Mekotekan Galah Pengusir Bencana

andi prasetyo mekotekan 31

Mekotekan galah mengusir bencana mungkin masih jarang diketahui masyarakat. Namun bagi masyarakat Bali, khususnya di Desa Adat Munggu, ini adalah hal yang biasa. Bahkan telah menjadi tradisi.

Mekotekan Galah Pengusir Bencana

Sepuluh kilometer dari barat Kota Denpasar, penjor-penjor di sepanjang Desa Adat Munggu, Mengwi, bergoyang disapu angin. Bau bambu kemarin sore yang baru ditebang menyapa penciuman. Janur yang menjadi ikon utama Pulau Seribu Pura pun masih kuning segar, belum mengering. Bunga tabur terlihat belum lama diganti. Canang masih utuh, belum juga disauk anjing. Begitu pun, bara belum habis membakar dupa. Atmosfer demikian lekat dengan ritual keagamaan yang hendak atau baru digelar. 

“Pagi tadi, masyarakat Hindu sembahyang di pura dalam. Selama 210 hari sekali, mereka merayakan Kuningan, seperti hari ini,” kata Made Arya, pegiat wisata asal Singaraja, pada pertengahan April lalu. Pantas, suasana perdesaan lebih meriah. Matahari tepat di atas kepala kala kami tiba di desa adat itu. Tok tok tok. Kulkul (kentongan) Pura Puseh dipukul bertala-tala, mengucapkan selamat datang. 

Para pemuda dari 13 banjar di Desa Adat Munggu berhamburan ke luar dari kediaman masing-masing. Mereka mengenakan kostum upacara lengkap, mulai sarung hingga udeng. Satu per satu memenuhi jalan utama menuju pura. 

Made menginjak pedal rem mobilnya pelan-pelan. “Jalan ini dekat dengan persimpangan. Hampir setiap percabangan jalan di Desa Munggu dilalui arak-arakan ngerebek. Jadi tidak bisa parkir di sini,” katanya. Ia lantas membelokkan setir ke depan rumah toko, 500 meter dari simpang empat Jalan Raya Tanah Lot dan Pantai Seseh. 

Setelah memarkir kendaraan, Made tak langsung membaur ke pura. Ia lebih dulu mengeluarkan kamen—kain sepanjang dua meter—model prada Bali dari bagasi. “Kalau mau bergabung ikut upacara mekotekan, pakai kain dulu,” ujarnya. Ia lantas berujar, “Caranya seperti pakai sarung. Kalau perempuan, panjangnya sampai tumit”. Sedangkan laki-laki hanya sampai betis. 

Selepas melilitkan kamen, Made menyodorkan senteng kepada saya. Secarik kain yang menyerupai syal itu dipakai di bagian perut. Dilingkarkan, lalu diikat kuat. Atribut lengkap harus dikenakan. Musababnya, mengikuti ritual mekotekan bukan sekadar menonton pertunjukan budaya. Mekotekan disakralkan sebagai upacara keagamaan lantaran menjadi wujud pertalian antara adat dan hari raya Kuningan oleh masyarakat Hindu di Munggu. Apalagi, rangkaiannya meliputi areal-areal sakral. 

Setelah berjibaku dengan kain, terdengar bebunyian nyaring yang menarik perhatian. Klotek… klotek…. suara kayu beradu aspal mengudara seketika. Tangan para pemuda banjar tampak menggenggam erat kayu pulut setinggi tiga meter. Di ujungnya, terdapat tamiang yang terbuat dari ron atau busung. Juga tersemat bendera kuning dan putih bersimbol dewa-dewa. Beberapa di antaranya menggambarkan ikon Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Tujuannya, sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbolisasi keimanan. 

Kemunculan seribuan pemuda itu seperti kelompok barisan prajurit yang hendak maju perang, membentuk pleton-pleton. Ceng-ceng atau kecrak menjadi bebunyianritmis pengantarnya. Iramanya bak genderang penyemangat. Di muka barisan, sejumlah pedanda atau pendeta lebih dulu masuk ke pura. Tugasnya, mendoakan supaya ritual berjalan lancar. 

Di tangan para pemuka agama, digenggam genta atau lonceng dari kuningan. Selama sembahyang, benda itu akan digoyang-goyang hingga memunculkan onomatope nyaring. Kalau sudah berbunyi, berarti ritual pemujaan dan permohonan restu untuk ritual dimulai. 

Klian Desa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, ikut dalam rombongan pedanda. Sebelum masuk gapura tempat sembahyang, ia mampir ke wantilan atau balai tempat masyarakat berkumpul guna menjemput para pengiring dan penabuh gamelan. “Saya mau memastikan kalau semua petugas sudah siap,” ujarnya. 

Para pengiring, yakni perempuan berusia 14 hingga 40 tahun, dari tiga banjar yang sudah ditunjuk sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian adat lengkap. Tugas mereka, membawa canang persembahan. Di belakangnya, berbaris para penabuh gamelan Bali. Mayoritas anggotanya ialah remaja yang belum genap berusia 20 tahun. “Sudah lengkap, ayo masuk,” ujar si klian. 

“Ritual pertama adalah nedunanIda Bathara di pura dalam,” ucapnya. Hanya ritual pembuka dari depan gapura. Doa mohon keselamatan ini hanya berlangsung 15 menit. Mendekati pukul 14.00, rombongan pedanda ke luar dari area sembahyang. Suara kotekan kembali terdengar. Makin lama, makin santer. Diantar para pemuka agama dan pengiring, rombongan pembawa kayu itu berjalan pelan-pelan mengitari desa. 

