Dolan Ke Kalimantan, Ini 6 Desa Yang Keren

Dolan ke Kalimantan ternyata banyak pilihan menarik yang bisa dikunjungi selain tempat-tempat wisata yang sudah dikenal umum. Kali ini main ke desa-desa wisata di provinsi-provinsi di Kalimantan.

Dolan Ke Kalimantan

Kalimantan adalah surga tempat wisata tersembunyi. Pulau terbesar di Indonesia ini tidak hanya dikelilingi berbagai macam pantai dan perbukitan yang menawan, tapi Kalimantan juga banyak memilikit desa-desa wisata keren yang menarik untuk dikunjungi saat liburan.

Dolan ke Kalimatan dan main ke desa wisata di beberapa daerah di pulau ini boleh dibilang akan menjadi momen yang unik dan baru bagi siapa saja. Pasalnya, wisatwan akan mendapatkan sekaligus mengenal berbagai kearifan lokal yang ada di setiap desa wisata dengan ciri khas dan daya tariknya masing-masing.

Berikut ini ada 6 desa wisata yang bisa dipilih saat dolan ke Kalimantan. Dimulai dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Desa Wisata Loksado di Kalimantan Selatan

Nama desa wisata ini memang belum banyak dikenal wisatawan, namun Desa Wisata Loksado menyimpan harta terpendam yang sangat indah dan sayang dilewatkan saat dolan ke Kalimantan. Salah satunya adalah Air Terjun Haratai yang menjadi primadona pariwisata di Loksado, Kabupten Hulu Sungai Selatan. 

Selain air terjun, atraksi wisata di Loksado yang tidak kalah populer adalah Balanting Paring, yakni susur sungai menggunakan rakit bambu. Tergolong cukup ekstrem dan menantang, mengingat arus sungai yang cukup deras. Namun, rakit bambu ini merupakan salah satu transportasi tradisional masyarakat Loksado. Mereka sudah sangat piawai mengnahkodai rakit.

Desa Wisata Mandikapau di Kalimantan Selatan

Desa wisata di Provinsi Kalimantan Selatan ini tidak kalah menarik dibandingkan Desa Loksado. Adalah Desa Wisata Mandikapau, yang berlokasi di Danau Tamiyang, Kalimantan Selatan. Keunggulan Danau Tamiyang terletak pada air yang berwarna biru jernih, dengan latar belakang perbukitan hijau yang indah nan eksotis.

Saat pertama dolan ke Kalimantan dan tiba di Desa Wisata Mandikapau, para wisatawan akan disambut dengan jembatan warna-warni sepanjang 130 meter yang membelah danau. Wisatawan juga bisa duduk bersantai di gazebo pinggir danau dan menikmati berbagai kuliner, sambil melihat pemandangan danau yang luas.

Dolan ke Kalimantan jangan lewatkan main ke desa-desa wisata di daerah ini.
Desa wisata Tiwingan Lama di Kaliantan Selatan. Foto: shutterstock

Desa Wisata Tiwingan Lama

Masih di Kalimantan Selatan, kali ini tepatnya di Kabupaten Banjar. Di sini terdapat Desa Wisata Tiwingan Lama dengan potensi luar biasa yang menjadi magnet bagi seluruh wisatawan.

Puncak Matang Kaladan menjadi salah satu potensi dan destinasi wisata andalan dari Desa Wisata Tiwingan Lama. Sebab, Puncak Matang Kaladan digadang-gadang memiliki keindahan alam yang menyerupai Raja Ampat. Menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Desa Wisata Pampang di Kalimantan Timur

Berbeda dengan desa wisata lainnya, Desa Wisata Pampang yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur, ini menjadi rumah bagi suku Dayak Apo Kayan dan Dayak Kenyah. 

Dolan ke Kalimantan dan berkunjung ke Desa Pampang untuk mengenal budaya masyarakat Dayak.
Perempuan Dayak di Desa Pampang. Foto: dok Shutterstock

Menjadi salah satu aset budaya di Kalimantan, Desa Wisata Pampang menjadi destinasi liburan yang tepat untuk mengenal Suku Dayak dari dekat. Wisatawan bisa melihat langsung rumah adat megah yang dipenuhi ukiran khas Dayak, serta berbagai pertunjukan tarian di Desa Wisata Pampang, seperti Bangen Tawai, Kanjet Anyam Tali, dan banyak lagi.

Desa Wisata Miau Baru

Masih di Provinsi Kalimantan Timur, wisatawan bisa datang ke Desa Wisata Miau Baru yang tak kalah menarik untuk dikunjungi karena masih menjaga budaya asli dengan sangat baik. 

Sebut saja salah satunya kompleks pemakaman yang dikelilingi oleh ukiran motif Dayak Kayan yang khas, dan hanya ditemukan di Desa Wisata Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kalimantan Timur. Di sini juga sering diadakan pertunjukan seni tari Suku Dayak Kayan yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Desa Wisata Sungai Kupah di Kalimantan Barat

Berlokasi di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Desa Wisata Sungai Kupah merupakan desa wisata yang dikelilingi keindahan alam bahari dan budaya lokal yang kental. 

