3 Resto, 3 Menu di Manggarai Barat

andi prasetyo DSC06586

Apa kuliner yang bisa dinikmati di labuan Bajo? Hasil laut selalu menjadi menu dan pilihan utama di kawasan wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sementara kopi menjadi minuman yang selalu tersaji. Di mana wisatwan bisa menikmati sajian laut dan kopi yang asyik di kawasan ini? Berikut tiga pilihan resto dan tiga menu yang bisa dipertimbangkan untuk dicicipi selagi bermain di wilayah ini.

insan ramadhan ZtH3nn7QAMw unsplash
Senja di Manggarai Barat. Foto: unsplash

Kuliner di Manggarai Barat

Kuah Asam Arema Sari Laut

Siang itu, Billy sumringah mendapati warungnya disambangi orang luar pulau. “Biasanya yang ke sini hanya guru-guru pulang mengajar yang melintas atau sopir yang hendak melakukan perjalanan ke Lembor,” katanya. Tangannya langsung cekatan mengeluarkan beragam jenis ikan segar yang baru dibeli dari pengepul di Tempat Pelelangan Ikan Labuan Bajo. 

“Hari ini, kami punya ikan cepa, kerapu batu, dan ketamba,” tutur pria Nusa Tenggara Timur yang menikah dengan perempuan asal Malang—itulah sebabnya warung tersebut dinamai Arema—ini dengan lantang. Masakan andalannya adalah ikan kuah asam. Dia menamai masakannya sop ikan kemato (kemangi, asam, dan tomat). 

Yang spesial, proses masaknya masih mempertahankan cara tradisional. Itu juga yang membikin kuah merebakkan wangi khas. Tak amis, juga tidak enek. Warung yang sudah berdiri selama 10 tahun ini buka mulai pagi hingga sore. Bisa ditempuh lebih-kurang 15 menit berkendara dari Bandar Udara Komodo, di sinilah orang bisa menemukan keautentikan masakan ikan kuah asam khas daerah setempat. 

Arema Sari Laut

Kaper (Jalan Trans Flores Labuan Bajo-Ruteng)

Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 11.00-17.00

Harga per porsi (plus nasi) Rp 40 ribu

Tenda Seafood Kampung Ujung

Lebih-kurang 300 meter dari Pelabuhan Penyeberangan Labuan Bajo, berjejer tenda-tenda kaki lima. Lokasinya tepat di pinggir pantai, di samping jalan utama menuju Kampung Tengah. Di depan tenda-tenda, terpampang beragam jenis ikan, udang, cumi-cumi, dan kerang yang masih segar. Pengunjung boleh memilih sendiri para calon “mangsanya”. 

Asap-asap olahan laut membumbung, menggelitik penciuman orang-orang yang lewat. Ada lebih dari sepuluh kios bisa disinggahi. Semua sama saja, baik dari cara masak maupun harga ikannya. Rata-rata Rp 70 ribu per ekor dengan berat lebih dari 2 kilogram untuk ikan kerapu dan kue, Rp 80 ribu untuk cumi-cumi ukuran besar, serta Rp 50 ribu per kilogram untuk udang. 

Pengunjung dapat memilih cara memasaknya. Yang paling terkenal adalah olahan bakar, goreng tepung, dan kuah asam. Ditambah dengan sambal masak khas Labuan Bajo yang menggunakannggurus, cabai kecil yang terkenal pedas tak terkira. Makan pun makin nikmat, apalagi diiringi dendangan ombak yang menyaru dengan irama angin malam. 

Seafood Kampung Ujung

Kampung Ujung, Labuan Bajo, Manggarai Barat

Buka pukul 19.00-04.00

Harga per porsi mulai Rp 50 ribu

Kopi dan Kompyang

Budaya minum kopi orang Nusa Tenggara Timur sudah melekat. Kala tamu datang pun, suguhannya berupa minuman lokal bercita rasa pahit dan asam tersebut. Namun itu tak mengherankan karena kopi menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Selain itu, di daratan Flores, banyak ditemui warung-warung yang menjajakan kopi, selayaknya Kopi Mane yang dibuka pada 2015—kopi mane berarti kopi sore. Pemiliknya, Wenti Romas, meneruskan usaha ayahnya yang sudah lebih dulu dibuka di daerah Ruteng, Manggarai. 

Warung kopi milik Wenti menjajakan beragam jenis arabika dan robusta. Ada Manggarai, Juriah, Yellow Caturra, dan Lanang. Kopi yang menyimpan rasa paling istimewa adalah Juriah. Kopi ini dipanen 2 tahun sekali di atas ketinggian 1.300 mdpl. Belanda yang pertama kali membawa biji kopi tersebut di Ruteng. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi lain. After taste-nya menggambarkan karakter karamel, cokelat, dan tembakau yang kuat. 

Segelas Juriah atau kopi lain biasa disantap bersama kompyang, roti tradisional yang dibuat dari tepung beras dengan ditaburi wijen. Sebelum disajikan, kompyang harus digoreng hingga kecokelatan. Meneguk kelezatan kopi dan mencecap kompyang sembari menikmati sore adalah kebahagiaan sederhana di warung yang istimewa. 

Kopi Mane

Jalan Utama Bandara Komodo Labuan Bajo, Flores

Buka pukul 09.00-21.00

Harga kopi mulai Rp 20 ribu, kompyang Rp 2.500

F. Rossana/A, Prasetyo

Empal Gentong Cirebon, 5 Yang Maknyus

Empal gentong Cirebon adalah kuliner legendaris kota Udang.

Empal gentong Cirebon menjadi salah satu kuliner yang wajib disantap ketika mampir ke kota udang itu. Meskipun kini orang dapat menemukan empal gentong Cirebon di daerah lain cukup mudah, namun mencicipinya langsung dari daerah asalnya akan berbeda cita rasanya.

Empal Gentong Cirebon

Ya, makanan khas ini memang populer hingga ke penjuru negeri. Rasanya yang nikmat membuat banyak orang menyukainya. Jika dilihat sekilas akan banyak yang mengiranya sebagai gulai. Ke dua makanan tersebut memang tampilan sekilasnya mirip, namun sebenarnya sangat berbeda, baik dari bumbu juga cara memasaknya.

Empal gentong Cirebon sendiri memiliki nilai historis cukup panjang. Bagaimana cerita di balik manakan lezat yang menggoda selera ini?

Sejarah Empal Gentong Cirebon dalam sejumlah catatan diperkirakan muncul pada abad ke 15 masehi dan dipercaya sebagai salah satu media penyebaran agama Islam di Cirebon, juga Jawa Barat. Meskipun belum ditemukan catatan otentikny, namun hal itu cukup diyakini masyarakat.

Empal gentong Cirebon dulu dijadikan sarana untuk menyebaran agama ISlam.

Keyakinan tersebut salah satunya diperkuat dari bahan utamanya. Pada awal kemunculannya, empal gentong dibuat dengan menggunakan daging kerbau.

Pemilihan jenis daging ini memeiliki pertimbangan pada masa itu masyarakat Cirebon banyak menganut agama Hindu. Sementara sapi merupakan hewan sakral di agama tersebut sehingga tidak boleh dikonsumsi.
Empal gentong Cirebon sendiri merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Arab, India, dan Cina yang berakulturasi dengan baik. Dilihat dari ciri makanannya, empal gentong memiliki kuah seperti gulai yang merupakan makanan dengan pengaruh Arab dan India.

