Tari Barong Bali 1 Simbol Kebaikan Lawan Kejahatan

Tari Barong Bali

Tari Barong Bali 1 simbol kebaikan lawan kejahatan. Ini dipercaya masyarakat pulau Dewata. Karena itu, awalnya tari-tari Barong dipergelarkan pada acara-acara khusus di banjar-banjar di Bali. Belakangan, tari-tari yang sakral ini makin disenangni para wisatawan dan peminat seni tari dan kebudayaan.

Tari Barong Bali

Sekitar pukul 09.00, saya ke luar tergesa dari hotel di pantai Kuta, Badung, Bali. Tak sempat sarapan, dan mandi pun secepat kilat. Ingin segera rasanya mengulang pengalaman di masa kecil ketika pertama kali menginjak Pulau Dewata. Saat masih duduk di sekolah dasar, dalam liburan ke Bali, orang tua saya mengajak menonton pertunjukan Tari Barong dan Keris. Saya masih ingat tempatnya, di Batu Bulan, Sukawati, Gianyar. Namun pagi ini saya putuskan untuk menonton di lokasi lebih dekat, tidak jauh dari Sanur.

Jalanan tidak terlalu padat di akhir pekan, padahal semalam melewati jalan-jalan seputar Kuta dan Seminyak membutuhkan kesabaran. Badan jalan dipadati kendaraan, sedangkan trotoar dipenuhi pejalan kaki. Hanya dalam 20 menit, saya sudah berada di Jalan Waribang No. 21, Kesiman, Denpasar. Beberapa bus sudah terparkir di bagian depan. Di bagian belakang pun area sudah dipenuhi kendaraan roda empat. Saya menuju loket tempat pertunjukan bernama Uma Dewi Kecak & Sanghyang ini. Tiket masuk Rp 100 ribu per orang.

Pertunjukan masih 30 menit lagi, tapi tempat duduk sudah hampir terisi penuh. Logat berbagai daerah dari penonton terdengar silih berganti mampir ke telinga saya. Belum lagi obrolan dalam bahasa asing. Turis lokal dan mancanegara, sama-sama berharap pada satu hal: menyimak tarian yang merupakan simbol kebaikan dalam budaya Bali.

Tak lama pemukul gendang menunjukkan aksi, diikuti para pemain gamelan semar pegulingan dengan memunculkan suara nang ning nong neng. Para penonton pun langsung terdiam. Dalam gending pembukaan, penari Barong muncul. Kaki bergerak disusul gerakan lain, termasuk bagian pinggul. Tak lama sang kera pun datang, melucu dan menggoda hingga para penonton pun terbahak hingga tiga penyerang datang.

Panggung pun berganti pemain, ada dua penari berlenggok. Inilah babak pertama. Keduanya adalah pengikut Rangda yang tengah mencari para pengikut Dewa Kunthi. Tari Barong memang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Rangda-lah dalam panggung ini

yang menjadi bagian dari sisi buruk. Dicuplik dari kisah Mahabharata, rangkaian Tari Barong menunjukkan kondisi yang ada dalam kehidupan, selalu ada sisi baik dan buruk. Keduanya bertarung, dan tak ada yang menang. Memunculkan tokoh-tokoh tak hanya Barong dan Rangda, tapi juga Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa, kemudian Dewa Siwa, serta Kalika, salah satu pengikut Rangda. Di akhir pertunjukan digelar Tari Keris yang dibawakan sejumlah pria.

Dibumbui banyolan, tarian ini memungkinkan sebagian penonton yang tak paham inti cerita tertawa. Namun, namanya juga kehidupan, yang buruk dan baik bisa jadi muncul bersamaan, juga yang serius dan penuh canda pun sama-sama berdampingan. Di akhir acara, sejumlah penonton berburu foto bersama para pemain di atas panggung.

Berfoto menjadi akhir yang menyenangkan bagi semua pihak. Para penonton benar-benar senang bisa berdampingan dengan penari, Rangda, Dewa Siwa, dan Sahadewa. Senyum melebar terlihat dalam setiap jepretan. Tentu saja, Barong paling banyak didekati, mulutnya beradu karena terus digerakkan. Lewat lubang itulah para penonton bisa memberi donasi khusus buat para pemain.

Saya pun mengintip di bagian dalam Barong. Ada dua orang yang terlihat bertubuh tergolong kurus. Keduanya disebut juru saluk atau juru bapang. Masing-masing memiliki tugas,

di depan untuk menggerakkan bagian kepala, sedangkan satu lagi menggoyangkan bagian belakang. Topeng yang biasa dipertontonkan untuk pertunjukan Tari Barong dan Keris merupakan perpaduan wujud dari singa, macan, sapi, dan naga yang dikenal sebagai jenis Barong Ket.

Badan Barong Ket terlihat mewah karena dihiasi dengan kulit dan ratusan kaca cermin berukuran kecil. Bulu-bulu yang menutup tubuhnya terbuat dari sejenis tanaman pandan dan injuk. Sesungguhnya, seperti dituturkan salah seorang petugas, Tari Barong merupakan salah satu tari sakral bila dipertunjukkan di pura. Dalam berbagai prosesnya, termasuk pembuatan topeng dan pemilihan pemain, harus dilakukan sejumlah upacara. “Pemainnya benar-benar terpilih, harus melakukan upacara terlebih dahulu dan menunggu yang ‘membisiki’,” papar Ketut.

Demikian juga dalam pembuatan topengnya, harus diambil dari pohon-pohon khusus, yang biasanya ditemukan di permakaman atau pura. “Pohon tersebut memiliki bagian yang cembung,” ia menambahkan. Kayu untuk membuat topeng pun terlebih dulu dibuat upacara, sehingga dari upacara sampai pembuatan selesaibisa memakan waktu hingga empat bulan. Setelah proses panjang tersebut, baru bisa dibawakan. Khusus di area pertunjukan untuk para turis, biasanya digelar setiap pagi dengan durasi sekitar 60 menit.

RITA N.-TL

Tari Barong Bali
Tari Barong Bali dalam sebuah pertunjukan di pulau Dewata. Dok. Rita N-TL

JENIS-JENIS TARI BARONG

Barong Ket atau Barong Keket

Sosoknya menjulang tinggi, dua kali lipat orang dewasa. Sosok laki-laki dinamakan Jero Gede, sedangkan pasangannya disebut Jero Luh. Jenis ini dibuat untuk mengelabui makhluk- makhluk halus yang menebar bencana. Gerakan tarinya merupakan yang terlengkap. Badannya berhias ukiran rumit dan kaca-kaca kecil. Diberi

pula rambut yang terbuat dari sejenis pandan dan injuk.

Barong Bangkal

Bangkal adalah babi dewasa jantan. Karena itu, barong ini menyerupai

babi. Babi betina dinamakan bangkung sehingga sering juga disebut Barong Bangkung. Biasanya Barong Bangkal dibawa mengelilingi desa pada hari raya Galungan-Kuningan.

Barong Landung

Hanya dibawakan oleh seorang penari, di bagian perut barong dibuat lubang sebagai celah pandang sang penari. Musik pengiring tarian Barong Landung adalah gamelan Batel.

Barong Macan

Jenis barong yang menyerupai macan ini dibawa mengelilingi desa. Barong yang diiringi gamelan batel ini cukup dikenal.

Barong Kedingling

Disebut juga Barong Blasblasan.
Ada juga yang menyebutnya Barong Nong Nong Kling. Banyak ditemukan di sekitar Gianyar, Bangli, dan Klungkung. Bentuknya berbeda sekali dengan jenis barong lain. Sebab, barong ini lebih menyerupai kostum topeng yang masing-masing karakter ditarikan oleh seorang penari. Tokoh- tokohnya seperti dalam Wayang Wong. Pertunjukannya diiringi gamelan batel atau babonangan.

Barong Gajah

Sesuai dengan namanya menyerupai gajah. Termasuk barong langka dan dikeramatkan. Biasanya dipentaskan di daerah Gianyar, Tabanan, Badung, dan Bangli.

Barong Asu

Jenis barong langka yang menyerupai anjing. Hanya terdapat di beberapa desa di Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau Balaganjur.

Barong Brutuk

Yang satu ini tergolong langka dan hanya ditarikan pada saat khusus. Terbuat dari batok kelapa, dan badannya dari daun pisang kering, serta bentuknya lebih primitif. Barong ini melambangkan makhluk-makhluk suci di Pura Pancering Jagat, Trunyan, Kintamani. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan.n

Almond Crispy Surabaya, Kekinian Sejak 2012

Almond Crispy Surabaya dari Wisata Rasa menjadi oleh-oleh kekinian dari kota ini.

Almond Crispy Surabaya sudah 10 tahun terakhir menjadi salah satu camilan kekinian yang banyak digemari masyarakat. Ia juga menjadi salah satu ikon oleh-oleh kota Pahlawan ini, melengkapi buah tangan lain seperti kerupuk udang hingga sambel Ibu Rudy.

Almond Crispy Surabaya

Awal kemunculannya memang belum cukup lama, namun Almond Crispy Surabaya sudah berhasil menjadi primadona oleh-oleh khas ibu kota Jawa Timur ini. Jajanan yang terlihat sederhana dan terbuat dari telur, tepung, gula, susu bubuk juga keju juga kacang almond sebagai topping, rasanya bikin kangen banyak wisatawan yang berkunjung ke sini.

Saat ini sudah banyak produk kudapan yang menggunakan sebutan ‘almond crispy’. Ia seakan menjadi istilah generik untuk penganan yang bertekstur sangat tipis, lembut, dan renyah di mulut. Begitu digigit, keju dan almondnya akan meleleh di dalam mulut pengudapnya. Rasa gurih dan manisnya terasa menyatu.

