Sate Rembiga Lombok, Sedap Sejak Abad 14

Sate Rembiga Lombok bisa menjadi pilihan santapan ketika main ke Mataram,.

Sate rembiga Lombok di kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, adalah ciri khas kuliner lain daerah ini selain ayam Taliwang. Jika berkunjung ke Mataram, maka di sepanjang jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo akan pelancong temui rumah makan sate rembiga yang berjejer.

Sate Rembiga Lombok

Ada begitu banyak rumah makan yang menjual sate rembiga di sepanjang jalan. Semuanya khas. Namun dari banyaknya yang berjualan sate, hanya ada dua rumah makan yang benar-benar bersaing: Sate Rembiga Ibu Sinnaseh dan Sate Rembiga Utama Bu Ririn.

Untuk yang belum pernah mencicipi seperti apa rasa sate khas satu ini, mungkin ada baiknya diceritakan sedikit. Sate rembiga merupakan salah satu kuliner khas yang cuma ada di Rembiga, Lombok. Saat ini, kuliner khas tersebut bahkan sudah mulai membuka cabang di luar wilayah Rembiga.

Sate Rembiga Lombok menjadi alternatif jika sudah mencoba menu ayam Taliwang.
Sate daging sapi khas Rembiga khas Lombok. Foto: shutterstock

Ada yang bisa dijumpai di pusat kota Mataram seperti di sekitaran daerah Cakranegara dan di Kekalik. Tidak hanya melebarkan sayap di luar Rembiga, kuliner khas ini juga sudah mulai melebarkan sayap sampai keluar Lombok.

Sate Rembiga Lombok sendiri adalah sate sapi yang bercita rasa pedas manis khas kesukaan warga Lombok. Umumnya para pedagang justru menggunakan sapi local Nusa Tenggara Barat sebagai bahan daging olahannya.

Nusa Tenggara Barat memang merupakan wilayah yang menjadi salah satu sentra produksi ternak sapi. Dengan didukung oleh kondisi geografis dari savanna-savana mampu memberikan ruang leluasa untuk sapi hidup berkeliaran di alam bebas.

Daging sate Rembiga khas Lombok menghasilkan potongan daging yang lunak karena sebagian ternaknya dipengaruhi oleh pemberian pakan berupa daun lamtoro yang menjadi sumber protein paling bagus.

Ada sejumlah cerita soal awal mulanya kuliner sate Rembiga Lombok ini. Konon sejarah kemunculannya adalah ada keahlian dalam membuat sate pertama kali hadir melalui tangan-tangan kerabat Raja Pejanggik yang tinggal di Desa Rembiga, Selaparang.

Dari catatan sejarah, Kerajaan Pejanggik ini berdiri dan berkembang dari abad ke-14 sampai dengan abad ke-17. Nama desa Rembiga dipercaya diserap suku kata ‘rembug’ yang diasosiasikan dengan istana sebagai tempat berkumpulnya berbagai kalangan kerajaan dan anggota keluarga besar.

Dari cerita mulut ke mulut, dalam setiap rembugan keluarga kerajaan itu, sajian yang dihidangkan adalah sate sapi. Adapun keahlian membuat sate diturunkan antar generasi dan pada akhirnya menjadi salah satu makanan rakyat terfavorit. Namun Namanya belumlah disebut sate Rembiga Lombok.

Sejarah kemunculan nama sate Rembiga Lombok kabarnya seiring dengan munculnya rumah makan-rumah makan yang menjual sate di sepanjang Dr. Wahidin. Dan itu bukanlah perjalanan yang singkat. Awalnya sesungguhnya hanya ada satu pedagang sate di Jalan Dr. Wahidin.

Belakangan begitu warung-warung sate ini menjadi terkenal, nama Rembiga disematkan kepadanya. Berjalannya waktu, nama sate Rembiga menjadi semakin dikenal.

Sate Rembiga Ibu Sinaseh Kecap Bango
Sate Rembiga Ibu Sinnaseh. Foto Milik Sate Bango

Orang beramai-ramai datang mencari sate dengan rasa yang khas. Melihat banyaknya peminat, para pedagang lain mencoba cari peruntungan dengan berjualan sate di sepanjang Jalan Dr. Wahidin.

Ciri khas Sate rembiga Lombok adalah masakan yang terbuat dari potongan daging sapi. Potongan daging sapi harus dimarinasi terlebih dulu sebelum dibakar. Bumbu-bumbu yang dipakai adalah kecap manis, jeruk nipis, garam, terasi bakar, bawang putih, cabai rawit, dan tomat. Sate rembiga disajikan bersama campuran potongan bawang merah, cabai rawit, tomat, kecap manis, dan jeruk limau.


Dan yang membedakan sate rembiga dengan sate lainnya adalah terasi. Bahan terasi inilah yang dicampur dengan bumbu lainnya untuk memarinasi daging sapinya sehingga menjadi khas banget rasa satenya.


Ada cerita menarik dari dua rumah makan sate Rembiga yang terkenal di Jalan Dr. Wahidin ini. Dulunya Sate Rembiga Ibu Sinnaseh dan Sate Rembiga Utama adalah satu usaha bersama. Mereka bahu-membahu membuat nama sate Rembiga menjadi dikenal seperti sekarang.

Kemudian ketika sate khas ini menjadi besar dan terkenal—mungkin terlalu besar hingga susah dikendalikan—Ibu Sinnaseh dan Ibu Ririn pecah kongsi. Siapa yang salah dan siapa yang benar, tidak perlu kita perdebatkan. Yang jelas setelah mereka pecah kongsi, hadirlah kedua rumah makan besar masing-masing rasanya memang enak.

Sate Rembiga di Lombok
Sate Rembiga ciri khasnya dimarinasi dengan terasi.

Satu hal yang membuat Sate Rembiga menjadi salah satu kuliner favorit di Lombok adalah rasanya yang tidak biasa dan lembutnya yang luar biasa. Rasa pedas bercampur manis akan langsung membuat penyantapnya ketagihan.

Jadi jika dolan ke Mataram dan Lombok, sempatkan agendakan untuk menyantap sate Rembiga Lombok ini.

agendaIndonesia/Audha Alief Praditra

*****

Keunikan 3 Sungai di Indonesia

Keunikan 3 sungai di Indonesia karena kondisi alaminya.

Keunikan 3 sungai di Indonesia ini menyelip di antara sungai-sungai lain yang selama ini dikenal masyarakat. Indonesia memiliki banyak sungai yang secara data geografis sangat gigantik.

Keunikan 3 Sungai

Sebut saja sungai Kapuas di Kalimantan Barat yang panjangnya membentang sepanjang provinsi ini. Dari data yang ada, panjang Kapuas mencapai lebih dari 1.100 kilometer. Dari Pengunungan Muller di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur hingga bermuara di Teluk Karimata.

Ada pula beberapa sungai yang saking panjangnya hingga melewati lebih dari satu provinsi. Sungai Bengawan Solo, misalnya, yang meski panjangnya cuma hampir 600 kilometer, tapi melewati Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada pula sungai Barito yang panjangnya sekitar 900 kilometer dan melintasi Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Selatan sebelum berakhir di Laut Jawa. Sungai Barito juga merupakan sungai terlebar di Indonesia. Lebar muaranya mencapai satu kilometer.

Tapi kali ini kita tak bercerita tentang sungai-sungai yang gigantik itu. Di antara sungai-sungai yang secara ukuran menakjubkan itu, ada beberapa sungai yang unik karena kondisi alaminya.

