Tahu Pong Gajah Mada, Tahu Isinya 0

Tahu pong Gajah Mada salah satu legenda kuliner kota Semarang. Foto: shutterstock

Tahu Pong Gajah Mada Semarang boleh jadi salah satu favorit para pecinta penganan tahu. Kuliner tradisional legendaris ini telah bertahun-tahun menjadi salah satu destinasi pilihan bagi pemburu kuliner khas kota lumpia ini.

Tahu Pong Gajah Mada Atau Tahu Pong Semarang

Nama tahu pong sendiri disebut berasal dari kata kopong, yang berarti kosong atau tanpa isi. Alasannya, tahu ini digoreng sedemikian rupa dalam waktu yang lama, sehingga hasilnya bagian dalam tahu yang biasanya penuh dan padat menjadi kopong.

Ada pula yang mengatakan bahwa nama tahu pong berasal dari dialek Hokkian ‘phong’ yang artinya menggembung. Tahu pong sendiri memang wujudnya cenderung menggembung, dengan isi yang kopong serta kulitnya yang tipis dan garing.

Tahu pong Semarang lazimnya disajikan dengan bumbu kecap yang dicampur dengan petis dan bawang. Tahu lantas dinikmati dengan cara mencocol dengan bumbu kecap tersebut. Tahu yang crispy karena kopong, berpadu nikmat dengan bumbu kecap yang manis dan gurih.

Meski sejauh ini tak ada yang tahu secara persis kapan tahu pong pertama kali muncul, tetapi beberapa sumber meyakini bahwa tahu pong sudah populer beredar di kota Semarang sejak sekitar tahun 1930-an.

Dewasa ini, tahu pong juga disajikan dengan beberapa jenis olahan tahu lainnya. Misalnya, tahu gimbal yang merupakan campuran tahu dengan bakwan udang. Atau tahu emplek, sebutan bagi tahu putih goreng yang masih padat isinya.

Tahu Pong Gajah Mada sudah mulai berjaualan sejak 1950-an.
Gerai Tahu Pong Gajah Mada, Semarang

Tetapi ada beberapa hal yang membuat tahu pong Gajah Mada terbilang spesial dibanding tahu pong lainnya. Misal, tahu pong mereka disebut masih ‘murni’ kopong, tanpa ditambah bumbu atau isian lainnya, mengingat sekarang ada beberapa tahu pong sudah dimodifikasi.

Selain itu, racikan bumbu kecap mereka diklaim unik dan merupakan resep warisan pendirinya dulu. Ada pula tambahan acar lobak putih sebagai teman makan yang menambah cita rasa khas dari tahu pong buatan mereka.

Ditambah lagi, mereka memiliki varian tahu spesial yang dinamakan tahu kopyok telur. Tahu ini dimasak dengan olahan telur yang mirip seperti adonan martabak telur. Setelah digoreng, wujud dan rasanya menjadi mirip seperti Fuyung Hai.

Semua keunikan itu membuat Tahu Pong Gajah Mada menjadi buruan para pecinta kuliner. Pelanggannya pun meliputi figur publik seperti Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan salah satu pengusaha terkaya Indonesia Michael Hartono.

Maka tak heran jika Tahu Pong Gajah Mada kini begitu terkenal dan melegenda. Usaha ini sendiri sudah eksis sejak tahun 1950-an. Kala itu, sepasang suami istri bernama Sutikno dan Ngatini membuka usaha warung kaki lima tahu pong di kawasan jalan Kranggan.

Setelah mulai mendapatkan banyak pelanggan, di tahun 1972 mereka akhirnya memutuskan pindah ke sebuah bangunan tetap di kawasan jalan Gajah Mada agar mampu menampung lebih banyak pengunjung. Kedai tersebut pun masih bertahan hingga kini.

Tahu Pong Shutterstock
Tahu goreng padat di Tahu Pong Gajah Mada. Foto: shutterstock

Tak sulit untuk mencari lokasi kedai ini. Dari Simpang Lima Semarang, jalan Gajah Mada berada di antara Masjid Baiturrahman dan Hotel Ciputra. Setelah melewati dua lampu merah, kedai akan berada di kiri jalan, berdekatan dengan Hotel Gumaya dan Gereja Bethel.

Saat ini, kedai itu dikelola oleh sang anak, Marsiah. Sehari-harinya ia juga dibantu oleh anak-anak serta menantunya. Kendati pengunjung terus ramai berdatangan di kedai dua lantai ini, mereka tidak membuka cabang di tempat lain.

Tak hanya itu, mereka terus berupaya mempertahankan kualitas agar tak kehilangan pelanggan. Tahu-tahu yang mereka gunakan dipesan khusus dari perajin tahu pilihan. Dalam sehari, rata-rata mereka bisa menjual 80 hingga 100 porsi tahu pong.

Resep racikan bumbu kecap serta acar lobak putih warisan turun temurun juga terus dipertahankan. Tahu kepyok telur yang menjadi ciri khas tersendiri bagi Tahu Pong Gajah Mada juga dibuat dari telur bebek pilihan.

Seperti pada umumnya, tahu pong di sini biasanya disajikan terpisah dengan bumbu kecapnya untuk dicocol. Namun, pengunjung juga bisa menyantapnya dengan mengguyur bumbu tersebut di atas tahu, atau dapat juga menambahkan nasi agar lebih kenyang.

Biasanya, satu porsi tahu pong isi komplit disajikan dengan ragam masakan tahu-tahu lainnya. Tetapi jika anda menginginkan jenis tahu pong saja atau yang lainnya, pengunjung juga bisa memesan menu satuan atau kombinasi untuk masing-masing jenis tahu.

Satu porsi tahu pong isi komplit dihargai Rp 35 ribu. Kalau pengunjung ingin memesan jenis tahu satuan atau kombinasi jenis-jenis tahu tertentu, harganya beragam mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu.

Tahu Pong Gajah Mada Semarang buka setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 11.00 hingga 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (024) 3556440 atau mengunjungi akun resmi Instagram @specialtahupongsemarang.

Tahu Pong Gajah Mada Semarang; Jl. Gajah Mada no. 63B, Semarang

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Sate Klopo Surabaya, Legenda Sejak 1945

Sate Klopo Surabaya

Sate Klopo Surabaya menjadi salah satu ikon kota Pahlawan ini. Ia seperti menjadi penanda bagi mereka yang berkunjung ke ibukota Jawa Timur itu.

Sate Klopo Surabaya

Jalur pedestrian di tepi Jalan Walikota Mustajab Nomor 36, Surabaya, pada Minggu pagi di akhir Oktober lalu hampir dipenuhi orang. Mereka menyemut mengerubungi warung sederhana yang aslinya berkapasitas tak lebih dari 48-an orang itu. Karena masih saat pandemi Covid19, lebih banyak orang yang membeli untuk dibawa pulang. Maka pembeli mengular di luar warung

Di samping kerumunan itu, dua pemanggangan tradisional mengepul. Asap membumbung. Di baliknya, ada dua perempuan mengipasi arang. Mereka memastikan bahwa bara api tetap menyala. Sedangkan salah satu tangannya membolak-balikan sate yang jumlahnya puluhan tusuk.

Aroma daging dan sumsum yang sedang dibakar membuat pengunjung merasa tergoda mencicipi aneka sate yang ditawarkan di kedai sate tersebut. Inilah sate klopo Surabaya atau sate klopo Ondomohen Bu Asih yang tenar di Surabaya. Konon, ia bahkan sudah menjadi legenda. Usianya sama seperti usia bangsa Indonesia. Sebab, sate tersebut mulai eksis sejak 1945.

Bu Asih, pemiliknya, adalah generasi kedua penerus usaha sate keluarga. Mertua Bu Asih asli Madura. Keluarganya menjajakan sate khas Madura yang lain daripada sate pada umumnya.

Letaknya yang berada di tengah kota Surabaya menjadikan Sate Klopo Ondomohen ini mudah dijangkau dari mana saja. Disebut legendaris karenas elain sudah lama berdirinya, ia pun memiliki pengemar yang sangat luas. Tak terhenti pada warga Surabaya saja, tapi bagi siapa saja yang berkunjung ke kota ini.

