Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang (2)

Toko Oen Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang. Foto shutterstock

Ini bagian ke dua 8 kuliner tradisional khas Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Nah ini 8 kuliner tradisional khas Malang.

Kota Malang shutterstock
Salah satu landmark Kota Malang. Foto: shutterstock

Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang

  • Toko Oen Malang

Malang tak hanya dikenal dengan destinasi kuliner main course saja, tapi beberapa kedai kudapannya juga menarik untuk dicoba. Seperti misalnya Toko Oen Malang, yang sudah berjualan penganan cemilan seperti es krim dan produk pastry seperti roti, kue basah dan kue kering sejak 1930.

Nuansa era pra kemerdekaan itu masih amat kental terasa dari gaya eksterior dan interior bangunannya, yang masih dipertahankan dan kini telah menjadi cagar budaya. Plang tulisan berbahasa Belanda dan barisan pramuniaga berseragam pelayan ala Eropa tempo dulu akan menyambut pengunjung begitu memasuki kedai ini. Ini satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang.

Faktanya, Toko Oen merupakan sebuah rantai usaha kedai makanan ringan yang pertama kali buka di Yogyakarta pada 1910, sebelum kemudian membuka cabang-cabang lainnya seperti di Semarang, Malang dan Jakarta. Pada perkembangannya, kedai di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup dan menyisakan cabang di Semarang dan Malang saja.

Bahkan, Toko Oen Malang secara kepemilikan sudah tak lagi dipegang oleh keluarga pemilik usaha aslinya, karena mereka kini hanya fokus mengelola cabang Semarang. Namun tak perlu khawatir, karena pengelola yang baru memastikan bahwa otentisitas dan kualitas menu-menu yang ditawarkan di kedai ini tetap dipertahankan.

Berada di area pusat kota, tepatnya jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 5 yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang, Gereja Kayutangan dan pusat perbelanjaan Sarinah, menjadikannya lokasi yang strategis bagi siapapun untuk berkunjung dan klangenan, melepas penat sambil menyantap ragam kudapan ringan yang ditawarkan.

Es krim buatan homemade menjadi salah satu menu primadona. Pengunjung bisa memilih es krim single scoop dengan pilihan rasa seperti coklat, vanilla, mocca, strawberry, sampai durian. Selain itu, tersedia juga varian kombinasi dan sundae seperti tutti frutti, napolitaine, banana split, tropicana cream, chocolate parfait, dan sebagainya.

Menu makanan ringan dan salad mereka juga banyak diminati pengunjung. Mayoritas merupakan makanan yang bergaya Belanda karena kedai ini dulunya digemari orang-orang Belanda. Contohnya pilihan pastry seperti saucijzenbrood, kippenbrood dan garnalebrood yang sejatinya adalah roti puff dengan isian daging giling sapi, ayam dan udang.

Ada pula pilihan salad seperti huzarensalade, italiaansesalade, dan groentensalade, yakni salad daging, salad ayam dan salad sayur serta buah-buahan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu main course seperti steak, burger, galantin, dan sandwich yang terbilang cukup digemari.

Yang menjadi catatan, karena memang sejak dulu didesain untuk menjadi kedai kudapan kelas atas, harga makanannya juga tak bisa dibilang murah. Seperti es krim yang punya range harga dari Rp 25 ribu hingga 60 ribu, atau salad yang berkisar dari Rp 35 ribu sampai 50 ribu. Makanan main course seperti steak juga dihargai mulai dari Rp 75 ribu sampai 80 ribu.

Tetapi, pengunjung datang ke sini bukan hanya membeli cita rasa makanannya, tetapi juga membeli pengalaman selayaknya kembali ke era kolonial; melihat dan merasakan bagaimana suasana nongkrong di masa itu, sambil menyicipi menu-menu otentik yang menjadi kegemaran kaum Belanda tempo dulu.

  • Orem Orem Arema

Nama makanan yang satu ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar orang, tapi tetap menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para pemburu 8 kuliner tradisional khas Malang. Dan kedai penjual orem orem paling hits di Malang adalah Orem Orem Arema, yang berada di jalan Blitar nomor 14.

Orem orem sejatinya merupakan jenis makanan berkuah yang berisikan potongan tempe, ketupat, ayam suwir, telur asin, taoge dan ditaburi bawang goreng. Adapun kuahnya terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, daun salam, lengkuas, daun jeruk, ketumbar, dan kemiri yang diolah dengan menggunakan santan.

Orem-orem Malang satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang
Orem-orem Malang. Foto: shutterstock

Kemunculan makanan ini disinyalir berawal dari kehidupan masyarakat di masa pra kemerdekaan. Saat itu, untuk sekedar bisa membuat dan makan soto ayam atau daging saja terasa sulit, karena kelangkaan dan harga daging ayam dan sapi yang oleh sebagian besar kalangan saat itu dianggap mahal.

Oleh karena itu, beberapa orang kemudian berkreasi membuat makanan sejenis soto dengan menggunakan isian potongan tempe, yang dianggap lebih terjangkau. Dari situ, orem orem kemudian hadir sebagai alternatif soto pada umumnya. Bahkan, tak jarang ia khusus disajikan dalam hajatan tertentu saja.

Meski demikian, pada perkembangannya kebanyakan orem orem yang bisa ditemukan saat ini sudah dilengkapi dengan beberapa tambahan isian di dalamnya. Seperti halnya di Orem Orem Arema, dimana pengunjung dapat memilih orem orem original atau dengan tambahan telur dan ayam suwir.

Dan sejak mereka mulai berjualan pada 1995, mereka terus menjadi salah satu rekanan utama kedai orem orem di Malang. Cita rasa gurih dan segarnya orem orem yang otentik menjadi daya tarik utama. Apalagi, dengan harganya yang hanya dibandrol Rp 8 ribu untuk orem orem original, serta Rp 11 ribu dengan tambahan telur asin dan Rp 12 ribu dengan tambahan ayam suwir, membuatnya sangat ramah kantong.

  • Tahu Lontong Lonceng

Satu lagi rekomendasi 8 kuliner tradisional khas Malang legendaris adalah Tahu Lontong Lonceng. Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 66, kedai tahu lontong yang sudah berjualan sejak 1935 ini dulunya berada di bawah sebuah tugu lonceng milik Belanda, sehingga pelanggannya kemudian kerap memanggilnya sebagai Tahu Lontong Lonceng.

Secara tampilannya, kedai ini cenderung terlihat kecil dan sederhana. Pun demikian dengan menunya, yang secara umum menawarkan tiga jenis makanan: tahu telur dengan lontong, tahu telur dengan nasi, serta tahu lontong tanpa telur. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp 11 ribu untuk tahu lontong tanpa telur, dan Rp 13 ribu untuk tahu telur dengan lontong maupun nasi.

Tahe Tek shutterstock
Tahu Tek yang mirip Tahu Lontong. Foto: shutterstock

Dilihat dari penampilannya pun, ia terlihat seperti kuliner olahan tahu dan lontong pada umumnya. Dalam satu porsinya, terdapat irisan tahu dan taoge, dengan atau tanpa telur, yang dilumuri bumbu kacang dan disajikan dengan lontong atau nasi, serta dapat disantap dengan beberapa pilihan kerupuk.

Namun, satu hal yang membuatnya unik adalah hampir semua bahan bakunya dibuat sendiri alias homemade. Hal ini dilakukan agar dapat senantiasa menjaga tahu lontong buatannya selalu dengan cita rasanya yang otentik. Seperti tahunya yang dikenal terasa lembut, serta bumbu kacangnya yang berpadu gurih.

Otentisitas rasa, ditambah dengan harga yang ekonomis, membuatnya masih banyak digemari orang dari berbagai kalangan, dari warga sampai wisatawan, baik orang kantoran sampai anak kuliahan. Tak heran, jika kedai kecil yang buka dari jam 11.00 hingga jam 22.00 ini masih kerap dipenuhi pengunjung setiap jam makan siang dan malam.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Sate Buntel Solo, 2 Tusuk Serasa 10 Tusuk

Sate Buntel Solo SHUTTERSTOCK

Sate buntel Solo adalah keunikan kuliner kota Solo yang sering menjadi target untuk dinikmati lagi dan lagi. Banyak orang yang belum pernah mencicipinya beranggapan sate ini sama saja dengan sate, terutama yang berbahan daging kambing, lainnya.

Sate Buntel Solo

Sate buntel Solo punya perbedaan yang signifikan dengan sate-sate lainnya. Sate ini umumnya menggunakan daging kambing, meskipun belakangan ada pula yang mencoba menggunakan daging sapi. Perbedaan sate kambing biasa dan sate buntel terletak pada pengolahan daging kambingnya.

Pada sate kambing reguler, sebut saja begitu untuk membedakannya, menggunakan daging yang dipotong kecil-kecil lalu setiap 3-5 potong ditusuk dengan potongan bambu atau kayu. Sementara itu, sate buntel ini menggunakan daging yang dicincang lembut.

