Ogoh-ogoh di Malam Bulan Mati Ke-9

Ogoh-ogoh identik dengan hari Nyepi, hari sakral bagi masyarakat hindu Bali. Ia diibaratkan nafsu atau hal buruk yang harus dilepaskan dari diri. Figur-figur ogoh-ogoh dulu seperti bentuk raksasa atau mahluk yang seram. Makin ke sini, bentuknya tidak melulu menyeramkan, tapi juga ada yang cantik atau lucu.

Ogoh-ogoh

Tahun 2021 ini mungkin Hari Raya Nyepi akan semakin sepi, sebab pawai ogoh-ogoh sudah dipastikan tidak diizinkan digelar merujuk pada situasi pandemi Covid-19. Tentu ada yang terasa ‘hilang’ bagi masyarakat Bali. Namun ini adalah situasi yang harus dihadapi. Artikel ini adalah kisah pelaksanaan ogoh-ogoh beberapa tahun silam.

Malam masih belum jatuh betul, masih ada sedikit cahaya ketika keramaian itu muncul di sejumlah banjar atau kampung di Bali. Tetabuhan dipukul. Patung raksasa dengan wajah menyeramkan, yang dikenal sebagai ogoh-ogoh, tampak menonjol di antara barisan pria dengan balutan kain kotak-kotak di bagian bawah tubuhnya. Busana tradisional itu dilengkapi udeng atau ikat kepala yang menjadi ciri pria Pulau Dewata.

Situasi itu adalah hal yang biasa saat menyambut Hari Nyepi, masyarakat menggelar Malam Pengerupukan atau Malam Penyepian. Boneka raksasa ogoh-ogoh memang khusus dimunculkan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau pada tilem sasih kesanga (bulan mati yang ke sembilan). Tahun 2021 ini, dalam kalender Masehi, jatuh pada 14 Maret.

Ogoh-ogoh merupakan simbolisasi menjauhkan hal-hal yang buruk bagi masyarakat Bali.
Pawai mengarak ogoh-ogoh di malam menjelang Hari Raya Nyepi di Bali. Foto: Dok. shutterstock

Sebelumnya, umat Hindu melakukan upacara yang disebut Bhuta Yadna dalam bentuk Mecaru mulai di tingkat keluarga, banjar, desa, hingga kecamatan. Tujuannya, mensucikan diri dari segala bentuk kotoran sekaligus memohon kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala, dan Batara Kala supaya mereka tidak mengganggu lagi. Ogoh-ogoh pun baru diarak saat senja mulai turun atau sekitar pukul 6 sore.

Ogoh-ogoh mungkin semcam seni patung dalam tradisi Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala simbol kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terukur. Dalam perwujudannya digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Biasanya berupa raksasa, terkadang juga makhluk hidup lain dalam penampakannya yang tidak biasa.

Banyak pula yang mengambil tokoh-tokoh pewayangan lengkap dengan fragmen tarinya. Belakangan, tak hanya ogoh-ogoh dalam tampilan yang menyeramkan yang diarak warga, ada juga yang cantik atau lucu serupa tokoh kartun di televisi.

Biasanya, ogoh-ogoh terbuat dari bahan yang ringan, seperti koran, kertas semen, styrofoam,dan kapas. Ini agar ketika sudah jadi ia jadi mudah diarak, termasuk oleh anak-anak. Sebab bentuknya umumnya gigantis. Besar sekali. Ada puluhan orang dari satu banjar yang ikut mengarak ogoh-ogoh dengan iringan musik, baik gong, gamelan, maupun baleganjur, alias bunyi-bunyian dari bambu, semisal kentongan. Terkadang dilengkapi penari serta lelucon, sehingga masyarakat benar-benar terhibur. Ingar-bingar gamelan, kentongan, dan bunyi-bunyian berlangsung dari sore hingga menjelang malam. Biasanya, ogoh-ogoh kembali ke banjar masing-masing sekitar pukul 22.00. Namun tak jarang arak-arakan dilakukan sampai larut malam.

Anak-anak dan orang dewasa ikut memeriahkan Malam Pengerupukan. Semua aktivitas tersebut baru berhenti total saat kulkul atau kentongan besar di banjarberbunyi. Itu tanda bahwa seluruh aktivitas harus disudahi. Akhirnya, setelah diarak, ogoh-ogoh dibakar atau dipralina. Diharapkan roh jahat yang ada dalam diri raksasa tidak mengganggu umat Hindu.

Sebagai karya seni, ogoh-ogoh tidak dibuat dalam semalam. Perlu persiapan sebulan. Sepulang bersekolah atau bekerja, para pemuda melakukan persiapan di balai banjar masing-masing. Tidak hanya membuat ogoh-ogoh, tapi mereka juga berlatih baleganjur. Lebih tepatnya, melakukan harmonisasi antara tarian ogoh-ogoh dan tetabuhan. Seminggu sebelumnya, latihan intensif dilakukan.

Atraksi inilah yang mengundang kekaguman wisatawan. Meski pada Hari Nyepi itu Bali seperti pulau tanpa kehidupan, banyak wisatawan datang sebelum perayaan. Prosesi ke masa hening menarik perhatian turis. Tepat di hari H, semuanya sepi dan sunyi. Hanya suara burung berkicau dan kukuruyuk ayam dari kejauhan yang terdengar begitu nyaring. Bahkan anjing pun ikut diam karena tidak ada orang yang melintas.

Hari itu suasana Bali benar-benar seperti pulau mati. Tidak ada aktivitas apa pun. Umat Hindu menyebutnya Catur Brata, yaitu amati geni (tidak ada cahaya atau api), amati lelungan (tidak bepergian), amati karya (tidak melakukan pekerjaan sehari-hari) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Bagi yang mampu, dianjurkan juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadiHari ini biasanya digunakan untuk merenung agar menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Ogoh-ogoh pada akhirnya dibakar setelah diarak keliling banjar, ini menyimbolkan hal-hal buruk menjauh dari masyarakat.
Pembakaran ogoh-ogoh di akhir pawai menandakan agar hal-hal buruk hilang dan enyah dari masyarakat Bali. Foto: Dok. shutterstock

Rangkaian Acara Sebelum Nyepi

Hari Raya Nyepi merupakan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender Caka, yang dimulai pada 78 Masehi. Jatuh pada tilem kesanga atau bulan mati kesembilan, yang dipercaya hari penyucian para dewa di pusat samudra. Para dewa itu membawa intisari amerta atau air hidup. Untuk itu, umat Hindu memuja mereka. Tujuan utama peringatan Hari Raya Nyepi adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Wishi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk mensucikan Bhuana Alit,alam manusia mikrokosmos,dan Bhuana Agung, makrokosmos.

 Di samping Malam Pengerupukan dengan atraksi ogoh-ogoh, dua hari atau tergantung kesepakatan masyarakat adat setempat, sebelum Penyepian, ada kegiatan yang disebut Melasti atau Mekiis. Pada hari tersebut, semua sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke pantai atau danau. Sebab, laut atau danau dianggap sebagai sumber air suci yang bisa digunakan untuk mensucikan segala leteh atau kotoran yang ada dalam diri manusia dan alam. Selain menampilkan iring-iringan umat Hindu yang membawa sesajen dan benda sakral dari pura, ada suguhan kesenian. Orang-orang beriringan ke pantai atau danau sambil melakukan sembahyang.

agendaIndonesia/TL

*****

Oleh-oleh Jadul dari Cianjur, 5 Yang Unik

Oleh-oleh dari Cianjur ada bermacam-macam yang unik, salah satunya manisan buah.

Oleh-oleh jadul dari Cianjur, Jawa Barat, ternyata banyak yang unik. Ada taoco yang produknya sudah mulai memproduksi sejak tahun 1880. Lantas ada manisan yang tokonya sudah berjualan sejak 1960-an, dan ada pula kacang asin sejak zaman Belanda.

