Tenun Bentenan Minahasa awalnya dibuat pada abad ke-7 oleh suku Minahasa di Sulawesi Utara. Sempat memunculkan corak-corak baru, namun kini corak lama pun dimunculkan lagi.
Tenun Bentenan Minahasa
Hujan turun rintik-rintik di Desa Kolongan Atas Dua, Sonder, Kabupaten Minahasa Induk, Sulawesi Utara, suatu siang. Saya memasuki bangunan dengan halaman luas dan langsung menerobos ke bagian belakang menuju rumah kayu khas Minahasa. Ruangan tersebut tampak terbuka. Siang yang sejuk itu, di dalam ruangan, ada beberapa perempuan “bermain” dengan benang dan alat pintal. Mereka memang dibina oleh Bentenan Center agar bisa kembali menghasilkan karya-karya tenun warisan nenek moyang, yakni kain Bentenan.
Ati, salah satu perajin, menyebutkan sudah sulit menemukan perajin asli yang turun-temurun membuat tenunan Bentenan. Karena itulah untuk mengembalikan tradisi tenun Sulawesi Utara yang sudah tidak banyak dikenal lagi oleh masyarakat ini, didirikan Bentenan Center oleh Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (Karema). Sejumlah perempuan diajari menenun yang khas Bentenan dari awal dan kini mereka rutin melakukannya setiap hari di tempat ini.
Motif lawas yang digunakan kerajaan zaman dulu, menurut Ati, juga dibuat kembali. Di antaranya Kalwu Patola, Tononton Mata, dan Pinatikan. Aslinya, kain Bentenan memiliki tujuh corak. Mulai Tonimala, tenunan dari benang putih di kain putih. Kemudian Sinoi, yang menggunakan benang warna-warni dengan corak garis-garis. Ada pula Pinatikan, yang berupa garis-garis dengan motif jala dan bentuk segi enam. Jenis kain Bentenan ini merupakan yang pertama kali dibuat di Minahasa, selain Tinompak Kuda, yang memunculkan beragam corak yang ditenun berulang. Sedangkan Tononton Mata bercorak manusia, Kalwu Patola bermotif tenun Patola India, serta terakhir Kokera bermotif kembang warna-warni dan dihiasi manik-manik.
“Kain Bentenan asli yang berusia sekitar 200-an tahun hanya ada di sebuah museum di Belanda,” ucap Ati. Selain jumlah perajin yang minim, peninggalan kaum sepuh memang tidak lagi bisa ditemukan di Minahasa, daerah asalnya. Warisan tersebut ada di sejumlah museum yang kebanyakan berlokasi di luar negeri. Selain di Museum Nasional Jakarta, kain asli Bentenan di antaranya bisa ditengok di Tropenmuseum Amsterdam, Museum voor Landen Volkenkunde Rotterdam, dan Museum fur Volkenkunde Frankfurt am Main.
Kain tenun asli terakhir ditemukan di Ratahan pada 1900. Daerah itu memang, menurut Ati, merupakan asal dari perajin tenun ini. Bentenan tak lain dari nama desa di Pantai Timur Minahasa Tenggara, yang meliputi Distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan, dan Tonsawang. Awalnya, tenunan ini dibuat suku Minahasa sekitar abad ke-7 dari serat kayu yang disebut fuya. Serat tersebut diambil dari pohon lahendong dan sawukouw,yang memang banyak tumbuh di daerah ini. Juga digunakan serat nanas dan pisang, yang disebut koffo. Ada pula serat bambu, yakni wa’u. Nah, baru pada abad ke-15, orang Minahasa beralih ke benang katun. Hasil tenunan inilah yang kemudian dikenal sebagai kain Bentenan.
Di masa silam, kain tenun ini bermutu tinggi. Tak hanya karena teknik pembuatannya yang mengharuskan kain berupa lingkaran tanpa guntingan dan sambungan serta dipasangi lonceng kecil di sekelilingnya, sehingga disebut Pasolongan Rinegetan. Tapi juga karena ada ritual khusus berupa pujian kepada Tuhan.
Tenun Bentenan Minahasa motifnya menjadi latar pentas Tarian tradisional saat pembukaan Manado Fiesta 2019. (Foto: Ilustrasi-Dok. Kemenpar)
Kain Bentenan kini telah menjadi oleh-oleh khas dari Manado dan Minahasa. Bila ingin berbelanja sekaligus melihat proses pembuatannya, sekalian menikmati alam Tomohon dan Minahasa yang sejuk, Anda bisa berkendara ke arah Tomohon. Jaraknya hanya 30 kilometer dari Manado. Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke arah Minahasa Induk. Bentenan Center tidak jauh dari Tomohon, meski berada di Kabupaten Minahasa Induk.
Di bagian depan Bentenan Center, ada ruang pamer untuk beragam produk. Tersedia dua jenis kain, yakni kain biasa dan songket (timbul). Bukan hanya tenunan, motif Bentenan cetak pun bisa menjadi pilihan para tamu. Menggunakan kain sutra maupun sifon, motif tersebut muncul dalam bentuk gaun, kemeja, hingga lembaran kain. Harga produk bervariasi, mulai Rp 300 ribu. Pada ASEAN Tourism Forum 2012 di Manado, corak Bentenan pun dikenakan para pejabat negeri ini.
Sambal ala Belitung, ada yang berbahan ikan laut, terbentuklah rusip, calok, belacan. Selain itu ada pula yang berbahan tauco.
Sambal ala Belitung
Belitung tak hanya menjadi destinasi untuk menikmati pantai dengan batuan yang mengagumkan. Atau jejak-jejak kisah Laskar Pelangi seperti di layar lebar. Karena sebagaian wilayahnya berupa laut, turis akan menemukan oleh-oleh dengan bahan utama ikan laut yang bisa menjadi hidangan khas di meja makan. Meski ada juga yang terbuat dari kedelai. Beberapa nama tergolong unik, beberapa juga dibuat di daerah lain. Umumnya bisa menjadi diolah kembali dengan bahan lain yang membuat rasa hidangan menjadi lebih sedap, tapi rasanya mantap jika dijadikan sambal. Bisa ditemukan di pasar tradisional seperti pasar tradisional Hatta yang terletak di Jalan Hayati Maklum, Tanjung Pandan. Di pasar ini, dari ikan segar hingga olahannya terbesar di beragai kios. Adapun ragam bumbu sambal itu seperti di bawah ini.
Rusip dari Ikan Bilis
Bisa jadi bagi turis dari luar Belitung, baru mendengar nama yang satu ini. Rusip tak lain ikan teri atau masyarakat Belitung menyebutkan bilis yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan bilis terlebih dulu dicuci, dibuang kepala dan kotorannya lalu ditiriskan. Setelah benar-benar kering diberi garam, dengan cara diremas-remas. Disimpan dalam wadah tertutup selama sehari. Kemudian beri gula merah yang sudah dicairkan.
Simpan lagi dalam wadah tertutup selama seminggu. Jika telah menghasilkan aroma khas dan agak sedikit asam, tandanya rusip sudah siap dikonsumsi. Anda bisa langsung menjadikan sambal yang dilengkapi dengan lalapan. Ada pula sambal rusip yang diolah terlebih dulu dengan menambahkan bawang merah, serai dan cabe rawit plus jeruk kunci khas pulau ini juga. Sajian ini tergolong penggugah selera makan bagi warga setempat. Selain itu, rusip bisa juga menjadi bumbu dalam berbagai olahan, seperti sajian ikan. Rasa kuah ikan pun kian maknyus dengan tambahan rusip. Di toko oleh-oleh maupun pasar tradisional bisa ditemukan dalam botol plastik ukuran 200 ml seharga Rp 25 ribu.
Calok dari Udang Mini
Banyak dipajang di toko-toko oleh-oleh ataupun di pasar, yang satu ini juga menjadi hidangan khas di meja makan. Sama-sama diberi wadah botol transparan, hanya calok terlihat muncul dalam warna kemerahan karena terbuat dari udang kecil yang masih segar atau warga setempat menyebutkan udang cencalo alias rebon. Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan rusip. Udang terlebih dulu dicuci bersih kemudian dibubuhi garam yang berfungsi sebagai pengawet.
