Kayak Arus Deras, Berputar di Arus Sejak 2012

Kayak arus deras menjadi alternatif menikmati sungai nerarus deras.

Kayak arus deras adalah alternatif jika ingin memompa adrenalin di derasnya arus sungai. Selain arung jeram yang sudah lama dikenal, olahraga atau aktivitas ini kian digemari. Untuk memulainya, minimal punya pengetahuan soal teknik dasar olahraga kayak.

Kayak Arus Deras

Arus Sungai Cipunagara, Subang, Jawa Barat, mengalir sangat deras. Seakan tak rela dilintasi benda apa pun. Siapa saja yang melintas niscaya diempas kuat-kuat. Bagi kayaker, arus yang memicu adrenalin ini justru menggoda untuk dikalahkan. Berbekal teknik dan kegigihan, seorang kayaker mencoba melintas. Yup, bukan main, ia berhasil melewati derasnya arus sungai dengan tingkat jeram tinggi tersebut. Luar biasa!

Kayak arus deras memang tidak sepopuler arung jeram di sungai. Medan yang cukup sulit dan risiko tinggi, seperti tenggelam, mungkin menyebabkan olahraga ini tidak punya banyak penggemar. Atas dasar itulah Muhammad Ihsan, Tedy Bugiana, dan Ira Shintia, dibantu Toto Triwidarto, Puji Jaya, Agus Hermansyah, serta Sigit Setianto dari Sekolah Kayak Tirtaseta, mendirikan Bandung Kayak Community (BKC).

“Keberadaan BKC ini sebenarnya hanya untuk mencoba menghimpun penggemar dan peminat serta berupaya memasyarakatkan olahraga kayak arus deras,” kata Kang Ihsan—panggilan Muhammad Ihsan suatu kali. Komunitas yang didirikan Januari 2012 itu biasanya memanfaatkan liburan akhir pekan dengan mendatangi sungai-sungai yang berada di sekitar Bandung. Di antaranya Sungai Cipunagara dan Ciherang di Subang, Sungai Cimanuk di Garut, dan Sungai Ciwulan di Tasikmalaya.

Jika menyambangi lokasi yang relatif jauh dari Bandung, para anggota komunitas biasanya berkoordinasi terlebih dulu untuk mendiskusikan segala hal yang berhubungan dengan pengarungan, transportasi, dan urusan teknis lainnya. Sedangkan untuk latihan rutin, BKC melakukannya di Sungai Cikapundung, yang masih berada di Kota Bandung.

Hingga saat ini komunitas yang bermarkas di Jalan Dago Hegar, Bandung, itu memiliki 45 anggota. Yang paling muda berusia 10 tahun, sementara yang paling tua 50 tahun. Profesi anggotanya beragam. Dari pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, mahasiswa, hingga pekerja profesional. Ada juga perempuan.

Kayak arus deras bisa menjadi alternatif bagi yang ingin memompa adrealin di arus deras.
Seorang kayaker sedang berusaha melintasi arus deras. Foto: Dok. Bandung Kayak Community.

Untuk bergabung dalam komunitas ini, tentu ada persyaratannya. Yang pasti, tidak wajib memiliki peralatan kayak sendiri. Maklum, peralatan kayak belum diproduksi di dalam negeri. BKC biasanya menyediakan peralatan kayak yang dimiliki anggota lainnya untuk digunakan bersama-sama saat latihan dan pengarungan. Menurut Kang Ihsan, sejatinya siapa pun boleh bergabung dengan BKC—sebagai organisasi berbasis komunitas. Namun sebaiknya, Kang Ihsan menyarankan, calon anggota pernah mengikuti kursus kayak bersertifikat atau alumnus sekolah kayak.

Namun bagi calon anggota yang belum pernah kursus kayak, tak usah khawatir. BKC juga mendirikan sekolah khusus kayak. Sekolah Kayak BKC namanya. Di sekolah yang didirikan lewat kerja sama dengan Sekolah Kayak Tirtaseta dari Purbalingga ini, ada pelajaran soal teknik kayak, seperti membalikkan kayak sendiri ketika terbalik (rolling), menyelamatkan diri (self-rescue), dan mendayung maju-mundur (eddies-in and eddies-out).

Pelatihan kayak tingkat dasar dilakukan selama tiga hari dan terdiri atas beberapa sesi. Sesi pertama, biasanya diadakan di kolam renang untuk membiasakan diri dengan air. Namun sesi-sesi berikutnya dilakukan di sungai. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menguasai setidaknya 95 persen kurikulum pelatihan. Untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut, setiap peserta hanya dikenai biaya Rp 1,5 juta. Khusus pelatihan di sungai, para peserta akan dibawa ke Sungai Cipunagara, Subang.

Hingga saat ini Sekolah Kayak BKC sudah menghasilkan lima angkatan. Mayoritas lulusannya langsung bergabung dengan BKC. Tak mengherankan jika BKC selalu diidentikkan dengan Sekolah Kayak BKC. Padahal, menurut Kang Ihsan, siapa pun bisa menjadi anggota BKC. “Cuma kebetulan, BKC mayoritas diisi lulusan dari Sekolah Kayak BKC.”

Di usianya yang relatif masih muda, BKC terus menata organisasi. “Insya Allah, ke depan akan disusun lebih baik lagi. Mengingat jumlah anggota yang sudah semakin banyak,” ujar Kang Ihsan. Yang terpenting, ia menambahkan, olahraga kayak arus deras mendapat tempat di hati warga Bandung, sehingga bisa dikembangkan bersama-sama. Ayo, dayung terus!

agendaIndonesia/Andry T./Bandung Kayak Community

*****

Tari Kecak, Seni Tari Popular Mulai 1930

Tari Kecak Bali, kesenian tradisional yang mengandung makna spiritual. Foto: unsplash

Tari kecak rasanya salah satu seni tari tradisional Bali yang sudah sangat popular. Di Tengah acara G20 di Bali November 2022 ini, rasanya seni ini yang akan mendapat cukup banyak perhatian, selain tari Pendet yang ditampilkan untuk menyambut para tamu negara. Tetapi mungkin belum banyak yang mengetahui makna spiritual yang menjadi alasan ikon budaya pulau Dewata ini menjadi tradisi yang terus dilestarikan hingga kini.

Tari Kecak

Secara umum, tari kecak merupakan seni tari yang diperagakan oleh sejumlah laki-laki yang duduk melingkar. Jumlah penari ini bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang, ditambah beberapa penari yang tampil di tengah-tengah para penari laki-laki yang melingkar tersebut.

Penari-penari yang tampil di tengah lingkaran tersebut lantas menampilkan sendratari epos Ramayana, yakni kisah Rama yang berupaya menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Dalam upayanya ini Rama dibantu pasukan kera yang dipimpin Hanoman.

Para penari yang melingkar itu adalah representasi dari pasukan kera tersebut, sebagai latar dari lakon yang diperagakan. Para penari biasanya akan tampil dengan kain kotak-kotak yang dikenakan seperti sarung di pinggang, tanpa mengenakan baju.

Tari Kecak merupakan simbol taolak bala dalam masyarakat Bali.
Tari Kecak Bali merupakan bagian dari cerita Ramayana. Foto: DOk. Kemenparekraf

Sebagai latar lakon yang dipertunjukkan, para penari tersebut kemudian akan menari dengan mengangkat tangannya ke atas dan menggoyangkannya ke kanan atau ke kiri, sambil berseru kata ‘cak’, atau ‘cak-cak’ berulang kali secara berirama. Bagi telinga awam, seruan ‘cak’ yang berulang inilah mengapa tari ini kemudian lazim disebut tari kecak.

