Sop Buntut Ibu Samino, Enak Sejak 1973

Sop Buntur Ibu Samino adalah masakan legendaris di Jakarta.

Sop Buntut Ibu Samino di Jakarta rasanya hampir sama legendarisnya dengan sop buntut Borobudur. Secara racikan ke duanya berbeda. Sop buntut Borobudur kuahnya lebih kental dan berwarna merah karena tomat. Sementara di tempat ibu Samino lebih bening, meski gurihnya sangat terasa.

Sop Buntut Ibu Samino

Hal lain yang membedakan ke duanya adalah lokasi. Yang pertama di hotel berbintang lima, sedangkan Ibu Samino ada di warung kecil. Harganya tentu menjadi berbeda pula.

Buat yang sudah lama tinggal di Jakarta, Ibu Samino sudah berjualan menu sopnya sejak lama. Dulu sekali ia membuka warungnya di bagian belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dulu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Adalah suami istri Samino yang melihat peluang berjualan menu sop buntut di Jakarta. Pada 1973 itu masih sangat jarang ada restoran atau warung makan yang berjualan menu tersebut. Karenanya, mulailah mereka berjualan sop buntut, menu yang merupakan peninggalan orang-orang Belanda di masa colonial.

Sop Buntur Ibu Samino buka mulai 1973 di belakang kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Gerai Ibu Samino di Rasuna Said, Jakarta. Foto: IG Sop Buntut Ibu Samino

Dulu di awal-awal warung Sop Buntut Ibu Samino buka, orang suka menyebut warung ini sebagai “sop buntut nopo malih?” (Sop buntut apa lagi?). Ini karena pemesanan dilakukan dengan kertas seadanya atau kadang cuma secara lisan. Ketika mau membayar, ibu Samino sang juru hitung akan bertanya, “nopo malih?” Dan ia berhitung dengan cepat, seolah ada kalkulator di kepalanya.

Waktu berlalu, warung Sop Buntut Ibu Samino berpindah lokasi. Yang terlama ada di Jalan Arteri Permata Hijau atau Jalan Tentara Pelajar di seputar Patal Senayan. Ada pula beberapa gerai cabang lainnya. Dan tak ada lagi ibu Samino yang akan bertanya, nopo malih? Semua sudah dilakukan karyawannya.

Warung ini menjadi legendaris karena utamanya menyajikan menu spesialis sop buntut dengan varian yang rasanya paling komplit. Mulai dari sop buntut biasa, goreng, bakar, cabe ijo, atau balado. Semua disajikan dengan kuah sop buntutnya yang khas.

Masih di seputar buntut sapi, Sop Buntut Ibu Samino juga menyediakan masakan non-sop namun dengan bahan buntut sapi. Misalnya saja ada soto Betawi buntut. Yang ini kuahnya berbeda dengan sop buntut. Masakannya berkuah dengan santan namun dengan buntut sapi yang empuk. Masih di sop Betawi, ada pula pilihan dagingnya berupa iga sapi. Kuahnya sama dengan sop Betawi buntut. Yang tak disertai kuah hanyalah nasi goreng buntut.

Sop Buntut Ibu Samino
Sop Buntut Ibu Samino reguler. Foto: IG Ibu Samino

Rahasia kelezatan sop buntut di sini ada pada bumbu khas yang diracik sendiri oleh ibu Samino. Cita rasa yang disajikan terasa sangat kuat dan membuat lidah bergoyang. Terutama ketika menyeruput kuahnya.

Selain varian pengolahan atas buntutnya, ada pula varian berdasar porsinya. Porsi biasa umumnya terdiri dari tiga potong buntut yang dagingnya sangat empuk dan hamper lepas dari tulang buntutnya. Ada pula porsi spesial yang isinya dua kali lipat porsi biasa.

Warung Sob Buntut Ibu Samino tak cuma melayani pesanan sop buntut. Masih di soal sop, di rumah makan ini ada juga punya menu sop iga sapi yang tak kalah gurihnya. Selain itu ada pula menu-menu lain, umumnya masakan Jawa Tengah.

Bagi yang tak suka masakan olahan sapi, ada pula yang serba ayam. Ada ayam goreng biasa, ayam goreng kremes, ayam bakar, juga ayam balado. Mereka juga menyediakan menu bebek, variannya sama dengan masakan ayam. Ada yang goreng, bakar atau balado.

Sop Buntut Balado Ibu Samino
Sop Buntut Balado. Foto IG Ibu Samino

Sebelum pandemi restoran ini juga menyediakan masakan Yogya seperti gudeg. Namun tampaknya menu ini cukup rumit dan penggemarnya tak banyak di sini, sehingga kemudian dihilangkan dan kembali fokus ke menu andalan sop buntut.

Untuk minuman di restoran Sop Buntut Ibu Samino tersedia menu yang cukup variative. Mulai dari aneka juice buah segar hingga aneka kopi yang kekinian, misalnya Kopi Jack (Jakarta With Love) dan Kopi Tubruk Hitam. Ada pula minuman tradisional seperti beras kencur. Ini tampaknya sesuai dengan citra tempat makan ini menjual menu-menu Jawa.

Sop Buntut Ibu Samino

Jalan Tentara Pelajar (Arteri Permata Hijau-Patal Senayan) Nomor 22, Kelurahan Grogol Utara, Jakarta Selatan

Jalan Pakubuwono VI No.11E Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

agendaIndonesia

*****

Lontong Cap Go Meh, Kuliner Khusus di Hari Ke15

Lontong Cap Go Meh hari-hari ini banyak disajikan di resto-resto tanpa mengenal waktu. Padahal, pada mulanya, ini adalah sajian khas penutupan perayaan tahun baru Imlek. Khususnya di hari ke 15, cap go meh.

Lontong Cap Go Meh

Dari namanya, orang bisa langsung mahfum jika lontong cap go meh berkaitan erat dengan budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa. Persepsi itu tidak keliru, meski harus hati-hati melihatnya. Masakan ini sebenarnya hanya masuk khasanah khusus Peranakan-Jawa. Sedangkan kaum peranakan di Kalimantan dan Sumatera tidak mengenal hidangan ini. Oleh karena itu, hidangan ini hanya ada pada perayaan Imlek di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa, khususnya Semarang, Jawa Timur, dan  Betawi.

Dari cerita mulut ke mulut, lontong Cap Go Meh ini disebut-sebut sebagai adaptasi masyarakat Tionghoa terhadap masakan lokal Indonesia, khususnya di Jawa. Dahulu pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, seperti Semarang, Pekalongan, Lasem dan Surabaya. Masakan ini dipercaya sebagai lambang asimilasi budaya antara kaum peranakan dan masyarakat Jawa.

Lontong Cap Go Meh sendiri sebenarnya tidak berbeda dari lontong sayur biasa. Kondimennya pun mirip, yaitu lontong yang sudah terpotong-potong disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh atau sayur labu siam, sambal goreng hati, acar, telur pindang, bubuk koya, abon sapi, sambal, serta tidak lupa kerupuk.

Lalu di mana percampuran budayanya? Apa bagian dari masakan ini yang dibawa masyarakat Tionghoa?

Sebelum masuk Indonesia, masyarakat Tionghoa mempunyai masakan sejenis lontong, yakni yuanxiao. Ini adalah bola-bola tepung beras yang padat kuliner khas Ca Go Meh di Tionghoa. Ada anggapan tradisional Tionghoa yang menyatakan bahwa Yuanxiao yang padat melambangkan keberuntungan.

Masakan yang padat ini penting sebagai kebalikan dari bubur yang “diharamkan” saat perayaan Imlek. Bubur yang encer diangap membawa sial jika disajikan saat Imlek hingga hari ke 15.

