Prokes Covid19 Berdampak Pembatalan Kunjungan Ke Bali

Prokes Covid19 atau protokol kesehatan Covid-19 yang diberlakukan pemerintah bagi wisatawan ke Bali diperkirakan menimbulkan pembatalan kunjungan wisatawan ke pulau Dewata. Keputusan yang muncul hanya dua pekan menjelang akhir tahun disayangkan pelaku pariwisata.

Prokes Covid19

Pemberlakuan syarat kunjungan ke Bali dan pelarangan perayaan malam tahun baru membuat pelaku di sektor pariwisata terdampak. Pemerintah mewajibkan wisatawan yang mau ke pulau ini dengan menggunakan pesawat wajib uji swab atau usab berbasis tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dua hari sebelum keberangkatan. Hasilnya harus negatif COVID-19. Sementara yang menggunakan kendaraan pribadi wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji rapid antigen paling lama 2×24 jam sebelum keberangkatan.

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (ASTINDO) Anton Sumarli mengatakan, syarat tersebut membuat efek domino bagi pelaku sektor pariwisata. Mulai agen perjalanan (travel agent), restoran, hingga pemandu wisata (tour guide). “Sehari sejak keputusan itu diterbitkan, sudah terjadi gelombang pembatalan. Efeknya besar sekali, ” katanya di Jakarta, Rabu 16 Desember 2020.

Anton menembahkan, banyak pekerja di sektor ini sempat senang karena ada pekerjaan lagi. Namun, kini mereka harus harap-harap cemas wisatawan tetap datang. Meski demikian, Anton mengatakan pihaknya mendukung keputusan pemerintah mengenai syarat dan larangan yang dibuat untuk menekan penularan COVID-19. Begitupun, menurutnya, kebijakan ini semestinya dikeluarkan jauh lebih awal.

Saat ini, Astindo telah menerima gelombang pertanyaan soal tes usap ke Bali.Pertanyaan itu dibarengi kekhawatiran konsumen akan keberatan karena biaya perjalanan bisa menjadi dua kali lipat lebih besar.

Menurut Anton, biaya tes PCR atau tes swab dihargai sekitar Rp 900 ribu. Namun, hasilnya baru akan keluar dalam waktu maksimal tiga hari, sementara persyaratan meminta 48 jam. Ini artinya paling tidak harus menggunakan tes usp yang instan, ini lebih mahal Rp 300 ribu, totalnya menjadi Rp 1,2 juta per orang. “Hampir sama dengan tiket pesawatnya,” ujarnya.

Prokes Covid19 diterapkan menjelang libur akhir tahun. Pengguna penerbangan mesti melakukan tes usap.
Pengguna penerbangan untuk libur akhir tahun mesti melakukan tes usap.

Perkiraan Anton dibenarkan Traveloka. Perusahaan layanan transportasi dan wisata secara daring ini menemukan indikasi pengubahan jadwal (reschedule) dan pembatalan (cancellation) perjalanan untuk libur akhir tahun 2020. Ini menyusul adanya persyaratan ketat untuk keluar-masuk daerah seperti Bali dan Jakarta. Begitupun, “Kami sudah mengantisipasinya, dan tidak melihat ini akan menjadi isu yang besar seperti ketika awal pandemi,” kata Head of Corpcomm Traveloka, Reza Amirul Juniarshah melalui diskusi virtual, Kamis 17 Desember 2020.

Lebih lanjut, Reza mengatakan bahwa pihaknya menilai kebijakan pemerintah adalah baik, karena bertujuan untuk mengurangi dan menekan penyebaran virus corona. Menurutnya, syarat yang diberikan pemerintah solusinya sudah ada. “Kami melihat kalau pengguna jauh lebih mawas diri dan mereka ingin berpergian dengan aman,” ujarnya.

Menurut data yang dibagikan Reza, pengguna di Traveloka kini memprioritaskan tiga hal sebelum akhirnya memilih untuk melancong. Pertama adalah soal penerapan protokol kesehatan, lalu soal promosi harga, dan ke tiga fleksibilitas pemesanan.

Traveloka juga meluncurkan kampanye “Traveloka Clean Partners” yang merupakan salah satu dukungan untuk protokol kesehatan dari pemerintah. Reza mengatakan bahwa minat (demand) pengguna untuk melakukan tes cepat (rapid test) dan tes usap ( swab test ) kian meningkat di platform-nya. “Traveloka menyediakan fitur rapid dan swab test. Sejauh ini sudah 150 ribu booking di Traveloka. Ini membuat kami cukup optimistis ke pengguna. Kami melihat bahwa kesadaran dan kewaspadaan itu sudah baik dari para pengguna kami,” ujar Reza.

Ketika ditanya mengenai tren perjalanan di tahun 2020, Reza mengungkapkan bahwa “staycation” dan “road trip” menjadi pilihan melancong beberapa waktu belakangan.“Ada beberapa kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dari pemerintah memang mendorong staycation dan road trip sebagai cara mengurangi dan membatasi kerumunan,” kata Reza.

Staycation yang disebut adalah memilih liburan dengan tinggal di suatu tempat untuk beberapa waktu. Bisa saja orang memilih liburan di hotel di dalam kota domisilinya. Sedangkan road trip adalah melakukan perjalanan lewat jalan darat dengan menggunakan kendaraan pribadi.

“Trennya tinggi di staycation dan road trip. Untuk staycation kebanyakan di Jakarta dan Surabaya. Sementara untuk road trip banyak yang menuju ke Yogyakarta dan Bandung,” katanya.

agendaIndonesia

*****

Tarian Komodo 3 Babak Karya Dosen UI

Tarian Komodo, Pulau Kelor di labuan Bajo

Tarian Komodo menjadi sumbangan civitas akademika Universitas Indonesia (UI) kepada masyarakat Desa Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Tarian yang dirancang tiga babak ini diharapkan dapat memperkaya khasanah budaya setempat.

Tarian Komodo

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc. serta anggota timnya yang merupakan dosen UI, yaitu Dwi Kristianto, M. Kessos; Tommy F. Awuy; dan Widhyasmaramurti, M.A.; merancang strategi guna pengembangan wisata alam dan budaya di Desa Komodo.

Salah satunya adalah dengan memberikan pendampingan warga dalam menciptakan atraksi wisata budaya bernama tarian komodo. Tarian komodo adalah sebuah tarian yang menggambarkan tentang keyakinan masyarakat setempat terhadap hubungan mereka dengan hewan komodo.

Tari komodo ini diciptakan warga Komodo dengan pendampingan dari para dosen UI sebagai upaya menciptakan daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Program pendampingan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat (pengmas) UI yang berlangsung pada 1 Juni – 15 Desember 2020.

Desa Komodo adalah salah satu desa di dalam Kawasan Taman Nasional Komodo. Menurut  Bambang Shergi, Desa Komodo memiliki potensi panorama alam dan budaya yang belum tergarap, padahal, potensi tersebut sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata berbasis budaya maritim.

“Sebagai desa yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional tentunya desa Komodo memiliki panorama alam yang sangat menawan. Kekayaan alamnya telah menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata terfavorit di Indonesia. Di sisi lain, dengan diresmikannya Labuanbajo sebagai destinasi wisata prioritas, maka peluang Desa Komodo untuk berkembang juga semakin terbuka lebar,” ujar Bambang.

Bambang Shergi menambahkan, meskipun Desa Komodo sudah dikenal sebagai desa wisata tetapi kegiatan pariwisata di desa ini relatif tidak berkembang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegiatan pariwisata ini berjalan sangat lambat. Salah satunya tidak adanya paket-paket wisata dan masih terbatasnya infrastruktur penunjang kegiatan wisata.