Keunikan 3 sungai di Indonesia, salah satunya sungai Cisolok di Sukabumi yang memiliki semburan air panas.
Keunikan 3 sungai di Indonesia, salah satunya sungai Cisolok di Sukabumi. Foto: Dok. Tempo/Eko ST

Sungai Cisolok

Adalah sungai Cisolok di kawasan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang di tengah aliran airnya memiliki beberapa batu yang menyemburkan air panas. Tempat ini berdekatan dengan pantai Pelabuhan Ratu, kurang lebih jaraknya hanya 15 kilometer.

Sungai di lokasi wisata air panas Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, ini benar-benar unik. Sebab, di tengah-tengah sungai terdapat semburan air panas. Menyembur dari dalam tanah, suhu air bisa mencapai 80 derajat Celsius. Ada tiga titik semburan air yang tidak mengandung belerang. Semua semburan berasal dari geyser, air panas yang melewati lapisan kerak bumi.

Tumpukan batu yang diatur sedemikian rupa oleh pengelola membuat air memancar kian tinggi. Saking panasnya air tersebut, wisatawan dapat merendam telur di sungai hingga matang dalam waktu relatif singkat. Namun jangan sesekali menaruh tangan di atas semburan air. Selain tekanannya kencang, suhu air cukup tinggi. Tetesannya saja dapat membuat kulit pedih.

Ombak Sungai Kampar

Sungai Kampar, yang terdapat di Desa Teluk Merantim, Kabupaten Palalawan, Provinsi Riau, juga tak kalah unik. Sungai ini berhulu di Bukit Barisan, sekitar Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera di wilayah provinsi Riau. Sungai ini merupakan pertemuan dua buah sungai yang hampir sama besar, yang disebut dengan Kampar Kanan dan Kampar Kiri.

Lalu uniknya? Bagaimana tidak, sungai ini memiliki ombak yang biasa dijadikan tempat berselancar atau surfing. Pada waktu-waktu tertentu akan timbul ombak besar. Tingginya dapat mencapai 6-7 meter. Panjang gelombangnya lebih dari 300 meter. Penduduk lokal menyebutnya Gelombang Bono.

Gelombang Bono tercipta dari pertemuan arus sungai dan laut, dengan angin dan tebing di kanan-kiri. Gelombang ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para peselancar ataupun pelancong.

Periode terbaik untuk mengunjunginya pada awal dan akhir musim hujan. Sebab, saat itulah gelombang meninggi. Tepatnya Februari, Maret, Oktober, dan November. Suara empasan gelombang akan membuat bulu kuduk berdiri. Ada dua “pintu” akses ke Kawasan Palalawan. Dari Batam, Anda bisa menyeberang pakai perahu bermotor. Atau, cara lainnya, bisa juga naik kendaraan darat selama empat jam dari Pekanbaru.

Sungai Tamborasi nan Pendek

Berbanding terbalik dengan Sungai Nil di Afrika, yang menjadi sungai terpanjang di dunia, Sungai Tamborasi diklaim sebagai salah satu yang terpendek di dunia. Sungai di Kecamatan Tamborasi, Kolaka, Sulawesi Tenggara, ini hanya memiliki panjang sekitar 20 meter.

Sungai ini cuma lebih pendek tujuh meter dibandingkan Sungai Reprua di Georgia, Eropa, yang disebut memiliki panjang hanya 27 meter. Panjangnya itu dihitung dari mata air karst di gua hingga mencapai Laut Hitam.

Tamborasi tidak terlihat seperti sungai, lebih mirip danau kecil. Sebab lebarnya hanya 15 meter. Namun adanya aliran air di sini menguatkan dugaan bahwa Tamborasi memang sungai. Hanya saja hulu dan hilirnya berdekatan. Di hulu sungai atau di sekitar mata air, suhunya terasa sangat dingin dan segar. Akan tetapi di hilir, airnya justru hangat. Sungai Tamborasi, yang berbatasan langsung dengan Pantai Tamborasi, memiliki pasir putih yang kian memperindah pemandangan.

agendaIndonesia

*****

Tenun Bentenan Minahasa Unik Lahir di Abad Ke 7

Tenun Bentenan Minahasa awalnya dibuat pada abad ke-7 oleh suku Minahasa di Sulawesi Utara. Sempat memunculkan corak-corak baru, namun kini corak lama pun dimunculkan lagi.

Tenun Bentenan Minahasa

Hujan turun rintik-rintik di Desa Kolongan Atas Dua, Sonder, Kabupaten Minahasa Induk, Sulawesi Utara, suatu siang. Saya memasuki bangunan dengan halaman luas dan langsung menerobos ke bagian belakang menuju rumah kayu khas Minahasa. Ruangan tersebut tampak terbuka. Siang yang sejuk itu, di dalam ruangan, ada beberapa perempuan “bermain” dengan benang dan alat pintal. Mereka memang dibina oleh Bentenan Center agar bisa kembali menghasilkan karya-karya tenun warisan nenek moyang, yakni kain Bentenan.

Ati, salah satu perajin, menyebutkan sudah sulit menemukan perajin asli yang turun-temurun membuat tenunan Bentenan. Karena itulah untuk mengembalikan tradisi tenun Sulawesi Utara yang sudah tidak banyak dikenal lagi oleh masyarakat ini, didirikan Bentenan Center oleh Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (Karema). Sejumlah perempuan diajari menenun yang khas Bentenan dari awal dan kini mereka rutin melakukannya setiap hari di tempat ini.

Motif lawas yang digunakan kerajaan zaman dulu, menurut Ati, juga dibuat kembali. Di antaranya Kalwu Patola, Tononton Mata, dan Pinatikan. Aslinya, kain Bentenan memiliki tujuh corak. Mulai Tonimala, tenunan dari benang putih di kain putih. Kemudian Sinoi, yang menggunakan benang warna-warni dengan corak garis-garis. Ada pula Pinatikan, yang berupa garis-garis dengan motif jala dan bentuk segi enam. Jenis kain Bentenan ini merupakan yang pertama kali dibuat di Minahasa, selain Tinompak Kuda, yang memunculkan beragam corak yang ditenun berulang. Sedangkan Tononton Mata bercorak manusia, Kalwu Patola bermotif tenun Patola India, serta terakhir Kokera bermotif kembang warna-warni dan dihiasi manik-manik.

 “Kain Bentenan asli yang berusia sekitar 200-an tahun hanya ada di sebuah museum di Belanda,” ucap Ati. Selain jumlah perajin yang minim, peninggalan kaum sepuh memang tidak lagi bisa ditemukan di Minahasa, daerah asalnya. Warisan tersebut ada di sejumlah museum yang kebanyakan berlokasi di luar negeri. Selain di Museum Nasional Jakarta, kain asli Bentenan di antaranya bisa ditengok di Tropenmuseum Amsterdam, Museum voor Landen Volkenkunde Rotterdam, dan Museum fur Volkenkunde Frankfurt am Main.

Kain tenun asli terakhir ditemukan di Ratahan pada 1900. Daerah itu memang, menurut Ati, merupakan asal dari perajin tenun ini. Bentenan tak lain dari nama desa di Pantai Timur Minahasa Tenggara, yang meliputi Distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan, dan Tonsawang. Awalnya, tenunan ini dibuat suku Minahasa sekitar abad ke-7 dari serat kayu yang disebut fuya. Serat tersebut diambil dari pohon lahendong dan sawukouw,yang memang banyak tumbuh di daerah ini. Juga digunakan serat nanas dan pisang, yang disebut koffo. Ada pula serat bambu, yakni wa’u. Nah, baru pada abad ke-15, orang Minahasa beralih ke benang katun. Hasil tenunan inilah yang kemudian dikenal sebagai kain Bentenan.

Di masa silam, kain tenun ini bermutu tinggi. Tak hanya karena teknik pembuatannya yang mengharuskan kain berupa lingkaran tanpa guntingan dan sambungan serta dipasangi lonceng kecil di sekelilingnya, sehingga disebut Pasolongan Rinegetan. Tapi juga karena ada ritual khusus berupa pujian kepada Tuhan.