Dalam proses pembuatannya, daging kambing dicincang sampai lembut lalu dicampur dengan bumbu-bumbu khusus. Karena bumbu dicampurkan pada daging cincang yang lembut, rasa bumbu terserap dengan sempurna. Tapi itu belum semua.

Setelah bumbu dan daging tercampur penuh, kemudian ‘adonan’ itu dibentuk kepalan pada tusuk sate yang terbuat dari bambu. Tusuk sate ini lebih besar dari tusuk sate pada umumnya, agar kepalan daging tersebut bisa menempel pada tusuk satenya. Setelah berbentuk kepalan, daging kambing itu dibungkus atau dibentel dengan lapisan lemak daging, lalu di bakar hingga matang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bumbunya betul-betul meresap ke dalam daging.

‘Buntel’ dalam bahasa Jawa berarti ‘bungkus’ atau ‘balut’. Hal tersebut mengacu pada daging kambing cincang yang di-buntel  menggunakan lemak daging kambing tipis sebelum dibakar.

Sate buntel biasanya disajikan dengan saus kecap manis dan beberapa bahan pelengkap seperti irisan tomat, cabe, bawang merah dan kubis atau kol. Untuk menambah rasa pada saus kecap biasanya ditambahkan merica bubuk, sehingga menambah kelezatan pada saus kecap ini.

Cara menikmati sate buntel ini juga unik. Meskipun saat dibakar ia menggunakan tusukan dari bambu, namun umumnya saat disajikan tusukan satenya dicabut dan hanya bungkusan dagingnya yang sampai di meja. Secara original, makan sate buntel biasanya dilakukan termasuk dengan lemak dagingnya. Namun, kadang ada yang menikmatinya dengan membuka bungkusan lemaknya. Mungkin untuk mengurangi efek lemaknya… ahh.

Begitupun, mana cara yang dipilih, sate buntel harus disantap ketika masih panas, karena pada saat keadaan masih panas, lemak yang membungkus daging masih meleleh. Sehingga memberikan sensasi yang khas saat menyantapnya. Teman makannya biasanya nasi putih, meskipun kadang ada yang menyandingnya dengan nasi goreng. Terserah saja.

Lalu mana saja sate buntel yang paling enak di Solo? Rasanya semuanya sama enaknya. Namun, jika ingin lebih pasti, ada beberapa warung sate buntel yang cukup legendaris di kota ini.

Pertama, tentu saja Sate Buntel Tambak Segaran. Nama ini dulunya diambil dari jalan tempat kedainya berjualan. Letaknya strategis, ada di antara dua pasar berskala besar, yakni Pasar Gede Hardjonagoro (di sebelah timur-selatannya) dan Pasar Legi (di sebelah barat-utaranya). Kini nama jalannya telah berubah menjadi jalan Sutan Syahrir. Kedainya buka di nomor 39.

Peringatan saja, bagi wisatawan muslim, hati-hati jika hendak menuju ke warung ini. Dalam satu deret ada dua warung sate buntel, pastikan masuk ke warung yang berjualan daging kambing. Sebab, warung lainnya yang hanya berselisih dua warung, menggunakan daging non-halal.

Buntelan daging kambingnya cukup besar. Satu porsi sate buntel biasanya berisi dua buntelan daging. Meski cuma dua, porsinya rasanya sama saja dengan 10 tusuk sate kambing reguler. Selain sate buntel, di warung ini penggemar kuliner bisa menikmati berbagai menu lain seperti sate kikil (kaki kambing) dan gulai kambing.

Pilihan ke dua adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak, lokasinya ada di Jalan Ki Mangun Sarkoro nomor 112. Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1980 dan digemari banyak pejabat pemerintahan Indonesia. Konon, sate buntel dari tempat ini digemari mantan Presiden Suharto dan sejumlah menterinya. Selain sate buntelnya, yang juga banyak dipesan adalah thengkleng-nya.

Jika masih masih penasaran, bisa mencoba Sate Warung Sate Kambing Pak Manto yang terletak di Jalan Honggowongso 36, Solo. Meskipun di sini sate buntelnya juga enak, namun yang lebih dikenal adalah thengkleng kambing bumbu rica-rica.

Sate Buntel Solo Pak Manto

Pilihan sate buntel lainnya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Ini mulai terkenal ketika pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia dan kegemaran kulinernya diungkap di media massa. Salah satunya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Berlokasi di Jalan Sungai Sebakung, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo. Selain bisa memesan sate buntel khas Solo di sini, ada pula ragam olahan kambing lainnya seperti tengkleng, sate kambing reguler, juga tongseng.

Ayo kapan-kapan agendakan kuliner kambingmu ke Solo dan menjajal sate buntel langsung di asalnya.

agendaIndonesia

*****

Pia Apple Pie Bogor, Manisnya Sejak 1999

Pie Apple pie Bogor pilihan oleh-oleh yang manis berbahan apel.

Pia Apple Pie sudah jadi nama yang begitu lekat dengan kota Bogor, Jawa Barat. Acap kali siapapun sedang mampir ke kota hujan ini, tempat ini seperti menjadi salah satu pilihan membeli oleh-oleh atau bahkan untuk sekedar nongkrong.

Pia Apple Pie Bogor

Seperti namanya, tempat ini memang menawarkan homemade apple pie sebagai dagangan utamanya. Tetapi pelancong juga dapat menemukan berbagai jenis pie dengan beragam isian serta ukuran dan bentuknya di sini.

Telah memulai usahanya sejak 1999, Pia Apple Pie Bogor berawal dari kreasi resep rumah tangga dari para penggagasnya. Dari niat berkreasi tersebut, muncullah berbagai menu-menu cemilan yang kemudian mereka coba jajakan kepada khalayak luas.

Ternyata, sambutan publik Bogor cukup antusias, bahkan dari mulut ke mulut nama tempat ini mulai dikenal semakin banyak orang. Peminat yang kemudian datang pun tidak hanya dari dalam kota, namun juga pelancong luar kota yang berwisata ke Bogor dan mencari oleh-oleh.

Pie Appel Pie
Pia Apple Pie Bogor tak cuma pie apel, ada pelbagai pilihan lain.

Sejak saat itu, Pia Apple Pie menjadi ikon tersendiri dalam khasanah kuliner dan oleh-oleh khas Bogor. Dalam hari biasa saja, mereka rata-rata mampu menjual sekitar 200 loyang pie dengan beragam pilihan rasanya. Pada hari libur nasional, angka ini bisa melonjak tiga kali lipat.

Populeritas yang diraih Pia Apple Pie Bogor memang tak lepas dari menu-menu kudapan yang begitu unik dan menarik kala kemunculannya. Terutama tentunya adalah ragam pilihan pie seperti apple pie atau chicken pie yang menggoda lidah.

Pie umumnya adalah makanan mirip kue kering yang dipanggang dan mempunyai kulit yang renyah seperti pastel. Biasanya diberi isian (filiing) yang manis seperti buah, selai, coklat atau daging seperti ayam dan ikan di dalamnya, atau di bagian atasnya (topping).

Di Pia Apple Pie, apple pie buatan mereka terlihat mirip seperti pastel yang kulitnya tipis, renyah dan gurih. Dipadukan dengan isian selai apel serta potongan buah apel yang memberi sensasi rasa manis dan asam, membuatnya jadi cemilan yang begitu unik.

Jika pelancong tak suka rasa apel, masih tersedia pilihan isian rasa lainnya. Mulai dari chocolate pie, bluberry pie, sampai blueberry cheese pie. Kesemuanya juga tersedia dalam beragam ukuran, dari small, medium hingga large. Bahkan terdapat pula pie dengan bentuk hati.

Kalau pengunjung sedang tak mencari yang manis-manis, ada juga pilihan menu utama lainnya yakni chicken pie. Secara wujud ia mirip dengan apple pie, namun isiannya adalah racikan bumbu ayam dan jamur. Di atasnya juga diberi keju panggang garing yang menambah cita rasa.

Seiring berjalan waktu, Pia Apple Pie Bogor memang terus berkreasi dan berinovasi agar dapat mempertahankan animo pelanggan. Beberapa menu baru pun bermunculan, misalnya biscuit pie yang punya pilihan rasa seperti apel, blueberry, blueberry cheese dan Nutella hazelnut.

Selain itu ada pula tarte tatin, yaitu resep kue panggang asal Prancis yang terdiri dari kulit kue renyah di bawahnya, dengan topping buah berlapis karamel di atasnya. Di tempat ini, tarte tatin tersedia dengan pilihan topping leci, peach dan fruit cocktail.

Ada juga pilihan pie berukuran mini untuk dikonsumsi secara personal. Pilihannya dari apple pie, chicken pie hingga cheese pie. Lalu pilihan lainnya adalah apple strudel, kue kering ala Austria yang didalamnya berisi potongan apel, kismis, serta paduan rum dan kayu manis.

Dan yang tak kalah menarik adalah picnic roll, yaitu kue puff yang di dalamnya diisi dengan paduan daging giling, telur dan lain lain. Tersedia pilihan ukuran reguler atau personal yang lebih kecil.