Calok sama halnya dengan rusip membikin selera makan meningkat. Dipadu dengan nasi ditambahkan lalapan seperti mentimun, tomat atau sayuran lain. Harga per botol dengan ukuran minuman 200 ml sekitar Rp 35 ribu.
Sambal Ala Belitung mempunya bahan yang bermacam-macam, semuanya bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Rita N.-TL
Belacan Sijok
Terasi menjadi hasil olahan yang banyak ditemukan di daerah pesisir, demikian juga di provinsi Bangka Belitung. Di Kepulauan ini, terasi yang bisa diolah menjadi sambal atau menjadi penyedap berbagai sajian tersebut bisa dengan mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau yang lebih beragam di pasar. Saya menemukan terasi dari Belitung maupun Bangka di toko oleh-oleh. Di Belitung yang terkenal terasi dari Desa Sijok dalam kemasan anyaman pandan.
Namun karena saya kemudian saya berbelanja di pasar, saya menemukan potongan besar terasi dalam warna khas keunguan. Olahan dari rebon segar itu tinggal dipotong-potong sesuai keinginan pembeli. Rasanya memang cukup tajam dan sedikit kasar ketimbang terasi yang telah dikemas rapih.
Bila tak mau repot, Anda pun bisa membeli sambal terasi yang siap saji. Sudah dilengkapi dengan cabe merah sehingga botol sambal ini terlihat merah menggoda. Per botol pada kisaran 25 ribu. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh maupun di pasar.
Tauco Keledai Utuh
Seperti halnya terasi, tauco juga tak hanya dikenal dari satu daerah. Di Jawa Barat tauco Cianjur, tapi ada pula tauco Pekalongan, dan kemudian Medan dan Kalimantan. Di Belitung pun, tauco menjadi salah satu pilihan untuk olahan sambal atau dipadu dengan bahan makanan lain. Hanya terlihat berbeda dari tauco umumnya, meski Anda hanya melihatnya sekilas. Pada umumnya tauco, kedelai sudah tidak terlihat bentuk utuhnya alias sudah hancur, paling hanya beberapa potongan kecil yang tampak. Berbeda dengan tauco Belitung, kacang kedelai terlihat utuh dan warnanya tidak cokelat tua melainkan kekuningan.
Dalam pengolahannya sambal tauco dibuat encer dengan ditambahi bawang putih, cabe rawit, jeruk songkit, dan gula pasir. Tak hanya dipadu dengan nasi tapi juga menjadi sambal paduan untuk otak-otak. Tauco ini bisa ditemukan di pasar dan toko oleh-oleh, per botol pada kisaran Rp 25-30 ribu. l
Oleh-oleh Pontianak ternyata cukup beragam, meskipun mungkin variannya belum sebanyak daerah-daerah yang sudah menjadi pusat-pusat pariwisata di Indonesia, seperti Bali, Yogya, atau Medan. Tapi cukup mudah untuk memilih barang atau makanan sebagai buah tangan sepulang dari ibu kota Kalimantan Barat ini.
Oleh-oleh Pontianak
Kita tahu semua, tidak banyak kota di dunia yang dilintasi garis maya khatulistiwa atau garis equator. Garis Lintang 0 derajad sebagai lintasan matahari. Beruntung Indonesia punya Pontianak, di Kalimantan Barat. Dalam dua kali setahun, di kota ini terjadi fenomena alam yang disebut kulminasi—kondisi yang menyebabkan sebuah benda kehilangan bayangan karena menyatu dengan obyeknya. Ini karena matahari betul-betul tepat berada di atas kota ini. Lucu kan, kita kehilangan bayang-bayang kita sendiri?
Keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi turis lokal ataupun mancanegara. Saat pulang, para wisatawan itu biasanya ingin membawa buah tangan yang khas. Umumnya berupa miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai bukti pernah berada di kota di titik lintang 0 derajad. Kalaupun bukan itu, pasti orang ingin membawa makanan kecil atau makanan khas setempat. Apa saja pilihan yang ada di kota ini? Berikut alternatif yang bisa dipilih.
Oleh-oleh Pontianak salah satunya berupa miniatur tugu katulistiwa). Foto: ilustrasi/TL/Aditia
Miniatur Tugu
Rasanya belum sah berkunjung ke Pontianak jika tidak membeli miniatur Tugu Khatulistiwa sebagai cendera mata. Suvenir yang satu ini memang unik. Sebab, menyimpan kisah yang menarik dari terjadinya sebuah fenomena alam. Bentuknya yang indah pun membuatnya cocok dijadikan dekorasi ruang tamu.
Miniatur yang dibingkai dalam kaca semakin menjadi indah dengan adanya pemasangan hiasan lampu. Ada yang terdiri atas dua lampu dan lima lampu. Bahkan ada pula miniatur Tugu Khatulistiwa yang dapat berputar pada porosnya. Harganya bergantung pada besar-kecilnya ukuran. Miniatur terkecil dihargai Rp 25 ribu dan terbesar Rp 500 ribu.
Sapta Pesona Khatulistiwa; Jalan Khatulistiwa; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 09.00-17.00
Lidah Buaya Segar
Aloe vera atau yang lebih dikenal dengan nama lidah buaya identik sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Bahkan tak jauh dari pusat kota dibangun kawasan agrowisata yang dikenal dengan nama Aloe Vera Center. Di sepanjang jalan menuju pusat lidah buaya tersebut berjajar warung atau toko yang menjual berbagai olahan lidah buaya. Dari tepung, dodol, kerupuk, hingga minuman.
Nah, minuman sari lidah buaya ini cukup digemari karena rasanya manis dan menyegarkan. Apalagi bila dinikmati dalam keadaan dingin. Potongan daging lidah buayanya empuk dan tidak berserat. Uniknya, para pengolahnya bisa menghilangkan lendir yang biasa melekat pada daging lidah buaya. Harga per baloknya hanya Rp 10 ribu dengan isi lima bungkus kecil.
Sun Vera; Jalan Budi Utomo A6 No. 3; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 07.00-17.00
Dodol Pink
Semua daerah di Indonesia rasanya memiliki dodol. Kue tradisional Nusantara yang populer ini hampir bisa dijumpai di setiap daerah dengan berbagai nama, bentuk, dan rasa. Di Sumatera Barat, dodol dinamai gelamai. Sedangkan di Riau terkenal dengan nama lempuk. Adapun di Jawa Tengah dikenal dengan nama jenang. Lain lagi di Jawa Barat, tapi ada yang terkenal, yakni dodol Garut.
Di Pontianak sendiri namanya tetap dodol. Tapi dengan embel-embel: kelapa Segedong. Penambahan embel-embel kelapa dan Segedong tak lepas dari bahan yang digunakan dan asal pembuatannya. Disebut dodol kelapa karena menggunakan bahan dari kelapa. Adapun disebut Segedong karena tempat itu merupakan daerah pembuat dodol. Jika biasanya dodol berwarna cokelat, warna dodol kelapa Segedong ini justru merah muda alias pink. Harganya hanya Rp 10 ribu per bungkus.
Pondok Pengkang Peniti; Jalan Raya Peniti Luar Km 30; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.00-24.00
Kelegitan Lempok
Mirip-mirip dengan dodol, Pontianak juga terkenal dengan lempok. Oleh-oleh khas Pontianak ini banyak dijual di pusat oleh-oleh di kota ini. Sebagian besar wisatawan yang pernah mampir ke Pontianak pasti membeli lempok durian Pontianak. Sensasi kelegitan lempok dan rasa duriannya yang dahsyat pasti membuat kangen bagi yang sudah merasakannya. Satu bungkusnya dijual beragam. Salah satu toko, yang menjual lempok durian seharga Rp 35 ribu per bungkus dengan isi 10 bungkus kecil, saya sambangi.
