pulau-pulau kecil yang tersebar. Tak ada ombak di teluk itu karena bukit dan pulau-pulau kecil menghalangi kedatangan ombak dari Samudera Hindia. Teluk itu seperti kolam raksasa dengan air hijau kebiruan. Saat sang surya tepat berada di atas kepala, gradasi warna antara biru dan hijau terlihat lebih jelas.

agendaIndonesia/TL

*****

Desa Adat Tenganan, Tradisi Bali Aga Sejak Abad 11

Desa Adat Tenganan, tradisi Bali Aga dari abad 11

Desa Adat Tenganan Pegringsingan, bagi sebagian wisatawan yang pernah berkunjung, identik dengan upacara adat Perang Pandan. Sebuah tradisi yang digelar rutin setiap tahun.

Desa Adat Tenganan

Desa ini terletak di Kecamatan Mangis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, desa ini hanya berjarak 10 kilometer dari obyek wisata Candi Dasa. Dekat juga dengan Pelabuhan Padang Bai.

Lokasinya memang tersembunyi di balik bukit dan hutan, tapi hal tersebut tidak menyurutkan niat wisatawan untuk berkunjung. Apalagi Tenganan adalah satu dari sedikit desa yang masih memegang teguh aturan adat Bali Aga, yang disebut Awig-awig. Sejak abad ke-11, peraturan itu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Kekunoan ini menarik rasa penasaran orang awam untuk bertandang.

Desa Adat Tenganan, Bali, merupakan salah satu desa dengan tradisi Bali Age.
Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Bali, bagian dari adat Bali Age. Foto: Dok. shutterstock

Saat ini, terdapat tiga desa Bali Aga. Selain Tenganan, ada Trunyan dan Sembiran. Bali Aga merupakan sebutan bagi desa yang masih mempertahankan aturan tradisional yang diwariskan nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk soal bentuk dan besar bangunan serta pekarangan. Posisi bangunan dan pura pun dibuat dengan mengikuti aturan yang berlaku turun-temurun itu.

Setiap tahun, desa ini sesak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara saat digelar Perang Pandan atau dalam bahasa setempat disebut Mekare-kare. Ini adalah prosesi kultural paling ekstrem yang pernah saya saksikan. Dengan bertelanjang dada, bersarung, dan mengenakan udeng khas Bali, dalam sebuah lingkaran kecil dua pemuda saling menyabet punggung lawan menggunakan pandan berduri. Meskipun tangan lain memegang tameng rotan untuk pertahanan, luka dan darah tidak terhindarkan.

Tradisi ini memang tak pernah menyebabkan pertengkaran ataupun memicu dendam berkepanjangan. Sebab, semua merupakan bagiandari upacara Usaba Sambah, yang rutin dilakukan oleh penduduk Desa Tenganan setiap tahun pada sasih kalima penanggalan Bali. Mekare-kare dilakukan sebagai lambang pemujaan dan penghormatan terhadap Dewa Indra, sang Dewa Perang.

Sebagian wisatawan lain mungkin akan mengingat Desa Tenganan sebagai penghasil kain tenun Pegringsingan yang sangat cantik dan bernilai ekonomi tinggi. Sama halnya dengan berbagai daerah lain di Indonesia, proses penenunan bukanlah sesuatu yang mudah dikerjakan dalam waktu singkat. Maka, tak mengherankan jika harga kerajinan ini terkadang membuat mulut menganga. Terlebih, penduduk desa adat ini harus menaati berbagai pakem walaupun hanya untuk membuat sehelai kain.

Kain tenun Pegringsingan dibuat berdasarkan nilai-nilai spiritual Bali Aga, yang mereka anut. Nilai itu diekspresikan dalam warna merah, hitam, dan putih serta motif-motif khas. Pegringsingan atau Gringsing dalam bahasa setempat bermakna “tidak sakit”. Jadi, dalam sehelai kain ini ada doa dan kepercayaan untuk hidup sehat alias waras. Sering kali, kain ini dikenakan para gadis desa saat melangsungkan upacara adat.

Desa Adat Tenganan salah satu dari 3 desa Bali Age di Karangasem, Bali.
Gadis-gadis Desa Tenganan bersiap membawakan tari Rejang Tenganan. Foto: dok. shutterstock

Sunyi dan damai adalah impresi kedua saat saya bertandang ke Desa Tenganan di kala tidak ada ritual tradisional apa pun. Ketika itu, saya memang iseng bergerak ke timur
Bali dengan sepeda motor dari Ubud bersama kawan. Transportasi umum menuju Desa Tenganan memang minim. Biasanya, wisatawan menyewa kendaraan dari Denpasar dan menempuh perjalanan selama 2-3 jam.

Setelah memarkir kendaraan, pengunjung wajib mengisi buku tamu terlebih dulu tepat di sebelah gapura desa. Meskipun tak sedang menggelar prosesi, mesin penenun tetap berputar dan tangan- tangan lincah para perajin masih setia melukis di atas daun lontar.

Tanpa riuh wisatawan, saya lebih bisa menikmati arsitektur kuno Tenganan, yang masih bertahan hingga zaman serba digital ini. Penduduk desa itu memang tak banyak. Mereka tinggal di rumah beratap tumpukan daun rumbia. Para penenun, di bagian pintu masuk rumah, akan menggantung beberapa kain tenun untuk menarik perhatian pengunjung yang datang.

Jika diperhatikan, rumah-rumah ini berukuran relatif sama, pun dengan bentuk dan tata ruang di dalamnya. Hampir semua bangunan dibuat menggunakan batu bata merah dan tanah. Tentu, dalam hal pem- bangunan tempat tinggal, pasti ada aturan adat yang telah disepakati secara turun-temurun.Pada beberapa titik, pengunjung akan melihat beberapa tanda larangan keras untuk memburu burung dan ikan di sekitar desa adat. Sebagai penganut teguh ajaran Tri Hita Karana, masyarakat Desa Tengana memang selalu berusaha menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam

TL/agendaIndonesia

****

Wisata Pantai Indah Kapuk, 5 Yang Keren

Wisata Pantai indah kapuk menjadi populer ketika ada pembatasan mobiltas penduduk

Wisata Pantai Indah Kapuk menjadi rumpian banyak orang sepanjang setahun terakhir. Tepatnya saat Jakarta mulai agak melonggarkan aturan pertemuan orang dan perjalanan. Termasuk di dalamnya untuk berolahraga atau makan di luar rumah.

