Geplak Bantul, Warisan Budaya Sejak 2018

Geplak Bantul kudapan yang menjadi warisan budaya tak benda Yogyakarta. Foto: shutterstock

Geplak Bantul sejak lama menjadi oleh-oleh tradisional dari Yogyakarta. Kudapan ini memang dikenal sebagai salah satu kudapan khas masyarakat kota pelajar itu.

Geplak Bantul

Begitupun, sesungguhnya geplak ternyata juga dimiliki masyarakat Betawi. Belum ada catatan sejarah adakah kaitan antara geplak Bantul dan geplak Betawi. Rasa ke duanya mirip-mirip karena menggunakan bahan yang sama.

Yang membedakan ke duanya adalah, geplak Betawi hanya berasal dari gula tebu dan warnanya biasanya hanya putih keabu-abuan. Kudapan ini pun tak muncul setiap hari, biasanya muncul pada saat ada pernikahan di antara masyarakat Betawi.

Geplak, makanan yang lebih dikenal dari Bantul terbuat dari parutan kelapa dan gula pasir atau gula jawa. Rasanya sudah pasti manis. Cemilan ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Geplak Bantul lahir karena daerah itu kaya dengan kelapa dan tanaman tebu.
Geplak dulunya dikemas dengan besek. Foto: shutterstock

Dikutip dari laporan di liputan6.com, disebutkan bahwa dalam naskah Mustikarasa yang ditemukan pada 1967, geplak ini terkait erat dengan Pangeran Pekik, adik ipar Sultan Agung Mataram. Geplak sebagai makanan kreasi dari kelapa disebutkan satu kali dalam Serat Centhini VI.

Jadi ceritanya dalam serat itu, berisi tentang pengembaraan Syech Amongraga, salah satu dari tiga putra-putri Sunan Giri. Dalam perjalanan spiritual setelah mengalami kekalahan dari Pangeran Pekik. Kudapan ini disebut-sebut disajikan sebagai hidangan dalam pernikahan kerajaan Mataram Islam pada ketika itu.

Naskah tersebut juga menyebutkan geplak Bantul sebagai kudapan yang dapat ditemukan di banyak tempat di Yogyakarta beserta cara membuatnya. Khususnya di Bantul.

Secara geografis, wilayah Bantul berada di dataran rendah, sehingga daerah ini sangat cocok untuk tanaman kelapa. Pada saat itu pun lahan di daerah Bantul lebih banyak ditanami Tebu.

Ada sekitar enam pabrik gula yang ada di daerah Bantul saat itu, tapi saat ini hanya satu saja yang masih beroperasi, yaitu pabrik gula Madukismo. Ini merupakan sebuah pabrik gula terbesar di Asia Tenggara pada awal Republik Indonesia ini berdiri.

Karena melimpahnya bahan baku kelapa dan tebu, sehingga terciptalah geplak khas Bantul-Jogja. Pada zaman dahulu masyarakat setempat menjadikan geplak sebagai makanan utama pengganti beras. Pada saat paceklik, warga biasa mengonsumsi geplak sebagai makanan pokok.

Geplak Srihardono Bantul
Tampilan lain geplak yang diserut daging kelapanya. Foto : Pemda Bantul

Waktu berjalan, kini geplak Bantul lebih dikenal sebagai makanan kecil sekaligus oleh-oleh khas Bantul dan Jogja. Produksinya juga semakin banyak. Hal tersebut karena banyaknya bahan pembuat geplak, yaitu daging kelapa serta berlimpahnya lahan tebu yang diolah untuk menjadi gula.

Pada mulanya, geplak Bantul hanya dapat dibuat menggunakan gerabah yang berasal dari Kasongan. Tempat ini hingga sekarang merupakan penghasil gerabah di Yogyakarta.

Namun, karena gerabah yang digunakan dalam suhu tinggi hanya mampu bertahan empat hari, kemudian diganti menggunakan kenceng. Kenceng yang dipilih pun bukan sembarangan, yakni berasal dari tembaga yang diproduksi di Kotagede, Yogyakarta.

Dalam perkembangannnya kemudian, makanan khas Bantul tersebut lebih terkenal sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan rasa manis. Konon rasanya lebih nikmat dan lezat ketika menikmati geplak selagi masih panas.

Pada masa awalnya, geplak Bantul hanya memiliki dua warna, yaitu jika menggunakan gula pasir warna geplak akan putih dan jika menggunakan gula jawa maka warnanya akan coklat. Namun sekarang telah banyak variasinya warna antara lain, merah, kuning, coklat, hijau, dan putih.

Geplak Bantul telah mengalami banyak perubahan, sejak pertama dibuat pada abad ke-19 hingga 1960. Pada tahun itu, geplak Srintil disebut-sebut sebagai yang masih autentik dan sama persis dengan kudapan Kerajaan Mataram Islam pada saat itu. Namun, kini geplak Srintil hampir tak lagi dapat dijumpai. Warnanya yang kurang menarik dan kurang variasi membuat geplak autentik ini berangsur-angsur hilang.

Begitupun masyarakat Bantul terus memproduksi geplak. Produksi kelapa dan gula yang melimpah membuat ketika menjadi kudapan gula dan kelapa tersebut mempunyai nilai tambah. Terlebih lagi pembuatannya termasuk sederhana.

Toko Geplak Kelurahan Balbaplang Bantul
Toko Geplak Mbok Tumpuk di Palbaplang, Bantul. Foto: dok. Kelurahan Palbaplang Bantul

Bahan-bahannya terdiri dari tepung ketan, kelapa parut, gula pasir, minyak cengkeh, air putih, dan garam. Untuk membuat geplak diperlukan peralatan berupa baskom (untuk membuat adonan), parutan kelapa, mangkok, panci untuk memasak, sothil untuk mengaduk, cetakan geplak, kompor atau onglo arang, dan tampah atau nyiru yang dipergunakan untuk mengangin-anginkan geplak ketika sudah matang.

Saat ini kabarnya gula yang dipakai bukan lagi gula lokal Madukismo, satu-satunya pabrik gula yang masih tersisa di Bantul. Yang dipakai hanya gula tebu yang warnanya putih bersih. Pasalnya, kalau gula tebunya berwarna kelabu, warna geplaknya pun ikut menjadi kelabu. Sebagai makanan menjadi kurang menarik meskipun enaknya sama saja.

Sesuai perkembangan zaman, kini rasa dari geplak pun tidak hanya gurih dan manis namun sudah bervariasi. Rasanya ada yang durian, strawberi, coklat, juga lainnya. Geplak Bantul sangat mudah mudah diperoleh di pusat kota Bantul, pusat oleh-oleh di kota Jogja, terminal, dan di pasar-pasar.

Meski tampak sederhana, soal rasa tak perlu diragukan. Rasa manis dan legit geplak dapat membuat ketagihan. Geplak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Yogyakarta pada 2018.

agendaIndonesia/berbagai sumber

*****

Berlian Martapura, Berkilau Sejak Abad 16

Berlian Martapura, Kalimantan Selatan, adalah produk perhiasan terbesar di Indonesia. Foto: dok. BUkalapak

Berlian Martapura adalah salah satu permata kekayaan Indonesia yang moncer hingga ke pelosok dunia. Berjarak sekitar 40 kilometer atau kurang lebih satu jam perjalanan darat dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Martapura kondang sebagai sentra tambang dan penjualan berlian terbesar di Indonesia.

Berlian Martapura

Secara turun temurun, bisnis penambangan dan perdagangan berlian sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak warga di sekitar tepi sungai Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tersebut. Tak heran, kota tersebut juga kerap disebut sebagai ‘kota intan’.

Satu hal yang mungkin masih banyak orang awam belum paham soal perbedaan istilah intan dan berlian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intan merupakan batu mulia yang berbentuk kristal dari karbon murni. Sedangkan berlian adalah intan yang telah digosok atau diasah sehingga menjadi berkilau. Singkatnya, intan adalah bahan bakunya, sementara berlian adalah yang sudah diolah.