Toko Asia; Jalan Pattimura No. 12; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 06.30-21.00
Kopi Pontianak
Jika berkunjung ke satu daerah hampir dipastikan kita dapat menemukan kopi dengan mudah. Begitu pula di Pontianak. Ada satu produsen kopi yang populer di Kota Khatulistiwa itu. Tokonya terlihat seperti bangunan lama. Begitu pula dengan lemari penyimpan atau meja yang digunakan sama kunonya.
Namun yang menarik adalah kopi yang dijualnya. Aroma kopi ini sebetulnya biasa saja. Justru cenderung lembut. Tetapi cukup tebal. Kopi ini rasanya cocok untuk peminum yang tidak mementingkan aroma, tapi mementingkan ketebalan dan kekentalan kopi. Tersedia dalam berbagai kemasan. Mulai ukuran 100 gram sampai dengan satu kilogram. Yang ukuran ½ kilogram dihargai Rp 28 ribu.
Kopi Obor; Jalan Tanjung Pura No. 21; Pontianak, Kalimantan Barat; Buka pukul 08.00-15.30
Perjalanan 3 hari di 3 kampung Sunda bisa diagendakan jika kondisi pandemi sudah mulai reda namun belum cukup aman untuk pergi jauh. Wisata tiga hari ini bisa untuk menelusuri peninggalan Kerajaan Pajajaran dan mengenal seni budaya Sunda.
Perjalanan 3 Hari
Liburan sambil mengenal sejarah, budaya, seni, adat, dan kehidupan sosial di kampung layak dicoba. Bukan hanya wawasan semakin bertambah, tapi udara segar pun puas dinikmati. Di seputar Bogor, pilihannya bisa di Kampung Budaya Sindangbarang, Kampung Urug, dan Kampung Ciptagelar. Jaraknya relatif dekat dari Jakarta meski perlu sedikit membangkitkan jiwa bertualang.
Hari Pertama : Kampung Urug
Berada di Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Jarak tempuh Kampung Urug dari Kota Bogor sekitar 48 kilometer. Kondisi jalan dari kantor Kecamatan Sukajaya ke Kampung Urug berbelok-belok dan naik-turun mengikuti lereng bukit dengan badan jalan yang sempit. Turis dapat menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jadi, persiapkan mental Anda!
Masyarakat di Kampung Urug menganggap diri mereka berasal dari keturunan Prabu Siliwangi—raja dari Kerajaan Pajajaran. Seorang ahli yang pernah memeriksa konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug memang menemukan sambungan kayu tersebut sama dengan sambungan kayu yang terdapat pada salah satu bangunan di Cirebon, yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran.
Sebagai desa adat, Kampung Urug masih memegang teguh tradisi, baik dalam seni bangunan, kekerabatan, maupun kepemimpinan. Acara Seren Taun dilakukan tiga kali dalam setahun. Keramaian berpusat di Bumi Ageung. Selain Bumi Ageung sebagai pusat kegiatan, ada pula rumah panggung dan Bumi Alit. Bumi Ageung, rumah panggung, dan Bumi Alit terletak simetris dalam satu garis lurus. Selain itu, ada pula beberapa leuit (lumbung padi). Setelah mengenal desa adat, sore hari kembali ke pusat Kota Bogor untuk menikmati wisata sajian kuliner dan bermalam di sini.
Hari Kedua: Kampung Budaya Sindangbarang
Hari kedua, giliran Kampung Budaya Sindangbarang yang menjadi sasaran. Yang satu ini mudah dijangkau dari pusat kota karena hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Bogor. Tepatnya berada di Jalan E. Sukmawijaya, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Hanya, bus pariwisata berukuran besar tidak bisa melintasi jalan tersebut. Wisatawan harus berganti transportasi dengan kendaraan yang berukuran lebih kecil.
Tak jauh dari lahan parkir, pengunjung langsung disajikan dataran yang lebih tinggi dengan lapangan rumput luas nan hijau. Hiruk-pikuk Kota Bogor langsung terasa sirna saat tiba di kampung ini. Suasana pedesaan benar-benar terasa. Di pinggir lapangan terdapat beberapa bangunan seperti lumbung padi, penginapan berbentuk rumah adat tradisional Sunda dengan dinding bilik dan atap rumbia, imah gede (rumah besar), lumbung padi, serta lainnya.
Pada 2007, Kampung Sindangbarang, yang dikenal dengan agenda tahunan Seren Taun ini, dikelola lebih profesional dengan menyediakan paket-paket wisata. “Dari beberapa paket wisata yang ditawarkan, pengunjung biasanya mengambil paket mulih ka lembur (pulang ke kampung) atau sawengidi kampung budaya (semalam di kampung budaya),” kata Maki Sumawijaya, Pupuhu atau Kepala Adat Kampung Budaya Sindangbarang, kepada TL.
Menurut pria yang disapa Abah itu, ada delapan kegiatan yang ditawarkan bila pengunjung menginap di Kampung Budaya Sindangbarang, yakni pengenalan bangunan adat, belajar menanam dan menumbuk padi (nandur), mengenal pasar tradisional, menangkap ikan dengan tangan langsung dari kolam dan sungai (marak lauk), mengunjungi situs purbakala, serta situs Taman Sri Baginda Jala Tunda, yakni sumber air peninggalan zaman Kerajaan Sunda. Semalam di kampung ini tentu menawarkan pengalaman yang berbeda.
Hari ketiga: Kampung Budaya Ciptagelar
Hari ketiga, sebaiknya berangkat dari Sindangbarang tidak terlalu sore karena perjalanan ke kampung berikutnya cukup lama, yakni sekitar 6 jam. Kampung Budaya Ciptagelar secara administratif termasuk Kabupaten Sukabumi. Tapi masih dekat dari Kota Hujan. Lokasi persisnya berada di Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Jenis kendaraan roda empat harus dalam kondisi prima. Sebab, wisatawan akan melalui jalan yang berkelok dan menanjak. Kondisi fisik juga harus terjaga karena harus menempuh kampung ini dengan berjalan kaki.
Di kampung ini, wisatawan dapat menjumpai situs Megalitikum, batu jolang (tempat pemandian), salak datar, tugu gede, cungkuk, serta batu kursi dan batu dakon (alat penghitungan tanggal).
Bagi Anda yang ingin berkunjung ke tempat ini, agendaIndonesia menyarankan sebaiknya menginap saja. Selain dapat beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh, lingkungan yang masih alami akan menyegarkan diri dan melepaskan kepenatan. Hingga hari keempat, Anda kembali ke Jakarta.
House of Danar Hadi menjadi salah satu saksi perjalanan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Ratusan koleksinya menjadi referensi dari begitu beragamnya jenis, motif, dan latar tradisi dari batik. Ia juga menjadi saksi perjalanan sejarah klasik bangsa ini.
House of Danar Hadi
Mungkin sekitar 500 koleksi batik yang dipajang di House of Danar Hadi ini seakan ‘hanya’ menunjukkan kecintaan Santosa Doellah pada batik. Santosa adalah pemilik batik Danar Hadi, salah satu merek batik terkemuka di Indonesia. Namun, jika ingin belajar tentang batik, tempat ini bisa menjadi titik awalnya.
Satu kota di Indonesia yang tak bisa dipisahkan dari batik adalah Solo. Ketika berkunjung ke kota di Jawa Tengah ini, cobalah untuk menyempatkan diri untuk mengunjungi museum yang menyimpan sejarah batik dan pembuatannya dalam ragam koleksi milik H. Santosa Doellah, yakni House of Danar Hadi.
Ruang pamer batik pengaruh kraton di Museum Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah. Foto: Dok TL/Suryo
Nama butik sekaligus museum batik yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ini sesungguhnya gabungan nama istri dan mertua Santosa, Danar dan Hadi. Nam pertama adalah nama istri sang pemilik, Danarsih. Sedangkan Hadi dari nama mertuanya, Hadipriyono.
Solo memang saksi cikal bakal lahirnya Batik Danar Hadi. Ia berawal dari kecintaan Santosa Doellah pada batik, ia mengumpulkan 10 ribu jenis batik dan sekitar 500 di antaranya dipajang di museum ini.
