Ayam Goreng Suharti, 2 Logo 1 Rasa

Ayam Goreng Suharti dan Yogya seperti dua keping mata uang, saling melengkapi. Dulu kala, orang memastikan akan mampir ke Ayam Goreng Suharti saat mampir atau main ke kota pelajar ini. Sekarang mungkin tak terlalu, bukan karena rasanya yang berubah, namun mereka kini sudah memiliki sejumlah cabang di banyak kota.

Ayam Goreng Suharti

Untuk pecinta ayam goreng, hampir pasti memasukkan ayam kremes olahan rumah makan Suharti atau Ny. Suharti dari Yogyakarta dalam daftar pilihan favoritnya. Ayam kampung dengan bumbu rempah yang khas dengan remahan tepung nan gurih dan renyah serta disajikan dengan sambal yang khas menjadi signature rumah makan yang telah berdiri hampir 50 tahun silam.

Yang unik dari rumah makan ini adalah adanya dua logo usaha rumah makan dengan produk yang relatif sama: ayam goreng kremes. Adakah yang membedakannya?

Logo pertama dipakai rumah makan bergambar dua ekor ayam, betina dan jantan, yang mengapit huruf S di dalam lingkaran dan bertuliskan ‘Ayam Goreng Ny. Suharti’. Satu lagi rumah makan menggunakan foto seorang wanita yang mengenakan pakaian adat Jawa yang berada dalam lingkaran dan bertuliskan ‘Ayam Goreng Suharti’. Suharti, baik di logo pertama dan ke dua, adalah nama perempuan yang gambarnya ada di salah satu logo. Dari segi manajemen, ke dua logo ini mencerminkan dua usaha yang berbeda.

Alkisah, perbedaan logo untuk produk yang mirip ini terjadi pada 1991, saat dua pemilik usaha awal memutuskan berpisah dari kehidupan rumah tangga. Bercerai. Awalnya, adalah pasangan suami istri Syahlan dan Suharti yang pada 1972 memutuskan membuat usaha rumah makan ayam goreng.

Pilihan nama rumah makan yang dipilih adalah Ayam Goreng Ny. Suharti. Peran ibu dianggap dekat dengan soal makanan. Pun, selain soal itu, resep ayam goreng yang dibawa adalah resep dari mbok Berek, leluhur Suharti. Maka jadilah rumah makan Ayam Goreng Ny. Suharti yang pertama di Jalan Laksda Adi Sucipto No. 208, Yogyakarta.

Pada 1984, keduanya sepakat mengembangkan rumah makan ini di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan. Sayangnya usaha yang berhasil ini tak dibarengi dengan keharmonisan rumah tangga. Ke duanya bercerai pada 1991. Ini berpengaruh pada usaha mereka.

Rumah makan ‘Ayam Goreng Ny. Suharti’ kemudian menjadi milik Syahlan, sang suami. Karena secara legal terdaftar sebagai pemilik resmi rumah makan tersebut. Setelah pecah kongsi itu, Suharti memberanikan diri membangun rumah makan ayam goreng yang juga menggunakan nama ‘Suharti’. Bedanya, tak ada ‘Ny.’ di nama rumah makannya. Mungkin trauma karena ada usaha memakai namanya tapu bukan miliknya, Suharti lantas memasang wajahnya sebagai logo di rumah makan barunya. Ini semacam penegasan, ini adalah usaha miliknya.

Terlepas dari pisah kongsi suami istri tersebut, usaha ayam goreng ini sejatinya dimulai jauh sebelum ke duanya membangun usaha. Adalah anak Mbok Berek, Mangundimedjo, yang merupakan saudara jauh Suharti yang memulai usaha ayam goreng di daerah Candisari, Kalasan, Yogyakarta. Ia adalah cikal bakal bisnis ayam goreng ber-kremes di Indonesia.

Suharti sempat menggunakan nama Mbok Berek untuk memulai usaha ayam gorengnya. Tak main-main, yang boleh menggunakan nama ini tentu saja hanyah kerabat yang masih ada hubungan dekat dengan Mbok Berek. Anak pertama mbok Berek adalah Samidjo Mangundimedjo yang merupakan kakak ipar Suharti. Kini, Ayam Goreng Mbok Berek sendiri dikelola oleh anak Mangundimedjo yang bernama Ny. Umi.

Lalu apa sesungguhnya keistimewaan ayam goreng mbok Berek yang resepnya juga dikembangkan Suharti? Pertama adalah penggunaan ayam kampung. Pertimbangannya, proses pembumbuannya adalah dengan diungkep atau direbus bersama rempah-rempah bumbu. Daging ayam kampung yang lebih liat dibanding ayam negeri membuat ayamnya tidak hancur ketika diungkep cukup lama.

Keistimewaan yang ke dua adalah kremes yang menyertai penyajian ayamnya di meja makan. Kremes ini membuat sajian ayam menjadi lebih gurih dan renyah. Kini bahkan kremesan ini dijual tersendiri, sebab banyak yang memakannya sebagai teman nasi putih.

Keunikan ke tiga dari ayam Suharti adalah sambalnya. Ia seakan memiliki semangat orang Yogya yang suka makanan manis. Sambal rumah makan ini juga cenderung agak manis. Mungkin ini tak terlalu disukai mereka penyuka rasa pedas, namun pedas yang ada rasa manis ini memperkuat rasa ayam gorengnya.

Ayam goreng Suharti dulu dikenal juga sebagai ayam mbok Berek, pelopor ayam kremes khas Yogyakarta.
Ayam goreng Suharti adalah kuliner khas Yogyakarta yang dikenal banyak orang. Foto: ilustrasi/shutterstock

Ayam goreng “Suharti” yang manapun sejatinya menggunakan resep yang sama, sehingga memilih rumah makan dengan logo yang manapun sama saja. Ada beda-beda sedikit tentu wajar, sebab para pemasaknya berbeda-beda.

Tak terlalu “baper” dalam memilih, sebab cabang-cabang ayam goreng Suharti kini dimiliki putra-putri Syahlan dan Suharti. Ada anak yang menggunakan logo “Ayam Goreng Ny. Suharti” ada yang memakai logo “Ayam Goreng Suharti”. Bahkan jika berkunjung ke Bogor, penggemar ayam goreng Suharti bisa menikmati juga ayamnya di Ayam Goreng Ardhita di Jalan Raya Pajajaran. Ini juga milik pak Syahlan. Dengan menu yang sama dengan saudara-saudara tuanya, mulai dari ayam goreng hingga ke gudeg Yogya.

Ayo agendakan waktumu menikmati kuliner asli Indonesia.

agendaIndonesia

****

Sate Maranggi Hj. Yetty 1,5 Ton Daging

Sate maranggi Hj. Yetty berdiri sejak 1990 hingga saat ini masih terus diminatu masyarakat.

Sate maranggi Hj. Yetty seperti menjadi legenda bagi Purwakarta di Jawa Barat. ia menjadi sate khas Purwakarta. Meski ia bukan pemilik utama resep kulinari ini, sate buatannya menjadi salah satu kekuatan pariwisata di kota ini.

Sate Maranggi Hj. Yetty

Warung sate maranggi Hj. Yetty mulai dibuka pada 1990. Menurut pemiliknya, awalnya ia hanya mencoba-coba, pada saat itu sebenarnya yang membuka usaha pertama di tempat itu, di hutan Bungur, adalah ayah Hj. Yetty, yakni Haji Rasta. Itu pun, “Bapak saya hanya merintis jualan es kelapa muda,” kata Yetty.

Ketika mencoba mengembangkan usahanya, Yetty bercerita, sate produknya masih sederhana. Hanya sate dengan bumbu kecap. Ternyata sate olahannya mendapat respon yang baik dari masyarakat. Dari sana bisnis satenya terus berkembang. Terlebih saat itu orang Jakarta yang mau ke Bandung, atau sebaliknya, jika tidak memilih jalur Puncak di Bogor, mereka memilih melalui jalur Purwakarta-Subang-Padalarang. Jalur yang ada di depan kedai satenya.

Sebenarnya, usaha sate marangi di wilayah Purwakarta pertama kali diperkenalkan di kawasan Plered. Yetty mengaku saat merintis usahanya itu, dirinya belum terkenal dan belum memiliki nama seperti saat ini. Menurutnya, banyak saran dari pelanggannya supaya memberi nama sate maranggi seperti di Plered.

