Kota Lama Padang, Terbesar di Abad 19

Kota Lama Padang bisa dinikmati di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Kota lama Padang merupakan bagian kuno dari ibukota Sumatera Barat. Dulunya ia menjadi tanda kebesaran Padang sebagai kota perdagangan di zaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Sayangnya kini, akibat waktu dan gempuran gempa, sebagian bangunan semakin terbengkalai dan tidak terawat.

Kota Lama Padang

Hampir sepanjang abad ke-19, Padang boleh disebut menjadi kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan, sekaligus “markas” militer Hindia Belanda, dalam hal ini diwakili oleh kongsi dagang VOC, untuk menaklukkan dan mempertahankan daerah-daerah di Sumatera. Tidak hanya dibangun oleh penguasa saat itu, kota ini juga tumbuh berkat partisipasi pihak swasta yang berasal dari berbagai bangsa, seperti Minangkabau, Belanda, Cina, India, dan Arab.

Sisa-sisa arsitektur masa keemasan zaman itu masih bisa dilihat di kawasan Padang Kota Lama. Lokasinya di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, dan Pasar Gadang. Namun akibat gempa besar 7,9 skala Richter, yang terjadi pada 30 September 2009, banyak bangunan rusak dan hanya beberapa yang bisa diperbaiki. Menikmati sisa-sisa kejayaan kolonial kota ini paling tepat dilakukan dari atas Jembatan Siti Nurbaya, yang terbentang di atas Sungai Batang Arau. Dari jembatan ini lanskap Kawasan Padang Kota Lama terlihat lebih jelas.

Kota Lama Padang menyimpan bukti kebesaran kota ini di masa lampau.
Sungai Batang Arau yang membelah kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Jalan Batang Arau terletak di sisi kanan Sungai Batang Arau, dekat muara. Di sana berderet puluhan bangunan tua dan besar menghadap ke jalan serta Sungai Batang Arau. Dulu, bangunan ini digunakan untuk kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang. Bangunan yang menonjol adalah Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio, yang didirikan sebelum 1920. 

Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik ini setinggi 24 meter, sementara dindingnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada bagian puncak. NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat bisnis beberapa perusahaan. Kini, kantor itu dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga dan tampak tidak terawat.

Namun, ada juga bangunan yang masih terawat, seperti yang sekarang digunakan Bank Indonesia. Dulu, gedung ini dimanfaatkan De Javasche Bank, yang berlokasi di seberang NHM. Dibangun sekitar 1930, bangunan ini berarsitektur tropis dengan kubah kecil di bagian atas mirip atap masjid.

Kota Lama Padang memiliki sejumlah gedung kuno yang merupakan peninggalan Belanda dengan arsiteturnya yang khas.
Sebuah gedung kuno peninggalan Belanda di Padang yang masih sering dikunjungi wisatawan. Foto: Dok. shutterstock

Gedung lain yang menonjol adalah Padangsche Spaarbank, yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua setinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik. Tampaknya bangunan tersebut terpengaruh arsitektur art-deco dengan gaya mahkota di bagian depan atas bertulisan “1908”. Bangunan ini sempat menjadi Hotel Batang Arau, yang banyak dikunjungi turis asing yang ingin berselancar di Mentawai.

Sejak gempa 2009, gedung itu kosong dan terlihat tidak terawat. Di sebelahnya terdapat gedung NV Internatio, yang dibangun sekitar 1910. Dengan gaya arsitektur neoklasik-modern, yang berkembang sebelum 1920, bangunan tersebut kini dimiliki Badan Usaha Milik Negara Cipta Niaga.

Selain di Jalan Batang Arau, ada banyak bangunan tua di tiga kawasan yang pada abad ke-19 menjadi pasar itu. Posisi pasar tersebut bersebelahan dengan Jalan Batang Arau, yakni Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad ke-19 menjadi urat nadi perekonomian kota. Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur corak tradisional Cina. Sedangkan ukiran ornamen dinding dan atap pada beberapa bangunan di sana pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.


Pasar Mudik dibangun pertengahan abad ke-19 oleh perusahaan dagang Badu Ata & Co. Beberapa bangunan menonjol di sini adalah Hotel Nagara dan Gedung Juang 45. Gedung-gedung di Pasar Mudik berupa ruko serangkai. Pengaruh arsitektur Cina, Arab, India, dan Minang terlihat di bagian atapnya.

Adapun Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa. Karena itu, selain gaya kolonial Belanda, ada campuran arsitektur tradisional Cina. Gedung yang menonjol di sini adalah kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). 

Di Kawasan Padang Kota Lama, ada juga Kelenteng See Hin Kiong, yang dijadikan tempat ibadah sejak 151 tahun lalu. Di luar kawasan ini, gedung-gedung tua juga tersebar di lokasi lain kota itu, seperti Balai Kota Padang, Kapel Susteran St Leo, dan Katedral. Sayangnya, Pemerintah Kota Padang belum memperlihatkan upaya untuk memulihkan Kawasan Padang Kota Lama. Gedung-gedung tua warisan zaman kolonial itu tampak kian telantar. Bisa dikatakan Kawasan Padang Kota Lama ini berada di ujung senja, seperti menunggu kehancuran saja.

TL/agendaIndonesia

****

Danau Toba Dan Sekitarnya Dalam 5 Hari

Menparekraf dan menhub bertemu nahas 5 dsp, salah satunya Danau Toba

Danau Toba di Sumatera Utara makin hari makin menarik perhatian pelancong. Selain sudah adanya bandara Silangit di dekat danau ini, perjalanan dari Medan pun makin mudah dan mengasyikan.

Danau Toba

Ketenaran Samosir, pulau kecil di Danau Toba, tak disangsikan lagi. Namun kebanyakan orang yang melancong hanya singgah sebentar ke Pelabuhan Tomok atau Tuktuk. Setelah itu, kembali lagi ke Pelabuhan Ajibata di Parapat. Selebihnya menghabiskan waktu di hotel di Parapat dan memandang Samosir dari kejauhan. Padahal banyak situs sejarah dan obyek budaya bisa dieksplorasi jika kita berkeliling kabupaten seluas 206.905 hektare ini. Apabila dipadu dengan kunjungan ke Berastagi, berwarnalah perjalanan Anda di Sumatera Utara. Waktu yang dibutuhkan cukup lima hari. Perjalanan tentunya dimulai dari Medan.

Hari pertama. Bila tiba di Medan tidak terlalu pagi, untuk kenyamanan, mulailah perjalanan dengan jalur pendek, yakni dari Medan ke Berastagi—berjarak 66 kilometer. Jalanan kecil dan berkelok. Diperlukan waktu sekitar dua jam. Berastagi adalah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Karo. Bila tiba siang hari di Berastagi, masih ada waktu untuk menatap Gunung Sinabung dari dekat, jadi melajulah ke Lau Kawar.

Dari Berastagi, temukan Tugu Perjuangan, kemudian Anda tinggal belok ke kanan menuju Kecamatan Simpang Empat. Jarak ke obyek wisata ini sekitar 27 kilometer dari Berastagi. Di sepanjang jalan, kebun berjajar. Sayuran dan buah-buahan dapat dengan mudah ditemui, termasuk jeruk dan markisa, yang merupakan buah khas Berastagi. Akhirnya tiba juga di danau yang berada di Desa Kutagugung Kecamatan Naman Teran. Gunung Sinabung tak hanya menawarkan udara yang sejuk, tapi juga lingkungan yang tenang. Begitu hening jika Anda datang bukan pada akhir pekan. Kabut sering turun, sehingga membuat hawa dingin dan suasana sepi. Di pinggir danau ada kios makanan dan minuman, ada pula lahan untuk berkemah.

Bila masih terang, cobalah berperahu ke seberang. Temukan tanaman kantong semar, jenis tanaman yang melahap serangga, seperti kupu-kupu, lipan, dan kalajengking. Di pinggir danau, Anda bisa mencari pemilik kapal sekaligus pemandu untuk menemukan tanaman unik ini. Setelah menikmati danau hingga sore, bila hendak melihat perkampungan dan rumah adat Karo berusia ratusan tahun, mampirlah ke Desa Lingga. Ketika hendak kembali ke Berastagi, sebelum tiba di perempatan Tugu Perjuangan, ada jalan menuju ke kanan. Hanya, kondisi rumahnya memang banyak yang sudah tidak terawat. Atau jika Anda penyuka alam, bisa juga sore itu melaju ke Bukit Gundaling. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Berastagi. Di bukit ini, Anda bisa menemukan tempat untuk menikmati Berastagi dari ketinggian.

Hari Kedua. Pagi-pagi tinggalkan dinginnya Berastagi. Melajulah ke Kecamatan Merek untuk mengitari Taman Simalem Resort. Kawasan resor seluas 206 hektare yang terdiri atas kebun buah-buahan, termasuk yang langka, seperti biwa. Selain itu, ada buah markisa dan jeruk. Ada pula sarana lodge, perkemahan, kafe, restoran, hingga paket untuk trekking dan bertualang di hutannya. Dari tempat yang satu ini, Anda bisa juga memandang Danau Toba, selain bukit-bukit gundul yang, mau tidak mau juga, tampak jelas dari sini. Resor yang bisa ditempuh sekitar 35 menit dari Berastagi ini juga memiliki kuil Buddha yang megah menjulang di atas bukit. Untuk memasuki kawasan ini, tiket masuk Rp 150 ribu per mobil.

