Menikmati 1001 Kisah Negeri Sendiri

menikmati 1001 kisah negeri sendiri bersama Komunitas Historia Indonesia

Menikmati 1001 kisah negeri sendiri tentang sejarah dan budaya. Banyak program yang disusun Komunitas dengan menarik. Wisata pun menambah wawasan dan mengungkap kesadaran.

Menikmati 1001 Kisah Negeri Sendiri

Jarum jam arloji menunjukkan tepat pukul 20.00 WIB. Hujan yang mengguyur sejak sore belum juga reda. Meski begitu, ratusan anggota Komunitas Historia Indonesia  (KHI) tetap semangat mengikuti “Wisata Malam Kota Tua Jakarta”. Mereka tetap antusias menyambangi tempat-tempat sejarah yang mungkin belum diketahui, meski cukup lama tinggal di Jakarta.

Ya, mungkin boleh dibilang orang yang mengetahui jika Museum Fatahillah itu dulunya bernama Stadhuis alias Balai Kota masih terhitung dengan jari. Begitu pula dengan Stadhuis Plein, sebutan untuk Taman Fatahillah; Raad van Justitie, yang dulunya Benteng Batavia kini dinamakan Museum Seni Rupa dan Keramik; atau Hoenderpasar Broeg, nama lain Jembatan Kota Intan pada zaman kolonial.

menikmati 1001 kisah negeri sendiri bersama aktivitas KHI
Kmunitas Hirtoria Indonesia sedang beraktivitas menikmati sejarah Jakarta. Dok KHI

Komunitas penggemar sejarah ini memang mengenalkan situs-situs sejarah bangsa dengan cara berbeda. Pada acara bertajuk “China Town Journey”, misalnya. Para anggota KHI menyambangi The Groote Kanaal atau Kali Besar, Pasar Pagi, Rumah Keluarga Souw, eks Gedung Tiong Hoa Howe Kwan, Klenteng Toa Sai Bio, Gereja St Maria De Fatima, Klenteng Jin De Juan, dan Pasar Glodok.

China Town Journey juga digelar tahun ini, tepatnya sehari menjelang perayaan Hari Raya Imlek nanti. “Namun temanya berbeda. Kali ini kami akan mengajak para peserta mengunjungi tempat-tempat yang dulunya dijadikan pusat prostitusi, perjudian, dan perdagangan madat,” ucap Asep Kambali, pendiri dan Ketua Umum KHI.

Meski terkesan negatif, pria yang akrab disapa Kang Asep itu ingin memperlihatkan jika keberadaan etnis Tionghoa sudah ada sejak dulu dan tak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya, kata Kang Asep, kawasan Pecinan selalu menjadi penopang sekaligus jantung yang menggerakkan detak perekonomian. “Kami berharap, adanya acara seperti itu dapat meningkatkan kesadaran kita sebagai warga negara Indonesia sehingga meningkatkan toleransi berwarga negara,” ujarnya.

Di lain kesempatan, para anggota penggemar sejarah itu juga tampil di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dalam rangka 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Indonesia. Mereka berdandan menyerupai sosok Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Pandit Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, Presiden Gamal Abdul Nasser, dan Raja Faisal.

KHI juga menggelar program Night at The Museum pada kesempatan lain. Sesuai dengan namanya, para peserta diajak melakukan tur museum di tengah malam. Sekali waktu, mereka juga menjelajahi kawasan Pulau Seribu untuk mengamati benteng-benteng peninggalan Belanda yang ada di sana.

Banyak kegiatan yang diadakan komunitas yang berdiri pada 22 Maret 2003 itu. Tentu semua tak lepas dari sejarah dan budaya. Pada awal berdiri, KHI diberi nama KPSBI-Historia, kependekan dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia-Historia. Namun pada 2005, KPSBI-Historia berganti nama menjadi Komunitas Historia Indonesia atau KHI.

Hingga kini, anggota KHI sudah mencapai 23.500 orang yang tersebar tak hanya di Indonesia, tapi sampai luar negeri. KHI memiliki jenis keanggotaan pasif dan aktif. Anggota pasif berupa anggota yang hanya melakukan registrasi via situs KHI, tapi tidak mengisi formulir lanjutan via situs  yang sama untuk verifikasi. Anggota jenis ini bersifat gratis, tapi memiliki fasilitas terbatas.

Seddangkan anggota aktif merupakan anggota yang telah mengisi formulir lanjutan via website yang sama. Selanjutnya, anggota mengisi formulir di sekretariat KHI dan telah berkontribusi membayar biaya registrasi sebesar Rp 300 ribu satu kali seumur hidup, sudah termasuk iuran bulanan untuk tahun berjalan. Keanggotaan jenis ini memiliki fasilitas penuh. Untuk mengkomunikasi program-programnya, KHI menggunakan sarana situs, Blog,Twitter, dan Facebook.

Berbagai prestasi dan penghargaan sempat diraih KHI, seperti Komunitas Peduli Museum, Most Recommended Consumer Community Award, The Best Enterpreneurial & Business ConsumunityAward, dan Pengabdian terhadap Kelestarian Budaya Indonesia.

Penghargaan-penghargaan itu diraih karena KHI dinilai berhasil mengemas paket tur yang mengedepankan konsep rekreasi, edukasi, dan hiburan agar sejarah tidak lagi membosankan. Namun yang terpenting, menurut Kang Asep, KHI berharap warga Indonesia menjadi turis di negerinya sendiri.

Kontak KHI

Email info@komunitashistoria.com

Andry T./Dok. TL/Dok. Komunitas Historia Indonesia

Seni Kampung Badud, Warisan Tahun 1868

Senin Kampung Badud

Seni Kampung Badud, rasanya hampir tak ada orang dari luar kawasan Pangandaran yang tahu. Ini memang kampung yang masih agak terisolasi di Kabupaten Panganaran, Jawa Barat, namun ia memiliki tradisi seni sejak ratusan tahun silam. Buat, sebagian orang, kesenian ini mungkin terasa asing. Namun, ia memiliki ragam kesenian Sunda yang cukup lengkap.

Seni Kampung Badud

Hening tadinya membalut Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Pangandaran, Jawa Barat. Namun mendadak riuh ketika rombongan pengantin sunat dengan pemain musik, yang mengenakan pangs –pakaian pria tradisional Sunda–melintas jalan dusun, siang itu. Suara musik dog-dog, angklung, gendang, dan gong muncul silih berganti, dan langsung memecah keheningan.

Pemain topeng juga tak kalah semangat. Meski menggunakan topeng lengkap dengan kostum kakek-nenek, macan, babi hutan, kera, dan lutung, mereka tetap bergoyang mengikuti irama dengan enerjik.

Perjalanan rombongan terhenti saat mereka tiba di tempat hajatan. Begitu pula dengan alunan musik. Semua pemain musik menghentikan atraksinya. Suasana kembali sunyi. Namun tak berlangsung lama. Setelah sesaji berupa ayam bakar, minyak kelapa, telur, kopi, teh, dan lainnya digelar, doa-doa dalam bahasa Sunda dipanjatkan, musik pun kembali mengalun. Bau kemenyan menyeruak ke udara. Semua menyatu dalam keriuhan.

Pemain topeng, yang menggunakan kostum kera dan lutung, langsung lincah di tengah arena. Gerakan tubuhnya mirip dengan hewan, merangkak, melompat, terkadang menggaruk-garuk tubuh. Orang yang bertugas sebagai pawang sibuk menenangkan mereka.

Belum selesai, kini muncul pemain topeng yang menggunakan kostum macan dan babi hutan merangsek arena. Gerakan tubuhnya menyerupai hewan yang sama dengan kostumnya. Tak hanya bergerak, sang macan mengambil sesaji dan memakannya.

Lain halnya dengan pemain topeng kakek-nenek. Meski sama-sama kerasukan, keduanya bergerak lebih tenang layaknya orang yang memang sudah lanjut usia. Kendati begitu, sang pawang tetap saja sibuk menyadarkan mereka saat acara mulai berakhir. Kini giliran doa untuk pengantin sunat dipanjatkan. Beras dan permen dilemparkan ke tubuh pengantin sunat oleh orang yang dituakan di dusun tersebut.

