4 Pulau di Wakatobi, Dan Misteri yang Menyelimutinya

NTT Menjadi Tuan Rumah API 2020, di mana salah satu nominasi destinasi wisata yang menjadi nominasi adalah Wakatobi.

4 pulau di Wakatobi menyimpan banyak kisah. Juga misteri. Wakatobi kini adalah tujuan utama wisata bahari di Sulawesi Tenggara. Masih banyak yang belum paham jika Wakatobi sesungguhnya akronim dari empat pulau:Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko.

Kue karasi dan secangkir teh menyambut saya serta kawan-kawan di Dusun Bante, Desa Makoro, Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Lumayan menghangatkan perut yang sejak matahari terbit terguncang di atas perahu kayu cepat berkapasitas 20 penumpang.Butuh waktu satu setengah jam perjalanan dari Dermaga Pulau Tomia ke Pulau Binongko. Belum lagi menempuh gelombang dan angin laut pada Agustus yang cukup keras menerpa kapal yang saya tumpangi.

4 Pulau di Wakatobi

La Ode Muhamad Syafii, pemuka warga, yang menemui rombongan agak heran dengan kedatangan kami di musim laut yang tak ramah ini. “Jarang ada orang luar yang datang di musim laut seperti ini,” katanya. Saya hanya tersenyum sambil melirik ke Seto dan Rudi, dua orang pemandu lokal asal Wanci serta Kaledupa, yang tertawa kecil mendengar perkataan La Ode. 

“Sebagian masyarakat Binongko dan Wakatobi percaya mereka berasal dari laut,” ucap La Ode sambil mempersilakan kami menikmati kue karasi yang berasal dari tepung beras itu. Di hari-hari tertentu, kata La Ode, beberapa warga akan berjalan ke tepi pantai menunggu ‘jemputan’ kerabatnya dari laut. “Percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi di desa kami,” ujarnya.

Kisah semacam ini juga saya temui di masyarakat yang berada di Pulau Wanci, Kaledupa, dan Tomia, Sulawesi Tenggara. Kisah ini hampir mirip dengan urban legendsuku Betawi asli yang sampai hari ini meyakini hubungan kekerabatan dengan buaya putih di Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta.

Wakatobi, akronim dari empat pulau:Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, juga Binongko, tak hanya menyimpan keindahan wisata laut semata, tapi juga menyajikan wisata budaya, sejarah, dan petualangan darat yang tak kalah menarik. Tentu saja pesona maritimnya tetap yang utama.

Saat menelusuri Pulau Binongko, misalnya, saya menemukan tenun pengukur kiamat di 

Dusun Ollo-ollo, Kelurahan Sowa, Kecamatan Togo Binongko. Desa nelayanyang berjarak satu jam perjalanan darat dari Dermaga Dusun Bante, Desa Makoro, Binongko, itu menyimpan kisah lokal yang melegenda dan dipercaya masyarakat setempat hingga kini. Warga menyebutnya homorua watontea. Di dalam kotak kayu yang telah dimakan usia berukurankardus sepatu dewasa, terdapat kain tenun sakral yang dikeramatkan penduduk. Kononkain itu bertambah panjang hanya10 tahun sekali. La Samudia, tokoh adat Togo Binongko, menuturkan jika kain tenun itu sudah berhenti memanjang, pertanda dunia akan berakhir. Itulah kenapa dinamakanhomorua(tenun) watontea (yang akan muncul), kiamat yang akan tampak. 

Binongko juga dikenal dengan nama Kampung Pandai Besi. Konondi sinilah, pedang Patimura yang terkenal itu dibuat oleh empu di Binongko. Di Desa Sowa, yang terkenal dengan kampung tukang besi itu, sebagian besar sudah menggunakan peralatan modern. Hanya beberapa yang masih menggunakan alat tradisionalseperti peniup udara manual untuk membakar besi. 

Pulau-pulau di Wakatobi cukup banyak memiliki benteng-benteng kuno peninggalan era Kerajaan Buton dan kerajaan kecil lainnya. Salah satunya Benteng Patua di Desa Kollo Patua, Pulau Tomia. Benteng ini terbuat dari susunan batu karang yang diatur sedemikian rupa menjadi tembok, menara pandang, tatakan bedhil (sebutan warga setempat untuk meriam), juga ruangan-ruangan lain.

Di salah satu gardu pandang terdapat makam dua tokoh perempuan setempat bernama Wa Ode Bula dan Wa Ode Kaaka. Hikayat setempat menyebutdua perempuan sakti itulahyangmembawa sendiri meriam-meriam tersebut seakan membawa tongkat untuk berjalandari bawah bukit ke puncak benteng.

Tomia sebenarnya lebih dikenal sebagai surga bagi penyelam karena terdapat sederet titik selam terbaik, sepertiKollo Soha Dive Spot, Ali Reef, juga Marimabuk. Berada sekitar tiga kilometer dari Pantai Tomia initerdapat pemandangan ikan-ikan nudibranch dan penyu yang berseliweran. Di sini, tempatnya ikanbig eye giant trevally serta bobara.

Tak hanya bawah laut yang memukau, berada di tempat tertinggi di pulau ini juga mengasyikkan. Dikenal sebagai Puncak Kahyangan, jika cuaca cerah, dari kejauhan akan tampak Pulau Binongko, Pulau Lentea, Pulau Sawa, serta Pulau Tolendano. Bukit karang ini dulunya berada di dasar lautan. Hal ini terbukti dari banyaknya fosil-fosil kerang berukuran besar yang berserakan di atas bukit. Lokasi ini kerap menjadi tujuan pemburu keindahan mentari tenggelam atau sunset sekaligusmenikmati bintang di malam hari. 

Di Tomia Timur, tak jauh dari Desa Kulati, ada pula tebing Ampomberoyang cocok untuk melepaskan pandangan luas ke arah Laut Banda. Dari atas tebing karang yang cukup tinggi itu, jika cuaca cerah, akan tampak Pulau Nda’a yang berderet di horizon. Bagi mereka yang menyukai snorkeling, bisa berlayar ke Pulau Hoga. Titik selam di sekitar Pulau Hoga cocok untuk snorkeling. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari daratan.

Sedangkan, di Pulau Wanci, yang menggoda tentunya ada spotuntuk menyelam.Terdapat Nua Shark Point. Di tempat ini, penyelam akan bertemu dengan kawananikan hiu sirip hitam. Pilihan obyek wisata lain berupa kolam sekaligus gua air tawar yang disebut kontamale. Kolam alam dengan bentuk tak beraturan itu terdapat beberapa bagian cukup dalam sehingga beberapa orang dapat melakukan atraksi terjun bebas setinggi 10 meter dari tebing di atasnya.

Kemudian ada pula air Moli’i Sahatu yang berada sekitar 200 meter dari Dermaga Patuno Resort. Moli’i Sahatu memiliki arti seratus mata air. Hikayat setempat mengatakan mata air ini berkhasiat membuat seseorang yang meminumnya akan awet muda. Jadi, baik air tawar maupun air laut, sama-sama menggoda di Wakatobi.

SUKU BAJO SAMPELA, PELAUT SEJATI 

Dikenal sebagai pelaut sejati, suku Bajo Sampela menghabiskan semuahidupnya di laut lepas. Pemukiman Bajo Sampela, yang sejak 1977, bernama Sama Bahari berada sekitar dua kilometer dari Pulau Kaledupa, salah satu dari empatpulau besar di Wakatobi. Berbeda dengan Suku Bajo Mola di Wangi-wangi yang lebih modern dan sebagian besar telah ‘mendarat’, Bajo Sampela masih mempertahankan tradisi rumah di laut lepas.

