Petualangan Di Tangkahan Dengan Fauna Seberat 2700 Kilo

Petualangan di Tangkahan dengan Naik Gajah

Petualangan di Tangkahan dengan fauna seberat 2700 kilogram bisa menjadi semacam perjalanan safari ala Indonesia. Bermain dengan gajah, dan tubing di tengah hutan.

Petualangan Di Tangkahan

Gajah sudah benar-benar ada di depan mata. Ehmmm… bukan di seberang lautan seperti peribahasa. Dengan berat sekitar 2.700 kilogram, gajah itu terlihat begitu jelas. Sekelompok hewan dengan kuping lebar itu tengah mengunyah rumput di halaman kantor Conservation Response Unit di Tangkahan, Langkat, Sumatera Utara.

Seketika lupa perjalanan kemarin sore selama tiga jam dengan jarak 98 kilometer dari Medan. Perjalanan yang meletihkan, sekaligus penuh kebingungan. Bagaimana tidak, ada jalur panjang di tengah kebun kelapa sawit dengan debu beterbangan. Sejenak tak ingat pula, malam penuh kegelapan di homestay Bamboo River. Belum lagi suara-suara binatang di hutan yang begitu nyaring. Salah satunya mungkin orangutan atau monyet ekor panjang.

Area untuk konservasi gajah itu memang sudah dikembangkan menjadi Kawasan Ekowisata Tangkahan. Berada di salah satu sisi Taman Nasional Gunung Leuseur, ada banyak aktivitas yang bisa dijalani. Pagi hari, memandikan gajah tentunya bisa jadi pilihan. Setelah menyeberangi jembatan gantung di atas Sungai Batang Serangan, saya bergabung dengan para mahout atau pelatih gajah. Ada tujuh gajah yang dimandikan pagi itu. Kelompok gajah yang digunakan untuk patroli hutan tersebut mempunyai jadwal mandi dua kali, pukul 08.00 dan pukul 16.00.

Bukan hal yang mudah membawa hewan superberat itu dari kantor Conservation Response Unit turun ke sungai. Namun, manakala sudah masuk ke air, suara kecipak air terdengar tak berhenti-henti. Para mahout membersihkan badan gajah dengan sikat hingga bersih. Bahkan hingga menguras kotorannya dari bagian dubur di tepian sungai hingga tak mengotori sungai. Sungai menjadi sumber air bagi masyarakat Desa Sei Serdan dan Namo Sialang yang tinggal di sekitar Sungai Batang Serangan dan Buluh.

petualangan di Tangkahan dengan Gajah gajah

Saya merasakan keriangan bermain air, hingga tak lama saatnya para gajah yang tengah menyemburkan air itu harus beranjak. Giliran saya mencoba menaiki salah satunya dan membawanya ke tempatnya berkumpul sebelum melakukan patroli. Wooow, saya terguncang-guncang perlahan. Perjalanan singkat yang menyenangkan.

Berikutnya, giliran turis-turis asing yang ikut berkeliling hutan dengan para mahout. Mereka memilih tur dengan gajah. Ada paket pendek hanya sekitar satu hingga tiga jam. Ada pula hingga menginap di hutan yang berlangsung tiga hari. Saya lebih memilih trekking setengah hari di dalam hutan. Seusai sarapan, perjalanan ditemani dua pemandu pun dimulai. Kedua pemuda setempat itu membawa ban dalam untuk tubing untuk perjalanan pulang.

Saya tak membayangkan perjalanan yang akan dilalui. Jadilah semua yang ditemui menjadi sederet kejutan. Jalan perlahan menanjak, kemudian menyeberangi sungai, melalui pohon-pohon karet, sejumlah tanaman obat, bertemu dengan babi, dikelilingi pacet yang menyelip di antara jari-jari kaki, juga menempel di tengkuk. Hmmm… yang terakhir ini malah baru saya temukan setelah kembali dari perjalanan.

Terbanyak tentunya hewan kecil itu mendekam di sekitar jari-jari kaki, seakan minta diajak menjelajah sisi lain taman nasional ini. Bagian lain yang menjadikan perjalanan kali ini sebuah petualangan tentu saja masuk ke gua kelelawar. Di sepanjang gua, saya harus berjalan dengan berjongkok. Gua terasa lembap, dan ada aroma khas begitu kuat tercium. Hewan malam itu tergantung di langit-langit gua. Penyusuran berakhir setelah saya menemukan sebersit cahaya yang kemudian membesar. Saya keluar dari gua dan dihadapkan pada sebuah sungai. Luar biasa!

Setelah hilang rasa kaget sekaligus heran, saya turun ke sungai. Ajakan berendam di air panas di seberang sungai tak saya tolak. Rupanya di seberang ada gua kecil yang memiliki mata air panas. Setelah rasa air dingin, saya langsung merasakan kehangatan. Duduk manis di air hangat yang jernih, saya benar-benar menikmatinya. Tak lama, sang pemandu memanggil, ban-ban sudah tersambung. Barang pun sudah dikemas dan dibalut plastik. Saatnya mengalun mengikuti aliran sungai. Kupu-kupu warna-warni di tepi sungai hinggap sejenak di tangan, dan suara burung nan nyaring seperti ingin mengucapkan selamat jalan.

Tak perlu lagi melangkah menyusuri bukit. Bokong saya benamkan di tengah ban, sementara kedua kaki di luar menahan badan. Saatnya meluncur, wrrr… dinginnya air sungai mulai merendam sebagian badan. Sungai cukup lebar, antara 8-10 meter, tapi tak membuat saya cemas karena arusnya tergolong tenang. Apalagi semakin jauh mengalun, sungai semakin datar. Aha, rupanya aksi tubing saya berakhir di tempat pemandian gajah tadi pagi.

Sang pemandu menarik ban ke tepian, saya pun segera turun. Lalu melangkah ke warung untuk mengisi perut. Menjelang sore, saatnya kembali ke penginapan untuk membasuh badan yang penuh keringat, juga kotoran kelelawar, tanah, dan tentu saja pacet yang menempel di tengkuk. l

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Penerbangan yang harus diambil tentunya menuju Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ada banyak maskapai yang melayani rute dengan penerbangan 2 jam 20 menit ini, seperti Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Kemudian, lanjutkan dengan perjalanan darat sekitar empat jam atau berjarak 143 kilometer dari Kualanamu menuju pusat konservasi gajah di Tangkahan, Langkat.

Catatan Kecil

1. Konservasi Gajah. Berjarak sekitar98-100 kilometer dari Medan,kawasan ekowisata Tangkahan ini merupakan tempat konservasi gajah. Karena itu, saat datang, pengunjung harus lapor terlebih dulu ke Visitor Center. Kawasan Ekowisata Tangkahan dikelola Lembaga Pariwisata Tangkahan.

2. Homestay sederhana. Tidak ada akomodasi mewah di sini. Kebanyakan berupa homestay sederhana dengan tarif Rp 100-350 ribu per malam. Baik akomodasi maupun paket tur dikelola masyarakat di bawah Community Tour Operator.

3. Bermalam. Bukan liburan yang bisa dilakoni dalam waktu singkat. Jadi Anda tentu saja harus bermalam, luangkan setidaknya dua hari semalam.

4. Perlengkapan. Berada di lingkungan hutan, siapkan losion antinyamuk, jas hujan, dan sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki.

Aktivitas

1. Trekking. Menyusuri bukit, masuk ke gua kelelawar, menuju air terjun, hingga tubing. Bisa pilih paket pendek sekitar dua jam hingga perjalanan setengah hari selama tujuh jam.

2. Menginap di Gua Kambing. Tersedia juga paket trekking dengan menginap di Gua Kambing.

3. Tur gajah. Menaiki gajah menuju sisi hutan terdekat hingga bermalam dan tiba di Bukit Lawang, Bahorok, di sisi lain taman nasional ini. Bukit Lawang merupakan konservasi orangutan. Paket dari tiga jam hingga tiga hari.

Rita N./Toni H/Dok TL

Banda Neira Maluku, 500 Tahun Sejarah Kita

Banda Neira Maluku merukan surga di timur Indonesia. Foto: shuttertock

Banda Neira Maluku ratusan tahun menjadi saksi dan lokasi sejarah perebutan kekuasaan bangsa-bangsa Eropa di Asia. Bangsa Inggris, Belanda, dan Portugis, juga Jepang saling sikut untuk menguasai kepulauan ini. Itu bahkan berlangsung sejak 1529.