Nama sate Klopo Surabaya sendiri sering membuat penasaran orang luar kota Surabaya. Pertama, tentu kata “Klopo”-nya. Dan ke dua, kata “Ondomohen”. Yang mudah dijelaskan tentu saja yang ke dua. Dulunya nama Jalan Walikota Mustajab ini adalah Jalan Ondomohen. Rupanya ini terus terbawa ketika nama jalannya berganti.

Lalu nama “Klopo”-nya. Sate Klopo ini, sesuai namanya, memang ketika proses memasaknya menggunakan tambahan kelapa. “Dagingnya satenya saya beri kelapa. Itulah kenapa namanya Sate Klopo. Klopo dalam bahasa Jawa berarti kelapa,” ungkap Asih Sudarmi (60), sang pemilik kedai Sate Klopo.

Seperti cerita bu Asih, sate klopo merupakan sate yang ditaburi dengan parutan kelapa. Sebelum dibakar, dan waktu akan diajikan ke pembeli. Unik dan berbeda. Tak heran, banyak pelanggan antre datang tiap hari. “Mereka suka dengan rasa kloponya,” kata salah pegawai Bu Asih yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di warung, Minggu pagi itu.

Sebenernya Sate Klopo Ondomohen ini seperti layaknya sate kelapa kebanyakan. Daging yang akan ditusuk layaknya sate, dibaluri dengan bumbu parutan kelapa, dibakar dengan arang pake cara tradisional, dan tentunya disajikan dengan bumbu kacang. 

Sate Klopo Surabaya Sedang dibakar
Sat Klopo sedang dibakar.

Keunikan sate klopo Ondomohen khas Surabaya ini adalah bumbu olahannya. Sebelum dibakar daging dilumuri parutan kelapa yang sudah dibumbui terlebih dahulu. Sebagai pelengkap, saat penyajian sate yang suda matang ditambahkan kelapa parutan yang sudah dimasak. Kelapa ini diparut, lalu disangrai sampai matang hingga menyerupai serundeng. Lantas ditaburkan ke atas bagian sate yang sudah matang. Warnanya yang kecokelatan akan menyaru dengan rona sambal kacang.

Ada dua pilihan daging sate yang ditawarkan di sini, yakni daging sapi dan ayam. Tusuk per tusuk bagian satenya dipastikan berdaging. Artinya, tak berkulit sedikit pun. Daging sate itu dibakar sampai empuk. Bagian-bagian permukaannya mengkilap seperti kristal.

Tatkala digigit, tekstur daging yang juicy akan memenuhi seluruh bagian mulut. Tekstur demikian terasa begitu sempurna ketika dipadukan dengan parutan kelapa. Ada sensasi renyah yang mendampingi kecapan demi kecapan.

Harmonisasi makin terasa ketika klopo pada sate klopo Surabaya bertemu dengan bumbu kacang. Gurih dan manis akan berpadu nikmat. Tak heran banyak pengunjung rela antre.

Banyak pengunjung yang terlihat sudah sering menyambangi warung ini dan selalu rela mengantre untuk sekadar jajan sate. Menurut mereka, rasa sate klopo di warung Ondomohen tak tergantikan. “Juaranya sate klopolah,” ujar seorang pembeli saat ditemui di warung itu.

Sate klopo di sini harganya per porsi sate campur dibanderol Rp 28 ribu tanpa nasi. Harga yang sepadan menimbang rasa yang tak mengecewakan.  

Warung sate ini buka mulai pukul 07.00 dan tutup pada pukul 23.00. Bila ingin berkunjung, sebaiknya Anda datang pagi-pagu benar pada hari biasa. Sebab, pada hari libur, pengunjung harus rela antre cukup lama.

AgendaIndonesia

*****

Sate Sumsum Pak Oo, Unik Sejak 1950

Sate Sumsum pak Oo di Bogor menjadi salah satu ikon kuliner di kawasan Suryakencana. --instagram pak Oo

Sate Sumsum Pak Oo Bogor atau lengkapnya Sate Sumsum dan Ginjal Pak Oo di Bogor, Jawa Barat, boleh dibilang cukup unik dibandingkan sate-sate pada umumnya. Kuliner yang cenderung anti-mainstream­ ini sudah punya penggemar tersendiri, dan bahkan telah menjadi bisnis turun temurun hingga generasi ketiga.

Sate Sumsum Pak Oo

Biasanya, sate terbuat dari potongan daging beragam jenis hewan. Jika tidak berupa daging secara keseluruhan, terkadang sate juga dikombinasikan dengan bagian lain hewan tersebut. Misalnya seperti kulit pada sate ayam, atau ati pada sate kambing.

Namun, di kedai ini pecinta kuliner akan menemukan dua jenis sate yang cukup tak lazim, yakni sate sumsum dan sate ginjal. Bahan yang digunakan adalah ginjal dan sumsum tulang belakang sapi.

Yang perlu menjadi catatan, sumsum tulang belakang ini mirip seperti otot yang memanjang dari leher sampai ekor. Ini tidak sama dengan sumsum kaki sapi yang umumnya kita temukan pada beberapa jenis kuliner lain, seperti bakso.

Bagian sumsum ini biasanya berwarna putih kemerahan. Yang unik, ketika sedang dibakar ia akan terlihat menggumpal dan berbusa. Aromanya pun cenderung lebih khas dan tercium lebih kuat dibandingkan daging sate pada umumnya.

sate sumsum pak Oo sudah dipegang oleh generasi ke tiga dan setiap hari 250 tusuk habis.
Ilustrasi sate. Foto: dok shutterstock

Adapun bagian ginjal yang digunakan cenderung berwarna lebih gelap dan pekat. Saat disajikan, ia juga akan memberikan aroma mirip gula yang dibakar. Ini dikarenakan proses karamelisasi yang terjadi setelah dilumuri kecap dan dibakar.

Di kedai Sate sumsum Pak Oo ini, pelancong bisa memesan sate sumsum dan ginjal masing-masing satu porsi isi 10 tusuk, atau masing-masing 5 tusuk dalam satu porsi. Sate disajikan dengan bumbu kacang, lengkap dengan sambal dan perasan jeruk nipis, serta tambahan nasi atau lontong.

Ketika dimakan, sate sumsum pak Oo akan terasa lembut dan kenyal. Tidak sampai lumer di mulut, namun akan terasa sangat empuk dan gurih di mulut. Sementara sate ginjal terasa lebih mirip ati, namun lebih empuk dan minim serat.

Hal inilah yang membuatnya menjadi kuliner yang punya tempat tersendiri bagi penggemarnya. Keunikan cita rasa sate ini sulit dicari di tempat lain, membuat kedai sate ini selalu ramai pengunjung dan ludes terjual tiap harinya.

Usaha kedai sate ini sendiri bermula dari seorang pria yang akrab dipanggil pak Oo pada tahun 1950. Kala itu, ia masih berkeliling menjajakan satenya dengan pikulan dari jalan ke jalan di sekitar kota Bogor.

Seiring waktu berjalan, ia akhirnya mampu mendirikan tenda kaki lima pada 1965. Pada awalnya ia mangkal di area pecinan Bogor di sekitar Babakan Pasar, tetapi dalam perjalanannya warung tersebut sempat beberapa kali berpindah tempat.

Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah kota Bogor yang beberapa kali melakukan sweeping untuk membersihkan area pinggir jalan di sekitar kota hujan tersebut. Alhasil, warung sate itu pun ikut tergusur.

Warung pun sempat pindah ke beberapa tempat lain, seperti di jalan Pedati, di depan Vihara Danagun dan di seberang pasar Bogor. Kendati demikian, ternyata warung tersebut sudah punya penggemar yang setia mengikuti kemana pun mereka pindah dan tak pernah sepi pembeli.

Setelah beberapa kali pindah, akhirnya usaha ini menjadi kedai dengan bangunan tetap di kawasan Suryakencana pada 2004. Hingga kini, usaha kedai tersebut terus dijalankan oleh generasi ketiga alias cucu pak Oo.

Sate sumsum pak Oo sejak 2004 menetap di kawasan Jalan Suryakencana, Bogor.
Kawasan Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. Foto: dok. unsplash

Lantas, apa alasan sate unik ini begitu digemari? Selain cita rasanya yang berbeda dari sate kebanyakan, kualitas rasanya juga disebut terus dipertahankan hingga kini. Kedai ini menjamin selalu menggunakan bahan baku yang diolah dari pagi harinya sebelum buka.