Tenun Bentenan Minahasa, motifnya menjadi  latar belakang Manado Fiesta 201902
Tenun Bentenan Minahasa motifnya menjadi latar pentas Tarian tradisional saat pembukaan Manado Fiesta 2019. (Foto: Ilustrasi-Dok. Kemenpar)

Kain Bentenan kini telah menjadi oleh-oleh khas dari Manado dan Minahasa. Bila ingin berbelanja sekaligus melihat proses pembuatannya, sekalian menikmati alam Tomohon dan Minahasa yang sejuk, Anda bisa berkendara ke arah Tomohon. Jaraknya hanya 30 kilometer dari Manado. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke arah Minahasa Induk. Bentenan Center tidak jauh dari Tomohon, meski berada di Kabupaten Minahasa Induk.

Di bagian depan Bentenan Center, ada ruang pamer untuk beragam produk. Tersedia dua jenis kain, yakni kain biasa dan songket (timbul). Bukan hanya tenunan, motif Bentenan cetak pun bisa menjadi pilihan para tamu. Menggunakan kain sutra maupun sifon, motif tersebut muncul dalam bentuk gaun, kemeja, hingga lembaran kain. Harga produk bervariasi, mulai Rp 300 ribu. Pada ASEAN Tourism Forum 2012 di Manado, corak Bentenan pun dikenakan para pejabat negeri ini.

agendaIndonesia/Rita N./Hariandi/TL

Durian Runtuh Pekanbaru, Legitnya 24 Jam

Durian Runtuh Pekanbaru menjadi salah satu destinasi wisata kuliner di kota ini.

Durian Runtuh menjadi destinasi kuliner baru jika wisatwan dolan ke Pekanbaru ibukota Provinsi Riau. Jika di Medan, Sumatera Utara, pelancong punya Durian Ucok sebagai tempat menikmati raja buah ini, maka Pekanbaru memiliki Durian Runtuh by Nadhira Napoleon, warung durian yang diklaim terbesar dan terlengkap di sana. 

Durian Runtuh

Warung durian ini terkenal sejak diresmikan pada akhir 2021. Serunya lagi, warung ini tidak pernah tutup, alias selalu buka 24 jam setiap hari. Jadi penggemar durian bisa makan buah kesukaannya ini kapan saja.

Ada banyak jenis durian yang bisa dipilih pengunjung warung durian ini. Dengan harga mulai dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu Rupiah per butirnya ada.

Durian Runtuh Pekanbaru mirip dengan Ucok Durian di Medan, menikmati duiran sepanjang 24 jam.
Tanda Lokasi Durian Runtuh Pekanbaru. Foto: IG durianruntuh_nnp

Di sini duriannya lengkap, bisa pilih mau yang paling murah ada belasan ribu sampai Rp 25 ribuan. Ada juga yang premium seperti Musang King dan blackthorn atau duri hitam.

Buat yang suka durian premium, warung ini juga menjual durian Musang King, misalnya. Seperti yang disampaikan pemilik warung Durian Runtuh Nadhira Napoleon, Herlino yang menyebutkan kalua tempatnya bukan saja menyediakan durian kampung premium, namun juga berbagai varian durian premium, seperti Musang King, Montong,  Bawor, dan sebagainya.

Herlino kemudian menjelaskan bahwa untuk durian lokal pihaknya mendatangkan langsung buahnya dari berbagai daerah. Misalnya seperti dari pesisir Sumatera Barat (Sumbar) dan Sidikalang, Sumatera Utara (Sumut).

Sedangkan khusus durian premium seperti jenis Musang King, diimpor langsung dari Malaysia, jenis Montong didatangkan dari Palu, dan jenis Bawor didatangkan dari Pulau Jawa. 

Durian Bawor shutterstock
Durian jenis bawor yang dibudidayakan di Jawa, juga tersedia di Durian Runtuh. Foto: shutterstock

Herlino mengakui bahwa usaha durian memang memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Hal ini tak lepas dari minat dan kegemaran masyarakat terhadap raja buah itu.

Dari pengalamannya sendiri di usaha yang digelutinya ini, dalam sehari ia mengetakan bahwa pihaknya bahkan mampu menjual sedikitnya 1000 buah durian utuh kepada pengunjung yang datang ke Durian Runtuh.

Ia kemudian bercerita bahwa dirinya juga berencana untuk mengembangkan potensi durian lokal dari daerah Riau. Di sini ada durian seperti Durian Kampar dan Durian Bengkalis. Pengembangannya akan lewat pemberdayaan dan membangung kemitraan dengan petani-petani durian yang ada di daerah-daerah.

Pengembangan itu termasuk mungkin bekerja sama dengan dinas-dinas terkait untuk memberikan edukasi kepada petani durian tentang pemuliaan tanaman. “Sehingga produktivitas buah durian lokal di Riau dapat stabil dan dapat membantu meningkatkan perekonomian,” katanya seraya bercerita mimpinya menjawab tantangan soal ketersediaan buah durian local yang cenderung bergantung musim.

Durian Runtuh tidak hanya menyajikan durian dengan level yang berbeda, pengunjung Durian Runtuh juga dimanjakan dengan tempat dan suasana yang nyaman.

Durian Runtuh by Nadhira Napoleon sejak buka akhir 2021 lalu terus menjadi pilihan destinasi kuliner bagi warga setempat maupun pendatang. Selain selalu tersedia aneka jenis durian, juga karena tempat dan lokasinya yang stratagis.

Lokasinya strategis, cukup berjalan kaki dari pintu keluar Bandara Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Atau wisata kuliner durian yang berlokasi tepat di depan Bundaran Bandara SSK di Jalan Jenderal Sudirman.

Selain lokasi, tempatnya juga nyaman. Desain Durian Runtuh by Nadhira Napoleon ini menawarkan lokasi terbuka. Ini cocok buat pecinta durian yang tidak begitu suka bau durian. Sebab dengan model tebuka, bau durian tidak begitu menyengat.

5 Oleh oleh Medan pancake durian
Pancake durian juga tersedia di tempat ini.

Tempat ini juga ramah anak-anak, karena disediakan area bermain. Tersedia banyak kursi-kursi, sehingga yang bawa rombongan juga enggak perlu khawatir tidak dapat tempat. Selain buah durian, warung ini juga menjual aneka olahan durian seperti cendol dan ketan. 

Herlino juga bercerita mengenai potensi pasar tidak saja buahnya saja, namun juga untuk produk-produk olahan durian. Ia menambahkan, bukan hanya menyajikan buah durian utuh, Durian Runtuh by Nadhira Napoleon juga turut menyediakan berbagai olahan buah durian. Seperti pancake durian, durian kupas, cendol durian, ice cream durian, dan sup durian. 

Pengunjung warung durian ini juga menyediakan menu makanan lainnya, seperti Pempek, Tekwan, Lenjer, Lenggang, Nasi Goreng dan lainnya. Jadi cocok untuk nongkrong buat penggemar maupun bukan penggemar durian. 

Sekadar saran, kalau ingin menghindari keramaian, pengunjung sebaiknya datang pagi atau sore. Sebab kalau malam biasanya akan padat pengunjung. 

Duren Runtuh by Nadhira Napoleon

Bundaran Bandara SSK di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru

Instagram: @durianruntuh_nnp

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Perjalanan di Tano Niha Selama 3 Hari

Perjalanan di Tano Niha atau Tanah Nias selama tiga hari adalah perjalanan menikmati bentang alam yang sangat indah dan jejak warisan budaya yang terjaga dengan baik. Tiga hari sesungguhnya bukan waktu yang cukup.