Kerajinan Desa SUngai Kupah Kemenparekraf
Kerajinan Desa Sungai Kupah di Kalimantan Barat. Foto: dok. Kemenparekraf

Daya tarik desa wisata di Kalimantan ini adalah menjadi tempat pengembangan wisata mangrove. Wisatawan bisa menyusuri hutan mangrove, susur sungai dan jika beruntung dapat melihat spesies monyet langka, hingga berkunjung ke kampung nelayan setempat.

Pengunjung juga bisa melihat langsung seni budaya yang khas di Desa Wisata Sungai Kupah, seperti tari Mangrove yang menggambarkan kondisi lingkungan mangrove saat ini. Lalu, ada juga seni budaya Tundang atau pantun dendang, yaitu penampilan pantun yang diiringi dengan gendang.

Dengan mengunjungi desa-desa wisata yang ada di Pulau Kalimantan tersebut, wisatawan dapat merasakan langsung budaya lokal yang masih terjaga kelestariannya hingga sekarang. Tentu perjalanan tersebut juga bisa dikombinasikan ke spot-spot wisata yang lain.

Ketika dolan ke Kalimantan Selatan, misalnya, pengunjung bisa bermain ke Pasar Terapung. Atau, main juga ke Taman Nasional Tanjung Putting di Kalimantan Tengah untuk menyambangi habitat Oran Utan.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Danau Sentarum, Perjalanan 700 Kilo dari Pontianak

Danau Sentarum shutterstock

Danau Sentarum adalah perjalanan 700 kilometer dari Pontianak via jalur darat. Pernah mendengar tentang danau ini? Delapan dari 10 orang teman yang saya tanya mengatakan tidak.

Danau Sentarum di Kalimantan Barat

Cobalah meng-googling di internet soal danau-danau di Indonesia, percayalah yang muncul di layar adalah nama-nama seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Sagara Anak di Lombok, Maninjau dan Singkarak di Padang, Kelimutu di Flores, Sentani di Papua, Batur di Bali, atau bahkan Rawa Pening di Jawa Tengah. Nama-nama yang sudah menjadi daerah tujuan wisata.

Danau Sentarum memang tidak sepopuler nama-nama di atas. Mungkin karena jarang dipublikasikan. Mungkin juga karena memang belum tersentuh industri pariwisata. Atau, mungkin karena jaraknya yang cukup jauh, yakni di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ini membuatnya luput dari perhatian wisatawan lokal, internasional, bahkan pemerintah. Padahal danau seluas 80 ribu hektare ini terhitung istimewa karena bentuknya berupa cekungan datar atau Lebak Lebung  (Floodplain) yang merupakan daerah ekosistem hamparan banjir yang dikelilingi jajaran pegunungan.

Danau Sentarum berada di Taman Nasional Danau Sentarum yang berada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kira-kira 700 kilometer arah Timur Laut kota Pontianak, ibukota provinsi tersebut. Membentang di garis khatulistiwa, taman nasional seluas 1.320 kilometer persegi ini di wilayah perbatasan Indonesia dan Serawak, Malaysia.

Kawasan Danau Sentarum merupakan kumpulan tidak kurang dari 83 danau-danau besar dan kecil yang saling terhubung oleh sungai sungai besar dan kecil sehingga menjadikan kawasan ini lahan basah paling luas di Asia Tenggara setelah Danau Tonle Sap di Kamboja.

Perjalanan menuju Sentarum memang petualangan tersediri. Jika wisatawan memutuskan menggunakan jalur darat, itu artinya harus siap dengan perjalanan sepanjang 10-14 jam. Rute yang dilalui dari kota Khatulistiwa itu adalah menuju kota Sintang, lalu kota kecil Semitau. “Dari Semitau disambung perahu motor jurusan Desa Lanjak,” kata Uke, seorang teman di Pontianak.

Sentarum juga bisa dicapai melaui jalur udara, yakni dengan penerbangan dari Bandara Supadio di Pontianak menuju Bandara Pangsuma di Putusibau. Jarak tempuhnya terpangkas jauh dibanding lewat darat. “Penerbangan cuma sekitar 45 menit,” kata Uke lagi sambil bercerita, dari kota itu perjalanan dilanjutkan via darat menuju Lanjak selama 2-3 jam untuk jarak sekitar 120 kilometeran.

Ada pilihan petualangan lain, susur sungai. Seru juga mencapai taman nasional Sentarum dengan menyusuri Sungai Kapuas. Bisa dimulai dari Sintang. Rute Sintang-Semitau-Danau Sentarum dengan speedboad perlu waktu sekitar 4 jam. Untuk mencapai Sintang dari Pontianak bisa dengan pesawat terbang selama 40 menit atau via darat selama 8 jam.

Danau Sentarum merupakan kawasan konservasi. Ia berfungsi sebagai pengatur air bagi daerah aliran Sungai Kapuas yang panjangnya mencapai lebih dari seribu kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Berfungsi seperti sebuah tandon air raksasa, menampung air di kala musim hujan dan sebaliknya mengalirkan air ke Sungai Kapuas saat musim kemarau.