Mereka berjalan dengan langkah biasa sambil sesekali bersenda gurau. Belum 300 meter melangkah, di tikungan dekat pohon beringin besar, yang menjadi pintu masuk desa adat, satu per satu anggota pasukan mendekati tetua, yang mereka sebut sebagai anak buah pendeta. Pria berusia 60-an tahun bersorban putih itu memercikkan air rendaman kantil, pandan arum, dan daun kelawo di ubun-ubun peserta atraksi. Daun lala amangan digunakan sebagai perantaranya. Setelah memperoleh “jimat”, si “anak-anak teologi” dianggap sah melakoni ritual. 

Lepas dari ritual percikan air, pasukan dari masing-masing banjar lantas berlarian membentuk kubu. Di setiap persimpangan atau tikungan, sekumpulan pemuda pembawa tongkat pulut membentuk lingkaran. Tongkatnya diangkat, dipusatkan ke titik tengah. Dari kejauhan tampak seperti kerucut raksasa. 

Pemuda banjar lain melakukan hal yang sama. Kubu demi kubu melakukan penyerangan. Tak tek tak tek…. Irama perang kayu membahana. 

Adegan makin barbar ketika seorang dari masing-masing kubu memanjat ke atas galah. Mereka seolah menjadi ujung tombak regu. “Lawan…Dorong…” begitulah teriakan itu memenuhi jalanan sepanjang desa adat. Sesekali, sarung si pemanjat tersangkut tongkat, membuat formasi goyang. Gelak tawa terdengar kompak tak tertahan. 

Kesempatan tersebut dipakai lawan buat menyerang. Mereka mendorong kubu rival dengan tongkat hingga lingkarannya roboh. Lagi-lagi, sorai tawa penonton pecah. Pemandangan akan terus seperti ini. Tak ada patokan kapan ritual berakhir. Selagi masih semangat, mereka akan bertempur. 

Sedangkan para perempuan setia duduk-duduk di emperan jalan atau beranda rumah menyaksikan perang kayu—yang selalu dijumpai setiap enam bulan sekali—sampai bubar. Niluh Sarmini, ibu berusia 45 tahun, yang sudah tiga dasawarsa menjadi pengiring, mengatakan umumnya mekotekan kelar seiring dengan ayun-temayun surya. “Kalau langit sudah kekuningan, semangat sudah kendor, satu per satu membubarkan diri,” ucapnya sambil melucuti kepangan rambut. 

*****

andi prasetyo mekotekan 21
Adat Mekotekan sebagai perayaan penolak bala di Bali. (A. Prasetyo)

PERAYAAN PENOLAK BALA

Bila ditarik ke belakang, secara historis, ritual yang digelar berbarengan dengan hari raya Kuningan ini diadakan sebagai pengingat perjuangan para prajurit Kerajaan Mengwi menaklukkan Kerajaan Blambangan. Dulu kala, Raja Mengwi berkuasa di desa adat tersebut. Namun sekonyong-konyong, wilayah hendak direbut Raja Blambangan. 

Pasukan Mengwi lantas melakukan penyerangan. Untuk menghadapi musuh, Raja Mengwi diberkahi sebuah tombak dan tameng dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setelah menang, mereka merayakan dengan cara yang unik, yakni saling serang antarteman. 

Ngrebek mekotek sudah berjalan sejak 1934. Namun ritual adat yang ditetapkan sebagai warisan budaya nasional nonbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu pernah dibekukan pada 1940 oleh Belanda. Alasannya, berpotensi memunculkan perlawanan. Akibatnya, pada 1946, Desa Munggu dilanda bencana besar dengan angka kematian tinggi. Selain itu, gagal panen dan keributan. Mereka percaya, kemalangan ini lantaran tradisi mekotekan dihentikan. 

Tentang Kayu Pulut:

1. Kayu pulut harus dicari di hutan di kawasan Bangli hingga Singaraja. 

2. Kayu pulut diyakini sebagai replika bambu yang punya bentuk lurus hampir sempurna. 

3. Jenis kayu ini sangat kuat, biasa dipakai untuk bahan bangunan. Namun tak dapat digunakan buat kayu bakar karena bergetah. 

4. Makin lama, kayu pulut makin kuat. Jadi setelah digunakan untuk ritual, pulut akan disimpan untuk dipakai di upacara selanjutnya. 

Rosana & Andi Prasetyo

2 Hari Menyusuri Badung sampai Tabanan (Hari 1)

Pantai Finns Bali 1

2 hari menyusuri Badung sampai Tabanan adalah jalan-jalan yang senantiasa menyenangkan. Kuta dan Mengwi—berlokasi di Kabupaten Badung, dan Kediri di Kabupaten Tabanan—disatukan oleh garis pantai yang merentang.

Kedekatan secara geografis ini membikin tipikal pantai-pantai di sana memiliki kemiripan, seperti konturnya yang landai dan ruang “bermain pasir” yang cukup luas. Cukup dengan berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, kira-kira 30 menit. Bila ingin menyisir pantai, lebih baik kala pagi, sebelum matahari tampil terlalu terik. 

2 Hari Menyusuri Badung Sampai Tabanan: Hari Pertama

Pantai Petitenget

Di pantai ini, orang bisa menikmati pagi dengan menyaksikan orang bersembahyang di Pura Petitenget, pura besar yang terletak di muka gerbang pantai. Atau jogingberkuda,dan mengajak anjingnya jalan-jalan santai dari ujung ke ujung. Lokasinya di Desa Seminyak, Kuta Utara, Badung. Hanya 15 menit bila berkendara dari Jalan Raya Seminyak. Di kawasan pantai, berkumpul hotel dengan varian harga dan kelas yang berbeda, mulai melati hingga bintang lima. 

