Situs Sangiran, Jejak 2 Juta Tahun Manusia

Situs Sangiran Solo menjadi salah satu warisan dunia yang dimiliki Indonesia. Foto: Dinas Pariwisata SOlo

Situs Sangiran atau dikenal juga sebagai Situs Prasejarah Sangiran menjadi salah satu obyek wisata pilihan di Solo. Ini merupakan salah satu situs prasejarah paling penting dalam menggambarkan evolusi manusia.

Situs Sangiran

Situs ini berlokasi kira-kira 15 kilometer dari Kota Solo, tepatnya di lembah sungai Solo, kaki gunung Lawu. Secara admnistrasi, Situs Prasejarah Sangiran berada di Kabuptaen Sragen, Jawa Tengah.

Situs Sangiran yang kini juga dikembangkan sebagai Desa Wisata Sangiran, Kabupaten Sragen, terus ramai disebut-sebut di kalangan wisatawan pecinta sejarah. Tahun lalu Desa Wisata Sangiran termasuk salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Situs Sangiran adalah jejak dua juta tahun peradaban manusia.
Situs manusia Purba Sangiran. Foto: dok shutterstock

Daya tarik wisata yang paling terkenal dari Desa Wisata Sangiran adalah Museum Purba Sangiran. Situs manusia purba di Sangiran dianggap menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia. Bahkan, para peneliti beranggapan bahwa situs Sangiran adalah pusat peradaban besar, penting, dan lengkap manusia purba di dunia, karena memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150 ribu tahun lalu.

Situs Sangiran ini mulai ada ketika seorang antropplogi, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, melakukan penelitian di area ini. Hasil penggalian situs menemukan fosil nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus.

Selain itu juga terdapat sekitar 60 fosil Meganthropus palaeojavanicus di situs ini. Sampai sekarang 100 fosil Homo erectus ditemukan di Sangiran dan jumlah ini merupakan 50% dari populasi Homo erectus di dunia.

Situs Sangiran menyimpan kekayaan fosil-fosil purbakala, mulai dari fosil manusia purba, binatang-binatang purba, hingga hasil kebudayaan manusia praaksara. Namun, tidak hanya situs purbakala yang potensial, wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran juga sangat lekat.

Di Desa Wisata Sangiran terdapat wisata air asin Pablengan. Konon, sumber mata air asin ini telah berusia lebih dari 2 juta tahun. Sumber mata air ini terbentuk akibat pergeseran Bumi dan letusan gunung berapi. Adanya sumber Pablengan menjadi bukti perubahan lanskap Sangiran yang awalnya lautan menjadi daratan.

Salah satu koleksi Sangiran shutterstock
Salah satu koleksi purbakala Situs Sangiran. Foto: dok shutterstock

Salah satu wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran adalah Punden Tingkir. Destinasi wisata ini dipercaya sebagai peninggalan Joko Tingkir, karena terdapat sebuah petilasan di dalamnya. Desa Wisata Sangiran juga kental dengan kearifan lokal dan nilai budaya yang potensial untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata.

Salah satu kesenian unggulan dari desa wisata ini adalah Gamelan Renteng, yang usianya lebih dari satu abad, dan masih digunakan hingga saat ini. Ada juga Tari Gerbang Sukowati yang kaya akan nilai filosofis, serta Tari Bubak Kawah.

Sektor ekonomi kreatif di Desa Wisata Sangiran ternyata tidak kalah potensial. Faktanya, profesi sebagian masyarakat di Sangiran adalah pengrajin batu, kayu, dan bambu menjadi modal utama dalam pengembangan produk ekonomi kreatif.

Beberapa produk ekonomi kreatif dari Desa Wisata Sangiran adalah kerajinan watu, batu akik, kapak purba, watu sangir, watu lurik, kerajinan bambu, patung manusia purba, asbak, hingga gantungan kunci. Selain itu ada juga pakaian tradisional khas dari Sangiran yang kerap dijadikan oleh-oleh, yakni iket, atau ikat kepala dari kain batik segi empat yang merupakan warisan dari tetua adat.

Dari segi pengembangan produk kuliner, Desa Wisata Sangiran memiliki beragam produk kuliner yang khas. Seperti olahan bukur, tiwul, balung kethek, sego kuning, jajanan pasar, gendar pecel, bubur srintil, sego bancaan, dan kopi purba.

Salah Satu Artefak di Sangiran shutterstock
Koleksi purba Situs Sangiran. Foto: shutterstock

Faktanya, Desa Wisata Sangiran termasuk dalam kategori rintisan, karena desa wisata ini baru berusia dua tahun. Awalnya, desa yang memiliki nama administratif Desa Krikilan ini memang sudah dikenal oleh masyarakat internasional.

Bahkan telah dinobatkan sebagai World Culture Heritage oleh UNESCO sejak 1996. Sehingga tidak heran masyarakat setempat akrab dengan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan membuat desa ini menjadi visitor center di antara museum lainnya.

Namun, keberadaan museum saja belum cukup memberikan dampak yang signifikan bagi warga. Atas dasar itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Krikilan menggagas ide kreatif membentuk Desa Wisata Sangiran.

Melalui pengembangan desa wisata ini diharapkan ekonomi masyarakat semakin sejahtera. Baik sebagai penjual souvenir, usaha kuliner, tour guide, hingga homestay. Selain itu, menjadikan Desa Krikilan sebagai desa wisata juga diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian budaya setempat.

Pengelola desa wisata berinisiatif membuat paket-paket atraksi wisata untuk menarik minat wisatawan. Tidak hanya mengunjungi ragam atraksi wisata, di sini wisatawan juga bisa mencoba paket kuliner dan paket kerajinan. Kedua paket tersebut menawarkan pengalaman berwisata yang menarik bagi wisatawan di Desa Wisata Sangiran.

agendaIndonesia/kemenparekraf-berbagai sumber

*****

Kebersamaan 4 Keluarga Dalam 1 Rumah Bolon

kebersamaan 4 keluarga dalam 1 rumah Bolon menjadi simbol harmoni keluarga masyarakat Batak Toba.

Kebersamaan 4 keluarga bisa tinggal dalam satu rumah Bolon, rumah adat masyarakat Batak Toba. Satu rumah adat penuh simbol keselamatan ini bisa dihuni empat keluarga.

Kebersamaan 4 Keluarga

Dengan kapal feri dari Pelabuhan Ajibata, Prapat, mobil yang saya tumpangi terangkut hingga Pulau Samosir, Sumatera Utara. Dalam waktu sejam, saya tiba di Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, yang cukup ramai. Beberapa meter meninggalkan pelabuhan, seketika suasana terasa begitu lengang, apalagi di siang yang terik. Namun justru di tengah keheningan saya bisa lebih tenang mencermati satu demi satu rumah khas Batak Toba

Tak lama kemudian, pepohonan di sisi kiri terasa menyegarkan. Tebing dengan hamparan sawah di depannya membuat siang sedikit lebih adem. Akhirnya saya tiba di Desa Ambarita. Sebuah obyek wisata yang menyuguhkan sejarah dan tradisi daerah ini seperti mengundang saya untuk mampir. Tidak lain dari Hutaatau Kampung Siallagan, kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang menarik perhatian saya.

Rumah adat yang disebut juga rumah bolon dari kayu itu berderet rapi dalam benteng batu. Setelah membayar tiket masuk, saya mulai menyimak penjelas sang pemandu, Guido Sitinjak. Berbentuk panggung, rumah ini memiliki atap pelana yang bubungannya melengkung. Ujung atap bagian belakang posisinya lebih tinggi dibanding dengan yang di depan. Hal itu sebagai simbol harapan agar anak meraih segala sesuatu yang lebih baik daripada orang tua. Konstruksi bangunannya tanpa paku, dengan atap dari serat nira.

kebersamaan 4 keluarga dalam satu rumah adat Bolon pada masyarakat Batak Toba memperlihatkan keselarasan dalam kehidupan mereka.
Rumah adat Bolon dalam tradisi dan budaya masyarakat Batak Toba. Foto: Dok. Shuuterstock

Seperti umumnya kampung suku Batak Toba pada masa lalu, satu rumah berdampingan dengan rumah lainnya di kompleks Raja Siallagan. Setiap rumah memiliki kolong yang dijadikan tempat menaruh ternak. Tinggi lantai tergantung pada jenis atau ukuran hewan yang dipelihara. Untuk memasuki rumah, tentunya dibuat sebuah tangga, yang selalu berjumlah ganjil. Pintu dibikin pendek, sehingga setiap orang yang masuk rumah harus menundukkan kepala. “Sekaligus sebagai simbol untuk menghormati dewa,” ujar Guido.