Perjalanan di Tano Niha

Langit biru dan udara bulan Oktober berembus sejuk saat saya menjejakkan kaki di Bandara Binaka, Gunungsitoli, ibu kota Kabupaten Nias. Hanya dalam dua jam penerbangan dari Jakarta, saya bisa menikmati suasana berbeda. Ada beberapa turis asing menenteng papan selancar. Tampak mereka siap menaklukkan ombak di pantai-pantai Pulau Nias.

Pengenalan saya terhadap pulau seluas 5.625 kilometer persegi ini bermula dari ilustrasi bagian belakang uang kertas pecahan Rp 1.000 pada zaman Orde Baru. Di sana tertulis: “Lompat Batu Pulau Nias”. Pikiran saya segera mengembara selepas saya turun dari pesawat. Tidak sabar rasanya untuk memulai perjalanan di Tano Niha atau Tanah Nias.

Hari Pertama: Atraksi Hombo Batu

Hujan perlahan reda ketika saya memasuki Desa Bawomataluo, yang terletak di Kabupaten Nias Selatan. Dari Kota Gunungsitoli, menjangkau desa ini butuh waktu perjalanan kurang-lebih enam jam. Perjalanan panjang membuat di hari pertama saya hanya mendatangi satu lokasi.

Begitu tiba, pandangan saya tertumbuk pada deretan rumah adat yang terjaga dengan baik. Salah seorang warga mengatakan di desa ini terdapat 1.250 rumah adat tradisional Nias yang berumur ratusan tahun. Berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas batu, rumah-rumah itu menyerupai perahu. Batu sebagai landasan mencerminkan pijakan hidup. Di sini, ada satu rumah adat besar yang diberi nama omonifolasara. Lasara sendiri berarti mulut naga.

Menurut cerita warga, pengetahuan membangun rumah diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada semangat dari masyarakat untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan nenek moyang. Selain berbentuk empat persegi panjang, rumah adat di Nias Utara ada yang bulat dengan denah lantai oval. Sedangkan rumah adat di Nias Tengah beratap bulat dengan denah lantai segi empat.

Atraksi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Meskipun tidak sedang ada kegiatan budaya, atraksi Hombo Batu bisa ditampilkan sesuai dengan permintaan pengunjung. Saya senang sekali dapat melihat langsung atraksi yang sebelumnya hanya tergambar dalam imajinasi lewat selembar pecahan uang kertas itu. Menurut sejarah, lahirnya tradisi lompat batu berbarengan dengan tari perang.

Dahulu kala, suku-suku di Nias sering terlibat peperangan. Sebagai persiapan, setiap si’ulu atau kepala suku mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih berperang. Salah satunya melalui lompat batu.

Hari Kedua: Pantai-pantai Nias Selatan

Saya dan rekan fotografer menginap di Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Sopir yang mengantar kami bercerita tentang pantai nan indah di sekitar Teluk Dalam dengan ombak yang katanya bisa mencapai tinggi lima meter. Keesokannya, Pantai Sorake pun menjadi sasaran pertama kami.

Cerita sopir tersebut tak meleset. Pantai Sorake menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Airnya jernih memantulkan warna biru menawan dengan pasir putih bersih. Di sekitar pantai terdapat batu karang. Eksotis. Inilah surga para peselancar. Kabarnya, pantai ini tempat selancar terbaik kedua setelah Hawaii. Tak mengherankan jika turis asing banyak berselancar di pantai ini, selain di Pulau Asu, Pulau Bawa, dan Pulau Telo.

Sekitar dua kilometer dari Pantai Sorake terdapat Pantai Lagundri. Di pantai itu pemandangan alam bawah lautnya sangat indah. Bagi yang suka menyelam, inilah spot menarik yang perlu dicoba. Di sekitar pantai ini Anda juga bisa menghabiskan waktu untuk berjemur di atas lembutnya pasir putih, sambil menikmati embusan angin laut dan sinar matahari yang berlimpah.

Perjalanan ke Tano Niha salah satunya menyaksikan batu peninggalan zaman Megaltih di Desa Moro'o Nias Selatan.
Perjalanan ke Tano Niha salah satunya menyaksikan batu peninggalan zaman Megaltih di Desa Moro’o Nias Selatan. Foto: Lourentius/TL

Hari Ketiga: Menhir Desa Sisarahili dan Museum Pusaka Nias

Setelah dua hari berada di Nias Selatan, saatnya menuju kota melewati Nias Barat. Di salah satu desa, yaitu Desa Sisarahili, saya singgah untuk melihat dari dekat kekayaan warisan budaya Nias yang lain. Kali ini dalam bentuk megalit atau menhir. Ada beberapa pelancong yang turut mampir. Di desa ini terdapat sebuah batu besar yang berdiri tegak. Batu itu diukir menyerupai bentuk wajah raja atau balugu lengkap dengan pakaian kebesarannya. Warga setempat menyatakan, hanya orang yang berhasil memburu ratusan atau ribuan ekor babi yang bisa dinobatkan sebagai balugu.

Saya pun kembali ke Gunungsitoli. Tujuan berikutnya, Museum Pusaka Nias di Jalan Yos Sudarso Nomor 134 A. Berdiri pada 1991, museum ini menyimpan kekayaan warisan budaya Suku Nias. Dari artefak, keramik, hingga replika rumah adat. Di area museum ini juga terdapat kebun binatang mini sebagai upaya perlindungan terhadap fauna yang langka dan berhubungan dengan tradisi lisan Nias, seperti ular, buaya, kancil, monyet, biawak, kura-kura, kijang, dan beo.

Sorenya, saya menghabiskan waktu dengan melihat senja yang perlahan turun di sebuah pantai di Gunungsitoli dengan latar tulisan Ya’ahowu atau berarti “salam”. Kata itu selalu diucapkan dengan ramah oleh warga dalam setiap perjumpaan. Ini malam terakhir saya di Tanah Nias. Besok pagi, saya terbang kembali ke Jakarta. “Ya’ahowu, Tano Niha.”

agendaIndonesia/Aris Darmawan/Lourentius/TL

*****

Jalur Mudik Selatan, Ini 6 Spot Wisatanya

Jalur mudik Selatan menyimpan sejumlah tempat untuk dikunjungi.

Jalur mudik Selatan saat libur Lebaran mulai dikampanyekan sebagai jalur alternatif dari jalur tol TransJawa. Selain diperkirakan tak terlalu padat, ada sejumlah pilihan wisata di sepanjang jalur mudik selatan ini.

Jalur Mudik Selatan

Lebaran memang selalu identik dengan libur yang lumayan panjang. Momen ini dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk mudik ke kampung halaman, sekaligus kumpul bersama keluarga besar saat Hari Idulfitri. 

Namun menariknya, selain bertemu dengan keluarga, momen mudik lebaran juga bisa dimanfaatkan pemudik untuk sarana wisata singkat. Apalagi bagi mereka yang mudik melintasi jalur mudik Selatan Jawa. Sepanjang Jalur Lintas Selatan ini terdapat banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi.

Pantai Timur Pangandaran juga berada di lintasan jalur mudik selatan
Pantai Pangandaran juga berada di jalur mudik selatan.

Ada enam provinsi yang dilintasi dalam rute mudik Jalur Lintas Selatan Jawa, yakni Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Ada beberapa rekomendasi destinasi wisata di sepanjang jalur mudik di Jalur Lintas Selatan Jawa yang bisa pemudik singgahi.

Pantai Tanjung Layar

Salah satu pantai yang tak boleh pemudik lewatkan saat memulai perjalanan dari Banten adalah Pantai Tanjung Layar. Berlokasi di Desa Sawarna, Bayah, Lebak, Pantai Tanjung Layar memiliki ombak khas Laut Selatan yang bergelora. Saking tingginya, ombak pantai mampu menghempas dinding batu karang dengan sangat cantik. 