Almond crispy Surabaya melengapi banyak ikon wisata Surabaya, seperti Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura

Kini ada ratusan merek produk almond crispy cheese di Surabaya. Akan tetapi, yang merek asli atau brand pertama yang memperkenalkannya adalah Wisata Rasa. Saat awal kemunculannya pada 2012, puluhan orang rela mengantre di toko Wisata Rasa demi bisa membeli satu kotak produk ini.

Wisata Rasa atau toko Wisata Rasa sendiri sudah buka sejak tahun 2004 yang lalu dan saat ini sudah ada beberapa cabang di Surabaya. Sementara produk Almond Crispy-nya  baru muncul beberapa tahun kemudian. Resep Almond Crispy Surabaya asli lahir dari Wisata Rasa.

Sejumlah ahli cookies mengatakan almond crispy Surabaya ini mirip dengan almond tuiles dari Prancis Bentuk atau tampilanya sekilas memeng mirip, begitupun almond crispy dan almond tuiles berbeda. Secara tekstur pun ke duanya berbeda.

Almond tuiles dari Prancis bantuknya lebih tebal dan mirip cookies. Rasanya pun berbeda. Jika para pecinta biskuit pernah mencoba almond tuiles yang biasa dijual di restoran Prancis, rasanya ada vanilla dan cinnamon atau kayu manisnya. Sementara almond crispy cheese rasanya lebih ke gurih, manis, dan renyah.

Almond Crispy Surabaya penganan ringan bentukny tipis dan bundar.

Seperti disebut di muka, Almond crispy Surabaya terbuat dari kacang almond, keju, mentega, tepung, dan gula yang dicetak berbentuk bulat pipih lalu dipanggang. Bentuknya yang bulat tipis dengan taburan kacang almond dan parutan keju membuat tekstur almond crispy cheese renyah.

Rasanya yang gurih dan manis dipadu dengan tekstur yang renyah membuat banyak orang sanggup menghabiskan satu kotak produk ini tanpa merasa mual sama sekali. Adanya taburan kacang almond membuat rasa almond crispy makin kaya dengan aroma yang harum.

Pada awalnya, Almond Crispy Surabaya diproduksi atau hadir dengan tiga varian rasa, yaitu original, cokelat dan green tea. Belakangan, karena tingginya permintaan, Almond Crispy  memiliki banyak varian rasa yang lebih banyak dan bisa dipilih: ada rasa almond crispy cheese –ini yang biasa disebut original, almond crispy cheese green tea, almond choco cheese, dan almond mocca cheese. Semua varian rasa tersebut enak dan mterus mengunyahnya.

Cemilan khas Surabaya ini memang beda dari makanan khas daerah pada umumnya. Selain rasanya yang enak dan renyah, produk ini sejak awal juga dikemas bagus, sehingga bisa dibawa begitu saja untuk oleh-oleh atau ketika langsung dikonsumsi dari kemasannya bersama kerabat.

almond crispy Surabaya toko wisata rasa

Lantaran tingginya permintaan, produsen Almond Crispy Surabaya, Wisata Rasa, yang pada awalnya baru ada memiliki satu toko, kini memiliki tujuh toko yang tersebar di Kota Surabaya. Selain itu mereka juga memiliki satu outlet di Sidoarjo, dan satu gerai di kota Malang.

Bila wisatawan sedang main ke Surabaya dan bingung ingin membeli oleh-oleh apa dari kota ini, mereka bisa datang  ke Wisata Rasa, dan membeli  Almond Crispy. Selain produk tersebut, toko-toko ini juga menjual oleh-oleh Surabaya lainnya.


Setiap pengunjung yang datang ke toko ini sering kali memborong 30 boks Almond Crispy sebagai oleh-oleh. Pada hari-hari biasa keramaiannya biasa, namun bila hari libur, ramainya luar biasa. Saat liburan Wisata Rasa bisa menjual 1000-2000 boks Almond Crispy per harinya.

Wisata Rasa berada di Jalan Mayjend Sungkono nomor 135 Surabaya. Untuk nomor teleponnya sendiri adalah 031-5611954 / Fax 5610165. Cabang lainnya yang juga berada di kawasan Surabaya antara lain yakni di Genteng, Jemursari, Tunjungan dan Meir.  Wisata Rasa yang terletak di Jalan Raya Jemursari No. 164.

agendaIndonesia

*****

Kampung Adat Naga Dan 112 Rumah Mereka

Kampung Adat Naga di Tasikmalaya, sebuah perkampungan yang masih sangat memegang tradisi leluhur.

Kampung adat Naga di Jawa Barat selalu menarik perhatian mereka yang menyintai budaya dan adat istiadat. Dan itu semua dimiliki kampung yang konon sudah ada sejak abad 16.

Kampung Adat Naga

Kampung Adat Naga ini terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Yang unik letak kampung ini yang berada di lembah. Tidak hanya itu, Kampung Naga ini masih mempertahankan kearifan lokal dan budaya yang mereka jaga sejak dahulu.
Untuk mencapai Kampung Adat Naga ini dari Garut memakan waktu sekitar 1 jam. Letak kampungnya di sebelah kiri jalan. Uniknya adalah tata letak rumah dan arsitektur yang khas, sesaat sebelum masuk kampung kita harus melapor terlebih dahulu. Dan jangan mencari plang atau gapura tanda masuk desanya. Karena hal itu tidak ada.

Kampung adat Naga di Tasikmalaya menyimpan banyak menyimpan kearifan lokal. Misalnya soal jumlah rumah yang tak boleh berubah agar terga kelestarian alamnya.
Ratusan anak tangga menuju Kampung Naga. Foto: Dok. shutterstock

Nama Naga sendiri selalu menjadi pertanyaan mereka yang pertama kali mengunjungi kampung adat ini. Dan pada kenyataannya hamper tak ada dokumen otentik yang bisa menerangkan hal tersebut. Tentu ada kisah atau cerita legenda yang mencoba menjelaskannya.Dan semuanya menarik hingga kampung ini, sebelum pandemi, rata-rata dikunjungi 300 wisatawan setiap bulannya.

Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah “Pareum Obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Maka bila diterjemahkan secara singkat artinya matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah Kampung Naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal-usul kampungnya.

Naga sendiri kita tahu berasal dari hewan mitologi Tiongkok, namun nama kampung ini bukan melambangkan hewan mitos tersebut. Nama ini berasal dari bahasa Sunda nagawir, yang berarti dikelilingi tebing atau jurang (gawir).

Nama itu kemungkinan diambil dari kepercayaan bahwa leluhur masyarakat Kampung Naga berasal dari Kerajaan Galunggung, bernama Sembah Dalem Eyang atau Eyang Singaparna yang merupakan anak dari Prabu Rajadipuntang (Raja Galunggung ke-7).

 Ketika terjadi pergolakan penurunan tahta, Prabu Rajadipuntang berhasil meloloskan diri dengan membawa sejumlah pusaka kerajaan. Ia kemudian menemukan sebuah muara di antara Sungai Cikole dan Sungai Cihanjatan. Prabu Rajadipuntang kemudian membagikan pusaka kerajaan ke masing-masing putranya.

Eyang Singaparna mendapatkan warisan ilmu kabodoan (kebodohan). Dengan ilmunya itu, ia mendapat ilham agar mendapat ketenangan hidup bila bersembunyi di sebuah tempat yang terang.

Dalam perjalannya mencari kesahajaan hidup tersebut, Singaparna sampai di tempat yang dianggap aman dan tenang, sebuah lembah di pinggi Sungai Ciwulan. Sebuah lembah yang subur dan indah dengan dikelilingi perbukitan itulah yang kemudian menjadi Kampung Naga.

Kisah tersebut hampir mirip dengan versi sejarah yang ceritanya bermula pada masa kewalian Sunan Gunung Jati. Kisahnya, ada seorang abdi Sunan Gunung Jati bernama Singaparana yang ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari.


Di tempat tersebut sang abdi bersemedi dan dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga

Ada yang mencoba mengaitkan dengan sebuah prasasti yang disebut Piagam Naga. Namun jejak prasasti ini hilang saat terjadi pemberontakan DI/TII Karto Suwiryo pada 1957.
Apa pun versi ceritanya, yang pasti masyarakat Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya tersebut masih memegang erat adat istiadat dari leluhurnya. Mereka hidup dalam kesahajaan, tanpa alat elektronik dan kendaraan.

Perbedaan tersebut sangat terlihat jelas, jika dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Adat Naga. Kehidupan masyarakat lokal kampung tersebut terlihat dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan lokal yang masih tradisional dalam kehidupan yang masih sangat melekat sehari-hari.

Hal lain yang terlihat soal kebersahajaan masyarakat kampung tersebut adalah dari rumah-rumah pemukiman penduduk. Bila diperhatikan, rumah penduduk di Kampung Naga ini seperti tanaman berjamur yang berjajar rapih. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik dan keunikan dari letak tatanan rumah di kawasan kampung tersebut.

Seluruh bangunan di kampung ini pun sama persis, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Atapnya berupa daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu.

Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).

Rumah harus menghadap ke utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah barat-timur. Di sini rumah memiliki dua pintu yang sejajar. Bukan pintu depan dan belakang. Masyarakat di sini meyakini adanya pintu belakang akan membuat rezeki yang masuk dari pintu depan bisa keluar lewat belakang.

Jumlah rumah di Kampung Naga juga tidak pernah berubah, yakni 112 unit. Jika ada penduduk yang ingin membangun rumah baru, harus berada di luar kampung. Mereka kemudian akan menyandang predikat warga adat luar.

Kampung Naga memang merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari, di sini masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut.
Penduduk Kampung Naga semuanya beragama Islam. Begitupun, sebagaimana masyarakat adat lainnya, mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.

Kampung Adat Naga semua warganya memluk agama Islam, namun seraya tetap memegang teguh tradisi leluhur.
Bedug dan kentongan di masjid di Kampung Naga. Foto: Dok. shutterstock


Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.