Pantai Batu Belig 

Lokasinya di Jalan Batu Belig, Seminyak, Kuta Utara. Dari Pantai Petitenget, bisa dicapai dalam 18 menit. Pasirnya luas membentang. Sayangnya, kontur pantai ini tak selandai Pantai Petitenget. Pasirnya juga lebih hitam. Itulah yang membikin wisatawan jarang datang. Lantaran sepi, orang bisa leluasa berjemur, juga menikmati suara debur ombak, tanpa takut terusik pengunjung lain. Banyak lazy chair dan bean bag yang disewakan penduduk lokal. Umumnya yang menyewa adalah turis asing. 

Pantai Berawa (Finns Beach)

Berada di area Finns Beach Club, Canggu, Kuta Utara, pantai ini ditempuh dengan waktu 20 menit dari Batu Belig itu. Di sini anak-anak muda yang doyan party di klub berdatangan. Pantai Barawa memang berada di area eksklusif. Namun orang tak harus masuk ke klub bila tak ingin membayar mahal. Ada jalan setapak masuk menuju pantai yang terbuka untuk umum. Namun pantainya tak lapang. Jadi tidak memungkinkan untuk berlama-lama berjemur atau bermain pasir di sini. 

Umumnya, turis datang untuk berselancar. Tersedia paket bimbingan berselancar bagi pemula. Per paket dibanderol Rp 350 ribu per 2 jam untuk membayar instruktur. Untuk sewa papan selancar berkisar Rp 50 ribu per jam. 

Warung Mina 

Matahari mulai bergerak ke barat. Petang lalu mendarat. Saatnya mengisi perut. Melipir ke arah timur, menuju pusat Kota Denpasar, tepatnya di Jalan Tukad Gangga Nomor 1, Renon, Panjer, Denpasar Selatan, terdapat sebuah restoran keluarga dengan menu laut khas Bali. Menu favorit pengunjung adalah gurami dengan beragam bumbu (seperti asam pedas, menyatnyat, santan kemangi, serta bumbu kuning), sate lilit, dan plecing kangkung. Plus sambal matah khas Pulau Dewata. Karena datang beramai-ramai, diputuskan untuk memilih menu paket dengan harga yang lebih ekonomis, yakni hanya Rp 252 ribu untuk empat orang. 

F. Rosana & A. Prasetyo

*****

Ikat Prailiu, Satu Kain Ditenun 6 Bulan

Ikat Prailiu tenun khas Sumba yang selembarnya ditenun hingga 6 bulan.

Ikat Prailiu adalah kain tenun khas masyarakat Sumba, khususnya Sumba Timur. Budaya sejumlah suku di Nusantara tak bisa lepas dari kain tradisional. Selain penuh makna, kain itu kerap dikenakan pada ritual tertentu. Tenun ikat Prailiu salah satunya. Kain tenun ini kaya akan nilai budaya, spiritual, dan ekonomi.

Ikat Prailiu

Prailiu adalah kerajaan yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Ditilik dari riwayat sejarahnya, Pulau Sumba ini dahulu dihuni beberapa kerajaan. Ini seperti laiknya daerah lain di Nusantara. Namun banyak di antara kerajaan itu yang tergerus zaman. Prailiu sendiri belum melakukan pengangkatan raja lagi setelah wafatnya raja terakhir pada 2008.

Jika Anda cukup sering bepergian ke Kawasan Timur Indonesia, perjalanan ke Sumba Timur jangan sampai luput dari agenda mengunjungi Prailiu. Daya tarik lain dari Prailiu adalah melihat para ibu yang sedang menenun kain khas Sumba. 

Ikat Praliu, ada 100 kain yang dimasukkan ke makam raja Prailiu.
Makam Raja Prailiu. Foto.Dok TL

Meskipun masyarakat di sini banyak yang merupakan keturunan raja, para anggota keluarga ini sangat ramah dan rendah hati. Pengunjung pasti akan betah berlama-lama mendengarkan berbagai cerita sejarah yang mengalir dari mulut mereka. Termasuk tentang kisah-kisah tradisi menenun kain ikat prailiu.

Pulau Sumba dikenal sebagai tanah air penganut Marapu, kepercayaan yang meyakini dan memuja roh leluhur. Banyak benda yang dikeramatkan masyarakat Marapu sebagai media penghubung dengan leluhur. Perlahan, jumlah penganut kepercayaan ini mulai berkurang seiring masuknya agama lain ke Sumba. Namun adat istiadat tetap tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja, seperti pembuatan tenun ikat ini.

Dalam tradisi Marapu, selembar kain tenun ikat digunakan pada prosesi perkawinan, sebagai mahar, dan upacara kematian. Rambu Ana, putri bungsu raja terakhir Prailiu, berujar, “Di dalam kubur batu ayahku, Tamu Umbu Ndjaka, terdapat sekitar 100 tenun persembahan dari warga dan kerabat. Mereka memohon agar kain-kain itu ikut dikubur bersama raja sebagai bentuk penghormatan.”

Kain ini juga dikenakan sebagai pakaian adat saat upacara spiritual, dari Wulla Podduhingga Pasola. Hinggi Kalambung adalah kain tenun yang digunakan di pinggang seperti sarung, sedangkan yang diselempangkan di bahu disebut Hinggi Nduku.

Rambu Ana biasanya akan mengajak wisatawan berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya yang perajin tenun ikat. Jaraknya tak jauh, sekitar 15 menit berkendara dari Prailiu, sudah sampai di tempat tujuan. Kita bisa melihat proses pewarnaan biru di rumah Ngana Ana, tak semua penenun bisa meramu biru.

Seperti siang itu. Ketika sampai di rumah wanita bernama Ngana Ana itu, saat itu ia sedang asyik mengurus beberapa babi dan kuda di halaman rumah. Saat bersalaman dengan wanita itu, pengunjung langsung memperhatikan tangan hingga separuh lengannya yang berwarna biru kegelapan. Dia seperti baru bermain tinta.