Berangkat dari tantangan tersebut, Tommy F. Awuy, anggota Tim Pengmas UI, mendampingi warga desa Komodo menciptakan koreografi tarian yang kemudian dinamakan tari komodo. Tarian ini dapat terwujud berkat kerja sama yang baik antara guru pendamping dan murid-murid SMP Satap Komodo.

Menurutnya, “Melalui tarian ini, kami menggambarkan tentang keyakinan masyarakat komodo terkait dengan hubungan mereka dengan hewan Komodo. Tari ini terdiri dari tiga babak, yaitu babak pertama menceritakan tentang kelahiran Komodo dan manusia yang dilahirkan kembar satu berwujud hewan Komodo dan satu berwujud manusia.

Babak kedua, mengisahkan tentang Komodo yang terpisah dengan keluarganya dan memilih tinggal di hutan. Pada babak ini juga dikisahkan pertemuan Komodo dan saudara kembarnya manusia ketika manusia sedang berburu di hutan. Mereka berebut hewan buruan, dan sempat terjadi konflik. Saat itu, mereka tidak saling tahu bahwa mereka adalah saudara kembar. Disitulah Ibu Komodo dan manusia (Putri Naga) melerai perkelahian tersebut dan memberi tahu bahwa mereka adalah saudara. Pada babak ketiga menceritakan keakraban persaudaraan Komodo dan manusia yang sampai saat ini bisa hidup berdampingan dan saling menjaga.

tarian komodo
Tarian Komodo karya Dosen Universitas Indonesia. Dok. UI

Lebih lanjut, Bambang mengatakan, dengan pembuatan tarian ini merupakan salah satu upaya dalam menggarap sejumlah potensi atraksi wisata yang masih belum dikembangkan. Salah satunya adalah wisata budaya.

“Di Desa Komodo terdapat mitos tentang manusia lahir kembar dengan komodo, cerita teteng kolokamba, tradisi kesenian alugere, tradisi kuliner, dan berbagai seni pertunjukan lain. Selain itu, terdapat berbagai atraksi wisata berbasis maritim yang juga dapat dikembangkan antara lain, wisata memancing, perahu layar, diving, snorkling, wisata pantai, dan aktivitas wisata minat khusus lainnya. Diharapkan, dengan adanya tarian khas desa setempat, semakin memperkaya khasanah budaya dan menjadi daya tarik wisatawan,” ujar Bambang.

Dwi Kristianto, anggota Tim Pengmas UI, menambahkan, pihaknya turut menyiapkan konsep wisata budaya yang selaras dengan fungsi Kawasan Taman Nasional Komodo. Pertimbangnnya, dì kemudian hari diharapkan tidak terjadi persoalan baru terkait kelestarian hutan dan keberlanjutan ekosistem di kawasan ini. “Pengambangan wisata budaya ini didukung penuh Pengelola Kawasan Taman Nasional Komodo,” katanya.

Kegiatan ini terlaksana atas kolaborasi dengan Pemerintah Desa Komodo, Balai Taman Nasional Komodo serta didukung oleh Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UI (DPPM UI). Program yang diusung Tim Pengmas UI bertajuk “Konsolidasi dan Penguatan Pengemasan Produk Wisata di Masa Jeda COVID-19 di Desa Komodo.”

TIM UI

agendaIndonesia

****

Libur Akhir Tahun 2020, Wisatawan Tetap Tinggi

Maskapai Citilink luncurkan BetterDeals 9.9 untuk memberikan layanan kepada pelanggan dan menggairahkan kembali dunia penerbangan.

Libur akhir tahun 2020 diperkirakan akan tetap membuat pergerakan masyarakat Indonesia tinggi. Pemerintah sesungguhnya telah mengurangi jumlah hari libur dan cuti bersama di masa libur Natal dan Tahun Baru, namun pergerakan masyarakat diproyeksi tetap meningkat.

Libur Akhir Tahun 2020

Oleh Sebab itu, Kementrian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif mengingatkan perlunya kedisiplinan tinggi seluruh pihak dalam menjalankan protokol kesehatan (Prokes) dengan ketat. Ini sebagai upaya agar masyarakat tetap dapat beraktivitas, namun tetap aman dari kemungkinan paparan dan penyebaran COVID-19.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan bahwa pergerakan masyarakat di masa libur Natal dan Tahun Baru mendatang tetap meningkat, baik untuk liburan ataupun arus mudik dan juga arus balik. Menurutnya, walaupun hal tersebut berdampak baik terhadap sektor pariwisata, namun tetap harus diingat pergerakan masyarakat dan pelaku usaha wisata memiliki potensi penyebaran virus. Karenanya, “Harus betul-betul disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan kepedulian dan tanggung jawab tinggi,” katanya di Jakarta, Selasa 15 Desember 2020.

Angkasa Pura I (AP I) sebelumnya memproyeksikan trafik penumpang di libur Natal dan Tahun Baru sebanyak 2,3 juta – 2,5 juta orang. Sedangkan Angkasa Pura II (AP II) memproyeksikan pergerakan penumpang di 19 bandara yang dikelola mereka ada sebanyak 1,77 juta. Untuk Bali, diperkirakan jumlah penumpang akan mencapai 177 ribu orang di periode 18 Desember 2020 hingga 10 Januari 2021.

Atas dasar itu, Menparekraf menekankan bahwa penerapan protokol kesehatan menjadi hal penting untuk diperhatikan industri dan masyarakat. Proyeksi peningkatan jumlah ini harus membuat para pelaku di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif maupun wisatawan melaksanakan protokol kesehatan dengan penuh kedisiplinan dan kepedulian. Rasa kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, sahabat, teman-teman, dan yang tidak kalah penting terhadap sektor-sektor pariwisata dan industri penunjangnya.

Selain mengingatkan soal perkiraan pergerakan masyarakat selama akhir tahun, Kementrian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif juga terus bergiat menyiapkan program pariwisata ke depan. Terutama di daerah-daerah. Program ini juga mulai disosialisasikan ke publik

Kementrian Pariwisata menggelar kegiatan sosialisasi kebijakan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin 14 Desember 2020 lalu. Kegiatan itu bertujuan memberikan arah kebijakan dalam membangun kepariwisataan yang dilandasi dengan kebijakan pembangunan kawasan di Kalimantan Timur.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf, Wawan Gunawan, menyambut baik kegiatan sosialisasi kebijakan tersebut. Sebab, RIPPARDA ini diperlukan untuk menata kembali potensi-potensi pariwisata dan komponen-komponen penunjangnya, agar pengembangan daya tarik wisata yang akan datang dapat lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan.

“Dalam pertemuan ini Kementrian akan menerima masukan-masukan, agar pengembangan potensi pariwisata lebih sempurna, termasuk adanya potensi daerah lain untuk menjadi obyek wisata tanpa mengubah kearifan lokal yang sudah ada,” ujar Wawan dalam kesempatan itu.

Wawan melanjutkan bahwa kegiatan sosialisasi ini perlu diselenggarakan di beberapa kabupaten lainnya, baik di Kalimantan Timur maupun daerah lain, guna mendorong pengembangan pariwisata secara berkesinambungan khususnya yang masih dalam tahap penyusunan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Faisal Kasim, menjelaskan saat ini diperlukan sinergi dalam penyusunan RIPPARDA, misalnya dengan melibatkan seluruh stakeholder pariwisata. “Pembangunan kepariwisataan harus dibangun secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh stakeholder pariwisata,” ujar Faisal.

Faisal mengatakan, rencana induk pembangunan kepariwisataan di Kalimantan Timur tersebut berlaku selama 15-25 tahun. Namun, perlu ditinjau setiap lima tahun sekali untuk menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi.

Sementara itu Kadispar Kabupaten Berau, H. Masrani menyebut bahwa memfasilitasi pengembangan wisata di Derawan, Kakaban, dan Maratua dengan standar kelas dunia adalah salah satu usaha untuk membangun daya tarik wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara berwisata ke Kalimantan Timur.