“Inilah yang dinamakan kesenian badud,” ujar H. Adwidi, Ketua Badud Rukun Sawargi kepada Traveloungeyang berkesempatan menyaksikan langsung atraksi tersebut. Menurut Adwidi, seni badud diciptakan pada 1868 oleh Ki Ijot dan Ki Ardasim. Dua tokoh petani Dusun Margajaya itu, menurut Adwidi, awalnya menginginkan sebuah hiburan menjelang panen. “Hiburan yang ditujukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya. “Dari keinginan itulah dibuat topeng-topeng hewan, ditambah iringan musik agar semakin menghibur,” ucapnya.

Meski awalnya diadakan saat panen tiba,  Adwidi menyebutkan, seni badud belakangan makin berkembang. Tak hanya menjelang panen, seni badud juga digelar saat pernikahan atau khitanan. Sebab, kesenian dinilai memiliki warisan kesenian leluhur tersebut. Dusun Margajaya sampai sekarang dikenal dengan sebagai Kampung Badud. Seiring dengan berjalannya waktu, kesenian ini terus dilestarikan dan diajarkan turun-temurun.

Untuk mencapai kampung yang asri ini tidak mudah. Dari jalan raya Cijulang, Pangandaran, kendaraan yang saya tumpangi memasuki jalan desa sejauh 8 kilometer dengan kontur jalan naik-turun dan berkelok-kelok. Kami melewati ladang, kebun, dan hutan.

Ini adalah jalur yang cocok bagi pengunjung yang senang berpetualang. Namun kendaraan yang saya tumpangi harus berhenti di ujung jembatan gantung. Sebab, jembatan gantung yang dinamakan Jembatan Pongpet oleh warga setempat itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau berjalan kaki.

Jembatan sepanjang 63 meter ini menghubungkan Kampung Margajaya dengan Desa Margacinta. Tak jauh dari jembatan, telah berdiri sebuah saung pementasan seni badud. “Desa Margacinta lahir pada 1870, jauh sebelum Indonesia merdeka. Desa ini awalnya merupakan gabungan antara Desa Kolot dan Dusun Balengbeng. Kendati begitu, sampai hari ini Kampung Margajaya masih terisolasi. Margajaya belum bisa dilewati kendaraan roda empat,” ujar Edi Supriadi, Kepala Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

Namun Edi yakin, jika pemerintah daerah ikut membantu memperbaiki akses jalan, seni badud akan menjadi daya tarik wisata budaya. Tentu akan mendukung Kabupaten Pangandaran yang mencanangkan diri menjadi kabupaten pariwisata. l

Andry T./P. Mulia/Dok. TL

Kerajinan Cukli Lombok Beken Sejak 1990

Kerajinan cukli Lombok mulai dari furniture hingga pernik-pernik kecil.

Kerajinan cukli Lombok makin dikenal banyak orang di seluruh dunia. Kerajinan ini sesungguhnya baru mulai diperkenalkan oleh masyarakat Lombok sejak 1990-an. Namun, karena keunikannya, kerajinan ini cepat mendunia.

Kerajinan Cukli Lombok

Nama daerah yang memproduksi kerajinan cukili yang kami datangi pada suatu pagi ini memang unik. Desa Sayang-Sayang. Desa ini termasuk wilayah Kecamatan Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berada tak jauh dari pusat kota atau hanya sekitar 4 kilometer.

Sesuai namanya, mungkin memang daerah ini harus disayang karena hasil kerajinan cukli Lombok warganya tergolong unik. Berupa perangkat atau mebel dari kayu mahoni dengan hiasan potongan kecil kerang. Teknik menempelkan kerang-kerang yang sudah dibentuk wajik supermungil itu diberi nama cukli.

Kerajinan cukli Lombok yang khas adalah pada penenaman potongan kerang di kayunya.
Teknik menanam potongan kerang di kayu pada kerajinan cukli. Foto: Dok. TL

Pagi di desa Sayang-sayang biasanya cukup hening. Beberapa toko di Lingkungan Rungkang Jangkuk —salah satu area di Desa Sayang-Sayang— itu terlihat tutup. Entah terlalu pagi atau memang karyawannya sedang libur. Yang pasti di halaman beberapa toko saya melihat kayu-kayu yang akan dijadikan mebel. Sebagian sudah terbentuk meski rampung.

Di gerai lain yang membuka pintunya lebar-lebar, pengunjung dapat melihat keindahan dari mebel dengan hiasan kerajinan cukli Lombok. Kayu mahoni nan gelap dengan serpihan kerang yang tertata rapi pun tampak sangat unik

Hasil kerajinan cukili saat ini memang tidak seperti kerajinan cukli yang dihasilkan pada 1990-an. Dulu hasil kerajinan biasanya dengan kayu yang dibiarkan kasar sehingga lebih kental dengan aksen antik.

“Pada tahun 2000- an, pembeli lebih senang memiliki mebel dengan pelitur mengkilat,” kata H. Nasir, pemilik Dodik Art Shop. Di ruang pamernya yang cukup luas, pengunjung bisa menemukan kursi dengan hiasan cukli.

Harga satu set kursi tamu itu berkisar Rp 9-11 juta. DI Bagian lain ruang pamernya, pengunjung bisa menemukan lemari dengan sentuhan akhir yang sama mengkilap, tempat tidur, satu set meja makan. Atau produk-produk kerajinan kecil seperti kotak perhiasan, tempat tisu, alas gelas, rehan atau tempat Al-Quran, dan bingkai cermin. Tentunya juga peti Lombok dalam tampilan yang sama.

Dari cerita sejumlah pemilik usaha kerjainan cukli. Awalnya, teknik cukli diterapkan pada peti yang kemudian dikenal dengan peti Lombok. Produk ini sebenarnya merupakan tempat perhiasan perempuan suku Sasak. Aslinya terbuat dari pelepah aren atau pandan.

Ketika banyak penduduk di lingkungan Jungkang yang berprofesi sebagai pedagang barang antik, peti perhiasan itu pun menjadi salah satu yang diperdagangkan, selain beragam barang lain. Saat barang antik sulit ditemukan dan memperhatikan minat pasar akan peti antik, maka dibuatlah peti baru dengan teknik cukli. Hal yang tetap dipertahankan dari peti-peti Lombok baru ini adalah model lawasnya.

Pada 1990-an, seperti dikatakan oleh Nasir yang memulai usahanya pada 1985, peti Lombok memang naik daun dan gerai kerajinan yang ada di daerah pun mencapai 70-an. Saat ini, jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan jumlah perajin menurun karena benturan modal yang besar.

Oleh karena itu, hanya produknya yang berkembang dan tidak melulu hanya peti Lombok dalam berbagai ukuran. Dengan variasi ukuran itu, harganya pun lebih bervariasi, yakni dari Rp 100 ribu hingga belasan juta rupiah.

]Nasir menjelaskan, bahan yang digunakan sebagai dasar kerajinan adalah kayu mahoni dengan tahap pembuatan mencapai dua bulan. Pembuatan tersebut menjalani proses yang panjang. Sebab, setelah menjadi rangkaian perabot, kayu terlebih dulu dipahat untuk menempatkan kerang-kerang imut tersebut. Tahap itu memerlukan waktu 2-3 minggu dan dilanjutkan pemasangan kepingan kerang selama 2-3 minggu.

Terakhir, adalah dilakukan pengampelasan hingga 10 hari. Dilakukan hingga enam kali dan hasilnya kayu pun benar-benar halus. Tahap terakhir baru dipulas dengan pelitur glossy dan dijemur di bawah sinar mentari. Memang berbeda dengan produk awal pada 1990-an yang umumnya terlihat kasar.

Membuat kerang hingga menjadi potongan mungil pun juga membutuhkan waktu dan keahlian khusus. Bahan dasarnya bukan sembarangan kerang yang dipakai, melainkan kerang besar yang berdiameter 25-30 sentimeter. Ini khusus didatangkan dari Sulawesi dan Flores. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati dan penyesuaian ukuran dengan desain produknya.