Misalnya saja, kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus yang masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai, terutama bagian sungai yang dalam. Kemudian “ririwa” yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari.
Jika pengunjung ada yang ingin menginap, dapat membuat janji terlebih dulu dengan pemandu setempat. Namun pelancong hanya boleh menginap maksimal satu hari.

Jangan lupa pelajari aturan tinggal di sini. Salah satunya, tidak boleh memasuki kawasan hutan larangan, apalagi memetik buahnya. Ini bukan karena alasan mistis, melainkan agar alamnya tetap lestari. Bahkan penduduk yang membutuhkan kayu bakar pun hanya boleh mengambil ranting yang sudah jatuh di sungai atau tanah sekitar hutan.

Berkunjung ke sini belum lengkap jika tidak mencoba sajian kulinernya. Ada pipis, kue singkong yang diisi gula. Menyantap makanan ini lebih nikmat jika ditemani bajigur yang hangat dan manis. Selain kuliner, sempatkan pula membeli kerajinan tangan dari penduduk Kampung Naga.

Sudah punya agenda mengunjungi Kampung Adat Naga?

agendaIndonesia

*****

Menikmati 1 Tradisi Batik Pecinan Lasem

Berburu batik jangan sampai melewatkan mampir ke Lasem. Di sini ada batik dengan motif campuran oriental dan Jawa.

Menikmati 1 tradisi pecinan Lasem, Jawa Tengah, seperti menggambarkan perjalanan sejarah Nusantara yang tak lepas dari terpaan budaya Tionghoa. Lasem telah kesohor sebagai kota pecinan tua di Indonesia. Konon, kota ini merupakan peradaban masyarakat Tionghoa pertama di tanah Jawa.

Menikmati 1 Tradisi Batik Pecinan

Mengunjungi Lasem seperti menyusuri lorong waktu. Di sini, waktu seakan berhenti. Gedung-gedung bangunan milik masyarakat setempat di sana masih lawas. Pemiliknya hidup mempertahankan keaslian warisan pendahulu mereka. Little China atau Tiongkok Kecil, begitulah orang-orang menyematkan julukan pada Lasem, sebuah kecamatan kecil di Rembang, Jawa Tengah. Kota ini kemudian menjadi magnet bagi para penyuka sejarah. Juga para pegiat budaya Cina.

Lasem tak ayal kian hari menjadi derah tujuan wisata. Namanya lekat dengan embel-embel destinasi sejarah. Pariwisata Lasem berkembang seiring dengan meningkatnya hobi masyarakat Indonesia untuk berwisata. Dari sini pula dikenal sesuatu karya seni khas, batik Lasem yang telah dikenal seantero Nusantara.

Menjangkau Lasem dari Jakarta tidaklah sulit. Bahkan, jikapun memiliki bujet terbatas, Anda masih bisa nekat menyambangi kota itu dengan cara murah dan nyaman. Langkah pertama dari Jakarta ialah memilih transportasi kereta api menuju Semarang, ibu kota Jawa Tengah.

Ada kereta api ekonomi-AC KA Tawang Jaya yang berangkat dari Jakarta pukul 23.00 dari Stasiun Pasar Senen dan tiba di Stasiun Poncol Semarang pukul 06.30. Atau bisa memakai kereta Tawang Jaya Premium dengan jadwal keberangkatan pagi. Namun waktu tiba di Semarang pukul 13.35. Bila memilih kereta ini, Anda akan tiba di Lasem sore menuju malam.

Di Semarang, setelah tiba di stasiun, wisatawan harus menuju Terminal bus Turboyo di pinggiran kota Semarang arah Demak. Biaya bus patas menuju Lasem ialah Rp 45 ribu. Ada juga pilihan bus ekonomi dengan tarif Rp 25 ribu. Namun, karena akan menempuh perjalanan lebih-kurang 3 jam, sebaiknya memilih patas AC agar nyaman.

Bisa pula menggunakan angkutan udara. Dari Bandara Soekarno Hatta atau Halim Perdanakusuma menuju bandara Ahmad Yani di Semarang. Dari sana bisa menggunakan mobil sewaan atau seperti di atas, menggunakan bus antarkota dari Turboyo.

Sesampainya di Lasem, wisatawan akan merasakan atmosfer yang lain, yang mungkin belum pernah dirasakan di kota mana pun. Ada begitu banyak peninggalan yang memiliki warna Tionghoa di kota ini. Mulai dari arsitektur bangunannya, dari rumah tinggal hingga ke masjid. Dan tentu saja batik Lasem-nya yang khas.

Dahulu pada era 1950-an, batik masih begitu berjaya di kota itu. Kota Lasem begitu ramai pendatang saban hari. Orang dari mana pun, seperti Surabaya, Semarang, Kudus, Solo, berkunjung khusus untuk belanja batik.

Namun para pengusaha batik ini kemudian harus gigit jari pada era Orde Baru. Usaha batik meredup. Bahkan motif batik pun yang boleh diproduksi dibatasi. Pola khas Lasem yang memiliki corak pecinan seperti barong, naga, tulisan Mandarin dan sejenisnya tak boleh diproduksi. Ini tentu berkaitan dengan kondisi sosial politik saat itu. Ada sensitifitas jika berkaitan dengan Tionghoa atau Cina pasca tumbangnya rezim Orde Lama.

Padahal, menurut Opa Gandor, warga Lasem yang dituakan di kawasan pecinan kota ini, keturunan Cina di Lasem adalah warga asli Nusantara. Peradaban Cina masuk Lasem sudah ratusan tahun dideteksi keberadaannya. Keturunannya pun sudah sampai garis kedelapan atau sembilan saat ini sejak Cina masuk ke Lasem sekitar tahun 1300-an. Diperkirakan ada sekitar 7.000-an orang Cina masuk Lasem waktu itu dan semuanya pria yang lalu menikah dengan perempuan setempat.

Saat ini praktis industri batik di Lasem umumnya adalah produksi rumahan. Ada beberapa yang merupakan peninggalan pengusaha lama yang tersisa. Misalnya, Batik Pusaka Beruang milik pengusaha bernama Santoso Hartono atau biasa dipanggil pak San. Menurut Opa Gandor, pak San adalah satu dari segelintir pebisnis batik yang bertahan di Lasem.

Lalu apa istimewanya batik Lasem dibandingkan dengan motif batik lain di tanah air. Sebab kita tahu, batik merupakan kain tradisional khas Nusantara yang memiliki beragam jenis dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, bahkan sudah diakui dunia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non-bendawi oleh UNESCO.

Tradisi membatik di sejumlah kota di Jawa,] sampai sekarang masih dilestarikan dengan baik. Sebutlah Solo, Yogyakarta, Pekalongan, kemudian ada Cirebon, bahkan Madura. Dari banyaknya jenis batik dari berbagai daerah di Indonesia itu membuat setiap perajin batik di tiap daerah memiliki motif yang unik dan berbeda-beda.

Dan batik Lasem memiliki keunikan tersendiri. Dari sejarahnya di atas, lahir batik dengan motif yang merupakan perpaduan antara dua budaya, yakni Jawa dan Tionghoa. Dari paduan antar dua budaya tersebut terciptalah batik Lasem.

Menurut sejarah, munculnya batik Lasem terkait erat dengan kisah Laksamana Cheng Ho, panglima perang dari Tiongkok yang mendarat di tanah Jawa. Lasem adalah tempat mendarat pertama kali pasukan Cheng Ho dalam ekspedisinya ke selatan pada sekitar tahun 1403-1433. Kota ini juga diperkirakan sebagai daerah yang pertama kali kedatangan masyarakat Tionghoa di Jawa.

Dalam Babad Lasem yang ditulis ulang oleh Raden Panji Kamzah pada 1858, diceritakan bahwa Bi Nang Un selaku anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Tiongkok bersama istrinya bernama Na Li Ni memutuskan tinggal di Bonang, Jawa Tengah. Dari babad tersebut diyakini kalau Na Li Ni adalah orang pertama yang membuat batik lasem bermotif burung hong, seruni, liong, mata uang, dan banji dengan warna merah ciri khas masyarakat Tionghoa.

Seiring dengan berkembangnya zaman, batik Lasem yang berciri khas warna mencolok, seperti merah, hijau botol, dan biru tua ini mulai mempunyai berbagai motif. Corak yang ada pada batik lasem dominan dengan motif hewan yang dipadukan dengan motif tumbuh-tumbuhan khas Jawa.

Secara umum, batik Lasem memiliki dua motif utama, yakni motif Tionghoa dengan gambar burung hong, naga, ayam hutan, dan sebagainya, sedangkan motif non-Tionghoa bergambar sekar jagad, kendoro kendiri, kricak, grinsing, dan lainnya. Motif kricak, atau kricakan, juga diketahui sebagai bentuk “dokumentasi” pembatik Lasem atas kerja rodi membangun jalan raya pos di masa Gubernur Jendral Daendels.

Tertarik main ke Lasem? Berikut beberapa nama perajin dan sentra batik di kota pecinan ini.

Batik Pusaka Beruang

Berlokasi di Jalan Eyang Sambu-Jatirogo

 

Batik Bu Kiok

Berlokasi di Karangturi Gang 6

 

Batik Nyah Sutra

Terletak di Karangturi.

 

Batik Maranatha

Berlokasi di Karangturi

 

Kampung Batik Babagan

F. Rosana

Krisna Bali, Dari Kaos ke 10 Toko Oleh-oleh

Krisna Bali pusat oleh-oleh di Pulau Dewata yang tumbuh sebagai spot wisata tersendiri.

Krisna Bali pasti sudah menempel di benak semua wisatawan yang pernah menginjakkan kakinya di pulau Dewata ini. Setidaknya buat mereka yang mengunjungi Bali 15 tahun terakhir. Jika liburan identik dengan oleh-oleh, maka liburan ke Bali berarti Krisna.

