Sandboarding, Meluncur di Gumuk Pasir Setinggi 10 Meter

Sandboarding, meluncur di atas gumuk pasir pantai Parangkusumo Yogyakarta.

Sandboarding, ini istilah yang mungkin baru 10-12 tahun terakhir popular di kalangan pecinta aktifitas luar ruang. Meluncur dengan papan tak harus dilakukan di atas ombak ataupun salju. Meluncur di atas gumuk pasir juga bisa memberikan sensasi tersendiri. Ini salah satunya bisa dilakukan di pantai Parangkusumo, Yogyakarta.

Sandboarding

Sebelum membahas lebih jauh soal ‘permainan meluncur’ di Gumuk Pasir Parangkusumo, ada baiknya kita mengetahui dahulu definisi “gumuk pasir”. Istilah gumuk pasir sesungguhnya adalah salah satu bentang alam yang proses pembentukannya dipengaruhi angin. ‘Bukit’ atau gundukan terbentuk karena pasir yang menumpuk karena terbawa atau terdorong angin jumlahnya besar.


Gumuk Pasir Parangkusumo di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan salah satu pusat aktivitas sandboarding terbaik di Indonesia. Ada tulisan besar di gerbang masuknya “Gumuk Pasir Barchan”. Istilah barchan atau aeolian merujuk pada jenis proses pembentukan gumuk pasir tersebut.  Jenis gumuk pasir tipe ini memiliki ketinggian 5-15 meter.

Gundukan pasir di pantai Parangkusumo ini disebutkan berasal dari hasil erupsi Gunung Merapi di utara Yogyakarta. Endapannya dibawa oleh sungai-sungai di sekitar kota pelajar ini dan bermuara di Pantai Selatan, antara lain Sungai Opak dan Sungai Progo.
Sulitkah menikmati sandboarding atau selancar pasir ini? Ternyata tidak terlalu sulit. Anda cukup berpijak pada papan seluncur yang ditaruh di atas bukit pasir setinggi sekitar 10-12 meter. Lalu, posisikan badan sedikit membungkuk dan condong ke depan dengan pandangan tertuju ke bawah. Siagakan kaki Anda, dengan lengan di samping badan dalam posisi sedikit terbuka. Jika merasa sudah seimbang, majukan tubuh ke depan dan meluncurlah. Asyiiik!

sandborading, meluncur di gumuk pasir setinggi 10 meter di pantai Parangkusumo, Yogyakarta.
Sandboarding, meluncur di atas gumuk pasir pantai Parangkusumo, Yogyakarta. Foto: Dok. shutterstock

Adrenalin mengalir deras dan jantung berdegup kencang ketika papan membawa tubuh meluncur dengan cepat. Tanpa sadar, niscaya mulut Anda terbuka dan berteriak. Sungguh mendebarkan. Namun ketika papan terhenti di tengah gundukan pasir dan tubuh oleng, lalu terjatuh, bisa jadi Anda tidak sabar untuk segera naik ke puncak gumuk dan mengulangi aksi itu lagi.

Itulah segelintir pengalaman berseluncur di atas pasir alias sandboarding, yang dilakoni Komunitas Sandboarding Indonesia. Digawangi oleh Sidik Hutomo, sang pendiri, sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas ini hampir setiap Minggu datang ke Parangkusumo, Yogyakarta, untuk berseluncur di atas pasir. Mereka berkumpul pagi hari sebelum mentari meninggi atau sore setelah matahari terbenam.

Sidik mengungkapkan, awalnya, ia dan teman-teman mencari permainan yang bisa memuaskan keinginan untuk bermain snowboarding tanpa harus pergi ke negara bersalju. Mereka lantas menemukan sandboarding. “Yang membuat saya senang karena bisa memulai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan potensi yang ada di negeri sendiri. Ini kan awalnya iseng-iseng aja, tapi ternyata bisa berkembang hingga saat ini,” ujarnya.

Permainan ini memang terbilang baru di Indonesia meskipun komunitasnya telah eksis sejak 2007. Awalnya, anggota komunitas terdiri atas mahasiswa Mapagama (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada). Namun setelah aktif dan banyak diliput media, keanggotaannya berkembang untuk umum. Pusat aktivitas komunitas ini di Yogyakarta. Sebab, Sidik menilai Parangkusumo merupakan lokasi dengan gumuk pasir terbaik di Indonesia untuk bermain sandboarding.

“Itu karena pembentukan gumuk pasir yang dinamakan aeolian,” ujarnya. Aeolian adalah proses pembentukan gumuk pasir yang dibantu angin. Adanya aeolian menandakan pasir yang terbawa dan terbentuk menjadi gumuk tersebut sangat ringan, sehingga cocok untuk berseluncur. Di lokasi lain, seperti di Gunung Bromo, Krakatau, dan Merapi, serta Ngarai Sianok, pasirnya kasar dan terkadang berkerikil. Jadi, lebih sulit untuk sandboarding dan risiko cedera lebih besar jika terjatuh.

Meski memiliki lahan bagus, Sidik menilai, jumlah lintasan gumuk pasir Parangkusumo masih kurang banyak. Ia berharap bisa mendapatkan dukungan pemerintah daerah untuk membuat lintasan yang lebih memadai dan dilengkapi sarana wisata pendukung. Tentunya agar semakin banyak turis tertarik mencoba kegiatan ini.