Dalam pertunjukan tari ini, tidak ada alunan musik dari alat musik yang dimainkan untuk mengiringi jalannya pertunjukan. Hanya ada suara kerincing yang dipakai di kaki dan tangan para penari di dalam lingkaran, serta tentunya seruan ‘cak’ dan ‘kecak’ yang khas itu. Kadang ditambah tiruan gamelan dari mulut para penari. Semacam acapela.

Di balik lakon bertema pewayangan Hindu tersebut, tari kecak disebut punya keterkaitan dengan seni tradisional Bali lainnya, yaitu ritual tari sanghyang. Ritual ini merupakan perpaduan unsur mistik dengan kepercayaan luhur masyarakat Bali.

Ritual ini diyakini telah ada sejak masa pra-Hindu di wilayah Bali. Pada dasarnya, para penampil ritual ini adalah orang-orang yang disebut tidak sadarkan diri dan disusupi oleh hyang (roh), sehingga dapat bergerak dan menari sendiri tanpa terkendali.

Bahkan, para penari ritual tersebut dapat menginjak api sambil menari atau melakukan gerakan tarian yang tak lazim dilakukan manusia pada umumnya. Konon, ini merupakan cara berinteraksi secara spiritual dengan sang Pencipta, meminta agar dihindarkan dari keburukan.

Ritual ini pun sejatinya bukanlah sebuah pertunjukkan yang marak dipertontonkan untuk umum, karena nilai sakralnya. Biasanya ritual ini dilakukan pada situasi tertentu yang dianggap mencemaskan, seperti saat serangan wabah penyakit, dan lain sebagainya.

Tari Kecak Bali PARIWISATA ATRAKSI shutterstock 1332483425 Aries Hendrick Apriyanto 660c40fe2d
Tari Kecak dibawakan oleh puluhan hingga ratusan penari. Foto: Shutterstock

Tari kecak sendiri secara mendasar juga ditujukan sebagai ritual penolak bala. Beberapa elemen dari ritual tersebut seperti beberapa penari-penarinya yang juga dirasuki dan menginjak bara api, serta sesajen juga kerap terdapat pada pementasan tari ini.

Selain itu, penampilan kisah Ramayana dalam pertunjukannya juga mengandung pesan moral seperti usaha dan perjuangan yang pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Serta pentingnya untuk tidak serakah, pun selalu ingat dan berserah diri kepada sang Pencipta.

Menurut sejarahnya, tari kecak mulai dipopulerkan pada tahun 1930-an. Semua berawal ketika Walter Spies, seorang seniman asal Jerman yang tinggal di Bali sedang mendalami kesenian tradisional setempat, termasuk ritual tari sanghyang.

Ritual tersebut meninggalkan impresi yang mendalam baginya, sehingga ia kemudian berdiskusi dengan temannya, seorang seniman tradisional Bali bernama I Wayan Limbak. Mereka lantas berkolaborasi dan mengaransemen pertunjukan tari kecak seperti yang dikenal saat ini.

Kala itu, I Wayan Limbak sendiri tengah mengembangkan gerakan-gerakan baru pada tari baris, yakni tari tradisional Bali yang berakar pada tari perang di masa lalu, sebagai tanda pemuda-pemuda dianggap sudah dewasa dan siap bertarung. Tari ini biasanya diiringi oleh gamelan.

Dari kolaborasi itu, tercetus ide untuk mengintegrasikan gerakan yang tengah dikembangkan tersebut ke dalam sendratari Ramayana. Namun alih-alih diiringi gamelan, penampilan tersebut kemudian diiringi oleh seruan ‘cak’ dan ‘kecak’ yang berirama, layaknya sebuah ritual.

Irama tersebut lantas diatur oleh aba-aba seseorang di dalam kumpulan lingkaran tersebut layaknya seorang konduktor. Seseorang lainnya kemudian bernyanyi sesuai alur ceritanya, didampingi oleh sang dalang yang menarasikan jalan cerita.

Setelah aransemen secara keseluruhan telah jadi, tari ini kemudian dipertunjukan kepada umum di beberapa desa, utamanya di wilayah Gianyar. Setelah populer, kini tari ini dipentaskan di berbagai tempat lainnya, seperti Uluwatu, Tanah Lot, dan Garuda Wisnu Kencana.

prabu panji SXM0NC45wU0 unsplash
Rama dan Sinta sebagai bagian pergelaran Tari Kecak. Foto: unsplash

I Wayan Limbak juga sempat membawa pertunjukan tari ini ke berbagai negara-negara lain, sehingga banyak turis mancanegara yang tertarik untuk melihat pentas tari ini secara langsung. Dewasa ini, tari kecak juga kerap jadi pertunjukan dalam festival atau perayaan tertentu di Bali.

Kendati terkadang dipertunjukkan pada siang atau malam hari, tari kecak idealnya dipentaskan pada waktu petang saat matahari terbenam, kira-kira jam 18.00. Terutama jika pengunjung menonton di pura-pura seperti di Uluwatu atau Tanah Lot.

Yang menarik, tari kecak bisa dibilang masih merupakan salah satu seni tradisional yang sangat dibanggakan dan dijaga oleh masyarakat Bali. Banyak dari para penarinya yang sehari-hari merupakan pekerja di berbagai bidang lain.

Setelah selesai bekerja, mereka baru tampil sebagai penari kecak. Meskipun umumnya mereka juga mendapat penghasilan dari tiket penonton yang kerap kali ramai, tetapi justru semangat mereka lebih kepada usaha melestarikan kebudayaan Bali yang begitu ikonik ini.

Terlebih dengan nilai-nilai ajaran Hindu yang terkandung di dalamnya, serta kepercayaan luhur agar terhindar dari hal-hal buruk, membuatnya menjadi kesenian yang sangat lekat dan dipegang teguh oleh masyarakat Bali hingga kini.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ogoh-ogoh di Malam Bulan Mati Ke-9

Ogoh-ogoh identik dengan hari Nyepi, hari sakral bagi masyarakat hindu Bali. Ia diibaratkan nafsu atau hal buruk yang harus dilepaskan dari diri. Figur-figur ogoh-ogoh dulu seperti bentuk raksasa atau mahluk yang seram. Makin ke sini, bentuknya tidak melulu menyeramkan, tapi juga ada yang cantik atau lucu.

Ogoh-ogoh

Tahun 2021 ini mungkin Hari Raya Nyepi akan semakin sepi, sebab pawai ogoh-ogoh sudah dipastikan tidak diizinkan digelar merujuk pada situasi pandemi Covid-19. Tentu ada yang terasa ‘hilang’ bagi masyarakat Bali. Namun ini adalah situasi yang harus dihadapi. Artikel ini adalah kisah pelaksanaan ogoh-ogoh beberapa tahun silam.

Malam masih belum jatuh betul, masih ada sedikit cahaya ketika keramaian itu muncul di sejumlah banjar atau kampung di Bali. Tetabuhan dipukul. Patung raksasa dengan wajah menyeramkan, yang dikenal sebagai ogoh-ogoh, tampak menonjol di antara barisan pria dengan balutan kain kotak-kotak di bagian bawah tubuhnya. Busana tradisional itu dilengkapi udeng atau ikat kepala yang menjadi ciri pria Pulau Dewata.

Situasi itu adalah hal yang biasa saat menyambut Hari Nyepi, masyarakat menggelar Malam Pengerupukan atau Malam Penyepian. Boneka raksasa ogoh-ogoh memang khusus dimunculkan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau pada tilem sasih kesanga (bulan mati yang ke sembilan). Tahun 2021 ini, dalam kalender Masehi, jatuh pada 14 Maret.

Ogoh-ogoh merupakan simbolisasi menjauhkan hal-hal yang buruk bagi masyarakat Bali.
Pawai mengarak ogoh-ogoh di malam menjelang Hari Raya Nyepi di Bali. Foto: Dok. shutterstock

Sebelumnya, umat Hindu melakukan upacara yang disebut Bhuta Yadna dalam bentuk Mecaru mulai di tingkat keluarga, banjar, desa, hingga kecamatan. Tujuannya, mensucikan diri dari segala bentuk kotoran sekaligus memohon kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala, dan Batara Kala supaya mereka tidak mengganggu lagi. Ogoh-ogoh pun baru diarak saat senja mulai turun atau sekitar pukul 6 sore.