Berlian Martapura dulunya adalah bisnis keluarga raja dan bangsawan Kasultanan Banjar.
Masjid Agung Al Karomah, landmark kota Martapura, Kalimantan Selatan. Foto: DOk. shutterstock

Tradisi penambangan dan perdagangan berlian ini bisa dirunut sejak abad ke-16, atau pada masa kesultanan Banjar. Kebetulan Martapura sempat menjadi ibu kota, dan bisnis berlian yang dikelola oleh raja, bangsawan dan tuan tanah setempat merupakan salah satu mata pencaharian yang banyak membawa kesuksesan, sehingga kesultanan Banjar meraih masa kejayaannya pada masa itu.

Setelah kedatangan Belanda dan runtuhnya kesultanan Banjar pun, warga setempat masih melakukan penambangan berlian, di samping penambangan oleh pihak swasta di masa itu. Ketika memasuki era pasca-kemerdekaan, penambangan berlian mulai berjaya lagi pada era 1950-an.

Pada 1965 ditemukan berlian seberat 166,75 karat, yang kemudian dinamakan Intan Trisakti oleh Presiden Soekarno pada saat itu. Konon katanya, hingga saat ini berlian tersebut masih menjadi salah satu yang terbesar dan termahal yang pernah ditemukan di Indonesia, harganya dengan nilai saat ini ditaksir bisa mencapai Rp 10 triliun.

Bagi warga Martapura, budaya penambangan dan perdagangan berlian ini tidak lagi hanya dipandang sebagai mata pencaharian semata, tetapi juga bagian dari tradisi dan jati diri yang diwariskan leluhur. Oleh karena itu, akhirnya pada 1970-an didirikanlah Pasar Intan Martapura.

Pasar Intan ini untuk mengakomodasi banyaknya para penambang dan pengrajin berlian yang ingin menjual hasil temuan dan kerajinannya. Selain itu juga menjadi tujuan konsumen yang datang tidak hanya dari dalam tapi juga luar negeri.

Penambangan berlian di Martapura sendiri hingga kini masih dilakukan secara tradisional. Para pendulang secara berkelompok -sekitar delapan hingga sepuluh orang, akan berusaha menyedot bagian dasar sungai, sebelum dibersihkan kembali dengan air.

Hasil sedotan tersebut kemudian disaring kembali menggunakan linggang, sebuah alat penyaring yang berbentuk mirip caping berukuran besar. Dari situlah kemudian kemungkinan akan ditemukan intan.

Intan tersebut kemudian akan digosok dan diolah menjadi berlian, yang kemudian dikemas menjadi barang perhiasan seperti cincin, kalung, liontin, anting, gelang dan sebagainya. Sebagian lainnya pun juga dijual secara mentahan.

Tak jarang, pengunjung Pasar Intan Martapura tidak hanya para wisatawan yang singgah mencari cenderamata berua perhiasan jadi, tetapi juga pedagang maupun pengrajin yang mencari berlian utuh untuk kemudian diolah dan dijual kembali lebih mahal.

Memang, di pasar ini harga berlian serta barang kerajinannya berkisar antara ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Ini tergantung pada keunikan dan kelangkaannya, sehingga produknya tak bisa dikatakan murah.

Namun, harga yang dipatok disebut masih lebih murah ketimbang harga di tempat-tempat lain, apalagi berlian Martapura serta kerajinannya disebut punya kualitas yang bagus dan bahkan mampu bersaing dengan berlian impor buatan Eropa.

Adapun karakteristik berlian buatan Martapura cenderung berbeda dari berlian impor. Ini jika disinari tidak memancar seterang berlian impor yang punya tingkat keterbiasan lebih tinggi. Ini disebabkan proses penggosokan berlian di sini notabene masih dilakukan secara tradisional.

Begitupun, nyatanya hal tersebut justru menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri bagi banyak orang. Maka wajar bila berlian Martapura juga diburu oleh pedagang, turis dan kolektor manca negara seperti dari Singapura, Malaysia, Myanmar, India hingga Afrika Selatan.

Pasar Intan Martapura sejak dulu hingga kini berada di Jalan Ahmad Yani. Lokasinya berada persis di pinggir jalan, berdekatan dengan Masjid Agung Al-Karomah, sehingga mudah untuk ditemui. Hingga kini, tercatat setidaknya sekitar 80-an toko berjualan di pasar ini.

Sehari-hari, pasar ini selalu dipadati pengunjung dengan perkiraan 10 ribu orang per hari, namun angka ini bisa melonjak hingga 20 ribu orang per hari pada akhir pekan dan hari libur. Pada perkembangannya, selain menjajakan berlian dan kerajinannya dari hasil olahan sendiri, pasar ini kemudian juga menjual beragam jenis batu mulia lain, bahkan yang datang dari luar negeri, seperti zamrud, ruby, giok, mutiara, safir, opal, topaz dan lain-lain.

Yang juga perlu menjadi catatan, dengan kesadaran dewasa ini akan adanya ancaman pemalsuan batu mulia, kini di Martapura juga terdapat Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu Mulia (LPSB). Lembaga ini turut membantu menjaga dan menjamin keabsahan batu berlian serta batu mulia lainnya yang diperjualbelikan. Siapapun konsumen yang hendak membeli barang-barang kerajinan berlian Martapura dapat memeriksa dan memastikan bahwa barang yang dibelinya asli.

Sudah pernah ke Martapura? Ayo agendakan jalan-jalan ke Kalimantan Selatan dan beli berlian Martapura.

agendaIndonesia

*****

2 Hari Berlibur di Jember

Pantai Jember

2 hari berlibur di Jember apa saja yang bisa dikunjungi dan dilakukan? Kota di Jawa Timur ini praktis mulai ramai dibicarakan publik setelah ada penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval (JFC). Namun, sebagai kota pariwisata ia belum banyak dilirik.

2 Hari Berlibur di Jember

Dari ukuran kotanya sendiri, Jember termasuk kota yang besar di provinsi ini. Ia dikenal sebagai kota perdagangan. Dan sesungguhnya kota ini mempunyai sederet atraksi untuk dikunjungi, mulai dari kebun kopi, pantai, museum, dan kampung wisata. Tentu, ia akan sangat menarik jika dikunjungi saat berlangsungnya JFC. Namun, di sela-sela menyaksikan karnaval, ada sejumlah spot yang bisa dinikmati pula. Berikut kunjungan yang bisa dilakukan wisatawan jika berkesempatan datang ke sini.

Hari 1: Kebun Kopi dan Pantai

Coffee Cacao Science and Techno Park

Setelah menempuh perjalanan 200 kilometer dari Surabaya, mungkin pagi bisa dimulai dengan menikmati suasana pedesaan sambil belajar tentang kopi dan cokelat. Untuk ini pilihannya adalah ke Desa Kaliwining, Rambipuji, sekitar 18 kilometer dari pusat kota. Nama tempatnya Coffee Cacao Science and Techno Park, atau lebih dikenal dengan institusi yang menaunginya, Puslitkoka atau Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Untuk ikut tur ke kebun kopi dan cokelat, juga fasilitas pengolahan kedua komoditas tersebut, setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 10 ribu. Berkonsep eduwisata, peserta tur mendapat info tentang bermacam proses dalam pemanfaatan kopi dan kakao, dari hulu sampai hilir. Di pengujung tur, pengunjung dapat menikmati langsung hasil olahan akhir berupa aneka produk kopi dan cokelat yang dijual di kafetaria. Coffee Cacao Science and Techno Park juga menyediakan guest house yang dapat disewa pengunjung untuk menginap dan merasakan hawa segar perkebunan lebih lama.

Pantai Payangan

Puas menikmati perkebunan, wisatawan bisa bergerak ke daerah pantai yang cukup digandrungi, yakni Pantai Payangan. Berlokasi sekitar 36 kilometer dari pusat kota, tepatnya di Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu. Pantai ini diapit dua bukit sehingga memunculkan perairan yang menyempit. Itulah andalan utama Payangan, atau yang dikenal Teluk Love, karena bentuknya menyerupai hati. Titik terbaik untuk melihat teluk ini berada di bukit sisi timur yang oleh warga sekitar dinamai Bukit Domba. Menyaksikan nelayan melaut di sore atau pulang di pagi hari juga menjadi tontonan yang menarik. Tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam ada di bukit sisi barat yang dinamai Bukit Seribu Janji.