Banda Neira Maluku

Banda Neira merupakan salah satu dari sepuluh pulau vulkanik di Kepulauan Banda, Provinsi Maluku. Di balik keindahan alamnya, Banda Neira Maluku pernah menjadi daerah penghasil rempah pala satu-satunya di dunia. Sekitar 500 tahun lalu, nilai segenggam pala setara dengan segenggam emas.

Karena itu Banda Neira menjadi tempat pertama di nusantara yang dikuasai Belanda sebelum Batavia. Dan, seperti disebut di muka, Banda Neira Maluku sempat menjadi wilayah yang diperebutkan Inggris, Belanda, hingga warga lokal untuk mempertahankan wilayah.

Banda Neira Maluku menjadi perebutan bangsa-bangsa Eropa karena pala.
Istana Mini di Banda Neira Maluku. Foto: Dok. Kemendikbud

Akibatnya pada 1609 terjadilah perang yang melibatkan warga lokal yang dibantu Inggris untuk melawan Belanda. Pertikaian antara Belanda dan Inggris tidak kunjung berhenti. Bahkan saat akhirnya terjadilah pertukaran Pulau Run di Kepulauan Banda Neira yang ketika itu dikuasai Inggris, dengan Nieuw Amsterdam atau Pulau Manhattan di New York, Amerika Serikat milik Belanda. Ini semua demi memonopoli pala.

Di sisi lain sejarahnya, Banda Neira juga pernah menjadi tempat pengasingan sejumlah tokoh pergerakan Indonesia seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, Cipto Manukusumo, juga Iwa Kusumasumantri yang dilakukan oleh Belanda pada 1936. Sebelum akhirnya dua di antaranya Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Rumah Pengasingan Hatta-Syahrir di Sukabumi pada 1 Februari 1942 untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sungguh fakta sejarah yang menarik mengiringi keindahan Banda Neira. Lantas, bagaimana dengan keindahan alamnya? Digadang-gadang destinasi wisata Banda Neira Maluku merupakan surga di timur Indonesia sebagai kawasan yang menjanjikan.

Keindahan alam Banda Neira tidak perlu diragukan lagi. Sebagai surga di timur Indonesia, Banda Neira memiliki pemandangan alam eksotis dan masih terjaga hingga sekarang.

Tak hanya keindahan laut yang berkilauan mengelilingi setiap sudut Banda Neira. Namun juga terumbu karang dan kekayaan bawah laut, yang membuat Banda Neira menjadi tempat menyelam yang diakui secara internasional.

Belum lagi dengan adanya peninggalan situs bersejarah yang akan membawa kita mengenal lebih dalam keindahan Banda Neira sebagai daerah yang pernah diperebutkan bangsa Eropa.

Pulau Hatta

Terletak di ujung timur Kepulauan Banda, Pulau Hatta sebelumnya bernama Pulau Rozengain. Memiliki hamparan pasir putih yang terbentang luas dengan ombak yang tidak terlalu besar adalah keunggulannya.

Salah satu spot terbaik di Pulau Hatta ada di Kampung Lama. Daya tarik tempat wisata ini adalah taman laut yang indah, pantai yang bersih, hingga adat istiadat yang masih terjaga dengan baik.

Keindahan bawah laut adalah juaranya, karena terdapat berbagai jenis ikan dan terumbu karang yang masih terjaga. Satu lagi yang tak kalah menarik, Pulau Hatta sangat cocok untuk penikmat senja.

Pulau Pisang

Selanjutnya adalah Pulau Pisang, atau juga dikenal dengan Pulau Syahrir. Nama lain tersebut diberikan karena Pulau Pisang sering dikunjungi oleh Perdana Menteri pertama Indonesia tersebut.

Hanya perlu waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Pulau Neira, kita bisa langsung menikmati keindahan keindahan alam di Pulau Pisang yang juga menjadi surga para penyelam. Di bawah laut Pulau Pisang kita bisa bertemu gerombolan ikan dan biota laut yang indah di kedalaman rata-rata 18-25 meter.

Banda Neira Maluku pernah menjadi tempat pembuangan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia.
Lanskap Banda Neira antara gunung dan lautan biru, perpaduan yang luar biasa. Foto: shutterstock

Gunung Api Banda

Bukan di laut, spot wisata di Banda Neira Maluku selanjutnya adalah Gunung Api Banda. Gunung dengan nama asli Gunung Ganapus ini memiliki ketinggian 656 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Jika tertarik, puncak Gunung Ganapus bisa dicapai dalam waktu 3-4 jam saja. Jangan khawatir, saat tiba di puncak Gunung Ganapus rasa lelah akan langsung terbayar dengan melihat keindahan Banda Neira dari ketinggian yang dikelilingi hamparan hijau yang luas.

Bahkan di sini juga menjadi rumah bagi 23 jenis burung endemik. Menariknya, Gunung Ganapus juga memiliki spot menyelam yang cantik dan diakui dunia, yaitu Magma Flow.

Lava Flow

Berbeda dengan kedua pulau sebelumnya, Lava Flow memiliki pasir hitam dan terumbu karang yang diselingi oleh sisa-sisa reruntuhan Gunung Api Banda.

Jauh dari kata mengerikan, justru bekas letusan gunung berapi ini menghasilkan vegetasi bawah laut tumbuh dengan subur, rimbun, dan indah. Salah satu biota laut penghuni perairan Lava Flow adalah Lion Fish. Bahkan spot ini sering disebut sebagai “Temple of Lion Fish”

Uniknya, karena gunungnya masih aktif, maka sesekali ada uap panas yang merembes dari sela pasir hitam yang pekat. Bahkan, saat berenang air laut terasa lebih hangat dibandingkan biasanya.

Benteng Belgica Banda Neira
Dari Benteng Belgica orang bisa memantau kedatangan orang dan kapal dari laut. Foto: dok. shutterstock

Benteng Belgica

Tidak hanya pemandangan alam, Banda Neira juga menyimpan nilai sejarah penting bagi Indonesia. Terdapat situs sejarah Benteng Belgica yang menjadi ikon Banda Neira.

Bangunan berbentuk pentagonal ini ada di ketinggian 30 mdpl. Siapa sangka, ternyata bangunan yang berlokasi di Bukit Tabaleku Naira Tenggara, Pulau Neira, Maluku ini merupakan buatan bangsa Portugis pada abad ke-16.

agendaIndonesia/kemenparekraf-berbagai sumber

*****

Nostalgia Pasar Baru Dengan 4 Kulinernya

Nostalgia Pasar Baru dan menikmati kulinernya

Nostalgia Pasar Baru bisa dimulai dengan menjajal empat makanan yang dulu pernah menjadi hit orang Jakarta. Ayo sekali-kali main ke Pasar Baru di Jakarta Pusat, dan nikmati suguhan legendaris di pusat keramaian Jakarta tempo dulu.

Nostalgia Pasar Baru

Bakmi Kelinci

Gang Kelinci, tak hanya ngetop karena ada lagu lawas yang dibawakan penyanyi Lilis Surjani. Tapi juga dikenal karena ada rumah makan yang berdiri sejak 1957, dengan suguhan bakmi. Awalnya, hanya warung kecil dengan gerobak, kini menjadi restoran dengan daya tampung 140 orang dan memiliki delapan cabang di Jakarta.

Salah satu menu favorit, bakmi ayam cah jamur. Semangkuk bakmi kuning yang jumlahnya berlimpah, dipadu dengan suwiran ayam, jamur merang, dan caisim. Tentunya plus kuah dengan dua butir bakso. Kali pertama diseruput, rasa rempah-rempahnya sangat pekat. Sandy, kepala karyawan di Bakmi Gang Kelinci, menyebutkan, kekuatan sajian ini juga terletak pada bakso sapi yang mereka buat sendiri. “Tak pesan di luar, 100 persen isinya daging,” ujarnya. Ditambah pangsit goreng yang renyah. Semangkuk bakmi ayam cah jamur bakso dibanderol Rp 31.500. Jangan lupa memesan jus semangka yang pas disantap bersama hidangan yang gurih ini.