Ogoh-ogoh mungkin semcam seni patung dalam tradisi Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala simbol kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terukur. Dalam perwujudannya digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Biasanya berupa raksasa, terkadang juga makhluk hidup lain dalam penampakannya yang tidak biasa.

Banyak pula yang mengambil tokoh-tokoh pewayangan lengkap dengan fragmen tarinya. Belakangan, tak hanya ogoh-ogoh dalam tampilan yang menyeramkan yang diarak warga, ada juga yang cantik atau lucu serupa tokoh kartun di televisi.

Biasanya, ogoh-ogoh terbuat dari bahan yang ringan, seperti koran, kertas semen, styrofoam,dan kapas. Ini agar ketika sudah jadi ia jadi mudah diarak, termasuk oleh anak-anak. Sebab bentuknya umumnya gigantis. Besar sekali. Ada puluhan orang dari satu banjar yang ikut mengarak ogoh-ogoh dengan iringan musik, baik gong, gamelan, maupun baleganjur, alias bunyi-bunyian dari bambu, semisal kentongan. Terkadang dilengkapi penari serta lelucon, sehingga masyarakat benar-benar terhibur. Ingar-bingar gamelan, kentongan, dan bunyi-bunyian berlangsung dari sore hingga menjelang malam. Biasanya, ogoh-ogoh kembali ke banjar masing-masing sekitar pukul 22.00. Namun tak jarang arak-arakan dilakukan sampai larut malam.

Anak-anak dan orang dewasa ikut memeriahkan Malam Pengerupukan. Semua aktivitas tersebut baru berhenti total saat kulkul atau kentongan besar di banjarberbunyi. Itu tanda bahwa seluruh aktivitas harus disudahi. Akhirnya, setelah diarak, ogoh-ogoh dibakar atau dipralina. Diharapkan roh jahat yang ada dalam diri raksasa tidak mengganggu umat Hindu.

Sebagai karya seni, ogoh-ogoh tidak dibuat dalam semalam. Perlu persiapan sebulan. Sepulang bersekolah atau bekerja, para pemuda melakukan persiapan di balai banjar masing-masing. Tidak hanya membuat ogoh-ogoh, tapi mereka juga berlatih baleganjur. Lebih tepatnya, melakukan harmonisasi antara tarian ogoh-ogoh dan tetabuhan. Seminggu sebelumnya, latihan intensif dilakukan.

Atraksi inilah yang mengundang kekaguman wisatawan. Meski pada Hari Nyepi itu Bali seperti pulau tanpa kehidupan, banyak wisatawan datang sebelum perayaan. Prosesi ke masa hening menarik perhatian turis. Tepat di hari H, semuanya sepi dan sunyi. Hanya suara burung berkicau dan kukuruyuk ayam dari kejauhan yang terdengar begitu nyaring. Bahkan anjing pun ikut diam karena tidak ada orang yang melintas.

Hari itu suasana Bali benar-benar seperti pulau mati. Tidak ada aktivitas apa pun. Umat Hindu menyebutnya Catur Brata, yaitu amati geni (tidak ada cahaya atau api), amati lelungan (tidak bepergian), amati karya (tidak melakukan pekerjaan sehari-hari) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Bagi yang mampu, dianjurkan juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadiHari ini biasanya digunakan untuk merenung agar menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Ogoh-ogoh pada akhirnya dibakar setelah diarak keliling banjar, ini menyimbolkan hal-hal buruk menjauh dari masyarakat.
Pembakaran ogoh-ogoh di akhir pawai menandakan agar hal-hal buruk hilang dan enyah dari masyarakat Bali. Foto: Dok. shutterstock

Rangkaian Acara Sebelum Nyepi

Hari Raya Nyepi merupakan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender Caka, yang dimulai pada 78 Masehi. Jatuh pada tilem kesanga atau bulan mati kesembilan, yang dipercaya hari penyucian para dewa di pusat samudra. Para dewa itu membawa intisari amerta atau air hidup. Untuk itu, umat Hindu memuja mereka. Tujuan utama peringatan Hari Raya Nyepi adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Wishi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk mensucikan Bhuana Alit,alam manusia mikrokosmos,dan Bhuana Agung, makrokosmos.

 Di samping Malam Pengerupukan dengan atraksi ogoh-ogoh, dua hari atau tergantung kesepakatan masyarakat adat setempat, sebelum Penyepian, ada kegiatan yang disebut Melasti atau Mekiis. Pada hari tersebut, semua sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke pantai atau danau. Sebab, laut atau danau dianggap sebagai sumber air suci yang bisa digunakan untuk mensucikan segala leteh atau kotoran yang ada dalam diri manusia dan alam. Selain menampilkan iring-iringan umat Hindu yang membawa sesajen dan benda sakral dari pura, ada suguhan kesenian. Orang-orang beriringan ke pantai atau danau sambil melakukan sembahyang.

agendaIndonesia/TL

*****

Resto di Lahan 2 Hektare, Congo di Dago Bandung

Resto di lahan 2 hektare pastilah dirancang tak main-main. Cobalah Congo Gallery & Café di kawasan Dago, Bandung, Jawa Barat. Tempatnya asyik, furniture dan aksen berbahan kayu solid menambah keasrian kafe ini. Lalu kenapa memilih nama yang erat hubungannya dengan Afrika?

Resto di Lahan 2 Hektare

Sebentar lagi surya akan tenggelam. Namun gerimis yang jatuh di kawasan Dago Pakar, Bandung, Jawa Barat, pengujung April lalu belum juga reda. Beruntung Congo Gallery and Café, yang akan saya kunjungi, sudah dekat. Benar saja. Setelah melintasi jalan berbelok dan menanjak, saya tiba di depan gerbang Congo. Di kedua sisi gerbang besarnya, menjulang batang pohon besar dengan tulisan Congo di tengah. Saya seakan memasuki dunia lain. Begitu nyaman, asri, dan sejuk. Congo Gallery and Café menempati lahan yang benar-benar lapang. Luasnya mencapai dua hektare.

Tak jauh dari gerbang, tampak Congo Café menghadap ke taman. Nuansa kayunya begitu kental. Penataan taman yang cantik dikombinasikan dengan bebatuan semakin menguatkan kesan alami tempat ini. “Kami menyebut kafe pada area ini dengan istilah outdoor,” kata Anne Muthia, General Manager Congo Gallery and Café.

Resto di lahan seluas 2 hektare di kawasan Dago Resort, Bandung, jawa Barat, Congo Gallery & Cafe.
Interior Congko Gallery & Cafe di kawasan Dago, Bandung, didominasi kayu. Foto: Prima M./Dok TL

Di sisi yang berseberangan dengan area outdoor, terdapat gedung berlantai dua. Di depan pintu masuk gedung, terpampang mesin pemotong kayu berukuran besar. Lantai pertama gedung ini disebut area sofa. Sesuai dengan namanya, kafe di ruangan ini dilengkapi sofa. Sedangkan lantai kedua disebut area VIP (very important person).

Berbeda dengan area lain, di area VIP pengunjung dikenai biaya minimum Rp 1 juta untuk satu meja yang dapat memuat 10-12 orang. Ruangan yang berdinding kaca ini memang paling mengesankan. Betapa tidak, kaca-kaca tinggi besar memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan Bandung Timur dari ketinggian. Pada malam hari, pengunjung dapat melihat kerlap-kerlip lampu kota. Rasanya sangat tepat untuk makan malam yang romantis.