Pantai Pancer

Di jajaran Pantai Payangan, ada Pantai Pancer yang tidak boleh dilewatkan. Berada di Kecamatan Puger, sekitar 40 kilometer barat daya dari pusat kota, dari Payangan sekitar 25 kilometer. Di sore hari akan tampak keindahan matahari terbenam, di atas deretan pemecah ombak. Atraksi kapal nelayan melawan ombak saat melaut juga menjadi daya tarik tersendiri.

Tak jauh dari Pantai Pancer, terdapat TPI Puger yang berfungsi sebagai pasar ikan. Kumpulan kapal nelayan yang bersandar juga menjadi obyek yang menarik. Selain itu, di sini terdapat tempat pembuatan kapal nelayan. Tidak ada tiket masuk untuk dua obyek wisata ini.

Hari Kedua: Museum Tembakau dan Kampung Wisata


Museum Tembakau

Hari kedua, dimulai dari pusat kota. Dimulai dengan mengunjungi Museum Tembakau. Jember dikenal sebagai kota tembakau karena si daun emas tersebut telah lama menjadi denyut utama perekonomian setempat. Museum berada di Jalan Kalimantan Nomor 1, menyatu dengan kantor pemiliknya, UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang dan Lembaga Tembakau. Nama resminya adalah Tobacco Information Center (TIC). Didirikan sebagai sarana edukasi dan wisata bagi masyarakat.

Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi museum, seperti aneka peralatan yang dipakai untuk pengolahan pra dan pascapanen, miniatur gudang pengeringan, dan sejumlah dokumentasi industri tembakau Jember di masa lalu. Beberapa contoh produk diversifikasi tembakau selain rokok dan cerutu dihadirkan, seperti parfum, pestisida alami, dan minyak tembakau. Pengunjung tidak dipungut biaya, museum dibuka dari Senin sampai Jumat, pada pukul 09.00-11.00. Namun, jika ada pengunjung yang datang sebelum jam kantor usai, yakni pukul 16.00, masih tetap akan dilayani.

Kampung Wisata Tanoker

Anomali dengan hawa panas Jember yang mendominasi, kampung wisata ini berada di kaki Gunung Raung yang sejuk. Tempat ini berada 46 kilometer arah timur pusat kota, tepatnya di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo. Selain menikmati hawa sejuk khas perdesaan, pengunjung bisa mengikuti berbagai kegiatan berbasis permainan tradisional, seperti polo lumpur dan egrang. Bahkan kampung ini telah tujuh kali mengadakan acara tahunan Festival Egrang yang mampu menyedot wisatawan lokal, nasional, bahkan internasional.

Nama Tanoker dicuplik dari bahasa Madura, suku yang banyak tinggal di sini, artinya kepompong. Ini sesuai dengan sasaran utamanya, yaitu anak-anak dan remaja, walaupun dewasa juga bisa ikut menikmati. Pemberdayaan anak-anak sekitar, yang kebanyakan orang tuanya bekerja sebagai TKI atau buruh, juga menjadi ide pengambilan nama kampung wisata ini. Selengkapnya tentang Tanoker bisa dilihat di www.tanoker.org.

Kafe Kolong

Kembali ke pusat kota, mungkin Anda ingin menikmati suasana malam di kota ini. Belum banyak pilihan, tapi bolehlah mampir ke Kafe Kolong di Jalan Mastrip. Sesuai dengan namanya, kafe ini berada di bawah Jembatan Bedadung, dan inilah yang membedakannya dengan tempat nongkrong lain sekaligus menjadi daya tarik utama. Pengunjung Kafe Kolong sebagian besar anak muda Jember, seperti halnya anak muda di kota lain, yang gemar menghabiskan waktu malam bersama teman sebaya.

Kafe ini wujud ide kreatif pemiliknya mengubah kolong jembatan yang identik dengan kesan kumuh dan negatif menjadi destinasi rekreasi. Sebelumnya, tempat ini sering digunakan untuk membuang sampah, mabuk-mabukan, mesum, dan lain-lain. Kini kafe yang berdiri pada 2012 ini setiap malam selalu ramai. Beragam kegiatan nonformal juga sering digelar di Kafe Kolong.

Rita N./Alfian/Dok. TL

******

Wayang Ental Bali, Unik Setinggi 1 Meter

Wayang Ental Bali, wayang kontemporer dari ujian akhir mahasiswa ISI Bali. Foto: Kura Kumara Agung

Wayang Ental Bali pasti belum sepopular wayang kulit, wayang golek atau bahkan wayang potehi. Meskipun sama-sama wayang, wayang ental memang baru muncul belakangan dibanding saudara-saudaranya yang lain.

Wayang Ental Bali

Wayang memang dikenal sebagai salah satu kebudayaan khas Indonesia yang sudah lahir sejak beberapa abad lalu. Setiap daerah bahkan memiliki jenis wayang yang berbeda-beda, seperti wayang kulit dari Yogyakarta dan Solo, wayang golek dari Jawa Barat, hingga wayang orang dari Jawa Tengah.

Dari beberapa jenis wayang di Indonesia, muncul satu wayang kontemporer baru yang cukup unik dari Bali yaitu wayang ental. Bisa dibilang wayang ental merupakan inovasi terbaru dalam dunia pewayangan.

Wayang Ental Orang orangandari Daun Ental Disbud Denpasar
Pertunjukan wayang ental Bali. Foto: Kuta Kumara Agung

Dari segi pembuatannya, wayang ental Bali berbeda dari wayang pada umumnya, yakni yang ini terbuat dari daun lontar. Sedangkan dari segi bentuk, wayang kontemporer dari Bali ini memiliki berbentuk tiga dimensi dan memiliki jenis dan gaya pergelarannya tersendiri.

Wayang ental Bali didesain khusus menampilkan badan fisik wayang secara utuh. Mulai dari tangan, kaki, hingga kepala yang semuanya dapat digerakkan. Sangat berbeda dengan wayang pada umumnya yang hanya menampilkan bentuk mini dan digerakkan pada tangannya saja.

Selain bentuknya yang tiga dimensi, wayang ental Bali juga dibuat berukuran jauh lebih tinggi dibandingkan wayang pada umumnya. Biasanya wayang ental memiliki tinggi 1 meter dengan lebar 30 cm. Salah satu keunikan dari wayang ental terdapat pada ekspresi wajah dari setiap tokoh pewayangan.

Wayang ental lahir dari pemikiran kreatif I Gusti Made Dharma Putra pada 2016. Wayang ental ini sesungguhnya pertama kali dibuat Dharma dalam rangka tugas akhir kelulusannya di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.

Pada awal pembuatannya, wayang ental Bali ini tidak langsung berbentuk tiga dimensi, namun dua dimensi. Barulah pada 2018 wayang ini berubah bentuk menjadi tiga dimensi.

Gusti Made Dharma Putra mengaku bahwa pembuatan wayang ental terinspirasi dari teknik permainan Bunraku dari Jepang. Kemudian teknik tersebut dikombinasikan dengan gaya wayang tradisional Bali, Tetikesan.

Secara desain, wayang ental dibuat dengan menyerupai manusia, yang menggabungkan teknik ulatan sumpe dan ulatan Jepang dalam pembuatannya. Ulatan adalah ekspresi wajah yang digunakan dalam membentuk wayang.

Wayang Ental Bali Antara News
Wayang Ental digerakkan oleh dua orang. Foto: Milik AntaraNews Bali

Selain itu, perbedaan antara bunraku dan wayang ental terletak pada bahan bakunya. Jika bunraku menggunakan tiga helai daun lontar, wayang ental hanya menggunakan dua helai saja

Dalam sekali pagelaran wayang ental dilakukan dengan durasi 45 menit. Kalau wayang pada umumnya dimainkan oleh satu orang dalang dengan pencahayaan khusus, wayang ental tidak demikian. Untuk memainkan wayang ental harus digerakkan oleh dua orang dalang.