Bakmi Gang Kelinci (Pusat)

Jalan Kelinci Raya Nomor 1-3, Pasar Baru, Jakarta Pusat

Harga makanan Rp 25-40 ribu, minuman Rp 4-16 ribu.

Buka pukul 07.00-21.00

Bakmi Aboen

Tepat di samping Bakmi Gang Kelinci, ada jalan setapak yang hanya muat dilalui satu sepeda motor. Di ujung jalan, terdapat warung makan legendaris Bakmi Aboen. Dari luar, bangunannya khas Cina. Papan namanya berwarna kuning keemasan, terlihat menyala. Di atapnya terdapat patung katak hijau. Menurut warga sekitar, katak itu merepresentasikan kebaikan.

Ruang tak cukup besar, hingga tamu harus rela berbagi meja. Namun justru di sinilah asyiknya.

Para pengunjung mayoritas memesan bakmi non-halal. Namun saya tergoda bakmi ayam jamur—semangkuk mi, lengkap dengan cacahan daging ayam, sawi hijau, dan jamur merang. Ditambah pangsit rebus daging babi dengan tekstur yang kenyal. Semangkuk bakmi ayam dihargai Rp 25 ribu dan pangsit kuah setengah porsi (berisi lima) dibanderol Rp 15 ribu. Cocok disantap bersama es kelapa jeruk nan segar seharga Rp 21 ribu.

Bakmi Aboen

Belakang Kongsi Nomor 16, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Harga bakmi Rp 27.500-44 ribu.

Buka pukul 07.00-20.00 (Senin-Sabtu)

Pukul 07.00-17.30 (Minggu)

Nostalgia Pasar Baru dan nikmati kulinernya seperti Eskrim Tropik

Es Krim Tropik

Lelah menyusuri pertokoan, saatnya mencicipi es krim legendaris di RestoranTropik. Tak jauh dari gerbang utama Pasar Baru, menurut Mayti Imelda, anak Hartono—pendiri restoran— nama resto dipilih sesuai dengan iklim di Indonesia. Tak ada papan nama di depannya. “Papan namanya memang sedang kami lepas. Pelanggan sudah tahu karena restoran kami tak pernah berpindah tempat,” tutur Mayti. Tempat es krim legendaris ini hadir sejak 1950-an. Menu utamanya tutty frutty, es krim berbentuk balok yang bermuatan cokelat, moka, dan vanila. Sayangnya, sewaktu saya mampir, menu andalan itu sedang habis. Maklum, mereka membuatnya tak dalam jumlah besar. Hanya lima hari sekali Mayti dan dua saudaranya memproduksinya, berhubung tanpa menggunakan pengawet.

Alhasil, saya memesan combinasi, berupa tiga scoop es krim vanila, teh hijau, dan stroberi. Dipermanis dengan wafer cokelat dan buah kaleng. Teksturnya terasa lembut dengan stroberi yang kental. Manisnya pun tak berlebihan. “Ya, memang, karena susunya murni, langsung dari peternak sapi,” ujar Mayti. Bahan alami inilah yang membuat es krim gampang mencair. Hanya beberapa menit, bunga-bunga es berubah menjadi air susu, tapi tetap enak dinikmati. Sayangnya, rasa teh hijau dan vanilanya tak sekuat stroberi. Es krim combinasi dijual Rp 38 ribu, sedangkan satu scoop es krim plus buah dihargai Rp 28 ribu. Selain es krim, tersedia menu Indonesia dan Oriental, seperti cap cay dan gado-gado.

Restoran Tropik

Kompleks Pasar Baru 28A, Jakarta Pusat

Harga es krim Rp 18-38 ribu, harga makanan Rp 12-45 ribu

Buka pukul 10.00-20.00 (Senin-Sabtu) dan 10.00-16.00 (Minggu)

Cakue Ko Atek

Ada sebuah lapak mungil berukuran sekitar 2×4 meter bercat hijau yang ramai dikerumuni orang. Mereka sedang menunggui laki-laki berusia 60-an mengulur-ulur adonan tepung. “Sreeng…” begitu bunyinya kala Koh Atek, pemilik warung, mencelupkan adonan ke minyak panas. Yang satu ini memang tak terlalu lawas karena bisnis keluarga ini dimulai pada 1971. Tapi termasuk yang banyak diburu.

“Cakue ini rahasianya ada di kualitas tepung sama tarikannya. Sayangnya, belakangan ini kualitas tepung menurun. Padahal mereknya sama,” tutur Koh Atek. Saya kemudian mencicipi penganan yang dijual Rp 4.000 per buah itu. Kulitnya garing, tapi dalamnya basah dan empuk saat dikunyah. Ketika ditambahkan saus sambal, saya makin tahu kenapa cakue ini amat terkenal. Sausnya memang tak biasa, pedas, gurih, dan asin jadi satu. Cakue dijual dengan kue bantal. “Menurut tradisi Cina memang begitu, enggak boleh dipisah antara cakue dan kue bantal. Tidak elok namanya,” ucapnya.

Cakue dan Kue Bantal Koh Atek

Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Buka pukul 07.00-16.00

Harga cakue dan kue bantal Rp 4.000

F. Rosana/Charisma A./Dok. TL

Sei Sapi NTT, Daging Asap Jawara API 2020

Sei sapi NTT (Nusa Tenggara Timur) menjadi makanan tradisional dari Indonesia terpopular dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 yang diumumkan akhir Mei 202 lalu. Dalam puncak acara pengumuman para pemenang yang dipusatkan di Hotel Inaya Bay, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sejumlah potensi wisata di provinsi tersebut memenangi kategorinya.

Sei Sapi NTT

Anugerah Pesona Indonesia atau API 2020 merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diadakan untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus mendorong peran serta berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerah masing-masing. Sei sapi sendiri menang sebagai makanan tradisional terpopular.

Sei sapi sendiri merupakan salah satu sajian khas Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Rote Ndao. Dilansir dari situs resmi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ‘sei’ sendiri dalam bahasa Rote artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang. Daging ini kemudian diasapi dengan bara api. Biasanya kayu yang dipakai untuk asap apinya untuk memanggang adalah kayu pohon kesambi.

Sepanjang dua tiga tahun terakhir, popularitas masakan daging sei sapi meluas tidak saja di kawasan Nusa tenggara Timur, namun juga hingga Jakarta dan sejumlah kota lain di Indonesia. Ia langsung saja menjadi makanan berbahan sapi yang popular. Mulai menyusul popularitas rendang dan sate.

Lalu, kapan sesungguhnya sei sapi mulai dibuat oleh masyarakat NTT? Hingga saat ini belum ada penjelasan yang pasti mulai kapan pengolahan daging menjadi sei ini dimulai. Namun, diketahui jika sei merupakan teknik memasak tradisional yang dilakukan selama berhari-hari oleh suku Molo, masyarakat Kepulauan Timor, atau kini Nusa Tenggara Timur, khususnya wilayah pulau Timor Barat dan Timor Tengah Selatan. Suku Molo tinggal di Pegunungan Mutih, pulau Timor di wilayah Tengah Selatan.

Sei menggunakan teknik mematangkan daging dengan menggunakan arang yang diletakkan jauh dari tempat pemanggangannya. Jarak daeging dan bara api bisa mencapai dua meter. Tujuannnya, daging bisa masak tanpa ada aroma asap yang merasuk ke dalamnya.

Tungku untuk bara api posisinya terpisah dengan tempat mematangkan daging. Sementara bara api harus terus menyala tanpa dikipasi agar tidak menghasilkan asap. Supaya bara pada arang awet, Suku Molo menggunakan kayu kosambi yang tebal dan besar. Mereka juga menggunakan daun kosambi sebagai penutup daging agar matang sempurna. Daun kosambi berfungsi sebagai penahan panas saat daging sedang disei sekaligus menjaga rasa dan warna asli daging.

