Dolan Ke Purwokerto, 3 Hari Yang Asyik

Dolan ke Purwokerto bisa menjadi pilihan liburan keluarga.

Dolan ke Purwokerto di Jawa Tengah mungkin belum menjadi alternatif mereka yang mencari liburan keluarga. Padahal kota ini memiliki banyak tempat untuk dikunjungi. Ia memang kalah popular dibandingkan Yogyakarta atau Solo.

Dolan Ke Purwokerto

Ada cukup banyak tempat untuk didatangi dan mendapatkan pengalaman baru saat dolan ke Purwokerto. Mulai dari wisata heritage, alam hingga ke kuliner yang maknyus.

Berikut adalah rencana perjalanan yang bisa menjadi pilihan wisatawan yang ingin menghabiskan tiga harridan dua  malam di Purwokerto.

Dolan ke Purwokerto salah satunya saatnya menikmati Sroto Sokaraja, pilihan santap di Banyumas
Sroto Sokaraja, kuliner khas saat Dolan ke Purwokerto. Foto: shutterstock

Hari Pertama

Saat dolan ke Purwokerto paling nyaman menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi. Jika menggunakan kereta api, cukup banyak tempat persewaan mobil atau sepeda motor di kota ini. dan langsung sarapan di salah satu warung makan lokal.

Kereta api umumnya masuk ke Purwokerto pada pagi hari, kadang bahkan di dini hari. Ketika itu kemungkinan belum bisa check in di hotel.

Cobalah sarapan khas Purwokerto: sroto Banyumas atau sroto Sokaraja. Tempat makan sroto yang banyak dikenal adalah Sroto H. Loso. Tempat ini kadang dikenal juga dengan nama Soto Ayam Jalan Bank dan RM Sroto Khas Purwokerto. Warung Soto H. Loso beralamat di Jalan RA Wiryaatmaja Nomor 15, Pesayangan, Kedungwuluh, dan buka mulai sekitar pukul 8.

Selesai sarapan, kunjungi Baturaden, sebuah kawasan wisata pegunungan dengan udara sejuk dan kolam renang alami. Nikmati pemandangan alam sekitar dan coba aktivitas seperti berjalan-jalan atau berenang.

Selesai berenang menuju ke hotel sambal mampir makan siang di sepanjang Baturaden ke kota ada banyak pilihan makan dengan pemandangan bagus. Pilihannya antara lain Taman Langit atau Watu Dungkul

Jika masih ingin menikmati alam yang cantik, wisatawan mungkin jangan dulu menuju hotel. Dari tempat makan, perjalanan bisa dilanjutkan ke Telaga Sunyi, dan nikmati suasana tenang dan indah di sekitar danau tersebut. Jaraknya sekitar 30-40 menit dari Baturaden.

Senja, setelah istirahat sejenak di hotel, wisatawan bisa makan malam di salah satu restoran lokal. Cobalah restoran Djago Djowo, ini ayam goreng khas daerah ini.

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.
Getuk goreng bisa menjadi oleh-oleh dari Purwokerto. Foto: Kemendikbud

Hari Kedua:

Setelah sarapan, wisatawan saat dolan ke Purwokerto bisa memilih untuk mengitari kota Purwokerto yang tak terlalu besar. Puas menikmati denyut kota, hari ini perjalanan dilanjutkan ke arah Baturaden lagi, namun kali ini mengunjungi wisata Curug Telu yang berada di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden. Wisata Curug Telu ini memiliki tiga tempat sekaligus yang dapat di kunjungi, yakni Curug Lawang, Kedung Pete, dan Curug Telu yang menjadi wisata utama.

Dari Curug Telu, perjalanan dilanjutkan ke situs Candi Arca Dawuhan terletak di sebuah perbukitan Dawuhan Wetan. Di dalamnya terdapat peninggalan benda-benda purbakala bersejarah yang berjumlah lebih dari satu situs yang ada dalam komplek situs Candi Arca.

Nikmati kuliner malam di Alun-Alun Purwokerto, pusat keramaian malam di kota ini. Ada banyak warung makan dan kedai kopi di sekitar alun-alun yang bisa Anda kunjungi.

Hari Ketiga

Menjelang pulang pada sore atau malam hari, wisatawan bisa mencoba mampir ke Pasar Manis sebagai bagian dolan ke Purwokerto. Ini pasar tradisional dengan pengelolaan terbaik di Indonesia. Selain ada dagangan umum, di sini juga ada pusat kuliner. Bisa mencicipi makanan atau jajan pasar di sini.

Dari Pasar Manis masih sempat mampir ke Museum BRI berada di Jalan Jendral Sudirman No. 57, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Museum ini didirikan pada19 Desember 1990 sebagai bukti cikal bakal didirikannya sebuah bank di Indonesia.

Museum BRI memiliki tiga bangunan utama yang semuanya berada di satu area, yaitu museum itu sendiri, patung Raden Aria Wirjaatmadja, dan replika gedung De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank.

Selesai mengunjungi Museum BRI, saatnya belanja oleh-oleh. Ada beberapa tempat yang memiliki banyak toko oleh-oleh. Ada banyak pilihan buah tangan, sebut saja nopia, getuk goreng, atau tempe mendoan, baik yang masih mentah maupun yang sudah matang.

Setelah itu siap-siap untuk pulang.

agendaIndonesia

*****

Menyusur Pesisir Selatan Bali Dalam 2 hari

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Belig

Menyusur pesisir Selatan Bali, mengikuti garis pantai yang terentang dari Badung sampai Tabanan. Sekali lagi Bali, tak ada habis-habisnya menikmati pulau Dewata ini.

Menyusur Pesisir Selatan Bali

Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan— Bali, disatukan oleh garis pantai yang merentang panjang. Kedekatan secara geografis ini membuat tipikal pantai-pantai di wilayah ini memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik.

HARI PERTAMA: Petitenget, Batu Belig, Berawa.

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau joging, berkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung, Bali. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima.

Pantai Batu Belig

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing.

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini.

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam.

Warung Mina

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang.

HARI KE DUA: Batu Bolong, Echo Beach, Pantai Seseh, dan Tanah Lot

Lak-lak Bali Rama

Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan  bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga  lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).

Menyusur Pesisir Selatan Bali Batu Bolong

Pantai Batu Bolong

Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis.

Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara.

Echo Beach

Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail.

Pantai Seseh

Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini  kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal.

Tanah Lot

Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing.

Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan.

Pie Susu Dhian

Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli pie susu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Pie susu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu.

agendaIndonesia

*****

Jalan-jalan Asyik 2 Hari di Sekitar Jakarta

jalan

Jalan-jalan asyik 2 Hari di sekitar Jakarta mungkin jarang dipikirkan orang. Jakarta? Apa asyiknya menikmati Jakarta selain mal dan beberapa tempat yang sudah dikenal sejak masa kanak-kanak: Taman Mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol, atau mal-mal yang bertebaran di seputar ibu kota Indonesia ini.

Jalan-jalan Asyik

Setiap tahunnya lebih dari 2 juta orang berkunjung ke Jakarta. Sebagian besar memang karena pekerjaan, tapi sering pula perjalanan bisnis atau tugas itu menyimpan waktu senggang yang sesungguhnya bisa dipakai untuk dinikmati kota metropolitan ini.

Bisa jadi, Jakarta dinilai tidak menarik dijelajahi. Padahal, dengan memperpanjang waktu tinggal semalam atau dua malam saja, ada agenda jalan-jalan yang bisa dicoba tanpa perlu menguras tenaga maupun kantong. Berikut pilihan jika punya waktu satu atau dua hari di Jakarta.

