Kerajaan Sunda Kuno, Jejak Peradaban Nusantara (Bagian 1)

Kerajaan Sundo Kuno merupakan peninggalan jejak peradaban Nusantara

Kerajaan Sunda kuno merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Sunda Kuno

Jauh sebelum Kesultanan Cirebon, tersebutlah kerajaan besar yang tak bisa ditaklukkan oleh Majapahit sekalipun. Menurut penulis Portugis, Tome Pires, dalam catatan perjalanannya Summa Oriental, kerajaan ini menguasai separuh Pulau Jawa dan batasnya berada di Sungai Chi Manuk. Itulah Sunda Galuh atau lebih dikenal dengan Kerajaan Pajajaran.

Luasnya meliputi daerah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sisi barat Jawa Tengah. Hal yang membuatnya begitu besar dikarenakan Sunda Galuh merupakan gabungan dua imperium, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda yang terbentuk sejak abad ke-7 berpusat di Pajajaran dan beribukota di Pakuan (Bogor), sedangkan Kerajaan Galuh yang hadir sejak abad ke-8 beribukota di Kawali (Ciamis).

Pada suatu masa, salah satu putra mahkota, Jayadarma menikah dengan keturunan Kerajaan Singasari, yakni Dyah Lembu Tal. Keduanya memiliki anak bernama Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit. Namun apa lacur, justru pada pemerintahan cucu Raden Wijaya, yakni Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda berseteru dalam Perang Bubat. Sejak itulah, kerabat keraton Sunda ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit (Jawa).

Perang yang lebih hebat terjadi saat Sunda Galuh didesak oleh kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya, seperti Cirebon, Demak, dan Banten. Untuk memperkuat diri, Sunda Galuh bekerja sama dengan Portugis. Alfonso d’Albouquerque menyambut baik ajakan ini. Namun sayang, Cirebon dan Banten tetap lebih kuat, sehingga Sunda Galuh memasuki era kejatuhannya.

Berikut sejumlah jejak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang masih ada dan layak dikunjungi.

Candi Cangkuang

Tak banyak peninggalan Kerajaan Sunda Galuh yang tersisa. Namun justru itulah yang membuat perjalanan ke Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut menjadi begitu bermakna. Di sana ada Candi Cangkuang yang telah dibangun pada zaman Kerajaan Galuh pada abad ke delapan.

Dari pintu masuk ke kompleks candi, pengunjung masih harus menyeberangi danau sejauh 250 meter menggunakan rakit yang sudah disediakan. Deretan pepohonan Cangkuang di segala sisi pulau siap memayungi para wisatawan dari terik matahari. Selain itu, ada pemukiman adat Kampung Pulo yang terdiri dari enam rumah yang saling berhadapan.

Ke enam rumah ini mencerminkan jumlah anak dari tokoh pendiri kampung, yaitu Embah Dalem Arief Muhammad. Dia adalah seorang tentara Kerajaan Mataram yang menyebarkan agama Islam pada penduduk Desa Cangkuang. Makamnya pun dapat ditemui di dekat area candi.

Alamat: Leuwigoong, Karanganyar, Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut
Tarif sewa rakit
: Rp 5.000 per orang
Akomodasi: Tersedia penginapan dan bungalow dengan tarif mulai Rp 250,000 sampai Rp 300.000 per malam

Situs Ciung Wanara Karangkamulyan

Ciung Wanara adalah tokoh legenda di Jawa Barat. Ia mewarisi kesaktian dari ayahnya, seorang raja yang sudah diambil alih kekuasaannya oleh orang lain. Raja baru dan salah satu permaisuri pun merasa terancam dengan kelahiran Ciung Wanara, sehingga membuangnya ke sungai. Namun bayi itu selamat dan kelak ketika dewasa berjuang menuntut keadilan pada raja dan ratu yang lalim.

Kisah ini berlatar di Kerajaan Galuh. Karenanya, situs Ciung Wanara pun bertempat di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis yang pernah menjadi pusat aktivitas kerajaan. Begitu menjejakkan kaki di sini, kerimbunan rumpun bambu akan menyambut dengan kesejukannya.

Di balik pepohonan berumur ratusan tahun, terdapat sejumlah bangunan peninggalan Kerajaan Galuh. Di bagian depan ada Pangcalikan, yaitu batuan bertingkat segi empat yang biasanya digunakan sebagai altar pemujaan. Bagian selanjutnya adalah Sahyang Bedil, berupa ruangan batu dengan menhir di dalamnya. Ada pula tempat bernama Lambang Peribadatan dan Panyabungan Hayam, yang digunakan Ciung Wanara untuk menyabung ayam.

Alamat: Jalan Raya Banjar Ciamis, Cijeungjing, Karangkamulyan, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis
Jam buka
: 07.00–20.00

Kerajaan Sunda Kuno dengan peninggalan Prasasti Batutulis. Prasasti ini masih ada di tempat aslinya.
Prasasti Batutulis yang merupakan salah satu bukti adanya Kerajaan Sunda. Foto: Dok. Javalane

Prasasti Batutulis

Luas kompleks Batutulis hanya sekitar 17 x 15 meter, tetapi nilai historisnya sangat penting. Batu berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi) ini merupakan bukti keberadaan Kerajaan Sunda. Statusnya in situ, yaitu masih terletak di lokasi aslinya alias sama sekali tidak dipindahkan.

Pada batu terukir beberapa baris kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuna. Teks tersebut dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk mencatatkan jasa dan kebesaran ayahandanya, Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.

Alamat: Jalan Batutulis Nomor 54, Batutulis, Bogor
Jam buka: 08.00–17.00

agendaIndonesia

*****

Kerajaan Tarumanagara, Jejak Kebudayaan Nusantara (Bagian 2)

Kerajaan Tarumanagara merupakan sedikit dari kerajaan di Provinsi Jawa Barat yang menorehkan kejayaannya pada catatan peradaban Nusantara. Dari serpihan-serpihan peninggalan yang masih tersisa, para pelancong akan disuguhi keanggunan budaya tradisional dan jejak romantisme masa silam.

Kerajaan Tarumanagara

Tarumanagara pada abad keempat hingga ketujuh, geliat kehidupan penduduk di kawasan ini begitu bergelora. Pembangunan kanal dan penemuan karya sastra pada sejumlah prasasti membuktikan majunya peradabanT arumanagara.

Sejarah mengenai Kerajaan Tarumanagara tercatat secara cukup rinci dalam naskah Wangsakerta. Sayangnya, keaslian tulisan ini masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Menurut sumber tersebut, kerajaan didirikan oleh seorang Maharesi sekaligus pengungsi dari India bernama Jayasinghawarman.

Sumber valid mengenai sejarah kerajaan ini hanyalah berasal dari tulisan-tulisan pada prasastinya. Pada Prasasti Ciaruteun misalnya, dibahas mengenai kemiripan kaki Raja Purnawarman dan kaki Dewa Wisnu. Pembandingan dengan sosok dewa menunjukkan kebesaran Sang Raja yang berhasil memimpin rakyat secara bijaksana, baik, dan berani.

Hal itu didukung oleh isi Prasasti Tugu yang mencatat keberhasilan Purnawarman dalam membangun kanal yang menghubungkan Sungai Candrabaga dan Sungai Gomati dengan laut. Beberapa ahli mengkaji infrastruktur ini dibuat untuk menanggulangi banjir. Ada pula yang menduga saluran berguna untuk irigasi pertanian.

Satu hal yang pasti, dari berbagai prasasti, Raja Purnawarman adalah yang paling sering disebut. Dengan begitu pada masa pemerintahannyalah Kerajaan Tarumanagara mencapai masa keemasan.

Isi 7 Prasasti

Tulisan pada prasasti dari era Kerajaan Tarumanagara ditulis menggunakan bahasa Sanskerta dengan huruf Palawa. Terdapat sekitar delapan prasasti yang ditemukan dan dijadikan objek wisata sejarah. Sebagian besar berada di Situs Ciaruteun. Sementara sisanya tersebar di penjuru Kota dan Kabupaten Bogor.

