Tradisi Pasola Sumba, di Antara 200 Makam Megalit

Tradisi pasola di Sumba Nusa Tenggara Timur merupakan ritual yang mengharapkan berkah yang Kuasa.

Tradisi pasola, sebuah tradisi perang berkuda dengan senjata tombak di padang rumput di tengah makam-makam megalitikum. Sebuah tradisi para ksatria dan penghormatan bagi kuda.

Tradisi Pasola Sumba

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur punya satu tradisi yang unik, pasola. Ini merupakan tradisi tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak. Dulu yang digunakan adalah betul-betul lembing tajam. Kata pasola sendiri dicuplik dari kata sola atau hola yang berarti lembing kayu. Dalam konteks tradisi, pasola merupakan perang adat dengan dua kelompok ksatria berkuda saling berhadapan dengan menunggang kuda dan membawa lembing atau tombak.

Pasola digelar setahun sekali di sejumlah kampung di Pulau Sumba sebelah barat. Biasanya tradisi ini dilakukan di bulan Februari atau bulan Maret, tergantung desa atau kampung yang menyelenggarakan.

Kodi, Wanokaka, Wainyapu,dan Tosi adalah sejumlah kampung penyelenggaranya. Kampung-kampung tersebut bisa dicapai dengan berkendaraan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Perjalanan hampir tiga jam, melalui jalan-jalan kecil berliku serta membelah sabana yang luas. Di beberapa perkampungan yang dilewati kita akan disuguhi pemandangan sejumlah kuburan batu megalit dan makam-makam yang menghitam.

Pasola diawali dengan adat nyale, yakni upacara rasa syukur masyarakat Sumba atas anugerah yang diperoleh yang ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di pinggir pantai. Cacing laut dalam bahasa Sumba disebut sebut sebagai nyale.

Adat tersebut dilaksanakan pada waktu purnama dan cacing-cacing laut keluar di tepi pantai. Para Rato, yakni pemuka suku, akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari. Saat nyale pertama didapat oleh Rato, akan dibahas apakah ia gemuk, sehat, dan berwarna-warni, atau sebaliknya. Jika gemuk dan sehat, itu konon pertanda pada  tahun tersebut masyarakat akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Jika sebaliknya, kemungkiakan akan ada malapetaka.

Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum. Belakangan, ketika adat ini menjadi atraksi, ia juga disaksikan wisatawan asing maupun lokal.

Di hamparan padang datar nan luas dan rumah adat beratap ilalang yang bagian tengahnya tinggi sekali itu dilingkari lebih dari 200 makam megalit berwarna kehitaman. Kemudian, para rato atau tetua adat melafalkan mantra meminta agar cuaca cerah.

Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul. Walaupun berujung tumpul, permainan ini kadang dapat menjatuhkan. Dalam pasola, ke dua kelompok ksatria Sumba saling berhadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesatkan lembing ke lawan. Para peserta juga mesti tangkas menghindari terjangan lembing yang dilempar lawan.

Dahulu, saat pasola dipergunakan lembing kayu bermata tajam. Namun kemudian penggunaan lembing kayu dilarang pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat memicu gangguan ketertiban. Ritual perang berkuda “yang berdarah-darah” di Sumba sesungguhnya telah lama dilarang pemerintah. Kemudian, perang berkuda pun dipoles menjadi lebih ramah dan aman. Lembing bermata tajam diganti tombak kayu tumpul. Tetapi kuda tetap digunakan. Sebab, dalam ritual adat ini, kuda merupakan bagian yang penting.

Bahkan ada mantra yang dilafalkan para rato untuk memberkati kuda yang hendak berangkat perang. Kenapa kuda yang didoakan, bukan penunggangnya? Pararato menyebut, di Sumba kuda begitu dihormati. Saat perang, penunggang boleh saja tewas, tapi kuda harus tetap hidup. Sebab, kuda akan dikorbankan dalam sebuah ritual. Roh sang kuda disebutkan akan mengikuti sang pemiliknya, sehingga tetap menjadi tunggangannya di alam lain.

Tradisi pasola merupakan ritual tua tentang pahlawan berkuda dengan senjata tombak.
tradisi Pasola menjadi ritual budaya di awal tahun untuk meminta berkah bagi tanah Sumba.

Setelah doa dipanjatkan rato, masyarakat yang menonton mengeluarkan teriakan panjang tak henti-henti: “Nyale! Nyaleeee…”. Beberapa saat kemudian kuda nyale dibawa tiga orang rato keluar dari medan pertempuran. Ini merupakan tanda pertempuran dimulai. “Kuda nyale” merupakan kuda titisan dewi pesisiran yang bersemayam di dasar lautan itu. Kuda nyale juga merupakan kuda yang pertama memasuki arena pasola untuk memulai peperangan.

Kadang suasana agak menghangat, karena penonton saling lempar ejekan. Beberapa ksatria pasola yang sebelumnya panas karena minum peci, minuman khas Sumba, terkadang hanyut dalam suasana yang memanas. Juga lembing-lembing pun beterbangan di udara terik. Penonton pun sering ikut suasana bersorak dan mendesak ke tengah arena. Saat itulah, polisi memohon dengan sangat sopan agar penonton kembali ke area pinggiran arena. Tapi permintaan itu seperti lesap ditelan gemuruh penonton.

Meski suasana memanas, ada pantangan saat melempar lembing kayu. Pada saat kuda yang ditunggangi salah satu pihak bermanuver dan membelakangi lawan untuk kembali ke kubunya, adalah pantangan untuk dijadikan sasaran. Terlebih jika si ksatria di atas kuda tersebut telah kehabisan senjata.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen.

Jika pandemi usai, catat di agendamu Februari atau Maret untuk berkunjung ke Sumba dan menikmati semangat pasola.

agendaIndonesia

*****

Kuliner Unik Banyuwangi, 2 Hidangan Jadi 1

Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, dua hidangan yang kita kenal masing-masing sebagai masakan khas dihadirkan sebagai satu kesatuan. Bagi yang tak terbiasa, ini mungkin terasa aneh. Namun, setelah satu dua suap, lidah pun mulai beradaptasi dan merasakan kenikmatannya. Ini mungkin cerminan karakter khas masyarakat daerah ini.

Kuliner Unik Banyuwangi

Untuk mengetahui karakter masyarakat di satu daerah sebenarnya mudah. Coba tengok sajian kulinernya. Di Banyuwangi, sebagian besar sajiannya merupakan hasil kolaborasi  cita rasa dari berbagai daerah. Dua atau tiga olahan daerah lain dipadukan sehingga lahir sajian baru yang khas. Rasanya, seperti disebut di muka, awalnya agak lucu, tapi pada akhirnya yang ada adalah masakan yang jempolan.  

Pecel Plus Rawon

Nasi pecel rawon mungkin sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Namun bagi pelancong menu ini justru mengundang penasaran. Sebab, selama ini lebih dikenal nasi rawon atau nasi pecel. Sajian ini ternyata benar-benar nasi pecel yang diberi kuah rawon.

Nasi diberi rebusan sayuran seperti bayam, taoge, dan kacang panjang yang disiram bumbu kacang. Tak cukup di situ saja, makanan tersebut lantas disiram dengan kuah rawon. Dalam satu piring, menu seharga Rp 20-25 ribu itu terbilang amat lengkap. Ada bakwan jagung, empal, rempeyek kacang, rempeyek udang, dan dendeng sapi. Perpaduan rasa antara pecel dan rawon benar-benar unik: rasa gurih kacang bercampur dengan kaldu rawon yang kaya rempah.

Rumah Makan Pecel Ayu; Jalan Adisucipto No. 55, Banyuwangi

Kuliner unik Banyuwangi yang memadukan dua masakan menjadi satu. Awalnya terasa aneh, namun kemudian terasa lezatnya.
Kuliner unik Banyuwangi, Jawa Timur, di antaranya Rujak Soto yakni Soto yang dihidangkan bersama rujak. Foto: shutterstock

Rujak dan Soto

Rujak sudah terkenal sebagai sajian kuliner khas Surabaya. Demikian juga dengan soto yang variannya dimiliki hampir seluruh daerah di Indonesia. Di Banyuwangi, dua sajian kuliner itu dikolaborasikan menjadi menu baru: rujak soto. Pemerintah Banyuwangi memilih rujak soto sebagai ikon sajian kuliner karena kemunculannya paling tua.