Pada saat Laksamana Cheng Ho pada Dinasti Ming, sekitar tahun 1368-1644, masuk ke wilayah pesisir Jawa, terutama di sisi Semarang, banyak angota pasukannya yang berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dari pertemuan ini  terjadi perkawinan dengan perempuan-perempuan Jawa.


Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lantas melihat ada lontong yang mirip Yuanxiao, hanya bentuknya panjang. Ini dianggap semakin melengkapi dengan falsafah saat perayaan Imlek yang biasanya identik dengan doa panjang umur. Bentuk lontong yang panjang juga dianggap melambangkan umur yang panjang.

Bagi masyarakat peranakan di Jawa, lontong Cap Go Meh dipercaya sebagai makanan yang membawa keberuntungan. Selain bentuk lontong yang melambangkan umur yang panjang, telur ayam dalam berbagai budaya juga dipercaya sebagai simbol keberuntungan, sedangkan kuah santan serta bumbu dengan kunyit dipercaya sebagai lambang emas dan kemakmuran.

Nama Cap Go Meh sendiri diambil dari dialek Hokkian yang berarti ‘malam ke 15’ alias malam bulan purnama menurut penanggalan Imlek. Dan Cap Go Meh adalah penutup dari perayaan tahun baru Imlek.

Rupanya kemudian berkembang, masyarakat peranakan melihat tradisi kuliner ketupat lebaran dan opor ayam. Mereka melihat bagaimana para santrai yang tersebar di banyak kota di pesisir utara Jawa merayakan Lebaran dengan menyantap ketupat atau lontong opor. Ini yang kemudian diadopsi dan dikawinkan dengan tradisi Imlek.

Lontong Cap Go Meh ada di banyak kota di pesisir pulau Jawa.
Lontong Cap Go Meh memiliki berbagai variasi, sesuai karakter masyarakat setempat. Foto: Unsplash

Dalam perjalanannya, lontong Cap Go Meh bisa berbeda di sejulah daerah. Di kawasan pecinan di Jakarta, Semarang, maupun Surabaya paduan kondimen lontong Cap Go Meh bisa tidak sama. Di Jakarta, misalnya, lontong Cap Go Meh biasanya menggunakan sayur lodeh. Sedangkan di kawasan lain bisa. Yang wajib adalah harus ada lontong dan opor ayam, sambel goreng jeroan, sama kerupuk udang.
Lalu, di mana orang bisa mendapatkan lontong Cap Go Meh yang enak? Rasa tentu saja selera, tapi berikut ada beberapa tempat yang menyajikannya.

Gado-gado Bonbin; Jl. Cikini IV No. 1, Jakarta Pusat

Gado Gado Bon Bin memang terkenal banget nih sama gado-gadonya yang melegenda. Tapi Selain gado-gado, lontong cap go meh di sini tidak kalah enak.

Lontong Cap Go Meh & Rujak Cingur Surabaya; Summarecon Mall Lt2

Lokasi Serpong yang jauh nggak akan terasa kalau dibalas dengan kelezatan lontong cap gomeh yang satu ini. Dengan sentuhan resep khas Surabaya

Sate Khas Senayan

Di resto ini menu lontong Cap Go Meh tersedia hampir sepanjang waktu dan dengan kondimen yang lengkap. Gerainya yang banyak memudahkan orang mendapatkan menu ini.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Bulevar PIK, 5 Pembangkit Selera

Kuliner Bulevar PIK semakin menjadi pilihan untuk bersantap dan berkumpul handai taulan.

Kuliner Bulevar PIK kian hari kian menjadi pilihan untuk bersantap atau sekadar nongkrong dan bersosialisasi. Bersenang-senang. PIK atau Pantai Indah Kapuk pernah tidak dianggap sebagai pilihan untuk wisata kuliner, beberapa tahun terakhir sinarnya makin mencorong. Apa lagi setelah kini hadir PIK 2.

Kuliner Bulevar PIK

Pantai Indah Kapuk makin menjadi salah satu destinasi kuliner populer. Ada sebuah bulevar dengan deretan kafe yang menggoda, dari makanan hingga interiornya. Mulai steak, pasta, hingga bubble tea dan es parut. Sulit juga jika sekali waktu harus memilih rumah makan terbaik di sini. Hingga beberapa tempat yang sama populernya tidak ditulis di sini. Pilihan di bawah ini pastinya dapat memuaskan lidah nusantara dan internasional serta bagi pencari menu yang mencari rasa autentik.

Bulevar Crown Golf merepukan kawasan ruko yang berlokasi di PIK 1, ada banyak pilihan makanan. Jika belum pernah menyambanginya, ada baiknya melakukan riset kecil-kecilan agar waktu tak habis hanya untuk menimbang-nimbang mana yang dipilih.

Buat Yang Seneng Nongkrong

Namanya Eighteen Pies, dari namanya sudah ketahuan apa sajian andalan mereka, meski menu lainnya juga banyak. Menu makanan beratnya juga ada. Cafe ini menyajikan beragam pastry yang bikin kita betah nongkrong, terutama untuk kaum hawa. Buka apa-apa, desain interiornya mengusung tema modern klasik dengan sentuhan feminin yang kuat.

Menu yang ditawarkan ada ragam kuliner Indonesia dan Chinnese. Jika cuma ingin santai dan menantap yang ringan, ada kue-kue yang enak. Ragam pastry juga banyak. Misalnya, bisa cobainspecialty cake-nya: nastar crumble, yang dikombinasikan dengan teh panas. Ada berbagai pilihan teh. Bila ingin yang agak berat, karena waktunya nanggung untuk makan besar, bisa memilih sandwich. Misalnya saja croissant dengan isian chicken katsu, sunny side egg alias telur ceplok, mayo dan disajikan dengan salad. 

Eighteen Pies; Ruko Crown Golf, Blok D No. 16, Bukit Golf Mediterania; Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Bebek Nomor 1

Bihun Bebek A Eng, restoran dari Medan, memiliki sejarah yang panjang. Kisahnya dimulai sejak Perang Dunia II. Yakni ketika satu keluarga dari Guang Dong, Cina, bermigrasi ke ibu kota Sumatera Utara. Untuk bertahan hidup, mereka membuka kedai bakmi sederhana di Jalan Semarang, Medan, dengan berbekal resep keluarga dari Tiongkok. Rupanya, rasanya cocok dengan lidah setempat, sehingga sajian itu pun dengan cepat dikenal luas. Kini tak perlu ke Medan untuk bisa mencicipinya, karena telah ada cabangnya di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Seperti halnya bakmi ayam, sajiannya merupakan paduan antara bakmi dan irisan daging bebek rebus. Bakminya lembut, tapi tidak lembek dan daging bebeknya sangat empuk. Yang membikin kian lezat adalah kuahnya. Bakmi ini disajikan dalam sebuah mangkuk besar.

Bihun Bebek A Eng; Ruko Crown Golf Block A 36; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Kehangatan ala Jepang

Demam Jepang tampaknya tak pernah hilang di Jakarta. Yang paling populer tentu ramen. Ada banyak restoran ramen di kota ini. Tapi beberapa penggemar ramen mengklaim bahwa Ikkudo Ichi di Pantai Indah Kapuk merupakan salah satu yang terbaik.

IKKUDO ICHI

Ketika saya singgah ke resto ini, sang pelayan menyebutkan pilihan favorit tamu adalah ikkudo tori kara. Merupakan paduan irisan daging ayam, telur setengah matang, daun bawang, dan biji wijen, ramen ini dicampur dengan saus kara spesial sehingga menambah rasa pedas. Untuk temannya, bisa pesan age tori gyoza alias bakpau ayam. Tentu juga dengan secangkir ocha atau teh Jepang.

