Sate Padang punya penggemar yang spesifik, khususnya mereka yang menggemari jerohan sapi. Kuliner dari Sumatera Barat ini memang identik dengan daging sapi, atau kadang kerbau, dan sama sekali tidak menggunakan daging ayam.
Sate Padang
Bagi mereka yang senang menyantap sate dari pulau Jawa, sate Padang punya kekhasan yang tak ada bandingannya. Selain originalnya menggunakan daging sapi, yang sangat berbeda lainnya adalah kuah atau bumbu atau dressing-nya. Sate-sate di pulau Jawa dan Madura, biasanya menggunakan bumbu kacang atau kecap, sementara sate Padang menggunakan dressing dari kuah kaldu berempah yang kental.
Dari mana sesungguhnya sate Padang ini? Konon, dari sejumlah artikel, disebutkan jika masakan ini awalnya dari Pariaman, sebuah kota di pesisir Sumatera Barat. Bermula dari kedatangan para saudagar Islam dari Gujarat ke wilayah ini. Mereka rupanya tak hanya berniaga, namun juga membuka jalur bagi perkembangan agama Islam. Terutama di kota-kota di pesisir Sumatera. Situasi ini membuat banyak penganut Islam di wilayah Sumatera Barat belajar mengaji ke Pariaman.
Sate Padang ini ternyata sudah ada sejak lama dan pertama diketahui berasal dari daerah Padang Panjang. Kabarnya, saat itu sate Padang dibuat dari daging kerbau yang direbus terlebih dahulu dengan rempah-rempah. Rupanya sate ini ikut ‘terbawa’ oleh pemuda-pemuda Padang Panjang yang belajar mengaji ke Pariaman.
Dalam perjalanannya, ada sejumlah perubahan pada resep sate Padang yang asli dari Padang Panjang ketika masuk Pariaman. Sesuai karakteristik pesisir Sumatera Barat seperti Pariaman, yang masyarakatnya umumnya lebih senang dengan rasa pedas, sate dari Padang Panjang ini lalu mendapat sentuhan lebih banyak cabai dalam bumbunya. Jadilah kuah sate Padang yang ketika di Padang Panjang berwarna kuning, saat di Pariaman berubah menjadi kental merah. Tentu, selain perubahan warna, rasa bumbu atau kuah sate padang Pariaman umumnya pedas dan gurih.
Selain Pariaman, sate Padang tentu saja juga masuk ke Bukittinggi dan Payakumbuh di Kabupaten 50 Kota. Rupanya masakan ini terbawa lagi dari mereka yang belajar agama ke Pariaman saat pulang kampung. Di sini pun sate padang menyesuaikan dengan karakteristik setempat, maka sate khas Padang Panjang mengalami beberapa sentuhan baru pada bumbunya.
Pada saatnya, kemudian dikenal ada tiga jenis sate Padang yang ditentukan berdasarkan daerah asalnya, yakni Sate Padang Panjang, Sate Pariaman, dan Sate Padang 50 Kota. Dan, meskipun penampilan dan rasanya memiliki sejumlah perbedaan, namun semua orang –terutama dari luar Sumatera Barat—menyebut semua jenis sate ini secara umum tetap dengan sebutan Sate Padang.
Lalu apa saja perbedaan di antara ke tiganya? Sate yang berasal dari Padang Panjang, biasanya dikenal dengan istilah Sate Darek. Sate Padang jenis ini memiliki kuah berwarna kuning cerah, karena menggunakan campuran kunyit dalam proses pembuatannya. Rasanya gurih dengan nuansa pedas yang lembut. Kuah sate Dardek biasanya menjadi encer ketika dingin, karena itu orang harus segera menyantap satenya selagi hangat.
Sementara itu, sate Padang Pariaman biasanya memang disebut sate pariaman, ia memiliki warna kuah merah kecokelatan. Umumnya, sate Pariaman memiliki rasa pedas yang jauh lebih dominan dibandingkan sate Padang asal Padang Panjang. Kuah sate Pariaman terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, ketumbar, bawang putih dan merah, lengkuas, serai, cabai merah dan masih banyak lagi.
Sate yang satu lagi berasal dari Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Di sini orang menyebut sate Padang dengan nama sate dangung-dangung. Tak diketahui dari mana nama ini muncul, yang jelas daging sate Dangung-Dangung jauh lebih manis dan dibaluri dengan parutan bumbu kelapa kekuningan di sekelilingnya. Kuahnya berwarna kuning kecoklatan dan kental, dengan aroma wangi yang menggoda.
Meskipun berbeda nama dan kuahnya, secara umum cara memasak sate Padang dari manapun asalnya mirip. Daging segar dimasukkan dalan panci besar berisi air dan direbus dua kali agar lunak. Dua kali masak berarti menggunakan panci dan air yang berbeda. Daging diiris-iris dan dilumuri bumbu dan rempah.
Air sisa rebusan daging tidak dibuang, tapi digunakan sebagai kuah kaldu, bahan membuat kuah sate. Kuah kaldu ini dicampur dengan 19 macam bumbu rempah-rempah yang telah dihaluskan ditambahkan pula berbagai macam cabe. Seluruh bumbu kemudian dijadikan satu dan dimasak. Rempah-rempah inilah yang membuat rasa kuah sate menjadi kaya rasa yang melimpah.
Daging satenya sendiri hanya dibakar saat dipesan, karena pada dasarnya daging atau jerohan sapinya sudah matang. Sate Padang, apapun jenis dagingnya, mesti dimakan dalam keadaan masih panas atau hangat, bukan karena daging satenya namun kuahnya yang menjadi lebih encer ketika dingin. Semua sate Padang biasanya dimakan dengan ketupat yang dipotong kecil-kecil dan disajikan dalam pincuk daun pisang.
Beberapa penjual sate yang cukup dikenal masyarakatdi Jakarta atau beberapa daerah lainnya di antaranya adalah Sate Mak Syukur Padang Panjang, Sate Dangung-Dangung, atau Ajo Ramon.
Yang manapun pilihanmu, ayo sekali-kali masukkan sate Padang dalam agenda kulinermu.
Laksa di Indonesia adalah salah satu masakan yang sangat popular, terutama di daerah-daerah yang memiliki pengaruh budaya Melayu dan Tionghoa. Asal-usul laksa di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan pasti, tetapi sebagian besar orang percaya bahwa laksa pertama kali muncul di wilayah Malaysia, yang kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
laksa di Indonesia
Laksa masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan migrasi penduduk pada zaman kolonial, terutama pada masa penjajahan Belanda. Selain itu, juga terdapat pengaruh dari imigran Tionghoa yang membawa resep-resep masakan mereka ke Indonesia. Secara historis, laksa di Indonesia telah menjadi bagian integral dari kekayaan kuliner Indonesia.
Laksa sendiri merupakan hidangan yang kaya akan sejarah dan pengaruh budaya, dan nama “laksa” memiliki asal-usul yang menarik. Mengutip dari kompas.com, ada beberapa teori yang dilansir Mashable South East Asia. Di sana disebut bahwa nama “laksa” memiliki hubungan dengan pertukaran budaya melalui Jalur Sutera dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Laksa Assam. Foto: shutterstock
Salah satu teori terkait dengan nama “laksa” berasal dari kamus A Malay-English Dictionary karya R. J. Wilkinson terbitan 1901. Menurut kamus ini, kata “laksa” memiliki arti “100 ribu” dalam bahasa Sansekerta. Namun, hubungan antara angka ini dengan hidangan laksa tidak begitu jelas, sehingga masih menjadi misteri.
Masih dari artikel yang sama, ada teori lain mengenai asal-usul kata “laksa” yakni berasal dari bahasa Persia. Kata “laksa” diyakini berasal dari kata “lakhshah” yang merupakan salah satu jenis bihun. Pengaruh Persia dalam perdagangan dan pertukaran budaya di Jalur Sutera dapat menjelaskan kemungkinan asal-usul kata “laksa” dari bahasa Persia.
Dengan demikian, nama “laksa” mungkin muncul akibat interaksi budaya yang kompleks melalui Jalur Sutera, yang menghubungkan berbagai wilayah dan budaya di Asia Tenggara. Pengaruh dari bahasa Sansekerta dan Persia mungkin merupakan salah satu dari banyak elemen yang membentuk identitas kuliner laksa, mencerminkan kekayaan warisan budaya yang mengakar dalam hidangan yang begitu terkenal dan dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia.
Lalu bagaimana dengan masakan laksa di Indonesia? Terdapat beberapa jenis masakan laksa yang populer, di antaranya adalah:
Laksa Betawi
Laksa Betawi. Foto: shutterstock
Laksa ini tentu saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Laksa Betawi memiliki kuah santan kental yang kaya akan rempah-rempah. Beberapa bahan utamanya adalah mie, telur rebus, tauge (kecambah), irisan ketupat, dan daun bawang. Di Jakarta pecinta kuliner bisa menemui masakan ini di Kafe Betawi.