Sedangkan bumbu-bumbunya banyak berasal dari budaya Cina dan lokal. Selain itu, di dalam makanan ini biasanya dicampur jeroan, bahan yang sering dijumpai pada makanan khas Tionghoa.

Daerah Cirebon memang menjadi pelabuhan tempat singgahnya pedagang dari berbagai negara, tak heran jika akhirnya semua budaya berakulturasi.

Sumber lain menyebutkan bahwa nama empal gentong diambil dari cara memasaknya yang dibuat di dalam kuali atau perik tanah liat atau gentong. Kemudian dimasak di atas tungku dengan bahan bakar kayu.

Cirebon merupakan kota pelabuhan yang didatangi banyak pedagang dan pelaut dari pelbgai negara.
Pantai Kejawanan, Cirebon (Rosana)


Sejak zaman Sunan Gunung Jati, sekitar awal 1400-an, di wilayah barat Cirebon sebelah utara Jamblang ada Desa Situwinangun yang dikenal sebagai pembuat anjun atau gerabah yang terbuat dari tanah liat diantaranya gentong dan padasan.

Kabarnya empal gentong khas Cirebon ini tercipta berawal dari kreativitas masyarakat Cirebon pada zaman dahulu yang memanfaatkan gentong sebagai media untuk memasak empal.

Dengan berlimpahnya kayu dan pohon asam, masyarakat Cirebon memanfaatkannya sebagai kayu bakar untuk memasak empal gentong Cirebon. Menurut masyarakat Cirebon memasak dengan menggunakan kayu bakar dari pohon asam dipercaya memiliki aroma yang khas pada masakan.

Meskipun belum ada sumber yang tepat mengenai asal usul empal gentong Cirebon ini, namun masyarakat percaya bahwa makanan ini menjadi salah satu taktik penyebaran agama Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati pada waktu itu.

Manapun cerita tentang asal-usul empal gentong ini, yang pasti masakan ini enak dan menjadi kuliner wajib jika berkunjung ke kota di Jawa Barat ini. Lalu mana tempat makan empal gentong yang paling maknyus?

Empal Asem shutterstock
Selain epal gentong yang bersantan, ada pula empal asem yang berkuah bening. Foto: shutterstock

Ketika dolan ke Cirebon, ada beberapa tempat makan empal gentong Cirebon yang sangat terkenal. Berikut ini lima rekomendasinya.

Empal Gentong H. Apud

Warung makan yang satu ini bukan saja terkenal namun juga legendaris. Penjual empal gentong Cirebon terkenal ini sudah ada sejak 1994. wisatawan bisa menemukan tenpat ini di Jalan Tujuh Pahlawan Revolusi, Jalan Juanda, atau di kawasan Batik Trusmi.

Dagingnya empuk, dan bumbunya menyatu dengan daging. Untuk mencicipi makanan ini, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 23 ribu untuk satu porsi. 
Empal Gentong Amarta

Warung empal gentong Amarta tak kalah legendarisnya dibanding Haji Apud. Tempat ini sudah ada sejak 1997. Lokasinya ada di Jalan Ir. H. Juanda Battembut, Kabupaten Cirebon. Harga empal gentong di tempat ini Rp 24 ribu per porsinya. Rasanya maknyus dengan bumbu khas dan tekstur daging yang empuk.

Empal Gentong Krucuk

Wisatawan juga bisa mencicipi empal gentong Cirebon di tempat makan yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini. Di sini makanannya disajikan dengan kuah kuning serta taburan bawang merah dan kucai yang membuat rasanya semakin sedap.  Satu porsi empal gentong Rp 20 ribu sudah termasuk dengan nasi.

Empal Gentong Bu Darma

Rumah makan empal gentong yang satu ini sudah ada sejak 1980. Lokasinya juga terletak di Jalan Slamet Riyadi, Cirebon. Dengan membayar Rp 22 ribu, pengunjung sudah bisa merasakan sensasi menikmati empal gentong.
Empal Gentong Hj. Dian

Tempat makan empal gentong Cirebon terkenal selanjutnya adalah warung Hj. Dian. Lokasinya di Jalan Raya Ir. H. Juanda Tengah Tani, Cirebon. Restoran ini salah satu tempat makan incaran para wisatawan yang ingin mencicipi makanan khas Cirebon. Harga satu porsi empal gentong di sini Rp 25 ribu.

Selain empal gentong yang kuahnya bersantan, wisatawan juga bisa menanyakan ke para penjual tersebut masakan empal asem. Sama-sama masakan daging, kuahnya bening dan ada sensasi rasa asem karena menggunakan belimbing wuluh yang segar.

agendaIndonesia

*****


Sensasi Wisata Dalam Air, 2 Yang Unik Dicoba

Sensasi wisata dalam air tak sekadar menyelam, tapi ada pula yang untuk berfoto.

Sensasi wisata dalam air rasanya pasti berbeda dibandingkan menikmati pemandangan di daratan. Terlebih di era sosial media yang menambah syarat spot wisata: instagramable. Serba bisa diunjukkan di akun instagram wisatawan. Sampai ada yang berpendapat, banyak orang yang berwisata bukan untuk menikmati suasana dan budaya yang berbeda, tapi sekadar membuat ‘prasasti’ pernah di tempat itu.

Sensasi Wisata Dalam Air

Tak apalah, sekadar mengabadikan pernah main ke tempat itu, atau memang menikmati keunikan destinasi wisata yang dikunjungi, dua-duanya layak dilakukan. Dan, menikmati pemandangan di dalam air adalah cara berbeda melakukan perjalanan.

Namun, jika berwisata dalam air itu berarti menyelam, tentu saja meminatnya jadi terbatas. Ini ada dua spot wisata dalam air yang layak dicoba bagi mereka yang bukan penyelam tapi ingin coba-coba menikmati sensasi kehidupan bawah air.

Sensasi wisata dalam air selain untuk kesenangan menyelam, juga bisa dilakukan untuk keperluan sosial media.
Salah satu spot yang instagramable di Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Foto: dok. shutterstock

Umbul Ponggok Klaten

Ingin snorkeling atau menyelam tapi takut gelombang laut? Tak usah khawatir. Silakansambangi Umbul Ponggok. Kolam di Desa Umbul Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Spot ini masih sangat alami, berupa hamparan pasir nan luas, bebatuan, dan ribuan ikan warna-warni sehingga suasananya benar-benar seperti di bawah laut. Di kala normal, bukan saat pandemi, Umbul Ponggok buka setiap hari, mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

Tempat wisata ini terbilang cukup berbeda dibanding kolam renang pada umumnya. Airnya berasal langsung dari mata air. Dasar kolamnya pun memiliki pasir, karang, hingga berbagai jenis ikan. Meski dipenuhi ikan, air di Umbul Ponggok tidak amis karena airnya terus mengalir.

Selain sebagai tempat snorkeling, Umbul Ponggok kerap dijadikan lokasi latihan menyelam bagi para pemula sebelum mereka benar-benar menyelam di laut. Bahkan kolam alami yang sudah ada sejak zaman Belanda itu memberi pula kesempatan pengunjung untuk berfoto di dalam air sambil bermain video game, nonton televisi, naik sepeda motor, atau melakukan aktivitas lain.