Ikkudo Ichi; Rukan Crown Golf Block D No. 2-3; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Alternatif untuk Keluarga

Kebanyakan tempat makan berlomba memberikan rasa dan tempat terbaik. Shao Kao, restoran sate barbeku Cina, dihadirkan dengan penataan sederhana. Bisa ditemukan di sebelah Sate Khas Senayan. Benar-benar sebuah rumah makan yang bersahaja. Hal ini menjadikan Shao Kao pilihan yang tepat untuk makan dan bersantai bersama keluarga dan teman.

SHAO KAO 2

Pilihan hidangannya bermacam-macam, antara lain, bakmi, nasi, sayuran, dan sate—daging sapi, kambing, ayam, dan babi. Selain itu, ada kulit ayam dan beragam jamur. Plus, otak-otak dan pao. Tamu bisa meminta untuk dibuatkan sajian pedas sesuai selera.

Shao Kao; Ruko Cordoba Block F No. 6; Bukit Golf Mediterania; Pantai Indah Kapuk, Jakarta

Pilihan Sechuan Hot Pot

Untuk yang senang shabu-shabu atau pangang-memanggang sendiri, ada pilihan Shu Guo Yin Xiang,  Chinese restaurant dengan specialisasi Sechuan hot pot. Penggemarnya cukup banyak, sehingga karena lokasinya di ruko yang tidak terlalu besar, jika pas jam makan siap-siap antri saja.

Suasananya sangat oriental jadi sangat pas jika ingin merayakan Imlek atau Cap Go Meh di sini. Dari luar terlihat biasa saja, namun ketika kita masuk ke dalamnya ternyata daftar tunggunya cukup panjang. Rata-rata meja di sini di siapkan untuk 4 orang.

Utamanya makan di sini tentu saja shabu-shabu, tapi yang istimewa pilihan saus atau sambel atau bumbu celupnya sangat banyak. Yang tidak biasa mungkin bisa bingung, jangan ragu untuk bertanya ke waiter. Termasuk jika ingin mencampur atau antara satu bumbu dan saos yang lain.
Shu Guo Yin Xiang; Ruko Crown Golf, Blok D No. 62-63, Bukit Golf Mediterania; Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta

agendaIndonesia/Fiz R./Arcaya M.

******

Bali Botanical Garden, Begonia dan 68 Jenis Kaktus

Bali Botanical garden perpustakaan tumbuhan di Bali.

Bali Botanical Garden atau masyarakat Bali menyebut nama aslinya sebagai Kebun Raya Eka Karya masih cukup jarang disebut para pelancong yang mengunjungi pulau Dewata ini. Kalah moncer dengan pantai-pantai.

Bali Botanical Garden

Di Indonesia, bukan hanya Bogor yang memiliki kebun raya. Pulau Bali pun mempunyai kekayaan wisata dengan beraneka tumbuhan. Berada di seberang Danau Beratan, Bedugul, Kabupaten Tabanan kebun raya ini terletak. Orang sering menyebutnya Kebun Raya Bedugul, namun aslinya namanya adalah Kebun Raya Eka Karya.

Lokasinya tak terlalu jauh dari Denpasar, kebun raya ini cuma berjarak sekitar 80 kilometer dan dapat dicapai dalam waktu sekitar 1,5 jam dari Denpasar menuju ke arah utara, Singaraja.

Kebun Raya Bali ini memiliki luas 157,5 hektare dan bisa dikatakan merupakan yang terluas di Indonesia. Terletak pada ketinggian 1.240 meter dari permukaan laut, yang artinya lokasinya berada di dataran tinggi, membuat obyek wisata kebun raya ini senantiasa berhawa dingin dan sering berkabut.

Seperti layaknya mengunjungi kebun raya di mana pun, masuk ke tempat ini seperti memasuki perpustakaan botani yang sangat besar. Pengunjung bisa mempelajari keragaman flora koleksi taman ini. Karcis masuknya tergolong murah, hanya Rp 9 ribu per orang. Jika membawa mobil, dikenai karcis masuk Rp 6 ribu. Yang menarik, lokasinya yang berseberangan dengan Danau Beratan. Bisa dibayangkan indahnya kan.

Dibangun pada 1959, Kebun Raya Bali ini menjadi satu-satunya yang dibangun setelah kemerdekaan sekaligus satu-satunya pula yang berada di luar Jawa. Indonesia saat ini mempunyai empat kebun raya, yakni Bogor, Cibodas atau Cianjur, dan Purwodadi.

Kebun Raya Bali ini pada mulanya diperuntukkan bagi konservasi tumbuhan runjung atau konifera. Koleksi awalnya didatangkan dari Kebun Raya Bogor dan Cibodas, seperti Araucaria bidwillii, Cupresus sempervirens, dan Pinus masoniana. Jenis lainnya berupa tumbuhan asli daerah ini, seperti Podocarpus imbricatus dan Casuarina junghuhniana.

Namun seiring perjalanan waktu, koleksi Kebun Raya Bali berkembang hingga mencakup tumbuhan pegunungan tropis kawasan timur Indonesia. Beberapa koleksi di antara lain anggrek, kaktus, pakis, bambu, lumut, palma, hingga tumbuhan air dan tanaman obat. Selain itu, nah ini dia, koleksi begonia bahkan merupakan yang terlengkap di dunia. Ini tanaman yang sedang populer di masa pandemi ini.

Bali Botanical Garden atau Kebun Raya Bali menawarkan liburan yang lain di pulau Dewata selain pantai.
Salah satu sudut Bali Botanical Garden, Tabanan, Bali. Foto: Shutterstock

Setiap jenis tumbuhan menempati kawasan yang didesain unik. Tanaman kaktus, misalnya, menempati kawasan yang diberi nama Cactus Glass House. Dalam rumah kaca seluas sekira lapangan basket ini dikembangkan 68 jenis kaktus dari pelbagai negara, seperti Meksiko, Jerman, Selandia Baru, dan Argentina.

Agak mengherankan juga melihat kaktus, yang biasa hidup di kawasan gurun, mampu berkembang di dataran tinggi berhawa dingin seperti Bedugul itu. Bentuk-bentuk kaktusnya pun tak unik-unik. Ada yang lonjong, ada yang bulat. Ada yang berduri keras, ada pula yang berambut uban. Bahkan, beberapa menyerupai hewan. Jenis Echinocactus grusonii, misalnya, lebih tampak sebagai landak laut (Echinoidea) berwarna hijau. Sedangkan kaktus Cephalocereus senilis hampir serupa ulat bulu besar dalam posisi berdiri.

Di seberang rumah kaktus, ada Orchid Park, bangunan berstruktur tenda yang menampung lebih dari 293 jenis anggrek di Indonesia, khususnya dari wilayah timur. Berbagai anggrek liar dikumpulkan dari berbagai hutan di Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, juga Papua. Jika ingin melihat banyak anggrek yang tenga berbunga cobalah datang antara Maret dan Juni.

Salah satu koleksi yang membuat kebun raya ini berbeda adalah tanaman untuk upacara agama Hindu. Koleksi tanaman yang dianggap sakral ini salah satu manifestasi falsafah agama Hindu, Tri Hita Karana, yang menganggap penting aspek pelestarian lingkungan. Terdapat beberapa tumbuhan yang biasa digunakan sebagai hiasan pura, material bangunan suci, dan sesajen upacara keagamaan di Bali. Di antaranya kembang cempaka, pohon beringin, buah trijata, sarai, dan majegau.