Awalnya, masyarakat setempat menggunakan daging babi hutan untuk membuat sei. Salah satu yang dikenal adalah sei babi dari Teunbaun, daerah yang terletak kurang lebih 40 kilometer dari Kupang.

sei sapi NTT keluar sebagai jawara pada Anugerah pesona Indonesia 2020 sebagai makanan terpopular.
Masakan berbahan sei sapi dari Nusa Tenggara Timur yang sudah dimasak bergaya kekinian. Foto: Dok. shutterstock

Seiring berjalannya waktu, masakan ini mengalami asimilasi. Masyarakat pendatang di NTT mengganti daging babi dengan daging sapi agar halal dan bisa dikonsumsi lebih banyak orang. Selain menggunakan daging sapi, kini bahan sei juga banyak yang menggunakan daging ayam hingga ikan.

Lewat proses seperti diceritakan di atas, daging sei punya keunikan tersendiri, selain aroma dan rasanya yang khas, pengolahan dengan cara tersebut membuat daya tahan dagingnya lebih lama. Dengan demikian, daging bisa awet disimpan lebih lama.
Sei yang asli diasap tanpa menggunakan garam. Alasannya, Suku Molo yang tinggal di wilayah pegunungan tidak mengenal garam. Garam dibawa orang pesisir. Untuk rasa, pada awalnya sei biasanya dihidangkan dengan sambal khas NTT yang disebut sambal luat, ini terdiri dari irisan bawang putih, bawang merah, dan cabai.


Secara otentik, sei sapi kian lezat jika disantap bersama jagung olahan khas Pulau Timor, yaitu jagung bose. Namun di restoran-restoran di perkotaan atau masakan sei yang sudah sampai pulau Jawa, sei dinikmati bersama nasi daun jeruk dan sambal luat. Bahkan tak sedikit restoran-restoran sei di Jawa yang mengolahnya menjadi masakan beraneka. Tertarik?

Jika kebetulan mampir di Kupang, NTT, dan ingin mencicipi sei sapi, berikut pilihannya. Bagi yang muslim, ada baiknya bertanya dulu soal pilihannya.

Sei Oom Bai; Desa Baun, 25 kilometer dari Kupang

Restoran Bambu Kuning; Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1, Kupang

Restoran Aroma, Jl. Shooping Center, Fatutuli, Kupang

agendaIndonesia

*****

Cabuk Rambak, Irisan Kupat Dalam 1 Pincuk

Cabuk Rambak menjadi kuliner Solo yang semakin langka. Foto: shutterstock

Cabuk rambak mungkin semakin dilupakan orang. Bagi kebanyakan orang, kuliner ini mungkin begitu sederhana: irisan ketupat tipis-tipis yang diletakkan pada pincuk daun pisang dan disiram dengan saus kacang wijen.

Cabuk Rambak

Bagi mereka yang sering menikmati masakan-masakan tradisional dengan resep-resep yang cukup rumit, cabuk rambak praktis bukan pilihan utama. Ia bahkan lebih sederhana dibandingkan dengan ketupat tahu di Magelang atau ketupat opor.

Namun, cabuk rambak punya ikatan sejarah yang panjang dengan masyarakat kota Solo. Dari cerita sejumlah pedagang makanan ini yang juga semakin sedikit, cabuk rambak berawal dari kuliner di dalam Kraton Surakarta. Awalnya ini adalah makanan sela yang ringan, namun cukup untuk mengisi perut.

Dulu sekali, makanan ini dijajakan ketika berlangsung Sekaten di alun-alun Kraton. Ada pedagang yang berjualan khusus ini selama sebulan, lantas menghilang ketika Sekaten selesai.

Bisa jadi karena kesederhanaan tampilan dan cara membuatnya, membuat makanan ini tidak cukup popular untuk masyarakat luar Solo. Kalah pamor dibandingkan dengan selat Solo, sate buntel, atau thengkleng kambing.

Makanan tradisional ini memang tergolong mulai langka di Kota Solo. Hanya di tempat-tempat kuliner maupun dipasar-pasar tradisional yang akan dapat pengunjung jumpai makanan ini.

Nama cambuk rambak memang terdengar sedikit aneh, bumbu dan bahan yang digunakan juga cukup unik. Penyajiannya, seperti disebut di muka,  memiliki ciri khas sendiri, yaitu menggunakan daun pisang yang dibentuk atau lebih sering dikenal dengan nama pincuk. Satu porsi makanan ini berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat.

Cabuk Rambak berasal dari kata “Cabuk” dan “Rambak”. Cabuk mengacu pada wijen yang merupakan bahan u2782tama saus atau bumbunya. Sedangkan Rambak sejatinya adalah krupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.

Pada awalnya, dulunya cabuk rambak ini memang dihidangkan bersama krupuk kulit atau rambak. Namun, karena harga rambak semakin mahal maka krupuk kulit ini diganti dengan krupuk nasi (karak) yang kemudian krupuk nasi ini juga disebut dengan nama “Rambak”.

Satu porsi cabuk rambak berisi irisan ketupat yang disiram saus berwarna cokelat pucat, terbuat dari wijen dan parutan kelapa yang disangrai. Rasa cabuknya sendiri cenderung gurih.

Saos  wijen atau yang disebut dengan cabuk adalah campuran dari wijen yang disangrai serta kelapa muda yang diparut. Kedua bahan itu dimasak dengan ditambah bumbu yang dihaluskan, yaitu daun jeruk purut, bawang putih, kemiri, kencur, lada bubuk serta gula dan garam. Cara memasak saos tersebut dengan menambahkan air dan mengaduknya hingga saos mengental.

Cabuk artinya ampas wijen yang telah diambil minyaknya. Akan tetapi cabuk yang digunakan saat ini sebagai saos adalah wijen utuh tanpa diambil minyaknya terlebih dahulu. Ini karena saat ini sudah jarang orang yang membuat minyak wijen secara tradisional sehingga cukup sulit mencari ampas wijen.

Saat berkunjung ke Solo, wisatawan wajib mencicipi kuliner tradisional yang makin susah ditemui ini. Umumnya, cabuk rambak bisa ditemukan di penjual nasi liwet. Buat penjajanya sendiri, mungkin perlu ada modifikasi dari resepnya. Misalnya, ada tambahan telur pindang atau irisan tahu dan tempe bacem. Ini agar cabuk rambak tak berhenti menjadi pilihan kuliner saat wisatawan mampir ke Solo.

Bila ada yang berkunjung ke Solo dan ingin mencicipi masakan tradisional ini, cobalah menujulah kami ke kawasan Jalan Yos Sudarso. Menjelang malam, penjual nasi liwet dan cabuk rambak berjejeran di sepanjang jalan ini.

DI sana pengunjung bisa juga datang ke Bu Parni Nasi Liwet Dan Cabuk Rambak. Tempat ini buka mulai jam 5 sore hingga lewat tengah malam. Berada di emper jalan, tempatnya biasanya selalu penuh terutama jika akhir pekan. Jika tidak terlalu ingin menikmati malam, bisa beli dibungkus dan dinikmati di penginapan atau hotel.

Tempat lain yang juga menjual cabuk rambak adalah Warung Lesehan Cabuk Rambak Bu Tuminah. Lokasinya di Jalan Menteri Supeno, Stadion Manahan, dan buka mulai pagi menjelang siang. Sekitar pukul 11.

Pilihan lainnya adalah Cabuk Rambak Bu Sastro di Jalan Untung Suropati, Pasar Kliwon. Yang ini biasanya justru buka pada pagi hari. Sehingga cocok untuk sarapan sambal jalan-jalan pagi.




agendaIndonesia

*****

Desa Tegallalang Bali, 11 Undakan Sawah

Desa Tegallalang Bali radoslav bali unsplash

Desa Tegallalang Bali di Gianyar, makin digemari orang setelah Ubud yang makin ‘sesak’. Desa ini sejatinya tak jauh dari Ubud, dengan pemandangan utama tanah persawahan tumpuk, terasering. Secara bercanda kami suka menyebut paling tidak ada 11 undakan sawah. Ia bertumpuk dengan bentuk yang tak berbentuk. Mengikuti kontur tanah, perbukitan dan lembah desa tersebut.

