Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Masjid Agung Sumenep

Sumenep 2 peninggalan sejarah Indonesia di pulau Madura, Jawa Timur. Satu tentang kisah keraton Sumenep dan lainnya soal Sumenep sebagai penghasil garam.

Sumenep 2 Peninggalan Sejarah

Lantunan salawat para ibu terdengar nyaring dari Kubah Bindara Saod, salah satu raja Sumenep yang bernama asli Raden Tumengung Tirtonegoro. Terdengar juga suara lirih doa dari Kubah Pangeran Jimat, raja Sumenep yang lain. Kubah mereka memang bersebelahan. Saya terdiam di pagi yang hangat, di Asta Tinggi, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep, Madura. Kompleks itu berada di daerah perbukitan. Angin yang bertiup perlahan menyadarkan saya, yang sudah terlalu lama terpaku.

Meninggalkan kompleks pemakaman penuh warna itu, kaki melewati makam-makam lain, yang tentu saja masih keluarga keraton. Uniknya, beberapa dipulas warna-warni. Ada beberapa gapura dan bangunan atau kubah yang dipoles warna-warna terang juga. Di pemakaman yang didirikan pada 1750 ini, ada juga makam Pangeran Diponegoro.

Jajaran ibu penjaja kembang dan air mawar pun saya tinggalkan. Sementara di sisi kiri-kanan saya, para peziarah silih berganti memasuki pemakaman. Setelah menghirup udara segar dalam-dalam, saya melewati gapura putih megah yang menjadi pintu masuk dan keluar. Berada di Kebon Agung, jarak dari pusat kota, hanya sekitar 2,6 kilometer. Hingga saya memilih melepas lapar di Rumah Makan Kartini, di Jalan Diponegoro. Suguhan khasnya cakee—lontong kuah kari—tentunya cukup mengenyangkan. Pilihan lain yang cukup menggoda, nasi campur.

Tak lama, azan Zuhur pun terdengar. Saatnya saya bergeser ke Masjid Agung Sumenep yang hanya beberapa meter dari rumah makan ini. Gerbang putih dengan polesan keemasan di beberapa titik itu langsung menyedot perhatian saya. Orang berduyun-duyun melewatinya. Saya pun tak mau ketinggalan. Melangkah di bawah gapura atap bersusun yang kental dengan budaya Tiongkok itu, saya menengadah mencermati arsitektur salah satu masjid tertua di negeri ini. Merupakan perpaduan beragam budaya; Cina, Eropa, Jawa, dan Madura.

Dibangun pada 1779-1787, dulu dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep. Kini menjadi Masjid Agung Sumenep. Saya melipir ke sisi kiri, karena kaum perempuan hanya mendapat bagian di teras masjid. Namun, seusai salat, saya menengok ke bagian dalam. Ada mihrab dan mimbar ganda dengan detail unik.

Sebagian jemaah siang itu ternyata para pelaku wisata religi. Sumenep memang gudang sejarah yang kental dengan keagamaan. Masjid yang dibangun Kanjeng R. Tumengung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI, ini salah satunya. Dulu merupakan tempat ibadah keluarga keraton, lokasinya memang tak jauh dari Keraton Sumenep. Setelah menunaikan ibadah, giliran istana yang saya jelajahi.

Gerbang keraton atau Labang Mesem mirip dengan gapura Masjid Agung Sumenep, hanya dalam ukuran lebih kecil dan sederhana. Warna yang digunakan sama, putih dan kuning. Ada limasan berundak tiga di bagian puncaknya. Arsiteknya ternyata sama dengan Masjid Agung, yakni warga keturunan Tionghoa bernama Lauw Piau Ngo.

Di sebelah kiri gerbang atau di sebelah timur, ada Taman Sare yang dulu merupakan pemandian keluarga kerajaan. Di istana ini ada beberapa hal unik, seperti Al Quran tulisan tangan berukuran raksasa, kereta kencana Kerajaan Sumenep, dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Inggris. Tepat di seberang Labang Mesem, ada Museum Keraton dengan sejumlah koleksi, seperti pedang, foto-foto kerajaan di masa lalu, kereta kencana, dan alat musik jadul.

Siang yang teduh di akhir Januari, kota yang ditempuh dalam empat jam dari Surabaya ini tak lagi diterpa sinar mentari yang terik. Cukup nyaman bagi saya menengok berbagai peninggalan PT Garam untuk mengenang Sumenep sebagai penghasil garam tersohor di masa lalu. Dari pusat kota, saya pun perlahan menuju Kalianget, kawasan yang dibangun VOC, kemudian diteruskan di masa penjajahan Belanda saat ingin menguasai pusat garam di Madura ini.

Di sebuah jalan dengan kiri-kanan pepohonan rimbun, mata saya menangkap deretan bangunan lawas yang lebih-kurang didirikan pada 1914-1925. Rupanya, saya sudah memasuki kawasan Kalianget. Mata kian awas menyimak kiri-kanan, di mana rumah-rumah tua terus berbaris. Ada pula lapangan tenis. Hingga kendaraan berhenti di sebuah gedung tua tanpa label. Setelah maju beberapa meter, terlihat bangunan dengan papan nama PT Garam (Persero) yang masih terpasang.

Di seberangnya, terlihat bangunan tua lain, konon dulu digunakan sebagai tempat hiburan, sejenis bioskop. Sedangkan gedung tua sebelum kantor PT Garam, ternyata Gedung Sentral yang menjadi pusat listrik. Tak jauh dari sana, saya menemukan lapangan dengan gapura sederhana. Untaian besi di atas gapura bertuliskan “Lapangan Taman Merdeka”. Di tengah lapangan ada sebuah tugu mini. Puncaknya dicat merah, juga di bagian bawahnya. Sederhana, tapi bikin saya penasaran.

Sebuah sepeda ontel berdiri tanpa teman di taman itu. Pemiliknya rupanya bapak tua yang tengah menyambit rumput. “Itu Tugu Kemerdekaan,” ujarnya. Kemudian saya bertemu dengan penarik becak berbaju garis merah-putih khas Madura. Ia menjelaskan lebih detail. Tugu Merdeka didirikan untuk memperingati perlawanan terhadap Belanda. Ia bertutur Belanda menyerang dari arah laut, dan rakyat pun berjuang menahannya di lapangan ini. Hingga ada lubang atau benteng pertahanan mini di ujung lapangan.

Lantas, Eri—begitu bapak itu menyebut namanya—bercerita tentang PT Garam di masa kejayaannya. Ia pun menunjukkan bekas gudang dan penampung air di bagian belakang kantor perusahaan itu. “Rumah-rumah bekas karyawan sekarang disewain dengan harga murah,” ucapnya. Sedangkan gudang-gudang dan kantor kosong, hanya menyimpan seonggok kenangan dan kejayaan saat Sumenep menjadi penghasil garam terkenal, saat kapal-kapal dari berbagai negara singgah di pelabuhan ini.

Langit mulai gelap. Ketika hujan sering turun di Bumi Pertiwi ini, Sumenep pun tak ketinggalan diguyur air dari atas. Saya harus beranjak, dan tentunya akan kembali esok pagi, karena perjalanan ke Gili Labak, dimulai dari Dermaga Kalianget. l

Gili Berpasir Putih

gili labak di Sumenep, Madura, Jawa Timur
Wisata Sumenep di Gili Labak. Dok. Rully K-TL

Dengan bantuan staf hotel, saya mendapat kontak pemilik perahu yang akan membawa ke Gili Labak. Sewa per kapal cukup tinggi, sekitar Rp 1 juta. Jadi saya pun bergabung dengan sejumlah penumpang lain dengan biaya per orang cukup Rp 75 ribu.

Selepas subuh, kendaraan melaju langsung ke Dermaga Kalianget. Semangkuk mi dan teh panas mengisi perut yang kosong sebelum saya menuju rumah pemilik perahu. Terbagi dari beberapa rombongan, dan akhirnya saya mendapat jatah rombongan terakhir yang baru berangkat pukul 06.30. Perahu berkapasitas 20 orang itu mulai melewati Pulau Talango, tepat di seberang dermaga. Pulau ini terkenal diburu peziarah karena di sana ada makam Sayyid Yusuf.


Awalnya laut tenang, tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang Gili Labak, ombak mengajak bergoyang. Akhirnya, setelah 2 jam di laut, kaki menginjak pantai berpasir putih nan halus. Saya mencoba berkeliling pulau kecil dengan ukuran 5 hektare itu. Tidak terlalu lama, sekaligus tak melelahkan. Ada beberapa pilihan spot untuk selfie atau wefie, dari jembatan, dermaga, sampai pepohonan kering. Tentunya bikin pelancong, yang kebanyakan lokal, bisa mejeng sana-sini.

Terlihat beberapa tenda berdiri di tepi pantai. Ada juga rumah-rumah penduduk yang disewakan. Sedangkan ikan-ikan lebih banyak berada di sisi belakang pulau. Hanya sayang, karena kerap surut, terumbu karang pun sering diinjak-injak hingga terlihat banyak yang mati. Seperti saat pulang, karena di bagian depan ombak begitu tinggi, perahu menaikkan penumpang dari sisi belakang.


Jangan terlena hingga sore di Gili Labak. Sebab, lewat siang, ombak terus meninggi. Berangkat sekitar pukul 14.00 pun ombak tak berhenti mengayun-ayun perahu, dan semburan air membuat penumpang di bagian depan basah kuyup. Seperti yang saya alami, rasa asin begitu lekat di badan. Dengan ombak tinggi, perjalanan pulang pun akhirnya berakhir setelah 2,5 jam. l

Rita N./Rully K./Dok TL

Pasar Triwindu Solo Antik Sejak 1939

Pasar Triwindu Solo berdiri sejak tahun 1939.

Pasar Triwindu Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu tujuan khusus wisatawan yang mengunjungi kota ini. Ia seakan menjadi surga bagi pecinta barang antik atau tiruannya, ya pasar ini memang dikenal sebagai pusatnya penjualan barang-barang antik dan kuno.

Pasar Triwindu Solo

Pasar Triwindu Solo berada di sisi selatan Pura Mangkunegaran, ia hanya berjarak sekitar 350 meter dari kraton itu. Kedekatan lokasi itu karena memang Triwindu merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran. Pasar ini dibangun di selatan kompleks Kraton Mangkunegaran, tepatnya di sisi timur kalan raya yang mengarah ke gapura istana. Secara administratif berada di wilayah kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta atau Solo.