Lalu adakah pohon-pohon “raksasa” seperti layaknya yang ada di kebun-kebun raya? Tentu saja ada. Misalnya saja beringin raksasa. Letaknya menjulang di pojok utara, pohon tersebut bahkan sudah ada sebelum kebun raya ini dibangun. Umurnya diperkirakan sudah ratusan tahun. Beberapa wisatawan asing terlihat takjub melihat pohon gigantik ini. Beberapa wisatawan menjadikan pohon ini sebagai latar belakang untuk swafoto.

Harmoni antara lingkungan dan kebudayaan Bali juga terlihat dengan dibuatnya cultural trail menuju dua pura dan satu situs, yaitu Pura Batu meringgit dan Terataibang di sisi barat daya kompleks, serta situs kuno patung singa mendekam yang berlumut di sisi timur Museum Etnobotani.

agendaIndonesia/TL

*****

Jajanan Enak Kelapa Gading, 5 Jadi Pilihan

Jajanan enak Kelapa Gading, dari yang tradisional sampai yang legendaris.

Jajanan enak Kelapa Gading pilihannya bisa berlimpah. Mulai dari yang tradisional hingga yang melegenda.

Jajanan Enak Kelapa Gading

Jarum jam menunjukkan pukul 12.20. Matahari semestinya sedang gagah memperlihatkan kekuatannya. Namun siang itu awan kelabu menutupi keperkasaan matahari. Di tengah suasana mendung, di sepanjang Jalan Boulevard Raya, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara, orang-orang mampir dengan penuh semangat. Kendaraan beroda empat menyesaki pelataran parkir di deretan rumah makan di kawasan tersebut. Hampir tak ada rumah makan yang sepi pengunjung di lingkungan 1001 kuliner. Ada beragam menu dan setiap orang punya pilihan sesuai dengan selera masing-masing. Namun ada beberapa menu yang diburu sebagian besar penggemar kuliner. Empat di antaranya diulas di bawah ini.

Iga Penantang

Daging iga sapi bakar dengan siraman bumbu kacang di atasnya benar-benar menantang untuk disantap. Saat dipotong dengan sendok, dagingnya relatif mudah dipisahkan dari tulang. Maklum saja, sebelum dibakar, daging iga sapi yang masih dilengkapi tulang itu direbus dengan bumbu-bumbu selama tiga jam. Alhasil, selain empuk, bumbu meresap ke dalam daging iga.

Menu seharga Rp 50 ribuan ini dilengkapi kuah sop konro secara terpisah. Kuahnya terlihat lebih encer ketimbang coto Makassar. Menurut sang pemilik, menu ini paling banyak dipesan. Padahal, menu masakan Makassar lainnya juga tersedia. Ia mengaku dalam sehari dapat menghabiskan 500 kilogram iga sapi.

Sop Konro Karebosi;Jalan Boulevard Raya TA II/38;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Jajanan enak Kelapa gading kita bisa mencicipi kwetiau goreng Pontianak yang legendaris di kawasan ini.
Kwetiau goreng Pontianak di Kelapa Gading. Foto: Dok. TL

Jagoan Nila

Lain lagi dengan rumah makan Ikan Nila Pak Ugi. Sesuai dengan namanya, rumah makan ini memang mengandalkan ikan nila sebagai menu utama. Tersedia beragam menu, mulai nila bakar, nila goreng, nilai saus Padang, hingga nila telur asin. Dari semua olahan tersebut, yang paling banyak dipesan nila bakar. Saya pun mencoba pilihan terbanyak itu.

Saat ikan dibakar, aroma harum langsung tercium dan menggoda selera. Setelah setengah matang, ikan nila yang telah dipotong dan dibersihkan itu diberi bumbu racikan Pak Ugi. Saat bumbu meresap, ikan dibakar sampai matang dengan siraman kecap. Rupanya, di situlah letak rahasia kenikmatannya. Pantas saja nila bakar itu sanggup membuat lidah bergoyang.

Ikan Nila Pak Ugi; Jalan Boulevard Raya FX I/1;Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Dim Sum

Sajian dim sum lengkap biasanya hanya ditemui di restoran-restoran besar. Tapi di Kelapa Gading, olahan khas dari Negeri Tirai Bambu ini dapat ditemukan di warung rumahan. Sang pemilik warung memanfaatkan teras rumah sebagai area makan. Ia menyodorkan menu pilihan dim sum yang mayoritas banyak disukai, seperti siomay, chicken pou, hakau, lumpia udang, pangsit udang, dan ceker ayam.

Meski dijual ala rumahan, rasa sajian yang biasa disantap saat sarapan ini boleh diadu. Daging ayam atau udang dicincang setengah halus. Tak mengherankan jika setiap gigitan menimbulkan sensasi tersendiri. Harganya dihitung per porsi dan tidak terlalu mahal. Sebagai pendamping makanan, Anda bisa memesan secangkir kopi Sumatera asal Sidikalang. Kenikmatan kopi bisa diteguk dengan membayar Rp 5.000 per cangkir.

Jajanan enak Kelapa Gading kita bisa mencoba sop konro atau konro bakar Karebosi Makassar di daerah Kelapa Gading Boulevard.
Sop Konro from Makassar Indonesia. Foto: shutterstock

Kwetiau Kawakan

Bicara kwetiau, mungkin, Anda tidak boleh melupakan kwetiau khas Pontianak yang satu ini. Sejak 1991 hingga sekarang, rumah makan ini konsisten menyajikan kwetiau saja. Jadi, jangan harap menemukan menu lain di tempat ini. Mungkin karena itu pula banyak yang sudah mengenalnya.

Sekadar menyegarkan ingatan, rumah makan ini hanya menyediakan tiga pilihan olahan kwetiau: kwetiau goreng, kwetiau siram, dan kwetiau kuah. Setiap sajian itu dipatok dengan harga yang sama, yaitu Rp 32 ribu per porsi. Kokinya juga dari dulu belum berganti. Masih orang yang sama dan dengan teknik memasak yang sama pula. Ia memasukkan telur ayam saat masakan sudah setengah matang.

Kwetiau Sapi Hayam Wuruk 61; Jalan Boulevard Raya TN II/30-31; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

Bubur Sapo

Tak usah khawatir bila tengah malam perut Anda keroncongan. Jika kebetulan berada di Kelapa Gading Permai, Anda dapat mengunjungi rumah makan yang buka 24 jam ini. Ada beberapa menu ala Singapura yang dapat dijadikan pilihan. Namun menu bubur tetaplah menjadi pilihan favorit pengunjung.

Memiliki keunikan tersendiri. Bubur tidak dihidangkan di mangkuk biasa. Tetapi disajikan dalam sapo, yaitu mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Mungkin karena itu sajian ini kemudian disebut bubur sapo. Penggunaan sapo menjadikan bubur tetap hangat hingga suapan terakhir. Harga bubur ayam dipatok Rp 30 ribu per porsi.

Bubur Sapo Bun Ong; Jalan Boulevard Raya WB I/30; Kelapa Gading Permai; Jakarta Utara

agendaIndonesia/Andry T./TL/shutterstock

*****

Pulau Kemaro Palembang dan Perayaan Hari Ke 15

Pulau Kemaro Palembang menjadi salah satu daya tarik saat Imlek dan Cap Go Meh.

Pulau Kemaro Palembang, Sumatera Selatan, ramai dikunjungi peziarah dan pelancong. Selain pada hari-hari biasa, paling ramai didatangi saat Imlek dan puncaknya ketika perayaan Cap Go meh, atau hari ke 15 setelah Hari Raya Imlek setiap tahun.

