Ayam Taliwang Dan 3 Menu Sumbawa Barat

Makanan Khas Taliwang

Pernah menikmati sajian ayam Taliwang? Menu ini ada di banyak kota di Indonesia, namun pernahkah pernahkah membayangkan menikmatinya di tempat aslinya?

Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan deretan pantai-pantainya yang berpasir putih. Juga gulungan ombaknya yang mengundang para peselancar dari berbagai dunia datang. Bagi mereka yang bukan pecinta selancar dan lebih menikmati kulinari dalam perjalanannya, Sumbawa Barat punya olahan dapur yang menarik dicicipi. Dipadu dengan nasi, ada empat pilihan yang khas kabupaten ini. Soal rasanya, tentu tak perlu diragukan. Semua jempolan! 

Ayam Taliwang Yang Asli

Sop Tulang Plus Sedotan 

Lazimnya sedotan disediakan ketika ada suguhan minuman. Tapi di RM Sayang Anak, Taliwang, sedotan juga disertakan dalam mangkuk berisi sop tulang. Rupanya, sedotan di sini bisa digunakan untuk mendapatkan sumsum yang berada di bagian dalam tulang. Maklum, yang disajikan lengkap berupa tulang berukuran besar. Kikil terasa empuk dan kuahnya gurih. 

Meski, saat saya datang, yang diolah hanya kaki dan kikil dari sapi. “Aslinya memang kerbau, tapi kadang sukanya tamu juga, jadi, ya, sekarang kebanyakan sapi,” ujar Lindayani, 43 tahun, pemilik rumah makan. Ia menyebut, yang membedakan adalah kaki kerbau biasanya ukurannya lebih besar dibanding kaki sapi. Untuk cara pengolahannya, tulang direbus dulu dengan dibubuhi bumbu, seperti jahe, merica, bawang merah, dan penyedap rasa. Manakala telah empuk dan dibuat sop, diberi lagi bumbu yang ditumis lebih dulu. Per porsi satu mangkuk sop ini dipatok di kisaran Rp 25 ribu. 

RM Sayang Anak 

Jalan Raya Taliwang Balat, Taliwang, Sumbawa Barat,

Buka: Pukul 10.00-21.00

Ayam Taliwang di Tempat Asalnya

Taliwang, kota kecamatan yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat, namanya sudah kesohor. Menyebut namanya pasti kebanyakan orang sembari menahan air liur. Maklum, yang dikenal adalah ayam Taliwang. Olahan ayam kampung dengan bumbu berasa pedas bikin orang ketagihan. Jadi rasanya belum komplet kalau belum mencicipi sajian tersebut saat berada di kota ini. Saya pun saat menelusuri kota ini, ada beberapa warung tenda ayam Taliwang. Hidangan khas ini juga menjadi menu di sejumlah rumah makan. 

Nah, di antaranya yang bisa menjadi pilihan adalah Rumah Makan Totang Rasa dan Warung Taliwang Mbak Nur, warung tenda yang lokasinya juga tak jauh dari Totang Rasa. Tersedia ayam yang diolah dengan cara digoreng atau dibakar, tentu yang membikin rasanya kian mantap adalah bumbunya. Terdiri atas cabai, terasi, bawang merah, asam jawa, dan sedikit gula, yang membuahkan aroma sedap. Rasa pedasnya pun sudah pasti bikin nafsu makan melonjak. Ayam ini diolah dengan cara dibakar lebih dulu, kemudian dikeprek, lantas diberi bumbu, lalu dibakar lagi. Per porsi berupa satu ekor ayam kampung dipatok pada kisaran Rp 35 ribu. Lebih nikmat lagi dilengkapi dengan plecing kangkung, yakni paduan kangkung, tauge, dan kacang tanah goreng yang diguyur sambal. 

RM Totang Rasa 

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 51, Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 08.00-21.00

Warung Taliwang Khas Lombok Mbak Nur , Jalan Jenderal Sudirman, Taliwang, Sumbawa Barat 

Sepat nan Segar

Ikan berkuah di hadapan saya ini sekilas tidak terlalu menarik. Dikenal sebagai olahan sepat, akhirnya saya pun mencobanya dan rasanya ternyata sedap dan menyegarkan. Inilah hidangan ikan khas Sumbawa. Bisa menggunakan jenis apa saja, bisa kerapu, kakap merah atau putih, bisa juga yang lainnya. Ikan terlebih dulu dibakar, baru disiapkan bumbu yang terdiri atas cabai, bawang merah yang dibakar, belimbing wuluh, jeruk munte, tomat, serta daun aru dan daun ruku atau di daerah lain dikenal dengan daun kemangi. Disiapkan bahan lain juga berupa terung ungu yang dibakar terlebih dulu. Hasilnya, ikan yang lembut dengan kuah yang bening tapi segar. Aroma wangi dari dedaunan yang ditambahkan pun menambah rasa sedap. Per porsi 14 ribu. 

RM Sayang Anak Jalan Labuhan Balat, Bugis Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 10.00-21.00

Singang Berkuah Kuning

Sama-sama ikan, tapi antara singang dan sepat dari tampilannya saja sudah berbeda. Bila sepat terlihat kuahnya yang bening dengan potongan cabai, dedaunan, dan belimbing wuluh, singang yang menonjol adalah kuahnya yang berwarna kekuningan. Berbahan ikan, bisa pilih tergantung selera. Bisa berupa ikan bandeng, kakap, atau yang lain. Bumbunya terdiri atas cabai merah, bawang putih, bawang merah, merica, kemiri, kunyit, asam jawa, serta daun ruku. Ikan berkuah kuning ini berasa lebih gurih ketimbang sepat. Meski tetap terasa ada sedikit rasa asam dan pedas. 

