Keliling Jawa Barat Dengan Kereta Api

Pandangan udara dari sebuah jembatan kereta api di lanskap sawah di Jawa Barat

Dari balik kaca kereta yang melaju, hutan dan sawah seolah berlarian ke belakang. Dunia para penumpangnya pun dibawa ke masa lampau, ketika roda-roda besi menggerakkan kehidupan di Jawa Barat. Hingga hari ini, jalur kereta dan artefak transportasi itu masih lestari. Lekaslah naik dan rasakan pengalaman melewati terowongan tua, jurang yang menganga, hingga stasiun-stasiun lawas dari abad kesembilan belas.

Jawa Barat Alamnya Indah

Romantisme masa silam tak hanya dapat dinikmati lewat artefak di museum-museum. Jawa Barat justru menawarkan sensasi ini melalui perjalanan di atas roda besi kereta api. Wisatawan dapat memilih bepergian naik kereta wisata dengan fasilitas mewah atau menggunakan kereta lokal yang sarat akan pengalaman unik. Stasiun-stasiun kecil, jembatan tinggi, terowongan tua, dan panorama pegunungan akan memberikan memori tak terlupakan ketika Anda menyusuri sudut-sudut Jawa Barat.

original SB2012031830
Stasiun Kereta Api Bandung, Jawa Barat .
  • Kereta Wisata Jakarta-Bandung

Jalan tol Jakarta-Bandung tak jua lelah menampung ribuan kendaraan dan berjam-jam kemacetan setiap harinya. Mengapa tak mencoba naik kereta dan merasakan eksotisme bentang alamnya? Tinggalkan ponsel Anda dan lihatlah keluar saat kereta melewati jembatan Cisomang, Kabupaten Purwakarta. Ini adalah jembatan kereta tertinggi di Indonesia yang masih aktif. Di kanan-kiri, hanya sungai dan jurang yang menganga sedalam 100 meter!

Naik apa? Perjalanan akan semakin lengkap dengan kereta wisata Argo Parahyangan Priority. Gerbongnya menyajikan kemewahan berupa interior eksklusif, video on demand, jaringan internet nirkabel, dan menu coffee break. Harga tiket Rp 250 ribu untuk sekali jalan.

  • Kereta Lokal Cibatu-Purwakarta

Cibatu adalah sebuah desa di Kabupaten Garut. Maka pengalaman yang akan Anda dapatkan pun identik dengan kehidupan pedesaan yang masih asri dan alami. Sepanjang jalan, hanya ada stasiun-stasiun kecil seperti Karang Sari, Cimindi, Maswati, Plered, dan Ciganea. Selain pemandangan serbahijau, kereta juga melewati terowongan terpanjang yang masih aktif, yaitu Sasaksaat. Lalu di dekat peron Stasiun Purwakarta, Anda akan menemui kuburan kereta warna-warni yang sempat viral di media sosial.

Naik apa? Kereta Simandra hanya bertarif Rp 8.000 sekali jalan. Tiketnya harus dibeli di stasiun Cibatu atau Purwakarta. Namun tiket Jakarta-Cibatu tersedia secara daring, yaitu menggunakan kereta Serayu dengan harga sekitar Rp 63.000.

  • Kereta Komersial Bogor-Sukabumi

Kabupaten Sukabumi memiliki segudang tempat wisata yang menarik, antara lain Situ Gunung dan Geopark Ciletuh. Bepergian ke sana paling pas tentu dengan naik kereta dari Stasiun Bogor Paledang. Selama 2 jam perjalanan, penumpang disuguhi pemandangan yang beragam, dari permukiman, persawahan, dan yang paling mencolok, kemegahan Gunung Salak. 

Naik apa? Kereta yang tersedia adalah Pangrango kelas ekonomi dan eksekutif. Pangrango ekonomi bertarif Rp 30.000 dengan fasilitas AC rumahan dan tempat duduk 2-2 yang berhadapan. Sementara Pangrango eksekutif bertarif Rp 70.000 dengan fasilitas AC khusus kereta dan tempat duduk yang bisa disandarkan.

Bahan dan Foto Dok. Javalane

Dolan Asyik Di Labuan Bajo Dalam 1 Hari

Dolan asyik ke Labuan Bajo di NTT bsa dilakukan dalam satu hari.

Dolan asyik di Labuan Bajo ternyata bisa dilakukan dalam kurun waktu satu hari. Ini tentu di luar waktu tempuh dari daerah asal. Ini biasanya bisa dilakukan jika kebetulan mendapat tugas atau urusan pekerjaan ke wilayah Nusa Tengara Timur. Cobalah sisihkan satu hari untuk menikmati daerah yang kaya budaya dan wisata alam ini.

Dolan Asyik di Labuan Bajo

Tentu saja untuk menikmati seluruh spot di sini sejatinya tak cukup dengan dolan asyik di Labuan Bajo dalam satu hari. Bahkan banyak yang bilang seminggu pun masih terasa kurang. Banyak sekali yang isa dikunjungi di sini.

Sarapan di Labuhan Bajo shutterstock
Sebelum dolan seharian, bisa dimulai dengan sarapan “mewah” nasi goreng dengan pemandangan laut yang indah. Foto: shutterstok

Lalu apa saja yang bisa dilakukan dalam dolan asyik di Labuan Bajo jika cuma waktu satu hari? Agenda di bawah ini mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Pertama: Berburu Sunrise di Pantai Waso

Pengunjung bisa memulai hari di Labuan Bajo dengan menikmati matahari terbit (sunrise) yang eksotis di sini. Ada sejumlah spot yang keren, namun salah satu destinasi wisata di Labuan Bajo yang menawarkan titik sunrise terbaik adalah Pantai Waso.

Terletak di Desa Benteng Dewa, Kecamatan Lembor Selatan, Manggarai Barat, Pantai Waso memiliki daya tarik yang tidak dimiliki pantai lainnya.

Saat matahari terbit, pelancong akan disambut pemandangan matahari terbit dengan latar belakang perbukitan hijau yang mengelilingi pantai. Ditambah lagi, pantulan sinar matahari di bebatuan pinggir pantai seakan memancarkan kilau yang sangat indah. 