Salah seorang dalang bertugas memegang bagian kaki wayang, sedangkan satu lagi menggerakan bagian kepala dan tangan wayang ental. Kedua dalang tersebut harus berkomunikasi selama pertunjukkan berlangsung agar wayang ental bisa bergerak selaras. Selama pertunjukkan dalang juga tidak diperbolehkan untuk bergerak berlebihan agar fokus penonton tetap pada wayangnya saja.

Pembeda wayang ental dari jenis wayang pada umumnya juga terletak pada pagelaran yang berlangsung. Tak seperti wayang kulit yang ditampilkan di belakang kelir, wayang ental sebaliknya. Dalam setiap pagelarannya wayang ental ditunjukkan tampak badan wayang secara utuh, serta bisa bergerak dari tangan, kaki, dan kepala.

Sebagai pelengkap, dalam setiap pagelaran wayang ental biasanya ditambahkan juga tarian pendukung alur cerita. Tarian ini bertujuan untuk menyuguhkan sebuah pementasan wayang yang menarik dan berbeda dari umumnya.

Total, dalam satu pagelaran wayang ental dibawakan oleh 20 seniman, mulai dari penggerak wayang (dalang), penari, hingga pembaca kisah.

Tokoh dan cerita dalam wayang ental juga tidak biasa. Jadi tidak hanya dari bentuk dan cara mainnya yang unik, dari segi penceritaan dan penokohan wayang ental juga memiliki perbedaan dari wayang pada umumnya. Pada pagelaran wayang umumnya nama-nama tokoh yang digunakan merujuk pada cerita Mahabharata.

Sedangkan, pada wayang ental nama tokoh menyesuaikan dari cerita yang akan dimainkan. Sejauh ini total ada delapan tokoh wayang ental yang telah dipentaskan, yakni tokoh Sutasoma, Purusdha, Dasabahu, Mredah, Delem, Sangut, Tualen, serta satu buah kayonan.

Inovasi dalam pagelaran wayang ental ini diharapkan dapat menarik minat para generasi muda pada seni pewayangan. Harapannya pecinta wayang di Indonesia terus bertambah dari hari ke hari.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Menikmati Kemacetan Jakarta Dari Lantai 14

Skyloft Jakarta

Menikmati Kemacetan Jakarta? Bagaimana caranya bisa melakukan itu sambil ngobrol santai dengan teman dan makan camilan yang enak? Dari Lantai 14 sebuah hotel, sore hari dengan suguhan pemandangan khas Jakarta dengan menu lokal yang berlimpah.

Menikmati Kemacetan Jakarta

Menikmati Jakarta yang macet di sore hari? Kenapa tidak? Masalah Ibu Kota yang satu ini sesekali bisa dijadikan “teman” menghabiskan sore atau malam hari. Ada banyak pilihan, tapi kali ini saya dan rekan-rekan memilih All Seasons Thamrin, hotel bintang tiga yang berada di Jalan Teluk Betung Nomor 2, Jakarta. Di lantai 14, lantai tertinggi bangunan ini, terdapat Skyloft, resto dan bar dengan pemandangan gedung-gedung tinggi khas kota besar di sekelilingnya. Di depannya ialah Jalan Sudirman-Thamrin yang kental dengan deretan kendaraan setiap harinya. Kala mentari menuju peraduan, tetamu pun mendapat suguhan khas. Mempersembahkan sebuah sore atau malam yang cukup menggoda tentunya!

Rooftop resto & bar ini terbagi menjadi dua bagian, sebagian besar berupa ruang tertutup tapi dengan dinding-dinding kaca, sehingga para tamu pun leluasa memandang langit dan gedung-gedung di sekitar. Bila ingin merasakan kenyamanan khas ruangan dengan mesin pendingin ruangan, tentunya pilih ruang yang tertutup. Suasana luar tetap bertangkap, sedangkan kehangatan dari ruangan dengan dominasi warna cokelat itu tetap bisa diresapi. Saya dan rekan-rekan, karena ingin menikmati sore, memilih di luar.

Bagian luar belum lama ditata ulang. Semula sofa panjang berbentuk L memenuhi tepian ruangan dan di pojok lain ada model kursi bar yang tinggi dengan meja yang mungil. Kini sofa berwarna terang itu tak terlihat lagi, berganti dengan furnitur kayu yang memunculkan kesan rustic. Kursi bar diganti dengan kursi kayu yang simpel dan di langit-langit pun berhiaskan potongan kayu yang dirangkai bak sebuah karya seni.

“Tema desain baru ini back to nature, jadi lebih banyak menggunakan material kayu,” papar Nicodemus Deissen, Digital Marketing Coordinator All Seasons Thamrin. Ia menambahkan, untuk bagian ruang luar tersebut, pihak all seasons menggunakan jasa Larc Studio Bandung dengan desainer Ogi. Lewat konsep kembali ke alam, ruang luar pun terasa lebih hangat.

Menunya pun tak kalah menghangatkan perut di malam hari. Semisal sop buntut dan soto Lamongan. Selain itu, ada bebek lombok ijo dan nasi goreng Skyloft. Atau boleh juga nasi kuning plus udang rendang dengan buncis dan keripik ubi ungu. Menu Indonesia banyak menjadi favorit, bisa jadi karena pihak lembaga pemerintahan kerap menggelar rapat di sini. Acara kumpul-kumpul di sini pun tak kalah sering, termasuk arisan—kegiatan khas kaum perempuan. Paket menu tersebut umumnya dipatok dengan kisaran Rp 125-200 ribu.

Deissen menyebutkan, sebanyak 60 persen tamu Skyloft bukanlah tamu hotel. Pada Jumat malam, tempat duduk banyak dipenuhi kaum muda yang ingin kongko, melepas penat setelah berkutat lima hari kerja. Selain itu, di sini beberapa kali diadakan acara spesial. “Bisa berupa romantic dinner, kadang baby shower, atau wedding shower,” ia memaparkan. Kapasitas Skyloft nyaman sekitar 100 orang, tapi maksimal bisa juga hingga 120 orang.

Buat yang kongko, tentunya ada pula hidangan ringan berupa sandwich. Seperti Rouben sandwich, roti panggang dengan kol, daging sapi, dan keju yang dipadu dengan saus thousand island. Atau bisa juga pilih roti burger ala Hawaii yang dipadu dengan kentang goreng. Selain itu, ada ragam pasta dan piza yang bisa dimakan beramai-ramai. Yang unik di antaranya berupa piza bebek yang dibubuhi keju mozarella. Sedangkan untuk penyuka hidangan internasional, ada beef tenderloin, char grilled granted Australian rib eye. Mau olahan dari ikan? Coba cicipi red snapper pesmol, alias pesmol kakap merah, yang dipadu unik dengan perkedel kental. Hidangan dalam mangkuk besar ini dipatok Rp 165 ribu.

Bila ingin mencicipi buffet, tersedia tema khusus pada hari tertentu, semisal untuk Selasa dan Kamis, giliran suguhan ala Mediterania yang dimunculkan. Tentunya menu tersedia mulai sarapan, karena sebagian tamu adalah yang menginap di hotel. Namun, karena terdapat bar, Skyloft pun beroperasi hingga lewat tengah malam. Jadi tersedia pilihan, bisa menikmatinya di pagi, siang, atau sore hari menjelang malam seperti saya dan kawan-kawan.

  • Liputan sebelum masa Pandemi Covid-19

Rita N./Rully K./Dok. TL

Payung Geulis, Fashion Cantik Pada1920-an

Payung geulis khas Tasikmalaya pada zamannya adalah ikon fashion. Foto shutterstock

Payung geulis Tasikmalaya rasanya bukan alat pelindung air hujan. Bahannya yang terbuat dari kertas rasanya tak cukup kuat untuk menahan guyuran air dari langit. Pelindung matahari? Bisa jadi ini lebih masuk akal.

Payung Geulis

Tetapi tahukah Anda bahwa di masa silam payung juga digunakan sebagai bagian dari fashion? Sebagai pernak-pernik penambah gaya, dan sebagai salah satu lambang kecantikan wanita tempo dulu?