Rujak soto ini tanpa nasi, hanya lontong yang dipadukan dengan kangkung, taoge, irisan mentimun, dan kacang panjang. Aneka sayuran tersebut disiram dengan bumbu rujak berbahan kacang. Giliran kuah soto hangat berisi kulit sapi disiram hampir memenuhi bibir mangkuk. Terakhir, irisan telur asin, tempe, tahu, dan kerupuk udang ditabur di bagian atasnya. Sajian seharga Rp 25 ribuan itu cukup gurih dan segar untuk menu makan siang.

Pondok Rujak Soto “Murah Meriah”; Jalan Basuki Rahmat No. 43, Banyuwangi

Pecel dengan Kare

Kare atau kari ayam adalah hidangan umum di Asia Selatan seperti India. Di Jawa, varian kare lebih mirip hidangan opor ayam. Pedagang Banyuwangi menyatukan keduanya hingga lahir pecel kare yang dikreasikan pada 2000-an setelah rujak soto dan pecel rawon. Rasa kare yang gurih berpadu dengan sedikit pedas bumbu pecel.

Pecel kare terdiri atas nasi yang diberi taburan potongan kacang panjang, taoge, tempe, dan tahu yang kemudian disiram bumbu pecel. Terakhir, seluruh nasi digerojokkare berisi ayam yang kuahnya berwarna kuning. Hidangan seharga Rp 20 ribuan tersebut harus disantap bersama rempeyek kacang yang renyah.

Rest Area Istana Gandrung; Jl Raya Rogojampi, Kecamatan Kabat;Banyuwangi

Rujak Campur Bakso

Bakso telah menjadi santapan umum orang Indonesia. Tapi kalau rujak bakso yang saya santap hanya ada di Banyuwangi. Ya, seperti namanya, sajian kuliner ini memang campuran rujak dan bakso. Rujaknya adalah olahan rujak cingur khas Surabaya. Rujak yang kaya sayur dan pedas dipadu dengan segarnya kuah bakso.

Olahan rujak diulekjadi satu di dalam cobek. Isinya: lontong, taoge, sayur genjer, selada, bayam, serta potongan cingur. Rujak kemudian dipindah ke sebuah mangkuk, lalu diguyur dengan kuah bakso hangat dan dilengkapi empat bakso sapi. Dengan membayar Rp 15 ribu, saya bisa menyantap hidangan bakso yang berbeda: bakso yang “ramai” dan kental.

Warung Bu Mur; Jalan Raya Srono 100, Kecamatan Srono, Banyuwangi

Sego Cawuk

Sego dalam bahasa Banyuwangi adalah nasi. Sedangkan cawuk tak lain makan dengan tangan. Cara ini lazim dipakai orang Banyuwangi sebelum ada sendok. Sego cawuk merupakan varian makanan bersantan. Namun santannya menyertakan parutan kelapa, mentimun yang dipotong dadu kecil, dan serutan jagung muda. Rasanya gurih dan sedikit asin.

Bila menyukai pedas, nasi bersantan tersebut bisa disiram bumbu rujak yang berisi dendeng. Agar lebih nikmat, saya menambahkan lauk berupa telur, pepes cumi, dan pepes teri plus kerupuk rambak alias kulit sapi. Hidangan yang cocok untuk sarapan ini seharga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung pada lauk yang ditambahkan.

Warung Bu Mantih; Jalan Stasiun No 43, Desa Prejengan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi

Tertarik mencobanya? Jika kondisi telah memungkinkan, agendakan perjalannanmu ke Banyuwangi, dan cicipi keunikan dua masakan Jawa Timur yang dipadukan ini.

agendaIndonesia

*****

Levitasi Aksi Melayang 50 sampai 100 Centimeter

levitasi aksi melayang antara 50 hinga 100 centimeter

Levitasi, aksi melayang dalam proses pembekuan optikal menjadi menarik. Orang-orang seperti berada di udara, antara 50 hingga 100 centimeter. Terbang atau melayang. Gaya ini terinspirasi dari si “gadis melayang” Natsumi Hayashi, komunitas levitasi tumbuh marak di Indonesia. Lahirlah kreasi-kreasi-kreasi yang unik.

Levitasi Aksi Melayang

… Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban di hatiku
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang…

Penggalan lagu Melayang yang dilantunkan penyanyi rap Iwa K. sepertinya cocok menggambarkan hasil kegiatan komunitas fotografi LevitasiHore. Betapa tidak, hasil karya fotografi mereka kebanyakan menampilkan obyek foto yang melayang di udara. Unik sekaligus kreatif.

“Foto levitasi berbeda dengan foto yang sekadar loncat (jump shot). Dalam foto levitasi, harus terlihat bahwa seseorang atau sesuatu sedang benar-benar melayang tanpa beban dengan tanpa bantuan apa pun. Ini didukung dengan kemampuan model untuk berpose melayang sepersekian detik saat dia melompat dan kemampuan fotografer untuk mengabadikan momen tersebut,” tutur Haryanto, admin LevitasiHore Bandung, Jawa Barat.

Menurut pria yang akrab disapa Boye itu, fotografi levitasi memiliki keunikan tersendiri daripada teknik fotografi lain. Dalam levitasi ini, keselarasan serta kekompakan antara fotografer dan model merupakan syarat mutlak agar gambar yang dihasilkan terlihat lebih alami.

Boye menegaskan bahwa fotografi levitasi jauh berbeda dengan pengambilan gambar jump shoot biasa. “Kalau fotografi biasa, semuanya tergantung pada fotografer. Tapi, kalau ini, antara fotografer dan model harus kompak. Yang jelas, gambar melayangnya harus natural, seolah tidak sedang meloncat. Hanya melayang di udara,” ujarnya. Karena itu,  mereka mengusung slogan “We levitate, not jump”.

Selain itu, untuk menghasilkan foto “melayang” yang indah dibutuhkan pencahayaan natural yang sangat baik serta waktuyang tepat dari sang fotografer saat mengambil gambar. Kendati begitu, teknik fotografi ini tidak membutuhkan kamera canggih seperti digital single lens reflect (DSLR). “Kamera saku atau kamera smartphone juga bisa digunakan,” kata mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung itu.

Andaikata membutuhkan peralatan khusus, kata Boye, paling hanya flash. “Itu pun kalau pencahayaan di sekitar dirasakan kurang. Atau memakai remote shutter jika untuk dipakai selfie, kan lagi musim tuh sekarang,” ia menambahkan sembari terkekeh.

Levitasi aksi melayang antara 50 sampai 100 centimeter sehingga seperti layaknya orang sedang terbang dalam bekuan optikal.
Levitasi aksi melayang merupakan kreasi dari para pecinta fotografi. Foto: Dok. Eldo Setiawan/LevitasiHore, Surabaya

Teknik levitasi yang anti-gravitasi itu memang kian digemari. Walhasil, komunitasnya tumbuh subur di beberapa daerah beberapa tahun belakangan ini. Awalnya bermula dari Jakarta yang dibentuk pada 25 Desember 2011. Kemudian menjalar cepat ke berbagai daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, Sukabumi, Kediri, Karawang, Surabaya, Solo, Semarang, dan luar pulau, seperti Padang, Palembang, Medan, Makasar, Jambi, dan lainnya.

Meski dalam penggarapannya tergolong serius, tapi komunitas penggemar fotografi levitasi lebih mengutamakan cara saling berbagi cara membuat foto levitasi dengan senang. “Senang itu bisa disamakan dengan ‘hore’. Bisa dibilang itulah alasan digunakan kata ‘hore’ di belakang komunitas ini,” kata dia.

Menurut Boye, komunitas ini berdiri karena terinspirasi dari Natsumi Hayashi. Hayashi menjadi sensasi Internet selepas ia mengunggah foto dirinya melayang hampir di semua tempat di Tokyo. Hasil karya Hayashi yang dimuat di yowayowacamera.com menuai pujian. Meski untuk mendapatkan hasil foto levitasi tersebut, Hayashi yang belakangan dijuluki si “Gadis Melayang” itu harus melompat berulang kali.

Bahkan ia sempat dikira gila karena melompat-lompat sendirian di depan sebuah toko. Sang pemilik toko juga hampir sempat memanggil polisi sebelum kemudian Natsumi menjelaskan maksudnya melakukan aksi loncat-loncat tersebut.

LevitasiHore Bandung sendiri terbentuk pada 3 April 2012. Anggotanya beragam, dari siswa SMA hingga pegawai bank. Kegiatan pemotretan dilakukan hampir di setiap tempat di kota Bandung, pinggir jalan kota Bandung, pusat sajian kuliner, gunung sampai, dan tebing Keraton yang sedang booming pun pernah dilakukan. Bukan hanya itu, LevitasiHore Bandung juga sempat mengadakan kolaborasi bersama komunitas lain, seperti Bulb, Kofipon, Urban Jedi, dan komunitas Cosplay.