Ke dua: Island Hopping 

Ketika matahari sudah utuh di langit, saatnya menikmati Labuan Bajo sebagai wisata kepulauan. Dolan asyik ke Labuan Bajo kurang lengkap tanpa island hopping, atau eksplorasi dari satu pulau ke pulau lainnya. Bakal menjadi pengalaman yang tak terlupakan, para pelancong bisa melakukan island hopping dengan menggunakan kapal phinisi.

Dolan asyik di Labuan Bajo bisa dilakukan Kapal phinisi yang bisa dipakai untuk island hopping ke pulau Komodo.

Wisatawan bisa naik phinisi untuk island hopping ke Pulau Komodo. Sesampainya di Pulau Komodo, mereka bisa melihat sekitar 2.000 komodo secara langsung di pulau tersebut. Selain itu, wisatawan juga bisa menyelami keindahan bawah laut yang dipenuhi hamparan terumbu karang dan berbagai spesies ikan warna-warni.

Ke tiga: Singgah di Desa Wae Rebo

Dari pulau Komodo, para wisatawan bisa mengisi waktu dolan asyik di Labuan Bajo di siang hari dengan mengunjungi destinasi wisata berkelanjutan di Labuan Bajo. Salah satunya berkunjung ke Desa Wisata Wae Rebo di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese, Manggarai Barat.

Desa wisata ini terus berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Baik dengan membatasi penggunaan listrik, mengolah makanan dari hasil kebun sendiri, serta menjaga kearifan lokal. Bahkan, Desa Wisata Wae Rebo masih menjaga tujuh rumah adat Mbaru Niang yang diakui sebagai situs warisan budaya dunia. 

Dolan asyik di Labuan Bajo perlu mampir ke Desa Wae Rebo.
Desa Wae Rebo di Manggarai Barat. Foto: Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo

Selain Desa Wisata Wae Rebo, di daerah ini masih banyak desa wisata lain yang tidak kalah menarik dikunjungi saat dolan asyik ke Labuan Bajo, yakni Desa Bena, Desa Wologai, Desa Cancar, atau Desa Tololela. 

Ke empat: Asyiknya Sunset di Pantai Waecicu

Setelah island hopping dan menikmati ragam budaya di desa wisata, menjelang sore para wisatawan bisa beristirahat di pinggir pantai sambil menikmati sunset di Labuan Bajo. Dari banyaknya pilihan pantai indah yang ada, Pantai Waecicu jadi spot sunset terbaik yang bisa dipilih.

Hanya dengan duduk di atas pasir pantai yang lembut, pelancong akan merasakan semilir angin yang menyegarkan. Menyeruput segelas minum segar sambil disinari sinar matahari terbenam yang eksotis, seakan melunturkan rasa lelah setelah seharian keliling Labuan Bajo. 

Ke lima: Dinner di Pinggir Pantai

Selesaikan dolan asyik di Labuan Bajo? Belum. Setelah puas berkeliling menikmati destinasi wisata unggulan, saatnya makan malam. Pilihannya adalah di Kisik Seafood and Grill. Berlokasi tidak jauh dari Pantai Waecicu, restauran ini merupakan salah satu tempat makan seafood di pinggir pantai. 

Kalau ingin yang lebih autentik, wisatawan juga bisa mencari restoran lokal yang menyajikan olahan makanan khas Labuan Bajo dengan cita rasa yang istimewa. Dengan menu-menu khas lokal yang sedap.

Salah satunya ikan kuah asam, yakni olahan ikan kerapu yang dimasak menggunakan belimbing wuluh sebagai bahan utama. Perpaduan daging ikan lembut dengan kuah asam segar yang khas sungguh menyegarkan setelah dolan seharian.

Makanan khas Labuan Bajo lain yang tidak kalah menarik dicoba adalah rumpu rampe: oseng daun dan bunga pepaya yang dimasak dengan rempah khas Labuan Bajo. Biasanya, rumpu rampe dihidangkan bersama ikan bakar atau sei sapi, untuk menetralisir rasa pahit gurih yang nikmat. 

Bisa kan, sehari menikmati Labuan Bajo? Ayo agendakan waktumu saat mampir ke daerah ini.

agendaIndonesia/kemenparekraf

****

Dua Hari Mengitari Kota Labuan Bajo (2)

labuan bajo2 andi prasetyo IMG 6243

Ibu kota Kabupaten Manggarai Barat dengan suguhan senja berupa siluet pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran. 

Sebagai tempat persinggahan sebelum menuju Pulau Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sesungguhnya memberi tawaran wisata yang tak kalah menarik. Dari objek wisata berupa bukit, pantai, gua, sampai kehidupan masyarakatnya. Penjelajahan kota ini membutuh waktu sekitar dua hari. 

Labuan Bajo Hari Ke Dua

Pulau Kelor

Awak kapal mulai menarik tali jangkarnya. Biduk besar yang saya tumpangi akan berderu selama satu jam, meninggalkan daratan Labuan Bajo menuju Pulau Kelor. Pulau ini termasuk satu dari gugusan pulau kecil yang ada di sekitar kota di barat Nusa Tenggara Timur tersebut. Tak banyak orang tahu keindahannya lantaran jarang disinggahi turis. Padahal, ada dua lanskap yang menawan ditawarkan, yakni di laut dan di bukit. Pulau Kelor terdiri atas bukit berbentuk kukusan dengan bibir pantai yang cukup luas. Dari atas, tampak hamparan laut bersama gradasinya yang memukau. Di bibir pantai, orang bisasnorkelingmenyaksikan koral warna-warni menari. 

Ciao Hostel & Resto

Kala matahari meninggi di pulau, ide yang paling baik adalah kembali ke darat untuk mengisi perut. Ada sebuah restoran dengan masakan western cukup ternama tak jauh dari Pelabuhan Labuan Bajo. Lokasinya berada di lantai dua Ciao Hostel. Pilihannya berupa spageti atau pasta lainnya yang dimasak dengan beragam cara. Harganya berkisar Rp 43-73 ribu. Selain itu, ada aneka jus. Di semua sudut Restoran Ciao ini, tamu bisa langsung menghadap ke laut lepas. Ada gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya. 

