Loenpia Semarang menjadi salah satu pilihan buah tangan jika wisatawan berkunjung ke ibukota Jawa Tengah. Loenpia atau sering juga disebut lumpia adalah satu lagi contoh makanan hasil akulturasi dua kebudayaan yang kemudian menjadi ikon tersendiri.
Loenpia Semarang
Perjalanan loenpia telah melampui lebih dari 1 abad dengan pelbagai perkembangannya. Dari berbagai sumber, konon lahirnya loenpia bermula saat seorang pria warga Fujian, atau Provinsi Fu Kien, Tiongkok, bernama Tjoa Thay Joe memutuskan pindah dan tinggal di Semarang. Ia mencoba peruntungan dengan berjualan makanan asal negerinya di kota itu.
Tjoa awalnya membuka bisnis makanan khas negerinya berupa makanan pelengkap berisi daging babi dan rebung. Belakangan ia kemudian bertemu Wasih, orang Jawa yang juga berjualan makanan yang hampir sama, hanya saja rasanya lebih manis dan berisi kentang juga udang. Ke duanya berjualan di tempat yang berdekatan.
Seiring waktu, mereka ternyata saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Bisnis makanan yang mereka jalankan pun dilebur dengan beberapa perubahan yang saling melengkapi. Isi lumpia diubah menjadi ayam atau udang yang dicampur dengan rebung, serta dibungkus dengan kulit lumpia khas Tionghoa. Jadilah loenpia seperti yang dikenal saat ini.
Soal penamaan makanannya sendiri, ada dua pendapat. Pertama, nama lunpia berasal dari dialek Hokkian, “lun” atau “lum” berarti lunak dan “pia” artinya kue. Pada awalnya loenpia Semarang tidak digoreng, sehingga sesuai makna lumpia, kue yang lunak.
Pendapat lain menyebutkan, nama makanan itu muncul karena Tjoa dan Wasi menjual jajanan mereka itu di pasar malam Belanda bernama Olympia Park. Masyarakat lalu mengenal panganan hasil akulturasi tersebut dengan nama lumpia karena kesulitan menyebut Olympia. Mana yang benar, walahualam. Yang jelas loenpia atau lumpia kemudian berkembang menjadi salah satu kekhasan Semarang. Termasuk ketika keduanya kemudian membuka usaha secara menetap di Gang Lombok Nomor 11, Semarang.
Dari pasangan ini, loenpia kemudian menyebar. Awalnya pusaka kuliner Tjoa Thay Yoe–Wasih ini diteruskan oleh keluarga Siem Gwan Sing- Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal Tjoa-Wasih. Dari pasangan generasi ke dua tersebut, loenpia makin melebar ketika ketiga anak Siem Gwan-Tjoa Po, yakni Siem Swie Hie, Siem Hwa Nio, dan Siem Swie Kiem, masing-masing membuka usaha loenpia.
Ketiganya mengembangkan loenpia dengan gaya dan resep masing-masing. Semacam diferensiai produk. Loenpia dari trah Tjoa-Wasih kini praktis sudah berada di tangan generasi ke empat dan ke lima.
Warung tertua saat ini, peninggalan Tjoa dan Wasih, masih buka di Gang Lombok Nomor 11, bersebelahan dengan Klenteng Tay Kak Sie. Loenpia Gang Lombok ini kini dikelola oleh generasi ke empat, yakni Purnomo Usodo yang akrab disapa Pak Untung. Ia adalah anak dari Siem Swie Kiem, anak ke tiga Tjoa-Wasih.
Untung tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayah dan kakeknya di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini menurut sejumlah penggemarnya adalah racikan rebungnya tidak berbau “pesing”, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.
Lumpia buatan generasi keempat lainnya dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka cabang di Jalan Pandanaran, yakni di depan toko bandeng presto Juwana. Kekhasan loenpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung.
Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram, atau sekarang Jalan MT Haryono, seraya membuka kios-kios baru di beberapa tempat di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta loenpia Semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang di luar trah tersebut yang membuat lumpia. Mereka umumnya mantan karyawan dari ketiga keluarga awal. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang.
Manakah dari semua merek loenpia ini yang paling enak? Semua kembali kepada selera.
Ini dia 7 destinasi utama kuliner di Cirebonb bagi para wisatawan yang hendak menikmati santapan khas Cirebon. Ada berbagai jenis kuliner khas dan otentik yang dapat dicoba, mulai dari makanan hangat berkuah, kudapan ringan, kuliner malam hari, hingga ragam racikan menu nasi yang menarik dan dapat mencakup bermacam-macam selera. Ini dia 7 destinasi utama kuliner di Cirebon.
7 Destinasi Utama Kuliner Di Cirebon
Nasi Jamblang Ibu Nur
Salah satu destinasi kuliner paling terkenal di Cirebon saat ini adalah Nasi Jamblang Ibu Nur, yang terletak di Jalan Cangkring 2 Nomor 34, di area pusat kota yang tidak jauh dari alun-alun Kejaksan. Berada di pinggir jalan dengan bangunan berwarna hijau, tidak sulit untuk menemukan rumah makan hits ini.
Sejatinya, nasi jamblang merupakan nasi dengan porsi moderat yang disajikan di atas daun jati, bersama dengan beragam pilihan lauk pauk, seperti ayam goreng, serundeng, oseng cumi saus tiram, terong balado, pepes jamur, telur asin, semur ati dan ampela, ikan pari cabe ijo, sate kerang, serta bermacam gorengan seperti tahu, tempe, perkedel dan lain lain.
Salah satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon adalah nasi Jamblang. Foto: shutterstock
Semua pilihan lauk pauk tersebut dapat dipilih secara prasmanan. Pengunjung akan disediakan sepiring nasi di atas daun jati, dan kemudian pramusaji akan mengambilkan lauk pauk pilihan sesuai selera. Harga seporsi nasi jamblang bergantung pada lauk yang dipilih, namun biasanya pengunjung menghabiskan sekitar Rp 20 ribu ke atas.
Kuliner merakyat sebagai salah satu 7 destinasi utama kuliner di Cirebon ini dengan kesederhanaannya diperkirakan sudah ada sejak zaman pra-kemerdekaan. Nama ‘jamblang’ sendiri disebut berasal dari sebuah daerah di area tepi kota udang tersebut. Kala itu, masyarakat yang hidup sederhana dan tidak punya banyak uang menggunakan daun jati sebagai alas untuk makan, karena daun pisang lebih sulit dan mahal untuk didapatkan.
Kuliner tersebut lantas populer sebagai makanan tradisional khas warga pesisir di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Seiring perkembangan zaman, mulai muncul pula restoran-restoran yang menyediakan nasi jamblang. Nasi Jamblang Ibu Nur misalnya, adalah usaha keluarga yang sudah eksis sejak 2007 dan masih berupa warung tenda.
Masakan rumahan nan tradisional yang lezat, dengan harga yang ringan di kantong, menjadi sejumlah alasan Nasi Jamblang Ibu Nur menjadi begitu populer dan didatangi warga lokal dan wisatawan pemburu kuliner. Buka dari jam 07.00 hingga 20.30, rumah makan ini tak jarang sudah dipenuhi pengunjung yang mencari sarapan sejak pagi.
Sebagai catatan, oseng cumi saus tiram merupakan salah satu menu andalan yang paling dicari pengunjung. Meski harganya paling mahal dibanding menu lauk lainnya – sekitar Rp 28 ribu sampai 35 ribu, tergantung ukurannya – namun bisa dibilang inilah menu paling menarik dan otentik di restoran ini. Maklum, cumi blakutak yang dimasak bersama tinta hitamnya itu merupakan salah satu hasil laut yang populer di Cirebon.
Empal Gentong Haji Apud
Kurang afdol rasanya jika membicarakan 7 destinasi utama kuliner di Cirebon tanpa menyebut empal gentong. Makanan olahan daging sapi berkuah hangat ini sudah lama menjadi primadona kuliner tradisional kota wali tersebut. Salah satu kedainya yang paling populer saat ini adalah Empal Gentong Haji Apud.
Yang menarik, di kedai tersebut tersedia dua jenis menu utama yang ditawarkan, yakni empal gentong dan empal asem. Pada prinsipnya, keduanya sama-sama makanan berkuah dengan isian daging sapi dan jeroannya seperti usus, babat, limpa, paru, kikil dan sebagainya. Perbedaannya, empal gentong menggunakan santan dalam memasaknya, sementara empal asem berkuah bening. Keduanya pun sama-sama dibanderol Rp 25 ribu semangkuk, jadi pengunjung tinggal memilih sesuai selera.
Nama empal gentong sendiri berasal dari cara pembuatannya. Olahan daging sapi beserta rempah-rempah kuahnya dimasak di dalam gentong tanah liat yang diletakkan di atas kayu bakar, selama lebih dari 10 jam. Metode tradisional ini dipercaya mampu membuat masakan menjadi lebih beraroma khas, rasa lebih sedap serta daging yang lebih empuk.