Payung Kertas Geulis Asephi
Payung khas Tasikmalaya yang banyak diekspor. Foto: Dok. milik Asephi

Payung di waktu itu tidak hanya dipandang dari sisi fungsi saja, tetapi juga sebagai alat pendongkrak image, sebuah fashion statement. Dan payung Geulis, sebuah kerajinan tangan tradisional khas Tasikmalaya, adalah salah satu saksi sejarah tren penggunaan pernik fashion di era tersebut.

Anda mungkin pernah melihat payung tradisional berbahan kertas dengan corak-corak cantik berwarna-warni dari beberapa negara. misalnya Jepang. Payung Geulis pun tak ubahnya demikian.

Pada awal kemunculannya ia juga sebuah payung tradisional yang terbuat dari rangka bambu dan tudung berbahan kertas. Untuk mempercantiknya, para pengrajinnya lantas secara manual melukiskan bagian tudung payung tersebut dengan beragam motif.

Biasanya motif yang dibuat dapat bervariasi, mulai dari motif hias geometris yang berbentuk garis-garis lurus atau melengkung, atau motif hias non geometris seperti corak bunga. Motif bunga memang yang terbanyak.

Mungkin karena dulu payung geulis lazim digunakan Mojang-mojang Tasikmalaya sebagai lambang kecantikan. Tak heran, payung tersebut kemudian dinamakan ‘geulis’ yang dalam bahasa Sunda artinya cantik, elok dan molek.

Jika ditilik latar belakangnya, payung geulis awalnya lebih banyak diperuntukkan kepada gadis muda berkebaya di kawasan Tasikmalaya untuk bersolek. Terutama ketika cuaca sedang panas terik. Payung ini justru tidak lazim digunakan saat cuaca hujan, lantaran bahan kertasnya yang tidak tahan air.

Karena kegunaannya tersebut, pada masa penjajahan Belanda, utamanya pada 1920-an, noni-noni muda pendatang dari negeri kincir angin tersebut ikut mengadopsi Payung Geulis sebagai bagian dari fashion mereka. Dari situlah, popularitas produk ini semakin terangkat.

Pada puncaknya di era 1950-an hingga 1960-an banyak warga Tasikmalaya yang ikut mengais rezeki sebagai pengrajin payungnya. Begitu lekatnya image barang ini pada kota Tasikmalaya, bahkan lambang kota ini pun terdapat gambar payung geulis.

Tetapi dalam perkembangannya, payung Tasikmalaya ini menghadapi banyak tantangan zaman dan lambat laun ketenarannya tergerus. Setelah era 1960-an, di Indonesia mulai banyak beredar payung-payung impor yang punya kualitas tinggi dan yang paling krusial adalah mereka jauh lebih fungsional, sebagai pelindung di saat hujan.

Pada awalnya, para pengrajin payung Tasikmalaya tinggal diam. Mereka mencoba beradaptasi dengan kebutuhan konsumen. Salah satu upayanya adalah beralih menggunakan bahan kain atau kanvas sebagai tudung payung yang mampu menahan air saat hujan, sehingga nilai fungsional baik.

Namun persoalannya tidak berhenti di situ, karena sebagai industri kreatif rumahan jumlah produksi mereka tentu tidak sebanding dengan payung buatan pabrik. Terlebih karena proses pembuatan payung tradisional ini  biasanya memakan waktu cukup lama, utamanya proses menggambar motif payung-payung tersebut.

Pada akhirnya payung geulis menjadi produk niche yang hanya tersedia berdasarkan pesanan. Para pengrajin memang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat pula.

Pada 1980-an sempat ada insentif untuk menjadikan payung geulis sebagai souvenir dan hiasan kerajinan khas Tasikmalaya, agar industrinya dapat bergerak kembali. Meski mulai terlihat mendapatkan ‘peran’ baru dalam tatanan sosial warga Tasikmalaya, tetapi memang sebagai industri kreatif rumahan jumlah produksinya pun tetap terbatas.

Akibatnya, pengrajinnya kebanyakan hanya mengandalkan pemasukan dari para pelancong yang mencari souvenir atau oleh-oleh. Alasan lainnya, payung khas Tasikmalaya itu kemudian lebih banyak digunakan dalam kegiatan atau upacara adat.

Tantangan terbesar bagi payung Tasikmalaya adalah fakta bahwa kebanyakan pengrajinnya sudah lanjut usia dan generasi penerusnya terbilang minim. Rendahnya minat meneruskan budaya kerajinan ini dikarenakan pemasukan yang tidak seberapa dibandingkan dengan proses produksi yang membutuhkan waktu lama serta jumlah produksi yang minim.

Di sisi lain, pengrajin payung geulis yang masih eksis pun saat ini agaknya terlalu ‘nyaman’ dengan kondisi sekarang. Belum tergerak untuk kembali berinovasi atau membuat variasi-variasi baru untuk menarik minat konsumen, misalnya model-model corak yang baru.

Pemerintah daerah sesungguhnya terus berupaya menyelamatkan industri kerajinan payung ini. Salah satunya dengan mewajibkan penggunaannya sebagai hiasan di hotel, restoran dan gedung perkantoran di wilayah Tasikmalaya.

Mereka juga mulai menggalakkan pembinaan berupa pelatihan dan bantuan peralatan bagi para pengrajin lama dan baru agar dapat terus berkreasi, berinovasi, meningkatkan kualitas produksi dan pada akhirnya turut melestarikan penggalan budaya Tasikmalaya ini.

Saat ini, pusat kerajinan payung geulis berada di desa Panyingkiran, Tasikmalaya. Produk yang biasanya tersedia terdiri dari ukuran kecil dengan diameter 40 sentimeter, ukuran sedang berdiameter 1 meter dan ukuran besar berdiameter dua meter.

Yang berukuran kecil biasanya digunakan untuk hiasan dan dekorasi, sedangkan yang ukuran besar lebih umum dipakai dalam upacara adat atau pernikahan. Soal harga, payung berukuran kecil dibandrol sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Payung ukuran sedang dihargai Rp 50 hingga Rp 70 ribu, dan payung ukuran besar berkisar dari Rp 90 hingga Rp 300 ribu.

Di desa Panyingkiran tersebut terdapat beberapa toko pengrajin payung Geulis, seperti Mandiri, Naila dan Karya Utama yang bisa untuk Anda sambangi dan memesan produknya. So, Anda tertarik membeli dan ikut melestarikan ikon budaya Tasikmalaya ini?

Pengrajin Payung Geulis

Mandiri; Jl. Panyingkiran No. 1, Tasikmalaya, Instagram: @payunggeulis_mandiri

Karya Utama; Jl. Panyingkiran No. 47, Tasikmalaya

Naila; Jl. Panyingkiran No. 17, Tasikmalaya

agendaIndonesia

*****

Bolu Meranti Medan, Oleh-Oleh Sejak 2000

Bolu Meranti Medan mengubah diri dari bekal sekolah menjadi oleh-oleh khas Medan,

Bolu Meranti Medan sudah menjadi salah satu pilihan utama buah tangan jika berkunjung ke ibukota Sumatera Utara. Ia menjadi alternatif oleh-oleh, selain bika Ambon, duren kupas atau pancake durian Medan, atau kopi Sidikalang.

Bolu Meranti Medan

Makanan ini termasuk yang meroket selama 20-an tahun terakhir sebagai buah tangan. Bisa jadi penganan ini yang menginspirasi munculnya roti atau cake artis yang sempat menjadi trend 3-4 tahun lalu. Bedanya, jika trend cake artis memadam, Bolu Meranti justru terus tumbuh.

Lucunya bolu Meranti pada awalnya justru tidak pernah dimaksudkan menjadi makanan oleh-oleh. Ai Ling, founder sekaligus produsen bolu ini, hanyalah seorang ibu rumah tangga yang gemar memasak dan berkreasi di dapur. Awalnya kegemarannya membuat kue dan roti juga hanya untuk bekal sekolah anak-anaknya.

Tak disangka, dari kegemarannya tersebut ia menemukan resep bolu gulung yang begitu digemari keluarganya, bahkan kemudian tetangganya juga senang. Mereka kemudian kerap memesan bolu gulung buatannya.