Ketika berada di sini, jangan lupa mencariLa Oda, si pejalan laut. Dialah manusia pejalan laut sesungguhnya. Keahlian yang mulai langka di masyarakat Bajo Sampela. La Oda, 42 tahun,merupakan penyelam bebas dari Suku Bajo Sampela, Dusun Katutuang.Sejak berusia 10 tahun, dia mulaimenyelam di kedalaman belasan meter mencari lobster dan ikan. Dia terbiasa menyelam dikedalaman 20 meter selama 4-5menit menggunakan carummeng– kacamata selam tradisional dari kayu kalingpapa. Hal yang luar biasanya, tentunya!

Bila sempat menginap, jangan lewatkanmenikmati pemandangan terindah saat mentari terbitsambil duduk di atas sampan di tepi perkampungan. Sayangnya, di tempat ini, pasokan listrik terbatas. Hanya menyala dari pukul 18.00-23.00.

WAKTU BERKUNJUNG TERBAIK 

1. Pada Mei-Juni atau September-Desember

Hal ini karena iklim dan cuaca laut pada masa itu relatif tenang.

2.Luangkan waktu 5-7 hari

Agar perjalanan Anda tak sia-sia karena biaya tergolong mahal. Maklum tujuan wisata tersebar di sejumlah pulau di kabupaten ini. 

DARI BANDARUDARAINTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA

Pilihan umumnya terbang terlebih dulu ke Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Penerbangan ke BandarUdara Haluoleo ini biasanya berlangsung sekitar 3 jamserta cukup beragam pilihan maskapai, seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, dan lain-lain. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke BandarUdaraMatahora di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, menggunakan maskapai Wings Air selama 45 menit. Selain jalur udara, Wakatobi bisa dicapai dengan kapal regular yang berangkat setiap Senin, Selasa, Kamis, serta Sabtu dari Kendari.

A. Nugroho

*****

Empat Pantai Tersembunyi Di Jawa Barat (Bagian 3)

karang hawu shutterstock 398880607

Empat pantai tersembunyi di Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Pantai Tersembunyi

Nama besar kawasan wisata Pangandaran rasanya telah menenggelamkan pantai-pantai lain di Jawa Barat. Akibatnya, pada hari-hari libur, pengunjungnya selalu membludak. Padahal, banyak wisatawan yang tidak suka keriuhan dan memilih tempat-tempat yang lebih tenang. Untuk itu, masih banyak pantai lain yang masih alami dan sepi pengunjung karena letaknya yang tersembunyi. Cobalah menyambangi empat pantai tersembunyi berikut ini untuk merasakan keasriannya.

  1. Pantai Santolo

Dari pusat kota Garut, para wisatawan masih harus menempuh sekitar 88 kilometer menuju Kecamatan Cikelet, Garut Selatan. Perjalanan melalui area pegunungan yang sempit dan berkelok-kelok, dengan jurang di satu sisi dan hutan di sisi lainnya. Namun begitu sampai di kawasan pantai, panorama pesisir yang unik segera menyambut. Perjalanan yang mendebarkan segera terbayar dengan sambutan itu.

Unik karena terdapat hamparan batuan, besar dan kecil, di beberapa sudut pantai. Tak hanya itu, di sudut lain ada jembatan tali yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil, membuatnya menjadi pemandangan yang menarik.

Jangan lewatkan pula Pulau Santolo yang bersejarah. Dengan naik perahu sekitar 15 menit, Anda akan sampai di dermaga batu peninggalan Belanda. Ketika era kolonial, sekitar 1850, pantai inimemangpernah difungsikan sebagai dermaga untuk mengangkut rempah-rempah menuju kapal besar di tengah laut.

Setelah Belanda pergi, kawasan ini menjadi perkampungan nelayan. Karenanya, Pantai Santolo memiliki pusat pelelangan ikan yang menjual cumi, udang, dan aneka ikan laut yang masih segar. Pengunjung pun dapat langsung menikmatinya di warung makan dekat situ. 

  • Pantai Rancabuaya

Masih di Garut, Rancabuaya yang berada di Kecamatan Caringin berjarak sekitar 135 kilometer dari pusat kota. Meski cukup jauh, kondisi jalannya mulus dan bisa ditempuh menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. 

Pantai yang dijadikan lokasi syuting film Perahu Kertas ini merupakan tipe pantai berbatu karang. Ini membuat kawasan tersebut membentuk semacam kolam-kolam kecil nan jernih saat laut surut. Beberapa ekor ikan tampak terjebak di dalamnya, seolah-olah menanti untuk disapa. 

Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan dari atas bukit yang berada di sekitar pantai. Bagi yang ingin bermalam, dapat menyewa vila atau pondok yang dilengkapi rumah makan bergaya lesehan.

  • Pantai Karang Tawulan

Pantai Karang Tawulan berada di Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.Sebenarnya lokasinya tidak sulit dijangkau, sekitar 90 kilometer dari alun-alun kabupaten. Namun karena kurang populer, pengunjungnya belum terlalu banyak. 

Ombak yang tidak terlalu besar membuat pelancong dapat berenang di beberapa sisi pantai. Cobalah datang ke Pantai Karang Tawulan pada sore hari. Jika beruntung, kawanan burung camar akan menyapa dalam perjalanan pulangnya ke Nusa Manuk, pulau kecil di tengah pantai yang menjadi rumahnya. 

  • Pantai Karang Hawu

Karang Hawu hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari Palabuhanratu atau 73 kilometer dari pusat Kota Sukabumi. Namun suasananya jauh lebih tenteram. Tebingnyamenjorok ke laut, dengan deburan ombak yang menghantam bibir tebing, membuatnya semakin menawan.

Nama hawu yang berarti tungku berasal dari bentuk tebing karangnya yang berlubang. Beberapa orang meyakini bahwa air yang tertampung dicekungan batu karang tersebutdapat memberikanberkahdan mengobati berbagai penyakit.Kawasan ini memang masih lekat dengan cerita-cerita mistis yang dituturkan dari mulut ke mulut.

Dengan kesejukan udara dan airnya yang jernih, pantai sepanjang empat kilometer ini menjadi lokasi yang pas untuk bersantai dan menenangkan pikiran.

*****

Empat Mutiara Jawa Barat (Bagian 2)

ujung genteng shutterstock 1069249550

Empat mutiara Jawa Barat menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau di kawasan selatan provinsi ini. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Empat Mutiara Jawa Barat

Pengetahuan masyarakat tentang kawasan selatan provinsi Jawa Barat, terutama pantai-pantainya, mungkin didominasi dengan Pangandaran. Daerah di ujung tenggara provinsi ini. Dulu, saat Banten masih menjadi bagian dari Jawa Barat, masih ada pantai Anyer, pantai Carita, atau Tanjung Lesung untuk menunjuk kekayaan alam pantai di sini.

Seiring perjalanan waktu, Banten dimekarkan menjadi provinsi tersendiri, Pangandaran seolah menjadi satu-satunya ingatan publik tentang wisata pantai di Jawa Barat. Betulkah demikian? Tunggu dulu. Daerah pinggiran daratan di selatan provinsi ini ternyata menyimpan banyak mutiara. Setidaknya ada empat mutiara Jawa Barat yang layak dikunjungi.

Ujung Genteng adalah salah satu desa di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Beragam pantainya memiliki nama-nama sendiri, tetapi biasanya wisatawan menyebut semuanya dengan nama Ujung Genteng. Pantai-pantai di sini memang tampak serupa, yakni masih alami, bersih, dan berhadapan langsung dengan ombak samudera yang cukup besar.

Meski mirip, ada pula sejumlah karakteristik pantai yang menjadikannya spesial. Semisal di Pantai Minajaya, biasanya ada warga yang mencari lobster dan jukut hejo (rumput hijau) di tepi laut. Pengunjung bisa membeli dan memakannya di saung-saung di sekitar pantai. Sementara di Pantai Tenda Biru, terdapat kawasan hutan lindung yang dijaga pasukan TNI AU.