Uniknya, pintu masuk bagi perempuan tidak ada di depan, melainkan di samping. Namun bukan berarti perempuan diposisikan lebih rendah. Justru suku Batak Toba memiliki filosofi: lelaki harus menghargai ibu dan istrinya. Hal tersebut terlihat dari lambang yang dimunculkan sebagai dekorasi dalam rumah, yakni berupa empat payudara dan seekor cicak. Payudara tersebut bermakna kesuburan dan kekayaan serta menjadi simbol bahwa orang Batak Toba selalu berbakti kepada inang alias ibu. Sedangkan cicak menggambarkan betapa mudahnya orang Batak beradaptasi dan tinggal di berbagai daerah, meski akan kembali ke ibu dan kampung halamannya. Empat payudara juga berarti pria Batak harus menghargai ibu dan istrinya. Selain itu, empat payudara tersebut melambangkan adanya empat keluarga dalam satu rumah bolon.

Rumah bolon biasanya dihuni beberapa keluarga. Ada sebuah ruangan yang memang digunakan bersama-sama, tapi ada pula kamar yang hanya boleh ditempati pemimpin di rumah tersebut, seperti sudut kanan bagian belakang rumah. Di bagian belakang terdapat dapur dan setiap keluarga memiliki dapur sendiri. Sedangkan lumbung pagi atau sopo dibangun terpisah dari rumah.

Sang pemandu menegaskan, seperti yang terlihat pada kebanyakan rumah adat di sini, warna yang digunakan hanyalah merah, putih, dan hitam. Putih, menurut Guido, menjadi lambang dunia atas atau Yang Maha Kuasa. Ada juga yang menyebutnya sebagai simbol kesucian atau kejujuran. Merah menggambarkan dunia tengah atau kehidupan saat ini. Ada pula yang memaknainya sebagai simbol pengetahuan atau kecerdasan. Lantas, hitam menunjukkan dunia bawah atau fana, selain melambangkan kewibawaan atau kepemimpinan.

Zaman dulu, warna merah bahkan diambil dari darah. Dekorasi muncul di berbagai sisi, dari atap rumah hingga tangga, yang diberi nama tangga rege-rege. Semua ornamen menyimbolkan keselamatan bagi para penghuninya. “Rumah juga menunjukkan kemampuan pemiliknya,” kata Guido.

Keunikan kampung yang satu ini adalah kehadiran Hau Habonaran atau pohon kebenaran. Di bawah pohon yang rindang itu terdapat satu set meja-kursi terbuat dari batu. Inilah yang disebut batu persidangan, sebagai tempat pengadilan zaman dulu. Raja, dukun, dan tetua adat atau penasihat akan mengambil keputusan di meja tersebut untuk sebuah perkara.

Guido menjelaskan, kesalahan yang tidak bisa diampuni, seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata musuh, akan dijatuhi hukuman penggal. Eksekusi hukuman dilakukan tidak jauh dari batu persidangan. Pada masa itu, darah si terhukum diminum, demikian pula dengan jantung dan hatinya. Kedua organ tersebut dicincang dan diramu untuk menambah kekuatan raja dan dukun. Model persidangan dan hukuman macam ini terakhir dilakukan pada tahun 1816, setelah datang seorang misionaris, Nomensen. Kompleks rumah Batak Toba itu dilengkapi pula dengan pemakaman keluarga Raja Siallagan.

Saya lantas bergeser ke Simanindo, tepatnya menuju Museum Huta Bolon. Turis pun bisa memetik pelajaran sejarah dan tradisi suku Batak Toba di sini. Semula, sebelum disulap menjadi museum, tempat ini adalah rumah peninggalan Raja Sidauruk. Di dalamnya bisa ditemukan berbagai perlengkapan yang ada dalam sebuah rumah tradisional, termasuk peralatan memasak dan bertani. Di samping itu, dipajang beragam jenis ulos yang biasa digunakan dalam berbagai upacara. Di kompleks rumah adat yang terdapat di sebelah museum, berjejer lumbung padi yang menjadi tempat para penonton menyaksikan sederet tarian tradisional. Pentas tari itu digelar setiap hari pada pukul 11.00.

Bila ingin mengenal kehidupan yang lebih riil, Anda bisa mencermati beberapa rumah Batak Toba yang masih dihuni penduduk setempat. Kabupaten Samosir masih memiliki banyak rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan—ibu kota kabupaten—rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Terkadang, terlihat perempuan menenun di depan rumah. Atau bila ingin melihat penenun tradisional lebih banyak lagi, Anda bisa mampir ke Desa Penampangan, Kecamatan Pangururan. Denyut keseharian para perempuan di kampung tradisional tersebut benar-benar menawan.

Rita N./Toni H./TL/shutterstock/agendaIndonesia

*****

Pantai Lingal, 1 Keindahan Dari Alor

Pantai LingAl Alor

Pantai Lingal atau Ling’Al di Alor semakin dikenal banyak penggila pantai dengan pasir putih. Sebelum 2018-an, pantai di Nusa Tenggara Timur ini seolah tenggelam dari kebesaran nama pulau Rinca,  Labuan Bajo, juga Sumba. Padahal, banyak orang menyebut pantai ini sebagai salah satu pantai terindah di provinsi ini.

Pantai Lingal Alor

Labuan Bajo dan Sumba sudah banyak dikenal dan dikunjungi para wisatawan. Baik lokal maupun mancanegara. Namun, ada pulau di ujung timur NTT, tepatnya di Kabupaten Alor, yang juga menawarkan banyak keindahan alam, terutama lautnya. Selain itu kita juga bisa menikmati wisata budaya dan sejarah di sana.


Kabupaten yang memiliki luas 2.864,6 kilometer persegi ini hanya dapat diakses melalui jalur udara dan laut. Begitupun, transportasi menuju Alor masih terbilang cukup mudah, karena ada penerbangan setiap hari dan kapal laut yang juga hampir setiap hari. Untuk ke sana, kita harus melalui ibukota NTT, Kupang.

Kepulauan di Alor terdiri dari dua pulau besar, Alor dan Pantar, yang mengapit gugusan pulau-pulau kecil di kawasan Selat Kumbang. Selat ini terletak di Desa Alor kecil dan Pulau Kepa. Ada beberapa pulau yang dijejaki di kabupaten yang terdiri atas beberapa pulau ini.

Ada beberapa rute yang bisa dijalani untuk menuju pantai Lingal. Pertama jalan darat dari kota Kalabahi, ibukota kabupaten Alor. Sesungguhnya jaraknya tak terlalu, hanya sekitar 30 kilometer. Namun, karena medannya, jarak itu harus ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Hanya saja, harus menggunakan kendaraan yang siap untuk medan berat. Pilihannya mobil dengan penggerak 4 roda.

Pilihan lainnya menggunakan jalur laut dari demaga di Kalabahi. Dengan perahu kita bisa mencapai pantai Lingal kurang lebih 3 jam perjalanan. Bisa juga mengkombinasikan darat dan laut, misalnya jika ingin menikmati pemandangan darat. Dari Kalabahi kita bisa menuju ke Desa Alor Kecil selama 2-3 jam dan menginap semalam di sana. Esoknya disambung dengan kapal menuju pantai Ling’Al selama 1,5 jam.

Pantai Lingal terletak di Desa Halerman, Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Jalur yang manapun yang dipilih, pantai ini tak akan mengecewakan. Panorama pantainya tak akan mengecewakan.

Jika tak punya halangan menikmati perjalanan laut, cobalah menuju ke Ling’Al dengan perahu. Dari Alor Kecil perahu bisa disewa seharga Rp 750 ribu-850 ribu. Perahu bisa dipakai seharian. Perjalanan berperahu dua jaman pun tak terasa jauh, malahan begitu mengasyikkan. Jika berangkat pagi, cuaca tak terlalu panas, kita bisa melanjutkan tidur di perahu yang bisa diisi sekitar 10 orang itu.

