Ngopi luwak di tegallalang

Ngopi luwak di Tegallang adalah sebuah kemewahan menikmati Bali. Bagaimana rasanya menikmati kopi di kedai kopi yang menyuguhkan pemandangan saah terasering, deretan cangkir dan keindahan alam.

Ngopi Luwak di Tegallalang

Di Tegallalang, Gianyar, tak hanya hamparan sawah yang banyak diburu para turis. Tak jauh dari daerah Ceking, tempat undakan sawah menjadi pemikat wisatawan, bercangkir-cangkir kopi dan teh turut menggoda untuk dicicipi. Saya pun dibikin penasaran. Salah satu kedainya hanya berjarak 5 menit dari pesawahan tersebut, yakni Bali Pulina Agrotourism. Di halamannya sudah berderet kendaraan. Beruntung masih ada ruang.

Hujan belum lama mengguyur Banjar Pujung Kelod, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Memasuki gerbang Bali Pulina, daun-daun pohon kopi dan cokelat pun terlihat begitu segar. Kesejukan amat terasa. Para tamu, termasuk saya, langsung disambut seorang staf. Dengan tenang, staf bernama Budi itu menerangkan proses pembuatan kopi luwak. Sore hari, luwak-luwak sebesar kucing itu asik tidur .

Sawah Terasering di Tegallala ngpatrick craig unsplash

Agrowisata ini mempunyai 20 ekor luwak dengan pakan berupa kopi, mangga, dan pisang. “Diberi jenis kopi arabika yang sudah matang dan seterusnya, binatangnya sendiri yang pilih kopi mana yang mau dimakan,” ujar pria muda tersebut. Tak hanya diajak menonton luwak yang tengah tidur, saya dibawa ke area tempat kopi hasil fermentasi kopi luwak dicuci dan dijemur selama 6-7 hari. “Jika langit mendung, perlu waktu lebih lama,” ucapnya.

Proses selanjutnya mirip kulit ari yang dibuang, kemudian disangrai, yang menjadi sebuah atraksi menarik. Apalagi proses ini dilakukan secara tradisional. Penyangraian dengan penggorengan dari gerabah di atas tumpukan kayu bakar itu berlangsung sekitar 45  menit untuk kopi 1 kilogram. Saat masih hangat, biji kopi langsung ditumbuk dan disaring agar didapat bubuk kopi terbaik.

Perjalanan di agrowisata yang didirikan pada 19 Januari 2011 ini berakhir di ruang santap yang dibuat sederhana seperti warung zaman dulu. Para pengunjung akan mendapatkan delapan cangkir mini yang disajikan di atas nampan kayu. Setiap cangkir berisi teh atau kopi dengan rasa berbeda. Semisal lemon tea, teh jahe, kopi Bali, kopi ginseng, kopi jahe, cokelat, kopi cokelat, dan kopi vanila. Disajikan cuma-Cuma. Hanya, bila ingin mencicipi kopi luwak, secangkirnya dipatok Rp 50 ribu. Selain itu, Anda bisa memesan kopi Bali. Tentu saya tak ingin melewatkan secangkir kopi luwak yang pekat, setelah tubuh disiram hujan sepanjang jalan.

Menyeruput kopi pun ditemani camilan khas Bali, seperti pisang rai dan jaje lukis atau kue lupis. Ada juga pisang goreng. Uniknya, Bali Pulina membuat suasana semakin nyaman. Bukan hanya bangunan dan mebel sederhana model lawas, deck dari kayu pun membuat tamu menikmati alam lebih leluasa.  Deck berbentuk daun itu berada di tiga level yang berbeda. Di sana, para turis berfoto sebelum mencicip kopi dan camilan lain.

Sore itu, Bali Pulina, yang buka pukul 08.00-19.00, benar-benar dipenuhi turis, baik lokal maupun mancanegara, dari berbagai daerah. Sebelum beranjak pulang, saya sempat singgah di kedai khusus oleh-oleh yang menawarkan beragam kopi.  Saya penasaran dengan suguhan dan keberadaan kedai kopi lain saat melanjutkan perajalan ke arah Kintamani. Setelah melewati berbagai agrowisata, akhirnya saya memutuskan singgah di Bhuana Asri Luwak yang baru beroperasi 4 bulan.

Saya disambut Wayan, yang sore itu sudah bersiap pulang. Sebab, kedai kopi yang satu ini hanya buka hingga pukul 5 sore. Namun, dengan sabar, ia mencoba menerangkan agrowisata yang berada di Banjar Tegal Suci, Desa Sebatu, Tegallalang, tersebut.

Seperti halnya di Bali Pulina, di Bhuana Asri saya langsung disuguhin bercangkir-cangkir kecil beragam minuman teh dan kopi. Ada beberapa hal yang berbeda, yang membuat saya kembali mencoba kopi satu per satu. Yang tergolong unik adalah coconut coffee. “Parutan kelapa yang dikeringkan, lalu dicampur gula dan krim,” tutur Wayan, menjelaskan. Rasa kelapa cukup kental membuat kopi tersebut benar-benar berbeda dan unik. Selain itu, ada teh rasa manggis.

Ehmmm…. dengan hawa Kintamani yang semakin sejuk, saya duduk di bangku bambu panjang. Suguhan lain di depan mata adalah bukit hijau. Area untuk duduk dan bersantai tak terlalu luas. Belum disediakan camilan untuk menemani aneka minuman tersebut. Maklum,  pemain baru. Masih ada pilihan kedai lain, seperti Alam Bali Agrowisata dan Alas Harum Agrotourism. l

Rita N./B. Rahmanita/Dok. TL

Yuk bagikan...

Rekomendasi