Situs Sangiran, Jejak 2 Juta Tahun Manusia

Situs Sangiran Solo menjadi salah satu warisan dunia yang dimiliki Indonesia. Foto: Dinas Pariwisata SOlo

Situs Sangiran atau dikenal juga sebagai Situs Prasejarah Sangiran menjadi salah satu obyek wisata pilihan di Solo. Ini merupakan salah satu situs prasejarah paling penting dalam menggambarkan evolusi manusia.

Situs Sangiran

Situs ini berlokasi kira-kira 15 kilometer dari Kota Solo, tepatnya di lembah sungai Solo, kaki gunung Lawu. Secara admnistrasi, Situs Prasejarah Sangiran berada di Kabuptaen Sragen, Jawa Tengah.

Situs Sangiran yang kini juga dikembangkan sebagai Desa Wisata Sangiran, Kabupaten Sragen, terus ramai disebut-sebut di kalangan wisatawan pecinta sejarah. Tahun lalu Desa Wisata Sangiran termasuk salah satu dari 50 Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Situs Sangiran adalah jejak dua juta tahun peradaban manusia.
Situs manusia Purba Sangiran. Foto: dok shutterstock

Daya tarik wisata yang paling terkenal dari Desa Wisata Sangiran adalah Museum Purba Sangiran. Situs manusia purba di Sangiran dianggap menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia. Bahkan, para peneliti beranggapan bahwa situs Sangiran adalah pusat peradaban besar, penting, dan lengkap manusia purba di dunia, karena memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150 ribu tahun lalu.

Situs Sangiran ini mulai ada ketika seorang antropplogi, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, melakukan penelitian di area ini. Hasil penggalian situs menemukan fosil nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus.

Selain itu juga terdapat sekitar 60 fosil Meganthropus palaeojavanicus di situs ini. Sampai sekarang 100 fosil Homo erectus ditemukan di Sangiran dan jumlah ini merupakan 50% dari populasi Homo erectus di dunia.

Situs Sangiran menyimpan kekayaan fosil-fosil purbakala, mulai dari fosil manusia purba, binatang-binatang purba, hingga hasil kebudayaan manusia praaksara. Namun, tidak hanya situs purbakala yang potensial, wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran juga sangat lekat.

Di Desa Wisata Sangiran terdapat wisata air asin Pablengan. Konon, sumber mata air asin ini telah berusia lebih dari 2 juta tahun. Sumber mata air ini terbentuk akibat pergeseran Bumi dan letusan gunung berapi. Adanya sumber Pablengan menjadi bukti perubahan lanskap Sangiran yang awalnya lautan menjadi daratan.

Salah satu koleksi Sangiran shutterstock
Salah satu koleksi purbakala Situs Sangiran. Foto: dok shutterstock

Salah satu wisata sejarah di Desa Wisata Sangiran adalah Punden Tingkir. Destinasi wisata ini dipercaya sebagai peninggalan Joko Tingkir, karena terdapat sebuah petilasan di dalamnya. Desa Wisata Sangiran juga kental dengan kearifan lokal dan nilai budaya yang potensial untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata.

Salah satu kesenian unggulan dari desa wisata ini adalah Gamelan Renteng, yang usianya lebih dari satu abad, dan masih digunakan hingga saat ini. Ada juga Tari Gerbang Sukowati yang kaya akan nilai filosofis, serta Tari Bubak Kawah.

Sektor ekonomi kreatif di Desa Wisata Sangiran ternyata tidak kalah potensial. Faktanya, profesi sebagian masyarakat di Sangiran adalah pengrajin batu, kayu, dan bambu menjadi modal utama dalam pengembangan produk ekonomi kreatif.

Beberapa produk ekonomi kreatif dari Desa Wisata Sangiran adalah kerajinan watu, batu akik, kapak purba, watu sangir, watu lurik, kerajinan bambu, patung manusia purba, asbak, hingga gantungan kunci. Selain itu ada juga pakaian tradisional khas dari Sangiran yang kerap dijadikan oleh-oleh, yakni iket, atau ikat kepala dari kain batik segi empat yang merupakan warisan dari tetua adat.

Dari segi pengembangan produk kuliner, Desa Wisata Sangiran memiliki beragam produk kuliner yang khas. Seperti olahan bukur, tiwul, balung kethek, sego kuning, jajanan pasar, gendar pecel, bubur srintil, sego bancaan, dan kopi purba.

Salah Satu Artefak di Sangiran shutterstock
Koleksi purba Situs Sangiran. Foto: shutterstock

Faktanya, Desa Wisata Sangiran termasuk dalam kategori rintisan, karena desa wisata ini baru berusia dua tahun. Awalnya, desa yang memiliki nama administratif Desa Krikilan ini memang sudah dikenal oleh masyarakat internasional.

Bahkan telah dinobatkan sebagai World Culture Heritage oleh UNESCO sejak 1996. Sehingga tidak heran masyarakat setempat akrab dengan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan membuat desa ini menjadi visitor center di antara museum lainnya.

Namun, keberadaan museum saja belum cukup memberikan dampak yang signifikan bagi warga. Atas dasar itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Krikilan menggagas ide kreatif membentuk Desa Wisata Sangiran.

Melalui pengembangan desa wisata ini diharapkan ekonomi masyarakat semakin sejahtera. Baik sebagai penjual souvenir, usaha kuliner, tour guide, hingga homestay. Selain itu, menjadikan Desa Krikilan sebagai desa wisata juga diharapkan bisa menjadi upaya pelestarian budaya setempat.

Pengelola desa wisata berinisiatif membuat paket-paket atraksi wisata untuk menarik minat wisatawan. Tidak hanya mengunjungi ragam atraksi wisata, di sini wisatawan juga bisa mencoba paket kuliner dan paket kerajinan. Kedua paket tersebut menawarkan pengalaman berwisata yang menarik bagi wisatawan di Desa Wisata Sangiran.

agendaIndonesia/kemenparekraf-berbagai sumber

*****

Kebersamaan 4 Keluarga Dalam 1 Rumah Bolon

kebersamaan 4 keluarga dalam 1 rumah Bolon menjadi simbol harmoni keluarga masyarakat Batak Toba.

Kebersamaan 4 keluarga bisa tinggal dalam satu rumah Bolon, rumah adat masyarakat Batak Toba. Satu rumah adat penuh simbol keselamatan ini bisa dihuni empat keluarga.

Kebersamaan 4 Keluarga

Dengan kapal feri dari Pelabuhan Ajibata, Prapat, mobil yang saya tumpangi terangkut hingga Pulau Samosir, Sumatera Utara. Dalam waktu sejam, saya tiba di Pelabuhan Tomok, Kabupaten Samosir, yang cukup ramai. Beberapa meter meninggalkan pelabuhan, seketika suasana terasa begitu lengang, apalagi di siang yang terik. Namun justru di tengah keheningan saya bisa lebih tenang mencermati satu demi satu rumah khas Batak Toba

Tak lama kemudian, pepohonan di sisi kiri terasa menyegarkan. Tebing dengan hamparan sawah di depannya membuat siang sedikit lebih adem. Akhirnya saya tiba di Desa Ambarita. Sebuah obyek wisata yang menyuguhkan sejarah dan tradisi daerah ini seperti mengundang saya untuk mampir. Tidak lain dari Hutaatau Kampung Siallagan, kompleks rumah adat Raja Siallagan, yang menarik perhatian saya.

Rumah adat yang disebut juga rumah bolon dari kayu itu berderet rapi dalam benteng batu. Setelah membayar tiket masuk, saya mulai menyimak penjelas sang pemandu, Guido Sitinjak. Berbentuk panggung, rumah ini memiliki atap pelana yang bubungannya melengkung. Ujung atap bagian belakang posisinya lebih tinggi dibanding dengan yang di depan. Hal itu sebagai simbol harapan agar anak meraih segala sesuatu yang lebih baik daripada orang tua. Konstruksi bangunannya tanpa paku, dengan atap dari serat nira.

kebersamaan 4 keluarga dalam satu rumah adat Bolon pada masyarakat Batak Toba memperlihatkan keselarasan dalam kehidupan mereka.
Rumah adat Bolon dalam tradisi dan budaya masyarakat Batak Toba. Foto: Dok. Shuuterstock

Seperti umumnya kampung suku Batak Toba pada masa lalu, satu rumah berdampingan dengan rumah lainnya di kompleks Raja Siallagan. Setiap rumah memiliki kolong yang dijadikan tempat menaruh ternak. Tinggi lantai tergantung pada jenis atau ukuran hewan yang dipelihara. Untuk memasuki rumah, tentunya dibuat sebuah tangga, yang selalu berjumlah ganjil. Pintu dibikin pendek, sehingga setiap orang yang masuk rumah harus menundukkan kepala. “Sekaligus sebagai simbol untuk menghormati dewa,” ujar Guido.