Setiap harinya, di pagi hari mereka mendapatkan pasokan ginjal dan sumsum tulang belakang sapi yang fresh. Bahan-bahan itu kemudian diolah dengan direbus untuk menghilangkan bau amis. Sesudahnya, baru dipotong-potong kecil dan dirangkai ke tusuk sate.

Bagi mereka, pantang untuk menggunakan bahan baku sisa kemarin. Sehingga kesegaran serta karakteristik asli dari kuliner ini pun selalu terjaga. Ini merupakan resep warisan yang diturunkan pak Oo kepada anak dan cucunya yang melanjutkan usaha ini.

Selain itu, sumsum tulang belakang sapi disebut kaya akan kandungan gizi seperti kalsium, protein, dan zat besi. Sehingga sate ini diyakini berkhasiat untuk menjaga fungsi jantung dan tekanan darah, meningkatkan zat besi, menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.

Tetapi yang penting untuk diingat adalah sate sumsum ini juga memiliki kadar lemak dan kolesterol yang cukup tinggi pula. Maka menyantap kuliner ini pun perlu kebijakan agar kadar koleterol dalam tubuh tak jadi berlebihan.

Harga satu porsi sate ini harganya sekitar Rp 50 ribu. Selain sate sumsum dan ginjal, ada pula sate daging dan ati sapi yang juga dihargai serupa. Menu sate ayam atau kulitnya pun juga tersedia, dengan harga berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu.

Yang tak kalah penting, walaupun kedai ini biasanya buka dari jam 15.00 sampai jam 20.30, namun kerap kali sekitar 250 tusuk sate yang tersedia setiap harinya sudah laris terjual sebelum jam tutup. Sehingga disarankan untuk datang lebih awal atau memesan terlebih dulu.

Sate Sumsum dan Ginjal Pak Oo

Jl. Suryakencana Nomor 193, Bogor

Telp. 0895410647637

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Kuliner Kudus, 3 Masakan Lezat Berbahan Kerbau

Nasi Pindang Kudus menggunakan daging kerbau.

Kuliner Kudus memiliki kekhasan yang hamir tidak dimiliki daerah lain, yakni menggunakan daging kerbau. Ada, setidaknya, tiga masakah khas kota kretek di Jawa Tengah ini yang punya banyak penggemar dan menggunakan daging kerbau. Jika soto Kudus sudah banyak yang tahu, tak begitu dengan sate dan pindang dagingnya.

Kuliner Kudus

Makanan yang sangat familiar dan dikenal sebagai makanan khas Kudus tentu saja soto Kudus. Sudah banyak kedai atau resto yang menjajakannya di banyak kota. Meskipun umumnya yang dijajakan yang menggunakan daging ayam. Jarang yang menawarkan sesuai aslinya dengan daging kerbau. Kalaupun ada yang menawarkan soto Kudus daging, biasanya jika di luar kota Kudus, mereka menggunakan daging sapi.

Jika soto Kudus daging kerbau jarang ada, apa lagi sate dan pindang daging kerbau. Ini termasuk langka bisa ditemukan di luar kota yang dikenal dengan produksi rokok kretek dan jenang atau dodolnya itu.

Rasanya sudah banyak yang tahu kenapa di Kudus ada banyak makanan memilih menggunakan daging kerbau dibanding sapi. Ini, tentu, ada kaitannya dengan sejarah panjang kerukunan umat beragama sejak masa Sunan Kudus.

Saat masa penyebaran agama Islam di kawasan pantai Utara Jawa Tengah, khususnya di sekitar Kudus, Sunan Kudus melihat masyarakat setempat sudah memeluk agama Hindu yang sangat menghormati sapi. Untuk menghormati pemeluk agama Hindu itu, Sunan Kudus lantas melarang pengikutnya menyembelih sapi agar tidak melukai hati pemeluk agama Hindu. Sejak itulah masyarakat yang ingin mengkonsumsi daging memilih menyembelih kerbau sebagai gantinya.

Seperti apa masing-masing masakan tersebut? Pecinta kuliner mungkin tidak asing dengan soto yang hampir tiap daerah memilikinya. Soto Kudus secara hampir mirip, terutama jika memilih yang mengunakan daging ayam. Agak berbeda jika memilih soto daging kerbau.

Soto Kudus umumnya disajikan dalam sebuah mangkuk kecil. Di dalamnya ada nasi, irisan daging kerbau, tauge, bawang putih goreng, dan kuah bening yang kaya rempah. Jika ingin lebih lengkap, bisa ditambahi sate telur puyuh, sate jerohan, perkedel, gorengan, dan paru kerbau yang bakal melengkapi semangkuk soto.

Jika ingin menyoba menyantap soto Kudus saat berada di kota ini, berikut beberapa pilihan warung yang sudah dikenal masyarakat:

Soto kudus Bu Jatmi; Jl. Kyai H. Wahid Hasim No.43, Magersari, Panjunan, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59317

Soto Kudus Pak Haji Sulichan atau Pindsot; Jl. Jend. Sudirman, Barongan, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59313

Soto Kudus Pak Ramidjan: Jl. Kudus – Jepara No.79A, Bakalan, Purwosari, Kec. Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59316

Makanan khas kudus yang selanjutnya adalah nasi pindang kerbau. Dari namanya saja, tentu sudah bisa ditebak bahwa makanan ini menggunakan daging kerbau.

Makan khas Kudus ini sekilas mirip rawon, namun aslinya berbeda. Nasi pindang menggunakan kuah santan yang membuat makanan ini berbeda dengan rawon.
Ia memang memiliki tampilan seperti rawon, dengan kuah gelap dan potongan daging. Warna hitamnya berasal dari kluwak, rempah yang digunakan agar rawon menjadi hitam.

Tampilan dari nasi pindang terbilang unik. Nasi ditaruh di atas piring yang diberi lembaran daun pisang. Setelah itu, nasi diberi kuah, daging kerbau yang sudh diiris-iris, daun melinjo hingga telur kecap rebus. Daun melinjo memang menjadi salah satu yang melengkapi sajian masakan ini. Aroma daun melinjo tercium kuat saat hidangan disajikan dengan kuah panas

Jika kebetulan mampir Kudus dan ingin mencicipi nasi pindang Kudus, berikut pilihan yang bisa jadi alternatif.

Nasi Pindang Kerbau 58: Jl. Tanjung, Nganguk, Kramat, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59312

Nasi Pindang dan Soto Kerbau Sidodadi; Wergu Kulon, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59318

Soto Kudus dan Nasi Pindang Pak Rame; Pujasera Taman Bojana, Jl. Simpang Tujuh, Barongan, Demaan, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59313

Kuliner ketiga yang juga menyajikan daging kerbau di Kudus adalah sate kerbau. Kudus memang sangat terkenal dengan kuliner sate kerbau yang paling enak dan sangat gurih sekali rasanya.

Secara umum tidak hampir tidak ada bedanya sate kerbau dengan sate kambing atau sate sapi. Begitupun, meracil sate kerbau berbeda dengan daging sapi atau kambing. Ini penyebabnya karena daging kerbau memiliki tekstur lebih keras dengan serat daging yang lebih besar. Karena itu, bumbunya juge berbeda.

Ada dua macam bumbu dasar untuk mengolah daging kerbau menjadi sate. Pertama, untuk bumbu kuah atau saus, dan kedua bumbu pencampur daging.

Bumbu saus biasanya terdiri dari garam, gula kelapa, cabai, rempah, sedikit kacang tanah, dan srundeng atau parutan kelapa yang sudah dimasak hingga berminyak. Sedangkan bumbu dagingnya menggunakana bawang, ketumbar, garam, asam kawak atau asam jawa, dan gula tebu. Bumbu untuk daging biasanya dibacem. Dengan bumbu semacam itu, tampilan sate kerbau terlihat lebih gelap.

Yang unik, saat mengolah daging kerbau, sebelum ditusuki, ada semacam urat pelapis daging yang harus dikerat dulu. Setelah itu, daging “dipukuli” agar lebih lunak. Setelah itu baru dipotongi dan ditusuki. Selain daging, beberapa warung sate kerbau di Kudus juga menyediakan beberapa menu pilihan lainnya seperti sate lidah, hati, koyor, babat hingga usus. Berikut pilihan warung yang menyediakan sate kerbau di Kudus.