Tidak sulit mencari kedai empal gentong di sekitaran kota Cirebon. Namun bisa dikatakan bahwa Empal Gentong Haji Apud, yang sudah ada sejak 1995, adalah salah satu yang paling terkenal dan paling banyak didatangi pengunjung. Bahkan, selain kedai pusatnya yang berada di jalan Ir. Juanda nomor 24, kini terdapat pula sejumlah cabang seperti di jalan Tuparev nomor 43 dan jalan Otto Iskandardinata, tepatnya di area komplek Pasar Batik Trusmi, untuk memenuhi banyaknya pengunjung.
Nasi Lengko Haji Barno
Yang satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon ini juga sayang untuk dilewatkan. Nasi Lengko Haji Barno jadi salah satu alternatif wisata kuliner yang menarik, khususnya bagi mereka yang vegetarian, atau sekedar menginginkan santapan ringan nan sederhana yang cukup mengenyangkan. Harganya pun terbilang sangat ramah kantong.
Nasi lengko juga merupakan kuliner tradisional yang sudah ada sejak lama. Disebut-sebut makanan ini sudah ada sejak era Sunan Gunung Jati, dimana masyarakat hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan, termasuk dalam hal bahan makanan. Nama ‘lengko’ sendiri bermakna langka, yang menggambarkan kelangkaan bahan makanan di masa itu.
Nasi Lengko menjadi satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon. Foto: shutterstock
Ia kemudian terlahir dari hasil racikan bahan makanan yang masih tersedia kala itu, seperti taoge, tahu, tempe dan timun yang dilumuri bumbu kacang. Dipadu dengan nasi, ia lantas berkembang menjadi makanan merakyat yang populer dan masih menjadi kuliner tradisional yang banyak dicari orang hingga kini.
Nasi Lengko Haji Barno, misalnya, sudah berjualan sejak 1978 dan masih terus mempertahankan popularitasnya. Disinyalir, cara memasaknya yang menggunakan metode dan alat tradisional seperti kompor arang dan kayu bakar menjadi salah satu kunci mengapa cita rasanya terus terjaga dan pelanggannya terus datang kembali.
Sepiring nasi lengko dihargai Rp 12 ribu saja, tetapi itu pun sudah terhitung porsi yang cukup mengenyangkan. Kalau masih terasa kurang, kedai ini juga menawarkan sate kambing yang dibanderol Rp 4 ribu per tusuk. Lokasinya yang terletak di jalan Pagongan nomor 15B, juga mudah dijangkau lantaran berada di area pusat kota dan tak jauh dari alun-alun Kejaksan.
Mie Koclok Mang Sam
Mie Koclok Mang Sam menjadi salah satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon, khususnya saat malam hari. Berlokasi di jalan Pekiringan nomor 110, warung gerobak sederhana ini biasanya buka dari jam 18.00 hingga 23.00 dan kerap menjadi pilihan warga setempat dan turis yang hendak mencari makan malam.
Mie koclok sendiri merupakan olahan mie yang dimasak menggunakan santan dan tepung kanji. Hasilnya, kuahnya menjadi berwarna putih yang begitu kental dan gurih. Di dalam semangkuk mie koclok juga terdapat ayam suwir, telur rebus, taoge dan kol. Disarankan menyantapnya saat masih hangat, karena kuahnya bisa cepat mengental dan kaku.
Sebagai pilihan, pengunjung juga bisa memilih bihun sebagai ganti mie. Tak hanya itu, ada pula menu racikan mie atau bihun yang dicampur dengan gado-gado yang tak kalah unik dan menarik untuk dicoba. Semua ragam menu tersebut dihargai sekitar Rp 25 ribu.
Sate Kalong
Satu lagi dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon malam yang populer adalah sate kalong. Dinamakan demikian bukan karena ia menggunakan daging kalong atau kelelawar, melainkan karena para penjaja sate kalong biasanya baru berjualan saat malam hari, layaknya kalong yang baru aktif berkeliaran ketika hari mulai gelap.
Sate kalong sendiri aslinya menggunakan olahan daging kerbau. Kemunculannya di awal 1900-an berasal dari banyaknya warga setempat yang masih menganut agama Hindu. Dalam ajaran agama Hindu, sapi dianggap sebagai hewan yang disucikan dan pantang untuk dimakan, dan sate ini masih kerap dihidangkan dalam acara adat dan keagamaan, sehingga sebagai gantinya sate disajikan menggunakan daging kerbau.
Pada perkembangannya, saat ini banyak sate kalong yang dijajakan dengan pilihan antara daging kerbau maupun sapi. Yang tak berubah adalah cara penyajiannya, mulai dari daging yang direbus dengan rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah dan ketumbar, kemudian diolesi gula merah sebelum dibakar, serta penyajiannya yang menggunakan bumbu kacang yang diracik dengan oncom.
Cita rasa dagingnya yang cenderung manis, berpadu dengan bumbu kacangnya yang creamy dan legit, membuatnya jadi satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon yang begitu ikonik. Warung-warung penjual sate kalong umumnya banyak ditemukan di lokasi seperti jalan Lemahwungkuk atau jalan Kesambi, dan umumnya baru mulai buka dari sore – sekitar jam 17.00 atau 18.00 – hingga tengah malam.
Es Cuwing
Bagi para pecinta kudapan ringan nan segar, bisa mencoba es cuwing yang merupakan sajian ringan segar khas Cirebon. Di tengah teriknya siang hari di kota ini, es cuwing kerap menjadi pilihan pelepas dahaga yang manis dan segar. Wujudnya sering disebut agak mirip seperti es cincau.
Es cuwing sendiri memang juga terbuat dari olahan daun cuwing yang banyak terdapat di area pesisir seperti Cirebon dan Indramayu. Namun berbeda dengan daun cincau yang lebih lebar dan tebal, daun cuwing cenderung kecil dan tipis. Selain itu, santan yang digunakan juga bertekstur lebih kental.
Penyajiannya kerap menggunakan es serut dan sirup. Di dalamnya juga terdapat beragam isian seperti bubur sumsum, dawet, serta serutan kelapa. Pembeli biasanya juga dapat memilih isiannya sesuai selera. Dalam satu porsi sajiannya, es cuwing umumnya dihargai sekitar Rp 5 ribu hingga 6 ribu.
Selain pelepas dahaga saat panas, es cuwing biasanya juga banyak diburu kala bulan suci Ramadhan sebagai hidangan berbuka puasa. Dan menjadiaknnya satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebon. Bahkan terkadang ada yang membeli secara terpisah untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Salah satu penjual es cuwing yang cukup terkenal adalah Es Cuwing Mang Lilik yang berada di area jalan Kartini.
Kue Tapel
Alternatif pilihan kudapan tradisional khas Cirebon lainnya adalah kue tapel. Penganan satu ini sempat mulai langka dan agak sulit dicari, namun belakangan mulai naik daun kembali dan menjadi satu dari 7 destinasi utama kuliner di Cirebob. Ini opsi yang menarik untuk dicoba, khususnya bagi para pelancong yang mencari oleh-oleh.
Ia terbuat dari adonan tepung beras dan parutan kelapa yang dimasak dengan ketan, potongan buah pisang dan gula merah. Sekilas secara penampilan, ia terlihat agak mirip percampuran kue crepe dan kerak telor khas Betawi. Tetapi di balik penampakan luarnya yang terlihat garing, ia terasa lembut ketika dimakan dan bercita rasa manis nan gurih.
Salah satu kedai yang masih menjajakan kue tapel adalah Kue Tapel Ibu Lena, yang terletak di jalan Pagongan, tepatnya di dalam gang Alas Demang 1. Meski sudah berjualan sejak 1968 dan berjualan di area gang kecil, usaha keluarga turun temurun ini masih bertahan dan menjaga kudapan tradisional ini tetap lestari.
Bahkan meskipun kedai ini biasanya buka dari jam 07.00 hingga 15.00, terkadang tak sampai sore hari dagangannya sudah laris manis. Harganya yang hanya Rp 7 ribu per porsi, serta cita rasa otentik yang didapat dari cara memasak dengan kayu bakar yang masih tradisional, boleh jadi menjadi beberapa alasannya memiliki banyak pelanggan setia.
Tahu Pong Gajah Mada Semarang boleh jadi salah satu favorit para pecinta penganan tahu. Kuliner tradisional legendaris ini telah bertahun-tahun menjadi salah satu destinasi pilihan bagi pemburu kuliner khas kota lumpia ini.
Tahu Pong Gajah Mada Atau Tahu Pong Semarang
Nama tahu pong sendiri disebut berasal dari kata kopong, yang berarti kosong atau tanpa isi. Alasannya, tahu ini digoreng sedemikian rupa dalam waktu yang lama, sehingga hasilnya bagian dalam tahu yang biasanya penuh dan padat menjadi kopong.
Ada pula yang mengatakan bahwa nama tahu pong berasal dari dialek Hokkian ‘phong’ yang artinya menggembung. Tahu pong sendiri memang wujudnya cenderung menggembung, dengan isi yang kopong serta kulitnya yang tipis dan garing.