Pia apple pie Bogor menjadi pilihan oleh-oleh khas Bogor.
Kedai Pia Apple Pie Bogor di Jalan Pangrango 10, Bogor. Foto: Pemkab Bogor.

Yang perlu dicatat, semua penganan di sini dibuat tanpa bahan pengawet. Kendati demikian, Pia Apple Pie Bogor menjamin makanan buatan mereka bisa tahan sekitar dua hingga empat hari pada suhu ruangan, atau kira-kira sekitar dua minggu jika diletakkan di kulkas.

Untuk harga, pie ukuran besar harganya berkisar dari Rp 125 ribu sampai Rp 145 ribu. Kemudian pie ukuran medium dari Rp 69 ribu hingga Rp 77 ribu. Adapun pie ukuran kecil harganya sekitar Rp 35 ribu sampai Rp 47 ribu.

Sementara itu, pilihan kudapan lain seperti biscuit pie harganya berkisar dari Rp 52 ribu hingga Rp 72 ribu, tergantung pilihan rasa. Tarte tatin ukuran kecil dihargai Rp 44 ribu, sementara yang medium Rp 125 ribu.

Pie ukuran mini harganya Rp 10 ribu untuk semua pilihan rasa. Kemudian apple strudel dihargai Rp 74 ribu. Adapun picnic roll ukuran personal harganya Rp 68 ribu, sedangkan ukuran reguler Rp 120 ribu.

Selain tempat membeli oleh-oleh, Pia Apple Pie juga cocok untuk jadi tempat nongkrong dan bersantai dengan teman dan keluarga. Tersedia tempat duduk di dalam rumah tua bergaya kolonial, dan balai-balai kecil untuk berkumpul sambil menikmati kudapan fresh from the oven.

Bahkan kini Pia Apple Pie juga menawarkan menu-menu main course unik dengan olahan saus apel. Seperti misalnya apple fried rice, spaghetti apple sauce, iga bakar saus apel, apple salad dan lain lainnya. Harga makanannya pun cukup terjangkau, dari Rp 20 ribu hingga Rp 55 ribu.

Jangan lupa pula untuk mencoba bajigur dan bandrek apel di sini yang begitu unik dan melegenda. Konon, minuman ini dipilih oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu konsumsi dalam acara resepsi pernikahan anaknya.

Pia Apple Pie buka setiap hari dari jam 08.00 sampai jam 20.00 pada weekdays dan jam 21.00 saat weekend. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0251) 8324169 atau kunjungi akun resmi Instagram @pia_applepie.

Pia Apple Pie; Jl. Pangrango no. 10, Bogor

Telp. (0251) 8324169

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pulau Morotai Di Maluku Utara Dengan 33 Surganya

Wings Air rute Ternate-Morotai mulai terbang lagi

Pulau Morotai masih jarang diperbincangkan dalam peta pariwisata Indonesia. Sekitar lima tahun lalu, kawasan ini sempat disebut-sebut ketika pemerintah hendak mendorongnya sebagai salah satu sentra industri kelautan. Belakangan rencana ini seperti agak memudar.

Pulau Morotai

Morotai sendiri merupakan nama sebuah pulau di Kepulauan Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Pulau ini adalah salah satu pulau terluar di Indonesia.

Lucunya, meski berada di Kepulauan Halmahera, Morotai sendiri sejatinya adalah gugusan pulau-pulau kecil. Pulau ini merupakan yang terbesar dengan luas 2.400-an kilometer persegi.

Sebagai pulau yang terbesar, Morotai dikelilingi 32 pulau kecil. Sehingga totalnya gugusan ini ada 33 pulau. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh pulau yang berpenghuni, sisanya kosong alias tidak berpenghuni. Tujuh pulau yang berpenghuni adalah Morotai, pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele Kecil, pulau Ngele-ngele Besar, pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau.

Nama Morotai berasal dari pemberian nama Kerajaan Moro di Filipina. Kerajaan Morotai sendiri merupakan daerah jajahan Moro pada abad 15-17. Kerajaan Moro menamakan jajahan mereka dengan dua nama, yaitu Morotia yang berarti Moro daratan, dan Morotai yang berarti Moro lautan. Tapi, jauh sebelum itu, Morotai berada di bawah Kesultanan Ternate.

Sebagai pulau yang berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Filipina, Morotai pernah digunakan Jepang sebagai basis pertahanan mereka selama Perang Dunia II. Setelah itu, pulau ini diambil alih Sekutu dan digunakan sebagai landasan pesawat untuk menyerang wilayah Filipina dan Borneo Timur.

Karena itu, pulau ini banyak menyimpan sisa-sisa peningggalan Perang Dunia II. Ada gua persembunyian, landasan pesawat, juga kendaraan lapis baja yang masih utuh walaupun berkarat. Salah satu gua yang terkenal bernama Nakamura, yang jadi tempat persembunyian para tentara Jepang setelah Pulau Morotai diambil alih Sekutu. Nama tersebut diambil dari nama tentara Jepang, yang konon bersembunyi di sana selama 30 tahun.

Pada 2018, pemerintah memekarkan Morotai menjadi kabupaten. Pertimbangannya daya tarik pulau-pulaunya, keanekaragaman biota laut, dan pesona sejarah yang kuat. Pulau Morotai diyakini bakal menjelma menjadi salah satu wisata laut terindah. Bahkan tahun 2016 Morotai ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia untuk jadi 10 ‘Bali Baru’.

Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk yang ada saat ini adalah berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara. Kedua sub-etnis tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini.

Untuk menuju Morotai dari Jakarta, umumnya menggunakan penerbangan menuju Bandara Sultan Babullah Ternate. Penerbangan yang panjang, karena memakan waktu 3 jam 45 menit. Biasanya pesawat akan terbang tengah malam dari Jakarta dan tiba di Ternate sekitar jam 7 waktu setempat. Dari sini penerbangan dilanjutkan menuju pangkalan AU Leo Wattimena di Galela, Morotai sekitar lewat tengah hari. Penerbangannya sendiri cuma sekitar 45 menit, tapi umumnya harus menunggu, sebab jadwalnya belum cukup sering.

Sejatinya Morotai adalah salah satu surga milik Indonesia. Pulau-pulaunya masih belum banyak terjamah hiruk-pikuk pariwisata. Keindahan alam pulau-pulau di Morotai tak hanya tercermin lewat bawah lautnya, tapi juga daratannya. Hamparan pasir putih yang luas bisa memanjakan siapa pun yang menginjakkan kaki di sana. Panorama matahari terbit dan tenggelam menjadi salah satu momen paling dinanti wisatawan.

Ada setidaknya 28 titik penyelaman yang menyuguhkan keindahan bawah laut. Bisa jadi, ini adalah rangkaian keindahan dari Bunaken ke raja Ampat. Spot-spot penyelaman itu ada Tanjung Wayabula, Dodola Point, Batu Layar Point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya luar biasa indah, dengan perairan jernih berwarna biru tua. Biota lautnya tak terhingga, hidup di antara terumbu karang yang terawat.

Bila cukup punya nyali, cobalah mampir ke Pulau Mitita yang juga menjadi salah satu spot diving. Keistimewaannya, di sini wisatawan bisa berenang bersama hiu pada waktu tertentu.Rupanya sejumlah jenis hiu di sana sudah terbiasa berenang dengan penyelam.

Apa bila tak ingin menyelam dan hanya ingin menikmati keindahan pantainya, berenang pun bisa dilakukan sepuasnya. Bagian pinggir pantai cukup dangkal. Kegiatan  snorkeling ataupun berenang sangat direkomendasikan. Atau sekadar menikmati matahari terbit dan matahari tenggelam.

Nah yang terakhir ini mungkin bisa sambil menjelajahi Pulau Dodola. Pulau ini terdiri dari Pulau Dodola Besar dan Dodola Kecil. Uniknya, kedua pulau ini tersambung menjadi satu saat air laut sedang surut dan membantang jalan pasir yang menghubungkan keduanya.

Pulau Morotai Dermaga Daruba

Pulau Dodola terletak di sebelah barat Pulau Morotai. Dari Daruba, ibukota Morotai, perjalanan ditempuh dengan menggunakan seedboat menuju Pulau Dodola yang memakan waktu tempuh sekitar 20 menit. Jaraknya sekitar 12 kilometer. Sayangnya biaya sewa speedboad masih cukup mahal, sekitar Rp 1 juta untuk berangkat dan pulang.

Keindahan kedua Dodola Besar dan Kecil tidak berbeda jauh. Pasir pantainya sangat putih dan halus. Pemandangan lautnya yang hijau, jernih dan kebiruan.
Jika sedang surut, kedua pulau ini terhubungkan oleh pasir putih. Ya, pasir putih tersebut seolah jembatan tersembunyi. Panjangnya sekitar 500-an meter. Sungguh luar biasa dan sangat cantik. Wisatawan bisa berjalan di atas pasirnya sekitar 5 menit untuk menyeberang.