Sebagai objek wisata utama, danau ini sangat unik. Jika penghujan tiba, ia akan tergenang air sedalam 6 sampai 14 meter. Pemandangan kontras muncul saat kemarau, di mana 80 persen wilayah Danau Sentarum akan mengering. Pada saat inilah, masyarakat setempat dengan mudah memanen ikan-ikan di danau. Baik saat kemarau maupun penghujan, danau ini sama-sama menarik dan uniknya. Wisatawan akan menemukan flora dan fauna yang berbeda.

Ada banyak jenis hewan yang bisa ditemukan di taman nasional ini. Termasuk juga orangutan, meski dalam jumlah tidak sebanyak di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Selain itu ada juga bekantan, kera ekor panjang, elang bondol, dan lain-lain. Tentunya jangan lewatkan mencermati aneka anggrek dan kantong semar.

Kawasan Danau Sentarum di musim hujan akan tergenang selama sekitar 10 bulan. Keadaan kontras, kering kerontang terlihat di musim kemarau yang hanya menyisakan alur-alur sungai kecil di tengah bentangan cekungan danau. Di lahan basah inilah dua kelompok masyarakat Dayak dan Melayu hidup berdampingan.

Masyarakat Dayak yang mayoritas terdiri dari suku Dayak Iban, Kantuk, Embaloh, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan adalah peladang dan pemburu yang tangguh tinggal di perbukitan. Salah satu atraksi yang menarik adalah menyaksikan panen madu lebah hutan (Apis dorsata) yang dikelola oleh masyarakat Dayak setempat.

Sedangkan masyarakat Melayu tinggal di kawasan danau  memiliki mata pencaharian sebagai nelayan yang terbiasa menjala, memukat, memasang sentaban (jebakan ikan), memelihara ikan dalam keramba serta mengumpulkan ikan-ikan hias. Masyarakat Melayu di kawasan dana Sentarum adalah sisa jejak Kerajaan Melayu Selimbau di Kalimantan Barat di masa silam. Sayangnya tidak cukup banyak jejak kerajaan di sini. Ada sebuah Masjid Jami berwarna kuning peninggalan kerajaan masih terawat dengan baik bisa di sini.

Untuk menikmati lanskap Danau Sentarum paling bagus adalah dengan mendaki Bukit Tekenang. Bukit yang satu ini menjadi tujuan wisata wajib saat ke Taman Nasional Daun Sentarum, karena dari ketinggiannya wisatawan bisa leluasa menyaksikan lanskap Sentarum. Selain mendaki bukit, bisa juga memancing di Danau Merebung yang menjadi habitat arwana, atau bersantai di Pantai Melayu atau Pantai Sepandan.


Ayo sekali-kali agendakan perjalanan ke Sentarum.

Rully K./Dok.TL

****

Pantai Sawarna Nan Cantik, 230 Kilometer Dari Jakarta

Pantai Sawarna nan cantik di Sukabumi, Jawa Barat, 230 kilometer dari Jakarta.

Pantai Sawarna nan cantik, pantai berpasir putih dengan hiasan karang-karang, masih cukup jarang menjadi pembicaraan wisatawan domestik. Padahal, pantai ini cukup lama menjadi perhatian wisatawan asing, khususnya para peselancar. Ini kisah dua peselancar tiga tahun lampau.

Pantai Sawarna nan Cantik

Demian dan Alex, dua pemuda Prancis, telah tiga bulan menghabiskan liburan di Asia Tenggara. Pertama, sasarannya Thailand, dilanjutkan ke Indonesia dengan persinggahan di Bali, Lombok, Flores, Bromo, dan Yogyakarta. Dari Indonesia, mereka terbang lagi ke Thailand, terus main ke Kamboja, Vietnam, dan Malaysia. Sepuluh hari sebelum waktu liburan berakhir, mereka memutuskan kembali ke Indonesia. “Kami sudah mengunjungi banyak kota dan tempat wisata di Asia Tenggara, kini saatnya mencari tempat menyepi sebelum pulang,” ujar Demian, yang ditemui sedang berselancar di Pantai Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten.

Turis backpacker inimengaku, ketika di Bangkok, mencari informasi soal pantai di Asia Tenggara yang paling asyik untuk menyendiri. Beberapa orang pun merekomendasi Pantai Sawarna di Desa Sawarna, Bayah, Banten. Mereka lantas terbang dari Bangkok ke Bali, terus ke Yogyakarta, dan melanjutkan perjalanan lewat darat ke Pantai Sawarna melintasi Cilacap, Pangandaran, dan Pelabuhan Ratu. “Sepi sekali di sini, hanya ada suara angin dan ombak. Sudah seminggu di sini baru bertemu seorang Spanyol, dan hari ini ada dua Jerman berkunjung sebentar. Mereka menginap di Pelabuhan Ratu,” tutur Demian.