Dengan membayar Rp 25 ribu, pengunjung akan mendapatkan seorang pemandu yang akan membantu menyusuri seluruh galeri dalam museum ini. Sebelas galeri menyimpan beragam jenis batik dari berbagai era dan daerah, proses pembuatan batik, dan koleksi batik mahakarya Santosa Doellah.
Di galeri pertama, ada batik Belanda yang dibuat pada masa penjajahan kolonial. Batiknya berwarna cerah dengan motif-motif dongeng Grimm bersaudara. Ada batik dengan motif si kerudung merah dan serigala serta batik bermotif rumah kue Hansel dan Gretel.
Di ruangan kedua, ada batik dari dua keraton Mataram, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Di sini orang bisa belajar membedakan batik gaya Kraton Yogya dan Kraton Solo.
Kadang untuk nama motif yang sama, ada perbedaaan pewarnaan. Atau, motif yang sama ternyata penggunaannya bisa untuk momen yang berbeda. DI tempat ini Pengunjung juga bisa belajar cara penggunaan kain batik ala kasunanan (Solo) atau kasultanan (Yogya).
Batik keraton Solo umumnya didominasi oleh warna hitam, cokelat, dan biru tua yang biasanya sekaligus menunjukkan strata kebangsawanan pemakainya. Batik keraton memiliki beragam ukuran dan motif yang masing-masing memiliki fungsi dan filosofi tersendiri. Museum ini juga menyimpan motif batik tertua, yakni batik kawung.
Penjaga melintas di depan batik yang digunakan oleh Istri Sukartno di ruang pamer Batik Indonesia di Museum Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/2/2015). Museum Batik Danar Hadi adalah salah satu museum batik terbesar dengan puluhan ribu motif batik yang terbagi dalam sembilan jenis batik: Batik Belanda, Batik Cina, Batik Jawa Hokokai, Batik pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Petani, Batik Indonesia dan Batik Danar Hadi. Foto: Suryo Wibowo
Pada galeri selanjutnya, pengunjung akan diperkenalkan pula pada batik yang mendapat pengaruh tradisi India. Motif ini pertama kali dibawa oleh para pedagang Gujarat pada abad 16.
Ada pula batik yang mendapat pengaruh keraton dan Jepang yang dinamai Jawa Hokokai. Ada cerita unik soal munculnya batik yang mirip motif kraton namun dengan pewarnaan atau gaya yang sedikit perbeda. Konon ini terjadi karena masyarakat biasa di Jepang atau negara Asia lainnya, seperti saudagar dan petani, yang tertarik ingin memiliki kain batik layaknya keluarga kraton Jawa, sehingga mereka membuatnya dengan warna yang lebih terang dan motif yang lebih sederhana. Ini untuk membedakannya dengan batik keraton.
Batik-batik tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pola-pola dari negara mereka, misalnya Negeri Tirai Bambu. Batik Cina memiliki warna yang lembut, seperti merah muda, oranye, atau hijau muda dengan motif gerigi yang khas.
Soal pewarnaan ini, di antara galeri-galeri itu juga ada galeri yang memberikan gambaran soal pilihan warna dan dari unsur pewarnaan itu diambil. Warna sogan –coklat khas batik, misalnya diambil dari dedaunan dan akar-akaran. Sementara warna lain juga diambil dari bahan-bahan alami lainnya.
Di galeri pembuatan batik House of Danar Hadi, pengunjung dapat mempelajari delapan tahapan pembuatan batik dari kain mori polos, klowongan, tembokan, wedelan, kerokan, biron, sogan hingga kemudian menjadi batik. Dalam stoples-stoples kaca disimpan tanaman-tanaman, bahan kimia, dan ragam jenis lilin yang digunakan untuk batik tulis tradisional.
Batik kontemporer hadir dari rancangan-rancangan desainer Indonesia, seperti Soemihardjo, Bambang Oetoro, dan Guruh Soekarno Putra. Batik ini memiliki motif yang lebih unik, seperti motif Pancasila dan motif api Reformasi.
Di galeri terakhir, Santoso Doellah menyimpan batik tulis dengan motif paling rumit dan paling indah. Motif tersebut ia anggap tidak akan bisa ditiru atau dibuat kembali. Salah satu batik unik tersebut adalah Batik Tiga Negeri. Disebut demikian karena batik ini dibuat di tiga tempat yang berbeda untuk setiap warnanya. Warna merah dibuat di Lasem, biru di Pekalongan, dan cokelat di Solo.
Selain menjelajahi isi museum, pengunjung bisa melengkapi wisata dengan berbelanja produk-produk Batik Danar Hadi. Pintu ke luar museum terhubung langsung dengan ruangan toko batik. Batik Danar Hadi kini telah menuai kesuksesan dan ketenaran melalui 17 gerainya yang tersebar di kota-kota di Indonesia. Bukan hanya koleksi batiknya saja yang luar biasa, tapi juga museum ini dilengkapi dengan arsitektur mewah dan klasik dengan lampu gantung, lukisan, dan cermin berpigura emas.
Pernah mampir ke House of Danar Hadi? Jika belum, cobalah agendakan untuk mengunjunginya jika sedang berada di Solo.
Olah rasa di atas roda rasanya membingungkan orang. Bagaimana orang bisa melakukan olah rasa seraya melatih fokus dan keseimbangan diri. Yang lebih unik, kegiatan ini juga memberikan euforia dengan mengolah rasa.
Olah Rasa di Atas Roda
Wusss… wusss…. Seorang pemuda meluncur di atas sebuah roda. Disusul kemudian beberapa pemuda lainnya, masih dengan mengendarai alat serupa. Tubuh mereka seakan melayang. Terlihat begitu mengasyikkan. Bergerak lincah kian kemari. Sejurus kemudian, mereka membentuk semacam formasi.
Kelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Peazemakerz itu rupanya sedang berlatih airwheel. Komunitas yang terbentuk pada 2 Juli 2003 ini ternyata ingin memberikan sebuah pertunjukan seni yang berbeda dengan biasanya.
“Selama ini Peazemakerz menggabungkan unsur street dance, parkour, dan capoeira dalam sebuah pertunjukan seninya. Kali ini, kami mencoba koreografi dengan memasukkan unsur airwheel sebagai bagian untuk pertunjukan seni,” ujar Mochammad Subhan, Ketua Peazemakerz, kepada TL di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Tak ayal, aksi mereka mengundang perhatian orang yang tengah berolahraga di kawasan itu, terutama tertuju pada airwheel yang mereka gunakan. Airwheel, kata Subhan,sejatinya merupakan alat transportasi mini yang digerakkan dengan baterai. ”Bisa melaju 18-20 kilometer per jam. Sedangkan untuk pengisian ulang baterai dibutuhkan waktu sekitar 1-1,5 jam dan mampu bertahan hingga 3 jam pemakaian,” ujarnya. Adapun beban yang mampu ditopang alat ini maksimal sekitar 120 kilogram.
Untuk dapat mengendarai airwheel, Subhan menyebutkan, keseimbangan tubuh sangatlah dibutuhkan agar pengendaranya dapat berdiri tegak lurus. Sedangkan untuk menjalankan alat ini, tubuh dicondongkan ke depan dan ke belakang untuk memperlambatnya. Sedangkan untuk mengarahkannya, tubuh dimiringkan ke kanan atau ke kiri. Sekilas memang terlihat begitu mudah.
Kami sempat dipersilakan oleh Gladwin, anggota Peazemakerz, untuk mencobanya. Ups, ternyata tidak mudah. Meski kaki kanan sudah menempel di pedal, ternyata sukar menaikkan kaki kiri di pedal satunya lagi. Bahkan, untuk dapat berdiri dan menyeimbangkan tubuh, saya terpaksa berpegangan pada Gladwin. Lagi-lagi, roda airwheel bergerak mengikuti gerakan kaki yang belum terbiasa menyeimbangkannya. Keinginan untuk berjalan dengan airwheel tipe roda satu itu pun terpaksa kami urungkan.