Bila masih mempunyai tenaga untuk menuruni ratusan anak tangga, singgahlah pula ke air terjun Sipiso-piso di Desa Tongging, Kecamatan Merek. Tinggi air terjunnya sekitar 120 meter, jarak dari Berastagi sekitar 35 kilometer. Dari sini, Danau Toba dan Samosir terlihat. Lokasinya akan terlewati jika Anda menuju Parapat. Bisa juga langsung ke Parapat, yang berjarak 110 kilometer dari Berastagi atau sekitar tiga jam perjalanan. Bila sudah terlalu sore tiba di Parapat, pilihannya tentu saja menginap. Pilihan akomodasi berlimpah di Parapat, yang menjadi pusat wisata Danau Toba.

Hari Ketiga, menyeberang dari Pelabuhan Ajibata ke Tomok. Berbeda dengan Berastagi yang dingin, udara panas langsung menerpa saat menginjak kaki di Samosir. Obyek wisata terdekat dari Pelabuhan Tomok adalah makam Raja Sidabutar. Makam ini terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar, yang menjadi penguasa pada masa silam.

Di Samosir, kita bisa mempelajari tradisi pada Batak kuno. Salah satunya tradisi tarian Sigale-gale di Museum Huta Bolon Simanindo, Ambarita. Lokasinya 20 kilometer dari Tomok, lebih dekat ke Kecamatan Pangururan. Setiap hari pada pukul 11.00 rutin digelar pertunjukan Sigale-gale dengan alat musik tradisional dan berbagai tarian tradisional Batak Karo. Penonton dipersilakan duduk di rumah-rumah Batak. Pertunjukan diakhiri dengan tarian Tor-tor bersama. Koleksi museumnya di antaranya terdiri atas kain ulos, peralatan memasak, dan perlengkapan masyarakat Batak pada masa silam.

Bila sudah tiba di sini, mampirlah sejenak ke wisata air panas di Pangururan. Ini merupakan kota kecamatan di mana rumah makan bisa ditemukan lebih mudah, terutama hidangan Padang, yang pas untuk muslim. Pemandian air panas berjarak 3 kilometer dari Pangururan. Tepatnya di kaki Pusuk Buhit. Airnya mengandung belerang. Di kota kecamatan ini pula kita bisa melihat bahwa Samosir sebenarnya bukanlah pulau sesungguhnya karena antara Samosir dan sisi lain Danau Toba itu terhubung, sehingga bisa dicapai lewat darat.

Sehabis berendam, saatnya ke Tuktuk Siadong, yang tidak jauh dari Tomok. Ada gerbang yang menunjukkan kawasan berbentuk tanjung yang menjadi pusat wisata. Ada deretan hotel dan penginapan di sini. Rata-rata di pinggir Danau Toba. Di sini pula ada gedung kesenian, studio kerajinan ukiran, sekaligus pelabuhan langsung ke Ajibata atau Tiga Raja. Alat transportasi berupa perahu penumpang, dengan lama perjalanan hanya 30 menit.

Berada di Tuktuk seperti berada di tempat lain dari Samosir. Lingkungannya khas turis. Ada penyewaan sepeda bagi yang ingin berkeliling menggunakan sepeda. Dan ada perlengkapan untuk bermain di Danau Toba di hotel bila ingin menikmati sore dengan bermain perahu, berenang. Sore hari saatnya menikmati danau dari Tuktuk. Demikian juga esok paginya, menunggu mentari terbit, sambil menatap hamparan air nan luas.

Hari Keempat, mempelajari sejarah Batak Toba belumlah usai. Sejarah dan tradisi raja di daerah ini bisa disimak di Batu Persidangan Siallagan. Tak jauh dari Tuktuk, obyek wisata yang tertata ini terdiri atas beberapa rumah Batak Toba, makam raja, serta seperangkat meja dan batu. Yang terakhir inilah yang disebut Batu Persidangan. Di kursi batu itulah raja bersama penasihat membahas hukuman untuk seseorang yang berbuat kejahatan. Hukumannya bisa berupa hukuman pancung. Siallagan tak lain adalah nama sebuah marga. Pemimpinnya Siallagan. Huta atau kampung Siallagan di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, dikelilingi oleh batu besar, yang juga berfungsi sebagai benteng.

Puas melihat detail rumah Batak dan sejarah panjang Raja Siallagan, Anda bisa melangkah ke rumah penenun ulos, yang tersebar di beberapa desa. Kebanyakan berada tak jauh dari Pangururan, seperti Desa Lumban Suhi-suhi. Selain itu, di sepanjang jalan menuju Pangururan, bisa ditemukan penenun perorangan. Bila ingin berbelanja ulos, bisa langsung ke perajin di sini. Sore hari saatnya menikmati kembali Danau Toba. Ada beberapa sisi dari Danau Toba yang muncul seperti landai sehingga tak salah jika penduduk setempat menyebutnya pantai. Ada Pantai Pasir Putih dan Pantai Ambarita. Silakan menikmati pantai berair non-asin!

Hari Kelima, setelah kembali menikmati mentari terbit dari pinggir danau dan sarapan, saatnya bersiap-siap meninggalkan Samosir. Ada banyak obyek wisata alam yang belum sempat disinggahi, tapi mungkin untuk kunjungan berikutnya. Penyeberangan feri berlangsung sekitar satu jam. Kali ini jalur kembali tidak lewat Berastagi, melainkan melalui Pematang Siantar. Dengan pemandangan kiri-kanan kebun karet dan kelapa sawit. Melewati Serdang Bedagai, lalu Medan. Perjalanan sekitar empat jam. Lebih singkat, jalan lebih datar, dan pilihan obyek untuk disinggahi pun tak beragam. Tiba di Medan, Anda bisa langsung mengambil penerbangan sore menuju Soekarno-Hatta.

Rita N./Toni H./Dok TL

Mutiara Lombok, Salah 1 Yang Terbaik

Mutiara Lombok kabarnya merupakan salah satu yang teraik di dunia. Foto: shutterstock

Mutiara Lombok adalah salah satu yang diminta menjadi oleh-oleh jika ada kerabat atau sahabat liburan ke Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok. Tahukah Anda bahwa mutiara Lombok diakui sebagai salah satu jenis mutiara paling indah di dunia? Budidaya lokal satu ini telah berhasil menarik perhatian begitu banyak peminat tak hanya dari dalam, namun juga luar negeri.

Mutiara Lombok

Sejak lama, mutiara dianggap sebagai simbol kemurnian dan kesempurnaan. Dari peradaban Roma hingga Hindu kuno, memiliki atau menggunakan barang yang terbuat dari mutiara punya nilai gengsi tersendiri.

Selain keindahan wujudnya, ia tergolong barang mahal karena tak mudah menemukannya. Di masa lalu, para pencari mutiara bertaruh nyawa menyelam hingga ke dasar laut mencari kerang-kerang. Itu dilakukan dengan minimnya teknologi dan perlengkapan penunjang.

Oleh karena itu, bagi pemiliknya, mutiara lebih banyak digunakan untuk acara dan keperluan spesial, atau bagi golongan tertentu. Misalnya perhiasan bagi kaum kerajaan dan bangsawan, atau perhiasan yang digunakan pada adat pernikahan Hindu kuno.

Mutiara sendiri terbuat dari proses alami kerang yang memiliki sistem pertahanan diri dari partikel-partikel mikro yang masuk ke dalam tubuh (cangkang) mereka, misalnya pasir, plankton dan lain-lain. Caranya, kerang akan mengeluarkan cairan yang mengandung kalsium karbonat, yang kemudian akan menyelimuti partikel tersebut hingga berkristalisasi.

Mutiara Lombok saat ini lebih banyak hasil budidaya, baik di darat dan di air laut. Keduanya merupakan mutiara yang bagus.

Proses itu dapat berlangsung lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Itulah sebabnya, seekor kerang biasanya hanya dapat membuat sebutir mutiara. Bahkan dari setiap seribu kerang, mungkin hanya hitungan jari saja yang dapat ditemukan dengan mutiara.

Oleh sebab itu, orang kemudian membudidayakan mutiara dengan cara memasukkan partikel mikro tersebut secara sengaja ke dalam kerang, agar ia dapat membuahkan mutiara. Dengan demikian, proses dapat dipersingkat dan probabilitas panen mutiara menjadi lebih besar.

Dari situ, mutiara kemudian dibedakan menjadi mutiara jenis laut dan air tawar. Jenis laut biasanya lebih jarang ditemukan, dan kerang biasanya hanya membuat satu butir saja. Proses terbuatnya pun bisa hingga bertahun-tahun. Maka populasinya jarang dan jika dijual harganya mahal.

Sedangkan jenis air tawar biasanya punya jangka waktu panen yang lebih singkat. Selain itu, kerang bisa memproduksi mutiara lebih dari satu. Populasinya pun lebih banyak dan harganya lebih murah.