RM Sayang Anak 

Jalan Labuhan Balat, Bugis 

Taliwang, Sumbawa Barat

Buka: Pukul 10.00-21.00

Rita N/Fran

5 Makanan Khas Garut yang Unik

jajanan khas garut

Petualangan ke Talaga Bodas atau wisata sejarah ke Candi Cangkuang di Kabupaten Garut tak lengkap jika belum mencicipi makanan khas Garut ini. Aneka makanan ini umumnya manis, kecil, dan tahan lama sehingga sangat pas dijadikan buah tangan bagi kerabat di kota lain. Kebanyakan orang hanya mengenal dodol Garut. Padahal ada banyak pilihan lain yang tak kalah lezat.

Rekomendasi Makanan Khas Garut

makanan khas garut dodol

Dodol Garut

Garut telah begitu identik dengan dodolnya, seperti Semarang dengan lumpia dan Yogyakarta dengan bakpianya. Jenisnya sangat beragam, seperti dodol wijen, dodol kacang, dodol nanas, dodol nangka, dodol tomat, dodol durian, dan buah-buahan lainnya. Ada pula gabungan cokelat dan dodol yang populer dengan nama Chocodot.

Burayot Garut

Burayot adalah makanan dari campuran gula merah, tepung beras, dan kacang tanah, lalu diolah dengan minyak kelapa. Proses penggorengannya memunculkan aroma khas dari makanan tersebut. Seiring semakin banyaknya penggemar, kini tersedia varian rasa, dari rasa durian, cokelat, kacang hijau, dan masih banyak lagi.

makanan khas garut dorokdok

Dorokdok Garut

Jika dilihat sekilas, dorokdok tak ubahnya seperti kerupuk kulit pada umumnya, padahal bahan bakunya berbeda. Kerupuk kulit terbuat dari kulit kerbau, sedangkan dorokdok terbuat dari kulit sapi. Dorokdok diolah menggunakan rempah-rempah dan tanpa bahan pengawet. Pengolahannya memerlukan waktu lima sampai tujuh hari karena harus direbus dan dijemur dulu sebelum digoreng. Dorokdok tersedia dalam dua versi, original dan pedas.

makanan khas garut emplod

Emplod Garut

Emplod dikenal juga dengan sebutan endog lewo. Artinya, telur yang terbuat dari Kampung Lewo. Bahan dasarnya singkong yang telah digiling dan diperas, kemudian didiamkan selama 24 jam. Selanjutnya, singkong dicampur dengan parutan kelapa dan aneka bumbu. Adonan emplod dibentuk menjadi bulatan kecil sebesar kelereng, baru kemudian digoreng. 

makanan khas garut ladu

Ladu Garut

Tekstur ladu atau disebut juga dengan malangbong ini mirip dodol, tetapi sedikit lebih kasar dan keras. Ladu terbuat dari bahan dasar tepung ketan yang diolah bersama campuran gula aren dan parutan kelapa. Rasa manis yang tidak terlalu dominan memberikan perbedaan dengan dodol. Sementara teksturnya yang cenderung renyah memberi sensasi yang unik ketika digigit dari makanan khas Garut yang satu ini.

Demikian ulasan 5 makanan khas Garut, sebuah kabupaten di provinsi Jawa Barat yang layak Anda coba bila berkunjung ke kota yang terkenal dengan julukan ‘Garut Swiss van Java’ atau Swissnya Jawa ini.

Keliling Jawa Barat Dengan Kereta Api

Pandangan udara dari sebuah jembatan kereta api di lanskap sawah di Jawa Barat

Dari balik kaca kereta yang melaju, hutan dan sawah seolah berlarian ke belakang. Dunia para penumpangnya pun dibawa ke masa lampau, ketika roda-roda besi menggerakkan kehidupan di Jawa Barat. Hingga hari ini, jalur kereta dan artefak transportasi itu masih lestari. Lekaslah naik dan rasakan pengalaman melewati terowongan tua, jurang yang menganga, hingga stasiun-stasiun lawas dari abad kesembilan belas.

Jawa Barat Alamnya Indah

Romantisme masa silam tak hanya dapat dinikmati lewat artefak di museum-museum. Jawa Barat justru menawarkan sensasi ini melalui perjalanan di atas roda besi kereta api. Wisatawan dapat memilih bepergian naik kereta wisata dengan fasilitas mewah atau menggunakan kereta lokal yang sarat akan pengalaman unik. Stasiun-stasiun kecil, jembatan tinggi, terowongan tua, dan panorama pegunungan akan memberikan memori tak terlupakan ketika Anda menyusuri sudut-sudut Jawa Barat.

original SB2012031830
Stasiun Kereta Api Bandung, Jawa Barat .
  • Kereta Wisata Jakarta-Bandung

Jalan tol Jakarta-Bandung tak jua lelah menampung ribuan kendaraan dan berjam-jam kemacetan setiap harinya. Mengapa tak mencoba naik kereta dan merasakan eksotisme bentang alamnya? Tinggalkan ponsel Anda dan lihatlah keluar saat kereta melewati jembatan Cisomang, Kabupaten Purwakarta. Ini adalah jembatan kereta tertinggi di Indonesia yang masih aktif. Di kanan-kiri, hanya sungai dan jurang yang menganga sedalam 100 meter!

Naik apa? Perjalanan akan semakin lengkap dengan kereta wisata Argo Parahyangan Priority. Gerbongnya menyajikan kemewahan berupa interior eksklusif, video on demand, jaringan internet nirkabel, dan menu coffee break. Harga tiket Rp 250 ribu untuk sekali jalan.

  • Kereta Lokal Cibatu-Purwakarta

Cibatu adalah sebuah desa di Kabupaten Garut. Maka pengalaman yang akan Anda dapatkan pun identik dengan kehidupan pedesaan yang masih asri dan alami. Sepanjang jalan, hanya ada stasiun-stasiun kecil seperti Karang Sari, Cimindi, Maswati, Plered, dan Ciganea. Selain pemandangan serbahijau, kereta juga melewati terowongan terpanjang yang masih aktif, yaitu Sasaksaat. Lalu di dekat peron Stasiun Purwakarta, Anda akan menemui kuburan kereta warna-warni yang sempat viral di media sosial.