LevitasiHore Surabaya, Jawa Timur, pun tak kalah seru. Komunitas yang didirikan pada 1 April 2012 ini bahkan sudah memiliki lebih dari 1.700 anggota yang terdaftar di media sosial mereka. “Biasanya kami rutin mengadakan kopi darat (pertemuan) tiap Jumat pukul 7 malam di warung kopi di Jalan Indrakila No 1, Surabaya,” ujar Eldo Setiawan, Ketua LevitasiHore Surabaya.

Kepada calon anggota yang berada di Surabaya, Eldo mempersilakan untuk bergabung tanpa dikenakan iuran. “Lewat komunitas ini, kita dapat berbagai teknik fotografi levitasi dan menemukan inspirasi lain,” ujarnya.

Nah, tertarik dengan fotografi levitasi? Untuk mengetahui kegiatan rutin dan mengenal levitasi, silakan saja follow Twitter @LevitasiHoreBDG atau @ LevitasiHoreSby. Dan bukan tak mungkin, suatu saat pembaca dapat memotret dengan gaya levitasi saat melancong. Melayang dan melayang…

agendaIndonesia/Andry T. for TL

******

Rabeg Haji Naswi, Eksperiman Abad 1500-an

Rabeg Haji Naswi menjadi salah satu kuliner Banten sejak abad 15.

Rabeg Haji Naswi layak jadi salah satu rekomendasi utama kala sedang berpetualang mencicipi kuliner khas kota Serang, Banten. Masakan ini sudah hadir di tengah-tengah warga kota itu sejak era Kesultanan Banten.

Rabeg Haji Naswi

Sesungguhnya dari khasanah kulinernya, Serang masih memiliki beberapa makanan khas yang belum banyak terekspos dan dikenal publik. Beberapa yang sudah dikenal di antara seperti sate bandeng, pecak bandeng, dan nasi sumsum.

Begitu pula dengan rabeg, yang punya sejarah panjang dalam kehadirannya di tengah kehidupan warga ibu kota provinsi Banten tersebut. Disinyalir, makanan ini merupakan hasil sebuah eksperimen pada masa Kesultanan Banten di pertengahan tahun 1500-an.

Rabeg Haji Naswi dihasilkan dari eksperimen mencari masakan yang mirip dari tanah Arab ketika Sultan Maulana pergi ke sana.
Kota Serang di malam hari. Foto: dok. Kesbangpol Kota Serang

Dikisahkan bahwa Sultan Maulana Hasanudin, yang berkuasa pada saat itu, hendak melaksanakan ibadah haji dan kemudian berlayar menuju Tanah Suci. Sesampainya di sana, ia berlabuh di sebuah kota di tepi Laut Merah bernama Rabigh.

Di kota tersebut, ia sempat mencoba sebuah kuliner asli setempat, yang berupa olahan daging kambing dengan kuah yang sedap nan gurih. Makanan sejenis ini lazim disebut thareed, yakni racikan sayur dan daging berkuah di Arab yang konon adalah salah satu kuliner kesukaan Rasulullah SAW.

Ternyata, Sultan Maulana begitu menyukai makanan tersebut, hingga terus terbayang olehnya setelah selesai beribadah dan berlayar kembali ke Tanah Air. Sekembalinya, ia menitahkan juru masak istana untuk mencoba membuatkan masakan yang serupa.

Namun, tak mudah untuk mendapatkan hasil masakan yang serupa, karena perbedaan bumbu dan rempah nusantara dengan Arab. Hingga pada satu percobaan, ia mencicipi masakan tersebut dan merasa bahwa inilah yang paling mendekati dengan makanan yang ia coba.

Masakan tersebut pun menjadi salah satu hidangan favorit sang Sultan. Bahkan ada yang meyakini bahwa ia lebih suka hasil eksperimen tersebut ketimbang aslinya. Sebagai penghormatan, ia menyebutnya sebagai ‘rabeg’, alias masakan ala-ala kuliner kota Rabigh.

Rabeg Haji Naswi adalah olahan masakan menggunakan daging kambing, belakangan dipakai juga daging sapi.
Rabeg daging kambing. Foto: Milik Kecap Bango

Dari hidangan kaum bangsawan dan priyayi di istana, lambat laun resep tersebut juga turun kepada masyarakat luas. Dan nyatanya, mereka pun ikut menyukai kuliner tersebut, sehingga sejak saat itu pula rabeg menjadi kuliner yang identik dengan warga Banten, khususnya Serang.

Pada perkembangannya, rabeg menjadi salah satu hidangan yang dibuat pada acara hajatan dalam adat Banten, seperti acara pernikahan, akikah atau khitanan. Selain itu, ada pula adat menyantap rabeg di bulan suci Ramadhan dengan ketan bintul, atau ketan dengan serundeng.

Menurut sejarahnya, adat ini bermula dari kebiasaan Sultan Maulana Hasanudin yang gemar menyantap rabeg dengan ketan bintul sebagai santapan saat berbuka puasa. Selain itu, tamu-tamu istana juga kerap dijamu dengan sajian tersebut.

Secara filosofis, ketan bintul sendiri dengan wujudnya yang lengket dianggap punya nilai luhur keraketan, atau yang kurang lebih berarti melekatkan. Sehingga diharapkan dengan menyantap makanan tersebut bersama-sama dapat mendekatkan dan menyatukan sesama manusia.

Rabeg sendiri secara umum merupakan olahan daging dan jeroan kambing, atau kemudian juga menggunakan daging sapi, yang dimasak dengan kuah berbumbu rempah seperti jahe, bawang merah, laos, ketumbar, lada, kayu manis dan sebagainya. Cita rasanya merupakan perpaduan dari manis, pedas dan gurih.

Berbeda dengan gulai, rabeg tidak menggunakan santan dalam pembuatannya. Secara sepintas, ia mungkin terlihat cenderung mirip seperti tongseng, tengkleng atau semur. Namun, secara aroma dan rasanya, ia diklaim lebih kuat dan berkarakter.

Karena keeratannya dengan budaya warga Banten, maka tidaklah mengherankan jika pedagang rabeg cukup menjamur di kawasan ini. Banyak dari mereka yang sudah berjualan kuliner ini sejak bertahun-tahun lamanya.

Salah satunya adalah rabeg Haji Naswi, yang jika ditelusuri sudah eksis sejak tahun 1952. Haji Sani, generasi pertama dari usaha ini, mulanya berjualan rabeg di banyak perhelatan hiburan rakyat, seperti pasar malam, pertunjukan tari Jaipong, layar tancap atau wayang golek.

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.
Sate bandeng khas Banten. Foto: shutterstock

Usaha ini terus berlanjut hingga era 1970 dan 1980-an, kala usaha dikelola oleh generasi kedua dan ketiga, Hj. Jenah dan H. Naswi. Dari sini, mereka mulai menetap di warung semi permanen yang dinamakan rabeg Haji Naswi sebagai penanda dan pembeda dari penjaja rabeg lainnya.

Hingga kini, warung di kawasan jalan Mayor Safei itu masih eksis dan jadi salah satu pilihan bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin menyantap kuliner khas ini. Lokasinya yang berseberangan dengan Rutan Serang juga membuatnya cukup mudah ditemukan.

Usaha kini dilanjutkan oleh anak-anak H. Naswi, dengan tetap mempertahankan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh rabeg buatan mereka. Seperti misalnya cita rasa yang otentik dengan rasa dan aroma jahe yang kuat, serta daging kambing yang empuk dan tidak bau.

Menurut resep turun temurun keluaga ini, cita rasa jahe adalah salah satu kunci membuat rabeg yang otentik. Diyakini, bahwa rasa jahe yang pedas dan hangat di tubuh ini menjadi pembeda rabeg dengan makanan sejenis, seperti tongseng atau semur.

Meskipun diakui pula bahwa kuah rabeg buatan mereka kini dibuat lebih cair ketimbang dulu untuk menyesuaikan selera pelanggan, tetapi mereka mengantisipasinya dengan selalu memberi ekstra jahe demi cita rasa yang kuat.

Selain itu, daging kambing haruslah empuk dan tidak berbau. Untuk mencapai hal ini, ada beberapa tahapan yang mereka lewati, seperti pemilihan jenis kambing yang spesifik, serta usia kambing yang tak boleh terlalu muda maupun tua.