Bolu Meranti Medan kini memiliki 3 gerai di Medan.
Karyawan Bolu Meranti di gerai mereka. Foto: Dok. Bolu Meranti

Melihat hal tersebut, pada awal 2000-an ia akhirnya tergugah untuk mencoba menjajakan bolu gulungnya tersebut. Pertama ia menitipkan di salah satu saudaranya yang punya usaha di Jalan Meranti, Medan. Dari sinilah kelak kemudian lahir nama bolu gulung Meranti.

Mungkin memang karena produknya enak dan pas di lidah banyak orang, tak butuh waktu lama, pembeli pun semakin banyak berdatangan. Bolu Meranti mulai popular, awalnya di kalangan konsumen lokal di Medan. Belakangan ada yang membawanya keluar kota dan membuat nama bolu ini kian popular.

Permintaan yang semakin meningkat drastis dan antrian di toko Jalan Meranti kerap membludak, membuat Ai Ling memutuskan membuka gerai baru di Jalan Kruing pada 2005. Toko inilah yang akhirnya kini menjadi gerai pusat sekaligus pusat produksi.

Sebuah bisnis yang awalnya hanya industri rumah tangga lambat laun berkembang semakin besar. Mereka melayani bukan saja konsumen lokal, tetapi juga luar kota bahkan di luar negari. Hingga kini, bisnis terus dikelola Ai Ling bersama empat anaknya yang ikut membantu mengurusi manajemen produksi, keuangan dan penjualan bolu Meranti.

Selain gerai pusat di Jalan Kruing, terdapat dua cabang lainnya dan produk juga didistribusikan ke kios oleh-oleh di bandara Kuala Namu. Ini untuk menjangkau wisatawan lebih mudah.

Kalau sekarang pengunjung Medan ditanya apa oleh-oleh khas kota ini? Mungkin sebagian besar akan menjawab bolu gulung Meranti. Boleh dibilang, bolu ini sekarang sudah menjadi ikon tersendiri dalam khasanah kuliner dan oleh-oleh khas Medan. Ia ibarat bakpia jika di Yogya.

Bolu Meranti sendiri sebenarnya merupakan bolu gulung dengan berbagai pilihan rasa seperti blueberry, strawberry, coklat, keju, mocca, nanas, cappuccino hingga abon. Terkadang, bolu juga bisa ditambahkan topping seperti keju, meses atau kacang.

Terlepas dari berbagai pilihan rasa dan topping tersebut, satu karakteristik yang membuat bolu Meranti spesial adalah kue bolunya yang tebal dan bertekstur lembut dan creamy. Cita rasa butter berkualitas tingginya terasa dominan. Ciri khas inilah yang membuatnya menjadi penganan primadona Medan dan diburu banyak orang, bahkan hingga ke manca negara, seperti Singapura, Malaysia, Jepang dan Tiongkok.

Secara umum, harga bolu Meranti Medan berkisar antara Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu, tergantung dari pilihan rasanya. Bila ingin ditambah dengan topping, harganya menjadi Rp 90 ribu  hingga Rp 105 ribu.

Bolu Meranti Medan semakin berkembang dan memiliki aneka pilihan makanan yang bisa menjadi oleh-oleh Medan.
Bolu Meranti dengan empat pilihan rasa dalam satu tempat. Foto: Dok. Bolu Meranti

Tersedia juga paket 3 atau 4 bolu gulung yang dijual di kisaran harga Rp 95 ribu hingga Rp 115 ribu. Memang harganya tergolong premium, tetapi harus diakui sebanding dengan kualitas kue bolunya yang menggunakan bahan-bahan baku berkualitas tinggi.

Sebagai catatan, bolu ini disebut mampu tahan hingga tiga hari di luar lemari pendingin, selebihnya perlu dimasukkan ke kulkas agar lebih awet. Setelah diletakkan dalam kulkas pun, bolu juga diklaim masih akan tetap lembut dan tak mengeras.

Kini gerai-gerai Bolu Meranti Medan tidak hanya menjajakan bolu gulung saja, mereka juga mulai menjajakan beberapa produk penganan khas Medan lain seperti Bika Ambon, Pancake Durian hingga beragam jenis kue lapis, seperti lapis legit hingga lapis keju.

Bolu Meranti semakin menancapkan diri sebagai one stop shopping bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh. Ini pun sejalan dengan visi mereka yang menginginkan setiap pelancong yang pulang dari Medan membawa kardus oleh-oleh dengan gambar dari slogan mereka “Jangan Tinggalkan Medan Tanpa Membawa Bolu Meranti”.

Semua gerai mereka buka setiap hari, dengan gerai utama Jalan Kruing buka dari jam 07.00, sementara dua gerai lainnya buka dari jam 10.00. Sementara semua gerai tutup pukul 20.00.

Bolu Meranti;

Gerai Pusat: Jl. Kruing Simpang Razak no. 7C, Medan

Cabang Sisimangaraja: Jl. Sisimangaraja no. 19B, Medan

Cabang Ringroad: Jl. Ringroad no. 16, Komplek OCBC, Medan

agendaIndonesia/audha Alief P

*****

Situs Sangiran, Jejak 2 Juta Tahun Manusia

Situs Sangiran Solo menjadi salah satu warisan dunia yang dimiliki Indonesia. Foto: Dinas Pariwisata SOlo

Situs Sangiran atau dikenal juga sebagai Situs Prasejarah Sangiran menjadi salah satu obyek wisata pilihan di Solo. Ini merupakan salah satu situs prasejarah paling penting dalam menggambarkan evolusi manusia.

Situs Sangiran

Situs ini berlokasi kira-kira 15 kilometer dari Kota Solo, tepatnya di lembah sungai Solo, kaki gunung Lawu. Secara admnistrasi, Situs Prasejarah Sangiran berada di Kabuptaen Sragen, Jawa Tengah.

Situs Sangiran yang kini juga dikembangkan sebagai Desa Wisata Sangiran, Kabupaten Sragen, terus ramai disebut-sebut di kalangan wisatawan pecinta sejarah. Tahun lalu Desa Wisata Sangiran termasuk salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Situs Sangiran adalah jejak dua juta tahun peradaban manusia.
Situs manusia Purba Sangiran. Foto: dok shutterstock

Daya tarik wisata yang paling terkenal dari Desa Wisata Sangiran adalah Museum Purba Sangiran. Situs manusia purba di Sangiran dianggap menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia. Bahkan, para peneliti beranggapan bahwa situs Sangiran adalah pusat peradaban besar, penting, dan lengkap manusia purba di dunia, karena memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150 ribu tahun lalu.

Situs Sangiran ini mulai ada ketika seorang antropplogi, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, melakukan penelitian di area ini. Hasil penggalian situs menemukan fosil nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus.

Selain itu juga terdapat sekitar 60 fosil Meganthropus palaeojavanicus di situs ini. Sampai sekarang 100 fosil Homo erectus ditemukan di Sangiran dan jumlah ini merupakan 50% dari populasi Homo erectus di dunia.

Situs Sangiran menyimpan kekayaan fosil-fosil purbakala, mulai dari fosil manusia purba, binatang-binatang purba, hingga hasil kebudayaan manusia praaksara. Namun, tidak hanya situs purbakala yang potensial, wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran juga sangat lekat.

Di Desa Wisata Sangiran terdapat wisata air asin Pablengan. Konon, sumber mata air asin ini telah berusia lebih dari 2 juta tahun. Sumber mata air ini terbentuk akibat pergeseran Bumi dan letusan gunung berapi. Adanya sumber Pablengan menjadi bukti perubahan lanskap Sangiran yang awalnya lautan menjadi daratan.

Salah satu koleksi Sangiran shutterstock
Salah satu koleksi purbakala Situs Sangiran. Foto: dok shutterstock

Salah satu wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran adalah Punden Tingkir. Destinasi wisata ini dipercaya sebagai peninggalan Joko Tingkir, karena terdapat sebuah petilasan di dalamnya. Desa Wisata Sangiran juga kental dengan kearifan lokal dan nilai budaya yang potensial untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata.