Kerajinan cukli benar-benar sebuah perjalanan panjang untuk sebuah karya seni. Taka da salahnya Anda memiliki salah satu koleksi produknya.

agendaIndonesia/TL/Rita

*****

Oleh-oleh dari Jambi, 5 Yang Legit Dan Keren

Ini 4 tempat belanja asyik batik di Jambi. Gunung Kerinci salah satu inspirasi motif batik.

Oleh-oleh dari Jambi masih jarang didengar, sebab daerah ini pun masih jarang dilirik para traveler. Padahal daerah ini punya segudang potensi buah tangan sebagai bawaan perjalanan ke sini, mulai dari batik, rambutan, lempok durian, kopi, hingga pempek.

Oleh-oleh Dari Jambioleh-oleh dari jambi

Jambi lebih dikenal dengan Gunung dan Danau Kerinci, yang terdapat di wilayah Kabupaten Kerinci. Kota Jambi sebenarnya menyimpan potensi wisata yang menarik, di antaranya Sungai Batanghari, tempat orang bisa menyaksikan keindahan mentari terbit di ufuk timur ataupun tenggelam di sisi barat.

Di sisi sungai terpanjang di Sumatera itu terdapat suatu kawasan asli penduduk Jambi. Orang Jambi menyebutnya Sekoja, yang merupakan singkatan dari Seberang Kota Jambi. Letaknya memang berseberangan dengan Kota Jambi karena terpisahkan sungai. Saat meninggalkan kota ini, sebagian besar pengunjung Kota Jambi juga biasanya membawa oleh-oleh yang tak terlupakan. Ada batik Jambi, rambutan goreng, lempok durian, kopi AAA, dan Pempek Selamat. Tertarik?

Warna Alami Batik Jambi

Masyarakat Sekoja kental dengan berbagai tradisi dan budaya. Salah satunya membuat batik khas Jambi. Warna khas pada batik Jambi adalah merah, kuning, dan biru. Sebagian besar pewarna diambil dari bahan-bahan alami, yaitu campuran ragam kayu dan tumbuhan yang ada di Jambi, seperti getah kayu lambato, buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi, dan kayu sepang.

Motifnya juga unik, di antaranya corak kaca piring, candi muara jambi, bulan sabit, awan berarak, angso duo bersayap mahkota, bunga teratai, durian kecil, batanghari, kapal sanggat, kuwaw berhias, dan buah manggis. Di Jambi, batik biasanya berbentuk sarung dan selendang. Karena itu, dijual dalam ukuran per dua meter.

Di Sekoja terdapat beberapa sanggar batik. Pengunjung dapat melihat pembuatan batik dan bahkan terlibat langsung dalam proses itu. Bila ada yang menawan hati, pengunjung bisa membelinya pula. Selain di Sekoja, sentra kerajinan batik ada di daerah Simpang Pulai dan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk. Mengenai harganya, batik berbahan katun rata-rata Rp 70-180 ribu per dua meter, sedangkan yang dari sutera Rp 250-350 ribu per dua meter. Untuk produk batik siap pakai, dijual dengan harga mulai Rp 150 ribu.

Kreasi Batik Asmah; Jalan H Somad No. 41; Olak Kemang

Rambutan Goreng Rasa Kurma

Buah rambutan biasanya dikonsumsi dalam keadaan segar. Selain dimakan langsung, ada yang dikemas dalam kaleng dan sebagai manisan. Proses pengolahan seperti ini membuat buah rambutan bisa dinikmati kapan saja, hingga di luar musimnya.

Selain diolah menjadi buah kaleng atau manisan, ternyata rambutan dapat menjadi camilan yang cukup unik. Di Jambi, rambutan disulap menjadi rambutan goreng. Untuk membuatnya, rambutan yang telah dikupas diolah sedemikian rupa sampai kering. Rambutan yang sudah kering kemudian digoreng dalam baluran tepung terigu yang telah dicampur dengan sedikit garam. Rasanya manis seperti kurma.

Gedung Dekranasda; Jalan Jenderal Sudirman; Jambi

Oleh-oleh dari Jambi teryata cukup banyak macamnya, mulai dari batik hingga makanan lempok durian yang legit.
Lempok durian Jambi, salah satu oleh-oleh dari daerah ini. Foto: Dok TL/Aditia N.

Lempok Durian nan Legit

Rasanya belum puas jika menginjakkan kaki ke Pulau Sumatera tapi belum mencicipi kelegitan lempok durian. Lempok adalah penganan sejenis dodol yang terbuat dari buah durian. Pembuatan lempok dilakukan secara turun-temurun dan terbilang masih sangat tradisional.

Lempok durian pun menjadi oleh-oleh yang populer di Jambi, terutama bagi pencinta buah berkulit keras dan tajam tersebut. Cara pengolahan lempok di masing-masing daerah sebetulnya sama. Yang berbeda adalah teknik membungkusnya. Di Jambi, lempok dibungkus dengan plastik transparan. Harganya bervariasi.

Gedung Dekranasda; Jalan Jenderal Sudirman; Jambi

Oleh-oleh dari Jambi bisa dibawa untuk kenang-kenangan perjalanan ke daerah ini. Salah satunya kopi.
Kopi susu yang bisa dinikmati di tempat, juga tersedia kopi bubuk dalam kemasan sebagai oleh-oleh. Foto: Dok. Unsplash

Aroma Khas Kopi AAA

Kedai kopi mudah ditemui di perempatan Jalan Hayam Wuruk, Jambi. Kebanyakan kedai ini sangat sederhana, tapi selalu ramai oleh pengunjung, khususnya kaum pria. Ada beberapa jenis minuman kopi yang dijual di sana, yakni kopi murni, kopi susu, dan kopi telur.

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat semua sajian itu adalah kopi bubuk cap AAA. Kabarnya, kopi produksi PT Nego itu telah diracik secara turun-temurun dari beberapa generasi sejak 1966 hingga sekarang. Warna kopi AAA hitam pekat, rasanya lebih pahit. Aroma harum kopi ini hampir selalui dijumpai di toko, warung, atau kedai kopi.

Toko Kopi Sari Rasa; Jalan Hayam Wuruk; Jambi

Pempek Spesial

Makanan berbahan baku tepung kanji dan gilingan ikan tenggiri ini memang dikenal sebagai hidangan khas Palembang. Namun bukan berarti pempek tak tersedia di Kota Jambi. Di dekat Bandara Sultan Thaha terdapat restoran Pempek Selamat, yang terkenal.

Biasanya, sebelum meninggalkan Kota Jambi, para wisatawan menyempatkan membeli pempek mentah untuk digoreng setiba di rumah nanti. Pempek mentah itu ditaburi tepung agar tidak lengket satu sama lain dan dikemas dalam dus khusus. Terdapat berbagai pilihan pempek dalam satu paket, seperti kapal selam, lenggang, kulit, bulat, dan adaan. Harga per paket untuk dibawa pulang adalah mulai dari Rp 100 ribu.

Restoran Pempek Selamat; Jalan Soekarno-Hatta 8; Jambi

Andry T./Aditia N./TL/agendaIndonesia

*****

Tanjidor Grup 3 Saudara Mengalun Ikuti Zaman

Tanjidor grup 3 saudara, warna kesenian Betawi

Tanjidor Grup 3 Saudara mengalun mengikuti zaman, meskipun kini kian jarang meramaikan pesta pernikahan, tapi dinanti di acara-acara kantor pemerintahan.

Tanjidor Grup 3 Saudara

Suara piston, trombon, dan klarinet khas musik Betawi itu kerap terdengar saat saya tinggal di sekitar Rawa Belong, Jakarta Barat, pada 1990-an. Kala ada tetangga yang menggelar pesta pernikahan, lantunan lagu-lagu lawas dari kesembilan pemain tanjidor pun langsung mengundang warga untuk datang. Asyiknya menyaksikan pengantin dan tentunya para seniman bercelana pangsi dengan sarung di leher yang memainkan alat-alat musik jadul.