Pasar Triwindu Solo dibangun untuk memperingati 24 tahun masa bertahta KGPAA Mangkunegara VII.
Pasar Triwindu Solo yang terletak di Jalan Diponegoro. Foto: dok. shutterstock

Ia disebut Triwindu karena dibangun pada 1939 oleh KGPAA Mangkunegara VII sebagai peringatan 24 tahun (atau tiga windu) masa pemerintahannya. Pada 5 Juli 2008, pasar ini dipugar dan dibuat bangunan baru yang disesuaikan dengan arsitektur budaya Solo. Awalnya, tempat ini bernama Windujenar lantas seiring perkembangan berubah menjadi Pasar Triwindu.

Pasar Triwindhu Ngarsapura adalah pasar barang antik, tiruannya, serta onderdil khusus (klithikan). Barang klithikan ini, misalnya, tuts mesin ketik kuno. Atau lampu sepeda onthel lawas yang sudah tak ada di toko-toko sepeda.

Bagi kolektor barang antik, Solo menjadi surga yang menyediakan beragam benda bernilai sejarah dan suvenir jaman dulu. Pasar Windujenar atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Triwindu menjadi sentranya. Terletak di kawasan Ngarsopura di Jalan Diponegoro, pasar ini menawarkan keunikan bertransaksi: berbagai barang antik yang boleh ditawar.

Pasar ini ketika dipugar dibuat menjadi dua lantai, sehingga kios-kios yang awalnya berhimpitan menjadi agak longgar. Pada lantai satu digelar barang-barang lawas dan antik. Sementara itu di lantai dua, mayoritas barang yang ditawarkan adalah onderdil kendaraan tua.

Di lantai satu dagangan yang digelar mulai gramofon buatan Eropa, senjata pusaka, kamera tua, ukiran, peralatan rumah tangga lawas hingga mainan antik. Ada juga mata uang kuno, baik yang berbentuk koin atau kertas, misalnya yang dikeluarkan pada 1800-an; topeng, piring kuno buatan 1960, aneka kain batik lawas, dan perkakas rumah tangga. Kemudian ada radio kuno, jam tangan bekas, patung, lampu hias kuno, hingga mainan tradisional tempo dulu, seperti dakon dan lainnya.

Seperti disebut di muka, keunikan penjualan barang-barang antik dan kuno yang dijual di pasar ini harganya bervariasi. Mulai harga yang termurah dari ribuan rupiah saja, ratusan ribu hingga puluhan juga rupiah. Para pembeli yang datang ke pasar ini sebagian besar para pelancong yang hobi mengkoleksi barang-barang antik dan kuno. Mereka tidak saja dari segala penjuru daerah di Indonesia, tetapi juga kolektor dari mancanegara (luar negeri). Seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan lainnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu Sudarsono bercerita bahwa lahan yang digunakan sebagai pasar tersebut awalnya difungsikan sebagai alun-alun Mangkunegaran. Pembangunan sebagai Pasar Triwindu menurutnya memiliki dua versi. Versi pertama adalah ketika pada 1939, ketika Pura Mangkunegaran dipimpin KGPAA Mangkunegara VII, ia membangunnya sebagai ulang tahun jumeneng yang ke 24.

Sedangkan versi kedua, menurut Sudarsono, adalah KGPAA Mangkunegara VII berniat memberi hadiah ulang tahun ke 24 untuk putrinya, Gusti Putri Mangkunegara VII yang bernama Noeroel Kamaril.

iNamun bisa jadi kebaradaan pasar ini merupakan gabungan kedua versi tersebut, yakni membangun pasar sebagai perayaan bertahta selama tiga windu dan kemudian pasar itu kemudian dihadiahkan kepada Gusti Noeroel bertepatan dengan ulang tahunnya ke 24. Nama Triwindu berasal dari kata ‘Tri’, dalam bahasa Jawa yang berarti tiga. Sedang ‘windu’ artinya delapan. Kemudian diterjemahkan dalam bilangan angka 24 yang berarti tiga kali delapan.

“Nama Pasar Windujenar pada Juni 2011 berubah nama jadi Pasar Triwindu hingga sekarang,” kata pria tersebut.

Pasar Triwindu dimanfaatkan sekitar 200an pedagang menjajakan koleksinya. Selain tujuan kdiriolektor barang antik dan kuno, Pasar Triwindu juga menjadi tujuan wisata. Menurutnya, pengunjung pasar Triwindu ada tiga kategori. “Wisatwan dari Solo sendiri, dari luar kota, dan mancanegara. Tetapi kebanyakan yang belanja di sini dari luar kota,” katanya.

Seorang pedagang Pasar Triwindu mengaku sudah lama berjualan barang antik sejak pasar itu masih bernama Windujenar. Menurutnya, banyak pembeli datang membeli barang antik dan kuno selain untuk koleksi pribadinya, namun tak sedikit untuk dijual kembali di kota asalnya.

Menurutnya, ada perbedaan antara pembeli kolektor dengan pembeli pedagang atau setengah kolektor-pedagang. Kolektor umumnya tak banyak menawar harga barang jika sudah cocok dengan barang yang diinginkannya. Sementara yang berpikir untuk menjual kembali biasanya melakukan tawar menawar.

Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya menjadi incaran para kolektor barang antik
Salah satu sudut Pasar Triwindu Solo dengan koleksi dagangannya. Foto: dok. shuterstock

Tren barang antik yang dicari para pembeli rupanya juga selalu berganti sesuai jamannya. Periode 1970-1990, misalnya, banyak pembeli dari mancanegara yang datang membeli barang antik dan kuno. Barang antik atau kuno yang dibeli kebanyakan keris, patung, dan arca. Pembelinya adalah kolektor dari Belanda, Inggris dan Australia. Kemudian pada era 1990-2000-an para pembeli yang datang ke Pasar Triwindu mencari lampu kristal kuno atau perabotan rumah tangga.

Triwindu, yang sampai sekarang muka sejak pukul sembilan pagi dan tutup kadang sampai malam menjadi primadona dan pilihan bagi para kolektor yang ingin mencari barang-barang antik dan kuno.

Jika pandemi sudah mereda dan ada rencana ke Solo, tak ada salahnya agendakan kunjungan ke Triwindu.

agendaIndonesia

Cendrawasih dan Penyu Blimbing, 2 Keunikan Tambrauw

Cendrawasih Jantan

Cendrawasih dan Penyu Blimbing, 2 Keunikan Tambrauw rasanya masih sedikit orang yang tahu. Padahal kabupaten ini sejak lama sudah menjadi semacam endemik kedua fauna. Untuk Cendrawasih bahkan bisa dikatakan 80 persen wilayah Tambrauw adalah kawasan konservasi.

Cendrawasih dan Penyu Blimbing

Kabupaten Tambrauw di Provinsi Papua Barat disebut banyak kalangan sebagai salah satu spot pemantauan burung terbaik di Papua. Utamanya tentu di papua Barat. Seperti disebut di muka, 80 persen daerahnya mencakup area konservasi yang memungkinkan burung maskot Papua ini hidup bebas di hutan yang masih rapat. Apalagi secara geografis kabupaten ini berada di antara dataran tinggi dan dataran rendah. Itu memungkinkan cenderawasih dari dua area bisa hidup di sini.

Untuk menuju Kabupaten Tambrauw, wisatawan bisa memilih dua pintu masuk lewat jalur udara. Yang pertama melalui Bandar Udara Dominique Eduard Osok di kota Sorong. Dari sini, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan double cabin melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar empat jam menuju Sausapor.

Pintu masuk kedua yakni melalui Bandar Udara Rendani di Manokwari. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan double cabin menuju Kebar dengan waktu tempuh lebih-kurang empat jam. Bisa juga melalui jalur laut dari Sorong menuju Sausapor dengan waktu tempuh 2,5 jam.

Tambrauw mungkin belum sepopuler Desa Saporkren di Kabupaten Raja Ampat sebagai tempat pemantauan cendrawasih. Namun, kian hari makin banyak wisatawan manca negara yang mengunjungi Tambrauw melalui Manokwari dan Sorong.

Lokasi istimewa untuk memantau cendrawasih di Tambrauw adalah Distrik Miyah. Distrik itu dapat ditempuh dalam waktu lebih-kurang 4 jam dari Ibu Kota Sementara Sausapor. Keistimewaan pemantauan di Miyah adalah seringnya ditemui enam jenis cendrawasih.

Sesuai buku Birds of New Guniea karangan Thane K. Pratt dan Bruce M. Beehler, keenam spesies cenderawasih yang sering dijumpai di Tambrauw adalah Lesser bird of paradise; Magnificent bird of paradise; Cendrawasih raja, Magnificent rifflebird; Western parotia; dan Superb bird of paradise.

Jenis Lesser bird of paradise biasanya juga disebut cenderawasih kuning-kecil. Burung ini memiliki panjang sekitar 32 sentimeter. Bisa dijuluki kecil-kecil cabai rawit. Sebab, burung berjenis lesser bird of paradise ini jago berdansa. Kemampuannya menari melebihi burung-burung lain sekelasnya. Lesser bird of paradise memiliki warna otentik kuning dan cokelat. Paruhnya abu-abu kebiruan. Sedangkan iris matanya berwarna kuning. Pada ekornya terdapat antena hitam.

Jenis ke dua yang disebut Magnificent bird of paradise atau sering disebut juga cendrawasih belah rotan. Subspesies cedrawasih belah ritan yang ditemukan di Papua Barat, khususnya di Tambrauw, adalah Cicinnurus magnificus magnuficus. Burung ini memiliki bulu berwarna campuran hitam, putih, dan merah. Ia mempunyai antena berbentuk spiral berwarna biru muda menyala.

Lalu, mungkin, yang paling dikenal banyak orang adalah Cendrawasih raja. Keunikannya mereka memiliki warna yang berbeda antara betina dan jantan. Burung betina memiliki warna cokelat dengan tubuh bagian bawah berpola garis-garis. Sedangkan jantan mempunyai wara merah tua terang dan putih. Kakinya biru terang. Bulu ekornya panjang dan terdapat hiasan uliran hijau. Burung cendrawasih jantan ini memiliki panjang lebih-kurang 16 sentimeter.

Jenis ke empat cendrawasih di tambrauw adalah Magnificent rifflebird atau sering disebut burung dari surga. Yang jantan memiliki bulu warna hitam beludru. Ketika dikatupkan, sayapnya akan membentuk seperti jubah. Kepalanya berwarna biru-hijau. Sayap itu bisa direntangkan melengkung. Sedangkan betina mempunyai warna bulu kecokelatan dengan bintink-binting gelap. Burung ini memiliki panjang lebih-kurang 34 sentimeter.