Desa Tegallalang Bali

Ubud masih diselimuti embun. Masih terlalu pagi untuk tiba di daerah sejuk ini. Apalagi nila langsung melaju ke DesaTegallalang, Kabupaten Gianyar. Dari Denpasar, daerah tersebut dapat dicapai dalam 1,5 jam berkendara. Sedangkan dari Ubud hanya 25 menit. Di Desa Tegallalang Bali, Anda  akan melihat keindahan undakan padi di depan mata. Berada di seberang kafe-kafe yang berjajar di tebing, pesawahan menjadi suguhan khas di desa ini.

Desa Tegallalang Bali menjadi tempat untuk menikmati alam.
Wisatawan menikmati alam yang masih asri. Foto: DOk Unspalash

Dalam beberapa tahun terakhir, turis lokal dan asing berbondong-bondong datang. Karena terlalu pagi, gerai-gerai suvenir dan oleh-oleh yang berjajar di sepanjang Jalan Raya Tegallalang masih tutup. Demikian juga dengan kafe-kafenya.

Tapi justru dalam keheningan, saya benar-benar bisa mencecap suasana khas pedesaan. Sayangnya, saya datang di masa yang kurang tepat. Padi belum lama dipanen. Walhasil, persawahan benar-benar kosong. Say hanya menemukan seorang ibu yang tengah mengambil rumput untuk ternaknya. “Sebenarnya, kalau sawah seperti ini, di sebelah sana juga ada. cuma lebih jauh dan kedalaman,” ujarnya sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan Ubud. Saya hanya tersenyum. memang soal sawah dengan terasering indah, Bali sebenarnya memiliki pilihan berlimpah.

Setelah menghirup udara segar, menyusuri pematang sawah, mencermati seorang petani tua yang memeriksa sudut-sudut persawahan, saya pun meninggalkannya dan berniat suatu saat akan datang kembali. Ternyata kesempatan kedua itu datang tak lama kemudian. Kali ini saya singgah siang menjelang sore. Tidak terasa keheningan seperti yang dirasakan sebelumnya. Kios-kios memamerkan kain warna-warni, juga beragam suvenir. Jalanan pun terasa sesak. Sejumlah mobil dan bus diparkir di tepi jalan. Kali ini saya malah merasa enggan turun.

Desa Tegallalang Bali
Desa Tegallalang Bali seperti ruang untuk meyegarkan. Foto: Dok unsplash

Untung pepadian seperti memanggil-manggil. Saya pun turun dari kendaraan dan berbaur dengan turis lain. Masih terasa terik mentari di tengah embusan angin sejuk. Berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, Desa Tegallalang Bali memang menawarkan hawa segar. Kini deretan kafe  terlihat membuka diri kepada tamu. Tersedia pula kursi kayu biasa hingga kursi rotan dengan bantalan empuk yang bikin orang bisa duduk santai dan nyaman. Kebanyakan kafe didesain menggunakan bahan alam, seperti bambu atau kayu dan atap-atap dari daun-daun ilalang, termasuk kamar kecil yang menggunakan bebatuan.

Secangkir kopi khas lokal bisa menjadi pilihan untuk teman menikmati sawah berterasering indah di berbagai sisi lembah. Semilir angin kembali  bertiup. Saya kini tak lagi turun ke bawah dan menapaki pematang sawah. Cukup duduk manis, mencoba tak peduli kelompok wisatawan lain agar bisa menyimak udara sejuk dan pemandangan yang hijau.  Bila ingin minuman segar, ada air kelapa langsung dari tempatnya. Bisa jadi dari pohon-pohon kelapa yang tumbuh di antara pematang sawah.

Semakin sore rupanya semakin ramai. Terasa asik ternyata ketika udara tidak terlalu terik. Cuma, saya merasa saatnya bangkit. Sebelum kembali ke kendaraan, ada yang menarik di deretan kios itu: hasil pahatan khas Bali. Rupanya itu merupakan hasil karya para seniman desa kecil yang tak jauh dari Tegallalang, yaitu Dusun Pakudui. Di sana, orang-orang dikenal sebagai seniman pembuat pahatan Garuda, meski yang dipajang di gerai-gerai seni itu beragam bentukan, mulai hewan, kursi dan meja, hingga ornamen lainnya.

Tegallalang rupanya dulu dikenal sebagai padang ilalang nan luas. Nama desa itu berasal dari kata ‘kucara jenggala’ yang terdiri atas tiga kata ‘kuca, ra, jenggala. Kuca berarti padang ilalang, ra bermakna luas, dan jenggala berarti tegalan. Daerah ini bisa menjadi bagian perjalanan Anda bila ke Ubud maupun ke destinasi wisata Kintamani. Tentu merupakan kenikmatan sendiri menatap undakan sawah dengan lambaian daun kelapa di beberapa titik di sela perjalanan panjang keliling Pulau Dewata. l

Rita N./Dok. TL

3 Keindahan Pangandaran Yang Tersembunyi

3 keindahan pangandaran yang tersembunyi, salah satunya ombak untuk surfing

3 keindahan tersembungi di Pangandaran, Jawa Barat. Pasir Putih, Batu Karas, dan Madasari, tiga pilihan pantai bak surga dunia. Perlu diagendakan bagi yang menyenangi wisata bahari.

3 Keindahan Pangandaran

Setelah menapaki puluhan anak tangga, akhirnya saya tiba di puncak tanjung. Warga setempat menyebut daratan yang menjorok ke laut ini sebagai jojontor. Dari atas ketinggian ini saya menyaksikan hamparan Pantai Pasir Putih, Pangandaran, Jawa Barat, nan menawan. Tak salah jika AsiaRooms, perusahaan penyedia layanan reservasi hotel yang bermarkas di Singapura dan Thailand, menobatkannya sebagai pantai terbaik di Pulau Jawa.

Sesuai dengan namanya, pasir pantai ini putih bak pualam. Birunya Samudra Hindia yang membentang luas dengan gradasi hijau muda sebelum menyentuh bibir pantai yang berpasir putih bagaikan lukisan mahakarya Sang Pencipta. Langit biru dengan beberapa gumpalan mega semakin melengkapi pantai tersembunyi ini.

Decak kagum tak hanya meluncur dari mulut saya. Sepasang suami-istri, yang rupanya sedari tadi mengikuti jejak saya, juga tak kalah seru. “Wah, apike,” kata si istri dalam bahasa Jawa yang berarti bagus. Ia lantas meminta sang suami memotret dirinya dengan latar belakang keindahan alam itu.

Bahkan ia langsung menyambut tawaran saya untuk membantu memotret mereka berdua. “Kayak prewedding yo,” ujarnya lagi tak bisa menyembunyikan kebahagiaan setelah melihat hasil jepretan ponsel pintar miliknya. Senangnya bisa ikut membahagiakan pasangan asal Cilacap itu. Ternyata bahagia itu sederhana.

Enggan rasanya meninggalkan keindahan alam ini sesegera mungkin. Selain berselonjor dan menikmati keindahan dari bibir pantai, pengunjung biasanya snorkeling untuk melihat cantiknya terumbu karang di bawah laut. Anak-anak kecil terlihat asyik bermain pasir membentuk bangunan dan menggali lubang. Sedangkan bagi yang berpasangan, berjalan berdua menyusuri pantai sembari bergandengan tangan serasa dunia milik berdua. Betapa indah dan damainya surga dunia ini.

Untuk dapat mencapai pantai ini, pengunjung bisa menyewa perahu atau melewati Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Saya memutuskan pilihan terakhir untuk sekadar membuka kenangan lama. Tak ada yang berubah setelah sekian tahun berlalu. Wisma tempat saya menginap pun masih ada, tapi sudah sedikit berbeda bentuk. Tampaknya sudah direnovasi. Masih segar dalam ingatan saat saya remaja bermain bola di bibir pantai kala pagi menjemput. Monyet-monyet hanya bisa menyaksikan keceriaan kami dari balik pepohonan. Kaki saya terus melangkah meninggalkan kenangan lama dan membuka kenangan baru di Pantai Pasir Putih.

3 keindahan Pangandaran yang tersembunyi

Soal keindahan dan kedamaian, Pantai Batu Karas tak kalah dengan Pantai Pasir Putih. Letaknya sekitar 45 menit waktu tempuh dari pintu gerbang Pangandaran. Sepanjang Jalan Raya Cijulang, mata saya disuguhi pemandangan yang meneduhkan berupa aliran air berwarna hijau toska dari aliran Sungai Cijulang di kiri jalan.