Kian lama kian jarang terdengar. Hingga saya temukan kembali di panggung di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, juga acara budaya, dan tentunya yang mencuat manakala ibu kota negeri ini merayakan ulang tahunnya. Tanjidor atau tanji, demikian Sait, 71 tahun, dari kelompok tanjidor Tiga Saudara, menyebutnya. Sebenarnya yang asli, menurut dia, adalah tanji. “Ciri khas tanji itu seragam. Terus harus lengkap ada sembilan orang,” katanya. Menjadi tanjidor kalau ada tambahan sinden. “Sinden itu jidoran, ada ngibing juga,” ia menambahkan.

Grup Tiga Saudara yang berdiri sejak 1973 itu kadang-kadang diminta tampil lengkap dengan penyanyi dan penari, yang biasanya diambil dari sanggar lain. Kadang tak melulu penari Betawi. Ada juga jaipongan, dan tentunya tembang-tembang Sunda untuk pengiringnya.

Para pemainnya umumnya berjumlah 7-9 orang. Instrumen yang digunakan adalah piston, klarinet, tenor, trombon, bas, tambur, beduk, panil, dan kecrek. Namun secara umum dibagi dua jenis, yakni alat musik tiup dan pukul, meski ada juga perkusi, yang diwakili oleh kecrek. Dalam komposisi yang lebih lengkap, ditambahkan gong dan kempul.

Yang menjadi ciri khas adalah bas. Bentuknya melingkar dan, saat pemainnya beraksi, alat musik itu membelit tubuh. “Tenaganya harus gede,” ujar Saman, sang peniup. Alat ini pun termasuk barang paling antik di antara perangkat yang ada. Sudah beberapa kali diperbaiki karena tak menghasilkan suara yang prima lagi. Di dekat logonya, ada merek dan tahun produksi—MJH Kessels “Jilburg” Bass 1894. Benar-benar sudah kuno.

Gampang-gampang susah memainkan orkestra tanjidor. Itu karena tanjidor tak ada partitur khusus, yang bisa mempermudah ketika mempelajarinya secara sistematis. Lagu dan iramanya diwariskan dari generasi ke generasi berdasarkan pengalaman mendengar dan merasakan. “Iramanya di hati kita sendiri,” ujar Sait. Karena itu, menurut dia, latihan menjadi hal utama. “Kalau latihan semalam dua jam saja, seharusnya dua bulan udah bisa satu lagu,” katanya meyakinkan. Sayangnya, tak semua pemuda dan anak-anak telaten dalam soal ini. Meski demikian, kini di markas grup tanjidor di Gang Kecapi, Jagakarsa, tak hanya pemain berusia 60-an yang berkumpul, tapi para pemuda pun mulai tampil.

Sait menyebutkan, lagu-lagu yang paling sering dibawakan adalah lagu-lagu Betawi dan Sunda, seperti Jali-jali dan Kicir-kicir. Namun biasanya setiap pertunjukan akan dibuka dengan maras. Lagu-lagu yang dibawakan memang lagu lama, tidak ada lagu baru. Dari alat musik yang tersedia pun tak bisa lahir tembang anyar. Dulu, memang ada lagu-lagu campuran, seperti Portugis dan Belanda, tapi kini sudah tak lagi dilantunkan.

Biasanya, pentas terbagi dalam dia sampai tiga babad yang membawakan maras, kemudian disusul lagu-lagu Betawi, ditambah tembang Sunda. “Biasanya dari jam 9 pagi sampai 4 sore. Lagu Betawi biasanya di pembukaan,” Sait menuturkan. Cuma, memang, jadwal mentasgrup tanjidor semakin jarang. Kebanyakan penyelenggara keriaan di kampung-kampung Betawi saat pernikahan dan khitanan memilih organ tunggal atau orkes dangdut. “Kalah dah bersaing dengan dangdut,” ujarnya.

Akhirnya, hanya acara-acara khusus yang menjadi langganan Tiga Saudara, selain masih ada beberapa perhelatan di Gandul, Jakarta Selatan. Kebanyakan panggilan saat acara di kampus, sekolah, dan kantor pemerintah daerah. Tiga Saudara sebenarnya bukan satu-satunya tanjidor di Jakarta Selatan. Masih ada grup lain di Warung Buncit dan Cijantung. Juga di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Depok, Tangerang dan sekitarnya, hingga ke wilayah Bogor. l


Warisan Portugis

Abad ke-18 sering disebut sebagai awal kelahiran tanjidor. Dibawa oleh bangsa Portugis ketika masuk ke negeri ini. Kata tanjidor dinyatakan berasal dari bahasa Portugis, “tanger”, yang dalam bahasa Indonesia berarti bermain musik. Di Portugal, kesenian ini biasanya dimainkan pada saat pawai militer atau upacara keagamaan. Adapun pemainnya disebut tangedor. Tak mengherankan kalau kemudian nama yang merebak adalah tanjidor. Namun grup musik ini kemudian lebih dikenal lagi pada zaman penjajahan Belanda. Benar-benar merebak pada abad ke-19.

Pemainnya merupakan budak-budak dari tuan tanah dari Negeri Kincir Angin. Karena itu, mereka dikenal juga sebagai Slaven-orkes. Grup dibentuk karena para penguasa itu membutuhkan hiburan. Valckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada zaman itu, tercatat memiliki grup musik yang terdiri atas 15 pemain alat musik tiup, ditambah pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta.

Ketika penjajah kembali ke negerinya, kelompok musik itu tak langsung bubar. Mereka bertahan meski kemudian tembang-tembang tak lagi bersentuhan erat dengan Belanda dan Portugis. Lebih fokus pada lagu-lagu Betawi bercampur Sunda. Ketika masa penjajahan, yang mereka bawakan antara lain Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Cakranegara, dan Welmes. Irama lebih pada mars dan waltz. Sedangkan lagu-lagu Betawi yang dimainkan di antaranya Jali-jali, Surilang, Cente Manis, Kicir-kicir, Sirih Kuning, Stambul, dan Persi. Sementara tembang Sunda semisal Kangaji dan Oncom Lele.

Pada 1950-an, kebanyakan grup tanjidor membuat pentas keliling alias ngamen untuk mencari nafkah. Mereka tampil di depan rumah-rumah elite di daerah Menteng, Kebayoran Baru. Hanya saja, aksi seni mereka tiba-tiba dipangkas oleh keputusan Pemda DKI Jakarta pada 1954, yang melarang grup tanjidor main di pusat kota. Mereka pun akhirnya memilih tampil di pinggiran kota. Karena itulah, perkembangannya terjadi di daerah Tangerang, Depok, dan Bogor. l Berbagai Sumber

Rita N./Nunu N./Dok. TL

Cosplay, Merayakan Kostum Sejak 1960

cosplay adalah permainan kostum yang terus membesar komunitasnya di dunia.

Cosplay menjadi salah satu budaya pop yang menyebar ke banyak belahan dunia. Termasuk di Indonesia. Utamanya digemari oleh orang-orang muda. Begitupun, tak sedikit mereka yang sudah tak lagi terhitung muda yang menggandrunginya. Bisa jadi mereka memang bagian dari budaya pop ini sejak masih belia.

Cosplay, Merayakan Kostum

Istilah itu sendiri adalah penyebutan untuk menggambarkan seseorang yang berdandan atau berkostum menyerupai karakter tokoh dari buku komik, anime, manga, dan film. Dari akar katanya, ada yang menyebut istilah ini merupakan singkatan dari costume dan play, secara harafiah bisa diebut sebagai bermain kostum.

Merayakan kostum sejak 1960, kini banyak anak muda di dunia semakin menikmatinya.
Para penggemar permainan kostum di Jepang. Foto: dok shuterstock

Mengutip Epic Cosplay, meski sesungguhnya tidak ada definisi baku, istilah ini biasanya mengacu tindakan memakai kostum untuk membuat kembali penampilan karakter dari karya fiksi. Orang yang melakukan itu disebut cosplayer atau biasa disingkat coser.