Hari Pertama: Pecinan dan Kota Tua

Jalan-jalan asyik di Jakarta salah satunya bisa dilakukan di kawasan kota tuanya.
Vihara Dharma Bakti di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta. Foto: Dok. shutterstock

Perjalanan bisa dimulai dari kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta Barat. Dari pusat Kota Jakarta, diperlukan butuh waktu kira-kira 30 menit untuk mencapainya. Jika berangkat pagi hari, di sini Anda bisa menyantap sarapan untuk menambah energi sebelum berwisata seharian. Salah satu pilihannya adalah Kedai Es Kopi Tak Kie di Gang Gloria.

Kopinya diracik berdasarkan resep turun-temurun sejak 1927. Menu andalan Kedai ini adalah kopi hitam pekat dengan cita rasa yang kuat atau kopi susu dan es kopi yang lebih ringan. Di sepanjang Gang Gloria juga bisa ditemukan aneka penganan khas Cina, seperti bakmi ayam, nasi ayam Hainan, cakwe, dan permen tempo dulu. Sebagian besar makanan di sini mengandung babi. Jadi, bagi kaum muslim, sebaiknya bertanya dulu sebelum mencicipi.

Persis di seberang Gang Gloria, ada gang lain yang merupakan bagian dari Pasar Petak Sembilan. Tersebar toko obat, rempah-rempah, dan bahan makanan serta rumah-rumah tua bergaya oriental milik warga Tionghoa di sana. Masih di kawasan yang sama, terdapat sebuah kompleks ibadat umat Buddha, yang terdiri atas tiga vihara, yakni Dharma Bhakti, Dharma Sakti, dan Hui Tek Bio.

Vihara Dharma Bhakti adalah yang terbesar di antara ketiganya. Vihara ini paling banyak dikunjungi umat yang ingin memohon berkat bagi usaha dan keluarganya. Untuk umat Nasrani, ada gereja unik yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari kompleks vihara, yakni Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Bangunan gereja ini bergaya arsitektur Cina. Di sekitarnya, tepatnya di Jalan Kemenangan, Anda bisa menemukan penjaja nasi ulam khas Betawi. Nasi ulam tersebut dijual di gerobak. Sayangnya, kedai yang dikenal luas, yakni Nasi Ulam Misjaya, baru buka sekitar pukul 16.00.

Perjalanan dapat dilanjutkan ke Kota Tua, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Glodok. Kota Tua adalah kompleks peninggalan Belanda yang sarat akan bangunan bersejarah dan museum. Bagi penggemar sejarah atau penghobi fotografi, tempat satu ini tidak boleh dilewatkan. Untuk pengalaman yang lebih berkesan, cobalah menyusuri Kota Tua sambil mengendarai sepeda ontel sewaan. Banyak sepeda dicat beraneka warna dan dijejerkan di sekitar Taman Fatahillah yang disewakan. Selain sepeda, penyewa mendapat sepasang topi ala sinyo dan noni Belanda.

jalan-jalan asyik di kota Tua Jakarta bisa menikmati sejumlah museum, di antaranya museum Wayang.
Museum Wayang di Kota Tua Jakarta memiliki koleksi wayang dari sejumlah daerah di Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Taman Fatahillah dikelilingi tiga museum: Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Masing-masing beroperasi dari Selasa hingga Minggu, pukul 09.00-15.00. Museum Sejarah Jakarta menjadi yang paling tersohor. Bukan hanya menampilkan sejarah Ibu Kota dari masa prasejarah hingga kini, melainkan juga menyimpan koleksi perabotan zaman Belanda, ketika gedungnya masih digunakan sebagai kantor Gubernur Jenderal VOC. Di halaman tengah, ada meriam Si Jagur, yang menurut mitos bisa memberikan kesuburan bagi keluarga yang belum memiliki anak.

Setelah puas menyusuri sejarah, Anda bisa mendinginkan tubuh sekaligus makan siang di Cafe Batavia, yang menempati gedung tertua kedua di Kota Tua setelah Museum Sejarah. Lokasinya berseberangan dengan Museum Sejarah Jakarta. Restoran ini menawarkan suasana masa pendudukan Belanda melalui koleksi foto-foto dan lukisan yang menghiasi dinding-dindingnya. Tersedia masakan Cina dan Barat, selain sajian khas Betawi, seperti gado-gado, nasi uduk, dan soto Betawi.

Setelah puas menikmati museum, Anda boleh mampir ke beberapa tempat lainnya, seperti Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, dan Toko Merah. Sebelum malam menjelang, jangan lupa singgah di Pelabuhan Sunda Kelapa, tempat berlabuhnya kapal nelayan dan kapal angkutan barang dari pulau-pulau sekitar Jakarta. Nikmatilah sore di tengah tiupan angin sambil berburu hidangan laut.

Hari Kedua: Monumen Nasional dan Setu Babakan

Jalan-jalan asyik di Jakarta tak lengkap jika tak mengunjungi Setu Babakan untuk belajar tentang budaya Betawi.
Setu Babakan atau yang dikenal sebagai Kampong Betawi merupakan tempat yang asyik dikunjungi. Foto: Dok. shutterstock

Ikon Ibu Kota, Monumen Nasional atau Monas, layak menjadi tujuan pertama hari ini. Anda bisa naik ke pelataran atas Monas untuk melihat pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian 132 meter atau masuk ke Museum Sejarah Nasional di pelataran bawahnya. Museum Sejarah Nasional berisi diorama peristiwa bersejarah di Indonesia sejak zaman kerajaan, perjuangan kemerdekaan, hingga Orde Baru. Dari Monas, jangan lewatkan kesempatan untuk mengabadikan masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Tepat di seberangnya, ada Gereja Katedral Jakarta, yang berarsitektur neo-gothic.

Jika masih punya cukup banyak waktu, dari Jakarta Pusat, Anda bisa menuju Kampung Budaya Betawi, Setu Babakan. Lokasinya di Jalan Muhammad Kahfi II, Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setu Babakan sesungguhnya adalah nama danau seluas 30 hektare yang menjadi pusat aktivitas warga setempat. Sepanjang jalan menuju danau, dapat ditemukan rumah-rumah adat Betawi dengan ciri khas ornamen ukir di kusen atap dan pintu.

Pada akhir pekan atau hari-hari besar, biasanya diselenggarakan berbagai acara di sini, seperti pertunjukan lenong, tari Betawi, atau gambang kromong. Setiap Rabu dan Minggu, sanggar seni dan bela diri lokal juga menggelar latihan di tempat ini.

 Jika tidak sempat melihat pertunjukannya, Anda bisa menikmati kerindangan pepohonan, mengitari danau sambil memancing, atau mencicipi kuliner khas Betawi. Tersedia beraneka penganan, semisal kerak telor, tauge goreng, kue cucur, es selendang mayang, dan bir pletok. Kawasan Setu Babakan dibuka hingga pukul 18.00. Jadi, Anda bisa melewati hari dengan bersantai di sini sampai mentari terbenam.

Yolanda F./Aditya N./TL/agendaIndonesia

*****

Keliling Bogor, 2 Hari yang Menyegarkan

Keliling Bogor adalah salah satu cara refreshing yang paling memungkinkan saat ini di tengah pendemi yang belum usai. Dan pilihan yang lebih ideal adalah menikmati alam di kota hujan di Jawa Barat ini.

Keliling Bogor

Akhir pekan pekan yang asyik di tengah suasana yang belum longgar ini, kita tidak perlu jauh-jauh, Bogor bisa menjadi pilihan. Kota Hujan, yang hanya berjarak 48 kilometer dari Jakarta, memiliki pilihan obyek wisata alam dan kuliner menggoda. Dengan beberapa teman atau keluarga, berikut pilihan liburan selama dua hari bisa membuat tubuh dan pikiran kembali segar serta rileks.