Pulau Kemaro Palembang

Deru mesin perahu motor menandai dimulainya pelayaran saya ke Pulau Kemaro dari tepi Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Daratan seluas lima hektare ini sesungguhnya hanya berjarak sekitar enam kilometer dari Benteng Kuto Besak, sehingga bisa dicapai dalam waktu singkat. Cukup dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa mengunjungi pulau itu.

Kemaro berarti kemarau, atau musim panas. Meski air sungai meluap, menurut cerita warga setempat Pulau Kemaro tidak pernah kebanjiran. Saya memilih menyewa perahu karena ingin melihat sekeliling pulau dan juga sisi lain sungai yang membelah ibu kota Sumatera Selatan ini. Sebenarnya ada juga bus air, yang mengantar anak-anak berseragam pulang dari sekolah. Tapi ini tentu khusus anak sekolah dan “trayeknya” lebih tertentu. Dengan sewa perahu, selain lebih leluasa, rasanya tak melanggar hak anak-anak sekolah itu.

Tak lama perahu motor membelah air Sungai Musi, pulau yang saya tuju tampak di depan mata. Saya naik ke dermaga yang posisinya cukup tinggi. Di mana-mana terlihat pepohonan, sehingga tidak terasa hawa panas. Pedagang makanan dan minuman menyambut di bawah kerindangan pohon. Ketika kaki melangkah lebih jauh, tampak sekeliling pulau seperti hutan kecil. Jalan pun berujung pada sebuah rumah ibadah yang berupa pagoda.

Sebenarnya, pagoda berlantai sembilan itu baru dibangun pada 2006. Semula, ini Kelenteng Soei Goeat Kiong, yang lebih dikenal sebagai Kelenteng Kwan Im. Didirikan pertama kali pada 1962, kini tempat itu telah menjelma pagoda bertingkat didominasi warna merah dan kuning serta hiasan naga. Bangunan pagoda tinggi menjulang, tampak unik di tengah pepohonan. Ada pelataran dengan dua patung penjaga berwarna hitam di pintu masuk utama.

Tidak jauh dari sana, saya menemukan rumah penjaga pagoda yang ternyata sudah puluhan tahun turun-temurun tinggal di Pulau Kemaro. Seorang ibu tua yang berasal dari Pulau Jawa bertugas membersihkan lingkungan tersebut. Ibu itu lantas bercerita bagaimana pulau ini paling ramai dikunjungi ketika acara Cap Go Meh, perayaan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan negara lain.

Bagi muda-mudi, ada obyek wisata yang unik, yakni pohon cinta. Pohon dengan beberapa cabang ini diyakini bisa membantu menyatukan cinta. Caranya, cukup dengan mengukirkan nama kedua pasangan, maka keinginan untuk menikah akan kesampaian. Kisah cinta memang mencuat di pulau ini. Di sebuah batu, bisa dibaca legenda Pulau Kemaro. Berupa kisah percintaan antara putri Kerajaan Sriwijaya dan saudagar dari Cina, yakni Siti Fatimah dan Tan Bun An.

Pulau Kemaro Palembang dikenal dengan kisah cinta antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Ramai dikunjungi di hari ke 15 setelah tahun baru musim semi.
Batu Prasasti tentang Pulau kemaro, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: shuterstock

Kisahnya, berdasar cerita ibu penjaga dan beberapa pengunjung setempat juga batu prasasti, suatu hari sang putri diajak ke Negeri Tiongkok. Saat pulang, mereka dibekali sejumlah guci. Di Sungai Musi, di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun An memeriksa guci-guci tersebut. Ternyata cuma berisi sayuran. Pria Cina itu pun membuang semua guci ke sungai karena kesal. Salah satu guci pecah, dan terlihatlah kepingan koin emas. Ia kaget dan menyesal, lalu menyuruh pengawalnya melompat ke sungai untuk mengambil guci yang telah dibuang. Karena sang pengawal itu tak kunjung muncul kembali, ia pun ikut terjun ke dalam sungai. Langkah ini dilakukan pula oleh Siti Fatimah. Sayangnya ketiganya tak muncul lagi.

Delta kecil yang menjadi daratan awal Pulau Kemaro itu pun meluas, sehingga dianggap sebagai kuburan sang putri dan lambang cinta keduanya. Masyarakat menyebutnya tempat keramat. Legenda itu terus didengungkan kepada setiap pengunjung, sehingga selalu hidup dari masa ke masa.

Di salah satu sisi pulau juga ditemukan beberapa patung pendeta dan pendekar Tiongkok. Ada pula bangunan kelenteng baru dengan pulasan merah menyala. Bulan ini tentunya Pulau Kemaro akan lebih terang dengan hiasan lampion merah saat perayaan Cap Go Meh.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Wihara Gunung Timur Medan Berusia Hampir 1 Abad

Wihara Gunung Timur Medan merupakan kelenteng Tao atau Tionghoa yang usianya hampir 100 tahun. Tempat peribadatan ini bermula dari rumah berukuran petak, kini kelenteng ini berada di atas lahan satu hektare.

Wihara Gunung Timur Medan

Seorang teman menyarankan saya mampir ke Wihara Gunung Timur, di Jalan Hang Tuah 16, Medan.  “Kalau sudah ke bangunan tua dan bersejarah lain, jangan lewatkan kelenteng ini,” ujarnya.

Kelenteng Tao tersebut merupakan kelenteng yang terbesar di Medan, bahkan konon di seluruh Sumatera, dan sudah berdiri sekitar 90 tahunan. Wihara dengan nama Mandarin Tong Yuk Kuang ini hadir dengan arsitetural bangunan yang khas. Bangunannya yang luas di atas lahan satu hektare dapat menampung banyak pengunjung. Tidak saja bagi meeka yang hendak beribadah, namun juga yang memang tertarik untuk mengetahui kisah dan sejarah tempat ibadah ini.

Di bagian atas wihara, terdapat patung naga yang saling berhadapan, dan menjadi corak tradisional Tionghoa yang autentik. Selain itu, terdapat beragam arca yang melambangkan agama Buddha di wihara ini. Seperti altar Buddha, Buddha Maitreya, dan Dewi Kwan Im. Sedangkan di sisi kanan kelenteng, terdapat altar Toa Pek Kong (Da Bo Gong) dan Thay Suei. Ada pula arca Thien Kou (Anjing Langit) dan Pek Ho Kong (Harimau Putih) yang mengawal Tho Te Kong (Dewa Tanah).

Dengan latar belakang seperti itu, siang itu saya pun menyempatkan singgah ke Wihara Gunung Timur. Semula yang terlihat hanya bangunan abu-abu berbentuk kotak yang kaku, saya pun terheran-heran dan mencari wujud kelentengnya. Di bagian belakang ada sebuah bangunan merah yang tertangkap mata.

Wihara itu menghadap ke Sungai Babura, sehingga dinilai mempunyai fengsui yang baik. Sungai tersebut, menurut kepercayaan para penganut taoisme, memberikan kekuatan positif dalam komposisi alam semesta. Siang yang sepi dan hanya ada para pengurus kelenteng di bagian belakang. Saya berdiri di halaman yang luas dan mencoba mencermati tempat ibadah ini.

Dua singa hitam dan dua singa putih yang berada di bagian depan bangunan menjadi pasukan penjaga. Lampion merah dengan tali kuning berbaris bergantung di bagian depan atap. Di puncak atap, berhadapan dua naga panjang yang dipulas warna hijau-merah. Pilar-pilar besar yang beberapa di antaranya berhiaskan kepala naga menjadikan bangunan tersebut benar-benar unik.  Ada pula patung Dewa Kang Jian Jun yang berdiri tegak di sisi kanan pintu masuk.