Namun keinginan mencoba menaiki airwheel kesampaian juga ketika saya mencoba airwheel tipe roda dua yang memakai setang. Alat yang satu ini mirip segway yang pernah dipakai anggota Kepolisian Republik Indonesia yang berdinas saat car-free day di seputar kawasan Sudirman dan Thamrin. Karena memiliki roda dua, airwheel tipe ini relatif lebih seimbang. Saya, yang baru pertama kali mencobanya, tidak kesulitan menggunakannya.
Kendati begitu, tetap saja saya perlu menyesuaikan keseimbangan tubuh saat akan menjalankan ataupun menghentikannya. Untuk menjalankannya, kita hanya perlu mencondongkan tubuh ke depan. Sebaliknya, kita hanya perlu mencondongkan tubuh ke belakang untuk menghentikannya. Sama seperti cara mengendarai airwheel tipe roda satu. Dan, wusss… saya pun meluncur bebas meskipun masih tersendat-sendat.
Olah rasa di atas roda merupakan paduan olah raga dan seni. Foto: theairwheel.sg
Cuma, memang, sensasi airwheel tipe roda dua dengan setang ini masih kurang ketimbang tipe roda satu. Hanya, untuk dapat mengendarainya, perlu waktu. ”Untuk itu, Peazemakerz membuat kesempatan berlatih airwheel yang digelar setiap Selasa sore di Gelora Bung Karno,” ujar Erma Engelien, salah seorang pendiri.
Untuk kelas pemula, kata Erma, latihan digelar seminggu sekali selama satu bulan. Untuk biayanya, dikenai Rp 475 ribu. ”Dalam satu kelas hanya berisi lima orang dengan dua pelatih,” ucap Erma. Bagi yang belum memiliki airwheel, tak perlu khawatir. Sebab, mereka bisa menyewanya. ”Untuk sekali latihan, hanya dikenai Rp 50 ribu.”
Di Indonesia, airwheel sebenarnya sudah diperkenalkan sekitar setahun yang lalu setelah populer di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Selain tipe roda satu dan roda dua dengan setang, ada yang tipe roda dua tanpa setang. Namanya airboard. Harga airwheel di pasar bervariasi, tergantung spesifikasinya. Dari Rp 6 juta hingga Rp 20 juta.
Penggunaan airwheel sudah meningkat di Indonesia seiring dengan komunitasnya yang bermunculan, seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. ”Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari airwheel ini. Alat ini dapat melatih fokus diri, keseimbangan, dan cukup memperbaiki struktur tulang belakang,” kata Erma.
Selain itu, sepertinya, alat transportasi yang mudah dijinjing ini ramah lingkungan dan menimbulkan euforia bagi pengendaranya. Betul begitu? Wusss… wusss….
Inia da 6 sentra batik favorit alau berkunjung ke Pekalongan, Jawa Tengah. Rasanya kurang afdol jika main ke kota ini tidak sekalian mencari atau setidaknya melihat-lihat produk batik khas kota batik ini. Sejak dulu, Pekalongan memang sangat identik dengan batik, yang kini industrinya tak hanya mahsyur di level nasional, namun juga sudah merambah level internasional.
6 Sentra Batik Favorit Pekalongan
Menariknya, kultur batik di Pekalongan punya perbedaan cukup mendasar dibandingkan dengan kota-kota seperti Yogyakarta dan Solo. Batik Pekalongan cenderung lebih berani pada kreasinya, dengan motif yang lebih variatif dan lebih terang. Ini disebabkan karena Pekalongan juga merupakan kota pelabuhan yang besar di Jawa Tengah, di mana dulu pengaruh budaya asing dari Tiongkok, India, Jepang dan sebagainya bisa masuk.
Pekalongan Kota Batik Dunia. Foto: Ada 6 sentra batik favorit di kota ini. Dok. DPMPTSP Kota Pekalongan.
Masuknya pengaruh tersebut membuat batik Pekalongan lebih casual, dibanding batik Solo atau Yogyakarta yang masih banyak terpengaruh adat dan filosofi Keraton. Dan kreatifitas ini tidak berhenti pada keragaman motif saja. Contohnya batik pagi sore, salah satu inovasi dimana ada dua motif batik yang berbeda dalam satu kain. Sehingga, batik bisa digunakan dalam dua kesempatan berbeda dengan dua motif berbeda.
Bahkan, kini terdapat pula Museum Batik Pekalongan yang tidak hanya menjadi tempat edukasi dan destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat riset dan pengembangan kultur serta ilmu membatik. Selain itu, terdapat 6sentra batik favorit yang menjajakan beragam produk batik yang otentik dan menarik untuk diboyong sebagai oleh-oleh, seperti berikut ini.
Pasar Grosir Batik Setono
Tempat belanja batik di Pekalongan yang paling ramai dan favorit adalah Pasar Grosir Batik Setono, yang juga adalah salah satu sentra perdagangan batik di kota ini. Berdiri pada 15 Desember 1941, kemunculan pasar ini dipicu oleh kecenderungan bahwa produk hasil industri batik Pekalongan lebih banyak dikirim dan dijual di kota-kota lain.
Maka dari itu, didirikanlah pasar ini di sebuah bangunan yang dulunya merupakan pabrik tekstil, untuk menampung pengusaha batik kecil dan menengah agar bisa langsung menjajakan produknya. Di sisi lain, konsumen juga lebih dimudahkan dalam mencari produk batik, utamanya mereka yang memang datang ke Pekalongan untuk membeli batik.
Terhitung ada sekitar 550 toko yang berada di salah satu dari 6 sentra batik favorit pasar yang buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 21.00 ini. Mayoritas dari mereka adalah penjual kain dan pakaian siap pakai batik, namun ada juga yang menjual aksesoris atau kerajinan tangan bertemakan batik. Lokasinya yang berada di jalan Dr. Sutomo nomor 1-2 juga terhitung strategis, karena langsung berhadapan dengan ruas jalan akses menuju tol Trans Jawa rute Pemalang-Batang.
Untuk produk pakaian sendiri beragam dari kemeja, blouse, celana, daster, sarung, mukena dan lain lain. Harganya bergantung pada jenis kain yang digunakan. Misalnya, kemeja dengan bahan katun harganya berkisar dari Rp 25 ribu sampai 35 ribu. Sementara yang menggunakan bahan lebih premium seperti sutra, harganya bisa di kisaran ratusan ribu, bahkan jutaan.
^ sentra batik favorit di pekalongan. Museum Batik Pekalongan. Foto: Dok Wikimedia Common
International Batik Center
Sentra perdagangan batik lainnya dari 6 sentra batik favorit di Pekalongan yang menjadi rekanan bagi wisatawan yang berburu batik adalah International Batik Center, atau yang biasa dipanggil dengan singkatan IBC. IBC merupakan sebuah kompleks terpadu yang menyatukan kegiatan perdagangan, eksibisi serta edukasi tentang batik, khususnya batik Pekalongan.
Berlokasi di jalan Ahmad Yani nomor 573, IBC menawarkan beberapa fasilitas di samping fungsinya sebagai sentra jual beli batik. Seperti misalnya area galeri yang menampilkan beragam koleksi batik, dari yang tradisional sampai yang kontemporer. Karya-karya pengrajin batik lokal juga ditampilkan di sini.
Terdapat pula area workshop, dimana pengunjung dapat menonton atau ikut belajar langsung tentang teknik membatik, mulai dari pewarnaan hingga mencanting. Lewat fasilitas dan kegiatan tersebut, IBC aktif menjalin hubungan dengan berbagai lembaga dan komunitas seni budaya internasional, dalam upaya meningkatkan kesadaran dan membuka peluang pasar bagi batik Pekalongan di level global.
Meski demikian, tak perlu khawatir dengan harga produk-produknya. Harga produk batik di sini masih tetap tergolong bersahabat, seperti daster yang berkisar dari Rp 35 ribu, atau kemeja yang harganya sekitar Rp 50 ribu. Berada di jalur rute Pantura, ia juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti food court dan area parkir yang luas.