Kami berharap semua pihak untuk membantu mempromosikan daya tarik wisata di Kalimantan Timur agar dapat mencapai standar kelas dunia. Salah satu yang perlu dilakukan adalah  menambah slot penerbangan ke Berau, mengingat Bandara Berau sudah memiliki runway dan fasilitas Bandara yang memadai,” ujar Masrani.

agendaIndonesia

*****

Topeng Malang, Perjalanan 1 Abad Kisah Panji

Topeng Malang dalam kisah panji

Topeng Malang adalah perjalanan panjang satu abad lebih kisah Asmorobangun. Ini kisah sebuah pedepokan sekaligus kesenian tradisional yang menjadi warna bagi Malang, Jawa Timur.

Topeng Malang dan Kisah Panji

Pendopo Padepokan Seni Topeng Asmorobangun di Dusun Kedung Monggo, Desa Karang Pandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dua jam sebelum arak-arakan topeng dimulai. Pawai itu membuka rangkaian kegiatan Gebyak Senin Legi di padepokan tersebut. Gebyak berarti pementasan. Tri Handoyo, generasi kelima yang memimpin padepokan tampak sibuk melakukan persiapan.

Sebulan sekali, khususnya pada Senin Legi—hari baik dalam penanggalan Jawa menurut perhitungan masyarakat desa setempat—padepokan mementaskan tari topeng berdasar cerita Panji. Lakonnya berbeda-beda dan pemainnya tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Seperti pada Ahad malam itu, sekitar 40 anak-anak membawakan tari topeng dengan lakon Lahire Panji Laras atau Lahirnya Panji Laras.

“Silakan tunggu di padepokan, Mas, di sebelah sana, sebentar lagi saya nyusul,” kata Handoyo. Padepokan hanya berjarak 20 meter dari pendopo. “Dulunya padepokan itu bernama Perkumpulan Wayang Topeng Pendawa Lima, yang didirikan Mbah Serun pada 1900, kemudian dilanjutkan Mbah Kiman, Mbah Karimun, lalu bapak saya, Pak Taslan, dan sekarang saya, generasi kelima,” ujar Handoyo membuka pembicaraan.

Disebut Pendawa Lima, karena cerita yang diangkat dalam pentas merupakan cerita Purwa yang berkisah tentang epos Ramayana dan Mahabharata. Dulu orang desa tahunya cerita yang diimpor dari India itu. Namun setelah Perkumpulan Wayang Topeng Pendawa Lima dipimpin Mbah Karimun, cerita yang dipentaskan tidak lagi tentang epos Ramayana dan Mahabharata, melainkan cerita Panji. “Cerita khas milik masyarakat Jawa Timur seiring berkembangnya kerajaan-kerajaan di Jawa Timur pada zaman dulu,” katanya.

Dalam cerita Purwa selalu menampilkan adegan pembunuhan. Sedangkan dalam cerita Panji, adegan tersebut tidak ada. “Adegan pertempuran tetap ada, tapi tidak sampai terjadi pembunuhan. Pihak yang kalah dalam pertempuran dikembalikan ke negara atau kerajaan asal mereka,” ujarnya.

Sejak membawakan cerita Panji dalam pentas tari topeng, Mbah Karimun mengganti nama Perkumpulan Wayang Topeng Pendawa Lima menjadi Perkumpulan Wayang Topeng Asmorobangun. Di era Handoyo, Perkumpulan Wayang Topeng Asmorobangun bersalin nama menjadi Padepokan Seni Topeng Asmorobangun. Nama Asmorobangun tetap dipertahankan.“Asmorobangun itu figur pahlawan dalam cerita Panji. Asmorobangun juga berarti membangun cinta atau kesenangan,” katanya.

Tepat pukul 16.00, arak-arakan 40 anak yang membawa karakter topeng mulai berjalan menyusuri jalan. Mendung mulai menggelayut di atas langit pendopo. Dita, salah satu anak dalam arak-arakan, terlihat di baris depan membawa topeng Sabrang, satu dari 76 karakter topeng yang dimiliki Padepokan Seni Topeng Asmorobangun.

Sabrang adalah bagian dari karakter tokoh antagonis dengan tokohnya, antara lain Klana, Bapang, Patih Sabrang, dan Butho. Selain tokoh antagonis, terdapat tokoh protagonis (Panji dan Dewi), tokoh jenaka (Demang dan Bambang), dan tokoh hewan (Lembu, Ikan/Bader Bang). “Karakter-karakter tersebut merupakan perlambang sifat manusia,” ucapnya.

Tujuan pertama arak-arakan adalah makam mbah Karimun, yang berjarak lebih kurang 200 meter dari pendopo. Di depan makam mbah Karimun, mbah Sumantri, kerabat Padepokan Seni Topeng Asmarabangun berdoa dengan cara bersenandung terdengar mengalun lembut. Aroma dupa menguar ke angkasa.

Dari makam mbah Karimun, arak-arakan menuju Belik Kurung yang berada di aliran Sungai Metro. Belik atau sumber mata air yang letaknya di dekat makam Mbah Karimun itu disakralkan warga. Di tempat ini doa kembali dipanjatkan, warga berterima kasih kepada leluhur karena diberi kesenian tari topeng.

“Dalam cerita Panji, diajarkan agar manusia harus bersikap baik terhadap alam dan tidak boleh merusak alam, terutama sumber mata air karena merupakan sumber kehidupan. Dalam cerita Panji juga diajarkan untuk memperbanyak sumber mata air agar bisa memberikan kehidupan bagi masyarakat dan berbuat baik bagi orang lain,” tuturnya.

Setelah berdoa di Belik Kurung, warga menikmati nasi yang telah didoakan sambil menyaksikan tari Beskalan Patih, tari Sekar Sari, dan tari topeng Bapang. Arak-arakan kembali ke pendopo. Mendung yang sedari tadi menggantung berangsur-angsur menghilang. Langit berubah cerah.“Itu artinya, acara ini direstui,” ujar Saini, istri Handoyo. Suara azan magrib kemudian berkumandang.

Ketika jarum jam menunjuk pukul 19.30, di atas panggung sudah menunggu Panji Asmarobangun dan Dewi Sekartaji, serta karakter-karakter topeng lainnya yang akan membawakan lakon Lahire Panji Laras. “Yang paling sulit dari tari topeng adalah menghidupkan dan menjiwai karakter topeng yang kita bawakan. Kita harus tahu karakternya agar dapat menyatu di dalamnya,” kata Handoyo yang melatih tari topeng setiap Minggu pagi untuk anak-anak dan umum tanpa memungut biaya.

Sekitar pukul 22.30, pementasan pun usai. “Lahire Panji Laras memiliki makna tentang petualangan mencari sosok seorang ayah melalui perjuangan yang sangat panjang dengan berbagai kendala. Namun semua kendala bisa diatasi asalkan kita memiliki niat baik, ikhlas, dan memohon bantuan Tuhan”.

Puasa, Pasak Bambu, dan Kalender Jawa

Selain mengajarkan tari topeng, Tri Handoyo juga dikenal sebagai pengrajin Topeng Malang. “Saya belajar dari bapak dan kakek saya,” ujarnya. Selama proses pembuatan topeng, ada tahapan yang harus dilalui. “Untuk topeng yang digunakan saat pementasan dan kebutuhan internal keluarga, sehari sebelumnya saya berpuasa agar topeng yang dibuat halus dan sempurna,” ujarnya. Lama pengerjaan topeng ini sekitar 3-4 minggu. Sedangkan waktu menyelesaikan topeng yang digunakan pada saat kelas tari sekitar 2-3 hari untuk satu topeng.