Sate maranggi sendiri memang dikenal sebagai kuliner khas dari Purwakarta. Dari cerita asal-usulnya, ada berbagai kisah berbeda yang sama-sama dianggap sebagai asal-usul sate ini. Kisah pertama menyebutkan bahwa sate maranggi merupakan hasil asimilasi budaya Indonesia dan Tiongkok. Dugaan ini muncul karena melihat bumbu rempah sate maranggi yang sama dengan bumbu yang digunakan pada dendeng babi dan dendeng ayam, yang dijual di Cina.

Kisah ke dua menyatakan bahwa sate ini asli dari Indonesia, khususnya Jawa Barat. Dati sejumlah sumber, Dedi Mulyadi, budayawan Sunda yang juga bekas Bupati Purwakarta, menyebut bahwa nama ‘Maranggi’ didapat dari penjual sate pada zaman dahulu yang bernama Mak Ranggi. Kisah ini juga disebutkan oleh Heri Apandi, seorang pemilik rumah makan sate maranggi di Purwakarta. Menurut Heri, karena pada zaman dahulu tidak ada lemari es, maka Mak Ranggi berusaha mengawetkan daging domba dengan cara didendeng menggunakan bumbu rempah. Setelah itu, daging kambingnya dimasak dengan dibakar. Hasilnya adalah Sate Maranggi yang unik. Karena rasanya yang enak, popularitas sate ini pun menyebar. Nama Maranggi tentu saja berasal dari nama Mak Ranggi.

Ada juga kisah ke tiga yang menyebutkan sate maranggi merupakan kreasi para pekerja peternakan domba di Kecamatan Plered, Purwakarta. Para pekerja ini biasanya hanya mendapatkan daging sisa dari peternakan tempat mereka bekerja. Mereka pun berusaha agar daging domba sisa ini tetap terasa lezat. Caranya, mereka memotong daging domba dalam potongan kecil-kecil, lalu merendamnya dalam racikan rempah dan sedikit gula aren. Bumbu ini membantu menjaga daging domba tetap awet dan menambah cita rasa daging domba. Ara mengawetkan dengan rempah itulah yang kemudian disebut dengan istilah maranggi.

Manapun kisah yang benar, sate maranggi sudah menjadi kulinari yang dikenal dan digemari masyarakat. Dan salah satu yang paling dikenal publik adalah sate maranggi Hj. Yetty. Sejak awal hingga saat ini, kedai Sate Maranggi Hj. Yetty  tetap bertahan di hutan jati di daerah Cibungur, Purwakarta. Lokasinya di Bungursari, Cikampek. Tidak jauh dari exit tol Cikampek dari arah Jakarta.

Sate Maranggi Hj. Yetty menjadi klangenan pecinta kuliner sate. Pada akhir pekan bisa menghabiskan 1,5 ton daging.
Sate Maranggi Hj. Yetty menjadi salah satu legenda kuliner Purwakarta. Foto: ilusttrasi-shutterstock

Bertahun-tahun hanya memiliki satu lokasi jualan, baru pada 7 Agustus 2020, di saat pandemi, Sate Maranggi Haji Yetty  –ini uniknya kedai ini, nama perempuan namun dikenal dengan sebutan haji, bukan hajjah, membuka cabang. Cabang pertama ini ada di Jalan Alternatif Cibubur, Harjamukti, Cimanggis, Depok. Lokasinya sebelum masuk tol Jagorawi.

Sama seperti lokasi pertama, cabang di Cibubur ini pun segera saja mengundang penikmat sate maranggi. Dengan lokasi yang lebih modern, cabang ini segera menjadi pilihan orang menikmati sate klangenan ini.

Begitupun, Sate Maranggi yang di Cibungur pun tetap ramai dikunjungi pelanggan. Ciri khas Sate Matanggi Hj. Yetty yakni sambal tomat dicampur dengan cabai pada bumbu kecap sate rupa-rupanya betul memikat penikmat kuliner sate.

Selain karena rasa, juga karena layanannya. Walaupun selalu penuh, tapi pelayanan di sini sangat cepat. Ada pilihan sate disini dari sate sapi, sate kambing dan sate ayam. Tentu saja, pilihan utamanya tetap sate kambingnya, yang kadang disangka sate sapi karena tidak ada bau prengus kambingnya. Tentu dengan kelengkapan sambelnya, campuran tomat, jeruk limo dan cabai rawit hijaunya.

Yetti bersyukur, saat ini meski banyak usaha serupa, tempat makannya sate marangginya tetap digemari pecinta kuliner. Saat ini, pada akhir pekan atau musim liburan, dalam sehari usahanya bisa menghabiskan daging hingga 1,5 ton. Namun, katanya lagi, saat ini dalam kondisi wisata agak melambat karena pandemi, rata-rata dari Senin hingga Jumat bisa menghabiskan 2-3 kuintal sehari. Kalau Sabtu bisa sampai 4 hingga 6 kuintal.

Sudah pernah mencicipi sate maranggi Haji Yetty? Jika belum cobalah agendakan untuk mencobanya. Di Cibungur atau di Cibubur, sama saja.

agendaIndonesia

*****

Jajanan Khas Semarang, 5 yang Bikin Kangen

Makanan Khas Semarang ada banyak macamnya, salah satunya tahu gimbal atau kadang juga dijual dengan tahu pong

Jajanan khas Semarang ada berbagai macam, namun lima yang ditulis berikut ini layak untuk dilirik. Nama jajanannya menarik dan harganya cukup ramah dompet. Kelimanya perlu dicicipi jika punya kesempatan main ke ibukota Jawa Tengah ini.

Jajanan Khas Semarang

Kaya wisata kuliner. Begitulah kesimpulan yang bisa saya ambil setelah beberapa hari menjajal sejumlah sajian Kota Semarang, Jawa Tengah. Tidak hanya di rumah makan, di warung kaki lima juga ditawarkan menu yang tak kalah menggoda selera. Dan satu yang pasti, harganya relatif nyaman di saku celana. Namanya pun unik, seperti koyor, gimbal, kopyok, dan kropok. Hanya lunpia atau lumpia yang akrab di telinga saya. Ternyata sajian kuliner khas Semarang tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Mi Kopyok

Yang pertama saya jajal adalah mi kopyok. Nama “mi kopyok” ternyata diambil dari cara memasaknya. Mi mentah dimasukkan ke air mendidih dan “dikopyok-kopyok”. Begitu pula taugenya. Dalam satu mangkuknya berisikan mi, lontong, tahu pong, dan tauge. Dalam sajian seharga Rp 10 ribu ini disertakan pula kerupuk gendar.

Jika dirasa masih kurang gurih, penikmat mi kopyok bisa menambahkan kaldu bawang putih yang disediakan di setiap meja. Namun, sebelumnya, pastikan mengocoknya lebih dulu agar kaldu tercampur rata, barulah tuangkan ke sajian. Menu khas Semarang ini dulu dijual dengan cara berkeliling. Kini kebanyakan pedagangnya berjualan dengan menetap di satu lokasi. Salah satunya warung yang saya kunjungi di Jalan Tanjung ini.

Mie Kopyok Pak Dhuwur; Jalan Tanjung No. 18; Semarang

Jajanan khas Semarang ada berbagai macam dan semuanya membuat kangen, salah satunya adalah bandeng Kropok.
Jajanan khas Semarang ada Bandeng Kropok . Foto: Travelounge /N. Dian

Bandeng Kropok

Bandeng duri lunak atau bandeng presto sudah biasa saya dengar. Namun ikan bandeng bakar kropok? Inilah yang membuat saya penasaran dan ingin mencicipinya, meski harus sedikit rela menuju daerah Kota Semarang Utara. Ehm, rasanya benar-benar khas dan menggugah selera. Saus yang memadukan rasa asam, manis, dan asam menjalin harmonisasi di lidah. Dan  saya tidak menemukan duri halus pada dagingnya.

Menurut seorang pelayan, bandeng segar disayat tipis-tipis kemudian digoreng setengah matang. Setelah itu, bandeng dibakar sembari diberi kecap manis dan sambal. Hasilnya, duri halus bandeng menjadi renyah dan tergilas halus dalam kunyahan. Rupanya teknik pengolahan itu menjadi kunci rahasianya. Saya tidak menemukan duri halus bandeng secuil pun hingga kunyahan terakhir. Harga per onsnya dipatok Rp 5.500.