Wisata Pantai Indah Kapuk

Pantai Indah Kapuk atau sering disebut dengan singkatannya, PIK, sejatinya adalah perumahan yang berlokasi di pesisir Jakarta, tepatnya di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara dan Kelurahan Kapuk di Jakarta Barat. Walaupun sebagian besar diisi perumahan, PIK juga memiliki pertokoan di jalan-jalan utamanya, seperti di Jalan Pantai Indah Utara, Jalan Pantai Indah Selatan, dan Jalan Marina Indah.

Wisata pantai Indah Kapuk menjadi terkenal salah satunya karena pusat kulinarinya yang beraneka dan serba enak.
Kawasan kuliner di PIK 2. Foto: Dok. shutterstock

Belakangan kawasan ini menjadi viral terutama setelah pembukaan area Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 sebagai pengembangan wisata Pantai Indah Kapuk. Tempat ini dibuka sepertinya untuk merespon situasi ketika berwisata keluar kota masih belum diizinkan.

Keterbatasan kegiatan warga Jakarta berwisata membuat opsi liburan semakin terbatas. Alhasil, banyak tempat wisata yang bermunculan di Jakarta. Seperti PIK 2 ini, yang meskpiun aslinya merupakan daerah perumahan, pengembangan beberapa spot di sini menjadikannya sebagai lokasi wisata. Mulai dari wisata pantai sampai wisata kuliner.

Saking hit-nya kawasan ini, bahkan pada saat-saat tertentu sampai diberlakukan akses buka tutup untuk dapat memasuki area PIK 2 dan sekitarnya. Kawasan ini memang memiliki beberapa spot rekreasi yang menarik, mulai dari wisata alam, taman bermain, tempat kuliner sampai pusat perbelanjaan mewah
Lalu apa saja yang layak dikunjungi jika berkunjung ke wisata Pantai Indah Kapuk ini?

Hutan Wisata Manggrove
Hutan wisata mangrove PIK menawarkan suasana hijau dan sejuk dari Jakarta. Di tempat wisata Pantai Indah Kapuk ini, pengunjung juga bisa mengelilingi hutan bakau dengan menaiki perahu yang ditawarkan sejumlah pemiliknya sambil menyusuri danau.
Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk merupakan bagian dari kawasan Hutan Angke Kapuk yang berlokasi di Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Taman wisata alam ini dikembangkan sebagai sarana pariwisata alam, sekaligus mempertahankan kelestarian fungsi bakau sebagai penyangga kehidupan.

Dalam kawasan ini, wisatawan dapat melihat berbagai jenis flora dan fauna yang mendominasi kawasan TWA Angke Kapuk. Fauna yang singgah di kawasan hutan bakau ini umumnya jenis burung merandai dan hampir seluruhnya adalah satwa yang dilindungi. Beberapa di antaranya adalah elang laut perut putih, gagang bayam timur, cekakak sungai, dan elang tiram.


Pantai Pasir Putih

Ini spot yang paling hit di PIK, pantai dengan pasir putih. Pantai ini memang hasil rekayasa desain. Pantai Pasir Putih atau White Sand Beach PIK merupakan pantai reklamasi yang pasirnya didatangkan khusus dari Bangka Belitung.
Kawasan pantai reklamasi ini cocok untuk Anda yang ingin bersantai di pantai sambil bermain pasir atau joging sore. Keseruan lain dari Pantai Pasir Putih adalah bisa melihat langsung lalu lalang pesawat yang terbang rendah menuju pendaratan di Bandara Soekarno Hatta. Masuk ke area ini gratis.

Pepohonan palem yang mulai membesar di tepian pantai yang dibuka sejak 2020 ini semakin menambah keindahan. Tak heran bila tempat wisata ini sangat direkomendasikan untuk relaksasi dari kesibukan harian. Garis pantai di kawasan ini sekitar empat kilometer, cukup panjang sehingga terkesan bak hamparan putih perak berkilauan.


Pelataran San Antonio
Ini spot bagi mereka yang ingin olah raga atau sekadar jalan-jalan pagi atau malahan jalan-jalan sore alias JJS. San Antonio Promenade (pelataran tepi laut) termasuk kawasan wisata PIK Jakarta yang tengah populer. Di sini, Anda bisa merasakan sensasi bersepeda atau joging di tepi laut.
Desain area San Antonio Promenade cukup estetik dan memiliki banyak sudut menarik untuk berswafoto. Selain suasana tepi laut yang memanjakan mata, pengunjung juga dapat sekaligus singgah ke deretan resto dan kafe di pinggirnya untuk minum kopi atau menikmati camilan

Kawasan Kuliner Pantjoran PIK
Kawasan wisata kuliner Pantjoran dengan nuansa oriental bisa dinikmati di Golf Island, Pantai Maju, Pantai Indah Kapuk. Pantjoran PIK berada di atas lahan seluas 5.500 meter persegi yang dipenuhi berbagai penjual makanan dan minuman. Berbagai macam makanan ringan hingga berat dapat ditemukan dalam kawasan kuliner ini. Di antaranya ada es campur, bakpao, kopi, dimsum, serta makanan berat seperti nasi hainan, bakmi, dan lontong.


Sejumlah jajanan tersedia dalam bentuk gerobak yang ada di berbagai titik di dalam kawasan Pantjoran. Salah satu tenant makanan yang berada di kawasan ini adalah Kari Lam. Salah satu kuliner ikonik yang sudah ada sejak 1973 di Gang Gloria Glodok.

Wisata pantai Indah kapuk salah satunya asyik dinikmati saat malam hari, sambil menyantap masakan yang lezat.
Salah satu bangunan ikonik di kawasan Pantjoran PIK. Foto: Dok. Unsplash

Sembari berwisata kuliner, wisatawan juga dapat menyaksikan hiburan mingguan seperti tarian seribu tangan, barongsai, dan olahraga tai chi. Kawasan Pantjoran PIK juga dilengkapi dengan sarana pelengkap, salah satunya musala. Sehingga pengunjung Muslim tidak perlu khawatir jika ingin melaksanakan ibadah saat berwisata kuliner.

Urban Farm
Kawasan ini merupakan perpaduan wisata kuliner dan ruang kreatif. Urban Farm berlokasi di Kawasan Pantai Maju, Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan. Berdiri di lahan seluas 6.859 meter persegi, Urban Farm juga memiliki banyak spot foto Instagramable. Umumnya wisatawan yang ingin berfoto di tempat ini datang saat petang lantaran sinar mataharinya yang jingga keemasan. 