Keliling Bogor dalam 2 hari yang terbaik adalah menikmati keindahan alam kota ini, salah satunya Curug Seribu.
Curug Seribu, Bogor. Foto: Dok. shutterstock

Hari 1: Alam Gunung Salak

Sebaiknya Anda berangkat pagi hari agar perjalanan tidak terhambat kemacetan. Begitu tiba di pusat Kota Bogor, arahkan kendaraan menuju Jalan Suryakencana untuk mencari sarapan. Di sepanjang jalan ini, terutama di sekitar Gang Aut, berderet warung makan dan gerobak penjaja makanan, seperti soto mi, taoge goreng, dan es pala.

Setelah perut kenyang, baru Anda pergi ke Wana Wisata Gunung Salak Endah. Jalur termudah adalah dengan melewati kampus Institut Pertanian Bogor di Dramaga menuju Ciampea. Sekitar satu jam perjalanan, Anda akan tiba di pintu masuk kawasan dan disambut keteduhan pohon pinus yang menjulang di kanan-kiri jalan utama. Ada banyak obyek wisata di kawasan ini, seperti Curug Seribu, Curug Cigamea, Curug Ngumpet, dan Kawah Ratu. Curug adalah bahasa lokal untuk air terjun.

Di antara sederet air terjun tersebut, Curug Seribu dan Cigamea paling populer. Bagi yang menyukai tantangan, bisa terus melangkah ke Curug Seribu, yang jalan masuknya sejauh 3 kilometer dengan bebatuan terjal dan licin. Kesulitan menuju lokasi ini terbayar ketika Anda tiba di air terjun yang tingginya mencapai 100 meter itu. Sayangnya, Curug Seribu hanya dibuka sampai pukul 13.00 karena sering turun hujan, sehingga jalan menjadi lebih licin dan berbahaya.

Sedangkan Curug Cigamea lebih ramah pengunjung. Jalan sepanjang 1,5 kilometer sudah dipasangi paving block serta pagar besi pengaman. Ada dua air terjun, yang pertama lebih pendek dengan curahan air terpencar dinding batu, sementara yang kedua diapit tebing dengan curahan air lebih deras dan langsung mengalir ke sungai.

Airnya bening dan dingin dengan arus yang tenang, sehingga aman untuk bermain di bawahnya. Di sekitar curug juga ada banyak pedagang yang menjajakan makanan dan suvenir. Bahkan, ada kolam bola dan kolam terapi relaksasi ikan.

Pengunjung bisa bermain di sekitar air terjun sepuasnya hingga sebelum gelap. Keluar dari Gunung Salak Endah, ada banyak resor dan vila yang bisa menjadi tempat untuk menghabiskan malam dengan pemandangan Kota Hujan dari pegunungan, seperti Michael Resort. Pilihan lainnya, berkemah di alam terbuka di Bumi Perkemahan Gunung Bunder dekat pintu masuk kawasan itu. Jika tidak, Anda bisa langsung menuju Kota Bogor, yang memiliki sederet hotel bintang maupun non-bintang.

Sebelum beristirahat, lebih baik mampir ke Jalan Pangrango untuk bersantap malam. Di sepanjang jalan ini hingga Taman Kencana, ada sederet tempat makan dan nongkrong dengan beragam sajian. Para penyuka hidangan Barat, seperti pizza dan pasta, bisa mampir ke Kedai Kita. Jika mencari penganan ringan, cobalah pie khas Pia Apple Pie atau macaroni Panggang. Semua tempat itu bersuasana nyaman.

Keliling Bogor pastikan beli roti unyil venus, oleh-oleh khas Bogor
Roti Unyil Venus, Bogor. Foto: Dok. shutterstock

Hari kedua: Oleh-oleh dan Seputar Sentul

Sebelum meninggalkan Bogor, tidak ada salahnya mencari oleh-oleh. Dari yang sudah lama ngetop, seperti asinan, dan roti unyil, hingga yang terbaru berupa aneka kue dari talas. Roti unyil bisa ditemukan di Venus, yang ada di Ruko V Point, sebelah Ekalokasari Plaza, Sukasari. Jika menginginkan sajian segar, Anda bisa mampir ke Asinan Gedung Dalam di Jalan Siliwangi. Atau, di sebelah toko Venus pun ada cabangnya. Apa Anda doyan lapis talas Sangkuriang? Penganan ini bisa dibeli tidak jauh dari toko Asinan Gedong Dalam, yakni di Kompleks Ruko Bantar Kemang, Jalan Pajajaran. Tersedia dalam beragam rasa, seperti keju, teh hijau, cokelat, dan tiramisu.

Setelah puas berbelanja, saatnya menuju Sentul untuk menikmati air terjun dan air panas. Letak obyek wisata ini searah dengan perjalanan ke Jakarta, sehingga Anda bisa sekalian pulang. Ada dua pilihan. Bila membawa anak, Anda bisa mampir di Sentul Paradise, yang menawarkan wisata air terjun, kolam bermain, dan flying fox. Untuk mencapainya, tinggal arahkan kendaraan menuju perumahan Sentul City, tepatnya ke Jungleland. Sebelum pintu masuk Jungleland, bila ingin langsung menuju Wana Wisata Gunung Pancar, ambil jalan ke kanan menuju Desa Karang Tengah. Sebaliknya, jika ingin mampir ke Sentul Paradise, Anda harus berbelok ke kiri.

Keliling Bogor dan menikmati keindahan alamnya, salah satunya mengunjungi Wana Wisata Gunung Pancar.
Bebatuan di Kawasan Gunung Pancar, Sentul, Bogor. Foto: Dok. shutterstock

Berada di ketinggian, di antara bukit-bukit, pemandangan di sini cukup menyegarkan. Setelah itu, Anda bisa kembali ke arah Sentul dan menuju Desa Karang Tengah untuk mencapai Gunung Pancar, yang dikelilingi hutan pinus bertanah merah. Jalannya yang menanjak sering kali digunakan sebagai jalur bersepeda juga.

Ada tiga macam pemandian di sini. Yang paling banyak dikunjungi untuk terapi adalah yang terbawah dan terpanas. Kolamnya dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Tidak ada tambahan biaya buat menikmati pemandian ini. Pengunjung disarankan hanya berendam 20-30 menit. Jika tak ingin bercampur dengan pengunjung lain, Anda bisa menyewa kolam VIP di bagian atas pemandian pertama. Ada tujuh kolam yang disewakan seharga Rp 100 ribu per keluarga untuk satu jam. Selain itu, pengunjung bisa merasakan terapi pijat dengan tekanan air panas. Berjalan lebih ke atas, ada pemandian ketiga yang lebih besar dengan tiga jenis kolam, yakni bersuhu panas, hangat, dan dingin. Di dekat kawasan ini ada juga resor, yakni Vila Sidomukti, bagi yang ingin menginap dengan nyaman.

Namun bila memiliki jadwal padat, apalagi tubuh sudah terasa segar, Anda bisa langsung kembali ke Jakarta. Sebelumnya, isi dulu perut di resto sekitar Sentul, seperti Panjang Jiwo atau Gumati. Di Panjang Jiwo, Anda dapat menikmati suasana pedesaan selagi menyantap nasi timbel dan es kelapa muda dengan dikelilingi kolam ikan serta pepohonan rindang.

agendaIndonesia

*****

Menikmati Pulau Bintan Dalam 2 Hari

Menikmati pulau Bintan di Kepulauan Riau sejatinya disarankan seorang teman setidaknya dalam tiga hari. Selain banyaknya wisata alam yang sangat layak dikunjungi, pulau ini juga memiliki sejumlah istiadat dan tradisi yang menarik. Juga kulinarinya.