Wisatawan yang masuk ke dalam kolam bisa menemui beberapa spot foto menarik. Memang, pengelola menaruh beberapa benda unik di dalam kolam, seperti motor bebek klasik, sepeda onthel, meja makan, kursi santai, televisi, hingga laptop. Barang-barang bisa disewa untuk sesi foto. Salah satu spot foto yang kerap digandrungi wisatawan adalah tempat duduk ala taman.


Selain bisa berfoto ria bersama ikan dan beberapa properti yang telah disediakan, wisatawan juga bisa snorkeling dan diving di Umbul Ponggok. Wisatawan tidak perlu khawatir jika tidak memiliki peralatan menyelam. Sebab, tempat wisata menyewakan beberapa perlengkapan. Untuk snorkeling, pengunjung bisa menyewa pelampung, kaki katak, dan masker khusus snorkeling.
Tarif untuk menikmati wisata bawah air ini bervariasi dan tidak terlelu mahal. Tiket masuknya di week day hanya Rp 10 ribu, sedangkan untuk week end Rp 15 ribu. Tarif termahal adalah untuk kelas menyelam tang mencapai Rp 250 ribu.

Saat ini wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, menghadirkan wahana baru di wisata mata airnya, yaitu flying board. Wahana baru tersebut merupakan upaya untuk menarik pengunjung di tengah pandemi Covid-19.

Sensasi wisata dalam air bisa dilakukan berupa 'jalan-jalan' di dasar lautan, seperti di Lembongan, Bali.
Suasana di perairan bawah laut Lembongan, Nusa Lembongan Island, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Nusa Lembongan, Bali

Atraksi wisata dalam air di Pulau Lembongan, Bali, lain lagi. Pulau Nusa Lembongan lokasinya berada di tenggara pulau Bali dan masuk dalam pemeritahan Kabupaten Klungkung. Hal yang membuat pulau Nusa Lembongan disukai wisatawan untuk destinasi liburan karena keindahan alamya. Keindahan yang dapat Anda lihat di pulau Nusa Lembongan seperti pantai pasir putih, hutan bakau dirimbuni pepohonan hijau, serta keindahan pemandangan bawah laut.

Salah satu daya tarik pulau Nusa Lembongan terdapat pada keindangan perairan bawah laut. Hampir disebagian besar area di Nusa Lembongan Anda akan melihat penawarkan aktivitas snorkeling dengan Manta Rays atau aktivitas menyelam.

Yang unik, di pulau kecil ini, wisata dalam air berupa sea walking atau jalan-jalan di dasar laut. Sesuai dengan namanya, wisatawan yang ingin mencicipi atraksi ini tak perlu menyelam, cukup berjalan kaki. Untuk itu, wisatawan dibekali helm yang dirancang khusus agar dapat bernapas saat berada di dalam air. Sea walking diklaim lebih seru dibandingkan menyelam ataupun snorkeling karena turis bisa langsung berinteraksi dengan ikan-ikan.

Banyak agen wisata di Bali yang kini menawarkan atraksi tersebut dengan harga bervariasi, mulai Rp 520 ribu per orang. Wisatawan dibawa menggunakan perahu cepat dari Sanur menuju Lembongan selama 30 menit. Kemudian, barulah menjelajahi alam bawah lautnya, juga selama 30 menit. Sea walking juga dianggap lebih aman karena didampingi oleh dive master.

Andry T./TL/agendaIndonesia

*****

Susu Sapi Boyolali, 1 Sentra Susu Segar

Susu sapi Boyolali sentra susu di Jawa.

Susu sapi Boyolali menjadi salah satu daya tarik pelancong datang ke kota kecil di Jawa Tengah itu. Terlebih lagi kini kota tersebut sudah menjadi satu rangkaian dari jalan tol TransJawa. Jika berjalan dari Semarang ke arah Solo, ada exit di Boyolali.

Susu Sapi Boyolali

Kabupaten Boyolali mendapat sebutan sebagai Kota Susu. Ini mengingat daerah ini merupakan penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah. Kota ini bahkan punya patung sapi perah raksas sebagai ikon daerahnya.

Boyolali memiliki banyak peternakan sapi perah, terutama di daerah selatan dan dataran tinggi yang berhawa sejuk, di mana banyak tersedia pakan hijau yang sangat mendukung perkembangbiakan ternak.

Susu sapi Boyolali selain dikonsumsi langsung juga menjadi aneka produk olahan.
Susu sapi sesudah dari perahan. Foto; shutterstock

Kabupaten yang terletak sekitar 25 kilometer sebelah barat Kota Surakarta ini kadang dijuluki juga sebagai New Zealand Van Java atau Selandia Baru dari Jawa. Sebutan ini berdasarkan kesamaan keduanya, yakni sama-sama sentra produsen susu dan daging sapi.

Sebagian besar wilayah Boyolali terletak di dataran tinggi sehingga cocok untuk menjadi tempat budi daya sapi perah. Dengan potensi budidaya sapi sebesar ini, wajar jika Boyolali menjadi kota Susu. Selain sapi perah, kota tersebut juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong.

Potensi pariwisata di Kabupaten Boyolali juga sangat besar. Ada berbagai wisata alam, wisata edukasi, sejarah dan budaya yang ada di daerah ini. Yang kian dkembangkan tentu saja soal produksi sapi.

Memanfaatkan peternakaan sapi perah yang ada, seperti wisata sapi perah Cepogo, wisata Selo, wisatawan bisa datang dan melihat langsung dan terlibat dalam proses pemerahan susu sapi, hingga susu diolah menjadi berbagai produk olahan seperti keju, kerupuk susu, dodol susu, atau yogurt.

Keju mozarela dari Boyolali berawal ketika ada warga negara Belanda yang mencoba mengembangkan produk susu.
Keju Mozarela produksi Boyolali dari susu sapi lokal. Foto: Tokopedia

Di wilayah Boyolali juga terdapat beberapa gunung, dua di antaranya adalah Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Ke dua gunung tersebut menjadikan kondisi tanah di Boyolali sangat subur.

Suhu dan kondisi alam yang tepat inilah yang membuat ratusan sapi perah bisa berkembang biak dengan baik di Boyolali. Kota ini menjadi salah satu pemasok susu di Indonesia. Per harinya, produksi susu sapi bisa mencapai 120 ribu liter.

Tapi main atau mampir ke Boyolali tak lengkap jika tak mencicipi produk susu dan turunan kulinernya. Jika tak langsung dikonsumsi, bisa dijadikan oleh-oleh.

Yang pertama tentu saja mencicipi susu segarnya secara langsung. Tradisi nongkrong malam-malam di kedai susu berawal dari kota ini. Wisatawan bisa mendatangi kedai-kedai minum susu terbaik di Boyolali untuk merasakan nikmatnya susu sapi Boyolali yang segarnya alaminya.

Banyak tempat yang menyajikan minuman dan makanan berbahan dasar susu sapi Boyolali. Di antara semua kedai susu, yang paling populer di kalangan warga adalah Waroeng Spesial Susu Segar (SSS).