Pelabuhan Labuan Bajo

Menjelang senja, beranjak ke Pelabuhan Labuan Bajo di Jalan Soekarno Hatta adalah ide menarik. Di sana, terlihat surya pulang ke peraduannya diiringi suara mesin kapal yang masih melaut. Pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran Flores yang tak ada putusnya mulai berubah warna jadi hitam, mengabarkan siluet. Pendar-pendar lampu mercusuar menyala, mengesankan alam pada malam yang romantis. Di situ pula, tergambar keaslian kehidupan masyarakat sekitar. Tak perlu mengeluarkan bujet untuk menikmati sore menjelang petang yang syahdu di sini. 

La Cucina

Kembali malam, suasana Kampung Tengah sebagai sentra berkumpulnya para turis mulai menampakkan kehidupannya. Kafe-kafe berjajar di sepanjang jalan. Namun ada satu yang paling menarik lantaran interiornya banyak menggambarkan pernik bahari. Namanya La Cucina. Konsepnya fusi Italia-Nusantara. Warna yang diangkat dominan putih dan biru. Kafe ini dulu pernah disinggahi Valentino Rossi ketika ia menyambangi Labuan Bajo. Ada tulisan tangan pembalap kesohor itu di salah satu sudut ruangan disertai tanda tangannya. Harga per porsinya tak terlampau mahal mulai Rp 20 ribu. l

Rosana & Andi Prasetyo 

******

Dua Hari Mengitari Kota Labuan Bajo (1)

labuan bajo 1 andi prasetyo IMG 2141

Ibu kota Kabupaten Manggarai Barat dengan suguhan senja berupa siluet pulau-pulau berbentuk kerucut dan dataran. Sebagai tempat persinggahan sebelum menuju Pulau Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sesungguhnya memberi tawaran wisata yang tak kalah menarik.

Dari objek wisata berupa bukit, pantai, gua, sampai kehidupan masyarakatnya. Penjelajahan kota ini membutuh waktu sekitar dua hari. 

Labuan Bajo Hari Pertama

Tempat Pelelangan Ikan 

Pagi-pagi betul, nelayan turun dari kapal membawa berember-ember ikan yang berisi dari kerapu tungsing, kerapu batik, kue, cumi-cumi, sampai tuna. Penjaja hasil laut memajang ikan-ikan besar nun segar yang dijual dengan harga murah. Tuna seberat 15 kilogram, misalnya, dilelang tak sampai Rp 400 ribu. 

Menyelisik kehidupan asli masyarakat Labuan Bajo di tempat pelelangan ikan yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, tepatnya di dermaga nelayan Kampung Ujung, menjadi pemandangan budaya yang menarik. Di sini, mereka berbicara menggunakan bahasa Manggarai. Umumnya, mama-mama penjual ikan memakai masker kuning dari kunyit untuk menghindari udara laut yang membikin kulit perih. Bila bosan, pengunjung bisa mencoba jajanan pasar tradisional seperti kompyang yang cocok disantap bersama kopi. Mencapainya cukup berjalan kaki sekitar 15 menit dari sentra hotel di Kampung Tengah. Bisa juga naik ojek selama 10 menit dengan biaya Rp 5.000 dari Bandar Udara Komodo. 

Goa Batu Cermin 

Berkendara sekitar 20 menit dari Bandar Udara Komodo, gua besar dengan luas kurang lebih 19 hektare dengan ketinggian kira-kira 75 meter bisa dijumpai. Seorang arkeolog dari Belanda, yang juga berprofesi sebagai pastor, Theodore Verhoven, menemukan gua itu lantas menggalinya sebagai potensi pariwisata sejak 1951. Di bagian atap, terdapat sebuah lubang udara yang memantulkan cahaya. Verhoven kemudian menamakannya gua batu cermin karena dari dalam sana, cahaya yang masuk memberikan efek berkaca-kaca layaknya reflektor. Namun, untuk menuju tengah gua ini, perlu jalan membungkuk demi menerobos celah antara stalatit dan stalagmit dengan jalur yang licin. Menariknya, ada fosil penyu di salah satu sisi atap gua. Ada pula jangkrik gua (Rhaphidophora sp) serta kelelawar yang hidup menggelantung. 

Bukit Sylvia

Dulunya, bukit ini tak punya nama. Hingga akhirnya salah satu operator hotel mendirikan resor di kawasan tersebut dengan nama Sylvia Resort. Jadilah orang-orang menamainya Bukit Sylvia. Tempat ini berlokasi tak terlalu jauh dari Bandar Udara Komodo kira-kira 20 menit menggunakan kendaraan. Namun jalannya cukup ekstrem. Buat menuju puncak, pengunjung pun harus trekking kurang lebih 15 menit. Sampai di atas, lanskap bukit-bukit Teletubbies tersaji, di antaranya Pulau Bajo dan Pulau Monyet. Menengok sedikit ke sisi matahari berpulang, tampak Pulau Sabolo dan Kukusan. Daratan Flores 360 derajat pun seakan mengelilingi tubuh. Tak jauh dari Bukit Sylvia, terdapat pantai yang terkenal dengan keindahan pasir putihnya, Wai Cicu. 

Festival Komodo

Festival ini memang rutin diadakan tiap tahun dan umumnya digelar di bulan kedua atau ketiga. Pusatnya di kawasan Gua Batu Cermin, Labuan Bajo. Umumnya, perayaan ini diawali dengan parade patung komodo dengan titik awal Kampung Ujung. Selanjutnya, tiap malam, diadakan pentas tari tradisional, lagu-lagu daerah, dan penampilan grup musik di panggung. Masyarakat bisa menyaksikannya secara gratis. Kala Travelounge bertandang, pertunjukan yang bisa dinikmati pukul 19.00-22.00.

Bajo Paradise 

Tak jauh dari Bukit Sylvia, sekitar 10 menit berkendara, kafe ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Pemiliknya, Maxim, mengatakan kafe yang dibangun sejak 10 tahun lalu itu memang untuk mewadahi para pendatang menikmati sore atau malam ala pantai. Bajo Paradise langsung menghadap ke laut dengan pemandangan pulau-pulau berbentuk kukusan, kapal-kapal berlabuh, dan dermaga putih. Spot bar di ujung kafe menjadi lokasi favorit pelancong menikmati kesyahduan Labuan Bajo. Selain itu, setiap pukul 20.00, selalu ada sekelompok grup musik reggae menghibur pengunjung. Salah satu penyanyinya, Karon Harum, punya warna suara Rasta Bob Marley yang menonjolkan karakter khas Jamaika. Nuansa demikian enak dinikmati dengan meneguk minuman khas Flores, sopi, dan lain-lain.  