Sate Kerbau dan Garang Asem Iga Alaiudin; Mlatinorowito gang 1 kavling No 25, Pikon, Mlati Norowito, Kota Kudus, Kudus Regency, Central Java 59319

Sate kerbau Pak Min Jastro; Jl. Kyai H. Agus Salim, Getas, Wergu Wetan, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59318

Warung Sate Kerbau Mas Zuhri; Getas, Getas Pejaten, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59343

Sate Kerbau 57; Jl. Kutilang No.1, Wergu Kulon, Kec. Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59317

Bagaimana, Anda tertarik mencobanya?  Ayo agendakan wisata kuliner ke Kudus.

AgendaIndonesia

Sroto Sokaraja, 4 Pilihan Santap di Banyumas

Sroto Sokaraja, pilihan santap di banyumas

Sroto Sokaraja atau kadang juga disebut Sroto Banyumas dengan mudah diidentikan dengan sajian soto yang banyak macamnya di Indonesia. Lalu apa istimewanya, dan mana yang paling wajib dikunjungi kalau pas main ke Banyumas atau Purwokerto?

Sroto Sokaraja

Masyarakat Indonesia sangat familiar dengan makanan berkuah seperti soto. Di negeri ini Indonesia sendiri banyak sekali jenis soto mulai dari soto Betawi, soto Lamongan, soto Madura, soto Banjar, atau coto Makasar. Di antara sajian berkuah masing-masing daerah itu, ada sroto Sokaraja yang menjadi kuliner andalan masyarakat Banyumas, Jawa Tengah.

Sokaraja adalah kota kecamatan yang terletak kurang lebih 8 kilometer di sebelah timur kota Purwokerto, Jawa Tengah. Secara geografis kecamatan ini ada di Kabupaten Banyumas, namun orang lebih sering mengidentikannya dengan Purwokerto. Selain jaraknya tidak terlalu jauh, yang terakhir ini memang lebih besar kotanya.

Mungkin tak cukup banyak orang pernah mendengar nama Sokaraja, namun ia punya satu makanan khas yang menjadi ikon kuliner Provinsi Jawa Tengah, yaitu sroto Sokaraja. Masyarakat setempat menyebut sroto, namun sejatinya ia masuk keluarga soto.

Meski termasuk jenis soto, namun sroto sokaraja memiliki perbedaan yang mendasar dengan soto-soto pada umumnya. Jika soto dari daerah lain memakai nasi, sroto sokaraja mirip dengan coto Makassar, menikmatinya dengan ketupat. Buras kalau di Makassar. Begitupun, tentu saja orang tetap bisa menyantapnya bersama nasi putih.

Selain itu, hal lain yang menjadi ciri khas sroto adalah pelengkapnya berupa  sambal kacang, seperti yang biasa digunakan untuk bumbu pecel. Sambal kacang yang digunakan umumnya tidak terlalu pedas dan lebih terasa gurih. Ada lagi kondimen lain yang melengkapi kekhasannya, yakni kerupuk lokal yang sering disebut sebagai kerupuk cantir. Biasanya berwarna merah atau putih.

Pada umumnya, penikmat sroto Sokaraja bisa memilih dua jenis daging yang hendak disantap, yakni ayam atau sapi. Kuah yang dipergunakan pun sama dengan dagingnya, artinya jika menggunakan daging ayam maka kuah yang digunakan juga kuah kaldu ayam. Sedangkan kuah yang digunakan jika menggunakan daging sapi yaitu kaldu sapi.

Pada mulanya daging yang digunakan dalam sroto Sokaraja yaitu daging ayam yang digoreng dengan campuran bumbu. Tetapi seiring berjalannya waktu tidak hanya daging ayam yang digunakan tetapi juga menggunakan daging sapi. Kuah soto yang digunakan didominasi oleh warna kuning dari kunyit dan dibuat dari kaldu daging ayam maupun kaldu daging sapi. Untuk menambah cita rasa kuah soto, ditambahi dengan jahe, lengkuas dan juga daun sereh.

Pada proses penyajian sroto Sokaraja, jika kita mampir di warung-warung di Purwokerto sampai ke Banyumas, konsumen biasanya ditawari juga untuk melengkapinya dengan tempe mendoan. Tempe yang diiris tipis dan digoreng dengan baluran tepung. Biasanya digoreng setengah matang.

Lalu, jika wisatawan hendak mencicipi saat mampir ke Purwokerto, warung manakah yang layak dipilih? Warung sroto yang terkenal dan sudah berdiri puluhan tahun serta menjadi langganan masyarakat di Sokaraja dan sekitarnya adal dua Soto Kecik dan Soto Lama. Namun, seriring waktu, pilihan pun bertambah. Berikut alternatif yang bisa dipilih:

Raja Soto Lama H. Suradi

Warungnya berada di jalan protokol, Raja Soto Lama H. Suradi ini memiliki dua pilihan soto yang berbeda, yaitu daging sapi dan daging ayam. Sajian sate telur puyuh, mendoan, serta aneka gorengan lainnya tersedia di meja yang sangat pas untuk disantap bersama soto.

 Lokasi: Dusun I Sokaraja Kidul, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

Soto Kecik Sokaraja

Selain rasa, keunikan sroto Kecik adalah jam bukanya yang 24 jam, alias nonstop. Ini berbeda dengan yang lain, yang tutup sore atau selepas Isa. Buka selama nonstop, ini mempermudah para wisatawan untuk menyantapnya kapanpun tanpa takut kehabisan. Yang spesial dari soto di sini adalah tersedia jeroan yang bisa dipesan untuk menambah rasa.

Lokasi: Jl. Jendral Sudirman, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

Sroto H. Loso

Sroto ini dimiliki H. Loso, namun banyak orang menyebutnya dengan Soto Jalan Bank karena letaknya di Jalan R.A. Wiryaatmaja atau Jalan Bank. Sesuai dengan nama lokasinya, soto ini berada di dekat Museum Bank Rakyat Indonesia (BRI). Lokasinya sangat mudah dicari karena soto di Banyumas ini berada di pusat kota dan sangat dekat dengan alun-alun kota.

Lokasi: Jl. RA Wiryaatmaja No.15, Pesayangan, Kedungwuluh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

Sroto Sutri

Bak surga daging, dari kejauhan saja wisatawan akan melihat para pelayan yang membawakan semangkuk soto yang penuh daging sapi. Sroto Sutri ini juga menjadi salah satu soto legendaris di Banyumas karena telah berdiri dengan usia tua dan kini berhasil memiliki dua cabang. Yang harus diketahui, jika penasaran ingin menyantapnya, datanglah di waktu-waktu awal karena soto ini seringkali ludes terjual dengan cepat.

Lokasi: Cabang 1 – Jl. Pramuka No.09, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Cabang 2 – Jalan Kertadirjan, Sokaraja,Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

AgendaIndonesia

Nasi Koyor Kota Lama, Antik Sejak 1955

Nasi koyor Kota Lama Semarang sudah ada sejak 1955 dan bertahan hingga kini. Foto: shutterstock

Nasi koyor kota lama Semarang adalah kuliner yang unik dan otentik ibukota Jawa Tengah ini. Kuliner ini bahkan terbilang antik dan legendaris karena walau sudah ada sejak lama, tapi masih ramai diminati hingga kini.

Nasi Koyor Kota Lama

Koyor, ini sebutan untuk bagian urat atau otot sapi di bagian lutut, memang cukup lazim menjadi bagian dari beberapa masakan nusantara. Begitu pun di Semarang, koyor justru menjadi bagian utama dari resep kuliner unik tersebut.

Yang membuatnya unik adalah resep nasi dengan koyor yang diramu ala ‘krengsengan’ yang menggunakan santan, dipadu dengan tambahan seperti telur, tahu, tempe, serta daging ayam atau sapi. Resep ini sudah menjadi kuliner yang menggoda lidah sejak berpuluh tahun lalu.

awan TdVadAAR Mc unsplash
Jalan Letjen Suprapto, Semarang, lokasi Nasi Koyot Kota Lama di kota tersebut. Foto: unsplash

Hal yang perlu diingat adalah walaupun mungkin secara sekilas agak terlihat dan terasa mirip, tetapi koyor tidak sama dengan kikil. Kalau koyor adalah bagian di area lutut sapi, maka kikil adalah bagian tulang rawan kaki sapi.