Naik apa? Kereta Simandra hanya bertarif Rp 8.000 sekali jalan. Tiketnya harus dibeli di stasiun Cibatu atau Purwakarta. Namun tiket Jakarta-Cibatu tersedia secara daring, yaitu menggunakan kereta Serayu dengan harga sekitar Rp 63.000.

  • Kereta Komersial Bogor-Sukabumi

Kabupaten Sukabumi memiliki segudang tempat wisata yang menarik, antara lain Situ Gunung dan Geopark Ciletuh. Bepergian ke sana paling pas tentu dengan naik kereta dari Stasiun Bogor Paledang. Selama 2 jam perjalanan, penumpang disuguhi pemandangan yang beragam, dari permukiman, persawahan, dan yang paling mencolok, kemegahan Gunung Salak. 

Naik apa? Kereta yang tersedia adalah Pangrango kelas ekonomi dan eksekutif. Pangrango ekonomi bertarif Rp 30.000 dengan fasilitas AC rumahan dan tempat duduk 2-2 yang berhadapan. Sementara Pangrango eksekutif bertarif Rp 70.000 dengan fasilitas AC khusus kereta dan tempat duduk yang bisa disandarkan.

Bahan dan Foto Dok. Javalane

Bika Ambon, 1 Oleh-oleh Khas Medan

Bika Ambon merupakan oleh-oleh khas Medan meskipun memakai nama ibukota Maluku.

Bika Ambon adalah penganan yang unik. Secara guyon, makanan ini seakan tak punya jati diri, memakai nama Ambon namun sejatinya kue khas kota Medan, Sumatera Utara.

Bika Ambon

Kue bika ini bentuknya adalah kue pipih berwarna kuning yang permukaannya nampak seperti pori-pori dengan bagian bawahnya keras. Ini tentu sisa dari tempaan panas di dasar loyang. Makanan ini biasa tersaji dalam potongan persegi. Saat dimakan, citarasa legit tercampur dengan sensasi kenyal di lidah.

Seperti disebut di muka, walaupun menyandang nama Ambon, kue ini tidak berasal dari ibu kota Maluku itu, tetapi justru berasal dari Medan. Kue bika dikenal sebagai penganan nusantara sebagai kuliner khas Medan, Sumatera Utara.

Nama Bika sendiri menurut sumber terilhami dari kue khas Melayu yaitu Bika atau Bingka yang kemudian dimodifikasi dengan menambahkan pengembang dari bahan nira atau tuak Enau agar dan menjadi berbeda dari kue bika atau bingka khas Melayu tersebut.

Bika Ambon memiliki sejumlah versi asal-usul namanya.
Oleh-oleh khas Medan. Foto: shutterstock

Makanan ini kemudian mulai beradaptasi mengikuti laju zamannya. Kini, ia tidak lagi hanya berwarna kuning, namun berbagai varian warna sudah dapat ditemukan sesuai rasanya. Kini Bika dibuat dalam rasa pandan, namun ada juga yang mengembangkannya dalam varian rasa lain, seperti, durian, keju, cokelat.

Nama oleh-oleh ini memang unik. Ada sejumlah versi mengenai asal-usulnya. Dalam buku Bunga Angin Portugis di Nusantara, Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Nusantara (2008) karya Paramita R Abdurrahman, disebutkan bahwa salah satu peninggalan Portugis di Maluku adalah tradisi kuliner.

Di antara berbagai jenis kuliner yang diperkenalkan kepada penduduk setempat, satu di antaranya adala bika. Namun tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana kue tersebut dibawa atau diperkenalkan oleh orang Ambon ke Medan, atau bagaimana ia bisa bernama seperti itu.

Kawasan yang banyak penjual oleh-oleh ini adalah Kawasan Jalan Majapahit. Kawasan Jalan Majapahit sangat ramai menjual makana ini sejak 1980-an dan menjadi pusat penjualan Bika Ambon di Medan.  Pada 1970-an, Bika Ambon selalu dihidangkan sebagai kudapan menikmati es krim.

Cerita pertama mengatakan, kue ini dinamai demikian karena tempat pertama kali dijual dan popular adalah di simpang Jalan Ambon, Sei Kera Medan. Sumber lain mengatakan, nama ini berasal dari seorang warga Ambon yang merantau ke Malaysia dengan membawa kue bika dari Medan.

Potongan Bika Ambon shutterstock
Serat yang berongga adalah ciri khas makanan Medan ini. Foto: shutterstock

Setelah tahu rasanya enak, orang tersebut tidak kembali ke Ambon lagi, tetapi singgah di Medan. Sehingga sejak 40 tahun lalu penganan ini menjadi sangat terkenal di Medan.

Satu versi cerita sejarah lainnya menyebutkan, ada sebuah daerah bernama Amplas yang terbagi menjadi wilayah barat dan timur. Wilayah timur dikenal sebagai ‘kebon’ karena ada perumahan buruh, kebun tembakau, serta kebun kakao.

Sementara itu, wilayah barat dikenal sebagai ‘pabrik’ karena terdapat pabrik lateks. Bika ini diperkenalkan salah satu buruh transmigran yang berasal dari Jawa dan ia memasarkannya di Medan. Dari versi cerita ini, kue bika ini merupakan kependekan dari Amplas-Kebon.

Hingga saat ini tak ada satupun versi yang terkonfirmasi sebagai usul-usul yang akuran dari penganan ini. Yang sudah pasti, kue enak dan pantas menjadi oleh-olehdari kota Medan.

Proses pembuatan bika Ambon dapat memakan waktu hingga 12 jam. Sarang-sarang atau lubang pada kue ini menandakan bahwa proses produksinya tidak mudah. Jika dilakukan secara tradisional, terdapat beberapa aturan khusus saat membuatnya. Diantaranya telurnya harus segar, yaitu baru ditetaskan sehari sebelum digunakan.

Air kelapa yang digunakan harus dibuat dari air kelapa yang tumbuh di pantai. Hal ini dilakukan agar hasil donan kuenya mengembang sempurna dan tidak bantat.