Jika pandemi telah lewat, ayo agendakan kunjunganmu ke Morotai.

agendaIndonesia

*****

Gudeg Yogya, Gara-gara Prajurit Hangudeg Masakan di Abad 16

Gudeg Yogya

Gudeg Yogya menjadi masakan yang dibenci tapi rindu oleh banyak penggemar kuliner Indonesia. Dibenci, karena masakan ini punya rasa manis yang jarang disukai orang dari luar Yogyakarta. Tapi dirindu, karena meski tak pernah makan gudeg di kota asalnya, wisatawan tetap saja mengagendakan menyantap masakan ini jika ke Yogya.

Gudeg Yogya

Selama ini orang menerima saja jika disebut gudeg adalah kuliner khas kota pelajar ini. Jarang yang mencari tahu bagaimana muasal makanan ini muncul di kota itu.

Sesungguhnya tak ada catatan yang pasti bagaimana asal-usul makanan ini. Begitupun ada sebuah buku hasil penelitian seorang guru besar sekaligus peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, namanya Murijati Gardjito. Istri almarhum penerbang TNI Angkatan Udara ini, menerbitkan buku hasil penelitiannya pada 2017.

Menurut Murdijati, kemunculan Gudeg diperkirakan bebarengan dengan pembentukan wilayah Yogyakarta. Ia memperkirakan, kemungkinan bahkan tepat sebelum kota ini ada.

Berdasar buku Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya karya Murdijati tersebut, sejarah gudeg dimulai kala abad ke-16. Makanan ini bahkan sudah ada sebelum Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berdiri. Konon, resep gudeg ditemukan pada masa Panembahan Senopati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam.

Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara yang dikenal sebagai Alas Mentaok. Para prajurit  Panembahan Senopati membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Alas ini ada di sebelah selatan Yogyakarta. Kawasan yang dibabat alas itu, kini lokasinya kira-kita ada di kawasan Kotagede. Ternyata di hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.

Nangka muda dan kelapa itu kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar yang diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung.

Dalam buku diceritakan, setelah ditebangi : “Para prajurit yang jumlahnya ratusan itu kemudian berusaha memasak nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam  ember besar yang terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu.”

Tentu saja makanan hasil masak para prajurit tersebut belum ada namanya. Belum ada nama “gudeg”. Para prajurit tersebut hanya mengatakan masakan itu dengan sebutan Hangudek, yang artinya mengaduk.

Karena yang menemukan dan mencoba mengolahnya adalah para prajurit, tentu saja, kuliner ini dulunya hanya populer di kalangan prajurit. Namun lambat laun diketahui ia mulai masuk dalam daftar kuliner para ningrat, dan juga masyarakat umum. Banyak yang menggemarinya, karena bahannya mudah ditemui dan rasanya yang lezat.

Dan sejarah kemudian mencatat, gudeg dikenal sebagai salah satu jenis kuliner khas Yogyakarta. Ia menjadi salah satu tujuan kuliner yang jarang dilewatkan, sekaligus dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Gudeg umumnya terbuat dari nangka muda atau gori yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa legit, manis, sekaligus gurih.

Saat ini ada dua jenis gudeg yang diketahui publik, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg biasanya disajikan bersama tahu, tempe, ayam, atau telur, yang dimasak dengan cara dibacem, dan tentunya dimakan dengan nasi putih. Selain dari gori, gudeg kemudian juga bisa dibuat dari bunga kelapa atau manggar, terkadang ditambahkan rebung alias bambu muda dan potongan daging.

Awalnya masyarakat lebih menegnal gudeg basah. Biasanya karena disantap untuk saat itu juga, gudeg masih memiliki sedikit sisa kuah dari santennya. Namun, seiring perkembangan, ada wistawan yang menginginkan gudeg sebagai oleg-oleh saat kembali ke kota asalnya, maka munculah gudeg kering.

Gudeg Yogya dengan areh

Gudeg kering ini baru muncul sekitar tahun 60-an atau awal 70-an. Bahan-bahan betul-betul dimasak hingga hampir habis kuah santennya. Sifatnya yang kering inilah yang membuatnya tahan lama dan dimanfaatkan sebagai oleh-oleh. Kadang, agar membuatnya agak basah, gudeg yang kering itu disertakan areh. Ii dibuat dari santan kental yang diberi bumbu tertentu.

Dulu orang yang ingin membawa gudeg dari Yogya sebagai buah tangan, oleh restorannya gudeg dan ubo-rampenya diletakkan dalam kendil. Semacam mangkok bertutup dari bahan tanah liat. Kini dengan makin sempurnya cara memasak gudeg sehingga tahan lama, gudeg dikemas dalam besek.

DI manakah kita bisa menikmati gudeg yang enak di Yogyakarta? Untuk gudeg basah berikut restoran yang menyajikannya:

GUDEG PERMATA (BU NARTI); Jl. Gajah Mada No.2, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta.

GUDEG PAWON, Jalan janturan UH/IV No.36, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta 

GUDEG BASAH MBOK MANDEG, Jl. Parangtritis No.Km. 2,5, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta

GUDEG SAGAN; Jl. Prof. herman Yohanes No. 53, Caturtunggal, Samirono, Yogyakarta

Sedangkan untuk gudeg kering pilihannya;

GUDEG YU JUM 167; Jl. Wijilan No.167, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

GUDEG BU HJ. AHMAD; Jl. Kaliurang KM.4,5 Blok CT3 No.5, Kocoran, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman,

GUDEG BU TJITRO 1925; Jl. Janti No.330, Modalan, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Bantul

agendaIndonesia

*****

8 Kuliner Tradisional Sedap di Malang (1)

Ini daia 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock

Ini adalah 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Ini 8 kuliner tradisional sedap di Malang.

8 Kuliner Tradisional Sedap di Malang

8 kuliner tradisional sedap di Malang ada di banyak lokasi di kota ini.
Alun-alun Tugu Malang, bisa jadi untuk memulai menikmati 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
  1. Pecel Kawi Hj. Musilah

Salah satu destinasi dari 8 kuliner sedap di Malang adalah Pecel Kawi Hj. Musilah, yang berada di jalan Kawi Atas nomor 43b. Kedai nasi pecel yang sudah berdiri sejak 1975 ini bertahun-tahun begitu melegenda dan sudah menjadi favorit banyak warga lokal dan wisatawan pecinta kuliner. Tak jarang, pada waktu makan siang kedai ini dipenuhi pengunjung hingga harus mengantre.

Nasi pecel yang dijajakan di sini tergolong unik karena cenderung menyesuaikan dengan selera lidah orang Jawa Timur. Dalam artian, bumbu pecel yang digunakan memiliki cita rasa lebih gurih dan pedas, ketimbang nasi pecel di wilayah Jawa Tengah yang biasanya memiliki rasa bumbu pecel yang lebih manis.

Pecel Kawi Kota Malang shutterstock
Pecel Kawi kota Malang menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock

Bumbu pecel yang digunakan juga cenderung lebih pekat dan kental, dengan aroma kencur yang menambah keunikannya. Dan yang juga menarik, pengunjung bisa memesan bumbu pecel berdasarkan tingkat kepedasannya sesuai selera, sehingga pengunjung yang tidak terlalu tahan atau suka pedas tak perlu khawatir akan kepedasan.

Selain itu, harga seporsi nasi pecel yang dihargai Rp 17,5 ribu juga tergolong cukup ekonomis. Di dalamnya, terdapat isian sayur-sayuran seperti taoge, kacang panjang, kangkung dan kembang turi yang kemudian dilumuri bumbu pecel. Tak ketinggalan, tempe dan rempeyek juga hadir sebagai pelengkap.

Selebihnya, pengunjung juga dapat memesan tambahan lauk-lauk lainnya, seperti daging empal, dadar jagung alias bakwan jagung, telur bacem, telur asin, sate buntel, sate komoh atau sate sapi dengan potongan daging yang besar, dan lain lain. Beberapa pilihan minumannya pun juga menarik, seperti es timun, es buah kawista, jus buah naga, dan sebagainya.

Terdapat pula menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung, seperti nasi rawon, nasi lodeh, serta nasi campur yang merupakan nasi dengan isian lauk ayam bumbu cabe, mie goreng, oseng kentang, serta sayur buncis dan pare. Dengan ragam menu menarik tersebut, tak heran kedai yang buka dari jam 06.30 hingga 18.00 ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan sejak pagi.

  • Bakso President

Kuliner legendaris Malang lainnya adalah Bakso President, yang terletak di jalan Batanghari nomor 5. Lokasinya terbilang cukup unik karena bersebelahan langsung dengan rel kereta api. Kedai bakso Malang ini sudah eksis sejak 1977, dan bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pelopor maraknya hidangan bakso Malang saat ini.

Usut punya usut, kedai bakso ini awalnya merupakan usaha bakso pikulan. Seiring waktu, banyaknya pelanggan membuat usaha ini kemudian beralih menggunakan gerobak dorong, dan pada prosesnya terus berkembang dan semakin banyak penggemarnya, sampai pada akhirnya bisa berjualan menggunakan bangunan sendiri.

Uniknya, bangunan tersebut berada di dekat sebuah gedung yang dulunya merupakan bioskop bernama President, sebelum kemudian kini beralih fungsi menjadi sebuah penginapan bernama Hotel Savana. Alhasil, oleh pelanggan setianya kedai bakso ini kadung dikenal sebagai ‘Bakso President’, hingga sekarang. Kini ini satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang.