Rosana & Andi Prasetyo 

******

Dari Sabang Hingga Takengon Selama 5 Hari

Dari Sabang hingga Takengon rasanya butuh waktu lebih dari 5 hari

Dari Sabang hingga Takengon sesungguhnya jarak dan ruang yang cukup jauh. Begitu banyak hal bisa dilakukan untuk menikmati negeri Serambi Mekah ini, tak adil rasanya jika harus “dikunyah” cepat-cepat.

Dari Sabang Hingga Takengon

Apa boleh buat kadang untuk pekerja, waktu adalah barang yang sangat mewah. Maka ketika cuma memiliki waktu lima hari dan ingin merambah begitu banyak tempat di Nangroe Aceh Darusalam, pilihan perjalanan dari Sabang hingga ke Takengon ini bisa dicoba diagendakan. Jika terasa berat dan melelahkan, bisa dipilih yang lebih tenang menikmatinya.

Hari Pertama: Tiba di Banda Aceh

Sudah pasti mengelilingi kota Banda Aceh setelah menapakkan kaki di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda adalah agenda yang masuk akal. Bagi teman-teman muslim, jika datang saat sekitar waktu sholat, rasanya wajib mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di Jalan Moh. Jam.

Bahkan jika tak pas waktu sholat pun, rasanya mengunjungi masjid ini wajib. Ini adalah bangunan yang sangat ikonik dan bersejarah. Terlebih jika mengingat tragedi tsunami 2004 lalu, di mana bangunan masjid ini kokoh berdiri meski diterjang bah.

Dari Masjid Baiturrahman, sempatkan mengunjungi Museum Tsunami di tengah kota, menaiki kapal PLTD apung di Punge Blang Cut. Kapal itu merupakan pengingat akan kuatnya gelombang air laut yang menghantam Aceh pada 2004.

Namun keliling kota perlu dipersingkat. Ada tempat yang juga layak dikunjungi, Kilometer 0 di Pulau Weh.Jadi, setelah mengelilingi Banda Aceh, pengunjung bisa menuju Pelabuhan Ulee Lheu. Desau angin dan empasan ombak seakan memanggil untuk menyeberang.

Dari Sabang hingga Takengon bisa dilakukan dalam waktu 5 hari.
Tugu Kilometer 0 di Pulau Weh, Aceh, . Foto: Dok. shutterstock

Kapal membuang jangkar sore hari di Pelabuhan Balohan, setelah menyeberang dengan feri dari Ulee Lheu. Dermaga Pulau Weh rasanya cukup sesak oleh pedagang. Jika tak terlalu terlalu sore, segeralah menuju ke bukit yang berjarak 29 kilometer dan bisa dicapai sekitar 1,5 jam berkendara. Di sanalah Tugu 0 Kilometer berada.

Hari ke dua: Keliling Sabang, Kembali ke Banda Aceh

Pagi hari, cobalah berkeliling dari pantai ke pantai, berperahu di Danau Aneuklaot yang sejuk dan sepi, kemudian duduk minum kopi di depan Gedung Kesenian Kota Sabang. Jalanan di Kota Sabang sangat sejuk. Orang di sini menaruh hormat pada pohon. Saat membuat jalan pun pepohonan tidak ditebang. Tak mengherankan, di tengah jalan kota, ada pohon menghunjam agak ke tengah jalan. Sore, kembali menyebarang ke Banda Aceh. Waktu memang mepet untuk menikmati Aceh dari Sabang hingga Takengon.

Hari Ke Tiga: Mencari Kopi ke Takengon

Dari Banda Aceh terentang jarak 400 kilometer menuju dataran tinggi Gayo—daerah pusat kopi arabika di provinsi ini. Tiga kabupaten di Tanah Gayo dipenuhi tumbuhan penghasil kafein itu, salah satunya Takengon. Ini adalah bagian ke dua perjalanan dari Sabang hingga Takengon.

Kota kecil peninggalan pemerintah kolonial yang dibangun abad ke-20 ini terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi di tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu merupakan salah satu penyuplai kopi arabika terbesar dunia.

Perlu tujuh jam menuju daerah ini. Umumnya pengunjung sampai Takengon sudah sore. Atau, jika berangkat skitar pukul 21.00, saat subuh mini bus dari Banda Aceh tiba di sana setelah membelah hutan dan memanjati lika-liku jalan yang mulus menuju pedalaman.

Di Takengon, pengunjung bisa dengan mudah menjangkau sentra perkebunan kopi. Hanya perlu waktu 30 menit berkendara dari pusat kota. Untuk menikmati secangkir kopi arabika, silakan mampir di warung-warung yang tersebar di kota ini.

Bila ingin cita rasa berbeda, Anda dapat mencicipi kopi khas penduduk Gayo: kopi robusta dataran tinggi. Sembari menyeruput kopi, Anda bisa menikmati embusan angin yang dingin.

Hari Ke Empat: Kopi Gayo Dan Danau Laut Tawar

Di pagi dan senja, kabut tipis turun di sekeliling bukit-bukit hijau perkebunan kopi. Ada sebagian kebun yang agak tandus berwarna abu-abu kecokelatan. Perpaduan warna cerah dan suram itu tampak menawan jika dipandang dari kejauhan.

Dari Sabang hingga Takengon perlu perjuangan panjang, namun sangat layak diperjuangkan dan dinikmati.
Kawasan di sekitar Danau Laut Tawar, Aceh Tengah. Foto: Dok. Unsplash

Gayo punya tradisi berkuda. Penghormatan atas kuda masih terasa di sini. Kenangan akan kuda yang dipacu mengingatkan orang-orang pada sejarah. Kuda adalah mesin perang mereka yang tangkas, di samping sebagai pengangkut karung-karung kopi.

Bila tertarik berkuda, pemilik kuda akan mengantar berkeliling memasuki perkebunan kopi. Bayaran untuk naik kuda ini terserah para wisatawan. Jika ingin menonton pacuan kuda, datanglah pada bulan tertentu, misalnya Agustus. Pada Mei setiap tahun, pemerintah mengadakan Festival Danau Laut Tawar dengan berbagai perlombaan.