Ada beberapa gerai rumah makan ini, di antaranya di mal Senayan City dan Kuningan Plaza.
Laksa Bogor
Jenis laksa di Indonesia ini merupakan variasi laksa yang juga berasal dari Jawa Barat, terutama daerah Bogor. Laksa jenis ini memiliki ciri khas kuah yang kental berwarna kuning kehijauan dan menggunakan mie kuning tebal. Dalam hidangan ini, biasanya terdapat irisan ayam, telur rebus, tauge, dan daun seledri.
Kekhasan Laksa Bogor terdapat pada penggunaan oncom yang biasanya dipanggang terlebih dahulu. Terkadang juga dapat disantap dengan ketupat maupun perkedel sebagai pelengkap hidangan.
Untuk dapat menikmati masakan ini, berikut adalah warung makan yang terkenal dengan laksa Bogor. Coba datiag ke Laksa Gang Aut di Jalan Surya Kencana. Warung yang aslinya Bernama Laksa Mang Wahyu ini sudah berjualan sejak 1960-an
Laksa Palembang
Laksa di Indonesia ini berasal dari Sumatera Selatan, terutama daerah Palembang. Aslinya mirip dengan pempek yang menggunakan kuah yang terbuat dari santan, udang, dan rempah-rempah. Sering juga disebut sebagai laksan atau leksan.
Untuk yang ingin mencicipi Laksan Palembang bisa dating ke Sarapan Cek Leni di Jalan KH M. Asyik Nomor 1502, Palembang
Laksa Medan
Laksa ini berasal dari Sumatera Utara, terutama daerah Medan. Laksa Medan adalah hidangan yang terbuat dari bihun putih, timun, ikan, daun mint, dan saus asam jawa.
Laksa Medan berbahan dasar saus ikan yang sedikit asam. Rasa yang ditawarkan juga asam dan segar. Cocok untuk sore hari karena sajian ini tidak terlalu berat untuk dikonsumsi.
Di ibukota Sumatera Utara ini mudah mencari masakan laksa Medan, cobalah dating ke Jalan Yose Rizal. Di sepanjang jalan ini ada sejumlah tempat makan yang menjajakannya, tapi cobalah Rumah Makan Laksa Yose Rizal.
Laksa Ayam. Foto: shutterstock
Lalu dari sejumlah laksa tersebut, manakan yang paling enak dan terkenal? Laksa yang paling terkenal di Indonesia sulit untuk ditentukan karena setiap daerah memiliki varian dan cita rasa yang berbeda. Namun, Laksa Betawi mungkin salah satu jenis laksa yang paling dikenal secara nasional karena popularitasnya di wilayah metropolitan Jakarta, ibu kota Indonesia.
Perlu diingat bahwa variasi laksa dapat berbeda-beda bahkan di dalam satu daerah, tergantung pada bahan lokal yang tersedia dan resep keluarga atau warisan budaya. Keberagaman inilah yang membuat masakan laksa di Indonesia begitu menarik dan lezat untuk dinikmati.
Bakmi Jawa atau bakmi Yogya seperti menyeruak di antara masakan-masakan bakmi yang umumnya cenderung berasosiasi dengan masakan Tionghoa. Terlepas dari material bakminya mendapat pengaruh dari mana, namun bakmi Jawa memang origin khas Yogyakarta.
Bakmi Jawa
Pada awalnya yang dikenal sebagai bakmi Jawa adalah bakmi kuning yang diolah mengunakan bumbu-bumbu khas masakan Jawa dengan cara direbus. Orang Yogya menyebutnya bakmi godog. Biasanya orang menikmatinya dengan menyruput wedang ronde.
Namun, aslinya, bakmi Jawa mempunyai varian lain dari bakmi godog. Pilihan lainnya tentu saja ada bakmi goreng. Dalam perkembangannya, ada pedagang bakmi Jawa yang juga menyediakan bihun rebus dan bihun goreng, nasi goreng, dan, nah ini yang khas, ada pula menu yang disebut Magelangan.
Adakah hubungannya dengan kota Magelang di Jawa Tengah? Tidak salah. Di Muntilan dan Magelang, yang hanya berjarak 30 dan 42 kilometer dari Yogyakarta, jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Sebabnya, orang Muntilan atau Magelang kalau membuat nasi goreng, mereka secara otomatis menambahkan bakmi ke dalam racikan nasi gorengnya. Gaya ini yang kemudian “diadopsi” para penjual bakmi Jawa di Yogya, juga kota-kota lain.
Satu lagi cara mengolah bakmi Jawa yang khas, yakni bakmi nyemek. Dari namanya, bisa ditebak kalau bakmi jenis ini berada di antara bakmi godog dan bakmi goreng. Bakmi nyemek cenderung lebih ke bakmi godog yang kuahnya nyaris dihabiskan, sehingga meninggalkan bakmi seperti hasil digoreng namun masih cukup basah. Jenis ini biasanya tidak terlalu manis seperti jenis bakmi goreng.
Ciri khas bakmi Jawa atau bakmi Yogya adalah cara memasaknya dengan tungku tanah liat atau anglo dan menggunakan bahan bakar arang. Pada masanya, pedagang bakmi Jawa membuat pesanan bakminya dengan memasaknya satu per satu setiap porsi. Sesuai pesanan. Mereka banyak yang menolak memasak banyak pesanan dalam satu wadah wajan.
Alasannya, tentu saja soal rasa. Memasak satu per satu dianggap membuat hasil masakannya maksimal, dari kematangan dan pencampuran bumbunya. Namun, efeknya memang luar biasa. Di sejumlah tempat yang masih menggunakan cara ini, pembeli bisa antre berjam-jam. Kadang bisa ditinggal pergi untuk keperluan lain terlebih dahulu. Tapi itulah Yogya. Sungguh luar biasa cara menikmati makanan mereka.
Kondimen bakmi Jawa sesungguhnya tidak terlalu rumit. Irisan kol, tomat, telur ayam atau bebek, irisan daun bawang, dan suwiran daging ayam. Ayam yang digunakan dalam masakan bakmi Jawa tidak digoreng terlebih dahulu. Biasanya ayam-ayam ini direbus dengan sejumlah bumbu dasar untuk diperoleh air kaldunya. Yang unik, apapun pesanan bakmi kita, selalu saja bakmi akan disiram dengan air kaldu ayam tersebut.
Kekhasan lain dari bakmi Jawa adalah, sejumlah bagian dari ayam-ayam yang dimasak untuk membuat kaldu tersebut, dipisahkan untuk pesanan khusus. Misalnya saja, cakarnya, leher dan kepala, ati-ampela, juga brutunya. Bagian-bagian ini memang memiliki penggemar tersendiri.
Di sejumlah pedagang bakmi Jawa, kini kadang juga menambahkan kondimen berupa gorengan tepung, seperti bakwan namun tanpa varian campuran seperti daun-daunan atau wortel dan kecambah, yang dipotong-potong. Ini mengingatkan orang pada kekian di masakan Tionghoa.
Bakmi Jawa atau bakmi Yogya umumnya para pedagang atau juru masaknya berasal dari Desa Piyaman di Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Para penjual bakmi Jawa yang berasal dari desa tersebut kini berdagang menyebar di berbagai kota di Jawa.
Di Yogyakarta sendiri, penjual bakmi Jawa biasanya mulai keluar untuk berdagang pada waktu senja dengan meletakkan gerobak di tempat mereka biasa berdagang. Hampir tak ada kedai atau warung bakmi Jawa di Yogya yang memiliki tempat jual sendiri.
Lalu, bakmi Jawa Mana di Yogya yang paling enak? Soal rasa kembali ke selera, tapi jika ingin mencicipi yang sudah dikenal banyak orang berikut pilihannya:
Bakmi Jawa Mbah Hadi, SPBU Terban, Jalan C Simanjuntak. Letaknya ada di belakang SPBU.
Bakmi Jawa Pak Pele, Alun-alun Utara, Pojok Timur Keraton Yogyakarta. Atau cabangnya: di Desa Sembungan Bangunjiwo Bantul (sebelah barat pabrik gula Madukismo) dan di Jalan Godean (Pertigaan Bantulan).
Bakmie Lethek Mbah Mendes, Imogiri dan Maguwo.
Bakmi Jawa Mbah Rebo, Jalan Brigjen Katamso Nomor 167.
Bakmi Kadin, Jalan Bintaran Kulon Nomor 3
Bakmi Harjo Geno, Pasar Prawirotaman, Kidul Pojok Beteng Wetan
Manapun pilihanmu, jangan lupa agendakan makan bakmi Jawa saat ke Yogya.