Krisna Bali

Toko Krisna Bali saat ini memang pusat oleh-oleh terbesar di Bali. Di sini pengunjung bisa menemukan berbagai macam produk, mulai dari makanan, kerajinan tangan, hingga aneka produk spa yang biasa dijadikan buah tangan oleh para pelancong.

Krisna Bali identik dengan aneka oleh-oleh Bali yang khas.
Toko Krisna Bali di Jalan Nusa Kambangan, Denpasar. Foto: Dok. Krisna Bali

Krisna Bali merupakan toko yang menawarkan berbagai produk ciri khas Bali yang menarik berupa beranekaragam bentuk design kaos kartun tentang Bali yang diproduksi sendiri, unik, lucu dan menarik yang tidak ada di toko atau tempat lain. Jika menarik sejarah perjalanan toko ini, produk kaos unik ini memang cikal bakal  berdirinya “imperium” gerai oleh-oleh di Bali ini.

Pembangunan Krisna Bali berawal dari pemikiran Gusti Ngurah Anom, yang saat itu merupakan pemilik Cok Konfeksi. Ngurah Anom, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Anom atau sekarang lebih sering disebut sebagai Ajik (bapak) Krisna, ketika setiap hari menggeluti usaha konveksinya, melihat celah pangsa pasar yang lebih besar. Bisnis oleh-oleh.

Melihat kondisi bisnis Ajik Krisna saat ini yang seperti berada di menara emas, orang mungkin tak tahu bahwa ia meraihnya dari anak tangga paling bawah. Dari usianya yang masih muda. Sang pemilik jaringan Krisna Bali ini hanyalah lulusan SMP.

Ajik Krisna ini terlahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara yang hidup dalam keluarga yang kurang mampu. Ayahnya merupakan seorang petani, sementara ibunya berjualan kue di pasar. Untuk membantu perekonomian keluarga, Ajik Krisna ketika itu harus membantu pekerjaan kedua orangtuanya. Bahkan di usianya yang masih kecil ia sudah bekerja sebagai buruh angkat kayu di tempat usaha kakeknya. 

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada awal 1992 Ajik Krisna memberanikan diri membuka toko baju kaos dengan nama Cok Konfeksi di Jalan Nusa Indah, Denpasar. Ia adalah contoh kegigihan. Cok Konfeksi tak memerlukan waktu lama untuk diperhitungkan sebagai salah satu usaha yang tumbuh membesar besar di Bali.

Setelah sukses dengan usahanya tersebut, Ajik Krisna kembali memikirkan peluang bisnis yang berpotensi laris manis. Idenya kemudian ia wujudkan dalam bentuk bisnis sentral oleh-oleh Bali bernama Krisna Oleh-Oleh Khas Bali yang pertama berdiri pada 16 Mei 2007. Bisnis ini merupakan anak usaha di bawah manajemen Cok Konfeksi. Inilah Krisna Bali pertama yang berlokasi di Jalan Nusa Indah Nomor 79 Denpasar, Bali.

Krisna Bali dimulai dari konveksi kaos lalu tumbuh menjadi bisnis oleh-oleh yang menggurita.
Suasana interior Krisna Bali di Jalan Tuban, Denpasar. Foto: Dok. Krisna Bali

Mulanya, Ajik Krisna hanya menjual kaos sebagai cenderamata. Ia melibatkan para desainer terkemuka untuk menciptakan desain karikatur pada kaosnya. Selanjutnya, ia terus mengembangkan produknya mengikuti permintaan pasar.

Dalam waktu singkat, Krisna Oleh-Oleh Khas Bali menjadi sangat populer dan gerainya telah dibuka di beberapa tempat lain. Hingga kini, sentral oleh–oleh khas Bali gagasan Ajik Krisna telah menjadi pusat oleh-oleh terbesar di Pulau Dewata.

Ia berdiri, berkembang dan menjadi raksasa bisnis oleh-oleh sampai saat ini. Sukses sebagai pusat oleh-oleh nomor 1 di Bali. Bagi para pelancong yang berkunjung ke Bali pastinya tak pernah melewatkan Toko Krisna Oleh-Oleh. Bukan pantai, bukan juga tempat wisata lain, namun tempat ini tak pernah sepi pengunjung. 

Di Toko Krisna Oleh-oleh atau Krisna Bali ini selain kaos dan konveksi sebagai produk awal mereka, kini juga terdapat cemilan, kerajinan tangan, bed cover, pernak pernik, tas kreasi, perak, lukisan, seni pahat, anyaman dan masih banyak produk-produk hasil karya para pengrajin Bali yang tidak kalah bagusnya.

Toko ini menjadi laris karena selain gerainya fancy, produknya lengkap, harga produk di Krisna Bali juga tidak jauh berbeda dengan di tempat lain, seperti misalnya di Sukawati. Pusat oleh-oleh tradisional lain di Bali. Di Krisna Bali pengunjung yang datang tidak perlu susah-susah menawar, bahannya sedikit lebih bagus dengan pilihan yang lebih banyak.

Krisna Bali tumbuh dari satu gerai menjadi 10 gerai sepanjang hampir 15 tahun ini.
Gerai oleh-oleh di Krisna Bali di Surabaya. Foto: Dok. Krisna Bali

Setelah gerai pertama di Jalan Nusa Indah, Denpasar, saat ini Krisna Bali sudah memiliki Sembilan gerai lainnya. Delapan berada di Bali, sedangkan dua sisanya ada di Surabaya dan Jakarta. Ragam oleh-oleh yang dijual pun semakin beragam.

Sejumlah tempat oleh-oleh tiga-empat tahun terakhir bermunculan di Bali, namun yang menjadi ikon pusat oleh-oleh masih tetap Krisna.

Sudah pernah mampir ke Krisna Bali? Kalau belum, agendakan untuk mampir jika liburan ke Bali lagi.

agendaIndonesia

*****

Keroncong Tugu Warisan Portugis Sejak Abad 16

Keroncong Tugu Warisan Portugis

Keroncong Tugu warisan Portugis sejak abad 16 hingga kini masih terus bergema di kawasan Jakarta Utara. Tak banyak lagi yang memainkannya, memang, tapi Keroncong Tugu seolah menjadi prasasti keberadaan bangsa Eropa pertama yang menancapkan kakinya di Nusantara itu di negeri ini.

Keroncong Tugu Warisan Portugis

Kangen musik keroncong? Cobalah sesekali mampir ke markas Keroncong Tugu di Koja, Jakarta Utara. Di sini sesekali kelompok musik yang terdiri dari delapan orang kadang manggung di gazebo yang disulap menjadi panggung musik. Delapan pemusik berpakaian koko, bertopi baret, dan berkalung syal ala Portugis berjajar di gazebo.

Adalah Guido Quiko yang kini sering tampil sebagai frontman. Ia sejatinya pemain gitar kelompok ini, namun sesekali ia ikut melantunkan lagu.

Dengan jumlah penonton yang tak terlalu banyak, Keroncong Tugu terus bersemangat memainkan nomor-nomor lama yang masih memanjakan telinga penggemar mereka. Seperti malam itu. Setelah menyapa pendek penonton, Guido lantas saling memberi isyarat ke pemusik lainnya. Layaknya sebuah kode, tujuh musikus di belakangnya langsung siap dengan alat masing-masing.

Guido lebih dulu membunyikan sepotong melodi. Terdengar alunan gitar yang harmonis. Entakan rebana lantas spontan menyambutnya. Begitu pula dengan contrabass, violoncello, macina, frunga, dan biola. Masing-masing membentuk melodi yang padu. Lagu Oud Batavia berdengung merdu.

Suara Guido masuk, melantunkan lirik dengan bahasa yang cukup asing: campuran antara Portugis Kreol, Belanda, dan Melayu. Dalam beberapa bagian, terucap satu-dua kata berdialek Betawi yang humoris. Pemusik lain juga menyelingi dengan celotehan yang memantik gelak tawa. Hasilnya, ketukan 4/4 dengan chord yang diulang-ulang tak membikin penonton bosan.

Meresapi lagu membawa ingatan ke zaman 1950-an. Di masa itu, Portugis melakukan pelayaran pertamanya ke Malaka, di bawah “asuhan” Alfonso de Albuquerque. Dalam bayangan, budak-budak kapal berpesta hampir tiap waktu. Mereka asyik bergoyang tarian Moresca. Ditambah dengan iringan rentak musik serupa.

Alunan crong-crong dari macina dan frunga makin lirih. Tempo rebana melambat. Suara Guido tak terdengar. Dentuman contrabass dan instrumen violoncello melambat. Hanya bunyi bow menggesek senar biola masih santer. Violinis separuh baya, yang mengambil posisi di samping Guido, menutup lagu dengan gangsar.

Tuntas menamatkan Oud Batavia, Gatu Matu giliran menjadi lagu pelipur. Kali ini Guido mengajak rekan penyanyinya, Nining Yatman, tampil di panggung. Perempuan dengan cengkok yang kental itu sudah lama bergabung dengan orkes Keroncong Tugu. Memakai setelan kebaya Betawi, Nining menampilkan figur sebagai “keturunan gang kelinci” sesungguhnya. Rautnya riang, gerakannya lincah. Kala berdendang, ia melafalkan lagu dengan laur, meski lirik harus diujarkan penuh lantaran bahasanya gado-gado. Penonton ikut bergoyang, terbius tarian Nining.

Lagu yang didendangkan Nining, yang bercerita tentang kucing hutan tapi dikisahkan dalam bahasa Portugis Kreol, itu makin mempertegas karakter permainan kelompok Guido dan kawan-kawan. Selain kostumnya yang menyerupai pengembara suku Moor—bertopi baret—dari irama, syair, dan gaya memainkan alat musik, nyata betul bahwa seni yang dibawakan merupakan hasil akulturasi budaya. “Kami memang keturunan Portugis yang ‘tertinggal’ di Batavia,” tutur Guido tersenyum.