Selama di Pantai Sawarna, kegiatan pria ini hanya tidur, makan, jalan-jalan di sepanjang garis pantai, dan berselancar. “Kebanyakan turis ke Sawarna memang untuk mencari sepi. Belum ada bar, diskotek, kafe, atau restoran. Turis menginap di rumah warga,” ujar Bimbim, peselancar di Pantai Sawarna. Bimbim mempunyai warung kecil di bibir pantai. Ia juga menyewakan papan selancar dan memberikan kursus selancar bagi pemula. Setiap hari Demian dan Alex menghabiskan waktu di warung Bimbim, pria berkulit legam dengan rambut dicat pirang dan busana khas anak pantai.

Menurut Bimbim, ia orang pertama yang mempopulerkan Pantai Sawarna sebagai lokasi selancar. “Saya sudah main di sini lebih 10 tahun. Dulu sepi sekali, sekarang mulai ramai dengan wisatawan domestik, tapi masih sepi untuk turis asing. Pantai ini cocok untuk peselancar pemula,” ia mengungkapkan.

Pantai Sawarna nan Cantik merupakan pantai yang masih cukup tersembunyi meskipun sudah menjadi pilihan peselancar yang datang ke indonesia.
Tanjung Layar di kawasan Pantai Sawarna dengan batu-batu karang yang eksotis. Foto: Dok. shutterstock

Sekitar 20 tahun lalu, nama Pantai Sawarna tidak pernah terdengar. Berada di tengah persawahan luas dan tersembunyi di balik hutan lebat sepanjang dua kilometer dari jalan masuk, orang segan menempuh perjalanan ke pantai ini. Baru awal 2000-an, pantai ini populer setelah para wisatawan yang berkunjung mengunduh foto-foto hasil jepretan mereka ke sosial media. “Kini hampir 1.000 wisatawan domestik berkunjung setiap pekan. Ada sekitar 40-an tempat penginapan sederhana yang diusahakan oleh masyarakat. Semuanya masih sederhana, belum ada industri yang masuk. Kami memang berusaha mempertahankan kesederhanaan ini,” ujar Suhanda, Kepala Desa Sawarna.

Kecantikan Sawarna terletak pada pantai yang luas, panjang, dan berpasir putih. Pemandangan Pantai Sawarna paling cantik jika dilihat dari tanjakan Bukit Cariang, yang berada 1,5 kilometer dari pintu masuk pantai. Tidak hanya pantai berpasir putih, Sawarna juga menawarkan pemandangan keindahan lanskap gunung, hutan tropis dengan koleksi tanaman langka, sungai, persawahan, bukit karang terjal, gua, dan kehidupan masyarakat yang sederhana.

Jembatan Gantung Sawarna

Jembatan gantung di atas Sungai Sawarna menjadi pintu masuk ke pantai dan merupakan ikon wisata Sawarna. Dengan panjang 50 meter dan lebar 1 meter, jembatan ini menjadi urat nadi kawasan pantai menuju jalan utama Desa Sawarna. Jembatan tersebut dibuat dari kayu dan ditambatkan dengan besi yang dipulas merah. Ketika melewatinya, setiap wisatawan dikenai tiket masuk ke lokasi Pantai Sawarna Rp 3.000 per orang. Hati-hati, banyak penduduk yang lewat dengan sepeda motor maupun sepeda. l

Pantai Ciantir

Pantai Ciantir adalah pantai utama Sawarna yang menjadi tujuan wisata favorit. Setelah melewati Jembatan Gantung Sawarna, pengunjung akan langsung menuju Pantai Ciantir. Pasirnya putih bersih, enak buat nongkrong atau berlarian. Ombak cukup besar, sehingga mesti hati-hati jika ingin berenang. Satuan penjaga pantai selalu siap menjaga keselamatan pengunjung. Area berselancar berada di sisi paling kiri pantai ini, menawarkan ombak dengan ketinggian hingga 1,5 meter. Dipinggirnya, belasan perahu nelayan ditambatkan. Keindahan mentari tenggelam dapat dinikmati dari pantai ini.

Karang Tanjung Layar

Dua karang raksasa saling menempel membentuk formasi seperti layar kapal sedang mengembang. Keunikan formasi ini menjadi obyek fotografi paling populer di Pantai Sawarna. Ikon dengan lanskap karang dan ombak itu berada di sisi timur Pantai Sawarna. Untuk menempuhnya, pengunjung harus berjalan dulu melewati sawah dan hamparan karang dengan air selutut saat surut.

Pantai Legon Pari

Pantai yang satu ini tersembunyi di balik perbukitan Pantai Sawarna. Untuk mencapainya, wisatawan harus melewati jembatan gantung, persawahan, dan perbukitan terjal. Sebuah jalan alternatif bisa ditempuh menggunakan ojek dengan jarak yang cukup jauh. Pantai ini lebih sepi dibanding dengan Pantai Sawarna, banyak pengunjung memilih menyepi di sini.

Pantai Sawarna nan cantik di Lebak memiliki banyak potensi wisata, salah satunya Karang Taraje.
Karang Teraje di kawasan Sawarna, Lebak, Banten. Foto: Dok. shutterstock

Pantai Karang Taraje

Berada sekitar satu kilometer dari Pantai Legon Pari. Disebut Pantai Karang Taraje karena, untuk mencapainya, pengunjung harus melewati bukit karang terjal berbentuk tangga, yang dalam bahasa Sunda disebut taraje. Karang-karangnya menjulang, menghasilkan suara debur ombak yang keras ketika dihempas gelombang. Cocok buat penyendiri.