Selain SSS, pelancong juga bisa mencoba susu sapi Boyolali di kedai Mas Bejo. Susu Segarnya yang khas membuatnya didatangi banyak pengunjung dari dalam kota maupun pelancong.

Berlokasi di di Jalan Pandanaran No 241, Susu Segar Mas Bejo menyediakan berbagai macam menu susu yang harganya sangat murah. Dengan uang kurang dari Rp 10 ribu, wisatawan sudah bisa menikmati segelas susu sapi segar dengan rasa favorit.

Selain susu segar, produk khas daerah Boyolali pertama adalah tahu susu. Makanan ini merupakan olahan dari susu dengan cita rasa yang khas dan unik.

Perbedaan itu bisa dilihat dari aroma dan rasa yang lebih manis. Dari segi tekstur, tahu di sini sangatlah lembut dan kenyal. Bahkan, ada beberapa yang ketika pertama kali dipegang langsung hancur atau rapuh seketika.

Tahu susu kerap dijadikan oleh-oleh khas Boyolali yang tahan lama. Wisatawan bisa membawa tahu susu yang masih mentah yang dikemas dalam plastik. Harganya pun terjangkau yang ditemukan di toko oleh-oleh sekitar Boyolali.

Selain tahu susu, susu sapi Boyolali juga dioleh menjadi dodol susu. Berbeda dengan dodol dari daerah lain, dodol susu memiliki rasa yang lebih manis dan creamy. Kudapan ini cocok untuk wisatawan yang menyukai makanan manis. Rasa dodol susu relatif mudah diterima di lidah semua kalangan, dari anak kecil hingga orang tua.

Makanan khas dari Boyolali yang dapat dijadikan oleh-oleh selanjutnya adalah Keju Meneer. Makanan hasil fermentasi susu sapi ini berasal dari daerah Selo.

Dulunya ada warga Belanda yang tinggal di daerah itu dan berkeinginan untuk mengembangkan potensi susu sapi di wilayah ini dengan baik. Dengan keinginannya tersebut, ia membuat produk keju dengan rasa yang sangat gurih. Keju meneer bisa tahan sekitar tujuh hari di perjalanan.

Abon Sapi Boyolali Tokopedia
Abon sapi Boyolali. Foto: Tokpedia

Kota Boyolali tidak hanya terkenal sebagai daerah penghasil susu sapi segar terbesar di Jawa Tengah, tetapi daerah itu juga dikenal dengan olahan daging sapinya. Karena itu, tidak lengkap jika para wisatawan belum mencicipi sekaligus membawa olahan daging sapi dari daerah ini. Seperti dendeng atau abon.

Dalam proses pengolahannya, produsen menggunakan daging sapi pilihan dan bumbu yang berkualitas agar bisa menghasilkan dendeng sapi bercita rasa khas. Daging sapi harus diiris setipis mungkin sebelum dibumbui dan direndam dalam bumbu rempah.

Setelah beberapa waktu, daging sapi berbumbu dikeringkan secara maksimal. Dendeng sapi yang sudah jadi kemudian dikemas dalam plastik yang direkat dan bisa dibawa untuk perjalanan jauh. 

Produk olahan daging lainnya adalah abon sapi khas Boyolali. Sama seperti abon pada umumnya, bentuknya serabut berwarna kecoklatan terang hingga kehitaman. Cita rasanya dominan gurih dan manis sehingga cocok dijadikan sebagai makanan pendamping nasi.

Harga dari abon sapi khas Boyolali ini relatif terjangkau. Abon Sapi juga memiliki ketahanan yang lama karena kering dan tidak ada air di dalam kemasannya sehingga cocok untuk dibawa dengan perjalanan yang lama.

Jadi kapan dolan ke Boyolali? Cobalah mampir sebentar saat perjalanan dari Jakarta, Semarang atau kota lainnya dan melintasi kota ini. Kalau tak sempat main lama, produk susu dan olahannya bisa jadi alternatif buah tangan.

agendaIndonesia

*****

Pedang-pedang Indah Cibatu Sejak 1985

Pedang-pedang indah Sukabumi, selain indah juga syarat sejarah. Foto: TL-Rully kesuma

Pedang-pedang indah Cibatu, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, adalah kerajinan yang tak hanya elok, pedang-pedang ini pun dipesan karena nilai sejarahnya. Tak selamanya alat yang berkesan keras dan berbahaya ini sesungguhnya memiliki nlai seni yang tinggi. Bahkan juga ada syiar agama.

Pedang-pedang Indah

Betul, ada kisah sejarah perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya terkait pedang-pedang indah itu. Kisahnya, di seantero jazirah Arab orang mengenal Amru bin Abda Wudd sebagai kesatria Quraisy yang ganas. Ketika Perang Khandaq berlangsung, ia menantang duel para pengikut Nabi Muhammad. “Siapa di antara pengikut Muhammad yang berani berduel denganku?” ujarnya.

Tantangan tersebut tak ayal membuat para sahabat Nabi kecut. Mereka mengenal betul siapa Amru bin Abda Wudd. Tak hanya memiliki tubuh yang besar dan tegap, Amru mahir memainkan tombak dan pedang. Suasana menjadi hening dan mencekam. Tak seorang pun menerima tantangan tersebut.

Ali bin Abi Thalib, yang mendengarkan tantangan itu, gelisah. Ia memohon izin kepada Nabi untuk melayani tantangan tersebut, tapi tak dikabulkan. Beberapa kali memohon, akhirnya Ali diizinkan juga.

Pertarungan dahsyat tak terelakkan lagi. Suara keras benturan pedang terjadi berulang-ulang. Tak beberapa lama, pertarungan berhenti. Tubuh Amru bin Abda Wudd ambruk dengan bahu terbelah. Wajah Rasulullah berseri-seri melihat kemenangan Ali. Beliau lantas bersujud syukur di atas tanah dan mengucapkan, “Laa saifa illa Dzulfiqar wa laa fataa illa Ali.” Artinya, tidak ada pedang kecuali Pedang Dzulfiqar dan tidak ada pemuda segagah Ali.

“Kalimat itu tergores di sarung Pedang Dzulfiqar atau Dzulfaqor,” kata Haji Aas Asyari, perajin pedang, golok, dan pisau di Cibatu, Sukabumi. Ia pun menunjuk ke salah satu pedang berwarna emas.

Pedang-pedang indah Cibatu, SUkabumi, dipesan untuk kecintaan pada keindahan, bukan kekerasan,
Pedang-pedang indah karya Pak Haji Aas Asyari, Sukabumi. Foto: Dok. TL/Rully K

Pedang yang dipajang di salah satu dinding ruangan itu memang lebih mencolok ketimbang pedang-pedang indah lainnya. Selain warnanya berkilau, desainnya menawan. Bentuk pedang itu melengkung khas pedang Arab. Begitu pula gagangnya.

Namun, kata pria yang akrab disapa Pak Haji itu, pedang tersebut hanyalah replika pesanan dari salah satu konsumen. “Pedang yang asli konon sudah tidak ada lagi. Karena sudah dibuang ke laut. Sebab, berbahaya jika jatuh ke tangan orang lain,” ujarnya.

Selain memiliki pedang bermata dua yang memiliki simbol jihad dan keberanian Ali bin Abi Thalib itu, Haji Aas menyimpan Pedang Al-Battar. Sama halnya dengan Pedang Dzulfiqar, pedang ini replika pesanan seorang konsumen. Meski replika, kata Pak Haji, pedang itu dibuat nyaris sama dengan bentuk aslinya.