Rumah Makan Lesehan Tanjung Laut; Jalan Puri Eksekutif I;Semarang

Tahu Gimbal

Gimbal? Saya, yang pertama kali mengunjungi Kota Semarang, jelas penasaran akan hidangan kuliner yang satu ini. Semula, saya kira gimbal itu adalah rambut panjang tanpa perawatan, seperti milik penyanyi reggae Bob Marley atau rambut khas milik masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Ternyata, gimbal itu adalah bakwan goreng yang berisi udang dan menjadi makanan khas Semarang.

Tahu gimbal sendiri berbahan utama lontong, rajangan kol mentah, tauge, telur dadar, tahu goreng, dan gimbal, tentunya. Sajiannya menjadi lengkap dengan siraman bumbu kacang. Kalau di Jakarta, mungkin, mirip dengan ketoprak. Harga per porsinya hanya Rp 12 ribu. Untuk mendapatkan seporsi tahu gimbal, Anda tinggal menuju  Taman Keluarga Berencana yang berada di Jalan Menteri Supeno. Banyak pedagang lesehan yang menjual menu di sekitar taman tersebut.

Tahu Gimbal Pak Edi; Jalan Menteri Supeno;Sekitar Taman Keluarga Berencana;Semarang

Nasi Koyor

Menu lain yang namanya terdengar aneh adalah nasi koyor. Koyor rupanya otot sapi yang dimasak dengan kuah gurih santan dan agak pedas. Sesuai dengan namanya, koyor disajikan begitu saja dengan nasi, plus sambal. Atau bisa juga dikombinasikan dengan menu gudeg. Pilihan yang terakhir ini lebih menarik. Sebab, dalam satu porsi, nasi koyor plus gudeg akan semakin menambah cita rasa.

Saya coba mencicipi nasi koyor di salah satu daerah di Pudak Payung, Semarang, yang mungkin belum terkenal seperti nasi koyor Bu Tum. Di tempat ini, koyor tidak menggunakan otot sapi, melainkan daging sapi. Daging sapi begitu empuk dan bumbunya juga meresap hingga ke bagian dalam. Harganya Rp 22 ribu  per porsi. Tambahan pecel atau sayur rebung sepertinya patut pula dipertimbangkan.

Warung Koyor Bu Kito; Jalan Perintis Kemerdekaan Km 17;Pudak Payung, Banyumanik;Semarang

Jajanan khas Semarang memiliki ragam yang beraneka, salah satunya berbahan rebung atau bambu muda dan disebut dengan nama lunpia.
Jajanan khas Semarang di antaranya ada loenpia atau lunpia, atau kadang disebut juga dengan lumpia. Salah satunya Lunpia Mataram. Foto: Travelounge/N. Dian

Rebung Muda

Mengunjungi Semarang tanpa mencicipi lumpia rasanya kurang lengkap. Makanan berbahan dasar tumisan rebung—tunas bambu muda—yang dibungkus dengan kulit tepung beras ini memang dikenal sebagai penganan khas Semarang. Tak mengherankan jika sangat mudah menemukan lumpia di kota ini. Di sepanjang Jalan M.T. Haryono, Semarang, misalnya, terdapat puluhan penjual lumpia dengan nama dagang yang sama, yakni Lunpia Mataram.

Saya coba mendatangi salah satu warung yang konon telah berdagang di wilayah tersebut sebelum pecah peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Aroma rebung muda begitu menyeruak. Harga per potongnya Rp 11 ribu. Ukurannya benar-benar mantap. Hanya, makanan yang katanya cocok sebagai oleh-oleh ini rupanya cuma bertahan selama 20 jam. Jadi, paling aman dibeli sebelum menuju bandara.

Lunpia Mataram; Jalan M.T. Haryono 481;Semarang

agendaIndonesia/Andry T./N. Dian/TL

Sate Rembiga Lombok, Sedap Sejak Abad 14

Sate Rembiga Lombok bisa menjadi pilihan santapan ketika main ke Mataram,.

Sate rembiga Lombok di kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, adalah ciri khas kuliner lain daerah ini selain ayam Taliwang. Jika berkunjung ke Mataram, maka di sepanjang jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo akan pelancong temui rumah makan sate rembiga yang berjejer.

Sate Rembiga Lombok

Ada begitu banyak rumah makan yang menjual sate rembiga di sepanjang jalan. Semuanya khas. Namun dari banyaknya yang berjualan sate, hanya ada dua rumah makan yang benar-benar bersaing: Sate Rembiga Ibu Sinnaseh dan Sate Rembiga Utama Bu Ririn.

Untuk yang belum pernah mencicipi seperti apa rasa sate khas satu ini, mungkin ada baiknya diceritakan sedikit. Sate rembiga merupakan salah satu kuliner khas yang cuma ada di Rembiga, Lombok. Saat ini, kuliner khas tersebut bahkan sudah mulai membuka cabang di luar wilayah Rembiga.

Sate Rembiga Lombok menjadi alternatif jika sudah mencoba menu ayam Taliwang.
Sate daging sapi khas Rembiga khas Lombok. Foto: shutterstock

Ada yang bisa dijumpai di pusat kota Mataram seperti di sekitaran daerah Cakranegara dan di Kekalik. Tidak hanya melebarkan sayap di luar Rembiga, kuliner khas ini juga sudah mulai melebarkan sayap sampai keluar Lombok.

Sate Rembiga Lombok sendiri adalah sate sapi yang bercita rasa pedas manis khas kesukaan warga Lombok. Umumnya para pedagang justru menggunakan sapi local Nusa Tenggara Barat sebagai bahan daging olahannya.

Nusa Tenggara Barat memang merupakan wilayah yang menjadi salah satu sentra produksi ternak sapi. Dengan didukung oleh kondisi geografis dari savanna-savana mampu memberikan ruang leluasa untuk sapi hidup berkeliaran di alam bebas.

Daging sate Rembiga khas Lombok menghasilkan potongan daging yang lunak karena sebagian ternaknya dipengaruhi oleh pemberian pakan berupa daun lamtoro yang menjadi sumber protein paling bagus.

Ada sejumlah cerita soal awal mulanya kuliner sate Rembiga Lombok ini. Konon sejarah kemunculannya adalah ada keahlian dalam membuat sate pertama kali hadir melalui tangan-tangan kerabat Raja Pejanggik yang tinggal di Desa Rembiga, Selaparang.

Dari catatan sejarah, Kerajaan Pejanggik ini berdiri dan berkembang dari abad ke-14 sampai dengan abad ke-17. Nama desa Rembiga dipercaya diserap suku kata ‘rembug’ yang diasosiasikan dengan istana sebagai tempat berkumpulnya berbagai kalangan kerajaan dan anggota keluarga besar.

Dari cerita mulut ke mulut, dalam setiap rembugan keluarga kerajaan itu, sajian yang dihidangkan adalah sate sapi. Adapun keahlian membuat sate diturunkan antar generasi dan pada akhirnya menjadi salah satu makanan rakyat terfavorit. Namun Namanya belumlah disebut sate Rembiga Lombok.

Sejarah kemunculan nama sate Rembiga Lombok kabarnya seiring dengan munculnya rumah makan-rumah makan yang menjual sate di sepanjang Dr. Wahidin. Dan itu bukanlah perjalanan yang singkat. Awalnya sesungguhnya hanya ada satu pedagang sate di Jalan Dr. Wahidin.

Belakangan begitu warung-warung sate ini menjadi terkenal, nama Rembiga disematkan kepadanya. Berjalannya waktu, nama sate Rembiga menjadi semakin dikenal.

Sate Rembiga Ibu Sinaseh Kecap Bango
Sate Rembiga Ibu Sinnaseh. Foto Milik Sate Bango

Orang beramai-ramai datang mencari sate dengan rasa yang khas. Melihat banyaknya peminat, para pedagang lain mencoba cari peruntungan dengan berjualan sate di sepanjang Jalan Dr. Wahidin.