Danau ini dikelilingi gundukan tanah yang ditanami kopi. Ke mana mata diarahkan, pohon-pohon kopilah yang tampak. Hanya sebagian kecil dataran yang ditanami padi. Pengunjung bisa juga mengelilingi Danau Laut Tawar dengan menyewa perahu sembari, lagi-lagi, menikmati kopi. Pemandangan hijau terhampar berkelok-kelok di sekeliling.

Dari Sabang hingga Takengon sungguh perjalanan mimpi bagi para pecinta kopi.
Menyeduh kopi. Foto: Dok. unsplash

Hari Ke Lima: Kembali ke Banda Aceh dan Jakarta

Hari ini saatnya kembali ke Banda Aceh dengan menumpang bus.Jika tiba cepat dan masih ada waktu. Di Banda, sebelum terbang kembali ke Jakarta, sempatkan membeli oleh-oleh khas Aceh. Kalau kopi, tentu saja sudah dibawa dari Gayo.

Nikmati pulau Taman-taman kota yang sejuk, jalanan, dan perumahan telah dibuat teratur. Warung-warung kopi mengeluarkan aroma sedap yang memanjakan hidung. Aroma martabak daging dan mi Aceh, dengan bawang putih plus minyak dan merica, berebut masuk ke hidung saya. Aah… lima hari sungguh waktu yang kejam buat menikmati Aceh dari Sabang hingga Takengon.

agendaIndonesia

*****

2 Hari Menyusuri Badung sampai Tabanan (Hari 2)

Maskapai Batik Air melakukan penernangan ke dua kota di Australia. Keberangkatan dari Bali.

2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan wisatawan bisa menikmati sejumlah pantai dan spot wisata. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang. Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik. 

2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Ke-2

Memulai hari di Bali tak melulu harus dengan  bubur kuning atau nasi jinggo. Ada juga  lak-lak—jajanan khas Singaraja. Bentuknya serupa dengan serabi, hanya berukuran lebih kecil. Di atasnya dibubuhi parutan kelapa dan gula merah cair. Saat menyusuri Krobokan, tepatnya di Jalan Raya Canggu, saya menemukan warung kecil yang menjual penganan ini. Wangi daun suji langsung merebak. Dua-tiga biji langsung habis dilahap. Enaknya dilahap hangat-hangat. Tentu dinikmati bersama dengan kopi Bali. Sepiring berisi lima lak-lak dibanderol Rp 5.000. Ada penganan lain di sini, seperti olen-olen (kue yang berbahan dasar ketan hitam) dan pisang rai (pisang yang diolah bersama dengan tepung beras).

Pantai Batu Bolong

Setelah mengisi perut, saatnya bergerak ke utara. Lebih-kurang 10 menit atau sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya Krobokan, ada pantai yang menjadi favorit turis. Pantai Batu Bolong yang berkarang. Bahkan, di beberapa titik, terdapat karang-karang besar yang memberikan efek estetis. 

Pasirnya halus, meski tak terlampau putih. Ruang bermain, juga berjemur, cukup luas. Orang bisa bersantai menikmati lanskap. Dapat juga berenang di pinggir pantai, berselancar, atau berwisata religi. Selain terkenal sebagai pantainya para surfer, Batu Bolong memang kesohor lantaran terdapat pura besar di sana. Jadi mereka bisa melihat orang-orang Hindu bersembahyang atau menggelar upacara. 

Echo Beach

Cukup berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Pantai Batu Bolong, jajaran kafe dan restoran di sebuah gang berderet rapi. Muaranya adalah Echo Beach. Makin mendekat ke pantai itu, tempat-tempat nongkrong semakin banyak. Berupa pantai berkarang dengan air yang tak terlalu jernih dan pasir yang sudah berubah kecokelatan. Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain duduk-duduk menikmati suara ombak atau angin sepoi-sepoi sembari menyeruput segelas koktail

Pantai Seseh

Lepas menikmati siang di Echo Beach, yang juga menjadi penanda ujungnya pantai di Badung, saatnya beranjak menuju Mengwi. Sekitar 20 menit berkendara menuju utara, melewati persawahan dan kebun-kebun pohon kelapa, sebuah pantai dengan dominasi abu-abu menyapa. Entah, siang itu memang rona Seseh menunjukkan atmosfer yang kalem. Berbeda jauh dengan pantai-pantai sebelumnya, yang penuh ingar-bingar kafe, bean bag, lazy chair, dan warna-warni papan selancar. Rupanya, pantai ini  kental dengan upacara adat. Pasca-hari raya Galungan, Kuningan, dan sebagainya, pantai ramai dikunjungi warga lokal. 

Tanah Lot

Selain Kuta, primadonanya Pulau Dewata adalah Tanah Lot. Pantai yang bisa dijangkau 18 menit dari Pantai Seseh atau 1 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ini memiliki pesona yang komplet, memadukan keindahan lanskap, budaya, mitos, religi, dan sejarah yang kental. Di pintu masuk, tamu disuguhi pemandangan gapura khas arsitektur Bali yang megah menghadap ke pantai. Di samping kiri, di sebuah pendopo, sekelompok pemusik gamelan memainkan alatnya masing-masing. 

Di ujung, terlihat pura besar dikelilingi air laut yang biru. Orang hanya bisa ke sana kalau gelombangnya surut. Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah karang besar dengan lubang di bagian tengahnya. Apalagi kala senja, saat langit memerah, Tanah Lot seperti terbingkai dalam lukisan. 

Pie Susu Dhian

Ke Bali tak lengkap kalau tak membeli piesusu. Oleh-oleh khas Pulau Seribu Pura yang punya cita rasa manis campur gurih itu memang bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh. Namun, kalau ingin memborong, sebaiknya langsung datang ke sentranya, yakni di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar. Sekitar 55 menit bila berkendara dari Tanah Lot. Piesusu berisi 25 buah dibanderol dengan harga Rp 35 ribu, sedangkan paket yang berisi 50 buah dihargai Rp 70 ribu. 

Rosana & A. Prasetyo

*****

2 Hari Menyusuri Badung sampai Tabanan (Hari 1)

Pantai Finns Bali 1

2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan adalah jalan-jalan yang senantiasa menyenangkan. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang.

Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik. 

2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Pertama

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau jogingberkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima. 

Pantai Batu Belig 

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing. 

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini. 

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam. 

Warung Mina 

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang. 