“Tangan-tangan ini bekas merendam benang pintal,” ucap Rambu Ana menjawab pandangan pengunjung yang keheranan. Benar saja, rupanya Ngana Ana baru melakukan proses pewarnaan di belakang rumah.

Warna biru alami ini berasal dari daun nila yang dapat ditemukan di halaman rumahnya. Daun hijau yang besarnya hanya sekitar satu sentimeter itu bisa menghasilkan warna biru yang khas. Paduan warna tenun Prailiu memang tak terlalu banyak, hanya merah, hitam, kuning, dan biru. Untuk warna merah, penenun menggunakan ekstrak akar mengkudu.

Ngana Ana kemudian menjabarkan proses pembuatan tenun ikat Sumba Timur. Bahan dasarnya ada dua macam, yaitu benang buatan pabrik yang biasanya sudah dijual berwarna-warni dan benang yang dipintal sendiri dari kapas, seperti dipakai Ngana Ana.

Selesai dipintal, benang akan melewati proses pewarnaan menggunakan bahan alami tadi. Sebelum ditenun, ada proses penggambaran motif terlebih dulu. Hebatnya, nenek moyang mereka tak pernah menggambar, melainkan langsung menenun dengan benang yang dipilih.

Setiap wilayah di Sumba memiliki kekhasan motif tenun. Ngana Ana menyebutkan bahwa dia lebih sering membuat motif hewan, seperti buaya, penyu, ayam, kakatua, dan udang. Ada pula beberapa tamu yang membeli tenun dengan motif sendiri.

Ikat Prailiu biasanya menggunakan motif berbau alam, tumbuhan atau hewan.
Macam-macam motif tenun ikat Prailiu. Foto: Dok. shuterstock

Proses pemintalan hingga menjadi kain tenun siap pakai bisa memakan waktu paling lama enam bulan. Harganya bervariasi. Rambu Ana mengatakan pernah melihat kain tenun Prailiu dijual seharga Rp 10 juta.

Sebagai salah satu penerus warisan budaya leluhur Prailiu, Rambu Ana ingin mempertahankan tradisi membuat tenun ikat. Selain regenerasi keahlian menenun, tentu pemasaran harus dikembangkan agar tenun ikat dikenal masyarakat di luar Pulau Sumba. Apalagi harga jualnya cukup tinggi. Sebaliknya, wisatawan hendaknya menghargai proses pembuatan tenun yang panjang dan pasti melelahkan itu.

agendaIndonesia

*****

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa

original BPW2017042104

3 Kampung kumuh berganti rupa kini. Sebelumnya ketiganya tak banyak dilirik orang. Kini malah menjadi salah satu tujuan wisata.

Mulai pangkal timur di Jawa Timur, hingga ujung barat, Pulau Jawa tak ubahnya sebuah daratan padat penduduk—bila dipotret melalui kamera udara. Di titik-titik tertentu, utamanya di wilayah perkotaan, area-area kumuh bermunculan. Namun belakangan beberapa titik itu disulap menjadi permukiman berwarna-warni, layaknya wahana berfoto yang memanjakan mata. Langkah ini berhasil mengubah citra kampung-kampung yang terkenal cemar menjadi solek. 

3 Kampung Kumuh Berganti Rupa dan Bersolek

Berikut adalah tiga contoh kampung yang tadinya berkesan kumuh yang diubah dan didandani menjadi tenpat yang bahkan layak dibanggakan warga kotanya. Tak sedikit warga yang membawa tamunya untuk sekadar berswafoto di kampung-kampung tersebut.

KAMPUNG PELANGI GUNUNG BRINTIK SEMARANG

Sekitar 900 meter dari Lawang Sewu, kota Semarang, Jawa Tengah, berdiri sebuah kampung—tempat bermukimnya 325 keluarga—bernama Gunung Brintik. Sedari dulu, perkampungan ini “dipotret” sebagai area kumuh di kota administrasi. Warga sekitar pesimistis wilayah tersebut bakal memiliki kehidupan yang baik lantaran kondisinya cukup memprihatinkan. Misalnya, tembok-tembok tak terplester dengan semestinya. Tumbuhan-tumbuhan liar merambat sesuka hati, tak dibersihkan atau dipotong.

Namun, mulai bulan keempat 2017, kampung tersebut disulap menjadi berwarna-warni, layaknya kampung pelangi. Pemerintah Kota Semarang setempat menginisiasinya. Renovasi Kampung Brintik tercatat dalam rencana perbaikan Pasar Kembang Kalisari, yang berada tepat di depannya.

Pemerintah menggandeng swasta untuk merenovasi kampung itu. Dana sekitar Rp 3 miliar digelontorkan untuk mengecat hampir semua sisi kampung dengan warna dan pola yang bervariasi. Ada juga mural-mural khas anak muda yang bisa dimanfaatkan sebagai latar swafoto. Selain itu, kampung ini menjadi wahana baru bagi para fotografer untuk membidik gambar.

Dengan begini, Gunung Brintik menjadi salah satu alternatif tujuan wisata yang bisa didatangi pelancong, selain Kota Tua dan Gereja Belenduk. Untuk menuju ke sana, wisatawan cukup berjalan kaki lebih-kurang 13 menit dari Lawang Sewu atau Tugu Muda menuju Pasar Kembang Kalisari. Kampung itu letaknya tepat di muka pasar. Kampung ini jadi kebanggaan warga Jawa Tengah.