Saat daging dicuci pun, harus benar-benar sampai bersih dari kotoran dan darah. Bahkan, setelah daging masuk proses perebusan, akan tetap dicek apakah masih berbau. Jika masih ada sisa bau amis, air rebusan akan diganti dan daging direbus ulang hingga hilang baunya.

Kombinasi kuah bercita rasa kuat nan unik, daging yang empuk tanpa bau, dengan sepiring nasi hangat serta tambahan seperti emping dan sebagainya itulah yang membuat rabeg Haji Naswi begitu disukai penggemarnya dan diburu oleh pemburu kuliner.

Satu porsi rabeg Haji Naswi dihargai Rp 31,5 ribu, dengan pilihan daging saja atau dengan tulangnya. Tersedia pula menu-menu pelengkap untuk menemani pengunjung menyantap rabeg, seperti sate kambing, sapi atau ayam yang harganya berkisar dari Rp 40-50 ribu.

Rabeg Haji Naswi buka dari jam 10.00 hingga jam 24.00. Meski warungnya berukuran cukup kecil dan berada di pinggir jalan, namun tersedia area untuk parkir. Mulai dari sore jam 16.00, tempat ini juga dipakai untuk berjualan nasi uduk, nasi timbel, ayam goreng dan bebek goreng.

Rabeg Haji Naswi

Jl. Mayor Safei no. 30, Serang

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

5 Surga Sajian Kuliner Indonesia

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Jawa Barat

5 surga sajian kuliner Indonesia yang menarik dikunjungi karena kekayaan kulinarinya. Tujuan wisata bisa ditentukan oleh minat setiap wisatawan. Ada pelancong yang memang berminat besar pada sajian kuliner, sehingga destinasi liburannya pun harus penuh dengan sajian yang mengundang selera. Di negeri ini, pilihannya cukup berlimpah. Namun ada beberapa provinsi yang bikin turis benar-benar mabuk kekenyangan. Pilihan awalnya, 5 dulu seperti berikut ini.

5 Surga Sajian Kuliner Indonesia

Jawa Barat

Lebih tepat ya di ibu kotanya, Bandung. Merupakan destinasi sajian kuliner yang paling banyak diburu setelah Jabotabek oleh warga Jakarta. Kota Kembang memiliki suguhan lawas yang tidak pernah dilupakan, tapi kreativitas warga begitu tinggi, sehingga olahan baru lahir seperti tak kenal waktu. Nasi tutug oncom, jajanan seperti yamin, dan batagor  tetap diburu. Namun tempat baru seperti sajian rumahan ataupun kedai kopi yang sering hanya dijadikan tempat nongkrong juga disukai. Dari kaki lima hingga gedung mewah menjadi pilihan.

Sungguh sulit menyebut salah satu yang utama, karena resto dengan suguhan lokal, internasional, atau tempat kongko di pusat kota atau di wilayah utara tidak pernah sepi oleh pengunjung. Jadi, rajin-rajinlah ke Bandung agar tidak pernah ketinggalan. Serabi, kopi, bandrek, yoghurt, lalaban, sambal, pepes ikan, goreng jambal, hingga steak selalu asyik menemani hari-hari di kota ini. Sebulan sekali ke Bandung bisa dicapai dalam tiga jam dari Jakarta tentu terasa dekat. Apalagi tujuannya untuk memuaskan hasrat Anda di meja makan.

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Provinsi Sumatera Selatan. Di Provinsi ini ada aneka sajian kuliner, di antaranya pempek panggang.
5 Surga Sajian kuliner Indonesia, salah satunya Sumatera Selatan dengan pempek panggangnya. Foto: Dok TL

Sumatera Selatan

Boleh dibilang tidak ada yang tidak suka pempek—olahan dari tepung sagu dengan ikan yang merupakan hasil kreasi keturunan Tionghoa di Kampung Kapitan, tepi Sungai Musi, Palembang. Diguyur dengan kuah kecokelatan yang berasa asam pedas, pempek apa pun modelnya selalu dirindu. Baik kapal selam, lenjer, adaan, maupun pempek panggang, yang aromanya saja sudah membuat mabuk kepayang. Untuk sarapan, Anda bisa memilih burgo, laksa atau celimpungan. Dasar bahannya sama, yaitu tepung sagu dan  ikan belinda atau gabus—penghuni khas Sungai Musi. Rasa daging ikan ini lembut dan tidak berbau amis. Berbeda nama, karena kuahnya berlainan pula. Misalnya, burgo berkuah kuning, sedangkan laksa kemerahan, tapi keduanya sama-sama bersantan. Variasi lain adalah mi celor.

Untuk teman nasi, ada juga pindang ikan dengan kuah menyegarkan teman nasi. Di Sumatera Selatan ada beberapa daerah yang terkenal dengan pindangnya, seperti Meranjat. Selain itu, jangan lewatkan mencicipi aneka kue yang terasa gurih. Mulai martabak Har, bolu kojo, kue suri, hingga kue delapan jam dan maksuba. Diberi nama kue delapan jam karena memang adonan harus dikukus dalam waktu tersebut. Yang luar biasa juga satu adonan memerlukan sekitar 22 telur bebek. Sedangkan maksuba merupakan kue tradisi atau kue kehormatan bagi masyarakat Palembang. Kue tersebut dihidangkan pada acara khusus seperti pernikahan. Satu loyang biasanya memerlukan hingga 28 telur bebek. Semua kue ini bisa didapat di ibu kota provinsi.

Sumatera Barat

Bergeser ke arah barat tidak perlu dipertanyakan lagi soal wisata sajian kuliner di Ranah Minang ini. Rendang hidangan khasnya menjadi juara di dunia. Soal rendang sebenarnya juga beragam. Anda bisa mendapatkan tiap daerah berbeda rendang. Selain daging, ada rendang telur dan paru yang khas dari Payakumbuh. Ada pula rendang lokan dan gurita dari Pesisir Selatan. Di daerah pantai cenderung lebih banyak rempah. Jadi, rasanya lebih ramai dan pedas dibanding buatan pegunungan. Di pesisir yang terkenal umumnya gulai kepala ikan. Sedangkan di daerah pegunungan umumnya gulai ayam yang dikenal.

Bukittinggi yang merupakan salah satu kota untuk mencicipi kenikmatan hidangan khas Minang ini dikenal dengan nasi kapau atau nasi rames khas Nagari Kapau. Pilihan lain adalah bebek sambal lado ijo, pical—olahan sejenis gado-gado. Bila sempat ke Batusangkar, jangan lupa menyeruput teh daun kawa atau teh yang terbuat dari seduhan daun kopi dan ditemani gorengan hangat-hangat. Ehm… di Padang bisa dinikmati ketupat sayurnya, es duriannya, dan lain-lain.

5 surga sajian kuliner Indonesia, salah satunya adalah Nangroe Aceh Darusalam. Ada banyak pilihan di sini, salah satu yang terkanal adalah ayam tangkap.
5 surga sajian kuliner Indonesia, di antaranya adalah Nanggroe Aceh Darusalam yang terkenal dengan ayam tangkap dan kopinya. Foto: ilustrasi shutterstock

Nangroe Aceh Darussalam

Berada di paling ujung negeri ini tak hanya memiliki keindahan laut yang memukau, Aceh juga selalu menggoda selera para turis. Tengok saja rumah makan mi Aceh yang semakin merebak di Jakarta. Selain mi, tentu banyak hidangan lain. Ada sederet teman nasi yang menggoda, seperti ayam tangkap, ayam yang garing dengan bumbu daun temurui, dan cabai hijau dalam balutan daun pandan. Ada pula kuah “kambing” neulangong, yang diberi embel-embel beulangong karena memasaknya di belanggong (belanga) besar. Ada pula sate Matang yang aslinya berasal dari Matang Glumang Dua, Kabupaten Bireuen. Di daerah ini, sate dijual di warung kopi yang buka 24 jam.

Ke Aceh juga harus mencicipi kuah Pliek U—paduan aneka sayuran. Dikenal juga dengan nama patarana. Olahan ini dibuat dari kopra yang dibusukkan terlebih dulu. Lalu diperas hingga minyaknya kering. Untuk minumannya, apalagi kalau bukan kopi dan kopi susu yang warungnya yang dengan mudah ditemukan di sejumlah kota, termasuk Banda Aceh. Mari minum kopi sambil berbincang-bincang politik.

Sulawesi Utara

Yang penuh pesona soal sajian kuliner adalah Sulawesi Utara. Bahkan keberagamannya luar biasa. Mulai sayuran seperti tumis bunga pepaya, bubur Manado, milu siram, mi cakalang, aneka olahan seperti ayam atau woku blanga, ikan rica-rica, ikan bakar khas Manado, serta aneka sambalnya yang menyegarkan. Namun bagi penyuka hidangan ekstrem bisa juga menjajal hidangan dari ular, kelelar, anjing, dan lain-lain. Bisa ditemukan di Manado ataupun Tomohon yang bisa ditempuh hanya dalam 40 menit dari ibu kota Sulawesi ini.