Kuliner pinggiran jangan pernah diremehkan, tak sedikit yang justru lezat dan bikin kangen. Adalah hal hal yang wajar kalau wisata kuliner menjadi primadona dan daya tarik wisata. Hampir sebagian besar wisatawan yang liburan ke suatu daerah pasti menyempatkan waktu untuk berburu makanan khas nan legendaris di tempat itu.
Kuliner Pinggiran
Banyak wisatawan rela blusukan mencari tempat-tempat makan yang menyediakan kuliner tradisional yang khas. Meski lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, kelezatan hidangan di setiap makanan tradisional di berbagai daerah ini tidak bisa dianggap remeh. Ibarat menemukan sebuah “harta karun”, para wisatawan akan dibuat kagum dengan cita rasa yang autentik dari setiap kedai.
Lokasi tempat makan kuliner pinggiran tidak melulu berada di pinggir sawah, di pojok desa atau di dalam gang sempit saja. Para wisatawan bisa menemukan berbagai tempat makan yang menyediakan makanan tradisional di dalam pasar, tengah sawah, atau gang di dusun.
Berikut lima kuliner pinggiran yang bisa jadi pilihan ketika liburan.
Ayam Betutu Pak Sanur
Berlokasi di Ubud, Bali, Ayam Betutu Pak Sanur turut menjadi tempat makan kuliner pinggiran yang wajib dikunjungi. Tempat makan legendaris yang berada di dalam Gang Arjuna ini sudah terkenal dengan olahan ayam betutu kaya rempah dan menggugah selera.
Selain lezat, ayam betutu legendaris ini juga terkenal dengan daging ayam yang sangat empuk. Saking empuknya, setiap irisan daging bisa lepas dari tulang dengan mudah. Meski lokasinya ngumpet, Ayam Betutu Pak Sanur tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, olahan ayam betutu khas Pak Sanur kerap ludes dalam waktu singkat. Wisatawan harus datang lebih awal agar tidak kehabisan
Ayam Betutu Pak Sanur; Jl. Arjuna Nomor 19, Ubud, Bali
Es Dawet Telasih Bu Dermi
Tak melulu makanan tradisional, Solo memiliki minuman tradisional yang menarik dicicipi dan lokasinya cukup tersembunyi. Bukan di tengah sawah maupun di dalam gang, kuliner legendaris yang sudah ada sejak 1930-an ini berada di tengah Pasar Gede Solo.
Es Dawet Telasih Bu Dermi merupakan salah satu kuliner pinggiran di kota Solo yang selalu dipenuhi pengunjung dengan rasa penasaran tinggi untuk mencicipi kesegaran es dawet di tengah pasar ini. Seporsi es dawet berisikan cendol, bubur sumsum, ketan hitam, tape, dan biji selasih yang disiram dengan kuah santan. Saat diaduk, kita akan merasakan rasa gurih, manis, dan segar dalam setiap suapan.
Es Dawet Bu Dermi, Pasar Gede, Solo
Pawon Mbah Gito
Kuliner pinggiran yang berada di kota Yogyakarta, adalah Pawon Mbah Gito. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Pawon Mbah Gito menawarkan pengalaman makan makanan tradisional di tengah sawah yang sangat asri.
Pawon Mbah Gito menghadirkan suasana jadul ala pedesaan dengan konsep bangunan berbentuk rumah tradisional. Karena mengusung konsep prasmanan, kita bisa mengambil berbagai makanan tradisional sesuai selera. Minumannya juga komplet, mulai dari wedangan tradisional, serta berbagai olahan kopi maupun teh.
Pawon Mbah Gito; Jl. Pasir Luhur, Area Sawah, Ngaglik Sleman
Lele tengah diasap di Warung Mangut Lele Mbah Marto. Foto: shutterstock
Ini kuliner pinggiran yang sudah kondang. Kalau bosan makan gudeg di Yogyakarta, wisatawan harus mencicipi hidangan Mangut Lele Mbah Marto yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bisa dibilang, tempat makan ini kuliner pinggiran, karena orang harus masuk ke tengah pemukiman warga. Walau sulit dijangkau, Mangut Lele Mbah Marto hampir tidak pernah sepi pengunjung.
Layaknya di rumah nenek, saat tiba di tempat para wisatawan akan langsung diarahkan masuk ke dalam pawon (dapur), dan mengambil makanan sesuai keinginan. Setelah itu, kita bisa langsung menyantap hidangan mangut lele dengan cita rasa yang autentik.
Perpaduan aroma asap dari proses pengasapan lele meresap ke daging yang lembut dan gurih seakan langsung menyelimuti lidah. Belum lagi, kuah mangut berwarna oranye seakan membuat lidah tersetrum berkat rasa gurih pedas yang bikin ketagihan.
Selanjutnya adalah Warung Tuman, yaitu tempat makan yang memberikan pengalaman sarapan dan makan siang yang unik. Pasalnya, tempat makan hidden gem yang berlokasi di Tangerang Selatan ini mengangkat konsep berbaur dengan alam.
Warung Tuman mengajak seluruh pengunjung blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, hingga melintasi tempat pemakaman umum terlebih dahulu.
Meski terasa merepotkan, namun kita akan langsung dibuat kagum setibanya di Warung Tuman. Pecinta kuliner akan merasakan suasana asri khas pedesaan yang menenangkan. Dijamin bikin perut kenyang dan betah berlama-lama di sini.
Warung Tuman; Jl. Ciater Tengah, Serpong, Tangerang Selatan
Ini bagian ke dua 8 kuliner tradisional khas Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Nah ini 8 kuliner tradisional khas Malang.
Salah satu landmark Kota Malang. Foto: shutterstock
Ini 8 Kuliner Tradisional Khas Malang
Toko Oen Malang
Malang tak hanya dikenal dengan destinasi kuliner main course saja, tapi beberapa kedai kudapannya juga menarik untuk dicoba. Seperti misalnya Toko Oen Malang, yang sudah berjualan penganan cemilan seperti es krim dan produk pastry seperti roti, kue basah dan kue kering sejak 1930.
Nuansa era pra kemerdekaan itu masih amat kental terasa dari gaya eksterior dan interior bangunannya, yang masih dipertahankan dan kini telah menjadi cagar budaya. Plang tulisan berbahasa Belanda dan barisan pramuniaga berseragam pelayan ala Eropa tempo dulu akan menyambut pengunjung begitu memasuki kedai ini. Ini satu dari 8 kuliner tradisional khas Malang.
Faktanya, Toko Oen merupakan sebuah rantai usaha kedai makanan ringan yang pertama kali buka di Yogyakarta pada 1910, sebelum kemudian membuka cabang-cabang lainnya seperti di Semarang, Malang dan Jakarta. Pada perkembangannya, kedai di Yogyakarta dan Jakarta akhirnya tutup dan menyisakan cabang di Semarang dan Malang saja.
Bahkan, Toko Oen Malang secara kepemilikan sudah tak lagi dipegang oleh keluarga pemilik usaha aslinya, karena mereka kini hanya fokus mengelola cabang Semarang. Namun tak perlu khawatir, karena pengelola yang baru memastikan bahwa otentisitas dan kualitas menu-menu yang ditawarkan di kedai ini tetap dipertahankan.
Berada di area pusat kota, tepatnya jalan Jenderal Basuki Rahmat nomor 5 yang berdekatan dengan Alun-Alun Kota Malang, Gereja Kayutangan dan pusat perbelanjaan Sarinah, menjadikannya lokasi yang strategis bagi siapapun untuk berkunjung dan klangenan, melepas penat sambil menyantap ragam kudapan ringan yang ditawarkan.
Es krim buatan homemade menjadi salah satu menu primadona. Pengunjung bisa memilih es krim single scoop dengan pilihan rasa seperti coklat, vanilla, mocca, strawberry, sampai durian. Selain itu, tersedia juga varian kombinasi dan sundae seperti tutti frutti, napolitaine, banana split, tropicana cream, chocolate parfait, dan sebagainya.
Menu makanan ringan dan salad mereka juga banyak diminati pengunjung. Mayoritas merupakan makanan yang bergaya Belanda karena kedai ini dulunya digemari orang-orang Belanda. Contohnya pilihan pastry seperti saucijzenbrood, kippenbrood dan garnalebrood yang sejatinya adalah roti puff dengan isian daging giling sapi, ayam dan udang.
Ada pula pilihan salad seperti huzarensalade, italiaansesalade, dan groentensalade, yakni salad daging, salad ayam dan salad sayur serta buah-buahan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu main course seperti steak, burger, galantin, dan sandwich yang terbilang cukup digemari.
Yang menjadi catatan, karena memang sejak dulu didesain untuk menjadi kedai kudapan kelas atas, harga makanannya juga tak bisa dibilang murah. Seperti es krim yang punya range harga dari Rp 25 ribu hingga 60 ribu, atau salad yang berkisar dari Rp 35 ribu sampai 50 ribu. Makanan main course seperti steak juga dihargai mulai dari Rp 75 ribu sampai 80 ribu.