Uniknya, pintu masuk bagi perempuan tidak ada di depan, melainkan di samping. Namun bukan berarti perempuan diposisikan lebih rendah. Justru suku Batak Toba memiliki filosofi: lelaki harus menghargai ibu dan istrinya. Hal tersebut terlihat dari lambang yang dimunculkan sebagai dekorasi dalam rumah, yakni berupa empat payudara dan seekor cicak. Payudara tersebut bermakna kesuburan dan kekayaan serta menjadi simbol bahwa orang Batak Toba selalu berbakti kepada inang alias ibu. Sedangkan cicak menggambarkan betapa mudahnya orang Batak beradaptasi dan tinggal di berbagai daerah, meski akan kembali ke ibu dan kampung halamannya. Empat payudara juga berarti pria Batak harus menghargai ibu dan istrinya. Selain itu, empat payudara tersebut melambangkan adanya empat keluarga dalam satu rumah bolon.

Rumah bolon biasanya dihuni beberapa keluarga. Ada sebuah ruangan yang memang digunakan bersama-sama, tapi ada pula kamar yang hanya boleh ditempati pemimpin di rumah tersebut, seperti sudut kanan bagian belakang rumah. Di bagian belakang terdapat dapur dan setiap keluarga memiliki dapur sendiri. Sedangkan lumbung pagi atau sopo dibangun terpisah dari rumah.

Sang pemandu menegaskan, seperti yang terlihat pada kebanyakan rumah adat di sini, warna yang digunakan hanyalah merah, putih, dan hitam. Putih, menurut Guido, menjadi lambang dunia atas atau Yang Maha Kuasa. Ada juga yang menyebutnya sebagai simbol kesucian atau kejujuran. Merah menggambarkan dunia tengah atau kehidupan saat ini. Ada pula yang memaknainya sebagai simbol pengetahuan atau kecerdasan. Lantas, hitam menunjukkan dunia bawah atau fana, selain melambangkan kewibawaan atau kepemimpinan.

Zaman dulu, warna merah bahkan diambil dari darah. Dekorasi muncul di berbagai sisi, dari atap rumah hingga tangga, yang diberi nama tangga rege-rege. Semua ornamen menyimbolkan keselamatan bagi para penghuninya. “Rumah juga menunjukkan kemampuan pemiliknya,” kata Guido.

Keunikan kampung yang satu ini adalah kehadiran Hau Habonaran atau pohon kebenaran. Di bawah pohon yang rindang itu terdapat satu set meja-kursi terbuat dari batu. Inilah yang disebut batu persidangan, sebagai tempat pengadilan zaman dulu. Raja, dukun, dan tetua adat atau penasihat akan mengambil keputusan di meja tersebut untuk sebuah perkara.

Guido menjelaskan, kesalahan yang tidak bisa diampuni, seperti membunuh, memperkosa, menjadi mata-mata musuh, akan dijatuhi hukuman penggal. Eksekusi hukuman dilakukan tidak jauh dari batu persidangan. Pada masa itu, darah si terhukum diminum, demikian pula dengan jantung dan hatinya. Kedua organ tersebut dicincang dan diramu untuk menambah kekuatan raja dan dukun. Model persidangan dan hukuman macam ini terakhir dilakukan pada tahun 1816, setelah datang seorang misionaris, Nomensen. Kompleks rumah Batak Toba itu dilengkapi pula dengan pemakaman keluarga Raja Siallagan.

Saya lantas bergeser ke Simanindo, tepatnya menuju Museum Huta Bolon. Turis pun bisa memetik pelajaran sejarah dan tradisi suku Batak Toba di sini. Semula, sebelum disulap menjadi museum, tempat ini adalah rumah peninggalan Raja Sidauruk. Di dalamnya bisa ditemukan berbagai perlengkapan yang ada dalam sebuah rumah tradisional, termasuk peralatan memasak dan bertani. Di samping itu, dipajang beragam jenis ulos yang biasa digunakan dalam berbagai upacara. Di kompleks rumah adat yang terdapat di sebelah museum, berjejer lumbung padi yang menjadi tempat para penonton menyaksikan sederet tarian tradisional. Pentas tari itu digelar setiap hari pada pukul 11.00.

Bila ingin mengenal kehidupan yang lebih riil, Anda bisa mencermati beberapa rumah Batak Toba yang masih dihuni penduduk setempat. Kabupaten Samosir masih memiliki banyak rumah adat dalam kondisi terawat. Sepanjang jalan dari Tomok menuju Pangururan—ibu kota kabupaten—rumah adat berdiri tegak di antara rumah-rumah modern. Terkadang, terlihat perempuan menenun di depan rumah. Atau bila ingin melihat penenun tradisional lebih banyak lagi, Anda bisa mampir ke Desa Penampangan, Kecamatan Pangururan. Denyut keseharian para perempuan di kampung tradisional tersebut benar-benar menawan.

Rita N./Toni H./TL/shutterstock/agendaIndonesia

*****

Tradisi Tawuran, 4 Yang Menggembirakan Warga

Tradisi tawuran salah satunya Perang Tomat ala Lembang

Tradisi tawuran ternyata tak selamanya berkonotasi buruk. Di sejumlah daerah di Indonesia, ada tradisi antarwarga yang terkesan seperti tawuran, tapi semuanya tanpa kebencian. Bahkan yang ada justru kegembiraan dan harapan untuk kesejahteraan. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Tawuran

Tawur Nasi ala Rembang

Jika tawuran antarpelajar biasanya menggunakan batu, tawuran di Desa Pelemsari, Rembang, Jawa Tengah, tidak. Para pemuda desa tawuran dengan cara saling lempar nasi bungkus. Aksi saling lempar itu diadakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Setiap tahun, warga Desa Pelemsari menggelar tradisi itu bertepatan dengan sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur keberhasilan panen warga setempat. Ratusan warga saling melempar nasi satu sama lain, selain sebagai rasa syukur, tradisi ini juga dianggap menjadi tolak bala bencana agar tidak menimpa warga sekitar.

Sebelum digunakan dalam prosesi tawuran, nasi sebelumnya diarak mengelilingi desa. Kemudian para sesepuh desa berkumpul untuk membacakan doa-doa terhadap nasi yang akan digunakan sebagai alat tawuran. Dalam pemilihan hari pelaksanaan tawur nasi, perlu perhitungan khusus.

Warga desa setempat mengaku mengikuti tawuran dengan rasa suka cita. Saat tawur ya seling lempar nasi, tapi setelah nasinya habis, prosesi selesai, tidak ada dendam atau apa di antara mereka. Nasi-nasi yang tercecer dikumpulkan untuk pakan ternak. Mereka percaya hasil ternak yang diberi makan nasi hasil ‘tawuran’ akan melimpah, seperti panen.

Perang Topat di Lombok Barat

Jika di Rembang tawuran menggunakan nasi bungkus, massa di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menggunakan ketupat. Karenanya, dinamakan Perang Topat. Tradisi yang dilaksanakan turun-temurun selama ratusan tahun di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, itu justru menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan antara umat Islam dan Hindu. Acara ini membawa misi perdamaian dalam keberagaman budaya dan kepercayaan.

Acara dimulai sejak pukul 17.00, disebut Rarak Kembang Waru (waktunya gugur daun pohon waru di sore hari). Masyarakat percaya, ketupat yang digunakan untuk saling lempar bisa membawa berkah. Ritual diawali dengan upacara persembahyangan di tempat pemujaan masing-masing (Hindu dan Islam Wetu Telu). Kemudian mereka ke halaman yang dilanjutkan dengan adegan saling melempar menggunakan ketupat antara para peserta upacara.