F. Rosana & A. Prasetyo

*****

Pulau Cinta di Gorontalo yang Asyik

Pulau Cinta di Gorontalo

Pulau Cinta di Gorontalo semakin populer sebagai alternatif tempat liburan. Bukan sekadar dikunjungi, tapi pilihan menginap yang asyik. Kota yang bisa dicapai dalam enam jam berkendara dari Manadovia Jalan Trans Sulawesi ini, tengah menjadi incaran para pencandu perjalanan.

Pulau Cinta di Gorontalo

Pulau Cinta di Gorontalo semakin populer sebagai alternatif tempat liburan. Bukan sekadar dikunjungi, tapi pilihan menginap yang asyik. Kota yang bisa dicapai dalam enam jam berkendara dari Manadovia Jalan Trans Sulawesi ini, tengah menjadi incaran para pencandu perjalanan. Gorontalo yang menjadi provinsi ke-32 setelah berpisah dengan Sulawesi Utara pada 2000, ternyata menyimpan destinasi yang tak kalah menggoda. Destinasi yang tengah melambung dari daerah penghasil jagung ini adalah Pulau Cinta.

Sesuai dengan namanya, pulau ini memiliki simbol cinta. Simbol tersebut terbentuk dari 15 cottage yangmengelilingi pulau dan pada lekukannya menunjukkan tanda cinta. Berlibur di sini, pelancong bisa benar-benar menikmati suasana laut sepenuhnya karena lokasi pulau tersebut yang berada di tengah laut. Dikelilingi perairan, antar-cottage di resor yang berada di Patoameme, Butomoito, Kabupaten Boalemo, ini dihubungkan dengan jalan setapak dari kayu yang berada di atas air.

Kebanyakan orangmembayangkankeberadaan Pulau Cinta serupa dengan resor yang berada di Maladewa, yang memang dikenal sebagai tujuan liburan wisatawan dunia.Keberadaan Pulau Cinta bukan satu-satunya pesona, bila ingin yang serupaada jugaPulau Saronde di Gorontalo Utara. Pulau satu ini juga sudah menjadi incaran para turis yang datang.

Obyek wisata di provinsi ini tersebar di setiap kabupaten. Bila kebetulan sampaike Kabupaten Bone Bolango,ada juga pilihan lain, yakni Pantai Botutonuo.Di pantai itulah, turis bisa menikmati keindahan matahari tenggelam. Untuk bisa sampai ke pantai yang tak jauh dari pusat kota Gorontalo itu, hanya dibutuhkan waktu 30 menit dengan mengendarai kendaraan roda empat. Tak jauh dari Botutonuo, ada juga pantai lain, yakni Olele yang bisa ditempuh dalam satu jam, serta Bolihutuo yang harus ditempuh sekitartiga setengah jam.

Jika ingin berputar-putar di kota, turis juga bisa menemukan peninggalan sejarah yang dikenal dengan namaBenteng Otanaha. Berada di atas bukit di Kelurahan Dember 1, Kecamatan Kota Barat, Gorontalo, ini bisa dicapai dalam 20 menit dari pusat kota. Bangunan yang didirikan pada 1522 ini, terdiri dari tiga bagian yang masing-masing membentuk lingkaran dengan diameter berbeda. Kini, Benteng Otanaha hanya menyisakan bagian dinding-dindingnya saja.

Dari puncak bukit ini juga bisa terlihat pemandangan kota Gorontalo yang berada di bawahnya. Tentu pagi atau sore hari menjadi waktu yang cocok untuk menuju bukit ini, ketika matahari tak terlalu terik. Tak jauh dari benteng, bisa ditemukan juga Danau Limboto yang memiliki kedalaman lima sampai delapanmeter. Di sana pelancong bisa sekadar menjadikan Danau tersebut sebagai obyek kamera, menjajal memancing, atau berperahu.Untuk mengangkat destinasi yang satu ini digelar juga Festival Danau Limboto.

Di tepi danau juga bisa dijumpai Museum Pendaratan Soekarno, yang didirikan untuk mengenang kedatangan presiden pertama Republik Indonesia tersebut dengan pesawat amfibi dan mendarat di Danau Limboto pada 1950 dan 1956. Jangan lupa, tentunya pelancong harus menikmati sajian khas, semisal binte biluhuta yang berbahan jagung, ikan, serta sayuran. Sedap!

 

FLIGHT

 Garuda Indonesia. Penerbangan dari Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, menuju Bandara Jalaluddin, Gorontalo, dilayani maskapai nasional ini dalam satu kali setiap harinya, yakni pukul 07.15. Penerbangan yang tidak langsung atau transit satu kali di Makassar ini,berlangsung 4 jam 45 menit. Sedangkan untuk rute sebaliknya dijadwalkan pukul 13.50 dengan tempat transit yang sama yakni Makassar.

 

Batik Air. Perusahaan dari Lion Group ini menjadi pilihan untuk penumpang yang ingin melakukan penerbangan langsung atau tanpa transit. Jadwal dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Jalaluddin pada pukul 02.10 setiap harinya dan frekuensi hanya satu kali dalam sehari untuk penerbangan langsung ini. Dengan waktu penerbangan selama tiga jam, pesawat akan mendarat pada pukul 01.30 di pulau Sulawesi. Untuk penerbangan dari Gorontalo yang juga berlangsung selama tiga jam, dijadwalkan pada pukul 06.55 dan tiba di Cengkareng, Tangerang, pada pukul 08.55.

 

Citilink. Maskapai dengan logo berwarna hijau ini pun hanya menawarkan penerbangan dengan transit terlebih dulu di Makassar selama 2 jam 25 menit. Keberangkatan setiap harinya dijadwalkan pada pukul 04.30dan pesawat akan mendarat di Gorontalo pada pukul 07.55.Untuk penerbangan kembali ke Tangerang, dijadwalkan pada pukul11.00 setiap harinya.

Tur Dua Hari Ke Cirebon (Bagian 2)

Kerajjnan Cirebon ternyata banyak macamnya, ada yang dari kaca.

Tur dua hari ke Cirebon mungkin banyak yang belum meliriknya. Padahal, lokasinya tak jauh dari Jakarta atau Bandung. Dengan dua jam perjalanan, wisatawan bisa mengunjungi kota Cirebon dan menikmati kekayaan budaya masa lalu. 