Jenis ke lima cendrawasih di sini dari spesies Western parotia. Burung ini memiliki panjang sekitar 33 sentimeter. Ekornya tak panjang-panjang amat. Western parotia secara seksual dimorfik. Spesies burung ini memiliki perisai payudara berwarna hijau keemasan. Sedangkan mahkotanya berwarna abu-abu perak. Sayap Western parotia bisa membentuk segitiga, mirip kerucut. Burung ini memiliki kelabihan dapat menari seperti balerina.

Jenis terakhir yang sering muncul adalah Superb bird of paradise atau cendrawasih kerah. Cendrawasih ini memiliki mahkota berwarna hitam dan mahkota hijau warna-warni. Bila ia menutup sayap, bulunya tampak berwarna biru. Sedangkan betina memiliki warna kecokelatan dan kemerahan. Burung jantan ini konon memilii sifat poligami. Ia akan menari-nari lincah untuk sampai menarik perhatian lawan jenisnya.

Jika ingin melihat ke semuanya, ambil waktu yang cukup jika berlibur ke Tambrauw. Mengamati cendrawasih di habitat aslinya yang masih berupa hutan, punya syarat mutlak mesti sabar. Kadang orang harus menunggu beberapa jam sampai burung sorga itu menampakkan diri. Namun, sering pula ia langsung terlihat.

Selain cendrawasih, Tambrauw punya keunikan lain: penyu belimbing.  Di kabupaten ini, Taman Pesisir Jeen Womom, yang meliputi wilayah Pantai Jamursba Medi (Jeen Yessa) dan Pantai Warmon (Jeen Syuab), di Distrik Abun, menjadi satu-satunya tempat bertelur rutin penyu belimbing di Indonesia.

Tukik Penyu Belimbing
Keunikan Tambrauw berupa penyu blimbing. Dok. unsplash

Ada dua daerah di Indonesia yang memiliki jejak penyu belimbing bertelur. Misalnya di Aceh dan di Sukamade, Jember, Jawa Timur. Namun tidak terprediksi dan tidak rutin. Bisa jadi mereka hanya terbawa arus.

Pantai Jeen Womom, yang meliputi Pantai Jamursba Medi (Jeen Yessa) dan Pantai Warmon (Jeen Syuab), berada di pesisir pantai utara Tambrauw. Word Wide Fund for Nature (WWF) mencatat, pada 2017 ada 1.240 sarang penyu belimbing ditemukan di kawasan pesisir Tambrauw.

Banyak turis, utamanya turis asing, tertarik menyaksikan penyu yang konon telah langka di dunia itu. Penyu ini bertelur sepanjang tahun. Pada Januari sampai Juni, penyu akan bertelur di Pantai Jamursba Medi. Sedangkan pada Juli sampai Desember, penyu akan bertelur di Pantai Warmon.

Penyu Belimbing yang ditemukan di pesisir Jeen Womom hanya yang berjenis kelamin betina dan berusia 15-30 tahun. Setelah makan dan bereproduksi, penyu belimbing akan berenang kembali mengikuti arus menuju Pantai Jeen Womom. Mereka berenang kira-kira 6 bulan untuk sampai ke perairan Papua Barat.

Keistimewaan utama penyu belimbing adalah tubuhnya yang sangat besar. Ia adalah penyu berukuran paling besar di dunia. Panjang lengkung punggungnya bisa mencapai sekitar 1,2 hingga 2,4 meter. Disebut penyu belimbing karena bentuk punggungnya menyerupai belimbing dengan uliran tajam.

Dinas Perikanan Kabupaten Tambrauw menerapkan aturan khusus jika ada wisatawan yang ingin mengamati penyu belimbing bertelur. Pertama, pengama wajib menggunakan senter atau lampu berwarna merah. Lampu itu hanya dinyalakan seperlunya. Adapun cahaya lampu tak boleh langsung ditembakkan ke wajah penyu. Bila terkena cahaya, penyu akan kehilangan orientasi arah.

Jika bisa bertemu penyu di pantai atau penyu yang sedang bertelur, wisatawan harus mendekatinya dari belakang, yakni dengan mengikuti bekas jejaknya. Usahakan merunduk dekat pasir. Anda harus menjauh apabila penyu menunjukkan tanda-tanda terganggu. Waktu untuk berada di dekat penyu pun terbatas hanya maksimal 30 menit. Selama mengamati itu pula, pengunjung tidak boleh bersuara dan harus bergerak sangat pelan.

Para wistawan atau pengamat tidak diperkenankan memotret penyu yang sedang mengeluarkan telur. Pemotretan hanya boleh dilakukan ketika penyu telah selesai bertelur. Tukik yang baru menetas pun harus terhidar dari lampu senter dan blitz kamera. Maka itu, wisatawan tidak dibolehkan menyalakan lampu selama tukik berjalan di pantai hingga masuk ke laut.

Satu lagi, sering kali wisatawan yang hendak mengamati penyu bertelur adalah dengan berkemah atau bermalam di pantai tempat fauna ini bertelur. Jika ini yang Anda lakukan, jangan berkemah dengan menyalakan api unggun. Itu akan membuat penyu tak jadi mendarat dan bertelur.

F. Rosana/A. Prasetyo/Max gotts-unsplash

Daya Tarik Dongeng, 4 Yang Melegenda  

Daya tarik dongeng menjadi salah satu kekuatan destinasi wisata di Indonesia.

Daya tarik dongeng tentang sebuah tempat banyak membuat orang mengunjungi destinasi tersebut. Dan rasanya hampir semua tempat wisata di Indonesia mempunyai kisah, cerita, atau bahkan dongeng yang mengharu biru, membuat orang ingin datang ke sana.

Daya Tarik Dongeng

Magnet sebuah obyek wisata tentu saja awalnya berupa keindahan alam, atau keunikan tradisi dan budayanya. Tetapi bisa juga soal daya tarik dongeng atau legendanya. Ada yang terlihat ada kaitannya, tapi tak sedikit yang berupa metafor.

Cerita rakyat pun menjadi magnet pada sejumlah tujuan wisata. Kisah-kisahnya seolah benar adanya. Entah siapa dan bagaimana cerita-cerita itu dapat meninggalkan jejak hingga kini. Beberapa di antaranya memang melekat dengan obyek, tapi ada pula yang terabaikan.

Tak sedikit yang bisa menggabungkan keindahan alam, keunikan tradisi dan budayanya, dengan dongeng yang bisa jadi merupakan cerita yang bisa bagi teladan untuk anak-anak. Jadi, berwisata sambil memberi pendidikan buat anak-anak.

Gadis Terjepit Batu

Seruni, gadis cantik asal Sumatera Utara, sudah memiliki kekasih. Tapi dia dijodohkan oleh orang tuanya. Seruni pun tak setuju dan memilih bunuh diri dengan cara terjun dari tebing curam.

Namun, sebelum tiba di sana, dia terperosok ke lubang sebuah batu besar. Seruni memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di lubang itu, ia lantas berteriak, “Parapat, parapat!”, yang artinya “Merapat, merapat!” Tujuannya, agar lubang pada batu itu merapat dan mengimpit tubuhnya hingga ia tewas. Keinginan Seruni ternyata terkabul.
Nah, batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan yang seolah menggantung di tepi tebing itu kini ditemui di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Masyarakat setempat menyebutnya Batu Gantung. Konon, nama Parapat berasal dari kata terakhir yang diucapkan Seruni.

Cinta Terlarang

Setelah mengetahui kekasihnya ternyata anaknya sendiri, Dayang Sumbi langsung memutuskan kisah cintanya. Namun Sangkuriang tetap ngotot ingin menikahi ibunya. Tak kehabisan akal, Dayang Sumbi menyatakan bersedia dinikahi asalkan dibuatkan telaga dan perahu dalam waktu semalam. Sangkuriang menyanggupi. Dengan dibantu jin, Sangkuriang hampir mampu menyelesaikannya.  

Hanya, Dayang Sumbi menebarkan kain putih hasil tenunannya. Dalam sekejap, kain itu mengeluarkan sinar bagaikan cahaya fajar di ufuk timur dan membuat jin-jin pergi karena mengira telah pagi.

Sangkuriang marah sekali. Ia menendang perahu sehingga menelungkup dan berubah menjadi gunung, yang kini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu yang kawahnya kini ramai dikunjungi di Lembang, Jawa Barat.
Putri yang Dikutuk
Pemuda ini sakti mandraguna. Namanya Bandung Bondowoso. Ia jatuh cinta kepada putri cantik bernama Roro Jonggrang, putri dari kerajaan yang ditaklukkannya.

Daya tarik dongeng bisa memperkuat kekuaran sebuah destinasi wisata.
Candi Sewu di Yogyakarta. Foto: apabedanya unt. unsplash

Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Roro Jonggrang mencoba menolaknya dengan memberi persyaratan yang tak masuk akal: minta dibuatkan 1.000 candi dalam waktu semalam, sebelum ayam berkokok.

Bandung menyanggupi. Bahkan, menjelang dinihari, 999 candi telah dibuat. Roro Jonggrang panik dan meminta para wanita agar memukul lesung, sehingga ayam-ayam terbangun dan berkokok.

Bandung marah karena dicurangi. Ia pun mengutuk putri itu menjadi batu, dan kini dikenal dengan nama Candi Roro Jonggrang lokasinya ada di kompleks Candi Prambanan di Sleman, Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah.

Sementara candi-candi lain yang telah dibuat berada di dekat Candi Prambanan. Seperti bertetangga dan dinamakan Candi Sewu.

Kisah Anak Durhaka

Satu lagi destinasi wisata di Indonesia yang punya daya tarik dongeng dan kisah legenda yang popular. Kisahnya tumbuh di kalangan masyarakat Pantai Air Manis di Sumatera Barat.

Daya tarik dongeng bisa menjadi materi edukasi ketika membawa anak-anak mengunjunginya.
Gunung dan kawah Tangkuban Perahu, Bandung, Indonesia. Foto: shutterstock

Kita tentu sudah tidak asing dengan cerita legenda anak yang durhaka kepada ibunya. Cerita ini adalah tentang Malin Kundang, anak laki-laki yang tinggal bersama dengan ibunya yang seorang janda di Perkampungan Nelayan Pantai Air Manis, Padang Selatan, Sumatera Barat.

Malin dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Hingga pada suatu hari, ada kapal besar yang merapat ke Pantai Air Manis. Malin yang sudah dewasa berpamitan kepada ibunya untuk merantau dan akhirnya dia pun pergi bersama dengan kapal tersebut.