Setelah sepi beberapa saat, akhirnya datang juga orang beribadah. Aroma dupa semakin kencang tercium. Tak jauh dari patung singa, yang merupakan penangkal hal negatif, ditempatkan juga dua wadah model tempayan untuk menaruh hio atau kemenyan. Saya pun melangkah lebih dekat dan mengintip bagian dalam. Nuansa merah terasa kian kental. Selain itu, ada warna kuning keemasan pada beberapa bagian—dua warna itu merupakan simbol keberuntungan.

Patung menghiasi beberapa titik kelenteng. Di antaranya patung Dewa Jing Shen Ru Shen Zai dan Dewa Zhu Sen Da Di. Altarnya tak hanya satu. Sebab, ada juga altar Buddha Sidarta Gautama yang didampingi patung Buddha Meitreya dan Dewi Kwan Im. Kemudian, ada juga altar yang diisi beberapa dewa dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, yakni Toa Pek Kong, Thay Suei, dan patung lainnya. Spanduk kecil yang berisikan huruf-huruf Cina digantung di beberapa titik. Ternyata rangkaian huruf itu menyebutkan nama-nama dewa. Altar pun berhiaskan dupa dan lilin. Ada pula sebuah beduk yang biasanya digunakan dalam atraksi barongsai yang digelar pada perayaan hari-hari tertentu.

Wihara Gunung Timur Medan atau Wihara Tao merupakan kelenteng terbesar di Medan bahkan di pulau Sumatera.
Wihara Gunung Timur Medan di bagian dalamnya. Foto: Dhemas/Dok. TL

Bangunan kotak yang saya temui di sebelahnya ternyata merupakan tempat  penyimpanan logistik wihara. Sedangkan saya bertemu dengan beberapa petugas di bagian belakang yang  menyimpan perlengkapan sembahyang. Seorang petugas menyebutkan yang sembahyang di wihara ini tak hanya penganut Tao, melainkan juga agama Tri Dharma, yakni campuran agama Buddha, Khong Hu Chu, dan Tao.

Sang penjaga menyebutkan bahwa wihara ramai saat ada perayaan. Namun setiap hari pasti ada yang datang untuk sembahyang dan kelompok turis yang datang sekadar untuk berkunjung. Wihara didirikan bersama-sama sekelompok etnis Tionghoa. Pembangunan tidak terhenti pada satu masa, tapi berlanjut terus hingga kelenteng yang hanya seukuran rumah petak ini sekarang memiliki halaman luas dan mempunyai bangunan lainnya. Luas totalnya sekarang mencapai satu hektare.

agendaIndonesia/Rita N./Dhemas RA/TL

*****

Kampoeng Kopi Banaran, Ngopi Dari 1911

Kampoeng Kopi Banaran menawarkan liburan lengkap. Foto: Dok KKB

Kampoeng Kopi Banaran tak selamanya cuma berarti tempat minum kopi. Saat ini boleh dibilang ini adalah salah satu destinasi agrowisata yang masih diminati banyak wisatawan, terutama bagi para pecinta kopi. Sebuah tempat yang awalnya berupa kebun kopi yang disulap menjadi tempat penginapan dan rekreasi unik.

Kampoeng Kopi Banaran

Dulunya, tempat ini adalah sebuah kebun kopi bernama Kebun Kopi Getas Afdeling Assinan, yang telah eksis sejak 1911. Perkebunan ini merupakan penghasil jenis kopi robusta yang lazim dikenal sebagai kopi Banaran.

Kopi tersebut dinamai demikian karena dulu biji kopi hasil perkebunan tersebut diolah di pabrik yang terletak di salah satu dusun di kawasan Semarang, bernama dusun Banaran. Dari situ, kenikmatan kopi ini semakin mengemuka, baik di dalam maupun luar negeri.

Ini disebabkan kopi Banaran disebut-sebut memiliki cita rasa yang khas dibanding kopi-kopi lain. Campuran unik antara rasa pahit, asam dan legit khas mocha membuatnya diburu banyak orang. Tak heran, kopi ini kerap dijuluki ‘Java Mocha’.

Kampoeng Kopi Banaran awalnya adalah perkebunan Kopi Getas Afdeling Assinan.
Taman Buah sebagai bagian dari Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Salah satu faktor penyebabnya adalah lokasi perkebunan kopi yang tergolong ideal. Kebun kopi ini berada di ketinggian sekitar 480-600 mdpl, dengan suhu udara berkisar dari 23 hingga 27 derajat Celsius, sehingga sangat cocok untuk membudidayakan kopi dengan kualitas tinggi.

Merawat pohon-pohon kopi di sini juga diperhatikan secara seksama, dengan pemilihan pupuk yang digunakan secara spesifik. Saat panen pun, tenaga kerja setempat yang didominasi oleh kaum Hawa sudah terbiasa memilihkan biji kopi dengan kualitas terbaik.

Mayoritas dari hasil perkebunan seluas 400 hektare tersebut menjadi komoditi ekspor ke beberapa negara, seperti Italia, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok. Panen dilakukan setiap setahun sekali, dengan hasil kurang lebih mencapai 2.000 ton biji kopi.

Karena hasil panen yang cukup melimpah itu, tercetus keinginan PT Perkebunan Nusantara IX selaku pengelola perkebunan pada saat itu untuk menggenjot penjualan dalam negeri. Caranya dengan membangun area agrowisata di sekitar perkebunan.

Pengunjung diharapkan dapat menikmati pemandangan perkebunan kopi berlatarkan gunung Telomoyo dan Rawa Pening yang indah dan asri, sambil menikmati kopi hasil perkebunan. Atau pengunjung juga bisa membeli produk kopi yang sudah dikemas sebagai oleh-oleh.

Dari ide tersebut, Kampoeng Kopi Banaran pun didirikan pada 2002. Setelah sebelumnya dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX, kini tampuk pengelolaan diambil alih oleh PT. Dyandra Banaran Nusantara yang merupakan anak perusahaan grup Kompas Gramedia.

Kampoeng Kopi Banaran sejak awal kemunculannya telah memfokuskan diri sebagai objek agrowisata yang menawarkan one stop tourism. Artinya, ada banyak cara untuk menikmati tempat ini, baik secara rekreasi, culinary maupun edukasi.

Salah satu daya tarik utama tempat ini tentu adalah fasilitas rekreasinya. Banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini, misalnya berkeliling sekitar kebun kopi dengan menggunakan sepeda, all terrain vehicle (ATV), berkuda atau sambil jogging.

Selain disediakan jogging track, pengunjung juga dapat menyewa sepeda, ATV atau kuda untuk menjelajahi tempat ini. Harga sewanya berkisar Rp 30 ribu untuk ATV, Rp 35 ribu untuk sepeda, dan Rp 50 ribu untuk kuda.

Coffee Camp di Banaran Kampoeng Kopi Banaran
Coffee Camp di Kampoeng Kopi Banaran. Foto: KKB

Kemudian terdapat pula area outbond dengan pilihan permainan seperti flying fox, panahan, trampolin, paint ball dan lain sebagainya. Kolam renang dengan area bermainnya juga dapat ditemukan di sini, dengan harga tiket masuk Rp 15 ribu.

Serta beberapa fasilitas lainnya seperti area peternakan kelinci, taman buah yang menjadi tempat pelestarian beberapa jenis buah yang langka, atau lapangan tenis yang disewakan. Harga sewa lapangan tenis per jamnya adalah Rp 40 ribu.

Lalu, daya tarik lainnya dari Kampoeng Kopi Banaran adalah hidangan kopinya, beserta ragam pilihan kuliner yang tersedia. Saat ini terdapat dua restoran utama, Banaran 9 Resto dan Banaran Sky View.