Handoyo mengatakan bahan pembuat topeng salah satunya berasal dari pohon pule dan pohon nangka yang usianya di atas 100 tahun. Pohon-pohon tersebut tumbuh di sekitar desa. “Kami biasanya menggunakan materi membuat topeng dari pohon yang tumbang. Bila kami menebang, kami sebelumnya melakukan ritual kecil untuk meminta izin pada pohon yang ada penunggunya supaya proses pembuatan topeng tidak ada gangguan”.

Setelah menyiapkan bunga telon dan memanjatkan doa, pasak bambu kemudian ditancapkan pada pohon yang akan ditebang. “Kalau besoknya pasak tersebut masih menancap, berarti pohon tersebut boleh ditebang. Namun kalau pasaknya lepas, berarti pohon belum boleh ditebang. Semesta akan memilih sendiri pohon yang akan ditebang, manusia tidak bisa memaksa,” ucapnya.

Pada saat membentuk menjadi topeng pun ada aturannya. “Bagian atas topeng harus berasal dari bagian atas pohon. Begitu pula bagian bawah topeng harus dari bagian bawah pohon. Jika terbalik akan mengganggu orang yang memakainya,” ujarnya. Handoyo juga memperhatikan penanggalan Jawa saat membuat topeng.

Aris Darmawan/Aris NH/Dok. TL

Bali 4 Besar Destinasi Wisata Terbaik Dunia

Bali saat senja artem beliaikin unsplash

Bali 4 besar destinasi wisata terbaik di dunia dari 25 destinasi terbaik menurut TripAdvisor. Situs travel planning and booking itu menobatkan Pulau Dewata diposisi ke empat di bawah London (Inggris), Paris (Prancis), dan Crete (Yunani), dalam penghargaan Travellers Choice untuk kategori Destinasi Terbaik Dunia.

Bali 4 Besar Destinasi Wisata Terbaik

Keindahan Bali dalam situs www.tripadvisor.com diibaratkan sebagai kartu pos yang hidup bahkan sepotong surga di Indonesia. Bali menawarkan wisata pantai dengan pasir putih yang bersih, wisata selam termasuk bisa melihat bangkai kapal perang dunia II, wisata budaya, hingga wisata spa dan yoga di Ubud.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio menyambut baik ditetapkannya Bali sebagai salah satu destinasi terbaik dunia versi tripadvisor. Wishnutama berharap penetapan itu semakin memotivasi Indonesia untuk bisa menumbuhkan Bali-Bali baru. Bahkan mendorong upaya untuk meningkatkan pariwisata Bali agar semakin ramah dan berkelanjutan. Selama ini Bali sudah dikenal di dunia sebagai destinasi alam dan budaya yang banyak difavoritkan wisman.

Terlebih di tengah pandemi COVID 19 ini, kata Wishnutama, dunia pariwisata Bali telah dibuka secara bertahap mulai dari 9 Juli 2020 untuk lokal, 31 Juli 2020 untuk wisatawan nusantara, dan rencananya September 2020 akan dibuka bagi wisatawan mancanegara.

“Diharapkan setelah di buka, penerapan protokol kesehatan dapat tetap dijalankan dengan disiplin. Jangan sampai setelah dibuka timbul gelombang kedua COVID-19 hal itu yang harus dihindarkan, lantaran pariwisata itu adalah bisnis kepercayaan,” ujarnya.

Bali bangkit
Bali 4 besar destinasi wisata terbaik di dunia mulai menggeliat dengan program Bali Bangkit. Dok. Kemenparekraf

Menteri Wishnutama Kusubandio juga mengapresiasi penerapan alat pembayaran digital QRIS oleh para pelaku parekraf di Bali di era adaptasi kebiasaan baru. Menparerkaf saat Deklarasi Program Kepariwisataan Dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru & Digitalisasi Pariwisata Berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Peninsula Nusa Dua, Bali, Kamis 30 Juli 2020 menjelaskan, penerapan QRIS menjadi solusi untuk membangkitkan sektor pariwisata dalam mendukung tatanan kehidupan era baru karena tidak akan ada kontak fisik dalam interaksi atau cashless. “Dengan penerapan QRIS akan mempermudah sistem transaksi bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tidak ribet, lebih cepat, dan kekinian,” ujar Wishnutama.

Menparekraf mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang memfasilitasi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) menerapkan QRIS untuk mendukung kemudahan usahanya. Ia juga menjelaskan, penerapan QRIS menjadi salah satu cara untuk mengimplementasikan dan menjalankan protokol kesehatan sekaligus melaksanakan upaya pemulihan pariwisata di Bali. Sebagai bentuk citra positif yang tidak hanya diperhatikan masyarakat Indonesia, tapi juga diperhatikan masyarakat dunia. 

Dalam kesempatan terpisah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus mengajak para pelaku industri ekonomi kreatif untuk terus produktif namun tetap menerapkan protokol kesehatan. Ini agar mencegah adanya kluster baru penyebaran COVID-19.

Plt Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Josua Puji Mulia Simanjuntak, dalam acara “Bincang-Bincang Sore Ekonomi Kreatif” di Hutan Plataran Kota, Senayan, Jakarta Pusat, mengatakan bahwa penerapan protokol kesehatan bertujuan untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 di lingkungan kerja para pelaku pelaku industri ekonomi kreatif.

Dengan demikian, perlu ada kesadaran dari para pelaku pelaku industri ekonomi kreatif untuk menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability). “Kita saat ini ingin terus produktif tapi perlu ada kesadaran pelakunya untuk melakukan protokol tersebut,” ungkap Josua.

Josua menuturkan, dengan mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mengenakan masker, dan rajin mencuci tangan di lingkungan produksi pelaku industri ekonomi kreatif, para pelaku industri ekonomi kreatif dapat mencegah terbentuknya kluster baru penyebaran COVID-19. “Kita harus bisa produktif tapi tidak menambah jumlah pasien terkonfirmasi COVID-19,” kata dia.

Josua juga mengapresiasi kebijakan Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, yang menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin yang tinggi. Diketahui, Kota Tegal saat ini dinyatakan sebagai Zona Hijau atau bebas dari COVID-19.

Dedy yang turut hadir dalam acara tersebut memaparkan bahwa Tegal saat ini telah memasuki era kebiasaan baru dengan pemulihan di sektor ekonomi mencapai 100 persen. Dedy juga turut serta mempromosikan jaminan keamanan bagi seluruh masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung ke Tegal.

“Saya langsung kirim surat dan telepon seluruh kepala daerah dan pimpinan DPRD kabupaten/kota se-Indonesia untuk berkunjung ke Tegal. Tapi dengan menerapkan protokol kesehatan,” ujar Dedy.

Mengenai pengembangan pelaku industri ekonomi kreatif di masa pandemi COVID-19, Staf Khusus Menteri bidang Digital dan Industri Kreatif Kemenparekraf, Ricky J. Pesik, menuturkan pelaku UMKM harus memanfaatkan pasar digital untuk mempromosikan, mendistribusikan, serta memasarkan produknya.

“Sekarang menjadi keniscayaan untuk pelaku industri ekonomi kreatif mempercepat transformasi ke digital dan mempertimbangkan digital sebagai salah satu channel penjualan mereka, dan di era sekarang itu bukan hal rumit. Di kondisi saat ini (pandemi COVID-19), lompatan pelaku pelaku industri ekonomi kreatif ke digital itu sekarang menjadi peluang baru untuk memperluas pasarnya,” kata Ricky.

*****

Ajang Bakusapa Bangkitkan Industri MICE Indonesia

Bakusapa MICE Indonesia

Ajang Bakusapa bangkitkan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Indonesia. Bakusapa adalah salah satu wujud kerjasama bisnis forum antara Indonesia Profesional Organizer Society (IPOS)  dan Kemenparekraf cq Direktorat Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE).