Wahyuana/TL/agendaIndonesia

*****

Menikmati Pangandaran Dalam 1 hari

Pantai Timur Pangandaran juga berada di lintasan jalur mudik selatan

Menikmati Pangandaran dalam 1 hari rasanya memang sulit saat ini, sebab jaraknya yang lumayan jauh dari Jakarta. Namun, ketika infrastruktur jalan tol lintas selatan sudah selesai, mungkin kesulitan itu memudar. Larut dalam legenda gua, kuliner laut, serta keindahan pantai, plus mentari terbenam.

Menikmati Pangandaran Dalam 1 Hari

Menempuh perjalanan sekitar 400 kilometer dari Jakarta ke Pangandaran, Jawa Barat, sangat melelahkan. Namun rasa lelah langsung sirna setibanya di Pantai Pangandaran. Betapa tidak, obyek wisata alam andalan di kabupaten itu beragam dan lokasinya berdekatan. Pilihannya pun tak melulu pantai. Ada cagar alam, gua, dan tentu sajian kuliner khas pesisir. Bahkan pelancong dapat menikmati keindahan mentari terbit dan tenggelam di tempat yang sama. Tinggal mencari posisi yang paling tepat untuk menjemput dan mengantar sang surya kembali ke peraduan.

Menjemput Mentari

Pantai Timur Pangandaran menjadi tujuan pertama yang harus saya kunjungi pagi ini untuk menyaksikan terbitnya sang mentari. Sempat terpikir untuk naik sepeda atau sepeda listrik yang banyak disewakan. Berhubung jaraknya relatif tidak terlalu jauh, saya pun memutuskan berjalan kaki saja. Hitung-hitung berolahraga.

Benar saja tebakan saya. Sekitar 10 menit, saya sudah tiba di pinggir pantai. Sang surya sudah mulai bersinar menampakkan keperkasaannya. Kemilau jingganya mulai menyapu laut dan perahu-perahu yang bersandar. Pantai Timur memang sudah dari dulu menjadi tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan Pangandaran. Yang menarik perhatian saya, ketika melihat para nelayan saling bekerja sama menarik jala dari laut ke daratan. Ikan laut beraneka jenis terjerat di jala-jala itu. Lumayan hasil jeratannya.

Di Pantai Timur ini tersedia pula sarana rekreasi air yang bisa memuaskan adrenalin para wisatawan, seperti banana boat, aqua glade flyfish, tornado, dansederet nama lain yang menggoda. Tapi saya kurang begitu tertarik. Saya lebih terpikat dengan cagar alam yang menyimpan banyak kisah.

Menyusuri Cagar Alam

Hanya berjalan beberapa ratus meter dari pusat rekreasi air dan melewati kios-kios suvenir khas pantai yang masih tutup, tiba-lah saya di gerbang Cagar Alam Pangandaran. Petualangan dimulai setelah membayar tiket masuk. Jalan setapak yang saya lalui terlihat rapi. Jauh berbeda dibandingkan pada 1990-an saat saya pertama kali menjejakkan kaki di cagar alam ini. Sejak resmi dimekarkan pada 25 Oktober 2012, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tampaknya terus berbenah.

Belum jauh kaki melangkah, Gua Panggung di sebelah kiri jalan seakan sudah menyambut. Berdasarkan keterangan di bagian depan, disebut Gua Panggung karena kondisinya menyerupai panggung. Di dalamnya terdapat sebuah makam bernama Embah Jaga Lautan. Konon beliau bertugas menjaga lautan di daerah Jawa Barat.

Sekitar 100 meter dari gua tersebut, ada Gua Parat. Dalam bahasa Sunda, ‘parat’ berarti tembus. Gua ini memang bisa dilewati hingga mulut gua yang menghadap Laut Selatan. Sama halnya dengan Gua Panggung, Gua Parat juga memiliki petilasan yang menyimpan kisah tersendiri. Tak ada kesan mistis yang membuat takut. Yang ada justru kekaguman pada relief dinding gua yang indah.

Selain dua gua tersebut, Cagar Alam Pangandaran memiliki gua lain, seperti Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, Gua Cirengganis, dan Gua Jepang. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri, serta ada informasi yang dipasang di depan tiap pintu masuknya. Sehingga pengunjung mendapat detail tentang gua tersebut. Sungguh mengasyikkan bisa larut dalam legenda gua-gua tersebut. Apalagi selama perjalanan banyak ditemui kera dengan tingkah pola yang menggemaskan. Terkadang mengkhawatirkan jika kera-kera itu akan menyerang. Beruntung, tak ada satu pun kera yang “nakal”.