Menjelang senja, pemudik yang melintasi jalur mudik selatan dapat menyaksikan semburat merah keemasan dengan latar belakang batu-batuan karang yang eksotis di Pantai Tanjung Layar. Sangat cocok bagi mereka yang ingin memanjakan diri sejenak saat baru tiba di Pulau Jawa dari Pulau Sumatera.

Gedung Sate

Memasuki Jawa Barat, pemudik bisa mampir melihat bangunan bersejarah di Kota Bandung, Gedung Sate. Destinasi wisata ini berada di Jalan Diponegoro, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung. Gedung Sate dibangun pada 1924, dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. 

Selain menikmati keindahan arsitektur dari Gedung Sate, pemudik bisa berkunjung ke dalam museum di dalamnya, serta melihat berbagai macam koleksi seni dan tahapan pembangunan Gedung Sate.

Di belakang Gedung Sate juga terdapat salah satu kuliner unik yang bisa Sobat Parekraf cicipi, yakni Sate Jando. Lokasinya hanya berjarak sekitar 260 meter dari Gedung Sate.

Wisata jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap
Di sekitar Benteng Pendem Cilacap juga ada Teluk Penyu. Foto: shutterstock

Benteng Pendem Cilacap

Terletak di Dusun Kebonjati, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Benteng Pendem merupakan peninggalan Belanda di pesisir Pantai Teluk Penyu. Benteng ini dibangun pada 1861 dan dulunya menjadi markas pertahanan tentara Hindia Belanda.

Di dalamnya terdapat gudang senjata, benteng pengintai, benteng pertahanan, gudang mesiu, penjara, ruang perwira, hingga dapur.
Benteng Pendem Cilacap berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Stasiun Cilacap dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Tempat ini mudah dicapai bagi mereka yang melintasi jalur mudik selatan.

Benteng Van Der Wijck

Selepas Cilacap di pantai Selatan Jawa, pemudik bisa melanjutkan perjalanan Jalur Lintas Selatan di Jawa Tengah. Melintasi Kabupaten Kebumen para  pemudik yang menggunakan kendaraan darat bisa singgah sejenak melihat megahnya Benteng Van Der Wijck di Desa Sidayu, Gombong, Kebumen.  

Benteng Van Der Wijck Shutterstock
Benteng Vam Des Wijck di Kebumen-Gombong. Foto: shutterstock

Benteng Van Der Wijck adalah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada abad ke 18 M. Berbeda dengan benteng peninggalan Belanda lainnya, benteng ini terbuat dari batu bata. Sehingga memberi kesan warna merah yang estetik. 

Selain menikmati keindahan arsitektur benteng, bagi para pemudik yang mengajak buah hati juga bermain wahana perahu angsa, mobil-mobilan, kincir putar, hingga kereta mini. Jadi anak tidak bosan selama perjalanan mudik.

Candi Prambanan 

Memasuki Yogyakarta, para pemudik akan melewati kawasan Candi Prambanan. Destinasi wisata populer di Yogyakarta satu ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di dunia, dan sudah ditetapkan sebagai sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) oleh UNESCO.

Di dalam kompleks candi, pemudik bisa berjalan kaki mengitari kompleks candi untuk mengabadikan momen dengan latar belakang rerumputan dan kemegahan Candi Prambanan. Kalau bosan berjalan kaki, pemudik bisa menaiki mobil wisata untuk berkeliling menikmati pemandangan candi. Di sekitar Candi Prambanan juga terdapat Candi Sewu dan beberapa candi lainnya.

Taman Nasional Alas Purwo

Mendekati ujung Jalur Lintas Selatan Jawa, para pemudik akan memasuki provinsi Jawa Timur. Di provinsi paling ujung Pulau Jawa ini, terdapat salah satu destinasi wisata yang menyajikan sabana luas, yakni Taman Nasional Alas Purwo. Destinasi wisata ini berada Tegaldlimo, Purwoharjo, Banyuwangi. 

Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas mencapai 43 ribu hektare, di sini pemudik bisa mengunjungi berbagai destinasi wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional, yakni Sabana Sadengan, Pantai Pancur, Gua Istana, Pura Giri Selaka, hutan bambu, hingga hutan mangrove. Cocok banget dijadikan tempat istirahat sejenak sebelum meninggalkan Pulau Jawa.

Jadi, jangan lupa singgah sejenak untuk beristirahat sambil menikmati ragam pariwisata di Jalur Mudik Lintas Selatan Jawa. Selamat mudik dan bertemu keluarga di kampung halaman.

agendaIndonesia/kemenparekaf

*****

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo Dari 1950

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo menjadi legenda kuliner di sekitar Kali Krasak.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo sudah menahun diakui sebagai salah satu primadona dalam khasanah kuliner Yogyakarta. Lokasinya yang berupa warung sederhana, serta terletak di tepian kota, tak pernah membuatnya lekang oleh masa dan sepi pengunjung.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Sudah menjadi rahasia umum kalau sang kota pelajar sendiri sudah lama dikenal dengan ragam kulinernya yang memanjakan lidah. Mulai dari gudeg, bakmi jawa, sate klatak, hingga nasi kucing selalu menjadi buruan penggemar kuliner, baik domestik hingga mancanegara.

Tak ketinggalan adalah brongkos, sajian menarik yang terbuat dari santan dan rempah seperti kluwek, lengkuas, kemiri, ketumbar dan gula jawa. Ia disajikan dengan dituangkan pada sepiring nasi hangat, dengan beragam lauk pauk seperti daging sapi, tahu, telur rebus, serta kacang tolo.

Brongkos Warung ijo BU Padmo berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Suasana Warung Ijo Bu Padmo. Foto: IG Warung Ijo Bu Padmo

Dalam perkembangannya terkadang beberapa bahannya dapat disubstitusi, seperti penggunaan daging kambing atau kacang tanah. Selain itu, saat dihidangkan brongkos juga lazim ditambahkan dengan cabe rawit untuk menambah cita rasa pedas di dalamnya.

Meski secara umum populer sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta, kadang kala brongkos bisa ditemukan pula di beberapa kota di Jawa Tengah, seperti Magelang dan Solo. Disinyalir, keberadaannya sebagai kuliner tradisional di kawasan tersebut sudah bertahun-tahun lamanya.

Bahkan, makanan ini disebut-sebut sebagai salah satu hidangan favorit mendiang Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta sang anak Sri Sultan Hamengkubuwono X. Brongkos juga kerap menjadi salah satu sajian santap siang atau malam bagi tamu-tamu Keraton Yogyakarta.

Maka menjadi tak begitu mengejutkan jika beberapa warung-warung penjaja brongkos yang banyak digemari ternyata sudah eksis sejak berpuluh tahun lalu. Seperti halnya Bronglos Warung Ijo bu Padmo yang sudah berjualan sejak 1950.

Warung ini terletak di kawasan pasar Tempel, yang berada persis di tepi perbatasan antara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mulanya, warung dapat ditemukan tak jauh dari kolong jembatan kali Krasak.

Masakan Brongkos shutterstock
Ilustrasi Brongkos komplit. Foto: shutterstock

Kala itu, warung tersebut berukuran kecil, dan berada persis di tepi jalan. Kini, untuk mengantisipasi jumlah pengunjung yang terus bertambah, serta akses parkir yang kurang memudahkan, akhirnya warung dipindahkan tak jauh dari area tersebut.

Namun, satu ciri khas yang tak dihilangkan adalah nuansa warung yang berwarna hijau. Dari luar, warung nampak mudah ditemukan dengan warna hijau mencoloknya, dan nuansa tersebut berlanjut hingga ke dalam interior warung.