Oleh-oleh Jadul dari Cianjur

Jika mau manisan, datanglah ke Cianjur. Manisan di kota ini memang sudah dikenal sejak lama. Toko-toko penjual manisan dapat dengan mudah ditemukan dalam satu jalur, tepatnya di Jalan Muwardi. Selain itu, bisa ditemukan di beberapa lokasi lain. Bahkan, tak cuma itu, kota ini juga terkenal dengan taoco dan kacang asin yang telah diolah sejak zaman Belanda. Di samping itu, sale jari yang terbuat dari pisang ambon dan bandrek juga cocok dijadikan buah tangan saat singgah ke kota yang terletak di antara Jakarta-Bandung via Puncak ini.

Buatan Sendiri

Jika Anda berkendara dari arah Puncak menuju Bandung, di sepanjang Jalan Dr. Muwardi, Cianjur, bisa ditemukan deretan toko manisan. Namun jika Anda ingin mencoba yang agak berbeda, bisa mampir ke Jalan H.O.S Cokroaminoto. Di toko Manisan Mulia Sari, manisan dibuat sendiri alias homemade.

Toko manisan ini sudah dibuka sejak 1960-an dan kini ditangani oleh generasi ketiga. Menurut empunya, manisan tersebut dibuat tanpa menggunakan gula bibit dan bahan pengawet. Alhasil, rasa manisannya memang terasa lebih segar. Yang menjadi favorit para pembeli adalah manisan mangga muda, kedondong, salak, dan pala. Harganya mulai Rp 12.500 per seperempat kilogram.

Manisan Mulia Sari; Jalan HOS Cokroaminoto No. 205; Cianjur

Pakai Patiman

Bagi Anda penggemar taoco, pastinya sudah dengar ketenaran taoco cap Meong. Taoco asal Cianjur itu memang sudah lama ada. Diperkirakan, mulai beroperasi sejak 1880. Bangunan tokonya pun masih berupa bangunan lama. Di depan tokonya terpampang sebuah plang yang bertuliskan “Tauco No. 1 Buatan Nyonya Tasma, Cap Meong”.

Dalam soal rasa, para penggemarnya mengakui taoco ini memiliki rasa yang prima. Proses pengolahannya terbilang masih tradisional. Pemilik menggunakan baskom tanah liat atau yang biasa disebut patiman untuk melakukan proses fermentasiselama 3 bulan. Itu pun kalau cuaca sedang bagus. Jika tidak, proses fermentasi akan berlangsung lebih lama lagi. Taoco dijual dalam kemasan botol berukuran 200 ml, 350 ml, dan 1 liter. Harganya mulai Rp 15 ribu per botol.

Tauco Meong; Jalan HOS Cokroaminoto No. 160; Cianjur

Seukuran Jari

Jika Anda berangkat dari arah Sukabumi menuju Cianjur, Anda mungkin akan menemukan sebuah pusat jajanan di sisi kanan jalan. Lokasinya sudah mendekati Kota Cianjur. Oleh-oleh di tempat yang merupakan usaha kecil dan menengah  ini lumayan lengkap. Mulai kerupuk, manisan, rengginang, hingga—yang spesial—sale jari.

Jika sale pisang biasanya lunak dan berukuran besar, lain halnya dengan sale yang terbuat dari pisang ambon ini. Salenya justru renyah. Selain itu, ukurannya mungil. Kira-kira seukuran jari telunjuk dewasa. Mungkin karena bentuknya itu, dijuluki sale jari. Untuk satu bungkus dengan berat seperempat kilogram dijual Rp 10 ribu.

Toko Manisan Putra Sawargi; Jalan Raya Sukabumi-Cianjur, Warung Kondang; KM 9 No. 9; Cianjur

Oleh-oleh jadul dari Cianjur ada yang sudah digemari masyarakat sejak tahun 1880.
Oleh-oleh dari Cianjur berupa kacang asin cap Pohon Beringin yang sudah ada sejak zaman Belanda. Foto: Rully K./Dok TL.

Kacang dari Zaman Belanda

Oleh-oleh terkenal dari Cianjur lainnya adalah kacang asin cap Pohon Beringin. Kacang asin itu konon sudah ada sejak zaman Belanda. Kini sudah diteruskan ke generasi kedua. Selain renyah, rasa asinnya pas dan tidak terlalu berlebihan di lidah saat dikunyah.

Selain dapat ditemukan di toko pembuatnya, kacang asin yang merupakan industri rumahan ini dapat dengan mudah ditemui di pusat jajanan di Cianjur. Dijual dalam kemasan 250 gram dan 500 gram. Harganya masing-masing Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu.

Kacang Asin Pusaka; Cap Pohon Beringin; Jalan Suroso No. 7; Cianjur

Bandrek dan Bansus

Masih dari Cianjur, ada satu minuman khas Sunda yang terkenal, yakni bandrek. Bandrek jika dikonsumsi secara rutin diyakini dapat memperlancar peredaran darah, mempercepat penyembuhan stroke, mencegah impotensi, dan meningkatkan vitalitas pria. Menurut cerita, bandrek sebenarnya adalah minuman keluarga. Namun kini berkembang menjadi industri.

Ada dua merek bandrek terkenal dari Cianjur, yakni cap 2 Pigeons dan Penguin. Meskipun sama-sama menggunakan gula aren dan rempah-rempah, penjual menyebut “bandrek” untuk cap 2 Pigeons dan “bansus” untuk cap Penguin. Harganya Rp 10 ribu per pak dengan isi 10 kotak.

Toko Alam Sari; Jalan Dr. Muwardi No. 54; Cianjur

agendaIndonesia/Andry T./Rully K./TL

*****

Jajanan Legendaris Bandung, 5 Yang Bikin Kangen

Jajanan Bandung legendaris ada banyak macamnya, salah satunya adalah batagor.

Jajanan legendaris Bandung ada beraneka ragam. Rasanya bahkan setiap bulan muncul satu jajanan baru yang langsung hip. Semua orang langsung membicarakan dan ingin mencobanya.

Jajanan Legendaris Bandung

Kota Bandung, Jawa Barat, memang boleh dibilang memang pusatnya jajanan. Hampir di setiap sudut kota terdapat toko atau warung jajanan. Tak hanya itu, tren penganan juga selalu muncul dari Kota Kembang. Namun beberapa buah tangan berikut ini seperti mengalami pengecualian. Kudapan tersebut masih bertahan sejak dulu sampai kini. Kehadirannya seakan tak tergerus tren. Ada yang memulai usaha sejak 1930 dan diteruskan ke generasi berikutnya. Ada pula yang sudah berkembang menyediakan berbagai variasi jajanan.

Peuyeum Tradisional

Mencari jajanan yang benar-benar tradisional bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Berun- tung masih ada Colenak Murdi Putra. Colenak, singkatan dari “dicocol enak”, memang jajanan terkenal di Bandung sejak dulu. Pengolahan penganan khas Jawa Barat ini masih sangat tradisi- onal. Peuyeum alias tape singkongnya dipanggang dengan arang. Sedangkan gula sebagai cocolan peuyeum dimasak memakai kayu bakar.

Rasanya? Benar-benar membawa kita bernostalgia. Sejak dibuka pada 1930, Colenak Murdi Putra masih konsisten menggunakan peuyeum putih asal Cimenyan. Harganya hanya Rp 8.000 per porsi dengan pilihan rasa: orisinal, durian, dan nangka. Selain
di gerai pusat dan cabang, colenak
ini dapat diperoleh di berbagai pasar swalayan di Bandung.

Colenak Murdi Putra; Jalan Ahmad Yani No 733, Bandung Jalan Raya Cibiru No 3, Bandung

Lemper ala Julie

Jika biasanya dibuat dengan cara dikepal-kepal, lain halnya lemper yang satu ini. Lemper ala Julie dibuat di loyang dengan berlapis-lapis isian. Lapisan pertama berisi ketan, lapisan berikutnya daging cincang, dan lapisan terakhir ketan. Karena cara pem- buatan itulah penganan ini disebut lapis lemper.