Menikmati Pulau Bintan

Apa boleh buat, dalam kunjungan kali ini waktu yang tersedia hanya dua hari untuk mengitari seluruh Bintan. Tentu, sebisa mungkin. Itu pun di di hari pertama perjalanan sudah diganggu hujan. Rintik hujan sudah turun saat kaki baru menjejak di Bandara Raja Haji Ali Fisabilillah, Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau. Untunglah, selepas tengah hari, matahari mulai muncul.

Dengan waktu kunjung yang sempit, sambil menunggu hujan reda, pilihan pertama menikmati Bintan kemudian adalah menjajal kuliner. Pilihannya ada di Tanjung Lanjut—restoran ikan laut di tepi sungai yang dihiasi gerombolan pohon bakau. Gonggong rebus, jenis siput laut yang menjadi ikon Tanjung Pinang, menjadi pilihan utama. Rasanya unik, mirip cumi-cumi.

Ketika hujan tak lagi mengganggu, perjalanan mengitari pulau dimulai. Tujuan pertama adalah wihara di Tanjung Uban, yang bisa dicapai dalam waktu sekitar 15 menit dari pusat kota. Tiba di Batu 14, istilah masyarakat setempat untuk menunjukkan jarak, semburat cahaya kuning keemasan menyinari jejeran patung Buddha dan Dewi Kwan In, yang mengapit kiri-kanan pelataran Vihara Avalokitesvara—salah satu wihara terbesar di Asia Tenggara.

Menikmati pulau Bintan salah satunya adalah wisata religi ke sejumlah vihara, juga ke Masjid besar.
Patung Buddha Tidur di Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto: Dok. shutterstock

Perjalanan menyusuri jalanan aspal mulus di perbukitan menuju Senggarang, desa di pinggir pantai yang menjadi tempat awal kedatangan orang Tionghoa di Tanjung Pinang pada 1777-1784. Banyak kelenteng tua yang menarik untuk dikunjungi. Kerukunan beragama begitu terasa kental. Orang Melayu dan keturunan Tionghoa guyub berbaur. Sekolah Islam berdekatan dengan kelenteng.

Ada kelenteng tua yang unik karena ditutupi akar pohon. Agak susah mencari tahu nama kelenteng itu, warga sekitar malah menggelengkan kepala saat ditanya. Menurut literatur, namanya Kelenteng Tien Shang Miao.

Beberapa ratus meter dari sana, ada wihara yang dibangun pada 1790-an. Pintu gerbangnya dipulas merah. Kompleks Vihara Dharma Sasana itu tidak seluas Vihara Avalokitesvara Graha, tapi suasananya lebih tenang dan teduh karena terdapat pepohonan. Wihara ini terkenal dengan patung Dewi Kwan Im Seribu Tangan, selain patung naga, Buddha, dan beberapa dewa berwujud binatang.

Masih ada sejumlah kelenteng tua yang menarik di sini, tapi mengingat keterbatasan waktu, perjalanan dilanjutkan ke Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Viahara ini terkenal dengan 1.000 patung Buddha. Perjalanan dilakukan menuju bukit.

Di batu 13, Jalan Kijang, mobil yang kami tumpangi berbelok menuju bukit. Di puncak bukit, terlihat gerbang dengan empat tiang batu yang dililit ukiran naga, empat patung singa bersisik ikan di bagian atas, dan dua patung penjaga berparas garang memegang golok. Gapuranya dibikin mirip dengan tembok raksasa Cina. Di balik gapura itulah ditemukan Seribu Buddha.

Patung-patung Buddha berkepala plontos berjejer rapi dengan awan sebagai latar belakang. Patung-patung itu memiliki ukuran seragam, tetapi ekspresinya berbeda-beda, mengingatkan saya pada tentara Terakota di Cina. Semua patung tersebut dibuat oleh perajin Cina dan dikirim dengan kapal. Di bangunan lainnya, ada sebuah patung Buddha keemasan.

menikmati pulau Bintan tak lengkap tanpa mengunjungi Pulau Penyengat.
Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Bintan. Foto: Dok. shuterstock

Ada satu lagi obyek wisata religi dengan suasana berbeda yang akan perlu dikunjungi, yakni Pulau Penyengat. Di pulau ini terdapat masjid dan makam para pembesar Kerajaan Riau Lingga. Berjarak 3 kilometer dari Tanjung Pinang, pulau ini bisa dicapai menggunakan perahu pompong hanya dalam 15 menit.

Di Penyengat, pengunjung bisa berjalan kaki jika cukup punya waktu dan tenaga, jika tidak bisa menyewa bemot atau becak motor untuk mengelilingi pulau berukuran sekira 2.500 x 750 meter ini. Di kampung yang bersih ini, dengan jalan berupa paving block, alat transportasi yang digunakan hanya sepeda motor dan sepeda kayuh.

Menurut sejarah, pulau ini merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud kepada Engku Putri Raja Hamidah—anak Raja Haji Fisabilillah, yang juga dimakamkan di sini. Selain itu, ada makam Raja Haji Ali, pujangga yang membuat Gurindam Dua Belas, yang syairnya dituliskan di dinding makam Engku Putri. Peninggalan Kesultanan Riau lainnya adalah Istana Kantor—istana sekaligus kantor Raja Ali, Gedung Mesiu, benteng pertahanan, dan Balai Adat. Saya sempat membasuh muka dengan air sumur petak di bawah Balai Adat, yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

Ada pula Masjid Raya Sultan Riau, yang konon untuk membangunnya menggunakan adonan putih telur. Tak ada yang memastikan hal itu. Dibangun pada 1832 atas prakarsa Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdurrahman, masjid ini mempunyai empat menara dengan dua bangunan tambahan di kedua sisi. Masjid didominasi warna kuning.

Menikmati pulau Bintan salah satunya adalah mengunjungi pantai-pantainya yang indah.
Pantai Trikora di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Foto: Dok. shutterstock

Pukul dua siang, matahari berada di puncaknya. Saatnya mulai menikmati alam Bintan. Perjalanan dimulai dengan menikmati keindahan pantai di Tanjung Pinang. Banyak pilihan pantai berpasir putih di sini, misalnya di kawasan Lagoi, yang banyak diburu wisatawan Singapura. Tapi karena waktu yang sempit, pilihan jatuh ke Pantai Trikora, yang memiliki garis pantai sampai 25 kilometer. Pantai Trikora merupakan pantai terpanjang di Kepulauan Riau. Berada di wilayah Kabupaten Bintan, pantai ini berjarak 60 kilometer, sekitar satu jam berkendara, dari Tanjung Pinang.

Melintasi jalan nan mulus, Pantai Trikora di sisi kanan jalan. Pohon kelapa menghias kiri-kanan jalan. Batu-batu hitam sebesar rumah sesekali terlihat di ladang kelapa. Agak susah menemukan spot bagus di pantai publik karena lokasi indah rata-rata dikuasai resor. Atas dasar itu, akhirnya pilihannya memang mencoba masuk ke resor. Pilihannya adalah Bintan Cabana Beach Resort, yang memiliki pantai jernih dihiasi bebatuan besar. Beberapa pengunjung hotel asik berenang dan melompat di antara bebatuan.

Matahari mulai meredupkan cahayanya, waktunya menikmati kuliner khas Tanjung Pinang, yang terkenal dengan hidangan Melayu dan Cina. Pilihannya jatuh ke Akau Potong Lembu, salah satu sentra kuliner yang wajib dikunjungi di Bintan. Berada di kawasan pecinan, dekat dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura, sentra kuliner ini buka dari sore hingga tengah malam. Soal harga, rasanya  terjangkau, sehingga tidak perlu merogoh saku terlalu dalam. Karena suasananya yang asyik, tak terasa sudah hampir tengah malam.