  1. Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini memiliki sejumlah gambar, yaitu telapak kaki, laba-laba, umbi, dan sulur-suluran. Teks yang terukir menjelaskan bahwa itu adalah telapak kaki Raja Purnawarman yang mirip dengan kaki Dewa Wisnu. Situs sejarah ini berada di Situs Ciaruteun, Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat sebagai salah satu kerjaan tertua di indonesia merupakan jejak peradaban Nusantara.
Prasasti Tapak Gajah, karena ada jejak sepasang kaki gajah, merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto: Dok. javalane
  • Prasasti Kebon Kopi

Pada batu besar ini terpahat bentuk sepasang telapak kaki gajah. Di dekatnya terdapat kalimat yang menjelaskan bahwa gambar itu melambangkan Airawata, yaitu gajah penguasa Kerajaan Tarumanagara. Lokasinya berada di seberang jalan masuk ke Prasasti Ciaruteun.

  • Prasasti Muara Cianten

Sampai sekarang teks prasasti belum bisa dibaca atau diartikan oleh para ahli sejarah. Ini karena tulisan tersebut berbentuk ikal atau berupa huruf sangkha. Lokasinya di tepi Sungai Cianten, Desa Ciaruteun dan belum diangkat ke tempat yang lebih aman.

  • Prasasti Tugu

Bentuknya unik, yaitu bulat lonjong seperti telur dengan tinggi kira-kira 1 meter. Isinya pun sangat menarik, yaitu mengenai penggalian sungai sepanjang 6.122 tongkat atau busur agar tersambung ke laut. Proyek berlangsung selama 21 hari. Ada juga penjelasan mengenai pemberian seribu sapi kepada kaum Brahmana. Kini Prasasti Tugu tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan banyak prasasti dan candi, salah satunya Prasasti Jambu yang juga dikenal sebagai Prasasti Pasir Koleangkak.
Prasasti Jambu sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto; Dok. Javalane
  • Prasasti Jambu

Sesuai namanya, prasasti ini ditemukan di perkebunan jambu Bukit Koleangkak, sehingga dikenal juga sebagai Prasasti Pasir Koleangkak. Tulisannya menggambarkan tentang keberanian Raja Purnawarman saat berperang di medan laga.

  • Prasasti Cidanghiyang

Prasasti ini disebut juga Prasasti Lebak karena ditemukan di Desa Lebak, Kabupaten Pandeglang, Banten. Isinya masih menggambarkan tentang keberanian dan kebesaran Raja Purnawarman.

  • Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi berada di Bukit Pasir Awi, Kawasan Cipamingkis, Kabupaten Bogor. Pada batu tersebut terdapat gambar dahan dan ranting, buah-buahan, dedaunan, serta pahatan sepasang telapak kaki.

Ekspedisi 4 Candi

Sekitar 44 kilometer dari Kota Karawang, jauh dari ingar-bingar aktivitas pabrik, hamparan sawah Kecamatan Batujaya menyimpan romantisme masa silam. Di kompleks tersebut, kurang lebih terdapat 62 candi peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Meski identik dengan suhu panas daerah pesisir, Kompleks Percandian Batujaya justru menjadi oasis pariwisata sejarah di sisi utara Jawa Barat.

Dari sekian banyak candi, terdapat empat yang sudah dipugar dan menjadi objek wisata, yakni Candi Jiwa, Blandongan, Serut, dan Telagajaya. Pada proses pemugaran tersebut ditemukan pula benda-benda peninggalan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Kini warisan sejarah tersebut sudah dipindahkan dan dipajang di Museum Situs Candi Jiwa. Maka selain candi, museum ini juga menjadi daya tarik tersendiri.

Candi Jiwa

Menurut warga sekitar, candi ini diberi nama jiwa karena proses penemuannya cukup mistis. Dulunya, unur atau gundukan tanah yang menutupi candi sering dilewati oleh kambing. Uniknya, beberapa kambing mati tanpa sebab yang jelas. Dari situ masyarakat menganggap tempat itu memiliki jiwa.

Candi Jiwa berbentuk tumpukan lempengan batu yang berukirkan relief Buddha, keramik, serta prasasti berisi mantra Buddha. Ini menunjukkan bahwa bangunan ini merupakan peninggalan agama Buddha. Apalagi bentuk utuhnya mirip bunga teratai yang kemungkinan bagian atasnya terdapat stupa seperti halnya Candi Borobudur.

Kerajaan Tarumanagara meninggalkan sejumlah candi dan prasasi, salah satunya adalah Candi Blandongan.
Candi Blandongan sebagai salah satu jejak peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Foto: Dok. Javalane

Candi Blandongan

Berbeda dengan candi lain yang sudah rusak atau terpotong bagian atasnya, Candi Blandongan masih cukup utuh. Bentuknya persegi dengan ukuran 25×25 meter dan anak tangga pada setiap sisinya. Di bagian bawah candi terdapat lorong yang memisahkan antara bangunan dan dinding samping. Di tengah ada bangunan lagi dengan ukuran 12×12 meter. Presisi ukuran ini mencerminkan majunya peradaban saat itu.

Candi Serut

Setelah gundukan tanah diangkat, terlihat beberapa bagian bangunan yang sudah rusak cukup parah. Ada yang tingginya 6 meter, ada juga yang 8 meter. Namun situs ini masih memiliki daya tarik melalui ornamen dan arca yang berbentuk hewan dan manusia. Dilihat dari penampang luar, candi ini mirip dengan pondasi rumah dengan kamar-kamar, sumur, dan lantai papan di dalamnya.

Candi Sumur

Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 11 meter dan lebar sekitar 7,5 meter. Dinamakan Candi Sumur karena berupa sebuah kolam dengan kedalaman masih belum diketahui. Tebal dinding sebelah timur mencapai 4 meter dan di dinding lain 1,7 meter.

agendaIndonesia

****

Situs Trowulan, Jejak Sejarah Abad 14

Situs Trowulan merupakan jejak Kerajaan Majapahit dari abad 14

Situs Trowulan dikenal sebagai pertanda dan peninggalan dari kejayaan Kerajaan Majapahit. Kerajaan terbesar dari masa lalu, yang membuat jejak wilayah Nusantara hampir seperti Indonesia saat ini.

Situs Trowulan

Situs ini merupakan kawasan kepurbakalaan dari sejarah Indonesia periode klasik. Lokasinya  berada di Kecamatan Trowulan, Kabupten Mojokerto, Jawa Timur. Jika diperluas dari peninggalan-peninggalan yang ada, sebagian lagi lokasinya masuk Kabupaten Jombang di provinsi yang sama.

Berbagai temuan yang ditemukan di kawasan sini menunjukkan ciri-ciri pemukiman atau peradaban yang cukup maju. Sesungguhnya kaitan situs ini dengan Kerajaan Majapahit masih dugaan berdasarkan prasasti, simbol, dan catatan yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut.

Luas situs perkotaan masa klasik Indonesia itu sebesar 11 x 9 kilometer itu sebagian terdapatdi Kecamatan Trowulan dan Sooko, sebagian juga ada di Kecamatan Mojoagung dan Mojowarna, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ada ratusan ribu peninggalan Majapahit terserak di kaki jajaran tiga gunung, yakni Gunung Penanggungan, Gunung Anjasmara, dan Gunung Welirang.

Situs Trowulan bisa membawa kita merasakan keberadaan Kerajaan Majapahit dari abad 14.
Salah satu relief dan patung peninggalan Majapahit di Museum Trowulan. Foto: ist. TL.

Jika mengunjungi Situs Trowulan, kita bisa mencoba merasakan keberadaan Majapahit melalui bangunan batu bata yang terserak, yang terkadang tak utuh. Berdasarkan cerita Empu Prapanca dalam kitab Negarakertagama; keraton Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Di dekatnya terdapat pos tempat para punggawa berjaga. Gerbang utama menuju keraton atau kompleks istana terletak di sisi utara tembok. 

Dari segi usia peninggalan bisa dilihat dari candi-candi di wilayah itu, Candi Brahu, misalnya. Dari hasil analisis jejak karbon yang dilakukan badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), candi ini berasal dari masa 1410-1646.