Meski proses pembuatannya terbilang rumit dan panjang, namun bahan baku yang digunakan untuk membuat bika ambon cukup sederhana. Bahan yang dibutuhkan hanya tepung sagu, tepung terigu, air kelapa, ragi, santan, telur, gula pasir dan vanili.

Jika ingin rasa yang berbeda, bisa ditambahkan ekstrak perasa di dalamnya. Bika ambon dibuat dengan cara merebus santan dengan jeruk nipis dan daun pandan.

Setelah santan dingin, masukkan bahan-bahan seperti telur, tepung terigu, gula dan jus satu per satu. Bahan tersebut diaduk hingga merata, lalu didiamkan beberapa jam hingga mengendap. Setelah itu masukkan adonan ke dalam oven dengan api sedang dan tunggu hingga kue matang.

Saat ini, varian rasa Bika Ambon semakin berkembang. Selain dengan warna kuning yang mengeluarkan aroma kelapa yang kuat, kini terdapat pula dengan rasa yang lebih variatif, seperti nangka, durian, keju cokelat, pandan dan moka.

Bika ambon menjadi oleh-oleh khas Medan yang tak boleh lupa untuk dibawa pulang. Selain karena rasanya yang enak, bika ambon merupakan kue yang cukup tahan lama.

Bika ambon dapat bertahan selama 3-4 hari meskipun bebas bahan pengawet. Kue ini memiliki tekstur yang lembut, sedikit kenyal dan sangat cocok untuk teh atau kopi pagi.

Bika Ambon Zulaikha

Di berbagai sudut kota Medan terdapat banyak sekali toko yang menjual beraneka rasa bika Ambon. Salah satu toko paling terkenal dan dicari oleh para wisatawan adalah Bika Ambon Zulaikha yang berlokasi di Jl. Mojopahit, No. 62, Medan.

Di toko ini kamu bisa memperoleh berbagai jenis rasa, mulai dari rasa keju, pandan keju, original, panda hingga moka. Perlu diketahui, produk oleh-oleh ini tidak hanya memiliki rasa yang enak, namun juga ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Produk Bika Ambon Zulaikha ini mampu bertahan dalam kondisi terbaik hingga empat hari.

agendaIndonesia

****

Keindahan Air Terjun, 4 Yang Unik

Keindahan air terjun ada di sejumlah tempat di Indonesia, di antaranya air tejun Parangloe. (Foto Sempugi.Org)

Keindahan air terjun sering memukau orang dan mengunjunginya. Sering cuma untuk untuk menyaksikan air yang mancur turun. Ada pula yang mencoba untuk menikmati langsung cucuran air dengan berenang atau main air di sekitar jatuhnya dari atas.

Keindahan Air Terjun

Indonesia mempunya sejumlah air terjun yang unik, beberapa bahkan masih jarang dikunjungi. Mungkin tak sebesar Niagara di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada, namun sejumlah air terjun di Indonesia ini tetap saja menarik. Berikut ini ada empat cerita tentang keindahan air terjun. Sekali-kali mungkin perlu diagendakan dikunjungi.

Air Terjun Mursala

Terletak di Pulau Mursala, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Air terjun Mursala ini memiliki ketinggian sekitar 35 meter. Dari Medan cukup jauh, lewat jalan darat perlu waktu 8 jam.

Keindahan air terjun ada yang mengalir di pulau yang tidak memiliki dataran tinggi.
Kabupaten Tapanuli Tengah dilihat dari udara. Foto: DOk. Unsplash

Pelancong biasanya memulai perjalanan dari Pandan de[1]ngan naik kapal sewaan selama dua jam. Beberapa pulau akan dilintasi selama pelayaran, di antaranya Pulau Situngkus dan Putri.

Keindahan air terjun dilihat dari air yang mengalir melewati dinding karang berwarna hitam dan langsung ke perairan laut dangkal berwarna hijau jernih. Di bawahnya, terdapat terumbu karang warna-warni dengan ikan yang hilir-mudik.

Wisatawan dapat menjajal snorkeling di sini. Banyak pengunjung bertanya-tanya dari mana sumber air terjun itu. Sebab, Pulau Mursala tak terlalu luas, sehingga tampak mustahil dapat menghasilkan air tawar dalam volume cukup besar. Air terjun ini bahkan tetap mengalir saat musim panas tiba. Ada dugaan air itu berasal dari Danau Toba, mengalir lewat sungai bawah tanah.

Air Terjun Jogan

Pantai Jogan di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki air terjun yang tak kalah ajaib. Air terjun itu jatuh dari atas tebing, langsung menghantam ka[1]rang dan bebatuan di bawahnya.

Untuk mencapai lokasi ini, butuh waktu sekitar 30 menit dari Wonosari atau dua jam dari Yogyakarta. Jalan menuju Pantai Jogan cukup menant[1]ang adrenalin. Berliku, penuh tanjakan dan turunan. Namun, wisatawan tak akan bosan selama perjalanan karena terdapat panorama unik didominasi perbukitan kapur.

Diapit tebing-tebing tinggi khas pegunungan kapur, Pantai Jogan bak peraduan, tempat air sungai turun gunung menemui ombak yang pulang melaut. Dari puluhan pantai yang berserak di sepanjang 71 kilometer pesisir Gunungkidul, Pantai Jogan menempati posisi istimewa karena keberadaan air terjun yang langsung jatuh dari atas tebing ke bibir laut, mengingatkan pada McWay Beach Waterfall di California.

Selama ini, tak banyak pelancong yang tahu tentang Pantai Jogan. Lokasinya yang persis berada di sebelah barat Pantai Siung sering terlupa oleh para pemanjat yang dipacu semangat memeluk moleknya tebing Siung.