Kemudian, ritual ini dilakukan dengan cara saling melempar topat atau ketupat antara peserta yang satu dengan yang lainnya secara beramai-ramai. Biasanya upacara sakral ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut kalender Sasak atau jatuh sekitar bulan November dan Desember.

Usai perang, mereka akan berebut ketupat sisa perang untuk dibawa pulang, ditaburkan di sawah bagi para petani agar lahannya subur, bisa juga ditaruh di tempat dagangan bagi para pedagang agar dagangannya laris. Ritual budaya Perang Topat adalah suatu upacara yang mencerminkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas karunia yang telah diberikan dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian yang melimpah.

Lempar Tomat ala Lembang

Tak hanya di Spanyol, Indonesia juga punya tradisi lempar tomat. Tepatnya, di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Tradisi lempar tomat ini merupakan rangkaian acara ruwatan atau hajat bumi yang dilakukan oleh masyarakat setempat, yang kebanyakan adalah petani sayuran. Hal ini untuk mengungkapkan syukur sekaligus membuang sial.

Sebelum ritual, biasanya di jalan-jalan desa dijejerkan puluhan keranjang bambu berisi tomat. Jangan salah, yang dipakai adalah tomat berkualitas buruk, ini sebagai simbol membuang sial dan sifat buruk manusia. Tomat-tomat itulah yang akan digunakan sebagai amunisi. Sementara tomat dikumpulkan, warga, baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, bersiap-siap menyambut pertarungan.

Sebagai pembuka, 10 warga yang ditugaskan menadi prajurit saling berhadap-hadapan, mereka terlebih dulu membawakan tarian simbol pertarungan. Setelah selesai, para prajurit bergabung dengan warga dan menyuruh mereka melempar tomat ke siapapun yang ada di hadapannya. Seluruh warga yang telah bersiap menuruti arahan prajurit, maka seketika dimulailah perang tomat yang meriah itu.

Digunakan tameng dari anyaman bambu sebagai penghalau lemparan dari lawan. Tomat yang digunakan jumlahnya mencapai 7 kuintal, bahkan lebih. Setelah aksi selesai, para peserta berjoget bersama diiringi musik Sunda.

Mebuug-buugan Dari Badung

Tradisi saling lempar lumpur ini sempat vakum puluhan tahun dari Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Disinyalir, warga malu melakukannya karena dahulunya dilakukan tanpa busana. Kini itu, tradisi dibangkitkan lagi. Namun para peserta hanya bertelanjang dada dan mengenakan kain khas Bali, yang dilipat hanya menutup kemaluan.

Mebuug-buugan berasal dari kata ‘buug’, yang artinya tanah atau lumpur. Mebuug-buugan berarti interaksi menggunakan tanah atau lumpur. Tradisi unik ini digelar usai perayaan hari Nyepi lewat perang lumpur. Warga saling melempar lumpur atau tanah liat yang sudah lembek.

Tradisi ini sarat dengan makna filosofi. Ia bertujuan menetralkan sifat buruk ini hanya dilakukan oleh laki-laki, mulai anak kecil hingga orang tua. Setelah berperang lumpur, mereka membersihkan diri di Pantai Kedonganan.

Andry T./Dok TL

Kerajinan Indonesia, Ini Dia 6 Yang Unik

Kerajinan Indonesia sangat khas dan memiliki nilai seni yang tinggi. Foto: shutterstco

Kerajinan Indonesia mempunyai banyak keunikan. Letak Indonesia yang strategis memberikan keuntungan tersendiri bagi pengrajin kriya dan seniman lokal. Selain kaya akan bahan baku, perbedaan lanskap di setiap pulau memunculkan keanekaragaman flora dan fauna yang khas.

Kerajinan Indonesia

Keanekaragaman flora dan fauna tersebutlah yang menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku seni kriya dalam membuat karya, kerajinan Indonesia. Setiap karya pun mewakili identitas dari setiap daerah, yang belum tentu dimiliki daerah lainnya. Sehingga hal ini pun memberi warna dalam khazanah kebudayaan Indonesia yang sangat beragam dan kaya.

Kerajinan-kerajinan tangan khas Nusantara ini telah diwariskan secara turun-temurun, dan memiliki filosofi mendalam berkaitan dengan budaya masing-masing daerah. Berkat keindahan dan keunikan yang ditampilkan, tak heran jika kerajinan Indonesia yang khas ini telah diakui hingga kancah Internasional.

Kerajinan Indonesia mempunyai karakter yang sesuai dengan masyarakat tempatnya tumbuh.

Wayang Kulit Dan Tatah Sungging Yogyakarta

Kerajinan tangan dari Yogyakarta yang dikenal sebagai tatah sungging ini telah ada sejak tahun 840M, dan telah masuk dalam Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. Wayang kulit khas Yogyakarta terbuat dari kulit kerbau. Kulit kerbau dipilih sebagai bahan dasar karena sangat kuat dan tidak mudah melengkung.

Dalam proses pembuatan satu wayang kulit umumnya memerlukan waktu sekitar 1 minggu hingga empat bulan, tergantung tingkat kesulitannya. Proses pembuatan yang rumit karena pengrajin sangat memerhatikan detail yang ada di setiap wayang kulit.

Getah Nyatu dari Kalimantan

Kekayaan hayati hutan Kalimantan melahirkan kerajinan tangan unik yang kenal dengan nama getah nyatu. Sesuai namanya, kerajinan tangan ini dibuat dengan memanfaatkan getah dari pohon nyatu.

Kerajinan Indonesia yang berasal dari Kalimantan Tengah di antaranya adalah Getah Nyatu. Foto: palangkaraya.go.id

Pohon nyatu sendiri merupakan endemik Pulau Kalimantan, khususnya Pangkalan Bun dan Kecamatan Bukit Tangkiling. Kerajinan tangan ini pertama kali populer pada sejak 80-an, kerajinan tangan getah nyatu sering dijadikan buah tangan saat orang berkunjung ke Kalimantan.

Proses pembuatan kerajinan tangan getah nyatu cukup rumit. Mulai dari perebusan batang sebanyak tiga kali, hingga proses pemisahan dan pengolahan getahnya. Biasanya getah nyatu akan dibuat menjadi kerajinan berbentuk kapal dan replika boneka

Tenun Songket dari Palembang

Berbeda dari kain khas Indonesia lain, songket khas Palembang memberikan kesan mewah nan elegan pada orang yang memakainya. Hal tersebut didapat dari penggunaan benang emas dan perak yang menghiasi motif songket. Ditambah dengan detail corak yang rumit dan indah, membuat songket makin bernilai.

Menurut sejarah, kain songket awalnya muncul pada masa Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada abad ke-7 hingga ke-13. Tradisi membuat kain songket pun terus berlangsung hingga saat ini. Selain dijual dalam bentuk lembaran kain, saat ini kain songket juga diproduksi dalam model pakaian, selendang, hingga kerudung siap pakai. Rasanya ini kerajinan Indonesia yang layak dikoleksi

Noken dari Papua

Pada 2012 noken resmi dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Kerajinan tangan khas Papua ini berasal dari serat kayu, daun, batang anggrek, dan benang warna-warni yang dianyam menjadi sebuah tas yang unik.

Kerajinan Indonesia dari Papua biasa disebut Noken.

Kerajinan tangan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, hingga sekarang masyarakat Papua masih kerap menggunakan noken dalam keseharian mereka. Uniknya, noken mampu mengangkat beban hingga 20 kilogram. Kini, noken menjadi salah satu kerajinan tangan dan oleh-oleh unik khas Papua.

Anyaman Pandan dari Natuna

Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau memiliki salah satu kerajinan tangan yang unik, yakni anyaman pandan. Kerajinan tangan ini terbuat dari tumbuhan pandan yang banyak dijumpai di Kabupaten Natuna.

Oleh masyarakat setempat produk anyaman pandan terus dikembangkan menjadi berbagai kerajinan tangan, seperti dompet, keranjang, bakul, dan masih banyak lagi. Motif dan warna anyaman pandan juga beragam yang masing-masing memiliki filosofi tersendiri.

Kipas Kayu Cendana dari Bali

Bali adalah surganya seni, termasuk seni kriya. Jenis kerajinan tangan unik dan memiliki nilai seni tinggi adalah kipas kayu cendana. Kipas asli Bali ini awalnya hanya digunakan dalam seni tari, seperti tari klasik Legong Keraton dan tari modern Kebyar Trunajaya.