Daging yang dipakai juga bukan daging ayam yang biasa digunakan lemper pada umumnya, melainkan daging sapi segar. Alhasil, potongan lemper terlihat lebih rapi dengan mem- perlihatkan isi daging. Resep khas Julie Sutardjana atau Oma Julie ini dicip- takan pada 1960-an. Harga per buah hanya Rp 3.500.

Kedai Nyonya Rumah; Jalan Naripan No 92C, Bandung Jalan Trunojoyo No 29, Bandung

Batagor

Jika berkunjung ke Bandung, hampir pasti dengan mudah kita menemukan batagor di setiap sudut jalan. Salah satunya, Batagor Isan. Belakangan ini namanya semakin naik daun menyaingi batagor yang lebih dulu terkenal. Bumbu batagor ini terlihat lebih merah meskipun sama-sama menggunakan bahan dasar kacang tanah.

Rasa yang ditawarkan juga berbeda, dengan harga relatif lebih murah. Harganya tak sampai Rp 15 ribu per buah. Selain cocok dimakan di tempat, tahu berisi adonan sagu dan ikan tenggiri itu dapat dibawa pulang. Sebelumnya, batagor digoreng setengah matang agar tidak mudah basi. Pertama kali buka di daerah Bojong Loa pada 1980-an, sampai sekarang sudah ada 13 gerai cabang Batagor Isan tersebar di Kota Bandung.

Batagor & Mi Baso Isan; Jalan Mohammad Toha No 118, Bandung

Jajanan legendaris Bandung begitu banyak ragamnya, mulai dari penganan tradisional hingga kopi yang hampir menapai 1 abad.
Kopi Aroma Bandung menjadi salah satu legenda Kota Kembang ini. Foto: Dok. Kopi Aroma Bandung.net

Kopi Legendaris

Di antara toko-toko bahan bangunan dan onderdil di kawasan Banceuy, terselip sebuah toko kopi yang popularitasnya mencapai mancanegara. Didirikan pada 1930 oleh Tan Houw Sian, toko kopi sekaligus pabrik itu kini ditangani anaknya, Widyapratama.

Selain dijual dalam bentuk bubuk, terdapat kopi yang masih berupa biji. Tersedia dua jenis kopi, yakni kopi robusta berusia lima tahun dan kopi arabika delapan tahun. Menjual kopi jenis kopi robusta dengan harga yang relatif murah.

Kopi Aroma; Jalan Banceuy No 51, Bandung

Jajanan legendaris Bandung tak bisa melupakan Bollen Pisang khas Kartika Sari.
Bollen Pisang Kartika Sari yang selalu bikin kangen. Foto: Dok. Kartika Sari

Dominasi Bollen

Berbicara ihwal tren jajanan di Kota Kembang, mungkin kita tidak bisa melupakan Kartika Sari. Toko kue yang mulai buka pada 1980-an ini terkenal karena menjadi pelopor pisang bollen keju. Sampai saat ini sudah ada tujuh cabang Kartika Sari tersebar di Bandung dengan lebih dari 126 varian jajanan. Namun pisang bollen keju masih mendominasi penjualan Kartika Sari. Selain bollen pisang, kini mereka juga menjual varian lain seperti tape dan lainnya. Ini selalu cocok dijadikan oleh-oleh jika kita bepergian ke Bandung.

Kartika Sari; Jalan Haji Akbar No 4, Kebon Kawung, Bandung

agendaIndonesia/TL

*****

Asyiknya Mengintip Burung, Hobi Yang Ada Sejak 1901

Asyiknya mengintip burung atau birdwatching bukan hobi yang baru muncul. Kegemaran ini sudah pernah ditulis oleh ornitolog asal Inggris pada 1901. Ini bukan sekadar menikmati keindahan karya sang Pencipta, tapi juga memahami, mencatat dan melestarikannya. Mengendap-endap, mengintip via teropong, mencermati, dan mencatat jenis burung yang dilihat.

Asyiknya Mengintip Burung

Cuaca memang belum bersahabat pada pada waktu itu. Maklum, hujan masih rajin mengguyur Kota Bogor, Jawa Barat. Namun Santi dan Jihad dari Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) tetap bersemangat menemani Stuart Marden, peneliti burung dari Manchester University, Inggris. Saat azan Subuh menggema, mereka sudah bergegas menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Beruntung hujan tidak turun hari itu, meskipun mendung menggelayut.

Tepat pukul 07.00, mereka sudah tiba di pintu masuk Cibodas, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Taman Nasional. Perjalanan yang harus mereka tempuh masih panjang. Meskipun tidak terlalu berat, jalur trekking memiliki rute berkelok dan naik-turun. Tak hanya itu, selama perjalanan mereka juga tak boleh menimbulkan suara gaduh. Bahkan terkadang mereka harus jalan mengendap-endap dan siap membidikkan teropong berlensa binokulersaat tampak burung bertengger.

Orang awam yang melihatnya mungkin akan menganggap apa yang mereka lakukan ini sebagai kurang kerjaan. Betapa tidak, mereka hanya “tukang intip” burung-burung liar yang hidup di alam bebas. Padahal, pengamatan burung atau lebih kerennya disebut birdwatching merupakan suatu kegiatan observasi. Istilah ini pertama kali muncul sebagai judul buku yang ditulis oleh ornitolog Inggris, Edmund Selous, pada 1901. Belakangan birdwatching berkembang menjadi kegiatan yang bersifat rekreasi.

Dari tahun ke tahun, organisasi pengamat dan pemerhati burung di Indonesia terus bertambah. Baik yang bernaung di lingkup perguruan tinggi maupun berdiri secara independen. Terkadang pula birdwatching diselipi kegiatan fotografi menggunakan burung sebagai obyek pemotretan.

Meski bersifat hiburan, kegiatan ini dapat menambah wawasan para birdwatcher, sebutan untuk pengamat burung. Sebab, dengan mengintip via teropong itulah mereka bisa mengetahui jenis-jenis burung endemik atau burung perkotaan yang ada di Indonesia. Apalagi birdwatching bisa dilakukan di mana saja, asalkan tempat tersebut merupakan habitat komunitas burung.

asyiknya mengintip burung bukan saja melihat keindahan karya sang pencipta, tapi juga sarana melestarikannya.
Burung Sikatan Ninon. Foto: Tri Susanti-Burung Indonesia

Kendati demikian, untuk menjadi birdwatcher perlu pengetahuan mendasar sebelum terjun ke lapangan. “Perlu tips tersendiri,” ujar Rahmadi Rahmad, Media and Communication Officer Burung Indonesia, waktu itu, yang juga sering menjadi birdwatcher. Jebolan Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menyarankan agar para birdwatcher tidak mengenakan pakaian berwarna mencolok saat melakukan pengamatan. “Warna pakaian yang mencolok akan mengganggu burung. Sebaiknya, gunakan pakaian berwarna khaki atau yang senada dengan alam,” ia memaparkan.

 Selain itu, Rahmadi menyebutkan, birdwatcher disarankan menggunakan teropong binokuler dan menghindari monokuler. Alasannya, teropong monokuler agak merepotkan penggunaannya karena perlu dilengkapi tripod dan terasa kurang praktis.

Sedangkan untuk soal waktu, kata Rahmadi, pagi-pagi merupakan yang terbaik. Sebab, saat itu burung-burung sangat aktif mencari makan, sehingga mudah ditemukan. “Sore hari juga merupakan waktu pengamatan yang baik, karena biasanya burung mencari makan sebelum mereka beristirahat pada malamnya.”