Meski terbagi atas berbagai area, Congo Café memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama menggunakan meja yang terbuat dari kayu solid. Dalam ruangan VIP misalnya, terdapat meja makan berukuran 250 x 90 sentimeter dari kayu utuh.

Unsur kayu yang sangat mendominasi Congo rupanya tak terlepas dari bisnis utama sang pemilik. Menurut Anne, sang pemilik berbisnis kayu. Karena itu, ia menambahkan, Congo lebih mengedepankan galeri ketimbang kafenya. Kendati demikian, Congo Café justru lebih terkenal ketimbang galerinya.

Congo Gallery berada di gedung terpisah. Lokasinya di atas kedua kafé tadi. Seperti galeri pada umumnya, Congo Gallery menampilkan karya seni, meja, dan kursi yang terbuat dari kayu solid. Ada kayu trembesi, jati, sonokeling, eboni, dan sebagainya. Harganya pun beragam. Kabarnya, ada yang mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Luar biasa!

Kembali ke kafe, sepertinya kita tak boleh melupakan menunya. Di tempat ini tersedia berbagai masakan, dari olahan tradisional hingga internasional. Sebagai pembuka, kebanyakan pengunjung Congo memesan Tahu Pletok. Kadang jika masih ingin nongkrong, makanan ini juga dipesan. Makanan khas Sunda ini berupa tahu yang diberi tepung tapioka dan digoreng garing. Sebagai teman makan, tersedia kecap manis dengan potongan cabe rawit hijau. Atau, ada singkong goreng yang sebelumnya dikukus, sehingga meskipun telah digoreng tetap renyah dikunyah. Untuk menu utama, lagi-lagi sajian tradisional menjadi andalan. Misalnya aneka varian berbahan buntur sapi. Ada Sop Buntut, Buntut Goreng, dan Buntut Bakar. Untuk menu internasional, Ebony Steak paling banyak dipesan.

Resto di lahan 2 hektare di Bandung dengan aneka menu yang menggoda.
Saint Berry dari Congo Gallery & Cafe Bandung. Foto: Prima M./Dok TL

Jika dilihat dari menu andalan tersebut, rasanya pilihan pengunjung sudah tepat. Sebab, makanan-makanan itu disajikan hangat dan memang paling pas disantap di kafe yang sejuk ini. Kemudian, sebagai hidangan penutup, Girl Best Friend paling banyak dipilih di antara deretan hidangan pencuci mulut lainnya. Hidangan ini berupa cake hangat dan diberi es krim. Di akhir pekan, pada saat kondisi normal, kafe yang buka mulai pukul 10.00 sampai 24.00 ini memberikan hiburan berupa light music. “Pilihan musik ini menyesuaikan dengan konsep kafe yang asri,” kata Anne.

Selesai menghabiskan kopi di cangkir, sempat terbersit pertanyaan di benak saya kenapa kafe di kawasan Dago ini diberi nama Congo. Mirip dengan nama negara di Afrika Tengah. Anne membenarkan bahwa nama Congo memang diambil dari negara tersebut. Sebab, menurut dia, di negara itu terdapat jenis kayu eboni yang sangat langka. “Dan kelangkaan itulah yang menginspirasi pemberian nama galeri dan kafe ini,” ucapnya.

Congo Gallery and Café; Jalan Rancakendal Luhur Nomor 8; Bandung

Menu Chicken ala Congo; Nasi Campur Bali; Sop Buntut Bakar/Goreng; Kakap Dabu-dabu; Ebony Steak

agendaIndonesia/Andry T./Prima M./Dok. TL

*****

Sarapan Enak di Locale 24 Diner & Bar

Sarapan enak di Locale 24 Diner & Bar, menjadi alternatif segar untuk menikmati sarapan ataupun kongko tengah malam. Terutama jika bosan dengan kedai-kedai makanan cepat saji.

Sarapan Enak

Bus  itu “diparkir” di deretan Rukan Garden House, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, tanpa pernah dipindahkan. Rukan tersebut berada di Blok B 10-11 sejak akhir 2013. Bus itu unik karena rodanya tidak pernah menggelinding. Di depannya pun tertata sejumlah kursi. Di pintu masuk, dipasang pula kanopi. Penasaran, saya pun memutuskan untuk singgah.

Seperti bagian luar yang dominan warna tosca, di dalam pun pulasan warna serupa mengisi beberapa bagian, selain putih dan abu-abu. Dining booth terdapat di setiap sudut ruangan. Papan tulis hitam memamerkan menu spesial di belakang bar. Sedangkan di depannya,  kursi bar berkaki aluminium menjadi tempat ideal untuk mereka yang tak memiliki banyak waktu bersantap. Inilah Locale 24 Diner & Bar, restoran yang dirancang menyerupai diner atau warung makan ala Amerika.

Seperti diner pada umumnya, restoran ini bernuansa retro. Sajiannya pun layaknya menu diner di Amerika Serikat, yang kebanyakan terdiri atas hidangan sarapan. Breakfast in the bus, salah satunya, terdiri atas telur mata sapi atau dadar, sosis, bacon, dan roti bakar. Rentang rasa pada menu sederhana seperti ini tentu tak jauh. Dengan kata lain, sajian seharga Rp 56 ribu tersebut tergolong standar. Appetizer platter senilaiRp 62 ribu pada menu pembuka malah lebih menggugah selera. Menyajikan pilihan chicken wings, tortilla, potato wedges, dan fish fingers yang terasa gurih.

Tak cuma menu sarapan ala Barat yang menjadi pilihannya. Ada  juga sajian ala Timur dan Indonesia, seperti singapore laksa with udon, tom yum seafood with rice, hainan chicken rice, nasi goreng locale, mi kangkung, dan ketoprak.  Harganya bervariasi, yakni Rp 38 ribu-106 ribu. Layaknya kebanyakan restoran modern di Jakarta, Locale 24 Diner & Bar juga menawarkan pilihan pasta, burger,dan steak.

sarapan enak di locale 24 diner & bar bisa menjadi alternatif segar jika bosen dengan kedai-kedai makanan capat saji,
Sarapan enak di Locale 24 Diner & Bar dengan pilihan aneka menu. Foto: Arcaya M./Dok TL

Melengkapi aneka hidangan, diner ini pun menawarkan berbagai jus buah, kopi dan teh. Mungkin karena melihat tren gaya hidup Ibu Kota, diner ini juga menyediakan beraneka ragam minuman beralkohol yang harganya tergolong miring. Satu sloki wiski Jameson, contohnya, dipatok dengan harga yang sedikit di bawah tempat lain. Semua menu ini dapat dinikmati kapan pun. Tidak ada alokasi menu untuk waktu tertentu—cocok untuk para foodie yang fleksibel dengan pilihan makanan mereka.

Sesuai dengan namanya, Locale 24 Diner & Bar awalnya memang buka 24 jam. Menyesuaikan dengan pasar dan pertimbangan berbagai hal, di waktu normal akhirnya dipilih waktu operasional pukul 10.00-04.00. Namun sejak pandemi, jam bukanya pun menyesuaikan. Di tengah pilihan sajian tengah malam yang didominasi restoran cepat saji, tampaknya Locale 24 Diner & Bar menjadi sebuah alternatif yang menyegarkan. Bahkan ketika banyak restoran lain tutup pada masa liburan, diner ini tetap membuka pintunya.

Berangkat dari konsep sarapan, diner ini menghadirkan sebuah paradoks. Semakin larut, Locale 24 Diner & Bar justru semakin ramai. Berkat konsep, hidangan serta harga yang ditawarkan, tempat makan ini menjadi magnet muda-mudi metropolitan. Mereka datang dari segala penjuru angin. Satu yang menjadi catatan, pemesanan kopi tidak dapat dilakukan lewat pukul 22.00 atau 23.00, apalagi ketika diner sangat sibuk. Alasannya, kopi diutamakan untuk pesanan saat sarapan. Masuk akal.