Untuk Pedang Al-Battar, misalnya, di sarung dan gagangnya terdapat 555 butir batu permata. Khusus di gagangnya, bertabur 150 butir permata. Walhasil, pedang dengan panjang hampir 100 sentimeter itu lumayan berat. Menurut dia, pedang aslinya masih tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Pria 61 tahun ini mengaku mewarisi keahlian ayahnya, Haji Syarifudin, yang memulai usaha sedari muda, pada 1985. Selain melayani pembuatan pedang-pedang indah untuk para kolektor, Haji Aas melayani pembuatan samurai, golok, dan pisau dari perguruan bela diri, termasuk Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI. Pelanggan tetapnya adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia dan Persatuan Pencak Silat dari Belanda.

Mengenai harga, ia mengatakan tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan. “Karena desain yang rumit membutuhkan waktu pengerjaan yang lama,” ucapnya. Untuk senjata tajam jenis golok, harganya bisa lebih dari Rp 250 ribu. Sedangkan harga pedang atau samurai mencapai setidaknya Rp 5 juta.

Meskipun masih menggunakan peralatan sederhana, perajin yang menamai usahanya Golok Pusaka itu sudah menghasilkan ribuan senjata tajam. Pedang-pedang indah karyanya tidak hanya dipesan pelanggan atau peminat dari Indonesia, tapi juga hingga mancanegara, seperti negeri seberang Brunei Darusalam dan Malaysia.

Lalu, apakah Pak Haji melayani pembuatan golok pusaka yang konon memiliki kesaktian? “Bisa saja. Tapi sekarang sudah jarang yang memesan golok seperti itu. Pembuatannya lebih rumit dan lama karena butuh ritual. Yang mengerjakannya juga harus berpuasa terlebih dulu dan menentukan tanggal pembuatannya,” ujar Pak Haji, yang mengaku masih memiliki kemampuan seperti itu. Wow!

DI Cibatu sendiri kini tumbuh semacam sentra kerajinan senjata tajam. Tak hanya pedang dan golok, namun juga pisau-pisau khusus. Banyak pelanggan luar negeri yang dating untuk memesan pisau-pisau ini.

agendaIndonesia/TL/Andry T./Rully K.

*****

2 Wisata Balikpapan, Udara Laut dan Hutan

iStock 509316323

Kota kilang minyak di Kalimantan Timur ini tak hanya tumbuh sebagai kota bisnis, tapi juga tempat wisata Balikpapan. Bandar udara yang tergolong anyar karena baru diresmikan pada September 2014 ini pun terlihat megah dan hadir dengan nama baru Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Berupa gedung berkonsep eco-airport dengan langit-langit tinggi, terdiri atas empat lantai, dan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. 

Balikpapan memang punya pilihan beragam destinasi. Di seputar kota ataupun hutan-hutan di pinggiran kota. Di dalam kota, misalnya, wisatawan bisa menikmati pantai dan kuliner serta pemandangan laut dari ketinggian. Ada Pantai Melawai dan Kemala, yang berada di Jalan Jenderal Sudirman. Jangan lupa juga mencicipi hidangan dari kepiting yang tersedia di sejumlah restoran. Hidangan yang satu ini memang lekat dengan kota ini. 

Yang Khas Wisata Balikpapan

Masih di pusat kota, pelancong juga berbelanja berbagai kerajinan khas Suku Dayak serta olahan makanan di Pasar Kebun Sayur. Benda-benda khas dari rotan dan bambu hingga batu warna-warni, yang berupa gelang, kalung, dan cincin, bisa ditemukan di sini. Selain itu, ada penangkaran buaya yang tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya, terletak di Kelurahan Teritip atau sekitar 27 kilometer dari pusat kota. Anda bisa bersua dengan ribuan ekor buaya, yang terdiri atas tiga jenis, yaitu buaya muara, supit, dan air tawar, yang menempati lahan seluas 5 hektare itu. Bisa juga berbelanja produk dari kulit buaya. 

Jika ingin menikmati hawa khas hutan, saatnya mengintip konservasi orang utan dan beruang madu yang dikelola Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 40 km dari pusat kota. 

Anda akan melalui jalur tanpa aspal dengan di sisi kiri-kanan pohon besar hingga menemukan kelompok orang utan di pulau-pulau buatan. Selain orang utan, ada juga kawanan beruang madu (Helarctos malayanus) di lahan yang berbeda.

Masih di daerah yang sama, ada pilihan lain, yakni Taman Nasional Bangkirai. 

Merupakan hutan konservasi seluas sekitar 1.500 hektare dengan koleksi tanaman tropis Kalimantan Timur. Daya tarik lainnya adalah jembatan gantung sepanjang 64 meter dengan ketinggian 30 meter di atas tanah. l

F. Rossana

Bakpia Balong Solo, 1 Kotak Isi 5

Bakpia Balong Solo, pia khas Solo, alternatif oleh-oleh.

Bakpia Balong Solo tentu tidak terlalu akrab di telinga pecinta cemilan. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama bakpia lebih dikenal sebagai makanan oleh-oleh khas dari Yogya, dan ke dua bakpia Solo ini masih belum bersertifikasi halal. Jadi memang harus hati-hati untuk yang muslim.

Bakpia Balong Solo

Bakpia sendiri adalah makanan khas Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya lokal Indonesia, khususnya Jawa. Bakpia adalah semacam pastri khas Fujian, salah satu daerah di Tiongkok, berupa kue yang terdiri dari gulungan kulit panggang dengan varian isi.

Kulit bakpia dibuat dari campuran tepung terigu, gula, dan garam yang kemudian dibentuk menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian diisi dengan isian, apapun isiannya, dan dibentuk bulat pipih.

Kota Solo memiliki kekayaan kulinari yang luar biasa, terasuk Bakpia Balong SOlo.

Pada awalnya, isian bakpia berisi daging babi (non-halal) dan kundur yang memiliki nama lain bakpia asin. Namun karena diasimiliasi dengan budaya Indonesia yang mayoritas beragama Islam, isian bakpia ini diganti dengan varian lain, seperti kacang hijau, keju, dan varian lainnya.

Jika pembuat bakpia di Yogyakarta cepat melakukan penyesuaian terkait kehalalan makanan ini, rupanya tidak demikian dengan produsen di Solo. Mereka membuat produknya tetap dengan patron resep lama mereka.

Barangkali itu sebabnya, jika mendengar kata ‘bakpia,’ mungkin yang terbayang di pikiran orang adalah Yogyakarta. Namun, sebenarnya Kota Bengawan ternyata juga memiliki bakpia legendaris yang sudah menjadi andalan cukup lama.

Adalah Bakpia Balong Solo, yang diproduksi dan dijual toko ‘Sumber Rejeki’. Ini adalah makanan khas peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah cukup melegenda di Kota Solo.

Dilansir dari sebuah sumber, kuliner ini disebutkan sudah ada sejak 1960-an dengan salah satu ciri khasnya dikenal karena ukurannya yang besar. Lebih besar dari ukuran bakpia dari yang selama ini dikenal dari Pathok Yogyakarta.