Berdasarkan sejarahnya, berbagai penggunaan kostum sudah ada cukup lama. Di Amerika Serikat diyakini mulai muncul sekitar tahun 1960-an. Dulunya populer dengan acara-acara yang mengenakan kostum tertentu, termasuk topeng-topeng berbagai karakter film fiksi. Hal ini mirip seperti perayaan Haloween yang juga mengenakan kostum unik.

Namun permainan kostum ini menjadi mendunia ketika mulai memasuki Jepang pada 1970-an. Mengutip Who Magazine, ada berbagai pandangan terkait mula praktik permainan kostum. Praktik ini dimulai di Jepang pada 1970-an ketika mahasiswa berpakaian seperti karakter manga dan anime favorit mereka di konvensi fiksi ilmiah.

Istilah ini pertama kali digunakan dalam artikel di edisi Juni 1983 oleh Nobuyuki Takahashi dalam majalah My Anime. Dan semakin populer setelah penyelenggaraan costume show yang pertama kali dilaksanakan 1978 di Ashinoko. Pada akhirnya costume show tersebut jadi acara tetap sejak 1980 diselenggarakan oleh Nihon SF Taikai.

Seiring berkembangnya komunitas, kegembiraan ini pun mulai hadir di event pameran, games hingga kompetisi atau kontes tersendiri bagi para penggemarnya. Penggemarnya telah tersebar di seluruh penjuru dunia Amerika, RRC, Eropa, Filipina hingga Indonesia.

Kini istilah ini justru digunakan secara umum untuk berbagai jenis permainan kostum. Dari tahun ke tahun, ia semakin populer dan berkembang pesat tak hanya di Jepang melainkan juga di sejumlah negara.

Di Indonesia istilah ini mulai populer sejak ada sejumlah anak muda yang mengenakan fashion atau style Harajuku. Dan semakin diminati dan muncul dalam berbagai acara dengan kegiatan-kegiatan yang menerapkan permainan kostum.

Secara umum di kalangan pecintanya, ada beberapa pengkategorian kegiatan penggemarnya. Ini juga kadang kemudian merembet pada pembentukan komunitasnya. Pertama adalah Anime atau Manga. Ini berarti berbagai kostum dan aksesoris yang dikenakan adalah ala karakter anime ataupun manga. Ke dua, Game berarti kostum ataupun aksesoris yang dikenakan menyerupai karakter di sebuah games tertentu.

‘Kategori’ ke tiga adalah Dongeng berarti kostum ataupun aksesoris yang dikenakan menyerupai karakter yang ada di dongeng, baik itu film, kartun, ataupun tokoh fiksi lainnya. Lalu ke empat adalah Harajuku Style, yang berarti kostum ataupun aksesoris yang dikenakan ala anak-anak muda yang senang nongkrong di kawasan Harajuku, Tokyo. Dan terakhir Original yang berarti kostum atau aksesoris yang dikenakan seperti karakter tokoh game kerajaan yang lebih modern. Artinya tanpa dipengaruhi karakter anime, tokusastu dan seterusnya.

Di Indonesia sendiri ada sejumlah event yang menjadi ajang berkumpulnya para coser. Berikut lima event yang sukup besar diselenggarakan di Indonesia:

Indonesia Comic Con

Merupakan acara POP Culture dan salah satu event permainan kostum terbesar di Indonesia. Acara ini diselenggarakan untuk merayakan cinta dan semangat para penggemar kostum, Comic dan Pop Culture. Indonesia Comic Con pertama dihelat pada 2015 dan dihadiri dari berbagai komunitas, di antaranya Pop Culture, Comic Artist, Cosplayer dan Youtuber. Acara ini sering mengundang bintang tamu ternama Internasional.

Showtime
Media yang menaungi para komunitas permainan kostum dan mengadakan event di Indonesia secara daring dengan hadiah yang menggiurkan. Para coser juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para idolanya. Tidak hanya, itu pada portal ini terdapat juga berita-berita terkini tentang perkembangan mereka di Indonesia.

Ennichisai
Merupakan Festival Seni, Kuliner dan salah satu event Terbesar di Indonesia. Ennichisai atau juga dikenal dengan Festival Little Tokyo diadakan setiap tahun rutin di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Gelar Jepang UI
Gelar Jepang UI atau yang sering dikenal dengan GJUI, merupakan event Jejepangan dengan mata acara kebudayaan. Event GJUI diadakan setiap tahun di kampus Universitas Indonesia – Depok, tepatnya di Pusat Studi Jepang.

Clas:H
Clash merupakan salah satu event kostum Indonesia yang diadakan di kota-kota regional. Dengan misi menyebarkan budaya coser dan memberi kesempatan para coser daerah untuk mengambil bagian dalam komunitas di Indonesia dan bahkan dunia.

Ada banyak komunitas penggemar permainan kostum sejak mulai berkembang di Indonesia pada era 2000-an. Salah satunya adalah Cosplay Jakarta yang dibentuk dari berbagai pecinta animasi, manga, video game, dan permainan kostum. Mereka terbentuk sejak 2008 silam dan hingga kini memiliki anggota hingga ribuan. Komunitas ini termasuk yang aktif berkumpul.


Di kota kembang, ada Komunitas Cosplay Bandung adalah salah satu komunitas permainan kostum di kota ini. Sejak berdiri pada 2008, komunitas ini masih aktif hingga kini. Jumlah anggotanya telah mencapai lebih dari 2.000 orang.

Bali juga memiliki beberapa komunitas. Tak hanya itu, terdapat forum yang menggabungkan berbagai komunitas di Bali menjadi satu, yaitu Happy Cosplay. Forum ini didirikan pada tahun 2013 dan masih aktif di dalam dunia permainan kostum sampai sekarang.

Begitun di Yogyakarta ada Albatros Force, atau di Surabaya ada Cosura. Di ibukota Jawa Timur ini juga cukup sering menghelat acara komunitas.

agendaIndonesia                                              

*****

Kopi Indonesia, 6 Yang Pahitnya Lezat

Kopi Indonesia semakin menjadi primadona kulinari dan oleh-oleh dari negeri ini. Foto: shutterstock

Kopi Indonesia menjadi salah satu produk yang terus mengalami kemajuan sangat pesat dan kian digemari para peminumnya. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini tentu saja karena kepopuleran kopi Indonesia terus meningkat setiap harinya.

Kopi Indonesia

Berdasar Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, konsumsi kopi nasional pada 2016 mencapai sekitar 249.800 ton, dan tumbuh menjadi 314.400 pada 2018. Pada 2021 konsumsi kopi diperkirakan mencapai 370 ribu ton.

Meningkatnya jumlah konsumsi kopi nasional tentunya dibarengi dengan tingkat produksi kopi di dalam negeri. Berdasarkan data BPS 2019, Indonesia berhasil memproduksi kopi sebanyak 742 ribu ton. Dari total keseluruhan kopi Indonesia tersebut, wilayah Sumatera Selatan masih menjadi lumbung kopi terbesar di Indonesia. Provinsi ini berhasil memproduksi kopi sebanyak 184.168 ton, atau hampir setara dengan 25 persen produksi kopi nasional pada 2018. Di tahun yang sama nilai ekspor kopi nusantara berhasil mencapai Rp 9,5 triliun.

Tak hanya itu, kopi Indonesia juga mendapatkan apresiasi pecinta kopi secara global. Indonesia berhasil menjadi produsen biji kopi terbesar ke-4 di dunia (2019). Dengan jumlah rata-rata kopi nusantara yang dihasilkan adalah sekitar 742 ribu ton. Menariknya, pertumbuhan ekspor kopi nusantara terus berlanjut pada periode Januari hingga April 2020 sebesar 1,34 persen, menjadi 158.780 ton, jika dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Kopi Indonesia diproduksi dari Sumatera hingga Papua.
Buah kopi sedang dipetik. Foto: shutterstock

Melihat geliat produksi kopi Indonesia, budaya kopi atau ngopi semakin menjadi primadona industri kuliner tanah air. Trend ekonomi yang sedang tumbuh pesat di kota-kota besar hingga kota Kecamatan saat ini adalah menjamurnya kedai kopi.

