Bregada Keraton Yogya, Penjaga Tradisi Dari Abad 17

Bregada Keraton Yogya dalam persiapan menjelang Grebeg Sekaten

Bregada Keraton Yogya seolah menjadi simbol nyata hadirnya kerajaan atau kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sejumlah orang bahkan mengibaratkan para bregada ini layaknya Queen’s Guard di Inggris. Sebuah simbol aristokrasi.

Bregada Keraton Yogyakarta

Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siang itu berubah menjadi lautan manusia. Di kawasan titik nol kota Yogyakarta itu, ribuan orang dari dalam dan luar kota menanti jalannya prosesi keluarnya Kagungan Dalem Pareden atau gunungan dalam upacara Grebeg Sekaten. Sebuah prosesi tahunan dalam hitungan kalender Jawa.

Buat masyarakat Yogya, turunnya gunungan Grebeg Sekaten dianggap memiliki nilai turunnya berkah dari yang Maha Agung melalui para sultan. Sekaten sejatiya merupakan prosesi yang selalu digelar Keraton yang berdiri sejak tahun 1755 ini setiap tahunnya pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa.

Tentu saja, kita semua tahu, sekaten sendiri adalah bagian dari syiar agama Islam sejak zaman kerajaan Demak. Di Yogya, ada yang memaknai arti harfiah Sekaten dari kata Syahdatain, atau merujuk pada dua buah gamelan yang disebut Sekati yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.

Dan di Yogyakarta, perayaan upacara Grebeg Sekaten selalu tak bisa dilepaskan dari simbol para bregada keraton. Merekalah para penjaga tradisi tersebut.

Saat ini, Keraton Yogyakarta memiliki 10 kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada itu. Jumlah seluruh prajurinya sesungguhnya tidak terlalu besar, untuk tidak mengatakan jumlahnya kecil. Hanya sekitar 600 orang. Jumlah anggota tiap pasukan berbeda-beda. Bregada Nyutra, misalnya, hanya terdiri dari 64 orang.

Seperti siang itu, awal November 2019, sejak pagi-pagi sekali ratusan orang sudah hadir di dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Persiapan Grebeg Sekaten memang selalu sejak dini hari dilakukan ke 10 bregadadi Pracimosono, di sisi barat Pagilaran Kraton Yogya. Kraton Yogyakarta memang selalu mengeluarkan seluruh 10 bregadanya untuk mengawal pelaksanaan grebeg.

Bregada itu sendiri dibentuk pada masa Hamengkubuwono I, sekitar abad 17. Dalam perkembangan zaman, keberadaan bregada-bregada ini mengalami pasang surut. Di zaman Sri Sultan Hamengkubuwono II, misalnya, tercatat pasukan kraton ini mengadakan perlawanan bersenjata hebat menghadapi serbuan pasukan Inggris pada Juni 1812.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono III, Inggris membubarkan pasukan Kraton Yogyakarta. Dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani Hamengkubuwono III dan Sir Thomas Raffles, Yogyakarta tak dibenarkan punya pasukan bersenjata. Bahkan pada masa kolonial Belanda, mereka dilucuti dan tak punya arti secara militer.

Sampai pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, masih ada 13 kesatuan prajurit kraton, hingga dibubarkan seluruhnya oleh pemerintah pendudukan Jepang pada sekitar tahun 1940-an. Baru pada 1970 para prajurit keraton dihidupkan kembali. Hanya saja, dari 13 kesatuan yang pernah ada, baru 10 bregada yang diaktifkan kembali. Kesepuluh kesatuan itu adalah Wirobrojo, Dhaeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Mantrijero, Prawirotomo, Ketanggung, Nyutro, Surokarso dan Bugis. Mereka semua kemudian dilibatkan dalam acara-acara tradisi kraton.

Pimpinan tertinggi dari keseluruhan bregada adalah seorang Manggalayudha atau Kommandhan/Kumendham. Sebutan lengkapnya adalah Kommandhan Wadana Hageng PrajuritManggalayudha bertugas mengawasi dan bertanggung jawab penuh atas keseluruhan pasukannya. Ia dibantu seorang Pandhega atau Kapten Parentah, dengan sebutan lengkapnya Bupati Enem Wadana Prajurit, yang bertugas menyiapkan pasukan.

Setiap pasukan atau bregada dipimpin oleh perwira berpangkat Kapten. Kecuali bregada Bugis dan Surakarsa yang dipimpin oleh seorang Wedana.

Pandhega didampingi oleh perwira yang disebut Panji (Lurah). Perwira ini bertugas mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi seorang Wakil Panji. Sementara itu, regu-regu dalam setiap bregada dipimpin seorang bintara berpangkat sersan.

Seperti pagi itu. Bregodo Surakarso dan Bugis berjalan ke arah Bangsal Ponconiti menunggu kehadiran gunungan dari arah Magangan untuk kemudian mengawali kirab gunungan. Prosesi kirab dipimpin Manggalayudha dengan delapan bregada yang berjalan dengan Lampah Macak dari Magangan ke Siti Hinggil di Alun-alun Kidul (Selatan). Saat berjalan ini, senjata tombak yang sebelumnya ditutupi berubah menjadi ‘dicurat’ atau dibuka.

Di Siti Hinggil semua mata tombak yang terbuka kembali ditutup. Lalu rombongan berjalan lagi menuju Alun-Alun Utara di mana upacara Grebeg Sekaten akan dimulai. Kagungan Dalem Pareden berupa tujuh gunungan pun dikeluarkan, yakni tiga Gunungan Lanang; satu gunungan, Wadon; satu gunungan Gepak; satu Dharat; dan satu gunungan Pawuhan. Urut-urutan baris Grebeg Sekaten adalah prajurit Bugis, abdi dalem Sipat Bupati, lalu tujuh gunungan dan bregada Surakarsa.

Ada prosesi tembakan salvo saat gunungan melewati delapan bregada yang berbaris di Pagilaran Kraton Yogyakarta. Barisan Grebeg Sekaten berjalan ke arah Beringin kembar di tengah Alun-Alun Utara. Lima gunungan, yaitu satu gunungan Lanang, gunungan Wadon, Gepak, Dharat dan Pawuhan berbelok ke barat sebelum melewati beringin kembar dikawal bregodo Surakarsa dan Bugis. Sedang dua gunungan Lanang berjalan melewati Beringin kembar lalu ke utara, terus menuju Kepatihan, yakni saat ini menjadi kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Satu gunungan Lanang lain, berbelok ke timur menuju Puro Paku Alaman. Empat gajah Puro Paku Alaman berada di depan gunungan.

Setelah upacara Grebeg Sekaten berupa turunnya gunungan sebagai persembahan raja untuk rakyatnya selesai, tugas ke 10 bregada Kraton pun usai. Sampai waktunya tradisi memanggil mereka kembali.

****

Liburan Di Likupang, 1 Hari Yang Indah

Liburan di Likupang bisa dilakukan dalam satu hari.

Liburan di Likupang di Sulawesi Utara bisa dinikmati dalam satu hari. Banyak orang pergi ke provinsi ini untuk urusan pekerjaan, sehingga wisata jadi dinomorduakan karena  persoalan waktu. Tapi betulkah waktu menjadi masalah?

Liburan di Likupang

Jika sedang dinas ke Sulawesi Utara, umumnya orang hanya akan langsung menikmati nama Manado atau paling jauh Bunaken karena destinasi wisata yang satu ini dekat dengan ibu kota Sulwesi Utara tersebut. Padahal, ada destinasi  indah di provinsi ini, yaitu Likupang.

Likupang merupakan kawasan dengan pesona alam yang luar biasa indah. Terutama keindahan pantai dan bawah laut yang eksotis. Itu sebabnya, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang liburan ke tempat ini untuk beach hopping.

Selain mengunjungi deretan pantai berpasir putih di Likupang, masih banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan pelancong. Seperti melihat pemandangan alam dari atas bukit, island hopping, hingga nonton event megah tahunan di Likupang.

Liburan diLikupang, salah satu surga wisata bahari di sebelah utara Indonesia.
Pantai Paal di Likupang. Foto: shutterstock

Tapi kembali ke soal waktu, mungkinkah menikmati Likupang dalam satu hari? Tentu, ini agenda yang bisa dilakukan pelancong.

Melihat sunrise di Pantai Paal

Satu hari liburan di Likupang bisa dimulai dengan melihat keindahan matahari terbit (sunrise) di Pantai Paal. Meski harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dari Kota Manado, Pantai Paal menawarkan pemandangan matahari terbit yang sangat menawan. 

Setibanya di sana, pelancong akan disambut dengan cahaya matahari pagi yang menembus segerombolan awan tipis. Wow. Belum lagi, pantulan sinar matahari pada permukaan air laut sebening kaca, seakan menyinari dasar laut yang berisi beraneka ikan dan karang. 