Pia Balong Solo IG
Bakpia Balong Solo ukurannya lebih besar. Foto IG Bakpia Balong

Bakpia Balong Solo ini sudah dikelola oleh tiga generasi dan menurut penjelasan pengelolanya saat ini, ukuran bakpia mereka yang lebih besar ini mengacu pada ukuran asli dari negara asalnya, yaitu Tiongkok. Pengelolanya pun mengetahuinya saat berkunjung ke Tiongkok.

Awalnya, Bakpia Balong Solo ini hanya tersegmentasi untuk komunitas masyarakat Tionghoa di Solo saja. Namun seiring berjalannya waktu, Bakpia Balong ini bisa dinikmati secara luas oleh kalangan masyarakat dan hingga sekarang menjadi oleh-oleh khas Solo.

Dalam perkembangannya pula varian isinya berkembang. Jika tadinya hanya daging saja, terutama daging babi yang non-halal, kemudian memakai isiannya memakai yang halal. Sayangnya, lagi-lagi, mereka belum memisahkan proses produksi yang halal dan non-halal.

Bakpia ini bisa ditemukan di kawasan Pecinan di Kota Solo, tepatnya di Jalan Kapten Mulyadi Nomor17, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta atau tidak jauh dari lokasi Pasar Gede Hardjonagoro. Penamaan ‘Balong’ sendiri diambil dari kawasan Pecinan yang bernama Kampung Balong.

Bakpia ini terkenal sejak lama. Meskipun tokonya kecil tapi masih bertahan hingga saat ini. Sekarang tokonya dengan pintu kaca dan ruangannya sudah berpendingin udara. Kemasan bakpianya juga lebih modern dan satuan dikemas dalam box kecil warna putih. Rasanya pun lebih bervariasi. Ada buah-buahan, kopi, atau daging.

Kalau yang dulu familiar dengan kemasan Bakpia Balong Solo yang masih dibungkus plastik isi 5 pia, sekarang sudah berubah, pakai kotak. Kemasan saat ini lebih Clean and light. Mereka rupanya mulai mengikuti perkembangan zaman. Dari rasa isinya tetap sama, baik dari rasa maupun ukurannya.

Bakpia Balong saat ini sekarang memiliki tujuh varian rasa yaitu chocolate pie, cheese pie, red Bean pie, mung Bean pie, chocolate cheese pie, durian pie dan meat pie. Bagi pecintanya, semua rasanya enak dan layak menjadi buah tangan saat sedang ke solo. Tapi sekali lagi, hati-hati jika tidak mengkosumsi produk non-halal.

Bakpia Solo IG

Bagi yang senang, disebut rasa bakpianya khas dan beda dengan bakpia tempat lain. Rasa kacang ijonya dikombinasi dengan tangkue (manisan winter melon) yang belum pernah ditemui di bakpia produk lain di Yogyakarta.

Saat ini ukuran bakpianya, meski tetaplebih besar dari bakpia umumnya, sedikit lebih kecil dibandingkan dulu dan harganya pun sudah naik. Satu box berisi lima seharga Rp 30 ribu. Ini bisa jadi alternatif oleh-oleh dari Solo buat teman yang bukan muslim.

agendaIndonesia

*****

Terbuai Gelombang di Pantai Bali Selatan

shutterstock 186

Sehari pasca-Kuningan, penjor-penjor masih berdiri gagah di sepanjang lorong gang-gang di Denpasar, Bali. Juga di pantai Bali di Pulau Dewata itu. Janur kuning belum berubah kecokelatan. Bunga-bunga di canang juga tampak baru kemarin sore ditata di papan persembahan. Pagi itu, para perempuan berkamen dengan rambut disanggul berlalu-lalang di sepanjang Sunset Road, Badung, Bali, diikuti para lelaki dengan aksesori udeng di kepala. “Mereka akan sembahyang di pura-pura keluarga,” kata Made Arya, warga asli Singaraja, yang bebeapa hari itu mengantar perjalanan di Bali. 

Mobil melaju ke selatan menuju pesisir Pulau Seribu Pura. Kian dekat pantai, tempat-tempat persembahyangan kian banyak dijumpai. Orang-orang mengantar doa makin berlipat jumlahnya. Kontras dengan warga-warga asing yang melaju santai membawa papan selancar, beriringan ke arah yang sama. 

Pantai Bali Setelah Kuta

Lamat-lamat, lantunan Kuta Bali Andre Hehanusa terdengar dari radio. …Di Kuta Bali kau peluk erat tubuhku, di Kuta Bali cinta kita… Made Arya memutar tombol volume. “Kuta dulunya memang ramai. Apalagi setelah upacara Kuningan begini. Namun orang sekarang mungkin agak bosan. Mereka mau yang lebih indah, yang lebih menantang. Yang asyik, ya, Bali bagian selatan, di pantai-pantai yang belum terjamah,” tuturnya. 

Mobil Made membelah jalan bertebing karst. Roda-rodanya luwes mengikuti jalur-jalur sempit dan berkelok. Patung Garuda Wisnu Kencana tampil di kiri jalan. Tak lama, sebuah papan kayu kecil di persimpangan jalan menarik pandangan. Pantai Gunung Payung. Begitulah tulisan yang tertera. Belum banyak literatur yang mengulas pantai ini. 

Jalan masuknya berupa jalur menuju kawasan golf di Uluwatu. Begitu sampai, sebuah lorong dengan dinding penuh tumbuhan merambat menyambut dan menuntun langkah menuju lokasi suara ombak terpecah karang bernaung. Jalannya cukup besar dengan kontur menurun. Namun semakin lama semakin menyempit. Jalan rata berubah menjadi tangga-tangga batu yang licin. Kanan-kiri semak belukar. 

Paralayang di langit Selatan Pulau Bali
Paralayang di langit Selayan pulau Bali.

“Jalan ke bawah masih jauh, buddy,” kata pria Australia berusia 30 tahun kepada rekan sejawatnya dalam bahasa Inggris. Napasnya tersengal. Sebab, sebelah tangannya menggendong papan selancar. DI seperempat jalan, terdapat sebuah spot, yang sering digunakan untuk berfoto, berupa tanah lapang dengan pemandangan lepas pantai. Diteropong dari atas, lanskap yang tersaji ialah hamparan Gunung Payung dengan pasir putih disapu ombak. Terlihat beberapa orang kulit putih berjemur santai sembari menikmati bir. 

Perjalanan masih cukup jauh. Kaki kembali melangkah. Kian ke bawah, tangga curam menghadang. Lanskap pantai dan gunung karang mulai tak terlihat. Lorong makin gelap. Sekitar 20 menit kemudian, lorong itu menemui ujungnya. Cahaya merasuk sedikit-sedikit. Hamparan pasir menyambut. Di anak tangga terakhir, saya seperti berada di sebuah gerbang yang membawa ke dunia lain. Oasis tanpa batas yang bersanding dengan lautan membikin jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Di ujung pantai, dekat dengan gunung karang, bule Australia yang saya temui di perjalanan tadi sudah melucuti pakaian luarnya dan berlari-lari kecil. Sejurus kemudian, papan itu diajak menari di atas gelombang. Sesekali terempas dan tubuhnya jatuh terpelanting ombak. 