Dan seperti halnya bakso Malang yang banyak dikenal sekarang, banyak jenis bakso serta isian lainnya yang bisa dipilih. Dari baksonya saja, terdapat bermacam jenis seperti bakso kecil, bakso besar, bakso urat, bakso goreng, bakso tulang muda, bakso telur dan bakso bakar. Kemudian pilihan isiannya meliputi siomay goreng, siomay basah, ati ampela, paru, urat bakar dan tahu.

Pengunjung bisa memilih jenis bakso, isiannya serta jumlahnya sesuai selera, atau memilih paket-paket yang terdiri dari beragam kombinasi bakso serta isiannya. Mulai dari paket bakso kecil isi 5 buah, sampai campur komplit dengan semua jenis bakso dan isian. Paket campur komplit ini bahkan kerap dipesan untuk dimakan berdua, lantaran porsinya sangat banyak untuk dimakan sendirian.

Harga bakso dan isiannya secara satuan berkisar dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu, sementara untuk pilihan paketnya mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 34 ribu. Kalau ingin mencoba sesuatu yang berbeda, bakso bakar bisa juga dipesan dan dimakan dengan bumbu kacang. Ragam pilihan menu tersebut menjadikannya tempat favorit warga dan wisatawan untuk bersantap ringan, menikmati sore hingga malam sambil melihat kereta-kereta yang melintas.

  • Depot Hok Lay

Selain bakso, kuliner lainnya yang bisa dibilang cukup identik dengan Malang adalah cwie mie dan menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Cwie mie sejatinya serupa dengan mie ayam pada umumnya. Perbedaannya, ia disajikan dengan daging ayam yang sudah dicincang halus, serta irisan daun selada. Sebagai pelengkap, ia kemudian ditaburi dengan daun bawang dan bawang goreng.

8 kuliner tradisional sedap di Malang salah satunya adalah Cwie Mie
Cwie Mie Malang adalah salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock

Cita rasa asin dan gurih yang otentik dari cwie mie membuatnya selalu diburu pecinta kuliner saat berwisata di Malang. Pun, tak sulit mencari kedai cwie mie di kota apel ini, serta banyak dari mereka yang kerap direkomendasikan. Dari beberapa di antaranya, Depot Hok Lay yang terletak di jalan KH. Ahmad Dahlan nomor 10 adalah salah satu yang cukup mencolok.

Yang menarik dari kedai cwie mie ini adalah nuansa retro yang kental, lewat bangunannya yang sudah ada sejak 1946. Masuk ke dalam, terlihat jejeran ubin, meja dan kursi yang masih original membawa suasana kembali ke Malang tempo dulu. Jejeran foto dan pajangan yang menghiasi dinding seakan bercerita tentang sejarah kedai yang namanya secara dialek Hokkian kurang lebih berarti ‘hoki datang’.

Seperti kedainya yang terkesan sederhana, menu yang ditawarkan Depot Hok Lay juga terbilang tak neko-neko. Karena ternyata, tempat ini dulunya memang lebih diperuntukkan sebagai kedai es manisan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu makanan pendamping, seperti cwie mie-nya yang legendaris.

Cwie mie Depot Hok Lay terkenal dengan tekstur mie buatan homemade yang cenderung halus dan tipis, serta daging ayam gilingnya yang gurih. Cwie mie kemudian disajikan dengan pangsit goreng sebagai teman makan. Kalau kurang, pengunjung juga bisa memesan tambahan pangsit goreng secara terpisah.

Selain cwie mie, ada pula beberapa menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung. Seperti lo mie, pangsit kuah, nasi bakmoy, serta lumpia yang sudah dimodifikasi dengan resep sendiri. Menurut mereka, lumpia ala Semarang biasanya cenderung bercita rasa manis, sedangkan lumpia buatan mereka lebih asin dan gurih, menyesuaikan lidah orang Jawa Timur.

Terkenal dengan ragam menu makanan resep keluarga turun temurun, tak membuat mereka lupa dengan jati diri mereka sebagai penjaja es manisan. Menu es manisan nan segar seperti es campur, es limun, es lidah buaya, es cincau, es susu kedelai dan es puding manalagi menjadi beberapa menu unggulan di kedai ini.

Bahkan, salah satu menu minuman original mereka yang tak ditemui di tempat lain adalah es fosco, yakni minuman yang terbuat dari susu sapi murni yang diolah dengan coklat. Minuman kemudian dikemas ke dalam botol minuman soda. Rasanya terbilang unik, mirip seperti minuman kekinian salted caramel ice chocolate yang terasa manis bercampur asin.

Harga makanan dan minumannya tergolong moderat dan tak begitu mahal. Harga makanannya berkisar dari Rp 28 ribu sampai 34 ribu, sementara range harga minuman mulai dari Rp 5 ribu hingga 20 ribu. Sebagai catatan, kedai ini punya dua jam buka sehari-harinya, dari jam 09.00 sampai 13.30 pada siang hari, serta jam 17.00 hingga 19.30 saat sore. Kedai juga tutup setiap hari Selasa.

  • Warung Sate Gebug

Kuliner yang satu ini usianya sudah satu abad lebih. Usaha kedai sate ini sudah eksis sejak 1920 silam. Bahkan, bangunannya sudah berusia lebih tua lagi, karena sebelumnya bangunan tersebut dimiliki orang Belanda dan dipergunakan sebagai toko es batu. Setelahnya, bangunan itu dibeli untuk dipakai berjualan sate.

Sate yang dijajakan pun terbilang unik. Gebug dalam bahasa Jawa bermakna dipukul, dan ini merujuk kepada proses pembuatan sate ini, dimana potongan daging sapi yang sudah dibumbui rempah-rempah kemudian dipukul-pukul sebelum dibakar. Teknik tersebut disinyalir membuat daging menjadi lebih empuk dan bumbunya terasa lebih meresap.

Sate kemudian disajikan dengan sepiring nasi dan bumbu sambal kecap. Sebagai teman makan, disediakan pula tempe goreng dan tempe mendol, alias olahan tempe yang diulek dan dibuat adonan, bercampur dengan cabe, kencur, bawang merah, ketumbar, garam, gula dan jeruk purut. Setelah berfermentasi selama 1-2 jam, adonan kemudian digoreng dan disajikan.

Kalau ingin tambahan kuah, tersedia juga menu-menu seperti sop, soto dan rawon. Harga seporsi sate berkisar dari, Rp 30 ribu sampai 35 ribu, tergantung dari pilihan sate dengan bagian daging berlemak atau tanpa lemak. Adapun menu sop, soto dan rawon semuanya dihargai Rp 25 ribu.

Yang menarik, kedai sate yang buka dari jam 08.00 hingga 16.30 ini tergolong agak kecil. Dari tepi jalan Jenderal Basuki Rahmat, posisinya agak sedikit masuk ke dalam. Bagian eksterior serta interior bangunan juga tidak banyak berubah dari zaman pendudukan Belanda dulu, sehingga kini ditetapkan sebagai cagar budaya. Perlu diingat pula, bahwa Warung Sate Gebug selalu tutup pada hari Jumat dari hari besar Islam.

  • Warung Lama Haji Ridwan

Satu lagi destinasi 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang tahun ini telah genap berusia seabad. Warung Lama Haji Ridwan diketahui sudah berjualan di area Pasar Besar Malang sejak 1925, hanya sekitar setahun setelah pasar tersebut resmi berdiri dan beroperasi. Bahkan, disebut-sebut bahwa warung ini aslinya sudah berjualan dengan gerobakan di area tersebut dari 1914, sebelum kompleks Pasar Besar dibangun.

Di warung berwujud kios kecil ini, pengunjung akan mendapatkan pilihan menu-menu masakan rumahan yang murah meriah. Beberapa di antaranya meliputi nasi rawon, nasi campur, nasi kari ayam, nasi soto daging dan sate komoh. Sebagai teman makan, disediakan juga lauk seperti telur asin, tempe goreng, tempe mendol dan perkedel.

Nasi campur menjadi salah satu menu yang paling digemari pelanggannya. Dalam seporsi nasi campur, pengunjung akan mendapatkan nasi dengan lauk tahu dan telur bumbu Bali, krengsengan daging, kering tempe, serta sayur wortel. Sate komoh yang dagingnya besar nan empuk, dengan lumuran bumbu Bali juga menjadi favorit.

Dan yang pasti, dengan porsinya yang mengenyangkan, harganya pun cukup enteng di kantong. Harga makanan di warung ini berkisar dari Rp 20 ribu hingga 25 ribu. Buka dari jam 08.00 sampai 16.00, warung yang berada di area lantai dasar ini jadi alternatif menarik untuk santap siang atau brunch.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Salak Pondoh Sleman, Manis Sejak 1917

Salak pondoh Sleman menjadi komoditas dan sekaligus tempat wisata. Foto: shutterstock

Salak pondoh Sleman adalah varietas buah salak yang berasal dari Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Salak pondoh Sleman memiliki kulit coklat kehitaman dengan duri-duri halus, daging buah yang tebal, dan rasa yang manis.