Menyambangi Ujung Genteng tak lengkap tanpa bertemu penghuni khasnya, yakni penyu hijau. Di Pantai Pangumbahan, Anda bisa menyaksikan penyu-penyu naik ke daratan untuk bertelur. Lalu dengan latar belakang tenggelamnya mentari di ufuk barat, petugas konservasi akan melepaskantukik-tukik ke laut.Dengan keempat kaki yang kelak berfungsi sebagai sirip, mereka berlari-lari kecil menuju samudera, meninggalkan para pelancong yang menyemangatinya dari kejauhan.

Jika menggunakan angkutan umum, dari Terminal Sukabumi, naik angkutan ke Lembur Situ, lalu ke Surade, baru ada angkot menuju Ujung Genteng. Jika menyewa atau membawa kendaraan pribadi, tentu lebih banyak tempat yang bisa dijelajahi, misalnya Curug Cikaso dan Curug Luhur. Tersedia pulacottage dan bungalow bagi turis yang ingin menginap.

SelainUjung Genteng, Jawa Barat juga punya Desa Cipatujahyang berada sekitar 74 kilometerke arah selatan dari pusat kota Tasikmalaya. Namun perjalanan panjang ini akan terbayarkan ketika Anda sampai di kawasan pantainya. Hamparan pasirnya sangat lebar dan panjang, cocok untuk aktivitasberjemur dan melakukan rekreasi pantai lainnya.

Pantai seluas 115 hektareini merupakan pantai berkarang. Karena itulah banyak terumbu di mana ikan-ikan berkembang biak.Sementara di daratan, terdapat perkebunan kelapa yang subur dan hamparan rumput yang luas. Harmoni alam ini membuat Cipatujah sebagai paket lengkap antara keelokan alam dan kearifan budaya masyarakatnya.

Sebagai contoh, pada masa tertentu, penduduk setempat mengadakan ritual larung sesaji alias hajat laut sebagai wujud syukur atas karunia Tuhan dan doa agar nelayan selalu diberi keselamatan. Di samping itu, sehari-harinya, para peternak yang tinggal di sekitar situ kerap menggembalakan kerbaunya di padang rumput dekat pantai. Sesekali mereka melakukan atraksi balap kerbau yang diiringi tabuhan pencak, rampak kendang, dan alunanirama angklung yang banyak mengundang orang untuk menontonnya. 

…(Mutiara…. Bagian 3)

Mutiara Tersembunyi di Jawa Barat (Bagian 1)

pantai madasari shutterstock 741165235
pangandaran shutterstock 775689541
Salah satu pantai di Jawa Barat, yakni Pantai Pangandaran dari udara (shutterstock)

Mutiara tersembunyi di Jawa Barat, tepatnya di kawasan selatan provinsi ini menawarkan barisan panjang pantai-pantai memukau. Dari perairan landai sampai dalam, baik yang berombak besar maupun yang mengalun tenang, tak henti mengundang orang untuk menyusurinya. Cerita kawasan selatan Jawa Barat ini diturunkan dalam tiga tulisan. Ceritanya pernah diturunkan di Javalane.

Mutiara Tersembunyi di Jawa Barat

Siapa berani menantang ombak Samudera Hindia? Jika sedang ganas-ganasnya, derunya memekakkan telinga, juga arusnya akan mengempaskan setiap kapal yang lewat. Namun di pesisir Pangandaran, sebuah tanjung mampu meredam amarah sang samudera. Nelayan Sunda pun beramai-ramai berlindung di balik naungannya, menjadikannya rumah dan sumber pangan.

Kata Pangandaran sendiri diyakini berasal dari kata pangan yang bermakna makanan dan daran yang berarti pendatang. Berkat kehadiran tanjung tersebut, orang bisa mencari ikan, bahkan bermukim dan berladang dengan tenang. Tanjung ini pula yang mendasari penamaan salah satu desa di situ, yakni Desa Pananjung.

Karena memiliki keanekaragaman satwa dan tanaman langka, pada 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan margasatwa dengan luas 530 hektare. Lalu pada 1961, setelah ditemukannya bunga Raflesia padma,status berubah menjadi cagar alam.Jika berkunjung ke sana, mampirlah ke cagar alamnya untuk menjelajahi hutan lindung, gua-gua, dan keanekaragaman hayatinya.

Namun daya tarik utama Kabupaten Pangandaran pastilah eksotisme pantainya. Pantai Pangandaran. Dari sini, wisatawan dapat menikmati panorama matahari terbit, sekaligus terbenam. Hal ini karena adanya bentukpantainya yang menjorok ke laut, sehingga tinggal bergeser sedikit,bisa berada disisi barat ataupuntimur.

Di pantai barat Pangandaran, bentangan pasirnya sangat luas. Keluarga, terutama anak-anaknya, dapat puas bermain beralaskan pasir pantai, dikelilingi perairan Samudera Hindia. Sementara di pantai timur, kondisinya sedikit berbeda. Areal pasirnya tidak terlalu luas, tapi airnya lebih tenang. Di sini suasananya lebih tenang, dengan titik-titik foto yang menarik.

Berjalan sekitar tiga kilometer ke arah tanjung, Anda akan menemui Pantai Pasir Putih. Sesuai namanya, hamparan pasir di sini memang tampak berwarna putih bersih, memberikan perbandingan yang kontras dengan warna hijau pepohonan dan biru laut di sekelilingnya.

Bergeser sedikit lebih jauh, masih banyak pantai lain di sekitarnya yang menjadi favorit wisatawan. Ada Pantai Batu Hiu yang berada kurang lebih 14 kilometer dari Pangandaran. Pantai ini didominasitebing-tebing batu karangyang salah satunya berbentuk mirip ikan hiu.Dengan sedikit mendaki tebing, wisatawan dapat menikmati lanskap birunya Samudera Hindia dengan ombak putih yang bergulung mendekat.

Sementara sekitar 39 kilometer ke arah barat, ada Pantai Madasari yang dihiasi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Namanya memang masih asing, tetapi pesona yang ditawarkan tak kalah dari pantai lainnya. Apalagi Madasari memiliki area perkemahan yang cukup luas. Bayangkan berkemah di pesisir dengan iringan bunyi ombak menghantam bukit-bukit karang. 

Paling tidak ada 21 pantai di Kabupaten Pangandaran. Ada Pantai Bojong Salawe, Karang Nini, Karang Tirta, Cikaracak, Karang Senggeul, dan masih banyak lagi. Masing-masing memiliki daya pikatnya tersendiri yang membuat Anda segan beranjak dari keelokan pesisir yang tak ada habisnya.

…….. (Mutiara … bagian 2)

Taman Narmada Lombok, Bikinan Raja Pada 1727

Taman Narmada Lombok bukan sekadar taman kota biasa, namun memiliki sejarah panjang.

Taman Narmada Lombok di dekat Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, bukanlah sebuah taman kota yang biasa-biasa saja. Ia memiliki sejarah panjang dengan falsafah yang ternyata cukup dalam. Jika tak punya agenda ke pantai saat berkunjung ke pulau Lombok, cobalah main ke taman ini.

Taman Narmada Lombok

Sisa air hujan masih menggenang di mana-mana, ketika kami sampai di pintu masuk Taman Narmada. Taman ini berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Hujan yang mengguyur sejak pusat kota Mataram, memang baru berhenti turun. Namun justru akibat guyuran air hujan itulah kesejukan obyek wisata taman yang merupakan cagar budaya ini semakin terasa. Udara sejuk dan terasa segar.

Ketika sampai di sana, rasanya tempat tersebut biasa-biasa saja. Dari luar tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa. Mungkin itu pula banyak wisatawan yang berkunjung ke Lombok masih jarang yang mengenal dan mengunjungi taman ini.

Gerbang utama menutupi bagian dalam taman yang didirikan oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karangasem, pada 1727. Inilah salah satu jejak Kerajaan Karangasem saat menguasai Mataram.