Tetapi, pengunjung datang ke sini bukan hanya membeli cita rasa makanannya, tetapi juga membeli pengalaman selayaknya kembali ke era kolonial; melihat dan merasakan bagaimana suasana nongkrong di masa itu, sambil menyicipi menu-menu otentik yang menjadi kegemaran kaum Belanda tempo dulu.
Orem Orem Arema
Nama makanan yang satu ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar orang, tapi tetap menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi para pemburu 8 kuliner tradisional khas Malang. Dan kedai penjual orem orem paling hits di Malang adalah Orem Orem Arema, yang berada di jalan Blitar nomor 14.
Orem orem sejatinya merupakan jenis makanan berkuah yang berisikan potongan tempe, ketupat, ayam suwir, telur asin, taoge dan ditaburi bawang goreng. Adapun kuahnya terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kencur, kunyit, daun salam, lengkuas, daun jeruk, ketumbar, dan kemiri yang diolah dengan menggunakan santan.
Orem-orem Malang. Foto: shutterstock
Kemunculan makanan ini disinyalir berawal dari kehidupan masyarakat di masa pra kemerdekaan. Saat itu, untuk sekedar bisa membuat dan makan soto ayam atau daging saja terasa sulit, karena kelangkaan dan harga daging ayam dan sapi yang oleh sebagian besar kalangan saat itu dianggap mahal.
Oleh karena itu, beberapa orang kemudian berkreasi membuat makanan sejenis soto dengan menggunakan isian potongan tempe, yang dianggap lebih terjangkau. Dari situ, orem orem kemudian hadir sebagai alternatif soto pada umumnya. Bahkan, tak jarang ia khusus disajikan dalam hajatan tertentu saja.
Meski demikian, pada perkembangannya kebanyakan orem orem yang bisa ditemukan saat ini sudah dilengkapi dengan beberapa tambahan isian di dalamnya. Seperti halnya di Orem Orem Arema, dimana pengunjung dapat memilih orem orem original atau dengan tambahan telur dan ayam suwir.
Dan sejak mereka mulai berjualan pada 1995, mereka terus menjadi salah satu rekanan utama kedai orem orem di Malang. Cita rasa gurih dan segarnya orem orem yang otentik menjadi daya tarik utama. Apalagi, dengan harganya yang hanya dibandrol Rp 8 ribu untuk orem orem original, serta Rp 11 ribu dengan tambahan telur asin dan Rp 12 ribu dengan tambahan ayam suwir, membuatnya sangat ramah kantong.
Tahu Lontong Lonceng
Satu lagi rekomendasi 8 kuliner tradisional khas Malang legendaris adalah Tahu Lontong Lonceng. Berlokasi di jalan R.E. Martadinata nomor 66, kedai tahu lontong yang sudah berjualan sejak 1935 ini dulunya berada di bawah sebuah tugu lonceng milik Belanda, sehingga pelanggannya kemudian kerap memanggilnya sebagai Tahu Lontong Lonceng.
Secara tampilannya, kedai ini cenderung terlihat kecil dan sederhana. Pun demikian dengan menunya, yang secara umum menawarkan tiga jenis makanan: tahu telur dengan lontong, tahu telur dengan nasi, serta tahu lontong tanpa telur. Harganya pun terbilang terjangkau, hanya Rp 11 ribu untuk tahu lontong tanpa telur, dan Rp 13 ribu untuk tahu telur dengan lontong maupun nasi.
Tahu Tek yang mirip Tahu Lontong. Foto: shutterstock
Dilihat dari penampilannya pun, ia terlihat seperti kuliner olahan tahu dan lontong pada umumnya. Dalam satu porsinya, terdapat irisan tahu dan taoge, dengan atau tanpa telur, yang dilumuri bumbu kacang dan disajikan dengan lontong atau nasi, serta dapat disantap dengan beberapa pilihan kerupuk.
Namun, satu hal yang membuatnya unik adalah hampir semua bahan bakunya dibuat sendiri alias homemade. Hal ini dilakukan agar dapat senantiasa menjaga tahu lontong buatannya selalu dengan cita rasanya yang otentik. Seperti tahunya yang dikenal terasa lembut, serta bumbu kacangnya yang berpadu gurih.
Otentisitas rasa, ditambah dengan harga yang ekonomis, membuatnya masih banyak digemari orang dari berbagai kalangan, dari warga sampai wisatawan, baik orang kantoran sampai anak kuliahan. Tak heran, jika kedai kecil yang buka dari jam 11.00 hingga jam 22.00 ini masih kerap dipenuhi pengunjung setiap jam makan siang dan malam.
Sate buntel Solo adalah keunikan kuliner kota Solo yang sering menjadi target untuk dinikmati lagi dan lagi. Banyak orang yang belum pernah mencicipinya beranggapan sate ini sama saja dengan sate, terutama yang berbahan daging kambing, lainnya.
Sate Buntel Solo
Sate buntel Solo punya perbedaan yang signifikan dengan sate-sate lainnya. Sate ini umumnya menggunakan daging kambing, meskipun belakangan ada pula yang mencoba menggunakan daging sapi. Perbedaan sate kambing biasa dan sate buntel terletak pada pengolahan daging kambingnya.
Pada sate kambing reguler, sebut saja begitu untuk membedakannya, menggunakan daging yang dipotong kecil-kecil lalu setiap 3-5 potong ditusuk dengan potongan bambu atau kayu. Sementara itu, sate buntel ini menggunakan daging yang dicincang lembut.
Dalam proses pembuatannya, daging kambing dicincang sampai lembut lalu dicampur dengan bumbu-bumbu khusus. Karena bumbu dicampurkan pada daging cincang yang lembut, rasa bumbu terserap dengan sempurna. Tapi itu belum semua.
Setelah bumbu dan daging tercampur penuh, kemudian ‘adonan’ itu dibentuk kepalan pada tusuk sate yang terbuat dari bambu. Tusuk sate ini lebih besar dari tusuk sate pada umumnya, agar kepalan daging tersebut bisa menempel pada tusuk satenya. Setelah berbentuk kepalan, daging kambing itu dibungkus atau dibentel dengan lapisan lemak daging, lalu di bakar hingga matang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bumbunya betul-betul meresap ke dalam daging.
‘Buntel’ dalam bahasa Jawa berarti ‘bungkus’ atau ‘balut’. Hal tersebut mengacu pada daging kambing cincang yang di-buntel menggunakan lemak daging kambing tipis sebelum dibakar.
Sate buntel biasanya disajikan dengan saus kecap manis dan beberapa bahan pelengkap seperti irisan tomat, cabe, bawang merah dan kubis atau kol. Untuk menambah rasa pada saus kecap biasanya ditambahkan merica bubuk, sehingga menambah kelezatan pada saus kecap ini.
Cara menikmati sate buntel ini juga unik. Meskipun saat dibakar ia menggunakan tusukan dari bambu, namun umumnya saat disajikan tusukan satenya dicabut dan hanya bungkusan dagingnya yang sampai di meja. Secara original, makan sate buntel biasanya dilakukan termasuk dengan lemak dagingnya. Namun, kadang ada yang menikmatinya dengan membuka bungkusan lemaknya. Mungkin untuk mengurangi efek lemaknya… ahh.
Begitupun, mana cara yang dipilih, sate buntel harus disantap ketika masih panas, karena pada saat keadaan masih panas, lemak yang membungkus daging masih meleleh. Sehingga memberikan sensasi yang khas saat menyantapnya. Teman makannya biasanya nasi putih, meskipun kadang ada yang menyandingnya dengan nasi goreng. Terserah saja.
Lalu mana saja sate buntel yang paling enak di Solo? Rasanya semuanya sama enaknya. Namun, jika ingin lebih pasti, ada beberapa warung sate buntel yang cukup legendaris di kota ini.
Pertama, tentu saja Sate Buntel Tambak Segaran. Nama ini dulunya diambil dari jalan tempat kedainya berjualan. Letaknya strategis, ada di antara dua pasar berskala besar, yakni Pasar Gede Hardjonagoro (di sebelah timur-selatannya) dan Pasar Legi (di sebelah barat-utaranya). Kini nama jalannya telah berubah menjadi jalan Sutan Syahrir. Kedainya buka di nomor 39.
Peringatan saja, bagi wisatawan muslim, hati-hati jika hendak menuju ke warung ini. Dalam satu deret ada dua warung sate buntel, pastikan masuk ke warung yang berjualan daging kambing. Sebab, warung lainnya yang hanya berselisih dua warung, menggunakan daging non-halal.