Mengantar Surya

Lewat tengah hari, rasa lapar mulai mendera. Mengelilingi Cagar Alam Pangandaran memang lumayan menguras energi. Ke luar dari kawasan tersebut, saya menemukan kuliner khas pesisir di tempat ini dengan mudah. Maklum saja, banyak berdiri rumah makan yang menawarkan aneka makanan laut. Saya mampir di salah satu rumah makan dan memesan cumi asam-manis. Ehmm, nikmatnya.

Setelah perut terisi dan cukup beristirahat, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Barat. Pantai yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Pantai Timur. Berada di semenanjung, posisi Pangandaran memang strategis. Diapit oleh dua pantai; Pantai Timur dan Barat.

Berbeda dengan Pantai Timur, suasana wisata pantai lebih terasa di Pantai Barat ini. Wisatawan dapat berenang, bermain pasir, dan bermain sepak bola atau voli. Bahkan ada yang berkuda di sepanjang pantai, serta ada pula yang mencoba bermain ombak dengan papan selancar mini. Tak hanya itu, turis juga dapat menyewa perahu untuk mengelilingi taman laut.

Waktu tak terasa cepat berlalu. Senja mulai menjelang. Bersandar di kursi kayu dengan ditemani kelapa muda dan semilir angin pantai, saya mengantar sang surya masuk ke peraduannya kembali. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Tana Toraja dan Keajaiban 400 Tahun Ke’te kesu

Tana Toraja

Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah dengan kekayaan adat budaya yang luar biasa. Ia adalah salah satu keajaiban yang dimiliki Indonesia dari rangkaian Sabang sampai Merauke. Toraja adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di negeri ini.

Tana Toraja dan Keajaibannya

Dari Makassar, jika tak membawa kendaraan sendiri, ada bus-bus antarkota yang berangkat hampir sepanjang hari. Sejak pukul 9 pagi, hingga jam 9 malam. Waktu tempuh untuk jarak sekitar 320-an kilometer dibutuhkan sekitar 8 jaman. Harga tiket bus yang berangkat pagi biasanya lebih murah jika dibandingkan yang berangkat malam. Masing-masing dengan kelebihannya.

Untuk menuju Tana Toraja bagi tentu saja kita harus menuju Makassar terlebih dahulu. Tentu, bagi mereka yang tinggal di Palu, Sulawesi Tengah, ada jalur darat yang tak perlu harus ke ibukota Sulawesi Selatan itu dulu. 

Jika memilih berangkat pagi, wisatawan bisa menikmati keindahan kota-kota yang dilintasi. Juga pemandangan alam yang mempesona. Biasanya sampai di Toraja wisatawan akan langsung tidur terlebih dahulu sebelum keesokannya menikmati ragam budaya tempat itu. Sementara itu, jika memilih perjalanan malam hari, praktis sepanjang perjalanan akan dipakai untuk tidur.

Sesungguhnya ada penerbangan dari Makassar menuju Tana Toraja. Dari Bandara Hasanuddin mendarat di Bandara Pongtiku yang terletak di Rantepao, sekitar 10 kilometer dari kota Makale. Hanya saja, hingga saat ini, jadwal penerbangannya belum setiap hari. Umumnya Selasa dan Jumat. Itu pun hanya satu penerbangan per hari.

Tana Toraja lazimnya ramai dikunjungi wisatawan antara Juni-Desember. Pada masa itu ada ritual Rambu Solo’, yakni ritual penghormatan bagi mereka yang sudah meninggal diselenggarakan di Desa Ke’te Kesu. Ini merupakan desa tradisional kuno unik yang tersembunyi di wilayah pegunungan TanaToraja, Sulawesi Selatan. Ia terletak di tengah hamparan sawah luas dan merupakan desa tertua di Kecamatan Sanggalangi.

Usia Desa Ke’te kesu diperkirakan sudah mencapai 400 tahun. Uniknya, ia tidak pernah mengalami perubahan sejak pertama kali berdiri. Jika melihat keadaannya saat ini, bisa dibilang desa ini menjadi semacam museum hidup. Orang yang mengunjunginya dapat secara langsung melihat budaya dan tradisi unik dari masyarakat Toraja.

AgendaIndonesia beruntung pernah berkunjung ke TanaToraja. Desa Ke’te Kesu biasanya menerima penghunjung mulai pukul 8 pagi. Ada retribusi masuk yang dikenakan bagi wisatawan lokal sebesar Rp 10 ribu dan dua kali lipat untuk turis asing. Bagi peminat arsitektur permukiman tradisional Indonesia, Ke’te Kesu akan membuat betah. Detail-detail rumah adat Toraja, yang biasa disebut tongkonan, yang berusia ratusan tahun dapat dinikmati detail dan filosofinya, seraya berbincang dengan masyarakat setempat.

Selain tongkonan, di Ke’te Kesu pengunjung dapat melihat beberapa makam adat meski tidak semuanya. Beberapa peti mati tua berbahan kayu atau disebut erong dengan berbagai bentuk segera menyita perhatian di sisi kanan tangga naik.