Dari dinding, meja, bahkan hingga sekedar tutup toples untuk kerupuk dan berbagai pelengkap teman makan brongkos lainnya juga berkelir hijau. Sehingga tak heran, jika kebanyakan pelanggannya lazim memanggilnya dengan sebutan ‘warung ijo’.

Selain dari penampilannya yang unik, alasan mengapa brongkos warung ijo bu Padmo menjadi begitu dikenal tentulah karena brongkosnya yang begitu nikmat. Kuahnya berwarna coklat kehitaman nan pekat, dengan perpaduan rasa manis, gurih dan pedas yang amat menggoyang lidah.

Tak hanya itu, potongan daging sapi di dalamnya juga terasa sangat empuk, dengan rasa bumbu rempah yang begitu meresap. Kalau tak ingin daging, pengunjung juga dapat memilih isi lauk lain, seperti koyor dan babat, serta tentunya lauk brongkos lainnya seperti tahu dan telur rebus.

Dalam penyajiannya, brongkos warung ijo bu Padmo juga dapat disantap dengan tambahan makanan lain, seperti gudeg, sambal goreng krecek, oseng pete dan sayur pecel. Sebagai pelengkap, disediakan pula perkedel, tempe, rempeyek, emping dan berbagai jenis kerupuk.

Kini juga tersedia beragam pilihan sambal yang juga bisa dipilih sebagai pelengkap, seperti sambal udang dan sambal cumi. Jangan lewatkan pula beberapa pilihan minuman segar seperti es jeruk, es tape dan es limun temulawak.

Untuk mencapai dan menjaga cita rasa yang kini disukai banyak pelanggannya, brongkos warung ijo bu Padmo masih memasak dan menyiapkan makanannya dengan metode tradisional, seperti penggunaan tungku kayu bakar.

Kluwek shutterstock
Kluwek, salah satu bumbu utama brongkos. Foto: shutterstock

Metode itu terus dipertahankan, hingga kini usaha warung dijalankan oleh anak-anak bu Padmo. Terbukti, hingga kini warung terus dibanjiri oleh pengunjung, baik warga lokal penggemar brongkos, maupun wisatawan pecinta kuliner.

Dengan pilihan seporsi nasi brongkos yang cukup komplit tersebut, pengunjung bisa mendapatkannya dengan kisaran harga Rp 30 ribu-an. Beberapa pelengkap yang bisa diambil sendiri sesuai selera juga dihargai sekitar Rp 2 ribu.

Konsep warung yang unik, dan hidangannya yang menggugah selera, menjadikan brongkos warung ijo bu Padmo begitu legendaris dan terus banyak diminati. Sebuah cabang di kawasan jalan Magelang, tak jauh dari warung aslinya, kini juga dibuka untuk melayani lebih banyak lagi pengunjung.

Brongkos Warung Ijo bu Padmo buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 18.00. Yang perlu diingat, kebanyakan pengunjungnya datang pada saat jam sarapan dan makan siang, sehingga terkadang dari jam 17.00 pun bisa saja warung sudah tutup karena laris manis.

Pun warung aslinya kini sudah pindah tempat dan menjadi warung berukuran lebih besar, tetap saja warung kerap dipenuhi pengunjung, terlebih pada akhir pekan dan hari libur. Maka tak ada salahnya mampir juga ke cabangnya yang tetap sama hijaunya dan sama nikmat brongkosnya.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Jl. Turi no. 10, Tempel, Yogyakarta

Jl. Magelang no. 18, Tempel, Yogyakarta

Instagram @brongkos_bupadmo

agendaIndonesia/Audha Alief Praditra

*****

Sambal ala Belitung, 4 Bisa Jadi Oleh-oleh

Sambal ala Belitung, ada yang berbahan ikan laut, terbentuklah rusip, calok, belacan. Selain itu ada pula yang berbahan tauco.

Sambal ala Belitung

Belitung tak hanya menjadi destinasi untuk menikmati pantai dengan batuan yang mengagumkan. Atau jejak-jejak kisah Laskar Pelangi seperti di layar lebar. Karena sebagaian wilayahnya berupa laut, turis akan menemukan oleh-oleh dengan bahan utama ikan laut yang bisa menjadi hidangan khas di meja makan. Meski ada juga yang terbuat dari kedelai. Beberapa nama tergolong unik, beberapa juga dibuat di daerah lain. Umumnya bisa menjadi diolah kembali dengan bahan lain yang membuat rasa hidangan menjadi lebih sedap, tapi rasanya mantap jika dijadikan sambal. Bisa ditemukan di pasar tradisional seperti pasar tradisional Hatta yang terletak di Jalan Hayati Maklum, Tanjung Pandan. Di pasar ini, dari ikan segar hingga olahannya terbesar di beragai kios. Adapun ragam bumbu sambal itu seperti di bawah ini.

Rusip dari Ikan Bilis

Bisa jadi bagi turis dari luar Belitung, baru mendengar nama yang satu ini. Rusip tak lain ikan teri atau masyarakat Belitung menyebutkan bilis yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan bilis terlebih dulu dicuci, dibuang kepala dan kotorannya lalu ditiriskan. Setelah benar-benar kering diberi garam, dengan cara diremas-remas. Disimpan dalam wadah tertutup selama sehari. Kemudian beri gula merah yang sudah dicairkan.

Simpan lagi dalam wadah tertutup selama seminggu. Jika telah menghasilkan aroma khas dan agak sedikit asam, tandanya rusip sudah siap dikonsumsi. Anda bisa langsung menjadikan sambal yang dilengkapi dengan lalapan. Ada pula sambal rusip yang diolah terlebih dulu dengan menambahkan bawang merah, serai dan cabe rawit plus jeruk kunci khas pulau ini juga. Sajian ini tergolong penggugah selera makan bagi warga setempat. Selain itu, rusip bisa juga menjadi bumbu dalam berbagai  olahan, seperti sajian ikan. Rasa kuah ikan pun kian maknyus dengan tambahan rusip. Di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional bisa ditemukan dalam botol plastik ukuran 200 ml seharga Rp 25 ribu.

Calok dari Udang Mini

Banyak dipajang di toko-toko oleh-oleh ataupun di pasar, yang satu ini juga menjadi hidangan khas di meja makan. Sama-sama diberi wadah botol transparan, hanya calok terlihat muncul dalam warna kemerahan karena terbuat dari udang kecil yang masih segar atau warga setempat menyebutkan udang cencalo alias rebon. Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan rusip. Udang terlebih dulu dicuci bersih kemudian dibubuhi garam yang berfungsi  sebagai pengawet.

Calok sama halnya dengan rusip membikin selera makan meningkat. Dipadu dengan nasi ditambahkan lalapan seperti mentimun, tomat atau sayuran lain. Harga per botol dengan ukuran minuman 200 ml sekitar Rp 35 ribu.

sambal ala Belitung dibuat dari berbagai macam bahan. Bisa jadi alternatif oleh-oleh.
Sambal Ala Belitung mempunya bahan yang bermacam-macam, semuanya bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Rita N.-TL

Belacan Sijok

Terasi menjadi hasil olahan yang banyak ditemukan di daerah pesisir, demikian juga di provinsi Bangka Belitung. Di Kepulauan ini, terasi yang bisa diolah menjadi sambal atau menjadi penyedap berbagai sajian tersebut bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau yang lebih beragam di pasar. Saya menemukan terasi dari Belitung maupun Bangka di toko oleh-oleh. Di Belitung yang terkenal terasi dari Desa Sijok dalam kemasan anyaman pandan.

Namun karena saya kemudian saya berbelanja di pasar, saya menemukan potongan besar terasi dalam warna khas keunguan. Olahan dari rebon segar itu tinggal dipotong-potong sesuai keinginan pembeli. Rasanya memang cukup tajam dan sedikit kasar ketimbang terasi yang telah dikemas rapih.