Sandboarding di Gumuk Paris Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta.
Sandboarding asyik dilakukan di Gumuk Pasir Yogyakarta saat sore hingga matahari terbenam. Foto: Dok. shutterstock

Komunitas Sandboarding Indonesia terkadang menggabungkan permainan ini dengan ATV, jip, atau bahkan layang-layang. Jip atau ATV mereka gunakan untuk menarik papan sandboarding di permukaan datar agar bisa melun- cur dengan cepat. Ide ini mereka gunakan pula saat terlibat dalam pembuatan iklan rokok. Sedangkan dengan layang-layang, mereka pernah menciptakan permainan sandboarding dipadukan dengan kite surfing di landasan pasir datar.

Tertarik mencobanya? Agendakan liburanmu ke Parangkusumo di Yogyakarta saat pandemi Covid-19 sudah berakhir atau mereda dan nikmati sensasinya.

agendaIndonesia

*****

Kartika Sari Toko Oleh-Oleh Khas Bandung

Jajanan legendaris Bandung tak bisa melupakan Bollen Pisang khas Kartika Sari.

Kartika Sari toko oleh-oleh khas Bandung. Di sini dijual kue dan penganan oleh-oleh khas. Toko pusatnya berada di kawasan Kebon Kawung, dengan tersedia pula beberapa cabang lainnya di sekitar kota Bandung.

Kartika Sari Toko Oleh-oleh Khas

Kartika Sari toko oleh-oleh khas Bandung. Di sini dijual kue dan penganan oleh-oleh khas. Toko pusatnya berada di kawasan Kebon Kawung, dengan tersedia pula beberapa cabang lainnya di sekitar kota Bandung. Makanan yang dijajakan berupa ragam jenis brownies, pisang dan peuyeum bollen, dan lain sebagainya.

Kartika Sari bermula dari bisnis kue-kue rumahan pada tahun 1970an, dimana pada awalnya usaha ini sekedar menjual kue-kue rumahan sederhana dari resep keluarga seperti bolu kukus, pisang bollen, kue lapis dan lain lain.

Melalui promosi mulut ke mulut, usaha kue-kue ini mulai digemari dan dicari lebih banyak orang. Dengan bisnis yang terus berkembang pesat, akhirnya pada tahun 1984 tercetuslah nama Kartika Sari sebagai merk dagang toko ini. Kartika Sari pun kemudian terus tumbuh besar dan menjadi ikon oleh-oleh khas Bandung.

Salah satu produk andalan Kartika Sari adalah pisang bollen. Tersedia beragam jenis bollen seperti peuyeum/tape, coklat keju, durian keju, dan apel. Harganya sendiri berkisar dari Rp. 50.000,00 sampai Rp. 65.000,00. Kemudian ada juga beragam jenis brownies, baik yang panggang maupun kukus. Masing-masing pun memiliki beberapa pilihan rasa, seperti brownies kukus yang tersedia dalam rasa coklat, kacang, keju, pandan, tiramisu atau pandan hitam.

Adapun yang panggang juga tersedia dalam rasa original, tiramisu, mocca, raisin, choco chips, almond serta keju. Untuk brownies kukus harga berkisar Rp. 37.500,00 hingga Rp. 55.o00,00, sedangkan untuk yang panggang sekitar Rp. 60.000,00 hingga Rp. 70.000,00. Lain daripada itu tersedia pula penganan lain seperti banana roll cake (sekitar Rp. 40.000,00), serta ragam jenis lapis legit dan lapis malang (Rp. 125.000,00 sampai Rp. 245.000,00).

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi toko pusat di (022) 4231355, serta bisa mengunjungi website resmi di https://kartikasari.com.

 

Toko pusat:

Jl. H. Akbar no. 4, Kebon Kawung, Telp. (022) 4231355

Toko cabang:

Jl. Terusan Jakarta no. 77 E, Antapani, Telp. (022) 7101280

Jl. Buah Batu no. 165 A, Telp. (022) 7319385

Jl. Kopo Sayati no. 111 A, Telp. (022) 5414340

Jl. Kebon Jukut no. 3 C, Telp. (022) 4230397

Jl. Ir. H. Djuanda no. 85‐87, Dago, Telp. (022) 2509500

Jl. Raya Timur no. 518, Cimahi, Telp. (022) 6656280

Café D’Pakar Dago 1 Cangkir Kopi dari Bibir Hutan

andi prasetyo cafe dpakar bandung 4

Cafe D’Pakar Dago 1 cangkir kopi dari bibir hutan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat. Hawa dingin Bandung sebelah utara ini cocok untuk menikmati cecapan hangat kopi dan kudapan lezat.

Cafe D’Pakar Dago

Sepanjang jalan menuju kafe yang sedang naik daun di Dago Pakar itu, tak ada pemandangan lain selain hutan dan pepohonan yang rimbun di sekitarnya. Medan dengan jalur yang rusak, aspal-aspal retak, dan lubang yang menganga lebar mengharuskan roda mobil berbelok-belok tak tentu. Plus, monyet yang seliweran menandai kalau hutan yang cuma berjarak 12 kilometer dari Kota Bandung ini benar-benar merupakan alam liar.