Kini semakin banyak orang yang memilih ngumpul dan kongkow di kedai-kedai kopi. Itu belum lagi dengan semakin banyak orang yang memilih menyeduh dengan cara manual brew sendiri di rumah.

Di balik banyaknya kedai kopi di Indonesia, ada satu hal yang menarik, yaitu kopi-kopi Indonesia dari kebun-kebun di pelosok nusantara tetap menjadi primadonanya. Semakin banyak kedai kopi yang menawarkan berbagai macam kopi origin nusantara. Hal inilah yang menjadikan tingkat konsumsi kopi Indonesia terus naik selama lima tahun terakhir.

Pada 2014-2015 jumlah konsumsi kopi Indonesia hanya sebesar 4.417 kantong, dan meningkat 4.550 kantong (2015-2016). Namun dalam periode 2018-2019 jumlah konsumsi kopi nusantara meningkat hingga mencapai 4.800 kantong berkapasitas 60 kg.

Tak hanya dalam negeri, kopi nusantara juga banyak diminati pecinta kopi dunia. Sebagai contoh, gerai kopi internasional Starbucks Reserve turut menyajikan berbagai jenis kopi nusantara di kedai mereka. Mulai dari kopi Toraja Sapan Village, kopi Jawa Barat, hingga kopi Bali yang ternyata meninggalkan cita rasa tersendiri bagi masyarakat dunia.

Berbicara tentang kopi Indonesia, kita perlu mengetahui jenis-jenis kopi paling terkenal di negeri sendiri, bahkan dunia. Dengan demikian, kalau sedang melakukan perjalanan ke daerah-daerah tertentu, bisa membawa oleh-oleh kopi.

Kopi Aceh Kemenparekraf
Kopi dek kedai-kedai tradisional Aceh. Foto: Dok. Kemenparekraf

Kopi Aceh Gayo

Kopi Aceh Gayo menjadi salah satu jenis kopi nusantara yang cukup populer, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Salah satu karakteristik dari jenis kopi nusantara ini adalah aroma yang kuat dan gurih, dengan tingkat keasaman yang rendah.

Kopi Aceh Gayo ini termasuk jenis arabika karena tumbuhnya di ketinggian sekitar 1.000-1.200 mdpl. Selain itu, daerah Gayo juga sudah masuk sebagai daerah komoditas kopi internasional. Biji kopi Aceh Gayo paling banyak diminati masyarakat Jepang.

Kopi Ciwidey

Kopi Ciwidey juga menjadi salah satu jenis kopi Indonesia, primadona di negeri sendiri. Bahkan, kopi Ciwidey pernah mendapatkan predikat sebagai kopi termahal di Indonesia dan tercatat dalam rekor MURI 2017.

Saat lelang yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Pacific Coffee Conference di Jakarta pada 2017, kopi Ciwidey dihargai Rp2.050.000 per kilogram. Angka ini sangat mengejutka, khususnya bagi  pecinta kopi, karena harga kopi tertinggi pada lelang sebelumnya hanya sampai di angka Rp 650 ribu per kilogram.

Salah satu alasan mengapa kopi Ciwidey layak dihargai mahal adalah karena rasa dan aromanya yang unik. Kopi Ciwidey memiliki rasa yang cenderung manis saat diminum. Rasa tersebut didapat setelah melewati proses yang cukup panjang demi mendapatkan biji kopi yang berkualitas.

Kopi Toraja

Tak kalah nikmat dari jenis kopi sebelumnya adalah kopi Toraja, yang popularitasnya bukan hanya di nusantara namun hingga mancanegara. Hal ini berkat rasa kopi Toraja yang unik dibandingkan dengan jenis kopi nusantara lainnya.

Keunikan dari kopi Toraja didapat dari perpaduan rasa coklat, tembakau, dan karamel di tiap seduhan kopinya. Tekstur dari kopi Toraja dikenal sangat halus dan harum, sehingga akan membuat setiap orang yang meminumnya menjadi lebih rileks.

Kopi Mandailing

Kopi Mandailing merupakan kopi jenis arabika yang ditanam di daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Tidak hanya cocok dan populer di kalangan masyarakat Indonesia, kopi Mandailing juga menjadi primadona bagi orang Eropa. Hal ini disebabkan kopi Mandailing memiliki cita rasa yang lezat, kekentalan yang cukup tinggi, namun tingkat keasaman yang rendah.

Selain itu, kopi Mandailing memberikan sentuhan rasa yang unik di lidah. Rasa agak pedas, namun tetap bersahaja. Saat ini kopi Mandailing menarik perhatian pecinta kopi di banyak negara, seperti Jepang, Eropa, hingga Amerika Serikat.

Kopi Bali Kintamani Kemenparekraf
Kopi Bali Kintamani sudah dalam kemasan. Foto: DOk. Kemenpareraf

Kopi Bali Kintamani

Kopi Kintamani dari Bali jadi kopi nusantara yang juga cukup popular di dunia. Kopi ini merupakan jenis kopi arabika, karena ditanam di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl. Letak kebunnya kebanyakan di dekat Gunung Batur. Kopi Kintamani memiliki rasa yang cenderung fruity atau terasa segar seperti ada jejak rasa buah. Body dari kopi ini juga tak tebal dengan aroma yang cukup kuat. Rasanya tak terlalu pahit.

agendaIndonesia

*****


Ronggeng Gunung, 1 Juru Kawih Banyak Penari

Ronggeng Gunung shutterstock

Ronggeng Gunung adalah kesenian yang berusaha menghapus citra tak sedap yang kerap dipersepsikan orang soal ronggeng. Di balik tari tradisional ini terselip cerita menarik. Dan, kini muncul sebagai hiburan yang jauh dari kesan vulgar.

Ronggeng Gunung Pangandaran

Suara gendang, gong, bonang, dan kecrek saling bersahutan, membentuk irama sederhana yang terdengar dari kejauhan saat saya memasuki Dusun Cimanggu, Desa Parakanmanggu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, akhir Januari lalu. Sebuah dusun sederhana ini relatif jauh dari pusat kota Pangandaran. Jalan menanjak menuju dusun pun masih berupa tanah bebatuan.

Siang itu, seorang warga Dusun Cimanggu rupanya sedang melangsungkan acara pernikahan. Dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah ‘hajatan’. Panggung yang berdiri di sisi jalan terisi penuh oleh pemusik. Sementara itu, di halaman tempat hajatan berlangsung, sudah ada sekitar 12 orang tengah menari. Enam di antara mereka adalah penari yang mengenakan kebaya. Sedangkan sisanya ialah para tamu undangan, baik pria maupun wanita, baik tua maupun muda.

Mereka terlihat bersemangat menari dan mengikuti alunan musik serta kawih (nyanyian). Gerakannya kompak, ke kiri dan ke kanan. Saya perhatikan gerakan tangan dan kakinya mirip seperti bela diri pencak silat. “Memang mirip dengan pencak silat,” kata Edi Rusmiadi, Ketua Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata Kabupaten Pangandaran, membenarkan dugaan saya.

Kemudian, mereka melangkah ke depan membentuk putaran. Entah sudah berapa kali putaran mereka lalukan. Namun tak sedikit pun terlihat raut lelah di wajah mereka. Bahkan ada sepasang penari yang bertingkah lucu dan membuat geli orang-orang yang menyaksikan. Suasana pun menjadi riuh dan gembira. Tidak terlihat kontak fisik yang menimbulkan kesan vulgar, jauh dari kesan yang selama ini beredar bahwa penari Ronggeng adalah penggoda laki-laki.

“Ini yang dinamakan tarian Ronggeng Gunung,” ujar Apan Rachmat, Ketua Lingkung Seni Jembar Mustika. Pria yang menggunakan pakaian ala Sunda atau pangsi lengkap dengan ikat kepala itu mengatakan jumlah penari Ronggeng tergantung permintaan penggelar hajat. “Bisa enam penari dan bisa juga tujuh penari. Tergantung permintaan,” ucapnya.