KAMPUNG JODIPAN MALANG

Beranjak ke Jawa bagian timur, di Desa Jodipan, Blimbingan, Malang, ada sebuah permukiman yang menyajikan pemandangan serupa, seperti yang terdapat di Semarang. Letaknya persis di pusat kota, dan bisa diakses melalui jalan utama Malang-Blitar. Dulunya, kampung yang berada di bantaran Sungai Brantas ini merupakan kawasan camar, rawan banjir, dan tak terawat. Kini, setelah ide dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)—dan pengusaha cat lokal—untuk merenovasi tercetus, Jodipan berubah wajah menjadi kampung yang tak lagi buruk rupa. 

Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan berkontur tak rata itu dicat dengan beragam warna. Tembok dan gentingnya molek, layaknya pelangi penuh rona—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. 

Cat yang digunakan untuk memoles tentu yang memiliki karakter mencolok sehingga menarik perhatian siapa pun yang melintas, lebih-lebih para pemburu gambar.

Kampung Jodipan lantas menjadi arena foto yang “seksi”. Sebab, memotret permukiman ini bisa dilakukan dan dibidik dari mana saja. Bisa dari dalam kampung, bisa juga di atas jembatan Sungai Brantas. 

Pengunjung yang ingin bertandang disarankan datang menggunakan sepeda motor karena keterbatasan akses. Biaya parkirnya Rp 2.000. Dapat jua berjalan kaki dari Stasiun Kota Baru menuju Jalan Gatot Subroto (Pecinan). Sedangkan untuk masuk kampung, pelancong tak bakal dipungut biaya. 

KAMPUNG CODE YOGYAKARTA

Pada pertengahan 1980, kampung yang dipenuhi dengan bangunan kayu yang kumuh dan tak terawat itu disulap menjadi arena seni oleh pemuka agama Katolik sekaligus arsitek kesohor, Y.B. Mangunwijaya.

Bentuk rumah yang semula tumpang-tindih mulai ditata mengikuti kontur. Fasilitas umum, layaknya toilet dan balai pertemuan, mulai dibangun. Tembok kosong dilukis penuh mural berisi kritik sosial. Pot-pot bunga diletakkan di pinggir aliran Kali Code, kota Yogyakarta.

 Perubahan terjadi lagi pada 2015. Rumah-rumah dicat warna-warni menyerupai perkampungan di Rio de Janeiro, Brasil. Sejak itu,travelermemasukkan Kampung Code ke list itinerary. Tak hanya bisa berfoto, pelancong dapat berwisata sejarah di tempat tersebut, memahami bagaimana proses perkampungan kumuh itu kini menjadi arena yang estetis. Untuk menuju Kampung Code, wisatawan bisa jalan kaki lebih-kurang 20 menit dari Stasiun Tugu atau Malioboro. Sebab, letaknya persis berada di jantung kota.

*****

Desa Wisata Kasongan Yogya, 1 Sentra Kerajinan Gerabah

gerabah kasongan

Desa wisata Kasongan Yogya adalah salah satu tujuan wisata bagi wisatawan yang mengunjungi kota pelajar ini. Ia tumbuh menjadi sentra kerajinan gerabah. Dari barang perabot sehari-hari, hingga barang seni.

Desa Wisata Kasongan Yogya

Desa Wisata Kasongan yang berada di kawasan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini merupakan pusat kerajinan gerabah yang terkenal. Selama puluhan tahun telah menghasilkan beragam jenis kerajinan gerabah dalam bentuk barang-barang seperti guci, meja, kursi, peralatan makan dan minum, patung hingga peralatan kecil seperti tempat pensil, wadah lilin, asbak dan lain lain.

Barang-barang itu kini dikenal luas dan dicari tidak hanya dari konsumen dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Setiap harinya ratusan pengrajin memproduksi barang-barang kerajinan di beberapa workshop yang terletak berjejer di kanan kiri jalan area desa ini.

Di mana sesungguhnya letak Desa Kasongan? Bagi mereka yang tinggal di Yogya, atau setidaknya pernah menetap di kota ini, tentu paham letaknya. Namun, bagi yang tidak, mungkin ada baiknya mempelajari rute menuju ke desa ini.

Setidaknya ada dua jalur utama menuju ke Kasongan. Pertama, jalan dari kota Yogyakarta menuju ke Kabupaten Bantul. Dan, ke dua, adalah melalui jalan Parangtritis. Dari arah Yogya, ke dua jalur ini bisa ditandai dari benteng yang menyelimuti Kraton Yogyakarta.

Jalur ke Bantul biasanya menggunakan ancar-ancar pojok Benteng Barat, atau orang Yogya menyebutnya Jokteng Kulon. Sedangkan jalan ke arah Parangtritis bisa dimulai dari pojok Benteng Timur atau biasa disebut Jokteng Timur.

Desa Kasongan ini berimpit dengan wilayah lain yang menghasilkan kerajinan dari bahan kulit. Namanya Desa Manding. Di sisi lain, Desa Kasongan juga dekat dengan area pengrajin wayang kulit, atau biasa dikenal sebagai kerajinan tatah sungging.

Area Kasongan ini sendiri pada awal mulanya menjadi tempat pengrajin gerabah setelah para penduduk pendatang mendapati area ini kosong ditinggal penghuni sebelumnya. Selain para penduduk baru ini mulai bekerja mencari penghasilan dari bercocok tanam dan mengelola lahan sawah yang ditinggalkan, ada pula yang kemudian mencoba berkreasi membuat barang-barang dari tanah liat.

Pada awalnya barang-barang yang dibuat merupakan barang kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan dapur, namun lambat laun kreasi gerabahnya mulai berubah. Mereka merambah ke barang-barang kesenian lainnya seperti guci, patung dan sebagainya.