Saat mendekati Pulau Pura, kadang kita akan mendapat suguhan bonus, yakni sekawanan lumba-lumba menyambut perahu yang kita tumpangi. Hewan yang tergolong terpintar di laut itu mendongakkan moncongnya ke atas permukaan laut, lalu menghilang lagi ke dalam air. Benar-benar menggoda!

Dari atraksi itu, tak lama, bibir pantai di sisi barat Pulau Alor pun sudah terlihat. Dari jauh, pesona Pantai Lingal sudah terpancar. Hanya ada pasir putih di sepanjang permukaan pantai yang melengkung itu. Kira-kira panjangnya mencapai tiga kilometer. Airnya yang jernih bergradasi ketika perahu semakin mendekat ke pantai, warna biru semakin pudar hingga benar- benar putih tepat di bibir pantai. Dulunya, pantai ini cuma menjadi persinggahan nelayan untuk berteduh sambil menjemur ikan hasil tangkapan.

Di musim tertentu, di mana ombak begitu tenang dengan bentuk bibir pantai seperti teluk, pantai ini terlihat seperti kolam super besar. Satu-dua tahun belakangan, pantai ini mulai populer dan pelancong
pun berdatangan. Para pemuda Desa Halerman mengutip Rp 50 ribu dari setiap rombongan yang datang. Menurut salah satu pemuda desa yang hanya dihuni belasan keluarga itu, pungutan mereka serahkan untuk dana kas desa.

Perbukitan hijau di sekeliling pantainya yang biru membuat pemandangan kontras Pantai Lingal ini jadi salah satu yang favorit di Pulau Alor. Pantainya sendiri berbentuk seperti teluk kecil, sehingga tidak memiliki ombak yang besar. Untuk menikmati pantai dari sisi yang berbeda, wisatawan bisa mendaki bukit dan menikmati eksotisme pantai Lingal dari ketinggian. Bukitnya tak terlalu tinggi, hanya sekitar 30-an meter dan bisa didaki sekitar 15-an menit.

pantai lingal di Alor dan Batu Bolong
Batu Bolong di Alor


Wisatawan bisa menginap di pantai ini. Warga setempat ada yang menyewakan tenda. Tapi jika tidak ingin di tenda, boleh saja menginap di rumah warga setempat.

Jika puas dengan pantai Lingal dan masih punya waktu, wisatawan bisa mengunjungi sejumlah pantai lain di sekitar pantai tersebut. Sebutlah pantai Pasir Panjang yang landai, berbatasan dengan bukit berpadang rumput. Namun, harus hati-hati jika berenang di Pantai Pasir Panjang. Meski dangkal, gelombang lautnya lumayan kencang.

Ada pulau Kepa, pulau kecil di Barat Laut Alor ini pasir pantainya halus serta lautnya yang biru dan jernih menjadi daya tarik tersendiri. Di pulau ini juga banyak disediakan pondok-pondok wisata khas NTT bagi yang mau menginap di sini. Di sekitar Kepa, banyak juga spot snorkeling maupun diving dengan keindahan alam bawah laut yang cantik.

 Pilihan lainnya adalah pantai Sebanjar, dengan pasirnya yang berwarna putih-pink dan pemandangan pulau-pulau indah di sekelilingnya ini. Bermalas-malasan di pantai pada sore hari sembari menikmati deburan ombak dan pemandangan matahari terbenam adalah sungguh hal yang tak terlupakan. Di sini juga terdapat penginapan yang cukup nyaman.

Atraksi lain di sekitar pantai Lingal adalah bati-batu karang besar di pantai Batu Lobang. Ini istilah masyarakat setempat untuk karang yang bolong. Melihat bebatuan tinggi menjulang dengan bagian bawahnya berlubang karena dihantam ombak terus-menerus.

*****

Tradisi Tawuran, 4 Yang Menggembirakan Warga

Tradisi tawuran salah satunya Perang Tomat ala Lembang

Tradisi tawuran ternyata tak selamanya berkonotasi buruk. Di sejumlah daerah di Indonesia, ada tradisi antarwarga yang terkesan seperti tawuran, tapi semuanya tanpa kebencian. Bahkan yang ada justru kegembiraan dan harapan untuk kesejahteraan. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Tawuran

Tawur Nasi ala Rembang

Jika tawuran antarpelajar biasanya menggunakan batu, tawuran di Desa Pelemsari, Rembang, Jawa Tengah, tidak. Para pemuda desa tawuran dengan cara saling lempar nasi bungkus. Aksi saling lempar itu diadakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Setiap tahun, warga Desa Pelemsari menggelar tradisi itu bertepatan dengan sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur keberhasilan panen warga setempat. Ratusan warga saling melempar nasi satu sama lain, selain sebagai rasa syukur, tradisi ini juga dianggap menjadi tolak bala bencana agar tidak menimpa warga sekitar.

Sebelum digunakan dalam prosesi tawuran, nasi sebelumnya diarak mengelilingi desa. Kemudian para sesepuh desa berkumpul untuk membacakan doa-doa terhadap nasi yang akan digunakan sebagai alat tawuran. Dalam pemilihan hari pelaksanaan tawur nasi, perlu perhitungan khusus.

Warga desa setempat mengaku mengikuti tawuran dengan rasa suka cita. Saat tawur ya seling lempar nasi, tapi setelah nasinya habis, prosesi selesai, tidak ada dendam atau apa di antara mereka. Nasi-nasi yang tercecer dikumpulkan untuk pakan ternak. Mereka percaya hasil ternak yang diberi makan nasi hasil ‘tawuran’ akan melimpah, seperti panen.

Perang Topat di Lombok Barat

Jika di Rembang tawuran menggunakan nasi bungkus, massa di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menggunakan ketupat. Karenanya, dinamakan Perang Topat. Tradisi yang dilaksanakan turun-temurun selama ratusan tahun di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, itu justru menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan antara umat Islam dan Hindu. Acara ini membawa misi perdamaian dalam keberagaman budaya dan kepercayaan.

Acara dimulai sejak pukul 17.00, disebut Rarak Kembang Waru (waktunya gugur daun pohon waru di sore hari). Masyarakat percaya, ketupat yang digunakan untuk saling lempar bisa membawa berkah. Ritual diawali dengan upacara persembahyangan di tempat pemujaan masing-masing (Hindu dan Islam Wetu Telu). Kemudian mereka ke halaman yang dilanjutkan dengan adegan saling melempar menggunakan ketupat antara para peserta upacara.

Kemudian, ritual ini dilakukan dengan cara saling melempar topat atau ketupat antara peserta yang satu dengan yang lainnya secara beramai-ramai. Biasanya upacara sakral ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut kalender Sasak atau jatuh sekitar bulan November dan Desember.

Usai perang, mereka akan berebut ketupat sisa perang untuk dibawa pulang, ditaburkan di sawah bagi para petani agar lahannya subur, bisa juga ditaruh di tempat dagangan bagi para pedagang agar dagangannya laris. Ritual budaya Perang Topat adalah suatu upacara yang mencerminkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia yang telah diberikan dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian yang melimpah.

Lempar Tomat ala Lembang

Tak hanya di Spanyol, Indonesia juga punya tradisi lempar tomat. Tepatnya, di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Tradisi lempar tomat ini merupakan rangkaian acara ruwatan atau hajat bumi yang dilakukan oleh masyarakat setempat, yang kebanyakan adalah petani sayuran. Hal ini untuk mengungkapkan syukur sekaligus membuang sial.

Sebelum ritual, biasanya di jalan-jalan desa dijejerkan puluhan keranjang bambu berisi tomat. Jangan salah, yang dipakai adalah tomat berkualitas buruk, ini sebagai simbol membuang sial dan sifat buruk manusia. Tomat-tomat itulah yang akan digunakan sebagai amunisi. Sementara tomat dikumpulkan, warga, baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, bersiap-siap menyambut pertarungan.

Sebagai pembuka, 10 warga yang ditugaskan menadi prajurit saling berhadap-hadapan, mereka terlebih dulu membawakan tarian simbol pertarungan. Setelah selesai, para prajurit bergabung dengan warga dan menyuruh mereka melempar tomat ke siapapun yang ada di hadapannya. Seluruh warga yang telah bersiap menuruti arahan prajurit, maka seketika dimulailah perang tomat yang meriah itu.

Digunakan tameng dari anyaman bambu sebagai penghalau lemparan dari lawan. Tomat yang digunakan jumlahnya mencapai 7 kuintal, bahkan lebih. Setelah aksi selesai, para peserta berjoget bersama diiringi musik Sunda.