Keistimewaan kipas lipat ini adalah kayu pembuatnya, yakni kayu cendana. Bau harum khas kayu cendana akan menguat ketika kipas dikibaskan untuk mengusir rasa gerah. Hal inilah yang membuat banyak orang memburu kipas kayu cendana khas Bali sebagai cenderamata.

Itulah beberapa kerajinan tangan unik dan khas dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan membeli produk buatan lokal, bukan hanya melestarikan budaya yang dimiliki Indonesia saja, tapi kita juga turut membantu para pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Monumen Nasional, Tugu Setinggi 132 Meter

Monumen Nasional atau biasa disebut MOnas menjadi simbol Jakarta dan Indonesia. Foto: shutterstock

Monumen Nasional, atau yang sehari-hari biasa kita sebut Monas, tentunya sudah menjadi sebuah landmark yang tak asing lagi. Bentuknya yang khas dan unik sudah lekat sebagai salah satu ciri khas kota Jakarta, serta simbol kenegaraan yang begitu ikonik.

Monumen Nasional

Terletak di pusat ibu kota, Monas kokoh berdiri tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka dengan ketinggian 132 meter. Letaknya yang berada di tengah-tengah kota membuatnya menjadi salah satu objek wisata vital di Jakarta, baik bagi wisatawan lokal maupun asing.

Dibangunnya Monumen Nasional itu tak lepas dari andil presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Kala itu, sang proklamator menginginkan adanya sebuah monumen sebagai pengingat akan perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan.

Beliau juga terinspirasi dari Menara Eiffel, landmark legendaris milik Prancis dan ibu kotanya, Paris. Diharapkan, monumen ini pun juga dapat menjadi sebuah simbol yang sama ikoniknya bagi kota Jakarta dan Indonesia secara umum.

Monumen Nasional mejadi simbol, ikon, dan landmark untuk ibukota Indonesia, Jakarta.
Jalan yang melingkari Monumn Nasional. Foto: shutterstock

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, ibu kota yang tadinya sempat dipindahkan ke Yogyakarta kemudian dikembalikan lagi ke Jakarta setahun kemudian. Dari situ, wacana pembangunan Monumen Nasional tersebut mulai mengemuka.

Empat tahun kemudian, pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-9 ditetapkanlah sebuah komite nasional yang bertugas menyusun rencana pembangunan Monumen Nasional. Sayembara untuk mencari desain Monas juga diadakan pada 1955.

Dari sayembara tersebut, terdapat 51 karya desain yang lolos seleksi. Meski belum mendapat desain final, secara umum kriteria yang disetujui adalah desain Monumen Nasional yang harus mencirikan karakter bangsa Indonesia, serta desain yang tak lekang dimakan oleh waktu.

Sayembara pun diadakan lagi pada 1960, namun dari 136 karya desain yang lolos seleksi, masih belum ada yang terpilih. Pun demikian, Soekarno sendiri secara pribadi meminta agar Monas memiliki beberapa bahasa desain tertentu, salah satunya adalah lingga dan yoni.

Lingga dan yoni secara umum dapat diartikan sebagai konsep universal antara laki-laki dan perempuan, yang melambangkan kesuburan. Selain kesuburan, konsep tersebut juga menggambarkan satu kesatuan yang harmonis dan saling melengkapi satu sama lain.

Bentuk dari tugu Monas beserta cawannya tersebut juga dapat diartikan sebagai alu dan lesung, alat penumbuk padi tradisional. Ini merepresentasikan Indonesia sebagai negara agraris yang banyak warganya menyambung hidup sebagai petani.

Detail lain yang tak kalah pentingnya adalah lidah api di bagian pucuk yang terbuat dari 77 lapisan emas. Dengan tinggi 14 meter dan diameter 6 meter, berat lapisan emas ini awalnya 35 kg, sebelum ditambah menjadi 50 kg dalam perayaan 50 tahun kemerdekaan pada tahun 1995.

Lidah api tersebut melambangkan kobaran semangat rakyat Indonesia yang berjuang sejak jaman memperjuangkan kemerdekaan hingga kini dan seterusnya dalam mengisi kemerdekaan. Untuk menopangnya, terdapat cawan berukuran besar yang beratnya sekitar 14,5 ton.

Desain dari Monas awalnya diarsiteki oleh Friedrich Silaban, kemudian disempurnakan oleh R.M. Soedarsono. Lokasi pembangunan ditetapkan di area Lapangan Medan Merdeka atau yang di masa lalu dikenal sebagai Lapangan Ikada, agar posisinya berhadapan dengan Istana Negara.

Dan pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1961, pembangunan Monas pun dimulai. Ada sekitar tiga tahapan dalam proses pembangunannya, dimana tahap pertama berlangsung dari tahun 1961 sampai tahun 1965.

Pada tahap pertama, proses pembangunan menggunakan beberapa sumbangan dari masyarakat umum, karena kondisi ekonomi negara yang sulit. Misalnya, sebagian lapisan emas pada lidah api merupakan hibah dari Teuku Nyak Markam, seorang pengusaha dari Aceh.

Mulanya, Monumen Nassional hanya dibuka bagi rombongan karyawisata tertentu, misalnya siswa-siswi sekolah. Barulah setelah pembangunannya rampung, pada 12 Juli 1975 Monas diresmikan dan dibuka untuk umum oleh presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto.

Penyusunan Naskah Bung Karno Bung Hatta Munasprokgoid
Salah satu yang khas dari Monas adalah adanya diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Foto: munasprok.go.id

Selain menjadi simbol kenegaraan, Monas juga memiliki beragam fungsi dan daya tarik bagi siapa saja yang datang berkunjung. Salah satunya adalah fungsi wisata edukasi lewat museum sejarah Indonesia yang terletak di bagian dalam monumen.

Di area museum ini, terdapat sekitar 51 diorama yang menggambarkan sejarah Indonesia dari masa ke masa. Pengunjung dapat mengamati sejarah dan perkembangan Indonesia dalam susunan diorama yang diatur secara kronologis di tiap periode, mengikuti arah jarum jam.

Selain itu, di area interior monumen ini terdapat pula Ruang Kemerdekaan, yang menjadi tempat disimpannya naskah asli Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, beserta bendera merah putih yang dikibarkan ketika Teks Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Di ruangan ini juga terdapat detail-detail seperti lambang Garuda Pancasila berukuran besar yang terbuat dari perunggu berlapis emas dan berbobot 3,5 ton. Ada pula peta Indonesia yang terbuat dari emas, menunjukkan bentang dan kepulauan yang membentuk Indonesia.

Memasuki ruangan ini, pengunjung akan disambut dengan pemutaran rekaman suara Soekarno saat membacakan Teks Proklamasi, diiringi lagu Padamu Negeri. Ruangan amphitheatre ini juga berfungsi sebagai ruangan untuk mendoakan dan mengenang jasa pahlawan kemerdekaan.

Yang tak kalah menarik, pengunjung juga dapat naik ke area puncak monumen dengan menggunakan lift yang dapat mengangkut sekitar 10 orang. Sesampainya di atas, pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Jakarta secara 360° di ketinggian 115 m.

Area pelataran puncak ini dapat menampung kurang lebih sekitar 50 orang. Sebagai tambahan fitur keselamatan dalam situasi dan kondisi tertentu, disediakan pula tangga darurat yang posisinya mengitari area jalur elevator.

Pengunjung Tugu Monas Jakarta Foto Antara
Masyarakat mengunjungi Monas. Foto: DOk. Antara

Di samping daya tarik wisata yang terdapat di dalam monumen, terdapat pula beberapa hal menarik di area luar Monas. Seperti misalnya deretan relief sejarah Indonesia yang berada di sekeliling halaman luar Monumen Nasional.

Relief tersebut menggambarkan beberapa peristiwa bersejarah di Indonesia, seperti masa kerajaan Singosari dan Majapahit, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, hingga sejarah modern Indonesia. Kesemuanya diatur secara kronologis mengikuti arah jarum jam.