Di sisi lain, kegiatan mengamati burung ini bertujuan untuk penelitian ilmiah. “Dari hasil birdwatching, kita dapat mengetahui populasi burung yang ada di Indonesia,” ujar Tri Susanti, Communication and Publications Officer Burung Indonesia. Menurut lajang yang akrab dipanggil Santi itu, Indonesia negara terbesar kelima di dunia dan terbesar di Asia yang memiliki 1.605 jenis burung dan 380 jenis burung endemik. Sayangnya, Indonesia juga negara terbesar ketiga yang burung-burungnya terancam punah.

Santi mencontohkan populasi burung yang ada di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Pada 1960-an diperkirakan terdapat 160 jenis burung. Namun, ketika diadakan pengamatan kembali pada 2009, jumlah populasinya diperkirakan berkurang hingga separuh. Hal itu, kata Santi, menandakan telah terjadi pengurangan ruang terbuka hijau di Kota Bogor.

“Banyak ruang terbuka hijau yang telah berganti peran dengan berdirinya kompleks perumahan ataupun pertokoan,” katanya. Karena itu, Santi menyatakan Burung Indonesia sebagai organisasi konservasi burung berupaya mengadakan kerja sama dengan pemerintah setempat dalam pelestarian lingkungan agar habitat burung-burung tersebut tetap terjaga.

agendaIndonesia/Andry T./TL/Foto: Dok. Burung Indonesia

*****

Museum Bank Indonesia, Sejarah Ekonomi Sejak 1828

Museum Bank Indonesia di antaranya memiliki koleksi koin emas derham.

Museum Bank Indonesia barangkali bisa menjadi alternatif pilihan tempat wisata yang bersifat edukatif. Tak cuma untuk anak-anak, mahasiwa bahkan orang awam pun mungkin bisa mendapatkan pengetahuan penting di sini.

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia memamerkan berbagai koleksi uang yang pernah digunakan Indonesia dari masa ke masa. Sementara itu, benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah di dalamnya akan sangat berguna bagi masyarakat. Di sebuah gedung lawas, perjalanan perekonomian bangsa ini diulas. 

Wilayah barat Jakarta disiram sinar mentari yang terik pada November lalu, tapi tak mengurungkan niat sejumlah orang untuk melangkah ke kawasan Kota dan mengunjungi Museum Bank Indonesia. Berada di Jalan Pintu Besar Utara No 3, bangunan ini dari luar memang menggoda untuk ditengok. Maklum merupakan gedung lawas dengan arsitektur neo-klasik.

Bangunan sudah hadir pada masa pendudukan Belanda. Hanya, pada awalnya digunakan sebagai rumah sakit. Beralih menjadi kantor perbankan pada 1828 dan digunakan oleh De Javasche Bank. Saat Indonesia meraih kemerdekaan, bank pun dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) pada 1958. Tak lama digunakan BI, pada 1962 pindah ke gedung baru dan bangunan lama pun difungsikan sebagai museum.

Museum Bank Indonesia terdiri dari dua lantai yang berisi segala pengetahuan mengenai ekonomi, moneter, dan perbankan yang diperlukan masyarakat. Berkunjung ke tempat ini akan memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang diambil dari waktu ke waktu.

Memasuki museum, saya menemukan beragam informasi mengenai peran Bank Indonesia dan kebijakan-kebijakan bank sentral ini dalam perekonomian Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan perekonomian Indonesia dulu bisa ditemukan di sini. Museum menyuguhkan informasi dalam beberapa media, di antaranya multimedia. Awalnya, pengunjung dibawa ke sebuah ruangan dengan sejumlah info ihwal pendirian Bank Indonesia. Nah, dengan menggunakan teknologi itu, pengunjung bisa merasakan perjalanan BI pada masa lalu tersebut.

 Dari ruangan sejarah, saya berpindah ke ruang teater berdaya tampung 60 orang. Ruangan ini tentu menampilkan sejarah BI. Kemudian, disambung memasuki sebuah ruangan Numismatic. Di ruangan ini, pengunjung bisa melihat koleksi mata uang dari awal masa kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan Islam, kolonial, hingga setelah merdeka. Ruangan dengan cahaya yang redup dan dingin ini menciptakan suasana tenang dan nyaman. Dengan bantuan kaca pembesar, saya melihat koleksi mata uang yang ada di sini.

Dari sana pengunjung bisa meneruskan langkah ke ruang lain. Kali ini ruang “bersinar” karena berisi emas dan diberi nama ruang Moneter Gold. Ada tumpukan replikasi emas batangan dan pengunjung bisa memegang serta mengangkat satu batang replika yang sudah ada di salah satu sudut ruangan. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan berapa berat satu batang emas. Ada pula koleksi koin emas derham atau dirham yang dipergunakan untuk perdagangan di Aceh pada masa lalu.

Selain itu, ada ruangan percetakan uang yang digabung bersama ruangan sirkulasi uang. Di sini, pengunjung bisa menyimak proses uang dicetak dan diedarkan. Dari perencanaan, mencetak, distribusi, peredaran, hingga menariknya kembali. Saya juga melihat replika dari pesawat Bank Indonesia yang pertama kali mendistribusikan uang ke seluruh wilayah di Indonesia di ruang ini.

Ada sebuah ruangan yang dikhususkan untuk pameran yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Biasanya yang ditampilkan berupa karya fotografi, lukisan, batik, dan lain-lain. Ke luar dari museum, ada buah tangan yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Bisa dilihat di ruangan khusus ini, silakan disimak juga bila berminat. Sesekali tengok juga website Museum Bank Indonesia, siapa tahu ada pameran yang sedang digelar, sehingga bisa satu kayuh dayung, dua kegiatan dilakukan.

Hanya, seperti sejumlah museum, di sini juga ada sejumlah peraturan. Di antaranya, di beberapa ruangan, meski boleh mengambil gambar dengan kamera, tidak boleh menggunakan bantuan flash. Sejak dilakukan peresmian yang kedua kalinya pada 2009 oleh presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono, memang antusiasme orang untuk berkunjung meningkat. Baik wisatawan lokal maupun asing. Sebenarnya museum dibuka pertama kali pada 15 Desember 2006, tapi pembukaan secara resmi baru pada 2009. Pengunjung dipungut biaya Rp 5 ribu, sedangkan khusus pelajar, mahasiswa dan anak-anak di bawah 3 tahun bisa menikmati secara bebas menikmati perjalanan perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Museum Bank Indonesia; Jalan Pintu Besar Utara No 3; Jakarta Barat

Buka:Selasa-Minggu, pukul 08.00-16.00

Tutup: Hari Senin dan hari libur nasional

agendaIndonesia

*****

Kopi Oksibil Papua, Ini 5 Keistimewaannya

Kopi Oksibil Papua menjadi salah keunggulan daerah itu dan sering disebut emas hitam.

Kopi Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua, adalah salah satu biji kopi terbaik dari Indonesia. Kualitas biji kopi di Indonesia tak perlu diragukan lagi. Hampir setiap tahun, kopi dari berbagai daerah di Tanah Air memenangi kontes di level internasional.

Kopi Oksibil Papua

Kondisi geografis Indonesia yang berupa barisan pegunungan membuat kopi tumbuh dengan baik. Alhasil, selain menjuarai kompetisi kopi level dunia, Indonesia tercatat sebagai pemasok biji kopi ke tiga terbesar di dunia setelah Vietnam dan Brasil.

Bicara biji kopi Indonesia, hampir semua berkualitas baik. Namun, salah satu yang terbaik tumbuh di daratan Pegunungan Bintang, tepatnya di Oksibil, Papua. Seorang roaster yang memperoleh sertifikasi dari Speciality Coffee Associaton of America, Hideo Gunawan, pernah mengadakan penjelajahan singkat mengenai kopi Oksibil selama dua pekan pada Februari 2018.

Secara umum Hideo mengatakan, kopi Oksibil Papua berwarna hitam pekat. Ketika disruput, terasa pahit di mulut, tetapi lalu meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalamannya mencicipi kopi Oksibil dari Pegunungan Bintang, Papua.