Banaran 9 Resto mengusung konsep arsitektur ala rumah Jawa tradisional dengan saung-saung kecil di area outdoor. Sajian menu seperti tempe mendoan dan wedang uwuh menjadi teman bersantai sambil menikmati suasana sejuk di tempat ini.

Adapun Banaran Sky View menawarkan pengalaman santap siang atau malam ditemani pemandangan alam ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening. Terlebih dengan pendaran lampu-lampu di malam hari yang menambah hangat suasana.

Tak kalah menariknya adalah wisata edukasi yang ditawarkan tempat ini. Pengunjung bisa berkeliling kebun kopi menggunakan golf cart atau menyewa kereta wisata seharga Rp 85 ribu, sambil melihat pohon-pohon kopi dan bagaimana biji kopi dipanen.

Pengunjung kemudian akan dibawa menuju ke pabrik tempat biji kopi kemudian diolah dan dikemas menjadi produk kopi. Terdapat juga museum yang menjelaskan sejarah kebun kopi ini, beserta sejarah dan hal-hal terkait kopi secara umum.

Di akhir tur, biasanya pengunjung bisa langsung membeli produk kopi dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Dalam isi kemasan berisi sekitar 100 gram itu, harga per kemasannya mulai dari Rp 15 ribu.

Coffee Camp
Suasana dalam Coffee Camp Kampoeng Kopi Banaran. Foto: Dok. KKB

Sesuai dengan semangatnya sebagai one stop tourism, Kampoeng Kopi Banaran tentunya juga menyediakan fasilitas menginap bagi yang ingin staycation di sini. Ada beberapa opsi bagi yang ingin menginap, mulai dari hotel, villa hingga fasilitas untuk glamour camping alias glamping.

Untuk hotel, satu kamar dapat mengakomodasi dua orang dengan pilihan kamar Deluxe dan Grand Deluxe. Tarif kamar Deluxe seharga Rp 550 ribu per malam, sedangkan kamar Grand Deluxe Rp 700 ribu per malam.

Tersedia pula villa yang dapat menampung empat orang, dengan fasilitas dua lantai, dua kamar tidur, ruang tamu dan teras depan yang cukup luas. Untuk harga sewa per malamnya dihargai Rp 1,25 juta.

Dan bagi yang ingin merasakan sensasi glamping, disediakan area dan fasilitas glamping Coffee Camp. Dengan panorama alam rawa Pening, tenda terbagi untuk isi dua orang atau empat orang, dengan tarif sewa berkisar dari Rp 700 ribu hingga Rp 850 ribu.

Akses untuk menuju ke lokasi tergolong mudah karena berada di tepi jalan raya Semarang-Solo, bagi yang melalui tol pun hanya berjarak 200 meter dari pintu tol Bawen. Untuk masuk ke dalam dikenakan tiket masuk Rp 5 ribu per orang, namun untuk parkir kendaraan gratis.

Jam operasional wahana dan tur wisata mulai dari jam 09.00 hingga jam 18.00, walaupun untuk ticketing biasanya sudah tutup dari jam 16.30. Sementara jam buka restoran mulai dari jam 10.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 08112721771, atau via email info@kampoengkopibanaran.id, serta mengunjungi situs resmi kampoengkopibanaran.id dan akun resmi Instagram @kampoengkopibanaran.id.

Kampoeng Kopi Banaran

Jl. Raya Semarang-Solo Km. 35, Bawen

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Semarang Kota Soto, Ini 5 Soto Yang Maknyus

Liburan di musim hujan saat nya menikmati kuliner khas yang lenih nikmat disanpat saat hujan turun.

Semarang Kota Soto rasanya tidak ada yang akan protes. Penjual soto bertebaran di segala penjuru ibukota Jawa Tengah ini. Semua enak dan semua mempunyai pelanggan yang fanatik.

Semarang Kota Soto

Soto termasuk jenis makanan yang mudah ditemukan di Semarang. Pedagang soto bertebaran. Anda tinggal pilih. Sepertinya tak berlebihan jika Semarang kita juluki sebagai Kota Soto, selain Kota Lumpia.

Mayoritas penjajanya menggunakan tambahan embel-embel nama penjualnya, seperti Soto Pak Man, Soto Pak No, Soto Mbak Lin, Soto Bangkong, dan sebagainya. Ciri lain dari soto di Semarang ialah dalam satu mangkuknya sudah tercampur nasi dan daging ayam sebagai bahan baku utamanya. Harganya yang relatif murah menjadikan soto sebagai pilihan untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Pada Ramadan ini cocok juga untuk berbuka puasa karena menghangatkan sekaligus mengenyangkan.

Soto Tanpa Santan

Soto Pak Man tampaknya paling ramai dikunjungi para pembeli di Semarang. Bahkan mulai pukul 10.00 hampir semua kursi sudah penuh terisi. Entahlah, mereka makan pagi atau makan siang. Tak penting juga bukan, yang penting makan soto. Soto disajikan dalam sebuah mangkuk yang berisi potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Tak ketinggalan nasi  di dalamnya.

Harga per porsi ialah Rp 15 ribu. Sebagai temannya bisa pilih tempe goreng, perkedel, berbagai jenis sate, dari harga Rp 2.000 per buah. Ciri khas soto Pak Man ini tidak menggunakan santan dalam kuahnya.

Soto Pak Man; Jalan Pamularsih No. 32; Semarang

Soto Legendaris

Rumah makan soto ini memang didominasi warna hijau tua. Namun bukan karena catnya yang menyebabkan rumah makan ini dinamakan “soto idjo”. Atau bukan pula karena sotonya yang berwarna hijau. Menurut Purwadi, sang pemilik, rumah makan miliknya itu mengalami masa kejayaan pada era 1980-an dan banyak pembeli yang berasal dari kalangan tentara. Karena itulah, banyak yang menjulukinya sebagai soto idjo.

Rasa sotonya juga tak kalah enak dengan soto-soto yang lain. Isinya juga masih sama. Ada potongan daging ayam, soun, seledri, daun bawang, taoge, dan bawang goreng. Bahkan soto idjo menyediakan peyek udang, selain tahu goreng, tempe goreng, perkedel, dan satai. Harga per porsinya juga relatif murah.

Soto Idjo; Jalan Dr. Cipto No. 102; Semarang

Soto Buka 24 Jam

Saat berkeliling di Kota Semarang, beberapa kali saya menemukan rumah makan soto yang menggunakan nama dagang “Soto Pak No”. Beruntung, sopir yang mengantar saya selama di Semarang tahu keberadaan Soto Pak No yang asli. Pak Fauzi, nama sang pengemudi, memang sudah lama tinggal di Semarang. Dia tahu seluk-beluk soal kota ini. Setibanya di rumah makan yang dituju, terpampang spanduk yang bertuliskan Soto Ayam Asli RM Pak No.

Menurut seorang pelayan, kata RM bisa berarti rumah makan atau bisa juga inisial dari nama anak Pak No, yaitu Rokhmat dan Maryamah. Soto yang disajikan dalam mangkuk mungil ini juga tak berbeda dengan soto yang lain. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsi terbilang murah. Yang membedakan dari rumah makan ini, yakni jam bukanya hingga 24 jam.

Soto Pak No; Jalan M.H. Thamrin No 28; Semarang

Semarang kota Soto ditandai dengan banyaknya warung soto yang legendaris di kota ini. Semuanya enak dan punya pelanggan yang fanatik.
Rumah makan Soto Mbak Lin di Jalan Kimangun Sarkoro, Semarang. Foto: Nita D./TL

Soto Rasa Kudus

Jika penjual soto yang lain di Semarang mayoritas kaum pria, lain halnya dengan rumah makan soto yang satu ini. Penjual soto ini justru pemiliknya perempuan. Tengok saja namanya, Soto Mbak Lin. Yang juga tak kalah laris dan punya pelanggan tersendiri.