Buntelan daging kambingnya cukup besar. Satu porsi sate buntel biasanya berisi dua buntelan daging. Meski cuma dua, porsinya rasanya sama saja dengan 10 tusuk sate kambing reguler. Selain sate buntel, di warung ini penggemar kuliner bisa menikmati berbagai menu lain seperti sate kikil (kaki kambing) dan gulai kambing.
Pilihan ke dua adalah Warung Sate Kambing Mbok Galak, lokasinya ada di Jalan Ki Mangun Sarkoro nomor 112. Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1980 dan digemari banyak pejabat pemerintahan Indonesia. Konon, sate buntel dari tempat ini digemari mantan Presiden Suharto dan sejumlah menterinya. Selain sate buntelnya, yang juga banyak dipesan adalah thengkleng-nya.
Jika masih masih penasaran, bisa mencoba Sate Warung Sate Kambing Pak Manto yang terletak di Jalan Honggowongso 36, Solo. Meskipun di sini sate buntelnya juga enak, namun yang lebih dikenal adalah thengkleng kambing bumbu rica-rica.
Pilihan sate buntel lainnya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Ini mulai terkenal ketika pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia dan kegemaran kulinernya diungkap di media massa. Salah satunya adalah Sate Buntel Bu Hj. Bejo. Berlokasi di Jalan Sungai Sebakung, Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo. Selain bisa memesan sate buntel khas Solo di sini, ada pula ragam olahan kambing lainnya seperti tengkleng, sate kambing reguler, juga tongseng.
Ayo kapan-kapan agendakan kuliner kambingmu ke Solo dan menjajal sate buntel langsung di asalnya.
Gudeg Yogya menjadi masakan yang dibenci tapi rindu oleh banyak penggemar kuliner Indonesia. Dibenci, karena masakan ini punya rasa manis yang jarang disukai orang dari luar Yogyakarta. Tapi dirindu, karena meski tak pernah makan gudeg di kota asalnya, wisatawan tetap saja mengagendakan menyantap masakan ini jika ke Yogya.
Gudeg Yogya
Selama ini orang menerima saja jika disebut gudeg adalah kuliner khas kota pelajar ini. Jarang yang mencari tahu bagaimana muasal makanan ini muncul di kota itu.
Sesungguhnya tak ada catatan yang pasti bagaimana asal-usul makanan ini. Begitupun ada sebuah buku hasil penelitian seorang guru besar sekaligus peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, namanya Murijati Gardjito. Istri almarhum penerbang TNI Angkatan Udara ini, menerbitkan buku hasil penelitiannya pada 2017.
Menurut Murdijati, kemunculan Gudeg diperkirakan bebarengan dengan pembentukan wilayah Yogyakarta. Ia memperkirakan, kemungkinan bahkan tepat sebelum kota ini ada.
Berdasar buku Gudeg, Sejarah dan Riwayatnya karya Murdijati tersebut, sejarah gudeg dimulai kala abad ke-16. Makanan ini bahkan sudah ada sebelum Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berdiri. Konon, resep gudeg ditemukan pada masa Panembahan Senopati (1587-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam.
Saat hendak mendirikan Kesultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati harus membuka hutan belantara yang dikenal sebagai Alas Mentaok. Para prajurit Panembahan Senopati membabat hutan yang kelak bernama Yogyakarta ini. Alas ini ada di sebelah selatan Yogyakarta. Kawasan yang dibabat alas itu, kini lokasinya kira-kita ada di kawasan Kotagede. Ternyata di hutan tersebut terdapat banyak pohon nangka dan kelapa.
Nangka muda dan kelapa itu kemudian diolah untuk santapan bersama. Nangka muda dimasak dengan santan dari kelapa ditambah gula aren, berbagai macam bumbu, serta rempah-rempah, di dalam kuali besar yang diaduk-aduk dengan menggunakan sendok besar mirip dayung.
Dalam buku diceritakan, setelah ditebangi : “Para prajurit yang jumlahnya ratusan itu kemudian berusaha memasak nangka dan kelapa. Karena jumlah mereka sangat banyak, nangka dan kelapa dimasak di dalam ember besar yang terbuat dari logam. Pengaduknya pun besar, seperti dayung perahu.”
Tentu saja makanan hasil masak para prajurit tersebut belum ada namanya. Belum ada nama “gudeg”. Para prajurit tersebut hanya mengatakan masakan itu dengan sebutan Hangudek, yang artinya mengaduk.
Karena yang menemukan dan mencoba mengolahnya adalah para prajurit, tentu saja, kuliner ini dulunya hanya populer di kalangan prajurit. Namun lambat laun diketahui ia mulai masuk dalam daftar kuliner para ningrat, dan juga masyarakat umum. Banyak yang menggemarinya, karena bahannya mudah ditemui dan rasanya yang lezat.
Dan sejarah kemudian mencatat, gudeg dikenal sebagai salah satu jenis kuliner khas Yogyakarta. Ia menjadi salah satu tujuan kuliner yang jarang dilewatkan, sekaligus dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Gudeg umumnya terbuat dari nangka muda atau gori yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan rasa legit, manis, sekaligus gurih.
Saat ini ada dua jenis gudeg yang diketahui publik, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg biasanya disajikan bersama tahu, tempe, ayam, atau telur, yang dimasak dengan cara dibacem, dan tentunya dimakan dengan nasi putih. Selain dari gori, gudeg kemudian juga bisa dibuat dari bunga kelapa atau manggar, terkadang ditambahkan rebung alias bambu muda dan potongan daging.
Awalnya masyarakat lebih menegnal gudeg basah. Biasanya karena disantap untuk saat itu juga, gudeg masih memiliki sedikit sisa kuah dari santennya. Namun, seiring perkembangan, ada wistawan yang menginginkan gudeg sebagai oleg-oleh saat kembali ke kota asalnya, maka munculah gudeg kering.
Gudeg kering ini baru muncul sekitar tahun 60-an atau awal 70-an. Bahan-bahan betul-betul dimasak hingga hampir habis kuah santennya. Sifatnya yang kering inilah yang membuatnya tahan lama dan dimanfaatkan sebagai oleh-oleh. Kadang, agar membuatnya agak basah, gudeg yang kering itu disertakan areh. Ii dibuat dari santan kental yang diberi bumbu tertentu.
Dulu orang yang ingin membawa gudeg dari Yogya sebagai buah tangan, oleh restorannya gudeg dan ubo-rampenya diletakkan dalam kendil. Semacam mangkok bertutup dari bahan tanah liat. Kini dengan makin sempurnya cara memasak gudeg sehingga tahan lama, gudeg dikemas dalam besek.
DI manakah kita bisa menikmati gudeg yang enak di Yogyakarta? Untuk gudeg basah berikut restoran yang menyajikannya:
GUDEG PERMATA (BU NARTI); Jl. Gajah Mada No.2, Gunungketur, Pakualaman, Kota Yogyakarta.
GUDEG PAWON, Jalan janturan UH/IV No.36, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta
Ini adalah 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang hendak berlibur ke kota berjuluk Paris of East Java ini. Malang selama ini dikenal sebagai lokasi liburan keluarga dengan berbagai macam destinasi wisatanya, seperti Museum Angkut, Jatim Park, dan sebagainya. Namun, Malang juga memiliki sejumlah destinasi kuliner hits nan legendaris yang tak kalah menarik. Bahkan, beberapa di antaranya sudah berusia sekitar satu abad. Ini 8 kuliner tradisional sedap di Malang.
8 Kuliner Tradisional Sedap di Malang
Alun-alun Tugu Malang, bisa jadi untuk memulai menikmati 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Pecel Kawi Hj. Musilah
Salah satu destinasi dari 8 kuliner sedap di Malang adalah Pecel Kawi Hj. Musilah, yang berada di jalan Kawi Atas nomor 43b. Kedai nasi pecel yang sudah berdiri sejak 1975 ini bertahun-tahun begitu melegenda dan sudah menjadi favorit banyak warga lokal dan wisatawan pecinta kuliner. Tak jarang, pada waktu makan siang kedai ini dipenuhi pengunjung hingga harus mengantre.
Nasi pecel yang dijajakan di sini tergolong unik karena cenderung menyesuaikan dengan selera lidah orang Jawa Timur. Dalam artian, bumbu pecel yang digunakan memiliki cita rasa lebih gurih dan pedas, ketimbang nasi pecel di wilayah Jawa Tengah yang biasanya memiliki rasa bumbu pecel yang lebih manis.
Pecel Kawi kota Malang menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Bumbu pecel yang digunakan juga cenderung lebih pekat dan kental, dengan aroma kencur yang menambah keunikannya. Dan yang juga menarik, pengunjung bisa memesan bumbu pecel berdasarkan tingkat kepedasannya sesuai selera, sehingga pengunjung yang tidak terlalu tahan atau suka pedas tak perlu khawatir akan kepedasan.