“Deretan pantai Bali selatan memang surganya para surfer,” ucap Made memecah hening. Pantai Gunung Payung menjadi salah satu favorit lantaran punya gelombang yang besar. Namun yang berlaga di sini ialah kalangan profesional, juga yang siap mental digulung ombak ganas hingga 2-3 meter. Belum lagi, karakter pantai di bagian selatan tersebut sebagian besar berkarang. 

Melihat keadaan alamnya, memori langsung mengantarkan saya kepada obrolan bersama seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Denpasar, dokter Netty Santyari, beberapa waktu lalu. Ia berkisah tentang tarian gelombang yang diam-diam menghanyutkan. Banyak cerita para peselancar mengalami kecelakaan bila tak siap menghadapi tarian ombak yang elusif. Yang menakjubkannya adalah para peselancar itu kerap mengalami bencana tak terduga. “Rumah sakit tempat saya bertugas, Rumah Sakit Siloam Denpasar, sering menerima pasien yang cedera karena surfing. Tebak, mereka kebanyakan bukan mengalami patah tulang, tapi cedera wajah karena terbentur papan surfing,” tutur Netty kala itu.

Para peselancar dari luar negeri itu akhirnya harus tinggal lebih lama di Bali untuk mendapatkan perawatan intensif pemulihan wajah melalui operasi plastik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Jadi tak heran kalau yang berani bermain dengan gelombang selatan adalah para peselancar yang sudah andal dan siap menanggung segala risiko terburuk. 

Gunung Payung bukan satu-satunya pilihan. “Ada Green Bowl dan Nyang-nyang yang tak kalah elok untuk berselancar,” ucap Made. Dua pantai ini memiliki karakter serupa dengan Gunung Payung, sama-sama butuh perjalanan panjang menuruni bukit berbatu untuk sampai tujuan. Bahkan Green Bowl memiliki anak tangga lebih banyak. Sekitar 300 undak-undakan. 

Namun keindahan lanskap yang menyerupai gadis berkuntum, kalis dan suci, akan membayar peluh yang mengalir. Bibir pantainya tak terlalu luas, tapi bersih tak terkira. Pasirnya lembut bak bubuk gula halus. Karang-karang yang bercokol mendekati tebing mengesankan pemandangan yang dramatis. Ditambah, dengan gelombang laut yang memiliki ritme memikat. 

Dulu, pantai di Desa Ungasan ini merupakan area privat salah satu resor premium. Namun kini dibuka untuk umum. “Kalau mauberselancar di sini, paling bagus pukul 5 sampai 9 pagi atau 4 sore hingga 7 malam,” ucap Ketut Sane, warga setempat. Ia berkisah, Green Bowl memiliki pusaran gelombang di tengah laut yang membikin arus menyapu lebih ganas. Karena itu, ada jam-jam khusus saat ritme gelombang lebih stabil, tak terlalu rendah, juga tinggi. Di samping itu, Green Bowl cocok untuk merefleksikan diri atau sekadar sebagai media buat mendengar puisi alam paling merdu di dunia, ombak dan kicau burung laut yang bersahut-sahutan. 

Tak jauh dari Green Bowl, Nyang-nyang turut menjadi bagian pesisir Pulau Dewata yang merayu buat dinikmati kesyahduannya. Untuk menjangkaunya, perlu terpelanting, tergelangsar, atau terperosok ke jalan berbatu putih. Bukan hiperbola. Sebab, kemiringan jalur tersebut hampir membentuk sudut 80 derajat. 

Sembari bersusah menuruni jalur licin dan berkerikil, lagi-lagi saya bersemuka dengan para turis dari Eropa dan Australia. Beberapa juga berbahasa Rusia. Wisatawan dari kedua benua ini memang terkenal paling doyan menjangkau lokasi yang menantang adrenalin. “Semangat! Setelah ini, kita akan bermain-main dengan ombak. Eh, mana papan surfing-mu?” ujarnya menyapa. 

Saya hanya nyengir sembari memincingkan mata jauh ke depan. Jalur berbatu ini seakan tak berujung. Sekonyong-konyong, debur yang makin terdengar lantang membikin kaki meloncat girang. Bule-bule tadi sudah sampai duluan. Mereka sibuk memainkan papan selancarnya di atas gelombang. 

Saya berdiam mengeringkan keringat di karang besar yang siap menopang badan. Mata asyik menyimak angin yang menyapu gelombang, dan pasir meliuk-liuk terinjak kaki. Matahari berarak pulang. Langit mulai bergaris, berkecamuk memadukan semburat kuning, merah, dan biru tua. Turis-turis mengangkat papan selancarnya. Orang-orang meninggalkan pura di sekitar pantai. Sambil memejamkan mata, terbayang pengembaraan pulang meniti kaki mendaki jalur berbatu yang terjal dan ekstrem. 

F. Rossana/A. Prasetyo

Jambi, 2 Situs Warisan Dunia

Taman Nasional Gunung Kerinci/shutterstock

Jambi mungkin masih jarang dilirik wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal untuk dikunjungi. Padahal daerah ini memiliki begitu banyak hal yang layak untuk dinikmati. Dua di antaranya bahkan merupakan situs warisan dunia.

Sesungguhnya banyak penerbangan menuju ke Jambi, ibukota provinsi Jambi. Baik dari Jakarta, maupun dari kota lain seperti Padang, Medan atau Batam.

Jambi dan Candi Muaro Jambi

Berada di daerah pesisir Sumatera, Bandar Udara (Bandara) Sultan Thaha Syarifudin Jambi dapat dicapai dengan penerbangan hanya dalam 1 jam 15 menit dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang. Jarak yang tergolong pendek. Di provinsi ini, ada berbagai objek wisata yang tergolong istimewa, yakni Candi Muaro Jambi dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Keduanya telah dicatat Unesco sebagai situs warisan dunia yang harus dijaga selain beberapa tempat wisata seputar Jambi. 

Candi Muaro Jambi adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu. Candi ini merupakan salah satu kompleks candi terluas di Indonesia. Ciri khasnya adalah susunan batu bata merah pada semua bagian candi. Pada 2009, badan dunia United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan candi ini sebagai situs warisan dunia yang wajib dilindungi. Candi ini ditemukan oleh S.C Crooke, seorang letnan berkebangsaan Inggris pada 1820. Candi Muaro Jambi sempat dipugar oleh pemerintah Indonesia pada 1975. Hingga kini terhitung ada 61 buah candi yang sebagian besar tertutup tanah.

Bagi para pencinta alam, yang menarik dari provinsi ini tentunya, kawasan pegunungannya. Salah satunya, Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia. Umumnya, pendakian dimulai dari Desa Kersik Tua, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Desa dengan hamparan kebun teh nan luas. Salah satu yang terkenal dari Jambi memang buah tangan berupa teh Kayu Aro yang berkualitas ekspor. Kebun teh di Kersik Tuo merupakan bagian dari perkebunan teh Kayu Aro. 

Ada beberapa keistimewaan dari teh Kayu Aro. Di antaranya, merupakan perkebunan teh tertua di negeri ini karena sudah ada sejak masa penjajahan Belanda pada 1925. Tergolong terluas dan tertinggi kedua di dunia setelah perkebunan teh Darjeeling di India. Luasnya sekitar 2.500 hektare dan berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Selain itu, tehnya merupakan teh hitam berkualitas tinggi.