Setelah merantau, Malin tak pernah pulang. Hingga suatu hari kapal megah merapat di Pantai Air Manis. Dari kapal tersebut, turun seorang laki-laki kaya dan menggandeng seorang perempuan. Ibu Malin menyadari bahwa laki-laki tersebut adalah anaknya dan ia memanggilnya. Namun Malin yang malu melihat ibunya malah menghardik sang ibu dan pura-pura tidak mengenali.

Karena sakit hati karena tidak diakui oleh anaknya sendiri, maka sang ibu mengutuk Malin menjadi batu. Sang anak sempat menyatakan penyesalannya lalu dan bersujud di depan ibunya.

Itulah sebabnya, wisatawan bisa menemukan batu yang menyerupai orang sedang bersujud di di Pantai Air Manis. Tak hanya batu orang yang bersujud, terdapat juga batu besar yang konon dipercaya sebagai pecahan kapal yang membawa Malin Kundang.

Ada puluhan lagi tempat wisata di Indonesia dengan daya tarik dongeng nya. Ayo agendakan kunjunganmu ke tempat-tempat ini.

agendaIndonesia

*****

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Danau Ngade

Ternate, pulau vulkanik dengan 2 warna tradisi belum banyak diketahui orang. Dari pelajaran sejarah, kita hanya dikenalkan adanya Kesultanan Ternate dan Tidore. Tapi jejaknya seperti apa, lebih banyak orang yang kurang paham dari daerah di kawasan Maluku Utara ini.

Ternate, Pulau Vulkanik Dengan 2 Warna

Berada di kaki Gunung Gamalama, Ternate yang dikelilingi laut sesungguhnya tak hanya menawarkan wisata bahari. Pulau yang berada di Provinsi Maluku Utara ini juga menarik ditelusuri sejarahnya melalui peninggalannya. Maklum, seperti disebut di muka, pada abad ke-13 di pulau ini berdiri Kesultanan Ternate, yang tradisinya hingga sekarang masih dipertahankan.

Pemerintah daerah setempat pun menggelar Festival Legu Gam setiap tahun untuk merayakan ulang tahun Sultan Ternate. Festival itu biasanya digelar setiap April.

Pada kesempatan itu, rakyat Ternate berpesta. Masyarakat berkumpul di Kedaton atau Istana Sultan Ternate. Di sana, digelar prosesi adat, pagelaran seni dan budaya, serta pameran yang terkait dengan usaha kecil dan sumber alam provinsi yang terdiri atas delapan pulau ini. Termasuk kerajinan tangan lokal. Kemeriahan sudah pasti berlangsung selama festival, yang biasa digelar hingga dua minggu ini.

Tentu tak harus sampai dua minggu untuk menikmati Ternate. Setiap hari ada penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Jika kehabisan tiket penerbangan langsung, wisatawan masih bisa mencari penerbangan sambungan (connecting). Bisa dari Makassar, atau Manado. Dari Manado, penerbangan hanya berlangsung sekitar 30 menit. Sedangkan jika dari Jakarta, penerbangan akan berlangsung 3 jam dan 45 menit. Ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ternate, yakni dua jam.

Ternate, tentu, bukan kota besar. Namun, menariknya, jika kita berkeliling kota, banyak nuansa kolonial Portugis mewarnai kotanya. Semisal, Benteng Tolukko yang dibangun bangsa Portugis pada 1540 agar bisa tetap menguasai cengkeh yang menjadi hasil khas pulau ini. Lokasinya strategis karena berada di puncak bukit.

Selain itu, ada Benteng atau Fort Oranje yang menjadi pusat pemerintahan VOC sebelum dipindahkan ke Batavia pada abad ke-17. Tak hanya dua benteng yang dibangun Portugis, masih ada Benteng Kalamata, Benteng Kota Janji, dan Benteng Kastela. Fort Oranje dibangun abad 15 dan sekarang sering menjadi tempat pementasan seni budaya lokal.

Selain diwarnai peninggalan kolonial Portugis dan Belanda, Ternate yang dulunya Kesultanan juga pekat dengan nuansa Islam. Kesultanan ini dulunya memang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur.

Karena itu, saat wisatawan berada di pusat kota, langsung mendapat suguhan dua peninggalan zaman Kesultanan Ternate, yakni Kedaton (istana) Ternate dan Masjid Kesultanan Ternate.

Sebagai daerah kesultanan, Ternate mempunyai istana yang dikenal sebagai Kedaton Ternate. Bangunan berwarna kuning muda itu menyimpan koleksi kesultanan. Ada mahkota berumur 500 tahun. Kemudian sebuah lemari kaca yang menyimpan sejumlah pedang atau kelewang. Masih ada pula singgasana sultan, ruang makan, dan lain-lain.
Istana yang dibangun pada 24 November 1813 ini berada di atas lahan seluas 1,5 hektare dan berada di pusat kota.

Hanya berjarak 100 meter lokasinya dari Kedaton Ternate, terletak  Masjid Kesultanan Ternate. Masjid ini didirikan pada masa  Sultan Ternate yang kedua atau awal abad ke-17. Memiliki arsitektur unik, berbentuk limas dengan enam undakan. Terbilang sederhana, bangunan terbuat dari batu yang direkatkan oleh getah kayu pohon Kalumpang. Setiap Ramadan, ada tradisi unik antara sultan dan rakyatnya.

Selain masjid lawas peninggalan kesultanan, Pemerintahan Kota Ternate kini menambahkan sebuah ikon kota sebagai penanda warisan tradisi agama Islam di daerah ini, yakni Masjid Al-Munawaroh. Yang unik, masjid ini dibangun pemerintah Kota Ternate tepat di bibir pantai. Terlihat begitu menawan saat dipandang dari arah laut. Tak mengherankan, masjid yang berdiri di atas lahan seluas enam hektare ini sekarang menjadi landmark kota ini. Empat menara yang menjulang dan keramiknya yang indah ternyata diterbangkan langsung dari Turki.

Tentu tidak sah bagi penyunjung Ternate, terutama mereka para pencinta bahari, jika tidak berperahu ke pulau-pulau lain di sekeliling kota ini. Keindahan laut bisa dinikmati dengan mampir ke Pantai Sulamadaha.

Pantai di pulau ini benar-benar tak boleh dilewatkan selama liburan akhir tahun di Ternate. Di dekat pantai berpasir hitam nan luas ini temukan juga Teluk Saomahada, dengan air hijau toska dan tenang, inilah salah satu spot favorit di sana. Berbentuk mirip laguna, wisatawan bisa berperahu dengan tenang atau berenang di sini. Juga snorkeling. Objek wisata ini bisa dicapai dalam 30 menit dari pusat kota Ternate. Ada pula pantai yang jaraknya cukup jauh, yakni 20 kilometer dari pusat kota, yakni Pantai Bobaneha Ici.

Pantai lain yang bisa dikunjungi wisatawan saat di Ternate adalah Pantai Tobololo. Berada di utara Ternate, pantai ini termasuk dalam Kelurahan Tobololo dan bisa dicapai dalam 20 menit dari pusat kota. Lokasinya boleh dibilang diapit Pulau Halmahera dan Pulau Hiri. Di beberapa titik tertentu, bisa temukan air panas yang bersumber dari Gunung Galamalama. Jarak pantai dengan air panas biasanya tergolong dekat, sekitar 1 meter.

Atau bila ingin duduk manis sembari menikmati alam, bisa singgah ke Danau Tolire yang berada di kaki Gunung Gamalama. Ada dua danau yang bisa ditemukan. Namanya sesuai ukuran, yakni Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Luasnya mencapai 5 hektare dengan kedalaman 50 meter. Di latar belakang tampak Gunung Gamalama nan gagah, apalagi bila langit tengah cerah.

Datanglah di sore hari, karena keindahan mentari tenggelam sempurna dari lokasi ini. Dengan latar laut, langit memunculkan senja nan indah. Lokasi Danau Tolire Kecil lebih dekat dengan laut. Jadi dua danau yang bersebelahan ini diapit gunung di satu sisi dan di sisi lainnya laut. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat kota.

Selain Danau Tolire, masih ada DanauNgade yang berair tawar, meskipun berdekatan sekali dengan laut. Dilihat dari ketinggian hanya ada batas tipis antara danau dan laut. Di sekeliling danau penuh dengan warna kehijauan. Spot foto pun benar-benar instagrammable. Kini bahkan sudah dilengkapi dengan restoran yang menawarkan menu ikan tawar, hingga menikmati danau pun bisa sembari wisata kuliner.

Jadi kapan Anda main-main ke Ternate? L

R. Nariswari

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 2)

Wisata Kuningan dan menikmati sejumlah spot di kawasan ini.

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Setelah menikmati dua Taman Nasional di Jawa Barat pada artikel sebelumnya, kali ini cerita berlanjut ke sejumlah loka yang umumnya bisa dinikmati wisatawan umum. Pengunjung yang mencapai kawasan-kawasan ini tak melulu para pecinta alam, tapi banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis. Berikut artikel ke dua dari kisah penjelajahan gunung-gunung di tanah Parahiyangan.

Gunung Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu shutterstock
Gunung Jawa Barat, Gunung dan dan kawah Tangkuban Perahu. shutterstock

Siapa tak kenal tokoh Sangkuriang dan ibunya, Dayang Sumbi? Perseteruan keduanya telah membuat Sangkuriang mengamuk dan menendang perahu bikinannya hingga menjadi sebuah gunung. Tentu ini hanyalah kisah legenda. Namun tak bisa dipungkiri wujud Tangkuban Perahu memang mirip perahu yang terbalik. Juga ragam bentang alam di sekitarnya, mampu memukau setiap mata yang memandang.

Untuk menuju puncak gunung, tak perlu repot mendaki. Tempat parkirnya berada di dekat bibir kawah yang menjadi daya tarik utama. Destinasi pertama, Kawah Ratu, merupakan yang terluas dari sembilan kawah di Tangkuban Perahu.

Tanahnya berwarna putih dengan batu-batu kekuningan karena kandungan belerang. Di sejumlah sudut, asap putih yang membubung menandakan masih aktifnya kawah tersebut. Biasanya pengunjung tidak boleh turun ke bawah karena posisinya berada di kedalaman gunung dan menguapkan gas beracun.

Dari Kawah Ratu, wisatawan dapat berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer atau naik kendaraan ke Kawah Domas. Di kawah ini pengunjung boleh melihat kawah dari dekat, bahkan membasuh diri atau merebus telur di sumber air panasnya. Selain itu, ada pula beberapa orang yang menyediakan jasa spa lumpur yang diyakini bermanfaat menyembuhkan penyakit kulit.