Selain itu, harga seporsi nasi pecel yang dihargai Rp 17,5 ribu juga tergolong cukup ekonomis. Di dalamnya, terdapat isian sayur-sayuran seperti taoge, kacang panjang, kangkung dan kembang turi yang kemudian dilumuri bumbu pecel. Tak ketinggalan, tempe dan rempeyek juga hadir sebagai pelengkap.
Selebihnya, pengunjung juga dapat memesan tambahan lauk-lauk lainnya, seperti daging empal, dadar jagung alias bakwan jagung, telur bacem, telur asin, sate buntel, sate komoh atau sate sapi dengan potongan daging yang besar, dan lain lain. Beberapa pilihan minumannya pun juga menarik, seperti es timun, es buah kawista, jus buah naga, dan sebagainya.
Terdapat pula menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung, seperti nasi rawon, nasi lodeh, serta nasi campur yang merupakan nasi dengan isian lauk ayam bumbu cabe, mie goreng, oseng kentang, serta sayur buncis dan pare. Dengan ragam menu menarik tersebut, tak heran kedai yang buka dari jam 06.30 hingga 18.00 ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan sejak pagi.
Bakso President
Kuliner legendaris Malang lainnya adalah Bakso President, yang terletak di jalan Batanghari nomor 5. Lokasinya terbilang cukup unik karena bersebelahan langsung dengan rel kereta api. Kedai bakso Malang ini sudah eksis sejak 1977, dan bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pelopor maraknya hidangan bakso Malang saat ini.
Usut punya usut, kedai bakso ini awalnya merupakan usaha bakso pikulan. Seiring waktu, banyaknya pelanggan membuat usaha ini kemudian beralih menggunakan gerobak dorong, dan pada prosesnya terus berkembang dan semakin banyak penggemarnya, sampai pada akhirnya bisa berjualan menggunakan bangunan sendiri.
Uniknya, bangunan tersebut berada di dekat sebuah gedung yang dulunya merupakan bioskop bernama President, sebelum kemudian kini beralih fungsi menjadi sebuah penginapan bernama Hotel Savana. Alhasil, oleh pelanggan setianya kedai bakso ini kadung dikenal sebagai ‘Bakso President’, hingga sekarang. Kini ini satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang.
Dan seperti halnya bakso Malang yang banyak dikenal sekarang, banyak jenis bakso serta isian lainnya yang bisa dipilih. Dari baksonya saja, terdapat bermacam jenis seperti bakso kecil, bakso besar, bakso urat, bakso goreng, bakso tulang muda, bakso telur dan bakso bakar. Kemudian pilihan isiannya meliputi siomay goreng, siomay basah, ati ampela, paru, urat bakar dan tahu.
Pengunjung bisa memilih jenis bakso, isiannya serta jumlahnya sesuai selera, atau memilih paket-paket yang terdiri dari beragam kombinasi bakso serta isiannya. Mulai dari paket bakso kecil isi 5 buah, sampai campur komplit dengan semua jenis bakso dan isian. Paket campur komplit ini bahkan kerap dipesan untuk dimakan berdua, lantaran porsinya sangat banyak untuk dimakan sendirian.
Harga bakso dan isiannya secara satuan berkisar dari Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu, sementara untuk pilihan paketnya mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 34 ribu. Kalau ingin mencoba sesuatu yang berbeda, bakso bakar bisa juga dipesan dan dimakan dengan bumbu kacang. Ragam pilihan menu tersebut menjadikannya tempat favorit warga dan wisatawan untuk bersantap ringan, menikmati sore hingga malam sambil melihat kereta-kereta yang melintas.
Depot Hok Lay
Selain bakso, kuliner lainnya yang bisa dibilang cukup identik dengan Malang adalah cwie mie dan menjadi salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Cwie mie sejatinya serupa dengan mie ayam pada umumnya. Perbedaannya, ia disajikan dengan daging ayam yang sudah dicincang halus, serta irisan daun selada. Sebagai pelengkap, ia kemudian ditaburi dengan daun bawang dan bawang goreng.
Cwie Mie Malang adalah salah satu dari 8 kuliner tradisional sedap di Malang. Foto: shutterstock
Cita rasa asin dan gurih yang otentik dari cwie mie membuatnya selalu diburu pecinta kuliner saat berwisata di Malang. Pun, tak sulit mencari kedai cwie mie di kota apel ini, serta banyak dari mereka yang kerap direkomendasikan. Dari beberapa di antaranya, Depot Hok Lay yang terletak di jalan KH. Ahmad Dahlan nomor 10 adalah salah satu yang cukup mencolok.
Yang menarik dari kedai cwie mie ini adalah nuansa retro yang kental, lewat bangunannya yang sudah ada sejak 1946. Masuk ke dalam, terlihat jejeran ubin, meja dan kursi yang masih original membawa suasana kembali ke Malang tempo dulu. Jejeran foto dan pajangan yang menghiasi dinding seakan bercerita tentang sejarah kedai yang namanya secara dialek Hokkian kurang lebih berarti ‘hoki datang’.
Seperti kedainya yang terkesan sederhana, menu yang ditawarkan Depot Hok Lay juga terbilang tak neko-neko. Karena ternyata, tempat ini dulunya memang lebih diperuntukkan sebagai kedai es manisan. Belakangan, mereka juga menawarkan beberapa menu makanan pendamping, seperti cwie mie-nya yang legendaris.
Cwie mie Depot Hok Lay terkenal dengan tekstur mie buatan homemade yang cenderung halus dan tipis, serta daging ayam gilingnya yang gurih. Cwie mie kemudian disajikan dengan pangsit goreng sebagai teman makan. Kalau kurang, pengunjung juga bisa memesan tambahan pangsit goreng secara terpisah.
Selain cwie mie, ada pula beberapa menu makanan lain yang banyak digemari pengunjung. Seperti lo mie, pangsit kuah, nasi bakmoy, serta lumpia yang sudah dimodifikasi dengan resep sendiri. Menurut mereka, lumpia ala Semarang biasanya cenderung bercita rasa manis, sedangkan lumpia buatan mereka lebih asin dan gurih, menyesuaikan lidah orang Jawa Timur.
Terkenal dengan ragam menu makanan resep keluarga turun temurun, tak membuat mereka lupa dengan jati diri mereka sebagai penjaja es manisan. Menu es manisan nan segar seperti es campur, es limun, es lidah buaya, es cincau, es susu kedelai dan es puding manalagi menjadi beberapa menu unggulan di kedai ini.
Bahkan, salah satu menu minuman original mereka yang tak ditemui di tempat lain adalah es fosco, yakni minuman yang terbuat dari susu sapi murni yang diolah dengan coklat. Minuman kemudian dikemas ke dalam botol minuman soda. Rasanya terbilang unik, mirip seperti minuman kekinian salted caramel ice chocolate yang terasa manis bercampur asin.
Harga makanan dan minumannya tergolong moderat dan tak begitu mahal. Harga makanannya berkisar dari Rp 28 ribu sampai 34 ribu, sementara range harga minuman mulai dari Rp 5 ribu hingga 20 ribu. Sebagai catatan, kedai ini punya dua jam buka sehari-harinya, dari jam 09.00 sampai 13.30 pada siang hari, serta jam 17.00 hingga 19.30 saat sore. Kedai juga tutup setiap hari Selasa.
Warung Sate Gebug
Kuliner yang satu ini usianya sudah satu abad lebih. Usaha kedai sate ini sudah eksis sejak 1920 silam. Bahkan, bangunannya sudah berusia lebih tua lagi, karena sebelumnya bangunan tersebut dimiliki orang Belanda dan dipergunakan sebagai toko es batu. Setelahnya, bangunan itu dibeli untuk dipakai berjualan sate.
Sate yang dijajakan pun terbilang unik. Gebug dalam bahasa Jawa bermakna dipukul, dan ini merujuk kepada proses pembuatan sate ini, dimana potongan daging sapi yang sudah dibumbui rempah-rempah kemudian dipukul-pukul sebelum dibakar. Teknik tersebut disinyalir membuat daging menjadi lebih empuk dan bumbunya terasa lebih meresap.
Sate kemudian disajikan dengan sepiring nasi dan bumbu sambal kecap. Sebagai teman makan, disediakan pula tempe goreng dan tempe mendol, alias olahan tempe yang diulek dan dibuat adonan, bercampur dengan cabe, kencur, bawang merah, ketumbar, garam, gula dan jeruk purut. Setelah berfermentasi selama 1-2 jam, adonan kemudian digoreng dan disajikan.
Kalau ingin tambahan kuah, tersedia juga menu-menu seperti sop, soto dan rawon. Harga seporsi sate berkisar dari, Rp 30 ribu sampai 35 ribu, tergantung dari pilihan sate dengan bagian daging berlemak atau tanpa lemak. Adapun menu sop, soto dan rawon semuanya dihargai Rp 25 ribu.