Salak Pondoh Sleman

Pada wisata Sleman, salak pondoh (Salacca zalacca Gaertner Voss) adalah salah satu buah khas dari daerah ini. Di wilayah Sleman utara seperti di Kecamatan Pakem, Cangkringan, Turi, dan sebagian Tempel, hamparan kebun salak akan banyak ditemui sejauh mata memandang.

Tidak ada catatan pasti mengenai sejarah lahirnya salak Pondoh, namun diyakini bahwa varietas ini sudah ada sejak lama dan telah menjadi salah satu buah andalan daerah Sleman dan sekitarnya. Pada masa lalu, salak merupakan buah yang ditanam sebagai tanaman pekarangan atau sebagai penghasilan sampingan bagi petani.

Di beberapa titik, ada papan petunjuk arah bertuliskan “Agrowisata Salak” mudah ditemui. Bahkan, ada pula sebuah ruas jalan di Turi bernama Jalan Agrowisata.

Salak Pondoh Sleman banyak ditemui di pasar-pasar tradisional hingga pinggir jalan antarkota
Salak Pondoh dijajakan di banyak tempat di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Berdasarkan informasi di situs resmi Kabupaten Sleman, sejarah salak pondoh dimulai pada sekitar 1917. Saat itu ada seorang jagabaya atau perangkat keamanan desa, di Tempel bernama Partodiredjo mendapatkan oleh-oleh 4 buah salak dari seorang warga Belanda. Salak tersebut lalu ia tanam dan budidayakan. Ternyata menghasilkan buah salak yang manis dan tak kesat. Lalu, sekitar tahun 1948, budidaya buah salak dilanjutkan lagi oleh putranya.

Masyarakat mulai masif menanam salak Pondoh ini ketika pemerintah menjalankan program ABRI Masuk Desa (AMD) pada 1981. Saat itu, para tentara membuatkan saluran irigasi sehingga lahan-lahan bisa mendapatkan pengairan secara lebih baik. Setelah itu warga mulai berbondong-bondong menanam komoditas salak mengikuti petani lainnya yang sudah mulai lebih dulu.

Dalam beberapa tahun terakhir, salak pondoh Sleman semakin dikenal dan diminati oleh pasar lokal dan internasional, sehingga produksi dan penjualan salak pondoh meningkat dengan pesat. Hal ini juga menjadi pendorong bagi para petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi salak pondoh dari desa Turi ini.

Kini, salak pondoh Sleman menjadi salah satu buah yang menjadi kebanggaan masyarakat Sleman dan Yogyakarta serta menjadi buah yang banyak diburu oleh wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.

Selain berwisata ke tempat desa agrowisata ini, pengunjung juga bisa belajar cara membudidayakan salaknya. Asal tahu saja, tanaman yang bisa hidup selamanya ini ternyata mempunyai kelamin jantan dan betina. Cara membedakan yang jantan dan betina adalah dengan melihat dari bunganya.

Kebun Salak Pondoh sporttourism id
Desa Agrowista Salak, bisa langsung memetik buah salak dri pohonnya. Foto: Dok. sporttourism.id

Adapun perbedaannya adalah bunga jantan hanya mempunyai benang sari tanpa putik sehingga hanya membentuk sel kelamin jantan dengan bentuk bunga bulat memanjang. Saat bunga masak akan berwarna merah yang berlangsung hanya tiga hari dan tidak bisa berbuah.

Lain lagi dengan bunga betina yang hanya mempunyai putik tanpa benang sari. Bentuk bunganya panjang agak bulat dan di bagian tengah lebih besar. Pada saat masak, akan ada seludang atau kulit bunga pecah–pecah dan mahkota bunga nampak merah jambu selama tiga hari.

Jika pelancong punya kesempatan main ke Yogyakarta dan ingin mencicipi kesegaran salak pondoh langsung dari pohonnya, sesekali datanglah ke Desa Wisata Agro Bangunkerto, Sleman.

Desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani salak ini berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ketika memasuki kawasan ini, Anda langsung disambut berderet pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan. Untuk menuju ke tempat ini, wisatawan bisa melalui Jalan Kaliurang, bisa pula melalui Jalan Magelang.

Berdiri sejak 1989, Desa Agrowisata Bangunkerto dikelola pertama kali oleh Dr Soebroto Soedibyo. Desa wisata penghasil salak ini pernah mengalami masa-masa keemasan sekitar tahun 2000-an. Luasnya yang mencapai 27 hektare, menjadikan Desa Wisata Agro Bangunkerto mempunyai berbagai jenis salak unggulan yang belum tentu ada di negara lain.

Pintu masuk bagi para pengunjung menuju kawasan budidaya salak di Desa Wisata Agro BangunkertoJalan setapak yang bisa dilalui pengunjung untuk mengelilingi kebun salak di Desa Wisata Agro BangunkertoPeta petunjuk lokasi yang ada di desa wisata penghasil salak. Salak Madu, salah satu salak yang bisa anda temui di Desa Wisata Agro Bangunkerto.

Deretan pohon salak dan kesejukan udara khas pedesaan akan menyambut Anda di Desa Wisata Agro BangunkertoKolam yang disediakan pengelola untuk pengunjung bersantai sambil menikmati salak. Selain melihat aneka salak, Anda juga bisa melihat aneka tanaman obat di Taman Obat yang ada disiniDesa Wisata Agro Bangunkerto berlokasi di Kampung Gadung, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Sleman, YogyakartaPara pedagang salak menjajakan salak kepada pengunjung Desa Wisata Agro BangunkertoSalak Gading, salah satu salak hasil budidaya di Desa Wisata Agro Bangunkerto.

Salak Pondoh shutterstock
Salak pondoh kecil buahnya tapi manis rasanya. Foto: shutterstock

Tercatat sekitar 17 jenis salak terdapat di desa ini. Sebut saja seperti salak super asli Indonesia, salak madu, salak manggala, salak hitam, salak gading, salak klinting, salak gula pasir, dan beberapa salak lainnya.

Jika pun tak sempat mampir ke Desa Agrowisata-nya, wisatawan bisa membeli salak pondoh Sleman di sepanjang Jalan Magelang, jalan yang mengubungkan Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah.

agendaIndonesia

*****

Batik Cirebon Tumbuh Dalam 2 Versi

Road Trip selain perjalanan juga menikmati buadaya seperti batik Trusmi di Cirebon.

Batik Cirebon kian mendapat tempat di hati penggemar batik di Indonesia. Bahkan tak sedikit yang menjadi pengguna setia batik dari kota di pesisir utara Jawa Barat ini dibandingkan batik dari kota lain di Indonesia.

Batik Cirebon

Banyak orang yang menyangka batik Cirebon ini usianya lebih muda dari batik-batik dari kota lain di Indonesia, terutama Solo dan Yogyakarta. Namun, ternyata pendapat itu tidak sepenuhnya tepat. Batik Cirebon berkembang sejak awal perkembangan agama Islam di Jawa Barat, khususnya di Cirebon. Bila ini yang terjadi, berarti kerajinan batik di Cirebon bahkan telah ada sebelum berdirinya Keraton Mataram di Yogya dan Solo.

Sejarah batik Cirebon telah menjadi tradisi turun temurun sejak masa Pangeran Walangsungsang Cakrabuana memerintah di Keraton Cirebon pada 1469 Masehi. Tradisi tersebut terus berlanjut pada pemerintahan selanjutnya, yakni di masa Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati) pada tahun 1479 M. Ini diperkuat dengan ditemukannya naskah Sunda tertua perihal embrio batik di daerah Cirebon Selatan yang ditulis pada tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi.

Perjalanan batik Cirebon kurang lebih sama dengan batik di Yogyakarta dan Solo. Mula-mula muncul di lingkungan keraton, lalu “menerobos” keluar melalui para abdi dalem yang tinggal di luar tembok keraton. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Cirebon kemudian memahami batik sebagai kerajinan yang bosa menjadi komoditas perdagangan.

Uniknya, selain tumbuh dari dalam keraton, batik Cirebon juga berkembang karena kota ini yang awalnya adalah bandar laut Muara Jati menjadi pertemuan sejumlah pedagang dari perlbagai tempat. Pelabuhan Muara Jati menjadi tempat persinggahan pedagang dari Tiongkok, Arab, Persia, India, Malaka, Tumasik (sekarang dikenal sebagai Singapura), Pasai, Jawa Timur, Madura dan Palembang. Para pedagang ini memberikan pengaruh pada percampuran ragam budaya.

Dalam konteks batik, dua pengaruh ini tanpa sengaja membuat batik Cirebon tumbuh dalam dua versi, gaya, atau klasifikasi, yakni batik keraton dan batik daerah pesisir atau yang dikenal dengan nama Trusmi. Batik keraton, kita tahu, lahir dari masyarakat dengan tradisi religius dan klasik, yaitu saat Sunan Gunung Jati pada abad 15-16 menyebarkan ajaran Islam di Jawa Barat. Selain itu, batik Keratonan juga mengandung pengaruh budaya Tiongkok.