Locale 24 Diner & Bar memiliki beberapa bagian. Bagian depan diperuntukkan sebagai area bebas dari asap rokok, sedangkan di dalam sebagian besar area diner dengan bar yang merupakan area merokok. Ada juga area lantai dua yang diutamakan untuk acara privat. Karena alasan tersebut, tidak dianjurkan untuk mengunjungi Locale 24 Diner & Bar dengan keluarga lewat pukul 21.00.

Namun, saat buka pukul 10.00 hingga makan siang, Locale 24 Diner & Bar bisa menjadi tempat sarapan atau brunch yang tepat untuk keluarga. Inilah saat di mana diner tidak dipenuhi asap rokok dan celotehan riang anak muda. Dengan tenang, Anda bisa menghirup aroma kopi yang menggugah selera atau menikmati manisnya jus buah segar. l

Locale 24 Diner & Bar; Rukan Garden House Blok B 10-11; Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

Menu

Singapore Laksa with Udon ; Tom Yum Seafood with Rice ; Hainan Chicken Rice; Nasi Goreng Locale; Country Steak with Milk Gravy; Mi kangkung; Ketoprak

agendaIndonesia/Fiz R./Arcaya Manikotama/Dol. TL

*****

Oleh-oleh Jadul dari Cianjur, 5 Yang Unik

Oleh-oleh dari Cianjur ada bermacam-macam yang unik, salah satunya manisan buah.

Oleh-oleh jadul dari Cianjur, Jawa Barat, ternyata banyak yang unik. Ada taoco yang produknya sudah mulai memproduksi sejak tahun 1880. Lantas ada manisan yang tokonya sudah berjualan sejak 1960-an, dan ada pula kacang asin sejak zaman Belanda.

Oleh-oleh Jadul dari Cianjur

Jika mau manisan, datanglah ke Cianjur. Manisan di kota ini memang sudah dikenal sejak lama. Toko-toko penjual manisan dapat dengan mudah ditemukan dalam satu jalur, tepatnya di Jalan Muwardi. Selain itu, bisa ditemukan di beberapa lokasi lain. Bahkan, tak cuma itu, kota ini juga terkenal dengan taoco dan kacang asin yang telah diolah sejak zaman Belanda. Di samping itu, sale jari yang terbuat dari pisang ambon dan bandrek juga cocok dijadikan buah tangan saat singgah ke kota yang terletak di antara Jakarta-Bandung via Puncak ini.

Buatan Sendiri

Jika Anda berkendara dari arah Puncak menuju Bandung, di sepanjang Jalan Dr. Muwardi, Cianjur, bisa ditemukan deretan toko manisan. Namun jika Anda ingin mencoba yang agak berbeda, bisa mampir ke Jalan H.O.S Cokroaminoto. Di toko Manisan Mulia Sari, manisan dibuat sendiri alias homemade.

Toko manisan ini sudah dibuka sejak 1960-an dan kini ditangani oleh generasi ketiga. Menurut empunya, manisan tersebut dibuat tanpa menggunakan gula bibit dan bahan pengawet. Alhasil, rasa manisannya memang terasa lebih segar. Yang menjadi favorit para pembeli adalah manisan mangga muda, kedondong, salak, dan pala. Harganya mulai Rp 12.500 per seperempat kilogram.

Manisan Mulia Sari; Jalan HOS Cokroaminoto No. 205; Cianjur

Pakai Patiman

Bagi Anda penggemar taoco, pastinya sudah dengar ketenaran taoco cap Meong. Taoco asal Cianjur itu memang sudah lama ada. Diperkirakan, mulai beroperasi sejak 1880. Bangunan tokonya pun masih berupa bangunan lama. Di depan tokonya terpampang sebuah plang yang bertuliskan “Tauco No. 1 Buatan Nyonya Tasma, Cap Meong”.

Dalam soal rasa, para penggemarnya mengakui taoco ini memiliki rasa yang prima. Proses pengolahannya terbilang masih tradisional. Pemilik menggunakan baskom tanah liat atau yang biasa disebut patiman untuk melakukan proses fermentasiselama 3 bulan. Itu pun kalau cuaca sedang bagus. Jika tidak, proses fermentasi akan berlangsung lebih lama lagi. Taoco dijual dalam kemasan botol berukuran 200 ml, 350 ml, dan 1 liter. Harganya mulai Rp 15 ribu per botol.

Tauco Meong; Jalan HOS Cokroaminoto No. 160; Cianjur

Seukuran Jari

Jika Anda berangkat dari arah Sukabumi menuju Cianjur, Anda mungkin akan menemukan sebuah pusat jajanan di sisi kanan jalan. Lokasinya sudah mendekati Kota Cianjur. Oleh-oleh di tempat yang merupakan usaha kecil dan menengah  ini lumayan lengkap. Mulai kerupuk, manisan, rengginang, hingga—yang spesial—sale jari.

Jika sale pisang biasanya lunak dan berukuran besar, lain halnya dengan sale yang terbuat dari pisang ambon ini. Salenya justru renyah. Selain itu, ukurannya mungil. Kira-kira seukuran jari telunjuk dewasa. Mungkin karena bentuknya itu, dijuluki sale jari. Untuk satu bungkus dengan berat seperempat kilogram dijual Rp 10 ribu.

Toko Manisan Putra Sawargi; Jalan Raya Sukabumi-Cianjur, Warung Kondang; KM 9 No. 9; Cianjur

Oleh-oleh jadul dari Cianjur ada yang sudah digemari masyarakat sejak tahun 1880.
Oleh-oleh dari Cianjur berupa kacang asin cap Pohon Beringin yang sudah ada sejak zaman Belanda. Foto: Rully K./Dok TL.

Kacang dari Zaman Belanda

Oleh-oleh terkenal dari Cianjur lainnya adalah kacang asin cap Pohon Beringin. Kacang asin itu konon sudah ada sejak zaman Belanda. Kini sudah diteruskan ke generasi kedua. Selain renyah, rasa asinnya pas dan tidak terlalu berlebihan di lidah saat dikunyah.

Selain dapat ditemukan di toko pembuatnya, kacang asin yang merupakan industri rumahan ini dapat dengan mudah ditemui di pusat jajanan di Cianjur. Dijual dalam kemasan 250 gram dan 500 gram. Harganya masing-masing Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu.

Kacang Asin Pusaka; Cap Pohon Beringin; Jalan Suroso No. 7; Cianjur

Bandrek dan Bansus

Masih dari Cianjur, ada satu minuman khas Sunda yang terkenal, yakni bandrek. Bandrek jika dikonsumsi secara rutin diyakini dapat memperlancar peredaran darah, mempercepat penyembuhan stroke, mencegah impotensi, dan meningkatkan vitalitas pria. Menurut cerita, bandrek sebenarnya adalah minuman keluarga. Namun kini berkembang menjadi industri.

Ada dua merek bandrek terkenal dari Cianjur, yakni cap 2 Pigeons dan Penguin. Meskipun sama-sama menggunakan gula aren dan rempah-rempah, penjual menyebut “bandrek” untuk cap 2 Pigeons dan “bansus” untuk cap Penguin. Harganya Rp 10 ribu per pak dengan isi 10 kotak.

Toko Alam Sari; Jalan Dr. Muwardi No. 54; Cianjur

agendaIndonesia/Andry T./Rully K./TL

*****

Jajanan Legendaris Bandung, 5 Yang Bikin Kangen

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Jajanan legendaris Bandung ada beraneka ragam. Rasanya bahkan setiap bulan muncul satu jajanan baru yang langsung hip. Semua orang langsung membicarakan dan ingin mencobanya.