Mebuug-buugan Dari Badung

Tradisi saling lempar lumpur ini sempat vakum puluhan tahun dari Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Disinyalir, warga malu melakukannya karena dahulunya dilakukan tanpa busana. Kini itu, tradisi dibangkitkan lagi. Namun para peserta hanya bertelanjang dada dan mengenakan kain khas Bali, yang dilipat hanya menutup kemaluan.

Mebuug-buugan berasal dari kata ‘buug’, yang artinya tanah atau lumpur. Mebuug-buugan berarti interaksi menggunakan tanah atau lumpur. Tradisi unik ini digelar usai perayaan hari Nyepi lewat perang lumpur. Warga saling melempar lumpur atau tanah liat yang sudah lembek.

Tradisi ini sarat dengan makna filosofi. Ia bertujuan menetralkan sifat buruk ini hanya dilakukan oleh laki-laki, mulai anak kecil hingga orang tua. Setelah berperang lumpur, mereka membersihkan diri di Pantai Kedonganan.

Andry T./Dok TL

Kerajinan Indonesia, Ini Dia 6 Yang Unik

Kerajinan Indonesia sangat khas dan memiliki nilai seni yang tinggi. Foto: shutterstco

Kerajinan Indonesia mempunyai banyak keunikan. Letak Indonesia yang strategis memberikan keuntungan tersendiri bagi pengrajin kriya dan seniman lokal. Selain kaya akan bahan baku, perbedaan lanskap di setiap pulau memunculkan keanekaragaman flora dan fauna yang khas.

Kerajinan Indonesia

Keanekaragaman flora dan fauna tersebutlah yang menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku seni kriya dalam membuat karya, kerajinan Indonesia. Setiap karya pun mewakili identitas dari setiap daerah, yang belum tentu dimiliki daerah lainnya. Sehingga hal ini pun memberi warna dalam khazanah kebudayaan Indonesia yang sangat beragam dan kaya.

Kerajinan-kerajinan tangan khas Nusantara ini telah diwariskan secara turun-temurun, dan memiliki filosofi mendalam berkaitan dengan budaya masing-masing daerah. Berkat keindahan dan keunikan yang ditampilkan, tak heran jika kerajinan Indonesia yang khas ini telah diakui hingga kancah Internasional.

Kerajinan Indonesia mempunyai karakter yang sesuai dengan masyarakat tempatnya tumbuh.

Wayang Kulit Dan Tatah Sungging Yogyakarta

Kerajinan tangan dari Yogyakarta yang dikenal sebagai tatah sungging ini telah ada sejak tahun 840M, dan telah masuk dalam Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. Wayang kulit khas Yogyakarta terbuat dari kulit kerbau. Kulit kerbau dipilih sebagai bahan dasar karena sangat kuat dan tidak mudah melengkung.

Dalam proses pembuatan satu wayang kulit umumnya memerlukan waktu sekitar 1 minggu hingga empat bulan, tergantung tingkat kesulitannya. Proses pembuatan yang rumit karena pengrajin sangat memerhatikan detail yang ada di setiap wayang kulit.

Getah Nyatu dari Kalimantan

Kekayaan hayati hutan Kalimantan melahirkan kerajinan tangan unik yang kenal dengan nama getah nyatu. Sesuai namanya, kerajinan tangan ini dibuat dengan memanfaatkan getah dari pohon nyatu.

Kerajinan Indonesia yang berasal dari Kalimantan Tengah di antaranya adalah Getah Nyatu. Foto: palangkaraya.go.id

Pohon nyatu sendiri merupakan endemik Pulau Kalimantan, khususnya Pangkalan Bun dan Kecamatan Bukit Tangkiling. Kerajinan tangan ini pertama kali populer pada sejak 80-an, kerajinan tangan getah nyatu sering dijadikan buah tangan saat orang berkunjung ke Kalimantan.

Proses pembuatan kerajinan tangan getah nyatu cukup rumit. Mulai dari perebusan batang sebanyak tiga kali, hingga proses pemisahan dan pengolahan getahnya. Biasanya getah nyatu akan dibuat menjadi kerajinan berbentuk kapal dan replika boneka

Tenun Songket dari Palembang

Berbeda dari kain khas Indonesia lain, songket khas Palembang memberikan kesan mewah nan elegan pada orang yang memakainya. Hal tersebut didapat dari penggunaan benang emas dan perak yang menghiasi motif songket. Ditambah dengan detail corak yang rumit dan indah, membuat songket makin bernilai.

Menurut sejarah, kain songket awalnya muncul pada masa Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada abad ke-7 hingga ke-13. Tradisi membuat kain songket pun terus berlangsung hingga saat ini. Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, saat ini kain songket juga diproduksi dalam model pakaian, selendang, hingga kerudung siap pakai. Rasanya ini kerajinan Indonesia yang layak dikoleksi

Noken dari Papua

Pada 2012 noken resmi dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Kerajinan tangan khas Papua ini berasal dari serat kayu, daun, batang anggrek, dan benang warna-warni yang dianyam menjadi sebuah tas yang unik.

Kerajinan Indonesia dari Papua biasa disebut Noken.

Kerajinan tangan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, hingga sekarang masyarakat Papua masih kerap menggunakan noken dalam keseharian mereka. Uniknya, noken mampu mengangkat beban hingga 20 kilogram. Kini, noken menjadi salah satu kerajinan tangan dan oleh-oleh unik khas Papua.

Anyaman Pandan dari Natuna

Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau memiliki salah satu kerajinan tangan yang unik, yakni anyaman pandan. Kerajinan tangan ini terbuat dari tumbuhan pandan yang banyak dijumpai di Kabupaten Natuna.

Oleh masyarakat setempat produk anyaman pandan terus dikembangkan menjadi berbagai kerajinan tangan, seperti dompet, keranjang, bakul, dan masih banyak lagi. Motif dan warna anyaman pandan juga beragam yang masing-masing memiliki filosofi tersendiri.

Kipas Kayu Cendana dari Bali

Bali adalah surganya seni, termasuk seni kriya. Jenis kerajinan tangan unik dan memiliki nilai seni tinggi adalah kipas kayu cendana. Kipas asli Bali ini awalnya hanya digunakan dalam seni tari, seperti tari klasik Legong Keraton dan tari modern Kebyar Trunajaya.

Keistimewaan kipas lipat ini adalah kayu pembuatnya, yakni kayu cendana. Bau harum khas kayu cendana akan menguat ketika kipas dikibaskan untuk mengusir rasa gerah. Hal inilah yang membuat banyak orang memburu kipas kayu cendana khas Bali sebagai cenderamata.

Itulah beberapa kerajinan tangan unik dan khas dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan membeli produk buatan lokal, bukan hanya melestarikan budaya yang dimiliki Indonesia saja, tapi kita juga turut membantu para pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Melawat Senja di Potato Head, Best Beach Bars 2013

Melawat senja di Potato Head, Pantai Petitenget, Bali.

Melawat senja di Potato Head yang berlokasi di Pantai Petitenget, Kabupaten Badung, Bali. Tempat kongkow dan bersantap dengan desain bangunan mirip kolesium. Pengunjung bisa memilih di dalam, atau di luar ruangan untuk menikmati senja yang asyik.

Melawat Senja di Potato Head

Hal yang kadang sedikit membingungkan ketika berlibur ke Bali adalah memilih satu dari sekian banyak tempat nongkrong. Hampir setiap tempat kongkow di Pulau Dewata mempunyai keunikan tersendiri. Tetapi ada satu yang memiliki daya tarik khusus. Berlokasi di Seminyak, tempat hang-out ini membuat pelancong bisa menikmati wisata seni, panorama mentari tenggelam, dan wisata kuliner. Ya, itulah tawaran dari Potato Head Beach Club.


Terletak di Pantai Petitenget, Seminyak, Bali, tempat ini dimiliki oleh Ronald Akili dan Jason Gunawan, yang menunjuk Andra Matin sebagai arsiteknya. Konsep bangunan yang diusung serupa kolesium modern dengan aksen susunan jendela-jendela lawas dari berbagai tempat di Indonesia. Sungguh unik. Jumlah jendela tersebut juga menakjubkan banyaknya.