Sekilas, saya merasa sedang berada dalam bingkai film kanak-kanak Petualangan Sherina yang mengambil lokasi shooting di Bandung.. Tiga ratus meter sebelum sampai di kafe, beberapa monyet mejeng mengamati kendaraan yang lewat.

Kawanan anggota primata itu barangkali berharap, kalau-kalau ada penduduk dari kota yang membawa bekal buah-buahan dan berkenan merelakan satu-dua biji pisang, apel, atau jeruk miliknya, untuk diberikan. Sayangnya, para penunggu hutan ini kudu menelan kecewa tatkala orang—begitu juga kami—melaju kencang, dan langsung berbelok di pekarangan kafe yang dari muka tampak bergaya rustic itu.

shutterstock 524061637andi prasetyo cafe dpakar bandung 12shutterstock 524061637

“Dihadang monyet ya tadi?” Tutur Maryati Santoso, pemilik D’Pakar, ketika kami—saya dan teman-teman—tiba di kafe itu. “Kawasan di sini memang masih cukup liar. Tempat ini saja dulu bekas kebun, lalu saya bangun jadi kafe karena tanamannya banyak dirusak monyet,” katanya.

Saya mengangguk paham. Tak kepingin diikuti monyet, saya lantas bergegas masuk melewati pintu loket yang bercokol tepat di samping gerbang. “Rp 25 ribu untuk tiket masuk. Anggap saja minimal order,” ujarnya. Tiket ini nantinya bisa ditukarkan dengan makanan atau minuman.

Lalu kami dituntun masuk menuju kebun hijau yang ditanami rumput teki seluas 3.000 meter persegi. Perempuan separuh baya asal Bogor ini meneruskan ceritanya tentang awal mula ia membuka kafe. Yang dulu, kata dia, tempat tersebut cuma dibangun kecil-kecilan. Orang-orang bilang, warung di tengah hutan. Begitulah citra awalnya kafe ini. “Semacam warung biasa yang melayani petani sekitar atau para atlet sepeda,” ujarnya. Dago Pakar memang dulu cuma jadi jalur pesepeda atau pelari, selain tentunya areal perkebunan. “Mulainya dari Kota Bandung, finis di Tebing Kraton,” ucapnya, melanjutkan.

Suara Maryati yang terus berkisah sekonyong-konyong terdengar lamat-lamat di kuping. Sebab, saya mendadak mengalihkan fokus pada hamparan hutan yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari tempat berdiri. Mata juga seketika dibikin terperangah dengan konsep kafe kebun yang diusung, dengan membiarkan beberapa bangku kayu tersebar tak tentu di lahan luas.

Beberapa bunga begonia dibiarkan tumbuh, memberi warna yang padu tatkala disandingkan dengan rona hijau dari pepohonan dan rupa cokelat dari bangku dan meja-meja kayu. Di sisi depan, terdapat rumah joglo sederhana berkapasitas tak lebih dari 50 orang menghadap ke kebun. Pengunjung bisa memilih hendak makan di area indoor atauoutdoor. Yang jelas, keduanya menawarkan konsep serupa: menghadap langsung ke taman hutan rakyat.

Dari pintu sampai beranda belakang, bentuk D’Pakar berundak-undak tak rata. Pemiliknya mengatakan bahwa ia tengah mempertahankan kontur asli. Dibikin begini, ujar Maryati, supaya ia tak kehilangan bentuk asal dari kebun yang merentang seluas 1 hektare, yang sudah ia miliki selama 20 tahun lalu itu.

Hari hampir sore kala kami tiba di sana, dan sialnya, bangku sudah hampir seluruhnya penuh dipesan. Kami sempat berputar, menemukan beberapa titik yang seru. Ada bangku dengan model replika kapal kayu, yang dibikin menghadap ke hutan, ada juga kursi panjang yang jaraknya hanya beberapa meter dari jurang. Atau, bangku-bangku bulat yang berjajar manis di samping pagar ilalang. Cantik untuk dipotret kosong atau berfoto diri dengan latar demikian. Sayang, seluruhnya sudah berpenghuni alias ditempati tetamu.

Kami duduk di dek paling atas, dekat dengan joglo. Hanya itu satu-satunya bangku tersisa. Namun tak sial-sial benar lantaran kami justru bisa memandang luas semua lanskap yang ditawarkan di kafe itu. Di tengah desau embusan ilalang dan suara derik serangga hutan, kami meramu obrolan, sembari memilih menu apa saja yang cocok di santap di tempat sedingin itu. “Kopi Aroma, kopi khas tanah Pasundan,” kata Maryati. “Harus dicoba. Menyantapnya ditemani roti bakar green tea dan martabak Nutella,” katanya.

Saya mengangguk setuju tanpa berpikir lagi. Tak lama, kopi hitam yang masih mengepul itu mendarat bersama kawan minumnya. Wanginya mendaraskan kisah masa lalu: secangkir robusta yang sudah ditemukan sejak 1930. Kopi ini tak pelaknya sebuah legenda yang menandai tumbuhnya kawasan pecinan di Bandung sejak era kolonial. Kopi itu saya minum tanpa pemanis. Saya ingin tahu rasa aslinya. Dan benar, ada rasa yang menimbulkan kegirangan kala dua-tiga teguk melewati kerongkongan.

Kopi yang sempurna, diminum di tempat yang tepat. Seperti itulah saya mendeskripsikan kopi aroma kala diseruput di Kafe D’Pakar. Plus, jajanan manis yang melengkapinya memberikan taste yang komplet.