Tur Dua Hari ke Cirebon

Selama ini kota Cirebon hanya dikenal sebagai tempat persinggahan ketika orang melakukan perjalanan panjang dari Jawa Tengah atau Jawa Timur menuju Jawa Barat atau Jakarta, juga sebaliknya. Padahal, kota ini memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan daerah lain di Pulau Jawa. Maka itu, ada baiknya bila sampai di kota ini, pelancong memperpanjang waktu singgah dan menyempatkan barang dua hari untuk bereksplorasi.

Hari 2

Keraton Kasepuhan

Kira-kira 3 kilometer dari Balai Kota Cirebon, dengan waktu tempuh 12 menit berkendara, keraton yang berlokasi di Jalan Kasepuhan, Lemahwungkuk, ini berdiri. Keraton Kasepuhan menjadi favorit wisatawan kalau mereka bertandang ke kotanya para wali tersebut. Sebab, kawasannya tampak rapi, tertata, bersih, dan terawat. Wisatawan yang datang akan diantar oleh guide yang telah ditunjuk oleh pihak keraton. Mereka lantas akan diajak berputar ke beberapa area.

Kira-kira ada dua kompleks yang membagi keraton, yakni kompleks bangunan bersejarah bernama Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada 1430 oleh Pangeran Cakrabuana dan kompleks Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada 1529. Bangunan di dua kompleks itu masih asli, dengan ciri khas rumah adat Jawa Barat. Keraton juga dibentengi oleh bata-bata merah yang dibentuk menyerupai candi.

Di depan keraton terdapat alun-alun, yang dulu dinamakan Sangkala Buana. Alun-alun ini pada masa lampau menjadi arena latihan prajurit. Selain itu, alun-alun dimanfaatkan sebagai tempat untuk menggelar pentas seni yang bisa dinikmati semua masyarakat. Di samping lapangan, berdiri sebuah masjid yang dibangun para wali.

 

Museum Pusaka

Berlokasi di Kompleks Keraton Kasepuhan, museum ini menampilkan benda-benda pusaka, seperti keris, juga barang-barang peninggalan Padjajaran akhir, Sunan Gunung Jati, Panembahan (panca sunan), sampai benda-benda yang dikeramatkan pada masa kesultanan Sultan Sepuh I hingga Sultan Sepuh XIV. Di dalam museum ini, dipajang juga kereta kencana peninggalan keraton dan lukisan Prabu Siliwangi dengan mata yang tampak bisa bergerak, mengikuti orang yang memandangnya. Dulunya, benda-benda pusaka tersebut disimpan dalam Keraton Kasepuhan. Namun, mulai awal September 2017, keberadaannya dipindah ke museum, yang baru saja dibangun. Untuk masuk ke museum, pengunjung perlu membayar tiket masuk Rp 25 ribu.

 

Taman Sari Gua Sunyaragi

Lima kilometer dari Balai Kota Cirebon, terdapat sebuah taman seluas 15 hektare yang menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berfoto. Di dalamnya bercokol beberapa gua yang terbikin dari karang padas, dinamai Gua Sunyaragi, yang sudah ada sejak 1703. Menurut sejarah, Sunyaragi didirikan oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati.

Gua tersebut dibentengi oleh pagar-pagar candi, seperti layaknya yang terdapat di Bali. Di depannya kini dibangun sebuah panggung pertunjukan yang menghadap langsung ke gua. Panggung ini dimanfaatkan warga sekitar untuk menampilkan seni daerah, seperti tari topeng, di malam-malam libur. Tiket masuk Gua Sunyaragi dibanderol Rp 10 ribu.

 

Sunyaragi Cirebon
Sunyaragi, Cirebon (Rosana)

Masjid Merah

Menjelang sore, saatnya kembali ke kota. Namun, jangan lupa mampir ke Masjid Panjunan, atau yang populer disebut Masjid Merah. Masjid ini berlokasi di Desa Panjunan, Lemahwungkuk. Arsitektur tempat beribadah umat muslim ini cukup unik, memadukan budaya Arab, Tionghoa, dan Nusantara. Seluruh bangunannya terbuat dari bata merah. Di dinding-dindingnya tertempel piring-piring peninggalan orang Arab dan Cina.

Kabarnya, masjid itu didirikan pada 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Dia merupakan keturunan Arab yang memimpin imigran dari Baghdad. Ia lantas menjadi murid Sunan Gunung Jati. Dulu, pada masa kolonial Belanda, masjid ini digunakan para wali untuk mengadakan pertemuan tertutup. Karena itu, ada sebuah ruang khusus yang tak tampak dari depan masjid.

Selain unik lantaran bentuk bangunannya yang mengangkat akulturasi, kebiasaan yang berlaku di masjid ini juga tak bisa. Di sini, tak pernah diadakan salat Jumat.

 

Toko Oleh-oleh Yetti

Sebelum pulang ke kota asal, ada baiknya membawa buah tangan untuk kerabat di rumah. Ada banyak toko yang menjajakan oleh-oleh di Cirebon. Namun, salah satu rekomendasi yang murah, juga lengkap, ada di deretan kios di Pasar Kanoman. Salah satunya toko oleh-oleh Yetti. Ia sudah 20 tahun berjualan di sana. Sebab itu, segala penganan yang menjadi favorit pelancong pun dihapalnya.

Menurut perempuan 40 tahun tersebut, buah tangan yang paling laris adalah emping, kue gapit, teh upet, rengginang, sirup Tjampolay, tape ketan daun jambu, kerupuk melarat, dan terasi. Harga yang dijual di sini umumnya lebih rendah dibandingkan dengan di toko oleh-oleh yang terdapat di sekitar kota.

 

 

TRANSPORTASI

  • Dari Jakarta menuju Cirebon tersedia beberapa kereta api dari Stasiun Gambir, yakni Argo Muria, Argo Dwipangga, Taksaka, Argo Bromo Anggrek, Tegal Bahari, Cirebon Ekspres, Bangunkarta, Argo Sindoro, Bima, Argo Jati, Gajayana, Sembrani, Purwojaya.

 

Tur Dua Hari di Cirebon (Bagian 1)

Nasi lengko haji Barno merupakan salah satu 'landmark' kota Cirebon.