Untuk yang senang camilan, di Pasar Pagi kota ini bisa ditemukan hidangan yang berlimpah. Dari panada, bobengka, wajik, balapis, klaapertaart, lalampa—sejenis lemper dengan isi ikan—serta pisang goreng dengan sambal roanya yang asyik disantap saat pagi atau malam hari. Kedai kopi pun tumbuh di Manado sembari kongko ditemani secangkir kopi lokal plus kue-kue khas benar-benar menjadi pengalaman yang menggoda bagi pencinta sajian kuliner.

Senja di Atas Atap Seluas 1700 M2

Senja di atas atap sembari menikmati menu istimewa menjadikan Bali begitu istimewa. Sebuah tren menikmati mentari tenggelam di ketinggian, sembari mencicip menu yang sedap.

Senja di Atas Atap

Konsep memadukan restoran, kafé dan bar dengan kelezatan makanan, pemandangan alam yang indah dan konsep interior moderen tampaknya telah menyebar di sebuah kota besar. Dan salah satu bentuknya berupa rooftop bars atau bar atas atap. Sebuah tempat untuk menikmati senja di atas atap.

Bali yang banyak menjadi tujuan liburan turis dunia pun menyodorkan sejumlah pilihan bar seperti itu. Di daerah Seminyak, tepat di sebelah Cocoon Beach Club terdapat Double Six Hotel. Di lantai teratas Anda dapat menemukan Double Six Rooftop, salah satu rooftop bars terbesar di dunia dengan ukuran 1.700 m­­­eter persegi. Sangat besar untuk menikmati senja di atas atap.

Senja di atas atap seluas 1700 meter persegi di Double Six Hotel, Seminyak Bali.
Rooftop Double Six Hotel, Seminyak Bali. (Foto: Dok. Double Six Hotel)

Dirancang dengan lantai kayu dan tempat duduk berlapis kayu, bar ini juga dihiasi dengan tanaman hidup, menghadirkan sebuah kebun subur nan mewah di dalam ruangan. Di bagian teras, dipasang meja-meja dan kursi-kursi kayu bundar untuk sesi bersantap pribadi. Di sekelilingnya, kolam dangkal sehingga terkesan seperti mengapung. Datang sore hari, Anda akan melihat keindahan Pantai Seminyak yang tak terbatas, lengkap dengan cantiknya matahari yang mengantuk. Malam hari, Anda akan menyaksikan kerlap-kerlip Seminyak malam yang seakan tak pernah mati.

Double Six Rooftop tak hanya menawarkan pemandangan. Makanan dan minumannya juga memiliki rasa yang jempolan. Dalam kunjungan Maret lalu, kami mencicipi grilled wagyu sliders (Rp 90 ribu) dan chocolate pot (Rp 60 ribu) yang berisi berbagai macam bentuk cokelat, serta teh beralkohol Rossallita (Rp 120 ribu). Sekilas, harga yang ditawarkan Double Six Rooftop cukup tinggi, maklum memang tempat ini merupakan bagian dari hotel. Namun dengan pemandangan, interior dan kelezatan yang ditawarkan, harga yang tergolong mahal pun bisa dilupakan.

Sebagai opsi yang lebih ramah anggaran, bisa  ke Jim’Bar’N, sebuah bar di puncak Hotel Harris Bukit Jimbaran. Buka dari pukul 3 sore, datanglah untuk menikmati jatuhnya matahari di barat. Pada hari yang cerah, Anda akan disuguhi pemandangan langit merah jambu keunguan disertai kota yang mulai menunjukkan gemerlapnya. Dan ketika malam datang, mendadak sepanjang pesisir di sebelah kanan disulap menjadi permainan cahaya layaknya kunang-kunang yang menyalakan tubuhnya.

Jim’Bar’N menawarkan menu dengan harga yang lebih terjangkau. Sebagai perbandingan, harga satu cocktail di Double Six Rooftop dapat membeli dua cocktail di Jim’Bar’N, walaupun dalam porsi yang sedikit lebih kecil. Tapi pada akhirnya, harga tak akan lagi menjadi soal ketika Anda disuguhi pemandangan laut lepas nan romantis di kala senja, seperti yang ditawarkan oleh Rock Bar di Ayana Resort and Spa. Pengunjung telah mengantre sejak sore dan kami mengantre selama kurang lebih satu jam untuk mendapatkan ruang di travelator yang akan membawa kami turun belasan meter ke lokasi bar di atas karang-karang. Padahal, Maret masih tergolong off season atau musim sepi pengunjung.

Walaupun panas menyengit, rasanya menunggu antrean tidak juga menyebalkan. Menyadari popularitas Rock Bar di kala senja, tim Ayana Resort and Spa telah menyediakan payung dan handuk basah dingin untuk setiap pengunjung yang mengantre. Akhirnya kami mendapatkan ruang di travelator yang hanya  muat untuk enam orang itu. Pemandangan ketika travelator berjalan turun sungguh menakjubkan! Bergerak menuruni batu karang yang merupakan bagian dari lahan hotel, hamparan laut lepas bermandikan cahaya keemasan dan debur ombak yang menghantam keras bebatuan di muka laut memberikan sensasi alam liar yang menawan.

Menikmati senja di atas atap bisa juga dilakukan di Rock Bar, Ayana Resort and Spa, Bali. Posisinya tidak di atas atas, tapi harus turun di tebing.
Rock Bar Ayana Resort and Spa, Bali, pilihan lain menikmati senja di Bali. Foto: Dok. Ayana resort and Spa Bali

Tiba di lokasi, kami digiring ke meja di bagian kiri atas dekat pintu masuk. Terdapat sofa-sofa nyaman menghadap lautan lepas di depan kami, tentunya dengan harga eksklusif. Rock Bar telah padat sore itu. Payung-payung hitam elegan bertanda RB disediakan untuk setiap meja sebagai tameng cahaya yang masih kuat. Sambil menunggu pertunjukan utama, yaitu terbenamnya sang mentari, kami memesan Rock lobster spring rolls (Rp 95 ribu) ditemani oleh whiskey rockin’ sour (Rp 165 ribu) yang merupakan salah satu minuman khas tempat ini dan virgin lavender (Rp 95 ribu), mocktail khas yang dibuat dari jus apel, sirsak, blueberry dan lemon. Tidak ada entry fee ke Rock Bar; hanya cukup membayar menu yang dipesan.

Kemudian matahari mulai lelah. Dari ujung barat, cahaya kemerahan menjalar ke timur. Pengunjung pun hening, layaknya laut yang mulai tenang di antara bebatuan. Kemudian, seperti mendapat aba-aba, semua mulai berdecak kagum dan ratusan jepretan kamera terdengar setiap detik. Setiap orang bangun dari kursinya masing-masing dan mengabadikan saat langka itu.

agendaIndonesia/Fiz R./Frann/TL

Ayam Goreng Suharti, 2 Logo 1 Rasa

Ayam Goreng Suharti dan Yogya seperti dua keping mata uang, saling melengkapi. Dulu kala, orang memastikan akan mampir ke Ayam Goreng Suharti saat mampir atau main ke kota pelajar ini. Sekarang mungkin tak terlalu, bukan karena rasanya yang berubah, namun mereka kini sudah memiliki sejumlah cabang di banyak kota.

Ayam Goreng Suharti

Untuk pecinta ayam goreng, hampir pasti memasukkan ayam kremes olahan rumah makan Suharti atau Ny. Suharti dari Yogyakarta dalam daftar pilihan favoritnya. Ayam kampung dengan bumbu rempah yang khas dengan remahan tepung nan gurih dan renyah serta disajikan dengan sambal yang khas menjadi signature rumah makan yang telah berdiri hampir 50 tahun silam.

Yang unik dari rumah makan ini adalah adanya dua logo usaha rumah makan dengan produk yang relatif sama: ayam goreng kremes. Adakah yang membedakannya?

Logo pertama dipakai rumah makan bergambar dua ekor ayam, betina dan jantan, yang mengapit huruf S di dalam lingkaran dan bertuliskan ‘Ayam Goreng Ny. Suharti’. Satu lagi rumah makan menggunakan foto seorang wanita yang mengenakan pakaian adat Jawa yang berada dalam lingkaran dan bertuliskan ‘Ayam Goreng Suharti’. Suharti, baik di logo pertama dan ke dua, adalah nama perempuan yang gambarnya ada di salah satu logo. Dari segi manajemen, ke dua logo ini mencerminkan dua usaha yang berbeda.