Kopi Oksibil Papua cocok diseduh dengan cara apapun, namun rasa sitrusnya keluar ketika diseduh dengan cara tubruk
Menyeduh kopi dengan cara V60.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi latte. Membandingkan penyeduhan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi oksibil Papua ini paling terasa saat disajikan ternyata adalah kopi yang diseduh dengan metode tubruk. Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain, seperti yang banyak ditanam di Sumatera.

Pohon-pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini juga memiliki usia produktif yang lebih lama, yakni mencapai 30 tahun, dibandingkan dengan pohon kopi jenis hibrida yang hanya sampai 10 tahun.

Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak. Ada lima distrik yang sudah menghasilkan kopi. Peminatnya sudah tinggi dari luar negeri seperti Australia, Selandia Baru, atau Eropa.

Kalau ada yang memiliki kesempatan mengunjungi Oksibil di Papua, selain menikmati keindahan alamnya, saat mengunjungi kota kecil yang berpenduduk 100.686 jiwa ini wajib mencicipi kopinya. Orang sering menyebutnya sebagai Kopi Koteka khas Pegunungan Bintang atau orang juga menyebutnya kopi Oksibil Papua.

Kopi Papua dari Pegunungan Bintang merupakan kopi organik dengan kualitas terbaik. Ini berkat tanah Papua yang masih sangat subur sehingga kualitas kopi yang dihasilkan sangat baik. Kopi yang ditanam petani secara tradisional tanpa menggunakan pupuk kimia juga tanpa pestisida sehingga menghasilkan kopi kualitas baik.

Sejatinya apa saja keistimewaan kopi Osibil Papua ini? Seorang barista di Jakarta menjelaskan sejumlah keistimewaan kopi Oksibil. Di antaranya berikut ini.

Berjenis Arabica Tipika

Biji kopi Oksibil berjenis Arabica Tipika. Pohon kopi jenis ini bukan merupakan hibrida atau hasil perkawinan. Ciri-cirinya, jarak antar-dompol buah berjauhan. Ukuran pohonnya pun lebih besar. Ini menunjukkan kualitas varietal kopi lebih baik daripada kopi Arabica pada umumnya.

Pohon kopi Arabica Tipika memiliki usia produktif hingga 30 tahun. Berbeda dengan pohon hibrida yang batas usia produktifnya hanya sampai 10-11 tahun.

Ditanam di Ketinggian dan Suhu Ideal

Pohon kopi Oksibil ditanam di ketinggian lebih dari 1.900 mdpl, melampaui rata-rata kopi lainnya yang tumbuh di daratan 1.500 mdpl. Suhu di ketinggian itu berkisar 18-23 derajat. Ditilik dari ketinggian dan suhunya, ini merupakan lahan ideal bagi kopi Arabica untuk tumbuh baik.  

Makin dingin suatu tempat, biji akan makin lama matang. Alhasil, gizi pada kopi pun makin menumpuk. Proses pematangan yang lamban akan membuat biji biji memiliki acidity atau tingkat keasaman yang tinggi.

Proses Pengelolaan Manual

Segala proses pengelolaan kopi dilakukan secara manual di Oksibil, tapi petani setempat paham cara memperlakukan biji dengan tepat. Mulai pengulitan hingga penyangraian. Namun, tanpa diedukasi sebelumnya, insting petani untuk memperlakukan biji kopi diklaim sudah tepat.

Misalnya petani akan memetik biji yang benar-benar sudah merah. Lalu mereka tak menjemur biji kopi di atas lahan tanah, sehingga kualitas tetap terjaga.

Panen Hampir Sepanjang Tahun

Meski ada panen raya, biji kopi Oksibil akan terus diproduksi sepanjang tahun. “Panen per petani itu tidak sama waktunya sehingga kesannya biji kopi Oksibil ada terus,” kata Hideo. Adapun panen besar akan dirayakan umumnya bulan Mei. Tiap panen, petani yang masing-masing memiliki 1.000 pohon kopi akan memproduksi 300-600 kilogram biji.

Kopi Oksibil Papua ditanam dan dirawat dengan cara manual.
Biji kopi arabica

Dikemas Unik dengan Koteka

Koteka saja sudah unik, apalagi diisi dengan kopi. Kopi Koteka menjadi merek unggulan petani lokal. Pemerintah setempat tengah menggalakkannya menjadi oleh-oleh. Kopi Koteka telah dipromosikan ke beberapa negara di Eropa dan Australia. Keberadaannya sebagai kopi khas Papua banyak diminati orang asing.

Kopinya dinamakan koteka karena sesuai ciri khas masyarakat setempat. Tapi sesungguhnya koteka sendiri adalah singkatan dari kopi, ternak, dan kakao, program pembangunan ekonomi di kabupaten tersebut.

agendaIndonesia

*****

Buah Tangan Banyuwangi, 5 Yang Layak Dibawa

Buah tangan Banyuwangi banyak ragamnya, dari yang berbentuk produk kerajinan seperti batik atau patung dan topeng barong, ada juga beragam penganan. Batik? Betul, memang batik Banyuwangi belum sepopuler saudara-saudaranya dari Yogya, Solo, Pekalongan, Cirebon, bahkan Madura, namun ia salah satu yang memiliki ciri khas.

Buah Tangan Banyuwangi

Kota di ujung timur pulau Jawa ini juga memiliki aneka panganan kecil yang unik. Sebutlah bagiak, yang mengingatkan kita pada bagea dari Manado, atau ada pula ladrang dan sale pisang. Berikut ada enam oleh-oleh Banyuwangi, Jawa Timur, yang layak dibawa pulang sebagai buah tangan.

Batik Banyuwangi

Batik Banyuwangi dikenal sebagai batik pesisiran. Motifnya beragam, umumnya flora dan fauna, yang terkenal adalah motif Kopi Pecah hingga Gajah Oling. Ada juga motif Kangkung Setingkes, Kawung, Gedekan, Sembruk Cacing.

Yang terkenal adalah motif gajah oling, itu sebabnya batik Banyuwangi sering juga dieknal sebagai batik gajah uling. Motif ini berupa belalai gajah yang membentuk tanda tanya. Kini batik Banyuwangi memiliki 43 motif lain. Hampir seluruh motif memiliki filosofi tersendiri.

Sejarah batik Banyuwangi masih dipengaruhi batik Mataraman. Selain itu, ada juga pengaruh Timur Tengah, Tiongkok dan lainnya. Karena itu, batik Banyuwangi semarak dengan warna-warni biru, merah, kuning, hijau, dan oranye. Tersedia dalam bahan katun dan sutra, baik tulis maupun cetak.

Umah Batik Sayu Wiwit; Jalan Sayu Wiwit, Kelurahan Temenggungan; Banyuwangi

Anyaman Bambu

Produk kerajinan lain yang bisa dijadikan buah tangan adalah produk kerajinan anyaman bambu. Adalah desa Gintangan di Kecamatan Rogojampi sebagai  sentra produk anyaman bambu terbesar di Banyuwangi, bahkan di Jawa Timur. Sentra ini menghasilkan lebih dari 100 produk kerajinan bambu. Dari hiasan dinding hingga perlengkapan dapur. Dipasarkan tak hanya di Indonesia, tapi juga ke luar negeri seperti Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara di Asia Tenggara.

Salah satu produsen produk anyaman bambu adalah Widya Handicraft. Tempat ini memproduksi aneka produk dari stoples bambu, tempat buah, wadah tisu, tempat koran, kap lampu, wadah perhiasan, dan lain-lain. Harga bervariasi atau bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan. Tempat buah dan satu set stoples, misalnya, harganya mulai Rp 100 ribuan. Semua produk menggunakan bambu apus yang terkenal kuat dan banyak tumbuh di kawasan itu.