Ciri khas Sate rembiga Lombok adalah masakan yang terbuat dari potongan daging sapi. Potongan daging sapi harus dimarinasi terlebih dulu sebelum dibakar. Bumbu-bumbu yang dipakai adalah kecap manis, jeruk nipis, garam, terasi bakar, bawang putih, cabai rawit, dan tomat. Sate rembiga disajikan bersama campuran potongan bawang merah, cabai rawit, tomat, kecap manis, dan jeruk limau.


Dan yang membedakan sate rembiga dengan sate lainnya adalah terasi. Bahan terasi inilah yang dicampur dengan bumbu lainnya untuk memarinasi daging sapinya sehingga menjadi khas banget rasa satenya.


Ada cerita menarik dari dua rumah makan sate Rembiga yang terkenal di Jalan Dr. Wahidin ini. Dulunya Sate Rembiga Ibu Sinnaseh dan Sate Rembiga Utama adalah satu usaha bersama. Mereka bahu-membahu membuat nama sate Rembiga menjadi dikenal seperti sekarang.

Kemudian ketika sate khas ini menjadi besar dan terkenal—mungkin terlalu besar hingga susah dikendalikan—Ibu Sinnaseh dan Ibu Ririn pecah kongsi. Siapa yang salah dan siapa yang benar, tidak perlu kita perdebatkan. Yang jelas setelah mereka pecah kongsi, hadirlah kedua rumah makan besar masing-masing rasanya memang enak.

Sate Rembiga di Lombok
Sate Rembiga ciri khasnya dimarinasi dengan terasi.

Satu hal yang membuat Sate Rembiga menjadi salah satu kuliner favorit di Lombok adalah rasanya yang tidak biasa dan lembutnya yang luar biasa. Rasa pedas bercampur manis akan langsung membuat penyantapnya ketagihan.

Jadi jika dolan ke Mataram dan Lombok, sempatkan agendakan untuk menyantap sate Rembiga Lombok ini.

agendaIndonesia/Audha Alief Praditra

*****

Durian Runtuh Pekanbaru, Legitnya 24 Jam

Durian Runtuh Pekanbaru menjadi salah satu destinasi wisata kuliner di kota ini.

Durian Runtuh menjadi destinasi kuliner baru jika wisatwan dolan ke Pekanbaru ibukota Provinsi Riau. Jika di Medan, Sumatera Utara, pelancong punya Durian Ucok sebagai tempat menikmati raja buah ini, maka Pekanbaru memiliki Durian Runtuh by Nadhira Napoleon, warung durian yang diklaim terbesar dan terlengkap di sana. 

Durian Runtuh

Warung durian ini terkenal sejak diresmikan pada akhir 2021. Serunya lagi, warung ini tidak pernah tutup, alias selalu buka 24 jam setiap hari. Jadi penggemar durian bisa makan buah kesukaannya ini kapan saja.

Ada banyak jenis durian yang bisa dipilih pengunjung warung durian ini. Dengan harga mulai dari yang belasan ribu sampai puluhan ribu Rupiah per butirnya ada.

Durian Runtuh Pekanbaru mirip dengan Ucok Durian di Medan, menikmati duiran sepanjang 24 jam.
Tanda Lokasi Durian Runtuh Pekanbaru. Foto: IG durianruntuh_nnp

Di sini duriannya lengkap, bisa pilih mau yang paling murah ada belasan ribu sampai Rp 25 ribuan. Ada juga yang premium seperti Musang King dan blackthorn atau duri hitam.

Buat yang suka durian premium, warung ini juga menjual durian Musang King, misalnya. Seperti yang disampaikan pemilik warung Durian Runtuh Nadhira Napoleon, Herlino yang menyebutkan kalua tempatnya bukan saja menyediakan durian kampung premium, namun juga berbagai varian durian premium, seperti Musang King, Montong,  Bawor, dan sebagainya.

Herlino kemudian menjelaskan bahwa untuk durian lokal pihaknya mendatangkan langsung buahnya dari berbagai daerah. Misalnya seperti dari pesisir Sumatera Barat (Sumbar) dan Sidikalang, Sumatera Utara (Sumut).

Sedangkan khusus durian premium seperti jenis Musang King, diimpor langsung dari Malaysia, jenis Montong didatangkan dari Palu, dan jenis Bawor didatangkan dari Pulau Jawa. 

Durian Bawor shutterstock
Durian jenis bawor yang dibudidayakan di Jawa, juga tersedia di Durian Runtuh. Foto: shutterstock

Herlino mengakui bahwa usaha durian memang memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Hal ini tak lepas dari minat dan kegemaran masyarakat terhadap raja buah itu.

Dari pengalamannya sendiri di usaha yang digelutinya ini, dalam sehari ia mengetakan bahwa pihaknya bahkan mampu menjual sedikitnya 1000 buah durian utuh kepada pengunjung yang datang ke Durian Runtuh.

Ia kemudian bercerita bahwa dirinya juga berencana untuk mengembangkan potensi durian lokal dari daerah Riau. Di sini ada durian seperti Durian Kampar dan Durian Bengkalis. Pengembangannya akan lewat pemberdayaan dan membangung kemitraan dengan petani-petani durian yang ada di daerah-daerah.

Pengembangan itu termasuk mungkin bekerja sama dengan dinas-dinas terkait untuk memberikan edukasi kepada petani durian tentang pemuliaan tanaman. “Sehingga produktivitas buah durian lokal di Riau dapat stabil dan dapat membantu meningkatkan perekonomian,” katanya seraya bercerita mimpinya menjawab tantangan soal ketersediaan buah durian local yang cenderung bergantung musim.

Durian Runtuh tidak hanya menyajikan durian dengan level yang berbeda, pengunjung Durian Runtuh juga dimanjakan dengan tempat dan suasana yang nyaman.

Durian Runtuh by Nadhira Napoleon sejak buka akhir 2021 lalu terus menjadi pilihan destinasi kuliner bagi warga setempat maupun pendatang. Selain selalu tersedia aneka jenis durian, juga karena tempat dan lokasinya yang stratagis.

Lokasinya strategis, cukup berjalan kaki dari pintu keluar Bandara Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Atau wisata kuliner durian yang berlokasi tepat di depan Bundaran Bandara SSK di Jalan Jenderal Sudirman.

Selain lokasi, tempatnya juga nyaman. Desain Durian Runtuh by Nadhira Napoleon ini menawarkan lokasi terbuka. Ini cocok buat pecinta durian yang tidak begitu suka bau durian. Sebab dengan model tebuka, bau durian tidak begitu menyengat.

5 Oleh oleh Medan pancake durian
Pancake durian juga tersedia di tempat ini.

Tempat ini juga ramah anak-anak, karena disediakan area bermain. Tersedia banyak kursi-kursi, sehingga yang bawa rombongan juga enggak perlu khawatir tidak dapat tempat. Selain buah durian, warung ini juga menjual aneka olahan durian seperti cendol dan ketan. 

Herlino juga bercerita mengenai potensi pasar tidak saja buahnya saja, namun juga untuk produk-produk olahan durian. Ia menambahkan, bukan hanya menyajikan buah durian utuh, Durian Runtuh by Nadhira Napoleon juga turut menyediakan berbagai olahan buah durian. Seperti pancake durian, durian kupas, cendol durian, ice cream durian, dan sup durian. 

Pengunjung warung durian ini juga menyediakan menu makanan lainnya, seperti Pempek, Tekwan, Lenjer, Lenggang, Nasi Goreng dan lainnya. Jadi cocok untuk nongkrong buat penggemar maupun bukan penggemar durian. 

Sekadar saran, kalau ingin menghindari keramaian, pengunjung sebaiknya datang pagi atau sore. Sebab kalau malam biasanya akan padat pengunjung. 

Duren Runtuh by Nadhira Napoleon

Bundaran Bandara SSK di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru

Instagram: @durianruntuh_nnp

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo Dari 1950

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo menjadi legenda kuliner di sekitar Kali Krasak.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo sudah menahun diakui sebagai salah satu primadona dalam khasanah kuliner Yogyakarta. Lokasinya yang berupa warung sederhana, serta terletak di tepian kota, tak pernah membuatnya lekang oleh masa dan sepi pengunjung.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Sudah menjadi rahasia umum kalau sang kota pelajar sendiri sudah lama dikenal dengan ragam kulinernya yang memanjakan lidah. Mulai dari gudeg, bakmi jawa, sate klatak, hingga nasi kucing selalu menjadi buruan penggemar kuliner, baik domestik hingga mancanegara.