Selain itu, dilihat dari gaya bangunan dan profil hiasan pada atap yang diduga berbentuk stupa, candi ini terlihat seperti candi umat Buddha, berbeda dengan candi lain di sekitarnya. Candi tersebut juga berumur lebih tua.

Berdasarkan Prasasti Alsantan yang ditemukan tak jauh dari situsnya, Candi Brahu ini berasal dari kata “waharu
atau warahu” yang difungsikan untuk menyimpan abu jenazah. Candi dengan tinggi 25,7 meter dan lebar 20,7 meter ini terdiri atas kaki, tubuh, dan atap.

Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda. Bajang Ratu merupakan sebutan bagi candi yang diduga berasal dari abad ke-13 hingga ke-14 itu.

Candi Bajang Ratu memiliki pintu gerbang tipe paduraksa, yaitu gapura beratap. Berbeda dengan candi-candi lain di kawasan Mojokerto yang mempunyai banyak detail. Relief yang dipahat di bagian mahkota candi membuat bangunan terlihat ramping dan feminin.

Relief tersebut bercerita tentang Sri Tanjung dan Sayap Garuda yang mempunyai arti lambang pelepasan Jayanegara kembali ke dunia Wisnu. Candi ini berdiri di atas tanah setinggi 16,5 meter di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pada atap candi ini terdapat hiasan berupa kepala Kala yang diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan relief bermata satu. Relief tersebut berfungsi sebagai pelindung atau penolak mara bahaya.

Candi lain yang bisa dilihat di situs Trowulan ini adalah Candi Tikus. Ini bukan sekadar candi yang berdiri di atas tanah. Kompleks bangunan ini justru berupa cekungan di bawah tanah di Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Bentuk kompleks candi yang demikian karena dulunya memang berupa tempat pemandian. Menikmati pemandangan di permukaan air yang memantulkan refleksi bangunan setinggi 5,2 meter berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,5 x 22 meter itu pasti menyenangkan.

Keberadaan air tersebut masih bisa
 kita saksikan hingga sekarang. Membayangkan pada masa itu, tentu airnya tidak berwarna hijau. Pada dinding bagian bawah serta batur candi terdapat jaladwara (pancuran) yang menurut catatan sejarah berjumlah 49 buah. Saat ini tinggal 19 buah. Sisanya tersimpan di Museum Trowulan.

Bentuk pancuran ada dua macam, yaitu bunga lotus dan makara. Semua pancuran ini dulu mendapatkan pasokan air dari saluran yang ada di bagian selatan candi, tepatnya di belakang candi induk. Sedangkan saluran pembuangan terletak di lantai dasar.

Di atas tubuh candi terdapat menara semu, masing-masing berjumlah 5 buah. Di atas tubuh candi terdapat4 buah menara di setiap sudutnya. Puncak menara ini sudah hilang, sehingga tidak diketahui jelas bentuk aslinya. Namun, menara-menara ini melambangkan Gunung Mahameru sebagai pusat makrokosmos.

Situs Trowulan dinamakan demikian karena berada di Kecamatan Trowulan, Jawa Timur.
Kawasan Kabupaten Mojokerto di Jawa Timur sebagai tempat situs Trowulan. Foto: Dok. unsplash

Menapak sisa-sisa Majapahit di situs Trowulan tak lengkap bila tidak mengunjungi Gapura Wringin Lawang di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan. Kata Jatipasar digunakan oleh Gubernur jendral Inggris Raffles untuk menamai gapura ini. Ini tercantum dalam buku karyanya, History of Java (1815).

Adapun nama Gapura Wringin Lawang diambil dari catatan Knebel pada 1907. Gapura setinggi 15,5 meter dengan panjang 13 meter dan lebar 11,5 meter ini diyakini merupakan pintu masuk Kerajaan Majapahit. Sisa kerajaannya sendiri belum ditemukan karena diduga terbuat dari bahan yang mudah terbakar sehingga tak bersisa. Wringin Lawang merupakan gapura yang tersusun dari batu bata, kecuali anak tangganya yang terbuat dari batu.

Jika punya waktu, kunjungi situs Trowulan untuk mengenal kebesaran Majapahit pada masa lampau.

agendaIndonesia/TL

*****

Menikmati Eksotisme Banten Dalam 2 hari

menikmati eksotisme Banten salah satunya dengan mengunjungi kampung adat Baduy.

Menikmati eksotisme Banten selama akhir pekan bisa dilakukan dan memperoleh dua suasana yang berbeda. Selama dua hari dengan dua sisi pariwisata di Provinsi Banten.

Menikmati Eksotisme Banten

Potensi wisata Banten tak hanya kekayaan dan keindahan alamnya saja, terutama wisata baharinya. Keindahan pantai daerah ini membentang dari kawasan Anyer yang ada di bagian barat laut provinsi ini hingga di wilayah Bayah di Lebak yang letaknya ada di selatan. Atau menikmati Taman Nasional Ujung Kulon. Wisatawan yang berkunjung ke Banten tentu saja dapat menyelami eksotisme kehidupan di tengah masyarakat Baduy.

Apabila ingin mendapatkan dua hal sekaligus: keindahan alam dan keunikan kampung adat Baduy, wisatawan dapat memadukan kunjungan ke pantai Tanjung Lesung yang berada di barat daya Banten, di mana lokasinya cukup dekat dengan kampung masyarakat Baduy. Dengan cara seperti itu, liburan akhir pekan wisatawan bisa mendapatkan banyak hal sekaligus. Berikut paket liburan dua hari di akhir pekan.

Hari Pertama: Kampung Adat Baduy

Pilihan awal tentu saja mengunjungi Kampung Baduy. Untuk menuju ke wilayah ini, pengunjung dapat melalui Ciboleger yang merupakan gerbang masuk wisata. Tempat ini berjarak 45 kilometer dari Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak. Ini menjadi pilihan awal sebab meski jaraknya lumayan pendek, namun harus ditempuh selama 2-3 jam. Jalan yang dilalui cukup baik, meski harus melewati tikungan-tikungan tajam. Tidak ada angkutan umum dari Rangkasbitung, sehingga wisatawan harus menyewa mobil atau membawa mobil pribadi.

Pengunjung harus trekking di perbukitan untuk mencapai kampung terdekat dalam perjalanan ke perkampungan Baduy Luar. Menuju perkampungan Baduy Dalam tentu butuh jalan lebih jauh lagi. Waktu yang direkomendasikan menuju ke sini adalah pagi hari hingga pukul 12.00 karena perjalanan menuju kampung Cibeo kurang lebih 5 jam. Tidak ada penerangan di sepanjang jalan menuju Baduy Dalam. Karena itu, sebaiknya wisatawan telah tiba sebelum matahari terbenam dan bermalam di rumah penduduk.

Bagi yang tidak ingin bermalam, dapat berjalan satu jam hingga Kampung Gajeboh. Jalannya berbatu dan menanjak. Trek berat, namun pengunjung akan dimanjakan pemandangan dan udara bersih sepanjang perjalanan. Yang menarik, saat kita berpapasan dengan warga Baduy Dalam yang lebih suka disebut Urang Kanekes ini, tidak terlihat lelah sedikit pun.

Dalam perjalanan menuju Kampung Gajeboh, wisatawan akan melewati Kampung Kaduketuk, Balingbing, dan Marengo. Terlihat sejumlah rumah menjajakan kerajinan khas Baduy, salah satunya kain tenun. Sedangkan untuk penggemar durian, dapat menjadwalkan kunjungan pada masa panennya. Masa panen durian biasanya akhir tahun hingga Februari.

Di Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, wisatawan bisa bermalam di rumah warga. Sayangnya, wisatawan asing dilarang masuk ke wilayah Baduy Dalam. Wajib diingat, pengunjung harus mematuhi sejumlah peraturan adat, seperti dilarang menggunakan sabun dan pencuci rambut karena mengandung zat kimia serta menyalakan alat elektronik, seperti ponsel dan kamera di wilayah Baduy Dalam. Pengunjung juga dilarang masuk wilayah Baduy Dalam saat masa Kawalu atau bulan puasa, menurut penganut kepercayaan Sunda Wiwitan ini.