Setelah melangkah masuk, barulah pengunjung bisa menemukan taman dalam lingkungan asri dengan gerbang utama dari bata merah. Pengunjung perlu membayar tiket masuk senilai Rp 6 ribu untuk wisatawan domestik. Dari pusat kota, Taman Narmada dapat dicapai dengan mudah dan cepat. Cukup dalam 20 menit karena hanya berjarak sekitar 11 kilometer.

Sebelum melangkah lebih jauh, pengunjung bisa terlebih dulu mencermati denah yang dipasang di depan pintu masuk. Maklum, luas taman mencapai sekitar hampir tiga hektare. Harapannya, tentu jangan sampai ada tempat yang terlewati.

Setiap area di dalam taman ini diberi nama khusus. Bahkan, untuk gerbang pun ada nama tersendiri. Ada yang disebut Gapura Gelang atau Paduraksa. Di setiap taman dengan nama berbeda-beda itu, umumnya terdapat bangunan, taman,dan kolam. Dari depan, perjalanan dimulai dengan menikmati Jabalkap, taman kecil plus telaga kembar yang tergolong mini.

Taman Narmada Lombok, sebuah taman yang dibangun oleh Raja Karangasem Lombok pada 1727.
Kolam dalam area Taman Narmada, Lombok, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Kemudian, ada pula Mukedas, yang memiliki beberapa bangunan, seperti Sanggah Pura, Balai Pameraja, Balai Pameraja, dan Balai Loji. Selain taman dan kolam, di area ini ada pura. Letaknya di bagian timur, dikenal sebagai Pura Kelasa atau Pura Narmada. Ada pula Bale Tenang, yang digunakan keluarga raja di masa silam untuk bersantai. Bangunan itu terbuat dari kayu dengan dominan berwarna hijau.

Langkah pengunjung saat menyusuri jalanan taman tidak selalu berpijak pada lahan datar. Beberapa kali harus naik turun tangga. Taman memang dirancang seperti Gunung Rinjani, dengan jalur dan lahan berundak-undak. Bagian yang paling tinggi atau diumpamakan sebagai puncak gunung adalah Pura Kelasa, sedangkan kolam taman ibarat Danau Segara Anak. Telaga Padmawangi, yang menjadi kolam hiasan saat ini, dulu merupakan tempat dayang-dayang berenang. Pada masa itu kolam banyak ditumbuhi bunga tunjung atau padma.

Ketinggian taman yang berbeda-beda justru memberi keuntungan bagi wisatawan. Sebab, begitu datang, segera terlihat bahwa taman ada di mana-mana. Pengunjung bisa memandang ke seluruh sudut taman tanpa halangan. Tidak hanya kolam yang menjadi hiasan dalam taman, kolam renang pun hadir di arena ini. Di sinilah umumnya keramaian setiap hari berpusat.

Tidak semua bangunan di sini asli buatan periode 1727. Karena berbagai kerusakan, pemerintah daerah sempat melakukan rekonstruksi pada 1980-1988.

Awalnya, taman memang dibuat sebagai tempat upacara Pekalem, yang diadakan setiap purnama kelima tahun Caka. Upacara ini semula diadakan di puncak Gunung Rinjani, yang berada pada ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Namun karena medan yang sulit, dibuat taman dengan kontur seperti gunung kedua tertinggi di Indonesia tersebut. Lengkap dengan miniatur Danau Segara Anak. Lahan ini akhirnya digunakan juga sebagai tempat peristirahatan raja.

Taman Narmada Lombok dibangun sejak 1727.
Sebuah pagi di sekitar Taman Narmada, Lombok Barat. Foto: dok.shutterstock

Bagi pengunjung, ada daya tarik lain yang tergolong unik yaitu Balai Pertirtaan, yang memiliki air bersumber dari Gunung Rinjani. Bahkan, air ini merupakan hasil pertemuan tiga sumber mata air, yaitu Lingsar, Suranadi, dan Narmada. Ada kepercayaan masyarakat setempat: siapa yang membasuh muka dan meminum air di Balai Pertirtaan,dia akan menjadi awet muda. Nama taman ini sendiri dipetik dari kata Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang dianggap suci bagi umat Hindu.

agendaIndonesia

****

Singkawang Kota Oriental Sejak Tahun 1800-an

Singkawang, kota oriental sejak tahun 1800-an

Singkawang kota oriental yang khas di Indonesia. Kota di Kalimantan Barat ini memang identik dengan etnis Tionghoa dan perayaan Cap Go Meh.

Singkawang Kota Oriental

Kota yang dijuluki Kota Seribu Kuil karena vihara atau kelenteng ada di setiap sudut kotanya ini memang tumbuh dari etnis Tionghoa. Tahun 1800-an saat Belanda masih menjajah Indonesia, Singkawang menjadi tempat transit para penambang emas dan pedagang dari Cina. Percampuran etnis Tionghoa, Dayak, Melayu, Jawa dan lain-lain di Singkawang menghasilkan budaya yang beragam.

Letaknya strategis, dikelilingi gunung, sungai dan laut, maka dalam bahasa Tionghoa (Hakka) disebut San Kew Jong yang berarti “terletak antara Gunung (dan) Mulut Lautan” atau suatu tempat yang terletak di kaki gunung menghadapke laut.

Singkawang, kota oriental yang dikenal juga dengan sebutan kota 1000 kelenteng.
Kelenteng Budi Dharma, kelenteng yang terbesar di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Foto: dok. shutterstock

Kini sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalimantan Barat, Singkawang memperdagangkan hasil bumi seperti produk pertanian, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, hasil kerajinan dan industri kecil. Ia juga menampung dan mendistribusikan barang sandang, alat-alat pertanian dan lainnya. Pabrik pupuk organik terbesar se-Asia Tenggara, Sinka Sinye Agrotama (SSA) dan pasokan ayam, telur serta ternak babi terbesar se-Kalimantan Barat berada di sini.

Kota ini dikelilingi beberapa gunung atau bukit, yaitu Gunung Poteng dan Gunung Raya yang menjadi jalur trekking wisatawan dan tempat tumbuhnya bunga Raflesia Arnoldi (bunga terbesar di dunia) dan Anggrek Singkawang.

Selain itu ada Gunung Passi yang memiliki cagar alam seluas 2.760 hektare, serta Gunung Sari dengan hotel dan restoran yang berpemandangan ke Kota Singkawang.

Di lereng Gunung Poteng ini terdapat Batu Belimbing, yaitu sebuah batu besar berlekuk-lekuk hampir menyerupai buah belimbing. Ada yang berpendapat batu ini adalah bagian dari asteroid yang jatuh ke bumi. Areal taman tempat batu ini berjarak sekitar 8 kilometer sebelah timur pusat Kota Singkawang.

Obyek wisata lain adalah pantai Pasir Panjang. Pantai berpasir putih dan berombak tenang ini menghadap ke laut Natuna serta beberapa pulau kecil seperti Pulau Lemukutan, Pulau Kabung dan Pulau Randayan. Wisatawan bisa menyewa perahu kecil atau speed boat untuk menuju pulau tersebut.

Singkawang, kota oriental juga memiliki potensi wisata alam, salah satunya adalah pantai Pasir Panjang.
Pantai Pasir Panjang di luar kota SIngkawang yang menjadi andalan pariwisata kota ini. Foto: Dok. shutterstock

Di sekitar pantai terdapat hotel, cottage, toko dan fasilitas lainnya. Pasir Panjang dan Palm Beach yang sepesisir sangat cocok untuk menikmati pemandangan matahari terbit dan tenggelam, seka- dar bermain pasir atau memancing.