Tak cuma makanan ringan. Maryati juga menyediakan penganan berat, seperti nasi goreng, pempek, ramen, dan jenis-jenis mi lainnya. Menariknya, seluruh menu aman di kantong mahasiswa. Makanan berat dibanderol Rp 20 hingga 40 ribuan, dan minuman dibanderol tak lebih dari Rp 30 ribu. Pantas saja pengunjung rata-rata merupakan mojang Bandung, yang datang sekadar ingin mengobrol dengan teman-teman atau orang terkasih. Tentu di tengah hutan dengan suasana yang syahdu.

Waktu yang tepat untuk bersantai di kafe ini berkisar antara pukul empat sore hingga setengah enam petang. Pada jam tersebut, kemilau surya meronakan cahaya keemasan, memberi semburat yang molek. Pun, cahaya yang merasuk di antara pepohonan menimbulkan lanskap yang hampir boleh dikatakan dramatis. Lagu-lagu alam paling merdu, seperti suara angin sore bercampur kicau burung-burung hutan yang akan kembali ke rumah-rumahnya turut menyumbangkan harmonisasi yang laras.

Tentang D’Pakar:

  • Alamat: Jalan Dago Pakar Utara, Sekejolang, Ciburial, Cimenyan, Bandung
  • Harga: Rp 10-43 ribu
  • Buka pukul 11.00 – 18.00
  • Tutup setiap Senin
  • Rekomendasi menu: kopi aroma, roti bakar green tea, martabak Nutella, nasi tutug oncom gepuk penyet

Jadah Mbah Carik, 1 Kuliner Tradisional Yogyakarta

jadah tempe mbah carik

Jadah Mbah Carik seperti sebuah syarat sahnya seseorang berkujung ke kawasan wisata Kaliurang di utara Yogyakarta. Penganan dari nasi ketan putih ini biasanya disantap dengan tempe bacem yang legit. Paduan yang bikin kangen.

Jadah Mbah Carik

Warung Jadah Tempe Mbah Carik Kaliurang adalah kedai makanan tradisional jadah dan tempe bacem yang berada di kawasan Kaliurang, Yogyakarta. Makanan yang disajikan adalah penganan tradisional seperti jadah, tempe bacem, tahu bacem dan wajik, serta biasanya makanan ini juga disajikan dengan teh hangat.

Usaha Jadah Tempe ini bermula dari sepasang suami istri yang awalnya berjualan tempe, tahu dan pecel di sekitar Kaliurang, tepatnya di area Telogo Putri. Lambat laun makanan yang dijajakan mulai lebih beragam, termasuk jadah yang kemudian hari akan menjadi sajian khas. Usaha kuliner ini menarik perhatian istri Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada saat itu, dan tak lama kemudian Sultan sendiri yang datang menyambangi warung tersebut untuk mencoba makanan-makanannya.

Ternyata Sultan amat menyukai jadah tempe, hingga menjadikannya sebagai salah satu menu istimewa di Keraton, bahkan jadah tempe turut populer di kalangan warga dan kerabat Keraton. Kerap menjadi langganan, Sultan kemudian memberi usul nama Jadah Tempe Mbah Carik, karena sang suami merupakan seorang carik di desa tempatnya tinggal. Dari situlah nama tersebut digunakan hingga sekarang dan bisnis jadah tempe semakin melesat, mengukuhkannya sebagai salah satu kuliner tradisional Yogyakarta.

Jadah sendiri merupakan sebuah penganan yang dibuat dari beras ketan yang kemudian dikukus bersama dengan parutan kelapa. Setelah matang jadah ditumbuk dan dibentuk mengotak atau melingkar sebagai pasangan makan tempe bacem. Tempe dan tahu bacemnya sendiri masih dimasak dengan cara tradisional, menggunakan dandang dan tungku kayu bakar. Perpaduan keduanya, dengan tekstur lembut dan rasa gurih jadah serta tempe yang terasa manis dan legit ketika dimakan dalam satu tangkup, memberikan pengalaman tersendiri yang berbeda dari kuliner-kuliner lainnya. Harganya sendiri sangat terjangkau, dengan Rp. 10.000,00 sudah bisa mendapatkan 5 buah jadah dan 5 buah tempe bacem. Warung ini buka dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

 

Toko:

Jl. Astomulyo, Simpang Lima Wara Kaliurang, Telp. 081328052182

Jl. Kaliurang Km. 12,5, Telp. 081578558388

Oleh-oleh Prima Rasa Bandung, 1 Yang Sedap

primarasa

Oleh-oleh Prima Rasa Bandung yang sedap kini semakin jadi klangenan bagi mereka yang melakukan perjalanan ke Bandung, Jawa Barat. Selain sejumlah kue keringnya, kue-kue basahnya banyak diburu para pecinta kuliner.

Oleh-oleh Prima Rasa Bandung

Bakery & Pastry Prima Rasa adalah toko makanan roti dan kue yang berada di sekitar kota Bandung, seperti di kawasan Buah Batu, Pasir Kaliki, Antapani dan lain lain. Toko ini terkenal dengan brownies kukus dan panggangnya, serta beberapa penganan lain seperti bollen pisang, banana roll, picnic roll, chiffon cake dan lain sebagainya. Dengan semakin terkenalnya makanan-makanan yang dijajakan, memjadikan toko ini kemudian sebagai salah satu pusat oleh-oleh terpopuler di Bandung saat ini.