Menikmati eksotisme Banten dalam dua hari salah satunya bisa dilakukan dengan mengunjungi pantai Tanjung Lesung.
Pantai Tanjung Lesung menjadi salah satu andalan wisata di Provinsi Banten. Foto:Ilustrasi-shutterstock

Hari Kedua: Tanjung Lesung

Pantai Tanjung Lesung terkenal sebagai wisata pantai berpasir putih dan resor mewah di  Pandeglang. Namun, sebenarnya, di kawasan ini bisa ditemukan beragam akomodasi mulai hotel berbintang hingga rumah yang disewakan. Dari Jakarta sekitar 160 kilometer melalui Jalan Tol Merak. Selain membawa kendaraan pribadi, wisatawan dapat menggunakan bis umum menuju Labuan dari Terminal Kalideres, Kampung Rambutan, dan Pulo Gadung, lalu mencari kendaraan yang bisa mengantar hingga Tanjung Lesung.

Jalan menuju Tanjung Lesung cukup mulus dan nyaman. Dari Rangkasbitung dibutuhkan waktu sekitar 4 jam. Bagi yang belum sempat sarapan, dapat mencicipi kue balok yang berbahan dasar singkong sambil menyruput wedang bandrek. Ini bisa diperoleh di Warung Ibu Haji Djamsinah di Jalan Labuan, Menes, Pandeglang.

Memasuki kawasan wisata Tanjung Lesung, pengunjung akan dikenakan tarif Rp 40 ribu per kepala dan mobil Rp 50 ribu. Bagi yang akan bermalam, disediakan sejumlah resor mewah, ada pula vila dengan fasilitas private swimming pool.

Memasuki kawasan ini tempat pertama yang dapat dituju tentu saja Beach Club dengan hamparan pasir putih dan dermaga kayu. Di pantai berpasir putih ini, juga terdapat fasilitas permainan olahraga air, seperti banana boat, slider boat, wake board, dan jet ski. Indahnya pemandangan bawah laut juga dapat dinikmati dengan snorkeling atau glass botom boat. Ada dua lokasi snorkeling yang ditawarkan, Jetty dan Lagoon.

Bukan hanya keindahan di Tanjung Lesung yang dapat dinikmati, pengunjung dapat menyewa kapal menuju pulau-pulau terdekat, seperti Panaitan dan Peucang di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, bahkan menikmati pemandangan di Anak Gunung Krakatau. Bagi yang ingin berkemah di dekat pantai,  disediakan camping ground,  juga tenda dan MCK yang nyaman.

Setelah bermain di Tanjung Lesung, saatnya pulang kembali ke Jakarta.

agendaIndonesia

*****

Rumah Gadang, Pasak Untuk Sambungan 2 Bagian

Dolan ke Sumatera Barat biasanya orang berkunjung ke rumah gadang. Foto: shutterstock

Rumah Gadang boleh dikata adalah salah satu rumah tradisional di Indonesia yang paling indah. Bentuk atapnya memiliki beberapa kisah yang menginspirasi penciptaannya.

Rumah Gadang

Entah kenapa, di Indonesia setiap rumah makan masakan Minangkabau atau Padang senantiasa menyertakan elemen rumah tradisional suku bangsa ini. Sebuah atap yang melengkung. Ada yang dengan niat serius membangun replika atap rumahnya sebagai eksterior rumah makan, meski tak sedikit yang membuat gambarnya di kaca etalase lauk-pauk. Apapun bentuknya, ini membuat semua orang langsung paham: ini rumah makan padang.

Rumah Gadang atau Rumah Godang merupakan nama umum yang disematkan orang pada rumah adat masyarakat Minangkabau. Sering pula disebut dengan nama Rumah Baanjuang dan Rumah Bagonjong. Semua nama ini sesuai dengan maksud penyebutannya.

Rumah adat masyarakat dari Provinsi Sumatera Barat ini mempunyai sejumlah ciri yang sangat khas dan indah. Yang pertama tentu saja bentuk atap yang melengkung seperti tanduk kerbau, dan badan rumah landai seperti badan kapal. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Oleh karena itulah mengapa rumah gadang disebut juga rumah bagonjong.

Mengutip dari Wikipedia, asal-usul bentuk bentuk atap rumah gadang yang mirip tanduk kerbau sering dihubungkan dengan cerita rakyat “Tambo Alam Minangkabau”. Cerita tersebut bercerita tentang kemenangan orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa.

Selain cerita tersebut, versi lain menyebutkan kalau atap berbentuk tanduk di rumah adat minangkabau itu terinspirasi dari bentuk kapal “Lancang” yang melintasi Sungai Kampar. Saat tiba di muara sungai, kapal diangkat ke daratan dan diberikan atap dengan menggunakan tiang layar yang diikat dengan tali. Namun karena bebannya berat, maka tiang pun menjadi miring dan melengkung yang serupa dengan gojong.

Manapun kisah yang betul, atau yang dipercaya, rumah gadang ratusan tahun telah menjadi simbol kebesaran masyarakat setempat. Ia sekaligus menjadi sesuatu yang dianggap mewakili jati diri warga Minangkabau.

Selain soal nama, hal menarik dari rumah Gadang adalah dari teknologi konstruksinya. Rumah Gadang yang asli dibangun dengan tidak menggunakan paku untuk merekatkan dan menyambungkan dua bagian kayu untuk bangunan. Untuk itu, masyarakat setempat menggunakan pasak kayu bergoyang. Dasar pemikirannya adalah kearifan lokal untuk menyiasati jika terjadi gempa. Jadi saat terjadi gempa, rumah akan berayun mengikuti ritme gempa. Akibatnya, rumahnya tidak akan roboh.

Dikutip dari Buku Rumah Gadang yang Tahan Gempa tulisan Gantino Habibi pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tiang-tiang rumah Gadang tidak ditanamkan ke tanah tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Ini juga dilakukan dengan pemikran untuk menyiasati ketika terjadi gempa. Rumah Gadang akan bergerak di atas batu datar tempat tiang itu berdiri.

Rumah bagonjong menurut aturan aslinya memiliki beberapa karakteristik atau ketentuan khusus. Misalnya saja, soal jumlah ruangan yang ditentukan dari jumlah perempuan yang menghuni rumah tersebut. Anak-anak dan perempuan yang telah berumur memiliki kamar yang lebih dekat ke arah dapur. Sedangkan gadis remaja umumnya ditempatkan di satu kamar di ujung yang berseberangan. Ruangan dalam rumah terbagi menjadi lanjar dan ruang, dengan jumlah ruang dalam satu rumah berjumlah ganjil antara 3 hingga 11.

Pada pelataran atau halaman rumah, terdapat sepasang bangunan yang berfungsi sebagai lumbung, namanya rangkiang. Selain itu, tak jauh dari bangunan rumah biasanya terdapat surau. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah, surau juga menjadi tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

Rumah Gadang memiliki ornamen pada dinding-dinding kayunya. Ornamen yang membuatnya lebih indah.
Rumah Gadang dengan ornamen indah pada dindingnya.

Salah satu karakteristik rumah gadang adalah hiasan eksterior bangunan berupa ornamen ukiran kayu yang menjadi pengisi bidang persegi dan lingkaran di permukaan luar bangunan. Motif ukiran yang umum ditemukan adalah tumbuhan merambat, bunga, dan buah. Ada juga motif-motif geometris segitiga, segi empat, dan jajar genjang (belah ketupat). Motif-motif ini memenuhi dinding, daun jendela, tiang-tiang, dan daun pintu

Jendela rumah Gadang biasanya memiliki ukuran yang besar. Bentuk jendelanya mengikuti bentuk rumahnya yang miring dan tidak simetris. Pada jendela terdapat bingkai yang terbuat dari papan. Jumlah jendela rumah Gadang biasanya terdiri dari 8 jendela di bagian depan, dua  di bagian kiri, dan dua di bagian kanan.

Rumah gadang biasanya didirikan di atas tanah milik keluarga induk dalam suatu suku atau kaum. Rumah ini diwariskan antargenerasi berdasarkan garis keturunan perempuan, sesuai asas matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau.