Meski berjualan di Semarang, Soto Mbak Lin ini justru berasal dari Kudus. Seperti soto khas Kudus lain, kaldu kuahnya terasa lebih kental dan gurih. Soal isi tak jauh berbeda. Ada taoge, soun, daging ayam, seledri, bawang goreng, dan nasi putih. Harga per porsinya mirip dengan tempat lain. Sate kerang seharga Rp 3.500 per tusuk boleh dicoba.

Soto Mbak Lin; Jalan Kimangun Sarkoro; Semarang

Semarang kota soto karena kota ini memiliki begitu banyak warung soto legendaris dengan masakan yang enak.
Soto Bangkong, salah satu legenda soto di Semarang. Foto: shutterstock

Soto Bersantan

Soto yang terletak di ujung Jalan Brigjen Katamso, Semarang, ini porsinya tak berbeda dengan soto-soto lain. Mulai soun, taoge, seledri, bawang goreng, daging ayam, dan nasi putih tercampur dalam setiap mangkuknya. Bedanya hanya kuah santannya.

Selain itu, perbedaannya lagi, gorengan seperti tempe dan perkedel disajikan dengan cara ditusuk. Walhasil, dinamakan satai tempe dan satai perkedel. Satai kerang dan satai telur juga tak luput disajikan. Harganya mulai Rp 1.500 per tusuk. Harga soto di tempat ini relatif lebih tinggi dibanding yang lain, yakni Rp 15 ribu per porsi. Soal rasa tak jauh berbeda dengan yang lain.

Soto Bangkong; Jalan Brigjen Katamso No I; Semarang

agendaIndonesia/Andry T./Nita D./TL/shutterstock

*****

Asam Gurih Khas Sipirok, 5 Kuliner Enak

Asam gurih khas Sipirok menjadi agenda saya ketika mengunjungi Medan, Sumatera Utara. Ini soal kulinari. Ada berbagai macam masakan khas daerah ini yang terkenal enak. Berbahan daging dan tulang kerbau atau ikan dengan rempah-rempah asli setempat.

Asam Gurih Khas Sipirok

Sebagian masyarakat Medan, Sumatera Utara, tentu sepakat jika hidangan Sipirok memiliki cita rasa yang jempolan. Terbukti, sebuah rumah makan Sipirok di Medan menjadi salah satu tempat sajian kuliner favorit warga kota tersebut dan bahkan diburu para turis. Menu dari tulang kerbau membuat pecinta sajian kuliner selalu ingin kembali. Beruntung saya berkesempatan menikmati langsung sajian tersebut langsung di daerah asalnya di Sipirok, Tapanuli Selatan. Di kota yang tahun lalu menggelar Festival Kopi ini, bukan hanya sumsum tulang kerbau pilihannya, tapi ada juga daging bakar dan hidangan dari ikan.

Daging Bakar Sambal Asam

Selintas menu ini mirip dendeng balado yang biasa disajikan di rumah makan Padang. Tapi daging bakar khas Sipirok ini memiliki potongan daging yang lebih mungil. Potongan-potongan kecil daging bakar berupa kerbau atau sapi ini disajikan dengan saus sambal asam dengan rajangan bawang  merah.

Rasa asam muncul dari perasan jeruk nipis. Sedangkan sambalnya yang sangat pedas menggunakan cabai rawit asal daerah tersebut. Dalam proses pengolahannya, daging sapi atau kerbau dibakar lalu dikukus. Agar menjadi lembut, hanya digunakan daging bagian dalam yang ada di antara pinggul dan paha. Satu porsinya Rp 20 ribu.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya  ikan mas Sinyarnyar.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, menjadi cita rasa kuliner yang dirindukan. Foto: Andri/dok. TL

Ikan dengan Sinyarnyar

Menu ikan bakar ini berbeda dengan sajian ikan bakar lain. Ada tambahan khusus berupa bumbu sinyarnyar atau yang disebut andaliman. Salah satu jenis makanan khas dari Sipirok itu terlihat berminyak dengan bintik-bintik hitam sinyarnyar. Ikan mas digunakan sebagai bahan baku utamanya.

Begitu mencicipi, rasa sedikit pedas langsung menyengat. Selanjutnya, lidah akan tersengat getah sinyarnyar yang menjadi bumbu utama ikan bakar tersebut. Anehnya, ”sengatan” itu justru memancing suapan berikutnya. Rajangan bawang merah dan perasan jeruk nipis kian menambah nafsu makan. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu.

RM Ikan Bakar; Jalan Tarutung; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kikil Kaki Kerbau

Di sekitar alun-alun Pasar Sipirok, ada sebuah warung makan yang relatif cukup ramai didatangi pengunjung saat makan siang tiba. Hampir sebagian besar pengunjung rupanya memesan sup kikil kaki kerbau yang memang menjadi andalan warung makan tersebut.

Jika dilihat tampilannya memang kurang terlalu meyakinkan. Namun jangan salah. Silakan coba dulu. Kuah supnya yang hangat begitu terasa rempah-rempahnya. Belum lagi kikilnya yang lunak. Menurut sang pemilik, proses perebusan butuh waktu sekitar 3 jam agar membuat kikil empuk. Kemudian, dimasukkan rempah-rempah, seperti lengkuas, cengkeh, bawang putih, tomat, dan lain-lain. Harga per porsinya hanya Rp 25 ribu—sudah termasuk nasi.

RM Sibualbuali; Jalan Tengah; Sipirok, Tapanuli Selatan

Kesegaran Terong Belanda

Saat melanjuti perjalanan dari Sibolga menuju Sipirok, saya sempat mampir di sebuah warung untuk melepaskan dahaga. Mata saya tertumbuk pada satu susunan buah berbentuk bulat telur di lemari etalase yang disebut terong Belanda. Isinya yang berwarna oranye kekuningan inilah yang diambil dan kemudian diblender atau dihancurkan.

Dengan tambahan es batu, jus terong Belanda ini terasa menyegarkan dan menjadi manis dengan penambahan gula dan susu. Memang ini bukan minuman khas Sipirok, tapi terkenal di Sumatera Utara. Harganya yang Rp 8.000 sudah mampu melepaskan dahaga. Ehm, benar-benar menyegarkan.

Rumah Bu Nengsih; Jalan Padang Sidimpuan; Sibolga, Tapanuli Tengah

Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, yang tercermin pada kulinarinya yang serba enak.
Asam gurih khas Sipirok, Sumatera Utara, di antaranya sumsum kerbau. Foto: Andri/Dok TL

Sup Sumsum Kerbau

Saat pertama kali mendatangi rumah makan ini, saya terpaksa harus menggigit jari. Pasalnya, sup sumsum kerbau khas Sipirok yang tersohor itu sudah habis terjual. Mau tidak mau, keesokan harinya saya harus kembali datang untuk mencoba sup yang terkenal hingga ke Medan itu. Dan beruntung, kali itu masih ada.

Pesanan sup sumsum kerbau pun datang dan disajikan dalam sebuah piring besar. Tulang kerbau kira-kira berukuran 25 sentimeter dibiarkan terbaring di atas piring dan lengkap dengan kuahnya. Selain pisau, disediakan pula sedotan untuk menyeruput sumsum yang ada di dalam tulang. Rasa sumsumnya mirip dengan sumsum sapi, tapi ini lebih kental. Harganya Rp 70 ribu per porsi. Sajian ini sebaiknya segera disantap saat panas.

RM Siang Malam; Jalan Merdeka No 37; Sipirok, Tapanuli Selatan

agendaIndonesia/Andry T./TL