Kawah ketiga yang cukup populer adalah Kawah Upas yang berjarak sekitar satu kilometer dari Kawah Ratu. Letak kedalaman kawah mirip dengan Kawah Ratu, sehingga pengunjung tidak boleh terlalu dekat berada di inti kawah.

Ke kawah mana pun Anda menuju, jangan lupa mengenakan jaket untuk menghangatkan badan. Dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut, suhu Tangkuban Perahu berkisar 17 derajat Celcius pada siang hari dan 2 derajat Celcius di kala malam. Jika tak jua hangat, bisa juga mencoba menyeruput teh hangat dan ketan bakar yang merupakan kuliner khas Lembang.

Jelajah Lembang

Udara yang sejuk dan alam yang permai mendorong hadirnya berbagai destinasi wisata di lereng Tangkuban Perahu, tepatnya di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bagi para pencinta aksi petualangan, terdapat aneka alternatif wisata outbound, dari yang ramah untuk anak hingga yang ekstrem.

Salah satunya, Dusun Bambu Family Leisure Park yang cocok menjadi tempat rekreasi bersama keluarga. Di sini anak-anak bisa mengenal satwa sembari memberi makan kelinci, bebek, domba, dan kura-kura. Untuk mengasah bakat seni, bisa juga mengikuti kelas mengecat keramik. Ada pula wahana panahan, air soft gun, dan All Terrain Vehicle (ATV) untuk menjelajah alam bebas.

Masih di Lembang, pengalaman yang disuguhkan Bandung Treetop Adventure Park tak kalah menantang. Tempat ini memiliki arena menjelajah hutan dari ketinggian. Rasakan sensasi melayang dengan melintasi flying-fox atau berjalan dari pohon ke pohon di atas jembatan tali.

Setiap wahana telah dirancang sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan yang bertahap sehingga bisa dinikmati segala usia. Anak usia 4 tahun dapat menjajal ketangkasannya pada ketinggian 2 meter, sementara pecandu adrenalin dapat beraksi pada ketinggian 20 meter di atas pohon. Tak perlu takut jatuh karena semua sirkuit sudah dilengkapi life-line support untuk menjamin keamanan.

Destinasi wisata unik lainnya adalah De Ranch yang menawarkan konsep tamasya di peternakan kuda. Pengunjung dapat berkuda dengan aksesori lengkap ala koboi. Ada pula wahana permainan lain seperti trampolin, the gold hunter, balon air, panahan, peti luncur, hingga flying-fox.

Usai menjelajah alam di alam bebas, tak ada salahnya menyempatkan berbelanja di Pasar Terapung Lembang. Sesuai namanya, para pedagang di sini menjajakan makanannya di atas perahu yang mengapung di kawasan danau buatan. Bahan makanan yang dijual pun menarik untuk dicoba, di antaranya sayuran, ikan, atau jajanan tradisional khas Jawa Barat seperti karedok, batagor, dan durian bakar.

Gunung Papandayan

Mendaki gunung tak melulu identik dengan kegiatan ekstrem yang menguras energi. Di Papandayan, rute sampai ke puncak didominasi medan yang landai dan dilengkapi prasarana yang cukup memadai. Ini membuatnya menjadi destinasi yang tepat bagi para pendaki pemula atau penyuka wisata alam dengan trek yang bersahabat.

Jalur yang dimaksud adalah melalui Desa Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun jika ingin lintasan yang lebih menantang dapat memilih mendaki via Pengalengan, Kabupaten Bandung. Selain itu, di sepanjang jalan pendaki juga dapat menemukan sumber air bersih dengan mudah.

Lalu jika sewaktu-waktu ingin buang hajat, tak usah repot menggali tanah. Terdapat beberapa toilet yang bisa digunakan pada jalur pendakian. Bahkan sudah tersedia warung makan yang menjual mi instan atau nasi goreng sehingga Anda tidak perlu memasak. Karena ada warung, tentu ransel pun menjadi lebih ringan karena tak perlu membawa air minum terlalu banyak.

Meski telah dilengkapi berbagai fasilitas, Gunung Papandayan tetap menyajikan lanskap yang menawan. Berada di Kabupaten Garut, gunung berapi stratovolcano setinggi 2.665 mdpl ini memiliki kawah luas yang terbentuk akibat beberapa kali erupsi. Satu lagi yang tak kalah memukau, yakni hamparan padang bunga Edelweis bernama Tegal Alun. Berada di tengah bunga keabadian akan memberikan sensasi istimewa yang tak terlupakan.

Gunung Ciremai

Dengan ketinggian mencapai 3.078 mdpl, Ciremai menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat. Kawasannya sendiri telah menjadi sebuah taman nasional dengan luas lebih dari 15 ribu hektare. Maka wajar jika rimba yang menyelimutinya merupakan habitat flora dan fauna langka, seperti elang Jawa, surili, dan macan kumbang.

Secara administratif, Taman Nasional Gunung Ciremai menempati dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Karenanya, gunung ini memiliki cukup banyak alternatif jalur pendakian, di antaranya lewat Linggasana, Palutungan, Apuy, dan Linggarjati. Bagi penyuka tantangan, cobalah mendaki dari jalur Linggarjati. 

Layaknya sebuah taman nasional, cukup banyak tujuan wisata yang bisa dikunjungi di Ciremai. Sebut saja air terjun yang tersebar di berbagai sudut, seperti Curug Sawer, Curug Sabuk, Curug Putri, dan Curug Tonjong. Dari aspek budaya, kawasan ini memiliki tempat bernilai historis tinggi dan dikeramatkan, di antaranya Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).

Di puncaknya, Gunung Ciremai mempunyai dua buah kawah. Kawah pertama beradius 400 meter yang terpotong oleh kawah kedua di timur dengan radius 600 meter. Keunikan lainnya adalah keberadaan Gowa Walet yang terbentuk akibat letusan. Titik ini merupakan salah satu tempat favorit pendaki untuk mendirikan tenda.

Gunung Cikuray

Bagi orang awam, namanya memang kurang populer. Namun para pendaki justru memiliki kesan tersendiri ketika menjelajahi gunung ini. Lokasinya sulit diakses dengan angkutan umum. Begitu mendaki, sulit menemukan sumber air di sepanjang jalan. Hanya medan yang curam dan jurang yang menganga. Di baliknya, kisah peradaban kuno Nusantara semakin menambah seru petualangan.

Berdasarkan naskah kuno, lereng Gunung Cikuray pernah menjadi mandala atau pusat pertapaan para pendeta dan pembelajaran beragam ilmu. Waktu itu adalah era Kerajaan Sunda Galuh yang berpusat di Pakuan Pajajaran. Tulisan ini masih tersimpan rapi di perpustakaan Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut.

Untuk mencapai puncak Cikuray, bisa memilih lewat Bayongbong, Cikajang, atau yang terfavorit, rute pemancar di Cilawu. Dinamakan jalur pemancar karena terdapat beberapa stasiun pemancar televisi di situ.

Puncaknya sendiri merupakan tanah datar yang cukup luas. Pada ketinggian 2.821 mdpl, Anda dapat menyaksikan matahari terbit di tengah lautan awan. Sementara di kejauhan, Gunung Ceremai dan Gunung Slamet tampak menjulang.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan (Bagian 1)

Gunung Parango shutterstock

Jelajah gunung tanah Parahyangan, Jawa Barat, mungkin tidak sepopuler kawasan Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun, seperti dua daerah lainnya tersebut, wilayah Jawa barat juga memiliki kontur geografis yang bergunung-gunung.

Jelajah Gunung Tanah Parahyangan

Tanah Pasundan malah dinilai memiliki kontur tanah yang naik turun dari ujung ke ujung wilayah. Mungkin karena itulah Jawa Barat dikenal juga sebagai tanah Parahyangan: Para Hyang atau para dewa. Mereka yang dipercaya menghuni tempat-tempat yang tinggi. Parahyangan bisa berarti tempat tinggal para dewa.

Pada wilayah inilah, wisatawan terus berdatangan, seolah tersihir oleh udaranya yang senantiasa sejuk, air yang melimpah ruah, dan segala rupa flora yang tumbuh subur. Mereka yang datang tak melulu para pecinta alam, tapi juga banyak yang sekadar ingin menikmati petualangan tipis-tipis di tanah yang indah ini. Artikel diturunkan dalam dua penayangan.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sejak pagi hingga sore hari, pintu masuk pendakian Cibodas tak juga sepi dari lalu-lalang manusia beransel besar. Umumnya mereka mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) sebagai salah satu syarat menjelajahi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

Dari situ, langkah kaki menjejaki jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pohon-pohon rasamala yang menjulang hingga 20 meter. Jika beruntung, kehadiran pendaki kerap kali disambut dengan nyanyi merdu merpati hutan atau lengkingan segerombol owa Jawa. Yang terakhir ini satwa yang semakin langka.

Oksigen yang melimpah dan tenaga yang masih utuh membuat perjalanan 1,5 kilometer tak terasa jauh. Tahu-tahu, hamparan danau berwarna kebiruan tersaji di depan mata. Itulah Telaga Biru, yang warna airnya bisa berubah-ubah akibat ulah ganggang di dasar danau. Untuk melintasinya, pendaki harus berjalan di atas jembatan kayu yang mulai reyot tergerus cuaca.

Jembatan ini pula yang mengantarkan para penjelajah ke Rawa Gayang Agung yang berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jika sudah melewati jembatan, trek kembali didominasi bebatuan dan tanah padat. Tak berapa jauh, Anda akan sampai di Pos Panyancangan Kuda.

Di pos ini terdapat bangunan kecil tempat orang berlindung dari hujan atau sekadar beristirahat sejenak. Selain itu, jalur akan terbelah menjadi dua. Belok kanan menuju Curug Cibereum, sedangkan yang lurus menuju ke puncak Pangrango. Jika punya tenaga dan waktu lebih, tak ada salahnya mampir ke Curug Cibereum dan menikmati guyuran air dari ketinggian 40 meter, sebelum kembali ke jalur pendakian.

Puas membasuh diri di percikan air terjun, jalanan berbatu menuju pos selanjutnya akan semakin terjal dan berliku. Karenanya tak ada salahnya mengambil rehat sejenak di beberapa pos yang tersedia. Jika mulai banyak bonus turunan dan tanah landai, itu berarti Anda akan segera sampai di sumber air panas.

Namun jangan senang dulu. Zona air panas ini berupa deretan panjang lereng curam, licin, dan sempit. Di bawahnya, mengalir jurang air panas dengan suhu mencapai 70 derajat celsius. Bersabarlah mengantre ketika berpapasan dengan pendaki lain yang datang dari arah berlawanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Lepas dari situ, Anda akan sampai di Pos Kandang Batu yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Tak jarang para pendaki berlama-lama bersantai di tempat ini karena ada aliran sungai berair hangat yang memanjakan tubuh.