Dulunya tidak semua wilayah di Sumatera Barat dapat dibangun rumah adat seperti ini. Rumah bagonjong hanya didirikan di kawasan tertentu yang berstatus nagari. Karena itulah, eksistensi rumah bagonjong atau rumah gadang di luar Minangkabau terjadi karena aturan adat yang melemah seiring perkembangan zaman.

agendaIndonesia

*****

Dolan Ke Purwokerto, 3 Hari Yang Asyik

Dolan ke Purwokerto bisa menjadi pilihan liburan keluarga.

Dolan ke Purwokerto di Jawa Tengah mungkin belum menjadi alternatif mereka yang mencari liburan keluarga. Padahal kota ini memiliki banyak tempat untuk dikunjungi. Ia memang kalah popular dibandingkan Yogyakarta atau Solo.

Dolan Ke Purwokerto

Ada cukup banyak tempat untuk didatangi dan mendapatkan pengalaman baru saat dolan ke Purwokerto. Mulai dari wisata heritage, alam hingga ke kuliner yang maknyus.

Berikut adalah rencana perjalanan yang bisa menjadi pilihan wisatawan yang ingin menghabiskan tiga harridan dua  malam di Purwokerto.

Dolan ke Purwokerto salah satunya saatnya menikmati Sroto Sokaraja, pilihan santap di Banyumas
Sroto Sokaraja, kuliner khas saat Dolan ke Purwokerto. Foto: shutterstock

Hari Pertama

Saat dolan ke Purwokerto paling nyaman menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi. Jika menggunakan kereta api, cukup banyak tempat persewaan mobil atau sepeda motor di kota ini. dan langsung sarapan di salah satu warung makan lokal.

Kereta api umumnya masuk ke Purwokerto pada pagi hari, kadang bahkan di dini hari. Ketika itu kemungkinan belum bisa check in di hotel.

Cobalah sarapan khas Purwokerto: sroto Banyumas atau sroto Sokaraja. Tempat makan sroto yang banyak dikenal adalah Sroto H. Loso. Tempat ini kadang dikenal juga dengan nama Soto Ayam Jalan Bank dan RM Sroto Khas Purwokerto. Warung Soto H. Loso beralamat di Jalan RA Wiryaatmaja Nomor 15, Pesayangan, Kedungwuluh, dan buka mulai sekitar pukul 8.

Selesai sarapan, kunjungi Baturaden, sebuah kawasan wisata pegunungan dengan udara sejuk dan kolam renang alami. Nikmati pemandangan alam sekitar dan coba aktivitas seperti berjalan-jalan atau berenang.

Selesai berenang menuju ke hotel sambal mampir makan siang di sepanjang Baturaden ke kota ada banyak pilihan makan dengan pemandangan bagus. Pilihannya antara lain Taman Langit atau Watu Dungkul

Jika masih ingin menikmati alam yang cantik, wisatawan mungkin jangan dulu menuju hotel. Dari tempat makan, perjalanan bisa dilanjutkan ke Telaga Sunyi, dan nikmati suasana tenang dan indah di sekitar danau tersebut. Jaraknya sekitar 30-40 menit dari Baturaden.

Senja, setelah istirahat sejenak di hotel, wisatawan bisa makan malam di salah satu restoran lokal. Cobalah restoran Djago Djowo, ini ayam goreng khas daerah ini.

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.
Getuk goreng bisa menjadi oleh-oleh dari Purwokerto. Foto: Kemendikbud

Hari Kedua:

Setelah sarapan, wisatawan saat dolan ke Purwokerto bisa memilih untuk mengitari kota Purwokerto yang tak terlalu besar. Puas menikmati denyut kota, hari ini perjalanan dilanjutkan ke arah Baturaden lagi, namun kali ini mengunjungi wisata Curug Telu yang berada di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden. Wisata Curug Telu ini memiliki tiga tempat sekaligus yang dapat di kunjungi, yakni Curug Lawang, Kedung Pete, dan Curug Telu yang menjadi wisata utama.

Dari Curug Telu, perjalanan dilanjutkan ke situs Candi Arca Dawuhan terletak di sebuah perbukitan Dawuhan Wetan. Di dalamnya terdapat peninggalan benda-benda purbakala bersejarah yang berjumlah lebih dari satu situs yang ada dalam komplek situs Candi Arca.

Nikmati kuliner malam di Alun-Alun Purwokerto, pusat keramaian malam di kota ini. Ada banyak warung makan dan kedai kopi di sekitar alun-alun yang bisa Anda kunjungi.

Hari Ketiga

Menjelang pulang pada sore atau malam hari, wisatawan bisa mencoba mampir ke Pasar Manis sebagai bagian dolan ke Purwokerto. Ini pasar tradisional dengan pengelolaan terbaik di Indonesia. Selain ada dagangan umum, di sini juga ada pusat kuliner. Bisa mencicipi makanan atau jajan pasar di sini.

Dari Pasar Manis masih sempat mampir ke Museum BRI berada di Jalan Jendral Sudirman No. 57, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Museum ini didirikan pada19 Desember 1990 sebagai bukti cikal bakal didirikannya sebuah bank di Indonesia.

Museum BRI memiliki tiga bangunan utama yang semuanya berada di satu area, yaitu museum itu sendiri, patung Raden Aria Wirjaatmadja, dan replika gedung De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank.

Selesai mengunjungi Museum BRI, saatnya belanja oleh-oleh. Ada beberapa tempat yang memiliki banyak toko oleh-oleh. Ada banyak pilihan buah tangan, sebut saja nopia, getuk goreng, atau tempe mendoan, baik yang masih mentah maupun yang sudah matang.

Setelah itu siap-siap untuk pulang.

agendaIndonesia

*****

Getuk Goreng Haji Tohirin, Asli Sejak 1918

Getuk goreng Haji Tohirin menjadi oleh-oleh khas Banyumas yang ikonik.

Getuk goreng Haji Tohirin bisa jadi adalah jawaban kebanyakan orang Banyumas ketika ditanya soal kuliner asli kota mereka. Tak mengherankan, karena kudapan tradisional ini sudah eksis sejak 1918, dan hingga kini toko-tokonya masih menjamur di kota ini.

Getuk Goreng Haji Tohirin

Sebagai sebuah kabupaten, Banyumas punya ciri khas sendiri yang membuatnya unik. Terletak di bagian barat provinsi Jawa Tengah, kabupaten ini punya beberapa daya tarik bagi turis, seperti Baturraden dan gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Secara budaya tradisional mereka juga punya keunikan tersendiri dari wilayah lainnya di Jawa Tengah. Kebanyakan dari adat dan seni budaya tersebut bahkan disebut sebagai Banyumasan, karena kekhasannya dan keunikannya dengan daerah tersebut.

Getuk goreng haji Tohirin adalah ikon dari Banyumas, selain tugu pesawat tempur ini.

Misalnya, seni budaya seperti salawatan Jawa, kuda lumping Ebeg, alat musik calung dan bongkel, batik ala Banyumasan, hingga yang paling identik dan dikenal banyak orang adalah bahasa Jawa bergaya Banyumasan. Bahasa yang juga kerap disebut dengan istilah ngapak.

Dan bila dilihat dari sisi khazanah kulinernya pun, Banyumas tak kalah menariknya. Cukup banyak kuliner tradisional yang terlahir di sini, seperti tempe mendoan, sroto alias soto ala Banyumas, hingga tentunya getuk goreng yang begitu khas dan unik.

Kelahiran getuk goreng tersebut tak lepas dari andil pencetusnya, Sanpirngad, yang dulunya merupakan penjaja nasi rames dengan beragam sayur dan lauk pauk. Salah satu pilihan di antara sayur dan lauk pauk tersebut adalah getuk singkong.

Getuk singkong sendiri bukanlah makanan yang asing bagi warga Banyumas. Sejak dulu, sawah-sawah yang berada di area ini kerap ditanami singkong, lantaran singkong sering digunakan sebagai makanan pengganti nasi.

Awalnya, usaha yang ia dirikan bersama istrinya Sayem itu hanya diminati segelintir orang, dan terkadang setelah warung tutup masih ada sisa-sisa makanan yang belum ludes terjual. Singkong tersebut adalah salah satu yang kerap masih tersisa dan kurang disukai pelanggan.