Melawat senja di Potato Head Bali, kemewahan kongkow di pantai Bali sembari menikmati matahari tenggalam.
Suasana di dalam Potato Head Beach Bars, Bali. Foto: Dok TL/Arcaya M.


Selain nilai seni arsitektur yang unik, beach club ini dinobatkan sebagai The Best Bars and Beach Bars in The World pada 2013 oleh majalah Condé Nast. Memang nominasi tersebut tidak berlebihan. Atmosfer yang dibangun sangat mendukung dan penataan ruang di lahan seluas 500 meter persegi ini dipikirkan dengan matang. Arena yang terletak agak jauh dari kebisingan jalan raya dan berada persis di pinggir pantai ini seperti mengajak saya memasuki daerah yang mempesona.


Sore itu, sebelum memasuki area utama Potato Head Bar, saya melewati sebuah lorong sempit yang sisi kanan-kirinya ditutupi jendela-jendela beragam warna sampai bagian atap. Setelah tiba di ujung lorong, terhampar pemandangan rumput hijau yang terlihat empuk. Debur ombak pun terdengar. Musik chill-out, kolam renang, gelegak tawa para pengunjung, dan siluetpohon kelapa lengkap dengan awan biru memukau saya.


Ada beberapa tempat yang menjadi incaran saya untuk menikmati senja sore itu. Dari kursi pantai di pinggir kolam renang, lesehan di rumput, bar dengan meja panjang, kursi empuk di area sekitar rumput, hingga bar utama. Namun untuk merasakan kursi pantai di pinggir kolam renang, pengunjung perlu merogoh kocek sekitar Rp 500 ribu. Akhirnya, saya memilih berada di bar utama.
Sebenarnya, beach club ini juga bisa menjadi tempat wisata keluarga. Sebab, ada kolam renang untuk anak-anak dan area yang cukup luas sebagai tempat bermain. Selain itu, Anda bisa memilih turun bermain ke pantai yang eksklusif untuk pengunjung Potato Head.

melawat senja di Potato Head Bali, menyeruput minuman dan mengudap makanan kecil sambil menyaksikan malam datang di pulau Dewata.
Suasana di luar ruang Potato Head Beach Bars Bali. Foto: Dok. TL/Arcaya M.


Apabila Anda ingin mencicipi wisata kuliner yang mengesankan, Potato Head juga menyediakan dua pilihan tempat, yakni Lilin dan Tapping Shoes. Untuk menikmati kuliner dengan meja panjang di tempat terbuka, Anda bisa memilih area Lilin. Menu yang disajikan kebanyakan berupa tapas alias camilan dan masakan khas Asia dengan bahan-bahan makanan dari laut. Sedangkan untuk Tapping Shoes, yang berada di lantai dua, ada sajian Eropa dengan interior yang lebih serius dan mengarah ke suasana fine dining.


Namun tidak berarti Potato Head Bar tak mempunyai makanan andalan. Hidangan yang terkenal di sini adalah Wagyu Beef Burger lengkap dengan kentang goreng, Philly Steak Sandwich, dan Tacos Prawn. Sedangkan untuk minuman cocktail, ada Potato Head Bloody Mary, Majito, Big Bang, dan Kookaburra.


Tetapi saya sedang tidak terlalu ingin bertualang mencoba minuman dan makanan karena tujuan ke sini hanya untuk menikmati senja di Pulau Dewata sembari kongkow dengan teman. Akhirnya, saya memesan Tacos Prawndan bir dingin, lalu mendarat di rumput hijau yang empuk dan segar tanpa alas. Bagi saya hal ini sudah cukup mewah. Kapan lagi saya bisa menikmati senja dan ngobrol dengan teman sambil lesehan di rumput pinggir pantai pulau para dewa?


Alunan musik chill-out dan suara debur ombak membuat senja sore itu sempurna. Setiap hari, selalu ada live performance dari disc jockey internasional. Tidak jarang, para musikus dunia juga diundang tampil di sini. Pernah ada DJ terkenal, Fatboy Slim, mengentakkan musiknya di Pulau Bali, atau suatu kali musikus John Legend tampil di sana.

Matahari sudah memburaikan jingga. Cahaya lampu mulai mengisi ruangan. Tempo musik pun berubah menjadi cepat untuk menghangatkan suasana. Selain buat nongkrong sembari menikmati senja, beach club ini asyik disinggahi ketika malam. Apalagi saat bulan purnama. Jika Anda betah, saat sebelum pandemi, tempat ini buka sampai pukul 2 dinihari. Namun seberapa pun Anda merasa kerasan, jangan nekat berkemah di sini…. Ha ha ha …

Arcaya M./TL/agendaIndonesia

*****

3 Jam Mengarungi Sungai Cijulang

3 jam mengarungi sungai cijulang dengan Tubing Sungai

3 Jam mengarungi Sungai Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, sungguh sebuah kegiatan yang penuh kegembiraan. Relief dinding sungai alami dan lingkungan asri meredakan adrenalin yang bergejolak.

3 Jam Mengarungi Sungai Cijulang

Matahari pas bertengger di atas kepala. Berteduh di saung bambu memang pilihan yang sangat tepat. Apalagi nasi liwet khas Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang dinamakan “Jolem” (kejo pelem) sudah terhidang di depan mata. Ehm… benar-benar menggoda. Dalam bahasa Sunda, kejo pelem berarti nasi pulen. Saat disantap, “Jolem” ini memang pulen dan nikmat.

Belum lagi minuman penutup tambahan berupa kelapa muda yang langsung dipetik langsung dari pohonnya, semakin menyempurnakan makan siang saya di hari itu. Setelah istirahat sejenak, kantuk langsung menyergap. Rasanya semakin berat saja mata ini untuk tetap terjaga.

Namun kantuk harus segera lenyap. Saya masih harus mengarungi Sungai Cijulang. Aliran Sungai Cijulang yang melintasi Dusun Pangancraan di Desa Margacinta itu merupakan aliran terusan dari Ciwayang menuju Green Canyon. Belum lama ini dimanfaatkan menjadi obyek wisata arung jeram terbaru, Cijoelang Rafting. “Sungai Cijulang sangat potensial dijadikan obyek wisata,” ujar Kepala Desa Margacinta H. Edi Supriadi.

Mobil berpenggerak empat roda yang saya tumpangi, perlahan tapi pasti, mulai menyusuri jalan desa yang bergelombang. Tubuh saya sempat terguncang. Seakan memulai sebuah petualangan.

Hanya sekitar 15 menit, tibalah saya di posko Cijoelang Rafting. Teman-teman dari Cijoelang Rafting, yang sudah dikabari sebelumnya, menyambut kedatangan kami. Tidak ada pengunjung lain hari itu. Setelah cukup bertegur sapa, saya segera berganti pakaian. Di saat yang sama, mereka menyiapkan life jacket (jaket pelampung), helm, dan ban dalam. Hah, ban dalam? Seingat saya, dulu ketika berarung jeramdi daerah Sukabumi, Jawa Barat, menggunakan perahu karet. Tidak menggunakan ban dalam.

Rupanya tren terus berkembang. Arung jeram kini bisa menggunakan ban dalam untuk arus yang tidak terlalu deras dan jeram yang tidak terlalu ekstrem. “Aktivitas seperti ini dinamakan river tubing. Ada juga yang disebut body rafting. Bedanya, body rafting tidak menggunakan ban,” ujar Ucup Yusup, Koordinator Cijoelang Rafting.

Setelah selesai menggunakan segala perlengkapan, saya bersama teman-teman Cijoelang Rafting mulai menyusuri jalan setapak. Jalan setapak bersemak dan lingkungan yang benar-benar sunyi. Bagaikan sebuah perjalanan memulai sebuah ekspedisi pengarungan sungai sesungguhnya.

Tak berapa lama, kami sudah sampai di bibir sungai. Arus sungai terlihat deras menantang. Satu per satu kami turun ke pinggir sungai dengan berpijak pada batu besar. Air sungai yang sejuk cenderung dingin mulai menyapa. Agak sulit juga rupanya untuk bisa duduk di atas ban dalam yang terapung karena belum terbiasa. Untungnya, teman-teman Cijoelang Rafting sigap membantu.

Wuss… petualangan river tubing pun dimulai. Mengapung dan mengarungi Sungai Cijulang. Pemandangan di sekitarnya sungguh menakjubkan. Serasa mengarungi sungai perawan. Saat menengok ke atas, pohon tropis membentuk kanopi alami. Sedangkan relief dinding sungai begitu eksotik. Pahatan alam nan indah yang terbentuk selama ratusan tahun.