Setelah trek ini, terhampar area tanah datar yang cukup luas. Inilah Kandang Badak, tempat para pendaki mendirikan tenda dan mengisi persediaan air. Setelah pos terakhir ini, hanya ada tanjakan curam dan seolah tak habis-habisnya menuju puncak Pangrango. Di sinilah ketahanan fisik pendaki benar-benar diuji. Seiring dengan suhu yang terus menurun, begitu pula suplai oksigennya.

Namun jika berhasil melewati jalan menanjak sekitar tiga kilometer, segala letih dan jerih itu terbayarkan. Di Puncak Pangrango atau Puncak Mandalawangi, pada ketinggian 3.019 mdpl, Gunung Gede dan panorama alam Parahyangan terbentang megah. Sementara turun sedikit ke arah barat, di Lembah Mandalawangi, permadani bunga Edelweis menyapa dengan ronanya.

Gede dan Pangrango adalah dua puncak gunung dari satu deret pegunungan yang sama dan berdekatan. Meski tampak dekat, perjalanan dari Pangrango ke Puncak Gede tak kalah terjal. Bentuknya yang memanjang menyajikan pemandangan dua kawah, yaitu Kawah Wadon dan Kawah Ratu. Sesekali, bau menyengat belerang menusuk hidung.

Jika Pangrango punya Lembah Mandalawangi, Gunung Gede punya Alun-Alun Surya Kencana. Lagi-lagi bentangan taman Edelweis menyelimuti tanah lapang, berpadu dengan sumber air jernih yang tak henti-hentinya mengaliri permukaan bumi. 

Jalur Alternatif

Selain Cibodas, pendakian ke TNGGP juga bisa dilakukan melalui jalur Gunung Putri dan Selabintana. Jalur Gunung Putri bisa ditempuh baik dari arah Bogor-Jakarta atau Cianjur-Bandung. Anda dapat berpatokan pada Pasar Cipanas. Dari sana teruskan perjalanan menggunakan angkutan umum jurusan Pasir Kampung menuju Gunung Putri. Jika memilih via Selabintana, patokannya adalah Terminal Sukabumi. Dari sana dapat meneruskan perjalanan menuju Pondok Halimun menggunakan angkutan umum atau mencarter mobil.

Persyaratan Mendaki TNGGP

  • Calon pendaki memesan slot pendakian melalui situs booking.gedepangrango.org. Formulir berisi pilihan waktu, pintu masuk, pintu keluar, dan nama-nama anggota kelompok. Sebaiknya mendaftar jauh-jauh hari karena pada hari libur kuotanya sering kali habis dengan cepat. Operator akan melakukan proses validasi data calon pendaki maksimal tiga hari kerja.
  • Membayar tiket masuk dan asuransi senilai Rp 29.000 pada hari kerja dan Rp 34.000 pada hari libur. Khusus pelajar dan Warga Negara Asing (WNA) dikenakan tarif berbeda. Pembayaran bisa dilakukan secara transfer.
  • Pada hari pendakian, silakan mengambil Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) di pintu masuk dengan menunjukkan kopi identitas, bukti pembayaran, lembar pendaftaran, dan surat pernyataan standar pendakian. Informasi lengkap cek situs booking.gedepangrango.org.
Gunung Salak shutterstock
Jelajah gunung tanah Parahyangan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Baik Gunung Salak maupun Halimun memang tak setinggi Gunung Gede Pangrango. Ketinggian Gunung Salak adalah 2.211 mdpl, sedangkan Gunung Halimun hanya 1.929 mdpl. Meski demikian, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan kawasan hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Tak ayal, keanekaragaman hayati yang tersebar sepanjang jalan begitu beragam, dari lutung, elang, bahkan macan tutul.

Apabila tujuan Anda adalah pengalaman mendaki yang memacu adrenalin, kompleks Gunung Salak yang memiliki enam puncak berbeda menjadi pilihan tepat. Namun jika sekadar ingin bertamasya, lepas dari rutinitas ibukota, Gunung Halimun menawarkan aneka area perkemahan yang ramah keluarga.

Tujuan favorit pendaki umumnya ialah Puncak Salak 1. Salah satu pilihan rutenya melalui Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Langsung saja mendaftar dan membayar Simaksi sebesar Rp 22.000 per orang di kantor TNGHS. Dari situ, terbentang satu kilometer jalanan aspal sampai ke gerbang pendakian.

Rute menuju Pos Bajuri terus menanjak, tetapi terbilang landai. Sudah ada bebatuan yang tersusun rapi agar langkah kaki tak mudah tergelincir. Pos Bajuri sendiri menyediakan lahan cukup luas untuk mendirikan tenda. Juga sudah ada sungai kecil sebagai sumber persediaan air minum. Kalau belum ingin berkemah, silakan lanjutkan perjalanan ke Puncak Bayangan.

Kali ini jalurnya lebih curam. Akar pohon yang centang perenang berupaya menghambat langkah yang mulai lelah. Ditambah lagi banyak lumpur yang membuat jalan menjadi licin. Selepas Puncak Bayangan, rintangan alam justru semakin menjadi-jadi. Kali ini jalan setapak diapit oleh jurang di kedua sisinya. Ada jembatan tali yang harus dilewati dengan sangat hati-hati.

Menuju puncak, trek berubah menjadi tanjakan yang hampir tegak lurus. Tentunya tak bisa lagi hanya mengandalkan kaki. Tangan harus berpegangan kuat pada akar pohon dan tali yang tersedia. Namun jika semua ini terlewati, Puncak Manik Salak 1 sudah menanti dengan hamparan tanah lapang yang tersaput awan tipis.

Tak jauh dari situ, menjulang Kawah Ratu dan Puncak Salak 2 yang menanti untuk dijelajahi. Jalurnya tergolong ekstrem, yaitu harus melintasi Titian Alam, punggung gunung yang terjal dan dikelilingi jurang. Maka tak perlu buru-buru melanjutkan langkah. Nikmati saja Puncak Manik 1, dengan pendaran jingga mentari yang menyapa di kala fajar.

Jalur Alternatif

Mendaki Gunung Salak juga bisa dilakukan lewat Pasir Reungit, Cimelati, dan Giri Jaya. Pasir Reungit umumnya dipilih jika pelancong ingin menyambangi Kawah Ratu terlebih dulu. Sementara Jalur Cimelati adalah jalur pendakian yang paling pendek, meski sedikit sumber airnya. Jika memilih jalur Giri Jaya, akan melewati Wana Wisata Curug Pilung yang berada di Kecamatan Cidahu, Sukabumi.

Destinasi Wisata di Kawasan TNGHS

  • Curug Cigamea

Curug Cigamea terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sejatinya ada enam air terjun di sini, tetapi Curug Cigamea menjadi primadonanya. Bukan hanya deburan air dari ketinggian 30 meter yang jadi magnet, melainkan juga aksesnya. Menuju lokasi, terdapat tangga batu permanen yang diapit oleh pemandangan asri nan hijau.

  • Bumi Perkemahan Sukamantri

Banyak hal yang dapat dilakukan ketika berkemah di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Salah satunya menuju Air Terjun Surya Kencana yang berjarak sekitar satu kilometer melewati hutan Gunung Salak yang cukup lebat. Jika tak mau repot, tersedia deretan warung makan yang menjajakan aneka masakan sekaligus menyewakan tenda dan perlengkapannya.

  • Suaka Elang Loji

Suaka Elang Loji berada di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Di tengah rimbunnya rimba TNGHS, terdapat elang Jawa, elang brontok, dan burung lainnya. Di sini dilakukan upaya penyelamatan, pengembangbiakan, dan pelepasliaran elang ke alam bebas. Pengunjung juga dapat berkemah atau mengunjungi Curug Cibadak hanya berjarak sekitar 1,3 kilometer.

Bertamu ke Orang Utan di Tanjung Puting

Kapal kapal klotok sandar

Bertamu ke orang utan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mungkin banyak yang berpikir: apa asyiknya? “Di Jakarta juga ada,” begitu sebagian orang berkata. Tapi, percayalah, bagi mereka yang senang berpetualang, bertamu ke rumah asli orang utan mempunyai sensasi tersendiri.

Bertamu ke Orang Utan

Di Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu habitat asli orang utan di dunia. Berdasar data 2018 dari Orangutan Foundation International, sembilan dari ratusan jenis fauna itu merupakan spesies primata yang dikenal dengan nama orang utan Kalimantan. Tiga di antaranya merupakan primata endemik Kalimantan.

Spesies orang utan Kalimantan termasuk langka di dunia. Tak heran kalau orang dari banyak negara datang. Mereka ingin bertemu dengan hewan yang mampu bertahan hidup hingga umur 60 tahun ini. 

Berdasarkan data Balai Taman Nasional Tanjung Putting 2017, kunjungan ke kawasan ini terbanyak justru dari wisatawan asing. Berdasar data tersebut, tercatat sebanyak 24.693 pengunjung. Dari jumlah tersebut, 14.933 orang adalah wisatawan mancanegara, dan 9.760 wisatawan nusantara.

Dari kalangan wisatawan asing, kebanyakan berasal dari Eropa dan Australia. Sejumlah tokoh dan pesohor tercatat pernah mengunjungi Taman Nasional ini dan bertamu ke orang utan. Misalnya saja founder Microsoft Bill Gates. Atau aktris film Julia Robert.

Ada kira-kira lima titik atau camp (perkampungan) orang utan yang bisa dikunjungi wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting. Camp yang paling ramai adalah Leakey yang berlokasi di lumbung taman nasional. 

Orang Utan
Orang utan di Camp Leakey, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dok. Rosana

Camp Leakey termasuk habitat orang utan. Di sana, wisatawan dapat menyaksikan orang utan melakukan aktivitas harian, seperti makan, bermain dengan sesamanya, dan meloncat di pepohonan rindang. Mereka juga akan minum susu yang telah disediakan petugas taman nasional.

Pada musim kemarau, pengunjung dapat menyaksikan orang utan di camp dengan jumlah yang lebih banyak daripada saat musim hujan. Sebab, saat kemarau, buah-buahan di tengah hutan tak banyak tumbuh sehingga orang utan lebih suka menyambangi camp untuk menyantap buah yang disediakan petugas.

Jika ingin bertamu ke orang utan, ada waktu-waktu khusus untuk berkunjung ke camp. Misalnya, pada pukul 14.00 hingga 16.00, yakni saat orang utan makan siang. Petugas akan memanggilnya dengan teriakan sampai para orang utan muncul di camp.