Terdapat pula area taman, kolam dan hutan kota yang diperuntukkan bagi wisatawan dan warga sekitar untuk berkumpul, berolahraga atau sekedar bersantai. Di area taman ini, pengunjung dapat menemui beberapa kawanan rusa yang didatangkan dari Istana Bogor.

Dan yang tak kalah menarik, setiap malam akhir pekan area taman akan dibuka untuk umum dalam rangka pertunjukan atraksi air mancur. Dalam atraksi tersebut, air mancur akan bergerak seakan menari, diiringi lagu-lagu nasional dan daerah serta kilauan lampu tembak yang seirama.

Atraksi tersebut biasanya dilangsungkan dalam dua sesi, pada jam 19.30 dan jam 20.30. Dalam satu sesi, biasanya atraksi akan berlangsung kurang lebih sekitar 20 hingga 30 menit. Atraksi ini dapat ditonton siapapun tanpa dikenakan biaya.

Area Monas secara keseluruhan biasanya buka dari hari Selasa hingga Minggu, dan ditutup setiap hari Senin. Jam operasionalnya mulai dari jam 06.00 hingga jam 16.00, namun untuk bisa masuk ke dalam monumen, akan dibagi per sesi dari pagi, siang dan sore.

Untuk masuk ke dalam monumen dan berkeliling area museum dan Ruang Kemerdekaan, pengunjung akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 5 ribu untuk orang dewasa, Rp 3 ribu untuk mahasiswa dan Rp 2 ribu untuk anak-anak.

Namun jika ingin mencoba naik hingga ke area puncak monumen, maka tiket terusannya menjadi Rp 15 ribu untuk dewasa, Rp 8 ribu untuk mahasiswa dan Rp 4 ribu untuk anak-anak. Tiket terusan ini sudah termasuk akses masuk ke museum dan Ruang Kemerdekaan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika berminat menyambangi Monas. Salah satunya, untuk membayar tiket masuk kini sudah menggunakan JakCard, kartu e-money yang juga bisa digunakan untuk membayar tarif angkutan umum, seperti TransJakarta.

Hal penting lainnya adalah kebijakan pengelola Monas yang mengatur pengunjung yang datang di pagi hari hanya bisa membeli tiket untuk sesi pagi saja, demikian pula bagi yang datang di siang dan sore hari hanya boleh membeli tiket untuk sesi tersebut.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (021) 3822255, atau mengunjungi akun Instagram resmi @monumen.nasional.

Monumen Nasional

Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat

agendaIndonesia

*****

Menikmati 1001 Kisah Negeri Sendiri

menikmati 1001 kisah negeri sendiri bersama Komunitas Historia Indonesia

Menikmati 1001 kisah negeri sendiri tentang sejarah dan budaya. Banyak program yang disusun Komunitas dengan menarik. Wisata pun menambah wawasan dan mengungkap kesadaran.

Menikmati 1001 Kisah Negeri Sendiri

Jarum jam arloji menunjukkan tepat pukul 20.00 WIB. Hujan yang mengguyur sejak sore belum juga reda. Meski begitu, ratusan anggota Komunitas Historia Indonesia  (KHI) tetap semangat mengikuti “Wisata Malam Kota Tua Jakarta”. Mereka tetap antusias menyambangi tempat-tempat sejarah yang mungkin belum diketahui, meski cukup lama tinggal di Jakarta.

Ya, mungkin boleh dibilang orang yang mengetahui jika Museum Fatahillah itu dulunya bernama Stadhuis alias Balai Kota masih terhitung dengan jari. Begitu pula dengan Stadhuis Plein, sebutan untuk Taman Fatahillah; Raad van Justitie, yang dulunya Benteng Batavia kini dinamakan Museum Seni Rupa dan Keramik; atau Hoenderpasar Broeg, nama lain Jembatan Kota Intan pada zaman kolonial.

menikmati 1001 kisah negeri sendiri bersama aktivitas KHI
Kmunitas Hirtoria Indonesia sedang beraktivitas menikmati sejarah Jakarta. Dok KHI

Komunitas penggemar sejarah ini memang mengenalkan situs-situs sejarah bangsa dengan cara berbeda. Pada acara bertajuk “China Town Journey”, misalnya. Para anggota KHI menyambangi The Groote Kanaal atau Kali Besar, Pasar Pagi, Rumah Keluarga Souw, eks Gedung Tiong Hoa Howe Kwan, Klenteng Toa Sai Bio, Gereja St Maria De Fatima, Klenteng Jin De Juan, dan Pasar Glodok.

China Town Journey juga digelar tahun ini, tepatnya sehari menjelang perayaan Hari Raya Imlek nanti. “Namun temanya berbeda. Kali ini kami akan mengajak para peserta mengunjungi tempat-tempat yang dulunya dijadikan pusat prostitusi, perjudian, dan perdagangan madat,” ucap Asep Kambali, pendiri dan Ketua Umum KHI.

Meski terkesan negatif, pria yang akrab disapa Kang Asep itu ingin memperlihatkan jika keberadaan etnis Tionghoa sudah ada sejak dulu dan tak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya, kata Kang Asep, kawasan Pecinan selalu menjadi penopang sekaligus jantung yang menggerakkan detak perekonomian. “Kami berharap, adanya acara seperti itu dapat meningkatkan kesadaran kita sebagai warga negara Indonesia sehingga meningkatkan toleransi berwarga negara,” ujarnya.

Di lain kesempatan, para anggota penggemar sejarah itu juga tampil di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam rangka 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Indonesia. Mereka berdandan menyerupai sosok Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Pandit Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, Presiden Gamal Abdul Nasser, dan Raja Faisal.

KHI juga menggelar program Night at The Museum pada kesempatan lain. Sesuai dengan namanya, para peserta diajak melakukan tur museum di tengah malam. Sekali waktu, mereka juga menjelajahi kawasan Pulau Seribu untuk mengamati benteng-benteng peninggalan Belanda yang ada di sana.

Banyak kegiatan yang diadakan komunitas yang berdiri pada 22 Maret 2003 itu. Tentu semua tak lepas dari sejarah dan budaya. Pada awal berdiri, KHI diberi nama KPSBI-Historia, kependekan dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia-Historia. Namun pada 2005, KPSBI-Historia berganti nama menjadi Komunitas Historia Indonesia atau KHI.

Hingga kini, anggota KHI sudah mencapai 23.500 orang yang tersebar tak hanya di Indonesia, tapi sampai luar negeri. KHI memiliki jenis keanggotaan pasif dan aktif. Anggota pasif berupa anggota yang hanya melakukan registrasi via situs KHI, tapi tidak mengisi formulir lanjutan via situs  yang sama untuk verifikasi. Anggota jenis ini bersifat gratis, tapi memiliki fasilitas terbatas.

Seddangkan anggota aktif merupakan anggota yang telah mengisi formulir lanjutan via website yang sama. Selanjutnya, anggota mengisi formulir di sekretariat KHI dan telah berkontribusi membayar biaya registrasi sebesar Rp 300 ribu satu kali seumur hidup, sudah termasuk iuran bulanan untuk tahun berjalan. Keanggotaan jenis ini memiliki fasilitas penuh. Untuk mengkomunikasi program-programnya, KHI menggunakan sarana situs, Blog,Twitter, dan Facebook.

Berbagai prestasi dan penghargaan sempat diraih KHI, seperti Komunitas Peduli Museum, Most Recommended Consumer Community Award, The Best Enterpreneurial & Business ConsumunityAward, dan Pengabdian terhadap Kelestarian Budaya Indonesia.

Penghargaan-penghargaan itu diraih karena KHI dinilai berhasil mengemas paket tur yang mengedepankan konsep rekreasi, edukasi, dan hiburan agar sejarah tidak lagi membosankan. Namun yang terpenting, menurut Kang Asep, KHI berharap warga Indonesia menjadi turis di negerinya sendiri.

Kontak KHI

Email info@komunitashistoria.com

Andry T./Dok. TL/Dok. Komunitas Historia Indonesia

Seni Kampung Badud, Warisan Tahun 1868

Senin Kampung Badud

Seni Kampung Badud, rasanya hampir tak ada orang dari luar kawasan Pangandaran yang tahu. Ini memang kampung yang masih agak terisolasi di Kabupaten Panganaran, Jawa Barat, namun ia memiliki tradisi seni sejak ratusan tahun silam. Buat, sebagian orang, kesenian ini mungkin terasa asing. Namun, ia memiliki ragam kesenian Sunda yang cukup lengkap.