Sambil duduk di atas pasir pantai yang lembut, para pelancong bisa menikmati siluet perbukitan yang sangat eksotis dari Pantai Paal. Menawarkan pemandangan alam yang indah dan suasana tenang, wajar jika Pantai Paal menjadi spot sunrise terbaik di Likupang.

Mengunjungi Likupang Tourism Festival

Jika waktunya pas, pelancong bisa mengunjungi Likupang Tourism Festival setelah puas melihat sunrise di Pantai Paal. Pada 2023 LTF diselenggarakan di kawasan Pantai Paal, event tahunan ini semakin meriah dan spektakuler dibandingkan tahun sebelumnya. 

Pasalnya, lebih banyak pelaku ekonomi kreatif yang terlibat di Likupang Tourism Festival. Baik untuk menampilkan berbagai pergelaran seni dan budaya, hingga mengadakan pameran kuliner, kriya, fashion dari Minahasa Utara. Cocok banget untuk mengenal budaya Likupang dalam satu festival, kan?

Liburan di Likupang dengan pilihan pantai dan bukit
Island Hoping dan Beach hoping bisa dilakukan di Likupang. Foto: shutterstock

Menikmati Bukit Larata

Kalau pelancong mencari destinasi wisata untuk menyegarkan diri di Likupang. Maka, mampir ke Bukit Larata adalah pilihan yang tepat. Waktu tempuh hanya sekitar 15 menit dari Pantai Paal. Berbeda dengan area perbukitan pada umumnya, trek di Bukit Larata cukup landai untuk dilewati pemula. 

Selama perjalanan, para pelancong akan disuguhi pemandangan perbukitan yang dipenuhi tanaman ilalang. Sesampainya di puncak Bukit Larata, wisatawan bisa melihat hamparan hijau, berpadu dengan pemandangan laut biru dan Gunung Dua Basudara yang indah bak lukisan. 

Kalau ingin yang lebih syahdu, pelancong bisa berjalan kaki selama 5-10 menit ke Pantai Kinunang. Tak hanya indah, Pantai Kinunang memiliki suasana pantai yang benar-benar bersih dan sepi. Udara sejuk di pantai seakan “mengangkat” beban di pundak dan pikiran secara otomatis.

Beach hopping di Pantai Pulisan

Namanya saja beach hopping, maka Liburan di Likupang selama satu hari akan kurang lengkap kalau tidak jalan-jalan ke Pantai Pulisan. Hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 8 menit dari Bukit Larata, wisatawan bisa menikmati keindahan pantai yang dikelilingi bukit-bukit hijau asri dan indah.

Pantai Pulisan memiliki tiga bagian pantai yang masing-masing dipisahkan oleh tebing batu yang menjorok ke laut. Uniknya, tebing batu tersebut memiliki bentuk seperti gua batu yang terbentuk secara alami. Selain snorkeling untuk eksplorasi keindahan bawah laut, para pelancong satu hari dalam liburan di Likupang bisa mengunjungi rumah apung yang terletak di tengah-tengah laut Pantai Pulisan.

Liburan di Likupang, salah satu surga wisata bahari di Indonesia utara.

island hopping 

Likupang terkenal dengan pesona laut yang sangat indah. Oleh karena itu, jika ada waktu, tidak ada salahnya mencoba island hopping saat liburan di Likupang. Salah satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi untuk island hopping adalah Pulau Lihaga.

Disebut sebagai “kepingan surga” di Likupang, Pulau Lihaga memiliki air laut yang tenang dan sejernih kristal. Itu mengapa, banyak wisatawan datang untuk snorkeling menikmati keindahan bawah laut yang masih terjaga sangat baik. 

Setelah itu, pelancong yang liburan di Likupang bisa duduk santai di atas pasir pantai yang sangat lembut, sambil menikmati pemandangan matahari terbenam yang menawan.

Pulau Lihaga juga sangat cocok dijadikan tempat menginap bagi para pelancong. Di pulau ini ada banyak penginap yang bisa dipilih sebagai tempat bermalam di Likupang. 

Jika tidak, pelancong bisa langsung kembali ke Manado dan mengejar penerbangan malam hari. Ayo Liburan di Likupang.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Brem Suling Gading, 1 Cemilan Khas Madiun

Brem Suling Gading meneruskan tradisi pengolahan makanan khas Madiun. Foto: dok iStock

Brem Suling Gading rasanya perlu masuk checklist Anda saat bepergian ke Madiun dan mencari oleh-oleh. Memang, ke Madiun kurang lengkap rasanya kalau tak mampir membeli brem, cemilan legendaris khas kota berjuluk kota Brem ini. Bisa dibilang, brem sudah jadi ikon oleh-oleh khas kota di tepi Barat provinsi Jawa Timur tersebut. Dan salah satu yang terkenal adalah brem cap Suling Gading.

Brem Suling Gading

Brem sendiri merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dimasak hingga matang, sebelum kemudian dikeringkan. Sesudahnya, ketan diberi ragi dan dibiarkan mengendap selama sekitar sehari semalam, sebelum disimpan di tempat tertutup selama tujuh hari agar berfermentasi.

Brem Suling Gading menjadi merek yang paling dieknal sehingga banyak produk lain yang nama dan kemasannya menyerupainya.
Brem Suling Gading dikenal sebagai oleh-oleh khas Madiun. Foto: Istimewa

Ketan yang sudah berfermentasi kemudian diperas dengan alat khusus untuk diambil air sarinya. Air sari ketan tersebut lantas dimasak lagi sambil diberi pemanis rasa. Setelah matang, sari ketan dituang ke cetakan balok dan didinginkan. Balok-balok yang sudah padat dan dingin lalu dipotong lebih kecil lagi.

Setelah jadi, brem akan berbentuk padat dan cenderung kering. Tetapi, yang membuat brem unik adalah ketika dimakan ia justru mudah melebur di mulut. Ditambah dengan sensasi ‘dingin’ bercampur rasa manis dan asam yang unik, membuatnya jadi penganan oleh-oleh yang banyak dicari orang.

Merunut sejarahnya, brem disebut pertama kali dibuat di desa Bancong dan Kaliabu, Kabupaten Madiun. Makanan ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Pada saat itu, brem dibuat sebagai kudapan tradisional yang sederhana, tetapi lebih banyak dikonsumsi oleh kaum berada.

Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1980-an, brem kemudian mulai dijajakan oleh pedagang asongan di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api dan lain-lain. Brem dipotong-potong menjadi kecil seukuran permen agar mudah dibungkus dan dibawa. Dari sinilah, brem mulai populer sebagai penganan khas Madiun.

Uniknya, di Indonesia brem tidak hanya eksis sebagai makanan. Di kawasan Bali dan Nusa Tenggara, brem justru dikenal sebagai minuman. Bedanya, air sari ketan yang sudah berfermentasi tidak lagi diproses dan langsung disajikan sebagai minuman. Oleh karenanya, kadar alkoholnya masih tergolong cukup tinggi.

Kendati demikian, yang tak kalah menarik adalah ternyata mengonsumsi brem membawa keuntungan tersendiri. Rutin menyantap brem diklaim dapat membantu meningkatkan kadar hormon, mengurangi resiko penyakit jantung, memperlancar peredaran darah, menurunkan kadar kolesterol dan menetralisir kadar lemak yang berlebihan.

Selain itu, brem juga disebut berkhasiat menghaluskan wajah dan mencegah timbulnya jerawat. Semua manfaat brem ini membuatnya semakin jadi buruan konsumen.

Seiring dengan perkembangan zaman, brem kini hadir dalam berbagai jenis format dan rasa. Kalau dulu brem kebanyakan berbentuk balok atau kotak-kotak, kini brem bisa juga ditemukan dalam bentuk lempengan bundar atau potongan kecil layaknya permen.

Begitu pun dengan pilihan rasanya. Biasanya brem punya rasa asli manis bercampur asam, tetapi kini brem juga kerap dijual dengan berbagai pilihan rasa, misalnya coklat dan rasa buah-buahan seperti jeruk, strawberry, melon, anggur dan sebagainya.

Di Madiun, cukup mudah untuk menemukan toko-toko penjual brem. Banyak dari para penjual brem yang sudah turun temurun membuat dan menjual brem. Namun brem Suling Gading boleh jadi merupakan salah satu merek yang paling populer.

Cita rasa Brem Suling Gading memang begitu melegenda. Kualitasnya selalu dijaga dengan bahan baku seperti ketan yang terpilih dan terbaik. Maka maklum, banyak merek lain yang muncul dengan nama dan kemasan mirip. Tetapi Brem Suling Gading yang otentik selalu menambahkan embel-embel ‘asli’ di kemasannya.

Secara produk, Brem Suling Gading sendiri terbagi menjadi berbagai macam. Selain tentunya pilihan rasa, produk juga dibagi berdasarkan jumlah isinya. Dalam satu kemasan, ada yang berisi dua potong, tiga potong, empat potong dan lima potong. Tiap potong juga bisa berbeda-beda rasanya.