Wisata Pantai Indah Kapuk tak asyik jika tak mampir mencicipi croissant.
Salah satu kuliner yang sedang digemari adalah menikmati croissant dari The Monsier Spoon Croissant. Foto: Dok. The Monsier Spoon Croissant

Selain itu, di sini pengunjung dapat ngopi-ngopi santai atau menyicipi makanan yang disediakan di kawasan wisata kuliner ini. Salah satu tenant di Urban Farm adalah Monsieur Spoon, toko roti sekaligus restoran yang terkenal di Bali dan kini buka di Jakarta. Menu andalannya adalah The Monsieur Spoon Croissant yang original dengan rasa butter. Varian croissant lainnya, antara lain Black Croissant dan Almond Croissant

Sudah pernah ke Kawasan Pantai Indah Kapuk? Ayo agendakan waktu Anda main ke sini. Bisa piknik dengan membawa bekal makanan sendiri atau paling praktis membelinya di sentra wisata kuliner yang ada di pinggir pantai. Cukup gelar tikar di atas pasirnya yang lembut, Anda sekeluarga langsung bisa menikmati sensasi debur ombak sambil mencicipi bekal. Sayangnya aktivitas bermain air dan berenang di pantai ini belum diperbolehkan.

agendaIndonesia

*****

Air Terjun Anenderat yang Memukau

9. Bukit Teletubies d

Air terjun Anendarat yang memukau mungkin belum banyak diketahui publik. Berada di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat, wilayah ini memiliki banyak potensi pariwisata.

Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, memiliki potensi alam yang belum terkespose. Padahal, tak kalah dengan Raja Ampat, wilayah yang 80 persennya merupakan daerah konservasi ini mempunyai bentang lanskap yang tak nanggung-nanggung. Salah satunya air terjun tujuh tingkat.

Air terjun tujuh tingkat itu adalah Air Terjun Anenderat.  Lokasinya di Distrik Miyah. Distrik ini berada di bagian perut Kabupaten Tambrauw, 3 jam ditempuh dari Fef, ibu kota kabupaten.

Lantaran belum tereksepose, perjalanan mencari air terjun harus melalui medan menantang, yakni berkelok-kelok, berlumpur, berlubang, dan kudu membelah hutan. Air terjun ini tersembunyi di balik perkampungan di Distrik Miyah. Tak ada petunjuk arah. Hanya ada penanda plang semi-permanen yang dibuat warga. Plang itu bertuliskan “Selamat Datang di Air Terjun Anenderat”.

Selamat Datang Air Terjun

Pintu masuk air terjun tepat berada di samping kantor Distrik, Jalan Weku Nomor 1 Kampung Siakwa. Wisatawan bisa memarkirkan kendaraannya di sana, lantas melanjutkan perjalalanan dengan hikkingmelintasi rumah-rumah penduduk lebih-kurang 300 meter.

Di punggung kampung membentang sungai selebar kira-kira 50 meter, yakni Sungai Kamundan. Untuk menuju air terjun, wisatawan harus melewati sungai. Lantaran belum tersedia jembatan peghubung, cara satu-satunya menuju ke sana adalah dengan menyebrangi sungai.

Tinggi rata-rata air Sungai Kamundan pada kondisi normal ialah sebetis orang dewasa. Sedangkan saat hujan turun, debit air naik dan sungai akan meluap. Pengunjung harus menunggu surut untuk menyeberang lantaran arus cukup deras.

Selepas menyebrang, hiking diteruskan dengan memasuki kawasan hutan dengan jalur yang cukup terjal dan licin. Banyak akar pepohonan melintang. Namun, dari situ, suara gerojogan limpahan air terjun sudah jelas terdengar. Suaranya tegas memantik semangat. Semu-semu, limpahan air terjun pun mulai keihatan.

Makin masuk hutan, makin jelas penampakan air terjun tujuh tingkat itu. Tinggi luncuran airnya kira-kira mencapai 200 meter. masing-masing tingkat itu dipisahkan oleh kolam. Kepala Distrik Miyah Sofi, mengatakan di kolam ini penduduk lokal biasa memancing.

“Ada ikan gabus di sana,” ujarnya. Masyarakat sekitar akan memancing dengan cara tradisional menggunakan akar melinjo yang dipilin menjadi benang. Benang inilah yang digunakan untuk memantik sasaran. Fungsinya sama seperti umpan.

 

Air Terjun Miyah
Air Terjun Anenderat di Distrik Miyah. (Rosana)

Air terjun ini oleh masyarakat sekitar dipercaya sebagai sumber kehidupan warisan leluhur yang harus dijaga. Maka itu, masyakarat sangat menjaganya. Tak heran, air terjun dan aliran sungainya bersih dari sampah.

Waktu terbaik mengunjungi Air Terjun Anenderat adalah saat musim kemarau. Pada waktu curah hujan rendah, air sangat jernih. Tidak ada lumpur yang terbawa arus sehingga membuat air keruh seperti saat musim hujan.

Untuk menuju Air Terjun Anenderat, pelancong harus menuju Distrik Miyah. Miyah bisa ditempuh melalui dua pintu masuk, yakni dari Manokwari dan Sorong. Dari Sorong, waktu tempuh ke Miyah berkisar lebih-kurang 10 jam dengan rincian. Sorong – Sausapor (Ibu Kota Sementara Tambrauw) 3-4 jam, Sausapor – Fef (Ibu Kota Tambrauw) 3 jam, dan Fef – Miyah 3 jam.

Sedangkan dari Manokwari, Miyah bisa ditempuh dalam waktu lebih-kurang 5 jam. Adapun ritenya adalah Manokwari – Kebar 3-4 jam dan Kebar – Miyah 1 jam.

 

 

 

Rosana

*****

 

Pindang Ala Palembang, 4 Pilihan Sedap

Pindang ala Palembang, kulinari yang mampu membangkitkan selera makan

Pindang ala Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini, menyodorkan sejumlah sajian yang menggugah selera. Tidak hanya pempek dan sejenisnya. Ada pula hidangan menyegarkan yang pas dipadu dengan nasi, yakni aneka pindang.