Rully K./TL/agendaIndonesia

*****

Danau Toba Dan Sekitarnya Dalam 5 Hari

Menparekraf dan menhub bertemu nahas 5 dsp, salah satunya Danau Toba

Danau Toba di Sumatera Utara makin hari makin menarik perhatian pelancong. Selain sudah adanya bandara Silangit di dekat danau ini, perjalanan dari Medan pun makin mudah dan mengasyikan.

Danau Toba

Ketenaran Samosir, pulau kecil di Danau Toba, tak disangsikan lagi. Namun kebanyakan orang yang melancong hanya singgah sebentar ke Pelabuhan Tomok atau Tuktuk. Setelah itu, kembali lagi ke Pelabuhan Ajibata di Parapat. Selebihnya menghabiskan waktu di hotel di Parapat dan memandang Samosir dari kejauhan. Padahal banyak situs sejarah dan obyek budaya bisa dieksplorasi jika kita berkeliling kabupaten seluas 206.905 hektare ini. Apabila dipadu dengan kunjungan ke Berastagi, berwarnalah perjalanan Anda di Sumatera Utara. Waktu yang dibutuhkan cukup lima hari. Perjalanan tentunya dimulai dari Medan.

Hari pertama. Bila tiba di Medan tidak terlalu pagi, untuk kenyamanan, mulailah perjalanan dengan jalur pendek, yakni dari Medan ke Berastagi—berjarak 66 kilometer. Jalanan kecil dan berkelok. Diperlukan waktu sekitar dua jam. Berastagi adalah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Karo. Bila tiba siang hari di Berastagi, masih ada waktu untuk menatap Gunung Sinabung dari dekat, jadi melajulah ke Lau Kawar.

Dari Berastagi, temukan Tugu Perjuangan, kemudian Anda tinggal belok ke kanan menuju Kecamatan Simpang Empat. Jarak ke obyek wisata ini sekitar 27 kilometer dari Berastagi. Di sepanjang jalan, kebun berjajar. Sayuran dan buah-buahan dapat dengan mudah ditemui, termasuk jeruk dan markisa, yang merupakan buah khas Berastagi. Akhirnya tiba juga di danau yang berada di Desa Kutagugung Kecamatan Naman Teran. Gunung Sinabung tak hanya menawarkan udara yang sejuk, tapi juga lingkungan yang tenang. Begitu hening jika Anda datang bukan pada akhir pekan. Kabut sering turun, sehingga membuat hawa dingin dan suasana sepi. Di pinggir danau ada kios makanan dan minuman, ada pula lahan untuk berkemah.

Bila masih terang, cobalah berperahu ke seberang. Temukan tanaman kantong semar, jenis tanaman yang melahap serangga, seperti kupu-kupu, lipan, dan kalajengking. Di pinggir danau, Anda bisa mencari pemilik kapal sekaligus pemandu untuk menemukan tanaman unik ini. Setelah menikmati danau hingga sore, bila hendak melihat perkampungan dan rumah adat Karo berusia ratusan tahun, mampirlah ke Desa Lingga. Ketika hendak kembali ke Berastagi, sebelum tiba di perempatan Tugu Perjuangan, ada jalan menuju ke kanan. Hanya, kondisi rumahnya memang banyak yang sudah tidak terawat. Atau jika Anda penyuka alam, bisa juga sore itu melaju ke Bukit Gundaling. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Berastagi. Di bukit ini, Anda bisa menemukan tempat untuk menikmati Berastagi dari ketinggian.

Hari Kedua. Pagi-pagi tinggalkan dinginnya Berastagi. Melajulah ke Kecamatan Merek untuk mengitari Taman Simalem Resort. Kawasan resor seluas 206 hektare yang terdiri atas kebun buah-buahan, termasuk yang langka, seperti biwa. Selain itu, ada buah markisa dan jeruk. Ada pula sarana lodge, perkemahan, kafe, restoran, hingga paket untuk trekking dan bertualang di hutannya. Dari tempat yang satu ini, Anda bisa juga memandang Danau Toba, selain bukit-bukit gundul yang, mau tidak mau juga, tampak jelas dari sini. Resor yang bisa ditempuh sekitar 35 menit dari Berastagi ini juga memiliki kuil Buddha yang megah menjulang di atas bukit. Untuk memasuki kawasan ini, tiket masuk Rp 150 ribu per mobil.

Bila masih mempunyai tenaga untuk menuruni ratusan anak tangga, singgahlah pula ke air terjun Sipiso-piso di Desa Tongging, Kecamatan Merek. Tinggi air terjunnya sekitar 120 meter, jarak dari Berastagi sekitar 35 kilometer. Dari sini, Danau Toba dan Samosir terlihat. Lokasinya akan terlewati jika Anda menuju Parapat. Bisa juga langsung ke Parapat, yang berjarak 110 kilometer dari Berastagi atau sekitar tiga jam perjalanan. Bila sudah terlalu sore tiba di Parapat, pilihannya tentu saja menginap. Pilihan akomodasi berlimpah di Parapat, yang menjadi pusat wisata Danau Toba.

Hari Ketiga, menyeberang dari Pelabuhan Ajibata ke Tomok. Berbeda dengan Berastagi yang dingin, udara panas langsung menerpa saat menginjak kaki di Samosir. Obyek wisata terdekat dari Pelabuhan Tomok adalah makam Raja Sidabutar. Makam ini terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar, yang menjadi penguasa pada masa silam.

Di Samosir, kita bisa mempelajari tradisi pada Batak kuno. Salah satunya tradisi tarian Sigale-gale di Museum Huta Bolon Simanindo, Ambarita. Lokasinya 20 kilometer dari Tomok, lebih dekat ke Kecamatan Pangururan. Setiap hari pada pukul 11.00 rutin digelar pertunjukan Sigale-gale dengan alat musik tradisional dan berbagai tarian tradisional Batak Karo. Penonton dipersilakan duduk di rumah-rumah Batak. Pertunjukan diakhiri dengan tarian Tor-tor bersama. Koleksi museumnya di antaranya terdiri atas kain ulos, peralatan memasak, dan perlengkapan masyarakat Batak pada masa silam.

Bila sudah tiba di sini, mampirlah sejenak ke wisata air panas di Pangururan. Ini merupakan kota kecamatan di mana rumah makan bisa ditemukan lebih mudah, terutama hidangan Padang, yang pas untuk muslim. Pemandian air panas berjarak 3 kilometer dari Pangururan. Tepatnya di kaki Pusuk Buhit. Airnya mengandung belerang. Di kota kecamatan ini pula kita bisa melihat bahwa Samosir sebenarnya bukanlah pulau sesungguhnya karena antara Samosir dan sisi lain Danau Toba itu terhubung, sehingga bisa dicapai lewat darat.

Sehabis berendam, saatnya ke Tuktuk Siadong, yang tidak jauh dari Tomok. Ada gerbang yang menunjukkan kawasan berbentuk tanjung yang menjadi pusat wisata. Ada deretan hotel dan penginapan di sini. Rata-rata di pinggir Danau Toba. Di sini pula ada gedung kesenian, studio kerajinan ukiran, sekaligus pelabuhan langsung ke Ajibata atau Tiga Raja. Alat transportasi berupa perahu penumpang, dengan lama perjalanan hanya 30 menit.