Namun yang perlu jadi catatan adalah bentuk potongannya yang juga berbeda-beda. Lazimnya, Brem Suling Gading memiliki bentuk persegi panjang. Tetapi ada yang bentuknya lebih memanjang, ada pula yang bentuknya lebih melebar. Selain itu, biasanya akan ada tester brem dengan berbagai rasa, jadi konsumen bisa menyeseuaikan pilihan rasa sesuai selera.

Oleh karenanya pula, harganya sangat beragam. Misal, harga satu kotak dengan isi tiga potong sekitar Rp 5 ribu. Lalu ada juga pilihan jumbo, isi lima potong dengan bentuk potongan melebar, dihargai sekitar Rp 15 ribu. Bahkan ada juga pilihan membeli satuan, yang sepotongnya hanya seharga Rp 1 ribu.

Begitu banyak jenis bentuk, ukuran dan jumlah brem dalam pilihan produk mereka, sehingga pembeli selalu punya opsi memilih produk yang lebih pas untuk masing-masing. Yang pasti, harganya tergolong murah dan ramah di kantong.

Lokasi toko cukup mudah ditemukan karena berada persis di pinggir jalan. Hanya saja, tidak adanya tempat parkir mungkin akan sedikit menyulitkan bila ingin mampir membeli, apalagi pada kondisi ramai seperti pada akhir pekan dan hari libur. Toko biasa buka setiap hari, dari jam 06.00 hingga 21.00.

Brem Cap Suling Gading

Jl. Sulawesi Nomor 43, Madiun

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Oleh-oleh Manado, Ini 7 Yang Enaknya Khas

Cakalang Fufu di Minahasa

Oleh-oleh Manado ada banyak, namun yang senantiasa menjadi semacam keharusan untuk dibawa ada tujuh. Umumnya makanan. Mulai dari makanan kecil hingga lauk untuk makan besar. Ada yang awet hingga berbulan, ada pula yang harus segera disantap atau secepatnya disimpan di lemari pendingin.

Oleh-oleh Manado

Umumnya oleh-oleh Manado berbahan dari alam, entah dari perkebunan yang banyak tersebar di daerah itu, seperti kelapa atau kenari. Ada pula yang olahan dari hasil laut. Semuanya enak.

Sebagian produknya sudah banyak yang dijual bahkan hingga di luar daerah. Toko daring jumlahnya tak sedikit yang menawarkan oleh-oleh Manado. Tapi rasanya tak lengkap jika jalan-jalan ke ibukota Sulawesi Utara itu, tak membawa buah tangan dari sana. Berikut mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk memilihnya.

Oleh-oleh Manado yang khas umumnya merupakan hasil perkebunan atau perikanan setempat.
Klappertart Kenari manisnya selalu menggoda. Foto: shutterstock

Klappertaart

Klappertaart merupakan salah satu oleh-oleh Manado yang sering menjadi buah tangan untuk dibawa ke daerah asal. Kudapan ini banyak diproduksi masyarakat Manado untuk dikonsumsi sendiri atau dijual.

Banyak tempat yang menjual klappertaar. Beberapa di antaranya terkenal di kalangan masyarakat terutama para agen travel hingga orang pemerintahan. Christine Klappertaart merupakan toko di mana sebagian besar yang dijual adalah berbagai varian klappertart. Merek ini juga menjadi salah satu merek atau toko klappertaart yang terkenal di Manado.

Satu hal yang harus diingat jika ingin membawanya pulang, makanan ini karena jenis kudapan basah punya waktu kesegaran yang terbatas. Jadi perhitungkan jika ingin membawanya.


Bagea Kenari

Bagea merupakan kue kering yang terbuat dari sagu. Kue sejenis sebenarnya banyak bisa ditemui di Indonesia wilayah timur lain, seperti di Sulawesi Tengah, Maluku dan Maluku Utara. Namun, jika sampai Manado, ini layak dibawa.

Yang membedakan bagea Manado dengan daerah tetangganya adalah campuran dan pembungkusnya. Penganan sagu asal Manado ini mempunyai ciri khas bercampur kenari. Kue ini terbungkus dengan daun sagu kering.

Teksturnya juga sedikit lebih lembut jika membandingkannya dengan bagea tanpa pembungkus yang berasal dari daerah lain. Sulawesi Utara yang merupakan daerah penghasil kenari, masyarakatnya sering menggunakan biji kenari dalam olahan berbagai makanan.

Dodol Amurang

Selama ini orang mungkin mengenal dodol, sebagai oleh-oleh khas Garut, Jawa Barat, yang dibungkus kecil-kecil menggunakan kertas. Dodol ternyata juga sudah dikenal lama di Manado, Sulawesi Utara, yang biasa dikenal dengan sebutan Dodol Amurang. 

Dodol Amurang merupakan makanan tradisional yang khas dari Manado yang berasal dari daerah Amurang, Minahasa Selatan, yang juga disebut dodol kenari. 

Dodol Amurang rasanya enak seperti jenang di pulau Jawa dengan warna coklat. Dibuat dari bahan alami yaitu gula aren, beras ketan yang dihaluskan, dan minyak kelapa murni. Semuanya itu haruslah dimasak di atas api yang sangat panas.

Dalam pembuatan Dodol Amurang terkadang ditaburi kenari atau kacang sehingga menambah aroma dan kelezatan serta membuat siapapun yang memakannya tak ingin berhenti mengunyah.

Kacang Kawangkoan

Salah satu tempat yang indah alamnya adalah daerah Kawangkoan yang masuk di kawasan Tomohon, Minahasa. Jika melakukan perjalanan menuju Tomohon terus ke Gunung Lokon, pengunjung akan melewati daerah kecamatan Kawangkoan.

Di sepanjang jalan di daerah ini ada banyak kebun-kebun kacang tanah. Banyak kedai yang berjualan kacang, baik kacang yang masih mentah, maupun kacang yang sudah disangrai (digoreng tanpa minyak).

Kacang Kawangkoan ini lebih khasnya lagi adalah diolah dengan disangrai. Masyarakat lokal mengenalnya dengan sebutan kacang tore. Caranya adalah mereka menyangrainya sekitar 45 menit dalam wajan besar dengan menggunakan bantuan pasir gunung.

Dalam proses sangrai ini, akan ada gerakan memutar dan membolak-balikkan kacang di antara pasir, tidak boleh berhenti. Mereka harus terus mengaduknya. Karena jika tidak, kacang akan gosong.

Ada beberapa macam kacang Kawangkoan, yang pertama biji kacang yang berwarna merah dan yang ke dua yang berwarna putih. Keunikan berikutnya adalah bentuk kacangnya yang seperti batik dengan ukuran kacang yang besar-besar.

Halua Kenari Indonesia Kaya
Halua kenari yang khas kacang kenari yang gurih dalam balutan gula aren yang manis. Foto: Milik Indonesia Kaya

Halua Kenari

Pilihan lain oleh-oleh Manado yang bisa di bawa pulang dari provinsi yang terkenal dengan Taman Laut Bunaken ini adalah halua kenari. Selain memiliki citarasa manis, kudapan ini juga menyehatkan.

Sesuai namanya, halua kenari dibuat menggunakan bahan utama kacang kenari yang tumbuh subur di Sulawesi Utara. Kacang ini dibungkus dengan gula merah yang telah dilebur kemudian dilapisi ke dalam kacang. Di Jawa Tengah makanan ini mungkin mirip ampyang. Bedanya amyang memakai kacang tanah.

Sambal Roa

Sambal roa ini memiliki banyak penggemar karena terbuat dari ikan roa asap yang dihaluskan. Ikan roa merupakan ikan laut jenis ikan terbang yang bisa ditemui di perairan laut Utara pulau Sulawesi hingga Kepulauan Maluku. Sebutan lain dari ikan ini adalah ikan gepe, ikan gelafea, dan ikan julung-julung.

Sambal Roa Rica Raja
Sambal Roa dalam kemasan siap menjadi oleh-oleh Manado. Foto: milik Ricaraja

Sambal ini biasanya disantap bersama dengan bubur Manado, pisang goreng, singkong goreng, hingga tahu goreng. Kenikmatan sambal yang terbuat dari bumbu yang khas membuat para pecinta sambal sering ketagihan saat menyantapnya.

Cakalang Fufu

Cakalang fufu adalah ikan asap khas Sulawesi Utara. Makanan ini banyak digemari oleh penduduk lokal maupun wisatawan domestik. Bagi wisatawan yang tengah jalan-jalan ke Manado, tidak ada salahnya menjadikan cakalang fufu sebagai oleh-oleh Manado.


Penampilan cakalang fufu seperti halnya ikan asap. Ikan dibelah dan dijepit. Bahan pembuatan cakalang fufu berasal dari ikan cakalang Proses pembuatan cakalang fufu dimulai dengan ikan dibersihkan serta dihilangkan sisik dan jeroannya. Daging ikan cakalang dibelah dua dan dijepit dengan bambu serta dibaluri dengan garam dan soda.