Pindang Ala Palembang

Bahan bakunya bermacam-macam ikan. Namun bumbunya sama: bawang merah, bawang putih, lengkuas, salam, serai, jahe, tomat, cabai, kunyit, dan asam. Tidak mengherankan jika kemudian namanya berbeda-beda. Umumnya, menggunakan ikan patin, gabus, dan baung, yang biasa ditemukan di Sungai Musi. Namun ada pula yang berbahan tulang iga.

Selain itu, hidangan ini diberi nama sesuai dengan daerah asalnya. Namun semuanya bisa ditemukan di Palembang. Nama-nama menu yang cukup dikenal adalah Pindang Musi Rawas, Pindang Kuyung (khas Sekayu, Muba), Pindang Meranjat (khas Ogan Ilir), dan Pindang Sophia (spesial pindang udang satang). Tambahannya bisa berupa nanas, terasi, kemangi, dan irisan cabai.

Pindang Patin dan Ayam

Dari namanya, sudah jelas memang rumah makan ini menyediakan sajian istimewa serba pindang. RM Makan Pindang Tirta Anugerah terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Talang Kelapa. Sebelum masuk ke menu pindang, ada menu pembuka berupa ikan seluang. Merupakan ikan air tawar yang banyak terdapat di Sungai Musi. Bentuknya kecil-kecil. Di Jawa, biasa disebut ikan wader. Ikan ini disajikan dengan cara digoreng kering dan ditemani sambal petai, sambal buah bacang, juga sambal tempoyak.

Sambal buah bacang tak lain sambal mentah dengan irisan bacang (sejenis mangga), yang baunya harum. Sensasi rasa pedas dan asam bertemu dengan aroma bacang yang kuat. Sedangkan sambal tempoyak berbahan dasar durian matang yang telah difermentasi dengan campuran garam. Mula-mula bahan itu diaduk dan disimpan di wadah tertutup rapat. Biasanya, dalam stoples kaca. Setelah sekitar sepekan, tutup wadah dibuka, adonan diaduk kembali agar rata, lalu siap disantap. Biasanya, disajikan terpisah dengan

sambal cabai mentah. Namun bisa disesuaikan pula dengan selera kon- sumen. Sebab, biasanya ada pula yang meminta disajikan dengan dicampur sambal mentah.

Pindang disajikan sebagai menu utama dengan harga rata-rata per porsi Rp 40 ribuan. Sebenarnya, menu pindang satu sama lain memiliki kuah yang mirip, hanya berbeda bahan ikannya. Kuah pindang berwarna merah segar. Benar-benar menggoda selera! Pindang patin tentu berbahan dasar ikan patin, yang berdaging lembut. Rasanya segar

pedas. Apalagi dibumbui semerbak daun kemangi dan buah nanas di atasnya. Benar-benar membuat keringat saya bercucuran di tengah cuaca Palembang yang panas akhir Oktober lalu. Di Palembang, ada beberap tempat lain untuk mencicipi pindang ikan patin, yakni:

Rumah Makan Pindang Musi Rawas; Jalan Angkatan 45 Nomor 18;

Rumah Makan Sri Melayu; Jalan Demang Lebar Daun;

Pindang Meranjat Bu Ucha, Jalan Demang Lebar Daun Nomor 14.

Pindang ala palembang ada yang unik karena berbahan dari tulang iga.
Pindang ala Palembang tak semua berbahan ikan, ada pula yang dari iga sapi. Foto: Dok. Shutterstock

Pindang Tulang

Mungkin yang mengundang tanya bagi orang yang tidak kenal jenis-jenis pindang adalah pindang tulang. Benar- benar sesuai dengan namanya, bahan utama sajian ini adalah tulang iga sapi yang dimasak hingga empuk. Mirip dengan sop iga sebenarnya, hanya berbeda kuahnya. Begitu pula pindang udang. Berisi udang sungai sebesar ibu jari kaki dicampur dengan kuah pindang, yang manis, pedas, dan segar.

RM Makan Pindang Tirta Anugerah, Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 10. Kelurahan Talang Kelapa, Keca- matan Sukarame, Palembang

Rumah Makan Pindang Musi Rawas; Jalan Angkatan 45 Nomor 18, Palembang


Rumah Makan Sri Melayu; Jalan Demang Lebar Daun, Palembang.

Pindang Meranjat Bu Ucha; Jalan Demang Lebar Daun Nomor 14, Palembang

Pindang ala Palembang tak selamanya berbahan ikan, ada pula yang dari ayam.
Salah satu pilihan Pindang ala Palembang adalah pindang ayam. Foto: dok. shutterstock

Pindang Kepala Patin

ASYIK rasanya menikmati Sungai Musi sambil mencicipi menu spesial Palembang. Pilihan resto di tepi sungai yang membelah ibu kota Sumatera selatan itu adalah River Side Restaurant. Arena bersantap yang terapung di pinggir sungai ini menyuguhkan pemandangan spektakuler jika kita bersantap makan di malam hari. Deretan lampu LED yang membingkai Jembatan Ampera menjadi pesona tersendiri. Dipadu dengan embusan angin basah Sungai Musi yang mengalir gagah. Sungguh menawan.

Menu utama restoran ini di antaranya Tenggiri Bakar, Udang Mayones, Kepiting Lada Hitam, Sayuran Dua Rasa, dan Pindang Kepala Patin. Yang membedakan pindang tersebut dari jenis pindang lainnya tentu kepala ikan patin sebagai bahan utama. Kepala ikan patin yang diolah cukup besar. Disajikan dalam kondisi dibelah menjadi dua. Dapat dinikmati dengan kuah pindang asam, manis, dan pedas; daun kemangi, yang wangi; serta potongan nanas segar.

Pindang Kepala Patin dapat dipadu dengan menu lain, seperti Tenggiri Bakar seharga Rp 18 ribu per ons dan Udang Mayones Rp 55 ribu per porsi. Ada juga Kepiting Lada Hitam serta Sayuran Dua Rasa yang dipatok Rp
50 ribu per porsi. Ini menu yang unik. Berisi campuran telur hitam, telur bebek asin, dan daging kepiting. Baunya memang agak amis, tapi rasanya cukup menggugah selera.