Ajang Bakusapa Bangkitkan Industri MICE

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melihat kegiatan bisnis forum virtual “Bakusapa Industri MICE Indonesia” mampu membangkitkan kembali industri pariwisata di Indonesia, terutama di sektor MICE. Ajang ini bisa mengerakkan industri pariwisata MICE tetap berkarya dengan keterbatasan Covid-19 melalui media online. Mereka dapat mempertemukan para sellers dari hotel, venue dan resort yang tersebar diseluruh destinasi  dan buyers dari lingkungan Kementerian dan Lembaga sebagai daya ungkit mendorong untuk menggeliatkan pasar domestik lebih dulu.

Dalam forum B to B kali ini memperkenalkan 8 Destinasi Prioritas (Banyuwangi, Bali, Borobudur, Danau Toba, Kep. Riau, Labuan Bajo, Likupang & Mandalika) dan 8 Destinasi MICE ( Jakarta, Bandung, Surabaya, Medang, Makasar, Yogjakarta, Semarang dan Palembang). Peserta terwakili oleh 90 hotel yang tersebar di seluruh Indonesia dan dilaksanakan pada 20-23 Juli 2020. 

Virtual marketing Kegiatan Bakusapa Seri-1, dalam 3 batch yang didahului dengan sosialisasi dan pelatihan presentasi bisnis oleh Pemandu yang diikuti oleh seluruh peserta Sellers dan Buyers.  Sellers dari 90 hotel/Resort yang menawarkan produk berupa fasilitas MICE ke pihak buyers yang diwakili dari delapan Kementerian/Lembaga di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi.

Untuk Bakusapa Industri MICE Indonesia Seri ke 2, telah dilaksanakan pada  27-30 Juli 2020 dengan mengundang buyers dari Kementerian/Lembaga di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian oleh 87 hotel/Resort. Pada kesempatan ini para sellers selain mempresentasikan produk masing2 mereka memberikan voucher 1 night room sebagai hadiah atau gimmick kepada para peserta buyers.

Seri selanjutnya direncanakan akan dihadirkan buyer dari Kementerian dibawah Koordinator Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Menko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan serta melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada  minggu pertama bulan September sampai dengan Desember 2020.

Kementrian berharap pandemi COVID-19 ini segera berakhir, sehingga keadaan dapat kembali normal khususnya industri pariwisata yang sangat berdampak dari pandemi ini. Di kondisi seperti saat ini, seluruh pihak diharapkan dapat saling bergotong-royong serta saling memberikan semangat satu sama lain untuk memberikan motivasi positif kepada industri MICE Indonesia. “Untuk terus optimistis dan terus memanaskan mesin usahanya di tengah keterbatasan” ungkap Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf, Rizki Handayani, di Jakarta 29 Juli 2020. 

Selain itu, lanjut Rizki, bisnis forum ini juga dilaksanakan sebagai upaya menyosialisasikan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability). “Protokol kesehatan berbasis CHSE memegang peranan penting dalam era adaptasi kebiasaan baru, sehingga harus diterapkan oleh seluruh pelaku pariwisata,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga mengajak semua seniman pertunjukan untuk terus mengasah kreativitas dan berkarya tanpa henti di masa pandemi COVID-19.

Dalam webinar “ngObrolin PERforming Art (Opera): Realita Pementasan Seni Pertunjukan Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru” di Jakarta 30 Juli 2020), Plt Deputi Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, mengapresiasi kreativitas para pelaku ekonomi kreatif, terutama seniman pertunjukan.

Menurutnya, kreativitas seorang seniman tak dapat dibatasi oleh apapun, termasuk pandemi COVID-19 yang tengah melanda dunia. Ia yakin kreativitas tanpa batas, inovasi-inovasi brilian selalu menjadi kekuatan bangsa kita dan memastikan kembali seniman Indonesia selalu produktif. “Saya kira ini kekuatan kita bersama,” kata Frans.

Frans mengatakan Kemenparekraf/Baparekraf selalu berupaya mendorong dan memfasilitasi seniman pertunjukan untuk terus mengasah kreativitas dan berkreasi dalam menciptakan karya seni. Kemenparekraf bersama-sama seluruh stakeholder memberikan ruang dalam rangka menyongsong kegiatan-kegiatan di era normal baru. “Kerja kreatif bisa dilakukan dengan cara virtual tentu ini jadi modal bisnis yang menjadi tantangan namun juga kesempatan,” katanya.

Salah satu seniman yang melakukan pertunjukan secara virtual adalah Suryandoro. Pendiri Yayasan Swargaloka yang aktif mementaskan berbagai lakon wayang orang ini menuturkan selama masa pandemi COVID-19, ia dan anggota yayasannya kerap berpentas dengan memanfaatkan media sosial seperti YouTube.

“Saat mengalami pandemi ini kami menjalin komunikasi, dalam berkarya dan untuk mempererat silaturahmi kami membuat sebuah karya. Kami memanfaatkan media sosial terutama YouTube sebagai sumber pendapatan baru,” tutur Suryandoro.

Hal ini disambut baik komposer musik film senior, Embie C. Noer. Embie mengungkapkan, kreativitas seorang seniman seharusnya tidak dibatasi oleh pandemi COVID-19.

Selain itu, Embie mengungkapkan, seniman dapat memanfaatkan platform digital semaksimal mungkin untuk terus berkarya dan mengasah kreativitasnya. “Kita seniman memiliki kreativitas, jangan pernah menyerah, tetap kreatif. Di masa sekarang teknologi semakin canggih membuka peluang bagi kita membuat kreasi tanpa batas,” ucap Embie.

Sementara itu, seniman kawakan sekaligus produser seni pertunjukan, Sari Madjid,  mengusulkan agar Kemenparekraf/Baparekraf untuk memberikan satu contoh pertunjukan seni yang mengimplementasikan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability). “Seni pertunjukan sekarang lebih banyak daring tapi harusnya ada orang yang nonton secara luring juga, tapi karena pembatasan sosial jadi penonton dibatasi. Saya berharap Kemenparekraf memberikan panggung bagi seniman,” ujar Sari.

*****

UMKM Kreatif Didorong Manfaatkan Teknologi

Kedai kopi Parekraf

UMKM didorong manfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran mereka. Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar bagi pelaku industri ekonomi kreatif, terutama UMKM atau Usaha Menengah Kecil dan Mikro. Begitupun, di sisi lain bencana ini memberikan kesempatan yang besar untuk berakselerasi dan memperluas pasar dengan memanfaatkan teknologi. 

UMKM Kreatif Didorong Manfaatkan Teknologi

Kemenparekraf/Baparekraf melalui Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kreatif Ricky Pesik, dalam dialog “Bangga Buatan Indonesia” di Jakarta 28 Juli 2020, mengatakan pelaku UMKM harus dapat mengubah paradigma berpikir dengan memaksimalkan teknologi untuk dapat memperluas pasar.  

Akibat pandemi, katanya, pariwisata terhenti bahkan paling drop sekarang. Tapi kalau di sektor ekonomi kreatif beberapa subsektor justru dapat momentum termasuk UMKM di sektor ekonomi kreatif. “Yakni dengan memanfaatkan teknologi untuk berakselerasi dan memperluas pasar,” kata Ricky. 

Ricky mengatakan keterbatasan pergerakan orang akibat pandemi COVID-19 membuat peluang ekonomi digital, transaksi yang dilakukan secara daring jadi terbuka luas. Apalagi Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan ditunjang dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya untuk dikembangkan sebagai inovasi dalam menghasilkan produk-produk ekonomi kreatif. 