Ikan cakalang diasap di atas batok kelapa yang sudah dibakar sebelumnya. Panas dalam pengasapan harus merata hingga ikan matang dan kering. Proses pengasapan cukup lama, sekitar empat jam dan dua jam untuk pendinginan. Proses ini dilakukan hingga daging ikan berubah warna menjadi kemerahan dan teksturnya sedikit empuk, kering, serta tidak berair.

agendaIndonesia/audha alief P.

*****

Kayu Putih Rejeki Jaya, 1 Hangat Makassar

Kayu putih Rejeki Jaya menjadi alternatif pilihan oleh-oleh jika berkunjung ke Makassar. Foto: DOk. shutterstock

Kayu putih Rejeki Jaya atau lengkapnya minyak kayu putih Rejeki Jaya Revina adalah salah satu oleh-oleh khas dari Makassar. Produk minyak gosok tradisional ini belakangan mulai banyak dilirik orang. Selain sebagai oleh-oleh juga sebagai opsi di antara produk sejenis dari beberapa produsen besar.

Kayu Putih Rejeki Jaya

Minyak kayu putih sendiri secara turun temurun menjadi salah satu produk kesehatan yang kerap dicari konsumen tanah air. Hal ini dikarenakan budaya masyarakat Indonesia yang gemar menggunakan minyak gosok, diantaranya seperti minyak kayu putih, untuk membantu meredakan masalah kesehatan tubuh seperti masuk angin, gatal-gatal, pegal linu dan lain lain.

Kayu putih Rejeki Jaya dioleh dari pulau Namlea, Maluku, dan menjado oleh-oleh khas Makassar.
Minyak Kayu putih Rejeki Jaya khas kota Makassar. Foto: Dok. tokopedia

Yang unik, minyak kayu putih Rejeki Jaya ini merupakan minyak kayu putih yang dibuat secara tradisional. Bahan baku dan proses penyulingannya berada di Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Pulau ini memang dikenal sebagai sentra produksi minyak kayu putih terbesar di Indonesia, yang berpusat di kota Namlea, kawasan bagian timur pulau Buru. Sejak dulu, daerah ini sudah banyak ditumbuhi pohon kayu putih.

Pohon kayu putih dinamai demikian karena warna batang pohonnya yang cenderung putih. Biasanya ia tumbuh setinggi kira-kira lima meter, dan daunnya sepanjang jari orang dewasa. Dalam proses pembuatan minyak kayu putih, daun-daun yang dipilih biasanya berumur minimal enam bulan dipanen setiap dua minggu sekali, biasanya hingga puluhan kilogram per panen.

Daun-daun kayu putih hasil panen tersebut kemudian direbus dan disuling selama kurang lebih enam hingga tujuh jam. Ketel yang digunakan untuk merebus ditutup rapat dan uap dialirkan lewat pipa ke ketel pendinginan.

Uap tersebut lantas terkondensasi dan menjadi minyak dan air yang terpisah. Minyaknya kemudian diambil menjadi minyak kayu putih seperti yang kita kenal.

Dalam sehari, proses ini bisa dilakukan dua hingga tiga kali. Semua detail dan proses penyulingan tersebut, termasuk material alat yang digunakan seperti ketel beserta pipa, saringan serta penutupnya. Bahkan besar api di tungku yang digunakan, sudah menjadi resep yang diturunkan sejak sebelum jaman penjajahan Belanda.

Tetapi yang membuat minyak kayu putih buatan pulau Buru spesial dan unik dibanding produk minyak kayu putih lainnya adalah kemurniannya yang tidak dicampur apapun. Ia juga dikenal dengan karakternya yang secara alami berwarna hijau, punya aroma harum yang kuat dan jika digunakan di kulit terasa lebih hangat dibanding minyak kayu putih lainnya. Bahkan minyaknya bisa juga dikonsumsi dengan air sebagai obat herbal.

Kebanyakan dari minyak kayu putih buatan pulau Buru ini kemudian dikirim keluar daerah untuk dijual dengan berbagai merek tertentu, seperti misalnya di Ambon. Namun UD. Rejeki Jaya, yang berpusat di Makassar, melihat peluang bisnis mengemas minyak kayu putih sebagai produk oleh-oleh.

Maka kemudian mereka kini ikut mendistribusikan minyak kayu putih pulau Buru untuk kemudian dikemas dan dijual menjadi produk sendiri, layaknya produk lokal. Bahkan bisa dikatakan merek Rejeki Jaya dan Revina merupakan merek minyak kayu putih pulau Buru yang paling dikenal saat ini.

Kayu Putih Rejeki Jaya menjadi alternatif oleh-oleh yang mencerminkan kehangatan keluarga Indonesia.
Kayu putih sejak lama diandalkan untuk kesehatan. Foto: Dok. shutterstock

Ada beberapa jenis dan varian yang ditawarkan kayu putih Rejeki Jaya dan Revina ini. Yang pertama dari jenis minyaknya, di mana produk dibedakan menjadi minyak kayu putih jenis standar dan minyak kayu putih jenis super. Yang membedakan antara kedua produk tersebut adalah minyak jenis super yang diklaim lebih hangat dibanding jenis standar.

Lebih lanjut, untuk membedakan kemasan kedua produk tersebut, merek Rejeki Jaya digunakan pada produk minyak kayu putih standar. Ia dengan menggunakan label dan kotak berwarna hijau. Sementara merek Revina digunakan pada produk minyak kayu putih super dengan label dan kotak berwarna biru.

Selain itu, minyak kayu putih Rejeki Jaya dan Revina juga dibedakan dari ukurannya. Biasanya, produk dijual menggunakan botol kaca atau plastik yang disimpan dalam kotak. Ukurannya beragam dari 30 ml, 60 ml, 140 ml, 270 ml dan 330 ml. Untuk yang berukuran kecil seperti 30 ml dan 60 ml menggunakan botol plastik, sedangkan ukuran sedang hingga besar seperti 140 ml, 270 ml dan 330 ml menggunakan botol kaca.

Harga minyak kayu putih Rejeki Jaya dan Revina juga dibedakan dari ukurannya. Untuk yang berukuran 30 ml dijual Rp 40 ribu, botol 60 ml sekitar Rp 65 ribu hingga 70 ribu, botol 140 ml seharga Rp 150 ribu, botol 270 ml berkisar Rp 225 ribu hingga 395 ribu, dan botol 330 ml mulai dari Rp 265 ribu sampai Rp 450 ribu. Untuk merek Revina minyak kayu putih super, harganya sedikit lebih mahal.

Belakangan, selain produk minyak kayu putih, mereka juga menyediakan produk minyak telon untuk bayi dan anak-anak yang juga bermerk Revina. Dengan ukuran botol 140 ml dan 270 ml, masing-masing dihargai Rp 100 ribu dan Rp 185 ribu. Semakin menambah pilihan bagi anda yang mencari oleh-oleh sekaligus alternatif minyak gosok tradisional.

Minyak Kayu Putih Rejeki Jaya dan Revina

Jl. Taman Sudiang Indah, Citra Sudiang Estate Blok D2/49, Makassar

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Kelom Geulis Tasik, Keindahan Sejak 1940-an

Kelom geulis Tasik shutterstock

Kelom geulis Tasik diperkenalkan sejak masa kolonial belanda. Lukisan pada sebuah kelom membuatnya tidak sekadar alas kaki, tapi sebuah kerajinan tangan yang bisa menjadi oleh-oleh unik dari ranah Pasundan. Lukisan yang membuatnya tetap bertahan dengan peminat hingga mancanegara.

Kelom Geulis Tasik

Matahari belum sepenggalah pagi, namun suasana sebuah rumah di Dusun Rahayu, Desa Sukahurip, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, sudah terlihat kesibukan dengan sejumlah bahan kayu. Dua-tiga pemuda setempat terlihat memotong kayu berwarna terang. Mereka tengah membuat alas kelom.

Ya kelom, atau dikenal dengan sebutan kelom Geulis. Ini merupakan salah satu kerajinan khas Tasikmalaya berupa alas kaki perempuan berbahan baku kayu. Kelom diperkirakan diambil dari bahasa Belanda ‘klomp’ yang artinya sandal, atau sandal dari kayu, sedangkan geulis berasal dari bahasa Sunda yang artinya cantik. Orang menyebutnya sandal kayu cantik, karena ia tak cuma sandal dari kayu. Namun tampilan alas kaki dari kayu tersebut tampak indah dengan warna-warni dan ukiran motif yang menarik.

Kelom sendiri, seperti disebut di muka, bukanlah kerajinan asli Indonesia, melainkan dari Belanda. Produk ini diperkirakan diperkenalkan ketika masa kolonial sekitar tahun 1940-1950-an. Kelom sendiri dalam istilah lokal disebut bakiak. Sandal kayu polos dengan pegangan dari bahan karet atau kulit kasar. Saat itu ia hanya berfungsi untuk keperluan sehari-hari di rumah.

Seiring perkembangan zaman dan kreativitas warga lokal, kelompen dimodifikasi dengan penambahan warna dan corak estetik. Kelompen pun “naik derajat” menjadi pelengkap dari sandang untuk bepergian keluar rumah. Ia naik kelas dalam karena punya nilai artistik.