Batik gaya Keratonan karenanya sarat nilai filosofis. Sedangkan batik gaya pesisiran lebih dinamis dalam mengikuti selera pasar dan tidak harus mengandung makna filosofis.

Umumnya batik keratonan memiliki warna yang cederung gelap. Penggunaan warna-warna seperti hitam, merah tua, coklat seringkali mendominasi. Ciri ini yang kemudian membedakan batik Keraton dengan batik pesisir. Batik pesisir memiliki warna dasar yang lebih cerah, seperti biru, hijau, dan merah. Dalam hal motif, batik pesisir atau Trusmi menggunakan motif yang berhubungan dengan keadaan sekitar, seperti motif udang, ikan, dan bunga.

Batik Keratonan juga khas melalui penonjolan motif-motif utama yang berupa lambang yang mengandung pesan-pesan tertentu. Biasanya tidak mengandung unsur pelengkap yang terlalu padat yang mengganggu motif utamanya. Kadang hanya diberi latar garis-garis kecil yang disebut galaran.

Beberapa ragam motif pokok batik Keratonan di antaranya adalah Wadasan, Megamendung, dan Pandanwangi. Ketiga ragam hias ini konon mendapatkan pengaruh besar dari tradisi Tiongkok. Ada juga beberapa yang menggunakan ragam hias pohon, seperti Lam AlifSinga BarongPaksi Naga Liman, dan Macan Ali.

Meski secara fisik muncul pengaruh seni rupa Tiongkok, namun ruh dari motif dan corak batik Cirebonan bernafaskan ajaran Islam. Ini merupakan perwujudan dari gerakan tarekat di Cirebon.

Pada perkembangannya, batik Cirebon Keraton terbagi menjadi tiga keraton dan satu peguron dengan ciri khasnya masing-masing. Keraton Kasepuhan terlihat menggunakan ragam hias Singa Barong, Keraton Kanoman ragam hiasnya Paksi Naga Liman, Keraton Kacirebonan ragam hias Bintulu; sementara Peguron Kaprabonan menggunakan ragam hias Dalung dan motif tanpa gambar hewan.

Sejauh ini, Wadasan dan Megamendung merupakan ragam hias yang paling sering digunakan dan mudah dikenali. Hal ini mungkin dikarenakan keduanya memiliki banyak ragam, bentuk, komposisi, dan warna. Terutama motif Megamendung yang kini menjadi ikon batik Cirebon.

Batik Cirebon Motif Megamendung warna oranye

Motif Megamendung memiliki filosofi yang cukup dalam. Ia memiliki unsur warna merah dan biru yang menggambarkan maskulinitas dan dinamis, kemungkinan ini dipengaruhi dalam proses pembuatannya lebih banyak campur tangan laki laki. Kaum laki-laki anggota tarekatlah yang pada awalnya merintis tradisi batik Cirebon. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka dan egaliter.

Selain itu, warna biru juga disebut-sebut melambangkan warna langit yang luas, bersahabat dan pembawa hujan sebagai simbol kesuburan dan kehidupan. Warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda sampai biru tua.

Batik Cirebon terus berkembang dengan ciri khasnya. Untuk memfasilitasi kreativitas perajin batik di Cirebon, daerah ini mempunyai pusat atau sentra batik. Berjarak 4 Km dari pusat kota, Desa Trusmi di Kelurahan Plered menjadi salah satu wisata belanja batik yang wajib dikunjungi wisatawan jika berkunjung ke kota ini. Berbagai model dengan harga yang ber-variatif ditawarkan di toko-toko sepanjang daerah Trusmi.

Sudah adakah motif batik Cirebon dalam koleksimu? Ayo agendakan berkunjung ke Trusmi.

agendaIndonesia

*****

Oleh-Oleh Banten 5 Yang Wajib Dibawa

oleh-oleh Banten ada 5 yang ayak dibawa.

Oleh-oleh Banten selama ini orang banyak yang hanya mengenal sate bandeng. Ini tak salah, meskipun kurang tepat. Cukup banyak sebenarnya oleh-oleh khas dan unik dari daerah ini, hanya belum terlalu dikenal.

Oleh-oleh Banten

Setiap daerah tentu memiliki keunikan yang berbeda dengan daerah lain. Begitu pula dengan Banten. Keunikan Banten bukan semata budaya debusnya yang terkenal itu. Banten juga memiliki buah tangan yang layak dibawa pulang.

Meskipun letaknya relatif tidak terlalu jauh dari Jakarta, bisa jadi masih banyak yang belum tahu jika Banten menyimpan sejumlah oleh-oleh yang unik. Ada makanan klasik yang dilestarikan dari masa silam sampai dengan batik yang pertama kali dipatenkan di Unesco. Beberapa 5 di antara oleh-oleh yang layak dibawa pulang.

oleh-oleh bandeng salah satunya Sate Bandeng yang khas
Sate Bandeng khas Banten. Foto: Dok. Shutterstock

Sate Bandeng

Dulu di daerah ini ikan bandeng hanya disajikan dalam setiap perayaan besar, kini telah menjadi jajanan khas Banten, terutama sate bandengnya. Meski dinamai sate, bukan berarti ikan itu dipotong kecil-kecil lantas ditusuk bambu seperti pada umumnya. Bentuk sate bandeng dijepit bilah bambu.

Daging dan tulang ikan diambil kemudian dicincang dan diberi bumbu sebagai penyedap. Cincangan daging dimasukkan kembali ke dalam tubuh ikan dan sisanya dagingnya dioleskan di bagian luarnya. Lalu dibungkus dengan daun pisang dan kemudian dipanggang.

Di Serang, banyak sekali yang menjajakan makanan ini. Harga
per tusuknya bervariasi, tergantung dari besar kecilnya ikan bandeng. Sate Bandeng Ibu Aliyah salah satu yang dikenal luas, dengan harga lebih tinggi dibanding produksi yang lain. Ada pilihan rasa yang disediakan, orisinal dan pedas.

Sate Bandeng Ibu Aliyah; Jalan Sama’un Bakri, Lopang Gede, Serang.

Emping Ceplis

HAMPIR semua orang pasti mengenal emping. Tapi di Banten, terutama di Kabupaten Pandeglang, emping yang dihasilkan konon berbeda dari daerah lain. Selain rasa yang renyah karena pengolahannya, faktor kondisi tanah daerah Pandeglang umumnya memiliki unsur hara yang tinggi sehingga menghasilkan

buah melinjo dengan kualitas baik. Kios oleh-oleh di Cikoromoy, Pandeglang, misalnya, menyediakan berbagai pilihan emping. Dari yang masih mentah hinga yang sudah siap santap. Pilihannya, rasa orisinal, pedas, dan manis. Harganya beragam sesuai dengan ukuran. Mulai Rp 35 ribu per bungkus. Ada juga kulit emping yang sudah digoreng dan hanya dihargai Rp 20 ribu per bungkus.

Kios Oleh-Oleh; Cikoromoy, Pandeglang, Banten

Batik Banten

Batik Banten memiliki proses sejarah panjang hingga akhirnya diakui di seluruh dunia dengan dipatenkan pada 2003. Bahkan, batik Banten menjadi batik pertama yang memiliki hak paten di Unesco. Penasaran dengan berita itu, kami menemui Uke Kurniawan, pelopor batik Banten sekaligus pemilik Griya Batik Banten di daerah Cipocok, Serang.

Selain sebagai ruang pamer, Griya Batik Banten juga dijadikan workshop. Ada sekitar 40 corak dan motif batik khas Banten yang memiliki ciri khas bercerita. Nama-namanya di- ambil dari toponim desa-desa kuna, nama gelar bangsawan atau sultan, dan nama tata ruang istana kerajaan Banten. Warnanya cenderung abu- abu muda.

Griya Batik Banten; Jl. Bhayangkara No. 5; Depan Masjid Kubil; Cipocok Jaya, Serang

Gipang

Makanan ringan ini merupakan salah satu penganan khas Banten yang banyak dijajakan sebagai oleh-oleh. Rasanya renyah, manis, sedikit lengket karena terbuat dari ketan yang dicampur dengan air gula. Kebanyakan gipang masih dibuat di industri-industri rumahan di kampung-kampung.

Untungnya, penganan klasik ”Si Renyah Manis” ini masih dapat dengan mudah ditemukan di perempatan Ciceri, gerbang jalan tol Serang Timur, dan Pasar Lama. Untuk sekantong gipang dibandrol dengan harga Rp 20 ribu-25 ribu saja.

Kios Oleh-Oleh. Ciceri, Serang

oleh-oleh Banten ada beberapa macam, salah satunya kue sagon.
Kue sagon khas Banten yang bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Dok. PD Sutra AS.

Kue Sagon

Kalau di Jakarta, khususnya pada masyarakat Betawi, camilan yang terbuat dari tepung sagu dan kelapa ini biasanya berbentuk bubuk. Namun, masyarakat Banten mengenal sagon dalam bentuk kepingan. Mirip sekali dengan kue kering yang pipih.