Jajanan Legendaris Bandung

Kota Bandung, Jawa Barat, memang boleh dibilang memang pusatnya jajanan. Hampir di setiap sudut kota terdapat toko atau warung jajanan. Tak hanya itu, tren penganan juga selalu muncul dari Kota Kembang. Namun beberapa buah tangan berikut ini seperti mengalami pengecualian. Kudapan tersebut masih bertahan sejak dulu sampai kini. Kehadirannya seakan tak tergerus tren. Ada yang memulai usaha sejak 1930 dan diteruskan ke generasi berikutnya. Ada pula yang sudah berkembang menyediakan berbagai variasi jajanan.

Peuyeum Tradisional

Mencari jajanan yang benar-benar tradisional bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Berun- tung masih ada Colenak Murdi Putra. Colenak, singkatan dari “dicocol enak”, memang jajanan terkenal di Bandung sejak dulu. Pengolahan penganan khas Jawa Barat ini masih sangat tradisi- onal. Peuyeum alias tape singkongnya dipanggang dengan arang. Sedangkan gula sebagai cocolan peuyeum dimasak memakai kayu bakar.

Rasanya? Benar-benar membawa kita bernostalgia. Sejak dibuka pada 1930, Colenak Murdi Putra masih konsisten menggunakan peuyeum putih asal Cimenyan. Harganya hanya Rp 8.000 per porsi dengan pilihan rasa: orisinal, durian, dan nangka. Selain
di gerai pusat dan cabang, colenak
ini dapat diperoleh di berbagai pasar swalayan di Bandung.

Colenak Murdi Putra; Jalan Ahmad Yani No 733, Bandung Jalan Raya Cibiru No 3, Bandung

Lemper ala Julie

Jika biasanya dibuat dengan cara dikepal-kepal, lain halnya lemper yang satu ini. Lemper ala Julie dibuat di loyang dengan berlapis-lapis isian. Lapisan pertama berisi ketan, lapisan berikutnya daging cincang, dan lapisan terakhir ketan. Karena cara pem- buatan itulah penganan ini disebut lapis lemper.

Daging yang dipakai juga bukan daging ayam yang biasa digunakan lemper pada umumnya, melainkan daging sapi segar. Alhasil, potongan lemper terlihat lebih rapi dengan mem- perlihatkan isi daging. Resep khas Julie Sutardjana atau Oma Julie ini dicip- takan pada 1960-an. Harga per buah hanya Rp 3.500.

Kedai Nyonya Rumah; Jalan Naripan No 92C, Bandung Jalan Trunojoyo No 29, Bandung

Batagor

Jika berkunjung ke Bandung, hampir pasti dengan mudah kita menemukan batagor di setiap sudut jalan. Salah satunya, Batagor Isan. Belakangan ini namanya semakin naik daun menyaingi batagor yang lebih dulu terkenal. Bumbu batagor ini terlihat lebih merah meskipun sama-sama menggunakan bahan dasar kacang tanah.

Rasa yang ditawarkan juga berbeda, dengan harga relatif lebih murah. Harganya tak sampai Rp 15 ribu per buah. Selain cocok dimakan di tempat, tahu berisi adonan sagu dan ikan tenggiri itu dapat dibawa pulang. Sebelumnya, batagor digoreng setengah matang agar tidak mudah basi. Pertama kali buka di daerah Bojong Loa pada 1980-an, sampai sekarang sudah ada 13 gerai cabang Batagor Isan tersebar di Kota Bandung.

Batagor & Mi Baso Isan; Jalan Mohammad Toha No 118, Bandung

Jajanan legendaris Bandung begitu banyak ragamnya, mulai dari penganan tradisional hingga kopi yang hampir menapai 1 abad.
Kopi Aroma Bandung menjadi salah satu legenda Kota Kembang ini. Foto: Dok. Kopi Aroma Bandung.net

Kopi Legendaris

Di antara toko-toko bahan bangunan dan onderdil di kawasan Banceuy, terselip sebuah toko kopi yang popularitasnya mencapai mancanegara. Didirikan pada 1930 oleh Tan Houw Sian, toko kopi sekaligus pabrik itu kini ditangani anaknya, Widyapratama.

Selain dijual dalam bentuk bubuk, terdapat kopi yang masih berupa biji. Tersedia dua jenis kopi, yakni kopi robusta berusia lima tahun dan kopi arabika delapan tahun. Menjual kopi jenis kopi robusta dengan harga yang relatif murah.

Kopi Aroma; Jalan Banceuy No 51, Bandung

Jajanan legendaris Bandung tak bisa melupakan Bollen Pisang khas Kartika Sari.
Bollen Pisang Kartika Sari yang selalu bikin kangen. Foto: Dok. Kartika Sari

Dominasi Bollen

Berbicara ihwal tren jajanan di Kota Kembang, mungkin kita tidak bisa melupakan Kartika Sari. Toko kue yang mulai buka pada 1980-an ini terkenal karena menjadi pelopor pisang bollen keju. Sampai saat ini sudah ada tujuh cabang Kartika Sari tersebar di Bandung dengan lebih dari 126 varian jajanan. Namun pisang bollen keju masih mendominasi penjualan Kartika Sari. Selain bollen pisang, kini mereka juga menjual varian lain seperti tape dan lainnya. Ini selalu cocok dijadikan oleh-oleh jika kita bepergian ke Bandung.

Kartika Sari; Jalan Haji Akbar No 4, Kebon Kawung, Bandung

agendaIndonesia/TL

*****

Pulau Berhala, Eksotisme 15 Hektare di Selat Malaka

Pulau Berhala di Selat Malaka adalah pulau terluar di perbatasan Indonesia. Di barat Sumatera dan di timur Semenajung Malaysia, pulau terluar ini menebar pesona.

Pulau Berhala

Sopir menancap pedal gasnya tanpa ragu di pagi-pagi buta itu. Selain jalan yang masih sepi, dia sudah paham betul tujuan saya dan fotografer. Mencapai Pulau Berhala di Serdang Berdagai, Sumatera Utara, memang perlu waktu tak sedikit. Saya memulai perjalanan dari Medan. Setelah melaju hampir dua jam, pukul 08.30 saya menginjakkan kaki di sebuah dermaga mungil. Tepatnya di Tempat Penampungan Ikan (TPI) Tanjung Beringin, Kabupaten Deli, Serdang, Sumatera Utara.

Saya masih harus berlayar sekitar 3 jam 30 menit untuk tiba di daratan rindang seluas 14,75 hektare yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia. Diberi nama unik, menurut warga setempat, konon pada zaman dulu pulau ini sering dijadikan lokasi ritual pemujaan. Berbeda dengan TPI yang masuk wilayah Deli Serdang, pulau ini berada dalam lingkup Kabupaten Serdang Bedagai.

Hanya beberapa menit berangkat dari TPI Tanjung Beringin, pemandangan sepanjang sungai membuat saya berdecak kagum. Terutama karena aksi sekawanan burung bangau putih. Beberapa hinggap di pohon bakau siapi-api dan sebagian lagi asyik berada di tepi sungai. Mereka seakan dengan sengaja menemani para nelayan.

Tak lama laut luas terhampar di depan mata. Terlihat di ujung mata, garis horizontal permukaan laut Selat Malaka yang ditaburi siluet deretan kapal-kapal nelayan.  Pada waktu yang bersamaan, ubur-ubur pun menampakkan diri di sekitar kapal. Sekawanan binatang laut itu mengiringi pelayaran kami menuju salah satu pulau yang menjadi titik terluar Indonesia itu. Menakjubkan!

Tepat pukul 12.00, kapal pun berhenti melaju. Pasir putih dan air jernih sontak membuat saya ingin segera turun. Terumbu karang, ikan-ikan cantik, dan benda-benda laut lain di dasar air tampak begitu jelas terlihat dari dermaga. Sebagai pulau terluar, kehadiran sejumlah anggota marinir yang bertugas pun menjadi ciri khas. Menurut salah seorang personelnya, Pulau Berhala mulai dilengkapi Basis Jaga Perbatasan pada 2004.