Bila tak mau repot, Anda pun bisa membeli sambal terasi yang siap saji. Sudah dilengkapi dengan cabe merah sehingga botol sambal ini terlihat merah menggoda. Per botol pada kisaran 25 ribu. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun di pasar.

Tauco Keledai Utuh

Seperti halnya terasi, tauco juga tak hanya dikenal dari satu daerah. Di Jawa Barat tauco Cianjur, tapi ada pula tauco Pekalongan, dan kemudian Medan dan Kalimantan. Di Belitung pun, tauco menjadi salah satu pilihan untuk olahan sambal atau dipadu dengan bahan makanan lain. Hanya terlihat berbeda dari tauco umumnya, meski Anda hanya melihatnya sekilas. Pada umumnya tauco, kedelai sudah tidak terlihat bentuk utuhnya alias sudah hancur, paling hanya beberapa potongan kecil yang tampak. Berbeda dengan tauco Belitung, kacang kedelai terlihat utuh dan warnanya tidak cokelat tua melainkan kekuningan.

Dalam pengolahannya sambal tauco dibuat encer dengan ditambahi bawang putih, cabe rawit, jeruk songkit, dan gula pasir. Tak hanya dipadu dengan nasi tapi juga menjadi sambal paduan untuk otak-otak. Tauco ini bisa ditemukan di pasar dan toko oleh-oleh, per botol pada kisaran Rp 25-30 ribu. l

agendaIndonesia/Rita N./TL

*****

4 Warung Sate Terpopuler di Ponorogo

Sate ayam Ponorogo merupakan makanan khas kota di Jawa Timur ini. Foto: shutterstock

Ini 4 warung sate terpopuler bagi pecinta kuliner sate, utamanya sate ayam khas Ponorogo. Kota yang terletak di wilayah barat daya provinsi Jawa Timur ini sudah kadung dikenal dengan kuliner sate ayamnya yang punya karakteristik unik dan punya banyak penggemarnya sendiri.

4 Warung Sate Terpopuler

Seperti bagaimana sate Ponorogo identik dengan potongan dagingnya yang cenderung tipis. Ini dikarenakan cara memotong daging ayamnya dengan cara diiris tipis atau fillet. Cara ini berbeda dengan sate ayam Madura, misalnya, yang dagingnya dipotong dadu atau lebih tebal. Disinyalir, metode ini membantu mengurangi kadar lemak di dalam daging.

Reog Ponorogo merupakan seni tari sejak abad 11. Foto: shutterstock
Ini 4 warung sate terpopuler di Ponorogo yang asyik dinikmati setelah nonton Reog Ponorogo. Foto shutterstock

Keunikan lainnya adalah proses marinasi daging saat akan disajikan. Sate Ponorogo dikenal dengan cita rasanya yang begitu gurih dan legit karena dagingnya direndam di dalam bumbu terlebih dulu sebelum dibakar. Dan saat proses pembakaran pun, daging akan terus dilumuri bumbu agar cita rasanya benar-benar meresap.

Bumbu kacangnya juga terbilang unik. Kalau sate pada umumnya disajikan menggunakan kecap atau bumbu kacang yang pekat dan kental, sate Ponorogo disajikan dengan bumbu kacang yang terbuat dari kacang tanah sangrai dan gula merah. Wujudnya terlihat lebih terang dari bumbu kacang umumnya, dengan tekstur lebih lembut dan rasa yang manis nan gurih.

Bahkan, begitu populernya kuliner sate di Ponorogo, hingga terdapat sebuah area di kota tersebut yang berisi deretan pedagang sate, bernama Gang Sate. Setidaknya dapat ditemui sekitar belasan warung sate yang kerap ramai pengunjung. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari mereka bisa menjual ribuan tusuk sate, bahkan puluhan ribu tusuk sate saat akhir pekan dan hari libur.

Pun demikian, warung sate sejatinya bisa ditemui dengan mudah di hampir setiap sudut kota reog tersebut. Masing-masing dari mereka juga punya keunikan tersendiri, dan tak kalah ramai oleh pengunjung. Berikut ini adalah 4 warung sate terpopuer di Ponorogo dan kerap jadi rekomendasi.

  1. Sate Ayam H. Tukri Sobikun

Bisa dibilang, inilah salah satuy dari 4 warung sate terpopuler dan paling legendaris di Ponorogo. Usaha warung sate yang sudah dirintis sejak 1965 ini adalah salah satu yang tertua, dan juga yang termasuk turut mempopulerkan makanan ini sebagai kuliner khas Ponorogo. Lokasinya berada di area Gang Sate, tepatnya di Jalan Lawu nomor 43K.

Ini 4 warung sate terpopuler di Ponorogo, salah satunya Sate Sobikun.
Ini salah satu dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo, Sate Tukri Sobikun.

Warung sate ini terkenal dengan bumbu kacangnya yang khas, dengan rasa cenderung pedas manis. Ketika sate disajikan pun, bumbunya akan dipisah di dalam mangkok dalam porsi yang cukup banyak, sehingga pengunjung tak perlu khawatir kehabisan bumbu. Satenya juga tak kalah unik, karena potongan dagingnya cenderung lebih besar ketimbang umumnya.

Sate Ponorogo lazimnya juga hanya menyajikan potongan daging tanpa bagian kulit atau lemaknya. Tetapi, di warung ini pengunjung juga bisa memesan sate yang dicampur dengan bagian kulit dan lemak. Dalam seporsi sate berisi 10 tusuk, yang khusus daging saja harganya Rp 36 ribu, sementara yang campur dihargai Rp 38 ribu.

Tak cuma itu, sate buatan mereka diklaim tahan cukup lama untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, sehingga kini mereka juga menyediakan paket sate isi 10 hingga 25 tusuk di dalam kotak, atau isi 30 tusuk ke atas di dalam besek bagi pengunjung yang ingin membawa oleh-oleh sate Ponorogo dari warung ini.

Buka dari jam 05.00 hingga 20.00, warung ini kerap sudah ramai dari pagi. Ada yang datang karena memang ingin makan di tempat, tapi ramai pula yang datang membeli untuk oleh-oleh. Maka jangan heran bila pelanggannya berkisar dari warga lokal, wisatawan, hingga figur publik sekelas presiden.

  • Sate Ayam Pak Mesiran

Sate Ayam Pak Mesiran, yang berada di jalan Gajah Mada nomor 11 juga termasuk satu dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo yang ikonik. Sudah berjualan sejak 2001, warung ini dikenal dengan satenya yang otentik dan nikmat, namun dengan harga yang bersahabat di kantong. Satu porsinya hanya dibandrol Rp 17 ribu saja.

Meski terhitung murah, namun sate yang disajikan tak pelit dengan porsi dagingnya yang banyak dan cukup besar. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa memilih varian sate yang diinginkan sesuai selera, mulai dari sate daging ayam, sate kulit ayam, serta sate campur daging dan kulit.

Bumbu kacangnya juga terasa lembut dan creamy dengan cita rasa gurih, manis dan pedas yang berpadu nikmat. Ketika sate disajikan, akan disediakan pula bumbu terpisah di piring, sehingga tak perlu takut bumbunya kurang. Sate Ayam Pak Mesiran buka setiap hari dari jam 08.00 sampai 20.00.

  • Sate Ayam Pak Kisul

Tempat lain dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo lainnya yang unik dan menarik untuk dicoba adalah sate ayam pak Kisul, yang terletak di Jalan Barito nomor 30. Warung usaha keluarga yang sudah turun temurun hingga empat generasi ini buka dari jam 16.00 sampai 21.00, cocok untuk yang ingin berwisata kuliner di malam hari.