Karena merasa sayang dengan sisa makanan yang belum habis itu, Sanpirngad kemudian mulai mencoba mengolah ulang beberapa makanan tersebut. Misalnya, sisa-sisa getuk singkong ia olah kembali dengan cara ditumbuk dan dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa.

Getuk Goreng Banyumas Tokped
Getuk goreng Haji Tohirin biasanya dikemas dalam besek dari bambu. Foto: tokped

Setelah pengolahan ulang tersebut, munculah kudapan baru yang sebetulnya terasa nikmat dan ketika dijajakan lumayan disukai pelanggan. Namun karena warungnya sendiri masih sepi pengunjung, makanan tersebut jadi ikut-ikutan bersisa dan tak cukup laris pula.

Sanpirngad lagi-lagi mencoba memutar otak agar dagangannya tersebut dapat laris manis dan membawa lebih banyak pengunjung yang datang. Akhirnya, olahan getuk yang masih tersisa itu ia goreng agar awet dan bisa dicoba untuk dijual kembali esok harinya.

Siapa sangka, percobaannya yang kesekian tersebut mampu membawa peruntungan baru yang mengubah hidupnya. Getuk goreng buatannya justru diminati pelanggannya, bahkan perlahan-lahan menuai popularitas lewat obrolan warga dari mulut ke mulut.

Sejak saat itu, banyak pengunjung yang datang ke warungnya khusus untuk mencoba getuk gorengnya. Saking terkenalnya, oleh pelanggannya getuk tersebut juga sempat disebut getuk kamal, karena saat itu warungnya berada di bawah pohon kamal.

Mulai dari kemunculannya di sekitaran tahun 1918, getuk goreng terus menjadi salah satu kuliner primadona Banyumas. Usaha tersebut lantas dijalankan pula oleh anak dan menantunya. Salah satu di antaranya adalah Tohirin, menantu laki-lakinya.

Selepas berpulangnya Sanpirngad pada 1967, Tohirin terpilih untuk mengambil alih usaha dan meneruskannya. Di bawah pengelolaannya, bisnis semakin maju pesat dan getuk goreng semakin dikenal luas, tak hanya oleh warga setempat tetapi juga bagi kalangan turis.

Warung nasi rames berwujud gubuk semi permanen tersebut diubah menjadi bangunan kios permanen. Usahanya kemudian berfokus pada getuk goreng saja, agar dapat memenuhi banyaknya permintaan konsumen sekaligus mempertahankan konsistensi kualitas makanan.

Terlebih lagi, ia melihat pergeseran pola konsumen getuk goreng saat itu. Kalau sebelumnya pelanggannya merupakan warga lokal yang sekedar mencari kudapan, kini banyak pula yang datang untuk membeli getuk goreng sebagai oleh-oleh.

Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri menerima pengunjung lokal dan pendatang, dengan plang bertuliskan ‘Getuk Goreng H. Tohirin Asli’ alias Getuk Goreng Haji Tohirin. Penggunaan kata ‘asli’ di sini menjadi penting, seiring persaingan yang makin ketat dengan munculnya gerai getuk goreng lainnya.

Toko Oleh oleh Getuk Kemendikbud
Toko-toko oleh-oleh memajang nama getuk goreng dan Asli. Foto: kemendikbud Jawa Tengah

Kendati demikian, getuk goreng dagangannya boleh berbangga hati karena memang menjadi pionir bagi getuk goreng lainnya. Dan berkat otentisitasnya itu pula, kios getuk gorengnya tak pernah sepi pengunjung.

Kini, bisnis dijalankan oleh anak-anak dan cucunya, serta sudah memiliki kurang lebih sekitar 10 cabang yang tersebar di seputaran Banyumas. Kebanyakan kios-kios cabang tersebut bernuansa jingga, agar membedakan dengan kios aslinya yang bernuansa hijau.

Kalau datang ke kios yang asli getuk goreng Haji Tohirin, pengunjung masih bisa melihat proses pembuatannya secara langsung. Pertama, singkong dikukus terlebih dulu dengan metode tradisional, menggunakan dandang serta kayu bakar.

Singkong yang sudah dikukus langsung ditumbuk dan diolah dengan gula merah dan parutan kelapa menggunakan lumpang, kemudian digoreng sampai matang. Pendekatan tradisional ini adalah upaya agar cita rasa otentik getuk goreng dapat terjaga,

Getuk goreng yang sudah matang tersebut lantas dipotong-potong, kemudian langsung dikemas dan disajikan kepada pengunjung. Biasanya pengunjung punya dua pilihan kemasan, dengan ukuran ½ kg dan 1 kg yang masing-masing harganya Rp 21 ribu dan Rp 39 ribu.

Umumnya, rasa getuk goreng Haji Tohirin yang original merupakan perpaduan dari gurih dan manis. Tetapi kini konsumen juga bisa mendapatkan berbagai pilihan rasa lainnya, seperti rasa coklat, nanas, durian dan nangka. Yang jelas, semua pilihan rasa tidak menggunakan pengawet.

Pengunjung bisa memilih khusus satu pilihan rasa, atau campuran semua pilihan rasa. Kemasannya berupa besek dengan masing-masing pilihan ukurannya. Meskipun tidak mengguanakan pengawet, getuk goreng diklaim dapat bertahan sampai sepuluh hari.

Seiring dengan pergeseran bisnisnya, kios getuk goreng Haji Tohirin kini juga berfokus sebagai sentra oleh-oleh tradisional. Di sini dapat ditemukan juga aneka kudapan tradisional lainnya seperti nopia, keripik tempe, klanting, olahan buah carica, dan lain sebagainya.

Getuk goreng Haji Tohirin buka dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Karena kios aslinya kerap ramai pengunjung, khususnya pada akhir pekan dan hari libur, maka tak ada salahnya pula sesekali mampir ke cabang-cabangnya, yang terkadang juga buka sedikit lebih awal.

Getuk Goreng Haji Tohirin (Asli)

Jl. Jend. Sudirman no. 151, Sokaraja, Banyumas

Telp. (0281) 6441216

Instagram @getukgoreng.aslihajitohirin

agendaIndonesia/audha alief praditra

*****

Kain Songket Palembang, Kisah 71 Motif Tradisional

Kain Songket Palembang shutterstock

Kain songket Palembang menjadi salah satu kain tradisional yang seakan wajib dikoleksi oleh orang Indonesia. Banyak yang memburunya jika tengah berkunjung ke ibukota Sumatera Selatan itu. Diburu meskipun harganya hingga puluhan bahkan konon ratusan juta.

Kain Songket Palembang

Songket adalah sejenis kain tenun tradisional Melayu di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam. Ia bisa digolongkan dalam model tenunan brokat, yakni ditenun menggunakan tangan dengan benang emas dan perak. Benang logam yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau.

Kain songket umumnya merupakan kain tenun mewah yang dikenakan saat resepsi, perayaan, atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak, yakni hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi dari kain songket yang lazim dipakai sultan dan pangeran serta bangsawa kesultanan melayu.

Secara tradisional dan dari sejarah Indonesia, kain songket yang berkilau keemasan itu senantiasa dikaitkan dengan kegemilangan Sriwijaya. Kerajaan maritim terbesar di Indonesia pada abad ke-7 hingga ke-13 dan berpusat di sekitar Sumatera Selatan. Mungkin itu sebabnya, pusat kerajinan songket paling terkenal di Indonesia adalah kota Palembang. 

Pada awalnya, songket adalah kain mewah yang secara origin memang memerlukan sejumlah emas asli untuk dijadikan benang emas. Benang ini kemudian ditenun dengan tangan menjadi kain.

Kata songket secara bahasa berasal dari istilah sungkit, sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang artinya mengait atau mencungkil. Pada proses pembuatannya, songket memang menggunakan cara mengaitkan dan mengambil sejumput benang, dan kemudian menyelipkan benang emas. 

Pada bahasan lain, ada pula yang menyebut jika kata songket kemungkinan berasal dari kata songka atau songko atau peci khas Palembang. Songko ini dipercaya sebagai produk atau barang pertama yang tenunannya menggunakan benang emas.