Tahu pong Semarang lazimnya disajikan dengan bumbu kecap yang dicampur dengan petis dan bawang. Tahu lantas dinikmati dengan cara mencocol dengan bumbu kecap tersebut. Tahu yang crispy karena kopong, berpadu nikmat dengan bumbu kecap yang manis dan gurih.
Meski sejauh ini tak ada yang tahu secara persis kapan tahu pong pertama kali muncul, tetapi beberapa sumber meyakini bahwa tahu pong sudah populer beredar di kota Semarang sejak sekitar tahun 1930-an.
Dewasa ini, tahu pong juga disajikan dengan beberapa jenis olahan tahu lainnya. Misalnya, tahu gimbal yang merupakan campuran tahu dengan bakwan udang. Atau tahu emplek, sebutan bagi tahu putih goreng yang masih padat isinya.
Gerai Tahu Pong Gajah Mada, Semarang
Tetapi ada beberapa hal yang membuat tahu pong Gajah Mada terbilang spesial dibanding tahu pong lainnya. Misal, tahu pong mereka disebut masih ‘murni’ kopong, tanpa ditambah bumbu atau isian lainnya, mengingat sekarang ada beberapa tahu pong sudah dimodifikasi.
Selain itu, racikan bumbu kecap mereka diklaim unik dan merupakan resep warisan pendirinya dulu. Ada pula tambahan acar lobak putih sebagai teman makan yang menambah cita rasa khas dari tahu pong buatan mereka.
Ditambah lagi, mereka memiliki varian tahu spesial yang dinamakan tahu kopyok telur. Tahu ini dimasak dengan olahan telur yang mirip seperti adonan martabak telur. Setelah digoreng, wujud dan rasanya menjadi mirip seperti Fuyung Hai.
Semua keunikan itu membuat Tahu Pong Gajah Mada menjadi buruan para pecinta kuliner. Pelanggannya pun meliputi figur publik seperti Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan salah satu pengusaha terkaya Indonesia Michael Hartono.
Maka tak heran jika Tahu Pong Gajah Mada kini begitu terkenal dan melegenda. Usaha ini sendiri sudah eksis sejak tahun 1950-an. Kala itu, sepasang suami istri bernama Sutikno dan Ngatini membuka usaha warung kaki lima tahu pong di kawasan jalan Kranggan.
Setelah mulai mendapatkan banyak pelanggan, di tahun 1972 mereka akhirnya memutuskan pindah ke sebuah bangunan tetap di kawasan jalan Gajah Mada agar mampu menampung lebih banyak pengunjung. Kedai tersebut pun masih bertahan hingga kini.
Tahu goreng padat di Tahu Pong Gajah Mada. Foto: shutterstock
Tak sulit untuk mencari lokasi kedai ini. Dari Simpang Lima Semarang, jalan Gajah Mada berada di antara Masjid Baiturrahman dan Hotel Ciputra. Setelah melewati dua lampu merah, kedai akan berada di kiri jalan, berdekatan dengan Hotel Gumaya dan Gereja Bethel.
Saat ini, kedai itu dikelola oleh sang anak, Marsiah. Sehari-harinya ia juga dibantu oleh anak-anak serta menantunya. Kendati pengunjung terus ramai berdatangan di kedai dua lantai ini, mereka tidak membuka cabang di tempat lain.
Tak hanya itu, mereka terus berupaya mempertahankan kualitas agar tak kehilangan pelanggan. Tahu-tahu yang mereka gunakan dipesan khusus dari perajin tahu pilihan. Dalam sehari, rata-rata mereka bisa menjual 80 hingga 100 porsi tahu pong.
Resep racikan bumbu kecap serta acar lobak putih warisan turun temurun juga terus dipertahankan. Tahu kepyok telur yang menjadi ciri khas tersendiri bagi Tahu Pong Gajah Mada juga dibuat dari telur bebek pilihan.
Seperti pada umumnya, tahu pong di sini biasanya disajikan terpisah dengan bumbu kecapnya untuk dicocol. Namun, pengunjung juga bisa menyantapnya dengan mengguyur bumbu tersebut di atas tahu, atau dapat juga menambahkan nasi agar lebih kenyang.
Biasanya, satu porsi tahu pong isi komplit disajikan dengan ragam masakan tahu-tahu lainnya. Tetapi jika anda menginginkan jenis tahu pong saja atau yang lainnya, pengunjung juga bisa memesan menu satuan atau kombinasi untuk masing-masing jenis tahu.
Satu porsi tahu pong isi komplit dihargai Rp 35 ribu. Kalau pengunjung ingin memesan jenis tahu satuan atau kombinasi jenis-jenis tahu tertentu, harganya beragam mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu.
Tahu Pong Gajah Mada Semarang buka setiap hari Senin sampai Sabtu, dari jam 11.00 hingga 17.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (024) 3556440 atau mengunjungi akun resmi Instagram @specialtahupongsemarang.
Tahu Pong Gajah Mada Semarang; Jl. Gajah Mada no. 63B, Semarang
Di samping kerumunan itu, dua pemanggangan tradisional mengepul. Asap membumbung. Di baliknya, ada dua perempuan mengipasi arang. Mereka memastikan bahwa bara api tetap menyala. Sedangkan salah satu tangannya membolak-balikan sate yang jumlahnya puluhan tusuk.
Aroma daging dan sumsum yang sedang dibakar membuat pengunjung merasa tergoda mencicipi aneka sate yang ditawarkan di kedai sate tersebut. Inilah sate klopo Surabaya atau sate klopo Ondomohen Bu Asih yang tenar di Surabaya. Konon, ia bahkan sudah menjadi legenda. Usianya sama seperti usia bangsa Indonesia. Sebab, sate tersebut mulai eksis sejak 1945.
Bu Asih, pemiliknya, adalah generasi kedua penerus usaha sate keluarga. Mertua Bu Asih asli Madura. Keluarganya menjajakan sate khas Madura yang lain daripada sate pada umumnya.
Letaknya yang berada di tengah kota Surabaya menjadikan Sate Klopo Ondomohen ini mudah dijangkau dari mana saja. Disebut legendaris karenas elain sudah lama berdirinya, ia pun memiliki pengemar yang sangat luas. Tak terhenti pada warga Surabaya saja, tapi bagi siapa saja yang berkunjung ke kota ini.
Nama sate Klopo Surabaya sendiri sering membuat penasaran orang luar kota Surabaya. Pertama, tentu kata “Klopo”-nya. Dan ke dua, kata “Ondomohen”. Yang mudah dijelaskan tentu saja yang ke dua. Dulunya nama Jalan Walikota Mustajab ini adalah Jalan Ondomohen. Rupanya ini terus terbawa ketika nama jalannya berganti.
Lalu nama “Klopo”-nya. Sate Klopo ini, sesuai namanya, memang ketika proses memasaknya menggunakan tambahan kelapa. “Dagingnya satenya saya beri kelapa. Itulah kenapa namanya Sate Klopo. Klopo dalam bahasa Jawa berarti kelapa,” ungkap Asih Sudarmi (60), sang pemilik kedai Sate Klopo.
Seperti cerita bu Asih, sate klopo merupakan sate yang ditaburi dengan parutan kelapa. Sebelum dibakar, dan waktu akan diajikan ke pembeli. Unik dan berbeda. Tak heran, banyak pelanggan antre datang tiap hari. “Mereka suka dengan rasa kloponya,” kata salah pegawai Bu Asih yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di warung, Minggu pagi itu.
Sebenernya Sate Klopo Ondomohen ini seperti layaknya sate kelapa kebanyakan. Daging yang akan ditusuk layaknya sate, dibaluri dengan bumbu parutan kelapa, dibakar dengan arang pake cara tradisional, dan tentunya disajikan dengan bumbu kacang.
Sat Klopo sedang dibakar.
Keunikan sate klopo Ondomohen khas Surabaya ini adalah bumbu olahannya. Sebelum dibakar daging dilumuri parutan kelapa yang sudah dibumbui terlebih dahulu. Sebagai pelengkap, saat penyajian sate yang suda matang ditambahkan kelapa parutan yang sudah dimasak. Kelapa ini diparut, lalu disangrai sampai matang hingga menyerupai serundeng. Lantas ditaburkan ke atas bagian sate yang sudah matang. Warnanya yang kecokelatan akan menyaru dengan rona sambal kacang.
Ada dua pilihan daging sate yang ditawarkan di sini, yakni daging sapi dan ayam. Tusuk per tusuk bagian satenya dipastikan berdaging. Artinya, tak berkulit sedikit pun. Daging sate itu dibakar sampai empuk. Bagian-bagian permukaannya mengkilap seperti kristal.
Tatkala digigit, tekstur daging yang juicy akan memenuhi seluruh bagian mulut. Tekstur demikian terasa begitu sempurna ketika dipadukan dengan parutan kelapa. Ada sensasi renyah yang mendampingi kecapan demi kecapan.
Harmonisasi makin terasa ketika klopo pada sate klopo Surabaya bertemu dengan bumbu kacang. Gurih dan manis akan berpadu nikmat. Tak heran banyak pengunjung rela antre.