Tak ketinggalan adalah brongkos, sajian menarik yang terbuat dari santan dan rempah seperti kluwek, lengkuas, kemiri, ketumbar dan gula jawa. Ia disajikan dengan dituangkan pada sepiring nasi hangat, dengan beragam lauk pauk seperti daging sapi, tahu, telur rebus, serta kacang tolo.

Brongkos Warung ijo BU Padmo berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Suasana Warung Ijo Bu Padmo. Foto: IG Warung Ijo Bu Padmo

Dalam perkembangannya terkadang beberapa bahannya dapat disubstitusi, seperti penggunaan daging kambing atau kacang tanah. Selain itu, saat dihidangkan brongkos juga lazim ditambahkan dengan cabe rawit untuk menambah cita rasa pedas di dalamnya.

Meski secara umum populer sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta, kadang kala brongkos bisa ditemukan pula di beberapa kota di Jawa Tengah, seperti Magelang dan Solo. Disinyalir, keberadaannya sebagai kuliner tradisional di kawasan tersebut sudah bertahun-tahun lamanya.

Bahkan, makanan ini disebut-sebut sebagai salah satu hidangan favorit mendiang Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta sang anak Sri Sultan Hamengkubuwono X. Brongkos juga kerap menjadi salah satu sajian santap siang atau malam bagi tamu-tamu Keraton Yogyakarta.

Maka menjadi tak begitu mengejutkan jika beberapa warung-warung penjaja brongkos yang banyak digemari ternyata sudah eksis sejak berpuluh tahun lalu. Seperti halnya Bronglos Warung Ijo bu Padmo yang sudah berjualan sejak 1950.

Warung ini terletak di kawasan pasar Tempel, yang berada persis di tepi perbatasan antara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mulanya, warung dapat ditemukan tak jauh dari kolong jembatan kali Krasak.

Masakan Brongkos shutterstock
Ilustrasi Brongkos komplit. Foto: shutterstock

Kala itu, warung tersebut berukuran kecil, dan berada persis di tepi jalan. Kini, untuk mengantisipasi jumlah pengunjung yang terus bertambah, serta akses parkir yang kurang memudahkan, akhirnya warung dipindahkan tak jauh dari area tersebut.

Namun, satu ciri khas yang tak dihilangkan adalah nuansa warung yang berwarna hijau. Dari luar, warung nampak mudah ditemukan dengan warna hijau mencoloknya, dan nuansa tersebut berlanjut hingga ke dalam interior warung.

Dari dinding, meja, bahkan hingga sekedar tutup toples untuk kerupuk dan berbagai pelengkap teman makan brongkos lainnya juga berkelir hijau. Sehingga tak heran, jika kebanyakan pelanggannya lazim memanggilnya dengan sebutan ‘warung ijo’.

Selain dari penampilannya yang unik, alasan mengapa brongkos warung ijo bu Padmo menjadi begitu dikenal tentulah karena brongkosnya yang begitu nikmat. Kuahnya berwarna coklat kehitaman nan pekat, dengan perpaduan rasa manis, gurih dan pedas yang amat menggoyang lidah.

Tak hanya itu, potongan daging sapi di dalamnya juga terasa sangat empuk, dengan rasa bumbu rempah yang begitu meresap. Kalau tak ingin daging, pengunjung juga dapat memilih isi lauk lain, seperti koyor dan babat, serta tentunya lauk brongkos lainnya seperti tahu dan telur rebus.

Dalam penyajiannya, brongkos warung ijo bu Padmo juga dapat disantap dengan tambahan makanan lain, seperti gudeg, sambal goreng krecek, oseng pete dan sayur pecel. Sebagai pelengkap, disediakan pula perkedel, tempe, rempeyek, emping dan berbagai jenis kerupuk.

Kini juga tersedia beragam pilihan sambal yang juga bisa dipilih sebagai pelengkap, seperti sambal udang dan sambal cumi. Jangan lewatkan pula beberapa pilihan minuman segar seperti es jeruk, es tape dan es limun temulawak.

Untuk mencapai dan menjaga cita rasa yang kini disukai banyak pelanggannya, brongkos warung ijo bu Padmo masih memasak dan menyiapkan makanannya dengan metode tradisional, seperti penggunaan tungku kayu bakar.

Kluwek shutterstock
Kluwek, salah satu bumbu utama brongkos. Foto: shutterstock

Metode itu terus dipertahankan, hingga kini usaha warung dijalankan oleh anak-anak bu Padmo. Terbukti, hingga kini warung terus dibanjiri oleh pengunjung, baik warga lokal penggemar brongkos, maupun wisatawan pecinta kuliner.

Dengan pilihan seporsi nasi brongkos yang cukup komplit tersebut, pengunjung bisa mendapatkannya dengan kisaran harga Rp 30 ribu-an. Beberapa pelengkap yang bisa diambil sendiri sesuai selera juga dihargai sekitar Rp 2 ribu.

Konsep warung yang unik, dan hidangannya yang menggugah selera, menjadikan brongkos warung ijo bu Padmo begitu legendaris dan terus banyak diminati. Sebuah cabang di kawasan jalan Magelang, tak jauh dari warung aslinya, kini juga dibuka untuk melayani lebih banyak lagi pengunjung.

Brongkos Warung Ijo bu Padmo buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 18.00. Yang perlu diingat, kebanyakan pengunjungnya datang pada saat jam sarapan dan makan siang, sehingga terkadang dari jam 17.00 pun bisa saja warung sudah tutup karena laris manis.

Pun warung aslinya kini sudah pindah tempat dan menjadi warung berukuran lebih besar, tetap saja warung kerap dipenuhi pengunjung, terlebih pada akhir pekan dan hari libur. Maka tak ada salahnya mampir juga ke cabangnya yang tetap sama hijaunya dan sama nikmat brongkosnya.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Jl. Turi no. 10, Tempel, Yogyakarta

Jl. Magelang no. 18, Tempel, Yogyakarta

Instagram @brongkos_bupadmo

agendaIndonesia/Audha Alief Praditra

*****

4 Warung Sate Terpopuler di Ponorogo

Sate ayam Ponorogo merupakan makanan khas kota di Jawa Timur ini. Foto: shutterstock

Ini 4 warung sate terpopuler bagi pecinta kuliner sate, utamanya sate ayam khas Ponorogo. Kota yang terletak di wilayah barat daya provinsi Jawa Timur ini sudah kadung dikenal dengan kuliner sate ayamnya yang punya karakteristik unik dan punya banyak penggemarnya sendiri.

4 Warung Sate Terpopuler

Seperti bagaimana sate Ponorogo identik dengan potongan dagingnya yang cenderung tipis. Ini dikarenakan cara memotong daging ayamnya dengan cara diiris tipis atau fillet. Cara ini berbeda dengan sate ayam Madura, misalnya, yang dagingnya dipotong dadu atau lebih tebal. Disinyalir, metode ini membantu mengurangi kadar lemak di dalam daging.

Reog Ponorogo merupakan seni tari sejak abad 11. Foto: shutterstock
Ini 4 warung sate terpopuler di Ponorogo yang asyik dinikmati setelah nonton Reog Ponorogo. Foto shutterstock

Keunikan lainnya adalah proses marinasi daging saat akan disajikan. Sate Ponorogo dikenal dengan cita rasanya yang begitu gurih dan legit karena dagingnya direndam di dalam bumbu terlebih dulu sebelum dibakar. Dan saat proses pembakaran pun, daging akan terus dilumuri bumbu agar cita rasanya benar-benar meresap.

Bumbu kacangnya juga terbilang unik. Kalau sate pada umumnya disajikan menggunakan kecap atau bumbu kacang yang pekat dan kental, sate Ponorogo disajikan dengan bumbu kacang yang terbuat dari kacang tanah sangrai dan gula merah. Wujudnya terlihat lebih terang dari bumbu kacang umumnya, dengan tekstur lebih lembut dan rasa yang manis nan gurih.

Bahkan, begitu populernya kuliner sate di Ponorogo, hingga terdapat sebuah area di kota tersebut yang berisi deretan pedagang sate, bernama Gang Sate. Setidaknya dapat ditemui sekitar belasan warung sate yang kerap ramai pengunjung. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari mereka bisa menjual ribuan tusuk sate, bahkan puluhan ribu tusuk sate saat akhir pekan dan hari libur.