Alkisah, perbedaan logo untuk produk yang mirip ini terjadi pada 1991, saat dua pemilik usaha awal memutuskan berpisah dari kehidupan rumah tangga. Bercerai. Awalnya, adalah pasangan suami istri Syahlan dan Suharti yang pada 1972 memutuskan membuat usaha rumah makan ayam goreng.

Pilihan nama rumah makan yang dipilih adalah Ayam Goreng Ny. Suharti. Peran ibu dianggap dekat dengan soal makanan. Pun, selain soal itu, resep ayam goreng yang dibawa adalah resep dari mbok Berek, leluhur Suharti. Maka jadilah rumah makan Ayam Goreng Ny. Suharti yang pertama di Jalan Laksda Adi Sucipto No. 208, Yogyakarta.

Pada 1984, keduanya sepakat mengembangkan rumah makan ini di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan. Sayangnya usaha yang berhasil ini tak dibarengi dengan keharmonisan rumah tangga. Ke duanya bercerai pada 1991. Ini berpengaruh pada usaha mereka.

Rumah makan ‘Ayam Goreng Ny. Suharti’ kemudian menjadi milik Syahlan, sang suami. Karena secara legal terdaftar sebagai pemilik resmi rumah makan tersebut. Setelah pecah kongsi itu, Suharti memberanikan diri membangun rumah makan ayam goreng yang juga menggunakan nama ‘Suharti’. Bedanya, tak ada ‘Ny.’ di nama rumah makannya. Mungkin trauma karena ada usaha memakai namanya tapu bukan miliknya, Suharti lantas memasang wajahnya sebagai logo di rumah makan barunya. Ini semacam penegasan, ini adalah usaha miliknya.

Terlepas dari pisah kongsi suami istri tersebut, usaha ayam goreng ini sejatinya dimulai jauh sebelum ke duanya membangun usaha. Adalah anak Mbok Berek, Mangundimedjo, yang merupakan saudara jauh Suharti yang memulai usaha ayam goreng di daerah Candisari, Kalasan, Yogyakarta. Ia adalah cikal bakal bisnis ayam goreng ber-kremes di Indonesia.

Suharti sempat menggunakan nama Mbok Berek untuk memulai usaha ayam gorengnya. Tak main-main, yang boleh menggunakan nama ini tentu saja hanyah kerabat yang masih ada hubungan dekat dengan Mbok Berek. Anak pertama mbok Berek adalah Samidjo Mangundimedjo yang merupakan kakak ipar Suharti. Kini, Ayam Goreng Mbok Berek sendiri dikelola oleh anak Mangundimedjo yang bernama Ny. Umi.

Lalu apa sesungguhnya keistimewaan ayam goreng mbok Berek yang resepnya juga dikembangkan Suharti? Pertama adalah penggunaan ayam kampung. Pertimbangannya, proses pembumbuannya adalah dengan diungkep atau direbus bersama rempah-rempah bumbu. Daging ayam kampung yang lebih liat dibanding ayam negeri membuat ayamnya tidak hancur ketika diungkep cukup lama.

Keistimewaan yang ke dua adalah kremes yang menyertai penyajian ayamnya di meja makan. Kremes ini membuat sajian ayam menjadi lebih gurih dan renyah. Kini bahkan kremesan ini dijual tersendiri, sebab banyak yang memakannya sebagai teman nasi putih.

Keunikan ke tiga dari ayam Suharti adalah sambalnya. Ia seakan memiliki semangat orang Yogya yang suka makanan manis. Sambal rumah makan ini juga cenderung agak manis. Mungkin ini tak terlalu disukai mereka penyuka rasa pedas, namun pedas yang ada rasa manis ini memperkuat rasa ayam gorengnya.

Ayam goreng Suharti dulu dikenal juga sebagai ayam mbok Berek, pelopor ayam kremes khas Yogyakarta.
Ayam goreng Suharti adalah kuliner khas Yogyakarta yang dikenal banyak orang. Foto: ilustrasi/shutterstock

Ayam goreng “Suharti” yang manapun sejatinya menggunakan resep yang sama, sehingga memilih rumah makan dengan logo yang manapun sama saja. Ada beda-beda sedikit tentu wajar, sebab para pemasaknya berbeda-beda.

Tak terlalu “baper” dalam memilih, sebab cabang-cabang ayam goreng Suharti kini dimiliki putra-putri Syahlan dan Suharti. Ada anak yang menggunakan logo “Ayam Goreng Ny. Suharti” ada yang memakai logo “Ayam Goreng Suharti”. Bahkan jika berkunjung ke Bogor, penggemar ayam goreng Suharti bisa menikmati juga ayamnya di Ayam Goreng Ardhita di Jalan Raya Pajajaran. Ini juga milik pak Syahlan. Dengan menu yang sama dengan saudara-saudara tuanya, mulai dari ayam goreng hingga ke gudeg Yogya.

Ayo agendakan waktumu menikmati kuliner asli Indonesia.

agendaIndonesia

****

Sate Maranggi Hj. Yetty 1,5 Ton Daging

Sate maranggi Hj. Yetty berdiri sejak 1990 hingga saat ini masih terus diminatu masyarakat.

Sate maranggi Hj. Yetty seperti menjadi legenda bagi Purwakarta di Jawa Barat. ia menjadi sate khas Purwakarta. Meski ia bukan pemilik utama resep kulinari ini, sate buatannya menjadi salah satu kekuatan pariwisata di kota ini.

Sate Maranggi Hj. Yetty

Warung sate maranggi Hj. Yetty mulai dibuka pada 1990. Menurut pemiliknya, awalnya ia hanya mencoba-coba, pada saat itu sebenarnya yang membuka usaha pertama di tempat itu, di hutan Bungur, adalah ayah Hj. Yetty, yakni Haji Rasta. Itu pun, “Bapak saya hanya merintis jualan es kelapa muda,” kata Yetty.

Ketika mencoba mengembangkan usahanya, Yetty bercerita, sate produknya masih sederhana. Hanya sate dengan bumbu kecap. Ternyata sate olahannya mendapat respon yang baik dari masyarakat. Dari sana bisnis satenya terus berkembang. Terlebih saat itu orang Jakarta yang mau ke Bandung, atau sebaliknya, jika tidak memilih jalur Puncak di Bogor, mereka memilih melalui jalur Purwakarta-Subang-Padalarang. Jalur yang ada di depan kedai satenya.

Sebenarnya, usaha sate marangi di wilayah Purwakarta pertama kali diperkenalkan di kawasan Plered. Yetty mengaku saat merintis usahanya itu, dirinya belum terkenal dan belum memiliki nama seperti saat ini. Menurutnya, banyak saran dari pelanggannya supaya memberi nama sate maranggi seperti di Plered.

Sate maranggi sendiri memang dikenal sebagai kuliner khas dari Purwakarta. Dari cerita asal-usulnya, ada berbagai kisah berbeda yang sama-sama dianggap sebagai asal-usul sate ini. Kisah pertama menyebutkan bahwa sate maranggi merupakan hasil asimilasi budaya Indonesia dan Tiongkok. Dugaan ini muncul karena melihat bumbu rempah sate maranggi yang sama dengan bumbu yang digunakan pada dendeng babi dan dendeng ayam, yang dijual di Cina.

Kisah ke dua menyatakan bahwa sate ini asli dari Indonesia, khususnya Jawa Barat. Dati sejumlah sumber, Dedi Mulyadi, budayawan Sunda yang juga bekas Bupati Purwakarta, menyebut bahwa nama ‘Maranggi’ didapat dari penjual sate pada zaman dahulu yang bernama Mak Ranggi. Kisah ini juga disebutkan oleh Heri Apandi, seorang pemilik rumah makan sate maranggi di Purwakarta. Menurut Heri, karena pada zaman dahulu tidak ada lemari es, maka Mak Ranggi berusaha mengawetkan daging domba dengan cara didendeng menggunakan bumbu rempah. Setelah itu, daging kambingnya dimasak dengan dibakar. Hasilnya adalah Sate Maranggi yang unik. Karena rasanya yang enak, popularitas sate ini pun menyebar. Nama Maranggi tentu saja berasal dari nama Mak Ranggi.