Banyak pengunjung yang terlihat sudah sering menyambangi warung ini dan selalu rela mengantre untuk sekadar jajan sate. Menurut mereka, rasa sate klopo di warung Ondomohen tak tergantikan. “Juaranya sate klopolah,” ujar seorang pembeli saat ditemui di warung itu.
Sate klopo di sini harganya per porsi sate campur dibanderol Rp 28 ribu tanpa nasi. Harga yang sepadan menimbang rasa yang tak mengecewakan.
Warung sate ini buka mulai pukul 07.00 dan tutup pada pukul 23.00. Bila ingin berkunjung, sebaiknya Anda datang pagi-pagu benar pada hari biasa. Sebab, pada hari libur, pengunjung harus rela antre cukup lama.
Wisata Bahari ternyata tak perlu jauh-jauh, ini bisa dilakukan di sekitar Jakarta. Di utara ibu negara ini ada gugusan Kepulauan Seribu yang menyimpan keindahan, sejarah, konservasi, dan petualangan. Jangan melihat lepas pantai di utara Jakarta, tapi pergilah lebih jauh sedikit, maka pesona itu akan muncul.
Wisata Bahari
Hari masih terbilang pagi saat Predator, ini sebutan untuk kapal cepat, membelah perairan Teluk Jakarta dari Dermaga Marina, Kawasan Wisata Ancol, menuju Pulau Pramuka di Kabupaten Kepulauan Seribu.Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan kabupaten yang masuk dalam Provinsi DKI Jakarta tersebut.
Meski bukan tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Seribu, namun geliat pariwisata di pulau ini cukup terlihat. Setidaknya ini terlihat dari tumbuhnya sarana penginapan yang dikelola masyarakat bisa menjadi indikatornya.
Dari Pulau Pramuka inilah wisatawan kemudian memanfaatkan jasa perahu nelayan untuk berwisata mengunjungi pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu. “Wisatawan yang datang ke Pramuka memang hanya mencari tempat untuk menginap, sementara untuk aktivitas wisata mereka akan menyeberang ke pulau-pulau lain,” kata seorang pengelola Aini The Villa di Pulau Pramuka.
Dengan kondisi geografisnya yang berupa gugusan kepulauan, sudah tentu kekuatan sektor pariwisata kabupaten yang resmi terpisah dari Kota Madya Jakarta Utara pada 2001 ini terdapat wisata bahari. Pulau Pramuka, Tidung, Bidadari, Pari, Harapan, Payung adalah sedikit dari sekian banyak pulau yang menjadi tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tiga aktivitas utama yang umumnya dilakoni wisatawan di sini adalah wisata pantai, snorkeling, dan diving. Keindahan alam Kepulauan Seribu memang terbentang dari daratan hingga taman bawah lautnya. Panorama tersebut membuat tiga aktivitas tersebut menjadi pilihan banyak wisatawan.
Namun di luar tiga aktivitas tesebut, Kepulauan Seribu masih menyimpan banyak potensi wisata, misalnya wisata pengamatan burung di Pulau Rambut, Wisata Sejarah di Pulau Cipir, Kelor, dan Onrust yang masih terdapat bangunan- bangunan peninggalan zaman kolonialisme Belanda.
Satu lagi aktivitas yang terbilang baru dan cukup menarik dilakukan di Kepulauan Seribu adalah wisata edukasi yakni mengunjungi keramba jaring apung tempat pembudayaan ikan laut. Budidaya ikan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang sedang gencar dikenalkan pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu.
Dan kedepannya akan dikembangkan agro wisata di Pulau Tidung Kecil. Pariwisata di Kepulauan Seribu terbagi dalam dua sasaran yakni wisata edukasi dan wisata bahari. Banyak obyek wisata yang kental dengan nilai pelajaran terutama untuk kalangan anak. Salah satunya tempat pembudidayaan ikan.
Kegiatan budidaya ini sebenarnya sudah lama dikembangkan oleh pihak swasta. Namun kini kegiatan pembudidayaan tersebut juga gencar disosialisasikan kepada masyarakat Kepulauan Seribu. Kegiatan budidaya tersebut juga dikembangkan sebagai aktivitas wisata.
“Wisata budidaya ikan merupakan potensi yang dapat dikembangkan, salah satu yang bisa dikunjungi ada di PT Nuansa Ayu Karamba di Pulau Pramuka,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta.
Mengunjungi lokasi pembudayaan ikan juga sudah dimasukkan dalam paket wisata beberapa agen wisata Kepulauan Seribu. Di tempat pembudidayaan ikan Nuansa Ayu Karamba ini wisatawan bisa melihat langsung pembudidayaan beberapa ikan seperti kerapu, kakap putih, bandeng, dan napoleon. Wisatawan juga bisa ikut memberikan pakan untuk ikan budi daya disini.
Melihat ikan-ikan yang berebut saat dilempari pakan tentu akan menjadi pengalaman baru, terutama bagi anak-anak. Meski berada diatas laut lokasi pembudidayaan ini sangat aman bagi aktivitas wisata. Mengunjungi keramba pembudidayaan wisatawan akan melewati jembatan kayu yang kemudian disambung dengan jembatan apung.
Selain itu di kawasan ini, di pulau Pramuka, misalnya, juga ada kolam pemancingan yang disediakan untuk pengunjung. Ikan yang dipancing nantinya bisa dimasak di Nusa Resto sebagai teman santap mengisi perut, atau boleh juga dikemas sebagai oleh-oleh perjalanan dari Kepulauan Seribu.
“Di akhir pekan, banyak wisatawan yang sengaja datang ke karamba pembudidayaan ikan yang dikelola masyarakat dibawah binaan pemerintah, maupun ke karamba yang dikelola swasta. Banyak informasi yang bisa didapat pengunjung tentang bagaimana pembudidayaan ikan dilakukan,” kata Kepala Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Seribu.
ilustrasi melihat tukik, atau anak penyu, dilepasliarkan ke lautan tempat habitan mereka. Foto: Dok. shuterstock
Hal lain juga bisa dilakukan adalah menyaksikan konservasi penyu di sejumlah pulau di Kepulauan Seribu. Ini misalnya bisa dilakukan di Pulau Cikaya, pulau Karya, atau pulau Kelapa Dua. Jika menginap dan beruntung, wisatawan bisa menyaksikan proses penyu bertelur, lalu telur-telur itu dipindahkan ke tempat yang aman hingga menetas. Dan, nantinya, dilepaskan kembali ke lautan.
Tidak lengkap rasanya jika berwisata ke suatu daerah tidak membawa oleh-oleh khas buatan masyarakat. Dinas Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu telah melakukan upaya pembinaan kepada kelompok ibu-ibu di Kepulauan Seribu, baik dalam bentuk olahan hasil perikanan maupun pertanian yang meliputi teknik penanganan pasca panen, termasuk juga packaging-nya. Hal ini dilakukan agar kemasan produk menarik, sehingga meningkatkan nilai jual dan minat beli terhadap produk tersebut. Beberapa makanan ringan produksi masyarakat yang sayang jika dilewatkan, seperti keripik sukun, stik cumi, kerupuk ikan, dan handycraft.
Keripik sukun adalah makanan khas yang dapat diperoleh di semua pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu. Pembuatan keripik ini sangat sederhana. Setelah dipetik dan dibersihkan, buah sukun dikupas untuk diiris tipis-tipis. Setelah di potong kemudian digoreng dan proses pemberian bumbu dilakukan pada saat menggoreng, selanjutnya dikemas
Meski bisa di dapat di semua tempat, sentra pembuatan Kripik Sukun ada di Pulau Payung. Ada dua jenis buah sukun yang digunakan untuk kripik, sukun duri dan sukun botak. Rasa yang dihasilkan dari sukun duri lebih renyah dibandingkan sukun botak,” kata Juna ibu yang menekuni usaha pembuatan kripik sukun asal Pulau Payung.
Raja Ampat, rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan di sebalah barat kepala burung Papua, disebut orang dan para traveler sebagai salah satu spot terindah di dunia. ‘The Last Paradise‘ kata wisatawan dari seluruh dunia.
Raja Ampat
Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat merupakan daerah tujuan penyelaman terbaik yang dimiliki Indonesia. Keindahan bawah lautnya bahkan bagian dari 10 terbaik di dunia. Birunya air laut, gugusan pulau karang di tengah laut, hard coral yang tumbuh melebihi batas air, hingga gua bawah laut, adalah paket lengkap dari wisata Raja Ampat yang menyuguhkan pemandangan alam menakjubkan.
Menjelang akhir tahun, ada pertanyaan, bisakah mengunjungi Raja Ampat? Pilihan menyambangi Raja Ampat untuk liburan tentu bukan asal-asalan. Di penghujung tahun ketika di bagian Barat Indonesia cuacanya tidak menentu, Raja Ampat justru menghadirkan persahabatan.
Konon, dalam mitos masyarakatnya, nama Raja Ampat berasal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat pangeran, kemudian menjadi raja di empat kawasan. Tiga butir telur lainnya menjadi hantu, seorang wanita, dan sebuah batu. Wallahualam. Saya hanya berharap inilah tempat “Raja-nya” situs-situs penyelaman yang ada di negeri ini.