Mutiara jenis laut secara asalnya terbagi lagi menjadi tiga jenis. Yang pertama adalah mutiara laut Tahiti, yang terdapat di perairan pulau Tahiti dan French Polynesia. Kemudian ada juga mutiara laut Akoya, yang terdapat di area perairan Jepang.

Terakhir adalah mutiara laut selatan, yang kebanyakan berada di kawasan perairan Asia Pasifik seperti Filipina, Australia dan Indonesia, termasuk di Lombok. Selain Lombok, lokasi budidaya lainnya meliputi Sumbawa dan Papua.

Di Lombok, budidaya mutiara dilakukan baik di laut maupun air tawar. Kendati jenis laut rata-rata berkualitas lebih bagus dan lebih mahal, secara umum mutiara Lombok dikenal dengan butirannya yang berukuran besar dan kilaunya yang khas. Inilah alasan mengapa mutiara Lombok dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Ciri khas lainnya adalah warnanya secara alami. Jenis air tawar biasanya berwarna alami putih, merah muda dan ungu. Sedangkan jenis laut memiliki warna alami putih, emas, silver, dan kadang-kadang hitam.

Mutiara Lombok kemudian dijual sebagai perhiasan, atau dijual per butiran. Misal, jenis air tawar biasanya dihargai sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per butir. Sedang jenis laut bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Biasanya mutiara dijual butiran berdasarkan bobot per gramnya.

Harga jual per butirannya juga tergantung dari grade mutiara tersebut. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, seperti luster (kilau), shape (bentuk), surface (permukaan), size (ukuran) dan nacre (lapisan warna).

Dari situ, grading biasanya dibagi menjadi beberapa kategori, dari yang terbaik sampai yang kurang baik. Misalnya, grade AAA punya kilau bagus, bentuk sempurna, tingkat cacat permukaannya maksimal 10 persen.

Kemudian grade AA berkilau sedang, bentuk hamper sempurna dan tingkat cacat permukaannya maksimal 25 persen. Dan di bawahnya ada grade A dengan kilau rendah, bentuk kurang sempurna dan tingkat cacat permukaan maksimal 50 persen.

Selain itu, tentu mutiara juga dijual sebagai beragam jenis perhiasan, seperti kalung, gelang, cincin, bros dan lain-lain. Harganya pun beragam, dari kisaran Rp 200-250 ribu hingga jutaan, bahkan puluhan juta rupiah.

Yang perlu dicatat, saat ini penting untuk mengetahui ciri-ciri utama mutiara yang asli. Hal ini disebabkan makin maraknya mutiara imitasi yang terbuat dari plastik, kaca atau keramik yang beredar di pasaran.

Ada beberapa cara untuk mengecek keaslian mutiara. Contohnya, mutiara asli jika disentuh awalnya akan terasa dingin. Barang imitasi tidak terasa demikian, bahkan sudah cenderung hangat sejak pertama disentuh.

Cara lainnya, jika digosok atau dikikis mutiara yang asli akan terasa berpasir, yang palsu hanya akan terasa licin dan halus. Yang asli juga akan memiliki bobot yang lebih berat dan variatif per butirnya. Kilau dan refleksi cahayanya pun lebih alami ketimbang yang palsu.

Bagi yang berminat, penting untuk memperhatikan ciri-ciri tersebut agar tak tertipu produk palsu. Mutiara Lombok juga biasanya disertakan dengan sertifikat resmi dari asosiasi penjual mutiara Lombok.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Ubud Bali, Keselarasan Hidup di 14 Desa

Desa Tegallalang Bali menjadi tempat untuk menikmati alam.

Ubud Bali adalah keselarasan manusia dan alam, melalui capaian seni dan budaya. Pasti bukan hanya Elizabeth Gilbert, penulis buku Eat, Pray, Love yang mengamini itu.

Ubud Bali

Sempat dinobatkan majalah travel Amerika Condé Nast Traveler sebagai tujuan wisata terbaik di dunia, Ubud memang sangat kuat memberikan harmoni. Baik yang terlihat mata dan telinga, juga yang tertangkap oleh rasa. Ubud adalah pedesaan di Kabupaten Gianyar, Bali, merupakan paduan 14 desa berbalut hutan dan sawah terasering yang teduh menghijau, di mana seni dan laku spiritualitas menjadi denyut nadinya yang sangat kuat.

Begitulah, jauh di masa lampau, tepatnya pada abad ke 8, desa Ubud bahkan diyakini lahir dari kata “ubad” yang berarti “obat” karena di sinilah pusat meditasi dan penyembuhan pada zaman itu. Ada satu kisah, seorang resi terkemuka hijrah dari Jawa ke daerah ini untuk bermeditasi di muara sungai Campuan dan membangun kehidupan baru di Bali.

Warisan sebagai pusat spiritualitas di masa lalu tersebut membuat Ubud kaya dengan balian (para penyembuh tradisional) maupun seniman dengan karya masterpiece-nya. Paduan kearifan dari masa lampau dan kekinian secara unik berpadu di Ubud dengan harmonis, menjadikan daya tarik wisata kawasan ini yang tak akan cukup dijelajahi hanya dengan satu atau dua hari kunjungan.

Ubud bukanlah Kuta yang bising dengan wisatawan “anak pantai”-nya. Kawasan ini rasanya lebih teduh dan kerap turun hujan di sore hari pada sepanjang musim penghujan (Oktober hingga Maret). Itu sebabnya banyak pelancong lebih banyak mencari wisata budaya dan spiritual di sini. Tak heran, kegiatan retreat dengan yoga dan meditasi menjadi salah satu paket wisata yang banyak berkembang di Ubud.

Kegiatan para wisatawan di Ubud biasa dimulai dengan yoga di alam terbuka pada awal hari. Salah satu pusat retreat, yoga serta meditasi di Ubud adalah Yoga Barn. Acara di pagi hari bisa dilanjutkan dengan berjalan-jalan menikmati pertokoan dan butik yang artistik di pusat kota, menikmati Pasar Seni Ubud, atau mengunjungi ratusan monyet yang seolah setia menjaga Pura Dalem Padangtegal di Wanara Wana yang kini lebih dikenal dengan nama Monkey Forest.

 Ubud juga sohor dengan wisata treking dan bersepeda menyusuri sawah dan bukit. Di antara jasa tur sepeda di Ubud yang kerap dicari wisatawan manca negara adalah Bali Baik, Bali on Bike (BoB) dan Banyan Tree. Bersepeda sekitar 5 km dari Ubud menuju Tegal Lalang, suatu pusat seni kerajinan kayu, bisa dilakukan dengan melalui rute Dusun Ceking untuk bisa menikmati panorama sawah yang memesona. Tak jauh dari Tegal Lalang adalah desa Pakudui di Sebatu yang sohor dengan  patung dan ukiran kayu aneka jenis dan harga.

Pada sisi timur Pakudui terdapat Pura Gunung Kawi, Sebatu, yang anggun. Pengunjung dapat memasuki pura dengan memakai busana yang sopan dilengkapi kain kamen (sarung) yang bisa disewa di gerbang.  Pura lain di Ubud yang wajib dikunjungi adalah Pura Taman Saraswati yang dibangun anggun di tengah kolam penuh teratai. Pura ini dapat dinikmati pada pagi hari untuk sekadar berfoto di bibir keindahannya  sedangkan pada malam harinya ada pertunjukan tari. Pengunjung juga bisa menikmati tarian yang selalu dipentaskan kecuali pada Jumat malam.

 Salah satu sumber seni dan budaya di Ubud adalah adanya keraton Puri Agung yang menjadi jantung kehidupan di Ubud. Setiap hari pelancong dapat menyaksikan anak-anak yang berlatih menari dan juga pementasannya di Puri Agung. Bahkan pada Jaba Puri, yang menjadi semacam balairung keraton, setiap tahunnya digunakan untuk membuka pekan sastra internasional Ubud Writers and Readers festival.

Sebagai pusat seni, budaya dan spiritual, Ubud menjadi rumah berbagai kegiatan sejenis, baik untuk tingkat lokal hingga internasional. “Setiap tahun di Ubud diselenggarakan Bali Meditation Festival dan Bali Spirit Festival,” ungkap Noviana Kusumawardhani, warga Ubud. Selain dua festival besar itu  juga terdapat berbagai kegiatan spiritualitas nyaris setiap hari di Ubud. Kegiatan spiritualitas lain yang banyak dicari di Ubud adalah retreat dan melakukan meditasi.

Sejenak meninggalkan dunia spiritualitas, untuk mengagumi keunikan alam bisa dilakukan di di Desa Petulu yang  merupakan habitat burung bangau atau kokokan. Di desa peraih Kalpataru yang berada 2,5 km di sebelah utara Ubud tersebut terdapat ratusan bangau yang bersarang pada pepohonan di sepanjang jalan pedesaan.

Setiap pagi, kokokan berangkat bersama-sama matahari terbit untuk terbang mencari makan dan kembali bersama-sama ke sarang mereka selepas pukul lima petang. Wisatawan, terutama penggemar fotografi telah bersiap pada pukul 5 sore untuk mengabadikan pemandangan bangau yang menjejakkan kaki dari udara untuk hinggap ke sarangnya.