Berada di Tuktuk seperti berada di tempat lain dari Samosir. Lingkungannya khas turis. Ada penyewaan sepeda bagi yang ingin berkeliling menggunakan sepeda. Dan ada perlengkapan untuk bermain di Danau Toba di hotel bila ingin menikmati sore dengan bermain perahu, berenang. Sore hari saatnya menikmati danau dari Tuktuk. Demikian juga esok paginya, menunggu mentari terbit, sambil menatap hamparan air nan luas.

Hari Keempat, mempelajari sejarah Batak Toba belumlah usai. Sejarah dan tradisi raja di daerah ini bisa disimak di Batu Persidangan Siallagan. Tak jauh dari Tuktuk, obyek wisata yang tertata ini terdiri atas beberapa rumah Batak Toba, makam raja, serta seperangkat meja dan batu. Yang terakhir inilah yang disebut Batu Persidangan. Di kursi batu itulah raja bersama penasihat membahas hukuman untuk seseorang yang berbuat kejahatan. Hukumannya bisa berupa hukuman pancung. Siallagan tak lain adalah nama sebuah marga. Pemimpinnya Siallagan. Huta atau kampung Siallagan di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, dikelilingi oleh batu besar, yang juga berfungsi sebagai benteng.

Puas melihat detail rumah Batak dan sejarah panjang Raja Siallagan, Anda bisa melangkah ke rumah penenun ulos, yang tersebar di beberapa desa. Kebanyakan berada tak jauh dari Pangururan, seperti Desa Lumban Suhi-suhi. Selain itu, di sepanjang jalan menuju Pangururan, bisa ditemukan penenun perorangan. Bila ingin berbelanja ulos, bisa langsung ke perajin di sini. Sore hari saatnya menikmati kembali Danau Toba. Ada beberapa sisi dari Danau Toba yang muncul seperti landai sehingga tak salah jika penduduk setempat menyebutnya pantai. Ada Pantai Pasir Putih dan Pantai Ambarita. Silakan menikmati pantai berair non-asin!

Hari Kelima, setelah kembali menikmati mentari terbit dari pinggir danau dan sarapan, saatnya bersiap-siap meninggalkan Samosir. Ada banyak obyek wisata alam yang belum sempat disinggahi, tapi mungkin untuk kunjungan berikutnya. Penyeberangan feri berlangsung sekitar satu jam. Kali ini jalur kembali tidak lewat Berastagi, melainkan melalui Pematang Siantar. Dengan pemandangan kiri-kanan kebun karet dan kelapa sawit. Melewati Serdang Bedagai, lalu Medan. Perjalanan sekitar empat jam. Lebih singkat, jalan lebih datar, dan pilihan obyek untuk disinggahi pun tak beragam. Tiba di Medan, Anda bisa langsung mengambil penerbangan sore menuju Soekarno-Hatta.

Rita N./Toni H./Dok TL

Karawang Bekasi, Eksplorasi 2 Kota

Rumah Pohon Bekasi

Karawang Bekasi rasanya tak ada yang terpikir untuk main-main di dua kota di sekitar Jakarta ini. Ke duanya seperti bukan “tujuan wisata”. Tapi cobalah sekali-kali menengoknya. Ada beberapa tempat yang layak dikunjungi.

Karawang Bekasi

Dua kota di Jawa Barat yang tak jauh dari Jakarta, yaitu Bekasi dan Karawang, memiliki destinasi yang layak disambangi untuk liburan singkat. Tak melulu mal atau pusat perbelanjaan, tempat melancong yang berada di Bekasi dan Karawang, ini dapat dieksplorasi di akhir pekan. Cobalah habiskan libur akhir pekan Anda selama dua hari di kota ini.

Hari pertama 

Rumah Pohon Bekasi 

Layaknya destinasi digital di kota-kota lain yang mengunggulkan wahana-wahana Instagramable, rumah pohon yang berlokasi di Jalan Raya Parpostel, Jatiasih,memiliki keutamaan sebagai destinasi berfoto. Di tengah kota, kompleks kawasan wisata alam ini menawarkan pemandangan asri berupa lansekap hijau alami. Di antara pohon-pohon, dibangun rumah-rumah kayu. 

Rumah tersebut bisa dimanfaatkan untuk aktivitas luar ruang. Selain itu, menjadi lokasi menongkrong sambil menikmati udara segar. Benar-benar seperti tak sedang berada di kota. 

Di sana tersedia flying fox, jembatan gantung, dan panjat dinding yang menantang adrenalin. Untuk dapat merasakan wahana ini, pengunung harus membayar Rp 70 ribu per orang. Bila kepingin yang lebih memacu adrenaline, pelancong juga bisa menikmati wahana All Terrain Vehicle (ATV). Tiket ATV dibanderol Rp 40 ribu per orang. 

Alamat: Rumah pohon Bekasi, Jalan Raya Parpostel, Bekasi

Telepon: 021-32700780

Taman Rusa Kemang Pratama 

karawang bekasi di antaranya mengunjungi taman rusa kemang pratama

Rusa tak hanya ‘bermukim’ di Bogor. Di kampung tetangga dekatnya, Bekasi, hewan yang ikonik karena tanduknya itu juga dapat dijumpai. Tepatnya di Taman Rusa Kemang Pratama. Lokasinya di Jalan Niaga, Sepanjang Raya, Bojong Rawalumbu, Bekasi. Jenis rusa yang hidup di sini adalah rusa-rusa tutul. 

Tempat ini cocok untuk lokasi berwisata bersama keluarga. Para orang tua dapat mengajak anak-anaknya piknik sembari menggelar tikar dan melihat rusa. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, saat matahari belum terlalu tinggi. Selain menjadi alternatif untuk berlibur, taman rusa kerap dimanfaatkan sebagai lokasi untuk berolahraga. Semisal lari pagi atau senam. Di sana tersedia fasilitas lintasan lari. 

Alamat: Jalan Niaga Raya Blok C nomor 3, Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Bojong Rawalumbu, Bekasi

Lokasi: https://goo.gl/maps/QCBs9e55QSJ2

Pantai Muara Gembong

Tak disangka, Bekasi memiliki pantai. Bahkan ada sejumlah pantai di kota tersebut yang menarik untuk disambangi. Salah satunya Pantai Muara Gembong. Lokasi pantai ini berada di Muara Gembong, Bekasi. Muara Gembong menyajikan panorama lepas pantai khas yang menyejukkan mata. Tak jauh dari Jakarta, lansekap demikian memang jarang ditemui.

Layaknya pantai untuk wisata di daerah lainnya, pelancong akan ramai menyambangi Muara Gembong saat akhir pekan. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Mulai berfoto hingga menyusuri hutan bakau. Ya, Pantai Muara Gembong memang memiliki kawasan hutan bakau. Tersedia kapal motor bila pengunjung ingin mengeksplorasi wilayah hijau tersebut. Sembari menyusuri sungai berair payau, pelancong bisa membidik foto lansekap yang hijau. 

Jika ingin menginap, warga setempat telah menyediakan penginapan sederhana. Wisatawan yang ingin menjajal sensasi bermukim di desa sejenak bisa menginap barang semalam. Adapun untuk akses, pengunjung disarankan untuk membawa kendaraan pribadi. Hanya dibutuhkan waktu dua jam untuk menjangkau Pantai Muara Gembong dari kawasan Kota Bekasi.

Alamat: Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat 17730

Webhttps://goo.gl/maps/g5FgCXpAvQ82

Hari kedua 

Curug Bandung Karawang

Saatnya menjelajahi Karawang pada hari kedua. Kota industri ini terkenal dengan curug alias air terjunnya. Ada sejumlah curug yang menarik dikunjungi, baik yang memiliki daya pikat untuk beratraksi di air maupun sekadar berfoto. Salah satunya Curug Bandung. Meski bernama Bandung, Curug ini bertempat di Karawang. 