Guido merupakan generasi keempat keluarga Quicko. Kemunculan musik keroncong tak lepas dari sejarah kedatangan moyang Guido ke Batavia—kini jadi Jakarta. Mulanya, ketika Belanda datang ke Malaka pada 1641, orang-orang Portugis, yang sebelumnya berkuasa, “dibuang”. Sekitar 23 dari 800 keluarga yang didepak Belanda disingkirkan ke kawasan hutan belukar di tenggara Batavia, yang kini menjadi Kampung Tugu. Di sana, mereka terasing dari keramaian. Sebagai hiburan, 23 keluarga itu menciptakan alat musik dari kayu waru dan pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Bentuknya menyerupai gitar. Namun senarnya hanya lima. Mereka menyebutnya jitara. Kala dibunyikan, suaranya nyaring. Crong-crong. Karena itu, mereka menamai keroncong untuk perpaduan musik jitara dan bunyi-bunyian lain.

Lantas, berkembanglah jitara dengan ukuran yang lebih kecil. Namanya macina dan frunga. Macina memiliki empat senar, sedangkan frunga tiga senar. Keduanya memiliki ukuran yang berbeda, dengan suara yang berlainan pula. Setelan chor­d-nya pun tak sama. “Frunga memiliki setelan internasional. Kalau macina naik empat nada,” tutur Guido.

Macina dan frunga dibentuk dari kayu kembang kenanga agar kuat dan suaranya nyaring. Senarnya terbuat dari kulit kayu waru yang dikeringkan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, lantaran keterbatasan bahan baku dan alasan keefektifan, peranti tersebut dapat digantikan dengan senar pancing. Suaranya sama: memantulkan karakter yang tegas. Bahkan, di panggung terbuka, seperti malam itu, tanpa pengeras suara pun, irama garukan senar macina dan frunga terdengar paling nyaring.

Jitara kini tak dibuat lagi karena ukurannya terlalu besar. Guido pun memboyong gitar, bukan jitara, saat tampil. “Karena jitara besar, kayunya pun otomatis harus yang ukurannya besar. Selain terhambat pembuatan, pohon bisa habis ditebang untuk membikin jitara,” ujarnya. Yang dipertahankan dari tradisi moyangnya adalah frunga dan macina. Kedua alat musik itulah kini yang menjadi nyawa Keroncong Tugu.

Komponen lain yang dihadirkan untuk menyelaraskan musik adalah rebana, biola, violoncello, contrabass, dan gitar. “Rebana muncul untuk menguatkan kesan Betawi. Hanya kami (Keroncong Tugu) yang memakainya,” ucapnya. Rebana bertindak sebagai perkusi, sedangkan yang lain membentuk melodi.

Nyanyian-nyanyian berikutnya berkumandang. Larut kian membakar panggung. Selendang Mayang, Gang Kelinci, Cafrinho, dan Moressco berturut-turut menghibur. Jiwa-jiwa militan mengawinkan nada demi nada. Sekali garuk senar, nyawa satu sama lain menyatu. Tak heran kalau Malaysia, Timor Leste, Belanda, dan beberapa kota di Indonesia doyan mengundang kelompok itu manggung.

Mempertahankan Tradisi

Di masa lalu, Keroncong Tugu berhasil membius masyarakat sekitar. Lambat laun, perkampungan keturunan Portugis itu menjadi tenar. Dua-tiga di antaranya lantas “memboyong” keroncong ke luar dan mengembangkan dengan pakem baru.

Setelah kondang, Keroncong Tugu dibuat menjadi kelompok resmi. Pemukanya adalah Joseph Quicko. Ia bergerilya mulai 1925. Sayangnya, perjalanan musik Keroncong Tugu tak terlampau mulus. Saat keadaan politik tak stabil pada 1950-1970-an, kelompok ini dibekukan. Kala Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, baru ia meminta Keroncong Tugu kembali dihidupkan.

Kala itu, kepemimpinan kelompok di tangan Jacobus Quicko, adik Joseph Quicko. Tak lama setelah bendera kelompok yang semula bernama Orkes Pusaka Keroncong Morresco Tugu Ano 1971 itu berkibar, Jacobus meninggal. Tampuk kepemimpinan diserahkan kepada Samuel Quicko, ayah Guido. Ia didapuk sebagai punggawa hingga 2006. Kini bendera kepemimpinan sudah beralih ke tangan Guido.

Meski sudah melewati fase empat kepemimpinan, formasi Keroncong Tugu tetap dipertahankan. Pakem, aransemen, dan gayanya tak membelot. “Sebab, kami mempertahankan tradisi,” ucap Guido.

F. Rosana/A. Prastyo

Alat-alat Musik

Biola atau fiddle dimainkan dengan cara digesek. Tugasnya, membangun melodi. Memiliki empat senar, di antaranya bernada G, D, A, dan E.

Violoncello atau disingkat cello masih satu keluarga dengan biola. Cara membunyikannya dengan digesek. Bisa pula dipetik. Tugasnya sebagai fondasi dalam suara orkestra.

Contrabass sering juga disebut doublebass karena suara yang dihasilkan lebih rendah dua oktaf dibandingkan dengan violoncello. Ukuran alat musiknya juga lebih besar. Bahkan paling besar di antara semuanya.

Gitar menjadi pembentuk melodi. Alat musik yang digunakan dalam keroncong ini fungsinya menggantikan jitera.

Macina adalah gitar kecil bersenar empat. Suaranya nyaring dan membentuk anomatope: crong-crong. Inilah yang disebut nyawanya keroncong.

Frunga lebih kecil daripada macina. Senarnya tiga, dengan setelan yang berbeda dengan macina. Frunga dibuat lebih kecil agar pukulan iramanya berbeda dan sebuah instrumen menjadi kaya nada.

Rebana menjadi alat musik khas dalam kelompok Keroncong Tugu. Tugasnya menjadi perkusi dan memperkuat tempo. Fungsinya mirip dengan gendang, hanya suaranya berlainan.

Lapis Bogor Sangkuriang, Lembut Mulai 2011

Lapis Bogor Sangkuriang menjadi ikon oleh-oleh dari Bogor.

Lapis Bogor Sangkuriang membawa keunikan tersendiri dalam khasanah kue lapis di Indonesia. Kalau biasanya lapis dibuat menggunakan bahan tepung terigu, lapis yang satu ini dibuat dari tepung talas yang membuat tekstur, rasa serta aromanya berbeda dari lapis kebanyakan.

Lapis Bogor Sangkuriang

Mungkin itulah alasan mengapa lapis talas yang kini akrab disebut lapis Bogor itu menjadi salah satu oleh-oleh populer dari kota hujan tersebut. Ia menjadi alternatif yang menarik bagi para wisatawan, disamping buah tangan lainnya seperti roti unyil, asinan dan sebagainya.

Talas sendiri memang cukup identik dengan kota Bogor. Tumbuhan berjenis umbi-umbian tersebut merupakan salah satu hasil bumi yang lazim ditemukan di sini, dan kerap digunakan sebagai bahan dalam membuat beragam jenis makanan.

Salah satu contoh makanan olahan talas yang umum ditemukan adalah talas kukus, yang juga cukup populer di Bogor sebagai cemilan hangat di kala hujan. Talas juga sering dijumpai di beberapa jenis masakan sayur-sayuran seperti sayur asem, sayur lodeh, dan sayur lompong.

Lapis Bogor Sangkuriang melengkapi khasanah pariwisata Bogor, seperti Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor
Kijang di pekarangan Istana Bogor. Foto: unsplash

Seiring berjalan waktu, orang-orang kemudian mulai bereksperimen dan membuat beragam jenis olahan kuliner dari talas yang baru. Muncullah penganan-penganan seperti puding talas, talas goreng tepung, es krim talas, dan lain lainnya.

Tak terkecuali Lapis Bogor Sangkuriang, yang dipelopori oleh pasangan suami istri Anggara Kasih Nugroho Jati dan Rizka Wahyu Romadhona. Kebetulan, mereka sudah pernah memiliki pengalaman usaha di bidang kuliner, kendati beberapa kali gagal.

Bahkan, mereka pernah sekedar berjualan bakso gerobak dengan modal seadanya, kendati terhitung relatif sukses. Namun, mimpi mereka berdua sebagai warga Bogor asli adalah memiliki bisnis penganan oleh-oleh yang bisa menjadi ikon di kota sendiri.

Saat memulai usaha lapis talas ini pun, konon modal yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 500 ribu. Dengan mengandalkan proses produksi rumahan, mereka pun mulai bereksperimen hingga menemukan resep lapis talas tersebut.

Pada 2011, mereka pun memberanikan diri membuka toko pertama lapis Bogor Sangkuriang di kawasan jalan Soleh Iskandar. Setelah awalnya memproduksi dari rumah, proses produksi produk-produk kue lapis mereka lantas dipusatkan di toko tersebut.

Toko itu semakin menarik perhatian khalayak luas, dan pembeli pun terus ramai berdatangan. Hanya sekitar satu tahun berselang, mereka mampu mendirikan dua toko cabang di kawasan jalan Padjajaran dan di area wisata Puncak, untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

Dengan permintaan konsumen yang semakin besar, pusat produksi lapis Bogor Sangkuriang sempat berpindah beberapa kali ke lokasi yang lebih besar. Awalnya pada 2013 pusat produksi dipindah ke area Tanah Baru, sebelum pada 2017 ditempatkan di Kawasan Industri Sentul.

Lapis Bogor IG
Aneka pilihan produk Lapis Bogor. Foto: IG Lapis Bogor

Dengan kapasitas mega produksi dan sekurangnya sekitar 14 cabang toko, ditambah beberapa toko mitra, lapis Sangkuriang telah menjelma menjadi salah satu penganan oleh-oleh Bogor terpopuler. Pelanggannya berkisar dari kalangan pelancong hingga warga lokal.