Tentu saja pengunjung bisa melakukan tracking ke dalam hutan untuk melihat aktifitas orang utan langsung. Tapi sebaiknya datang ke Taman Nasional ini ketika musim hujan, atau sesudah musim hujan. DI mana buah-buahan banyak di hutan. Jika datang di musim kemarau, itu tadi, cukup bertamu di camp.

Sulitkan mengunjungi Taman Nasional Tanjung Putting? Jika menggemari liburan setengah bertualang, rasanya asyik-asyik saja.

Menuju Tanjung Putting, pertama-tama pengunjung harus menuju ke kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dari pulau Jawa, ada tiga kota yang memiliki penerbangan langsung ke Pangkalan Bun: Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini. Dari Kalimantan, ada beberapa kota yang punya penerbangan ke Pangkalan Bun, seperti Balikpapan dan Banjarmasin.

Dari Pangkalan Bun, untuk menyambangi camp, wisatawan harus menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kapal klotok dari Dermaga Kumai, Pangkalan Bun. Sungai Sekonyer membentang sepanjang 45 kilometer. Di titik dekat camp, kapal klotok akan menepi dan Anda beralih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke hutan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Makan Siang di kapal Klotok
Menu makan siang di atas kapal Klotok saat menyusuri Sungai Sekonyer. Dok. Rosana

Idealnya, wisatawan menginap di kapal klotok selama 3 hari 2 malam. Ini kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan lega. Biasanya terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk beristirahat, ada dipan untuk meluruskan badan. Dan ada dek untuk bersantai, makan di alam terbuka selama perjalanan menuju camp. Wisatawan akan merasakan sensasi bermalam di tengah hutan dan menyatu bersama ratusan jenis fauna. Biaya untuk live on board, perjalanan dan tinggal di kapal, di Sungai Sekonyer berkisar Rp 2 jutaan per orang.

Taman Nasional Tanjung Puting kini semakin menjadi destinasi alternatif yang cukup digemari orang. Para penikmat jalan-jalan mulai menyambangi kawasan penangkaran orang utan di Kalimantan Tengah itu. 

Tujuan mereka adalah merasakan sensasi bermalam di kapal klotok sembari menyusuri Sungai Sekonyer dengan hutan lebat di kedua sisi sungai. Jika malam tiba, pengunjung bisa menikmati suasana hutan, kadang diayun ombak kecil. Dan, tentu saja, menyaksikan orang utan langsung di habitat aslinya.

Namanya wilayah konservasi, tentu ada sejumlah aturan yang harus diikuti jika  pengunjung datang ke camp-camp di Taman Nasional Tanjung Puting. Peraturan pertama, para wisatawan dilarang memberi makan dan minum kepada orang utan. Aturan ini jelas tertera di sejumlah tempat di Camp Leakey.

Makanan dan minuman hanya boleh disediakan oleh pihak taman nasional. Selain faktor kesehatan para primata, aturan itu dibuat agar orang-orang utan tersebut tetap hidup dengan kondisi alami mereka.

Tak cuma tak boleh memberi makanan dan minuman, bahkan pada peraturan kedua, wisatawan tak diperkenankan minum atau makan di depan orang utan. Hal itu bermaksud supaya orang utan tidak terdistraksi dengan aktivitas pengunjung.

Peraturan ketiga, pengunjung tidak boleh bersuara lantang atau berisik saat berada di Camp Leakey. Ini agar orang utan tidak merasakan perubahan suasana hutan mereka.

Peraturan keempat, nah ini sangat penting, selama menyusuri hutan pengunjung tak boleh menceburkan diri di sungai atau rawa-rawa. Ini untuk keamanan, kenyamanan dan keselamatan para pengunjung itu sendiri. Sebab, di sana buaya hidup bebas. Untuk alasan keamanan, para wisatawan diminta berjalan sesuai dengan jalur yang sudah dibuat oleh petugas.

Rasanya Taman Nasional Tanjung Putting layak masuk agenda liburan Anda selanjutnya, dan bertamu ke orang utan.

F. Rosana

Museum Geologi Bandung, Unik Sejak 1929

Museum Geologi Bandung menjadi salah satu ikon wisata di ibukota Jawa Barat.

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu objek wisata ibu kota Jawa Barat bagi mereka yang ingin belajar lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kebumian di Indonesia. Di museum ini terdapat beragam koleksi material geologi di Indonesia, seperti fosil, batuan dan sebagainya.

Museum Geologi Bandung

Berlokasi di jalan Diponegoro, museum ini berdekatan dengan dua landmark ikonik kota kembang lainnya, yakni Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Museum ini didirikan pada 16 Mei 1929, bertepatan dengan 4th Pacific Science Congress yang diadakan di Bandung kala itu.

Pembangunan dimulai sejak setahun sebelumnya, dengan gaya art deco yang diarsiteki H. M. van Schouwenburg. Awalnya, gedung ini dalam masa pendudukan Belanda diperuntukkan sebagai pusat penelitian geologi dan sumber daya mineral di Indonesia.

Museum Geologi Bandung awalnya merupakan Geologisch Laboratorium untuk penelitian geologi, mineral dan pertambangan.
Bagian depan Museum Geologi. Foto: Dok Wikimedia

Gedung ini lantas dinamakan Geologisch Laboratorium, dimana lembaga penelitian geologi, mineral dan pertambangan Belanda Dienst van den Mijnbouw bekerja. Tugasnya meliputi laporan serta pengumpulan contoh-contoh temuan seperti batuan, mineral dan fosil.

Setelahnya, dilakukan pemetaan, analisa dan penyimpanan temuan-temuan itu di gedung tersebut. Tujuannya untuk mengetahui lokasi-lokasi di tanah air yang sarat akan bahan tambang, serta dokumentasi akan kegiatan pertambangan tersebut.

Tampuk pengelolaan gedung ini pun turut berpindah-pindah dari masa ke masa. Saat Jepang mengambil alih, gedung ini sempat berganti nama dua kali menjadi Kogyo Zimusho dan Chishitsu Chosacho.

Pasca kemerdekaan, gedung ini kemudian dikelola oleh Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Pada perkembangannya, mereka sempat harus memindahkan pekerjaan beserta dokumen terkait di berbagai kota lain, lantaran upaya Belanda merebut kekuasaan kembali.

Setelah Indonesia mendapatkan kedaulatannya lagi, gedung tersebut kembali dioperasikan seperti semula. Kini fungsinya tak hanya sebagai pusat penelitian dan dokumentasi, namun juga sebagai sarana eksibisi dan edukasi kepada masyarakat umum tentang ragam ilmu kebumian.

Selain batuan mineral, Museum Geologi Bandung juga menampilkan sejumlah fosil yang ada di Indonesia.

Untuk meremajakan bangunan tersebut, pada 1999 dilakukan renovasi yang turut disponsori pemerintah Jepang lewat lembaganya Japanese International Cooperation Agency (JICA), yang mengurusi bantuan pembangunan pada negara-negara berkembang.

Setelah pengerjaan renovasi selesai, pada 23 Agustus 2000 Museum Geologi Bandung kembali dibuka untuk umum oleh wakil presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri. Museum kemudian dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga saat ini.

Secara mendasar, Museum Geologi Bandung adalah bangunan dua lantai yang masing-masing terdiri atas tiga ruangan utama. Ada tiga kategori utama yang dipertunjukkan di museum ini, yaitu sejarah geologi Indonesia, kemudian perkembangannya, serta fungsinya bagi kehidupan masyarakat.

Jika dirinci, museum ini menjadi rumah bagi 250 ribu jenis temuan batuan dan mineral, serta 60 ribu jenis temuan fosil. Selain memamerkan beragam koleksi tersebut, terdapat juga peragaan-peragaan yang dikemas dalam bentuk maket.

Masuk ke Museum Geologi Bandung, pengunjung akan menemukan pusat informasi terkait museum, serta relief peta Indonesia beserta detail geografisnya dan informasi terkait geologi yang dipertunjukkan dalam layar lebar dengan animasi.

Dari sini, pengunjung bisa memasuki area sayap barat atau sayap timur. Pada area sayap barat, dapat ditemukan koleksi batuan dan mineral, ditambah maket yang memperagakan lempeng tektonik di sekitar Indonesia, serta gunung berapi aktif dan contoh material vulkaniknya.

Sedangkan sayap timur memamerkan beragam koleksi temuan fosil dan artefak makhluk hidup di masa lalu. Contohnya kura-kura raksasa, gajah, badak dan ikan air tawar purba, serta tengkorak manusia purba yang ditemukan di lokasi seperti Trinil, Ngandong dan Sangiran.

Museum Geologi Bandung AntaraNews
Sejumlah koleksi fosil dan kerangka di Museum Geologi. Foto: Dok. Antaranews

Serta koleksi yang menjadi ikon dari museum ini adalah kerangka serta cetakan kaki dari Tyrannosaurus Rex, salah satu dinosaurus karnivor paling terkenal. Selain itu, terdapat pula maket penjelasan mengenai proses pembentukan fosil dan minyak bumi.

Naik ke lantai dua, pengunjung akan disambut oleh maket pertambangan emas di area Pegunungan Tengah di Papua. Pertambangan emas ini disebut sebagai yang terbesar di Indonesia, dan konon bahkan salah satu yang terbesar di dunia.

Di sebelah maket tersebut, dapat ditemukan pula beberapa contoh batuan yang ditemukan di area pertambangan tersebut, yang disimpan di dalam lemari kaca. Tak jauh dari situ, terdapat pula miniatur peragaan alat pengeboran minyak dan gas alam.

Khusus di lantai dua, area sayap barat dikhususkan kepada staf museum saja. Namun, di area sayap timur, terdapat setidaknya 7 section yang memberi penjelasan tentang bagaimana aspek-aspek geologi mempengaruhi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Misalnya, di salah satu section dijelaskan tentang sebaran sumber daya mineral di Indonesia dan apa saja manfaat serta kegunaannya. Section lainnya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di tanah air.

Kemudian terdapat area yang menceritakan upaya pembudidayaan sumber daya mineral, baik secara tradisional maupun modern. Diperlihatkan pula barang-barang dari bahan mineral yang lazim dipakai sehari-hari, seperti sendok, garpu, panci, piring, cangkir, tabung gas dan lainnya.

Ada pula area yang memaparkan hal-hal terkait sumber daya air. Mulai dari apa saja kegunaan dan pemanfaatannya, serta apa saja yang bisa mempengaruhi kelestariannya dan cara-cara yang dapat dilakukan agar mampu membantu melestarikannya.