River Side Restaurant; Kawasan Wisata Sungai Musi. Jalan Rumah Bari, Kompleks Benteng Kuto Besak, Palembang

Pindang Kepala Baung

SATU lagi rumah makan yang menyajikan menu pindang unik adalah RM Pindang Begagan H. Abdul Halim. Pindang kepala ikan baung selalu tersedia di sini. Padahal, ikan penghuni Sungai Musi itu saat ini cukup sulit diperoleh di Palembang karena populasinya mulai berkurang. Tak mengherankan jika harga pindang kepala baung cukup mahal, per porsi dipatok Rp 75 ribu. Terdiri atas kepala ikan baung besar yang dibelah dua. Disajikan dengan kuah pindang kemerahan, segar, asam, manis, dan pedas serta daun kemangi. Tak lupa ada potongan kecil nanas.

RM Pindang Begagan H. Abdul Halim; Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3,5, Palembang

Nugroho A/TL/agendaIndonesia

*****

4 Restoran Asyik di Kota Hujan

Maracca

4 restoran asyik di kota hujan ini bisa menemani malam-malam sambil menikmati rintik-rintik gerimis kota Bogor, Jawa Barat.

Akhir pekan di Kota Hujan, Bogor, Jawa barat, tak melulu harus mengunjungi curug, puncak, atau kebun raya. Aktivitas berkembara lidah pun bisa menjadi opsi yang menarik. Sebab, kota ini menyempurnakan diri sebagai wilayah layak kunjung dengan membangun sejumlah restoran nyaman. Tentu nyaman untuk bersantap dan bersantai.

 

  1. Maraca Books and Coffee

Menyenangkan bagi penggemarnya: kopi dan buku, dipadu jadi satu. Kafe ini menyediakan ruang dengan konsep yang unik, yakni menyajikan pengalaman bagi penikmat kopi dan pembaca buku sekaligus. Seperti perpustakaan, Maraca Books and Coffee memajang sejumlah koleksi buku yang bisa dibaca sambil menyeruput kopi.

Kopi yang tersedia ialah kopi-kopi lokal khas Nusantara. Semisal kopi Aceh Gayo. Sebagai teman minumnya, tersedia penganan ringan. Di antaranya spicy wings, cheese cake, little kebab, dan makanan bergaya Eropa, yakni lasagna. Bila pengunjung emohmemesan kopi, kafe ini juga menyediakan aneka the, susu, dan cokelat.

Maraca Books and Coffee cocok dikunjungi saat Anda ingin mencari kesunyian. Cukup datang seorang diri, pilih tempat yang sunyi, pesan kopi, lalu baca buku. Tempatnya yang nyaman akan membuat Anda betah berlama-lama di sini. Harga kopi di kafe ini dibanderol mulai Rp 30 ribuan.

Alamat: Jalan Jalak Harupat Nomor 9A, Bogor Tengah, Bogor

Jam buka: 09.00–22.00

Telepon: 0812 8024 6380

 

  1. Death By Chocolate & Spaghetti

Terdengar seram namanya: death by chocolate. Kafenya pun berarsitektur semi-gothic yang menorehkan kesan misterius. Kafe ini memiliki ornamen yang dekat dengan hal-hal mistis. Lampunya pun remang-remang. Dijamin bulu kuduk bakal berkuduk ketika masuk kafe ini. Namun justru inilah yang membuat kafe Death By Chocolate & Spaghetti populer dan dikenal banyak orang.

Rata-rata pengunjung penasaran dengan sensasi misterius yang diangkat pada kafe populer itu. Guna menambah seram suasana, pramusaji biasanya akan melayani tamu dengan pakaian ala monster atau setan interlokal. Mereka akan berekting mengeilingi tamu saat mereka sedang makan, bak setan mencari mangsa.

Anda berani datang dan mencicipi cokelat dengan suasana yang lain? Biasanya tempat ini menarik perhatian anak-anak muda. Menunya pun dibuat bernada seram, seperti dibentuk dalam cetakan kuburan dan sebagainya. Tertarik datang?

Alamat: Jalan Ceremai Ujung Nomor 23, Bantarjati, Bogor Tengah, Bogor
Jam Buka: 07.00–22.00
Telepon: 0251-837-777-25

 

Death By Chocolate amp Spaghetti

  1. Anthology Coffee and Tea

Kafe ini belum lama dibuka, yakni sejak awal tahun 2018. Adanya di kawasan Sentul. Lokasinya tak jauh dari gerbang jalan tol Sentul Selatan. Tempatnya cukup mudah dijangkau, baik dari Kota Bogor maupun Jakarta.

Kafe tersebut mulai viral dari media sosial. Netizen mengunggah kafe yang letaknya persis di tepi Danau Teratai. Tampak asyik untuk kongko dan berfoto. Ada beberapa ruang favorit pengunjung di sana. Kafe itu terdiri atas dua lantai. Ruang favoritnya ialah yang menghadap langsung ke danau. Suasana ini memang nyaman dan asri.

Interiornya rata-rata terbuat dari kayu. Ada juga hiasan tanaman yang digantung di pot-pot. Back to nature. Begitulah kalimat singkat untuk menggambarkan suasana kafe.

Pengunjung biasanya datang saat pagi hari sebelum matahari terik. Sebab, suasananya masih segar dan belum terlalu padat dikunjungi pengunjung.

Soal menu, kafe ini menyajikan kopi dan teh dengan pilihan lengkap. Ada kopi lokal yang diseduh manual atau blend atau campuran. Sedangkan menu teh terdiri atas teh tradisional dan yang sudah dicampur bergaya western. Menu-menu ini enak disantap bersama beragam cemilan. Semisal beef teriyaki, cinnamon roll, spiced carrot cake, sampai potato balls.

Alamat: Jalan M.H. Thamrin, Sentul, Bogor

Jam buka: 08.00-22.00

Telepon: 0812-1970-0478

Anthology Coffee and Tea

 

  1. Cimory Resto

Minum susu sambil menyasikan pemandangan alam yang asri, mau? Cobalah Anda menyambangi Cimory Resto. Restoran ini berlokasi di Jalan Raya Puncak. Ada dua pilihan restoran, yakni Cimory River Side dan Cimory Mountain Side. Keduanya hanya dibedakan oleh pemandangan. Tentu saja pemandangan yang disajikan keduanya adalah sungai dan gunung.

Cimory kesohor lantaran memiliki produk susu dan yoghurtyang diklaim alami. Produknya pun sejatinya sudah didistribusikan ke seluruh Indonesia melalui mini market.

Bila berkunjung langsung ke restoran tersebut, Anda akan merasakan sensasi yang berbeda. Suasana restoran bergaya Indonesia-Eropa lekat dirasakan. Selain itu, pemandangannya cukup sejuk menyapu mata. Sepanjang amatan hujau dan segar. Restoran ini menjadi favorit keluarga untuk bersantai, menepi dari hiruk-pikuk.