Lukisan seolah menjadi keharusan sebagai oleh-oleh dari Ubud. Pecinta seni akan sangat dimanjakan oleh aneka pilihan lukisan dari berbagai aliran. Adanya lima museum utama di Bali yang juga menyediakan galeri yang memperjual belikan lukisan dan deretan art shop di sepanjang Jalan Raya Ubud dan Jalan Monkey Forest tak akan cukup dijelajahi hanya dalam waktu satu atau dua hari. Selain lukisan, pahatan dan ukiran, Ubud juga sohor dengan karya fashion dan accesories.

Ubud Bali salah satu yang perlu dikunjungi adalah Pasar ubud

Terdapat pula Pasar Ubud yang eksotik bagi para wisatawan manca. Di sini pengunjung dapat menemukan aneka sarung Bali, aneka barang seni dan jajanan dengan seni tawar menawar yang seru. Jika hendak mengunjungi Pasar Ubud disarankan untuk menghindari pasar ini pada tengah hari lantaran menjadi waktu favorit untuk mampirnya bis berisi rombongan turis dari luar kota yang membuat pasar kecil tersebut menjadi sesak.

Jika pengunjung mengikuti tur harian dari Denpasar ke Ubud, biasanya sang pemandu akan mengajak mampir ke berbagai desa seni yang  dilewati. Ubud memang dikelilingi banyak desa seni yang menjual karya langsung dari sang seniman. Desa Batubulan, misalnya, adalah rumah para pemahat batu yang menyediakan aneka rupa stone-carving penghias rumah. Selepas Batubulan, akan tiba di desa Celuk yang sohor dengan kerajinan perak. Wisatawan dari Denpasar ke Ubud biasanya juga menyempatkan diri untuk mampir di Pasar Seni Sukawati, mencari lukisan tradisional di desa Batuan, dan ukiran kayu di desa Mas.

Jika pengunjung  ingin membeli sesuatu yang lebih personal,  terdapat pula para seniman yang membuka workshop dan pelatihan, misalnya di Chez Monique. Pada studio pembuatan perhiasan perak milik I Wayan Sunarta dan istrinya, Monique, di rumah sekaligus bengkel mereka di Jalan Dewi Sita, Ubud, tersebut tersedia pelatihan dasar membuat perhiasan dari perak, selama sekitar 4 jam.

Tertarik? Ayo agendakan perjalananmu ke Ubud.

*****

Resto Da Maria, 1 Sentuhan Naples di Seminyak

Resto Da Maria andi prasetyo

Resto Da Maria menawarkan sejumlah menu Italia. Kesan Osteria menonjol pada ruangan dan menu diolah dengan cara tradisional Italia.

Resto Da Maria

Pesan pendek Joseph Oliver mendarat di ponsel ketika mobil kami terjebak di antrean kemacetan Jalan Raya Seminyak, Bali. “Sudah sampai mana?” tuturnya dalam pesan itu. “Tak usah dibalas dulu, kita sebentar lagi sampai. Lokasi restorannya cuma di muka jalan ini,” ujar Priyo, pria Jawa tulen yang kini berdomisili di Bali, kala mengantar kami menuju Da Maria.

Sekitar 15 menit seusai pesan Joseph terbaca, mobil berpelat DK itu memasuki halaman kecil sebuah gedung bergaya minimalis. Tembok pagarnya dipenuhi tumbuhan merambat. Di ujung kanan dan kiri gedung, terdapat ayunan besi, mirip yang umumnya ditemukan di resor mewah.

Sejurus kemudian, pramusaji membawa kami ke bagian dalam restoran yang sangat luas, bisa menampung lebih dari 200 orang. Kesan Osteria langsung menyapa pandangan. Reinterpretasi kontemporer keramahan Italia klasik menjadi kekuatan yang ditonjolkan. Interior bergaya Eropa modern, mulai besi autentik di kursi, meja yang memberi sentuhan klasik-elegan, hingga penataan sendok-garpu-piring-pisau yang mengesankan konsep formal dinning, dikonsep begitu rapi dalam komposisi dan tatanan yang pas.

Ruangan ini dibagi menjadi dua bagian, yakni dalam dan luar. Di bagian dalam, restoran menyajikan kesan cukup formal—tempat orang-orang bersantap dengan momen yang cukup serius. Sedangkan di luar, orang bisa mengobrol lebih santai. Kursi dan mejanya dibuat berbentuk seperti ayunan.

Di tengah ruang—tempat yang membelah bar, sisi luar dan dalam, ditempatkan air mancur mini. Bila diingat, tatanannya mirip dengan konsep ruang dansa di kastil milik Pangeran Irakus dalam kartun Cinderella. Air mancur ini sederhana, namun klasik. Inspirasinya datang dari biara Santa Chiara di Naples. Tujuannya memberikan ketenangan kala orang tengah bersantap. Di samping air mancur bergaya Romawi itu, Joseph Olive duduk menunggu. Tangannya melambai.

“Naik mobil di Bali memang kurang asyik sekarang. Pasti kena macet di jalanan,” tutur public relations itu membuka perbincangan. Tak banyak basa-basi, pria oriental ini lantas menyodorkan buku menu. Tak hanya bangunan yang bergaya Italia, menu pun begitu. Maurice Terzini dan Adrian Reed, si pemilik Da Maria, juga pesohor di bidang kuliner internasional, terinspirasi gaya restoran Maurice Terzini yang berlokasi di Australia ketika membangun usaha kulinernya di Bali. Karena itu, menu utamanya adalah pizza.

Berlainan dengan pizza Amerika, yang punya daging tebal, pizza di sini dimasak lebih tipis. Cara memanggangnya masih tradisional, menggunakan oven kuno. Tak cuma itu, resepnya khusus memakai komplemen tradisional yang kerap digunakan masyarakat yang tinggal di jantung Laut Mediterania tersebut.

Selain itu, secara alami, pizza difermentasi selama 24 jam. Cara ini terinspirasi gaya memasak Neapolitan yang memanfaatkan oven lava lokal. Ada macam-macam pizza dengan taburan yang berbeda. Semisal, Antica Margherita, berisi fior di latte, basil, dan parmesan. Ada pula Marinara berisi black olive, white anchovy, oregano, juga garlic. Selanjutnya, Capricciosa berisi fior di latte, mushroom, artichoke, dan olive. Yang paling spesial, yakni Gamberetto berisi prawn, zucchini, fior di latte, juga chilli; Salami berisi salami, fior di latte, dan artichoke; serta Da Maria berisi goats cheese, roasted peppers, fior di latte, juga pinenuts. Pizza dibanderol antara Rp 90-150 ribu.

Ada pizza, tentu ada pula pasta. Kala itu, yang direkomendasikan Joseph adalah primi  ber-topping tonnarelli al nero, clams, spicy sausage, dan parsley. Pasta berbentuk spageti ini dimasak dengan gaya aglio olio. Kental dengan kekhasan Italia, spageti diolah dengan bumbu sederhana yang mengandalkan bawang putih dan minyak. Rasanya plain, ringan, juga pedas lantaran dibubuhi cabai kering. Cita rasa semacam ini cocok buat lidah orang Eropa. Primi dibanderol mulai Rp 100-160 ribu per porsi. Ukurannya tak terlalu besar. Hanya bisa disantap satu sampai dua orang. Berbeda dengan pizza yang bisa dikudap empat hingga enam orang.

Tak cukup dengan olahan gandum, pramusaji mendaratkan sepiring la panarda. Orang Indonesia menyebutnya sate. Daging yang digunakan adalah daging domba muda yang masih empuk, segar, dan merah. Orang-orang Italia menyajikan makanan ini umumnya saat menggelar upacara tradisional. Mereka menamainya dengan perayaan mengudap makanan terpanjang sedunia.

Domba itu dipanggang sampai masak, namun tetap tak menghilangkan tekstur dagingnya. Aroma amisnya hilang lantaran dibubuhi rosemary salt dan lemon segar. Sepiring la panarda berisi 10 tusuk daging. Cukup disantap dua hingga tiga orang.

Sembari memburu makanan bergaya Eropa, mata disegarkan dengan desain klasik arsitek Romawi—Lazarini Pickering—yang menyoroti keragaman makanan, anggur, musik, mode, dan seni yang padu. Gemerencing bunyi gelas sparkling wine dengan bowl tinggi dan ramping, bertubrukan dengan botol anggur, turut menjadi pelengkap yang membawa pengunjung serasa bersantap di daratan Eropa. Tawa renyah mayoritas tamu berkulit putih dan bermata biru membuat kami lupa kalau siang itu tengah berada di jantung Dewata, bukan di pesisir Amalfi, Italia. l

Da Maria

Jalan Petitenget Nomor 170, Kerobokan Kelod, Kuta Utara

Denpasar, Bali

Operasional

Buka pukul 12.00–02.00

F. Rosana/Andi P./Dok. TL

Liburan ke Cilacap, Menikmati Tradisi Sejak 1875

Ini 5 tempat Wisata asyik di Cilacap yang ada di jalur mudik selatan salah satunya bisa menikmati spot wisata di sekitar Cilacap

Liburan ke Cilapacap, Jawa Tengah, pengunjung bisa menikmati atraksi sedekah laut. Ebuah tradisi yang sudah berjalan lebih hampir 150 tahun. Selain itu, masih ada Teluk Penyu dan Benteng Pendem menjadi kegiatan wisata yang mencuri perhatian wisatawan. Cilacap Tak lagi hanya dikenal karena Pulau Nusakambangan.