Untuk mencapai Pantai Jogan, perlu waktu sekitar dua jam berkendara dari Jogja. Menyusuri jalanan aspal mulus, berkelok-kelok membelah perbukitan karst yang merupakan sisa lautan jutaan tahun silam. Bila kita sampai di Pos Retribusi Pantai Siung, artinya Pantai Jogan sudah dekat,

Air Terjun Binangalom

Berada persis di pinggir Danau Toba, air terjun Binangalom meng[1]alir turun langsung ke danau. Nama air terjun ini diambil dari nama desa di dekat air terjun yang berada di Kecamatan Lumban Julu, Kota Parapat, Sumatera Utara, itu. Kata lom atau lum dalam bahasa Batak berarti air penyejuk.

Keindahan air terjun di Indonesia di antaranya ada yang langsung terjun ke danau.
Air terjun Binangalom atau Situmurun di kawasan Danau Toba. Foto: Milik tobaria.com

Airnya berasal dari sungai di dekat desa, mengalir dari tebing tujuh tingkat, lalu jatuh ke danau. Turis biasanya berenang di sekitar air terjun atau sekadar memandangi burung bangau terbang mencari ikan. Sayang[1]nya, akses menuju tempat ini relatif masih terbatas. Wisatawan harus menyewa kapal untuk mencapai air terjun terse[1]but. Namun, dari Parapat hanya butuh waktu 15 menit.

Air Terjun Binangalom atau sering disebut dengan nama air terjun Situmurun tergolong unik karena airnya mengalir langsung jatuh ke Danau Toba. Beberapa aktifitas yang dapat dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke air terjun ini adalah berenang dan bersantai dan pastinya mengabadikan momen.

Jika tidak pandai berenang, wisatawan masih dapat menggunakan pelampung untuk menikmati air danau toba. Namun, pengunjung tidak boleh berenang terlalu dekat dengan air terjun dikarenakan arusnya cukup deras.  

Air Terjun Parangloe

Banyak yang menyebut air terjun Parangloe di Desa Parang Loe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, ini mirip Niagara di Amerika dalam versi mungil. Lokasinya terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar, dapat ditempuh melalui jalur Hertasning Baru.

Air terjun Parangloe cukup indah, bertingkat dengan tekstur bebatuan yang menawan. Sayang, belum bisa dijadikan tempat liburan keluarga karena lokasinya cukup masuk dan butuh trekking. Namun bagi petualang, backpacker, dan para penggemar fotografi, obyek wisata ini bisa dibilang wajib dikunjungi.

Warga sekitar sering juga menyebutnya dengan sebutan Air Terjun Bantimurung II, karena Air Terjun Parangloe katanya bermuara dari Air Terjun Bantimurung yang ada di Maros. Air Terjun parangloe sering juga disebut Air Terjun Bertingkat atau Air Terjun Bersusun, karena karakteristik air terjunnya yang bertingkat dan bersusun.

agendaIndonesia

*****

Panggilan Ombak Sumbawa Barat

shutterstock 174246365

Maluk, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang menjadi pilihan saya menginap malam pertama di pulau yang berada di seberang Lombok ini. Tak jauh dari Taliwang, Maluk mempunyai pantai berpasir putih nan lembut. Pukul 06.30 pagi saya sudah menginjak obyek wisata ini. Huruf M A L U K menghiasi bagian depan pantai. Sepagi itu jajaran warung masih belum buka. 

Pantai yang diapit dua bukit itu hening saat pagi ketika saya mencecap sinar mentari yang muncul dari balik Bukit Mantun di sisi utara. Menerobos hingga selatan yang dibatasi Bukit Balas. Segar dan hangat rasanya. Di tengah teluk, ada satu perahu nelayan mengais rezeki. Seorang pria berdiri di bagian depan dengan sebilah kayu panjang yang ia pukul keras ke laut. Rupanya, ia tengah menggiring ikan ke jaringnya. Suara motor perahu dan pukulannya pun memecah keheningan.

Sumbawa Barat, Surga Kecil Peselancar

Teluk yang tenang itu begitu menenteramkan. Namun, di salah satu sisinya, ternyata ada juga gulungan ombak yang digandrungi para peselancar. Dikenal sebagai ombak Super Suck, dan di depannya tersedia sejumlah akomodasi sederhana. Selepas mandi, melahap nasi kuning, saatnya menyinggahi pantai-pantai lain. Sumbawa Barat adalah surga bagi para pencinta pantai dan ombak. Maluk bukan satu-satunya. Sehari sebelumnya selepas senja, sebenarnya saya sempat mampir ke Pantai Benete, tepat di depan Pelabuhan Bennete. Penuh cahaya di malam hari karena merupakan dermaga khusus PT Newmont Nusa Tenggara. 

Pagi itu bergaya bak para pemburu ombak, saya pun mencari pantai-pantai lain. Namun tentunya bukan untuk beraksi dengan papan seluncur. Saya hanyalah penikmat deburan ombak serta balutan pasir lembut di kaki. Perjalanan mengarah ke Sekongkang Barat. Seperti perjalanan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Maluk, Jalan Raya Sekongkang pun cenderung sepi. Hanya sesekali bertemu dengan pengendara roda dua atau roda empat. 

Kiri-kanan lahan berbukit-bukit dengan tanaman sebagian mengering. Sebagian dipenuhi pohon jenis sulur. Hingga bertemulah dengan pertigaan dengan tulisan Sekongkang. Suasana begitu sepi. Mata pun mulai lebih awas, mencari petunjuk. Hingga bertemu papan bewara superbesar yang menunjukkan belum lama ini digelar kompetisi selancar internasional di Pantai Tropical, Sekongkang. Saya dan kawan-kawan mengabaikannya. Namun beberapa meter tak ada tanda lain hingga mobil pun kembali ke tempat tersebut.

Ada sebuah jalan kecil di sebelah papan bewara itu. Sekitar 2 kilometer melaju di jalan tanah itu, ada cabang dengan gerbang kecil. Di salah satu sisinya ada tanah berpagar, dan ada tanda bahwa tanah milik sebuah perusahaan. Sedikit ragu, tapi akhirnya kendaraan menerobos jalan kecil. Kurang dari lima menit, terlihat sebuah teluk dengan beberapa pohon di tepian, diapit dua bukit karang. Teluk yang pendek, tapi siang itu menjadi sebuah gambar nan indah di mata saya. Matahari belum terlalu terik, langit begitu biru, ombak bergulung-gulung, dan tentunya pepohonan membuat paduan alam yang sempurna. Rupanya inilah Pantai Lawar. 