Setelah melewati jembatan dan tiba di pertigaan, kendaraan yang saya tumpangi berbelok ke kiri untuk memasuki kawasan pantai ini. Jalanannya mirip jalan perdesaan. Di sisi kiri-kanan, berderet rumah warga. Sepintas tak terlihat seperti memasuki kawasan pantai. Terasa lebih hening. Namun siapa sangka, setibanya di ujung jalan, terbentang pantai yang luas. Saya seakan menemukan pantai tersembunyi. Sebuah pantai yang relatif lebih sunyi ketimbang Pantai Pasir Putih yang saya lihat sebelumnya.

Beberapa kali terlihat turis pria asing bertelanjang dada bermotor sembari membawa papan selancar. Sedangkan di tengah laut, ada sekitar 10 peselancar asing dan lokal yang sedang menanti datangnya ombak besar. Ketika ombak datang, mereka berusaha mengejarnya lalu berdiri di atas papan selancar, berupaya menaklukkan gulungannya. Begitu asyik.

Pantai Batu Karas memang dikenal sebagai incaran turis asing peselancar. Hal itu diakui Hanna, turis asal Australia. Mahasiswa University of Western Australia yang saya temui di pinggir pantai itu bahkan mengatakan Batu Karas lebih indah daripada Bali. “Ombaknya sangat cocok untuk peselancar pemula seperti saya,” ucap Hanna yang berencana menghabiskan 10 hari di Batu Karas sebelum kembali ke negaranya.

Hanna setali tiga uang dengan Joao Piedro. Turis asal Portugal yang sudah sepekan tinggal di Batu Karas ini pun mengakui keindahan Batu Karas. “It’s great,” katanya. Meski berasal dari negara berbeda, keduanya seakan sepakat jika Batu Karas merupakan pantai tersembunyi dengan versi surga dunia mereka masing-masing sebagai peselancar.

Tak jauh dari Batu Karas, masih ada satu pantai tersembunyi lagi. Pantai Madasari, namanya. Pantai yang tepatnya berada di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, ini memang belum diketahui banyak wisatawan. Dari Batu Karas sebenarnya pengunjung bisa langsung menuju Madasari jika jembatan yang sedang dibangun sudah terhubung.

Terpaksa, saya pun harus kembali ke luar ke Jalan Raya Cijulang lebih dulu dan mencapai Jalan Raya Cimerak. Dari jalan raya ini, kendaraan yang saya tumpangi kembali berbelok ke kiri, melewati persawahan dan perbukitan. Setelah melewati jalan desa sepanjang 8 kilometer, akhirnya saya memasuki kawasan pantai. Di sepanjang jalan berjejer pohon pandan liar dan pohon ketapang.

Mata saya tertumbuk pada deretan batu karang berukuran besar di pantai dan laut. Namanya pun unik. Ada Gedogan, Sebrotan, Leuit, Legok Gandu, Cariuk, Bale Kambang, Bancen, dan Pandan Nyampai. Saya melakukan trekking menyusuri Pandan Nyampai. Saya melewati jalan menanjak dengan anak tangga alami yang hanya dipagari bambu sederhana sebagai pengaman itu. Setibanya di puncak Pandan Nyampai, gambaran tentang batu karang yang tandus sirna. Saya menemukan banyak pepohonan di tempat ini. Di atas ketinggian ini pula, saya menyaksikan lekukan Pantai Madasari. Pantai perawan yang tersembunyi. l

Dari Bandara Halim Perdanakusuma

Jika memilih lewat udara, Anda harus berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma. Penerbangan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan pesawat Susi Air sebelum tiba di Bandara Nusawiru, Pangandaran. Dalam satu hari, rute Jakarta-Pangandaran dilayani satu kali penerbangan. Untuk transportasi lokal menuju obyek wisata, bisa melalui darat dengan menyewa kendaraan. Pilihan lain dapat menggunakan kendaraan pribadi sekitar 8 jam perjalanan dengan jarak lebih-kurang 358 kilometer melalui rute Bandung-Tasikmalaya-Banjar-Pangandaran.

Andry T/Prima M/Dok.TL

Kuliner Nasi Gurih, 8 Yang Khas dan Enak

Kuliner nasi gurih di Indonesia bergitu beragam, berikut 8 macam yang popular.

Kuliner nasi gurih di Indonesia sangat banyak, dari berbagai macam daerah ada yang memiliki masakan jenis ini. Mulai dari Aceh hingga Indonesia Timur. Di Jawa Barat dan Tengah rasanya banyak ragamnya.

Kuliner Nasi Gurih

Hal ini terjadi karena hampir setiap masakan di Indonesia pasti disajikan dengan nasi. Wajar saja karena nasi menjadi salah satu makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia. Menariknya, setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai macam olahan nasi dengan cita rasa khas yang menggugah selera. Salah satu olahan nasi populer di Indonesia adalah nasi gurih.

Nasi gurih adalah nasi yang dimasak dengan santan, dan dicampur berbagai rempah-rempah berkualitas khas Indonesia. Sehingga menghasilkan rasa nasi yang gurih dan beraroma harum.

Meskipun ada banyak jenis kuliner nasi gurih di Indonesia, namun setiap daerah seakan punya keunikan dan ciri khas dari olahan nasi gurih yang disajikan. Bahkan kita tidak akan menemukan nasi gurih yang sama di daerah lain.

Kuliner nasi gurih bisa dinikmati untuk sarapan, maka siang, hingga makan malam.
Nasi Uduk Betawi sangat dikenal oleh masyarakat. Foto: DOk. shutterstock

Nasi Uduk Betawi

Salah satu kuliner nasi gurih khas Betawi yang cukup populer. Dimasak dengan santan, daun salam, serta berbagai bumbu dan rempah khas Indonesia, sehingga nasi uduk memiliki cita rasa gurih dan lezat.

Sama halnya dengan nasi putih biasa, nasi uduk bisa disantap dengan berbagai macam lauk, seperti orek tempe dan sambal kentang. Namun, ciri khas nasi uduk khas Betawi adalah paduan lauk semur jengkol dan empal yang siap menggoyang lidah sejak suapan pertama. Ciri khas lainnya adalah sambal kacang sebagai penambah selera.

Nasi Ulam

Selain nasi uduk, olahan kuliner nasi gurih khas Betawi yang tidak kalah populer adalah nasi ulam. Perbedaan nasi ulam dan nasi uduk ada pada proses memasaknya, yakni tidak menggunakan santan.

Untuk memberikan rasa lezat, harum, dan gurih, nasi ulam dimasak dengan campuran serai, jahe, lengkuas, dan daun salam. Ciri khas nasi ulam disajikan dengan taburan bubuk kacang tanah, serundeng, bihun, kemangi, emping, serta berbagai lauk lainnya seperti telur, tahu, tempe, dan perkedel.

Nasi Liwet Solo

Kuliner nasi gurih selanjutnya adalah nasi liwet. Ada dua versi nasi liwet yang bisa dicoba, yaitu nasi liwet versi Sunda dan nasi liwet versi Solo.

Nasi liwet versi Sunda biasanya dimasak langsung dengan ikan teri asin, cabe merah, dan pete, serta berbagai bumbu dan rempah-rempah. Lauknya juga sangat beragam, mulai dari tahu, tempe, ayam goreng, dan lalapan.

Sementara itu nasi liwet khas Solo nasinya dimasak tanpa ikan asin. Sebagai pelengkap, nasi liwet khas Solo disajikan bersama telur areh, sayur labu siam, dan ayam suwir yang telah diungkep.

Penyajiannya pun berbeda, biasanya nasi liwet khas Sunda disajikan di panci kastrol, sedangkan nasi liwet khas Solo disajikan di pincuk daun pisang.

Nasi Kuning

Jenis nasi gurih yang tidak kalah lezat berikutnya adalah nasi kuning. Perbedaannya dengan nasi gurih lainnya adalah nasi kuning dikukus pakai santan, serai, dan campuran kunyit untuk memberikan warna kuning cerah.