Bahkan pada perkembangannya pada tahun 1970-an, salah satu seniman kenamaan Yogyakarta Sapto Hudoyo turut membantu menggalakkan usaha kerajinan gerabah ini. Ia mengajarkan bahwa gerabah juga adalah produk kesenian. Ia mempunyai nilai seni. Dari situ kemudian para pengrajin mulai bereksperimen dan mengombinasikan dengan beberapa bahan lainnya seperti batok kelapa, bambu, kayu dan lainnya sebagai tambahan hiasan atau ornamen tertentu.

Salah satu kelebihan lokasi sentra kerajinan ini adalah konsumen bisa mendapatkan harga yang relatif lebih murah. Ini jika dibandingkan orang harus mencari barang-barang kerajinan di tempat-tempat lainnya. Dan lebih mudah untuk menawar secara langsung.

Harga barang-barangnya sendiri bervariasi, mulai dari puluhan ribu Rupiah untuk barang kecil seperti tempat pensil, patung kecil dan lainnya hingga jutaan Rupiah untuk barang yang lebih besar seperti guci, pot bunga atau wuwung, sebuah hiasan dengan berbagai corak dan motif yang biasanya diletakkan di atas atap rumah. Harga juga tergantung berdasarkan ragam motif yang dimiliki oleh barang tersebut, meskipun tersedia juga barang-barang seperti guci yang dibiarkan polos atau hanya dicat sederhana untuk memberikan kesan sentuhan akhir yang lebih natural dan original.

Selain bisa berbelanja ragam barang kerajinan gerabah, tersedia juga layanan tour dimana tamu bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatannya, bahkan juga ikut mengikuti kursus singkat bagaimana membuat barang dari tanah liat di ruangan-ruangan workshop tersebut.

Kios-kios dan galeri di Kasongan biasanya melayani konsumen dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam. Kini kios-kios tersebut dikelola oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Koperasi Seni Kerajinan Kasongan Setya Bawana yang berada langsung di bawah naungan Dinas Perindagkop Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi via telpon di (0274) 370549 atau (0274) 413340.

Tradisi Pemakaman Di Indonesia, 4 Yang Unik

Tradisi pemakaman di Indonesia ada bagian masyarakat yang melakukannya dengan unik dan kaya falsafah.

Tradisi pemakaman di Indonesia ada beberapa yang luar biasa, dan kaya akan kebudayaan setempat. Ada istiadat pemakaman tak semata mengubur sanak saudara atau keluarga yang meninggal, namun memiliki falsafah yang dalam.

Tradisi Pemakaman di Indonesia

Upacara pemakaman di sejumlah daerah ini merupakan serangkaian kegiatan yang rumit terkait, karena adanya ikatan adat dan tradisi setempat. Kadang ada yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun hingga berbulan-bulan. Soal biaya ini, kadang ada kebiasaan tersendiri. Ada adat masyarakat yang menabung terlebih dahulu hingga terkumpul uang untuk melaksanakan upacara pemakaman secara lengkap.

Upacara adat ngaben dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, misalnya, memiliki tiga jenis: Ngaben Sawa Wedana; Ngaben Asti Wedana; dan Swasta. Ngaben sendiri adalah pemakaman keluarga dengan tradisi pembakaran. Sawa Wedana dilakukan terhadap jenasah langsung setelah meninggal. Biasanya 3-7 hari setelah meninggal.

Sementara ngaben Asti Wedana, biasanya dilakukan pada mereka yang meninggal kemudian dimakamkan atau dikuburkan terlebih dahulu. Sehingga yang dimakamkan biasanya adalah kerangkanya. Sedangkan ngaben Swasta adalah pembakaran tanpa adanya jenasah atau kerangka. Biasanya karena yang meninggal berada di luar negeri dan tidak memungkinkan dibawa pulang, atau meninggal karena kecelakaan pesawat, misalnya.

Selain ngaben, masih ada beberapa tradisi pemakaman yang unik di Indonesia. Berikut empat di antaranya.

Tradisi Rambu Solo di Tana Toraja

Tana Toraja mempunyai upacara adat yang biasa dilakukan, yakni Rambu Solo. Upacara Rambu Solo merupakan upacara pemakaman. Pada upacara ritual ini, penduduk Toraja percaya arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, memang terkenal unik. Ada jenazah yang digantung bersama dengan petinya pada dinding tebing, selain ditaruh dalam gua. Ada pula yang dikubur di lubang tebing. Di Buntu Pune dan Kete Kesu, misalnya. Erong atau peti mati digantung pada dinding tebing. Sementara itu, di Londa, erong tak hanya digantung di dinding tebing, tapi juga ditaruh dalam gua. Lain halnya dengan erong-erong di Lemo. Erong di sana dimasukkan dalam dinding tebing yang sudah dilubangi.

Selain itu, ada Baby Grave. Letaknya di Kambira, tidak terlalu jauh dari Lemo. Di desa yang terletakdi tenggara Rantepao ini, terdapat kuburan bayi di batang pohon Taraa. Mayat bayi diletakkan dalam lubang pohon tanpa dibungkus apa pun. Lubang ini kemudian ditutup dengan ijuk pohon enau. Tidak ada bau busuk sama sekali meskipun terdapat banyak lubang pohon berisi jenasah.

Tradisi pemakaman di Indonesia mempunyai beragam warna. Salah satu di antaranya adalah di Trunyan, Bali.
Kehidupan tradisi di Desa Trunyan , Kintamani, Bali, Indonesia. Foto: dok. shuterstock

Trunyan Bali

Seperti diceritakan di muka, di Bali umumnya orang yang meninggal akan dikubur atau dibakar dengan upacara ngaben. Namun generasi penerus keturunan Bali Aga di Desa Trunyan punya tradisi berbeda. Orang yang meninggal justru ditaruh di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Warga desa yang terletak
di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, ini memang memiliki tradisi unik yang masih dipertahankan sejak dulu hingga sekarang. Mereka “menguburkan” jenazah dengan cara dibaringkan di atas tanah yang disebut Sema Wayah.