Ketenangan dan kekaguman itu tidak berlangsung lama. Jeram pertama yang dinamai Jog-Jogan sudah menghadang di depan mata. Pemandu langsung mengarahkan saya dan yang lainnya agar tetap berada di jalur dan tidak menghantam batu besar. Byurrr…Jeram pertama terlewati. Adrenalin mulai bergejolak, tapi aneh, malah menimbulkan sensasi riang.

Arus sungai kembali tenang. Pemandu mengajak kami membentuk barisan dengan cara saling mengaitkan kaki satu sama lainnya. Terkadang, kami membentuk lingkaran dengan saling berpegangan tangan. Berputar sembari terapung-apung dan melupakan kepenatan sejenak.

Barisan mulai dipisahkan saat kami akan melewati jeram Kedung Kerti, Leuwi Bunder, dan Kedung Badak. Masing-masing jeram memberi sensasi berbeda. Rombongan berhenti saat tiba di Curug Parung Sombeng. Peserta yang ingin menguji adrenalin lebih diperkenankan lompat dari batu besar di sisi air terjun. Sedangkan yang ingin sekadar menyaksikan dapat bersandar pada dinding sungai. Lokasi ini biasanya dijadikan spot foto menarik.

Sekadar mengingatkan, saat hendak melompat dari ketinggian ini, tali pengaman life jacket yang melewati selangkangan sebaiknya dilepaskan saja. Sebab, jika tidak, tali akan tertarik saat tubuh menyentuh air. Tak terasa, sudah hampir 3 jam kami mengarungi Sungai Cijulang. Sungai perawan yang telah memamerkan pesona keindahannya, sekaligus memicu adrenalin. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Kopi Klotok Yogya, Kopi di Kilometer 16

Kopi Klotok 01

Kopi Klotok Yogya adalah ikon baru kuliner kota pelajar ini sepanjang empat-lima tahun terakhir. Sesungguhnya, suguhan kopinya bukan sejenis kopi dari kafe-kafe yang menjual kopi single origin perkebunan tertentu. Namun warung kopi ini menjual “paket lengkap” menikmati kopi.

Kopi Klotok Yogya

Warung Kopi Klotok sendiri lokasinya ada di Jalan Kaliurang di kilometer 16, Pakem, Yogyakarta. Warung jadul bergaya Jawa tersebut jadi hip foto-fotonya ramai diunggah para penikmat kuliner di media sosial berbagi gambar Instagram.

Bangunan joglo khas rumah tradisional Jawa Tengah menjadi daya tarik bagi warung itu. Apalagi, letaknya tepat berada di tepi sawah. Suasana ndeso pun langsung terasa ketika pengunjung datang.

AgendaIndonesia sempat menyambangi Kopi Klotok sebelum masa pancemi tahun lalu. Sesuai tips sejumlah teman, jika datang di akhir pekan atau masa liburan sekolah, kita harus pagi-pagi benar sampai di tempat ini. Dan benar, pukul 07.00, warung tepi sawah itu sudah buka. Puluhan kendaraan pun sudah terparkir di halaman. Bahkan, bus-bus rombongan juga sudah mulai memenuhi jalan masuk warung.

“Ini masih terhitung sepi. Kalau akhir pekan atau libur panjang, jangan harap langsung dapat tempat duduk,” kata Ruli, seorang teman yang sudah jadi pelanggan Kopi Klotok, saat menemani menyambangi warung tersebut.

Waktu terbaik mengunjungi Kopi Klotok memang pagi hari. Menjelang siang, apalagi saat hari libur, pengunjung akan sulit mencari tempat duduk lantaran penuh wisatawan.

Ruli memilih duduk bersila di atas amben kayu di teras belakang, dan langsung  asyik menyeruput kopinya. Tangan kirinya memegang lepek, atau tatakan gelas kopi,  sementara tangan kanannya mendekatkan gelas ke mulutnya. “Aahhh..,” katanya seakan melepas kenikmatan. Hawa sekitar lokasi lumayan sejuk, meski konon tak sedingin 10-12 tahun lalu.

Sesungguhnya datang dan langsung ngopi di warung ini jarang dilakukan pengunjung. Sebab, meskipun nama warungnya Kopi Klotok, kebanyakan pengunjung datang ke sini justru untuk menikmati makan besar yang menjadi signature mereka: nasi putih, sayur lodeh, telur dadar, dan tempe garit. Yang terakhir ini tempe yang proses pembuatannya menggunakan daun jati dan ketika akan digoreng dua sisinya digaris-garis dengan pisau sebelum dicelupkan ke bumbu garam-bawang lalu digoreng kering.

Di warung ini, pengunjung biasanya langsung masuk ke warung melalui pintu kayu yang rendah. Beberapa pengunjung yang cukup jangkung mesti sedikit menunduk jika melewatinya. Dalam filosofi Jawa, hal ini memiliki makna bentuk penghormatan dan sopan-santun tamu terhadap pemilik rumah.

Tiba di ruangan pertama, pengunjung akan langsung menemui sebuah ruangan yang lapang. Di sisi kanan terdapat meja panjang dengan beragam lauk. Ada sayur lodeh, sayur lombok ijo, telur, tempe, tahu, dan masakan rumahan khas Jawa lainnya. Pengunjung bisa langsung memilih.

Menurut Ruli, sayur lodeh adalah favorit pelanggan. Kabarnya, sayur ini sudah habis menjelang sore. Padahal Kopi Klotok sendiri masih buka sampai malam. “Jadi kalau datang malam, hanya kebagian lauk telur tanpa sayur,” tuturnya.

Setelah mengambil makan ala prasmanan, pengunjung akan memilih tempat duduk. Bisa di dalam rumah joglo, di serambi belakang, atau di luar, yakni lesehan di tepi sawah. Orang-orang biasanya berebut tempat di serambi belakang. Sebab, tempat tersebut paling strategis. Sambil makan, pengunjung bisa menikmati hamparan sawah dan pohon-pohon kelapa.

Di dalam rumah joglo itu dipajang ornamen pernak-pernik tempo dulu yang unik. Ada radio lawas, sepeda onthel, dan lampu teplok. Sedangkan bangku dan meja yang digunakan ialah yang tergolong perabot lawasan. Model kursi set babon angrem dengan anyaman rotan ialah salah satu contohnya.

Setelah kelar makan, umumnya pengunjung tak langsung pulang. Mereka akan memesan kopi dan pisang goreng. Dua menu ini adalah andalannya. Kopi yang disajikan ialah kopi hitam. Boleh memilih yang pahit tanpa gula atau manis. Sedangkan pisang goreng akan dihidangkan hangat-hangat.

Suasana pedesaan yang sejuk, kopi hangat ditambah pisang goreng dan jadah, membuat penikmatan kopi semakin sempurna. Kopi Klotok seolah menjawab kerinduan para tamu akan kampung halaman.

Kesederhanaan hingga kejujuran, menjadi suasana yang khas sekaligus ingin diciptakan di Kopi Klotok. Dapur yang perapiannya masih konsisten memakai kayu bakar, penataan pisang-pisang yang digantung memenuhi sekitar para-para, agar pisang lebih cepat matang. Dinding-dinding dapur kehitaman dan berjelaga. “Namun, justru nuansa seperti ini yang sudah tidak bisa ditemukan lagi di kota,” kata Ruli.

Dan di bilik seberang, dua orang barista lincah dan tekun melayani permintaan kopi. Nugraha, salah seorang pengurus Kopi Klotok, menjelaskan bahwa kopi di warungnya adalah kopi dengan penyajian sederhana. Kopi bubuk dimasak dalam panci panas tanpa air. Setelah beraroma sedikit gosong barulah disiram air hingga mendidih. Dari proses tersebut munculah nama klotok yang berasal dari Bahasa Jawa “nglotok” atau mengelupas. Proses mengelupasnya kopi adalah saat air disiramkan ke panci yang lengket dengan kopi yang dimasak tanpa air tadi.

Menu-menu di Kopi Klotok tergolong murah. Satu paket nasi sayur plus lauk dibanderol Rp 12.500. Sedangkan kopi klotok Rp 5.000 per gelas dan pisang goreng Rp 2.500 per porsi. Warung ini buka mulai pukul 07.00 hingga 22.00.