Dulu, kata Apan, Ronggeng gunung hanya dibawakan oleh seorang penari, yang sekaligus merangkap sebagai juru kawih (penyanyi). “Belakangan berkembang hadir dengan banyak penari dan hanya satu juru kawih.”

Menurut Apan, Ronggeng Gunung sudah menjadi tradisi kesenian Pangandaran sejak lama. Ada beberapa versi tentang lahirnya kesenian tersebut. Namun versi yang terkenal adalah kisah Dewi Samboja. Kala itu, Dewi Samboja sangat bersedih atas kematian Angkalarang, suaminya, yang dibunuh oleh pemimpin bajak laut bernama Kalasamudra. Untuk menghilangkan kesedihan sekaligus kemarahan putrinya, maka ayahandanya, Prabu Siliwangi, meminta Dewi menuntut balas.

Untuk mewujudkan permintaan ayahnya tersebut, Dewi Samboja harus menyamar sebagai seorang penari Ronggeng agar dapat mendekati Kalasamudra. Bahkan Dewi rela mengganti namanya menjadi Nini Bogem. Singkat cerita, tarian Ronggeng di tempat Kalasamudra pun digelar. Ketika menari bersama, Dewi Samboja berhasil membunuh Kalasamudra.

Cerita mengenai asal-usul tari, yang digunakan untuk balas dendam tersebut, membuat Ronggeng Gunung terasa mengenaskan. Namun, ujar Apan, tarian Ronggeng Gunung kini lebih bersifat sebagai hiburan, seperti perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu.

Ronggeng Gunung sebagai sarana hiburan juga diakui Ida Nurbaya, penari Ronggeng, siang itu. “Tarian ini lebih bersifat hiburan. Lewat tarian ini, saya dapat mengenal orang dari berbagai kalangan,” ucap perempuan berusia 34 tahun itu. Ida mengaku mengenal Ronggeng saat usianya 17 tahun. Ida, yang telah berumah tangga dan dikaruniai dua anak itu, tak khawatir dengan kesan negatif sebagai penari Ronggeng.

Hal yang sama juga diamini Yulia Sri Mulyati. Siswa SLTA, yang juga ikut menari Ronggeng Gunung, justru bangga. Bahkan beberapa kali ia sempat diajak memperkenalkan Ronggeng Gunung ke sejumlah daerah, mewakili Kabupaten Pangandaran.

Tak terasa dua jam berlalu. Para tamu yang ikut menari sudah mengembalikan selendang yang diberikan oleh penari Ronggeng. Di ujung selendang sudah terikat sejumlah uang sebagai tanda “sawer”. Namun bukan berarti gelaran Ronggeng Gunung sudah berakhir. Masih ada sesi terakhir yang akan digelar pada malam nanti sebagai bagian dari tradisi seni asli Pangandaran. l

Andry T./Prima M./Dok. TL

Tenun Gringsing, Ikat Ganda Butuh 5 Tahun

Tenun Grinsing Bali salah satu kekayaan budaya Indonesia. Foto shutterstock

Tenun Gringsing menjadi pembicaraan banyak orang ketika dipilih menjadi salah satu tanda mata bagi tamu negara dalam perhelatan G20 di Bali. Ini jelas istimewa, karena kain tenun Gringsing terletak pada teknik pembuatannya, yakni ia satu-satunya kain tenun yang dibuat dengan teknik dobel ikat di Indonesia.

Tenun Gringsing

Proses pembuatan kain tenun yang satu ini dikenal cukup rumit dan membutuhkan waktu lama. Pasalnya, proses penenunan kain tenun Gringsing membutuhkan sekitar dua bulan, sementara untuk motif ikat ganda bisa memakan waktu lebih lama hingga 2-5 tahun.

Bukan hanya itu saja, daya tarik kain tenun Grinsing juga terdapat pada proses pembuatannya yang 100 persen menggunakan tangan, atau tanpa bantuan mesin apapun.

Ciri khas kain tenun Gringsing juga ada pada proses pewarnaannya. Bukan dengan bahan pewarna kimia, kain tenun khas Desa Wisata Tenganan Pegringsingan ini menggunakan warna yang dihasilkan minyak kemiri, agar warnanya lebih pekat dan tahan lama.

Tenun Gringsing motif ikat ganda membutuhkan waktu penenunan hingga lima tahun.
Gadis Bali menggunakan kain tenun Gringsing. Foto: shutterstock

Demi mendapatkan warna yang sempurna, tentu saja membutuhkan proses yang cukup panjang. Menariknya, untuk menghasilkan warna yang nyata pada motif tenun Gringsing membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan.

Untuk mendapatkan warna yang sempurna dan sesuai pakem yang telah ditentukan secara turun-temurun, proses pewarnaan kain tenun Gringsing harus dilakukan secara berulang. Proses pewarnaan kain tenun ini juga dilakukan untuk menjaga serta melindungi keaslian dan nilai ritual kain tenun Gringsing.

Daya tarik kain tenun Gringsing juga berasal dari nilai-nilai dalam setiap motif dan warna yang digunakan. Setiap motif dan warna pada kain tenun Gringsing memiliki makna yang melambangkan keseimbangan antar manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.

Kain gringsing adalah salah satu warisan budaya kuno Bali yang masih bertahan sampai saat ini. Kata gringsing sendiri terdiri dari kata “gring” yang berarti ‘sakit’ dan “sing” yang berarti ‘tidak’ sehingga dapat dimaknai bahwa kain gringsing merupakan kain magis yang membuat pemakainya terhindar dari bala.

Kain yang berasal dari Desa Tenganan, Bali ini menggunakan teknik ikat ganda dan memerlukan waktu rata-rata lima tahun untuk menyelesaikannya. Proses tenunnya sendiri membutuhkan waktu sekitar dua bulan, tetapi proses pembuatan motif ikat gandanya memerlukan waktu yang lama.

Selain itu, kain tenun asal Karangasem ini juga dipercaya sebagai pelindung. Sehingga, tidak jarang biasanya kain Gringsing digunakan masyarakat Bali dalam upacara pernikahan atau upacara keagamaan.

Aneka Motif Tenun Tenganan
Aneka motif tenun Gringsing. Foto: dok. kompas.com

Sebagai kain tradisional khas Bali, kain tenun Tenganan ini memiliki banyak motif yang menyimpan makna. Seperti motif lubeng misalnya, yang bercirikan kalajengking, dan sering digunakan sebagai busana adat dalam upacara keagamaan.

Selanjutnya motif sanan empeg, yang identik dengan kotak poleng merah hitam. Lalu, ada motif cecempakaan yang dikenal dengan motif bunga cempaka, dan sering digunakan sebagai busana adat dalam upacara keagamaan.

Kemudian juga ada motif cemplong, yang bercirikan sebuah bunga besar di antara bunga-bunga yang kecil di sekitarnya. Selain itu, ada juga motif tenun yang menggunakan tokoh pewayangan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, daya tarik Kain tenun dari Tenganan ini tidak hanya berasal dari motifnya saja. Namun, juga bisa kita melihat dari pewarnaan yang digunakan.

Tidak hanya sekadar menggunakan bahan alami, warna-warna yang dipilih memiliki makna mendalam. Secara umum, kain Gringsing memiliki tiga warna yang disebut dengan Tridatu, yaitu warna merah, kuning, dan hitam.

Warna merah berasal dari akar mengkudu, melambangkan api sebagai panas bumi sumber energi dan kehidupan di bumi. Kemudian warna kuning dari campuran minyak kemiri, melambangkan angin atau oksigen dalam setiap kehidupan manusia. Sedangkan warna hitam yang berasal dari pohon taum, yang melambangkan air pemberi penghidupan bagi seluruh makhluk di bumi.

Dalam acara-acara adat, kain tenun Gringsing biasanya digunakan sebagai selendang atau senteng oleh wanita, sedangkan pria digunakan sebagai ikat pinggang.

Seperti disebut di depan, kain gringsing merupakan satu-satunya tenun ikat ganda yang berasal dari Indonesia. Karena itu, harga kain gringsing Bali sangat mahal, karena selain produksinya yang cukup sulit dan tidak sebentar, ketersediaan bahan yang digunakan untuk membuat kain gringsing juga terbatas.