Untuk mengolah koyor jadi masakan juga terbilang tak sulit, tapi juga tak mudah. Butuh ketelatenan dalam proses pengolahan yang bisa berlangsung beberapa jam agar koyor menjadi kenyal. Bumbu yang diracik pun harus sesuai agar mendapatkan cita rasa gurihnya.

Maka tak heran jika hingga saat ini banyak warung penjaja kuliner ini yang masih mempertahankan cara tradisional dengan menggunakan arang. Ini dilakukan agar mendapatkan besaran api tertentu dalam memasak koyor.

Biasanya, koyor yang sudah dicuci bersih akan direbus dulu sebelum dimasak. Bahan-bahan seperti jahe, daun jeruk, daun salam, lengkuas dan garam juga digunakan saat merebus. Tujuannya agar ia menjadi empuk serta menambah rasa gurih secara alami.

Proses ini rata-rata bisa berlangsung selama setidaknya tiga jam. Setelah matang, ia dipisahkan dan dipotong-potong. Kemudian ia direndam kembali dengan campuran santan dan gula merah agar bumbunya meresap.

Barulah sesudah koyor dapat dimasak dengan bumbu halus bawang putih, bawang merah, kunyit, ketumbar dan kemiri. Setelah disajikan, koyor yang empuk dan kenyal akan berpadu dengan paduan rasa manis, gurih dan spicy.

Selain disuguhkan dengan nasi dan beberapa tambahan lauk, biasanya di dalam nasi koyor terdapat pula sayur kacang panjang. Terkadang nasi koyor kota lama bahkan juga dihidangkan dengan gudeg.

Di Semarang, para pemburu kuliner masa lalu masih bisa menemukan beberapa warung-warung penjual nasi koyor tersebut. Salah satu yang bisa dibilang paling terkenal dan legendaris adalah Warung Nasi Koyor Kota Lama.

Terletak berdekatan dengan gedung Marba dan gedung Spiegel di kawasan Kota Lama, warung ini disebut sudah berdiri sejak 1955. Yulianti bersama dengan suaminya adalah generasi kedua yang melanjutkan bisnis kuliner ini.

Menurutnya, warung ini dulunya buka di situ karena ayahnya pernah bekerja sebagai petugas keamanan di area gedung Marba. Berbekal resep warisan keluarga, warung berbentuk semi permanen hanya selebar trotoar tersebut didirikan dan mampu terus eksis hingga kini.

Nasi Koyor Kota Lama Semarang mengandalkan masakan dari koyor atau urat yang digemari sejak lama.
Kedai Nasi Koyot Kota Lama Semarang. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf

Setelah melanjutkan bisnis orang tuanya sejak 2015 lalu, ia memutuskan untuk mempertahankan bentuk dan keaslian dari warung tersebut. Nyatanya, itu tak menurunkan animo pengunjung, bahkan hingga kalangan figur publik seperti pejabat.

Warung tersebut juga masih mempertahankan cara memasak dengan arang. Menurut Yuli, cita rasa serta aroma masakan yang dibuat menjadi lebih spesial. Potongan koyornya pun tergolong besar-besar. Tak kurang sekitar tujuh kilogram koyor yang digunakan setiap harinya.

Namun diakuinya pula bahwa belakangan ini menu yang tersedia tak selengkap dulu. Padahal, warung ini sebelumnya juga menyediakan menu-menu lain seperti masakan paru, iso, babat dan limpa.

Hal ini disebabkan sulitnya mendapat pasokan bahan baku, setelah Pasar Johar tempat Yuli memperoleh bahan-bahan tersebut dipindahkan. Ditambah lagi, ternyata peminat menu-menu tersebut dewasa ini agak menurun.

Kendati demikian, minat pengunjung kepada nasi koyor kota lama sebagai sang menu utama tersebut tak kunjung surut. Meskipun normalnya warung buka dari jam 09.00 hingga sore hari, tapi tak jarang makanan sudah ludes terjual sejak jam makan siang.

Dalam satu porsi nasi koyor Kota Lama, biasanya sudah mendapatkan tambahan gudeg, sambal goreng tahu, sayur kacang panjang dan kering tempe. Telur, tahu dan tempe juga tersedia sebagai tambahan. Porsinya pun terbilang cukup banyak dan mengenyangkan.

Seporsi nasi koyor di warung ini dihargai Rp 25 ribu, walau terkadang naik sedikit menjadi Rp 28 ribu bila hari libur. Kalau ingin menambah lauk seperti telur dan lain lain hanya perlu menambah sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Secara umum, harganya cukup terjangkau.

Hanya saja, karena memang selalu ramai pengunjung dan cenderung cepat habis, pelancong yang ingin mencoba harus bersiap datang dari awal sejak warung mulai buka. Selain itu, tempatnya memang kecil, sehingga berpotensi harus mengantri untuk dapat meja dan tempat duduk.

Warung Nasi Koyor Kota Lama Semarang

Jl. Letjen Soeprapto no. 33, Semarang

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Pempek Palembang, Asal-usul Dan 8 Jenisnya

Pempek Palembang menjadi salah satu pusaka kuliner Indonesia. Foto: shutterstock

Pempek Palembang adalah makanan khas daerah itu yang terbuat dari ikan yang digiling halus dan dicampur dengan tepung sagu, air, garam, dan bahan-bahan lainnya. Makanan ini memiliki rasa gurih dan kenyal, dan biasanya disajikan dengan kuah cuko, potongan timun dan sambal.

Pempek Palembang

Asal-usul pempek Palembang hingga saat ini tidak diketahui secara pasti, namun ada beberapa teori yang mengaitkan asal-usulnya dengan sejarah Palembang. Salah satu teori menyatakan bahwa pempek berasal dari pengaruh budaya kulinari Tionghoa di Palembang pada abad ke-16. Pada masa itu, orang Tionghoa membawa teknik pembuatan fish ball dan fish cake ke Palembang, yang kemudian berkembang menjadi pempek.

Teori lain merujuk ke masa yang lebih lampau dan menyatakan bahwa pempek sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Palembang atau Sumatera Selatan pada abad ke-7 hingga ke-13. Pada masa itu, makanan yang terbuat dari ikan dan sagu telah dikenal sebagai makanan yang populer di kawasan tersebut.

pempek Palembang setidaknya ada 8 jenis, salah satunya adalah Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam cirinya ada telor di dalamnya. Foto: shutterstock

Teori ke dua ini, mengutip laporan kompas.com, yang mengutip buku Pempek Palembang Makanan Tradisional dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan, pempek diduga sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya atau sekitar abad 7 Masehi.

Dugaan itu berdasarkan temuan di Prasasti Talangtuo yang menyatakan bahwa tanaman sagu sudah ada di Palembang sejak abad ke-7. Selain itu disebutkan pula bahwa pempek adalah hasil karya dari masyarakat Kayu Agung, suku yang gemar berdagang menggunakan kapal pinisi.
Suku Kayu Agung atau Komering Kayu Agung adalah suku asli Indonesia yang berasal dari kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan. Ketika itu para penduduk Kayu Agung berdagang dengan cara barter kemudian mendapatkan sagu dan ubi. Mereka kemudian mengkreasikan antara sagu dengan ikan yang ditangkap saat berlayar dalam perjalanannya berdagang.

Ada pula teori yang bersumber dari cerita mulut-ke mulut, yakni bermula dari seorang pria keturunan Tionghoa yang biasa dipanggil Apek atau paman. Dalam bahasa Hokkian, paman disebut “empeg” atau “apeq”. Ia hidup di masa pemeritahan Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin Sultan Mahmud Badaruddin II.

Apek ini, disebutkan tinggal di pinggiran Sungai Musi, memiliki ide untuk memanfaatkan potensi ikan yang melimpah. Selain digulai dan digoreng, ia berkeinginan mengolah potensi ikan tersebut menjadi sajian lain.