Pun demikian, warung sate sejatinya bisa ditemui dengan mudah di hampir setiap sudut kota reog tersebut. Masing-masing dari mereka juga punya keunikan tersendiri, dan tak kalah ramai oleh pengunjung. Berikut ini adalah 4 warung sate terpopuer di Ponorogo dan kerap jadi rekomendasi.

  1. Sate Ayam H. Tukri Sobikun

Bisa dibilang, inilah salah satuy dari 4 warung sate terpopuler dan paling legendaris di Ponorogo. Usaha warung sate yang sudah dirintis sejak 1965 ini adalah salah satu yang tertua, dan juga yang termasuk turut mempopulerkan makanan ini sebagai kuliner khas Ponorogo. Lokasinya berada di area Gang Sate, tepatnya di Jalan Lawu nomor 43K.

Ini 4 warung sate terpopuler di Ponorogo, salah satunya Sate Sobikun.
Ini salah satu dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo, Sate Tukri Sobikun.

Warung sate ini terkenal dengan bumbu kacangnya yang khas, dengan rasa cenderung pedas manis. Ketika sate disajikan pun, bumbunya akan dipisah di dalam mangkok dalam porsi yang cukup banyak, sehingga pengunjung tak perlu khawatir kehabisan bumbu. Satenya juga tak kalah unik, karena potongan dagingnya cenderung lebih besar ketimbang umumnya.

Sate Ponorogo lazimnya juga hanya menyajikan potongan daging tanpa bagian kulit atau lemaknya. Tetapi, di warung ini pengunjung juga bisa memesan sate yang dicampur dengan bagian kulit dan lemak. Dalam seporsi sate berisi 10 tusuk, yang khusus daging saja harganya Rp 36 ribu, sementara yang campur dihargai Rp 38 ribu.

Tak cuma itu, sate buatan mereka diklaim tahan cukup lama untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh, sehingga kini mereka juga menyediakan paket sate isi 10 hingga 25 tusuk di dalam kotak, atau isi 30 tusuk ke atas di dalam besek bagi pengunjung yang ingin membawa oleh-oleh sate Ponorogo dari warung ini.

Buka dari jam 05.00 hingga 20.00, warung ini kerap sudah ramai dari pagi. Ada yang datang karena memang ingin makan di tempat, tapi ramai pula yang datang membeli untuk oleh-oleh. Maka jangan heran bila pelanggannya berkisar dari warga lokal, wisatawan, hingga figur publik sekelas presiden.

  • Sate Ayam Pak Mesiran

Sate Ayam Pak Mesiran, yang berada di jalan Gajah Mada nomor 11 juga termasuk satu dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo yang ikonik. Sudah berjualan sejak 2001, warung ini dikenal dengan satenya yang otentik dan nikmat, namun dengan harga yang bersahabat di kantong. Satu porsinya hanya dibandrol Rp 17 ribu saja.

Meski terhitung murah, namun sate yang disajikan tak pelit dengan porsi dagingnya yang banyak dan cukup besar. Tak hanya itu, pengunjung juga bisa memilih varian sate yang diinginkan sesuai selera, mulai dari sate daging ayam, sate kulit ayam, serta sate campur daging dan kulit.

Bumbu kacangnya juga terasa lembut dan creamy dengan cita rasa gurih, manis dan pedas yang berpadu nikmat. Ketika sate disajikan, akan disediakan pula bumbu terpisah di piring, sehingga tak perlu takut bumbunya kurang. Sate Ayam Pak Mesiran buka setiap hari dari jam 08.00 sampai 20.00.

  • Sate Ayam Pak Kisul

Tempat lain dari 4 warung sate terpopuler di Ponorogo lainnya yang unik dan menarik untuk dicoba adalah sate ayam pak Kisul, yang terletak di Jalan Barito nomor 30. Warung usaha keluarga yang sudah turun temurun hingga empat generasi ini buka dari jam 16.00 sampai 21.00, cocok untuk yang ingin berwisata kuliner di malam hari.

Sate ayam di sini agak sedikit berbeda, dari segi ukuran terlihat sedikit lebih kecil. Meski demikian, dagingnya tetap terasa empuk dan juicy. Dan yang lebih istimewa lagi, cita rasa bumbunya yang gurih dan pedas begitu terasa di lidah. Usut punya usut, kuncinya terletak pada metode marinasi yang dilakukan.

Setelah sate direndam di dalam bumbu marinasi, sate kemudian dikeringkan terlebih dulu sebelum dimasak. Ini bertujuan untuk membiarkan bumbunya betul-betul meresap ke dalam dagingnya. Sensasi daging sate yang sudah termarinasi sedemikian rupa, dipadu dengan bumbu kacang yang lebih kental serta kecap, semakin menambah unik sate di warung ini.

Dan semua keunikan itu hanya perlu ditebus dengan harga yang ringan di kantong. Satu porsi sate ayam di warung ini hanya dihargai Rp 12 ribu saja. Tak mengherankan jika selain menjadi salah satu wisata kuliner malam hits di Ponorogo, banyak pula yang menyambangi warung ini dari sore hari untuk sekedar nongkrong sambil menyantap sate.

Sate Ayam Ponorogo shutterstock
  • Sate Ayam Pak Imun

Bicara soal kuliner malam di Ponorogo, maka tak bisa melewatkan sate ayam pak Imun, satu dari 4 warung sate terpopuler  dan salah satu ikon kuliner malam kota reog itu. Bahkan, sejatinya tidak perlu menunggu malam untuk bisa datang ke sini, karena warung sate yang bertempat di Jalan Soekarno-Hatta nomor 240 ini buka 24 jam setiap harinya.

Sate di sini terbuat dari daging ayam kampung pilihan, yang menjadikannya terasa lebih empuk, padat dan juicy. Potongan dagingnya pun terbilang besar-besar, diiris memanjang dan pipih. Bumbu kacangnya juga khas, dengan tekstur lebih kental dan ditaburi dengan bawang goreng yang gurih nan renyah.

Tak lupa, sambal pedas nan segar yang terbuat dari cabe rawit, bawang merah, bawang putih dan tomat yang turut melengkapi. Dan sebagai pasangannya, pengunjung bisa memilih mau dengan nasi, lontong atau ketupat. Adapun harga satu porsinya berkisar dari Rp 22 ribu sampai 25 ribu.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Patio Venue dan 19 Jenis Piza: Asin-Manis

Patio Venue di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan menawarkan casual dining dengan hidangan Italia dan pilihan piza yang berlimpah. Tadiya menjadi alternatif berkumpul keluarga. Saat ini di tengah pandemi, hanya menerima take out.

Patio Venue

Pagar tembok dan pepohonan rindang seperti menyembunyikan Patio Venue Jakarta yang terletak di Jalan Wijaya XIII Nomor 45 ini. Ketika melewati dinding temboknya  yang dibiarkan kasar itu, baru lah saya menemukan  bangunan dengan dinding-dinding kaca dan taman-taman kecil dengan kolam ikan koi.  Terasa keteduhan mendominasi.

Ketika melangkah masuk, lantai kayu dan warna cokelat pada kursi, serta bagian piza dan bar pun menyemburkan suasana hangat. Suasana khas sebuah rumah. Saya memilih pojok yang terang, dekat dinding kaca dengan taman kecil. Melirik pembakaran piza di salah satu pojok, saya pun sudah bisa menebak, piza lah yang menjadi menu utama di restoran, yang berada di bawah bendera Plataran Indonesia, ini. Ehmm… siapa takut dengan piza tipis renyah untuk makan siang yang santai seperti ini?

Di sebelah saya, meja menjadi ajang kumpul empat ibu Jepang berusia 40 tahunan. Di depan saya, Theresa Yudistira, Corporate Marketing Communications Manager Plataran Indonesia menjadi rekan makan siang kali ini. Ia pun bertutur tentang Patio yang semula merupakan venue atau area yang disewakan untuk acara atau pesta. Tahun 2014, Patio beroperasi sebagai restoran dengan menu khas Italia dan label Patio Tortaria & Pizzeria. Saya masih menemukan nama tersebut terpahat pada tembok kecil di depan restoran.