Kampung Batik Kauman
Pekalongan juga dikenal dengan beberapa kampungnya yang warganya berbudi daya batik. Contohnya adalah Kampung Batik Kauman, di mana kampung ini disinyalir sudah eksis sejak abad 19 silam. Ini terlihat pada nuansa arsitektur yang tampak banyak terpengaruh oleh gaya arsitektur Eropa, Tiongkok dan Arab tempo dulu. Ini adalah satu dari 6 sentra batik favorit.
Sebagai salah satu kampung yang pertama muncul di wilayah Pekalongan, banyak dari warganya yang kemudian juga berprofesi sebagai pengrajin batik. Dan yang menarik, jika menilik dari ragam motifnya, beberapa produk batik mereka juga turut terpengaruh oleh seni dan budaya dari wilayah-wilayah pendatang tersebut.
Seperti batik encim yang merupakan hasil leburan budaya lokal dan Tiongkok, atau batik jlamprang yang mengambil inspirasi dari budaya Arab dan India. Produk-produk tersebut kemudian menjadi ciri khas dari pengrajin batik di Kauman, yang diresmikan sebagai kampung batik pada 2007.
Hingga kini, terdapat puluhan showroom dan workshop milik warga setempat yang sehari-harinya menerima pengunjung dan memproduksi beragam produk dari batik, seperti kain, kemeja, sarung, serta aksesoris seperti tas dan dompet. Produk-produk tersebut sudah dipasarkan tidak hanya di taraf nasional saja, tapi juga internasional.
Berlokasi di jalan Hayam Wuruk, tidak jauh dari alun-alun kota Pekalongan, terdapat sebuah gapura di depan jalan masuk sebagai penanda, sehingga tidak terlalu sulit untuk mencari lokasinya. Selain berbelanja batik, suasana di sekitar kampung yang terlihat tua nan antik juga menjadi spot menarik untuk berfoto.
Kampung Batik Pesindon
Kampung batik lainnya sebagai satu dari 6 sentra batik favorit di Pekalongan yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Kampung Batik Pesindon. Lokasinya tak jauh dari Kampung Batik Kauman, dapat diakses lewat jalan Hayam Wuruk, dan terletak di tepi kali Pekalongan. Kampung ini ditetapkan sebagai kampung batik sejak 2020.
Disebut-sebut bahwa kampung ini mayoritas berisi warga pengrajin batik dan peternak ayam. Industri rumahan pengrajin batik di sini sudah ada sejak sekitar 1950-an. Kini, kurang lebih terdapat sekitar 33 showroom yang setiap harinya memproduksi batik dan melayani pengunjung.
Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses produksi batik di berbagai studio batik yang berada di hampir tiap sudut gang kampung tersebut. Baik batik tulis maupun batik cap dapat ditemukan di sini, dengan varian produk batik meliputi kain, kemeja, syal, tas serta aksesoris lainnnya.
Terdapat pula workshop yang menawarkan kelas singkat dalam teknik dan proses pembuatan batik. Satu keunikan lainnya, karena di kampung ini terdapat banyak gang, maka di sekitar area kampung akan ditemui penanda arah ke masing-masing showroom dan workshop pengrajin batik, sehingga tak perlu khawatir tersesat.
Salah satu motif batik Pekalongan. Foto shutterstock
Qonita Batik Boutique
Kalau ingin mencari produk batik di Pekalongan yang lebih premium dan fashionable, Qonita Batik Boutique jadi salah satu rekomendasi. Merek batik Pekalongan yang sudah eksis sejak 1995 ini berfokus pada produk batik siap pakai, dengan gaya yang modern dan penggunaan bahan yang premium, utamanya sutra.
Semisal gaun sutra yang kisaran harganya dari Rp 2,25 juta hingga 3 juta, blouse yang harganya berkisar dari Rp 190 ribu sampai 260 ribu, serta produk-produk lain seperti kemeja sutra, daster, mukena, hingga sprei. Harga produk-produk tersebut bergantung dari bahan serta jenis batiknya, baik batik tulis maupun cap.
Meski harganya premium, namun kualitasnya sudah teruji. Bahkan mereka sudah rajin menampilkan beragam kreasi mereka di acara-acara fashion week nasional. Jika tertarik berkunjung, Qonita Batik Boutique berlokasi di jalan Gajah Mada nomor 49, dan buka setiap hari dari jam 08.00 sampai 21.00.
Batik Unggul Jaya
Merek batik Pekalongan lainnya yang terbilang cukup populer adalah Batik Unggul Jaya. Terletak di jalan Angkatan 45 nomor 39, Batik Unggul Jaya juga berfokus pada produk batik siap pakai dengan bahan katun berkualitas yang lembut dan adem dipakai, namun dengan harga yang cukup terjangkau.
Masuk ke dalam toko, pengunjung akan disambut dengan puluhan pegawai yang siap membantu memilihkan produk yang diinginkan, dengan deretan produk batik yang dipamerkan, berjejer dari luar hingga ke dalam. Pengunjung dapat berkeliling melihat-lihat dan memilih beragam jenis produk dengan banyak pilihan motif.
Produk-produk tersebut meliputi kemeja, gamis, blouse, blazer, kaftan, celana, rok, daster, dan sebagainya. Bahkan mereka juga menyediakan produk-produk spesifik tertentu untuk memenuhi kebutuhan konsumen, seperti pakaian ukuran jumbo atau big size, serta pakaian untuk ibu menyusui.
Harga produk-produk tersebut pun terbilang cukup reasonable. Kemeja misalnya, dihargai Rp 80 ribu untuk lengan pendek dan Rp 95 ribu untuk lengan panjang. Atau daster yang harganya mulai dari Rp 70 ribu hingga 77,5 ribu. Bagi yang tertarik berkunjung dan melihat sendiri keragaman produknya, Batik Unggul Jaya buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 18.00.
Batik Semarang belum seterkenal batik Solo, Yogya, atau Pekalongan. Namun, batik yang diproduksi di sebuah kampung di ibukota Jawa Tengah ini pernah sangat berjaya. Mereka tak hanya menjual batik khas, di kampung batik ini orang juga bisa belajar membatik dan mengenal sejarah.
Batik Semarang
Tangannya bergerak lincah. Memandu ujung canting menyusuri pola yang sudah terbentuk di atas bentangan kain putih. Dengan kepala sedikit tertunduk, matanya menyoroti setiap lekukan pola. Sesekali kicauan merdu burung memecah keheningan di antara mereka. Entah sudah berapa jam mereka menggoreskan canting untuk membentuk motif batik yang cantik.
Meski begitu, Kholifatin Niswah, Shelly Nur Septyana, Dwi Bella Putriyani, dan Nonik Aswiyani bukanlah perajin batik. Mereka sebenarnya adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Jepara, Jawa Tengah, yang sedang melakukan praktek kerja lapangan (PKL) di Kampung Batik Semarang. Sudah satu bulan mereka menghabiskan waktu untuk belajar membatik dari dua bulan yang direncanakan.
Bukan tanpa alasan mereka memilih Kampung Batik Semarang sebagai tempat PKL. ”Batik Semarang memiliki motif yang khas dibanding batik dari daerah lain,” kata Kholifatin.
Menurut Tri Mudjiono, Ketua Paguyuban Sentral Batik Semarang, Jawa Tengah, yang ditemui hari itu, motif batik Semarang menonjolkan unsur flora dan fauna sebagai motif utama. ”Misalnya saja buah asem arang dan burung blekok,” ujarnya.
Burung blekok, kata dia, dijadikan motif karena burung blekok putih banyak di kawasan Srondol, Semarang, di masa lalu. Kini hampir susah kita menemui burung berparuh panjang itu. Begitu pula asem arang, yang banyak tumbuh di Semarang. Konon, nama Semarang diambil dari nama pohon asem yang tumbuhnya saling berjauhan tersebut.
Belakangan, motif batik Semarangan kian berkembang. Ikon Kota Semarang, seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, dan Sam Poo Kong, menjadi ciri khas lain batik Semarangan. Sedangkan untuk pewarnaannya, batik Semarang dikenal memiliki warna-warna terang, seperti biru, merah, dan cokelat.