Hasil penelitian LIPI dan lembaga lain pada 2002 mencatat, lebih dari 540 jenis karang keras, yang artinya 75 persen dari jenis total di dunia, ada di Raja Ampat. Juga terdapat 1.000 jenis ikan karang dan 700 jenis Moluska. Tak ada tempat lain di dunia ini yang memiliki kelengkapan biota laut seperti itu.
Berdasar laporan Travelounge beberapa tahun silam, beberapa spesies spesifik Raja Ampat yang bisa dijumpai saat menyelam antara lain Kuda Laut Katai, Wobbegong, dan Pari Manta. Ada sekitar 30 situs penyelaman di kawasan Raja Ampat. Masing-masing memiliki karakteristik. Beberapa yang popular antara lain; Mike’s Point yang merupakan batu karang berbentuk jamur. Di situs ini kita bisa temui soft coral, rombongan sweetlips, dan barracuda. Di kedalaman 25-27 meter terdapat cerukan yang mengeliingi batu karang. Kita menyelam menyusuri cerukan tersebut untuk menghindari arus yang cukup kuat.
Kumpulan Baracuda juga banyak ditemui di tempat lain, seperti di situs penyelaman Sleeping Barracuda, Cape Kry, dan Blue Magic. Berada di tengah kumpulan puluhan Baracuda tentunya merupakan pengalaman yang menakjubkan. Barracuda termasuk jenis yang Agresif, sewaktu-waktu dapat menyerang kita terutama jika ia sedang sendiri.
Situs populer lainnya yang wajib kita selami adalah Manta Point. Ada tiga lokasi di mana kita bisa menyaksikan ikan Pari Manta (Manta birostris). Manta Sandy, Manta High Way, dan Manta Coral. Di tiga lokasi itulah kita bisa menyaksikan kumpulam Pari Manta yang seolah menari dalam jarak yang sangat dekat. Pari Manta adalah salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dari ujung sirip ke ujung sirip lainnya bisa mencapai hampir 7 meter, bahkan lebih.
Menikmati kawasan Raja Ampat tak lengkap jika tak singgah ke pulau Wayag. Kepulauan di wilayah distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, ini menyuguhkan panorama luar biasa. Jika sudah puas menyelam, sisakan sedikit waktu dan tenaga untuk mendaki salah satu puncak dari puluhan pulau karang yang ada di pulau Wayag. Dari ketinggian, kita bisa menyaksikan laguna berair biru kehijauan yang dikelilingi gugusan pulau karang yang menyembul dari dasar laut.
Saat ini, Raja Ampat mulai dibuka kembali setelah sempat ditutup di awal pandemi. Begitupun, untuk mengunjungi tempat ini para wisatawan perlu memperhatikan 10 aturan baru untuk bisa berwisata ke Raja Ampat di masa pandemi.
1. Melakukan registrasi online pada: www.newnormal-rajaampat.com
2. Menyiapkan aplikasi Health Assesment Card (HAC) pada www.inahac.kemkes.go.id
3. Memiliki surat keterangan bebas covid-19, berupa hasil RT-PCR negative atau hasil rapid test nonreaktif, yang berlaku 14 hari, yang diperoleh dari Rumah Sakit/Puskesmas/Klinik resmi.
4. Menyiapkan personal health kit.
5. Memiliki asuransi kecelakaan dan atau asuransi jiwa, terutama yang akan melakukan kegiatan berisiko tinggi dan memerlukan fisik prima, seperti diving, trekking, telusur goa dan lain-lain.
6. Memiliki pemandu/pramuwisata. Lakukan booking online untuk lokasi yang akan anda kunjungi pada situs yang sama.
7. Ketika seluruh kelengkapan anda sudah terpenuhi, silakan lakukan perjalanan, dengan protokol Kesehatan.
8. Untuk perjalanan udara, anda akan tiba di Bandara Dominique Eduard Osok-Sorong dan melanjutkan perjalanan laut/udara menuju Raja Ampat.
9. Lakukan document clearence sebelum memasuki kawasan Raja Ampat pada:
• Check Point I: Pelabuhan Falaya, Waisai Pulau Waigeo.
• Check Point II: Pelabuhan Yelu-Misool.
• Check Point III: Bandara Marinda, Waigeo.
10. Tetap mengikuti prosedur protokol ketertiban tatanan baru di ruang umum. Kalau terjadi reaktif, siap untuk dikarantina dan diproses sesuai protokol (karena sudah menandatangani surat pernyataan bersedia).
Wisata religi Demak bukanlah hal baru. Bagi banyak orang, terutama kaum muslim yang tinggal di pulau Jawa, salah satu hal yang sering diimpikan adalah sholat di masjid Agung Demak.
Wisata Religi Demak
Demak, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, dahulunya adalah Kerajaan Islam pertama dan terbesar di pulau Jawa. Kota ini sekitar 31 kilometer di timur Semarang. Dari catatan sejarah, Demak didirikan oleh semacam perserikatan pedagang Islam di utara Jawa yang dipimpin Raden Patah, salah seorang putra Raja Brawijaya V dari kerajaan Majapahit.
Berdirinya kerajaan Demak ini tidak lepas dari peran Wali Songo, sembilan wali yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Raden Patah sendiri sewaktu muda belajar ajaran Islam kepada Sunan Ampel, salah satu dari Wali Songo.
Sebelum berdiri sebagai kerajaan sendiri, wilayah Demak merupakan bagian dari Majapahit. Raden Patah, sebagai anak raja Majapahit, ditugaskan sebagai Adipati Bintoro, Demak, pada abad 15. Pengaruh Majapahit saat itu boleh dikatakan berada di ambang keruntuhan. Pada tahun 1500 dengan dukungan para wali, Bintoro menyerang Majapahit dan mengalahkannya.
Kadipaten Demak kemudian termasuk wilayah yang melepaskan diri dari Majapahir dan menjadi kerajaan yang mandiri. Dan Raden patah menjadi raja pertama Demak. Selama memerintah, Raden Patah banyak dibantu oleh Wali Sanga yang berperan sebagai penasihat. Awal pemerintahannya ditandai dengan pembangunan Masjid Agung Demak dan perluasan wilayah.
Raden Patah wafat pada tahun 1518 dan pemerintah dipimpin oleh Pati Unus, putranya. Pati Unus menginginkan Kerajaan Demak menjadi kerajaan dengan kekuatan maritim yang kuat. Hal ini ditandai dengan kuatnya armada laut Kerajaan Demak.
Portugis yang saat itu tengah berusaha menguasai perdagangan di Asia Tenggara, merasa terganggu dengan keberadaan Demak. Hingga beberapa kali Kerajaan Demak melakukan pertempuran dengan Portugis di Selat Malaka.
Serangan-serangan tersebut dipimpin Dipati Unus, yang tak lain merupakan putra Raden Patah. Meskipun pada akhirnya serangan tersebut gagal, tetapi ia mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor atau pangeran yang menyeberang ke utara sebagai penghargaan atas keberaniannya. Setelah kematian Pati Unus pada saat pertempuran melawan Portugis, Demak dipimpin Sultan Trenggono (1521-1546) yang membawa Demak ke masa keemasan.
Setelah masa pemerintahan Sultan Trenggono, Demak praktis mulai mengalami kemunduran. Mulai muncul kerajaan-kerajaan di Selatan Jawa. Mulai dari Kerajaan Pajang hingga lahirnya Kasultanan Yogya dan Kasunanan Solo.
Begitupun, Demak masih meninggalkan sejumlah jejak masa lalu yang memperlihatkan mereka sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam. Baik di Jawa, maupun di Indonesia. Karena itu, di masa kini, saat jalan-jalan ke Demak, para wisatawan bisa menikmati suasana religiusitas kota yang sering disebut sebagai Kota Santri ini.
Selain memiliki sejarah yang sangat kuat, Demak memiliki peninggalan tempat bersejarah yang menarik.
Jika punya agenda main ke Demak, tempat pertama yang wajib kunjung tentu saja adalah Masjid Agung Demak. Masjid ini terletak di Desa Kauman, Kecamatan Demak Kota. Jika wisatawan datang dari arah Semarang letak masjid ini persis di sisi timur laut Alun-alun kota Demak.
Masjid yang didirikan pada 1479, ini saat sudah berumur sekitar 6 abad masih berdiri kokoh, meskipun sudah direnovasi beberapa kali. Kala awal dibangun, masjid tersebut masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi yang diasuh Sunan Ampel.
Bagi banyak orang yang bepergian dari Jakarta, Cirebon, atau Semarang ke arah Surabaya, biasanya menyempatkan sholat di masjid ini. Kadang mereka rela menunggu beberapa waktu jika saat waktu sholat belum tiba dan cukup punya waktu. Jika tidak, mereka rela untuk sekadar menunaikan sholat sunah di salah satu masjid tertua di Indonesia ini.