Merasa bukan satu-satunya pantai di sana, kendaraan kembali ke jalan yang bercabang dan memilih jalan tanah salah satu lagi yang ternyata melebar masih tetap berupa tanah. Tak ada petunjuk sama sekali hingga ada bule muncul dari arah berlawanan dengan sepeda motor dan papan selancar, keyakinan ada pantai di ujung sana pun muncul. “Ya lurus, ada Pantai Tropical, Pantai Yoyo, ombaknya keren,” ucap pria tersebut, sementara telunjuknya diarahkan ke utara.

Pantai Yoyo Sumbawa Barat Frannoto12
Lanskap Pantai Yoyo, Sekongkang, Sumbawa Barat, digemari peselancar karena ombaknya.

 

Senyum saya dan kawan-kawan pun mengembang. Tak lama memang debur ombak terdengar nyaring, dan di depan mata terbentang garis pantai yang panjang. Inilah Pantai Yoyo yang menyambung dengan Pantai Rantung. Udara panas mulai menyergap, pasir pantai nan panas terasa menggigit kaki. Saya memilih duduk di gazebo di tepi pantai. Para peselancar beberapa kali lewat. Ada yang berasal Jepang dengan kulit sudah cokelat matang. Dari jauh saya melihat peselancar perempuan berjalan di pasir putih sembari menenteng papannya. Ehmm…. demi ombak, panas pun mereka terjang. Di tengah laut, sejumlah pemain mencoba menari dengan ombak. 

Meski tersambung, dua pantai nan panjang itu tidak bisa dilalui kendaraan. Akhirnya saya dan kawan-kawan kembali ke Jalan Raya Sekongkang, terus melaju ke Jalan Raya Rantung. Sesungguhnya Pantai Yoyo bernama pantai Tropical. Namun, karena ombaknya bergulung-gulung seperti yoyo yang tengah berputar, pantai ini di kalangan peselancar dikenal sebagai Pantai Yoyo. 

Jalan Rantung Raya juga sepi, hanya kiri-kanan lebih banyak kehijauan. Tiba-tiba saya menemukan papan nama hotel di dekat Bandar Udara Sekongkang. Jalur pacu bandara itu tanpa pesawat terbang. Kendaraan pun terus melaju hingga saya menemukan Nomad Tropical Surf Resort di depan Pantai Tropical. Resort ini memiliki halaman hijau, kolam renang, dan lapangan golf. Siang itu gazebo, tepat di depan pantai, dipenuhi beberapa peselancar yang mendinginkan tubuh dengan minuman segar. 

Terik mentari memang begitu terasa meski sebentar lagi sore tiba. Pasir pantai masih terasa panas, saya memilih duduk di sebuah saung. Ada sepasang turis asing, sang perempuan asal Argetina dan pria dari Prancis. Keduanya peselancar yang selama dua minggu berkeliling Bali, Lombok, dan Sumbawa. Mereka mengaku jatuh cinta pada Sumbawa yang tenang, natural, dan tentunya ada gulungan ombak yang menggoda. 

Tak terasa perut mulai keroncongan. Saya tinggalkan Tropical, menuju Rantung Beach Bar & Restaurant, menyantap makan siang yang tertunda sembari menunggu langit berubah gelap. Maklum, menurut info yang berseliweran di dunia maya, di Pantai Rantung-lah keindahan mentari tenggelam itu bisa direkam. Saatnya saya benar-benar menikmati pantai, kaki pun mengenal pasir yang berbeda-beda, dari butiran besar, kemudian masuk pasir yang halus. Perjalanan berat karena kaki terus terbenam, akhirnya muncul juga warna kuning, merah di langit. Sang Surya pun menyemburkan keindahan di Rantung.

Rita N/Fran

Toko Nusa Indah, 1 Tempat Ratusan Oleh-oleh

Toko Nusa Indah di Jakarta Selatan menjadi alternatif membeli oleh-oleh dari daerah.

Toko Nusa Indah atau kadang orang juga menyebutnya Rumah Makan Nusa Indah karena tempat ini juga menyediakan menu makan khas Nusantara. Begitupun tempat ini kadung memiliki persepsi di benak banyak orang untuk mencari oleh-oleh daerah di Indonesia.

Toko Nusa Indah

Jadi, meskipun tempatnya diniatkan sebagai rumah makan, namun toko yang berlokasi di Jalan Achmad Dahlan Nomor 33, atau di kawasan Radio Dalam ini, tidak hanya menawarkan aneka makanan untuk disantap di tempat. Di sini, Anda bisa menemukan beragam jenis oleh-oleh. 

Pulang kampung atau mudik seperti identik dengan buah tangan atau oleh-oleh. Setiap kali ada teman atau kerabat diketahui pulang ke kota asal, hampir pasti ditagih makanan khas kota tersebut ketika kembali.

Sudah menjadi tradisi bagi sebagian orang Indonesia ketika liburan pasti disibukkan soal buah tangan. Contohnya ketika masa lebaran, ini tidak luput dari ritual membeli oleh-oleh. Semua tempat oleh-oleh diserbu pemudik. Tak lengkap rasanya bila pulang dari satu tempat dengan tangan hampa, tanpa menjinjing buah tangan.

Toko Nusa Indah juga mnyediakan Bakpia Kurnia Sari dari Yogakarta
Toko Nusa Indah juga menyediakan aeka bakpia Yogya, termasuk Kurnia Sari

Lalu bagaimana caranya jika ketika mudik orang tak sempat membeli oleh-oleh? Atau, bagiamana bila karena terburu-buru lantas ada kerabat atau teman yang terluput dari daftar yang akan diberi oleh-oleh?

Saat ini mungkin banyak orang sudah melakukan pembelian melalui aplikasi-aplikasi market place. Kadang oleh-oleh bahkan sudah tersedia di rumah ketika orang belum lagi berangkat mudik.