Faktor lain yang menurut Ruli mengatakan menjadi kekhasan Kopi Klotok, di sini ada upaya menciptakan edukasi tentang sebuah kejujuran. Setiap tamu yang datang boleh hilir-mudik di dalam rumah, pergi ke dapur mengambil sendiri makan dan menu lainnya. “Jadi, kita seperti lagi di rumah sendiri. Penyaji dan pengurus Kopi Klotok juga tidak pasang muka curiga, sehingga kami kayak diberi kepercayaan. Kami harus jujur,” jelasnya sambil menyeruput lagi kopi hitamnya.

F. Rosana

*****

Monumen Nasional, Tugu Setinggi 132 Meter

Monumen Nasional atau biasa disebut MOnas menjadi simbol Jakarta dan Indonesia. Foto: shutterstock

Monumen Nasional, atau yang sehari-hari biasa kita sebut Monas, tentunya sudah menjadi sebuah landmark yang tak asing lagi. Bentuknya yang khas dan unik sudah lekat sebagai salah satu ciri khas kota Jakarta, serta simbol kenegaraan yang begitu ikonik.

Monumen Nasional

Terletak di pusat ibu kota, Monas kokoh berdiri tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka dengan ketinggian 132 meter. Letaknya yang berada di tengah-tengah kota membuatnya menjadi salah satu objek wisata vital di Jakarta, baik bagi wisatawan lokal maupun asing.

Dibangunnya Monumen Nasional itu tak lepas dari andil presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Kala itu, sang proklamator menginginkan adanya sebuah monumen sebagai pengingat akan perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan.

Beliau juga terinspirasi dari Menara Eiffel, landmark legendaris milik Prancis dan ibu kotanya, Paris. Diharapkan, monumen ini pun juga dapat menjadi sebuah simbol yang sama ikoniknya bagi kota Jakarta dan Indonesia secara umum.

Monumen Nasional mejadi simbol, ikon, dan landmark untuk ibukota Indonesia, Jakarta.
Jalan yang melingkari Monumn Nasional. Foto: shutterstock

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, ibu kota yang tadinya sempat dipindahkan ke Yogyakarta kemudian dikembalikan lagi ke Jakarta setahun kemudian. Dari situ, wacana pembangunan Monumen Nasional tersebut mulai mengemuka.

Empat tahun kemudian, pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-9 ditetapkanlah sebuah komite nasional yang bertugas menyusun rencana pembangunan Monumen Nasional. Sayembara untuk mencari desain Monas juga diadakan pada 1955.

Dari sayembara tersebut, terdapat 51 karya desain yang lolos seleksi. Meski belum mendapat desain final, secara umum kriteria yang disetujui adalah desain Monumen Nasional yang harus mencirikan karakter bangsa Indonesia, serta desain yang tak lekang dimakan oleh waktu.

Sayembara pun diadakan lagi pada 1960, namun dari 136 karya desain yang lolos seleksi, masih belum ada yang terpilih. Pun demikian, Soekarno sendiri secara pribadi meminta agar Monas memiliki beberapa bahasa desain tertentu, salah satunya adalah lingga dan yoni.

Lingga dan yoni secara umum dapat diartikan sebagai konsep universal antara laki-laki dan perempuan, yang melambangkan kesuburan. Selain kesuburan, konsep tersebut juga menggambarkan satu kesatuan yang harmonis dan saling melengkapi satu sama lain.

Bentuk dari tugu Monas beserta cawannya tersebut juga dapat diartikan sebagai alu dan lesung, alat penumbuk padi tradisional. Ini merepresentasikan Indonesia sebagai negara agraris yang banyak warganya menyambung hidup sebagai petani.

Detail lain yang tak kalah pentingnya adalah lidah api di bagian pucuk yang terbuat dari 77 lapisan emas. Dengan tinggi 14 meter dan diameter 6 meter, berat lapisan emas ini awalnya 35 kg, sebelum ditambah menjadi 50 kg dalam perayaan 50 tahun kemerdekaan pada tahun 1995.

Lidah api tersebut melambangkan kobaran semangat rakyat Indonesia yang berjuang sejak jaman memperjuangkan kemerdekaan hingga kini dan seterusnya dalam mengisi kemerdekaan. Untuk menopangnya, terdapat cawan berukuran besar yang beratnya sekitar 14,5 ton.

Desain dari Monas awalnya diarsiteki oleh Friedrich Silaban, kemudian disempurnakan oleh R.M. Soedarsono. Lokasi pembangunan ditetapkan di area Lapangan Medan Merdeka atau yang di masa lalu dikenal sebagai Lapangan Ikada, agar posisinya berhadapan dengan Istana Negara.

Dan pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1961, pembangunan Monas pun dimulai. Ada sekitar tiga tahapan dalam proses pembangunannya, dimana tahap pertama berlangsung dari tahun 1961 sampai tahun 1965.

Pada tahap pertama, proses pembangunan menggunakan beberapa sumbangan dari masyarakat umum, karena kondisi ekonomi negara yang sulit. Misalnya, sebagian lapisan emas pada lidah api merupakan hibah dari Teuku Nyak Markam, seorang pengusaha dari Aceh.

Mulanya, Monumen Nassional hanya dibuka bagi rombongan karyawisata tertentu, misalnya siswa-siswi sekolah. Barulah setelah pembangunannya rampung, pada 12 Juli 1975 Monas diresmikan dan dibuka untuk umum oleh presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto.

Penyusunan Naskah Bung Karno Bung Hatta Munasprokgoid
Salah satu yang khas dari Monas adalah adanya diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Foto: munasprok.go.id

Selain menjadi simbol kenegaraan, Monas juga memiliki beragam fungsi dan daya tarik bagi siapa saja yang datang berkunjung. Salah satunya adalah fungsi wisata edukasi lewat museum sejarah Indonesia yang terletak di bagian dalam monumen.

Di area museum ini, terdapat sekitar 51 diorama yang menggambarkan sejarah Indonesia dari masa ke masa. Pengunjung dapat mengamati sejarah dan perkembangan Indonesia dalam susunan diorama yang diatur secara kronologis di tiap periode, mengikuti arah jarum jam.

Selain itu, di area interior monumen ini terdapat pula Ruang Kemerdekaan, yang menjadi tempat disimpannya naskah asli Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, beserta bendera merah putih yang dikibarkan ketika Teks Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Di ruangan ini juga terdapat detail-detail seperti lambang Garuda Pancasila berukuran besar yang terbuat dari perunggu berlapis emas dan berbobot 3,5 ton. Ada pula peta Indonesia yang terbuat dari emas, menunjukkan bentang dan kepulauan yang membentuk Indonesia.

Memasuki ruangan ini, pengunjung akan disambut dengan pemutaran rekaman suara Soekarno saat membacakan Teks Proklamasi, diiringi lagu Padamu Negeri. Ruangan amphitheatre ini juga berfungsi sebagai ruangan untuk mendoakan dan mengenang jasa pahlawan kemerdekaan.

Yang tak kalah menarik, pengunjung juga dapat naik ke area puncak monumen dengan menggunakan lift yang dapat mengangkut sekitar 10 orang. Sesampainya di atas, pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Jakarta secara 360° di ketinggian 115 m.

Area pelataran puncak ini dapat menampung kurang lebih sekitar 50 orang. Sebagai tambahan fitur keselamatan dalam situasi dan kondisi tertentu, disediakan pula tangga darurat yang posisinya mengitari area jalur elevator.

Pengunjung Tugu Monas Jakarta Foto Antara
Masyarakat mengunjungi Monas. Foto: DOk. Antara

Di samping daya tarik wisata yang terdapat di dalam monumen, terdapat pula beberapa hal menarik di area luar Monas. Seperti misalnya deretan relief sejarah Indonesia yang berada di sekeliling halaman luar Monumen Nasional.

Relief tersebut menggambarkan beberapa peristiwa bersejarah di Indonesia, seperti masa kerajaan Singosari dan Majapahit, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, hingga sejarah modern Indonesia. Kesemuanya diatur secara kronologis mengikuti arah jarum jam.

Terdapat pula area taman, kolam dan hutan kota yang diperuntukkan bagi wisatawan dan warga sekitar untuk berkumpul, berolahraga atau sekedar bersantai. Di area taman ini, pengunjung dapat menemui beberapa kawanan rusa yang didatangkan dari Istana Bogor.