Posisi jenazah berjejer bersandingan, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh pada waktu prosesi. Jadi, yang terlihat hanya bagian muka jenazah melalui celah bambu ”Ancak Saji”. Ancak
Saji adalah anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi melindungi jenazah dari serangan atau gangguan binatang buas.

Dayak Benuaq, Kalimantan Timur

SUKU Dayak Benuaq atau suku Dayak Bentian di Kalimantan Timur

juga memiliki prosesi khusus untuk menguburkan manusia yang sudah meninggal. Kuburan akan mudah ditemukan di halaman samping rumah atau tepi jalan menuju kampung suku Dayak Benuaq.

Uniknya, jenazah orang Benuaq atau Bentian tidak dikubur dalam tanah atau tebing layaknya tradisi suku lain. Kuburan berbentuk kotak itu disangga tiang atau digantung dengan tali. Setelah beberapa tahun, kuburan tersebut dibuka lagi, lalu tulang-belulang jenazah didoakan dan dimasukkan dalam kotak bertiang permanen.

Tradisi pemakaman di indonesia ada berbagai ragamnya dan keunikannya. Salah satunya Waruga di Minahasa.
Waruga, pemakaman di Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Foto: Dok. shuterstock

Waruga, Minahasa

Di Minahasa zaman dulu, ada memiliki tradisi untuk membuat makam yang nantinya akan mereka tempati sendiri. Mereka juga percaya bahwa makam harus dibuat seindah mungkin untuk menghormati roh si orang meninggal.
Waruga merupakan makam yang terdiri dari dua batu. Batu pertama berbentuk peti dan batu ke dua berbentuk menyerupai limas. Biasanya, waruga akan dihiasi ornamen ukiran hewan, manusia, tanaman, ataupun geometri. Beberapa waruga juga memiliki ornamen berupa kisah hidup manusia.

agendaIndonesia

*****

3 Kampung Adat di Flores yang Unik

Bena

3 kampung adat di Flores, mungkin belum banyak yang tahu. Pulau di Nusa Tenggara Timur ini mungkin lebih dikenal karena ke-eksotisan alamnya, juga ragam budayanya. Padahal, wilayah ini memiliki jejak budaya berupa kampung adat yang harus terus dijaga kelestariannya.

3 Kampung Adat di Flores

Pemandangan berupa barisan pegunungan tampak elok mengelilingi kampung-kampung adat ini. Kampung adat apa saja yang ada di sepanjang Flores ini.

Kampung Bena

Di tengah Pulau Flores, tepatnya 19 kilometer di sisi selatan Bajawa, masih di Kabupaten Ngada dan berporoskan Gunung Inerie (2245 mdpl), kampung adat yang mengesankan kehidupan zaman batu ini bisa dijumpai. Di tanah adat itu, sekitar sembilan suku yang terdiri atas 326 orang menempati 45 rumah kayu, yang dibangun sejajar dan berhadap-hadapan. Sembilan suku itu adalah Bena, Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, serta Ago. Pembedanya, rumah dipisahkan oleh tingkatan-tingkatan. Masing-masing suku menempati satu tingkat. Tingkat paling tengah dihuni suku Benayang dianggap paling tua danpionir pendiri kampung. 

Tradisi dipertahankan di sini, seperti mengunyah sirih pinang, berladang, serta menenun kain tradisional. Pemandangan berupa barisan pegunungan mengelilingi kampung tersebut. Komunikasi antarsuku menggunakan bahasa daerah, yakni Nga’dha. Perlu perjalanan darat lebih kurang sembilan jam dari Labuan Bajo untuk menjangkau lokasi ini. Bisa juga via udara menuju Bandar Udara Soadi, dilanjutkan perjalanan darat lebih kurang satu jam. 

Kampung Wae Rebo

Tujuh rumah kerucut berjuluk mbaru niang, yang dipercaya merupakan warisan nenek moyang dari Minang, berdiri gagah di puncak gunung sebuah desa bernama Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ketujuhnya disusun melingkar, membentuk perkampungan mini yang misterius. Rumah itu menjulang tinggi mencapai 15 meter. Di dalamnya bercokol ruangan lima lantai dan setiap tingkat memiliki makna berlainan. 

Tingkat pertama disebut luntur, tempat berkumpul keluarga. Tingkat kedua adalah loteng atau lobo untuk menyimpan logistik dan kebutuhan sehari-hari. Tingkat ketiga ialah lentar, penyimpananbenih tanaman. Keempat disebut lempa rae, gudang stok makanan bila terjadi kekeringan. Terakhir, hekang kode, biasanya sebagai tempat sesaji. Untuk menjangkaunya, pelancong harus menuju Desa Denge sekitar dua jam dari Rutengdengan kendaraan bermotor. Dilanjutkan pendakian sekitar tiga sampai empat jam dengan medan cukup ekstrem. 

Kampung Gurusina

Tak hanya Bena, Kabupaten Ngada punya Kampung Gurusina. Letaknya di Desa Watumanu, Jerebu’u, masih di kaki Gunung Inerie. Kampung tersebut ditengarai sudah ada sejak 5.000 tahun silam dan digadang-gadang menjadi yang tertua di tanah bunga, Flores. Terdiri atas33 rumah yang dihuni tiga suku besar: Kabi, Agoazi, dan Agokae. Penataan rumahnya mirip di Kampung Bena, yakni berjajar dan berhadap-hadapan. Para lelakipunmenjadi peladang cengkeh, kemiri, kakao, serta jambu mete. 