Kelom geulis kemudian tumbuh sebagai produk kerajinan khas Tasikmalaya. Ia dihargai tidak saja karena fungsinya, tapi juga keindahannya sebagai cindera mata. Kelom geulis erat kaitannya dengan satu wilayah yang disebut Gobras, yang menjadi sentra pengrajin kelom geulis sejak dulu. Namun, nama Gobras saat ini tidak lagi tercatat dalam peta administrasi pemerintahan Tasikmalaya karena sudah diganti menjadi Dusun Rahayu. Tidak jelas kapan perubahan nama itu terjadi. Bahkan hingga kini nama Gobras tetap lebih populer dibandingkan nama Dusun Rahayu.

Hingga kini sejumlah rumah di Dusun Rahayu tadi, sejak lama telah menjadi sentra produksi rumahan kelom geulis. Memang tidak seramai awal tahun 1970-an, tapi masyarakat setempat tetap berproduksi.

Seperti pagi itu, selain sejumlah pemuda yang memotong-motong kayu menjadi seukuran batu bata. Bagian lain ada yang bekerja membuat potongan kayu itu berbentuk alas kaki, yang dilanjutkan ke bagian menghaluskannya. Di ruang lain terlihat pula dua tiga orang yang tangannya lincah meliuk-liukkan canting di atas kayu yang sudah berbentuk alas.

Sebut saja Dian, pemuda lokal Tasik, ia tampak asyik melukis pola di atas alas kaki berbahan kayu. Di sudut ruangan lain, beberapa temannya sedang mengerjakan bagian lainnya. Ada yang menggambar pola menggunakan semprotan. Tak lama beberapa pasang alas kaki kayu ini telah terlihat cantik dan siap menjalani proses berikutnya. Tak sampai dua jam, Dian dan teman-temannya menyelesaikan sepasang kelom.

Dian, begitu ia biasa dipanggil, satu di antara sekian banyak pemuda usia produktif di Tasikmalaya yang menghidupi diri sebagai perajin kelom. Saat ini ia menjadi karyawan di salah satu sentra kelom berlabel di di Dusun Rahayu, Tasikmalaya. Sentra kelom ini sesungguhnya belum terlalu lama, baru sekitar 20 tahunan menggeluti usaha pembuatan kelom dengan skala industri rumahan.

Pemiliknya sendiri, sebut namanya Juhana, mulanya sama seperti Dian, berawal dari mendesain dan membuat bagian kelom di sebuah sentra. Kini ia seorang juragan. Sebuah pola yang khas industri rumahan.

Sebagai seorang yang mengerti betul dunia perkeloman, Juhana sangat paham apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan yang terbaik. Soal pemilihan bahan baku, misalnya, ia mengaku selalu berusaha menggunakan kayu mahoni. Kuat tapi mudah dipoles adalah kelebihan nomor satu kayu jenis ini. Hampir seluruh proses pembuatan juga melibatkan manusia karena membutuhkan ketelatenan. Mulai pemotongan kayu, penyerutan, pengeringan, pengecatan, penjahitan, hingga sentuhan akhirnya.

Juhana mengungkapkan ada alasan tertentu kenapa corak kelom pada umumnya cenderung berwarna-warni dan terkesan genit. Mayoritas alas kaki ini memang menyasar kaum hawa yang sangat sensitif dalam urusan penampilan. “Kelom untu perempuan ini bisa mencapai 90 persen dari total produksi,” ucapnya sambil bercerita ada juga produksi untuk pria yang sering disebut sebagai kelom kasep. Ini untuk menyebut “cakep” bagi pria di masyarakat Sunda.

Seperti layaknya industri rumahan lainnya, meskipun sudah menjadi juragan, Juhana kadang masih turun langsung membuat kelom. Selain untuk merawat keahlian, itu ia lakukan untuk menjaga mutu produksi. Usahanya saat ini mampu merambah pasar luar negeri, terutama ke Jepang. Namun, secara umum, kelom Tasik sudah merambah lintas benua, terutama Asia dan Eropa. Jika sedang menerima order ekspor, industri rumahan ini bisa memproduksi sampai 100 pasang kelom per hari dan akan turun setengahnya dalam kondisi normal.

Juhana bercerita bahwa beberapa alas kaki dengan bahan kayu dengan merek terkenal yang banyak dijumpai di pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia, sebenarnya hasil karya perajin kelom di Tasikmalaya, termasuk dirinya. Ya, Tasik memang sudah lama kondang sebagai penghasil komoditas seperti alas kaki. Uniknya, bahkan tas tangan wanita pun kadang bagian bawahnya diberi bentuk seperti alas kaki. Ini seakan ingin menunjukkan tas tersebut karya sentra produksi kelom Tasik.

*****

Masyarakat Tengger di Bromo, 2 Abad Kearifan Lokal

Pegunungan Semeru dengan latar depan Gunung Bromo. Foto husniati salma unsplash

Masyarakat Tengger di Bromo, biasa disebut wong Tengger atau wong Brama, adalah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Semeru, Jawa Timur.   Penduduk suku ini menempati sebagian wilayah kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Masyarakat Tengger di Bromo

Di sebuah pagi yang dingin berkabut segerombolan anak bermain di jalanan Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Beberapa anak di antara bocah cillik yang pipinya bersemu merah terlihat memiliki rambut berbeda. Sekilas seperti potongan rambut yang sengaja dibuat gimbal layaknya gaya anak-anak muda perkotaan yang meniru penyanyi reggae Bob Marley. Bahkan ada yang dibiarkan panjang dibuat buntut. Berlarian di antara rumah-rumah berdinding kayu bercat warna-warni.

Desa Ngadisari merupakan gerbang menuju kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Di desa ini lah masyarakat Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang. Umumnya mereka beragama Hindu.

Pada 100 tahun sebelum masehi, penganut Hindu Waisya yang beragama Brahma tinggal di daerah pesisir. Seseiring masuknya agama Islam di Jawa pada 1.426 M, mereka terdesak dan mencari tempat yang sulit terjangkau oleh pendatang. Pegunungan Tengger menjadi pilihan mereka yang akhirnya membuat kelompok yang dikenal dengan Tiang Tengger (orang Tengger).

Masyarakat Tenger di Bromo

Mitos lainnya, suku Tengger merupakan keturunan terakhir dari peradaban Majapahit. Mereka adalah keturunan Roro Anteng, putri Raja Brawijaya dan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama Tengger diambil dari akhir nama kedua pasangan itu, yaitu ’Teng’ dari Roro Anteng dan ’Ger’ dari Joko Seger.

Asal muasal upacara Kasodo juga berawal Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji menyerahkan putra terakhir mereka kepada Dewa. Sampai saat ini suku Tengger masih teguh menjunjung tinggi adat-istiadat Hindu lama. Budaya yang ditinggalkan nenek moyang tetap dilestarikan walau  kunjungan wisatawan dari berbagai belahan bumi tidak pernah berhenti setiap harinya.

Kepercayaan yang tinggi terhadap ajaran leluhur menanamkan nilai-nilai luhur dan mengajarkan toleransi dalam memandang keberagaman. Masuknya beragam agama, bagi mereka merupakan konsekuensi bahwa Suku Tengger hidup di tengah-tengah masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Berkembangnya zaman dan semakin beragamnya agama tidak juga melunturkan adat istiadat yang selalu dipegang teguh masyarakat Tengger. Masyarakat tetap melaksanakan ritual adat yang sedari dulu diturunkan leluhur mereka, seperti Pujan, Melasti, Piodalan, Entas-entas, Unan-unan, Karo, hingga yang banyak dikenal yaitu Yadnya Kasada.

Maka tidaklah aneh jika kemudian ada kubah mesjid, salib, mau pun patung Budha terlihat di sebuah desa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di desa yang di kala menjelang pagi suhunya mencapai 10 derajat Celcius, terlihat sebuah kearifan lokal yang menunjukkan toleransi terhadap keberagaman.

Lalu kapan sebaiknya kita mengadendakan kunjungan ke Bromo? Seharusnya, bulan-bulan Juni-Agustus saat memasuki musim kemarau adalah waktu terbaik datang ke tempat ini. Umumnya saat itu cuaca cukup cerah, sehingga salah satu agenda menikmati atraksi matahari terbit dengan latar pegunungan Bromo-Semeru bisa jelas.

Namun, karena pengaruh pemanasan global, perubahan cuaca kadang kala menjadi tidak pasti. Pagi terang benderang, siang hari hujan turun begitu deras. Atau sebaliknya. Pun, terkadang meskipun curah hujan tidak begitu tinggi, namun cuaca tidak bersahabat. Pemandangan matahari terbit di Penanjakan walapun tetap terlihat indah, tapi bukan sunrise yang terindah.

Selain soal waktu, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah cara pencapai kawasan Bromo. Ada banyak pilihan, mulai dari jalur udara, jalan darat dengan moda kereta api, atau menggunakan jalan darat. Baik menumpang bus atau kendaraan pribadi.