Sinka Island Park adalah obyek wisata yang terletak di selatan kota Singkawang. Berbagai fasilitas hiburan modern dan alami untuk keluarga tersedia. Berjarak 500 meter darinya terdapat Sinka Zoo yang menampilkan hewan-hewan langka lokal maupun luar daerah. Sedangkan danau Serantangan di Singkawang Selatan merupakan danau alami seluas 400 hektare yang disukai pemancing karena banyak ikannya.

Sekitar 6 kilometer dari pusat kota juga terdapat Danau Biru. Danau ini sebenarnya bekas tambang emas ilegal beberapa tahun lalu. Pemandangan matahari terbit dan terbenam di danau ini sangat indah berupa paduan langit yang biru lazuardi dan air berwarna biru turquoise dengan kebun kelapa sawit yang rindang dan rapi di kejauhan, gunung-gunung bernuansa hijau tua serta hamparan bebatuan yang terbentuk oleh air hujan.

Jumlah penduduk Singkawang sekitar 241 ribu orang dengan mayoritas penduduk adalah orang Hakka/Kek sekitar 42 persen; selebihnya orang Melayu, Dayak, Jawa dan pendatang lainnya. Namun percampuran etnis yang harmonis tampak terlihat di pusat Kota Singkawang di mana Mesjid Jami yang terbesar berdiri tidak jauh dari Vihara TriDharma Bumi Raya, kelenteng tertua di Singkawang.

Kawasan pusat kota yang dihiasi bangunan-bangunan tua bertingkat dua khas Tionghoa ini berubah saat malam hari. Selepas waktu magrib Jalan Setiabudi dan sekitarnya menjadi kawasan kuliner yang disebut Pasar Hong Kong. Hingga dini hari area tersebut diramaikan gerobak-gerobak penjual makanan khas malam seperti martabak, mie bakso ayam, kwetiau goreng, nasi goreng, kue-kue basah dan lain-lain. Label halal dan non-halal tertera di gerobak sehingga pembeli mudah memilih. Di beberapa sudut juga ada pedagang pasar tradisional yang berjualan sayur mayur, buah atau daging.

Singkawang, kota oriental tercermin juga pada makanannya, seperti choipan dan bakmi.
Choi pan atau Caikue, makanan khas Singkawang dan Pontianak. Foto: dok shutterstock

Pengunjung dapat menyantap makanan sambil duduk di bangku-bangku yang tersedia di pelataran depan bangunan tua yang tampak eksotis saat malam hari. Kalau enggan makan di luar, masih banyak toko yang buka, misalnya Bakmi 68 di sudut Jalan Pangeran Diponegoro. Bakmi yang terkenal enak dan sudah ada sejak tahun 1960 ini tidak pernah sepi, walaupun malam hari.

Menurut Herry Liu, pemiliknya, bakminya khas dengan isi yang beragam

yaitu bakso daging sapi, udang, babat, daging ayam, tauge, dan lain-lain. Yang juga menarik bagi pembeli adalah cara Harry meniriskan mie dengan melemparkannya ke udara. Cara serupa juga dipakai oleh Haji Aman di warung mie keringnya yang maknyus. Di tempat ini mie-nya lebih tipis dan cara menyantapnya tidak mengguyur kuah bakso ke dalam mangkuk mi, melainkan dihirup terpisah.

Kuliner lain khas Singkawang adalah bubur. Salah satunya Bubur Kelenteng, disebut demikian karena letak warungnya yang persis di depan Vihara TriDharma. Berbeda dengan bubur ayam biasa, bubur ini berkuah. Rasanya gurih dan nikmat. Ada pula ‘bubur ped- as’ yang tidak pedas melainkan sangat sehat karena campurannya berupa sayur kangkung, tauge, wortel, kacang tanah, ikan teri, irisan daging sapi dengan kuah dari kaldu daging sapi. Tampilan bubur ini agak hitam akibat beras yang disangrai dahulu sebelum dimasak. Tapi rasanya sangat enak.

Singkawang juga memiliki industri kerajinan keramik yang istimewa karena handmade, proses pembuatannya tradisional dan merupakan warisan leluhur yang dikerjakan secara turun temurun. Keramik ini sangat disukai karena seni artistiknya tinggi, dan kini sudah diekspor ke mancanegara. Pabriknya bernama Sinar Terang, berlokasi di Desa Sakok, 10 menit dari Singkawang. Pemanggangannya yang menggunakan ‘tungku naga’ adalah satu-satunya pengerjaan yang masih bertahan di dunia.

agendaIndonesia

*****

Bengkalis dan Rupat, 2 Keindahan Tersembunyi di Riau

Bengkalis dan Rupat merupakan 2 keindahan tersembunyi di Riau.

Bengkalis dan Rupat rasanya kalah popular dibandingkan Pekanbaru, Siak atau bahkan Dumai. Padahal dua pulau ini tak kalah menariknya. Ke duanya bahkan intan yang belum diasah.

Bengkalis dan Rupat

Senja hampir beranjak pergi, ketika rombongan kecil kami menjejakkan kaki di Dermaga Tanjung Medang, Pulau Rupat Utara, di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, ini. Rasa lelah karena perjalanan dengan speed boat yang ditempuh sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Dumai terhapuskan dan segala rasa penasaran sirna.

Rupat Utara adalah salah satu dari 16 pulau utama yang berada di Kabupaten Bengkalis. Ia sejak lama sudah menjadi buah bibir masyarakat setempat. Pantainya yang berpasir putih, sepanjang kurang lebih 13 kilometer, kerap menjadi persinggahan bagi mereka yang sekadar hendak menikmati suasana santai dan tenang. Untuk menikmati indahnya sunrise di pagi hari pun, di sinilah tempatnya.

Kabupaten Bengkalis yang padasisi utaranya berbatasan dengan Selat Malaka, ini memang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan pesisir yang kental. Kabupaten yang berpenduduk sekitar 530 ribu jiwa ini memiliki dua pulau terbesar, yakni Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat.

bengkalis dan rupat menyimpan keindahan yang masih tersembunyi, misalnya pantai berpasir putih sepanjang 13 kilometer
Pantai Rupat Utara di kabupaten Bengkalis, Riau, dengan pantai berpasit putih sepanjang 13 kilometer. Foto: Dok. shutterstock

Sungai Siak, yang membentang luas pun menjadi salah satu dari tiga sungai besar yang membelah kabupaten ini. Selain Sungai Siak yang merupakan sungai terdalam di Indonesia, masih ada Sungai Bukit Batu, Sungai Lubuk Muda, dan Sungai Mandau.

Menyebut nama Bukit Batu, bagi mereka yang mengikuti kisah tanah Melayu Sumatera, akan langsung mengingatkan pada sebuah nama besar, tokoh legendaris asal tanah Bengkalis ini. Alkisah, tersebutlah Datuk Laksamana Raja Di Laut, pahlawan Melayu nan sohor. Makam dari Sang Datuk yang amat dihormati masyarakat setempat ini, berada di Kecamatan Bukit Batu. Makam ini, dan kisah sejarah yang melatar belakanginya, menjadi salah satu destinasi wisata utama kabupaten ini.

bengkalis dan rupat merupakan bagia dari Provinsi Riau yang menyimpan potensi pariwisata.
Kota Bengkalis dari udara, menyimpan keindahan. Foto: Dok. shutterstock

Pemerintah Kabupaten Bengkalis terlihat sedang melakukan pembenahan obyek wisata unggulan di daerah tersebut. Sebagai salah satu kabupaten tertua di Riau, Bengkalis punya potensi yang luar biasa dari sisi pengembangan pariwisatanya. Selain obyek wisata sejarah, kulinernya yang khas yakni lempok durian dan ikan terubuk, juga menjadi kekayaan wisata pantai yang siap merebut hati wisatawan baik lokal maupun dari negeri tetangganya, Malaysia.