Ada juga kisah ke tiga yang menyebutkan sate maranggi merupakan kreasi para pekerja peternakan domba di Kecamatan Plered, Purwakarta. Para pekerja ini biasanya hanya mendapatkan daging sisa dari peternakan tempat mereka bekerja. Mereka pun berusaha agar daging domba sisa ini tetap terasa lezat. Caranya, mereka memotong daging domba dalam potongan kecil-kecil, lalu merendamnya dalam racikan rempah dan sedikit gula aren. Bumbu ini membantu menjaga daging domba tetap awet dan menambah cita rasa daging domba. Ara mengawetkan dengan rempah itulah yang kemudian disebut dengan istilah maranggi.

Manapun kisah yang benar, sate maranggi sudah menjadi kulinari yang dikenal dan digemari masyarakat. Dan salah satu yang paling dikenal publik adalah sate maranggi Hj. Yetty. Sejak awal hingga saat ini, kedai Sate Maranggi Hj. Yetty  tetap bertahan di hutan jati di daerah Cibungur, Purwakarta. Lokasinya di Bungursari, Cikampek. Tidak jauh dari exit tol Cikampek dari arah Jakarta.

Sate Maranggi Hj. Yetty menjadi klangenan pecinta kuliner sate. Pada akhir pekan bisa menghabiskan 1,5 ton daging.
Sate Maranggi Hj. Yetty menjadi salah satu legenda kuliner Purwakarta. Foto: ilusttrasi-shutterstock

Bertahun-tahun hanya memiliki satu lokasi jualan, baru pada 7 Agustus 2020, di saat pandemi, Sate Maranggi Haji Yetty  –ini uniknya kedai ini, nama perempuan namun dikenal dengan sebutan haji, bukan hajjah, membuka cabang. Cabang pertama ini ada di Jalan Alternatif Cibubur, Harjamukti, Cimanggis, Depok. Lokasinya sebelum masuk tol Jagorawi.

Sama seperti lokasi pertama, cabang di Cibubur ini pun segera saja mengundang penikmat sate maranggi. Dengan lokasi yang lebih modern, cabang ini segera menjadi pilihan orang menikmati sate klangenan ini.

Begitupun, Sate Maranggi yang di Cibungur pun tetap ramai dikunjungi pelanggan. Ciri khas Sate Matanggi Hj. Yetty yakni sambal tomat dicampur dengan cabai pada bumbu kecap sate rupa-rupanya betul memikat penikmat kuliner sate.

Selain karena rasa, juga karena layanannya. Walaupun selalu penuh, tapi pelayanan di sini sangat cepat. Ada pilihan sate disini dari sate sapi, sate kambing dan sate ayam. Tentu saja, pilihan utamanya tetap sate kambingnya, yang kadang disangka sate sapi karena tidak ada bau prengus kambingnya. Tentu dengan kelengkapan sambelnya, campuran tomat, jeruk limo dan cabai rawit hijaunya.

Yetti bersyukur, saat ini meski banyak usaha serupa, tempat makannya sate marangginya tetap digemari pecinta kuliner. Saat ini, pada akhir pekan atau musim liburan, dalam sehari usahanya bisa menghabiskan daging hingga 1,5 ton. Namun, katanya lagi, saat ini dalam kondisi wisata agak melambat karena pandemi, rata-rata dari Senin hingga Jumat bisa menghabiskan 2-3 kuintal sehari. Kalau Sabtu bisa sampai 4 hingga 6 kuintal.

Sudah pernah mencicipi sate maranggi Haji Yetty? Jika belum cobalah agendakan untuk mencobanya. Di Cibungur atau di Cibubur, sama saja.

agendaIndonesia

*****

Jajanan Khas Semarang, 5 yang Bikin Kangen

Makanan Khas Semarang ada banyak macamnya, salah satunya tahu gimbal atau kadang juga dijual dengan tahu pong

Jajanan khas Semarang ada berbagai macam, namun lima yang ditulis berikut ini layak untuk dilirik. Nama jajanannya menarik dan harganya cukup ramah dompet. Kelimanya perlu dicicipi jika punya kesempatan main ke ibukota Jawa Tengah ini.

Jajanan Khas Semarang

Kaya wisata kuliner. Begitulah kesimpulan yang bisa saya ambil setelah beberapa hari menjajal sejumlah sajian Kota Semarang, Jawa Tengah. Tidak hanya di rumah makan, di warung kaki lima juga ditawarkan menu yang tak kalah menggoda selera. Dan satu yang pasti, harganya relatif nyaman di saku celana. Namanya pun unik, seperti koyor, gimbal, kopyok, dan kropok. Hanya lunpia atau lumpia yang akrab di telinga saya. Ternyata sajian kuliner khas Semarang tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Mi Kopyok

Yang pertama saya jajal adalah mi kopyok. Nama “mi kopyok” ternyata diambil dari cara memasaknya. Mi mentah dimasukkan ke air mendidih dan “dikopyok-kopyok”. Begitu pula taugenya. Dalam satu mangkuknya berisikan mi, lontong, tahu pong, dan tauge. Dalam sajian seharga Rp 10 ribu ini disertakan pula kerupuk gendar.

Jika dirasa masih kurang gurih, penikmat mi kopyok bisa menambahkan kaldu bawang putih yang disediakan di setiap meja. Namun, sebelumnya, pastikan mengocoknya lebih dulu agar kaldu tercampur rata, barulah tuangkan ke sajian. Menu khas Semarang ini dulu dijual dengan cara berkeliling. Kini kebanyakan pedagangnya berjualan dengan menetap di satu lokasi. Salah satunya warung yang saya kunjungi di Jalan Tanjung ini.

Mie Kopyok Pak Dhuwur; Jalan Tanjung No. 18; Semarang

Jajanan khas Semarang ada berbagai macam dan semuanya membuat kangen, salah satunya adalah bandeng Kropok.
Jajanan khas Semarang ada Bandeng Kropok . Foto: Travelounge /N. Dian

Bandeng Kropok

Bandeng duri lunak atau bandeng presto sudah biasa saya dengar. Namun ikan bandeng bakar kropok? Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin mencicipinya, meski harus sedikit rela menuju daerah Kota Semarang Utara. Ehm, rasanya benar-benar khas dan menggugah selera. Saus yang memadukan rasa asam, manis, dan asam menjalin harmonisasi di lidah. Dan  saya tidak menemukan duri halus pada dagingnya.

Menurut seorang pelayan, bandeng segar disayat tipis-tipis kemudian digoreng setengah matang. Setelah itu, bandeng dibakar sembari diberi kecap manis dan sambal. Hasilnya, duri halus bandeng menjadi renyah dan tergilas halus dalam kunyahan. Rupanya teknik pengolahan itu menjadi kunci rahasianya. Saya tidak menemukan duri halus bandeng secuil pun hingga kunyahan terakhir. Harga per onsnya dipatok Rp 5.500.

Rumah Makan Lesehan Tanjung Laut; Jalan Puri Eksekutif I;Semarang

Tahu Gimbal

Gimbal? Saya, yang pertama kali mengunjungi Kota Semarang, jelas penasaran akan hidangan kuliner yang satu ini. Semula, saya kira gimbal itu adalah rambut panjang tanpa perawatan, seperti milik penyanyi reggae Bob Marley atau rambut khas milik masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Ternyata, gimbal itu adalah bakwan goreng yang berisi udang dan menjadi makanan khas Semarang.

Tahu gimbal sendiri berbahan utama lontong, rajangan kol mentah, tauge, telur dadar, tahu goreng, dan gimbal, tentunya. Sajiannya menjadi lengkap dengan siraman bumbu kacang. Kalau di Jakarta, mungkin, mirip dengan ketoprak. Harga per porsinya hanya Rp 12 ribu. Untuk mendapatkan seporsi tahu gimbal, Anda tinggal menuju  Taman Keluarga Berencana yang berada di Jalan Menteri Supeno. Banyak pedagang lesehan yang menjual menu di sekitar taman tersebut.

Tahu Gimbal Pak Edi; Jalan Menteri Supeno;Sekitar Taman Keluarga Berencana;Semarang

Nasi Koyor

Menu lain yang namanya terdengar aneh adalah nasi koyor. Koyor rupanya otot sapi yang dimasak dengan kuah gurih santan dan agak pedas. Sesuai dengan namanya, koyor disajikan begitu saja dengan nasi, plus sambal. Atau bisa juga dikombinasikan dengan menu gudeg. Pilihan yang terakhir ini lebih menarik. Sebab, dalam satu porsi, nasi koyor plus gudeg akan semakin menambah cita rasa.