Seni Kampung Badud

Hening tadinya membalut Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Pangandaran, Jawa Barat. Namun mendadak riuh ketika rombongan pengantin sunat dengan pemain musik, yang mengenakan pangs –pakaian pria tradisional Sunda–melintas jalan dusun, siang itu. Suara musik dog-dog, angklung, gendang, dan gong muncul silih berganti, dan langsung memecah keheningan.

Pemain topeng juga tak kalah semangat. Meski menggunakan topeng lengkap dengan kostum kakek-nenek, macan, babi hutan, kera, dan lutung, mereka tetap bergoyang mengikuti irama dengan enerjik.

Perjalanan rombongan terhenti saat mereka tiba di tempat hajatan. Begitu pula dengan alunan musik. Semua pemain musik menghentikan atraksinya. Suasana kembali sunyi. Namun tak berlangsung lama. Setelah sesaji berupa ayam bakar, minyak kelapa, telur, kopi, teh, dan lainnya digelar, doa-doa dalam bahasa Sunda dipanjatkan, musik pun kembali mengalun. Bau kemenyan menyeruak ke udara. Semua menyatu dalam keriuhan.

Pemain topeng, yang menggunakan kostum kera dan lutung, langsung lincah di tengah arena. Gerakan tubuhnya mirip dengan hewan, merangkak, melompat, terkadang menggaruk-garuk tubuh. Orang yang bertugas sebagai pawang sibuk menenangkan mereka.

Belum selesai, kini muncul pemain topeng yang menggunakan kostum macan dan babi hutan merangsek arena. Gerakan tubuhnya menyerupai hewan yang sama dengan kostumnya. Tak hanya bergerak, sang macan mengambil sesaji dan memakannya.

Lain halnya dengan pemain topeng kakek-nenek. Meski sama-sama kerasukan, keduanya bergerak lebih tenang layaknya orang yang memang sudah lanjut usia. Kendati begitu, sang pawang tetap saja sibuk menyadarkan mereka saat acara mulai berakhir. Kini giliran doa untuk pengantin sunat dipanjatkan. Beras dan permen dilemparkan ke tubuh pengantin sunat oleh orang yang dituakan di dusun tersebut.

“Inilah yang dinamakan kesenian badud,” ujar H. Adwidi, Ketua Badud Rukun Sawargi kepada Traveloungeyang berkesempatan menyaksikan langsung atraksi tersebut. Menurut Adwidi, seni badud diciptakan pada 1868 oleh Ki Ijot dan Ki Ardasim. Dua tokoh petani Dusun Margajaya itu, menurut Adwidi, awalnya menginginkan sebuah hiburan menjelang panen. “Hiburan yang ditujukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya. “Dari keinginan itulah dibuat topeng-topeng hewan, ditambah iringan musik agar semakin menghibur,” ucapnya.

Meski awalnya diadakan saat panen tiba,  Adwidi menyebutkan, seni badud belakangan makin berkembang. Tak hanya menjelang panen, seni badud juga digelar saat pernikahan atau khitanan. Sebab, kesenian dinilai memiliki warisan kesenian leluhur tersebut. Dusun Margajaya sampai sekarang dikenal dengan sebagai Kampung Badud. Seiring dengan berjalannya waktu, kesenian ini terus dilestarikan dan diajarkan turun-temurun.

Untuk mencapai kampung yang asri ini tidak mudah. Dari jalan raya Cijulang, Pangandaran, kendaraan yang saya tumpangi memasuki jalan desa sejauh 8 kilometer dengan kontur jalan naik-turun dan berkelok-kelok. Kami melewati ladang, kebun, dan hutan.

Ini adalah jalur yang cocok bagi pengunjung yang senang berpetualang. Namun kendaraan yang saya tumpangi harus berhenti di ujung jembatan gantung. Sebab, jembatan gantung yang dinamakan Jembatan Pongpet oleh warga setempat itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau berjalan kaki.

Jembatan sepanjang 63 meter ini menghubungkan Kampung Margajaya dengan Desa Margacinta. Tak jauh dari jembatan, telah berdiri sebuah saung pementasan seni badud. “Desa Margacinta lahir pada 1870, jauh sebelum Indonesia merdeka. Desa ini awalnya merupakan gabungan antara Desa Kolot dan Dusun Balengbeng. Kendati begitu, sampai hari ini Kampung Margajaya masih terisolasi. Margajaya belum bisa dilewati kendaraan roda empat,” ujar Edi Supriadi, Kepala Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

Namun Edi yakin, jika pemerintah daerah ikut membantu memperbaiki akses jalan, seni badud akan menjadi daya tarik wisata budaya. Tentu akan mendukung Kabupaten Pangandaran yang mencanangkan diri menjadi kabupaten pariwisata. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Kerajinan Cukli Lombok Beken Sejak 1990

Kerajinan cukli Lombok mulai dari furniture hingga pernik-pernik kecil.

Kerajinan cukli Lombok makin dikenal banyak orang di seluruh dunia. Kerajinan ini sesungguhnya baru mulai diperkenalkan oleh masyarakat Lombok sejak 1990-an. Namun, karena keunikannya, kerajinan ini cepat mendunia.

Kerajinan Cukli Lombok

Nama daerah yang memproduksi kerajinan cukili yang kami datangi pada suatu pagi ini memang unik. Desa Sayang-Sayang. Desa ini termasuk wilayah Kecamatan Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berada tak jauh dari pusat kota atau hanya sekitar 4 kilometer.

Sesuai namanya, mungkin memang daerah ini harus disayang karena hasil kerajinan cukli Lombok warganya tergolong unik. Berupa perangkat atau mebel dari kayu mahoni dengan hiasan potongan kecil kerang. Teknik menempelkan kerang-kerang yang sudah dibentuk wajik supermungil itu diberi nama cukli.

Kerajinan cukli Lombok yang khas adalah pada penenaman potongan kerang di kayunya.
Teknik menanam potongan kerang di kayu pada kerajinan cukli. Foto: Dok. TL

Pagi di desa Sayang-sayang biasanya cukup hening. Beberapa toko di Lingkungan Rungkang Jangkuk —salah satu area di Desa Sayang-Sayang— itu terlihat tutup. Entah terlalu pagi atau memang karyawannya sedang libur. Yang pasti di halaman beberapa toko saya melihat kayu-kayu yang akan dijadikan mebel. Sebagian sudah terbentuk meski rampung.

Di gerai lain yang membuka pintunya lebar-lebar, pengunjung dapat melihat keindahan dari mebel dengan hiasan kerajinan cukli Lombok. Kayu mahoni nan gelap dengan serpihan kerang yang tertata rapi pun tampak sangat unik

Hasil kerajinan cukili saat ini memang tidak seperti kerajinan cukli yang dihasilkan pada 1990-an. Dulu hasil kerajinan biasanya dengan kayu yang dibiarkan kasar sehingga lebih kental dengan aksen antik.

“Pada tahun 2000- an, pembeli lebih senang memiliki mebel dengan pelitur mengkilat,” kata H. Nasir, pemilik Dodik Art Shop. Di ruang pamernya yang cukup luas, pengunjung bisa menemukan kursi dengan hiasan cukli.

Harga satu set kursi tamu itu berkisar Rp 9-11 juta. DI Bagian lain ruang pamernya, pengunjung bisa menemukan lemari dengan sentuhan akhir yang sama mengkilap, tempat tidur, satu set meja makan. Atau produk-produk kerajinan kecil seperti kotak perhiasan, tempat tisu, alas gelas, rehan atau tempat Al-Quran, dan bingkai cermin. Tentunya juga peti Lombok dalam tampilan yang sama.

Dari cerita sejumlah pemilik usaha kerjainan cukli. Awalnya, teknik cukli diterapkan pada peti yang kemudian dikenal dengan peti Lombok. Produk ini sebenarnya merupakan tempat perhiasan perempuan suku Sasak. Aslinya terbuat dari pelepah aren atau pandan.

Ketika banyak penduduk di lingkungan Jungkang yang berprofesi sebagai pedagang barang antik, peti perhiasan itu pun menjadi salah satu yang diperdagangkan, selain beragam barang lain. Saat barang antik sulit ditemukan dan memperhatikan minat pasar akan peti antik, maka dibuatlah peti baru dengan teknik cukli. Hal yang tetap dipertahankan dari peti-peti Lombok baru ini adalah model lawasnya.