Tur dua hari di Cirebon mungkin bisa menjadi alternatif liburan ketika waktu untuk perjalanannya terbatas. Salah satu kota di Provinsi Jawa Barat ini memiliki banyak peninggalan sejarah yang sayang untuk dilewatkan.

Tur Dua Hari di Cirebon

Cirebon selama ini hanya dikenal sebagai tempat persinggahan ketika orang melakukan perjalanan panjang dari Jawa Tengah atau Jawa Timur menuju Jawa Barat atau Jakarta, juga sebaliknya. Padahal, kota ini memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan daerah lain di Pulau Jawa. Maka itu, ada baiknya bila sampai di kota ini, pelancong memperpanjang waktu singgah dan menyempatkan barang dua hari untuk bereksplorasi. Berikut itinerary yang bisa dipilih jika ingin melakukan tur ke Cirebon.

 

Hari 1

Pasar Kanoman

Setelah menyantap bubur, jalan-jalan di pasar sembari mengamati kehidupan masyarakat Cirebon menjadi ide terbaik untuk membuka waktu pelancongan di kota tua ini. Bila berjalan ke arah pelabuhan, kira-kira 10 menit berkendara dari Balai Kota Cirebon, wisatawan bisa menemui sebuah pasar yang memiliki nilai historis tinggi, yakni Pasar Kanoman. Pasar yang sudah ada sejak 1800-an ini berdiri gagah di depan Keraton Kanoman. Dulu, pada masa kolonial, pasar sengaja dibangun Belanda untuk menggembosi kekuatan keraton dan memagari warga supaya sulit mengakses pusat kesultanan. Maka itu, bangunan pasar didesain memiliki dinding-dinding yang tinggi, menyerupai kawasan Pojok Benteng di Yogyakarta.

Dari dulu sampai sekarang, segala aktivitas jual-beli di Cirebon berpusat di sini. Penjaja menjual beragam jenis barang. Ada sembako, makanan dan minuman khas Cirebon yang sudah siap santap, produk kerajinan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Pertama kali masuk ke pasar itu, kita akan mendengar orang-orang berbicara bahasa Sunda bercampur Jawa dengan logat ngapak, yang terdengar sebagai sebuah kekayaan lingustik. Dari situ, wisatawan bisa memotret keaslian masyarakat setempat.

 Keraton Kanoman

Tak sampai 50 kali melangkah dari beranda belakang Pasar Kanoman, pelancong bisa menemukan sebuah keraton tua yang dari gerbang muka tampak sedikit tak terawat. Keraton ini sudah berdiri sejak 1678, dibangun oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I. Keraton Kanoman bisa diakses oleh siapa pun, bahkan warga biasa yang tak memiliki hubungan kekerabatan dengan sultan. Mereka bisa masuk dan melihat rumah sultan, mengunjungi tempat-tempat ritual yang biasa dipakai untuk upacara, sampai berkomunikasi dengan kerabat sultan, penghuni keraton tersebut.

Keraton Kanoman yang berdiri di lahan seluas 6 hektare ini terdiri atas tiga bagian. Bagian depan ialah tempat yang biasa dipakai untuk pentas. Di sana terdapat bangsal yang dimanfaatkan untuk tempat menyimpan gamelan dan alat-alat pentas milik kesultanan. Bangsal tersebut dikepung oleh pagar bumi dengan ornamen piring-piring peninggalan bangsawan Cina yang ditempel di dinding-dindingnya. Sementara bagian tengah, terdapat bangunan bernama Jinem. Bangunan ini seperti joglo yang dipakai untuk penobatan sultan.

Sedangkan di bagian belakang, terdapat rumah sultan dan bangunan keputran, yakni tempat tinggal para putra-putri kerajaan, yang bentuk aslinya masih sangat dipertahankan. Ada pula Witana, yakni tempat untuk permandian kerabat kerajaan—karenanya di sana terdapat sumur tua yang dijaga—juga tempat untuk mengadakan ritual khusus.

 

Sultan Kanoman Cirebon 1
Bangsal Dalem Keraton Kasultanan Kanoman Cirebon (Rosana)

 

Pantai Kejawanan

Memang tak banyak pantai yang dapat dibanggakan di Cirebon, meski kota ini merupakan daerah pesisir. Rata-rata pantai di sana berpasir hitam dengan air laut yang sudah tercemar oleh limbah-limbah kapal. Namun, meski begitu, tak berarti pantai di Cirebon tak layak dikunjungi. Pantai Kejawanan, misalnya. Pantai ini menjadi spot terbaik untuk menikmati matahari terbenam. Ada sebuah dermaga menjorok ke laut yang mengantarkan pengunjung lebih dekat dengan garis pantai. Di sampingnya, berlabuh kapal-kapal pengangkut logistik, juga batu bara.

Kala matahari melungsur, kapal-kapal itu berubah warna menjadi merah-hitam, terkena pantulan lembayung. Kadang-kadang, bulatan surya mengintip di cerobong asap kapal, atau di sela dek, menghasilkan sebuah lanskap yang eksotis. Kalau ingin melihat matahari tenggelam bulat-bulat, tersedia kapal-kapal nelayan yang siap mengangkut wisatawan menuju tengah laut. Biayanya berkisar kurang lebih Rp 50 ribu per orang.

 

Alun-alun Kejaksaan

Menjelang malam, alun-alun yang bersebelahan dengan Masjid Raya At-Taqwa ini kian ramai disambangi muda-mudi, juga keluarga. Tempat tersebut seolah menjadi magnet kehidupan malam di Kota Cirebon. Lampu-lampu taman yang berkedip warna-warni menimbulkan suasana meriah. Di bawah lampu-lampu itu, duduk bergerombol teruna-teruni yang asyik mengobrol. Juga keluarga muda yang tengah mengajak anak-anaknya bermain.

Di lapangan yang luas, menghadap ke arah masjid, terdapat sejumlah permainan bocah, misalnya odong-odong, mobil-mobilan, arena memancing buatan. Di sekelilingnya digelar beragam tenda kuliner. Para penjaja menyediakan bermacam-macam jenis penganan. Yang paling top dan jadi incaran pelancong kalau datang ke Cirebon adalah es durian. Durian yang dipakai beberapa pedagang didatangkan langsung dari Bengkulu atau Medan. Tak heran kalau rasanya membikin ketagihan.

 

Rosana

 

…bersambung Hari ke 2