Sebagai pelengkap, nasi kuning disajikan bersama lauk kering kentang balado, telur rebus, dan ikan masak kecap atau sambal. Nah, menariknya nasi kuning juga kerap dijadikan sebagai nasi tumpeng dengan berbagai macam lauk, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Ada beberapa daerah yang memiliki sajian nasi kuning, seperti Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan Timur, juga Makassar di Sulawesi Selatan.

Nasi Tutug Oncom

Jauh berbeda dengan kuliner nasi gurih lainnya, nasi tutug oncom khas Jawa Barat tak kalah lezat. Perpaduan antara nasi hangat yang dicampur oncom menghasilkan cita rasa yang unik. Semakin nikmat ditambah bawang goreng, irisan telur dadar, sambal terasi, dan ikan asin!

Bagi yang belum tahu, oncom adalah makanan fermentasi yang terbuat dari campuran kapang, bungkil kacang tanah, serta ampas tahu, kedelai, dan kelapa.

Nasi Jamblang Cirebon shutterstock
Nasi gurih khas Cirebon adalah nasi Jamblang. Foto: dok. shutterstock

Nasi Jamblang

Masih dari Jawa Barat, tepatnya daerah Cirebon. Kalau diamati, sebenarnya nasi jamblang mirip dengan nasi pada umumnya, yang disajikan dengan sambal goreng, tahu, tempe, perkedel, hingga sate jeroan.

Hanya saja, salah satu ciri khas dan pembeda nasi jamblang dengan nasi gurih lainnya terletak di penyajiannya, yaitu dibungkus menggunakan daun jati. Sehingga, akan menghasilkan rasa yang lebih gurih dan wangi pada nasinya.

Nasi Timbel shutterstock

Nasi Timbel

Perbedaan nasi timbel dengan nasi gurih lainnya ada pada proses memasaknya. Nasi timbel dimasak dengan cara dikukus dengan berbagai bumbu rempah dan dibungkus daun pisang.

Kuliner yang banyak ditemukan di tataran Sunda ini disajikan dengan ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, dan tak lupa lalapan. Perpaduan nasi gurih, lauk yang lezat, serta sambal terasi pedas menyatu sempurna dan bikin ketagihan.

Nasi Guri Aceh

Aceh juga memiliki kuliner berupa nasi gurih yang disebut bu guri. Seporsi nasi gurih khas Aceh atau bu guri adalah nasi yang dimasak dengan santan dengan tambahan bumbu dari rempah-rempah. Karenanya rasanya menjadi gurih dan aromanya rempahnya kuat.
Untuk lauknya, nasi gurih disajikan dengan kering kentang, kacang goreng, rendang, ayam tangkap, tumisan sayur, sambal dan lainnya. Nah, nasi gurih banyak ditawarkan oleh warung makan dan restoran Aceh.

Bagaimana, sekarang sudah bisa membedakan berbagai macam kuliner nasi gurih khas Indonesia, bukan?

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Camilan Kecil Bagansiapiapi, 3 Yang Khas

Kue Denderam

Camilan kecil Bagansiapiapi bisa menjadi pilihan untuk dinikmati ketika Anda mampir ke kota ini menikmati atraksi budaya Bakar Tongkang tiap tahunnya.

Camilan Kecil Bagansiapiapi

Bagansiapiapi, sebuah kota tua di muara Sungai Rokan, pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang menyimpan berlaksa hikayat, menjadi saksi mata masuknya aktivitas perdagangan dari negeri seberang ke Nusantara. Alkisah, di kota ini pula, akulturasi menjadi sebuah peristiwa yang melahirkan berbagai fenomena kultural. Peninggalan tempo dulu—tak hanya gedung—kuliner pun masih banyak tertinggal.

Si Legit dari Semenanjung Malaysia

Pada 1910-1918, Inggris membawa para pekerja perkebunan karet dan pertambangan timah dari India Selatan menuju Malaysia. Sebuah artikel yang dimuat media The Star menyebut, masuknya kaum buruh ke tanah Melayu pada masa itu meninggalkan beberapa warisan yang masih terlacak sampai sekarang, salah satunya kuliner. Yang populer dan mudah ditemui di berbagai tempat adalah kuih atau kue denderam.

Kue ini bak penganan egalitarian yang umum disantap siapa pun, mulai pekerja akar rumput hingga kaum bangsawan. Pada masa lampau, masyarakat menyebutnya sebagai kuih keling lantaran warnanya tampak cokelat berkilau. Bahkan, penyebutan itu masih digunakan sampai si keling bercita rasa legit ini masuk ke daratan Sumatera bagian tengah melalui sebuah daerah kecil bernama Bagansiapiapi. Lantaran diduga merujuk pada kaum tertentu, penamaan kue keling berangsur-angsur tak lagi digunakan. Maka itu, penamaannya memakai julukan semula, yakni denderam.

Denderam, seperti yang berasal dari tanah asalnya, menjadi penganan wajib yang harus disantap kalau wisatawan datang ke Riau, khususnya Bagansiapiapi. Kue yang terbikin dari gula merah dicampur dengan tepung beras itu adalah bukti nyata terjadinya akulturasi budaya antara Melayu, India, dan Chinese di tanah Bagan. Salah satu penjual denderam yang masih eksis hingga kini, Lisa, menjelaskan, bahan untuk mengolah serta cara memasak denderam tak boleh main-main.

Ia mencoba membikin kue berbentuk bunga lima jari sesuai dengan resep asli. “Harus pas betul komposisi gula dan tepungnya. Gula harus lebih banyak daripada tepung,” katanya kala ditemui Travelounge di Bagansiapiapi beberapa waktu lalu. Bentuk pun tak diubah. Selain karena tak ingin kehilangan keaslian, Lisa pingin pembeli merasakan betul sensasi menyantap kue denderam menyerupai yang dijual di tempat asalnya. Pun, menilik sejarahnya, ia menghormati keberadaan kue yang dulunya dimasak untuk upacara-upacara keagamaan itu. Sebiji kue dihargai Rp 1.000.

Kue Denderam Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

camilan kecil Bagansiapiapi seperti kue KasmaKue Kasma
Kue Kasma khas bagansiapiapi.

Kasma, Kue dari Tanah Si Panda

Tak cuma menjual kue bergaya fusi, Lisa juga menjajakan penganan khas peranakan. Salah satunya kue kasma. Lantaran masyarakat Bagansiapiapi mayoritas dihuni warga Tionghoa, menu-menu camilan ringan pun banyak yang berbau Negeri Bambu, seperti yang mengandung kacang hijau. Begitu juga dengan kasma.

Kue ini komplemen utamanya memang polong-polongan. Hal itu terbukti dari penampilan luarnya. Lisa menjelaskan, kasma, yang berbentuk bulat pipih, terbikin dari pulut yang direbus, lalu dikukus, lantas dilumuri dengan tepung panir dan bubuk kacang hijau. Bagian dalamnya tak kalah. Isinya tak lain tak bukan ialah kacang hijau yang diolah bercampur gula merah. Teksturnya lembut sekaligus kenyal, hampir mirip dengan sagu yang dimasak.

Manisnya kasma, kata Lisa, cocok disantap sambil menyeruput teh kala sarapan atau menikmati sore di beranda. Tentu mirip dengan budaya masyarakat Tionghoa yang gemar meminum teh hijau. Apalagi, suasana di Bagansiapiapi yang kental ciri peranakannya membawa ingatan pada kota lama Taiwan yang lekat dengan romansanya. Kue kasma tak kalah murahnya dengan denderam, yakni Rp 1.000.

Kue Kasma Lisa

Kampung Ramadan (khusus Ramadan), Jalan Merdeka, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 16.00-19.00

Udang Bagan di Balik Tepung dan Obrolan Hokkien

Lohan Ki tengah mengaduk-aduk adonan tepung berisi kangkung, bawang putih, jeruk nipis, dan udang Bagan kala kami sampai di kedai bergaya arsitektur Tionghoa kuno miliknya. Setumpuk heci yang baru mentas dari penggorengan mendarat di meja sebelah perempuan paruh baya berwajah peranakan itu. “Sebentar, pesanan banyak, antre ya,” tuturnya. “Mau lim (minum) kopi dulu ha?” katanya dengan logat Hokkien. Saya lantas mengiyakan sembari menunggu gorengan yang katanya legendaris ini tersedia.