Pulau Rupat Utara sendiri sejak lama dipersiapkan menjadi pintu gerbang utama masuk ke Provinsi Riau. Eperti disebut di muka, ia terletak di Selat Malaka dan hanya selangkah saja ke Negeri Jiran. Pulau Rupat Utara merupakan salah satu pulau terluar di Kabupaten Bengkalis. Keelokan pantai pasir putihnya sejatinya bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan, dan bukan sekadar ‘keindahan yang tersembunyi’.

Bagi masyarakat Bengkalis, Pulau Rupat disebut pulau harapan. Pulau ini sangat strategis. Karena dari perencanaan ASEAN Bridge, jembatan yang digadang-gadang akan menghubungkan Sumatera dan Semenanjung Malaysia, bakal melewati Pulau Rupat. Rencananya, sekitar 10 kilometer pantainya akan menjadi bagian yang eksklusif.

Bahkan, tarian asli Bengkalis ‘zapin api’ yang berunsur magis, dan amat menarik untuk ditonton, juga merupakan aset wisata budaya pulau ini.

Selain kondisi alamnya, kebudayaan setempat seperti tarian asli daerah ini, Zapin Api yang agak berunsur magis, cukup banyak menarik pengunjung untuk menikmatinya saat datang ke Kabupaten Bengkalis. Rupat sendiri sudah terdaftar di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai destinasi pariwisata nasional. Hanya memang persoalan infrastrukturnya yang masih harus banyak dibenahi.

Kondisi Pulau Rupat saat ini, jika membandingan dengan negeri tetangganya di seberang, memang agak ironi. Negeri di seberang sudah terkesan terang benderang, sementara saat kita memandang ke Pulau Rupat, pulau elok ini acapkali menyuguhkan suasana cenderung gelap, seolah tanpa penghuni, dikarenakan masih minimnya fasilitas listrik.

Dari sisi akses pun, jika ingin menyeberang ke Malaka, warga di Pulau Rupat hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai ke sana dengan speed boat. Perihal infrastruktur ini, masyarakat setempat menginginkan ada pelabuhan internasional sehingga wisatawan dari Malaysia pun bisa langsung menyeberang ke Pulau Rupat. Karena belum ada, maka semua harus melalui Bengkalis, atau Dumai.

 Nantinya jika sesuai rencana, akan ada feri langsung dari Pelabuhan Pakning (di Pulau Sumatera) dan berhenti di Pelabuhan Bengkalis, dan langsung menuju ke Pelabuhan Rupat Utara. Jika infrastruktur bagus, promosi gencar, maka wisatawan akan banyak yang tertarik.

Saat ini, Bengkalis sedang giat-giatnya menjaring investor. Karena Pulau Rupat masih minim akomodasi, begitu pula resor, resto, tempat-tempat makan yang memadai.

Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan wisata pantai dan luar ruang akan dilengkapi di pulau ini. Seperti, motocross pantai, banana boat, sepeda air, outbound dan camping. Termasuk, wind surfing plus perahu kano yang digemari masyarakat dan wisatawan. Diharapkan, fasilitas ini akan menjadi daya tarik tersendiri, dan membawa Pulau Rupat hadir sejajar dengan destinasi favorit dunia lainnya.

Untuk sementara ini, ia masih menjadi permata yang tersembunyi. Tapi buat mereka yang ingin menikmati keindahan yang masih alami, cobalah sekali-kali agendakan kunjungan ke Bengkalis dan Rupat.

agendaIndonesia

*****

Road Trip, 1 Cara Liburan Akhir Tahun

3 Pertimbangan menyewa mobil untukRoad Trip.

Road Trip menjadi salah satu trend perjalanan wisata yang naik daun sejak pandemi COVID-19 pada 2020 lalu. Alternatif wisata satu ini sangat cocok dilakukan bersama keluarga dengan menggunakan kendaraan pribadi, khususnya mobil. Ini terutama sejak infrastruktur jalan tol sudah menghubungkan hampir semua kota di Jawa, dan nantinya Sumatera dan pulau lain.

Road Trip

Secara sekilas trend ini mirip dengan tradisi mudik lebaran di Indonesia di mana orang menggunakan mobil untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman. Hanya saja jika mudik Lebaran perjalanan dilakukan dengan menuju ke kampung halaman, maka road trip liburan betul-betul murni perjalanan liburan.

Saat mudik lebaran ini wajar saja dilakukan juga untuk liburan atau jalan-jalan wisata, mengingat di sekitar rute yang kerap dijadikan jalur mudik terdapat banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi. Hitung-hitung melakukan mudik sambil road trip sebagai sarana pelepas penat saat berjam-jam di jalan.

Road Trip memiliki banyak pilihan rute dan pilihan tempat untuk dikunjungi.
Perjalanan liburan akhir tahun via jalan darat seperti berpetualang. Foto: unsplash

Lebaran tahun 2022 memang sudah lewat, namun liburan ala-ala road trip bukan tidak mungkin dilakukan. Waktunya bisa dilakukan kapan saja sesungguhnya, namun bisa dicoba untuk menikmati libur akhir tahun ini. Ya, kenapa tidak?

Lalu jalur mana yang layak dicoba untuk jalan-jalan liburan dengan berkendara mobil? Berikut ini ada beberapa pilihan, lupakan sejenak jalan tol dan nikmati jalur konvensional.

Jalur Darat Selatan Jawa

Jalur darat liburan di selatan Pulau Jawa ini memiliki panjang 1.547 kilometer dan melewati 23 Kabupaten. Titik awal Jalur Selatan dimulai dari Kabupaten Serang di Provinsi Banten dan berakhir di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Selama menempuh jalur perjalanan darat Selatan Jawa ini, ada beberpa spot wisata yang layak dikunjungi. Misalnya saja Pantai Pangandaran di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bisa dijajaki untuk menginap. Ada beberapa hotel dan penginapan yang layak tinggal di sini.

Selain itu, ketika sudah masuk wilayah Jawa Tengah, wisatawan bisa mengunjungi Baturaden di wilayah Kebumen. Kawasan ini menawarkan ragam wisata, seperti air terjun, hutan pinus, kolam pemandian, hingga spot bunga warna-warni. Cocok sekali dijadikan tempat untuk melepas lelah.

Road Trip bisa memilih tempat untuk berhenti di spot wisata yang dikehendaki. Misalnya Air Terjun Tumpak Sewu.
Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang, Jawa Timur. Foto: unsplash

Tidak jauh dari Kebumen ada pula Gua Seplawan di Purworejo yang menjadi lokasi penemuan patung emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Semakin ke Timur tentu tak perlu disebutkan di jalur ini ada Yogyakarta, Solo atau di selatannya ada Wonogiri terus ke Pacitan. DI Lumajang, Jawa Timur wisatawan dapat singgah ke Air Terjun Tumpak Sewu, yang sekilas menyerupai tirai mirip Air Terjun Niagara.

Jalur Darat Utara Jawa

Jalur Utara Jawa memiliki panjang sekitar 1.300 kilometer dan menjadi salah satu rute terpadat selama ini di Jawa. Jalur ini melewati lima provinsi, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Road Trip selain perjalanan juga menikmati buadaya seperti batik Trusmi di Cirebon.

Salah satu wisata budaya di rute road trip ini adalah Kampung Batik Trusmi di Cirebon, jawa Barat. DI sini wisatawan dapat mampir belanja batik dengan harga yang lebih miring, sekaligus belajar cara membuat batik. Lumayan untuk kenang-kenangan dari perjalanan liburan.

Lebih ke Timur wisatawan akan melintasi rute ke Pekalongan, satu spot batik terkenal lainnya. Dari Pekalongan rute mengarah ke Semarang dengan ikon bangunan bersejarahnya Lawang Sewu. Keindahan objek wisata ini terletak pada desain interior dan eksterior yang sangat khas bangunan Belanda. Menarik sekali untuk dikunjungi.