Namun ada masa di mana aplikasi online belum ada, sementara oleh-oleh perlu dibeli. Buat sebagian orang Jakarta, solusinya adalah Rumah Makan atau toko Nusa Indah ini.

Berbagai buah tangan khas pelbagai daerah dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia ada di sini. Mulai dari bolu gulung dari Medan, gudeg kaleng, aneka kerupuk khas Nusantara, bakpia, dodol dan masih banyak lainnya

Mandarijn Orion Solo
Kue Mandarijn Orion juga ada di Toko Nusa Indah.


Di Toko Nusa Indah tersedia aneka penganan seperti Brownies Amanda, kue lapis legit Spikoe asal Surabaya, kue lapis Surabaya Mandarijn atau Mandarijn Orion Solo, begelen Kartika Sari, kerupuk udang Ny. Siok dari Sidoarjo, sambal udang Bu Rudi Surabaya atau keripik pedas Ma Icih asal Bandung.

Bertempat di Jalan KH Achmad Dahlan 33, Kebayoran Baru, toko Nusa Indah sudah berdiri selama 40 tahun. Dibuka pertama kali oleh Hartati, pemilik toko, memulai bisnis toko oleh-oleh di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu pada 1983. Kini toko ini dikelola oleh generasi ke dua dan ke tiga.

Berawal dari sebuah rumah makan sederhana yang kemudian dikembangkan sekaligus menjadi pusat oleh-oleh dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Hartati, perempuan asal Semarang, Jawa Tengah, ini mengawali bisnisnya dengan membuka rumah makan dengan menu-menu khas Semarang atau Jawa Tengah.

Awalnya bentuk restaurannya sederhana, hanya beberapa meja dan bangku-bangku panjang. Ruangannya pun masih model terbuka. Jadi sebagian meja berada di luar toko.

Walau bangunan rumah makannya yang tidak terlampau besar, dengan lahan parkir yang tidak terlalu luas, rumah makan Nusa Indah mampu membuat rasa kangen menu kampung halaman sedikit terobati.

Menunya pun pilihannya tak banyak, awalnya soto kudus dan beberapa makanan. Berkembang dengan tambahan masakan bandeng presto. Perlahan tapi pasti, lalu mengembangkannya dengan menyajikan menu-menu daerah lainnya.

Bandeng Presto bisa dicari di Toko Nusa Indah

Bandeng presto dan beberapa penganan Semarang menjadi sajian lain jika pengunjung ingin tak sekadar makan. Perlahan tapi pasti Toko Nusa Indah berkembang menjadi pusat oleh-oleh dari berbagai daerah.

Pada awal 90-an, tak sedikit cerita tempat ini mampu mengobati kangen bahkan ngidam akan makanan daerah. Menu rawon lengkap dengan telur asinnya seperti yang ada di Surabaya, lontong opor, nasi pecel, sop buntut, nasi gandul, gudeg, lumpia Semarang, batagor Bandung, tahu gimbal, dan banyak menu lainnya tersedia di sini.

Ketika rumah makan berkembang, tempatnya ditutup kaca dan menggunakan pendingin ruangan. Meja untuk makan lebih sedikit, karena sebagian besar ruangan “diakuisisi” produk-produk oleh-oleh. Di sebelah tempat makan, beragam tumpukan makanan dan cemilan khas daerah.

Adakah produk oleh-oleh di sini masih baru dan aman dikonsumsi. Putri Hartati yang kini menjalankan toko ini memberikan kiatnya. Menurutnya, sistem pengadaan produk oleh-oleh yang diberlakukan di tokonya tidak satu model. Tergantung merek, jenis dan asalnya, kalau yang sudah terkenal, dan yakin pasti laku, mereka akan langsung membeli. Namun untuk yang lainnya toko Nusa Indah memakai sistem titip jual yang produknya diperbaharui oleh pemilikya. “Kami tidak mau mengambil risiko soal keamanan konsumsinya,” katanya.

Cukup dapat dipahami, karena untuk beberapa panganan ketahanan atau masa kadaluwarsanya tidak terlalu lama. Ada resiko basi atau kadaluwarsa. Ada pertimbangan asal makanan juga. Jika lokasi asalnya terlalu jauh, ongkos kirim mahal, dan peminatnya sedikit, Toko Nusa Indah tidak berani melakukan stok banyak.

Jadi, jika lupa membawa oleh oleh, kapan-kapan datang saja ke Toko Nusa Indah. Hampir semua oleh-oleh khas daerah yang terkenal, ada di sana.

agendaIndonesia

****

Masakan Pariaman, 60 Kilo Dari Padang ke Nusantara

Masakan Pariaman, Sumatera Barat, membawa harum daerah ini ke seluruh Nusantara.

Masakan Pariaman, yang merupakan daerah pesisir di Provinsi Sumatera Barat, dikenal menawarkan kelezatannya di seluruh pelosok Indonesia. Sebagian besar rumah makan Padang yang tersebar di tanah Air dibuka oleh para perantau asal Pariaman, kota yang berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari kota Padang.

Masakan Pariaman

Nama Padang memang lebih dikenal dibandingkan Pariaman. Namun, di kampung para juru masak andal ini, tentunya ada pilihan berlimpah hidangan asli Pariaman. Walhasil, bila berlibur di kota ini, wisatawan tak hanya menikmati keindahan pantainya, tapi juga berwisata kuliner dengan sajian pilihan seperti berikut ini.

Masakan pariaman menjadi wakil kuliner Sumatera Barat ke seluruh Indonesia.
Nasi Sek Pariaman, murah meriah dan mengenyangkan. Foto: Dok. TL

Nasi Sek Pariaman

Inilah hidangan terpopuler di Pantai Gandoriah, Pariaman. Banyak yang menjualnya di kedai-kedai kecil dengan meja dan kursi di tempat terbuka, di bawah rindangnya pohon cemara laut. Nasi sek adalah kependekan dari nasi “seratus kenyang”. Dulu sekali harganya memang Rp 100 per bungkus. Kini dipatok Rp 4 ribu-5 ribu. Sekepal nasi panas dibungkus daun pisang dengan lauk sala ikan atau sala cumi.