Liburan ke Cilacap

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa memiliki makna penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, sebagai masyarakat bahari, warga Cilacap memiliki kalender rutin sedekah laut. Ini merupakan upacara adat nelayan berupa prosesi Larung Sesaji yang disebut Jolen ke Laut Selatan sebagai wujud rasa syukur serta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan nelayan dapat makmur sentosa.

Liburan ke Cilacap salah satunya mennikmati rangkaian tradisi larung sesaji.
Larung Sesaji, tradisi memberikan melarung sesaji di Cilacap sejak 1875. Foto: Dok. shutterstock

Merunut sejarah, kegiatan tersebut bermula dari perintah Bupati Cilacap III, Kanjeng Adipati Raden Bei Tjakrawerdana III (1873-1877) kepada sesepuh nelayan Pandanarang yang bernama Ki Ansa Manawi untuk melarung sesaji atau Jolen ke Laut Selatan pada Jumat Kliwon di bulan Suro tahun 1875. Tujuannya, untuk menjaga keselamatan warga Cilacap.

Tetapi tradisi tersebutsempat terhenti danbaru dihidupkan kembalipada masa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga saat ini terus dilestarikan sebagai salah satu atraksi budaya di Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan tiap Jumat atau Selasa Kliwon di Bulan Sura.

Rangkaian gelar budaya sedekah laut diawali dengan berziarah ke Karang Bandung di Pulau Nusakambangan oleh para sesepuh nelayan, sehari sebelum prosesi larungansesaji. Pada malam harinya dilakukan tasyakuran di Pendopo Wijayakusuma Sakti Kab. Cilacap yang dihadiri para nelayan dan pejabat di lingkungan Pemkab Cilacap. Prosesi Larunganpada upacara ini berlangsungdi Pantai Selatan Cilacap dan meriah karena melibatkan banyak kelompok nelayan dan masyarakat sekitar.

Iring-iringan kirab tersebut terdiri dua perempuan berkuda, barisan prajurit bertombak, barisan umbul-umbul, 14 putri domas,14 putri pengiring, kereta kuda yang membawa Bupati Cilacap dan istri serta pejabat lainnya, sejumlah becak, dan prajurit pembawa jolen. Prosesi dimulai dari pelepasan iring-iringan kelompok nelayan yang dipimpin Tumenggung Duta Pangarsa dengan membawa Jolen (sesaji berupa kepala kerbau yang dihias meriah) oleh Bupati Cilacap dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu. Di Pantai Teluk Penyu, Tumenggung Duta Pangarso meminta izin kepada Bupati untuk memerintahkan para nelayan melarung jolen di Laut Selatan (sebelah selatan Pulau Nusakambangan).

Liburan ke Cilacap, selain menikmati tradisi lama, juga ada wisata pantai di teluk Penyu.
Panorama pantai Teluk Penyu di Cilacap, Jawa, Tengah. Foto:: Dok. shutterstock

Keunikan budaya di Cilacapitu tak bisa dipisahkan dari geografis wilayahnya yang berada di Jawa Tengah, tapi berbatasan pula dengan Provinsi JawaBarat. Sehingga budaya yang berakulturasi yaitu Jawa dan Sunda begitu lekat di Cilacap Ini. Pesona alamnya yang sebagian berada di pesisir pantai selatan memiliki keindahan luar biasa. Di antaranya Pantai Teluk Penyu yang berlatarkan Pulau Nusakambangan yang eksotis dan misterius.

Pantai Teluk Penyu initerletak sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Cilacap ke arah selatan. Kondisi pantainya landai, dan jika dilihat dari atas berbentuk seperti bulan sabit dengan pemandangan Pulau Nusakambangan serta kapal-kapal nelayan, dengan latar belakang Benteng Pendem Cilacap. Dinamakan Teluk Penyu karena konon, dahulu banyak terdapat penyu di sekitar teluk ini. Sedikit berbeda dengan pantai selatan pada umumnya yang memiliki ombak besar, Pantai Teluk Penyu karena terlindung Pulau Nusakambangan dari arah Samudera Hindia, maka ombaknyapun tidak terlalu besar.

Berbagai atraksi dan rangkaian kegiatan besar pariwisata sering diselenggarakan di Pantai Teluk Penyu diantaranya Gelar Budaya Adat Nelayan Sedekah Laut setiap Selasa atau Jumat Kliwon di bulan Sura, Festival Perahu Naga (Dragon Boat Race Open Tournament) tiap Maret dan Festival Layang-layang tingkat Nasional tiap September.

Di dekat pintu masuk dan sepanjang Pantai Teluk Penyu terdapat aneka cenderamata serta makanan khas hasil laut yangdapat dinikmati sambil merasakan sejuknya semilir angin laut selatan di bawah pohon waru atau di payung-payung pantai yang terdapat di sepanjang pantai tersebut.

Liburan ke Cilacap orang bisa menikmati Benteng Pendem peninggalan Belanda.
Benteng Pendem peninggalan zaman Belanda yang masih tersisa di Cilacap. Foto: Dok. shutterstock

Berwisata ke Cilacap, tak lengkap tanpa berkunjung ke Benteng Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut “Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap” terletak 0,5 km arah selatan Pantai Teluk Penyu. Benteng ini merupakan peninggalan Hindia Belanda yang dibangun rentang 1861 – 1879 sebagai benteng pertahanan dengan luas 10,5 hektare. Keseluruhan bangunan benteng ini masih dipertahankan seperti bentuk aslinya yang terdiri dari barak atau ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang akomodasi, dan landasan meriam, yang dikelilingi parit dengan kedalaman 3 meter.

Sejak selesai dibangun mulai 1861 hingga 1942, benteng ini dipergunakan sebagai markas tentara Belanda untuk pertahanan pantai Pulau Jawa di bagian selatan karena letaknya yang strategis dan terlindung oleh Pulau Nusakambangan. Kemudian pada 1942 sampai 1945 Benteng Pendem dimanfaatkan sebagai Markas Tentara Dai Nippon (Jepang) di era penjajahan Jepang.

Setelah Jepang kalah perang, antara 1945-1950 Benteng Pendem itu diambil alih kembali oleh tentara Belanda sampai 1950.

Selanjutnya, Benteng Pendem tidak berfungsi apapun, hingga pada 1952-1965 dijadikan markas TNI/Pasukan Banteng Loreng
dan dalam perkembangannya dimanfaatkan sebagai tempat latihan pasukan RPKAD (sekarang Kopassus) sampai 1965 dan meninggalkan bangunan monumen dua peluru di pintu gerbang selatan. Kemudian, sekitar 21 tahun setelah itu, Benteng Pendem terlantar tanpa ada yang memanfaatkannya.

Benteng Pendem baru mulai kembali dimanfaatkan keberadaanya pada 1986 dengan sebagian areal Benteng Pendem seluas 4 hektare untuk dibangun dermaga kapal dan kantor serta tangki-tangki minyak area 70. Hingga akhirnya pada 26 November 1986, seorang warga Cilacap bernama Ady Wardoyo (Pemilik CV. Wardoyo) mencoba menggali dan menata kembali lingkungan Benteng Pendem dan mulai 28 April 1987 secara resmi dibuka sebagai tempat wisata sampai saat ini.

Benteng Pendem Cilacap kini telah dilengkapi dengan fasilitas berupa gazebo, ayunan atau tempat bermain, area pemancingan, perahu bebek, motor ATV, mushola, panggung hiburan dan toko cenderamata. Berbagai kegiatan pariwisata sering dilaksanakandi tempat ini antara lain lomba menggambar dan mewarnai, memancing, festival musik, tari dan calung Banyumasan.

agendaIndonesia

*****

Gerai Teguk 1 Di New York City Dibuka

Gerai Teguk 1 di New York City resmi dibuka. Foto: Dok Teguk.

Gerai Teguk 1 resmi dibuka di New York City, Amerika Serikat, Sabtu 17 September 2022. Informasi soal gerai pertama di Amerika Serikat ini sudah pernah disampaikan CEO Teguk Indonesia Maulana Hakim pertengahan Agustus lalu di Jakarta. Kini rencana itu terealisasikan.

Gerai Teguk

Teguk, perusahaan minuman kekinian dengan, membuka gerai di New York, Amerika Serikat. Sebagai bagian dari ide “Teguk akan goes to New York”. “Gerainya sudah ada, di sentral kota New York, tidak jauh dari Time Square,” kata Maulana secara virtual sebagaimana dikutip Kompas.com, Kamis 18 Agustus 2022.