Jika sudah sampai masjid Agung Demak, jangan lupa untuk mengunjungi
Museum Masjid Agung Demak yang lokasinya tak jauh dari masjid, tepatnya di sisi utara masjidnya. Mudahnya akses ke museum tersebut memungkinkan wisatawan Masjid Agung senantiasa menyempatkan diri singgah pula ke museumnya.
Museum memiliki sejumlah koleksi menarik terkait sejarah siar Islam di Jawa, seperti serat-serat dan kitab kuno yang ditulis para Wali Songo. Misalnya saja, terdapat kitab tulisan tangan tafsir juz 15-30 Alquran karya Sunan Bonang.
Selain kolekasi pustaka, ada pula di museum itu artefak terkait Masjid Agung Demak seperti beduk dan kentongan wali dari abad XV. Bahkan sakatatal atau saka guru Masjid Agung Demak yang konon dibikin oleh Sunan Kalijaga. Ada pula Pintu Bledeg yang konon dibuat oleh Ki Ageng Sela pada 1466. Ia adalah guru Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang mendirikan Kesultanan Pajang.
Masih di seputaran kompleks Masjid Agung Demak, wisatawan juga bisa berziarah ke makam raja-raja Demak. Makam raja-raja Demak, terletak di bagian utara Masjid Agung. Makam raja-raja Demak itu terawat dengan baik, di sana terdapat makam antara lain Raden Patah, Pangeran Trenggono, sampai Arya Penangsang, adipati Jipang yang meninggal dalam pertempuran dengan pasukan Pajang.
Jika punya cukup waktu, sempatkan pula berziarah ke makam Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisongo. Sunan Kalijaga wafat pada 1520 lalu dimakamkan di Desa Kadilangu, sebelah timur-tenggara Demak. Makam Sunan Kalijaga sekarang menjadi situs yang sering didatangi peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di tanah air. Sunan Kalijaga dianggap istimewa di antara ke sembilan wali karena kental memanfaatkan tradisi Jawa dalam penyiaran agama Islam di Indonesia.
Sate Sumsum Pak Oo Bogor atau lengkapnya Sate Sumsum dan Ginjal Pak Oo di Bogor, Jawa Barat, boleh dibilang cukup unik dibandingkan sate-sate pada umumnya. Kuliner yang cenderung anti-mainstream ini sudah punya penggemar tersendiri, dan bahkan telah menjadi bisnis turun temurun hingga generasi ketiga.
Sate Sumsum Pak Oo
Biasanya, sate terbuat dari potongan daging beragam jenis hewan. Jika tidak berupa daging secara keseluruhan, terkadang sate juga dikombinasikan dengan bagian lain hewan tersebut. Misalnya seperti kulit pada sate ayam, atau ati pada sate kambing.
Namun, di kedai ini pecinta kuliner akan menemukan dua jenis sate yang cukup tak lazim, yakni sate sumsum dan sate ginjal. Bahan yang digunakan adalah ginjal dan sumsum tulang belakang sapi.
Yang perlu menjadi catatan, sumsum tulang belakang ini mirip seperti otot yang memanjang dari leher sampai ekor. Ini tidak sama dengan sumsum kaki sapi yang umumnya kita temukan pada beberapa jenis kuliner lain, seperti bakso.
Bagian sumsum ini biasanya berwarna putih kemerahan. Yang unik, ketika sedang dibakar ia akan terlihat menggumpal dan berbusa. Aromanya pun cenderung lebih khas dan tercium lebih kuat dibandingkan daging sate pada umumnya.
Ilustrasi sate. Foto: dok shutterstock
Adapun bagian ginjal yang digunakan cenderung berwarna lebih gelap dan pekat. Saat disajikan, ia juga akan memberikan aroma mirip gula yang dibakar. Ini dikarenakan proses karamelisasi yang terjadi setelah dilumuri kecap dan dibakar.
Di kedai Sate sumsum Pak Oo ini, pelancong bisa memesan sate sumsum dan ginjal masing-masing satu porsi isi 10 tusuk, atau masing-masing 5 tusuk dalam satu porsi. Sate disajikan dengan bumbu kacang, lengkap dengan sambal dan perasan jeruk nipis, serta tambahan nasi atau lontong.
Ketika dimakan, sate sumsum pak Oo akan terasa lembut dan kenyal. Tidak sampai lumer di mulut, namun akan terasa sangat empuk dan gurih di mulut. Sementara sate ginjal terasa lebih mirip ati, namun lebih empuk dan minim serat.
Hal inilah yang membuatnya menjadi kuliner yang punya tempat tersendiri bagi penggemarnya. Keunikan cita rasa sate ini sulit dicari di tempat lain, membuat kedai sate ini selalu ramai pengunjung dan ludes terjual tiap harinya.
Usaha kedai sate ini sendiri bermula dari seorang pria yang akrab dipanggil pak Oo pada tahun 1950. Kala itu, ia masih berkeliling menjajakan satenya dengan pikulan dari jalan ke jalan di sekitar kota Bogor.
Seiring waktu berjalan, ia akhirnya mampu mendirikan tenda kaki lima pada 1965. Pada awalnya ia mangkal di area pecinan Bogor di sekitar Babakan Pasar, tetapi dalam perjalanannya warung tersebut sempat beberapa kali berpindah tempat.
Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah kota Bogor yang beberapa kali melakukan sweeping untuk membersihkan area pinggir jalan di sekitar kota hujan tersebut. Alhasil, warung sate itu pun ikut tergusur.
Warung pun sempat pindah ke beberapa tempat lain, seperti di jalan Pedati, di depan Vihara Danagun dan di seberang pasar Bogor. Kendati demikian, ternyata warung tersebut sudah punya penggemar yang setia mengikuti kemana pun mereka pindah dan tak pernah sepi pembeli.
Setelah beberapa kali pindah, akhirnya usaha ini menjadi kedai dengan bangunan tetap di kawasan Suryakencana pada 2004. Hingga kini, usaha kedai tersebut terus dijalankan oleh generasi ketiga alias cucu pak Oo.
Kawasan Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. Foto: dok. unsplash
Lantas, apa alasan sate unik ini begitu digemari? Selain cita rasanya yang berbeda dari sate kebanyakan, kualitas rasanya juga disebut terus dipertahankan hingga kini. Kedai ini menjamin selalu menggunakan bahan baku yang diolah dari pagi harinya sebelum buka.
Setiap harinya, di pagi hari mereka mendapatkan pasokan ginjal dan sumsum tulang belakang sapi yang fresh. Bahan-bahan itu kemudian diolah dengan direbus untuk menghilangkan bau amis. Sesudahnya, baru dipotong-potong kecil dan dirangkai ke tusuk sate.
Bagi mereka, pantang untuk menggunakan bahan baku sisa kemarin. Sehingga kesegaran serta karakteristik asli dari kuliner ini pun selalu terjaga. Ini merupakan resep warisan yang diturunkan pak Oo kepada anak dan cucunya yang melanjutkan usaha ini.
Selain itu, sumsum tulang belakang sapi disebut kaya akan kandungan gizi seperti kalsium, protein, dan zat besi. Sehingga sate ini diyakini berkhasiat untuk menjaga fungsi jantung dan tekanan darah, meningkatkan zat besi, menguatkan tulang serta mencegah osteoporosis.
Tetapi yang penting untuk diingat adalah sate sumsum ini juga memiliki kadar lemak dan kolesterol yang cukup tinggi pula. Maka menyantap kuliner ini pun perlu kebijakan agar kadar koleterol dalam tubuh tak jadi berlebihan.
Harga satu porsi sate ini harganya sekitar Rp 50 ribu. Selain sate sumsum dan ginjal, ada pula sate daging dan ati sapi yang juga dihargai serupa. Menu sate ayam atau kulitnya pun juga tersedia, dengan harga berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu.
Yang tak kalah penting, walaupun kedai ini biasanya buka dari jam 15.00 sampai jam 20.30, namun kerap kali sekitar 250 tusuk sate yang tersedia setiap harinya sudah laris terjual sebelum jam tutup. Sehingga disarankan untuk datang lebih awal atau memesan terlebih dulu.
Danau Toba, danau terluas di Asia Tenggara dengan air terhampar hingga tujuh kabupaten. Tak cuma keindahan alam, tapi juga tradisi budaya adi luhur.
Danau Toba
Mata rasanya masih ingin terpejam, tapi tak ada pilihan selain segera mandi, sarapan, dan duduk manis di mobil. Saatnya meluncur ke Prapat. Salah satu titik untuk menikmati Danau Toba, yang disebut sebagai sijujung baringin di Sumatera Utara alias obyek wisata paling utama di provinsi ini. Danau ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, dengan luas 1.072,16 kilometer persegi. Terbayang, airnya terhampar luas bak lautan hingga ke tujuh kabupaten. Kali ini kami ingin menatapnya dari berbagai titik. Pukul 07.00 perjalanan dimulai. Pagi yang lengang. Maklum, hari Minggu. Kendaraan kami pun melesat di jalan Kota Medan. Melayang di jalan tol, meninggalkan rumah-rumah beratap seng.