Posisi Curug Bandung tepat di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang. Di kaki Gunung Sanggabuana setinggi 1920 meter di atas permukaan laut (mdpl), air terjun ini mengucur pada ketinggian 25 meter. Curug Bandung terhitung sebagai curug terbesar dari rangkaian tujuh curug di Karawang—dimulai dari Curug Peuteuy hingga Curug Picun. 

Hanya, perlu perjuangan lebih untuk menjangkau curug. Wisatawan kudu berjalan kaki sepanjang 3 kilometer dengan medan yang cukup licin. Adapun dari kota, curug itu bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Sebab, medan jalannya telah beraspal kendati rusak di beberapa ruas. 

Curug Bandungan berada dalam satu jalur dengan lokasi wisata lainnya. Di antaranya Kampung Wisata Cigentis, Curug Cigentis, Batu Tumpeng, Curug Peuteuy, Curug Cipanundaan, dan Curug Cikarapyak. 

Alamat: Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang

Lokasihttps://goo.gl/maps/aVNBsSoMt4K2

Kampung Wisata Cigentis 

Saatnya membayar rindu pada panorama hijaunya persawahan dan semili angin sepoi-sepoi di Kampung Wisata Cigantis. Tempat menepi di Karawang Selatan ini menyajikan harmoni alam di kaki Gunung Sanggabuana. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, ranum padi akan menyapa. Keberadaannya cocok untuk para keluarga yang kepingin menikmati suasana perdesaan. 

Di Kampung Wisata Cigentis itu terdapat saung-saung berdiri di tengah sawah. Di sana, pelancong dapat makan bersama keluarga, kerabat, atau menjalankan sejumlah kegiatan menarik. Tempat ini bisa didatangi dalam lingkup liburan keluarga maupun liburan komunal atau beramai-ramai. 

Di lokasi melancong tersebut, terdapat sejumlah fasilitas untuk kegiatan luar ruangan. Misalnya rumah balon, flying fox, bunge jumping, waterpark, perahu bebek, hingga lapangan futsal.

Alamat: Karawang Selatan, Wargasetra, Parakan Badak, Mekarbuana, Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat 17550

Telepon: 082299881745

Vihara Shia Jin Ku 

Tak hanya curug dan atraksi alam, Karawang juga punya vihara. Vihara yang kerap disambangi turis adalah Vihara Shia Jin Ku. Vihara ini tergolong yang tertua di Karawang karena telah dibangun sejak 1770. Konon, vihara itu menjadi tempat untuk rombongan dari Cina ketika mendarat di Teluk Ujung Karawang, tepatnya di Muara Cabangbungin. Dalam rombongan itu, terdapat orang-orang suku Khouw, Lauw, dan Tjiong. 

Vihara itu konon dibangun oleh tiga marga tersebut. Namun, pada perjalanannya, vihara ini mengalami pembangunan yang cukup masif. Renovasi dilakukan di sisi vihara yang dekat dengan Sungai Citarum. Sungai itu memisahkan Karawang dan Bekasi. 

Vihara Sian Jin Ku Poh saat ini dikelola oleh Yayasan Sian Djin Ku Poh. Pengelola acap menggelar kegiatan saat agenda-agenda besar dalam peringatan kalender Cina berlangsung. Misalnya akan dihadirkan Barongsai atau Liong. Pertunjukan ini kerap memikat wisatawan.

Alamat: Jalan Muhamad Toha nomor 9, Karawang 41316

Lokasi: https://goo.gl/maps/QtruUwVBJYK2

Liburan Ke Palembang, Asyik 3 Hari 2 Malam

Liburan ke Palembang selama 3 hari 2 malam banyak di sekitar sungai Musi.

Liburan ke Palembang sudah pasti menyenangkan. Ini kota terbesar ke dua di pulau Sumatera setelah Medan di Sumatera Utara. Begitupun, dari segi usia, ibukota Sumatera Selatan ini justru lebih tua. Ia bahkan termasuk kota tertua di Indonesia.

Liburan Ke Palembang

Kota ini sudah berdiri sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan berumur setidaknya 1337 tahun berdasarkan Prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang.

Kota ini dikelilingi air bahkan boleh disebut jika ia terendam oleh air yang bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Hingga saat ini Palembang masih terdapat sekitar 52 persen tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990).

Pulau Kemaro Palembang menjadi salah satu daya tarik saat Imlek dan Cap Go Meh.
Kelenteng Kemaro di Palembang, Sumatera Selatan. Foto: shutterstock

Atas kondisi itulah kemungkinan nenek moyang orang-orang kota ini menamakan tempat ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu).

Menurut bahasa melayu Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang bisa dikatakan sebagai suatu tempat yang digenangi oleh air. Kota ini sendiri terkenal dengan Jembatan Ampera yang membentang di atas sungai Musi.

Lalu apa saja yang bisa diagendakan jika liburan ke Palembang dalam tiga hari dua malam?

Ada sejumlah penerbangan dari Jakarta ke kota pempek ini. Semua mendarat di Bandara Sultan Mahmud Baddaruddin II yang berjarak sekitar 14 kilometer ke pusat kota atau biasa ditempuh sekitar 25-30 menit dengan mobil.

Pesawat paling pagi yang mendarat di bandara kota ini adalah pada pukul 7. Jika menggunakan penerbangan ini, liburan ke Palembang bisa dimulai sebelum check ini ke hotel.

HARI PERTAMA

Kedaton Sultan Palembang

Dari Bandara, perjalanan langsung menuju ke Kedaton Sultan Palembang atau Keraton Sultan Palembang yang terletak di kawasan Kemuning. Ini sekitar dua kilometer sebelum masuk kota. Kunjungi Istana Kedaton, bekas kediaman Sultan Palembang. Di sini, wisatawan bisa menyaksikan peninggalan sejarah Palembang, termasuk koleksi senjata, lukisan, dan perabotan antik.

Masjid Agung Palembang

Puas berkeliling keraton, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Masjid Agung Sultan Mahmud Baddaruddin I Palembang di kawasan Ilir 19. Jaraknya sekitar lima kilometer dari Keraton.

Nikmati keindahan arsitektur Masjid Agung Palembang yang megah dan anggun dan dibangun pada abd ke 18. Tak ada salahnya menyesuaikan waktu salat Duhur sehingga bisa memiliki pengalaman salat di sini.

Pempek Palembang adalah makanan khas daerah ini yang wajib dicicipi.
Pempek Kapal Selem Peelmbang Foto: shutterstock

Kampung Pempek 26 Ilir

Setelah selesai salat, waktunya makan siang. Cobalah mampir ke Kampung Pempek Ilir 26 yang terletak di Jalan Beringin Janggut, Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang. Di Kampung Pempek 26 Ilir, kamu bisa menemukan banyak kedai pempek yang menjual pempek lenjer, pempek kulit, pempek kapal selam, pempek adaan, dan pempek lenggang.
Pulau Kamaro

Dari Kampung Pempek, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Kemaro di tengah Sungai Musi, yang terkenal dengan Pagoda yang dibangun di tengahnya.

HARI KE DUA

Musi Riverfront

Selesai sarapan, saatnya jalan-jalan menikmati pemandangan kota Palembang dari tepi Sungai Musi dan berjalan-jalan di sepanjang Musi Riverfront. Sebaiknya tidak terlalu siang agar tidak terlalu panas.

Jembatan Ampera

Jangan lupa untuk mengunjungi landmark kota Palembang yang terkenal ini yang mempunyai keindahan panorama kota Palembang dari atas jembatan.

Bumi Sriwijaya Museum

Belajarlah tentang sejarah kuno Palembang dan kerajaan Sriwijaya di museum yang terkenal ini. Lokasi museum ini tepat di situs Kerajaan Sriwijaya.