Pada 1990-an, seperti dikatakan oleh Nasir yang memulai usahanya pada 1985, peti Lombok memang naik daun dan gerai kerajinan yang ada di daerah pun mencapai 70-an. Saat ini, jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan jumlah perajin menurun karena benturan modal yang besar.

Oleh karena itu, hanya produknya yang berkembang dan tidak melulu hanya peti Lombok dalam berbagai ukuran. Dengan variasi ukuran itu, harganya pun lebih bervariasi, yakni dari Rp 100 ribu hingga belasan juta rupiah.

]Nasir menjelaskan, bahan yang digunakan sebagai dasar kerajinan adalah kayu mahoni dengan tahap pembuatan mencapai dua bulan. Pembuatan tersebut menjalani proses yang panjang. Sebab, setelah menjadi rangkaian perabot, kayu terlebih dulu dipahat untuk menempatkan kerang-kerang imut tersebut. Tahap itu memerlukan waktu 2-3 minggu dan dilanjutkan pemasangan kepingan kerang selama 2-3 minggu.

Terakhir, adalah dilakukan pengampelasan hingga 10 hari. Dilakukan hingga enam kali dan hasilnya kayu pun benar-benar halus. Tahap terakhir baru dipulas dengan pelitur glossy dan dijemur di bawah sinar mentari. Memang berbeda dengan produk awal pada 1990-an yang umumnya terlihat kasar.

Membuat kerang hingga menjadi potongan mungil pun juga membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Bahan dasarnya bukan sembarangan kerang yang dipakai, melainkan kerang besar yang berdiameter 25-30 sentimeter. Ini khusus didatangkan dari Sulawesi dan Flores. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati dan penyesuaian ukuran dengan desain produknya.

Kerajinan cukli benar-benar sebuah perjalanan panjang untuk sebuah karya seni. Taka da salahnya Anda memiliki salah satu koleksi produknya.

agendaIndonesia/TL/Rita

*****

Oleh-oleh dari Jambi, 5 Yang Legit Dan Keren

Ini 4 tempat belanja asyik batik di Jambi. Gunung Kerinci salah satu inspirasi motif batik.

Oleh-oleh dari Jambi masih jarang didengar, sebab daerah ini pun masih jarang dilirik para traveler. Padahal daerah ini punya segudang potensi buah tangan sebagai bawaan perjalanan ke sini, mulai dari batik, rambutan, lempok durian, kopi, hingga pempek.

Oleh-oleh Dari Jambioleh-oleh dari jambi

Jambi lebih dikenal dengan Gunung dan Danau Kerinci, yang terdapat di wilayah Kabupaten Kerinci. Kota Jambi sebenarnya menyimpan potensi wisata yang menarik, di antaranya Sungai Batanghari, tempat orang bisa menyaksikan keindahan mentari terbit di ufuk timur ataupun tenggelam di sisi barat.

Di sisi sungai terpanjang di Sumatera itu terdapat suatu kawasan asli penduduk Jambi. Orang Jambi menyebutnya Sekoja, yang merupakan singkatan dari Seberang Kota Jambi. Letaknya memang berseberangan dengan Kota Jambi karena terpisahkan sungai. Saat meninggalkan kota ini, sebagian besar pengunjung Kota Jambi juga biasanya membawa oleh-oleh yang tak terlupakan. Ada batik Jambi, rambutan goreng, lempok durian, kopi AAA, dan Pempek Selamat. Tertarik?

Warna Alami Batik Jambi

Masyarakat Sekoja kental dengan berbagai tradisi dan budaya. Salah satunya membuat batik khas Jambi. Warna khas pada batik Jambi adalah merah, kuning, dan biru. Sebagian besar pewarna diambil dari bahan-bahan alami, yaitu campuran ragam kayu dan tumbuhan yang ada di Jambi, seperti getah kayu lambato, buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi, dan kayu sepang.

Motifnya juga unik, di antaranya corak kaca piring, candi muara jambi, bulan sabit, awan berarak, angso duo bersayap mahkota, bunga teratai, durian kecil, batanghari, kapal sanggat, kuwaw berhias, dan buah manggis. Di Jambi, batik biasanya berbentuk sarung dan selendang. Karena itu, dijual dalam ukuran per dua meter.

Di Sekoja terdapat beberapa sanggar batik. Pengunjung dapat melihat pembuatan batik dan bahkan terlibat langsung dalam proses itu. Bila ada yang menawan hati, pengunjung bisa membelinya pula. Selain di Sekoja, sentra kerajinan batik ada di daerah Simpang Pulai dan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk. Mengenai harganya, batik berbahan katun rata-rata Rp 70-180 ribu per dua meter, sedangkan yang dari sutera Rp 250-350 ribu per dua meter. Untuk produk batik siap pakai, dijual dengan harga mulai Rp 150 ribu.

Kreasi Batik Asmah; Jalan H Somad No. 41; Olak Kemang

Rambutan Goreng Rasa Kurma

Buah rambutan biasanya dikonsumsi dalam keadaan segar. Selain dimakan langsung, ada yang dikemas dalam kaleng dan sebagai manisan. Proses pengolahan seperti ini membuat buah rambutan bisa dinikmati kapan saja, hingga di luar musimnya.

Selain diolah menjadi buah kaleng atau manisan, ternyata rambutan dapat menjadi camilan yang cukup unik. Di Jambi, rambutan disulap menjadi rambutan goreng. Untuk membuatnya, rambutan yang telah dikupas diolah sedemikian rupa sampai kering. Rambutan yang sudah kering kemudian digoreng dalam baluran tepung terigu yang telah dicampur dengan sedikit garam. Rasanya manis seperti kurma.

Gedung Dekranasda; Jalan Jenderal Sudirman; Jambi

Oleh-oleh dari Jambi teryata cukup banyak macamnya, mulai dari batik hingga makanan lempok durian yang legit.
Lempok durian Jambi, salah satu oleh-oleh dari daerah ini. Foto: Dok TL/Aditia N.

Lempok Durian nan Legit

Rasanya belum puas jika menginjakkan kaki ke Pulau Sumatera tapi belum mencicipi kelegitan lempok durian. Lempok adalah penganan sejenis dodol yang terbuat dari buah durian. Pembuatan lempok dilakukan secara turun-temurun dan terbilang masih sangat tradisional.

Lempok durian pun menjadi oleh-oleh yang populer di Jambi, terutama bagi pencinta buah berkulit keras dan tajam tersebut. Cara pengolahan lempok di masing-masing daerah sebetulnya sama. Yang berbeda adalah teknik membungkusnya. Di Jambi, lempok dibungkus dengan plastik transparan. Harganya bervariasi.

Gedung Dekranasda; Jalan Jenderal Sudirman; Jambi

Oleh-oleh dari Jambi bisa dibawa untuk kenang-kenangan perjalanan ke daerah ini. Salah satunya kopi.
Kopi susu yang bisa dinikmati di tempat, juga tersedia kopi bubuk dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Foto: Dok. Unsplash

Aroma Khas Kopi AAA

Kedai kopi mudah ditemui di perempatan Jalan Hayam Wuruk, Jambi. Kebanyakan kedai ini sangat sederhana, tapi selalu ramai oleh pengunjung, khususnya kaum pria. Ada beberapa jenis minuman kopi yang dijual di sana, yakni kopi murni, kopi susu, dan kopi telur.

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat semua sajian itu adalah kopi bubuk cap AAA. Kabarnya, kopi produksi PT Nego itu telah diracik secara turun-temurun dari beberapa generasi sejak 1966 hingga sekarang. Warna kopi AAA hitam pekat, rasanya lebih pahit. Aroma harum kopi ini hampir selalui dijumpai di toko, warung, atau kedai kopi.

Toko Kopi Sari Rasa; Jalan Hayam Wuruk; Jambi

Pempek Spesial

Makanan berbahan baku tepung kanji dan gilingan ikan tenggiri ini memang dikenal sebagai hidangan khas Palembang. Namun bukan berarti pempek tak tersedia di Kota Jambi. Di dekat Bandara Sultan Thaha terdapat restoran Pempek Selamat, yang terkenal.