Widya Handicraft; Desa Gintangan; Rogojampi; Banyuwangi

Buah tangan Banyuwangi banyak ragamnya, mulai dari produk kerajinan hingga panganan.
Kesenian Barong Banyuwangi yang biasa dipentaskan saat ada warga yang punya hajat. Foto: shutterstock

Patung Barong

Di Banyuwangi ada kebiasaan masyarakat asli setempat, dikenal sebagai masyarakat Using, saat mempunyai hajatan akan menggelar kesenian Barong. Sepintas, barong Banyuwangi mirip dengan barong Bali. Bedanya barong Banyuwangi  lebih kecil dan ornamennya didominasi warna merah-kuning. Di Desa Kemiren, barong dipakai untuk ritual bersih desa setelah Lebaran.

Selain sebagai kesenian, sama seperti juga dengan di Bali, barong Banyuwangi juga dibuat barang kerajinannya sebagai kenang-kenangan. Suvenir barong Banyuwangi memiliki tinggi sekitar 30 sentimeter dengan panjang 25-an  sentimeter. Barong ini dilengkapi dengan suara gamelan yang direkam dari aslinya dan dapat bergerak ke kanan dan kekiri. Selain barong, ada juga patung penari gandrung.  

Kerajinan Kayu Rahmat Jaya; Jalan Dr Rasyad N0 249, Banyuwangi

Alat Musik Kalimba

Kalimba sejatinya alat musik dari Afrika Selatan. Alat musik yang terdiri dari kotak suara dan tuts-tuts logam ang ymenempel di bagian atas dan biasanya dimainkan dengan ke dua jempol tangan. Kalimba terbuat dari tempurung kelapa dan kayu sebagai penutup. Tujuh baris lempang besi berjajar di atasnya berfungsi sebagai tuts. Ada bolongan di tengahnya.

Ada tiga jenis kalimba. Pertama, perpaduan tempurung kelapa dan kayu sonokeling; lalu ada pula kalimba dengan hiasan cat warna-warni; dan terakhir yang banyak ditemui, mungkin karena yang termurah, ialah kalimba dengan penutup kayu mahoni polos. Dengan harga yang tak terlalu mahal, di bawah Rp 100 ribu, alat ini layak dibawa untuk oleh-oleh atau kenang-kenangan.

Supriyanto Kalimba; Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi; Banyuwangi

Kue Bagiak

Bagiak adalah kue kering tradisional Banyuwangi yang dulu hanya disajikan saat Lebaran. Bentuknya seperti telunjuk orang dewasa. Berwarna putih kecokelatan. Berbahan utama tepung tapioka dan parutan kelapa yang disangrai.

Bisa ditemui di berbagai pusat oleh-oleh Banyuwangi.

Saat ini pengunjung bisa mencicipi berbagai macam varian rasa yang ditawarkan kue bagiak. Beberapa di antaranya adalah kacang, jahe, susu, durian, vanilla, pandan atau lainnya. Banyak wisatawan membawa untuk oleh-oleh, selain harganya tidak mahal, bagiak juga mudah ditemui di toko-toko oleh-oleh. Dan satu lagi, kue kering ini tahan lama.

Rumah Kue Gajah Oling; Jalan Imam Bonjol 34; Banyuwangi

agendaIndonesia

*****

Kota Singkawang, Cap Go Meh Dan 1000 Tatung

Kota Singkawang punya Festival Cap Go Meh yang menampilkan parade tatung.

Kota Singkawang di Kalimantan Barat selalu menjadi pusat perhatian wisatawan saat perayaan Cap Go Meh. Tidak saja di Indonesia, tapi sudah meluas ke manca negara.

Kota Singkawang

Pagi di Singkawang saat hari ke-15 setelah Imlek –karenanya disebut Cap go meh, yang artinya hari ke 15—seluruh penjuru kota ini menjadi riuh dan meriah. Itu tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2021, Cap go Meh yang mestinya jatuh pada Jumat 26 Februari—mungkin tak akan semeriah biasanya. Mungkin pandemi menelan keriuhan itu.

Dalam situasi “normal”, biasanya sejak pagi-pagi sekali kota ini sudah mulai “dibisingkan” dengan suara gendang yang bertalu-talu dan bersahutan dengan gemerincing cymbal. Mereka punya nada dan biarama yang khas. Sehari sebelumnya bahkan biasanya suasana mistis mulai mengintip di sudut-sudut kota. Aroma hio atau dupa mulai meruar dari kelenteng-kelenteng.

Singkawang, seperti disebut di muka, memang terkenal sebagai pusat perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Cap Go Meh di kota ini bahkan sudah menjadi agenda festival yang memikat wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Suasana Cap Go Meh sudah mulai terasa sejak tahun baru Imlek, dan getarannya terus terasa selama 15 hari. Puncak acaranya biasanya berupa parade tatung. Istilah tatung ini diberikan kepada para dukun pemanggil roh. Buat yang percaya, mereka ini manusia pilihan dewa di mana roh-roh berkenan manjing atau merasuk ke dalam diri mereka.

Dalam parade, para tatung berpakaian dengan perbagai gaya. Biasanya dengan warna-warna cerah. Warna kostum mereka hitam, kuning, merah atau hijau. Mereka tampil bak dewa, ksatria, jenderal, atau panglima perang. Perisai dan pedang yang mereka bawa berkilau-kilau oleh sepuhan emas dan perak. Mereka biasanya mengusung bendera segitiga yang memuat nama para tatung tersebut. Para tatung ini ada yang berjalan kaki, ada yang ditandu. Ini bukan sekadar atribut festival, tapi memperlihatkan posisi sosial mereka di masyarakat. Sebagian memikul tandu sembari menyipratkan air penolak bala.

Maksud posisi sosial ini adalah kepercayaan publik kepada “kesaktian” mereka. Di luar acara Cap Go Meh, para tatung ini sejatinya adalah paranormal yang mampu meramal nasib dan mengobati penyakit.aJadi, semakin “sakti” seorang tatung dan dipercaya masyarakat yang minta dibacakan nasib mereka, atau datang untuk berobat, artinya akan banyak sumbangan masuk. Dana sumbangan inilah yang salah satunya bisa berwujud tandu yang mereka pakai saat parade.

Bagi yang percaya, tatung ini dipercaya sebagaimana manusia pilihan dewa. Masyarakat Singkawang, dan juga sebagian di kota lain di Kalimantan Barat seperti Pontianak dan Sambas, meyakini mereka dapat membantu manusia mencapai kedamaian, atau pengobatan. Caranya, mereka membiarkan badannya dirasuki roh.

Kota Singkawang terkenal sebagai salah satu China Town dengan Festival Cap Go Meh yang dramatis dengan penampilan para tatung.
Festival Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, menampilkan parade para tatung. Foto: shutterstock

Saat kerasukan itulah, jarum-jarum besi sepanjang 50 sentimeter bisa menembus pipi, bibir, bahkan lidah mereka tanpa satu tetes darah pun yang menetes. Konon, mereka harus menjadi vegetarian selama tiga hari sebelum upacara atau parade, agar jiwa mereka menjadi bersih dan kuat untuk ditusuk.

Cap Go Meh sejatinya merupakan hari terakhir perayaan Imlek, dan biasanya dilakukan sembahyangan tahun baru untuk memohon berkah. Di Singkawang, ritual sembahyang saat Cap Go Meh ditujukan pada Dewa Langit atau Ket Sam Thoi. Sebagai Kota Seribu Kelenteng, masyarakat Singkawang menganut kepercayaan Konghucu dan mengucapkan syukur pada dewa-dewi kepercayaan mereka.

Banyaknya warga keturunan Tionghoa di Singkawang, yang sering disebut juga sebagai kota seribu klenteng ini, membuatnya menjadi salah satu tempat perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang menarik dikunjungi. Sebagaimana dilaporkan tirto.id yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, Singkawang memiliki 246.306 penduduk dan 42 persen di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa. Sisanya ada dari suku Jawa, Dayak, Melayu dan lainnya.
Masyarakat Tionghoa sudah ada di kota ini sejak ratusan tahun lalu, atau setidaknya mulai tahun 1740. Orang dari luar ini bisa jadi melihat Singkawang sebagai pecinan besar. 