Makan Malam

Makan malam cocoknya makan menu Palembang lain yang terkenal, pindang ikan. Pilihannya adalah Rumah Makan Pindang Sri Melayu di Jalan Demang Lebar Daun.

HARI KE TIGA

Benteng Kuto Besak

Setelah sarapan dan check out dari hotel, saatnya mengunjungi peninggalan sejarah Palembang lainnya, yakni Benteng Kuto Besak. Ini menjadi salah satu peninggalan bersejarah Palembang, dengan keindahan arsitektur yang masih terawat dengan baik.

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya

Dari Benteng Kuto Besak kita bisa kembali ke sejarah Kerajaan Sriwijaya dan lihatlah peninggalan zaman dahulu di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya yang terletak di Kelurahan Pemulutan.

Pasar Ilir 26 Palembang
Salah satu pusat oleh-oleh Palembang

.Oleh-oleh di Pasar 16 Ilir

Sebelum pulang wisatawan dapat mampir lagi ke Pasar 16 Ilir. Belanja oleh-oleh dan cendera mata di pasar tradisional terkenal ini. Di sini menjual aneka barang, seperti kain tradisional, makanan khas, dan souvenir.

Itulah beberapa kegiatan yang dapat dilakukan selama liburan ke Palembang tiga hari dua malam. Pastikan untuk mengatur jadwal yang fleksibel sehingga bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Selamat berlibur!

agendaIndonesia/audha alief P

*****

Liburan Di Likupang, 1 Hari Yang Indah

Liburan di Likupang bisa dilakukan dalam satu hari.

Liburan di Likupang di Sulawesi Utara bisa dinikmati dalam satu hari. Banyak orang pergi ke provinsi ini untuk urusan pekerjaan, sehingga wisata jadi dinomorduakan karena  persoalan waktu. Tapi betulkah waktu menjadi masalah?

Liburan di Likupang

Jika sedang dinas ke Sulawesi Utara, umumnya orang hanya akan langsung menikmati nama Manado atau paling jauh Bunaken karena destinasi wisata yang satu ini dekat dengan ibu kota Sulwesi Utara tersebut. Padahal, ada destinasi  indah di provinsi ini, yaitu Likupang.

Likupang merupakan kawasan dengan pesona alam yang luar biasa indah. Terutama keindahan pantai dan bawah laut yang eksotis. Itu sebabnya, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang liburan ke tempat ini untuk beach hopping.

Selain mengunjungi deretan pantai berpasir putih di Likupang, masih banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan pelancong. Seperti melihat pemandangan alam dari atas bukit, island hopping, hingga nonton event megah tahunan di Likupang.

Liburan diLikupang, salah satu surga wisata bahari di sebelah utara Indonesia.
Pantai Paal di Likupang. Foto: shutterstock

Tapi kembali ke soal waktu, mungkinkah menikmati Likupang dalam satu hari? Tentu, ini agenda yang bisa dilakukan pelancong.

Melihat sunrise di Pantai Paal

Satu hari liburan di Likupang bisa dimulai dengan melihat keindahan matahari terbit (sunrise) di Pantai Paal. Meski harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dari Kota Manado, Pantai Paal menawarkan pemandangan matahari terbit yang sangat menawan. 

Setibanya di sana, pelancong akan disambut dengan cahaya matahari pagi yang menembus segerombolan awan tipis. Wow. Belum lagi, pantulan sinar matahari pada permukaan air laut sebening kaca, seakan menyinari dasar laut yang berisi beraneka ikan dan karang. 

Sambil duduk di atas pasir pantai yang lembut, para pelancong bisa menikmati siluet perbukitan yang sangat eksotis dari Pantai Paal. Menawarkan pemandangan alam yang indah dan suasana tenang, wajar jika Pantai Paal menjadi spot sunrise terbaik di Likupang.

Mengunjungi Likupang Tourism Festival

Jika waktunya pas, pelancong bisa mengunjungi Likupang Tourism Festival setelah puas melihat sunrise di Pantai Paal. Pada 2023 LTF diselenggarakan di kawasan Pantai Paal, event tahunan ini semakin meriah dan spektakuler dibandingkan tahun sebelumnya. 

Pasalnya, lebih banyak pelaku ekonomi kreatif yang terlibat di Likupang Tourism Festival. Baik untuk menampilkan berbagai pergelaran seni dan budaya, hingga mengadakan pameran kuliner, kriya, fashion dari Minahasa Utara. Cocok banget untuk mengenal budaya Likupang dalam satu festival, kan?

Liburan di Likupang dengan pilihan pantai dan bukit
Island Hoping dan Beach hoping bisa dilakukan di Likupang. Foto: shutterstock

Menikmati Bukit Larata

Kalau pelancong mencari destinasi wisata untuk menyegarkan diri di Likupang. Maka, mampir ke Bukit Larata adalah pilihan yang tepat. Waktu tempuh hanya sekitar 15 menit dari Pantai Paal. Berbeda dengan area perbukitan pada umumnya, trek di Bukit Larata cukup landai untuk dilewati pemula. 

Selama perjalanan, para pelancong akan disuguhi pemandangan perbukitan yang dipenuhi tanaman ilalang. Sesampainya di puncak Bukit Larata, wisatawan bisa melihat hamparan hijau, berpadu dengan pemandangan laut biru dan Gunung Dua Basudara yang indah bak lukisan. 

Kalau ingin yang lebih syahdu, pelancong bisa berjalan kaki selama 5-10 menit ke Pantai Kinunang. Tak hanya indah, Pantai Kinunang memiliki suasana pantai yang benar-benar bersih dan sepi. Udara sejuk di pantai seakan “mengangkat” beban di pundak dan pikiran secara otomatis.

Beach hopping di Pantai Pulisan

Namanya saja beach hopping, maka Liburan di Likupang selama satu hari akan kurang lengkap kalau tidak jalan-jalan ke Pantai Pulisan. Hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 8 menit dari Bukit Larata, wisatawan bisa menikmati keindahan pantai yang dikelilingi bukit-bukit hijau asri dan indah.

Pantai Pulisan memiliki tiga bagian pantai yang masing-masing dipisahkan oleh tebing batu yang menjorok ke laut. Uniknya, tebing batu tersebut memiliki bentuk seperti gua batu yang terbentuk secara alami. Selain snorkeling untuk eksplorasi keindahan bawah laut, para pelancong satu hari dalam liburan di Likupang bisa mengunjungi rumah apung yang terletak di tengah-tengah laut Pantai Pulisan.

Liburan di Likupang, salah satu surga wisata bahari di Indonesia utara.

island hopping 

Likupang terkenal dengan pesona laut yang sangat indah. Oleh karena itu, jika ada waktu, tidak ada salahnya mencoba island hopping saat liburan di Likupang. Salah satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi untuk island hopping adalah Pulau Lihaga.

Disebut sebagai “kepingan surga” di Likupang, Pulau Lihaga memiliki air laut yang tenang dan sejernih kristal. Itu mengapa, banyak wisatawan datang untuk snorkeling menikmati keindahan bawah laut yang masih terjaga sangat baik. 

Setelah itu, pelancong yang liburan di Likupang bisa duduk santai di atas pasir pantai yang sangat lembut, sambil menikmati pemandangan matahari terbenam yang menawan.

Pulau Lihaga juga sangat cocok dijadikan tempat menginap bagi para pelancong. Di pulau ini ada banyak penginap yang bisa dipilih sebagai tempat bermalam di Likupang. 

Jika tidak, pelancong bisa langsung kembali ke Manado dan mengejar penerbangan malam hari. Ayo Liburan di Likupang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****