Bila memilih kereta api, wisatawan bisa memilih menuju kota Malang terlebih dahulu, baru ke Bromo. Atau, pilihan lain, berangkat ke Surabaya lalu dilanjutkan ke Bromo. Beberapa kereta dari Jakarta yang bisa membawa ke Malang antara lain kereta ekonomi Jayabaya maupun Matarmajaya. Untuk kereta dari Jakarta ke Surabaya pilihannya lebih banyak lagi, mulai dari kelas ekonomi hingga kereta eksklusif. Tergantung budget yang disiapkan.

Dari stasiun Malang, perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan umum ke Bromo dari Terminal Arjosari. Dari terminal ini, wisatawan menuju Terminal Bus Bayuangga di Probolinggo dan berganti angkutan desa ke Cemoro Lawang, Ngadisari.

Jika pilihannya melalui Surabaya, nantinya dari kota ini wisatawan menyambung perjalanan menggunakan kereta ke Probolinggo. Dari Stasiun Probolinggo perjalanan sama seperti dari Malang, bisa naik angkutan kota ke Terminal Bus Bayuangga untuk ganti angkutan desa ke arah Cemoro Lawang, ke arah Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura sebagai titik masuk ke wilayah Gunung Bromo. Ada baiknya, wisatawan tiba di Terminal Bayuangga sebelum sore, karena makin sore jumlah kendaraan umum semakin sedikit.

Di Ngadisari, wisatawan bisa menikmati suasana pegunungan dan bertemu dengan masyarakat Tengger yang umumnya bercocok tanam. Perbincangan umumnya menyenangkan, karena mereka adalah masyarakat yang terbuka.

Kalau ingin sesekali menikmati matahari terbit di Penanjakan, wisatawan bisa memilih menyewa jip atau sepeda motor. Jika perjalanan dilakukan lebih dari 3 orang, lebih murah kalau sewa jip. Tapi bila yang melakukan perjalanan hanya sendiri atau berdua, lebih hemat jika menyewa sepeda motor.

****

10 Kampung Batik, Semua Unik Dan Khas

5 sentra belaja batik di kota SOlo-- Kampung Batik Andreas Hie shutterstock

10 kampung batik di pulau Jawa ini mungkin bisa menjadi panduan bagi para pelancong ketika jalan-jalan dan mencari oleh-oleh. Kesepuluhnya memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing.

10 Kampung Batik

Batik Indonesia sejak 2 Oktober 2009 telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya. Sejak itu, industri batik Indonesia semakin berkembang pesat. Itu juga membesarkan sentra-sentra dan kampung-kampung batik di berbagai daerah di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, sentra industri kreatif batik tidak hanya mendatangkan potensi di subsektor fashion saja, banyak potensi lain muncul dengan menjadikan pusat-pusat pengrajin batik sebagai destinasi wisata budaya. Berikut ini adalah 10 kampung batik yang ada di Pulau Jawa.

10 kampung batik di Pulau Jawa bisa menjadi pilihan untuk oleh-oleh.
Aeka batik Indonesia bisa didapat di kampung-kampung batik di Pulau Jawa. Foto: shutterstock

Kampung Batik Palbatu Jakarta

Dimulai dari ujung Barat Pulau Jawa, kampung batik juga terdapat di kawasan ibukota, yakni di Palbatu, Jakarta. Pusat batik ini diberi nama Kampung Batik Palbatu yang berlokasi di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Meski tergolong masih baru, kampung batik Palbatu telah menorehkan dua rekor MURI, yaitu jalan batik terpanjang dan rumah warga yang paling banyak dilukis motif batik.

Di sentra batik Palbatu terdapat sebuah sanggar yang dijadikan tempat bagi wisatawan belajar membatik. Ciri khas dari sentra batik ini adalah motif batik Betawi. Hal ini pun yang melatarbelakangi berdirinya sentra batik Palbatu, yaitu melestarikan motif batik Betawi.

Kampung Batik Trusmi Cirebon

Selanjutnya 10 kampung batik ada Batik Trusmi Cirebon. Sejak dulu Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat pengrajin batik terbaik di Indonesia. Sentra Batik Trusmi terletak di kawasan Plered, atau sekitar empat kilometer sebelah barat Kota Cirebon. Terletak tak jauh dari jalur utama Pantura, membuat sentra batik ini mudah diakses oleh wisatawan.

Berburu batik bisa diawali ke kampung batik Cirebon, tepatnya ke Trusmi.
Batik Trusmi Cirebon, salah satu kampung batik. Foto: shutterstock

Kampung batik Trusmi sendiri merupakan sebuah desa yang dihuni oleh para pengrajin batik di Cirebon. Hingga saat ini, terdapat lebih dari 3.000 pelaku industri kreatif di sana. Motif batik premium di kawasan ini adalah motif Batik Mega Mendung dan Paksi Naga Liman. Wisatawan dapat memasuki daerah sentra batik Trusmi dan belajar membatik langsung dari para pengrajin batik.

Kampung Batik Kauman Pekalongan

Pekalongan merupakan salah satu kota yang tersohor akan kualitas batiknya. Pekalongan telah diresmikan sebagai sentra batik sejak 2007. Selain berhasil membuat berbagai batik berkualitas, Kampung Kauman Pekalongan sukses menjadi desa wisata nasional.

Di kawasan ini ada berbagai macam motif batik, dan dibuat dengan berbagai teknik, mulai dari tulis, cap, maupun kombinasi keduanya. Keunikan batik Pekalongan adalah motifnya yang banyak dipengaruhi oleh budaya Arab, Tionghoa, Melayu, India, Jepang, hingga Belanda.

Kampung Batik Kauman tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, namun juga salah satu 10 kampung batik pusat berbelanja batik Indonesia yang orisinal. Sama seperti pusat batik lain, di kawasan ini wisatawan juga diperbolehkan untuk belajar membuat batik sendiri dengan bimbingan pengrajin.

Kampung Batik Semarang

Masih di wilayah Jawa Tengah, satu dari 10 kampung batik juga terletak di kawasan Semarang. Kawasan Kampung Batik Semarang berlokasi di dekat Kota Lama dan Pasar Johar. Kampung batik ini berfungsi sebagai pusat produksi motif baru yang mencerminkan Kota Semarang.

Selain menjadi pusat pembuatan batik, sentra batik ini juga dibuka untuk kunjungan wisatawan. Untuk menarik wisatawan, sentra batik Semarang dihias menggunakan lukisan dinding bermotif batik yang menambah keindahan dan menarik perhatian.

6 FASHION BATIK shutterstock 1272244444 Khafidmufriyanto df485d6760
Perajin batik tulis di Yogyakarta. Foto: shutterstock

Kampung Batik Giriloyo Yogyakarta

Yogyakarta merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat identik dengan budaya membatik. Satu dari 10 kampung batik tulis khas Keraton Yogyakarta berada di kampung batik tulis Giriloyo. Suasana industri kreatif kriya di daerah ini sangat kental terasa, karena hampir 90 persen penduduknya berprofesi sebagai pengrajin batik.

Lokasi sentra batik ini berada di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di samping mengembangkan ekonomi kreatif pada subsektor kriya, kampung batik Giriloyo juga menyediakan paket pendidikan pariwisata batik. Paket ini menawarkan perjalanan wisata ke rumah-rumah tradisional dan makam raja-raja Mataram di puncak Bukit Imogiri.

Kampung Batik Laweyan Solo

Sama dengan Yogyakarta, Surakarta juga memiliki beberapa kampung batik yang dapat dikunjungi wisatawan. Sentra batik yang paling banyak menarik minat wisatawan adalah kampung batik Laweyan. Perjalanan industri kriya di Laweyan sudah dimulai sejak abad ke-19. Hingga saat ini kampung batik Laweyan telah memproduksi sekitar 250 motif batik khas dan telah dipatenkan.

Sebagian besar penduduk di Laweyan bekerja sebagai pengrajin batik dan distributor. Selain bergerak dalam industri kriya, masyarakat setempat juga mengembangkan bisnis pariwisata, yakni dengan menyediakan paket wisata lokakarya membatik.

Kampung Batik Girli Kliwonan Sragen

Berlokasi tidak jauh dari Kota Surakarta, wisatawan juga dapat mengunjungi kampung batik Girli Kliwonan di Sragen. Nama Girli diambil dari letak sentra batik ini yang berada di pinggir Sungai Bengawan Solo.

Karya batik yang dihasilkan di lokasi ini identik dengan warna hitam kecokelatan dengan motif geometris, bintang-bintang, bunga, dan corak khas lainnya. Saat ini, masyarakat di kampung batik Girli Kliwonan Sragen tidak hanya berprofesi sebagai pengrajin batik, namun juga mengembangkan bisnis homestay.