Sate ayam di sini agak sedikit berbeda, dari segi ukuran terlihat sedikit lebih kecil. Meski demikian, dagingnya tetap terasa empuk dan juicy. Dan yang lebih istimewa lagi, cita rasa bumbunya yang gurih dan pedas begitu terasa di lidah. Usut punya usut, kuncinya terletak pada metode marinasi yang dilakukan.

Setelah sate direndam di dalam bumbu marinasi, sate kemudian dikeringkan terlebih dulu sebelum dimasak. Ini bertujuan untuk membiarkan bumbunya betul-betul meresap ke dalam dagingnya. Sensasi daging sate yang sudah termarinasi sedemikian rupa, dipadu dengan bumbu kacang yang lebih kental serta kecap, semakin menambah unik sate di warung ini.

Dan semua keunikan itu hanya perlu ditebus dengan harga yang ringan di kantong. Satu porsi sate ayam di warung ini hanya dihargai Rp 12 ribu saja. Tak mengherankan jika selain menjadi salah satu wisata kuliner malam hits di Ponorogo, banyak pula yang menyambangi warung ini dari sore hari untuk sekedar nongkrong sambil menyantap sate.

Sate Ayam Ponorogo shutterstock
  • Sate Ayam Pak Imun

Bicara soal kuliner malam di Ponorogo, maka tak bisa melewatkan sate ayam pak Imun, satu dari 4 warung sate terpopuler  dan salah satu ikon kuliner malam kota reog itu. Bahkan, sejatinya tidak perlu menunggu malam untuk bisa datang ke sini, karena warung sate yang bertempat di Jalan Soekarno-Hatta nomor 240 ini buka 24 jam setiap harinya.

Sate di sini terbuat dari daging ayam kampung pilihan, yang menjadikannya terasa lebih empuk, padat dan juicy. Potongan dagingnya pun terbilang besar-besar, diiris memanjang dan pipih. Bumbu kacangnya juga khas, dengan tekstur lebih kental dan ditaburi dengan bawang goreng yang gurih nan renyah.

Tak lupa, sambal pedas nan segar yang terbuat dari cabe rawit, bawang merah, bawang putih dan tomat yang turut melengkapi. Dan sebagai pasangannya, pengunjung bisa memilih mau dengan nasi, lontong atau ketupat. Adapun harga satu porsinya berkisar dari Rp 22 ribu sampai 25 ribu.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Bodhi dan Pagoda 45 Meter di Watugong

Pesona Bodhi dan Pagoda Setinggi 45 Meter di Watugong, Semarang

Bodhi dan Pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong di Semarang diyakini penganut agama Budha sebagai salah satu vihara penting dalam penyebaran agama Buddha di pulau Jawa.

Bodhi dan Pagoda

Langit kelabu mulai menggelayut seakan bersiap menyambut senja. Semilir angin menampar dedaunan pohon Bodhi di pelataran Vihara Buddhagaya Watugong, yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Semarang, Jawa Tengah. Meski memiliki batang pokok relatif pendek, pohon bernama latin Ficus religiosa itu memiliki banyak dahan dan ranting serta berdaun lebat. Usianya diperkirakan lebih dari 80 tahun!

Oey Poen Kiat, pemandu wisata yang menemani saya, mengatakan pohon Bodhi itu boleh dibilang merupakan situs sejarah. Menurut dia, pohon tersebut dibawa langsung dari Sri Lanka oleh seorang biksu bernama Narada. “Narada Mahatera datang ke Indonesia membawa dua pohon Bodhi pada 1934. Keduanya ditanam di kawasan Borobudur, Magelang. Namun, pada 1955, salah satu pohon dibawa dan ditanam di halaman Vihara Buddhagaya ini,” ujar Oey tentang pesona Bodhi dan Pagoda.

Dalam agama Buddha, Oey menyebutkan, pohon ini dipercaya sebagai tempat Sang Buddha Gautama bermeditasi dan memperoleh pencerahan agung. Mungkin, karena itu pula, di bawah pohon terdapat patung Buddha berwarna emas yang tengah bersila. Pria berusia 65 tahun itu juga meyakini Vihara Buddhagaya Watugong merupakan vihara pertama yang menyebarkan agama Buddha di Pulau Jawa, setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit.

Pesona Bodhi dan pagoda setinggi 45 meter di Vihara Watugong, Semarang, jawa Tengah.
Pesona Bodhi dan pagoda di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang, Jawa Tengah. Foto: N. Dian/TL

Tak jauh dari pohon Bodhi, menjulang PagodaAvalokitesvara. Pagoda ini memiliki warna cerah yang menyita perhatian. Yang menarik, pagoda dibuat tujuh tingkat untuk melambangkan makna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesuciannya pada tingkat ketujuh. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15X15 meter. Tingginya disebut mencapai 45 meter.

Tingkat satu menjadi tempat bersembahyang. Di tingkat 1 ini, terdapat pula patung Kwan Im Po Sat, yang tingginya sekitar 5,1 meter. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Welas Asih, yang menghadap empat penjuru mata angin. Hal ini bertujuan agar Sang Dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah. Sedangkan pada tingkat ketujuh, terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia.

Di puncak pagoda terdapat stupa untuk menyimpan relik mutiara Sang Buddha. Namun sayangnya, pengunjung tidak dapat ke puncak pagoda karena tidak disediakan tangga untuk mengakses puncaknya. Patung di pagoda yang disebut juga sebagai Pagoda Metta Karuna, yang berarti pagoda cinta dan kasih sayang, itu berjumlah 30 buah.

Pembangunan pagoda, diperkirakan Oey, berbarengan dengan ditanamnya pohon Bodhi. Kemudian direnovasi pada 2006. Pagoda Avalokitesvara, yang identik dengan perpaduan warna merah dan kuning khas bangunan Cina, diresmikan pada tahun yang sama oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.

Bukan hanya bangunan pagoda yang mempunyai daya tarik, keberadaan dua gazebo yang mengapit di kanan dan kiri bangunan yang digunakan untuk tambur dan lonceng juga memikat. Sama memikatnya dengan patung Buddha tertidur di samping bangunan pagoda. Ya, Pagoda Avalokitesvara memang bisa dikatakan sebagai ikon dari kawasan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, yang berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare.

Selain Pagoda Avalokitesvara, bangunan lain yang mencolok di kawasan hijau dan asri ini adalah Vihara Dhammasala. Lokasinya tak jauh dari pagoda, dibangun pada 1955. Terdiri atas dua lantai, bentuknya segi empat. Di dalamnya terdapat patung Buddha berlapis emas dengan ukuran besar.

Sebelum memasuki Vihara Dhammasala, pengunjung sebaiknya mengikuti ritual khusus, yakni menginjak relief ayam, ular, dan babi, yang ada di lantai pintu masuk. Relief-relief ini memiliki arti khusus. Ayam melambangkan keserakahan, ular melambangkan kebencian, dan babi melambangkan kemalasan. “Melalui ritual ini, diharapkan umat yang beribadah dapat menghilangkan ketiga karakter yang ada di badan setiap manusia, hingga pada akhirnya bisa masuk surga,” Oey menjelaskan.

Semua unsur di bangunan ini memiliki makna, termasuk dinding sekeliling vihara. Dindingnya dihiasi relief Paticca Samuppada, yang menceritakan tentang proses hidup manusia, dari mulai lahir hingga meninggal. Selain sebagai tempat ibadah, vihara merupakan tempat untuk melakukan kegiatan sosial. Di kompleks vihara, ada satu bangunan yang digunakan sebagai kegiatan belajar masyarakat setempat. Ada pula taman membaca yang dapat dipakai untuk semua agama.

Di area ibadah ini juga terdapat penginapan. Terbuat dari kayu dan bentuknya seperti rumah panggung. Biasanya dijadikan tempat tinggal pengunjung vihara saat ada acara-acara keagamaan.

agendaIndonesia/Andry T./N. Dian/TL