Salah satu kesenian unggulan dari desa wisata ini adalah Gamelan Renteng, yang usianya lebih dari satu abad, dan masih digunakan hingga saat ini. Ada juga Tari Gerbang Sukowati yang kaya akan nilai filosofis, serta Tari Bubak Kawah.

Sektor ekonomi kreatif di Desa Wisata Sangiran ternyata tidak kalah potensial. Faktanya, profesi sebagian masyarakat di Sangiran adalah pengrajin batu, kayu, dan bambu menjadi modal utama dalam pengembangan produk ekonomi kreatif.

Beberapa produk ekonomi kreatif dari Desa Wisata Sangiran adalah kerajinan watu, batu akik, kapak purba, watu sangir, watu lurik, kerajinan bambu, patung manusia purba, asbak, hingga gantungan kunci. Selain itu ada juga pakaian tradisional khas dari Sangiran yang kerap dijadikan oleh-oleh, yakni iket, atau ikat kepala dari kain batik segi empat yang merupakan warisan dari tetua adat.

Dari segi pengembangan produk kuliner, Desa Wisata Sangiran memiliki beragam produk kuliner yang khas. Seperti olahan bukur, tiwul, balung kethek, sego kuning, jajanan pasar, gendar pecel, bubur srintil, sego bancaan, dan kopi purba.

Salah Satu Artefak di Sangiran shutterstock
Koleksi purba Situs Sangiran. Foto: shutterstock

Faktanya, Desa Wisata Sangiran termasuk dalam kategori rintisan, karena desa wisata ini baru berusia dua tahun. Awalnya, desa yang memiliki nama administratif Desa Krikilan ini memang sudah dikenal oleh masyarakat internasional.

Bahkan telah dinobatkan sebagai World Culture Heritage oleh UNESCO sejak 1996. Sehingga tidak heran masyarakat setempat akrab dengan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan membuat desa ini menjadi visitor center di antara museum lainnya.

Namun, keberadaan museum saja belum cukup memberikan dampak yang signifikan bagi warga. Atas dasar itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Krikilan menggagas ide kreatif membentuk Desa Wisata Sangiran.

Melalui pengembangan desa wisata ini diharapkan ekonomi masyarakat semakin sejahtera. Baik sebagai penjual souvenir, usaha kuliner, tour guide, hingga homestay. Selain itu, menjadikan Desa Krikilan sebagai desa wisata juga diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian budaya setempat.

Pengelola desa wisata berinisiatif membuat paket-paket atraksi wisata untuk menarik minat wisatawan. Tidak hanya mengunjungi ragam atraksi wisata, di sini wisatawan juga bisa mencoba paket kuliner dan paket kerajinan. Kedua paket tersebut menawarkan pengalaman berwisata yang menarik bagi wisatawan di Desa Wisata Sangiran.

agendaIndonesia/kemenparekraf-berbagai sumber

*****

Kebersamaan 4 Keluarga Dalam 1 Rumah Bolon

kebersamaan 4 keluarga dalam 1 rumah Bolon menjadi simbol harmoni keluarga masyarakat Batak Toba.

Kebersamaan 4 keluarga bisa tinggal dalam satu rumah Bolon, rumah adat masyarakat Batak Toba. Satu rumah adat penuh simbol keselamatan ini bisa dihuni empat keluarga.

Kebersamaan 4 Keluarga

Dengan kapal feri dari Pelabuhan Ajibata, Prapat, mobil yang saya tumpangi terangkut hingga Pulau Samosir, Sumatera Utara. Dalam waktu sejam, saya tiba di Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, yang cukup ramai. Beberapa meter meninggalkan pelabuhan, seketika suasana terasa begitu lengang, apalagi di siang yang terik. Namun justru di tengah keheningan saya bisa lebih tenang mencermati satu demi satu rumah khas Batak Toba

Tak lama kemudian, pepohonan di sisi kiri terasa menyegarkan. Tebing dengan hamparan sawah di depannya membuat siang sedikit lebih adem. Akhirnya saya tiba di Desa Ambarita. Sebuah obyek wisata yang menyuguhkan sejarah dan tradisi daerah ini seperti mengundang saya untuk mampir. Tidak lain dari Hutaatau Kampung Siallagan, kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang menarik perhatian saya.

Rumah adat yang disebut juga rumah bolon dari kayu itu berderet rapi dalam benteng batu. Setelah membayar tiket masuk, saya mulai menyimak penjelas sang pemandu, Guido Sitinjak. Berbentuk panggung, rumah ini memiliki atap pelana yang bubungannya melengkung. Ujung atap bagian belakang posisinya lebih tinggi dibanding dengan yang di depan. Hal itu sebagai simbol harapan agar anak meraih segala sesuatu yang lebih baik daripada orang tua. Konstruksi bangunannya tanpa paku, dengan atap dari serat nira.

kebersamaan 4 keluarga dalam satu rumah adat Bolon pada masyarakat Batak Toba memperlihatkan keselarasan dalam kehidupan mereka.
Rumah adat Bolon dalam tradisi dan budaya masyarakat Batak Toba. Foto: Dok. Shuuterstock

Seperti umumnya kampung suku Batak Toba pada masa lalu, satu rumah berdampingan dengan rumah lainnya di kompleks Raja Siallagan. Setiap rumah memiliki kolong yang dijadikan tempat menaruh ternak. Tinggi lantai tergantung pada jenis atau ukuran hewan yang dipelihara. Untuk memasuki rumah, tentunya dibuat sebuah tangga, yang selalu berjumlah ganjil. Pintu dibikin pendek, sehingga setiap orang yang masuk rumah harus menundukkan kepala. “Sekaligus sebagai simbol untuk menghormati dewa,” ujar Guido.

Uniknya, pintu masuk bagi perempuan tidak ada di depan, melainkan di samping. Namun bukan berarti perempuan diposisikan lebih rendah. Justru suku Batak Toba memiliki filosofi: lelaki harus menghargai ibu dan istrinya. Hal tersebut terlihat dari lambang yang dimunculkan sebagai dekorasi dalam rumah, yakni berupa empat payudara dan seekor cicak. Payudara tersebut bermakna kesuburan dan kekayaan serta menjadi simbol bahwa orang Batak Toba selalu berbakti kepada inang alias ibu. Sedangkan cicak menggambarkan betapa mudahnya orang Batak beradaptasi dan tinggal di berbagai daerah, meski akan kembali ke ibu dan kampung halamannya. Empat payudara juga berarti pria Batak harus menghargai ibu dan istrinya. Selain itu, empat payudara tersebut melambangkan adanya empat keluarga dalam satu rumah bolon.

Rumah bolon biasanya dihuni beberapa keluarga. Ada sebuah ruangan yang memang digunakan bersama-sama, tapi ada pula kamar yang hanya boleh ditempati pemimpin di rumah tersebut, seperti sudut kanan bagian belakang rumah. Di bagian belakang terdapat dapur dan setiap keluarga memiliki dapur sendiri. Sedangkan lumbung pagi atau sopo dibangun terpisah dari rumah.

Sang pemandu menegaskan, seperti yang terlihat pada kebanyakan rumah adat di sini, warna yang digunakan hanyalah merah, putih, dan hitam. Putih, menurut Guido, menjadi lambang dunia atas atau Yang Maha Kuasa. Ada juga yang menyebutnya sebagai simbol kesucian atau kejujuran. Merah menggambarkan dunia tengah atau kehidupan saat ini. Ada pula yang memaknainya sebagai simbol pengetahuan atau kecerdasan. Lantas, hitam menunjukkan dunia bawah atau fana, selain melambangkan kewibawaan atau kepemimpinan.

Zaman dulu, warna merah bahkan diambil dari darah. Dekorasi muncul di berbagai sisi, dari atap rumah hingga tangga, yang diberi nama tangga rege-rege. Semua ornamen menyimbolkan keselamatan bagi para penghuninya. “Rumah juga menunjukkan kemampuan pemiliknya,” kata Guido.