“Teknik batik juga tak berbeda dari batik-batik daerah lain. Batik Semarang mengenal teknik tulis, cap, dan cetak,” ujar Tri saat ditemui di rumahnya yang sekaligus dijadikan ruang pamer. Ketua RW II, Kelurahan Rejamulyo, Semarang Timur, Kota Semarang, itu juga masih ingat betul bahwa batik Semarang mulai menggeliat sekitar 2004, saat Pemerintah Kota Semarang memiliki keinginan mengembalikan nama besar batik Semarangan yang dulu pernah mencapai masa keemasan.
Kampung Batik Semarang pernah mengalami kejayaan pada 1919-1925. Sentra batik di Kota Semarang saat itu sangatlah berkembang. Hal ini karena terjadi krisis yang menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan sandang. Akibatnya, masyarakat memenuhi kebutuhan sandangnya sendiri dengan membuat pakaian sendiri.
Namun sayang, sentra batik Semarang ikut luluh-lantak saat Pertempuran Lima Hari di Semarang. Walau telah dihancurkan pasukan tentara Jepang, kejayaan Batik Semarang masih bertahan hingga 1970. Adalah Tan Kong Tien, seorang putra tuan tanah Tan Siauw Liem, yang juga menantu Sri Sultan Hamengku Buwono III, yang mempertahankannya. Setelah menikah dengan RA Dinartiningsih, Tan Kong Tien mewarisi keahlian membatik dari istrinya yang kemudian ia kembangkan. Perusahaannya bernama “Batikkerij Tan Kong Tin” mendapatkan hak monopoli batik untuk wilayah Jawa Tengah. Perusahaannya ini diteruskan oleh putrinya, R. Ng. Sri Murdijanti, hingga 1970.
Sejak saat itu, Kampung Batik Semarang seolah mengalami ”mati suri”. Usaha untuk membangkitkan kembali Kampung Batik Semarang pernah juga dirintis pada awal 1980 tapi gagal bertahan, sampai akhirnya jenis batik ini kembali tenggelam. Batik Semarang baru dihidupkan kembali pada 2004 oleh Pemerintah Kota Semarang. ”Untuk mengembalikan masa kejayaan itu, pemda melakukan serangkaian pelatihan dengan peserta warga yang memiliki kemauan besar untuk belajar membatik,” ujar Tri mengenang.
Hingga saat ini, menurut Tri, sudah ada empat perajin batik di Kampung Batik Semarang. Masing-masing tempat usaha umumnya memiliki lebih dari 10 karyawan, meski ada pula yang hanya memiliki 5 karyawan. Jumlah toko batik saat ini, kata dia, semakin bertambah menjadi 12 unit.
Harga batik Semarang relatif tak jauh berbeda dengan batik lainnya. Harganya Rp 50-250 ribu untuk jenis cap atau cetak. Tergantung tingkat kesulitan dalam pembuatan dan jenis kain yang digunakan. Khusus batik tulis, harganya dimulai dari Rp 250 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp 2 jutaan.
Meski belakangan batik Semarang mulai menggeliat, Tri mengakui masih memiliki kendala besar, terutama pada masalah biaya untuk menjahit. ”Ongkos jahit di daerah lain lebih murah ketimbang di Semarang,” ucapnya. Hal itu diiyakan Oktavia Ningrum, pemilik toko Batik Temawon, yang baru buka sekitar satu setengah tahun lalu. ”Ongkos jahit di Semarang relatif lebih mahal,” katanya. Selain itu, kata dia, perajin batik Semarang jarang melakukan pewarnaan sendiri karena permasalahan limbah. ”Maklum, sentra batik Semarang berada di lingkungan rumah warga,” ujar perempuan asal Bogor, Jawa Barat, itu.
Oktavia dan Tri optimistis bahwa batik Semarang akan mendapat tempat di hati para penggemarnya. Mereka sepakat berharap sentra batik Semarang bisa menjadi salah satu tujuan wisata Semarang, seperti kampung batik di kota lainnya.
Lempok Pontianak sejak lama menjadi salah satu oleh-oleh wajib jika berkunjung ke ibu kota Kalimantan Barat itu. Mirip dengan lempok Medan, namun tetap memiliki kekhasannya sendiri. Namun berbeda dengan lempok Bangkok yang cenderung lembut atau lembek, dodol berbahan durian dari Khatulistiwa ini lebih kering namun legit.
Lempok Pontianak
Secara wujud fisik, lempok Pontianak terlihat agak mirip dengan dodol yang bertekstur lembut dan empuk. Maklum, di beberapa daerah di Indonesia orang juga dapat menemukan varian dodol rasa durian, termasuk di kota dodol, Garut.
Tetapi ada perbedaan cukup signifikan antara dodol dan lempok durian. Kalau dodol biasanya dibuat dengan tepung beras ketan dengan tambahan elemen lainnya untuk menambah rasa, lempok durian 100 persen terbuat dari daging buah durian yang dimasak.
Daging buah durian tersebut dimasak dengan api yang tidak terlalu besar. Sambil dimasak, daging buah tersebut dicampur dengan gula aren dan garam. Setelah dicampur, kemudian diaduk selama kurang lebih tiga sampai empat jam.
Durian bahan utama lempok Pontianak.
Setelah selesai proses pengadukan ia menjadi adonan yang kental dan berwarna cenderung gelap. Adonan tersebut didinginkan hingga menjadi padat, dan lempok durian pun siap untuk disajikan. Bisa langsung dibungkus untuk dijual, atau langsung dipotong-potong untuk dihidangkan.
Lempok durian sudah pasti memiliki aroma serta rasa khas durian yang masih terasa cukup kuat. Tetapi tambahan gula aren yang manis dan legit membuatnya bercita rasa cukup unik dan berbeda. Apalagi dengan teksturnya yang terasa lembut di mulut.
Resep kudapan tradisional ini disinyalir banyak dipengaruhi dari budaya dan khazanah kuliner Melayu. Penganan berjenis serupa juga dapat ditemukan di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Sejarah munculnya lempok Pontianak ini diyakini para pembuatnya karena stok durian yang begitu melimpah setiap panen, yang biasanya terjadi kurang lebih dua tahun sekali. Situasi tersebut membuat orang-orang mulai tergerak untuk mengolah durian agar mudah dikonsumsi, sehingga tidak sia-sia dan membusuk.
Buah yang kerap dijuluki ‘si raja buah’ tersebut memang lazimnya tumbuh di wilayah tropis. Umumnya ia ditemukan pada area hutan di Sumatera, Kalimantan dan beberapa daerah lain di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand.
Di Pontianak, pembuatan lempok ini cepat berkembang karena tidak membutuhkan modal besar. Ketersediaan durian yang begitu melimpah saat panen membuat harganya menjadi murah saat dijual. Terlebih, lempok durian sendiri tidak membutuhkan banyak bahan baku lainnya.
Meskipun tak banyak yang tahu kapan resepnya ditemukan, namun lempok Pontianak disebut mulai umum diperdagangkan sejak akhir tahun 70-an. Di Kalimantan awalnya penganan ini dapat ditemukan di daerah seperti Samarinda dan Pontianak.
Kalimantan menjadi salah satu sentra penghasil durian di Indonesia. Foto: unsplash
Di Kalimantan sesungguhnya pusat budidaya durian ada di Kalimantan Tengah. Utamanya terletak di daerah-daerah seperti Kabupaten Katingan, Murung Raya, Sukamara, Pulang Pisau, dan Barito Utara. Setiap panen mereka mampu menghasilkan hingga ribuan ton durian.
Jumlah hasil panen yang melimpah tersebut membuat daerah seperti Pontianak turut kebagian kiriman buahnya. Ditambah produk durian asli Kalimantan Barat dari Batang Tarang, Punggur, dan Bengkayang, jadilah stok yang melimpah. Karenanya, kota di titik lintan 0 derajad ini menjadi sentra produksi dan penjualan lempok durian.