Tak lama, Deli Serdang pun terlewati. Selanjutnya Serdang Bedagai, dengan ciri khas deretan gerai dodol pulut, yang menjadi oleh-oleh khas kota ini. melaju di jalanan nan lurus, dalam sekejap kota dodol itu pun dilalui. Tak lama kami menggelinding di jalanan Kota Pematangsiantar. Jarak Medan-Pematangsiantar sekitar 128 km. Jam menunjukkan pukul 09.00, di kiri-kanan jalan gereja mulai dipenuhi jemaat. Kaum ibu dengan kebaya panjang dan songket serta ulos di pundaknya. Kaum remaja dengan busana rapi dan cantik.
Di kota ini, becak motor (bentor) yang menggunakan motor BSA berseliweran. Motor Inggris itu digunakan tentara negeri kerajaan tersebut di Indonesia manakala Perang Dunia II pada tahun 1940-an. Yang masih banyak digunakan adalah yang berkapasitas 350 cc dan 500 cc karena kota ini berbukit. Di kota ini, kami pun sempat menengok sentra ulos di daerah Parluasan.
Keluar dari Parluasan, jalanan mulai menanjak. Kiri-kanan pohon-pohon besar, tak lagi perkebunan seperti di sepanjang rute Serdang Bedagai ke Pematangsiantar. Saya langsung tak sabar untuk memandang Danau Toba. Ternyata harapan itu datang tak lama kemudian. Ketika jalan mulai menyempit dan semakin tinggi, saya pun dapat memandang danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi 75 ribu tahun silam itu dari kejauhan.
Kami pun menemukan titik pertama untuk menikmati Danau Toba setelah perjalanan selama empat jam dari Medan. Titik itu adalah Prapat, di sebuah warung, dengan pemandangan terdekat Batu Bergantung, yang legendanya melekat dengan masyarakat setempat. Langit biru dan udara masih segar. Saat itu pukul 11.00, sehingga terik mentari belum menyengat. Monyet-monyet kecil berekor panjang melompat di antara dahan di depan saya.
Minuman dan camilan sudah habis, kami pun sepakat untuk langsung menyeberang ke Samosir, sehingga Dermaga Ajibata-lah yang kami tuju. Inilah pelabuhan penyeberangan ke Samosir. Berputar-putar mengamati hotel dan penginapan, kami pun tiba di Ajibata. Butir-butir pasir di dermaga sudah memantulkan sinar nan menyilaukan. Terik menyengat kulit. Kami harus menunggu sekitar satu jam. Sudah ada tiga mobil yang menunggu keberangkatan. Ada tiga pengamen cilik pula yang bernyanyi bergantian. “Mereka nyanyi lagu Batak Toba,” ujar sang sopir. Bahasanya berbeda lagi dengan Batak yang lain. Saya pun hanya mengangguk-angguk sambil menyimak bocah berkulit gelap terbakar mentari itu berdendang. Kadang-kadang diselingi bahasa Indonesia.
Sekitar 30 menit menjelang keberangkatan, lahan parkir sudah penuh. Saya membeli tiket untuk kendaraan roda empat seharga Rp 95 ribu untuk sekali penyeberangan. Akhirnya kami masuk ke perut kapal, dan pukul 13.30 kami meninggalkan dermaga. Langit terang dan sinar mentari yang menyengat menjadi teman selama perjalanan.
Sekitar satu jam menatap air dan pegunungan di sekelilingnya, akhirnya kami pun menginjak Tomok, pelabuhan feri di Samosir. Bila menggunakan perahu penumpang, penyeberangan hanya perlu waktu sekitar 30 menit. Deretan toko suvenir menyambut. Di dekat pelabuhan sudah ada satu obyek wisata bersejarah, pemakaman Raja Sidabutar dan keturunannya, yang berumur ratusan tahun. Terbuat dari batu alam tanpa sambungan. Di situ juga pertunjukan boneka Si Gale-gale digelar, dalam bentuk sederhana, hanya ada boneka dan iringan musik dari kaset. Tentu ada seorang pria menggerakkan boneka. Si Gale-gale dipercayai dulu digerakkan oleh kekuatan magis.
Mumpung belum sore, kami memilih jalan berkeliling, mengarah ke Ambarita dan Simanindo. Menikmati jalan cukup mulus yang tidak terlalu lebar. Suasana sepi, tak banyak kendaraan lewat. Sesekali ada turis dengan sepeda. Tanda lalu lintas yang ada bergambar kerbau, karena jenis hewan ini sering tampak berduyun-duyun. Bisa jadi mereka menyeberang jalan tiba-tiba. Merasa seperti menyusuri jalan tak berujung, kami pun berbalik arah dan menuju Tuk-tuk. Gerbangnya di jalanan menanjak seperti menjulang ke langit. Di sini, keramaian baru terasa. Penginapan dan hotel tampak berderet di pinggir Danau Toba, hingga akhirnya kami memilih salah satunya. Hotel dengan beberapa kamar bercirikan rumah adat.
Ada banyak pilihan obyek wisata di pulau seluas 630 kilometer persegi ini. Dan kami akan mendatanginya esok hari. Setelah puas di pagi hari menikmati danau dengan latar belakang deretan hotel-hotel di Prapat serta bukit-bukit di sisi kiri dan kanannya. Hari ini saatnya belajar adat dan budaya Batak Toba lewat ulos dan rumah adat. Pertama kali, sejarah itu kami gali di obyek wisata Batu Parsidangan Siallagan di Desa Siallagan. Kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang terkenal dengan hukuman mati di masa lampau. Dari rumah adat, banyak tradisinya bisa dikorek habis dari pemandu wisata, belum cerita batu persidangan, yang merupakan tempat berkumpul raja, dukun, serta hakim saat membahas satu kasus, dan tentunya menjatuhkan hukuman.
Belajar adat, budaya, dan sejarah Batak Toba memang Samosir tempatnya. Kabupaten ini masih memiliki rumah-rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan–ibu kota kabupaten–rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Para perajin ulos tersebar di beberapa desa. Di depan rumah adat sesekali masih ditemukan ibu atau remaja asyik menjalin benang menjadi ulos. Yang paling banyak dikenal tentunya di Desa Lumban Suhi-suhi karena mereka menenun secara berkelompok.
Meski berupa danau, ada pula daerah yang disebut pantai di Samosir. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah pantai pasir putih di Desa Parbaba. Karena bukan hari libur, tempat ini cenderung sepi. Ada juga gerombolan anak sekolah yang baru pulang dan mampir duduk-duduk di bawah pohon dekat pantai. Di sisi kanan, masih ada ibu yang mencuci perlengkapan dapur di bibir danau. Ada trotoar untuk pengunjung jika ingin jalan-jalan.
Esok pagi, baru kami menyaksikan tarian Si Gale-gale di Museum Huta Bolon Simanindo. Rumah adat yang dijadikan museum ini merupakan peninggalan Raja Sidauruk. Pertunjukan berlangsung setiap hari pukul 11.00. Ada beberapa jenis tarian, seperti yang menjadi ciri khas Tor tor, selain Si Gale-gale. Di akhir acara, pengunjung pun menari. Selepas makan siang di Pangururan, kami meninggalkan Samosir melalui jalan darat. Tidak perlu lagi ke Tomok.
Kami seperti menyusuri bibir Danau Toba. Melingkarinya, naik-turun. Mencermati desa di ujung danau dengan lahan sawahnya. Ada pula sebuah masjid–Al Huda, yang berdiri sejak 1940-an. Itu pemandangan di sisi kiri. Di sisi kanan ada perkampungan lain. Ketika rumah tak tampak lagi, jalanan pun semakin sempit, bahkan kemudian berbatuan. Namun tak lama kami disambut dengan jalanan tanah lebar dengan debu berhamburan, hingga akhirnya tiba di jalan penuh kelokan dengan tebing batu di sisi kiri dengan bebatuan yang sepertinya siap-siap berguling, sementara di sisi kanan jurang yang supercuram. Pecahan batu tercecer di jalanan.
Rasa cemas langsung menyergap, teringat akan kecelakaan yang beberapa kali terjadi di jalur ini. Maka sepanjang jalan hanya doa yang bisa saya panjatkan. Terutama ketika merasa terjepit di antara tebing batu dan jurang curam. Dengan jalan yang meliuk-liuk, di setiap belokan, jantung terasa berdetak lebih cepat. Perjalanan terasa panjang.
Namun di sinilah kami menemukan titik-titik terindah memandang Danau Toba. Ke mana mata memandang, yang tampak hanya hamparan air danau, yang kini tengah didengungkan soal ancaman kerusakannya. Bukit di sekelilingnya yang gundul dan airnya yang tercemar karena pengambilan ikan dengan bahan-bahan kimia. Beruntung, masih ada beberapa titik yang menampakkan kehijauan.
Setelah meliuk-liuk hampir dua jam, akhirnya kami tiba di Menara Pandang Tele. Sebuah menara yang terdiri atas empat lantai, yang membuat orang bisa memandang Danau Toba dengan Pulau Samosir yang utuh. Rasa lega pun memuncak di sini, tak hanya karena pemandangan yang terindah danau ini, tapi juga karena saya sudah melewati kelokan-kelokan berbahaya. Perasaan ringan pun bergelayut. Kendaraan melaju ke arah tujuan akhir hari itu: Brastagi.