Tak hanya itu, kini lewat payung usaha PT Agrinesia Raya, mereka mampu melebarkan usaha mereka ke kota lain dengan produk-produk tersendiri yang khas. Seperti contohnya Bakpia Kukus Tugu Jogja, yang turut meraih sukses sebagai buah tangan ikonik di kota pelajar tersebut.

Kesuksesan tersebut berasal dari keunikan produk mereka yang tak dimiliki produk lain. Seperti halnya lapis Bogor Sangkuriang yang dibuat dengan tepung talas, sehingga memiliki ciri seperti warna ungu yang mencolok, tekstur yang lembut di mulut serta aroma harum yang begitu khas.

Biasanya pada varian original, lapis talas ini ditambahkan dengan topping parutan keju. Pada perkembangannya, muncul pula beragam jenis varian lainnya, seperti cocopandan, custard susu, chocolate vanilla keju, chocolate vanilla oreo, blackforest, kopi susu dan durian keju.

Tak hanya ragam varian rasa, produk juga tersedia dalam dua jenis ukuran, yakni ukuran mini 250 gram dan ukuran reguler 500 gram. Lapis berukuran mini dibandrol Rp 19 ribu, sementara lapis ukuran reguler harganya Rp 37 ribu.

Seakan tiada henti berinovasi, kini muncul pula produk-produk baru hasil pengembangan dari lapis talas tersebut. Misalnya pada 2019 silam, ketika mereka merilis lapis bunder alias lapis talas berwujud serupa donat, dengan ukuran yang lebih kecil dan praktis.

Lapis bunder tersedia dalam pilihan rasa coklat, keju dan coklat blueberry, dengan harga Rp 25 ribu. Lain daripada itu, baru-baru ini diluncurkan pula produk cupcake talas rasa keju dan coklat, yang dihargai Rp 20 ribu.

Toko Lapis Bogor Sangkuriang Darmaga IG
Gerai Lapis Bogor Sangkuriang di kawasan Dramaga, Bogor. Foto: IG Lapis Bogor

Selain inovasi produk-produk baru tersebut, tentunya mereka juga terus berupaya mempertahankan reputasi yang telah tersohor dan pelanggan yang kian hari terus bertambah. Seperti misalnya standar bahan baku yang senantiasa dipertahankan demi kualitas rasa.

Upaya lainnya adalah tidak digunakannya bahan pengawet, agar rasa setiap produknya konsisten. Lapis Bogor Sangkuriang sendiri lazimnya mampu bertahan awet sekitar empat hari, atau tujuh hari bila diletakkan di dalam kulkas.

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah biasanya tiap toko mendapatkan hasil produksi terbaru pada jam 07.00, 15.00 dan 19.00. Sehingga disarankan untuk datang pada jam-jam tersebut, karena kerap kali stok cepat habis akibat tingginya permintaan.

Disarankan pula untuk mampir membeli pada hari biasa. Lantaran saat akhir pekan atau hari libur, tak jarang toko-toko sudah diserbu pengunjung sejak dibuka jam 06.00 hingga tutup jam 22.00. Bahkan banyak yang rela menunggu di antara antrean yang mengular.

Lapis Bogor Sangkuriang

Jl. Soleh Iskandar no. 18C, Bogor

Jl. Padjajaran no. 20i, Bogor

Jl. Raya Dramaga no. 21, Bogor

Jl. Cahaya Raya Blok L, Kawasan Industri Sentul

Instagram: @lapisbogor

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Pie Susu Bali, Legit Dalam 7 Sentimeter

Pie susu Bali oleh-oleh yang cocok untuk kapan saja.

Pie susu Bali pernah menjadi salah satu pilihan mudah untuk membawa buah tangan saat liburan ke Bali. “Pernah mudah”, sebab kudapan ini cukup banyak diperoleh di kota-kota besar di Indonesia. Orang terpaksa berpikir membawa oleh-oleh apa lagi dari Bali. Tentu membawa pie susu juga boleh.

Pie Susu Bali

Pie Susu Bali seakan memang identik sebagai cemilan khas Pulau Dewata. Jajanan ini memiliki citarasa manis dan gurih khas susu dengan pinggiran kue yang renyah.

Sejatinya pie susu Bali bukanlah kuliner asli Indonesia. Kudapan ini adalah salah satu kuliner peranakan  dari negara lain. Pie susu Bali adalah kue peranakan yang melebur dengan budaya Indonesia. Menurut kisahnya, pie susu Bali merupakan perpaduan antara pie susu Hong Kong dan pie Portugis.

Pie susu termasuk ke dalam jenis pastry yang sangat populer di Portugal. Di negara asalnya, pie dicetak bundar dengan diameter 4-5 centimeter, lalu diisi dengan egg custard yang terdiri dari campuran susu,telur, dan juga gula. 

Pie susu Bali dapat diperoleh di banyak toko-toko oleh-olh seperti Krisna Bali.
Toko oleh-oleh Krisna Bali.

Dari sejumlah sumber informasi, awalnya pie susu diperkenalkan oleh Tengs Cha Chaan pada tahun 1940-an di Hong Kong. Pertama kalinya, pie susu dibuat untuk menyaingi restoran dim sum yang sangat terkenal. Tak lama kemudian, pie susu dijual di kafe dan toko-toko roti Barat dan Eropa.

Begitupun, pie susu Hong Kong ternyata juga bukanlah kuli Fner khas negara pulau milik RRC itu. Kudapan ini hasil adaptasi makanan tart custard dari negara penjajah mereka, yakni Inggris.

Sebuah teori menyatakan bahwa kue pie susu Hong Kong sebenarnya mengadaptasi tart custard yang berasal dari Inggris. Canton yang memiliki kontak dengan Inggris disebut-sebut sebagai awal mula proses adaptasi ini.

Apalagi sebagai bekas koloni Inggris, Hong Kong juga mengadopsi beberapa makanan Inggris, sehingga makin memperkuat teori pie susu yang berasal dari Inggris.

Sementara itu teori lain menyatakan bahwa pie susu sangat mirip dengan salah penganan yang berasal dari Portugis. Makanan itu namanya past de nata. Kue ini dianggap dibawa oleh koloni Portugis saat berada di Macau.

Jadi jika pun ada hubungannya dengan pie Portugis, kemungkinan ada kaitannya dengan posisi geografis Hong Kong yang berhadapan langsung dengan Macau, 45 menit menyeberang lewat selat yang menghubungkan ke duanya.

Begitupun, ada perbedaan yang mendasar antara pie susu Hongkong dan pie susu Portugis. Perbedaannya terletak pada pinggiran pie susunya. Hong Kong lebih memilih menggunakan pinggiran puff pastry, sedangkan Portugis berupa shortcrus pastry.

Dalam masakan Hong Kong modern, pie susu hadir dalam berbagai varian seperti pie madu telur, pie putih telur, pie coklat, pie green tea, dan juga pie jahe. Semua jenis pie ini merupakan variasi dari pie susu tradisional yang telah disajikan Tengs cha Chaan.

Pinggiran dari pie susu Hongkong ini secara keseluruhan ada dua jenis, yakni shortcrust pastry atau puff pastry. Kebanyakan pembuatan pie susu Hongkong menggunakan lemak babi daripada shortening atau mentega. Jadi mungkin lebih hati-hati jika mengkonsumsi ini di Hong Kong.

Pie Susu Bali shutterstock
Pie susu Bali cocok sebagai kudpan teman minum kopi. Foto: shutterstock

Lalu bagaimana dengan pie susu Bali? Bila diamati terksturnya, bentuk pie susu Bali lebih mirip dengan shortcrust pastry Portugis. Namun, isiannya yang berupa eggs custard lebih condong menyerupai pie susu dari Hong Kong.

Perbedaan lain pie susu  Bali dan pie susu dari negara barat terletak pada kulit pie yang dicetak bundar dengan diameter tujuh centimeter. Kulit pie khas Bali dicetak sangat tipis dan renyah, selain itu egg custard-nya tak terlalu tebal sehingga tak membuat mual saat dimakan.

Satu lagi yang kadang rancu bagi wisatawan dari luar Bali ketika hendak membeli pie susu. Ada saja wisatawan yang menganggap pie susu sama dengan pia. Terutama ketika hendak mencari “pie susu merek Legong”. Padahal yang ini adalah jenis pia.

Banyak yang beranggapan bahwa pie susu dengan pia adalah satu makanan yang sama. Ke dua kue ini memiliki cita rasa serta bentuk yang berbeda.

Pia berbentuk bulat dengan dibalut empat hingga lima lapis kulit yang renyah. Ini lebih mirip bakpia di Yogya. Sedangkan pie hanya memiliki satu lapis kulit renyah yang hanya ada di pinggiran kue.

Begitupun ke dua camilan itu sangat cocok untuk memanjakan lidah ataupun untuk oleh-oleh khas dari Pulau Bali. Perpaduan rasa manis dan gurih dari pie susu bisa dengan cepat memulihkan mood untuk tetap produktif setiap harinya.

Pie Susu Bali Dhian Dok. Pie Dhian
Pie susu merek Dhian. Foto: dok. Pie susu Dhian

Pie susu Bali selalu membuat penggemarnya tak bisa berhenti makan, karena pie ini selalu berhasil membuat ketagihan. Jajanan Pie Susu khas Bali memiliki rasa yang enak sehingga tak perlu khawatir merasa eneg jika mengkonsumsi makanan ini dalam jumlah yang banyak.