Nama Singkawang sendiri, masih dari tirto.id, berasal kata San Kew Jong, yang dalam bahasa Hakka berarti: gunung, muara, dan laut. Nama Singkawang mulai dicatat orang Eropa setidaknya sejak 1834, seperti ditulis George Windwor Earl dalam The Eastern Seas. Tidak mengherankan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang juga menyuguhkan budaya Tionghoa yang kental.
Festival Cap Go Meh sudah puluhan tahun diselenggarakan di Singkawang. Dengan puncak acaranya pada parade para tatung. Konon saking banyaknya tatung yang muncul saat parade, ada yang menyebut 1.000 tatung memenuhi jalanan kota ini.

Bagi yang datang ke Singkawang ketika parade tatung tapi ngeri untuk menyaksikannya, bisa memilih atraksi lain: Festival Lampion. Ini biasanya juga diselenggarakan dalam rangkaian Imlek di Singkawang.Tak hanya barisan lampion yang digantung, tapi juga pawai lampion dan dekorasi Imlek. Berkali-kali festival lampion ini jga memecahkan rekor Muri. Pada 2009 ada 10.895 lampion dinyalakan di Singkawang. Lalu, pada 2018 ada 20.607 lampion dinyalakan.

Tahun 2021 ini, terkait pandemi, mungkin parade tatung akan ditiadakan. Namun, mudah-mudahan ada puluhan ribu lampion yang menyala.

agendaIndonesia

*****

Keripik Balado Christine Hakim, Sejak 1990

Keripik Baladi Christine Hakim menjadi oleh-oleh yang paling terkenal dari Sumatera Barat.

Keripik Balado Christine Hakim, terutama yang berbahan singkong atau ubi kayu, begitu populer selama bertahun-tahun. Meski kemudian banyak pesaing yang masuk pasar ini, Keripik balado Christine Hakim tetap dicari sebagai buah tangan ketika wisatawan berkunjung ke Padang atau daerah Sumatera Barat lainnya.

Keripik Balado Christine Hakim

Keripik balado memang merupakan salah satu penganan khas Sumatera Barat. Biasanya, cemilan renyah nan pedas ini banyak ditemukan di kota-kota besar seperti Padang dan Bukittinggi, yang hingga sekarang adalah dua sentra pembuatan dan penjualan keripik tersebut.

Tak terkecuali Keripik Balado Christine Hakim, yang dirintis sejak 1980-an. Adalah Christine Hakim, wanita kelahiran Padang 29 Agustus 1959, yang bersama kelima saudara kandungnya memulai bisnis keripik balado ini.

Niat itu tercetus karena merasa kasihan melihat sang ibu harus banting tulang menghidupi keluarga, karena mendiang ayahnya telah tutup usia sejak dirinya masih kecil. Terlebih, baik Christine maupun saudara-saudaranya tak sempat lulus SD.

Dari situlah muncul ide untuk membuat keripik balado dalam kemasan, yang kemudian dititipkan kepada warung-warung milik tetangga mereka. Alasannya, modal yang diperlukan untuk membuat keripik tersebut tak terlalu besar dan relatif mudah didapat.

Keripik Balado Christine Hakim pada dasarnya keripik singkong yang dibuat dengan bumbu racikan cabe merah, gula pasar dan sebagainya.
Keripik Balado Christine Hakim oleh-oleh legendaris Sumatera Barat. Foto: Istimewa

Keripik balado pada dasarnya merupakan keripik singkong yang dibuat dengan bumbu racikan bahan-bahan seperti cabe merah, gula pasir dan sebagainya. Christine kemudian mencoba membuat racikan yang membuat keripik baladonya khas dibandingkan dengan yang lain.

Namun bisnis tersebut masih tergolong bisnis kecil-kecilan yang sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah menikah pada tahun 1990, Christine memutuskan untuk membangun usahanya sendiri bersama sang suami.

Perlahan-lahan, ia mulai menata bisnisnya lewat beberapa inovasi. Salah satunya adalah memberikan nama serta logo dari brand produknya. Ia pun memutuskan untuk menggunakan namanya sendiri, dengan logo gambar rumah gadang sebagai ciri khas Sumatera Barat.

Keripik Balado Christine Hakim melengapi SUngai Batang Arau sebagai ikon Padang
Sungai Batang Arau yang melintasi Padang.

Terobosan ini membuatnya termasuk pelopor dalam penjualan produk oleh-oleh di Sumatera Barat, dalam hal menggunakan kemasan dan merk sendiri. Ini membuatnya cepat dikenali dan lebih mudah dicari ketimbang produk oleh-oleh lainnya.

Hal inilah yang mulai membuat keripik balado buatannya naik daun dan mulai dikenal banyak orang. Konsumen pun mulai berdatangan mencari keripik balado buatannya, walaupun saat itu promosinya masih dari mulut ke mulut.

Tahun demi tahun berlalu dan animo pembeli terus meningkat. Usaha yang awalnya dirintis dari rumahnya di sebuah gang sempit, semakin lama tak lagi mencukupi untuk memenuhi jumlah pembeli yang semakin membludak.

Karena itulah, akhirnya Christine memutuskan untuk memindahkan tokonya ke sebuah ruko di jalan Nipah. Toko inilah yang kemudian menjadi sentra penjualan produk-produk Keripik Balado Christine Hakim hingga kini.

Inovasi lainnya yang membuat produk-produknya senantiasa diminati orang adalah diversifikasi produk secara konsisten. Kalau dulu keripik balado merah menjadi produk satu-satunya, kini terdapat juga keripik balado hijau, keripik balado udang, keripik balado teri, dan sebagainya.

Bahkan ia juga gencar berpromosi dengan menggunakan baliho-baliho berukuran 10×5 meter yang dapat wisatawan temukan di kawasan-kawasan strategis, seperti di area sekitar bandar udara dan beberapa persimpangan jalan di kota Padang.

Harapannya, ia ingin agar produk-produk Keripik Balado Christine Hakim tidak hanya menjadi kudapan kegemaran warga Padang dan Sumatera Barat saja, tetapi juga menjadi pilihan utama oleh-oleh bagi para wisatawan yang datang.

Tak hanya itu, kini tokonya juga menjadi rumah bagi sekitar 700 produk dari 300 UMKM (usaha mikro kecil menengah) lainnya yang bermitra dengannya. Ini semakin mengukuhkan Keripik Balado Christine Hakim sebagai sentra oleh-oleh khas Padang dan Sumatera Barat.

Keripik Balado Christine Hakim kemudian mengambangkan Christine Hakim Idea Park sebagai tempat wisata.
Christine Hakim Idea Park. Foto: CHIP

Pada 2016, ia mendirikan Christine Hakim Idea Park (CHIP), sebuah pusat perbelanjaan seluas 12 ribu meter persegui. Pengunjung dapat menemukan pusat oleh-oleh, Food Hall yang menyajikan makanan khas Sumatera Barat, serta wahana permainan air dan ice skating.

Diharapkan, konsumen akan semakin mudah mendapatkan beragam produk-produk Keripik Balado Christine Hakim, utamanya sebagai oleh-oleh. Selain itu, adanya CHIP Waterpark dan ice skating juga menjadi alternatif tempat rekreasi bagi wisatawan.

Produk unggulan Keripik Balado tentu adalah keripik balado. Variannya dibedakan dari bobot isinya, mulai dari 250 gram sampai dengan 500 gram. Untuk kemasan 250 gram harganya berkisar dari Rp 24 ribu hingga Rp 26 ribu, sedangkan untuk kemasan 500 gram dihargai Rp 50 ribu.