Alamat: Jalan Raya Puncak Km 76 Cipayung Puncak, Bogor.

Jam buka: 08.00-22.00

Telepon: 021 – 587 4630

Cimory Resto

Kereta Api Wisata, Keseruan Di Akhir 2022

Kereta Api wisata untuk liburan akhir tahun.

Kereta Api Wisata bisa menjadi pilihan keseruan liburan akhir tahun ini. Tahun 2022 akan segera berakhir. Akhir tahun nanti akan ada libur Natal dan Tahun Baru yang biasanya dibarengi dengan cuti bersama.

Kereta Api Wisata

Apakah traveler sudah menyiapkan rencana untuk mengisi liburan akhir tahun ini? Bagaimana kalau jalan-jalan saja bersama keluarga atau teman-teman terdekatmu? Kalau itu menjadi pilihan, mungkin jalan-jalan keluar kota naik kereta bisa seru banget.

Sekarang ini kereta api tak cuma jadi alat transportasi. Ada yang berbeda dari salah satu anak usaha PT Kereta Api Indonesua (KAI), yakni KAI Wisata. Mereka punya kereta wisata yang siap membawa wisatawan liburan di berbagai objek wisata di Indonesia. Kerennya lagi, kereta ini dilengkapi berbagai fasilitas yang bikin wisatawan tak akan mati gaya di sepanjang perjalanan. 

Kereta Api Wisata memiliki pilihan ikut pada rangkaian kereta reguler, atau yang KAI Istimewa bisa memilih rute dan jadwal sendiri.
Interior KAI Wisata Bali yang cozy. Foto: DOk. KAI Wisata

Pengen tahu lebih banyak tentang kereta wisata? Yuk cek informasi berikut ini.

Jenis Kereta Wisata

Bicara soal kereta perjalanan khusus ini, apakah wisatawan sudah tahu apa bedanya dengan kereta pada umumnya? Sesuai dengan namanya, kereta ini didesain sebagai alat transportasi sekaligus sarana rekreasi.

Kereta ini sangat cocok untuk wisata secara kelompok karena konsepnya berupa sewa kereta oleh rombongan wisatawan. Saat ini sudah tersedia beberapa jenis kereta khusus ini, seperti Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, Kereta Wisata Sumatera, Kereta Wisata Jawa, Kereta Wisata Imperial, Kereta Wisata Priority, Kereta Wisata Toraja, dan Kereta Wisata Retro. Kereta-kereta ini nantinya akan dirangkaikan dengan kereta regular sesuai rute dan waktu perjalanan yang diminta oleh wisatawan. 

Kereta Api Wisata KAI Wisata
Interior lain KAI Wisata. Foto: Dok. KAI Wisata

Selain kereta pariwisata, juga ada kereta istimewa. Kereta ini sedikit berbeda dengan kereta wisata karena tidak dirangkaikan dengan kereta regular dalam perjalanannya. Jadi wisatawan lebih bebas mengatur destinasi dan waktu perjalanan.

Di kereta ini, para wisatwan juga bisa melihat langsung pemandangan dari depan kabin masinis. Wow. Pasti ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan sekali. Melihat rute di depan.

Karena sifat perjalanannya yang fleksibel, pihak KAI-Wisata juga menawarkan beberapa paket wisata untuk berkunjung ke objek-objek yang dilalui selama perjalanan dari titik keberangkatan ke titik tujuan. Hhmm, asyik banget kan? Perjalanan akan lebih mengesankan karena banyak sekali objek wisata yang dapat dikunjungi sepanjang jalur kereta.

Memiliki Fasilitas Lengkap

Wisatawan pengguna kereta ini rasanya tidak akan bosan di sepanjang perjalanan. Ada berbagai aktivitas seru yang bisa dilakukan. Selain memiliki kursi yang lebar dan empuk, buat yang suka nyanyi, penumpang bisa karaoke sepuasnya di ruangan yang sudah tersedia.

Ingin santai sambil nonton film kesayangan? Bisa banget, karena ada juga TV layar lebar dengan audio yang mumpuni yang disediakan khusus buat para penumpang. Prama dan prami, semavam pramugari, di kereta ini juga akan selalu siaga memenuhi kebutuhan kamu selama perjalanan. Semua gerbongnya dilengkapi dengan toilet ekslusif. 

Selain itu, ada beberapa fasilitas tambahan yang membedakan antara satu jenis kereta dengan yang lain. Contohnya, Kereta Retro yang memiliki kapasitas 20 tempat duduk didesain dengan nuansa klasik dan furniture yang sangat retro sehingga memberikan pengalaman perjalanan yang berbeda.

Kereta ini cocok untuk wisatawan yang suka swafoto selama perjalanan karena interiornya sangat instagramable. Kalau mau merasakan nuansa Pulau Sumatera, kamu bisa pilih KW Sumatera yang memiliki interior serta pernak-pernik yang menonjolkan seni dan keindahan budaya Sumatera. Memiliki kapasitas 22 tempat duduk dan dilengkapi dengan ruang serbaguna untuk rapat maupun menjadi meja makan keluarga, seru ya?

Paket Wisata Yang Tersedia

Selain menyediakan keretanya, KAI Wisata juga menyediakan beberapa paket perjalanan ke berbagai destinasi menarik di Indonesia, seperti Lawang Sewu dan Museum Ambarawa. Kedua destinasi tersebut masih menjadi favorit masyarakat untuk menghabiskan liburan akhir tahun bersama keluarga. 

KAI Wisata juga melayani permintaan paket tur khusus sesuai dengan keinginan wisatwan. Jadwal perjalanan dan destinasi wisata serta akomodasinya dapat ditentukan sendiri oleh wisatawan.

Paket perjalanan yang disediakan juga bukan hanya untuk rombongan, bisa juga untuk individual. Untuk ini bisa cek informasi lengkapnya dengan mengunjungi website resmi KAI Wisata di kaiwisata.id.

Perjalanan kereta wisata atau kereta istimewa tentu akan memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda dengan kereta regular. Ini dapat menjadi salah satu cara menghabiskan liburan akhir tahun yang unik dan luar biasa yang ditawarkan oleh KAI Grup.

“Kami senantiasa melakukan berbagai inovasi untuk memberikan layanan terbaik bagi para pelanggan dengan adaptif mengakomodasi keinginan masyarakat untuk bertranspotasi terutama di masa liburan Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 nanti.” tutup VP Public Relations KAI, Joni Martinus.