Produk UMKM Parekraf
Produk UMKM Kreatif Didorong Manfaatkan Teknologi

Pasar produk UMKM, menurutnya, sangat luas dan patut disyukuri karena sistem distribusi, sistem logistik di Indonesia praktis tidak terganggu akibat pandemi sehingga transaksi daring dan pengiriman barang tidak terganggu. Dari segi makro-ekonomi, ekonomi digital ini akan jadi strategi nasional bahkan banyak negara untuk meningkatkan perputaran ekonomi lokal. “Indonesia sebagai bangsa yang besar kenapa tidak memanfaatkan momentum ini,” kata Ricky. 

Turut hadir dalam dialog tersebut Widodo Muktiyo, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo. Widodo mengatakan, pemerintah berusaha untuk membuat ekosistem ekonomi digital dengan memberikan berbagai insentif kepada pelaku UMKM sehingga mereka dapat lebih kompetitif di pasar. 

Pemerintah juga telah menggulirkan kampanye nasional gerakan “Belanja Buatan Indonesia” yang salah satu tujuannya adalah mendorong pelaku UMKM agar bertransformasi dari pasar offline ke online dengan memanfaatkan teknologi. Kemenparekraf menjadi kementerian pertama yang memulai kampanye nasional Bangga Buatan Indonesia lewat program “Beli Kreatif Lokal”. Saat ini dilanjutkan Kemenkominfo lewat program “Kita Bela Kita Beli”. 

“Sementara masyarakat juga perlu mengubah paradigma bahwa kita harus memberikan keistimewaan terhadap produk lokal,” kata Ricky Pesik. 

Hal senada dikatakan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo. Baik sisi supply and demand dalam produk ekonomi kreatif dari para pelaku UMKM harus dapat diseimbangkan. 

Para pelaku UMKM harus dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pasar dan meningkatkan kapasitas diri yang disesuaikan dengan perkembangan pasar itu sendiri. Sementara masyarakat juga harus mengubah paradigma berpikir untuk senantiasa mendukung produk lokal.

“Pemerintah akan terus memberikan pendampingan untuk perubahan ini agar pelaku UMKM bisa merebut pasar tidak hanya nasional tapi juga global,” kata Widodo. 

Tercatat saat ini sudah bergabung lebih dari 1 juta pelaku UMKM di program “Bangga Buatan Indonesia”. Diharapkan jumlah pelaku UMKM yang bergabung meningkat hingga 2 juta di akhir tahun. 

Pada kesempatan terpisah, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif melakukan pembekalan kepada 100 pelaku usaha kreatif kuliner dengan pelatihan daring bertajuk “Belajar Usaha Kuliner Kreatif Nusantara (BUKKA) pada 27 dan 28 Juli 2020.

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf, Josua Puji Mulia Simanjuntak, saat membuka acara BUKKA secara daring pada Senin (27/7/2020), mengatakan, untuk menyambut dan memasuki sektor bisnis kuliner, semua orang perlu memiliki ilmu pengetahuan tentang industri kreatif kuliner dengan berbagai keterampilan dan kreativitas.

“Hal ini dilakukan agar kita semua jauh lebih siap jika kita akan memasuki industri kreatif kuliner yang berkembang pesat sekarang ini,” kata Josua.

Josua menambahkan untuk itu Kemenparekraf/Baparekraf bekerja sama dengan Foodizz.Id menyelenggarakan kegiatan pelatihan daring BUKKA sebagai bentuk upaya membantu pelaku usaha kuliner untuk meningkatkan motivasi serta ilmu pengetahuan praktikal bisnis dalam membuka usaha kuliner.

Melalui kegiatan ini para pelaku usaha kreatif kuliner akan mendapatkan pemahaman dan pengetahuan terkait usaha kreatif kuliner nusantara yang dapat bertahan di era adaptasi kebiasaan baru.

Pelatihan BUKKA dibagi dua sesi. Sesi pertama dilakukan pada 27 Juli 2020, yang diisi oleh Founder Upnormal dan F&B Consultant Danis Puntoadi. Lalu, sesi kedua akan diisi oleh F&B Enterpreneur dan Co Founder Foodizz.id Stefanie Kurniadi yang akan diselenggarakan pada 28 Juli 2020.

Dalam kesempatan yang sama Plt. Direktur Industri Kreatif Fesyen, Desain, dan Kuliner Kemenparekraf/Baparekraf, Imam Wuryanto, menuturkan bisnis kuliner menjadi salah satu bidang usaha yang banyak diminati masyarakat. Kuliner kini bukan hanya menjadi kebutuhan pokok, melainkan menjadi bagian penting dalam gaya hidup dan hampir semua orang menyukai kuliner. 

****

Protokol Kesehatan Bali Jelang 31 Juli

Protokol Bali Bangkit

Protokol kesehatan Bali jelang 31 Juli 2020 kembali diingatkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. Wisnu mengingatkan agar pekerja serta pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali mempersiapkan diri dan terus menjalankan protokol kesehatan menyusul rencana Pemerintah Provinsi Bali membuka sektor pariwisata mulai 31 Juli 2020. 

Protokol Kesehatan Bali

Menteri Wishnutama berpesan dalam acara peluncuran “Video Bali Bangkit” yang digelar Yayasan Puri Kauhan Ubud dan Pemerintah Provinsi Bali, Minggu 26 Juli 2020, bahwa saat ini Indonesia telah mulai memasuki masa adaptasi kebiasaan baru. Termasuk untuk kegiatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali yang akan mulai beroperasi kembali secara bertahap. 

Menteri Pariwisata menyatakan sangat bersyukur kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali akan mulai beroperasi. Untuk itu para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali diharapkan terus dapat menerapkan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya dan penuh kedisiplinan.

 Ia mengatakan bahwa pariwisata adalah bisnis kepercayaan. Karena itu para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali harus dapat menjalankan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya sehingga mampu membangun rasa percaya wisatawan akan rasa aman saat berkunjung ke Bali.

Pemerintah dikatakannya telah melakukan berbagai program pemberian bantuan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Di antaranya pemberian berbagai macam bantuan sosial seperti pelaksanaan program bantuan insentif pemerintah, pemberian relaksasi pajak, pemberian dana talangan usaha melalui Himbara dengan nilai mencapai Rp 10 miliar, juga pemberian berbagai diskon penerbangan dan paket wisata.

“Kami bersama kementerian dan lembaga lainnya terus berupaya agar dapat memberikan berbagai bantuan tambahan bagi pelaku bisnis pariwisata dan ekonomi kreatif ke depan,” kata Wishnutama.  

Berbagai macam upaya tersebut diharapkan agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat segera pulih dan bangkit kembali. 

“Saya sangat percaya dalam setiap krisis selalu ada peluang dan saya yakin masyarakat pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali akan mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada sebaik mungkin agar segera bangkit kembali,” kata Wishnutama. 

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, pihaknya telah membentuk dua tim yang masing-masing berfokus pada penanganan COVID-19 serta percepatan pemulihan ekonomi atas dampak dari COVID-19. Saat ini situasi sudah mulai kondusif, karena itu upaya untuk percepatan pemulihan ekonomi akan segera dilakukan. 

Pada 9 Juli 2020, Pemerintah Provinsi bali telah membuka tahapan pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat secara bertahap dan terbatas. Yakni masyarakat Bali telah kembali melakukan aktivitas kecuali di sektor pendidikan dan pariwisata. 

“Untuk tahap kedua akan dilakukan pada 31 Juli 2020, aktivitas pariwisata dibuka namun hanya untuk wisatawan nusantara. Kami telah menyiapkan dengan baik bersama para pihak pelaku usaha pariwisata serta atas kesepakatan bupati dan walikota,” kata Koster. 

Selanjutnya untuk tahap ketiga, direncanakan akan dilakukan pada 11 September 2020 dengan membuka sektor pariwisata secara penuh dan sudah mulai membuka untuk kunjungan wisatawan mancanegara. 