Akhirnya, Apek pun mengolah ikan hasil tangkapannya dan mencampurnya dengan tepung. Sajian tersebut sekilas mirip dengan makanan bakso yang dibawa pedagang Tiongkok ke Palembang. Apek pun kemudian menjual makanan buatannya dengan cara berkeliling. Saat itu, ia belum memberikan nama kepada hasil racikannya.

Awalnya pempek dikenal dengan nama Kelesan yang tidak lain merupakan alat yang digunakan untuk menghaluskan daging ikan berbentuk cembung dengan semacam kuping di sisi yang berhadapan. Belakangan, konon namanya kemudian berubah di tangan pembeli. Ketika ada pembeli yang ingin mencobanya, mereka pun memanggil Apek dengan ujung namanya saja, yakni “Pek…Pek.”

Pempek Palembang Jenis Adaan shutterstock
Pempek adaan bentuknya seperti bakso goreng. Foto: shutterstock

Di masa penjajahan Belanda, pempek menjadi makanan yang populer di kalangan penduduk asli Palembang. Para pedagang Belanda dan Cina yang berdagang di Palembang juga menyukai makanan ini dan membawanya ke tempat lain di Indonesia. Seiring dengan waktu, pempek menjadi makanan yang populer di seluruh Indonesia dan bahkan mendunia.

Hingga saat ini, pempek masih menjadi makanan khas Palembang yang sangat populer. Kini, pempek sudah memiliki banyak varian, seperti pempek lenjer, pempek kulit, pempek kapal selam, dan lain sebagainya. Pempek juga telah menjadi industri kecil yang menghidupi banyak orang di Palembang dan sekitarnya.

Sekitar 1916, makanan pempek mulai dijajakan di kawasan keraton, sekitar Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang. Awalnya, pembuatan pempek menggunakan ikan belida, namun karena ikan tersebut semakin langka dan harganya mahal para pedagang kemudian mengganti dengan ikan lain. Umumnya ikan tenggiri. 

Untuk menyantap pempek Palembang, pedagang biasanya menyajikan dengan cairan yang disebut cuko. Ini adalah saus yang biasanya disajikan sebagai pelengkap saat makan pempek Palembang.

Pempek Palembang Bakar shutterstock
Sekarang juga ada pempek yang dibakar. Foto: shutterstock

Cuko terbuat dari air, cuka, gula merah, garam, udang ebi, cabai rawit, dan bawang putih yang dihaluskan. Bahan-bahan tersebut kemudian direbus hingga matang dan tercampur secara merata. Saus cuko ini memiliki rasa asam, manis, pedas, dan sedikit gurih yang sangat cocok untuk dipadukan dengan pempek.

Ada beberapa variasi cuko yang dijual di pasar, tergantung dari selera dan kebiasaan masyarakat setempat, namun umumnya rasa dan komposisi bahan dasar cuko untuk makan pempek Palembang hampir sama di berbagai daerah.

Sejak dahulu, cuko khas Palembang memiliki cita rasa pedas. Namun, seiring masuknya pendatang dari luar Sumatera, saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis.


Ada beberapa jenis pempek Palembang:

  1. Pempek kapal selam: berbentuk seperti kapal selam dengan isian telur ayam dan udang di dalamnya.
  2. Pempek lenjer: ini sering disebut ibu dari pempek, berbentuk panjang dan pipih, dengan tekstur yang lembut dan kenyal.
  3. Pempek keriting: Pempek ini berbentuk seperti keriting atau keriting rambut.
  4. Pempek adaan: Pempek ini berbentuk bundar dan pipih, dengan tekstur yang lembut dan kenyal.
  5. Pempek kulit: Pempek ini terbuat dari kulit ikan tenggiri yang digiling halus dan dicampur dengan bahan-bahan lainnya.
  6. Pempek lenggang, ini adalah adonan dasar pempek campur telur bebek. Kemudian, diletakkan di atas daun pisang berbentuk kotak.
  7. Pempek isi udang: berbentuk bundar dan pipih, dengan isian udang di dalamnya.
  8. Pempek tahu: Pempek ini terbuat dari tahu yang diisi dengan campuran ikan dan bahan-bahan lainnya.

Setiap jenis pempek memiliki ciri khas dan rasa yang berbeda-beda, namun semuanya tetap mengandung cita rasa asli khas Palembang.

Jika sempat main ke Palembang dan pengen mencicipi pempek yang enak, berikut beberapa pilihannya:

  1. Pempek Noni 168 di Jalan Jenderal Sudirman 952 20 Ilir III, Palembang
  2. Pempek 26 Ilir, Jalan Beringin Janggut, Talang Semut, Palembang
  3. Pempek Ek Dempo 103, Jalan Lingkaran, Ilir Timur I, Palembang
  4. Pempek Candy, Jalan Jendral Sudirman, Sungai Pangeran, Palembang
  5. Pempek Leny, Jalan Petanang, Palembang
  6. Pempek 71 Prabumulih, Jalan Bangau 088, Prabumulih
  7. Pempek Pak Raden, Jalan HM Dhani Effendi, Palembang

agendaIndonesia

*****


Lokal dan Barat Di Puhu Restaurant & Lounge

Lokal Dan barat di Puhu resto and lounge

Lokal dan barat di Puhu Restaurant and Lounge, menyatu dalam setiap menu yang disajikan di Padma Ubud, Bali. Hidangan lokal yang sarat bumbu, dan olahan Barat yang sesuai dengan lidah asing.

Lokal dan Barat di Puhu

Agak temaram saat tiba di ruangan terbuka dari Puhu Restaurant & Lounge, restoran dengan menu Asia dan internasional, yang berada di Padma Resort Ubud di Payangan, Gianyar, Bali. Bangku kayu yang simpel dan suasana malam di luar menjadi tawaran lain di samping hidangannya. Untuk yang bersama dengan pasangan, bisa duduk di bagian luar dengan bisikan alam yang lebih terasa. Di dalam, lebih hangat dengan dekorasi kayu, termasuk pilar-pilar kayu yang besar. Ditambah iringan musik sang pianis, dengan tembang-tembang 1990-an.

Rasa lapar dari sore hari membuat saya memilih sajian dengan karbohidrat tinggi. Apalagi kalau bukan nasi, sesuai dengan perut Asia, meski hidangan internasional pun bertebaran di menu. Mata saya pun langsung menangkap kata nasi goreng. Ehmm … ada beberapa pilihan olahan khas lokal ini. The Puhu nasi goreng spesial berada di paling atas dalam daftar hidangan. Ada pula nasi goreng senggol Payangan—nasi goreng kampung dengan ayam goreng, udang goreng, sate daging sapi, dan telur mata sapi. Namun saya memilih nasi goreng buntut. Untuk perut yang kosong, selain mengenyangkan, paduan nasi goreng buntut dengan sambal hijau, sate daging sapi, dan omelet itu memang rasanya terbilang jempolan.

Kebanyakan koki resto dengan mayoritas tamu orang asing akan mengurangi kadar rempah dan rasa pedasnya. Tapi tak demikian dalam olahan di Puhu ini. Rasa pedas pada sambalnya membuat lidah cukup kepanasan, dan rempah pada buntutnya pun cukup kuat. Dalam menu, pada hidangan seharga Rp 118 ribu ini, memang tertera gambar cabai. Bila tak mau rasa pedas, bisa memilih dua jenis nasi goreng lainnya.

Hidangan yang kemudian saya pilih pada makan malam berikutnya pun lagi-lagi bertanda cabai. Saya pun dibikin mabuk kepayang oleh sambal hijau yang dipadu dengan bebek goreng dan tumis bayam. Bebek nan garing dengan sambal hijau yang pedas benar-benar membikin selera makan langsung melonjak. Sajian seharga Rp 128 ribu itu membuat rasa lelah langsung sirna, dan saya pun bisa beristirahat dengan tenang setelah seharian mengunjungi beberapa obyek wisata di pulau ini. Pilihan sajian Indonesia lainnya, bila ingin berkuah, bisa berupa soto ayam, sop buntut goreng atau rebus, atau rawon sapi.

Seorang staf pun menuturkan, sang koki adalah orang Bali, bahkan asli dari Desa Puhu. Dikenal sebagai Chef CK. Banyak menonjolkan olahan lokal dengan bumbu yang berlimpah, tapi dengan pengalamannya bekerja di sejumlah resto di berbagai negara, sang juru masak pun piawai memasak hidangan Eropa atau internasional lainnya.