Tak hanya keripik balado, kini mereka juga menawarkan beragam produk penganan oleh-oleh lainnya, seperti karak kaliang yang harganya Rp 16 ribu untuk kemasan 250 gram dan Rp 32 ribu untuk kemasan 500 gram.

Ada pula keripik kentang balado seharga Rp 38 ribu, atau kacang balado dan kacang teri balado yang masing-masing dijual Rp 26 ribu dan Rp 47,5 ribu. Serta olahan pisang seperti keripik pisang dan pisang sale Pasaman yang harganya masing-masing Rp 25 ribu dan Rp 37 ribu.

Bahkan, tersedia pula dendeng dan rendang sapi dalam botol yang dijual sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 80 ribu. Mereka juga menjajakan bumbu masakan dalam botol seperti asam padeh, gulai ikan, nasi goreng, sambalado merah, serta ayam dan daging kalio seharga Rp 45 ribu. Pokoknya pusat oleh-oleh Sumatera Barat yang komplit.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 08126633318, atau via email serta dapat mengunjungi situs resmi tokochristinehakim.com dan akun resmi Instagram @kripikbaladochristinehakim.

Keripik Balado Christine Hakim; Jl. Nipah no. 38, Padang

Christine Hakim Idea Park; Jl. Adinegoro no. 11A, Padang

Instagram @christinehakimideapark

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Hombo Batu Nias, Aura Tradisi 400 Tahun Silam

Hombo Batu Nias atau lompat batu di Nias, Sumatra Utara, dikenal sebagai salah satu tradisi masyarakat Nias yang menjadi ikon pariwisata Indonesia. Hombo Batu sendiri sudah ada sejak 350-400 tahun silam.

Hombo Batu Nias

Nataauli Duha masih ingat saat ia pertama kali berlatih lompat batu. Ketika itu, warga Desa Hilimondegeraya, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, ini duduk di bangku sekolah dasar. Nata—sapaan akrabnya—memang tidak langsung melompati batu dengan ketinggian sekitar dua meter. Ia berlatih meloncati tumpukan tanah yang dibuat bersama teman-temannya terlebih dulu. Satu demi satu secara bergantian mereka melampaui tumpukan tanah yang tingginya tidak sampai satu meter itu. Nata menyebut atraksi meloncati tumpukan tanah yang dibuat bersama teman-temannya ini sebagai lompat batu mini.

Rampung dengan tumpukan tanah, pada kesempatan berikutnya mereka bermain lompat tali. Tali yang digunakan terbuat dari bahan yang mudah putus. Ini supaya tidak mencelakakan mereka. Tali itu direntangkan pada dua sisi berseberangan. Semula, mereka bermain dengan ketinggian 50 sentimeter. Setelah itu, secara bertahap, mereka meninggikan posisi tali hingga mencapai satu meter. Bergan- tian mereka memegang dan melompati tali itu. Nata dan teman-teman pun merasakan kegembiraan bermain.

Selain tali, mereka menggunakan bambu dan batu yang ditumpuk. Puncaknya, ketika beranjak remaja, mereka akan berusaha menaklukkan batu sesungguhnya dengan ketinggian mencapai sekitar dua meter. “Biasanya, orang tua si anak akan memotong seekor ayam jantan sebagai jamuan ketika anaknya berhasil melompati batu itu,” kata Nata. Hal serupa juga akan dilakukan para bangsawan, yang rumahnya terletak tak jauh dari batu yang dilompati anak-anak itu.

Jamuan ayam jantan dilakukan bukan tanpa maksud. Dalam tradisi Nias Selatan, Sumatera Utara, ayam jantan merupakan lambang ayam yang kuat dan memiliki kemampuan terbang tinggi. “Begitulah harapan orang tua dan kaum bangsawan kepada anak-anak muda supaya mereka memiliki karakter yang kuat laksana ayam jantan yang mampu terbang tinggi,” ujar Nata.

Tradisi lompat batu atau hombo batu sesungguhnya berawal dari keinginan bangsawan untuk menyiapkan laskar kampung atau pasukan pertahanan desa. Pada masa itu, sekitar 350-400 tahun lalu, Nata bertutur, sering terjadi konflik antar-kampung yang berujung perang perebutan kekuasaan.

Konflik itu tidak selalu akibat masalah besar, tapi juga terkadang dari hal-hal kecil. Semisal, saling ejek ketika sama-sama berburu kijang hingga akhirnya memercikkan permusuhan.

Meskipun memiliki leluhur yang sama, konflik antar-kampung itu, menurut Nata, tak terhindarkan. Berdasarkan penelitian arkeologis, Nata mengatakan, leluhur Nias Selatan, yang berasal dari Gomo, mendiami Kecamatan Teluk Dalam sejak 600-700 tahun silam. Jauh sebelum itu, sudah ada kelompok lain yang mendiami Teluk Dalam. Antara kelompok ini dan leluhur Nias Selatan tak jarang terjadi bentrokan. Motifnya bermacam-macam, termasuk soal perebutan dan perluasan kekuasaan.

Supaya perebutan kekuasaan dan pencaplokan kampung lain berjalan mulus, para bangsawan tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan laskar kampung atau pasukan pertahanan desa dengan merekrut anak-anak muda untuk berperang. Anak-anak muda ini harus mengikuti latihan hombo batu. Melalui si’ulu atau kepala suku, fisik mereka digenjot. Mereka dilatih pula supaya bisa melompati batu. Anggota laskar kampung atau pasukan per- tahanan desa yang mampu melewati batu setinggi dua meter berarti sudah siap berperang dan melompati pagar berduri yang tinggi. Memang, desa atau kampung yang akan diserang biasanya menyiapkan pagar berduri yang dipasang tinggi-tinggi mengelilingi desa.

Hombo Batu Nias adalah tradisi masyarakat setempat untuk menghasilkan ksatria-ksatria yang membela tanah air.
Hombo Batu Nias dilakukan untuk mencetak para pemuda menjadi laskar atau pasukan di Nias. Foto: shuterstock

Layaknya seorang kesatria yang maju berperang, keberanian anak-anak muda ini sejatinya dititiskan dari orang tua. “Bila bapaknya seorang kesatria yang pemberani, maka darah kesatria itu menitis dan mengalir ke tubuh anak-anaknya,” ujar Nata. Di pundak anak-anak muda ini, ia menyebutkan, para bangsawan menaruh harapan besar. Sebab, kelak merekalah yang menjaga desa atau kampung dari se- rangan desa lain.

Dalam peperangan itu, jika berhasil mencaplok kampung lain, sang pe- menang akan bertambah kuat karena warga kampung yang kalah menjadi bagian dari kampung yang memenangi peperangan. Dengan bertambahnya jumlah warga, menurut Nata, kampung tersebut semakin kuat. Kekuatan itu bertambah besar jika pada peperangan berikut mereka bisa kembali mengalah- kan kampung lain. Begitu seterusnya.

Di balik perluasan kekuasaan dan perebutan harta, Nata melihat, jalan per- ang dipilih bangsawan untuk menambah jumlah abdi atau pelayan. Ini salah satu motif lain para bangsawan menghendaki terjadinya perang. Kini, peperangan itu memang tidak ada lagi. Hombo batu bersama tarian perang, fataele, sekarang menjadi atraksi wisata memikat yang sewaktu-waktu ditampilkan di Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan.

Mengenakan pakaian warna-warni— hitam, kuning, merah—dan membentuk formasi empat berjajar panjang, warga membawa tameng, pedang, atau tombak. Mereka pun menari mengikuti komando. Dimulai dengan gerakan maju dan mundur sambil mengentak-entakkan kaki ke tanah, mereka lalu meneriakkan yel-yel untuk membangkitkan semangat. Aura peperangan 350-400 tahun silam begitu terasa, seolah dibawa kembali ke masa kini.

agendaIndonesia/Aris Darmawan/shutterstock

*****