Jalur Darat Jawa-Sumatera

Jalur darat ini harus menyeberang pulau menggunakan kapal, namun jalur Jawa-Sumatera juga memiliki beragam destinasi wisata yang menarik. Destinasi wisata pertama yang bisa dikunjungi saat road trip melewati rute Jawa-Sumatera adalah Pantai Krui, Lampung. Menghadap langsung ke samudra, Pantai Krui ini konon memiliki ombak nomor tujuh tertinggi di dunia. 

Semakin ke Barat, Sobat Parekraf akan melintasi daerah Kabupaten Kerinci. Di sini ada Danau Gunung Tujuh yang membawa kita sekilas seperti berada di atas awan. Lalu lanjutkan road trip mudik melewati Kota Bukittinggi, dengan salah satu ikon populernya Jam Gadang dan tentunya kuliner yang lezat.

Jalur Darat Jawa-Bali-Nusa Tenggara

Rute road trip satu ini yang juga mengandalkan transportasi laut untuk menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali. Namun, sebelum menyebrang ke Bali Sobat Parekraf singgah dulu di Banyuwangi dan mengunjungi Hutan De Djawatan. Destinasi wisata ini seakan membawa kita masuk ke dalam hutan Fangorn ala film The Lord of The Rings.

Road trip membawa benefit lain, misalnya mengunjungi tempat-tempat yang tida tejangkau kendaraan umum.
Trees and bale at Kebun Raya Bali – Bali Botanical Garden in Bedugul, Tabanan, Bali, Indonesia.

Setelah memasuki wilayah Bali, destinasi wisata pertama yang bisa disinggahi adalah Taman Nasional Bali Barat yang berada tidak jauh dari pelabuhan Gilimanuk. Hutan satu ini menjadi habitat asli kera dan burung jalak Bali yang sudah mulai langka. 

Kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Pelabuhan Padang Bai dengan pemandangan berupa pantai-pantai yang indah. Setelah itu menyeberang kembali menggunakan kapal laut ke Nusa Tenggara Barat. Salah satu destinasi yang tengah naik daun sudah pasti Mandalika dengan pemandangan laut dan perbukitan yang indah.

Jika mau terus ke Timur, perjalanan bisa dilanjutkan hingga Nusa Tenggara Timur dan menyebarangi sejumlah selat. Bahkan bisa hingga ke Labuan Bajo.

agendaIndonesia/Sumber Kemenparekraf

*****

Pesona Teluk Mandeh, 1 Keindahan Sumatera

Pesona Teluk Mandeh di Sumatera Barat layak dilirik wisatawan.

Pesona Teluk Mandeh rasanya masih jarang dibicarakan jika orang mengobrolkan soal wisata Sumatera Barat. Padahal kawasan wisata ini memiliki sederet pulau kecil dan teluk yang tenang tanpa ombak yang indah. Berikut ini kisah perjalanan ke Mandeh.

Pesona Teluk Mandeh

Kapal motor Barakuda perlahan meninggalkan Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Pagi di akhir April, cuaca begitu cerah. Satu per satu kapal-kapal besar yang membuang jangkar di tengah laut terlampaui. Rombongan hari itu menyasar ke Kawasan Mandeh yang sudah ditetapkan sebagai kawasan wisata baharí beberapa tahun lalu.

Pesona Teluk Mandeh bisa dinikmati dengan jelas dari puncak bukit.
Lanskap Teluk Mandeh dilihat dari ketinggian bukit. Foto: Dok. shutterstock

Terletak di Pantai Carocok, Tarusan, di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pesona Teluk Mandeh ini terdiri atas teluk yang berlekuk-lekuk dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Penuh keindahan, airnya bening biru kehijauan, terumbu karang berlimpah, dan pasirnya putih menggoda.

Buat masyarakat yang tinggal di Padang, rasanya pasti mengenal Mandeh. Orang bisa menjajal jalur darat. Jaraknya harus ditempuh dalam satu jam yang kemudian disambung perahu kecil untuk mencapai pulau-pulaunya. Kali ini, mencoba merasakan rute laut langsung. Dari Pelabuhan Bungus yang hanya dalam 30 menit perjalanan, kapal mulai melewati satu per satu pulau-pulau kecil yang termasuk dalam kawasan wisata yang luasnya mencapai 18 ribu hektare ini.

Kemudian, kapal melewati Pulau Pasumpahan dan Pulau Sikuai. Pulau Sikuai sudah dikelola sejak 1994. Di antara jejeran pulau kelapa di pulau ini terlihat puluhan cottages yang dibangun dari pantai hingga bukit-bukit. Ini merupakan pesona Teluk Mandeh.

Sempat menjadi primadona turis lokal maupun asing. Keindahan sekaligus fasilitasnya cukup lengkap. Bahkan ada jalur trekking ke puncak bukit tempat wisatawan bisa menikmati matahari terbenam. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir berhenti beroperasi karena ada masalah dalam pengelolaan.

Masih banyak pulau tak berpenghuni di sekitar Pulau Sikuai, seperti Pulau Sirandah dan Pulau Bintangor. Saat melewati Pulau Pagang terlihat beberapa penginapan sederhana dengan dermaga kecil.

Kapal juga melewati sebuah tanjung yang menjorok ke laut, nyaris seperti sebuah pulau. Itulah Tanjung Pamutusan. Diberi nama demikian karena memang nyaris putus dari daratan Sumatera dan hanya terhubung dengan pantai sempit berpasir putih, seperti semua jalan ke daratan. Sebuah dermaga kecil dibangun di sana. Begitupn ini merupakan bagian dari pesona Teluk Mandeh.


Di kejauhan juga terlihat Pulau Marak. Enam tahun lalu, pulau itu pernah menjadi kawasan konservasi siamang oleh kelompok konservasi Kalawet. Namun, akhirnya, hewan itu dipindahkan ke daratan Sumatera  karena takut terkena bencana tsunami.

Kapal kembali mengarungi kawasan Mandeh dengan melewati Pulau Cubadak—pulau terluas di kawasan ini. Mencapai 706 hektare, di pulau ini berdiri resor Cubadak Paradiso Village yang dikelola warga Prancis.


Kebanyakan wisatawan Eropa berlibur di sana. Mereka umumnya berburu ketenangan Mandeh sembari menjajal beragam aktivitas. Misalnya, bermain kayak keliling pulau, menyelam, berenang, dan tentu saja menikmati matahari terbenam dari puncak bukit batu di Pulau Cubadak  setiap sore.

Pesona Teluk Mandeh terdisi dari pantai-pantai berpasir putih yang masih sepi, pulau-pulau kecil dan lainya.
Pulau Pagang di kawasan Teluk Mandeh dari atas. Foto: Dok. shutterstock

Masih ada pulau-pulau kecil lain, yakni Pulau Traju, Pulau Sironjong Besar, Sironjong Kecil, Pulau Setan Besar, dan Pulau Setan Kecil. Pada Maret lalu, saya sempat menjejakkan kaki di Pulau Setan Besar—pulau yang tidak terlalu besar. Pantainya berpasir putih serta ditumbuhi berbagai vegetasi mangrove. Di bagian barat pulau terdapat bukit batu.

Akhirnya, di Teluk Mandeh, kapal membuang jangkar. Melalui jalur laut langsung dari Pelabuhan Bungus memerlukan waktu 1,5 jam atau lebih cepat 30 menit dibanding via darat.  Tujuannya adalah Nagari Mandeh dan perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil. Melewati muara sungai yang penuh mangrove. Sekitar 15 menit menyusuri sungai, wisatawan tiba di Mandeh—nama Nagari yang dijadikan nama kawasan wisata ini. Sebenarnya ada tujuh nagari dalam kawasan tersebut.

Rumah-rumah penduduk yang membelakangi tepian sungai kebanyakan terbuat dari kayu. Keasrian begitu kental. Sungai yang jernih dan bukit-bukit dipadati pepohonan. Pengunjung bisa mengamati pembuatan kapal bagan yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan.