Dengan ramah, para marinir yang tengah berjaga menyambut saya dan kawan-kawan dengan beberapa gelas kopi Aceh dan obrolan renyah. Mata saya pun dibuat terbuka dan terasa segar kembali. “Meski lokasi Pulau Berhala cukup jauh dari Kota Medan, setiap Sabtu dan Minggu banyak pengunjung yang rekreasi ke sini. Baik pengunjung lokal maupun dari luar kota,” kata Andriansyah, personel peleton Pulau Berhala.

Pulau Berhala di Selat Malaka yang merupakan salah satu pulau terluar ternyata menyimpan eksotisme untuk dikunjungi.
Dermaga Pulau Berhala, pintu masuk ke pulau di sisi terluar Indonesia. Foto: Lourent/Dok TL


Pulau ini, selain menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, memiliki kekayaan alam berupa keindahan terumbu karang bawah laut dan hutan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi. Sedangkan dari sisi vegetasi, Pulau Berhala terdiri atas hutan lahan basah, hutan lahan kering, serta lahan terbuka yang beberapa bagiannya ditumbuhi pepohonan kelapa. Walhasil, ada banyak kegiatan yang bisa dijajal.

Menyelam, snorkeling, trekking, dan menyimak langkah-langkah penyu karena Pulau Berhala merupakan tempat penangkaran hewan bertempurung itu. Menikmati keindahan mentari tenggelam dan sekadar santai di bibir pantai pun tentu menjadi keasyikan tersendiri.

“Sumber air tawar di sini masih cukup bagus. Yang disayangkan dari pulau ini, enggak bisa meraih sinyal telepon. Jadi, kalau mau komunikasi agak susah. Mesti ke tengah laut dulu, lalu kembali lagi ke sini. Kami selalu bergantian dengan petugas yang lain untuk menelepon,” kata Nababan, bintara peleton yang berjaga di Pulau Berhala.  

Klimaks dari serentetan aktivitas adalah perjalanan menuju mercusuar.

Hutan pun harus saya susuri dan anak tangga sebanyak 770 buah harus dinaiki. Bukan main perjuangannya. Tapi begitu tiba rasa puas dan bangga bergema dalam hati melihat simbol Burung Garuda bertengger gagah di puncak mercusuar Pulau Berhala. 

Masih kuat mendaki terus melangkah 85 anak tangga lagi untuk mencapai puncak menara. Tiba di bagian teratas, sebuah “hadiah” menunggu, tak lain pemandangan  laut luas dan pulau di sekitarnya. Di dekat Pulau Berhala, ada Pulau Sokong Seimbang dan Sokong Kakek yang mengapitnya.  Membikin pilihan untuk menyelam dan snorkeling pun ada di beberapa titik.

Memang tak ada penginapan di pulau ini. Sebab, penghuninya hanya sekelompok marinir, namun turis boleh mendirikan tenda. Hanya, harus terlebih dulu mengurus izin. Kamar mandi tersedia. Cuma, bahan makanan harus dibawa sendiri. Rasanya puas bila bisa semalam di sini, tapi saya tidak bisa berlama-lama.

Menjelang matahari tergelincir, saya bertolak pulang kembali ke Medan. Keindahannya saya cermati sesaat. Saya pun bergumam, berbisik pada alam akan keinginan untuk kembali dan mencecap keindahannya lebih lama. l.

Tips Pejalanan

Kebanyakan wisatawan memulai perjalanan dari Sumatera Utara hingga dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta bisa memilih rute ke Kualanamu, Deli Serdang. Lantas dilanjutkan dengan kendaraan roda empat ke TPI Tanjung Beringin.

Selain dari Tanjung Beringin, Deli Serdang, wisatawan juga bisa menyeberang dari beberapa pelabuhan di pantai timur Sumatera Utara. Misalnya, Pantai Cermin, Serdang Bedagai, dan Pelabuhan Tanjung Tiram di Kabupaten Batubara.

Pengunjung bisa menyewa perahu nelayan untuk mencapai  Pulau Berhala, karena belum ada fasilitas kapal penyeberangan umum. Biaya sewa kapal nelayan berkisar Rp 800 ribu-Rp 1,5 juta per malam. Berangkat dalam rombongan tentu bisa menghemat biaya.

Berbagai jenis terumbu karang (Intertidal Coral Reef dan Karang Tengah) bisa ditemukan dalam radius 200 m dari bibir pantai dengan jumlah tidak kurang dari 22 spesies. Sedangkan jenis ikan karang sekitar 11 spesies.

November-Februari merupakan saatnya penyu-penyu datang dan bertelur di sekitar pantai Pulau Berhala. Bulan-bulan tersebut menjadi waktu yang tepat untuk berkunjung. Aktivitas snorkeling dan menyelam menjadi pilihan aktivitas selain trekking dan memancing.

agendaIndonesia/Sandi/Lourent/TL

*****

Ombak Canggu Bali, 3 Pantai Berpasir Hitam

Ombak Canggu Bali dengan pantai-pantainya yang berpasir hitam.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di tiga pantai di kawasan itu. Pantai-pantai di lokasi ini memiliki pasir hitam yang terkesan biasa. Tidak langsung terlihat indah dibandingkan pantai-pantai dengan pasir putih. Namun, Bali selalu punya aura yang tak bisa ditolak.

Ombak Canggu Bali

Masih pukul 15.30 waktu setempat ketika  saya beranjak dari Jalan Raya Kerobokan, Kuta Utara, Badung, Bali. “Harus cepat-cepat kalau mau lihat sunset di Canggu, jalanan kalau sore suka macet,” ucap seorang teman. Maka saya dan kawan fotografer lantas saja  bergegas. Jalan-jalan di kawasan Seminyak yang sempit memang cukup padat pada sore hari. Beruntung, pengemudi paham rute tersingkat ke lokasi. Penelusuran sederet pantai di kawasan ini pun dengan segera dimulai.

Yang pertama saya singgahi adalah Pantai Batu Beliq yang tidak jauh dari Seminyak. Saya tiba di sana saat langit masih benderang. Menjelang sore, pantai yang masih berada di wilayah administratif Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, ini tidak terlalu ramai. Sebelum menjejak di pasirnya yang hitam, ada beberapa pilihan akomodasi bagi turis. Papan-papan selancar pun berdiri di beberapa titik. Batu Beliq tergolong pantai para peselancar karena ombaknya cukup menggoda. 

Tak berlama-lama di Batu Beliq, pantai di sebelahnya kemudian diburu. Pantai Batu Bolong saya temukan setelah melalui jalan-jalan kecil dan persawahan. Ada deretan hotel dan resor sebelum menginjak pantainya. Lebih tertata dibanding pantai sebelumnya. Cukup landai sehingga lebih nyaman untuk menikmati empasan ombak di tepian. Juga bisa sekadar  berjalan kaki, berlari, atau bermain-main. Bahkan cuma duduk-duduk di tepi pantai seperti yang dilakukan sekelompok turis lokal.

Ombak Canggu Bali bisa ditemui di sejumlah pantai, di antaranya di pantai Batu Belig.
Pantai Batu Belig di kawasan selatan Bali. Foto: unsplash

Saya juga bertemu dengan wanita asing yang tengah menyusuri pantai bersama anjingnya. Jalan sore berdua tak harus dengan kekasih. Dengan hewan kesayangan pun sama-sama mengasyikkan. Pantai juga cenderung lebih bersih dibanding Batu Beliq. Sesuai dengan namanya di bagian ujung, saya menemukan karang yang menjorok ke tengah laut dengan lubang di tengahnya. Rupanya, inilah batu yang bolong itu.