Tenun Gringsing Tenganan dipakai untuk para penari. Foto: shutterstck
Para penari Rejang Tenganan dalam upacara Usaba di Desa Tenganan. Foto: shutterstock

Kain tenun gringsing disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapañca, di sana tertulis tirai-tirai di salah satu kereta kencana Hayam Wuruk, Sri Nata Wilwatikta, terbuat dari kain gringsing. Hingga hari ini, di tengah masyarakat Tenganan Bali, kain gringsing digunakan untuk berbagai upacara, seperti upacara keagamaan, upacara kikir gigi, dan upacara pernikahan.

agendaIndonesia/berbagai sumber

*****

Tenun Endek Bali, Warisan Kerajaan Gelgel Dari Abad 18

Tenun Endek Bali akan dipakai setidaknya seminggu sekali oleh ribuan pegawai pemerintahan provinsi Bali.

Tenun Endek Bali mungkin akhir-akhir ini tidak semencuat kain-kain tenun dari Nusa Tenggara. Barat maupun Timur. Namun tenun ini sejatinya mempunyai jejak sejarah yang panjang.

Tenun Endek Bali

Suara gelak tawa terdengar nyaring. Kepala saya langsung menengadah ke lantai kedua bangunan terbuka yang berada di Banjar Jerokapal, Desa Gelgel, Kabupaten Klungklung, Bali, itu. Ada alat tenun yang terbuat dari kayu. Jari dan tangan ibu-ibu pun terlihat di atas alat tersebut. Bibir mereka sesekali melontarkan gurauan. Suara kayu beradu tawa. Begitulah suasana khas di Pertenunan Astiti. Mulai menenun pukul 9.00, mereka meneruskan warisan leluluhur membuat tenun endek dan songket.

Salah satunya Ketut Suryani, yang berkenalan dengan alat tenun sejak remaja.  Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai pukul 09.00, ia menggeluti alat tenun. Dia baru beranjak dari tempat menenun pukul 17.00. Dalam satu hari, bisa dihasilkan selembar kain katun endek berukuran 2,25 meter, jenis kain yang jadi ciri khas kabupaten tempat kerajaan-kerajaan Bali di masa lalu itu.

Terkenal dengan Kerajaan Gelgel, Klungkung tak hanya menyisakan bangunan istana dan bersejarah, tapi juga kerajinan tenun. Tenun mulai dikenal pada abad ke-18. Semula kain tenun hanya dikenakan kaum bangsawan atau untuk upacara di pura. Kini kain dikenakan sehari-hari, bahkan seragam berbagai instansi. Sejumah desa di Klungkung dikenal menjadi pusat tenun. Desa Sulang pun sama dengan Geolgel.

Di Gelgel, tempat tenun endek dan songket pun mudah ditemui. Di Jalan Raya Gelgel saja, saya menemukan Dian’s Rumah Songket dan Endek, selain Pertenunan Astiti. Memang tidak di jalan utama, tapi keduanya memasang papan nama cukup besar sehingga mudah dibaca turis atau konsumen. Para penenun umumnya berusia 30-40 tahun. Namun saya menemukan pula ibu berusia 75 tahun yang masing rutin menenun. Wayan Rasaini–nama ibu tersebut – berkutat dengan alat tenun tradisional, cagcag. Alat ini membuatnya harus duduk di lantai, seperti terkungkung dengan alat. Ibu-ibu lain menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Mereka membuat endek.

Kain songket, seperti pada umumnya, diselipi benang-benang emas sehingga terkesan mewah saat digunakan untuk acara dan upacara khusus. Kain endek juga digunakan untuk upacara di pura, selain dikenakan untuk busana sehari-hari. Para penenun memulai kerja memintal benang atau ngulak sesuai dengan corak yang telah disiapkan.

 “Pola motif yang buat anak-anak sekolah,” ujar Ketut Suryani. “Mereka biasanya ke sini setelah pulang sekolah,” ujarnya. Walhasil, para penenun pun tinggal berkarya mengikuti pola ikatan benang. Anak-anak sekolah yang dimaksud ialah pelajar sekolah menengah jurusan desain yang rutin datang mengikat benang mengikuti pola motif yang dibuat pemilik pertenunan, Drs I Nyoman Sudira, MM.


Pensiunan pegawai sekretariat DPRD Klungkung ini sebenarnya baru terjun membantu istrinya setelah memasuki masa purnakarya. Ia mulai mewarnainya sendiri, baik dengan pewarna alam maupun sintetis. Sebelumnya urusan tersebut diserahkan ke orang lain. Tak hanya itu, pria sepuh ini juga memanfaatkan teknologi untuk pembuatan pola dan memindahkan ke gulungan benang lebih mudah dan singkat. Hasilnya tak hanya dijual di balai kerja, tapi juga di  dua gerai di Pasar Seni Semarapura, Klungkung, dan di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Harga kain endek berukuran 2,25 meter dijual mulai Rp 200 ribu.

Penasaran dengan Desa Sulang, yang juga dikenal dengan kampung penenun, saya pun melanjutkan perjalanan ke desa tersebut, tepatnya di Banjar Kawan, Kecamatan Dawan, Klungkung. Saya mampir ke gerai Endek Gurita milik Kadek Antari, MPd, yang dibuka 4 tahun lalu. Saya bertemu dengan seorang penenun, I Dewa Ayu Nyoman Arti, 50 tahun. Perempuan yang sudah 34 tahun menggeluti bidang ini mengaku hanya berdua menenun di tempat tersebut. “Tapi di sekeliling ini ada 50 orang yang nenun di rumah sendiri-sendiri,” ujarnya.

Nyoman Arti mengaku membuat kreasi sendiri, kecuali ada pesanan. Ia pun lebih banyak membuat motif polos. Kadang corak kotak-kotak yang sekarang banyak permintaan. Harga dipatok tergantung jenis benang. Katun endek berbahan benang katun dengan pewarna alam dijual mulai Rp 600 ribu. Namun kain dengan pewarna sintetis mulai Rp 250 ribu. Kalau bahannya benang sultra, harganya bisa hingga dua kali lipat. l

Teknologi & Motif

Kain Endek, seperti umumnya kain tenun, dibuat dengan teknik ikat. Benang-benang yang akan digunakan harus terlebih dulu diikat sesuai dengan pola. Bila pengerjaannya manual, dibutuhkan berhari-hari, bahkan seminggu. Dengan bantuan teknologi, I Nyoman Sudira terlebih dulu membuat desain di layar komputer dengan program coral drew dan mencetak di selembar bahan untuk spanduk. Kini, hanya dalam 5 menit, pola sudah berpindah ke atas pintalan benang. “Memindahkan pola itu perlu waktu seminggu karena satu jam saja sudah pegal, kan pakai spidol untuk membuat garis satu per satu,” ujar Nyoman.

Nyoman menyebut, dengan teknologi, corak tenun endek bisa dibuat variatif. Ia mengungkapkan tenun endek punya motif asli. Di antaranya wajik atau ceplok. Namun, secara umum, corak endek  meniru pola songket yang umumnya banyak meniru bentuk alam, termasuk flora atau patra. Pada umumnya, bagi umat Hindu, kembang melambangkan kesucian hati. Selain itu, fauna atau karang banyak melambangkan sifat dewa. Disamping itu, ada juga corak dari tokoh pewayangan.

Yang menjadi corak khas Gelgel adalah burung merak, bintang, bulan, digabung dengan motif kembang-kembang atau sulur alias tumbuhan menjalar. Soal warna, trennya berubah-ubah. Tahun ini, misalnya, Nyoman menyebut, tren warnanyacenderung merah muda, sedangkan tahun lalu biru.

Di Desa Sulang, Kecamatan Dawan, tepatnya di gerai Endek Gurita, kemunculan tenun dibarengi dengan teknik lukis dengan corak kupu-kupu dan bunga. Walhasil, ini menjadi label, karena perpaduan seni tenun dan lukis membuat endek lebih berwarna. l

Rita N./B. Rahmanita/Dok TL