Pie susu Bali mudah ditemukan di toko-toko oleh-oleh di banyak tempat di Bali. Mereknya pun bermacam-macam. Semuanya enak.

agendaIndonesia

*****

Bandung Utara Dalam 2 Hari

Lembang Bandung.niko budi mulyono unsplash

Bandung Utara dalam 2 hari, apa saja yang bisa dinikmati? Bagi masyarakat Jakarta, ibukota Jawa Barat itu masih menjadi salah satu andalan melepas penat di akhir pekan. Tapi jika bosan dengan atraksi di dalam kota, terlebih jika akhir pekan, lalu lintas ibukota Parahyangan ini seperti Jakarta hari-hari biasa. Bahkan sejak mau keluar tol di Terusan Pasteur.

Bandung Utara Dalam 2 Hari

Daripada berkutat dengan kendaraan-kendaraan yang mengular panjang dan kemacetan yang tak ada habisnya di jantung kota Bandung saat akhir pekan, cobalah sesekali memilih bertandang wisata Lembang dan Dago Pakar yang posisinya di utara kota tersebut.

Mengunjungi dataran tinggi dengan hawa dingin yang memeluk sepanjang hari bisa membikin pikiran kembali segar dan kepenatan hilang seketika. Paling tidak, dua hari di puncak lumayan bisa mengembalikan atmosfer positif yang berantakan lantaran hiruk-pikuk yang kudu dijumpai tiap hari di kota.

Strategi awal: pilihkah hotel yang lokasinya di kawasan utara Bandung. Misalnya di Lembang, atau di kawasan Setiabudi, Bandung. Lalu dari Jakarta berangkatlah pagi-pagi dan langsung menuju spot pertama. Berikut jadwal yang mungkin bisa jadi inspirasi.

HARI PERTAMA

Farm House Lembang
Wisata Lembang ke Farm House. Dok TL. A. Prasetyo

Farm House Susu Lembang

Belakangan, tempat wisata ini jadi tujuan utama para pelancong tatkala bertandang ke Bandung bagian utara. Ada sebuah ikon yang diburu di sana, yakni rumah hobbit. Rumah mungil yang dibikin mirip dengan tempat tinggal kurcaci dalam film Snow White itu menampung sejumlah hewan bertubuh kecil, seperti tupai dan marmut. Ada pula sebuah bangunan berbentuk botol susu yang mencerminkan ciri khas tempat perah.

Secara langsung, pengunjung juga dapat menemukan peternakan sapi mini, sekaligus dapat merasakan sensasi memberinya makan dan minum. Tidak hanya ada sapi, di dalam terdapat domba-domba yang menggemaskan. Untuk masuk ke tempat ini, pelancong perlu membayar tiket Rp 25 ribu, sudah termasuk mendapatkan segelas susu sapi segar dengan tiga varian rasa: cokelat, stroberi, dam vanila.

Farm House Susu Lembang bisa pula ditempuh dari Stasiun Kereta Api Bandung dengan waktu 48 menit.

Floating Market Lembang

Floating Market Lembang
Wisata Lembang ke Floating Market. Dok. JL-A. Prasetyo

Seusai menikmati sensasi beternak sapi, minum susu murni, dan berfoto diri di depan rumah hobbit di Farm House Susu Lembang, mengunjungi floating market adalah pilihan menarik. Lokasinya tak jauh dari peternakan mini itu, yakni di Jalan Grand Hotel, Lembang. Kalau naik kendaraan, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 12 menit.

Tempat ini dulunya merupakan sebuah situ bernama Situ Umar. Lataran memiliki potensi visual yang tak main-main lantaran dilingkupi kawasan perdesaan dan pegunungan yang asri, tempat tersebut lantas disulap menjadi sebuah lokasi wisata dengan konsep warung apung. Sejumlah saung khas Sunda berjajar mengelilingi danau, menjajakan beragam penganan dan suvenir. Ada pula restoran dengan nuansa Jepang kental yang terletak di dekat gerbang masuk.

Menariknya, saat mendekatkan diri di danau, ratusan ikan koi akan menghampiri. Tentu menyenangkan buat anak-anak. Apalagi, terdapat berbagai wahana bermain yang seru di bagian belakang kawasan wisata. Tiket masuk per-orang dibanderol Rp 20 ribu.

Warung Hejo

Siang hampir sore, mengisi perut dengan makanan khas Sunda sepertinya menjadi ide yang menarik. Salah satu yang paling direkomendasikan adalah nasi timbel. Nasi timbel merupakan nasi pulen yang dibungkus dengan daun pisang. Beras yang digunakan ini umumnya khusus, yakni beras bagolo. Orang Sunda biasa menyandingkan nasi timbel dengan lalapan, sambal cabai hijau, teri, dan ayam atau daging sapi goreng. Tak lupa, sayur asam.

Tak sulit menjumpai penjaja nasi timbel di Lembang. Sebab, di warung-warung pinggir jalan, penjual umumnya menyediakan menu tersebut. Namun yang paling terkenal belakangan adalah Warung Hejo. Warung yang berlokasi di Jalan Kayu Ambon, Nomor 102, Kayu Ambon, Kayuambon, Lembang, ini, selain punya menu utama nasi timbel, juga menyajikan sensasi makan dengan atmosfer lokal yang kuat. Pengunjung bisa memilih makan di saung, di joglo. atau lesehan di balai-balai kayu yang disediakan di warung itu. Harga nasi timbel dibanderol mulai Rp 45 ribu.

Tahu Susu Lembang

Sebelum petang, mencari camilan untuk disantap bersama teh hangat malam nanti tentu menjadi hal yang wajib dilakukan pelancong kalau hendak menghabiskan hari di Lembang. Tahu susu yang kesohor itu menjadi pilihannya. Ada sebuah pabrik tahu susu yang terkenal, tepatnya di Jalan Raya Lembang Nomor 177, Jayagiri, Lembang. Di sana, pengunjung bisa memilih hendak membeli tahu susu yang mentah atau matang. Selain itu, bisa melihat proses produksinya.

Kalau tak ingin repot masuk pabrik, pelancong bisa membeli tahu susu di tempat wisata, seperti Floating Market. Ada beragam penjaja tahu susu yang membuka lapak di sana. Satu kotak berisi sepuluh tahu dihargai mulai Rp 20 ribu.

HARI KE DUA

Kebun Bunga Begonia

Memulai pagi dengan mengunjungi kebun bunga rasanya bisa membuat mood meningkat. Tempat ini bisa ditempuh hanya 13 menit dari Floating Market. Lokasi tepatnya berada di Jalan Maribaya nomor 120A. Dari luar, Begonia tak tampak seperti kebun yang menyimpan seratusan jenis bunga. Sebab, hanya terlihat bangunan kayu yang lebih mirip desain sebuah café. Namun, begitu masuk, pengunjung akan di bawa ke gerbang mungil yang langsung membawa mereka ke kebun dengan panorama bunga yang terhampar luas. Pengunjung langsung seperti berada di kotak miniatur Keukenhof yang berada di Lisse, Belanda. Warna-warni kembang yang tumbuh segar cocok untuk menjadi tempat melepaskan penat, juga berswafoto.

Bunga yang jadi “menu” utama di sini ialah begonia, sama seperti nama tempatnya. Bunga dengan kelopak yang memiliki warna-warna menyala itu umum tumbuh di Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Asia Selatan. Selain begonia, ada puluhan jenis bunga lain, seperti balinea, celosia, cosmos, dianthus, gloxinia, geranium, dan gomphrena. Selain itu, terdapat kebun sayuran di belakang taman bunga. Di sana, pengunjung dapat memberikan makan kelinci. Tiket masuknya tergolong murah lantaran hanya dibanderol Rp 10 ribu. Namun, jika membawa kamera DSLR, dikenai biaya tiket tambahan, yakni Rp 50 ribu.

Wot Batu

Sebuah art space milik seniman kawakan Sunaryo ini terlihat sangat artistik. Dari bibir jalan Bukit Pakar Timur, Ciburial, Cimenyan, tampak bangunan dengan dominasi unsur batu asimetris berdiri. Di dalamnya terdapat koleksi bebatuan yang ditata dan diukir macam-macam, dipajang di sebuah taman berbentuk persegi yang berbatasan langsung dengan view Kota Bandung. Tenang dan rileks adalah dua hal yang didapat ketika masuk ke galeri ini.

Wot Batu memiliki arti jembatan batu. Si empunya galeri menyebut tempat ini merupakan jembatan spiritual manusia. Tampak di bagian tengah taman itu terdapat sebuah gerbang atau pintu yang dibangun dari batu. Bangunan itu memiliki maksud perbatasan antara dunia kelahiran dan kematian. Di atasnya terdapat finger print Sunaryo yang diperbesar.

Wot Batu cocok menjadi tempat untuk menepi, merefleksikan diri, atau mencari ketenangan. Kalau mau berfoto diri juga bisa, tapi tak disarankan membuat kegaduhan dengan kelakar yang berlebihan. Pengunjung juga harus memperhatikan aturan yang berlaku. Di tempat itu, bila tamu ingin menginjak-injak area taman yang ditumbuhi rumput, mereka harus melepas alas kaki. Tiket masuk Wot Batu dibanderol Rp 50 ribu. Khusus mahasiswa atau seniman, hanya perlu membayar Rp 30 ribu.

Ardi/N. Adhi/ A. Pras/Niko Budi M-Unsplash

*****

Motif Tenun Siak, 3 Siku dan 3 Pucuk

Tenun Siak

Motif tenun Siak, 3 siku dan 3 pucuk barangkali sangat sedikit orang di luar wilayah Riau yang mengerti dan memahaminya. Tak hanya itu, bahkan secara wisata, Pekanbaru dan Riau masih sangat sedikit dilirik wisatawan. Baik lokal maupun manca negara. Padahal, di daerah ini dulunya adalah salah satu pusat kebudayaan Melayu.

Motif Tenun Siak

Sejak Indonesia merdeka, mungkin pengetahuan orang mengenai Siak, Pekanbaru atau Provinsi Riau umumnya, erat dengan sawit dan minyak,. Padahal Pekanbaru ternyata punya berlaksa kisah masa lampau yang menarik buat diulik.