Yang menarik, kedai sate yang buka dari jam 08.00 hingga 16.30 ini tergolong agak kecil. Dari tepi jalan Jenderal Basuki Rahmat, posisinya agak sedikit masuk ke dalam. Bagian eksterior serta interior bangunan juga tidak banyak berubah dari zaman pendudukan Belanda dulu, sehingga kini ditetapkan sebagai cagar budaya. Perlu diingat pula, bahwa Warung Sate Gebug selalu tutup pada hari Jumat dari hari besar Islam.
Warung Lama Haji Ridwan
Satu lagi destinasi 8 kuliner tradisional sedap di Malang yang tahun ini telah genap berusia seabad. Warung Lama Haji Ridwan diketahui sudah berjualan di area Pasar Besar Malang sejak 1925, hanya sekitar setahun setelah pasar tersebut resmi berdiri dan beroperasi. Bahkan, disebut-sebut bahwa warung ini aslinya sudah berjualan dengan gerobakan di area tersebut dari 1914, sebelum kompleks Pasar Besar dibangun.
Di warung berwujud kios kecil ini, pengunjung akan mendapatkan pilihan menu-menu masakan rumahan yang murah meriah. Beberapa di antaranya meliputi nasi rawon, nasi campur, nasi kari ayam, nasi soto daging dan sate komoh. Sebagai teman makan, disediakan juga lauk seperti telur asin, tempe goreng, tempe mendol dan perkedel.
Nasi campur menjadi salah satu menu yang paling digemari pelanggannya. Dalam seporsi nasi campur, pengunjung akan mendapatkan nasi dengan lauk tahu dan telur bumbu Bali, krengsengan daging, kering tempe, serta sayur wortel. Sate komoh yang dagingnya besar nan empuk, dengan lumuran bumbu Bali juga menjadi favorit.
Dan yang pasti, dengan porsinya yang mengenyangkan, harganya pun cukup enteng di kantong. Harga makanan di warung ini berkisar dari Rp 20 ribu hingga 25 ribu. Buka dari jam 08.00 sampai 16.00, warung yang berada di area lantai dasar ini jadi alternatif menarik untuk santap siang atau brunch.
Ini 5 rekomendasi kuliner halal di Manado, Sulawesi Utara. Meski dikenal dengan beragam jenis kuliner tradisionalnya yang menggoda lidah, penting juga untuk diingat bahwa tidak semuanya merupakan kuliner halal, mengingat banyak dari warganya yang memeluk agama non-Muslim. Sehingga menarik untuk diperhatikan apa saja kuliner khas kota 1001 gereja ini yang halal dikonsumsi bagi wisatawan Muslim.
5 Rekomendasi Kuliner Halal di Manado
Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Foto; shutterstock
Dego Dego Cafe
Ini yang pertama dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado adalah Dego Dego Cafe yang kerap menjadi salah satu tempat warga Manado dan wisatawan bersantap pagi. Dego Dego sendiri dalam bahasa lokal Manado kurang lebih berarti balai dari bambu, dan kafe ini memang secara visual terlihat sederhana dan tidak terlalu besar.
Namun, setiap paginya kafe tersebut dipenuhi oleh pengunjung, baik warga setempat maupun turis pecinta kuliner yang mencari sarapan. Usut punya usut, ternyata salah satu alasannya adalah kafe ini memiliki menu andalan kuliner tradisional yang lazim menjadi menu sarapan warga Manado, yakni Tinutuan.
Tinutuan, alias bubur Manado, adalah sebuah kuliner tradisional yang begitu populer di Manado. Warnanya cenderung kuning dan sedikit kehijauan, karena di dalamnya terdapat beberapa macam sayuran, seperti bayam dan kangkung. Warna kuning tersebut juga berasal dari olahan labu yang digunakan dalam pembuatannya.
Bubur dibuat dengan mencampurkan beras dan olahan labu, ubi dan jagung yang oleh warga setempat disebut sambiki. Setelah menjadi bubur dan mengental, barulah bubur bisa disajikan dengan menambahkan sayuran yang baru direbus setelah dipesan, serta tambahan daun kemangi untuk menambah aroma sedap.
Bubur Manado atau Tinutuan. Foto: Dok. Sajian Sedap
Sensasi hangat dan gurihnya bubur, serta segarnya sayuran menjadikannya salah satu pilihan utama santap pagi bagi warga Manado. Bahkan, karena warga Manado dikenal suka makanan pedas, tinutuan kerap dimakan dengan menambahkan ragam sambal khas Manado, seperti sambal ikan roa atau sambal bakasang, yaitu sambal yang terbuat dari isi perut ikan cakalang.
Seporsi tinutuan pun terhitung murah, hanya sekitar Rp 7 ribu. Begitu populer dan merakyatnya kuliner ini, hingga terkadang kini Manado juga dipanggil sebagai kota tinutuan. Selain tinutuan, di kafe ini juga terdapat sejumlah makanan 5 rekomendasi kuliner halal di Manado yang khas lainnya, seperti mie cakalang, nasi goreng cakalang, nasi goreng ikan roa, dan lain sebagainya. Kalau tertarik mampir, Dego Dego Cafe terletak di jalan Wakeke nomor 3.
Warung Afisha
Bicara soal 5 rekomendasi kuliner halal di Manado, maka akan identik dengan beragam jenis sajian seafood. Dan terbilang tidak sulit untuk menemukan restoran-restoran yang menjajakan aneka masakan seafood otentik. Dari restoran tersebut, salah satu yang cukup tenar dan mencolok dengan menu-menu uniknya adalah Warung Afisha, yang berlokasi di jalan Balai Kota.
Ada beberapa menu yang paling direkomendasikan di restoran ini. Salah satu dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado adalah woku belanga, yaitu olahan ikan yang dimasak di dalam belanga atau kuali yang terbuat dari tanah liat. Olahan ikan tersebut diramu dengan bumbu woku yang terbuat dari rempah-rempah seperti daun jeruk, daun kunyit, daun pandan, kemangi dan sebagainya.
Ikan yang diolah biasanya berkisar antara ikan mas. Ikan nila atau ikan kerapu. Walaupun terkadang sering juga dijumpai woku belanga yang menggunakan olahan udang, kepiting, atau bahkan ayam. Ia banyak disukai karena cita rasanya yang pedas dan gurih, serta aromanya yang begitu harum dan menggoda selera.
Menu lainnya yang menjadi primadona adalah rahang ikan tuna bakar. Setelah dibersihkan, ia dimarinasi bumbu sebelum kemudian dibakar sembari dilumuri sambal. Pengunjung juga bisa memesan rahang ikan tuna yang dimasak dengan woku, atau dengan direbus menggunakan kuah asam.
Lain dari itu, Warung Afisha juga menawarkan bermacam jenis ikan lainnya, seperti ikan tude, ikan goropa, ikan tindarung, ikan bobara, dan sebagainya. Yang menarik, dua jenis sambal andalannya, dabu dabu lilang dan rica bakar tampurung, dapat diambil sendiri sepuasnya oleh pengunjung.
Pengunjung diberikan pilihan paket nasi, lauk dan sayur yang harganya mulai dari Rp 40 ribu. Pengunjung tinggal memilih jenis lauk yang diinginkan, serta memilih sayur seperti cah kangkung, acar timun atau terong bakar. Bagi yang tidak terlalu suka pedas, juga bisa meminta agar ikan tidak dibakar menggunakan sambal.
Wisata Bahari
Satu lagi restoran seafood yang jadi salah satu dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado adalah Wisata Bahari, yang terletak di Bahu Mall Complex, jalan Wolter Monginsidi Nomor 1. Keistimewaan restoran ini bukan hanya dari aneka masakan seafood yang menggoyang lidah saja, tetapi juga karena ia berlokasi persis di tepi teluk Manado, menyajikan suasana makan di tepi pantai dengan pemandangan laut.
Memandang ke luar, akan terlihat panorama pulau Bunaken dan pulau Manado Tua yang berwujud gunung berapi aktif. Semakin terasa menarik ketika pengunjung menempati area outdoor dari restoran, yang menjadi spot favorit manakala waktu santap malam sambil menikmati pemandangan sunset.
Tak hanya nuansa dan pemandangan yang apik, pilihan menu makanannya pun tak kalah menarik. Menu-menu seperti ikan bobara bakar rica, lobster lada hitam, kepiting saus tiram, cumi cah jamur hitam, dan salad ikan goropa merupakan beberapa yang direkomendasikan. Harga makanannya berkisar dari Rp 20 ribu sampai Rp 140 ribu.