Pada awalnya, segala jenis oleh-oleh penganan di toko ini hanya dijajakan lewat mulut ke mulut serta dititipkan ke sejumlah toko makanan lain di Bandung sejak tahun 1984 silam. Namun kemudian makanan-makanan ini mulai laris dan dicari banyak konsumen, sehingga pada tahun 1992 toko Prima Rasa resmi berdiri. Kini toko ini telah memiliki 5 cabang, yang termasuk salah satunya dapur produksi semua makanan yang dijual di cabang-cabang tersebut, demi menjaga kualitas makanan yang dijual.

Makanan yang dijajakan pun beragam dengan berbagai jenis varian. Brownies kukus misalnya, memiliki varian seperti rasa coklat, keju coklat, ketan pandan atau cappuccino. Lalu ada juga brownies panggang dengan varian rasa almond, tiramisu, keju, mocca, choco chip, blueberry atau rum raisin. Harga brownies ini berkisar antara Rp. 50.000,00 hingga Rp. 75.000,00. Kemudian ada pula ragam jenis bollen, mulai dari pisang keju, pisang coklat, pisang coklat keju, tape, apel hingga durian, dengan harga mulai dari Rp. 45.000,00. Dan yang juga menarik untuk dicoba adalah Picnic Roll yang dihargai Rp. 55.000,00 untuk yang kecil serta Rp. 70.000,00 untuk yang besar.

Prima Rasa buka setiap hari dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi (022) 7206468 atau lewat email di infoprimarasabandung@gmail.com.

 

Toko pusat: Jl. Kemuning no. 20, Telp. (022) 7206468

Cabang:

Jl. Pasir Kaliki no. 163, Telp. (022) 6120177

Jl. Buah Batu no. 167A, Telp. (022) 7311537

Ruko Kopo Plaza Blok C-6, Jl.Peta Lingkar Selatan

Jl. Purwakarta no. 95

Bakpia Pathok 25, Tradisi Oleh-oleh

bakpia pathok 25

Bakpia Pathok 25, adalah tradisi oleh-oleh khas Yogyakarta. Dia adalah toko oleh-oleh bakpia Yogyakarta terkenal yang memiliki beberapa cabang di sekitar kota pelajar itu.

Bakpia Pathok 25

Bakpia Pathok 25, adalah tradisi oleh-oleh khas Yogyakarta. Dia adalah toko oleh-oleh bakpia Yogyakarta terkenal yang memiliki beberapa cabang di sekitar kota pelajar itu. Cabang-cabangnya ada di  di Pasar Pathok, Ongkojoyo, dan beberapa tempat lainnya. Dinamai bakpia Pathok karena awalnya makanan ini dibuat oleh orang-orang di sekitar kawasan Pathok sejak tahun 1940an, yang terinspirasi kue pia kacang hijau dari Tiongkok.

Meski awalnya tidak terlalu populer, namun lambat laun bisnis bakpia berkembang pesat dan menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Yogyakarta. Dimulai dari penamaan produk sebagai merek dagang yang disesuaikan dengan nomor rumah masing-masing produsen dan penjual.

Kemudian kemasan yang tadinya hanya menggunakan besek tanpa label kemudian menjadi kemasan kertas karton dengan label nama masing-masing produk. Bakpia yang awalnya dibuat menggunakan bahan bakar arang kemudian berubah menggunakan oven gas demi memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat.

Dan pada tahun 1990an bakpia mulai populer, hingga kini terus dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta paling dicari. Bakpia Pathok 25 sendiri kemudian membuka beberapa cabang, saat ini ada 1 toko di Pasar Pathok, 2 toko di area Jl. AIP II KS Tubun serta 2 toko lainnya di Jl. Laksda Adisucipto. Ada beberapa varian bakpia yang dijajakan, mulai dari bakpia kumbu, keju, kacang hijau, coklat, nanas, durian atau yang dicampur dalam 1 kemasan. Selain itu, kini toko ini juga menjual aneka penganan oleh-oleh lainnya seperti ampyang, yangko, getuk, angleng, madu mongso dan lain lain.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (0274) 513904/566122, dan dapat mengunjungi website resmi https://bakpia25.com.

 

Toko pusat & pabrik: Jl. AIP II KS Tubun NG I/504
Telp. (0274) 513904/566122

Toko Ongko Joyo: Jl. AIP II KS Tubun 65
Telp. (0274) 512219/583237

Toko Pasar Pathok: Kios Pasar Pathok 14-18
Telp. (0274) 561551

Toko Bandara Jaya: Jl. Laksda Adisucipto
Telp (0274) 489059

Toko Kembang Jaya: Jl. Laksda Adisucipto Km. 9
Telp. (0274) 484458

Pusat Oleh-Oleh Djoe Semarang

Singgah Semarang di antaranya ke pusat oleh oleh djoe

Pusat Oleh-Oleh Djoe Semarang adalah tempat oleh-oleh penganan khas Jawa Tengah yang berada di kawasan Pandanaran, Semarang. berada di kawasan wisata oleh-oleh utama di ibukota Jawa Tengah, Djoe bisa menjadi alternatif belanja penganan khas Semarang.