Untuk pelaksanaan tiga tahapan ini, Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3355 Tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru di Sektor Fasilitas Umum. Khususnya di sektor pariwisata untuk dapat mengikuti protokol serta menyiapkan diri dengan melakukan assessment. 

Pelaku usaha yang telah siap akan diberikan sertifikat dan kami pantau secara ketat agar dapat berjalan dengan tertib dan disiplin. Jika pelaksanaan tidak sesuai dengan komitmen, maka perusahaan tersebut akan dihentikan untuk melaksanakan aktivitas usahanya. 

“Karenanya surat edaran ini harus dijalankan dengan benar sehingga aktivitas perekonomian bisa berjalan namun tetap aman dari COVID-19. Sehingga akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat lokal maupun wisatawan,” kata Koster. 

Turut menyampaikan pesan dalam “Video Bali Bangkit” sejumlah Menteri dari Kabinet Indonesia Maju lainnya. Yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia Teten Masduki, Menteri Sosial Juliari P. Batubara, dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. 

Selain itu juga Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Abdul Halim Iskandar, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Bintang I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo dan lainnya.

Pesan ini menunjukkan besar perhatian dan harapan dari Presiden Joko Widodo dan juga para menteri pada Bali agar secepatnya bangkit dan Indonesia juga bangkit. 

*****

Padat Karya BISA 2020 di Sejumlah Desa Wisata Nusa Tenggara Barat

Gerakan Indonesia BISA

Padat Karya BISA 2020 digelar di sejumlah desa wisata di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selama empat hari. BISA yang dimaksud adalah Bersih, Indah, Sehat, dan Aman ini diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Padat Karya BISA 2020 di NTB

Guntur Sakti, perwakilan dari Deputi Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf mengatakan, gerakan ini dilaksanakan dengan sasaran para pelaku usaha pariwisata. Juga ekonomi kreatif. BISA merupakan gerakan padat karya untuk mengoptimalkan mereka dalam menangani dan meningkatkan kebersihan, keindahan, kesehatan, dan keamanan masyarakat di destinasi.

Inisiatif ini dilakukan ketika pelaku usaha pariwisata bersama masyarakat memasuki masa adaptasi kebiasaan baru pascapandemi COVID-19. “Kegiatan inisiatif yang berlangsung empat hari ini melibatkan peran aktif masyarakat,” kata Guntur di Mataram, Nusa Tenggara Barat.  

Kebersihan, kesehatan, dan keamanan akan menjadi faktor utama yang dibutuhkan wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru saat ini. Sehingga kesiapan destinasi beserta seluruh pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di dalamnya harus benar-benar tercermin saat memasuki masa tersebut. 

Kegiatan pertama berlangsung di Desa Wisata Tete Batu pada 24 hingga 25 Juli 2020 yang melibatkan sekitar 100 pekerja pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak COVID-19. Bersama-sama, masyarakat dengan dukungan Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, pihak kecamatan, Danramil serta perangkat desa, dan otoritas Taman Nasional Taman Gunung Rinjani melakukan aksi bersih-bersih.

Desa Wisata Tete Batu sebagai salah satu desa wisata tujuan favorit yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara sebelum terjadinya pandemi COVID-19. 

Selanjutnya gerakan BISA berlangsung di Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah yang merupakan desa wisata yang dikembangkan atas kerja sama antara pemerintah daerah Lombok dengan Airasia. Kegiatan yang juga melibatkan peran aktif masyarakat itu berlangsung di empat titik, meliputi batas Desa Bonjeruk hingga Desa Ubung, Presa, Ombak, dan Pusat Desa.

Kemenparekraf/Baparekraf mendedikasikan sejumlah alat penunjang kebersihan dan kesehatan di seluruh lokasi kegiatan. Menariknya, bantuan wastafel portable sarana cuci tangan yang biasanya diberikan dalam bentuk tangki air portable diganti dengan kendi atau masyarakat setempat menyebutnya bong. 

“Hal ini sebagai salah satu upaya dari Kemenparekraf turut memberdayakan pekerja kreatif setempat,” kata Guntur. 

Sementara itu, pada hari Minggu 26 Juli, kegiatan berlangsung di Kota Tua Ampenan, Mataram, yang juga didukung pemerintah setempat.  Sekitar 100 pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Mataram diajak untuk melakukan gerakan bersih-bersih di beberapa kawasan Kota Tua Ampenan seperti, Pondok Perasi, Pabean, serta Kota Tua. 

Sebagai salah satu destinasi pariwisata, Kota Tua Ampenan, memiliki sejumlah potensi pariwisata mulai dari bangunan bersejarah, pantai, hingga kuliner. 

Kemenparekraf berharap inisiatif ini tidak hanya berlangsung saat serenomialnya dilaksanakan, namun harus terus menjadi kebiasaan dan standar protokol kesehatan dalam menjalankan usahanya. Peran serta masyarakat juga diharapkan berlangsung berkelanjutan agar desa  wisata di NTB ini bisa kembali bergairah. Demikian pula dengan industri kreatif pendukungnya.

“Pemilihan bong ini sebagai salah satu upaya dari pemerintah turut mendorong industri kreatif setempat,” kata Guntur. 

Guntur berharap, rangkaian kegiatan ini tidak hanya sebagai bagian dari kegiatan padat karya, namun dapat menumbuhkan rasa peduli seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif akan kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keberlangsungan lingkungan. Dimana semua faktor tersebut menjadi perhatian utama wisatawan dalam berwisata di era adaptasi kebiasaan baru.

Pemerintah, menurut Guntur, saat ini juga telah menggulirkan program InDonesia Care. Ini merupakan kampanye nasional pariwisata sebagai simbol dari seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan juga masyarakat. Program tersebut diharapkan menjadi bukti bahwa pemerintah sangat peduli akan pentingnya menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keberlangsungan lingkungan. 

Program Padat karya Bisa 2020 ini merupakan bagian dari upaya pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pariwisata dan Pereknomian Kreatif mendorong bangkitnya kembali pariwisata Indonesia. Khususnya setelah hantaman pandemi Covid-19. Sejumlah inisiatif telah dilakukan pemerintah untuk mengembalikan gairah industri pariwisata dan ekonomi kreatif. pekan sebelumnya, misalnya, upaya seperti ini juga telah dilakukan di Bali. Sejumlah daerah akan terus menyusul.

****

3 Strategi Wisata Dongkrak Penjualan di Normal Baru

Maskapai Batik Air melakukan penernangan ke dua kota di Australia. Keberangkatan dari Bali.

3 strategi wisata dongkrak penjualan coba didorong Kementrian Pariwisata dan Perkenomian Kreatif untuk mendorong tumbuhnya kembali industri pariwisata di Indonesia. Kementerian, misalnya, berupaya melengkapi dan menyempurnakan fasilitas destinasi wisata di Bali.

3 Strategi Wisata: Bali Rebound

Salah satu strategi yang dilakukan untuk mendorong bangkitnya kembali industri pariwisata tanah air adalah program Bali Rebound. Ini dilakukan untuk menyambut wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru.

Pengenalan Bali Rebound

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Kemenparekraf Hari Santosa Sungkari mengatakan program Bali Rebound merupakan inisiasi dari Kemenparekaf untuk membangun kembali pariwisata di Bali. “Keunikan Bali masih menjadi daya tarik utama pariwisata Indonesia,” katanya di Badung, Bali, 15 Juli 2020 lalu.

Program Bali Rebound diselenggarakan di empat kawasan destinasi favorit di Badung, Bali, antara lain Nusa Dua, Pantai Kuta, Pantai Pandawa, hingga Uluwatu. Untuk kawasan Nusa Dua, acara tersebut dilakukan di Water Blow, Art Bali, Bali Collection Shopping Center, pantai Bengiat dan Pantai Samuh.