Pada masa kolonial Belanda, kota ini pernah menjadi urat nadi perdagangan, khususnya di Sumatera. Lewat sungai Siak yang membelah Kota Pekanbaru, lalu-lintas perdagangan dari luar, seperti Semenanjung Malaya, menuju pedalaman Sumatera, yakni Tapung, Minangkabau, dan Kampar, berlangsung. Kota yang dulunya berjuluk Senapelan ini bahkan pernah menjadi lokasi ditumpuknya berbagai komoditas.

Posisi yang strategis membuat Senapelan berjaya. Orang-orang berbondong datang dari berbagai daerah membawa beragam logistik. Mereka menaiki kapal-kapal tongkang demi barter dan saling-silang kebutuhan pokok.

Makin ke sini, Pekanbaru bukan lagi seperti dulu. Denyut perdagangan lewat Sungai Siak hampir berhenti lantaran jalur darat mulai lancar. Pun dengan sejumlah tradisi Melayu lawasnya. Di antaranya tenun Siak.

Tenun Siak atau sering orang menyebutnya pula sebagai songket Siak tentu saja berasal dari Siak, Provinsi Riau. Kota yang letaknya sekitar 100-an kilometer dari Pekanbaru, ibukota Riau. Tradisi tenun ini dimulai sejak zaman kesultanan Siak Sri Indrapura. Tepatnya saat Tengku Said Ali, yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi bertakhta di Kesultanan Siak. Dari cerita mulut ke mulut, konon tradisi tenun Siak ini mendapat pengaruh dari Kesultanan Trengganu di Malaysia.

Kini praktis tak cukup banyak perajin kain tenun atau songket Siak tradisional. Kalau pun ada, umumnya menggunakan tenun mesin. Di antara yang tak banyak itu, jika Anda tertarik menelusurinya, cobalah datang kawasan Kampung Bandar di sekitar Pelabuhan Bunga Tanjung, pelabuhan rakyat yang menghubungkan Kota Pekanbaru dan Selat Panjang.

Di belakang pelabuhan itu, masih bisa ditemui rumah panggung tradisional khas Siak yang dibangun sejak 1887 yang memproduksi tenun Siak tradisional. Bunyi dari rumah panggung itu seperti beras yang diayak di atas nyiru. Terus kontinyu selama satu hingga dua jam. Paling di antaranya jeda sesekali. Suaranya tenang sekejap, kira-kira 3-5 menit. Setelahnya, bunyi mesin kayu berderu lagi.

Di rumah itulah Wawa Endi, seorang perajin tenun Siak, tinggal dan berproduksi. Di tangannya, alat tenun manual sepanjang kira-kira 160 sentimeter terus-terusan bergemeretak dari pagi sampai sore. Rot penggulung benang dan kain, yang letaknya berseberangan, serta berfungsi merentangkan benang-benang sepanjang dua meter, berputar ganti-gantian.

Wawa adalah satu dari sangat sedikit penenun kain Siak tradisional. Jarinya lihai mengayun lidi pungut untuk membentuk beragam motif bunga cengkeh, sebuah simbol kekayaan masyarakat Melayu. Juga menarikan pola, membentuk berekor-ekor kalong yang berjajar mekanis. Tangan kirinya kadang mengangkat benang yang direntangkan vertikal, sedangkan tangan kanannya menyusupkan lembar-lembar benang emas sesuai pola.

Motif tenun Siak
Motif Tenun Siak. Dok TL-A. Prasetyo

Lembaran emas yang disematkan di kain tenun khas Siak itu diimpor dari Cina. Ada juga yang dari Singapura. Keduanya punya kualitas yang sama dan harganya pun tak jauh beda. Hanya, benang emas dari Singapura membuat kain bertekstur lebih kaku. Biasanya, kain dengan sentuhan benang emas Singapura dipakai untuk sarung, bagi laki-laki, dan selendang bagi perempuan. Sedangkan kain dengan sentuhan benang emas dari Cina acap dijahit menjadi baju.

Nuansa tenunan emas tersebut memperkuat kesan ‘calak’ yang melekat pada selembar kain tenun. Maklum, tenun kebesaran orang-orang Melayu ini memiliki ciri warna-warna cerah dan berani. Dari sejarahnya, benang yang dipakai untuk menghasilkan tenun Siak memiliki warna hijau, kuning, dan merah. Namun dalam perkembangannya, beragam inovasi muncul mendobrak aturan terhadap warna yang dipakai. Warna kain tenun Siak menjadi lebih beragam.

Menyematkan lembar emas di antara 3.486 helai benang tentu tak mudah. Satu lembar kain tenun Siak umumnya selesai dalam waktu 10 hari. Bisa lebih cepat jika si perajin sedang giat bekerja. Atau pesanan yang waktunya mendesak.

Corak atau motif kain tenun Siak Salah satunya kaya akan bunga cengkeh. Bunga cengkeh menyiratkan komoditas utama masyarakat yang tinggal di bumi Melayu. Selain bunga cengkeh, terdapat motif bertabur kalong, yang memiliki filosofi sifat berwibawa dan bertanggung jawab, representasi seorang pemimpin atau raja.

Memang, seturut dengan budayanya, kain tenun Siak merupakan simbol prestisius bagi pemakainya. Kain ini mulanya hanya dipakai di lingkungan kerajaan Siak Sri Indrapura. Yang mengenakan pun orang-orang kalangan bangsawan atau keturunan darah biru. Tak khayal, dari segi motif, tenun Siak mengangkat corak-corak yang mengandung nilai-nilai sakral, loyalitas, dan pengabdian—representasi seorang pemimpin.

Secara umum kain Siak memiliki 3 motif Siku dan 3 motif Pucuk. Masing-masing dengan maknanya. Ada Siku Keluang, Siku Awan, dan Siku Tunggal. Siku Keluang memiliki maknapribadi yang memiliki sifat bertanggung jawab yang menjadi idaman orang Melayu Riau. Siku Awan berartibudi pekerti, sopan santun, dan kelembutan akhlak, menjadi asas tamadun Melayu.

Sedangkan Siku tunggalmencerminkan sikap atau perilaku orang Melayu yang amat mengutamakan “persebatinan iman atau perpaduan umat” baik antara sesama Melayu atau pendatang. Landasan ini yang membuat orang Melayu menerima siapa saja yang datang.

Sementara itu, motif Pucuk juga ada tiga, yakni Pucuk rebung kaluk pakis bertingkat; Pucuk rebung bertabur bunga ceremai, dan Pucuk rebung penuh bertali.

Pucuk rebung kaluk pakis bertingkat berarti Pucuk rebung (kesuburan) mengandung makna kemakmuran hidup lahiriah dan batiniah. Kaluk pakis bertingkat (nilai tahu diri) merupakan sifat yang amat penting, sesuai dengan ungkapan tahu diri dengan perintah, tahu duduk dengan tegaknya, tahu alur dengan patutnya.

Pucuk rebung bertabur bunga ceremai bermakna nilai kasih saying, hormat-menghormati, lemah lembut, dan bersih hati, menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau, banyak dilambangkan dengan hampir semua motif bunga. Serta Pucuk rebung penuh bertali yang berarti nilai budaya Melayu sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam yang memberi tuntunan dan bimbingan agar manusia memiliki akhlak mulia sehingga menjalankan kehidupan yang benar.

Di luar motif Siku dan Pucuk, masih ada motif Daun tunggal mata panah tabir bintang, yakni corak dasar Melayu bersumber dari alam flora (bunga, kuntum, daun, dan buah), mengandung nilai falsafah keluhuran, kehalusan budi, keakraban, dan kedamaian. Dan motif Wajik sempurna yang melambangkan sifat Allah yang pemurah agar mendapatkan kasih dan kemurahan dari Allah, sepatutnya manusia bersyukur atas nikmat serta kurnia yang dilimpahkan.

Sehari-hari, kelompok perajin tenun Siak tradisional ini menggarap pesanan dari berbagai kalangan. Mereka menenun dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore. Penggarapnya berganti-gantian lantaran alat tenun yang tersedia cuma tiga. Sisanya akan menggarap pekerjaan lain, semisal memintal benang, mengemas kain yang sudah selesai ditenun, sampai memasak untuk makan siang.

Waktu berjalan, budaya berganti. Perempuan dari keluarga Siak biasa pun kemudian diajari untuk menyungkit kain warisan kerajaan tersebut. Kemudian, tenun Siak juga tak cuma dipakai kaum bangsawan untuk rangkaian upacara atau seremoni tertentu. Seperti batik, tenun Siak meluas fungsinya menjadi kain yang digunakan untuk beragam acara.

Penduduk biasa pun mulai membuka usaha tenun, di sepanjang Sungai Siak—yang membentang dari Tapoeng, Kampar, dan bermuara di Selat Panjang. Budaya menenun kain merembet sampai Pekanbaru. Bahkan, tenun ini kini lebih populer ditemukan di Pekanbaru daripada di tanah muasalnya.

Beberapa orang mengatakan alasannya karena pasar yang lebih jelas. Selain itu, relevansi historis ternyata turut mempengaruhi. Sejarah Riau mencatat, pada 1762, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memindahkan pusat Kerajaan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan, wilayah Kampung Bandar. Banyak orang asli Siak bermigrasi ke sana. Mereka disebut sebagai orang Pokan, yakni orang yang merantau akibat perdagangan. Mereka lantas membuka usaha tenun.

Meski dihantam inovasi atau bergerak meluas dari tanah asalnya, tak ada yang berubah dari nilai simbol tenun Siak, utamanya perihal motif. Penenun tetap mempertahankan corak demi corak, sesuai bentuk mula tenun tersebut berkembang. Stylisasi flora, fauna, dan alam sekitar, terjaga utuh di lembaran kain berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah itu.

F. Rosana/A. Prasetyo