Sajian Italia dipilih karena menurut Theresa memiliki rasa asam dan pedas yang akrab dengan lidah lokal. Lantas, Oktober lalu, restoran pun berubah konsep menjadi casual dining. Menu piza dari tujuh jenis ditambah menjadi 19 pilihan. Kemudian, ditambahkan pula camilan, seperti chicken wings. Selain itu, setiap Rabu malam, pada pukul 19.00-22.00, tampil grup semi akustik  Lalahuta dengan tembang-tembang Top 40’s.

Sungguh menjadi malam yang hangat ditemani salad, piza, pasta, atau steak. Piza, sebagai menu dengan pilihan terbanyak, disajikan dalam olahan orisinal, kombinasi, hingga dibuat manis. Salah satu unggulanya adalah pizza confungi, yang terdiri atas dua jenis jamur dan permukaannya diselimuti keju. Tapi, piza seharga Rp 99 ribu itu memunculkan rasa jamur yang dominan. Bagi yang doyan keju, bisa memilih quatrro fromaggi yang memadukan empat jenis keju. Lantas, piza tanpa daging merupakan sajian spesial untuk vegetarian. Ada pula piza yang dibubuhi bebek atau daging dan sejumlah ikan laut.

Selain itu, ada beragam pasta, seperti capelli d’Angelo all’Aragosta, yakni sajian pasta jenis angel hair dengan lobster, bawang putih, dan potongan cabe seharga Rp 99 ribu. Tapi, saya mencicipi linguine primavera seharga Rp 149 ribu. Sajian ini diberi tanda dua cabe di buku menu, tanda makanan berasa pedas. Udang menjadi hiasan di bagian atas dan tomat cherry bertaburan memberi warna segar. Selain itu, juga terselip potongan cabe yang membuat lidah sedikit terbakar.

Bagi yang tidak doyan gurih dan asin, ada pula piza yang manis, di antaranya diberi nama tutti fruit, yang mencampurkan buah kiwi, stroberi, jeruk, peach, dan alpukat. Piza ini seharga Rp 69 ribu. Ada juga rasa tiramisu dan chocolato banana, tak ubahnya seperti hidangan cuci mulut yang tertera di menu. Ada juga tiramisu, panna cotta, cassata, dan tentunya tartufo bianco, yang saya cicip hangat-hangat dengan bagian dalamnya berupa cokelat putih yang meleleh.

Restoran dengan area pemanggangan piza yang terbukaini berkapasitas 120 orang. Biasanya, restoran  ramai dikunjungi saat malam hari dan akhir pekan. Pesta keluarga, arisan, hingga pertemuan bisnis pun kerap digelar di sini. Ada tiga ruang privat berkapasitas 6-20 orang. Dua ruang bisa dibuka sekatnya, hingga kapasitasnya bisa mencapai 20 tempat. Tiap ruang menghadap ke kolam koi. Dua di antaranya menyuguhkan dinding-dinding dengan hiasan tanaman anggrek.  Bagian tengah, restoran bisa dijadikan satu area khusus  dengan kapasitas 80 orang.

Karena pemilik menargetkan pangsa pasar 30 tahun ke atas, ketika ruangan penuh dengan tamu pun, keriuhannya berbeda dengan tempat yang digandrungi anak muda. Meski demikian, ada juga anak muda yang datang.  Hanya, restoran ini tidak ditujukan untuk nongkrong. “Bar hanya menjadi pelengkap,” ujar Theresa.  l

Patio Venue Jakarta ; Jalan Wijaya XIII no 45; Kebayoran Baru; Jakarta Selatan

Operasional; Pukul 11.00-23.00 (Saat kondisi normal, sebelum kejadian pandemi)

*****

Patio Venue, salah satu resto di bawah bendera Plataran, perusahaan yang berkecimpung di bidang pariwisata.
Patio Venue di bawah kelompok The Plataran. Foto: istimewa.

Dari Resto hingga Kapal Pesiar

Patio Venue merupakan salah satu restoran yang berada di bawah bendera Plataran. Perusahaan ini berkecimpung di bidang pariwisata, mulai dari resor, kapal pesiar, restoran, hingga aktivitas ekowisata. Propertinya tersebar di beberapa kota. Misalnya  di bawah Plataran Hotels & Resorts ada  Plataran Puncak, Plataran Borobudur, Plataran Canggu Bali, Plataran Ubud, Plataran Menjangan, dan Plataran Komodo.

Sedangkan, kelompok venue and dinings terdiri atas Plataran Dharmawangsa dan  Patio Venue di  Jakarta. Ada pula The View Restaurant di  Munduk, Bedugul, Bali. Kemudian, Stupa Restaurant di Magelang serta Atlantis Beach Club di Labuan Bajo, Flores. Juga ada Plataran Private Cruises di  Flores dan Menjangan Bali. Saat ini, tengah dikembangkan juga resor di Bromo dan Sumba.

agendaIndonesia/Rita N.

Brunch Saat di Bali, 5 Yang Menggoda

Brunch saat di Bali, pilihan makan di saat nangung

Brunch saat di Bali ketika sedang menikmati liburan rasanya hal yang biasa. DI manapun orang sedang berlibur, mereka biasanya memang mengoptimalkan waktu untuk bersantai, leha-leha, atau menggunakan waktu untuk kegiatan hore-hore. Berenang, menyelam, mengunjungi spot-spot menarik, atau sekadar berkumpul bersama teman.

Brunch Saat di Bali

Bukan rahasia jika saat liburan orang memilih tidur lebih lama, atau bangun lebih siang karena menghabiskan malam lebih larut. Dalam situasi seperti itu, sering makan pagi terlewatkan, namun makan siang belum waktunya.

Pada situasi itu, orang memanfaatkan brunch, ini gabungan breakfast dan lunch. Waktunya biasanya antara pukul 9 hingga 11 pagi. Pada jam seperti itu, biasanya menu sarapan di hotel sudah tidak terlalu lengkap. Atau, kadang menu sarapan yang disediakan hotel terlalu standar.

Di Bali, rasanya banyak tempat yang bisa dipilih untuk menikmati sarapan kesiangan atau makan siang kepagian alias brunch saat di Bali. Bisa sambil menikmati pemandangan terasiring sawah, atau debur gelombang laut. Berikut beberapa alternatif yang bisa dipilih.

Makan Sehat di Nude

Liburan sambil tetap menjaga kesehatan? Ada pilihan bagus di Canggu Bali. Tepatnya di Jalan Pantai Berawa. Ini bisa menjadi pilihan untuk mereka para vegan dan vegetarian. Juga ada pilihan menu bagi mereka yang menghindari makanan yang mengandung gluten.

Beberapa menu andalan yang bisa dipilih seperti  smoked salmon baget, the nude omelette, naught nude big brekky, crispy duck pancake, atau yellowfin salad. Semua dengan harga yang masuk akal. Rata-rata menu berada di kisaran Rp 40 ribu–70 ribu.

Nude Canggu, Jl. Pantai Berawa No. 33, Tibubeneng, Bali

brunch saat di Bali menjadi pilihan jam makan ketika sedang liburan.
Menu brunch yang menggoda di Sisterfields, Bali. Foto: Ist. sisterfields

Sarapan Ala Australia

Resto ini membawa café culture Australia. Ia melayani pengunjung sejak breakfast, brunch, lunch, hingga makan malam dan menjadi salah satu favorit wisatawan mancanegara. Bergaya butik café ala negeri kangguru itu dengan ruang makan terbuka, membuat banyak wisatawan merasa nyaman di sini.

Banyak menu makanan seperti salad, pastry, dan sandwich yang cocok untuk jam-jam makan yang nanggung. Tidak berat tapi cukup mengenyangkan sebelum jalan menuju lokasi wisata. Chilli scramble atau eggs benedict-nya layak dicoba. Soal yang perlu diperhatikan, karena umumnya pelanggan wisatawan asing, resto ini menyediakan masakan non-halal.