Jadi, sudah siapkah kamu menghabiskan liburan akhir tahunmu dengan cara berbeda bersama kereta api khusus? Rasanya akan menyenangkan karena fasilitas dan pelayanannya yang istimewa.

agendaIndonesia

*****

Bakar Tongkang Bagansiapi-api

Bakar Tongkang1

Bakar tongkang Bagansiapi-api sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia. Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Bakar Tongkang Bagansiapi-api

Masyarakat Bagasiapiapi, Provinsi Riau, memiliki tradisi unik yang diselenggarakan setiap tahun dan selama beberapa tahun terakhir menjadi atraksi menarik bagi wisatawan. Umumnya agenda ini diselenggarakan pada bulan Juni, dan untuk 2019 ini digelar pada 17 hingga 19 Juni lalu. Ritual turun-temurun dari nenek moyang ini memang dilaksanakan selama tiga hari.

Bakar tongkang Bagansiapi-api sebuah tradisi yang makin dilirik sebagai atraksi pariwisata Indonesia. Awalnya tradisi ini hanya menjadi atraksi masyarakat Bagansiapi-api. Namun, beberepa tahun terakhir ia menjadi wisata bakar tongkang yang makin banyak diminati untuk disaksikan. Bahkan pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia, juga wisatawan manca negara.

Menurut Kepala Dinas Provinsi Riau Fahmizal, puluhan ribu paket wisata yang terkait Bakar Tongkang terjual setiap tahunnya. “Tahun lalu 52 ribu kunjungan,” kata Fahmizal di kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat.

Bakar Tongkang2 1
Ornamen pada tongkang dalam Festival Bakar Tongkang Bagansiapi api. (Rosana)

Bakar Tongkang memang berhasil menarik minat kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Pada 2017, dari 52 ribu kunjungan, 20 ribu di antaranya merupakan kunjungan wisatawan asing atau wisman. “Kebanyakan dari Singapura, Malaysia, Cina,” katanya.

Adapun wisatawan Nusantara yang masuk ke Bagan—sebutan pendek Bagansiapapi—tercatat mencapai 32 ribu. Masuknya wisatawan ke kota bekas persinggahan Cina ini membuat kuota hunian sejumlah homestay dan hotel di kawasan kota Bagan penuh.

Animo turis terhadap agenda budaya pun memacu pemerintah setempat bekerja keras untuk menyiapkan akomodasi. Tak jarang, rumah-rumah warga di sekitar lokasi perayaan dibuka untuk menampung para wisatawan.

Tahun-tahun berikutnya, untuk menyiasati tingginya permintaan terhadap jumlah kamar, pemerintah setempat tengah merancang konsep nomadic tourism. “Bisa dengan konsep nomadic, yaitu dengan tenda atau glamcamp seperti yang tengah dicanangkan Kementerian Pariwisata,” kata Fahmizal.

Bakar tongkang secara turun-temurun diyakini sebagai ritual untuk memperingati hari ulang tahun Dewa Kie Ong Ya, yakni dewa pelindung masyarakat setempat. Perayaannya jatuh pada penanggalan lunar di hari ke-16 bulan kelima, dihitung pasca-Imlek. Secara historis, upacara itu merupakan sebuah penanda untuk memperingati hikayat asal-muasal Kota Bagansiapiapi.

Agenda ini tahun lalu dinobatkan sebagai atraksi budaya terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API). Bakar Tongkang juga berkontribusi mendorong Riau meraih juara umum penghargaan pariwisata berstandar nasional tersebut.

Puncak Festival  Bakar Tongkang merupakan saat yang selalu dinanti warga setempat dan juga wisatawan. Saat itu dilakukan pembakaran replika tongkang, yang diiringi dengan perasaan penasaran warga. Mereka harap-harap cemas, ke mana tiang utama akan jatuh. Warga percaya bahwa arah jatuhnya tiang akan menentukan nasib mereka di tahun mendatang. Jika tiang jatuh ke laut, mereka percaya keberuntungan sebagian besar akan datang dari laut. Tetapi ketika jatuh di darat, maka keberuntungan untuk tahun itu sebagian besar akan datang dari darat.

Festival bakar tongkang selalu digelar secara meriah. Replika kapal dapat berukuran hingga 8,5 meter, lebar 1,7 meter dan berat mencapai 400 kg. Kapal akan disimpan selama satu malam di Kuil Eng Hok King, diberkati, dan kemudian dibawa dalam prosesi melalui kota ke lokasi tempat pembakaran.

Prosesi Tongkang juga melibatkan atraksi Tan Ki. Sejumlah orang menunjukkan kemampuan fisik mereka dengan menusuk diri dengan pisau atau tombak. Namun, aksi tersebut tidak melukai meskipun senjata yang digunakan tajam. Aksi ini agak mirip dengan tradisi Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat.

 

 

 

*****

 

Café D’Pakar Dago 1 Cangkir Kopi dari Bibir Hutan

andi prasetyo cafe dpakar bandung 4

Cafe D’Pakar Dago 1 cangkir kopi dari bibir hutan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat. Hawa dingin Bandung sebelah utara ini cocok untuk menikmati cecapan hangat kopi dan kudapan lezat.

Cafe D’Pakar Dago

Sepanjang jalan menuju kafe yang sedang naik daun di Dago Pakar itu, tak ada pemandangan lain selain hutan dan pepohonan yang rimbun di sekitarnya. Medan dengan jalur yang rusak, aspal-aspal retak, dan lubang yang menganga lebar mengharuskan roda mobil berbelok-belok tak tentu. Plus, monyet yang seliweran menandai kalau hutan yang cuma berjarak 12 kilometer dari Kota Bandung ini benar-benar merupakan alam liar.

Sekilas, saya merasa sedang berada dalam bingkai film kanak-kanak Petualangan Sherina yang mengambil lokasi shooting di Bandung.. Tiga ratus meter sebelum sampai di kafe, beberapa monyet mejeng mengamati kendaraan yang lewat.