Belum lama menikmati jalan mulus, kami harus menemui jalan berlubang, yang membuat kendaraan melaju lambat. Kemudian, sebelum mencapai Taman Simalem Resort, ada pula perbaikan jalan akibat longsornya dinding tebing. Hingga akhirnya tiba di resor ketika langit mulai gelap. Beruntung, kami masih bisa memandang lagi keindahan Danau Toba dengan pegunungan di sekelilingnya. Meski harus terusik lagi karena ada bukit yang penampilannya seperti kepala orang tua: botak sebagian besar.
Beranjak dari Bukit Merek, setelah mengelilingi kompleks wisata itu, kami masih menemui jalan berlubang sebesar ban di Simpang Merek. Padahal jalan tersebut merupakan jalur lintas Kota Kabanjahe-Merek-Sidikalang. Akhirnya kami tiba di Kabanjahe sekitar pukul 20.00 dengan perasaan dan badan lelah. Tujuh jam perjalanan dari Pangururan. Kami pun beristirahat di Brastagi, dan tentu tak mungkin lagi mencari titik untuk memandang Danau Toba di sini. l
Tiga Hal tentang Samosir
Penyeberangan. Ada dua pelabuhan yang memiliki rute ke Samosir dari Prapat. Paling tinggi frekuensinya dari Ajibata. Pilihannya, bila membawa kendaraan, harus dengan feri yang melaju lima kali sehari. Bila hanya penumpang, cukup dengan kapal wisata dengan jadwal setiap jam. Bisa juga Anda menyewa kapal. Dari Pasar Tiga Raja, ada juga perahu langsung ke Tuk Tuk sehingga turis bisa langsung mencapai hotel di pinggir danau. Jadwalnya delapan kali sehari.
Hotel. Hotel paling banyak ditemukan di Desa Tuk Tuk dan, untuk kenyamanan, sebaiknya memilih hotel di wilayah ini. Fasilitas untuk turis paling memadai, ada sewa sepeda, dan toko suvenir. Wartel dan warnet pun mudah ditemukan.
Obyek Wisata. Selain menikmati Danau Toba dan adat-istiadat Batak Toba, Kabupaten Samosir memiliki obyek yang berlimpah, terutama yang berunsur air. Di antaranya pemandian air panas di Pangururan, Gunung Pusuk Buhit dengan beberapa mata airnya, Danau Sidihoni–danau di dalam danau–dan mata air Datuk Parngongo. Setiap kecamatan rata-rata memiliki obyek berupa mata air, air terjun, pantai, dan jenis wisata serupa lainnya.
Flobamora, ini mungkin istilah yang belum terlalu dikenal oleh orang awam. Meskipun sesungguhnya ia sudah mondar-mandir liburan ke kawasan ini.
Flobamora
Perhatikanlah peta Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di gugusan pulau itu, setiap pulau besar di daerah ini dipastikan memiliki jagoan tempat wisata. Keindahannya tak hanya dihormati di dalam negeri, masyarakat dunia pun mengakui keunikan dan keanehan. Komodo, contohnya. Masih banyak tempat lain yang memiliki pesona. Sebagian mungkin masih tersembunyi.
Komodo, kadal raksasa dari masa dinosaurus itu, memang sudah sangat melegenda, namun di luar itu ada banyak spot yang unik. Itu sebabnya, NTT dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 lalu merajai perolehan penghargaan.
Untuk NTT, masyarakat mengenal istilah Flobamora. Ini terkait dengan tempat-tempat wisata yang berkilau di empat pulau besar di provinsi ini, yatu Flores, Sumbawa, Timor, dan Alor. Mulai dari peristiwa budaya, keindahan bawah laut, wisata gunung, sampai dengan peristiwa sejarah Indonesia.
Dari yang paling terkenal dulu, yaitu di menyaksikan hewan purba yang masih hidup sampai kini, yaitu Komodo di ujung kiri Pulau Flores. Setelah itu, bergesar ke Timur untuk menikmati Danau Kelimutu. Salah satu yang membuat danau ini terkenal adalah terjadinya perubahan warna di air yang ada di kawahnya. Ada tiga buah kawah yang masing-masing airnya berbeda satu sama lain warnanya.
Danau Kelimutu mempunyai tiga warna di Gunung Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur. Foto: Dok. TL
Bila bergeser ke arah timur, silakan menikmati suguhan pemandangan alam bawah laut. Begitu jauhnya jangkauan tangan-tangan jahil membuat tampilan kawasan laut sangat indah. Di Sikka salah satunya. Kalau beruntung Anda bisa menikmati mawar laut saat menyelam.
Lalu terus ke Timur ada Larantuka yang terkenal dengan prosesi keagamaan Perarakan Jumat Agung. Perarakan ini salah satu agenda budaya yang ditunggu oleh para wisatawan karena unik dan penuh kekhusyukan.
Silakan bergerak lagi ke timur ke Timur lagi. Ada pulau kecil bernama Lembata. Sekalipun kecil, salah satu atraksi besar terjadi di tempat ini, yaitu perburuan ikan paus secara tradisional. Masyarakat di tempat ini, dikenal dunia karena kepiawaiannya menaklukan ikan paus. Nah, berikutnya kunjungilah Pulau Alor. Peristiwa budaya unik banyak digelar di sini salah satunya ada di Desa Takpala.
Kemudian, mulailah menjelajahke arah Selatan yaitu Pulau Timor.Di pulau ini peristiwa penting bagi Indonesia terjadi, salah satunya berpisahnya Timor Timur menjadi Negara Timor Leste. Bagi yang tertarik dengan sejarah tentu sangat berguna menyambangi tempat ini untuk melihat jejak-jejak yang tertinggal.
Salah sat sudut kota Kupang, ibukota NTT. Foto: Dok. unsplash
Pulau Timor juga penting karena pelabuhan udara terbesar El Tari ada di sini. Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT, jadi wajah pertama yang dilihat oleh pengunjung sekalian. Kalau berada di Kupang dan tak sempat berkelana ke pulau lain, tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi yaitu Pantai Lasiana, Pantai Ketapang, Pantai Paradiso, Pantai Nunsui, Pantai Koepan, Museum Kupang, dan Gua Monyet.
Masih ada satu pulau lagi yang bisa ditengok yaitu Pulau Sumba. Tempat ini banyak beragam keunikan budaya, baik itu patung-patung megalitikum. Rumah adat Praiyawang salah satu yang menyuguhkan susunan batu kokoh dan megah di sebuah kawasan desa. Di tempat ini ada sebuah rumah adat/Uma Dewa yang tidak boleh menyalakan lampu di dalamnya. Hanya boleh lilin, itupun saat ada peristiwa adat.
Untaian keindahan itu seperti kilauan yang berkilat saat melihatnya dari atas. Namun, masih ada tantangan besar untuk menikmati semuanya, yaitu minimnya infrastruktur. Untuk mengaksesnya dibutuhkan transportasi udara. Dan itu harus merogoh kocek yang dalam. Pemerintah Provinsi NTT memang terus membenahi pariwisata. Potensinya besar adan pantas dinikmati. Namun perlu banyak yang dibenahi, yaitu kesiapan masyarakat untuk menerima tamu, siap jadi tuan rumah dan memiliki ketrampilan yang mendukung.
Bila Anda cukup beruntung untuk menikmati keindahan yang ada di NTT, sudah pasti kenangan akan di bawa seumur hidup. Sulitnya mencapai daerah tersebut akan lunas terbayar ketika sampai di tempat yang dituju dan benar-benar mencicipi keindahan yang tersaji. Itulah NTT yang berkilau.
Sekalipun NTT tidak hanya Kupang, namun kota inilah yang paling terjangkau. Paling tidak perlu sebulan untuk bisa mengunjungi seluruh kawasan NTT ini. Selama di Kupang, ada beberapa tempat yang menarik dikunjungi. Salah satunya Lak Garam. Di sinilah Anda bisa melihat, pembuatan garam secara tradisional.
Keunikannya, garam dihasilkan tidak dengan menjemurnya di pinggir pantai, tetapi memasak airnya. Menarik bukan?
Selanjutnya air terjun Oenesu. Tempat ini memang belum begitu terkenal. Namun, letaknya yang tak begitu jauh dari Kota Kupang jadi salah satu alternatif menikmati suguhan alam yang unik. Lekukan bebatuan yang membentuk pola cantik jadi aroma terkuat tempat ini.
Setelah itu, kunjungilah monyet-monyet ekor panjang yang lucu. Gua Monyet Tenau ini jadi habitat asli 300-an monyet ekor panjang. “Salah satu keunikannya, selama 18 tahun dimenjaga tempat ini, belum pernah menemui monyet yang mati. Tak tahu- lah, mungkin mereka mengubur di tempat khusus dan tersembunyi. Bau pun tak ada,” kata Firman Kay, seorang penjaga gua monyet.