Gerai Teguk pertama di New York City sekaligus di Amerika Serikat ini berada di Mott Street di seputaran kawasan Manhattan. Sebuah jalan yang tak terlalu besar namun sangat sibuk. Masyarakat New York sering menyebutnya “jalan utama” Chinatown kota tersebut.

Gerai Teguk 1 di New York City memberikan pengalaman kuliner ala anak muda Indonesia di dunia.
Layanan Konsumen di Gerai Teguk New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Saat pembukaan, Gerai Teguk pertama ini melakukan promo dengan free trial atau cicip gratis minuman boba kreasi mereka. Dari video yang diperoleh, terlihat anak-anak muda New York yang cukup surprise dengan tawaran cicip gratis ini. Mereka terlihat menikmatinya. Saat pembukaan, gerai Teguk ini juga mendapat kunjungan Amanda dan Sandi, staf desk ekonomi Konsulat Jendral Republik Indonesia di New York.
Soal Teguk, Maulana mengatakan, upaya dan kerja keras yang dilakukan timnya dari awal mula bisnis minuman Teguk pada 2018. Hingga kini akhirnya Teguk bisa mulai ekspansi ke luar negeri.

Gerai Teguk pertama di New York City, Amerika Serikut, membuka jalan produk ini go internasional.
Kunjungan Staf Deks Ekonomi KJRI New York. Foto: Dok. Teguk Indonesia

Ia menceritakan, awalnya Teguk merupakan gerai penjual thai tea. Ia mengatakan dasar pendirian produknya berawal dari perilaku masyarakat yang terbiasa membeli minuman dalam kemasan. Dia bilang banyak orang pada saat itu juga sudah membeli minuman dalam kemasan cup untuk dibawa ke rapat, belajar, dan berbagai acara lainnya. Namun kala itu, kebanyakan produk minuman kemasan cup berharga mahal
Adalah Najib Wahab Mauluddin, seorang pengusaha muda di banyak sektor bisnis, mulai dari Energy, Infrastruktur, Logistik, alat berat, hingga F&B. Ia kemudian bersama-sama Maulana Hakim, yang kemudian bertindak selaku CEO Teguk Indonesia, merancang bisnis minuman kekinian tersebut.

Ke dua sosok inilah yang menjadi pelopor dan membuat Teguk menjadi besar. Bisnisnya sendiri berawal saat merebaknya fenomena minuman boba kekinian di Indonesia. Terutama bagi kalangan muda, mulai dari millennial hingga generasi Z. Dari masyarakat kelas bawah hingga kelas atas.

“Ini berawal dari keinginan saya agar masyarakat di kelas bawah juga bisa merasakan minuman mewah tetapi tidak perlu mahal. Dari situ saya ciptakan Teguk,” kata Najib dalam siaran persnya di Jakarta, 23 Agustus lalu.

Dengan tren tersebut, Teguk hadir dengan membidik masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, tingkat belanja konsumen menengah ke bawah saat itu juga sedang tinggi, sehingga membuka kesempatan bagi Teguk mengoptimalkan potensi pasar.

Saat itu, pasar didominasi dengan tren minuman cup dari luar negeri dengan harga yang cukup tinggi, baik kopi maupun non kopi. Di sisi lain, untuk usia 18-25 sudah memiliki kemampuan yang konsumtif, dan itu menjadi dasar Teguk berkembang. “Teguk saat itu mengeluarkan produk teh yang terjangkau dengan value yang lebih tinggi,” ujar dia.

Gerai Teguk awalnya hadir dengan produk Thai Tea seharga Rp 5 ribu dengan konsep open kitchen sehingga pembeli bisa melihat bahan baku pembuatan produk. Mulai dari produk teh impor dan diramu dengan bahan-bahan lainnya.
Pertumbuhan penjualan yang terus meningkat mendorong Maulana untuk melakukan inovasi. Ia mulai mencoba menjual minuman jenis kopi dan coklat. Tak hanya itu, ia juga menambahkan makanan seperti roti untuk turut dijual di gerai Teguk.

“Keberhasilan itu merambat ke kategori lain, ada kopi, coklat dan lain-lain. Konsepnya, bahan baku kita tidak kalah dengan yang premium, tapi dengan harga yang terjangkau. Kita juga menjual makanan yang unik dan khas, seperti odading misalnya,” kata dia.

Sepanjang setahun mengembangkan bisnis, Teguk masih menggunakan sistem pemasaran konvensional. Dia percaya, jika pelanggan menikmati dan suka dengan produknya, akan secara langsung akan membuat kostumer kembali lagi untuk membeli
Namun di tengah era digital yang tumbuh pesat, penjualan secara online juga tidak kalah diminati oleh pelanggan mereka. Pada 2019, mereka melebarkan kanal penjualan online.

Awalnya konsumen Teguk hanya sekitar 25 ribu orang, sehingga dirasakan untuk berkembang perlu adanya transformasi. Maulana mengakui, mereka termasuk yang agak telat masuk ke kategori online atau gofood ini.

Pada 2019 mereka coba-coba dengan penjualan online dan hasilnya cukup mengejutkan. “Basis penjualan kami naik signifikan. Ternyata online ini bisa membeli lebih banyak dari rumah,” ungkapnya sambal bercerita Teguk yang semakin membesar.

Angkanya lebih dari 200 persen dibanding penjualan 2019 lalu.

“Penjualan kita di online cukup bagus dan kontribusinya cukup besar, sehingga kami merasa langkah selanjutnya adalah go international,” kata Maulana.

agenda Indonesia

*****

Kota Pontianak, Kota Multietnik di Garis Lintang 0

Pontianak Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak adalah kota yang tepat dilewati garis Khatulistiwa atau equator, atau garis lintang 0 derajat. Ia berada di tengah-tengah titik utara dan titik selatan bumi. Memiliki banyak tradisi Melayu, kota ini kaya dengan warisan kuliner Tionghoa.

Kota Pontianak

Menuju ibukota Kalimantan Barat ini tentu saja paling mudah melewati jalur udara melalui Bandara Supadio. Dari Bandara Soekarno Hatta memerlukan penerbangan dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Supadio sendiri berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Pontianak.

AgendaIndonesia berkesempatan mengunjungi kota ini akhir tahun lalu. Sesungguhnya agak nanggung datang ke Pontianak pada bulan Desember, sebab saat itu kotanya sedang tak terlalu ramai. Kota ini ramai justru saat perayaan Imlek, dan dua minggu setelahnya, yakni perayaan Cap Go Mei. Maklum saja, sekitar 32 persen warga kotanya adalah masyarakat keturunan Tionghoa. Lebih besar dari warga Melayu yang sekitar 26 persen.

Saat Imlek, yang biasanya jatuh di akhir Januari atau awal Februari, suasana kota sungguh meriah. Cobalah pada hari-hari itu mampir ke pasar-pasar tradisional. Warna-warni merah mendominasi suasana pasar. Dan, sama seperti ketika Lebaran di kota-kota di Jawa, saat Imlek banyak warga saling mengunjungi.

Agama tak menghalangi tradisi saling kunjung dan makan besar. Meskipun banyak warga Tionghoa yang sudah memeluk agama Katolik, selain Budha dan Konghucu, Imlek adalah perayaan tahun baru semi. Dirayakan oleh semuanya. Di kota ini bahkan warga non-tionghoa pun ikut saling mengunjungi. Sungguh suasana kekeluargaan yang hangat.

Tapi sudahlah, karena bukan saat perayaan Imlek, ketika sampai Pontianak, dengan mencarter mobil, kami berpikir untuk pertama-tama mengunjungi ikon kota ini: Tugu Khatulistiwa. Dari Bandara kami menuju ke wilayah Sungai Raya atau warga setempat menyebutnya Sei raya. Saat ini sudah ada dua jembatan yang menghubungkan wilayah Pontianak kota dan Pontianak Utara. Keduanya membentang sepanjang sekitar setengah kilometer, 420 meter dan 560 meter. Jembatan I dulunya adalah jembatan tol, namun pada 1990-an dibuka untuk umum tanpa berbayar.

Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang melintasi 5 kawasan, termasuk Pontianak. Panjang sungai ini mencapai 1.143 kilometer, sedangkan lebarnya sekitar 70-250 meter. Sebutan sungai Kapuas diambil dari daerah Kapuas Hulu yang mengaliri aliran sungai tersebut.

Dulunya, sebelum tahun 1982, warga Pontianak Kota yang ingin pergi ke wilayah lain di Kalimantan Barat harus menyeberangi Kapuas dengan kapal feri menuju wilayah Siantan. Dari sana baru perjalanan darat menuju Singkawang, Sambas, atau Kapuas Hulu dilanjutkan.

Tugu Khatulistiwa ini rasanya wajib kunjung, karena sesuai julukannya, Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena posisinya dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi.

Tugu Khatulistiwa bentuknya sederhana saja, sebuah menara dari bahan kayu belian berwarna hitam dengan dua lingkaran di mana salah satunya memiliki anak panah yang menandakan lintasan titik 0 derajat lintang bumi. Menara ini dibangun oleh tim ekspedisi geografi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda.