Di sekitar Gunung Kerinci juga ada Taman Nasional Kerinci Seblat yang menantang sekaligus menggoda bagi para pencinta alam. Taman Nasional ini juga telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Pesonanya tidak hanya keberagaman jenis flora dan fauna yang tumbuh, tapi juga keindahan Gunung Kerinci dan Danau Kerinci. Danau ini luasnya mencapai 5.000 meter persegi dengan tinggi 783 meter di atas permukaan laut. Danau ini pun kaya akan ikan-ikan. 

Di kawasan ini bisa ditemukan sejumlah objek wisata, seperti Danau Gunung Tujuh, yang dikelilingi oleh tujuh buah gunung. Gunung-gunung menjadi pembatas tepian. Danau ini merupakan salah satu danau terluas di Asia Tenggara. Danau seluas 960 hektare ini berada di Desa Pelompek Kecamatan Kayu Aro. Biasanya, untuk mencapainya para pencinta alam harus berjalan kaki selama 3-5 jam. Melelahkan sekaligus menggairahkan.

F. Rossana

Babat Gongso Semarang, Ini 5 Yang Enak

Babat gongs Semarang merupakan kuliner kota ini yang wajib dicoba.

Babat gongso Semarang merupakan olahan dari jerogan sapi jenis babat, isi perut, yang ditumis dengan berbagai bumbu dan bercita rasa pedas manis. Di Semarang biasanya babat gongso ini dijual oleh para padagang nasi goreng.

Babat Gongso Semarang

Sesungguhnya, babat gongso Semarang merupakan tumis babat dan bumbu sebelum dimasak atau dijadikan kondimen nasi goreng. Ia bisa dimakan dengan nasi sepakai lauk. Bisa pula dimakan tanpa nasi, atau malah dengan mie goreng.

Dengan fleksibiltas seperti itu, babat gongso bisa dinikmati kapan saja, baik untuk sarapan, makan siang atau malam hari. Selain itu, pecintanya dapat pula membuat makanan khas Semarang ini di rumah.

Lalu bagaimana sejatinya masakan ini bermula? Jongkie Tio dalam buku Semarang Tempo Doeloe menuliskan bahwa gongso adalah istilah Jawa untuk cara memasak makanan setengah kering. Begitupun, ia sedikit ragu masakan tersebut khas Jawa, karena kala itu sebagian besar masakan Jawa dimasak dengan dibakar. Besar kemungkinan masakan tersebut dipengaruhi budaya luar, misalnya Tiongkok.

Kota Semarang memiliki banyak pilihan kuliner, seperti babat gongso Semarang.

Dalam perkembangannya, babat gongso menjadi makanan khas Semarang dengan rasanya yang manis berkat penggunaan kecap. Ada versi dengan rasa yang lebih pedas, ini biasanya menambah cabai keriting atau rawit merah.

Babat biasanya direbus sampai empuk, potong kecil-kecil, lalu dicampur bumbu. Sedangkan gongso di sini artinya ditumis, jadi masakan ini tanpa kuah. Gongso biasanya dimasak dengan minyak di atas penggorengan, diorak-arik di atas wajan hingga setengah kering. Irisan bawang merah hampir selalu ada dalam pemasakan gongso. Konon, masakan yang digongso memiliki cita rasa dan aroma.

Saat berkunjung ke Semarang, wisatawan bakal dengan mudah menemukan orang berjualan babat gongso, yang biasanya juga menjajakan nasi goreng. Namun, ada beberapa tempat yang legendaris, khususnya untuk masakan babat gongso Semarang. Berikut lima warung babat gongso Semarang yang enak dan terkenal. 

Nasi Goreng Babat Sedang Dimasak Dok.
Nasi goreng babat gongso sedang dimasak. Foto: Dok. Pexels

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Pecinta kuliner jalanan saat melancong ke Semarang belum lengkap rasanya jika belum mencoba Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Berlokasi di Jalan Pemuda, dekat dengan Jembatan Mberok Kota Lama, tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Tempatnya dengan tenda.

Jika sedang sangat ramai, pengunjung bahkan harus rela makan melipir di pinggir kali. Mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat gemar makan di tempat ini.

Berdiri sejak 1971, Nasi Goreng Babat Pak Karmin terbilang legendaris. Tempatnya tak pernah berpindah sejak awal mula dibuka. Hingga saat ini, pemiliknya hanya membuka satu cabang di Jalan MH Thamrin Semarang yang dikelola oleh anak pertamanya.

Beragam sajian babat gongso Semarang yang bisa menjadi pilihan pengunjung ke tempat ini, di antaranya nasi goreng babat dan nasi babat.
Nasi babat gongso akan disajikan dengan rasa manis-pedas yang mampu menggoyang lidah. Sementara untuk nasi goreng, potongan babat yang dimasak lembut akan dicampurkan dengan bumbu gurih yang meresap pada nasi.
Warung ini buka setiap hari dari pukul 08.00-22.00 WIB.

Babat Gongso dan Nasi Goreng Pak Hengky

Babat gongso yang satu ini dari dulu memasaknya menggunakan tungku kayu bakar. Cara tersebut membuat hidangan menjadi lebih harum dan gurih. Tidak mengherankan jika nasi goreng babat Pak Hengky selalu ramai pembeli. Selain babat gongso, pengunjung juga bisa menikmati nasi goreng babat dan paru goreng di sana.

Berada di Jalan Puri Anjasmoro Blok K, kedai tersebut buka setiap hari dari pukul 17.00 sampai 23.00 WIB.

Nasi Goreng Babat Pak Taman

Pecinta kuliner bisa menemukan kedai ini di Jalan Stadion Selatan, Karangkidul, Semarang Tengah. Nasi Goreng Pak Taman namanya yang sudah buka sejak 1986. Kedai legendaris ini buka pukul 07.00-16.00 WIB dan hampir selalu ramai dikunjungi pembeli, khususnya pada jam makan siang.

Seporsi makanan di Pak Taman dihargai sekitar Rp 28 ribu. Untuk kantong warga Semarang mungkin tak bisa dibilang murah, namun kalau dilihat dari rasa harga tersebut cukup sesuai.

Babat Gongso Semarang Sajian Sedap
Babat gongso Semarang yang maknyus. Foto: Dok. Sajian Sedap

Babat Gongso Pak Sumarsono

Seperti babat gongso Pak Hengky, warung makan Pak Sumarsono juga menggunakan tungku kayu sebagai alat memasaknya. Kedai Pak Sumarsono berada di Jalan Puri Anjasmoro Nomor 54. Kedai tersebut hampir selalu buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga tengah malam, dengan harga seporsi gongso sekitar Rp 25 ribuan.

Babat Gongso Pak Sabar

Masih ada satu lagi yang layak dicoba yakni kedai nasi goreng Pak Sabar yang berada di Jalan Depok. Kedai tersebut sejatinya merupakan spesialis tahu pong, satu kuliner yang juga khas Semarang. Namun, pengnjung bisa memesan nasi goreng babat atau babat gongsonya.

Buka dari sore hingga menjelang tengah malam, seporsi makanan di sana hanya dibanderol sangat bersahabat dengan kantong.

agendaIndonesia

*****