Selain mengunjungi Ke’te Kesu, masih terkait dengan ritual penghormatan kepada arwah, kita juga bisa mengunjungi Desa Bori, Kecamatan Sesean. Di sini terdapat Rante, yakni lapangan tempat upacara pemakaman untuk kaum bangsawan tertua di Tana Toraja. Lokasinya berjarak sekitar lima kilometer arah utara Rantepao. Mata dipuaskan dengan hamparan batuan menhir tegak yang disusun dan dibentuk sedemikian rupa setiap kali ada jenasah dimakamkan. 

Di Bori Kalimbuang, wisatawan bisa melihat 102 menhir yang berasal dari era megalitikum. Batu menhir ini dipasang berdiri tegak sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang. Sebanyak 54 menhir kecil, 24 berukuran sedang, dan 24 lain berukuran lebih tinggi daripada manusia tersebar di Bori Kalimbuang. Tempat ini diperkirakan telah ada sejak 1718, di mana menhir pertama didirikan pada 1657.

Perjalanan ke TanaToraja yang tak kalah penting adalah Lo’ko’ Mata di lereng Gunung Sesean, di ketinggian 1.400 mdpl, di sisian perlintasan Lembang Tonga Riu, berjarak sekitar 30 kilometer dari Rantepao. Bentuknya yang bundar mirip kepala manusia yang menyebabkan dinamai Lo’ko’ Mata. Batu kubur alam berdiameter sekitar 20 meter yang digunakan sebagai makam tersebut lebih dikenal sebagai Dassi Dewata atau Burung Dewa. Sebab, liang-liang yang ada di sana sering ditempati berbagai jenis burung dengan bulu warna-warni dan suara khas. Hingga saat ini, di area seluas kurang-lebih satu hektare itu sudah ada sekitar 60 liang.

Di Lo’ko’ Mata kita bisa memutari sudut-sudut seutuhan batu dan memperhatikan beberapa tau-tau, yakni patung kayu yang mewakili orang yang dimakamkan, serta ornamen-ornamen pada pintu liang dan tongkonan-tongkonan mini yang menarik perhatian.

Kunjungan selanjutnya adalah Londa. Berbeda ketika ke Ke’te Kesu, Londa seperti lemari arsip kisah  Toraja yang lain lagi. Ada dua gua di sini. Di gua pertama sebaran erong serta serakan tulang dan tengkorak berpadu dengan kegelapan. Gua kedua lebih dalam, sekitar 1,5 kilometer, di mana di pintu masuknya dihiasi satu erong berhiaskan pa’ barre allo (ukiran matahari bulat utuh) di kanan-kiri. Balkonnya ramai dengan tau-tau pelbagai usia.

tana Toraja dengan Patung Yesusnya

Setelah kunjungan ke tempat-tempat perziarahan kuno, sejak 2015 TanaToraja juga memiliki tempat perziarahan baru yang gigantik. Ini khususnya bagi umat kristiani. Di sana juga ada patung Yesus Buntu Burake yang konon disebut tertinggi di dunia.

Patung Yesus Memberkati ini berada di atas puncak bukit Buntu Burake yang berketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Tinggi badannya diperkirakan sekitar 45 meter dan dibuat dari perunggu. Patung ini yang dibangun pada Mei 2015 dan memakan biaya sekitar Rp 22 miliar.

Jadi, pernah mengunjungi TanaToraja? Ayo agendakan Indonesia-mu.

*****

Pantai Lingal, 1 Keindahan Dari Alor

Pantai LingAl Alor

Pantai Lingal atau Ling’Al di Alor semakin dikenal banyak penggila pantai dengan pasir putih. Sebelum 2018-an, pantai di Nusa Tenggara Timur ini seolah tenggelam dari kebesaran nama pulau Rinca,  Labuan Bajo, juga Sumba. Padahal, banyak orang menyebut pantai ini sebagai salah satu pantai terindah di provinsi ini.

Pantai Lingal Alor

Labuan Bajo dan Sumba sudah banyak dikenal dan dikunjungi para wisatawan. Baik lokal maupun mancanegara. Namun, ada pulau di ujung timur NTT, tepatnya di Kabupaten Alor, yang juga menawarkan banyak keindahan alam, terutama lautnya. Selain itu kita juga bisa menikmati wisata budaya dan sejarah di sana.


Kabupaten yang memiliki luas 2.864,6 kilometer persegi ini hanya dapat diakses melalui jalur udara dan laut. Begitupun, transportasi menuju Alor masih terbilang cukup mudah, karena ada penerbangan setiap hari dan kapal laut yang juga hampir setiap hari. Untuk ke sana, kita harus melalui ibukota NTT, Kupang.

Kepulauan di Alor terdiri dari dua pulau besar, Alor dan Pantar, yang mengapit gugusan pulau-pulau kecil di kawasan Selat Kumbang. Selat ini terletak di Desa Alor kecil dan Pulau Kepa. Ada beberapa pulau yang dijejaki di kabupaten yang terdiri atas beberapa pulau ini.

Ada beberapa rute yang bisa dijalani untuk menuju pantai Lingal. Pertama jalan darat dari kota Kalabahi, ibukota kabupaten Alor. Sesungguhnya jaraknya tak terlalu, hanya sekitar 30 kilometer. Namun, karena medannya, jarak itu harus ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Hanya saja, harus menggunakan kendaraan yang siap untuk medan berat. Pilihannya mobil dengan penggerak 4 roda.