Sesungguhnya tugu atau menara Khatulistiwa ini biasa saja. Namun, memang ada sensasi lucu ketika berdiri di bawahnya. Berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran utara-selatan bumi. Sayangnya belum ada penelitian, adakah efek berada di titik 0 bagi manusia. Jika ada, dan positif, bisa jadi daerah ini akan makin ramai mendatangkan wisatawan.

Dari tugu, kami kembali ke kota. Hari itu kami cuma berencana menikmati kuliner Pontianak. Pertama-tama tentu saja kwetiau, atau masyarakat Pontianak menyebutnya mi tiau. Sama saja, keduanya merujuk pada bakmi dari tepung beras berwarna putih dan pipih lebar.

Kota Pontianak di  Pusat oleh olehnya

Ada beberapa pilihan restoran yang kondang di kota ini, tapi kami memilih Kwetiau Antasari. Dari namanya pasti sudah bisa diduga kalau lokasi berjualan rumah makan ini sekaligus menjadi nama atau branding dari rumah makannya ada di Jalan Antasari. “Ini sudah buka sejak aku kelas 2 SD,” kata Uke, seorang kawan yang menemani makan siang, itu artinya merujuk pada tahun 1972.

Kami siang itu memesan menu andalan, yakni kwetiau goreng spesial. Kata spesial ini merujuk pada kondimen yang terdiri dari bakso sapi gepeng, daging sapi, daging babat, sayuran hijau, tauge, kikil dan ditambahkan lagi telur mata sapi di atas kwetiau gorengnya. “Itu belum termasuk telur yang dicampur dalam gorengannya,” kata Uke sambil bercerita, jika pesan bungkus, maka bungkusannya masih menggunakan daun jati. Persis seperti puluhan tahun lampau.

Jika ingin mencoba kwetiau atau mitiau lain, ada pilihan Kwetiau Seroja Baru, juga Kwetiau Apolo. Yang terakhir ini, yang kami coba besoknya, terlihat lebih gelap karena faktor kecap.

Usai makan, kami lanjut ke tempat lain yang tak kalah terkenalnya di Pontianak: es krim Angi atau lebih dikenal dengan sebutan es krim Petrus, karena dengan dengan SMA Petrus. Tadinya mau mencoba kopi Asiang yang dekat dari Antasari, tapi warungnya penuh. Dan di tengah panas siang hari, es krim rasanya asik.

Es Krim Petrus ini ternyata juga sudah melegenda, sebab sudah melayani pelanggan sejak tahun 1950-an. Para pelanggan menyebut rasa es krimnya tidak berubah sejak pertama kali. Dan itulah yang menjadi daya tarik penikmatnya untuk kembali lagi dan lagi. Satu hal yang membuat banyak orang datang kembali untuk mencecap es krimnya adalah cara penyajiannya dengan menggunakan kelapa muda. Pilihan rasanya cukup banyak, mulai dari durian, cempedak, strawberi, nangka, vanila, coklat, dan beberapa lainnya.

Kami sempat mengunjungi hutan kota (Arboretum Sylva Untan) yang berlokasi di kawasan Universitas Tanjungpura. Hutan seluas 3,2 hektare ini memiliki koleksi tanaman khusus dari Kalimantan Barat, yaitu 190 jenis pohon, 86 anggrek, 176 perdu, dan tumbuhan bawah, dan sebagainya. Ada juga sarana untuk berlari, bersepeda, ekowisata, dan aktivitas outbound.

Sore menjelang malam hari, kami meluncur ke pinggiran sungai Kapuas, ada atraksi menarik berupa air mancur warna-warni. Untuk menikmati Kapuas, mampirlah ke Taman Alun Kapuas yang berlokasi di tepi Sungai Kapuas. Di tempat ini, pelancong bisa menikmati embusan angin Sungai Kapuas dan keindahan mentari tenggelam. Jangan risaukan urusan perut, sekitar Alun Kapuas banyak makanan jalanan yang lumayan.

Usai menikmati Kapus, bagi penikmat kopi, jangan lewatkan deretan kedai kopi di Jalan Gajah Mada. Salah satunya, Warung Kopi Liem yang buka dari malam hingga pagi.

*****

Candi Sukuh, Candi Hindu Terakhir Abad 15

Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar merupakan candi Hindu terakhir di pulau Jawa.

Candi Sukuh diketahui sebagai candi Hindu terakhir yang ada di pulau Jawa. Sekaligus menandai dimulainya masa perkembangan awal agama Islam di pulau ini. Kompleks candi Hindu yang tidak terlalu besar ini memiliki pengaruh era Megalitikum di lereng Gunung Lawu.

Candi Sukuh

Terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh tidak sulit untuk dicapai jika pengunjung menggunakan transportasi umum. Dari Terminal Tirtonadi, Solo, pengunjung bisa naik bus jurusan Tawangmangu, yang membawa ke Terminal Karangpandan. Di masa normal, sebelum pandemi Covid19, bus jurusan ini umumnya beroperasi mulai pukul 6 pagi. Di hari biasa, bus itu penuh dengan penumpang anak sekolah dan pegawai kantor. Ongkos bus tak mahal, sekitar Rp 10 ribu per orang dewasa, dan sekitar 60 menitan sampai di Karangpandan.

Perjalanan ke lereng barat Gunung Lawu dilanjutkan dengan bus-bus kecil atau minibus dengan tujuan Desa Kemuning. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 20 menit untuk  tiba di pertigaan Nglorok. Dari sini, pengunjung bisa memilih dua pilihan untuk menuju Candi Sukuh, yakni naik ojek atau berjalan kaki selama kurang lebih 45 menit di jalan aspal sepanjang dua kilometer.

Komp.leks candi ini pada hari-hari biasa tidak cukup banyak dikunjungi wisatawan. Ia baru agak ramai pada hari-hari akhir pekan atau libur sekolah. Kadang ada pula rombongan anak sekolah

Memasuki kompleks candi Sukuh ini, pengunjung akan disambut Gapura Paduraksa—gapura beratap menuju teras pertama. Di bagian atasnya terdapat pahatan kepala Kala, yang menyambut dengan senyum seringai. Di dinding kiri-kanan terdapat relief raksasa sedang menggigit ekor ular dan memakan manusia. Konon, kedua pahatan itu merupakan sandi angka, biasa disebut sengkalan dalam tradisi Jawa kuno. Ini biasanya diperkirakan menunjukkan tahun selesainya pembuatan candi, yakni 1359 Saka atau 1437 Masehi.

Candi Sukuh
Relief di Candi Sukuh banyak menyiratkan secara gamblang hunungan pria dan wanita. Foto: Dok. shutterstock

Sepintas, tanpa memperhatikan detail relief, bangunan utama Candi Sukuh tampak seperti bangunan pemujaan ala suku Maya di Meksiko. Candi yang menghadap ke barat pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut ini dibangun pada akhir abad ke-15. Candi tersebut menurut sejumlah keterangan dikategorikan sebagai candi Hindu dengan arsitektur yang, konon, menyimpang dari ketentuan kitab Wastu Widya.

Pengaruh budaya pra-Hindu (Megalitikum) tampak jelas dari teras berundak di kompleks candi tersebut, di mana titik paling suci ditempatkan pada bagian paling tinggi dan paling belakang. Ada dugaan Candi Sukuh dibangun dengan tujuan sebagai tempat meruwat untuk melepaskan kekuatan buruk yang dimiliki seseorang.

Saat ini pengunjung tidak dapat lagi melintasi Gapura Paduraksa untuk masuk ke teras pertama. Para wisatawan kini harus memutar dari sisi kanan. Pintu gapura utama tersebut ditutup agar pahatan yang berfungsi sebagai Mantra Ruwatan, yang ada di lantai gapura, tetap terlindungi. Karya tersebut diperkirakan menggambarkan persatuan lingga dan yoni, sebuah lambang kesuburan. Mantra itu dipasang konon untuk menyucikan setiap tubuh yang masuk ke kompleks candi.

Tak banyak yang dapat dinikmati di halaman teras pertama. Pemandangan paling mencolok, selain Karanganyar dari ketinggian, adalah tiga batu yang masing-masing bergambar lelaki berkuda diiringi pasukan bertombak, sepasang lembu, dan lelaki penunggang gajah. Di belakang ketiga batu tersebut terdapat semacam bangku batu dan meja.

Teras kedua dapat dicapai setelah melalui tangga batu yang diapit Gapura Bentar. Sama sekali kosong di sini, sehingga dapat dipastikan pengunjung akan bersegera menuju teras ketiga. Teras tertinggi itu diyakini sebagai pelataran paling suci. Terdapat banyak arca dan batu bergambar di sana. Di sayap kanan, perhatian pengunjung akan tersita oleh tiga arca manusia bersayap. Anak-anak bisa jadi akan berimajinasi tengah bertemu dengan malaikat. Pada bagian belakang, tampak dua dari tiga arca memiliki pahatan aksara Kawi. Sedangkan di sayap kiri terdapat beberapa arca berbentuk lembu dan gajah, di mana kisah Sudamala dimulai tepat setelah relief gajah terakhir. Relief itu menggambarkan kisah keberhasilan Sadewa—anggota Pandawa bersaudara—meruwat Dewi Uma, yang dikutuk oleh Batara Guru menjadi Durga.