Sentra Batik Lasem Rembang

Memiliki motif yang khas, membuat sentra batik Lasem Rembang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Batik Lasem memiliki ciri khas warna merah, biru, dan hijau tua yang menunjukkan kesan berani. Sedangkan motifnya tergolong sangat kompleks dibandingkan jenis batik lainnya.

Namanya yang kesohor mengantarkan batik Lasem sebagai salah satu komoditi ekspor Indonesia. Wisatawan dapat mengunjungi sentra batik ini untuk sekadar belajar membatik atau membeli batik langsung dari pengrajin.

Kampung Batik Jetis Sidoarjo

Beranjak ke Jawa Timur, ada pusat industri kreatif batik Indonesia, yakni kampung batik Jetis Sidoarjo. Sentra batik ini berlokasi di Desa Lemahputro, Sidoarjo. Masyarakat setempat sudah bergelut dengan industri kriya batik sejak 1970-an.

Batik Jetis memiliki kekhasan dari warna yang berani, seperti merah, biru, kuning, dan hijau. Sedangkan motif yang terkenal dari batik Jetis ini adalah motif burung merak. Serupa dengan sentra batik lainnya, wisatawan dapat berkunjung ke wilayah ini untuk belajar mengenai batik, sekaligus berbelanja langsung dari tangan pengrajin.

Kampung Batik Putat Jaya Surabaya

Kawasan yang dahulu terkenal sebagai pusat hiburan malam di Surabaya kini beralih fungsi sebagai kampung batik populer. Karena sempat terkenal dengan nama Gang Jarak, motif yang dikembangkan di sentra batik ini juga bertemakan nama tersebut, yakni daun dan buah jarak.

Lokasi kampung batik ini berada di Gang 8B, Putat Jaya, Surabaya. Jenis industri kreatif yang dikembangkan di area ini selain membuat seni kriya adalah paket wisata dan workshop.

agendaIndonesia/kemenparekraf

*****

Getuk Trio Magelang, Manis 5 Lapis

Getuk Trio Magelang menjadi oleh-oleh khas kota di lereng Bukit Tidar ini.

Getuk Trio Magelang senantiasa tampil unik dan manis dalam lima lapis dan tiga warna khasnya. Aslinya ini adalah ragam jenis getuk lindri. Makanan tradisional berbahan dasar singkong ini sudah umum dikenal sebagai salah satu penganan dan oleh-oleh khas kota Magelang dan telah lama menjadi bagian penting dari budaya warga kota sejuta bunga ini.

Getuk Trio Magelang

Getuk umumnya terbuat dari singkong yang direbus dan dihaluskan dengan cara digiling atau ditumbuk, kemudian diberi gula dan pewarna makanan. Terkadang getuk juga diberi tambahan parutan kelapa sebagai pelengkap. Konon makanan ini tercipta pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an.

Getuk Trio Magelang kemasannya tak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu.
Getuk Trio Magelang terdiri dari lima lapis yang manis. Foto: Dok. Getuk Trio

Kala itu, bahan pangan pokok seperti beras sangat langka dan tidak terjangkau oleh masyarakat kelas bawah. Kemudian sebagai substitusi beras, banyak warga Magelang yang membuat, membeli dan mengonsumsi getuk, karena saat itu singkong lebih murah dan mudah ditemui.

Cerita Getuk Trio sendiri dimulai pada 1958. Hendra Samadhana, sang pendiri, sebelumnya bekerja sebagai pemilik bengkel. Namun melihat popularitas getuk sebagai penganan khas warga Magelang, Jawa Tengah, yang terus naik, terbersit niatnya untuk membuat produk getuk yang tak hanya diminati kalangan kelas bawah, tapi juga menengah ke atas.

Lantas bersama istrinya, Setiawati, ia mulai berkreasi membuat getuk yang unik dan spesial dari getuk lain yang sudah ada. Menggunakan perkakas dan komponen yang ada di bengkel, ia membuat mesin penggiling singkong agar hasilnya getuk bisa lebih halus dan lembut.

Selain itu, Hendra dan Setiawati  juga memberikan satu ciri khas pada getuk buatannya: tiga warna berbeda berupa coklat, putih dan merah muda. Ciri ini pula yang terus dipertahankan hingga kini.

Pemilihan ciri khas tiga warna tersebut bukan tanpa sebab. Ketiga warna itu melambangkan ketiga anak mereka, serta usaha bengkel dan toko kelontong milik keluarga mereka yang kebetulan sama-sama bernamakan ‘Trio’. Dari situlah pula nama Getuk Trio lahir.

Mulanya, sang istri menjajakan getuknya kepada orang tua teman anak-anaknya di sekolah. Mulai mendapat respon bagus dan minat yang tinggi, Getuk Trio mulai dititipkan lewat beberapa toko roti di Magelang. Secara kebetulan, salah satu toko roti tersebut merupakan langganan dari Akademi Militer (Akmil) Magelang, sehingga getuk mereka pun mulai populer di kalangan Akmil, utamanya jika sedang ada perhelatan tertentu.

Pada 1960, Ratu Thailand pada saat itu, Ratu Sirikit, tengah melakukan kunjungan ke Akmil. Toko roti tersebut pun seperti biasanya didaulat untuk menyediakan konsumsi makanan pada acara mereka.

Salah satu makanan yang dihidangkan adalah Getuk Trio, dan ketika Ratu Sirikit mencobanya, ia berdecak kagum dan mengaku sangat menyukai penganan tersebut. Sampai-sampai, Getuk Trio Magelang pernah dijuluki ‘getuk Sirikit’ kala itu.

Publisitas tersebut mengangkat pamor produk Hendra itu sebagai salah satu getuk terpopuler di Magelang. Lebih hebatnya lagi, getuk lainnya secara umum juga ikut terangkat kodratnya dari pengganti makanan pokok warga kelas bawah menjadi kudapan masyarakat menengah ke atas. Getuk tak lagi hanya identik sebagai makanan ‘murahan’ dan mulai diminati banyak kalangan, bahkan semakin banyak merek-merek baru penjual getuk bermunculan.

Menghadapi persaingan yang semakin marak, Getuk Trio Magelang dapat terus bertahan sampai sekarang dengan kualitasnya yang selalu terjaga. Beberapa upaya mempertahankan kualitas tersebut terlihat dari pemilihan singkong yang digunakan selalu berumur maksimal satu tahun. Selain itu, singkong yang digunakan juga khusus jenis Singkong Kinanti yang diklaim punya cita rasa manis secara alami.

Satu hal yang juga perlu diperhatikan, khususnya bagi yang ingin membeli untuk oleh-oleh, Getuk Trio tidak menggunakan bahan pengawet, agar tidak mengganggu cita rasa aslinya. Karena itu orang harus maklum jika makanan ini biasanya hanya awet sekitar dua sampai tiga hari.

Sangat dianjurkan untuk dikonsumsi segera atau dibawa dalam perjalanan tak lebih dari sehari. Ini juga membuat pengiriman ke luar kota dan terlebih ke luar negeri menjadi agak sulit. Pada kemasan, bisanya tertempel tanggal produksinya. Alias tanggal saat dijual. Mereka selalu mengingatkan getuknya harus habis sebisa mungkin 24 jam setelah pembelian.

Saat ini, bisnis Getuk Trio dijalankan oleh sang anak, Herry Wiyanto, selepas wafatnya sang ayah. Sentra penjualannya kini terdapat di Jalan Mataram, Magelang, dengan satu cabang di Jalan Tentara Pelajar. Selain itu, mereka juga masih menjaga kemitraan dengan toko roti dan penganan lainnya seperti toko Mekar; toko Sari Rasa; toko Lezat; toko Endang Jaya; toko Barokah Agung; toko 88; toko Tape Ketan Muntilan, dan beberapa lainnya.

Getuk Trio biasanya dikemas dalam kotak karton, dengan harga bergantung dari berapa isi di dalamnya. Kotaknya sendiri masih berdesain sama dari ketika dulu produk ini mulai dijual untuk umum. Alasannya demi melestarikan jati diri dan sejarahnya sebagai salah satu merk top getuk Magelang. Yang cukup umum dibeli oleh konsumen adalah satu kotak isi 12 atau 16 buah yang harganya sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu.

Berita baiknya, toko-toko resmi Getuk Trio kini juga menjadi pusat oleh-oleh dan turut menjajakan berbagai jenis penganan lainnya, seperti wajik, tape ketan, ledre pisang, roti jahe, dan lain lainnya. Semakin memudahkan bagi wisatawan yang sedang mencari oleh-oleh, bisa langsung datang dan mendapatkan segala macam produk penganan di satu tempat.

Toko di Jalan Mataram buka dari jam 08.00 hingga jam 17.30, sementara cabang Jalan Tentara Pelajar buka dari jam 08.30 sampai jam 18.00. Dalam seminggu, mereka selalu buka kecuali pada hari Selasa. Untuk pemesanan atau info lebih lanjut dapat menghubungi mereka, atau mengunjungi situs resmi getuktrio.co.id dan laman Instagram resmi @getuktrio58.