Dari cerita rakyat Palembang yang dikisahkan turun-temurun, songket adalah perpaduan dari tiga hal, yakni kain sutra yang dibawa pedagang Tiongkok dan mampir ke Sriwijaya; emas yang dibawa pedagang India dan Timur Tengah, dan kemahiran orang Melayu dalam menenun.

Kain songket Palembang memiliki ciri khas pada motifnya dan itu terlihat cukup lebih rumit. Karena itu, untuk menghasilkan selembar kain songket Palembang, seorang pengrajin bahkan bisa menghabiskan waktu tiga bulan untuk pengerjaannya.

Pembuatan songket Palembang biasanya menggunakan bahan baku benang sutera asli. Benang ini biasanya berwarna putih sebelum diberi lapisan emas. Benang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat tenun bingkai Melayu yang biasa disebut dengan istilah dayan.

Kain Songket Palembang proses pembuatannya
Proses pembuatan kain songket Palembang.

Semua bagian dayan, yaitu cagak dan beliro, mempunyai fungsi masing-masing untuk menarik benang, untuk kemudian diganti benang yang lain. Begitu seterusnya hingga benang-benang yang ada menjadi satu kesatuan membentuk motif pada kain songket.

Biasanya, satu lembar songket dikerjakan oleh satu orang. Penyebabnya, pembuatnya harus hapal urutan tarikan benang. Jika tidak, meskipun kainnya tetap bisa selesai, namun bentuk motif-motif di dalam kain songketnya menjadi tidak sempurna. Tentu menjadi merepotkan, sebab beberapa kain songket tradisional sumatera memiliki pola yang mengandung makna tertentu.

Songket harus melalui delapan tahapan sebelum menjadi sepotong kain dan masih ditenun secara tradisional. Dan songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia diukur dari segi kualitas dan tampilannya, karena itu ia sering disebut sebagai Ratu Segala Kain.

Dahulunya para penenun songket umumnya berasal dari desa atau pedalaman, karena itu tidak mengherankan jika motif-motif kainnya dipolakan dengan flora dan fauna lokal. Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti sarikaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan kegemaran raja-raja.

Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan tersebut. Misalnya, motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.

Hal yang mungkin harus menjadi perhatian adalah, beberapa pemerintah daerah telah mendaftarkan hak intelektual motif songket tradisional mereka. Sayangnya, dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar.

Saat ini, songket yang dijual tidak melulu dalam bentuk kain bentangan, tapi tak sedikit yang sudah teraplikasi dalam berbagai produk fashion, seperti pakaian, selendang, maupun kerudung. Adakah songket dalam koleksi kainmu?

agendaIndonesia

*****

Sate Bandeng, Jejak Kuliner Kesultanan Banten Di Abad 16

Selama ini Banten dikenal dengan sate bandengnya.

Sate bandeng menjadi salah satu makanan yang paling sering diburu untuk dimakan di tempat dan menjadi oleh-oleh dari perjalanan ke Serang, Provinsi Banten. Kuliner ini menjadi alternatif bagi pecinta bandeng, selain model presto khas Juwana, Jawa Tengah.

Sate Bandeng

Sate bandeng sepertinya kisah sederhana, cerita tentang makanan yang tumbuh di suatu daerah. Namun nyatanya tak demikian. Masakan ini memiliki jejak sejarah yang panjang. Dimulai pada abad 16.

Adalah Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, yang menjadi titik awal lahirnya sate Banten. Tentu, bukan ia yang menciptakan, namun berkat permintaannya ke dapur kraton-lah, sate ini ‘tercipta’.

Sultan Maulana sendiri adalah salah seorang putera dari Syarif Hidayatullah, raja atau sunan di Kasunanan Cirebon. Pada saatnya, Sunan Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Sanga, saat menyebarkan ajaran agama Islam di Jawa Barat.

Maulana, sebagai putera Sunan Syarif Hidayatullah, ikut membantu Kesultanan Demak ketika menyerang Sunda Kelapa. Dari sana, ia memperluas kekuasaan Kasunanan Cirebon ke arah barat, dan kemudian menjadi Sultan atau Sunan ketika Banten menjadi kerajaan sendiri. Maulana Hasanuddin memerintah Banten dari 1522 hingga 1570.

Sebagai daerah pesisir, Banten memiliki hasil laut dan perairan yang cukup melimpah. Salah satunya bandeng. Namun ikan jenis yang satu ini punya banyak sekali duri. Dari yang besar hingga yang sangat halus. Ini menjadi soal tersendiri bagi dapur istana jika menyajikan masakan berbahan bandeng. Konon cukup sering anggota keluarga Kesultanan yang punya masalah dengan duri bandeng ini.

Juru masak kerajaan pun kebingungan. Di satu sisi, keluarga kesultanan menyukai masakan berbahan bandeng, namun di sisi lain Sultan tidak menyukai jika keluarganya mengalami masalah dengan duri. Sang juru masak pun pun memutar otak untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan duri yang tertanam di daging bandeng.

Berbagai cara pun dicoba sang juru masak. Sampai suatu ketika ia mendapatkan cara untuk mengeluarkan duri dari badan ikan. Rupanya, sang juru masak memukul-mukul badan ikan hingga dagingnya hancur dan terpisah dari kulitnya. Daging yang telah hancur itu kemudian dikeluarkan dengan cara mencabut tulang dari bagian insangnya atau bawah kepala. Hal tersebut untuk membuang duri-duri halus yang terkandung dalam ikan.

Daging ikan yang ikut keluar kemudian dicampur dengan santan dan bumbu rempah tertentu. Setelah itu, melihat kulit ikan yang masih utuh, daging yang telah berbumbu itu dimasukan lagi ke dalamnya. Kulit ikan bandeng yang keras membuat ikan terlihat seperti utuh kembali. Setelah itu ikan pun dibakar. Untuk menguatkan bentuk ikan, dipakailah bilah bambu untuk tusukan atau pegangan ketika membakarnya. Tusukan bambu inilah yang kemudian menyebutnya sebagai sate bandeng.

Selamatlah sang juru masak. Masakan bandeng bisa dinikmati keluarga kerajaan, dan mereka aman dari duri. Masakan ini bahkan kemudian menjadi andalan bagi kesultanan ketika menjamu tamu-tamunya. Bertahun-tahun kemudian sate bandeng pun keluar tembok istana dan menjadi makanan khas masyarakat Banten.

Saat ini sate bandeng telah tumbuh menjadi industri rumahan di Serang yang berkembang dengan pesat. Ada puluhan toko atau kedai yang menyajikan olahan ikan ini yang dapat dikonsumsi secara langsung di tempat atau untuk dibawa pulang sebagai buah tangan. Biasanya sate ini akan dibuat pada hari yang sama dan harus habis saat itu juga karena tidak tidak memakai pengawet.

Untuk dapat menikmati sate bandeng, saat ini sudah banyak tempat yang menjualnya di Serang, Banten. Pengunjung dari luar kota ini, bahkan dapat menemuinya begitu keluar dari tol Jakarta-Serang. Ada deretan toko oleh-oleh yang menjualnya. Tetapi, jika ada yang penasaran dan ingin membelinya langsung di tempat produksinya, ada tiga produsen sate bandeng yang terkenal di Serang.

Sate Bandeng Hj. Maryam

Sate bandeng yang dulu dikelola Hj. Maryam ini termasuk legenda di Serang karena sudah mulai memproduksinya sejak 1970. Saat ini, pengelola dari sate bandeng ini adalah cucu dari ibu Hj. Maryam dan anaknya. Semua resep yang dipakai sejak dahulu tetap sama dan tidak berubah.

Pusat pembuatannya cukup dekat dengan alun-alun kota Serang, yakni di Jalan Ki Uju Nomor 63, Kaujon Tengah, Kecamatan Serang. Di tempat ini pengunjung bisa memilih dua rasa sate bandeng, yang pedas atau yang manis. Mereka buka mulai dari jam 7 pagi hingga 10 malam.