Pengunjung biasanya tak mau melewatkan kesempatan untuk naik ke bangunan utama di teras ketiga setinggi 6 meter. Tidak ada ruangan di dalamnya. Kosong pula bagian atapnya. Hanya ada lingga tanpa yoni dengan beberapa batang dupa wangi dan canang sesaji. Kadang-kadang, pengunjung meletakkan uang dalam jumlah tak terlalu besar di sana. l

TL/agendaIndonesia

*****

Yangko Kotagede, Kisah Oleh-oleh 101 Tahun

Yangko Kotagede oleh-oleh yang sudah diproduksi sebagai oleh-oleh sejak 1921. Foto shutterstock

Yangko Kotagede bagi sebagian orang mungkin kalah popular dibandingkan bakpia. Tapi, kudapan tradisional khas Kotagede, Yogyakarta, ini bisa jadi alternatif bagi yang mencari oleh-oleh selain bakpia, gudeg dan lain lain.

Yangko Kotagede

Yangko Kotagede merupakan makanan cemilan yang terbuat dari ketan. Di dalamnya diberi isian berupa kacang yang dicincang. Sedang bagian luarnya dibalut tepung dan gula, memberi sensasi manis dan gurih di https://www.jogjakota.go.id/mulut.

Umumnya yangko secara fisik berbentuk kotak-kotak dan padat, namun terasa kenyal. Pada perkembangannya, cemilan ini kemudian dimodifikasi menggunakan beragam jenis isian dan pemanis rasa agar dapat menarik selera konsumen masa kini.

Yangko Kotagede konon sudah ada sejak zaman Pangeran Dipenogoro. Dibawa untuk bekal perang.
Jalanan di Kotagede, Yogyakarta. Foto: DOk, Unspalsh

Sejarah kemunculan makanan ini bisa ditarik hingga ke masa kerajaan Mataram Islam, yang kebetulan berpusat di Kotagede pada kala itu. Di masa itu penganan ini lebih populer sebagai kudapan raja, kaum bangsawan dan priyayi.

Nama yangko sendiri konon berasal dari kata ‘kiangko’ dari bahasa Mandarin, karena resepnya disinyalir dibawa orang-orang dari Tiongkok yang datang ke Indonesia saat itu. Mulut orang Jawa yang sulit melafalkannya kemudian menyingkatnya menjadi yangko. Ada pula anekdot yang menyebut nama ini adalah  singkatan dari ‘tiyang Kotagede’, bahasa Jawa dari ‘orang Kotagede’.

Kala itu, tidak semua orang yang bisa menikmatinya, karena dianggap makanan mahal. Walau demikian, nyatanya yangko menjadi penganan favorit Pangeran Diponegoro yang selalu dibawa kala bergerilya memimpin perang.  Alasannya, ia termasuk makanan yang awet dan tahan lama.

Selepas era tersebut, resep yangko masih dipertahankan oleh segelintir orang, salah satunya oleh Muhammad Alif serta ayahnya yang akrab dipanggil mbah Ireng. Sejak tahun 1921, mereka mulai membuat dan menjual produksinya sendiri.

Pada 1939, raja Kasunanan Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono X mangkat. Kala itu, salah satu prosesi pemakamannya dilakukan di masjid Kotagede. Momen itu dimanfaatkan sang ayah dan anak untuk turut menyediakan konsumsi dengan membawakan makanan produknya pada acara tersebut.

Ternyata, kerabat keraton yang hadir menyukai penganan buatan mereka, dan mulai turut mempopulerkannya. Sejak saat itu, nama penganan ini mulai terangkat sebagai kudapan tradisional di kalangan masyarakat luas, serta sebagai oleh-oleh bagi wisatawan.

Hingga kini, usaha mereka pun terus dilanjutkan oleh Suprapto, cucu dan cicit mereka dengan menggunakan merek Yangko Pak Prapto. Merek tersebut pun jadi salah satu yang paling legendaris dan tersohor saat ini.

Proses pembuatan yangko Kotagede bermula dari beras ketan yang dikukus dan kemudian dikeringkan. Setelahnya, ketan lalu digiling dan disangrai (dimasak tanpa menggunakan minyak). Setelah itu digiling kembali sampai berupa tepung halus agar dapat dibuat adonan.

Yangko Kotagede saat ini sudah dengan bangak variasi rasa dan isi. Originalnya berisi kacang tanah yang dirajang.
Adonan yangko yang belum dipotong-potong. Foto: dok. shutterstock

Adonan tersebut lantas dicampur dengan pemanis rasa tertentu, air gula, serta isiannya. Adonan yang telah tercampur kemudian dimasak lagi, sebelum didinginkan, dibentuk kotak-kotak dengan ukuran kurang lebih sekitar 2 x 2 cm dan ditaburi tepung agar tidak lengket.

Makanan ini kemudian dikemas menggunakan kertas minyak dan ditaruh di dalam kotak. Satu kotak yang dijual di toko biasanya berisi 20 hingga 30 buah. Seperti dijelaskan di atas, yangko tergolong penganan yang cukup tahan lama, dengan ketahanan paling tidak sampai 15 hari dalam suhu ruangan, dan lebih lama lagi jika disimpan di kulkas.

Beberapa hal yang membuat penganan ini digemari adalah cita rasanya yang manis nan legit bercampur gurih, serta teksturnya yang walaupun padat tapi kenyal saat dikunyah. Selain itu, aromanya yang khas juga harum dan menggugah selera.

Yangko Kotagede yang asli biasanya berwarna abu-abu kecoklatan pekat dengan rasa kacang di dalamnya. Tetapi dewasa ini ia juga dibuat warna warni dengan berbagai rasa lain seperti coklat, nanas, nangka, durian, strawberry, cocopandan, frambozen dan sebagainya.

Sekarang oleh-oleh ini cukup mudah ditemui di sekeliling pusat oleh-oleh Yogyakarta, terutama tentunya di Kotagede. Ambil contoh Toko Roti Ngudi Roso misalnya. Toko penganan oleh-oleh tersebut didirikan oleh Harjo Soekarto, salah seorang kerabat Muhammad Alif.

Toko Ngudi Roso saat ini memproduksi dan menjual penganan oleh-oleh seperti roti jahe, wajik, ukel, sagon dan lainnya, termasuk yangko. Hanya berjarak 500 meter dari Pasar Kotagede, toko itu sudah lebih dari 50 tahun menjajakan penganan khas Kotagede itu.

Dengan resep yang sudah turun temurun dalam keluarga pengusaha tersebut, hingga kini makanan ini masih jadi salah satu jualan utama mereka. Kendati sekarang bersaing dengan merek-merek baru lain, buatan mereka yang sekotak dijual Rp 18 ribu rupiah masih banyak pelanggan setianya.

Selain Kotagede, yangko juga kini diproduksi di lokasi-lokasi lain, seperti misalnya di Banguntapan, Kabupaten Bantul. Di kawasan selatan Yogyakarta ini, ada beberapa merek produksi rumahan seperti Yangko Bu Cip dan Yangko Mawar Sari.

Bisnis rumahan ini pun sudah berjalan lebih dari 30 tahun. Mengikuti perkembangan jaman, yangko buatan mereka juga tersedia dalam aneka rasa dan dihargai sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Biasanya, produk-produk tersebut dijual di pasar-pasar seperti Pasar Godean, Pasar Pleret, Pasar Beringharjo dan lain lain.

Bahkan merek-merek yang sudah dikenal membuat produk penganan oleh-oleh lain juga ikut menawarkan produk yangko. Kencana, misalnya, merek penganan oleh-oleh yang lebih dikenal dengan bakpianya, kini juga menjajakan makanan Kotagede itu.

Serta tentu merk yang paling ikonik adalah Yangko Pak Prapto. Sekarang mereka berpusat produksi dan toko di kawasan Umbulharjo. Usaha kini dijalankan oleh kedua anak Suprapto, Gatot dan Galuh, generasi ke empat dalam keluarga tersebut. Sekotak Yangko Pak Prapto isi 30 harganya mulai dari Rp 19 ribu.

Demikian banyaknya pilihan, maka rasanya yangko Kotagede perlu jadi alternatif bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh penganan Kota Pelajar tersebut. Kudapan tradisional unik dan sarat sejarah yang sayang untuk dilewatkan.

Toko-toko Penjual Yangko

Yangko Pak Prapto: Jl. Pramuka no. 82, Umbulharjo, Yogyakarta

Telp. (0274) 380757

Toko Roti Ngudi Roso: Jl. Masjid Besar no. 9, Kotagede, Yogyakarta

Telp. (0274) 380700

Yangko Bu Cip: Jl. Balong Kidul, Banguntapan, Bantul

Telp. 088802735413

Bakpia dan Yangko Kencana:

Jl. C. Simanjuntak no. 41B, Terban, Yogyakarta

Telp. (0274) 551445

Jl. Laksda Adisucipto no. 17, Sleman, Yogyakarta

Telp. 08122937575

Jl. Wates km. 6, Gamping, Yogyakarta

Telp. 089687815758

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****