Pilihan lainnya menggunakan jalur laut dari demaga di Kalabahi. Dengan perahu kita bisa mencapai pantai Lingal kurang lebih 3 jam perjalanan. Bisa juga mengkombinasikan darat dan laut, misalnya jika ingin menikmati pemandangan darat. Dari Kalabahi kita bisa menuju ke Desa Alor Kecil selama 2-3 jam dan menginap semalam di sana. Esoknya disambung dengan kapal menuju pantai Ling’Al selama 1,5 jam.

Pantai Lingal terletak di Desa Halerman, Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Jalur yang manapun yang dipilih, pantai ini tak akan mengecewakan. Panorama pantainya tak akan mengecewakan.

Jika tak punya halangan menikmati perjalanan laut, cobalah menuju ke Ling’Al dengan perahu. Dari Alor Kecil perahu bisa disewa seharga Rp 750 ribu-850 ribu. Perahu bisa dipakai seharian. Perjalanan berperahu dua jaman pun tak terasa jauh, malahan begitu mengasyikkan. Jika berangkat pagi, cuaca tak terlalu panas, kita bisa melanjutkan tidur di perahu yang bisa diisi sekitar 10 orang itu.

Saat mendekati Pulau Pura, kadang kita akan mendapat suguhan bonus, yakni sekawanan lumba-lumba menyambut perahu yang kita tumpangi. Hewan yang tergolong terpintar di laut itu mendongakkan moncongnya ke atas permukaan laut, lalu menghilang lagi ke dalam air. Benar-benar menggoda!

Dari atraksi itu, tak lama, bibir pantai di sisi barat Pulau Alor pun sudah terlihat. Dari jauh, pesona Pantai Lingal sudah terpancar. Hanya ada pasir putih di sepanjang permukaan pantai yang melengkung itu. Kira-kira panjangnya mencapai tiga kilometer. Airnya yang jernih bergradasi ketika perahu semakin mendekat ke pantai, warna biru semakin pudar hingga benar- benar putih tepat di bibir pantai. Dulunya, pantai ini cuma menjadi persinggahan nelayan untuk berteduh sambil menjemur ikan hasil tangkapan.

Di musim tertentu, di mana ombak begitu tenang dengan bentuk bibir pantai seperti teluk, pantai ini terlihat seperti kolam super besar. Satu-dua tahun belakangan, pantai ini mulai populer dan pelancong
pun berdatangan. Para pemuda Desa Halerman mengutip Rp 50 ribu dari setiap rombongan yang datang. Menurut salah satu pemuda desa yang hanya dihuni belasan keluarga itu, pungutan mereka serahkan untuk dana kas desa.

Perbukitan hijau di sekeliling pantainya yang biru membuat pemandangan kontras Pantai Lingal ini jadi salah satu yang favorit di Pulau Alor. Pantainya sendiri berbentuk seperti teluk kecil, sehingga tidak memiliki ombak yang besar. Untuk menikmati pantai dari sisi yang berbeda, wisatawan bisa mendaki bukit dan menikmati eksotisme pantai Lingal dari ketinggian. Bukitnya tak terlalu tinggi, hanya sekitar 30-an meter dan bisa didaki sekitar 15-an menit.

pantai lingal di Alor dan Batu Bolong
Batu Bolong di Alor


Wisatawan bisa menginap di pantai ini. Warga setempat ada yang menyewakan tenda. Tapi jika tidak ingin di tenda, boleh saja menginap di rumah warga setempat.

Jika puas dengan pantai Lingal dan masih punya waktu, wisatawan bisa mengunjungi sejumlah pantai lain di sekitar pantai tersebut. Sebutlah pantai Pasir Panjang yang landai, berbatasan dengan bukit berpadang rumput. Namun, harus hati-hati jika berenang di Pantai Pasir Panjang. Meski dangkal, gelombang lautnya lumayan kencang.

Ada pulau Kepa, pulau kecil di Barat Laut Alor ini pasir pantainya halus serta lautnya yang biru dan jernih menjadi daya tarik tersendiri. Di pulau ini juga banyak disediakan pondok-pondok wisata khas NTT bagi yang mau menginap di sini. Di sekitar Kepa, banyak juga spot snorkeling maupun diving dengan keindahan alam bawah laut yang cantik.

 Pilihan lainnya adalah pantai Sebanjar, dengan pasirnya yang berwarna putih-pink dan pemandangan pulau-pulau indah di sekelilingnya ini. Bermalas-malasan di pantai pada sore hari sembari menikmati deburan ombak dan pemandangan matahari terbenam adalah sungguh hal yang tak terlupakan. Di sini juga terdapat penginapan yang cukup nyaman.

Atraksi lain di sekitar pantai Lingal adalah bati-batu karang besar di pantai Batu Lobang. Ini istilah masyarakat setempat untuk karang yang bolong. Melihat bebatuan tinggi menjulang dengan bagian bawahnya berlubang karena dihantam ombak terus-menerus.

*****