Biasanya, langkah awal dalam proses produksi adalah seleksi durian yang dikirim ke rumah produksi, sebelum mulai diolah. Buah-buah yang tidak terpilih kemudian akan langsung dijual untuk umum. Pemilihan buah untuk dagangan langsung dan bahan biasanya brpusat di Pasar Dahlia, Pontianak.
Hal ini sebagai salah satu langkah untuk memastikan lempok durian yang diproduksi senantiasa dalam kualitas yang terbaik. Mengingat durian yang dipanen umumnya datang dari daerah pedalaman, selalu ada risiko beberapa di antaranya sudah kurang segar untuk diolah.
Setelah dipilih, buah-buah tersebut kemudian dikupas dan daging buahnya dipisahkan dari bijinya. Dibutuhkan sekitar satu kilogram daging buah durian setiap kali masak, sehingga akan ada beberapa tenaga kerja yang bertugas untuk mengaduk adonannya hingga jadi.
Setelah jadi, akan ada pula pekerja yang memastikan bahwa tak ada biji yang tertinggal saat dimasak. Kemudian adonan yang telah dingin dibersihkan lagi sebelum dibungkus, atau dipotong lagi sebelum dibungkus.
Satu bungkus lempok Pontianak berukuran satu kilogram biasanya dihargai sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Dalam satu bungkus satu kilogram tersebut biasanya terdiri atas dua potong lempok durian seberat 500 gram.
Yang perlu dicatat, lempok durian Pontianak umumnya tidak menggunakan bahan pengawet tambahan. Justru, penggunaan gula aren dalam pembuatannya disebut tak hanya menambah cita rasa, namun juga menjadi bahan pengawet secara alami.
Lazimnya, lempok durian dapat bertahan di dalam suhu ruangan sampai sekitar satu bulan. Kalau diletakkan di dalam kulkas, maka dapat bertahan sampai kurang lebih tiga bulan. Bisa dikatakan, lempok mampu awet dalam waktu yang cukup lama dan cocok sebagai oleh-oleh.
Ditambah lagi, bahan baku serta proses pembuatannya yang alami membuatnya menjadi penganan tradisional yang sehat bagi tubuh. Durian dikenal dengan kandungan mineral, protein, karbohidrat, folat, atrium, kalsium, zat besi, serta vitamin B1, B2 dan C. Mengonsumsi lempok durian dapat berkhasiat meningkatkan energi, menghindari anemia dan menguatkan bagian tubuh seperti otot, tulang, gigi dan syaraf.
Lempok durian Pontianak mudah didapatkan di toko-toko oleh-oleh atau bahkan di tempat-tempat penjualan durian. Ia tersedia sepanjang tahun, jadi jangan lupa bawa lempok durian kalau jalan-jalan ke Pontianak.
Sentra gudeg Wijilan, Yogyakarta, ternyata bukan sekadar kawasan dengan deretan penjual masakan khas Yogyakarta dari bahan nagka muda itu. Kawasan ini menyimpan sejarah panjang kuliner yang ikut menyokong perekonomian masyarakat, bahkan tradisi dan kebudayaan.
Sentra Gudeg Wijilan
Wijilan satu kawasan yang terkenal sekaligus bersejarah yang berhubungan dengan masakan gudeg. Kampung Wijilan terletak di sebelah Selatan Plengkung Tarunasura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Plengkung Wijilan. Kampunya ada di sebelah Timur Alun Alun Utara. Begitu melewati plengkung, di jalan ini berjejer tempat makan yang menjajakan gudeg.
Salah satu sudut Kampung Wijilan, sentra gudeg di Yogyakarta. Foto: Dok. Shutterstock
Plengkung itu sendiri menandai bahwa Kampung Wijilan ini menjadi bagian apa yang disebut sebagai jeron beteng, di dalam benteng (kraton). Ini artinya Wijilan masuk dalam kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang ditinggali oleh para keluarga abdi dalem. Nama-nama jalan di kawasan ini memperlihatkan posisi para abdi dalam.
Menurut cerita sejumlah pedagang gudeg di kawasan itu, gudeg adalah salah satu makanan khas keluarga kraton. Ini membuat para istri abdi dalem memiliki kemampuan membuat gudeg.
Namun, kisah terbentuknya kampung Wijilan menjadi sentra kuliner gudeg dimulai ketika seorang penjual bernama ibu Slamet merintis usaha warung gudeg pada 1942. Pada saat itu, meski di tempat lain ada penjual atau pembuat gudeg, namun di wilayah itu dialah yang merintis menjadi pedagang pertamanya.
Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Djuwariah. Yang terakhir ini belakangan kemudian dikenal dengan sebutan gudeg Yu Djum. Ia menjadi salah satu ikon kuliner yang terkenal saat ini.
Pada 1980, warung gudeg Campur Sari tutup tetapi tempat makan lain seperti warung gudeg Bu Lies dan lain-lain buka di sana. Hingga saat ini, toko gudeg milik Yu Djum, Bu Slamet, dan Bu Lies masih ditemui di Sentra Gudeg Wijilan. Meskipun beberapa memindahkan dapur utamanya.
Pasang surut usaha gudeg memang sempat dialami oleh warung gudeg yang ada di kampung Wijilan. Termasuk tutupnya warung gudeg Campur Sari tadi. Butuh waktu sekitar 13 tahun baru warung gudeg di kampung tersebut menjadi ramai seperti saat ini tepatnya pada 1993. Makanan dengan citarasa manis dan gurih ini kini menjadi incaran para pengunjung yang sedang berwisata di Jogja.
Gudeg yang dibuat oleh toko di Sentra Gudeg Wijilan umumnya memiliki rasa hampir mirip, yakni manis dan cenderung jenis gudeg kering. Karena itu, gudeg di sentra ini juga cocok menjadi buah tangan karena tidak mudah basi dan bahkan mampu tahan selama tiga hari.
Gudegnya adalah jenis gudeg kering dengan rasa manis. Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek yang dipindang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas datang dari paduan sayur tempe dan sambal krecek.
Gudeg Yogya umumnya memang berbeda dengan gudeg Solo yang basah. Di kota pelajar ini gudeg justru kering karena tidak menggunakan areh yang diencerkan. Areh merupakan kuah santan kental yang biasanya disajikan dengan cara disiram di atas nasi atau lauk. Di daerah lain seperti Solo, areh yang dipakai berbentuk lebih encer dan terkesan menjadi seperti kuah.
Dan seperti disebut di depan, bagi masyarakat Yogyakarta selain menjadi santapan dan oleh-oleh, gudeg Kampung Wijilan dulu juga dipakai sebagai ubo rampe keperluan keluarga Sultan saat melakukan kembul bujono.
Sepiring gudeg yang dialasi daun pisang. Foto: Dok. shutterstock
Kembul bujono merupakan istilah untuk menamai kegiatan makan bersama-sama dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Tak hanya mengisi perut, aktivitas ini juga melambangkan kekompakan dan kerukunan.
Yang juga unik dari gudeg-gudeg di Sentra Gudeg Wijilan adalah beberapa penjual tidak keberatan menunjukkan cara memasak gudeg kepada para pengunjung. Bahkan di warung gudeg Yu Djum menawarkan paket wisata memasak gudeg kering bagi anda yang ingin memasak sendiri dengan pengarahan langsung dari Yu Djum. Saat ini dilanjutkan anak keturunannya. Dengan berwisata gudeg, pengunjung tidak hanya akan mencicipi gudeg, namun seharian penuh mereka akan belajar meracik bumbu dan mamasak gudeg. Prosesnya di mulai dari mulai merajang gori (nangka muda), meracik bumbu, membuat telur pindang, sampai mengeringkan kuah gudeg di atas api.
Gudeg Dalam kaleng. Foto. ist.
Rata-rata warung gudeg di Wijilan buka dari pukul 5.30 pagi hingga pukul 8 malam. Gudeg yang disajikan pun berbeda-beda, tergantung selera.
Sentra Gudeg Wijilan pada akhirnya tak hanya sekadar spot wisata, namun juga pusat konservasi kulineri Yogyakarta. Tertarik? Ayo agendakan kunjunganmu ke sini.