Saya coba mencicipi nasi koyor di salah satu daerah di Pudak Payung, Semarang, yang mungkin belum terkenal seperti nasi koyor Bu Tum. Di tempat ini, koyor tidak menggunakan otot sapi, melainkan daging sapi. Daging sapi begitu empuk dan bumbunya juga meresap hingga ke bagian dalam. Harganya Rp 22 ribu  per porsi. Tambahan pecel atau sayur rebung sepertinya patut pula dipertimbangkan.

Warung Koyor Bu Kito; Jalan Perintis Kemerdekaan Km 17;Pudak Payung, Banyumanik;Semarang

Jajanan khas Semarang memiliki ragam yang beraneka, salah satunya berbahan rebung atau bambu muda dan disebut dengan nama lunpia.
Jajanan khas Semarang di antaranya ada loenpia atau lunpia, atau kadang disebut juga dengan lumpia. Salah satunya Lunpia Mataram. Foto: Travelounge/N. Dian

Rebung Muda

Mengunjungi Semarang tanpa mencicipi lumpia rasanya kurang lengkap. Makanan berbahan dasar tumisan rebung—tunas bambu muda—yang dibungkus dengan kulit tepung beras ini memang dikenal sebagai penganan khas Semarang. Tak mengherankan jika sangat mudah menemukan lumpia di kota ini. Di sepanjang Jalan M.T. Haryono, Semarang, misalnya, terdapat puluhan penjual lumpia dengan nama dagang yang sama, yakni Lunpia Mataram.

Saya coba mendatangi salah satu warung yang konon telah berdagang di wilayah tersebut sebelum pecah peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Aroma rebung muda begitu menyeruak. Harga per potongnya Rp 11 ribu. Ukurannya benar-benar mantap. Hanya, makanan yang katanya cocok sebagai oleh-oleh ini rupanya cuma bertahan selama 20 jam. Jadi, paling aman dibeli sebelum menuju bandara.

Lunpia Mataram; Jalan M.T. Haryono 481;Semarang

agendaIndonesia/Andry T./N. Dian/TL

Saparan Bekakak Tradisi Dimulai Pada 1755

Saparan Bekakak sebuah tradisi di Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta

Saparan Bekakak adalah ritual tolak bala di Desa Ambarketawang yang digelar masyarakat setempat agar tak ada lagi musibah di pegunungan kapurnya. Sebuah proses yang selalu diikuti ribuan masyarakat. Sempat terhenti selama pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, tahun ini dilaksanakan lagi pada September lalu.

Saparan Bekakak

Ribuan warga masyarakat menyaksikan upacara tradisi budaya ’Bekakak’ di Desa Amabarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat sore itu. Kegiatan budaya setiap bulan Sapar (kalender Jawa) itu diawali dengan kirab yang diikuti 5.000 orang lebih ini.

Saparan Bekakak dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati leluhur sekaligus cikal bakal Desa Ambarketawang, Kyai dan Nyai Wirosuto yang terkubur oleh guguran batu gamping di wilayah setempat.


Kegiatan sudah terasa sejak Kamis sore pada September lalu di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sibuk menyiapkan sebuah acara spesial. Mereka membuat bekakaktemanten, yakni perwujudan sepasang pengantin Jawa yang terbuat dari hasil bumi.

Dibuat pula beberapa detail prosesi pernikahan khas Jawa pada bekakak, seperti midodareni. Malam harinya, “pasangan pengantin” tersebut dibawa ke balai desa bersama beberapa genderuwo raksasa. Mirip ogoh-ogoh atau genderuwo dalam perayaan Nyepi di Bali. Ini merupakan perwujudan roh jahat yang dianggap menjadi penyebab musibah.

Saparan Bekakak menjadi tradisi paling tua di Yogyakarta.
Ogoh-ogoh dalam Saparan Bekakak di Desa Ambarketawang Yogya. Foto: Dok. Kominfo

Puncak acara kegiatan adat itu adalah pawaiSaparan bekakak yang berlangsung Jumat selepas tengah hari. Masyarakat sudah menanti di pinggir jalan. Iring-iringan dimulai dengan  pertunjukan tari yang menceritakan kisah tentang bekakak.

Setelah itu rombongan mengawali pawai dari Lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping. Daerah bekas bukit kapur ini menjadi awal munculnya tradisi yang digelar di bulan Sapar menurut tanggalan Jawa atau Safar menurut kalender Islam.

Saparan Bekakak, nama tradisi yang digelar untuk tolak bala ini, cukup disebut Bekakak. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan ini diikuti perwakilan dari semua dusun di Desa Ambarketawang dengan mengirimkan kelompok seni.

Umumnya mereka berdandan seperti bregada alias prajurit keraton yang membawa umbul-umbul dan alat musik. Satuan bregada tersebut adalah Wirabraja, Ketanggung, Patangpuluh, Surakarsa, Dhaeng, Mantrijero, Nyutra, Jagakarya, Prawiratama, dan Bugis.

Tak ketinggalan gunungan yang terbuat dari hasil bumi persembahan perwakilan pedagang di Pasar Gamping. Gunungan tersebut dibagikan pada penonton di sepanjang jalur pawai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran yang diberikan.

Walaupun sempat turun hujan, Saparan Bekakak yang berlangsung pada menjelang pertengahan September itu tetap meriah dengan hadirnya komunitas seni budaya dari berbagai daerah di luar Gamping. Bahkan ada yang dari Bantul. Total sekitar 45 grup ambil bagian dalam acara ini.

Tradisi tersebut diakhiri dengan “penyembelihan”bekakakdi lokasi terakhir. Namun sebelumnya dipanjatkan beberapa doa. Setelah itu, bekakak dan berbagai persembahan dibagikan kepada panitia acara dan warga yang hadir.

Selain kemeriahan, pawai ini juga memaksa petugas kepolisian bekerja keras menertibkan lalu lintas. Sebab, sebagian rute karnaval melintasi Jalan Wates yang berstatus sebagai jalan nasional. Antrean kendaraan besar, seperti bus dan truk, membentuk parkir massal.

Mungkin banyak pengguna jalan mengeluh, tapi sepertinya mereka tak bisa berbuat apa-apa bahkan protes sekalipun. Itu karena pamor Saparan Bekakak begitu besar. Sebab, usia acara ini jauh lebih tua dibanding status Jalan Wates sebagai jalan nasional, bahkan jika dibandingkan dengan umur republik ini.

Kemunculan tradisi ini dimulai pada 1755, kala Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua sesuai dengan hasil penandatanganan Perjanjian Giyanti, Kasunanan yang berpusat di Surakarta (Solo) dan Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Tak lama kemudian, Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Sambil menunggu pembangunan keraton baru selesai, Sultan memilih tinggal di pesanggrahan Ambarketawang yang terletak di daerah Gamping, Sleman. Di masa itu, daerah ini memang penuh dengan bukit gamping atau kapur. Dari situ pula nama daerah ini berasal.

Semasa tinggal di Ambarketawang, Sultan ditemani oleh beberapa abdi dalem alias pelayan raja. Mereka yang paling setia adalah sepasang suami-istri Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta.

Setelah pembangunan keraton selesai, Sultan meninggalkan tempat tinggal sementaranya dan mendiami istana tanpa ditemani dua pelayan terbaiknya itu. Ki Wirasuta-Nyi Wirasuta memilih tetap tinggal di Ambarketawang karena merasa cocok dengan lingkungannya.

Keduanya bekerja sebagai penambang gamping, seperti kebanyakan warga setempat. Namun musibah terjadi. Suami-istri itu meninggal ketika sedang menambang. Mereka tertimbun batuan kapur yang longsor. Tragedi yang sama kembali berulang menimpa warga lain dan kebanyakan terjadi di bulan Sapar.

Pasangan Bekakak
Pasangan Bekakak yang akan dikorbankan.

Kesedihan melanda Sultan ketika mendengar cerita memilukan ini. Setelah bersemedi, ia memerintahkan warga Desa Ambarketawang untuk melakukan sebuah prosesi tolak bala setiap bulan Sapar. Tujuannya untuk meminta perlindungan kepada Tuhan.

Wujud upacara adat tersebut ialah penyembelihanbekakak. Biasanya, dibuat dari tepung ketan atau tepung beras yang di dalamnya diisi juruh alias sirup gula merah. Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya ialah tiap bulan Sapar, tepatnya pada Jumat, antara tanggal 10 hingga 20.

Kini setelah lebih dari dua setengah abad, Saparan Bekakak masih hidup. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu upacara adat paling tua yang masih berlangsung di Yogyakarta. Bahkan di era modern, ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan berfungsi sebagai acara hiburan, sebab ada pawai seni budaya yang mengiringinya.

agendaIndonesia

*****