Getuk Trio Magelang

Jl. Mataram no. 47, telp. (0293) 363536

Jl. Tentara Pelajar no. 58, telp. (0293) 364538

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

3 Hari Seputar Medan: Sejarah, Belanja dan Kuliner

Istana Maimu Medan nizar kauzar unsplash

3 Hari seputar Medan kita bisa menikmati paket lengkap sebuah liburan. Mulai dari mengenal sejarah, hewan liar, tempat ibadah, serta tentunya menikmati sajian laut.

3 Hari Seputar Medan

Luas Sumatera Utara memang luar biasa, yaitu 72.981,23 kilometer persegi. Itu mencakup 33 kota dan kabupaten. Untuk mengenal semua obyek wisata di provinsi ini memang diperlukan waktu panjang dan tekad bulat. Selain luas, wilayahnya dipenuhi kelokan dan perbukitan, membuat perjalanan berlangsung lebih lama dibanding dengan kota-kota yang lebih memiliki jalan rata dan lurus.

Bila hanya memiliki waktu sehari, pilihan Anda adalah mengunjungi obyek wisata di dalam Kota Medan. Jika mempunyai waktu hingga dua hari, pada hari kedua Anda bisa meluncur ke Berastagi. Sebelum kembali ke kota asal di hari ketiga, bila menggunakan kendaraan roda empat, Anda juga bisa menikmati pantai-pantai yang berada tidak jauh dari bandara baru, Kuala Namu, di Deli Serdang.

Hari Pertama: Tjong A Fie, Satwa Liar, dan Belawan

Anda sebaiknya memilih penerbangan pagi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, semisal pukul 7 pagi. Jadi, kegiatan melancong bisa langsung dimulai di hari pertama. Setelah menaruh koper atau ransel di penginapan di Medan, mulailah perjalanan dengan menuju obyek wisata dalam kota, yakni Rumah Tjong A Fie.

Terletak di pusat kota, atau tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, rumah milik pengusaha asal Cina ini masih berdiri kokoh dan terawat di lingkungan bangunan tua. Sebagian besar bangunan bisa dicermati turis dengan membayar tiket masuk Rp 35 ribu per orang. Masih ada bangunan yang ditinggali cucu-cucu dari bankir yang hidup antara 1860 dan 1911 itu. Mengelilingi rumah tersebut, kita seperti mempelajari sejarah awal perkembangan Kota Medan.

Berkeliling selama satu jam rasanya cukup. Kemudian, Anda bisa singgah di resto untuk makan siang. Tujuan berikutnya adalah Rahmat International Wildlife Museum & Gallery di Jalan S. Parman Nomor 309, yang menampilkan beragam jenis satwa dari berbagai negara. Tercatat ada sekitar 1.000 spesies serangga dan hewan liar di tempat ini. Galeri tersebut dimiliki pengusaha Rahmat Shah, yang gemar berburu. Untuk mengamati hewan-hewan yang ditempatkan di tiga lantai itu, pengunjung harus mengeluarkan uang Rp 25 ribu.

Jika masih ingin bertemu dengan hewan liar, silakan langsung melaju ke Taman Buaya di Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 6 ribu, wisatawan bisa menemukan berbagai buaya, dari yang kecil hingga yang berusia 40 tahunan, dalam bak khusus. Selain itu, ada kumpulan buaya yang berendam dalam sebuah danau. Taman Buaya ini didirikan oleh Lo Than Mok pada 1959. Sebelum sore menjelang, Anda perlu beranjak dari sana agar bisa menikmati wisata belanja di Belawan.

Ada deretan toko di Jalan Simalungun dan Jalan Veteran Belawan yang sering diburu para turis penggemar barang bermerek. Yang paling menonjol tentu saja kerajinan keramik, terutama guci yang tingginya mencapai 2 meter dengan harga berkisar Rp 15 juta rupiah. Selain itu, ada produk keramik mini senilai Rp 35 ribu. Pelancong yang gemar tampil wah, biasanya mencari aksesori, seperti tas, sepatu, dan ikat pinggang. Puas berbelanja, saatnya untuk menyantap ikan laut yang memang menjadi hidangan khas Belawan. Anda bisa mencicipi kepiting, kerang, dan sejenisnya. Setelah perut kenyang, tinggal kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Kedua: Berastagi, Pagoda, dan Wihara

Setelah menikmati sarapan, wisatawan sebaiknya langsung melaju ke Berastagi untuk menikmati kesejukan kota yang berada pada ketinggian 1.220 meter di atas permukaan laut itu. Ada gunung cantik di sekitarnya, yakni Gunung Sibayak. Sejatinya ada dua, satunya adalah Guung Sinabung. Sayangnya beberapa tahun terakhir Sinabung dalam situasi waspada setelah erupsi. Jika situasi aman, bisa juga meluncur ke

 Danau Lau Kawar di kaki Gunung Sinabung. Dalam perjalanan menuju danau ini, Anda akan melintasi kebun-kebun sayur.

Terdapat arena berkemah di Lau Kawar. Bila ingin mengelilingi danau, pengunjung bisa menyewa perahu dengan tarif Rp 10 ribu. Obyek wisata ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Karo, yang biasanya ramai di akhir pekan atau masa libur. Jika masih ingin menikmati pemandangan serba hijau, saat kembali ke arah Berastagi, mampirlah ke Bukit Gundaling. Bukit itu berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota. Sebenarnya, paling tepat Bukit Gundaling disinggahi pada malam hari. Sebab, dari lokasi inilah bisa dilihat kerlap-kerlip Kota Berastagi dan Karo.

Melaju ke arah Medan, masih ada satu lokasi lagi yang menarik dikunjungi, yakni Taman Alam Lumbini. Di taman tersebut, replika Pagoda Shwedagon menyeruak di antara kebun sayur dan tampak mencolok dalam warna keemasan. Replika pagoda itu benar-benar mempesona karena warna dan bentuk bangunan yang khas. Untuk mencermati tempat ibadah umat Buddha dan taman di sekelilingnya, yang berada di Desa Tongkeh Kecamatan Dolat Rakyat, Kabupaten Karo, tidak dipungut biaya.

Puas dengan kesegaran udara di Berastagi dan beres mengisi perut, waktunya kembali ke Medan. Masih ada yang bisa ditengok di kota ini, seperti Istana Maimun, gedung-gedung tua, dan klenteng. Pengunjung pun bisa menghabiskan sore hari di sekitar Maha Vihara Maitreya, yang terletak di Perumahan Cemara Asri, Jalan Boulevard Utara, Medan.

Sebagai salah satu wihara terbesar di Asia Tenggara, Maha Vihara Maitreya ramai dikunjungi tidak hanya oleh umat Buddha, tapi juga penganut agama lain. Apalagi wihara yang berdiri di atas lahan 4,5 hektare itu berada di lingkungan yang asri, yang dipenuhi pepohonan dan taman sebagai tempat persinggahan burung bangau pada sore hari. Di salah satu sisi taman itu, bisa ditemukan aneka jajanan.

Ketika langit mulai gelap, saatnya untuk beranjak. Wisatawan memiliki pilihan bersantap di resto yang berada tidak jauh dari wihara. Berbagai warung makan berderet, menyediakan beragam hidangan laut. Atau, pengunjung bisa menuju pusat kuliner di Jalan Wajir atau Jalan Kolonel Sugiono di tengah Kota Medan. Rata-rata warung di kawasan ini pun menawarkan hidangan laut yang segar dengan bumbu melimpah. Berada di emperan toko, warung-warung ini hanya buka di malam hari.

Hari Ketiga: Wisata Kuliner dan Pantai Sekitar Kuala Namu

Untuk mencapai Bandara Kuala Namu dari Medan, sebaiknya wisatawan menggunakan kereta api. Namun bila memiliki waktu luang di hari ketiga, sebelum kembali terbang ke Jakarta atau kota lain, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat serta mampir menjajal wisata kuliner dan bahari. Setelah membeli aneka oleh-oleh di pusat kota, dapat singgah untuk melahap makan siang di rumah makan Wong Rame, Jalan Raya Tanjung Morawa. Tidak hanya dikenal dengan hidangan ikan bakar, seperti ikan patin, gurame, ataupun bawal, tapi ada juga minuman spesial, yakni jus durian. Bila tidak sedang musim durian, harga per gelas jus spesial itu dipatok Rp 25 ribu.

Jika ingin menikmati pantai, ada dua pilihan yang bisa disinggahi, yakni Pantai Pondok Permai dan Pantai Cermin, yang bersisian. Masuk dalam wilayah Serdang Bedagai, yang bersebelahan dengan Deli Serdang, kedua pantai itu memiliki fasilitas liburan yang lengkap berupa wahana bermain dan resor.

Atau di hari terakhir, bagi para pencinta kopi, dijadikan kesempatan untuk menikmati kopi Sidikalang yang menjadi ciri khas Sumut. Bisa menjajal seduhan kopi di kedai kopi lawas di Jalan Hindu.

Rita N./Dhemas R./Dok. TL