Keunikan kampung yang satu ini adalah kehadiran Hau Habonaran atau pohon kebenaran. Di bawah pohon yang rindang itu terdapat satu set meja-kursi terbuat dari batu. Inilah yang disebut batu persidangan, sebagai tempat pengadilan zaman dulu. Raja, dukun, dan tetua adat atau penasihat akan mengambil keputusan di meja tersebut untuk sebuah perkara.

Guido menjelaskan, kesalahan yang tidak bisa diampuni, seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata musuh, akan dijatuhi hukuman penggal. Eksekusi hukuman dilakukan tidak jauh dari batu persidangan. Pada masa itu, darah si terhukum diminum, demikian pula dengan jantung dan hatinya. Kedua organ tersebut dicincang dan diramu untuk menambah kekuatan raja dan dukun. Model persidangan dan hukuman macam ini terakhir dilakukan pada tahun 1816, setelah datang seorang misionaris, Nomensen. Kompleks rumah Batak Toba itu dilengkapi pula dengan pemakaman keluarga Raja Siallagan.

Saya lantas bergeser ke Simanindo, tepatnya menuju Museum Huta Bolon. Turis pun bisa memetik pelajaran sejarah dan tradisi suku Batak Toba di sini. Semula, sebelum disulap menjadi museum, tempat ini adalah rumah peninggalan Raja Sidauruk. Di dalamnya bisa ditemukan berbagai perlengkapan yang ada dalam sebuah rumah tradisional, termasuk peralatan memasak dan bertani. Di samping itu, dipajang beragam jenis ulos yang biasa digunakan dalam berbagai upacara. Di kompleks rumah adat yang terdapat di sebelah museum, berjejer lumbung padi yang menjadi tempat para penonton menyaksikan sederet tarian tradisional. Pentas tari itu digelar setiap hari pada pukul 11.00.

Bila ingin mengenal kehidupan yang lebih riil, Anda bisa mencermati beberapa rumah Batak Toba yang masih dihuni penduduk setempat. Kabupaten Samosir masih memiliki banyak rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan—ibu kota kabupaten—rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Terkadang, terlihat perempuan menenun di depan rumah. Atau bila ingin melihat penenun tradisional lebih banyak lagi, Anda bisa mampir ke Desa Penampangan, Kecamatan Pangururan. Denyut keseharian para perempuan di kampung tradisional tersebut benar-benar menawan.

Rita N./Toni H./TL/shutterstock/agendaIndonesia

*****

Tradisi Tawuran, 4 Yang Menggembirakan Warga

Tradisi tawuran salah satunya Perang Tomat ala Lembang

Tradisi tawuran ternyata tak selamanya berkonotasi buruk. Di sejumlah daerah di Indonesia, ada tradisi antarwarga yang terkesan seperti tawuran, tapi semuanya tanpa kebencian. Bahkan yang ada justru kegembiraan dan harapan untuk kesejahteraan. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Tawuran

Tawur Nasi ala Rembang

Jika tawuran antarpelajar biasanya menggunakan batu, tawuran di Desa Pelemsari, Rembang, Jawa Tengah, tidak. Para pemuda desa tawuran dengan cara saling lempar nasi bungkus. Aksi saling lempar itu diadakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Setiap tahun, warga Desa Pelemsari menggelar tradisi itu bertepatan dengan sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur keberhasilan panen warga setempat. Ratusan warga saling melempar nasi satu sama lain, selain sebagai rasa syukur, tradisi ini juga dianggap menjadi tolak bala bencana agar tidak menimpa warga sekitar.

Sebelum digunakan dalam prosesi tawuran, nasi sebelumnya diarak mengelilingi desa. Kemudian para sesepuh desa berkumpul untuk membacakan doa-doa terhadap nasi yang akan digunakan sebagai alat tawuran. Dalam pemilihan hari pelaksanaan tawur nasi, perlu perhitungan khusus.

Warga desa setempat mengaku mengikuti tawuran dengan rasa suka cita. Saat tawur ya seling lempar nasi, tapi setelah nasinya habis, prosesi selesai, tidak ada dendam atau apa di antara mereka. Nasi-nasi yang tercecer dikumpulkan untuk pakan ternak. Mereka percaya hasil ternak yang diberi makan nasi hasil ‘tawuran’ akan melimpah, seperti panen.

Perang Topat di Lombok Barat

Jika di Rembang tawuran menggunakan nasi bungkus, massa di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menggunakan ketupat. Karenanya, dinamakan Perang Topat. Tradisi yang dilaksanakan turun-temurun selama ratusan tahun di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, itu justru menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan antara umat Islam dan Hindu. Acara ini membawa misi perdamaian dalam keberagaman budaya dan kepercayaan.

Acara dimulai sejak pukul 17.00, disebut Rarak Kembang Waru (waktunya gugur daun pohon waru di sore hari). Masyarakat percaya, ketupat yang digunakan untuk saling lempar bisa membawa berkah. Ritual diawali dengan upacara persembahyangan di tempat pemujaan masing-masing (Hindu dan Islam Wetu Telu). Kemudian mereka ke halaman yang dilanjutkan dengan adegan saling melempar menggunakan ketupat antara para peserta upacara.

Kemudian, ritual ini dilakukan dengan cara saling melempar topat atau ketupat antara peserta yang satu dengan yang lainnya secara beramai-ramai. Biasanya upacara sakral ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut kalender Sasak atau jatuh sekitar bulan November dan Desember.

Usai perang, mereka akan berebut ketupat sisa perang untuk dibawa pulang, ditaburkan di sawah bagi para petani agar lahannya subur, bisa juga ditaruh di tempat dagangan bagi para pedagang agar dagangannya laris. Ritual budaya Perang Topat adalah suatu upacara yang mencerminkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia yang telah diberikan dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian yang melimpah.

Lempar Tomat ala Lembang

Tak hanya di Spanyol, Indonesia juga punya tradisi lempar tomat. Tepatnya, di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Tradisi lempar tomat ini merupakan rangkaian acara ruwatan atau hajat bumi yang dilakukan oleh masyarakat setempat, yang kebanyakan adalah petani sayuran. Hal ini untuk mengungkapkan syukur sekaligus membuang sial.

Sebelum ritual, biasanya di jalan-jalan desa dijejerkan puluhan keranjang bambu berisi tomat. Jangan salah, yang dipakai adalah tomat berkualitas buruk, ini sebagai simbol membuang sial dan sifat buruk manusia. Tomat-tomat itulah yang akan digunakan sebagai amunisi. Sementara tomat dikumpulkan, warga, baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, bersiap-siap menyambut pertarungan.

Sebagai pembuka, 10 warga yang ditugaskan menadi prajurit saling berhadap-hadapan, mereka terlebih dulu membawakan tarian simbol pertarungan. Setelah selesai, para prajurit bergabung dengan warga dan menyuruh mereka melempar tomat ke siapapun yang ada di hadapannya. Seluruh warga yang telah bersiap menuruti arahan prajurit, maka seketika dimulailah perang tomat yang meriah itu.

Digunakan tameng dari anyaman bambu sebagai penghalau lemparan dari lawan. Tomat yang digunakan jumlahnya mencapai 7 kuintal, bahkan lebih. Setelah aksi selesai, para peserta berjoget bersama diiringi musik Sunda.

Mebuug-buugan Dari Badung

Tradisi saling lempar lumpur ini sempat vakum puluhan tahun dari Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Disinyalir, warga malu melakukannya karena dahulunya dilakukan tanpa busana. Kini itu, tradisi dibangkitkan lagi. Namun para peserta hanya bertelanjang dada dan mengenakan kain khas Bali, yang dilipat hanya menutup kemaluan.

Mebuug-buugan berasal dari kata ‘buug’, yang artinya tanah atau lumpur. Mebuug-buugan berarti interaksi menggunakan tanah atau lumpur. Tradisi unik ini digelar usai perayaan hari Nyepi lewat perang lumpur. Warga saling melempar lumpur atau tanah liat yang sudah lembek.

Tradisi ini sarat dengan makna filosofi. Ia bertujuan menetralkan sifat buruk ini hanya dilakukan oleh laki-laki, mulai anak kecil hingga orang tua. Setelah berperang lumpur, mereka membersihkan diri di Pantai Kedonganan.

Andry T./Dok TL