Sisterfields, Jalan Kayu Cendana Nomor 7, Seminyak, Bali

Brunch saat di Bali karena orang memanfaatkan waktu untuk liburan.
Menu lengkap bergaya tradisional dengan penyajian yang menggoda selera. Foto: Ist Biku

Nuansa Tradisional dan Eropa

Untuk mereka yang mencari masakan tradisional dengan tampilan klasik dan gaya eropa, bisa memilih brunch di Biku. Resto ini sendiri berada di sebuah bangunan joglo kuno yang konon berusia sekitar 150 tahun dan langsung dibawa dari Jawa. Suasananya sangat hangat dan membuat orang langsung betah. Menunya sangat beragam namun yang spesial adalah sajian teh-nya. Ada aneka pilihan teh, mulai dari teh Jawa, India, hingga dari Cina.

Tak hanya untuk menikmati teh, Biku juga menyajikan aneka menu yang cocok untuk brunch saat di Bali. Jika mampir ke sini bisa dicicipi mulbery pie, wagyu stek sandwich, poke bowl, atau Vietnamesse spicy chicken wings. Meski bergaya resto, harga makanan di sini cukup ramah di kantong.

Biku, Jalan Petitenget No. 888, Kerobokan, Bali

Pasta Untuk Brunch

Meskipun bukan resto atau café yang mengkhususkan diri untuk masakan Italia, cobalah brunch saat di Bali dengan pilihan pasta di resto Kinuwa ini. Resto ini sesunguhnya memiliki pilihan terlengkap, mulai dari pastry, pasta, salad, soup, smoothie, eggs dan toast. Di sini juga ada menu untuk vegan dan vegetarian.

Tapi seperti di sebut di muka, jika mampir di sini, cobalah mencicipi sajian pasta dan pizza nya. Pilihan bisa jatuh pada spaghetti Sicilian, Dialova Pizza, atau Manggo Bowl. Jika ingin yang lebih berat, bisa dipilih grilled chicken breast, grilled striploin, atau grilled mahi-mahi fish.

Harga untuk brunch di sini cukup ramah kantong. Makanan dipatok mulai dari Rp 50 ribu-70 ribu. Sedangkan minuman mulai Rp 30 ribu.

Kinuwa, Jalan Raya Batu Bolong No. 55, Canggu, Bali

Brunch saat di Bali bisa memilih tempat yang terbuka seperti di Nook.
Brunch dengan pemandangan sawah. Foto: Ist. Nook

Brunch Di Ruang Terbuka

Ini pilihan untuk mereka yang ingin sarapan atau makan siang di tempat yang terbuka. Bertempat di Jalan Umalas, Kerobokan, Nook memberikan tempat makan luar ruang yang asri, dan bernuansa alam. Tempatnya luas dan banyak spot yang instagramable.

Makanan favorit di tempat ini adalah smoothie bowl, sandwich dan burger. Jika sedang diet di sini juga ada pilihan menunya. Ada juga juice aneka buah yang segar disruput di udara terbuka. Harga makanan di sini memang agak lebih tinggi, mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 150 ribu.

Nook, Jalan Umalas 1 No. 3, Kerobokan Kelod, Bali

Sudah siap dengan agenda liburan lagi setelah kondisi pandemi agak mereda? Ayo main ke Bali.

agendaIndonesia

****

Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk di Krui

Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk saat berkunjung ke Kriuk di Kabupaten Lampung Barat. Tuhuk tak lain adalah ikan marlin, ukurannya bisa mencapai  40 kilogram dan dagingnya diolah menjadi beragam sajian.

Nikmatnya 3 Menu Ikan Tuhuk

Bila melintasi Pulau Sumatera dengan menyisir sisi barat, ada daerah pesisir yang akan dilalui dan banyak diburu para peselancar, yakni Kabupaten Krui. Di kota yang semula bagian dari Kabupaten Lampung Barat ini, ada destinasi wisata yang cukup dikenal, bahkan hingga ke mancanegara, yakni Tanjung Setia. Di kawasan ini, deretan home stay  diisi para peselancar dari berbagai benua, yakni Benua Australia, Asia, Amerika, hingga Eropa.  Nah, selain pilihan restoran di masing-masing home stay,  mengisi perut di seputar Pasar  Krui pun bisa jadi pilihan.

Tak jauh dari Dermaga Krui, ada dua restoran yang bisa dituju untuk mencicipi sajian khas ikan, yakni setuhuk atau tuhu. Ikan yang dimaksud adalah ikan marlin. Hanya, mengingat ada dua jenis, yakni blue marlin dan black marlin, bila melihat hasil tangkapan para nelayan, yang dimaksud adalah black marlin. Ikan berparuh panjang ini dikenal dengan dagingnya yang lembut. Di Pasar Krui, yang tak jauh dari dermaga, ikan dijual dengan variasi harga, tergantung musimnya.

Salah satu staf di Rumah Makan Uncu Rina, yang berada di samping Kantor Bupati Krui, menyebutkan bila sedang musim, harga ikan tuhuk sekitar Rp 40 ribu per kilogram. Namun, saat ikan setuhuk sulit didapat, harga bisa melambung hingga Rp 90 ribu per kilogram. Para pendatang maupun turis dipastikan mencari sajian ikan setuhuk bila mampir ke Krui. Sajian yang dicari beragam, baik yang berupa sate maupun yang diolah menjadi pindang.

Sate Tuhuk

Tampilannya memang seperti sate pada umumnya. Ada daging yang ditusuk dan sepintas tidak jauh berbeda dengan sate ayam karena daging ikan tuhuk tertutup bumbu kacang yang dihaluskan. Baru terasa berbeda ketika tusuk sate itu masuk ke mulut. Daging yang telah dipotong-potong terasa begitu lembut. Berbeda sekali saat kita mengunyah daging sate jenis lainnya, seperti ayam, kambing, dan sapi. Bahkan, lebih lembut dari daging kelinci.

Potongan ikan tuhuk seperti meluncur di tenggorokan. Karena berbahan ikan segar, sudah pasti tidak ada aroma manis atau aroma lainnya. Proses pembakarannya tidak selama sate pada umumnya. Cukup 15 menit, sate pun sudah siap disantap. Sate disajikan dengan guyuran bumbu kacang dan kecap. Tersedia 10 tusuk sate per porsi dengan harga sekitar Rp 15 ribu.

RM Pondok Kuring; Pekon Serai, Pesisir Tengah; Krui

Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Lampung Barat. Salah satunya sop ikan tuhuk.
Nikmatnya 3 menu ikan tuhuk di Krui, Kabupaten Lampung Barat, di antaranya sop ikan. Foto: Dok. A. Probel-TL

Sop Ikan Tuhuk

Ikan tuhuk tak hanya disajikan dalam olahan sate.  Seperti umumnya daerah Sumatera, ikan marlin pun diolah berupa sop, yang bening, tapi wangi karena taburan daun bawang dan bawang goreng. Ikan diberi tambahan sayuran, seperti wortel yang dipadu dengan sepiring nasi. Paling pas disantap saat masih hangat. Hanya sebaiknya, ikan disantap saat langit di Krui mulai gelap. Apalagi saat angin laut sudah mulai berputar-putar di sekitarnya.

Seporsi sop ikan tuhuk dipatok dengan harga Rp 10 ribu. Sop ini menjadi salah satu sajian yang ditawarkan rumah makan Uncu Rina. Rumah makan yang berdiri sekitar tujuh tahun lalu ini dikelola oleh satu keluarga. Seperti beberapa rumah makan di Krui, unggulannya tentu olahan dari ikan tuhuk meski saat musim angin barat datang, jenis ikan ini lebih sulit diperoleh.

RM Uncu Rina

Pasar Krui

Krui

Pindang Menyegarkan

Tidak jauh dari daerah Sumatera Selatan yang terkenal dengan olahan pindang ikan, Lampung pun menawarkan kesegaran khas yang sama. Bahkan, dengan hasil para nelayan berupa ikan tuhuk, suguhan khas ketika ke Krui pun berupa pindang ikan tuhuk. Tampilannya seperti umumnya olahan pindang. Kuah berwarna kecokelatan dipadu dengan potongan cabe dan daun kemangi. Potongan ikan tuhuk berwarna putih dan berukuran cukup besar pun langsung menggoda.

Rasa asam dari buah asem, serta wangi serai dan kemangi membuat pindang dengan daging ikan yang lembut, menyegarkan saat disantap siang hari. Satu piring nasi habis tanpa terasa. Per porsi sajian pindang ini dipatok dengan harga sekitar Rp 20 ribu.

RM Uncu Rina

Pasar Krui

Krui

agendaIndonesia/Rita N./A. Probel