Sala ikan dan cumi adalah ikan dan cumi
yang digoreng dengan tepung beras berbumbu. Bumbu sala ikan dan cumi ini cukup sederhana, yaitu tepung beras, kunyit, garam, dan jeruk nipis. Bumbu tersebut dibalurkan pada ikan dan cumi, lalu langsung digoreng dan dihidangkan panas-panas.

Gurih dan segar karena ikannya langsung dibeli dari nelayan pagi-pagi di Pantai Gandoriah. Nasi sek dan sala ikan serta cumi ini dilengkapi dengan urap daun singkong dan tauge, serta sambal lado tomat, yang dibuat dari cabai, bawang, dan tomat rebus yang digiling kasar.

Di Pantai Gondariah terdapat belasan pondok lesehan tempat makan nasi sek yang menghadap ke laut. Harga satu porsi, yang terdiri atas lima bungkus nasi dan sepiring sala serta urap dan sambal lado, adalah Rp 25 ribu.

Kedai Nasi Sek; Pantai Gandoriah, Pariaman


Gulai Kepala Ikan Pauh

Yang satu ini, khususnya kepala ikan karang, juga menjadi ciri hidangan di rumah makan Pariaman. Daerah Pauh di Pariaman memang terkenal dengan gulai ikan karang. Bahkan banyak rumah makan di kota besar membuka rumah makan dengan nama Pauh, dengan sajian andalan gulai ikan karang.

Salah satu rumah makan yang khusus menjual gulai ikan karang ini adalah Kedai Nasi Pauh. Menggunakan bangunan lama dari kayu dan cukup luas, rumah makan ini menyuguhkan gulai kepala ikan yang masih panas karena baru dibuat pagi harinya di atas tungku kayu di dapur rumah.

Gulai ikan karang berkuah merah, dengan santan yang tidak terlalu pekat. Bumbunya yang berupa bawang merah dan bawang putih yang digiling kasar, serta cabai rawit hijau yang dibiarkan utuh, membuat gulai terasa makin segar. Dibikin lebih khas dengan tambahan daun ruku-ruku, kunyit, serai, dan asam kandis. Hanya cabai merah, jahe, lengkuas, dan kunyit yang digiling halus. Kepala ikan karang yang disajikan biasanya ikan kakap yang berkulit tebal, tapi setelah dimasak menjadi kenyal. Gulai ini tidak terlalu pedas, bila ingin pedas, silakan gigit cabai rawitnya.

Kedai Nasi Pauh; Jalan DR. M. Djamil, Pariaman

masakan Pariaman lebih dikenal sebagai masakan Padang.
Aneka masakan tradisional Pariaman, Sumatera Barat. Foto: Dok. shutterstock

Katupek Gule Tunjang

Hidangan ini bisa ditemukan di Los Lambuang, Pasar Kuraitaji. Tak jauh

dari Kota Pariaman, berada di jalan utama di pesisir Pariaman arah ke Tiku dan Pasaman. Berbeda dengan ketupat atau lontong yang biasanya disajikan dengan sayur nangka, pakis, atau buncis. Seperti namanya, ketupat gulai tunjang ini disajikan dengan gulai tunjang.

Tunjang adalah kaki sapi yang direbus lama hingga empuk, mirip kikil, tapi lebih tebal, kenyal, dan lembut. Kalau kikil lebih keras karena kulit luar sapi, tunjang ini “dagingnya” kaki sapi dan yang melekat ke tulang.

Seporsi ketupat disiram gulai dengan kuah yang tidak terlalu merah, berisi beberapa potong cubadak atau nangka muda, dan beberapa potong tunjang. Di atasnya ditambahkan kerupuk merah. Gulai tunjangnya juga empuk dan kenyal. Sungguh perpaduan yang unik antara ketupat, gulai tunjang,
dan gulai nangka. Gulai tunjang dimasak menggunakan bumbu rempah yang sangat beragam, dari ketumbar, kemiri, merica, sampai kapulaga. Tak mengherankan rasa rempahnya begitu kuat.

Katupek Gulai Tunjang Kuraitaji; Pasar Kuraitaji, Pariaman

Pasar Tiku, sekitar 1 kilometer dari Pasar Kuraitaji, Pariaman.

Katupek Gulai Sempadeh

Dulunya Tiku bagian dari Pariaman, tapi kemudian digabungkan dengan

Kabupaten Agam. Katupek gulai sampadeh ini dijual di pinggir jalan raya di Pasar Tiku. Ada tiga kedai yang menjualnya. Sajian ini berbeda dengan hidangan ketupat lain karena kuahnya pedas tanpa santan, menggunakan gulai sampadeh atau gulai asam pedas khas masakan Pariaman.

Dalam satu porsi ada tiga ketupat yang diguyur kuah asam pedas berwarna merah dengan potongan labu siam dan ikan laut yang kecil-kecil. Sekilas penampilannya kurang menarik. Namun, pada suapan pertama,

Anda mendapat kejutan. Ternyata ketupatnya gurih, seperti nasi uduk, pas sekali dengan kuahnya yang asam, pedas, dan segar. Desi, penjualnya, menyebutkan ketupatnya gurih karena dimasak dalam santan yang kental. “Anduang (nenek) saya dulu sudah menjual katupek sampadeh ini,” kata seorang pedagang di sana. Ia generasi ketiga yang menjual ketupat gulai sampadeh di Tiku.

Kedai Katupek Gulai Sampadeh; Pasar Tiku, Agam

Memang ada banyak hidangan yang dapat wisatawan coba ketika berwisata ke Pariaman. Namun, untuk minumnya, jangan lupa minuman khas yang amat populer, teh talua atau teh telur. Minuman ini umumnya disediakan di setiap rumah makan atau warung ketupat yang menjual sajian sarapan.

TL/agendaIndonesia

*****