Area lain menjelaskan pengolahan atas beragam jenis komoditas mineral dan energi lainnya, serta beragam kegunaan dan manfaatnya. Tak lupa, dipaparkan pula bagaimana pentingnya mengelola sumber daya tersebut serta upaya-upayanya.

Serta dua section lainnya yang tak kalah penting adalah mengenai aspek geologi yang terkait dengan gunung berapi, mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Satu area menceritakan apa saja sisi positif yang dimiliki Indonesia dengan banyaknya gunung berapi aktif tersebut. Di sisi lain, area lainnya juga menjelaskan apa saja bahayanya dari segi potensi bencana alam dan cara-cara untuk mengantisipasinya.

Saat ini, Museum Geologi Bandung buka hampir setiap hari kecuali pada hari Senin, Jumat dan setiap hari libur nasional. Khusus untuk hari Senin, pengelola museum menawarkan layanan virtual tour yang diadakan lewat siaran langsung di Youtube, atau lewat live conference via Zoom.

Lain daripada itu, museum buka pada hari lainnya mulai dari jam 09.00 hingga jam 15.00 pada hari biasa, dan jam 14.00 pada akhir pekan. Untuk tiket masuk, dikenakan biaya Rp 3 ribu untuk umum, Rp 2 ribu untuk pelajar dan Rp 10 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal pengadaan virtual tour dan hal-hal lain terkait Museum Geologi, dapat menghubungi (022) 7213822, atau lewat akun resmi Instagram @geomuzee.

Museum Geologi Bandung

Jl. Diponegoro no. 57, Bandung

agendaIndonesia/Audha Alief P./Berbagai Sumber

*****

Negeri di Atas Awan, 1 Keunikan Sumbawa Barat

Pulau Kenawa

Negeri di Atas Awan Sumbawa Barat ternyata betul-betul ada. Ini membuktikan Nusa Tenggara, baik Barat maupun Timur, memiliki begitu banyak kekayaan alam yang tak terpermanai. Kali ini kami mendaki Bukit Mantar untuk menatap Selat Alas, disambung menikmati senja di Pulau Kenawa.

Negeri di Atas Awan

Siraman sinar mentari terasa menyubit kulit. Meski berada di daerah perbukitan, cahaya hangat mulai berubah menjadi menyengat. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00. Mungkin memang begitu pagi di Bumi Undru – nama lain dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Niat ingin segera menikmati keindahan Desa Wisata Mantar di Kecamatan Poto Tano, tampaknya harus tertunda beberapa saat. Saya harus tertahan di Dusun Tapir, kampung terdekat desa wisata tersebut.

Jadilah pagi yang resah buat saya karena kendaraan 4 WD yang dinanti tak kunjung tiba. Padahal, menuju desa wisata yang kini secara administratif berada di Desa Tuananga dengan ketinggian 630 meter di atas permukaan laut itu, cuma bisa dicapai menggunakan jenis kendaraan tersebut. Jarum jam terus bergeser. Hal yang dinanti tak kunjung tiba. Tak ada pilihan selain menumpang sepeda motor. Jadilah rekan saya dibonceng warga desa yang hendak pulang, sedangkan saya meminta anak pemilik warung mengantar.

Rupanya perlu kesabaran lebih untuk bisa menginjak desa yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan itu. Apalagi jalur yang dilalui memang tak lurus dan lapang. Selepas jalan datar dengan persawahan dan menemukan gerbang Desa Mantar, perjuangan pun dimulai. Akhir tahun lalu, saat saya menginjakkan kaki di sana, jalur menanjak di perbukitan baru tahap awal diperbaiki. Jadi saya masih merasakan jalur terjal penuh batu dengan di salah satu sisi jurang.

Rasa ngeri semakin terasa ketika si pengemudi mengatakan belum lama ada kecelakaan maut karena pengendara tak cermat. Jalan berkelok, sempit, dan terjal memang perlu kehati-hatian yang tinggi. Lengah sedikit, kendaraan bisa terperosok ke jurang. Maka untuk menghilang rasa takut, sesekali saya panjatkan doa.

Jalur kelok berbahaya pun lewat, saya memasuki perkampungan, hingga bertemu tanah lapang di ketinggian. Inilah punggung Bukit Mantar, tempat para penyuka paralayang bisa mengudara dan penikmat keindahan bisa duduk termangu menatap Selat Alas, Pulau Panjang, dan kumpulan pulau-pulau kecil di Sumbawa Barat. Ada Pulau Kenawa, Pulau Mendaki, Pulau Paserang, Pulau Belang, Pulau Ular, Pulau Nako, dan Pulau Kalong yang dikenal sebagai Gili Balu – delapan pulau kecil. Selepas dari desa ini, pulau-pulau ini memang menjadi tujuan saya berikutnya.

Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun dari kejauhan kentara jelas. Desa-desa di bawah seperti Seteluk dan Senayan pun tertangkap mata dengan jelas. Saya datang bukan di hari libur, jadi suasana cukup sepi. Kios yang ada pun tutup. Namun tak lama ada sekelompok anak-anak yang datang mengagetkan menggunakan bersepeda motor. Ahhhh… saya sediki ngeri karena di sisi lain punggung bukit ternganga jurang. Di sanalah biasanya para pegiat paralayang meluncur bebas. Dalam bingkai foto, selintas anak-anak itu seperti melaju di antara awan-awan. Seperti juga sekumpulan kambing dan sepintas layaknya merumput di sebuah negeri jauh di atas awan.

Desa Mantar sebenarnya punya banyak keunikan. Kehadiran keturunan Portugis yang dulu terdampar di perairan di bawah Bukit Mantar dan rumah-rumah yang unik. Hanya karena akan singgah ke kawasan Gili Balu, maka desa tempat lokasi pengambilan gambar film Serdadu Kumbang ini pun saya jelajahi dengan waktu singkat. Lantas, sepeda motor pun kembali ke jalan yang berliku dan sempit. Sekitar 25 menit, saya sudah tiba kembali ke lokasi kendaraan diparkir di Dusun Tapir. Rasanya jalur kembali lebih cepat, mungkin karena jalan yang menurun.

Sayangnya, hanya sekejap menikmati desa yang telah ditata sebagai desa wisata ini. Rencananya, setelah menikmati dari ketinggian, dua pulau akan segera saya singgahi. Jadi tak ada pilihan selain bergegas turun dan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Poto Tano. Bagi saya, tentu tak kalah menggairah menyentuh laut langsung setelah menatapnya dari kejauhan.

Selepas Jalan Raya Seteluk ditelusuri, disambung Jalan Senayan Poto Tano, saya temukan Pelabuhan Poto Tano, tempat penyeberangan Lombok-Sumbawa. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat gerbang menuju jalan kecil dan di atasnya tertulis “Kawasan Wisata Bahari Pulau Kenawa”. Tak lama kami langsung menemukan Bachtiar, pemilik perahu. Harga pelayaran ke Kenawa Rp 300 ribu, tapi untuk dua pulau, yakni Kenawa dan Paserang, ia meminta Rp 500 ribu.

Perlu persiapan ternyata, jadi perahu tak langsung segera berangkat. Jadilah, saya mencermati bocah-bocah yang tengah bermain di dermaga. Mereka serasa berada di kolam super besar, bergantian menceburkan diri, berenang, dan tertawa lepas. Masa anak-anak yang sederhana, tapi menyenangkan. Tiba-tiba bahu saya ditepuk. Saya diberi tahu bahan bakar perahu sudah didapat dan pelambung pun sudah ditenteng pemilik perahu. Dari atas perahu, kali ini giliran saya yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan saat meninggalkan dermaga. Laut memang membawa keriangan.

Laut di Selat Alas tergolong tenang. Sekitar 30 menit, Pulau Paserang sudah di depan mata. Dermaga kayu menyambut, sementara pantai berpasir putih seperti memohon untuk segera dijejaki. Perlahan saya naik ke dermaga. Ilalang tinggi terlihat di bagian tengah pulau seluas 54,77 hektare itu. Rupanya, pulau telah disiapkan untuk destinasi wisata. Ada para pekerja yang tengah menyiapkan sejenis cottage plus fasilitasnya. Hingga wisatawan bisa menginap dengan nyaman di sini. Pilihan lain, tentunya menggelar tenda.

Menatap kedalaman laut, tiba-tiba saya melihat pari kecil lewat sekelebat. Sayangnya, tak sempat menatap lama. Selebihnya, ada sejumlah ikan-ikan kecil wara-wiri, lumayan untuk yang gemar snorkeling. Ada juga sekumpulan terumbu karang meski tak tampak warna-warni. Menyusuri pantai yang panjangnya mencapai 2,5 km bisa menjadi pilihan untuk menikmati pasir putihnya yang halus.

Menjelang sore, saatnya melaju ke Pulau Kenawa. Menangkap keindahan mentari tenggelam dari pulau yang memiliki savana dan bukit unik tersebut. Pulau seluas 13,8 hektar itu sering menjadi pilihan bagi para turis kelas ransel untuk bermalam dengan mendirikan tenda. Rasanya memang menggoda. Dari tiupan angin kencang yang membuat ilalang menari-nari, laut yang tenang, sampai bukit di tengah pulau. Sayang, saya hanya singgah untuk berayun-ayun di bawah pohon sembari menanti langit semakin memerah. Kemudian, menyusuri pasir putih dan ilalangnya, sebelum akhirnya harus rela meninggalkan pulau sebelum angin bertiup kian kencang dan langit semakin gelap. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Pilih rute penerbangan menuju Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Dilanjutkan dengan kendaraan roda empat selama 2 jam menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, yang menjadi tempat penyeberangan menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat.

Secuplik Info

1. Penyeberangan Lombok-Sumbawa sekitar 1,5 jam, tapi dengan proses kapal merapat total menghabiskan waktu 2 jam.

2. Jadwal penyeberangan antara dua pelabuhan ini tersedia dalam 24 jam.

3. Desa Mantar lokasinya sekitar 27 km dari Pelabuhan Poto Tano.

4. Untuk mencapai Desa Mantar tersedia kendaraan 4 WD dari Dusun Tapir dengan biaya Rp 25 ribu per orang. Bisa juga dengan sepeda motor atau ojek dengan biaya Rp 50 ribu per orang sekali jalan.

5. Sewa perahu menuju Pulau Paserang dan Kenawa bisa didapat langsung di dermaga kecil menuju Kawasan Gili Balu. Biasanya harga dimulai Rp 300 ribu dan sudah termasuk perlengkapan snorkeling

R. Nariswari/Frann/TL