Setelah dicetak bulat pipih, sagon dimasak dengan cara dibakar. Tak mengherankan jika di permukaannya tertinggal jejak gosong. Namun justru inilah yang membuat aromanya tambah harum. Satu bungkus sagon bakar dibandrol Rp 15 ribu-20 ribu. Selain itu ada juga kue satu yang terbuat dari kacang hijau. Satu bungkusnya hanya Rp 15 ribu.

Warung Kang Hadi; Jl. Jendral Sudirman No. 17; Pasar Buah-Buahan; Serang

agendaIndonesia

*****

Sambal Bu Rudy, Sejak 95 Pedasnya Menyengat

Sambal Bu Rudy bermula dari masakan keluarga kini menjadi oleh-oleh kha Surabaya.

Sambal Bu Rudy Surabaya terus naik daun. Selain produk-produk seperti ragam jenis sambal dan sebagainya yang kini populer sebagai oleh-oleh khas Surabaya, bisnis kulinernya juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri di kota pahlawan itu.

Sambal Bu Rudy

Semua berawal dari seorang wanita bernama Lanny Siswadi, atau yang sehari-hari akrab dipanggil bu Rudy. Wanita kelahiran Madiun, 10 Oktober 1953 ini sejak kecil memang terbiasa untuk bekerja dan berjualan demi mengais rejeki.

Masa kecilnya dilalui dengan cukup berat. Ayahnya saat itu kerap sakit-sakitan dan sulit untuk bisa bekerja full-time. Sementara ibunya juga tak punya penghasilan serta minim kompetensi untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

SItuasi diperparah dengan peristiwa G30S pada tahun 1965, dimana kondisi Madiun saat itu tidak kondusif dan mencekam. Maka sebagai anak sulung, ia sudah ikut bekerja mencari uang sejak dini.

Ia pun kerap pergi ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Dari menjadi tukang cuci piring hingga membantu tetangganya berjualan es dawet, semua dijalaninya demi membantu ekonomi keluarganya. Bahkan, ia mengaku putus sekolah sejak kelas 3 SD.

Selama satu dekade lebih ia harus bekerja serabutan, sampai akhirnya ia bertemu Rudy Siswadi, suaminya kini. Setelah menikah, mereka pun memutuskan untuk membuka usaha toko sepatu pada tahun 1983.

Toko sepatu tersebut terletak di Pasar Turi, dan menjadi mata pencaharian mereka selama sekitar 20 tahun. Hingga kini pun toko tersebut masih aktif berjualan, namun kini sudah dikelola oleh menantunya.

Kendati dirinya merasa tak begitu gemar dan jago memasak, namun beliau ternyata memiliki kecintaan tersendiri terhadap dunia kuliner. Tapi kisahnya berkecimpung di bisnis kuliner justru berawal dari usahanya bangkit dari kesulitan ekonomi lainnya.

Sambal BU Rudy awalnya disajikan dengan  udang yang digoreng kering.
Aneka sambal yang dikenal di Indonesia. Foto: Shutterstock

Pada awalnya, ia hanya senang memasak untuk teman-temannya kala mereka mampir datang ke rumahnya. Salah satu menu jagoannya adalah udang goreng beserta sambal bawang racikan sendiri. Tak disangka, ternyata teman-temannya begitu menyukai masakannya tersebut.

Mereka pun mulai mengusulkan kepadanya agar mencoba berjualan nasi dengan udang goreng dan sambalnya tersebut. Tadinya dia merasa tak yakin, tetapi ketika Pasar Turi sempat dilanda kebakaran dan tokonya turut ludes, ia akhirnya memberanikan diri agar dapat bangkit.

Kelihaiannya mengolah udang menjadi masakan sedap ini bukan tanpa sebab. Rudy sang suami rupanya memiliki hobi memancing di waktu luangnya. Sebagai umpan pancingan, ia kerap menggunakan udang.

Sebagian udang-udang inilah yang kemudian dicoba diracik bu Rudy menjadi kuliner yang menggoda lidah. Udang tersebut pun digoreng menjadi begitu renyah, gurih dan nikmat sebagai teman makan nasi. Ikan-ikan hasil pancingan suaminya pun kerap ia masak pula.

Tetapi yang paling krusial adalah kemampuannya mengolah sambal. Menurut pengakuannya, orang Madiun memiliki kultur membuat serta makan sambal yang sangat kuat. Ibaratnya, sambal saja bahkan sudah cukup untuk jadi lauk makan nasi.

Berbekal resep tersebut, pada 1995 ia dan suaminya mulai berjualan nasi udang goreng dengan sambal bawangnya dari atas mobil pick up. Selain menu itu, mereka juga menyediakan nasi pecel Madiun.

Ternyata, masakan mereka pun digemari publik Surabaya, dan mulai meraih kepopuleran. Bahkan pada perkembangannya, sambal bawangnya justru yang menjadi primadona dan jadi buah bibir banyak orang karena sensasi rasa pedas dan gurihnya itu.

Melihat peluang bisnis ini, bu Rudy pun mulai menjajakan sambal tersebut secara terpisah. Awalnya ia sempat kewalahan karena permintaan yang membludak, sementara sambal buatannya alami tanpa pengawet dan dikhawatirkan tak mampu bertahan lama.

Namun kini, dengan dibantu oleh anak-anaknya, ia bisa menjual sambal tersebut dalam kemasan botol. Tak lupa, di botol tersebut terdapat logo khasnya, yaitu wajah dari bu Rudy sendiri. Jadilah produk Sambal Bu Rudy.

Sambal Bu Rudy Bukalapak
Sambal Bu Rudy varian sambal bawang yang paling awal dikenal publik.

Sebotol sambal dengan tutup berwarna kuning itu pun semakin hari semakin populer. Bu Rudy yang tadinya hanya berniat berjualan makanan, kini menjelma jadi pebisnis sambal. Sekarang tak kurang sekitar 1.500 hingga 2.000 botol sambal yang terjual tiap harinya.

Jenis produk sambal Bu Rudy pun semakin beragam. Selain sambal bawang yang tentunya menjadi favorit banyak orang, kini ada pula varian sambal lain seperti sambal teri, sambal bajak, sambal ijo, dan sambal petis.

Bahkan udang crispy resep andalannya itu pun juga dijual satuan. Kini pecinta kuliner bisa membeli udang tersebut dalam berbagai ukuran kemasan, serta sepaket dengan sambal bawang sesuai ciri khasnya.

Dari situ, peminat produk-produknya terus meningkat, tidak hanya warga Surabaya saja tetapi juga muncul permintaan dari luar kota. Banyak wisatawan dari luar kota yang mampir dan mencari sambal bu Rudy sebagai oleh-oleh.

Bahkan produk sambal bu Rudy kini sudah merambah ke negara-negara lain seperti Tiongkok dan Belanda. Kalangan Istana pun disebut menyukai sambal buatannya, dari era Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo sekarang.

Bisnis pun terus berkembang dengan munculnya produk-produk penganan baru lainnya. Ikan wader crispy, kering kentang dan tempe, teri kacang balado, ikan asin dan peyek layur adalah beberapa di antaranya.

Harga sebotol sambal tersebut berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 28 ribu, tergantung variannya. Sedangkan udang crispy satuan kemasan kecil dihargai Rp 38 ribu dan yang besar Rp 70 ribu. Adapun udang dan sambal sepaket dalam kemasan kecil Rp 63 ribu dan yang besar Rp 145 ribu.

Harga penganan lainnya pun termasuk terjangkau, seperti kering kentang dan tempe yang dihargai Rp 25 ribu. Atau ikan asin layur yang harganya Rp 30 ribu. Serta ikan wader crispy yang dijual Rp 26 ribu.

Sementara itu, bisnis kuliner bu Rudy pun kini beralih menjadi restoran yang dinamai Depot Bu Rudy. Setidaknya ada empat cabang yang beroperasi saat ini, yang juga sekaligus menjadi toko penyedia produk oleh-oleh mereka seperti sambal, udang serta penganan lainnya.

Depot Bu Rudy menawarkan menu-menu seperti nasi udang, nasi pecel Madiun, nasi campur, nasi bakar, nasi Madura, nasi penyet dan lain-lain. Harganya rata-rata berkisar dari Rp 28 ribu sampai Rp 33 ribu. Hingga kini, bu Rudy masih rajin memasak di depot-depot tersebut.

Depot pusatnya terletak di jalan Dharmahusada. Yang perlu dicatat, hanya depot pusat saja yang biasanya buka setiap hari dari jam 07.00 sampai jam 17.00. Di depot-depot lainnya, Depot Bu Rudy buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081228839813, (031) 5456565, 081938621616, (031) 7349051, atau kunjungi situs-situs resmi di depotburudy.co.id dan depotburudy.com, serta akun resmi Instagram @burudy.surabaya.

Depot Sambal Bu Rudy

Jl. Dharmahusada no. 144, Surabaya

Jl. Anjasmoro no. 45, Surabaya

Pasar Atom Mall Lt. 4, Surabaya

Jl. Raya Kupang Indah no. 5, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****