Kasman, profesor sekaligus pegiat budaya yang mengajak kami berkeliling Bagansiapiapi, mengisahkan betapa kesohornya warung yang sudah belasan tahun itu berdiri. Pantas saja, setiap hari, deretan kursi di kedai selalu penuh oleh warga, yang datang sekadar untuk mengicip heci dan menyesap seseruput kopi Bagan. “Apa bedanya heci di sini dengan bakwan di Jawa Tengah atau ote-ote di Jawa Timur?” tutur Kasman, mengetes. Berbarengan dengan pertanyaan yang membikin bingung itu, sepiring gorengan tepung yang telah dipotong kecil-kecil berbentuk dadu dihidangkan. “Ini jawabannya,” kata Kasman sembari menusuk udang yang terpisah dengan tepung.

 Ya, menurut akademikus itu, yang membikin spesial adalah aroma udang asli Selat Malaka yang gurih bercampur aroma bawang dengan karakternya yang kuat. Belum lagi gorengannya yang kering, namun menyisakan tekstur juicy di bagian dalamnya. Dominasi rasa yang kaya bumbu dan cara masak yang tepat membikin heci terasa tak sia-sia masuk mulut. Sepiring heci bisa disantap beramai-ramai bersama teman nongkrong. Pun harganya sangat murah, yakni Rp 20 ribu. Sembari mengunyah penganan yang renyah itu, obrolan-obrolan dengan irama Hokkien memenuhi ruangan. Suara racikan kopi dengan penyeduhan bergaya tarik dengan teko-teko tradisional turut menjadi irama yang merdu.

Heci Lohan Ki

Jalan Perdagangan, Bagansiapiapi, Riau

Buka pukul 18.00-00.00

F. Rosana

Dawet Ayu Banjarnegara, Minuman Juara API 2020

Dawet Ayu Banjarnegara tahun ini keluar sebagai juara kategori minuman dalam API 2020.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi minuman tradisional juara Anugerah Pesona Indonesia 2020 atau API 2020. Ia mengalahkan Kopi Semendo dari Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan yang sedang naik daun dan Air Mata Bejando dari Kabupaten Pelalawan di Provinsi Riau yang mulai dikenal masyarakat.

Dawet Ayu Banjarnegara

API 2020 menobatkan dawet ayu sebagai minuman tradisional terpopuler di Indonesia. Ini adalah kuliner jenis minuman yang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Agung Yusianto, kepada tempo.co, mengatakan bahwa kemenangan dawet ayu membuktikan minuman tradisional ini cita rasanya diterima masyarakat Indonesia. Tidak saja bagi masyarakat Banjarnegara di mana minuman ini berasal, tapi juga secara luas di lidah masyaeakar dari daerah lain.

Pengumumnan pemenang Anugerah Pesona Indonesia 2020 sendiri berlangsung di Hotel Inaya Bay Komodo, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 20 Mei 2021 malam. Tak hanya menyandang predikat sebagai minuman tradisional terpopuler, menurut Agung, dawet ayu juga menjadi juara favorit Pesona Indonesia 2020 .

Agung berharap penghargaan terhadap dawet ayu di API 2020 ini menjadi mendorong dan menginspirasi para pelaku usaha kuliner dan UMKM di Banjarnegara untuk terus berkreasi dan berkembang. Ia juga diharapkan makin memperkenalkan Banjarnegara ke seluruh Indonesia.

Dawet Ayu Banjarnegara menjadi juara favorit dalam anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Dawet Ayu Banjarnegara dijual dengan cara gerobak atau pikulan. Foto: Dok. unsplash

Meskipun baru menang di API 2020, dawet ayu Banjarnegara, Jawa Tengah, ini sesungguhnya sudah lama dikenal masyarakat hampir di seluruh Indonesia. Bahkan minumannya sudah beredar di banyak kota di Indonesia. Mengutip harian Kompas, penyebaran dawet ayu ke sejumlah daerahini  terjadi karena ada mobilisasi masyarakat Jawa Tengah pada 1980-an ke banyak wilayah.
Penyebaran ini terjadi karena perpindahan alamiah, maupun adanya program transmigrasi pada masa itu. Orang-orang Banjarnegara dan Banyumaslantas  diduga membuat dawet di tempat tinggal baru mereka. Dari sanalah kemudian dawet ayu Banjarnegara bisa terkenal. Penjual dawet ayu di daerah-daerah itu belum tentu dari Banjarnegara, tetapi nama produknya tetap dawet ayu khas Banjarnegara.

Lalu dari mana asal muasal minuman dawet ayu ini bermula sesungguhnya? Apa pula bedanya dengan es cendol yang juga dikenal oleh banyak orang.

Asal usul dawet ayu masih simpang siur dan punya banyak versi. Salah satu versinya menyebut, dawet Banjarnegara bisa popular konon berawal dari lagu yang diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono. Lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” ini dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol pada 1980-an. Grup ini terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.

Selain versi tersebut, ada pula versi sastrawan asal Banyumas, Ahmad Tohari, yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20.
Sementara soal pembuatannya, ss dawet dibuat dari rebusan tepung beras. Sedangkan warna hijaunya diperoleh dari perasan daun pandan. Ada pula yang menyebut warna hijau itu dibuat dari daun suji.

Secara umum proses produksinya mirip dengan pembuatan cendol. Mungkin orang senang membandingkan ke duanya, selain bentuknya mirip, juga karena popularitas lagu campur sari milik almarhum Didi Kempot. “Cendol, dawet, cendol, dawet…” sepotong syair lagu Pamer Bojo milik Didi yang populer dikalangan sobat ambyar, sebutan bagi penggemar pemusik ini.

Dawet Ayu Banjarnegara secara tampilan mirip dengan Cendol yang banyak dkenal masyarakat di Jawa Barat.
Minuman Es Cendol di Jawa Barat yang tampilannya mirip dengan es Dawet Ayu. Foto: Dok. Unsplash

Minumannya sendiri, secara sekilas jika dilihat, cendol dan dawet ini tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama dihidangkan dengan larutan gula merah sebagai pemanis dan diguyur dengan santan cair. Begitupun, oleh para pemerhatu kulinari, ada perbedaan yang menonjol antara cendol dan dawet, yakni bahan bakunya. Cendol dan dawet sama-sama terbuat dari tepung, tetapi meggunakan jenis tepung yang berbeda. Namun, campurannya sama, pemanisnya menggunakan gula kelapa, dan santannya alami dari perasan buah kelapa segar.
Beda dengan dawet, cendol menggunakan tepung kacang hijau atau hunkwe.
Es cendol sendiri disebut-sebut berasal dari kata jendol, yang dalam bahasa Sunda artinya jendolan. Hal ini merujuk pada tekstur butiran cendol yang bentuknya tak beraturan. Asal ke dua minuman yang mirip ini ternyata yang berbeda. Jika dawet ayu dari Banjarnegara, Jawa Tengah, sedangkan cendol berasal dari Jawa Barat.

Para penjual dawet ayu biasanya menggunakan pikulan yang khas untuk berjualan. Pikulan tersebut disebut angkringan dawet ayu atau angdayu. Ada dua gentong besar yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri pikulan. Isinya masing-masing adalah santan dan dawet. Gentong besar tersebut dibuat dari tanah liat yang dipercaya bisa menjaga suhu dawet dan santan tetap dingin sehingga pedagang tak perlu lagi menggunakan es batu.

Kini, mungkin karena perubahan iklim yang membuat hawa lebih gerah, banyak juga penjual dawet yang menggunakan es. Sekarang juga semakin banyak pedagang yang menjual dawet dengan gerobak dan menggunakan ember plastik ketimbang gentong tanah liat. 

Jika Anda punya kesempatan mampir ke Banjarnegara, berikut ada beberapa tempat es dawet ayu yang terkenal di kota ini.

Bakso dan Dawet Ayu Asli Hj. Munardjo

Jl. M.T. Haryono No.12-22, Krandegan, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara

Jl. Stadion Selatan, Parakancanggah, Kecamatan Banjarnegara, Banjarnegara, Jawa Tengah

Dawet Ayu Banjarnegara Pak Sunardi

Jl. Sunan Gripit, Rejasa, Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah

agendaIndonesia

*****