Kawanan anggota primata itu barangkali berharap, kalau-kalau ada penduduk dari kota yang membawa bekal buah-buahan dan berkenan merelakan satu-dua biji pisang, apel, atau jeruk miliknya, untuk diberikan. Sayangnya, para penunggu hutan ini kudu menelan kecewa tatkala orang—begitu juga kami—melaju kencang, dan langsung berbelok di pekarangan kafe yang dari muka tampak bergaya rustic itu.

shutterstock 524061637andi prasetyo cafe dpakar bandung 12shutterstock 524061637

“Dihadang monyet ya tadi?” Tutur Maryati Santoso, pemilik D’Pakar, ketika kami—saya dan teman-teman—tiba di kafe itu. “Kawasan di sini memang masih cukup liar. Tempat ini saja dulu bekas kebun, lalu saya bangun jadi kafe karena tanamannya banyak dirusak monyet,” katanya.

Saya mengangguk paham. Tak kepingin diikuti monyet, saya lantas bergegas masuk melewati pintu loket yang bercokol tepat di samping gerbang. “Rp 25 ribu untuk tiket masuk. Anggap saja minimal order,” ujarnya. Tiket ini nantinya bisa ditukarkan dengan makanan atau minuman.

Lalu kami dituntun masuk menuju kebun hijau yang ditanami rumput teki seluas 3.000 meter persegi. Perempuan separuh baya asal Bogor ini meneruskan ceritanya tentang awal mula ia membuka kafe. Yang dulu, kata dia, tempat tersebut cuma dibangun kecil-kecilan. Orang-orang bilang, warung di tengah hutan. Begitulah citra awalnya kafe ini. “Semacam warung biasa yang melayani petani sekitar atau para atlet sepeda,” ujarnya. Dago Pakar memang dulu cuma jadi jalur pesepeda atau pelari, selain tentunya areal perkebunan. “Mulainya dari Kota Bandung, finis di Tebing Kraton,” ucapnya, melanjutkan.

Suara Maryati yang terus berkisah sekonyong-konyong terdengar lamat-lamat di kuping. Sebab, saya mendadak mengalihkan fokus pada hamparan hutan yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari tempat berdiri. Mata juga seketika dibikin terperangah dengan konsep kafe kebun yang diusung, dengan membiarkan beberapa bangku kayu tersebar tak tentu di lahan luas.

Beberapa bunga begonia dibiarkan tumbuh, memberi warna yang padu tatkala disandingkan dengan rona hijau dari pepohonan dan rupa cokelat dari bangku dan meja-meja kayu. Di sisi depan, terdapat rumah joglo sederhana berkapasitas tak lebih dari 50 orang menghadap ke kebun. Pengunjung bisa memilih hendak makan di area indoor atauoutdoor. Yang jelas, keduanya menawarkan konsep serupa: menghadap langsung ke taman hutan rakyat.

Dari pintu sampai beranda belakang, bentuk D’Pakar berundak-undak tak rata. Pemiliknya mengatakan bahwa ia tengah mempertahankan kontur asli. Dibikin begini, ujar Maryati, supaya ia tak kehilangan bentuk asal dari kebun yang merentang seluas 1 hektare, yang sudah ia miliki selama 20 tahun lalu itu.

Hari hampir sore kala kami tiba di sana, dan sialnya, bangku sudah hampir seluruhnya penuh dipesan. Kami sempat berputar, menemukan beberapa titik yang seru. Ada bangku dengan model replika kapal kayu, yang dibikin menghadap ke hutan, ada juga kursi panjang yang jaraknya hanya beberapa meter dari jurang. Atau, bangku-bangku bulat yang berjajar manis di samping pagar ilalang. Cantik untuk dipotret kosong atau berfoto diri dengan latar demikian. Sayang, seluruhnya sudah berpenghuni alias ditempati tetamu.

Kami duduk di dek paling atas, dekat dengan joglo. Hanya itu satu-satunya bangku tersisa. Namun tak sial-sial benar lantaran kami justru bisa memandang luas semua lanskap yang ditawarkan di kafe itu. Di tengah desau embusan ilalang dan suara derik serangga hutan, kami meramu obrolan, sembari memilih menu apa saja yang cocok di santap di tempat sedingin itu. “Kopi Aroma, kopi khas tanah Pasundan,” kata Maryati. “Harus dicoba. Menyantapnya ditemani roti bakar green tea dan martabak Nutella,” katanya.

Saya mengangguk setuju tanpa berpikir lagi. Tak lama, kopi hitam yang masih mengepul itu mendarat bersama kawan minumnya. Wanginya mendaraskan kisah masa lalu: secangkir robusta yang sudah ditemukan sejak 1930. Kopi ini tak pelaknya sebuah legenda yang menandai tumbuhnya kawasan pecinan di Bandung sejak era kolonial. Kopi itu saya minum tanpa pemanis. Saya ingin tahu rasa aslinya. Dan benar, ada rasa yang menimbulkan kegirangan kala dua-tiga teguk melewati kerongkongan.

Kopi yang sempurna, diminum di tempat yang tepat. Seperti itulah saya mendeskripsikan kopi aroma kala diseruput di Kafe D’Pakar. Plus, jajanan manis yang melengkapinya memberikan taste yang komplet.

Tak cuma makanan ringan. Maryati juga menyediakan penganan berat, seperti nasi goreng, pempek, ramen, dan jenis-jenis mi lainnya. Menariknya, seluruh menu aman di kantong mahasiswa. Makanan berat dibanderol Rp 20 hingga 40 ribuan, dan minuman dibanderol tak lebih dari Rp 30 ribu. Pantas saja pengunjung rata-rata merupakan mojang Bandung, yang datang sekadar ingin mengobrol dengan teman-teman atau orang terkasih. Tentu di tengah hutan dengan suasana yang syahdu.

Waktu yang tepat untuk bersantai di kafe ini berkisar antara pukul empat sore hingga setengah enam petang. Pada jam tersebut, kemilau surya meronakan cahaya keemasan, memberi semburat yang molek. Pun, cahaya yang merasuk di antara pepohonan menimbulkan lanskap yang hampir boleh dikatakan dramatis. Lagu-lagu alam paling merdu, seperti suara angin sore bercampur kicau burung-burung hutan yang akan kembali ke rumah-rumahnya turut menyumbangkan harmonisasi yang laras.

Tentang D’Pakar:

  • Alamat: Jalan Dago Pakar Utara, Sekejolang, Ciburial, Cimenyan, Bandung
  • Harga: Rp 10-43 ribu
  • Buka pukul 11.00 – 18.00
  • Tutup setiap Senin
  • Rekomendasi menu: kopi aroma, roti bakar green tea, martabak Nutella, nasi tutug oncom gepuk penyet