Kapal itu ternyata dibuat sendiri oleh warga setempat dari kayu. Bentuknya yang unik terdiri atas sepasang perahu setinggi 2 meter dengan panjang 10 meter yang tersambung berjajar dan di kedua sisinya menggunakan cadik.
Pada malam hari, kapal-kapal bagan ini terlihat anggun di tengah laut dengan dilengkapi lampu-lampu petromaks untuk menarik perhatian ikan-ikan. Di Teluk Mandeh ada lokasi kapal tenggelam.

Situs Shipwreck atau kapal tenggelam itu adalah kapal dagang Belanda dengan nama Boelongan Nederland yang dibuat pada 1915. Kapal ini mengangkut hasil bumi Nusantara untuk keperluan Belanda. Kapal itu dibombardir tentara Jepang pada 28 Januari 1942 saat sedang bersembunyi di Teluk  Mandeh. Situs ini bisa dikunjungi para penyelam yang ingin mencermati kapal yang patah dua dengan dinding-dindingnya yang berlubang karena peluru.

Dari teluk, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Carocok. Tujuannya memang Puncak Mandeh yang bisa dicapai dari dermaga dengan mobil dalam 15 menit. Jalanan mendaki menuju panorama satu Puncak Mandeh, yang berada di sebuah bukit yang tinggi dan menghadap ke teluk.

Lokasi ini dibangun pemerintah daerah seukuran tiga kali lapangan voli dan bisa digunakan untuk tempat parkir serta memandang lepas ke laut Mandeh. Beberapa pohon pun menjadi peneduh.

Lanskap Mandeh pun terbentang indah di depan mata. Laut tenang dikelilingi bukit-bukit yang berlekuk-lekuk menyerupai pulau. Padahal masih bagian dari daratan Sumatera. Di depannya ada gugusan pulau-pulau kecil yang tersebar. Tak ada ombak di teluk itu karena bukit dan pulau-pulau kecil menghalangi kedatangan ombak dari Samudera Hindia. Teluk itu seperti kolam raksasa dengan air hijau kebiruan. Saat sang surya tepat berada di atas kepala, gradasi warna antara biru dan hijau terlihat lebih jelas.

agendaIndonesia/TL

*****

Desa Adat Tenganan, Tradisi Bali Aga Sejak Abad 11

Desa Adat Tenganan, tradisi Bali Aga dari abad 11

Desa Adat Tenganan Pegringsingan, bagi sebagian wisatawan yang pernah berkunjung, identik dengan upacara adat Perang Pandan. Sebuah tradisi yang digelar rutin setiap tahun.

Desa Adat Tenganan

Desa ini terletak di Kecamatan Mangis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, desa ini hanya berjarak 10 kilometer dari obyek wisata Candi Dasa. Dekat juga dengan Pelabuhan Padang Bai.

Lokasinya memang tersembunyi di balik bukit dan hutan, tapi hal tersebut tidak menyurutkan niat wisatawan untuk berkunjung. Apalagi Tenganan adalah satu dari sedikit desa yang masih memegang teguh aturan adat Bali Aga, yang disebut Awig-awig. Sejak abad ke-11, peraturan itu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Kekunoan ini menarik rasa penasaran orang awam untuk bertandang.

Desa Adat Tenganan, Bali, merupakan salah satu desa dengan tradisi Bali Age.
Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Bali, bagian dari adat Bali Age. Foto: Dok. shutterstock

Saat ini, terdapat tiga desa Bali Aga. Selain Tenganan, ada Trunyan dan Sembiran. Bali Aga merupakan sebutan bagi desa yang masih mempertahankan aturan tradisional yang diwariskan nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk soal bentuk dan besar bangunan serta pekarangan. Posisi bangunan dan pura pun dibuat dengan mengikuti aturan yang berlaku turun-temurun itu.

Setiap tahun, desa ini sesak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara saat digelar Perang Pandan atau dalam bahasa setempat disebut Mekare-kare. Ini adalah prosesi kultural paling ekstrem yang pernah saya saksikan. Dengan bertelanjang dada, bersarung, dan mengenakan udeng khas Bali, dalam sebuah lingkaran kecil dua pemuda saling menyabet punggung lawan menggunakan pandan berduri. Meskipun tangan lain memegang tameng rotan untuk pertahanan, luka dan darah tidak terhindarkan.

Tradisi ini memang tak pernah menyebabkan pertengkaran ataupun memicu dendam berkepanjangan. Sebab, semua merupakan bagiandari upacara Usaba Sambah, yang rutin dilakukan oleh penduduk Desa Tenganan setiap tahun pada sasih kalima penanggalan Bali. Mekare-kare dilakukan sebagai lambang pemujaan dan penghormatan terhadap Dewa Indra, sang Dewa Perang.

Sebagian wisatawan lain mungkin akan mengingat Desa Tenganan sebagai penghasil kain tenun Pegringsingan yang sangat cantik dan bernilai ekonomi tinggi. Sama halnya dengan berbagai daerah lain di Indonesia, proses penenunan bukanlah sesuatu yang mudah dikerjakan dalam waktu singkat. Maka, tak mengherankan jika harga kerajinan ini terkadang membuat mulut menganga. Terlebih, penduduk desa adat ini harus menaati berbagai pakem walaupun hanya untuk membuat sehelai kain.

Kain tenun Pegringsingan dibuat berdasarkan nilai-nilai spiritual Bali Aga, yang mereka anut. Nilai itu diekspresikan dalam warna merah, hitam, dan putih serta motif-motif khas. Pegringsingan atau Gringsing dalam bahasa setempat bermakna “tidak sakit”. Jadi, dalam sehelai kain ini ada doa dan kepercayaan untuk hidup sehat alias waras. Sering kali, kain ini dikenakan para gadis desa saat melangsungkan upacara adat.

Desa Adat Tenganan salah satu dari 3 desa Bali Age di Karangasem, Bali.
Gadis-gadis Desa Tenganan bersiap membawakan tari Rejang Tenganan. Foto: dok. shutterstock

Sunyi dan damai adalah impresi kedua saat saya bertandang ke Desa Tenganan di kala tidak ada ritual tradisional apa pun. Ketika itu, saya memang iseng bergerak ke timur
Bali dengan sepeda motor dari Ubud bersama kawan. Transportasi umum menuju Desa Tenganan memang minim. Biasanya, wisatawan menyewa kendaraan dari Denpasar dan menempuh perjalanan selama 2-3 jam.

Setelah memarkir kendaraan, pengunjung wajib mengisi buku tamu terlebih dulu tepat di sebelah gapura desa. Meskipun tak sedang menggelar prosesi, mesin penenun tetap berputar dan tangan- tangan lincah para perajin masih setia melukis di atas daun lontar.

Tanpa riuh wisatawan, saya lebih bisa menikmati arsitektur kuno Tenganan, yang masih bertahan hingga zaman serba digital ini. Penduduk desa itu memang tak banyak. Mereka tinggal di rumah beratap tumpukan daun rumbia. Para penenun, di bagian pintu masuk rumah, akan menggantung beberapa kain tenun untuk menarik perhatian pengunjung yang datang.

Jika diperhatikan, rumah-rumah ini berukuran relatif sama, pun dengan bentuk dan tata ruang di dalamnya. Hampir semua bangunan dibuat menggunakan batu bata merah dan tanah. Tentu, dalam hal pem- bangunan tempat tinggal, pasti ada aturan adat yang telah disepakati secara turun-temurun.Pada beberapa titik, pengunjung akan melihat beberapa tanda larangan keras untuk memburu burung dan ikan di sekitar desa adat. Sebagai penganut teguh ajaran Tri Hita Karana, masyarakat Desa Tengana memang selalu berusaha menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam

TL/agendaIndonesia

****