Malam itu, rekan saya memilih menu internasional. Mulai surf and turf, tak lain dari dua potong daging panggang yang dibikin bulat, dengan udang sungai besar, bayam, kentang, dan asparagus. Harga dipatok Rp 246 ribu. Daging panggang yang empuk. Berikutnya, ia mencoba pan roasted ricotta cheese stuffed chicken breast, olahan ayam dengan keju dan ricotta yang cukup mengenyangkan dan tentunya penuh protein. Jadilah penggemar makanan lokal dan internasional sama-sama puas. Untuk minuman, silakan pilih macam-macam mocktail, jus, atau wine yang memang tersedia di cellar.

Puhu Restaurant & Lounge; Padma Resort Ubud; Banjar Carik, Desa Puhu; Payangan, Gianyar, Bali

SUGUHAN LAIN

Sebagian ruang Puhu Restaurant & Lounge terbuka. Sekalipun duduk di bagian dalam, Anda tetap bisa menghirup udara luar dan menatap ke luar karena pintu memang terbuka lebar. Bila mampir di sore hari, atau saat langit belum gelap, perbukitan hijau, juga taman-taman dengan bambu-bambu di beberapa sisi, bisa ditemukan di sekeliling hingga 180 derajat sejauh mata memandang. Hotel memang berada di ujung sebuah bukit, hingga lembah di depan resto pun menjadi suguhan spesial bagi para tamu.

Di bagian tengah, di antara taman, ada juga kolam luas yang terlihat seperti tanpa tepi. Kolam yang melebar ini menjadi pemandangan khas saat orang berada di Puhu. Sementara interior ruang yang banyak menggunakan kayu, berhiaskan pilar besar. Langit-langit pun terbuat dari kayu. Atmosfer cokelat yang alami, harmonis dengan suguhan alam di sekeliling. Di balkon dengan meja khusus dua orang, udara luar langsung menjadi santapan pertama. Pagi menjadi saat makan sembari menghirup udara segar, sedangkan malam menjadi makan romantis dengan langit berbintang dan hamparan air yang terkena cahaya lampu. Di lounge dan bar, bila ingin melepas lelah setelah makan malam, bisa ditemukan beragam wine, cocktail, dan gin. l

Rita N./Bintari R./Dok. TL

Lawar Nyawan, 1 Masakan Ekstrim Bali

Lawar Nyawan Bali merupakan salah satu makanan eksttim bagi wisatawan asing.

Lawar nyawan adalah sensasi menikmati makan lawar dengan kondimen nyawan atau tawon atau lebah. Buat wisatawan asing di Bali, ini salah satu makanan ekstrim di Indonesia.

Lawar Nyawan

Lawar adalah salah satu kuliner khas Bali. Dan dari beberapa jenis lawar yang ada, boleh jadi lawar nyawan adalah salah satu yang paling unik. Kuliner khas pulau Dewata tersebut merupakan resep tradisional yang coba terus dilestarikan hingga kini.

Pada dasarnya, lawar adalah masakan yang memadukan ragam sayuran, serutan kelapa muda dan daging cincang yang dibumbui terasi serta bumbu ala Bali. Daging yang digunakan pun beragam, dari sapi, kambing, babi, cumi-cumi, bebek, ayam bahkan labi-labi atau bulus.

Lawar Khas Bali shutterstock
Lawar nyawan adalah kembangan dari masakan khas Bali, lawar. Foto: dok. shutterstock

Makanan ini dulunya disajikan untuk perayaan adat atau syukuran keluarga di Bali. Pada awalnya, lawar disajikan dengan darah daging hewan tersebut. Ini karena lawar dianggap melambangkan keseimbangan antara Brahmana (darah), Iswara (serutan kelapa muda), dan Wisnu (terasi).

Selain itu, lawar juga dikenal memiliki campuran rasa manis, asin, pedas dan asam yang melambangkan keharmonisan. Maka dalam acara perayaan tersebut ia menjadi simbol doa dan harapan agar hidup senantiasa harmonis dan adil/seimbang.

Setiap daerah di Bali pun memiliki ciri khas lawarnya masing-masing. Misalnya, di daerah Gianyar dan Badung, lawar yang disajikan dominan menggunakan sayur kacang panjang. Sementara di Buleleng lebih banyak menggunakan daun pepaya dan nangka muda.

Pada perkembangannya, kuliner ini pun turut beradaptasi dengan perkembangan zaman. Contohnya, agar dapat menjangkau peminat lawar dari kalangan Muslim, kini tersedia lawar putih alias tidak menggunakan darah hewan.

Selain itu, daging babi yang biasanya menjadi bahan baku masakan ini dulunya juga digantikan dengan daging sapi, kambing, cumi-cumi, bebek maupun ayam. Bahkan daging bulus yang dulu pernah juga dimasak menjadi lawar kini sudah tak lazim digunakan.

Tetapi mungkin yang beberapa orang belum banyak tahu, ada satu jenis lainnya, yaitu lawar nyawan. Disebut demikian karena menggunakan nyawan yakni lebah atau sarang lebah.

Lawar Nyawan Gofood
Lawar Nyawan dari Resto Piring Mas. Foto: dok. gofood

Secara bahan baku dan cara memasaknya, lawar jenis ini kurang lebih mirip seperti kebanyakan. Namun yang membuatnya unik dan berbeda adalah penggunaan sarang lebah dalam masakannya sebagai tambahan kondimen.

Sarang lebah yang digunakan pun tidak bisa sembarangan. Hanya sarang yang berisi larva atau anak lebah saja yang dapat dimasak menjadi lawar, karena memakan lebah dewasa akan beresiko tersengat.

Karena kebutuhan yang khusus inilah, lawar nyawan terbilang langka dan tidak semua dapat menyajikannya. Selain karena kelangkaannya, membeli bahan baku nyawan atau sarangnya pun tak bisa dibilang murah. Harganya bisa menyentuh Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram.

Padahal, rata-rata restoran yang menyajikan kuliner ini butuh setidaknya 5-20 kilogram nyawan setiap harinya, bahkan dapat mencapai 30 kilogram ketika musim liburan dan banyak pengunjung. Kondisi ini dapat semakin dipersulit ketika musim hujan dan panen sulit dilakukan.

Hal itu disebabkan karena kebiasaan lebah yang cenderung lebih banyak berkembang biak pada saat musim kemarau. Untuk mengatasinya, beberapa restoran kemudian melakukan budidaya sarang lebah secara mandiri.

Uniknya, proses pembuatannya malah terbilang relatif cukup mudah. Sarang lebah yang sudah dipanen, berukuran sekitar segenggaman tangan yang masih berisi larva atau anak lebah, langsung direbus hingga matang dan terurai.

Untuk membuat bumbunya, digunakan bahan seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, kemiri, sereh, lengkuas, cabe rawit dan terasi. Setelah diulek, bumbu kemudian ditambahkan serutan kelapa muda untuk diuleni.

Sayur yang digunakan biasanya adalah potongan kacang panjang, nangka muda dan taoge yang direbus. Sesudahnya, nyawan yang sudah matang dipotong-potong, kemudian ditumis dengan bumbu, serutan kelapa muda dan sayur. Setelah matang, lawar nyawan siap disajikan.

Lawar nyawan biasa disajikan dengan nasi, terkadang dengan tambahan seperti sate lilit. Sarang lebah yang lunak dan gurih, bercampur dengan bumbu khas Bali yang kaya akan rasa, membuatnya jadi kuliner yang begitu unik.

Tak hanya itu, makanan ini disebut sarat dengan kandungan proteinnya yang berasal dari larva atau anak lebah di dalamnya. Dipercaya ia mampu mengatasi berbagai masalah tubuh seperti panas dalam, asam lambung, tekanan darah tinggi dan resiko stroke, hingga vitalitas pria dewasa.

Seperti disebutkan di atas, saat ini tak banyak restoran yang menyajikan kuliner tradisional nan unik ini. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Warung Piring Mas yang terletak di Desa Sangeh, Kabupaten Badung.