Pusat Oleh-oleh Djoe Semarang

Toko Djoe ini telah berjualan sejak tahun 1960an dan pada tahun 1980 sempat membuka cabang di kawasan Simpang Lima. Pada awalnya hanya merupakan toko buah-buahan, bisnis toko ini berkembang pesat dan akhirnya beralih menjadi toko oleh-oleh khas Semarang, serta membuka cabang di area Pandanaran yang kemudian menjadi pusat aktivitas toko ini hingga sekarang.

Kini toko ini populer dengan menjajakan penganan oleh-oleh seperti bandeng presto, wingko, lumpia, moaci, serta makanan khas daerah Jawa Tengah lainnya seperti getuk, wajik, jenang dan lain lain. Harganya pun cukup terjangkau, dengan bandeng presto seharga Rp. 107.000,00, wingko yang berkisar dari Rp. 39.000,00 hingga Rp. 73.000,00, atau lumpia isi 5 yang berkisar dari Rp. 75.000,00 hingga Rp. 85.000,00.

Untuk mengembangkan bisnisnya kini toko ini juga telah memiliki cabang di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Laksda Adisucipto. Selain itu, toko ini juga menyediakan layanan untuk acara pesta atau event-event tertentu, baik acara komunitas maupun korporat.

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi (024) 831 8663 atau melalui email info@oleholehdjoe.com, serta bisa mengunjungi website resmi www.oleholehdjoe.com.

 

Pusat Oleh-oleh Djoe Semarang

Jl. Pandanaran no. 51, Semarang

Telp. (024) 8318663

 

Pusat Oleh-oleh Djoe Yogyakarta

Jl. Laksda Adisucipto Km. 9, Yogyakarta

Telp. (0274) 485 899

Bandeng dan Oleh-Oleh Juwana Semarang

Bandeng Presto bisa dicari di Toko Nusa Indah

Bandeng dan oleh-oleh Juwana Semarang adalah toko oleh-oleh khas Jawa Tengah yang berpusat di kawasan Pandanaran, Semarang. Selain itu, terdapat juga beberapa cabang di sekitar ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Bandeng dan Oleh-oleh Juwana Semarang

Bandeng dan oleh-oleh Juwana Semarang adalah toko oleh-oleh khas Jawa Tengah yang berpusat di kawasan Pandanaran, Semarang. Selain itu, terdapat juga beberapa cabang di sekitar kota Semarang seperti di Pamularsih, atau di Ngaliyan.

Telah beroperasi sejak tahun 1981, Bandeng Juwana mempunyai spesialisasi pada bandeng tulang lunak khas Semarang, yang kemudian juga diracik menjadi berbagai jenis penganan seperti bandeng otak-otak, pepes bandeng, bandeng tauco, bandeng goreng telur dan lain lain. Harga berbagai jenis bandeng olahan ini beragam, mulai dari Rp 117 ribu hingga hingga Rp 163 ribu  untuk bandeng tulang lunak biasa, Rp 185 ribu untuk bandeng otak-otak atau Rp 187 ribu untuk bandeng dalam sangkar.

Namun selain menjajakan aneka jenis bandeng tulang lunak, tempat ini juga menjual beragam penganan oleh-oleh lainnya seperti enting-enting gepuk, wingko dan sebagainya. Selain itu, kini mereka juga memiliki restoran Elrina yang menyajikan ragam hidangan bandeng dan sajian lokal lain jika ingin menyantap langsung. Di restoran ini tersedia pula beberapa olahan bandeng yang terbilang unik seperti bandeng teriyaki, tongseng bandeng, sate bandeng dan lain lainnya.

Toko ini buka setiap hari dari jam 7 pagi hingga jam 11 malam (Pandanaran) atau jam 9 malam (Pamularsih dan Ngaliyan).

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi (024) 76435702 atau melalui email info@bandengjuwana.com, serta bisa mengunjungi website resmi www.bandengjuwana.com.

 

Pandanaran: Jl. Pandanaran no. 57, Semarang,

Telp. (024) 8311488

Pamularsih: Jl. Pamularsih no. 70, Semarang

Telp. (024) 76630433

Ngaliyan: Jl. Prof. Dr. Hamka no. 41, Semarang

Telp. (024) 76435700

Es Krim Zangrandi 90 Tahun Meleleh Enaknya

Es krim Zangrandi adalah ikon dan legenda kuliner Surfabaya. Foto. ilustrasi unsplash

Es krim Zangrandi atau yang bernama resmi Graha Es Krim Zangrandi, adalah nama yang cukup dikenal publik sebagai salah satu kedai es krim paling legendaris yang terletak di Surabaya. Kini kedai yang sarat sejarah ini sudah beroperasi lebih dari 90 tahun.

Es Krim Zangrandi

Kedai es krim yang berada di kawasan Genteng, tepatnya di jalan Yos Sudarso, ini sudah eksis sejak 1930. Bisa dibilang, kedai ini merupakan salah satu kedai es krim tertua yang ada dan masih eksis di Indonesia saat ini.

Asal usul kedai ini beserta namanya merunut kepada sang pendiri dan pemilik awal kedai, yaitu Roberto Zangrandi. Pria keturunan Italia ini kala itu sedang tinggal di Surabaya bersama keluarganya.