Sate Bandeng Bu Amenah

Sate Bandeng Bu Amenah lebih banyak dipasarkan secara daring atau online. Sate yang ditawarkan Bu Amenah ini memiliki cita rasa yang nikmat dan antiduri halus. Sate produksi tempat ini bisa tahan selama satu atau dua hari kalau berada di luar kulkas dan satu atau dua minggu kalau di dalam kulkas sebelum digoreng.

Jika tidak ingin memesan online dan ingin datang langsung, lokasi pembuatan sate bandeng Bu Amenah ada di Jalan Syabulu KM 1, Lingkungan Dalung Nomor 11, Kecamatan Cipokok Jaya. Ia buka dari jam 7 pagi hingga 9 malam.


Sate Bandeng Ibu Aliyah

Ini adalah pilihan sate bandeng lainnya. Tempat produksinya di Jalan Lopang Gede III nomor 7, Kecamatan Serang. Tempat ini buka dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam.

Sate Bandeng Kang Agus

Sate Bandeng Kang Agus juga oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Serang. Sayangnya lokasi dari tempat oleh-oleh ini sering berpindah. Agar bisa mendapatkan sate bandeng buatan Kang Agus, wisatawan bisanya membeli secara online dan akan diantar oleh kurir ke penginapan atau tempat yang disepakati.

Sudah pernah menikmati sate bandeng khas Banten? Ayo agendakan kuliner sate bandeng ini kapan-kapan….

agendaIndonesia

*****

Kopi Bajawa Flores, Dari Atas 1000 MDPL

Kopi Bajwa Flores menjadi salah satu jenis kopi terbaik di dunia.

Kopi Bajawa Flores telah disebut-sebut sebagai salah satu jenis kopi Arabica terbaik di dunia. Kenikmatan serta keunikannya telah tersohor sampai ke mancanegara, bahkan sampai belahan dunia barat seperti Eropa dan Amerika.

Kopi Bajawa Flores

Flores telah puluhan tahun dikenal sebagai lokasi budidaya sekaligus penyumbang ekspor kopi terbesar di Indonesia. Di kawasan perairan selatan Nusa Tenggara Timur ini terdapat dua jenis kopi yang cukup dikenal luas di kalangan pecinta kopi, yaitu Manggarai dan Bajawa.

Bajawa dinamai demikian karena perkebunannya terletak di kawasan kecamatan Bajawa. Konon nama ini berasal dari bahasa setempat yang terdiri dari dua kata, yaitu ‘bha’ yang berarti lembah dan ‘jawa’ yang berarti sejahtera.

Lokasinya memang berada di area dataran tinggi yang diapit oleh dua gunung berapi, Inerie dan Abulobo. Ketinggian tempat ini rata-rata berkisar antara 1.000 hingga 1.550 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tanah di sekitar area ini merupakan tanah andosol vulkanik yang amat subur.

Kopi Bajawa Flores menggunakan bibit kopiArabika dari Jember, Jawa Timur.
Buah kopi Arabika mulai matang di pohon. Foto: Dok, Unsplash

Budidaya kopi berjenis Arabica ini mulai digalakkan oleh pemerintah sejak tahun 1977. Awalnya, mereka menggunakan bibit kopi dari Jember, Jawa Timur. Karena lokasinya yang sesuai dan hasilnya bagus, maka perkebunan kopi ini terus dikembangkan hingga kini.

Kopi Arabica sendiri merupakan salah satu varian kopi yang populer, sekitar 60 persen dari populasi kopi di dunia. Dulunya populer karena merupakan salah satu komoditas utama pedagang dari Arab di abad ke-12. Mereka pun turut mempopulerkan minuman dan cara penyeduhan kopi ini.

Dalam khasanah kopi, Arabica terbilang jenis kopi yang paling spesial dan bernilai tinggi dari jenis kopi lainnya. Hal ini disebabkan oleh karakteristiknya yang unik antara satu jenis kopi Arabica dengan yang lainnya, tergantung dari tempat serta cara pembudidayannya.

Beberapa keunikannya meliputi jenis aroma serta cita rasanya yang berbeda-beda namun cenderung kuat. Kadar kafein di dalamnya pun tergolong rendah, sehingga cocok bagi anda yang menghindari kafein berlebih.

Kopi Arabica pada umumnya direkomendasikan untuk dibudidayakan pada daerah dataran tinggi yang sejuk. Dengan suhu rata-rata 15 sampai 25 derajat Celsius, ditambah tanah vulkanik di sekitar area pegunungan, membuat Flores begitu cocok untuk membudidayakan kopi ini.

Lokasi yang subur dan sejuk, ditambah curah hujan yang cukup tinggi, serta teknik budidaya kopi yang organik tanpa menggunakan pestisida, menjadikan hasil perkebunan kopi tersebut memiliki kualitas yang tinggi, dengan rasa yang unik pula.

Tingkat kapasitas produksi di perkebunan tersebut pun tergolong tinggi, bisa mencapai empat hingga lima kilogram dalam satu pohon. Terlebih pohon kopi di sini termasuk cepat tumbuh dan produktif menghasilkan kopi.

Kendati demikian, nyatanya harga kopi ini di pasaran bisa dibilang relatif lebih mahal dibanding jenis kopi lokal lainnya. Aroma serta rasanya yang unik memang menjadi daya tarik dan nilai jual yang begitu kuat bagi para penggemar kopi.

Lazimnya, beberapa ciri kesamaan dari berbagai jenis varian kopi Arabica adalah aromanya yang kuat, rasanya yang cenderung pahit, dengan body (kekentalan) yang tinggi. Selain itu, tingkat keasaman kopi jenis ini juga tergolong cukup tinggi dibandingkan varian kopi lainnya.

Kopi Bajawa Flores pada umumnya memiliki aroma karamel dan nutty yang amat kuat, dipadu dengan bau mirip tembakau yang unik dan jarang ditemui di jenis kopi lainnya. Selain itu, ia juga mempunyai tingkat body yang cukup tinggi.

Kopi Bajawa Flores menjadi salah satu andalan komoditas Flores dan Nusa Tenggara Timur.
Manual brew kopi arabika bajawa banyak disukai para penikmat kopi. Foto: ilustrasi unpslash

Namun, berbeda dari kopi Arabica pada umumnya, kopi Bajawa Flores juga dikenal dengan tingkat keasaman sedang/medium. Rasanya pun cenderung dominan manis, dengan perpaduan cita rasa caramel, macadamia, hazelnut, hingga herbal yang menambah sensasi spicy.

Sehingga meskipun kopi Bajawa Flores tetap memiliki karakteristik seperti kental dan aroma yang kuat, tetapi ia diklaim lebih bersahabat dengan lambung karena tak terlalu asam. Kopi ini juga cocok bagi anda yang tak terlalu suka dengan kopi pahit.

Karakteristik yang unik tersebut dihasilkan oleh metode budidaya kopi Flores yang tradisional. Pupuk yang digunakan selalu berjenis organik, serta mereka tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia apapun.

Setiap pohon kopi juga diberi pelindung agar terhindar dari sinar matahari yang berlebih, serta curah hujan tinggi yang dapat beresiko membuat rontok. Biji kopinya, yang berwarna cenderung hijau keabu-abuan, juga diseleksi agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Ini berkaitan erat dengan kepercayaan serta tradisi masyarakat di kawasan Bajawa tersebut. Mereka meyakini bahwa kekayaan alam serta hasilnya merupakan rahmat dari arwah leluhur mereka, sehingga penting untuk senantiasa merawat dan menjaganya.

Kopi Bajawa Flores menjadi pilihan oleh-oleh saat berkunjung ke Flores dan NTT.
Kopi Bajawa Flores dalam sebuah pameran. Foto milik AntaraFoto

Setelah dipanen, kopi Bajawa kemudian bisa diolah basah atau digiling kering. Walaupun secara alami kopi ini sudah memiliki rasa yang begitu unik dan khas, tetapi pada perkembangannya kemudian kopi ini juga kerap diracik dengan gaya house blend dengan cita rasa yang berbeda.

Produk ini sekarang menjadi salah satu andalan oleh-oleh kika berkunjung ke Flores khususnya, atau Nusa Tenggara Timur pada umumnya.

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****