Restoran ini dikenal menyediakan beragam hidangan tradisional Bali, termasuk salah satunya adalah lawar nyawan. Sang pemilik restoran, Ida Ayu Prita Putrayani, mengaku terinspirasi dari ibunya yang sejak dulu kerap membuat masakan tersebut.

Setelah berhenti dari pekerjaannya pada 2006, ia memulai usahanya dengan menu utama resep kuliner unik warisan keluarganya tersebut. Untuk mendapatkan pasokan nyawan, ia menjalin kerja sama dengan petani lebah madu di Karangasem untuk berbudidaya sarang lebah.

Di restoran ini, wisatawan bisa memesan masakah khas ini dengan pilihan pakai atau tanpa sayuran. Harganya pun termasuk terjangkau, berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu, sudah termasuk nasi, sate lilit ayam, kacang tanah goreng, sup dan jamur crispy.

Selain itu, di restoran yang buka dari jam 09.00 sampai 20.00 ini terdapat pula jenis-jenis lawar lain, serta kuliner khas Bali lainnya seperti ayam betutu. Harganya juga berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu. Bahkan mereka juga menjual madu murni dalam botol.

Warung Piring Mas

Jl, Paninjauan, Desa Sangeh, Kabupaten Badung, Bali

Telp. 081238706257

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Tip Top Medan, Restoran Heritage Sejak 1929

Tip Top Medan, suasana Interiornya

Tip Top Medan tanpa sengaja kami temukan saat berkunjung ke ibu kota Sumatera Utara ini. Awalnya lucu, karena nama ini mirip dengan tempat es krim di Yogyakarta, sehingga tertarik mencobanya. Ia juga mirip Ragusa di Jakata Pusat, atau Oen di Semarang.

Tip Top Medan

Kami memilih duduk persis di depan kasir, Bakery & Cake Shop yang asyik ini. Restauran yang berlokasi macam di Jalan Ahmad Yani ini, terbilang langka. Hanya ada satu-dua di Indonesia. Atmosfir yang dibangun restoran ini sengaja mengambil setting tahun 40-an. Misalnya penggunaan mebel rotan dengan desain yang simple, tentu juga menempati bangunan lama, peninggalan masa lalu.

Lihatlah, beberapa pelayan pria wara-wiri mengenakan pakaian stelan putih-putih lengkap dengan peci hitam. Ini membangun ingatan kita pada Istana Negara, pada  pasukan pengibar bendera merah putih saat perayaan 17 Agustus.  Sedangkan yang perempuan dengan blus batik, dengan motif tradisional dengan sogan warna gelap.

Tip Top Medan Resto Heritage

Pada dindingnya  tersusun foto-foto suasana, adegan tahun 1930-an dalam berbagai ukuran. Di beranda, ada foto pemilik pertamanya. Tertera restoran bernama “Jangkie”, yang rupanya adalah nama  pemilik awal rumah makan ini. Dalam catatan di sana, terbaca bangunan itu didirikan pada 1929, nama tersebut memang yang digunakan untuk arena makan ini.

Menurut runutan sejarahnya, restoran mulanya berada di Jalan Pandu, baru kemudian pindah ke daerah Kesawan pada 1934 dan memilih nama Tip Top yang bermakna sempurna. Dulu, jalanan depan restoran merupakan pusat keramaian hingga meneer, mevrouw, plus mejuffrouw pun berkumpul menikmati sekaligus mengagumi seduhan kopi Sidikalang yang terkenal itu. Juga melahap es krim, kue-kue khas Belanda dan aneka hidangan mancanegara maupun lokal.

Tak lama, saya bisa merasakan dua hidangan istimewanya, huzaren salad dan ayam goreng somboy. Salad khas Belanda yang segar untuk pembuka, dan ayam gorengnya yang renyah dan gurih.  Sebelumnya saya menyantap es krim dengan rasa kopi yang kental. Keragaman memang disodorkan oleh kru dapur Tip Top. Bagi para tamu, ada beberapa pilihan menu ala Eropa seperti aneka steak dan aneka salad, selain juga penganan ringan seperti bitterballen, pancake gula merah, uitsmijter dan roti ham & keju serta roti daging bakar.

Turis dari Holand termasuk yang cukup banyak mampir kemari. Ada yang memang pernah pada 1930-an tinggal di Medan, dan ingin mengulang kenangan lama menikmati es krim dan kopi Sidikalang. Ada pula yang datang adalah anak-cucu dari opa-oma Belanda yang pernah bersentuhan dengan Tip Top di masa lampau. 

Di samping masakan Barat, juru masak Tip Top pun menawarkan hidangan khas Cina. Seperti steak ala Hong Kong, fu yong hai, kwetiau goreng dan tentunya ayam goreng somboy yang saya rasakan kerenyahannya. Tapi yang diunggulkan dan banyak dipesan pengunjung dari resto ini, tak lain adalah nasi goreng Tip Top Spesial.

Di salah satu sisi, ada ruang khusus untuk menu masakan Indonesia. Seperti gado-gado, ayam goreng, rendah, gulai ikan, kari kambing dan ayam panggang santan. Penataan seperti rumah makan padang, dengan dinding kaca dan sajian siap makan. Menurut Ferry Kelana, 71 tahun, pemiliknya sekarang, tak ada perubahan dari ruangan maupun menu di restoran ini.

Sebagai generasi ketiga, hubungan Ferry dengan Jangkie adalah keponakan-paman. Kini, ia bahkan sudah mengajarkan ke putra bungsunya untuk pengelolaan restoran ini. Ia mengaku akan berupaya mempertahankan seperti aslinya. Tak hanya menu yang sama tapi juga bahan-bahannya yang segar. “Kami juga tidak memberi tambahan seperti pengawet dan penambah rasa lainnya,” ujar pria yang akrab dipanggil Om Ferry ini.

Tak hanya bangunan, perabotan, pajangan yang menyebarkan cita rasa klasik, band yang beraksi setiap Rabu malam pun melantunkan tembang-tembang kuno. Paduan semuanya semakin “membawa” tamu ke masa silam.

Boks

Java Ice Cream & Ontbykoek

Tip Top Medan Ice Cream

Tak hanya hidangan berat yang membuat orang memiliki memori khusus di Tip Top. Es krim dan kue-kue khas Belanda pun yang dulu dicecap para meevrouw pun tetap dipertahankan. Bakery & Cake Shop bersebelahan dengan ruang khusus restoran. Di bagian belakang keduanya tersambung. Sore hari, ketika toko kue tutup, kue-kue bisa tetap tersaji di beranda restoran.

Keunikannya, es krim bahkan tetap disajikan dengan wadah yang sama, yakni gelas berkaki dari almunium.  Ferry menyebutkan ia masih menyimpan gelas-gelas alumunium peninggalan  pamannya itu dengan rapi. Hingga suguhan pun masih tetap seperti akhir 1930-an. Salah satu yang favorit adalah Java Ice Cream. Selain itu ada banyak pilihan es krim lain seperti Ystaart dengan tiga rasa.

Kue-kuenya di resto ini hasil panggangan tungku kayu bakar, yang biasa digunakan sejak 1934 pun. Tungku bata itu berukuran sekitar  4×5 meter dan sulit untuk diperbaiki atau mengalami perubahan. “Karena untuk mendinginkannya perlu waktu sebulan,” ujarnya Ferry sambil tersenyum. Namun toh panasnya bisa membuat olahan tetap seprima zaman lampau.

Datang, dan cobalah kue-kuenya yang khas; moorkop dan ontbykoek. Moorkop dengan lapisan cokelat di bagian atas dan di bagian dalam terdapat krim, memang tampak menggiurkan. Sedangkan ontbykoek adalah kue dengan rasa kayu manis yang lembut sehingga terasa menyegarkan. Dulu, kedua kue ini disantap para meneer untuk sarapan. “Nah karena kegemaran pada rempah ini yang membuat mereka (Belanda) datang ke negeri ini,” ujarnya. Resep kue ini memang tak hanya memerlukan kayu manis, tapi juga pala dan cengkeh. Selain keduanya, ada beberapa jenis tart, dalam ukuran kecil maupun untuk pesta ulang tahun.

Tip Top; Restaurant, Bakery & Cake Shop; Jl. Jend. A. Yani No 92 A-B; Medan

Rita N./ Toni H./Dok. TL