Tepat di sebelah Pantai Karang Bolong bisa ditemukan Pantai Echo yang lebih “hidup”. Sebelumnya, pantai itu dikenal sebagai Pantai Batu Mejan. Ada pilihan kafe-kafe di tepi pantai yang letaknya lebih tinggi daripada pantai. Di sisi lain, pantai bisa ditemukan bangunan non-permanen yang memutar musik keras-keras dengan ritme yang mengentak-entak. Di sanalah tampak para peselancar melepas penat setelah menari-nari di atas ombak.

Bila masuk dari jalan raya, Anda bisa menemukan sebuah pura yang menjadi tanda keberadaan pantai tersebut. Itu tak lain dari Pura Batu Mejan. Pantai berada di sisi bawah, sehingga harus meniti jalur kecil yang menurun. Pantai Echo lebih banyak batu karangnya. Apalagi sore itu ketika pantai surut. Hamparan batu karang pun tampak jelas.

Ombak Canggu Bali di antaranya diburu wisatawan yang menggemari berselancar.
Pantai Echo di kawasan Canggu, Bali, menjadi slah satu tujuan peselancar. Foto: unsplash

Saya mungkin kurang beruntung, setelah menemukan langit yang bersih dan mentari yang bulat oranye, tiba-tiba awan datang. Awan menutup secara perlahan hingga keindahan mentari tenggelam yang bisa ditemukan di Pantai Echo tidak bisa dinikmati seutuhnya. Ketika langit benar-benar gelap, saya masih enggan untuk beranjak.

Akhirnya, saya memilih menikmati debur ombak sembari mencicipi menu hidangan laut yang disuguhkan sebuah kafe. Jimbaran seafood grill yang saya pilih di Dian Cafe. Kafe yang berdiri sejak tujuh tahun lalu ini posisinya paling dekat ke pantai, sehingga ramai dikunjungi turis. Aroma beragam ikan yang dibakar pun menggugah selera untuk singgah. Pada hari libur, menurut seorang warga yang mengaku bernama Billy, lebih ramai lagi. Bisa jadi, saya tidak akan kebagian duduk santai menikmati hidangan kalau datang terlalu malam. “Biasanya turis  bergeser dari Legian dan Kuta, karena di suasana (di sini) yang lebih sepi,” ujarnya.

Pantai Echo sebenarnya bukan akhir dari deretan pantai di sini. Sebab, jika terus melangkah, sejumlah pantai lain masih bisa ditemukan. Yang terindah adalah perjalanan berakhir di Tanah Lot, Tabanan. Sayang sekali, saya terlalu sore untuk memulai penelusuran pantai di sana. Maka cukuplah mencecap senja dan malam di tengah embusan angin kencang di Pantai Echo.

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

Asyiknya Mengintip Burung, Hobi Yang Ada Sejak 1901

Asyiknya mengintip burung atau birdwatching bukan hobi yang baru muncul. Kegemaran ini sudah pernah ditulis oleh ornitolog asal Inggris pada 1901. Ini bukan sekadar menikmati keindahan karya sang Pencipta, tapi juga memahami, mencatat dan melestarikannya. Mengendap-endap, mengintip via teropong, mencermati, dan mencatat jenis burung yang dilihat.

Asyiknya Mengintip Burung

Cuaca memang belum bersahabat pada pada waktu itu. Maklum, hujan masih rajin mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat. Namun Santi dan Jihad dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) tetap bersemangat menemani Stuart Marden, peneliti burung dari Manchester University, Inggris. Saat azan Subuh menggema, mereka sudah bergegas menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Beruntung hujan tidak turun hari itu, meskipun mendung menggelayut.

Tepat pukul 07.00, mereka sudah tiba di pintu masuk Cibodas, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Taman Nasional. Perjalanan yang harus mereka tempuh masih panjang. Meskipun tidak terlalu berat, jalur trekking memiliki rute berkelok dan naik-turun. Tak hanya itu, selama perjalanan mereka juga tak boleh menimbulkan suara gaduh. Bahkan terkadang mereka harus jalan mengendap-endap dan siap membidikkan teropong berlensa binokulersaat tampak burung bertengger.

Orang awam yang melihatnya mungkin akan menganggap apa yang mereka lakukan ini sebagai kurang kerjaan. Betapa tidak, mereka hanya “tukang intip” burung-burung liar yang hidup di alam bebas. Padahal, pengamatan burung atau lebih kerennya disebut birdwatching merupakan suatu kegiatan observasi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai judul buku yang ditulis oleh ornitolog Inggris, Edmund Selous, pada 1901. Belakangan birdwatching berkembang menjadi kegiatan yang bersifat rekreasi.

Dari tahun ke tahun, organisasi pengamat dan pemerhati burung di Indonesia terus bertambah. Baik yang bernaung di lingkup perguruan tinggi maupun berdiri secara independen. Terkadang pula birdwatching diselipi kegiatan fotografi menggunakan burung sebagai obyek pemotretan.

Meski bersifat hiburan, kegiatan ini dapat menambah wawasan para birdwatcher, sebutan untuk pengamat burung. Sebab, dengan mengintip via teropong itulah mereka bisa mengetahui jenis-jenis burung endemik atau burung perkotaan yang ada di Indonesia. Apalagi birdwatching bisa dilakukan di mana saja, asalkan tempat tersebut merupakan habitat komunitas burung.

asyiknya mengintip burung bukan saja melihat keindahan karya sang pencipta, tapi juga sarana melestarikannya.
Burung Sikatan Ninon. Foto: Tri Susanti-Burung Indonesia

Kendati demikian, untuk menjadi birdwatcher perlu pengetahuan mendasar sebelum terjun ke lapangan. “Perlu tips tersendiri,” ujar Rahmadi Rahmad, Media and Communication Officer Burung Indonesia, waktu itu, yang juga sering menjadi birdwatcher. Jebolan Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menyarankan agar para birdwatcher tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok saat melakukan pengamatan. “Warna pakaian yang mencolok akan mengganggu burung. Sebaiknya, gunakan pakaian berwarna khaki atau yang senada dengan alam,” ia memaparkan.

 Selain itu, Rahmadi menyebutkan, birdwatcher disarankan menggunakan teropong binokuler dan menghindari monokuler. Alasannya, teropong monokuler agak merepotkan penggunaannya karena perlu dilengkapi tripod dan terasa kurang praktis.

Sedangkan untuk soal waktu, kata Rahmadi, pagi-pagi merupakan yang terbaik. Sebab, saat itu burung-burung sangat aktif mencari makan, sehingga mudah ditemukan. “Sore hari juga merupakan waktu pengamatan yang baik, karena biasanya burung mencari makan sebelum mereka beristirahat pada malamnya.”

Di sisi lain, kegiatan mengamati burung ini bertujuan untuk penelitian ilmiah. “Dari hasil birdwatching, kita dapat mengetahui populasi burung yang ada di Indonesia,” ujar Tri Susanti, Communication and Publications Officer Burung Indonesia. Menurut lajang yang akrab dipanggil Santi itu, Indonesia negara terbesar kelima di dunia dan terbesar di Asia yang memiliki 1.605 jenis burung dan 380 jenis burung endemik. Sayangnya, Indonesia juga negara terbesar ketiga yang burung-burungnya terancam punah.

Santi mencontohkan populasi burung yang ada di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Pada 1960-an diperkirakan terdapat 160 jenis burung. Namun, ketika diadakan pengamatan kembali pada 2009, jumlah populasinya diperkirakan berkurang hingga separuh. Hal itu, kata Santi, menandakan telah terjadi pengurangan ruang terbuka hijau di Kota Bogor.

“Banyak ruang terbuka hijau yang telah berganti peran dengan berdirinya kompleks perumahan ataupun pertokoan,” katanya. Karena itu, Santi menyatakan Burung Indonesia sebagai organisasi konservasi burung berupaya mengadakan kerja sama dengan pemerintah setempat dalam pelestarian lingkungan agar habitat burung-burung tersebut tetap terjaga.

agendaIndonesia/Andry T./TL/Foto: Dok. Burung Indonesia

*****