Program ini memberikan dampak positif secara menyeluruh. Lokasinya memang berada di Badung, tapi sudah sangat mewakili pariwisata Pulau Dewata. Semua elemen pariwisata bersatu dan memberikan dukungan penuh. “Kami juga memberi dukungan berupa penyempurnaan fasilitas dan amenitas di destinasi,” kata Hari.

Penerapan Protokoler Kesehatan

Bali Protokol Kesehatan
Pengenalan protokol kesehatan wisata dalam Bali Rebound. Doc. Kemenparekraf

Kemenparekraf memberikan pendampingan mulai dari persiapan hingga pembukaan kembali destinasi wisata di Bali.Untuk menguatkan program Sapta Pesona dan Revitalisasi Amenitasnya, Kemenparekraf memberikan berbagai fasilitas di antaranya alat pendukung kebersihan, kesehatan, dan keamanan berupa wastafel, sapu pantai, tempat sampah, thermo gun, disinfektan, pemasangan signage atau rambu Sapta Pesona dan papan informasi. Khusus destinasi Pantai Kuta, Kemenpaekraf membangun prototype renovasi toilet bersih. 

Selain dukungan cleanliness, health, safety, and environmental sustainability (CHSE), Kemenparekraf juga melakukan Gerakan Bersih Pantai atau Kawasan di daerah Nusa Dua, pantai Bengiat, Pantai Samuh, Pantai Pandawa, Pantai Kuta, dan Kawasan Uluwatu.  

Hari menambahkan program bersih-bersih destinasi menjadi hal yang sangat penting. Semua elemen harus dipastikan bagus dan memberikan jaminan kenyamanan secara menyeluruh. Unsur kebersihan, kesehatan, dan keamanan harus terpenuhi secara maksimal. “Apalagi, sekarang sudah masuk fase normal baru dengan standar protokol kesehatan yang wajib dipenuhi,” ujar Hari.

Menuju Zona Hijau Destinasi Wisata

Aktivitas tersebut diikuti oleh 400 para pelaku usaha parekraf. Partisipan yang ikut bergabung antara lain Kepala Dinas Pariwisata Badung, Pengelola Daya Tarik Wisata, Jero Bandesa Desa, Camat Kuta Selatan, Kapolsek Kuta Selatan, Danramil, Lurah Benoa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Benoa, hingga Paguyuban Pedagang Pantai Bengiat dan Samuh.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II, Wawan Gunawan, mengatakan inovasi harus dilakukan pada setiap destinasi dan penyempurnaan infrastruktur yang mengacu pada protokol kesehatan harus diprioritaskan. Agar destinasi wisata menjadi zona hijau, sehingga wisatawan akan merasa aman dari COVID-19. Kepercayaan wisatawan akan berdampak pada meningkatnya kunjungan destinasi wisata.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa, menambahkan infrastruktur sesuai standar protokol kesehatan sangat penting untuk mengembalikan dan meningkatkan kepercayaan pasar. Dengan begitu, perekonomian masyarakat di Bali bisa segera pulih melalui aktivitas pariwisata.

3 Strategi Wisata: Pemasaran Secara Online

SelainBali Rebound, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatifjuga mendorong para pelaku UMKM di Tanah Air untuk memasarkan produknya secara online melalui platform e-commerce.

#BeliKreatifLokal

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, saat menghadiri dialog “Indonesia Bicara” di Jakarta, 16 Juli 2020, mengatakan bahwa digitalisasi UMKM harus terus digalakkan. Kementrian, katanya, melakukan ini melalui program #BeliKReatifLokal yang telah diluncurkan sejak Juni 2020.

Hingga saat ini, menurut Angela, telah terkurasi 500 pelaku ekonomi kreatif untuk difasilitasi oleh kementrian soal pendaftaran HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). “Kami fasilitasi untuk masuk ke online, dan kami juga memberikan pendampingan-pendampingan promosi,” katanya.

Angela menjelaskan, program ini bertujuan untuk membantu para pelaku usaha UMKM yang terdampak pandemi COVID-19 untuk memasarkan produknya di platform digital. Mengingat terbatasnya interaksi jual beli secara fisik di tengah pandemi.

“UMKM Indonesia harus bisa berinovasi dan kita bangga terhadap produk lokal dan saya yakin produk lokal bisa merajai pasar,” ungkap Angela.

Tiga Subsektor UMKM

Angela menuturkan, bahwa program ini menyasar tiga subsektor UMKM, yaitu kriya, fashion, dan kuliner, terutama yang berada di Jabodetabek.

“Kami memilih di zona merah khususnya Jabodetabek. Karena kami melihat itu sangat terhambat produktivitas secara fisik jadi itu yang kami fasilitasi terlebih dahulu,” katanya.

Hal senada disampaikan Staf Khusus Bidang Kebijakan Digital dan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dedy Permadi, yang mengatakan, pemasaran produk UMKM lewat platform digital memungkinkan pengusaha dapat memperluas distribusi produknya tanpa harus melakukan kontak fisik.

“Ini bisa menghadirkan peluang distribusi baru bagi para pengusaha UMKM, yaitu melalui metode secara digital,” ujar Dedy.

3 Strategi Wisata: Promosi Kreatif

Pada kesempatan lain, Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Frans Teguh mengatakan, para pelaku ekraf perlu mendapatkan pengetahuan tentang tips dan trik dalam mempromosikan produk atau jasa.

Dalam virtual talk show “Reklame” Rembug Kreatif Periklanan Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru, di Jakarta, 16 Juli 2020, ia menjelaskan, ini bisa melalui berbagai teknik periklanan, mulai dari foto, video hingga pengemasan suatu produk. “Para pelaku usaha dan pelaku ekraf harus tetap produktif dan tetap berkarya di masa adaptasi kebiasaan baru,” katanya.

Saat virtual talk show “Reklame” Rembug Kreatif Periklanan Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru hadir pula Ketua Asosiasi P3I Janoe Arijanto, Fotografer profesional dan Asesor Fotografi Denny Herliyanso, Ceo & Founder Panenmaya Group Pikukuh Tutuko, Pelukis dan Desainer Interior Andri Wintarso, serta Rita Dwi Kartika Utami sebagai moderator, dan diikuti sebanyak 274 peserta. 

Mengubah Proses Pemasaran

Ketua Asosiasi P3I Janoe Arijanto menjelaskan, pandemi COVID-19 mengubah banyak hal dalam proses pemasaran produk. Mulai dari cara mengakses informasi suatu produk atau merek, flow decision making, sampai  model distribusi. Nantinya akan selalu ada titik–titik Customer Experience yang baru atau sesuatu yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam lingkaran proses pemasaran. 

“Untuk itu, perlu penerapan beberapa skenario perencanaan komunikasi dalam merespon ketidakpastian. Baik dari  pemilihan media maupun flow komunikasi produk yang akan diiklankan,” katanya.

Kemudahan Era Digital

Fotografer Denny Herliyanso lalu menjelaskan, di era digital ini, banyak kemudahan diperoleh oleh semua orang. Siapapun bisa menjadi ‘jurnalis’ maupun ‘fotografer’. Bahkan hanya dengan bermodalkan ponsel atau kamera saku, tanpa harus memakai kamera profesional. 

Gadget yang dilengkapi dengan teknologi canggih saat ini, juga sudah bisa menyampaikan foto-foto indah sebagai salah satu cara membranding diri. Sebab, fotografi adalah seni melukis dengan cahaya, yang ‘membungkus’ visi, misi, inspirasi, dan spirit seseorang. Begitupun, ia mengingatkan, “Untuk membuat foto yang bagus dan menarik tetap diperlukan suatu konsep yang baik,” katanya.

****