Surabaya sendiri memang dikenal sebagai kota dengan iklim dan suhu yang panas dan gerah. Kebetulan, istri Roberto memiliki keahlian membuat handmade ice cream, sehingga kemudian tercetus keinginan untuk membuka kedai es krim.

Es Krim Zangrandi didirikan pasangan sumai istri asal Italia karena hawa panas Surabaya.
Kedai pertama Es Krim Zangrandi. Foto: Dok Wikimapia.org

Pada 1930 mereka mendirikan kedai Zangrandi Ice Cream. Sejak kemunculannya, tempat ini langsung menjadi salah satu tempat pelesir yang populer, mengingat es krim yang dingin dan manis menjadi kudapan favorit yang cocok bagi iklim kota pahlawan tersebut.

Kedai ini dulunya banyak disinggahi oleh kaum sosialita Belanda pada masa pendudukan. Oleh mereka, kedai ini kerap disebut ‘Mevrouw Zangrandi’, sebuah panggilan mereka kepada sang istri, yang kurang lebih secara harafiah artinya ‘Nyonya Zangrandi’.

Saat itu, ada empat menu andalan yang disediakan, yakni rasa coklat, vanilla, mocca, dan strawberry. Biasanya, es krim kemudian disajikan di piring masih dengan kertas pembungkusnya, yang kemudian menjadi salah satu ciri khas kedai ini.

Dalam perkembangannya, mereka pun berinovasi dengan rasa-rasa lain. Misalnya rasa tutti frutti dan macadonia yang khas dan digemari banyak orang, dengan cita rasa rum­-nya yang kuat. Bahkan, ada pula es krim soda yang unik dan berbeda dari es krim umumnya.

Suasana Resto Es Krim Zangrandi
Suasana Graha Es Krim Zangrandi. Foto: dok busniness site Zangrandi Ice Cream

Namun setelah 30 tahun berjualan, pada 1960 Roberto Zangrandi bersama keluarganya berniat untuk pulang kampung ke Italia. Mengingat kedai es krimnya telah kadung populer dan menjadi ikon tersendiri, ia lantas mencari orang yang mau mengambil alih dan mengelola kedai.

Adalah Adi Tanumulia, seorang pebisnis di bidang winery, yang kemudian melihat peluang bisnis dan memutuskan untuk membeli kedai tersebut. Sepeninggal keluarga Zangrandi, dialah yang kemudian melanjutkan bisnis kedai es krim ikonik ini.

Ia mendapat izin untuk terus menggunakan nama Zangrandi, sehingga kedai bersalin nama menjadi Graha Es Krim Zangrandi yang hingga kini menjadi nama resmi kedai ini. Selain itu, ia juga mendapatkan resep membuat homemade ice cream milik keluarga Zangrandi.

Alhasil, cita rasa es krim Zangrandi yang legendaris itu dapat terus dipertahankan sampai sekarang.  Bahkan belakangan muncul menu-menu baru seperti rasa kopyor, durian, dan raspberry.

Selain itu, kedai ini pun terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman dan menelurkan beragam menu-menu baru. Misalnya noodle ice cream, yang dibentuk seakan-akan mirip mie dengan warna kuning khasnya, dipadu dengan saus coklat, taburan kacang dan buah cherry.

Ada pula menu unik nan ikonik yang dinamakan love deal. Menu ini menawarkan enam scoop es krim dengan rasa yang berbeda, yang dipadu dengan saus coklat dan disajikan di atas piring berbentuk hati. Hingga kini, ini merupakan salah satu menu favorit pelanggan.

Menu Es Krim Zangrandi
Menu andalan Zangrandi Surabaya. Foto: dok. Zangrandi Ice Cream business site

Menu-menu es krim lain yang populer seperti banana split dan avocadocano pun turut dihadirkan. Selain itu, kini pengunjung juga bisa menikmati es krim dalam format scoop yang disajikan dalam satu cup berukuran kecil, atau menggunakan cone.

Belakangan kedai ini tak hanya menyajikan es krim saja, tetapi juga menawarkan penganan cemilan lainnya seperti risoles, pastel, kroket, siomay dan lumpia. Harganya mulai dari Rp 13 ribu sampai 16 ribu.

Tak hanya itu, minuman bertemakan es krim pun juga kini tersedia. Contohnya dazzling night yang merupakan minuman rasa sarsaparilla yang dipadu dengan es krim vanilla, atau lovely shake yang berupa susu murni dipadu dengan es krim rasa pilihan pengunjung.

Hingga kini, keluarga Tanumulia masih menjadi pemilik kedai ini, dengan sang cucu Felix Tanumulia yang sehari-harinya mengurus dan mengelola kedai. Komitmen mereka dalam mempertahankan bisnis ini terlihat dari pemugaran kedai, serta inovasi dan kualitas menu.

Beberapa ciri khas kedai ini masih berusaha dipertahankan, semisal proses pembuatan es krim yang masih menggunakan tangan dan meminimalisir penggunaan mesin. Bahan baku yang digunakan juga alami, seperti susu, gula, dan buah-buahan asli, tanpa pewarna dan pengawet.

Sampai sekarang pun, kalau berkunjung ke kedai ini masih sangat terasa nuansa arsitektur gaya kolonial tempo dulu. Meja dan kursi rotan berwarna merahnya masih terus dipertahankan hingga kini. Bangunan bergaya klasik mirip joglo itu pun tak banyak berubah.