Dan yang tak kalah menarik, setiap malam akhir pekan area taman akan dibuka untuk umum dalam rangka pertunjukan atraksi air mancur. Dalam atraksi tersebut, air mancur akan bergerak seakan menari, diiringi lagu-lagu nasional dan daerah serta kilauan lampu tembak yang seirama.

Atraksi tersebut biasanya dilangsungkan dalam dua sesi, pada jam 19.30 dan jam 20.30. Dalam satu sesi, biasanya atraksi akan berlangsung kurang lebih sekitar 20 hingga 30 menit. Atraksi ini dapat ditonton siapapun tanpa dikenakan biaya.

Area Monas secara keseluruhan biasanya buka dari hari Selasa hingga Minggu, dan ditutup setiap hari Senin. Jam operasionalnya mulai dari jam 06.00 hingga jam 16.00, namun untuk bisa masuk ke dalam monumen, akan dibagi per sesi dari pagi, siang dan sore.

Untuk masuk ke dalam monumen dan berkeliling area museum dan Ruang Kemerdekaan, pengunjung akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 5 ribu untuk orang dewasa, Rp 3 ribu untuk mahasiswa dan Rp 2 ribu untuk anak-anak.

Namun jika ingin mencoba naik hingga ke area puncak monumen, maka tiket terusannya menjadi Rp 15 ribu untuk dewasa, Rp 8 ribu untuk mahasiswa dan Rp 4 ribu untuk anak-anak. Tiket terusan ini sudah termasuk akses masuk ke museum dan Ruang Kemerdekaan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika berminat menyambangi Monas. Salah satunya, untuk membayar tiket masuk kini sudah menggunakan JakCard, kartu e-money yang juga bisa digunakan untuk membayar tarif angkutan umum, seperti TransJakarta.

Hal penting lainnya adalah kebijakan pengelola Monas yang mengatur pengunjung yang datang di pagi hari hanya bisa membeli tiket untuk sesi pagi saja, demikian pula bagi yang datang di siang dan sore hari hanya boleh membeli tiket untuk sesi tersebut.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (021) 3822255, atau mengunjungi akun Instagram resmi @monumen.nasional.

Monumen Nasional

Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat

agendaIndonesia

*****

Uluwatu Bali, Debur Ombak Di Antara 70 Penari Kecak

Uluwatu Bali, dikenal wisatawan sebagai salah satu magnet dari Kabupaten Badung pulau Dewata ini. Selain tepi lautnya yang memang eksotis, juga ada atraksi tarian rakyat Bali yang berbasis dari cerita pewayangan dengan puluhan orang yang memainkan. Cak, atau kecak, yang dinamis dan atraktif.

Uluwatu Bali

Sekitar 70 pria telanjang dada itu memasuki arena tengah yang dikelilingi tempat dudu para penonton.  Tubuh bagian bawahnya ditutupi kain kotak-kotak hitam dan putih. Ada seutas tali merah di pinggangnya. Para penonton terkesima, semua mata memandan  kumpulan lelaki itu. Tebing yang mengelilingi arena serta debur ombak di bawahnya untuk sementara tidak menjadi pusat perhatian.

Langit masih terang, sekitar pukul 18.00, pertunjukan tari kecak di Uluwatu itu dimulai. Dibuka dengan doa oleh pandita — pemuka agama dalam agama Hindu Bali — yang memercikkan air suci kepada para penari. Setelah itu, baru kelompok pria yang membuat lingkaran dengan bagiannya tengahnya api itu beraksi.Badan setengah tiduran, kemudian duduk kembali tapi kedua lengan dinaikkan ke atas. Sambil bergerak terus, dari bibir mereka terucap satu kata yang terus diulang-ulang dengan cepat dan keras. Cak .. cak … cak … cak…

Langit yang semula terang pun perlahan menggelap. Warna keemasan dan kemerahan pun muncul, memberi efek dramatis pada pertunjukan yang tengah digelar. Para penonton pun semakin larut. Tidak hanya penari kecak yang beraksi. Karena tarian ini dipadu dengan kisah Ramayana, muncul juga Rama dan Shinta, dan tentu juga Hanoman—monyet putih – yang juga menarik perhatian ketika menari di tengah lingkaran api.

Tontonan yang berlangsung selama sejam pun tidak terasa usai, ketika langit sudah gelap. Kebanyakan penonton melemparkan senyum, menandakan mereka puas dan terkesan dengan pertunjukan yang bisa dinikmati dengan tarif sekitar Rp 100 ribu bagi turis lokal dan lebih mahal sedikit untuk turis asing. Karena memadukan pertunjukan dengan latar belakang alami, sebaiknya datang 30 menit sebelum acara dimulai agar mendapatkan posisi tempat duduk yang paling prima. Sebenarnya, menyaksikan tarian ini bisa menjadi akhir dari perjalanan wisata dari Kuta hingga Uluwatu. Biasanya untuk mencapai Uluwatu dari Kuta diperlukan waktu sekitar satu jam. Namun dengan persinggahan ke sejumlah obyek wisata, setidaknya diperlukan setengah hingga satu hari.

Uluwatu Bali di selatan pulau Dewata ini memiliki pantai-pantai yang menarik.
Salah satu pantai di Uluwatu, Kabupaten Badung, dengan hamparan pasir putih yang eksotik. Foto: Dok. unsplash

Berada di paling selatan di Pulau Bali, sebelum mencapai Uluwatu, bisa ditemukan beberapa pantai yang asik disinggahi. Kebanyakan turis mampir ke Pantai Dreamland yang berada di Pecatu, sebelum mengakhiri perjalanannya di Uluwatu. Sebenarnya sejajaran dengan Dreamland, ada beberapa pantai lain. Sebelum Dreamland, bisa temukan Pantai Balangan. Pantai ini merupakan lokasi yang banyak diburu oleh para peselancar. Pantai bisa dicapai dari jalan utama di Ungasan, berada di posisi kanan, bila melangkah dari arah Jimbaran. Dreamland sudah lebih banyak dikenal, dicapai setelah melalui areal Pecatu Graha Indah

Setelah Dreamland, lebih banyak lagi pilihan. Seperti Pantai Bingin – pantai berpasir putih yang berada di selatan Dreamland, sedikit repot menemukannya karena tidak ada tanda berukuran besar. Jalannya tidak terlalu lebar, namun menawarkan panorama pantai yang memukau. Berada satu arah ketika menuju Pantai Padang-padang. Pantai yang juga disukai para peselancar. Pantainya berpasir putih, tapi tidak terlalu landai.

Dari Pantai Padang-padang ini, Pura Uluwatu sudah dekat. Di Uluwatu, sebelum menyaksikan pertunjukan bisa mampir ke pura. Untuk memasukinya wisatawan harus membayar tiket masuk. Tidak hanya mengenal salah satu pura dari enam pura yang paling penting di Bali, tapi juga menikmati alam sekitarnya. Debur ombak yang cukup keras menghantam tebing, dan keindahan tebing-tebing yang sebagian ditutupi tumbuhan hijau.

Uluwatu Bali di Kabupaten Badung memiliki pesona alam yang indah dan atraksi kesenian yang menarik.
Garuda Wisnu Kencana yang berada di kawasan Uluwatu Bali. Foto: Dok. Unsplash

Pura Uluwatu berada di atas tebing curam setinggi 70 meter. Di salah satu sisinya, terlihat juga di bagian bawah pantai dan para pesalancar beraksi. Di sekitar pura ada penghuni khas yakni monyet. Hati-hati, jangan mengundang perhatiannya hingga terkena ulah jailnya.  Obyek wisata lain di Bali Selatan adalah Garuda Wisnu Kencana yang sering disingkat GWK. Taman budaya seluas 240 hektar memiliki sejumlah sarana, terutama untuk panggung teater. Terbuka untuk umum antara pukul 08.00-20.00 dengan tiket masuk yang bervariasi untuk wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara.

Lokasinya di bukit Ungasan, sehingga sebaiknya di awal perjalanan menuju Uluwatu. Selain menikmati alam, dan keindahan mentari terbit dan terbenam, taman budaya ini juga memiliki sederet program. Di antaranya berupa pertunjukan tari,seperti tari kecak, barong, palegongan, dan pertunjukan musik.

Rita N./TL/agendaIndonesia

*****