Buka dari jam 11.00 hingga 23.00, Wisata Bahari umumnya cocok menjadi tempat makan bersama teman dan keluarga. Meski berkapasitas sekitar 300 orang, namun restoran ini hampir tak pernah sepi pengunjung, sehingga jika berencana datang beramai-ramai disarankan untuk membuat reservasi terlebih dulu.
Rumah Makan Saroja
Siapa sangka, ternyata satu dari 5 rekomendasi kuliner halal di Manado juga memiliki gayanya sendiri dalam menikmati hidangan nasi kuning. Bagi pecinta kuliner yang penasaran ingin mencoba resep nasi kuning ala Manado, Rumah Makan Saroja bisa menjadi pilihan destinasi, karena restoran yang berada di jalan Diponegoro Nomor 9 ini terkenal dengan nasi kuningnya yang unik nan ikonik.
Sudah sejak 1977 restoran ini menjajakan nasi kuning khas Manado, dan sejak itu pula ia menjadi salah satu kuliner paling disukai warga lokal dan paling diburu pelancong. Bahkan, restoran ini pernah diganjar penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penjual nasi kuning terbanyak, karena begitu laris manisnya nasi kuning buatannya.
Yang membuat nasi kuning Manado ini lumayan berbeda dari biasanya adalah lauk pauknya. Di atas sepiring nasi kuning yang porsinya cukup besar, terdapat isian seperti abon ikan cakalang, semur daging sapi suwir, potongan ubi, kering kentang, bawang goreng, telur rebus, serta sambal. Seporsi nasi kuning komplit dihargai Rp 25 ribu.
Tak jarang yang datang ke restoran ini untuk santap pagi, lantaran sudah buka dari jam 06.00. Tetapi yang menarik, banyak pula yang membeli untuk dibawa pulang, bahkan sebagai oleh-oleh, karena setiap porsi nasinya dibungkus dengan daun roka. Disinyalir, penggunaan daun roka tersebut menambah aroma harum serta menjaga nasi tidak cepat basi.
Kios Es Miangas
Tak cuma kuliner main course saja, Manado juga punya beberapa kudapan manis otentik yang menarik untuk dicoba. Salah satu kedai penjual penganan ringan tersebut adalah Kios Es Miangas, kedai kudapan manis yang terhitung legendaris di Manado. Maklum, kedai ini beserta bangunannya sudah eksis sejak 1976 silam.
Es kacang merah yang segar. Foto: shutterstock
Terletak di satu sudut jembatan Miangas, di area jalan Jenderal Sudirman, menu-menu yang ditawarkan juga tidak banyak berubah sejak dulu. Beberapa di antaranya meliputi es buah, rujak buah, aneka juice buah, serta beberapa kue basah khas Manado seperti balapis, lalampa, kolombeng polote, dan sebagainya. Namun, dua menu yang dianggap paling ikonik adalah es brenebon dan gohu.
Es brenebon pada dasarnya adalah kudapan kacang merah yang disajikan dengan es serut, gula merah dan susu kental manis coklat. Sedangkan gohu merupakan potongan buah pepaya yang diracik dengan cuka, cabe, jahe, gula aren dan bakasang, alias isi perut ikan cakalang yang mengandung telur dan sudah melewati proses fermentasi.
Harga penganan-penganannya pun terhitung murah. Seperti gohu yang dihargai Rp 10 ribu, rujak buah Rp 12 ribu, es brenebon Rp 15 ribu, serta kue-kue basah yang masing-masing dihargai Rp 3 ribu per buah. Pengunjung bisa bersantai melepas dahaga dengan kudapan manis, sambil menikmati nuansa retro dari bangunan tua tersebut.
Timlo Solo tak seperti banyak masakan khas suatu daerah yang cepat berkembang ke daerah lain. Atau setidaknya punya outlet cabang atau rumah makan yang punya menu ini. Tapi, Timlo seperti betah hanya ‘berkibar’ di kota Batik itu.
Timlo Solo
Setiap lebaran atau akhir tahun, Rumah Makan Timlo Solo di Jalan Urip Sumoharjo kota itu seperti menjadi satu paket dengan kunjungan ke toko Roti Orion bagi warga Solo yang sudah menetap di kota lain. Letak keduanya memang berdekatan, hanya terpisah sekira 200-an meter. Dan ke duanya menjadi serbuan mereka yang mudik liburan. Kadang sampai antri.
Apa sesungguhnya timlo ini? Tak cukup banyak catatan sejarah mengenai asal muasal masakan ini. Namun, dari banyak penulisan artikel mengenainya, garis besarnya timlo adalah salah satu dari begitu banyak resep kuliner yang dibawa pedagang asal Tiongkok ke Jawa. Asal makanan timlo Solo memang diduga terinspirasi dari sup kimplo yang populer di budaya Tionghoa.
Dugaan tersebut terjadi karena orang memahami kimlo sebagai jenis hidangan berkuah yang berasal dari Cina. Masakan tersebut di area Jawa Timur dan Jawa Tengah berkembang menjadi sup dan beredar di kawasan Pecinan.
Untuk timlo sendiri, ada yang mengatakan kalau masakan ini sejenis sup. Namun, tak kurang ada jpula yang mengatakan ia merupakan gabungan sup dan soto. Memang, hidangan ini berkuah bening mirip sup tetapi rasanya gurih menyegarkan seperti soto.
Bumbunya sesungguhnya cukup sederhana, yakni terdiri dari air kaldu ayam, bawang putih, pala, lada, dan taburan bawang goreng di atas nasi. Saat menyantap timlo dengan nasi, bisanya nasinya dipisah atau dicampurkan ke dalamnya seperti ketika kita menyantap soto atau bakso.
Sedangkan kondimennya bisa sangat bervariasi, yakni hati ampela, telur pindang ayam atau kadang telur bebek, daging ayam, dan, nah ini yang paling khas, sosis Solo. Sosis Solo ini seperti risol dengan kulit dari telur dadar dan isian, biasanya, daging sapi giling yang sudah dibumbui. Ada yang basah, alias tidak digoreng, ada sosis Solo yang digoreng.
Sosis Solo itulah kunci kelezatan masakan timlo. Kuah dan isian lain mungkin bisa diduplikasi, namun sosisnya sangat khas.
Saat ini tidak cukup banyak restoran atau rumah makan yang menjual timlo Solo yang enak. Salah satu yang terkenal sudah disebut tadi di depan, RM Timlo Solo di Jalan Urip Sumoharjo. Rumah makan ini sudah berjualan sejak awal tahun 1960-an. Hingga kini lokasinya masih tetap. Interior restorannya pun relatif masih sama.
Seperti juga kedai-kedai soto di Jawa, selain masakan utama yang disajikan dalam mangkok, pengunjung juga disuguhi pelengkap lain yang diletakkan di piring-piring di atas meja. Begitu pula di rumah makan ini. Jika tak cukup puas dengan potongan-potongan sosis yang ada dalam mangkok, pengunjung bisa menambahkan sendiri. Tentu hitungannya terpisah.
Kedai lain penjual Timlo yang sangat terkenal dan sudah sangat lama berjualan di Solo adalah Timlo Sastro. Warung makan ini konon mulai berjualan sejak 1962 di daerah Pasar Gede, Solo. Tepatnya di sekitar belakang pasar. Sama seperti Rumah Makan Timlo Solo, Timlo Sastro hingga kini tetap mempertahankan Timlo sebagai menu utamanya.
Timlo Sastro, dikenal juga sebagai timlo Balong, karena diambil dari nama sang pendiri tempat usaha ini, almarhum Pak Sastro. Ia membuka warung tersebut awalnya hanya berupa tenda kaki lima sederhana di sebelah barat pasar. Adanya renovasi pasar suatu ketika membuat Pak Sastro harus memindahkan warungnya ke sudut belakang Pasar Gede.
Yang unik dari Timlo Sastro adalah jam buka yang cukup awal, sekitar pukul 6.30. Ini sudah berlaku sejak awal berdiri. Karena itu, sering kali warung ini menjadi tempat mampir mereka yang baru mendarat dari penerbangan pagi untuk sarapan kuliner Solo.
Pada jam-jam tertentu, ambil menikmati hidangan Timlo, pembeli dihibur oleh alunan musik tradisional, keroncong dan campursari, yang dimainkan dengan kreatif oleh sekelompok pengamen Solo. Nglaras, kata orang Solo.
Pernah mencicipi timlo Solo? Jika belum ayo agendakan kulinermu ke Solo. Berikut pilihannya:
RM Timlo Solo; di Jalan Jend. Urip Sumoharjo No.94, Purwodiningratan, Jebres, Surakarta
Timlo Sastro; di Jalan Kapten Mulyadi No.8, Sudiroprajan, Jebres, Surakarta
Timlo Maestro; di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No.60, Keprabon, Banjarsari, Surakarta
Mana yang mau dipilih, sesuai selera saja. Masing-masing warung punya ciri isi timlo tersendiri.