Tersedia area indoor maupun outdoor untuk menikmati es krim ini. Di bagian indoor, pengunjung dapat bernostalgia sambil melihat berbagai koleksi foto-foto suasana kedai ini di masa lalu, yang dipamerkan di dinding-dinding kedai.

Dengan nilai sejarahnya yang begitu tinggi, akhirnya di tahun 2009 silam Graha Es Krim Zangrandi resmi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Walikota Surabaya pada saat itu, Bambang Dwi Hartono.

Untuk urusan harga, sebagian besar menu-menu di kedai ini memang tak begitu murah, namun juga tak tergolong sangat mahal. Es krim scoop misalnya, berkisar dari Rp 30 ribu sampai 33 ribu, bergantung dari penggunaan cup atau cone.

Kemudian untuk sliced ice cream yang masih disajikan dengan kertas pembungkus khasnya itu, kini dijual seharga Rp 37 ribu. Sedangkan harga menu-menu specialties seperti banana split, noodle ice cream dan avocadocano harganya berkisar mulai Rp 45 ribu hingga 49 ribu.

Khusus menu andalan love deal, menjadi menu termahal di kedai ini dengan harga Rp 69 ribu. Yang unik, kini setiap bulannya kedai ini akan menyajikan menu-menu specialties seharga Rp 49 ribu untuk menarik animo pengunjung.

Adapun harga menu-menu minuman dihargai Rp 45 ribu. Di luar menu-menu tersebut, Graha Es Krim Zangrandi juga menawarkan pemesanan ice cream tart, dengan ukuran diameter 21 cm dibandrol Rp 390 ribu, serta untuk diameter 29 cm harganya Rp 450 ribu.

Graha Es Krim Zangrandi buka setiap hari dari jam 10.00 hingga jam 22.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (031) 5345820 atau mengunjungi akun resmi Instagram @zangrandi.icecream.

Zangrandi Ice Cream

Jl. Yos Sudarso no. 15, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pulau Kelor Labuan Bajo, Bukan Sekadar Persinggahan

Tarian Komodo, Pulau Kelor di labuan Bajo

Pulau Kelor Labuan Bajo punya banyak keindahan, hanya saja selama ini tidak banyak yang langsung mengunjunginya. Ia hanya “kadang-kadang” ikut dikunjungi jika ada wisatawan yang datang ke Pulau Komodo atau kawasan di sekitar itu.

Pulau Kelor Labuan Bajo

 Pernah mendengar gaung Pulau Kelor di Nusa Tenggara Timur? Tentu namanya tak sekondang Pulau Padar atau Pulau Komodo. Julukannya adalah tempat mampir. Citranya sebagai “pulau persinggahan” melekat dalam daftar trip berlayar atau sailing.

Biasanya, pulau ini disinggahi pelancong sebelum mereka kembali mendarat di kota Labuan Bajo. Atau, malah jadi tempat “pemanasan” sebelum berlayar menuju tujuan utama, yakni Pulau Komodo atau Pulau Padar. “Biasanya, para tamu latihan tracking dulu di Pulau Kelor. Baru setelahnya melanjutkan sailing,” kata Lulang, nakhoda kapal, yang mengantar penulisawal Januari lalu di Labuan Bajo.

Padahal, keindahan Kelor patut bersanding dengan pulau-pulau lainnya. Di pulau itu, terdapat sebuah bukit kecil. Pengunjung bisa mendaki. Tak tinggi-tinggi amat, tapi cukup terjal. Kemiringannya hampir 60 derajat.

Cukup sulit untuk pendaki pemula. Bukitnya licin lantaran ditumbuhi rerumputan. Juga tak ada penampangnya di kanan dan kiri. Namun, kalau sudah sampai puncak, hamparan laut bergradasi jadi obat letih.

Puncak Kelor menghadapkan pendakinya pada gugusan Pulau Menjaga. Bentuknya mirip jajaran kerucut yang berbaris dan berlapis-lapis. Pemandangan kapal yang mendarat di bibir pantai juga tak pelak menyempurnakan eksotisme Pulau Kelor.

Pengunjung tak cuma disajikan keindahan dari puncak bukit. Dengan aktivitas snorkeling pun, penampakan biota laut yang sehat turut menjadi “menu” utama. Ratusan jenis ikan berseliweran dan terumbu karang yang berwarna-warni terlihat seperti lukisan bawah laut yang hidup.

Pulau Kelor 02
Pantai Pulau Kelor tempat mendarat

Untuk menikmati Pulau Kelor lebih lama, pengunjung bisa berkemah semalaman dan menggelar tenda dom. Namun, perlu membawa logistik yang lengkap. Sebab, tak ada warung atau rumah penduduk di sini. Pastikan pula membawa kembali sampah-sampah bekas makanan atau minuman, supaya pulau tak ternoda oleh limbah.

Pulau Kelor letaknya cukup dekat dengan Kota Labuan Bajo. Kalau berlayar, waktu tempuhnya tak sampai 30 menit. Bahkan, bisa naik kapal nelayan kecil. Biaya sewa kapal untuk menuju pulau ini berkisar Rp 600 ribu pergi-pulang. Satu kapal muat untuk enam hingga tujuh orang.

 

Rosana