Biasanya, sebelum meninggalkan Kota Jambi, para wisatawan menyempatkan membeli pempek mentah untuk digoreng setiba di rumah nanti. Pempek mentah itu ditaburi tepung agar tidak lengket satu sama lain dan dikemas dalam dus khusus. Terdapat berbagai pilihan pempek dalam satu paket, seperti kapal selam, lenggang, kulit, bulat, dan adaan. Harga per paket untuk dibawa pulang adalah mulai dari Rp 100 ribu.

Restoran Pempek Selamat; Jalan Soekarno-Hatta 8; Jambi

Andry T./Aditia N./TL/agendaIndonesia

*****

Tanjidor Grup 3 Saudara Mengalun Ikuti Zaman

Tanjidor grup 3 saudara, warna kesenian Betawi

Tanjidor Grup 3 Saudara mengalun mengikuti zaman, meskipun kini kian jarang meramaikan pesta pernikahan, tapi dinanti di acara-acara kantor pemerintahan.

Tanjidor Grup 3 Saudara

Suara piston, trombon, dan klarinet khas musik Betawi itu kerap terdengar saat saya tinggal di sekitar Rawa Belong, Jakarta Barat, pada 1990-an. Kala ada tetangga yang menggelar pesta pernikahan, lantunan lagu-lagu lawas dari kesembilan pemain tanjidor pun langsung mengundang warga untuk datang. Asyiknya menyaksikan pengantin dan tentunya para seniman bercelana pangsi dengan sarung di leher yang memainkan alat-alat musik jadul.

Kian lama kian jarang terdengar. Hingga saya temukan kembali di panggung di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, juga acara budaya, dan tentunya yang mencuat manakala ibu kota negeri ini merayakan ulang tahunnya. Tanjidor atau tanji, demikian Sait, 71 tahun, dari kelompok tanjidor Tiga Saudara, menyebutnya. Sebenarnya yang asli, menurut dia, adalah tanji. “Ciri khas tanji itu seragam. Terus harus lengkap ada sembilan orang,” katanya. Menjadi tanjidor kalau ada tambahan sinden. “Sinden itu jidoran, ada ngibing juga,” ia menambahkan.

Grup Tiga Saudara yang berdiri sejak 1973 itu kadang-kadang diminta tampil lengkap dengan penyanyi dan penari, yang biasanya diambil dari sanggar lain. Kadang tak melulu penari Betawi. Ada juga jaipongan, dan tentunya tembang-tembang Sunda untuk pengiringnya.

Para pemainnya umumnya berjumlah 7-9 orang. Instrumen yang digunakan adalah piston, klarinet, tenor, trombon, bas, tambur, beduk, panil, dan kecrek. Namun secara umum dibagi dua jenis, yakni alat musik tiup dan pukul, meski ada juga perkusi, yang diwakili oleh kecrek. Dalam komposisi yang lebih lengkap, ditambahkan gong dan kempul.

Yang menjadi ciri khas adalah bas. Bentuknya melingkar dan, saat pemainnya beraksi, alat musik itu membelit tubuh. “Tenaganya harus gede,” ujar Saman, sang peniup. Alat ini pun termasuk barang paling antik di antara perangkat yang ada. Sudah beberapa kali diperbaiki karena tak menghasilkan suara yang prima lagi. Di dekat logonya, ada merek dan tahun produksi—MJH Kessels “Jilburg” Bass 1894. Benar-benar sudah kuno.

Gampang-gampang susah memainkan orkestra tanjidor. Itu karena tanjidor tak ada partitur khusus, yang bisa mempermudah ketika mempelajarinya secara sistematis. Lagu dan iramanya diwariskan dari generasi ke generasi berdasarkan pengalaman mendengar dan merasakan. “Iramanya di hati kita sendiri,” ujar Sait. Karena itu, menurut dia, latihan menjadi hal utama. “Kalau latihan semalam dua jam saja, seharusnya dua bulan udah bisa satu lagu,” katanya meyakinkan. Sayangnya, tak semua pemuda dan anak-anak telaten dalam soal ini. Meski demikian, kini di markas grup tanjidor di Gang Kecapi, Jagakarsa, tak hanya pemain berusia 60-an yang berkumpul, tapi para pemuda pun mulai tampil.

Sait menyebutkan, lagu-lagu yang paling sering dibawakan adalah lagu-lagu Betawi dan Sunda, seperti Jali-jali dan Kicir-kicir. Namun biasanya setiap pertunjukan akan dibuka dengan maras. Lagu-lagu yang dibawakan memang lagu lama, tidak ada lagu baru. Dari alat musik yang tersedia pun tak bisa lahir tembang anyar. Dulu, memang ada lagu-lagu campuran, seperti Portugis dan Belanda, tapi kini sudah tak lagi dilantunkan.

Biasanya, pentas terbagi dalam dia sampai tiga babad yang membawakan maras, kemudian disusul lagu-lagu Betawi, ditambah tembang Sunda. “Biasanya dari jam 9 pagi sampai 4 sore. Lagu Betawi biasanya di pembukaan,” Sait menuturkan. Cuma, memang, jadwal mentasgrup tanjidor semakin jarang. Kebanyakan penyelenggara keriaan di kampung-kampung Betawi saat pernikahan dan khitanan memilih organ tunggal atau orkes dangdut. “Kalah dah bersaing dengan dangdut,” ujarnya.

Akhirnya, hanya acara-acara khusus yang menjadi langganan Tiga Saudara, selain masih ada beberapa perhelatan di Gandul, Jakarta Selatan. Kebanyakan panggilan saat acara di kampus, sekolah, dan kantor pemerintah daerah. Tiga Saudara sebenarnya bukan satu-satunya tanjidor di Jakarta Selatan. Masih ada grup lain di Warung Buncit dan Cijantung. Juga di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Depok, Tangerang dan sekitarnya, hingga ke wilayah Bogor. l


Warisan Portugis

Abad ke-18 sering disebut sebagai awal kelahiran tanjidor. Dibawa oleh bangsa Portugis ketika masuk ke negeri ini. Kata tanjidor dinyatakan berasal dari bahasa Portugis, “tanger”, yang dalam bahasa Indonesia berarti bermain musik. Di Portugal, kesenian ini biasanya dimainkan pada saat pawai militer atau upacara keagamaan. Adapun pemainnya disebut tangedor. Tak mengherankan kalau kemudian nama yang merebak adalah tanjidor. Namun grup musik ini kemudian lebih dikenal lagi pada zaman penjajahan Belanda. Benar-benar merebak pada abad ke-19.

Pemainnya merupakan budak-budak dari tuan tanah dari Negeri Kincir Angin. Karena itu, mereka dikenal juga sebagai Slaven-orkes. Grup dibentuk karena para penguasa itu membutuhkan hiburan. Valckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada zaman itu, tercatat memiliki grup musik yang terdiri atas 15 pemain alat musik tiup, ditambah pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta.

Ketika penjajah kembali ke negerinya, kelompok musik itu tak langsung bubar. Mereka bertahan meski kemudian tembang-tembang tak lagi bersentuhan erat dengan Belanda dan Portugis. Lebih fokus pada lagu-lagu Betawi bercampur Sunda. Ketika masa penjajahan, yang mereka bawakan antara lain Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Cakranegara, dan Welmes. Irama lebih pada mars dan waltz. Sedangkan lagu-lagu Betawi yang dimainkan di antaranya Jali-jali, Surilang, Cente Manis, Kicir-kicir, Sirih Kuning, Stambul, dan Persi. Sementara tembang Sunda semisal Kangaji dan Oncom Lele.

Pada 1950-an, kebanyakan grup tanjidor membuat pentas keliling alias ngamen untuk mencari nafkah. Mereka tampil di depan rumah-rumah elite di daerah Menteng, Kebayoran Baru. Hanya saja, aksi seni mereka tiba-tiba dipangkas oleh keputusan Pemda DKI Jakarta pada 1954, yang melarang grup tanjidor main di pusat kota. Mereka pun akhirnya memilih tampil di pinggiran kota. Karena itulah, perkembangannya terjadi di daerah Tangerang, Depok, dan Bogor. l Berbagai Sumber

Rita N./Nunu N./Dok. TL