Hanya tradisi menyimpan ari-ari anaknya di dalam batok kelapa, yang membuat masyarakat ini unik. Ari-ari itu lantas ditempatkan di dahan pohon yang paling tinggi dan rindang. Dengan tradisi ini, anak-anak dipercaya akan menjadi penurut serta pelindung. Selain itu, kelak dapat menaburkan perdamaian di mana pun. 

F. Rosana

Rumah Oleh-Oleh Gudeg Kaleng Bu Lies Sejak 1990

Sentra Gudeg Wijilan juga tempat untuk mencari oleh-oleh, di antaranya gudeg dalam kaleng.

Rumah oleh-oleh gudeg kaleng Bu Lies adalah rumah makan sekaligus toko oleh-oleh gudeg kaleng yang terletak di kawasan Jalan Wijilan, sebelah timur Alun-alun Utara, kota Yogyakarta. Area ini kerap dikenal sebagai kampung Wijilan, atau sering juga disebut Sentra Gudeg Wijilan.

Rumah Oleh-oleh Gudeg Kaleng

Sentra Gudeg Wijilan adalah di mana banyak penjual gudeg yang telah menjajakan makanannya di sepanjang jalan ini sejak tahun 1940-an. Gudeg Bu Lies sendiri sudah eksis sejak tahun 1990-an dan kini menjadi salah satu restoran gudeg terpopuler di area ini.

Namun salah satu yang membuat restoran gudeg ini unik adalah salah satu produk yang mereka tawarkan, yakni gudeg kaleng. Ide gudeg kaleng ini adalah gudeg yang mampu awet dan tahan lama, karena banyaknya konsumen yang membeli gudeg bukan hanya untuk disantap langsung tetapi juga untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Gudeg kering seperti yang biasa dijual di sini biasanya hanya bertahan sekitar 1 hari, membuatnya agak sulit untuk dijadikan oleh-oleh. Oleh karenanya, Gudeg Bu Lies berinovasi dengan gudeg kaleng, dimana gudeg yang dikemas di dalam kaleng ini mampu awet hingga 1 tahun. Inovasi ini pertama dilakukan pada tahun 2011, lewat pengetesan yang juga dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Setelah menemukan metode yang sesuai, pada tahun 2012 produk ini resmi dijual secara umum.

Gudeg sendiri merupakan masakan yang menggunakan nangka muda atau yang dalam istilah Jawa lazim disebut gori. Setelah diramu dengan bumbu-bumbu dan dimasak di atas tungku bakar, gudeg ini dimasukkan ke dalam kaleng yang sebelumnya telah disterilisasi terlebih dulu. Kemudian dilakukan proses pasteurisasi saat kaleng masih terbuka dan setelah ditutup, untuk memastikan bakteri-bakteri yang membuat makanan basi telah dinetralisir. Setelah dikarantina selama 10 hari, produk akhirnya siap untuk dijual kepada konsumen. Proses panjang ini juga memastikan bahwa gudeg kaleng tidak menggunakan bahan pengawet apapun, agar tetap layak dikonsumsi dan juga tidak mengurangi kualitas serta rasa asli dari gudeg. Tak lupa, gudeg kaleng ini pun juga telah bersertifikat halal dari MUI.

Tersedia beberapa jenis varian dari gudeg kaleng, seperti gudeg kaleng tahu telur, ayam, ayam telur, sambal krecek, vegetarian dan mercon bagi yang menyukai sensasi pedas. Harganya berkisar dari Rp. 30.000,00 hingga Rp. 40.000,00, dan dikemas dalam kaleng yang kecil dan mudah untuk dibawa. Gudeg Bu Lies buka setiap hari dari jam 5 pagi hingga jam 10 malam.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (0274) 450164, serta bisa mengunjungi website resmi www.gudegbulies.com.

 

Cabang-cabang:

– Jl. Wijilan no. 5, telp. (0274) 450164

– Jl. Wijilan no. 5b, telp. (0274) 412294

– Jl. Gamelan no. 26, telp. (0274) 417444

Komunitas Drone, 1 Pesawat Sejuta Angle

Komunitas drone semakin banyak di Indonesia, selain belajar menerbangkan pesawat, mereka juga belajar fotografi dan videografi

Komunitas drone adalah satu kelompok kegiatan dengan mengejar sejumlah kompetensi. Bukan sekadar menerbangkan pesawat nirawak, namun juga menumbuhkan kemampuan fotografi, videografi. Bahkan memberikan manfaat lain seperti dokumentasi. Jadi ini bukan sekadar hobi semata.

Komunitas Drone

Matahari siang bolong pada awal Maret lalu benar-benar perkasa. Teriknya memanggang siapa dan apa pun yang ada di bawahnya. Beberapa gumpalan tipis awan putih berarak menghindari keperkasaannya.

Entah dari mana munculnya, sebuah pesawat mungil melintas di udara. Sesekali terbang merendah dan kembali meninggi meski tidak menembus awan. UFO (unidentified flying object) kah? Rupanya bukan. Karena benda itu tak lain dari drone alias unmanned aerial vehicle (UAV) yang sedang dicoba seorang pembeli.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, drone kian populer. Di kalangan militer dikenal sebagai ”mesin pembunuh” karena memiliki serangan yang mematikan dan daya jelajah yang sangat luas.

Beberapa tahun lalu chief executive officer  raksasa retail online Amazon, Jeff Bezos, mengenalkan konsep layanan Amazon Prime Air. Yang memungkinkan barang yang dipesan konsumen di Amazon.com akan diantar menggunakan drone dalam waktu 30 menit setelah mereka menekan tombol “beli”.

Menurut Asha Wadya, anggota DJI Phantom Indonesia, pemanfaatan pesawat nirawak itu pun kini berkembang luas hingga menyentuh penghobi. Selain hobi juga dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan sebagai fotografer ataupun videografer. ”Bisa dibilang drone ini menggabungkan tiga hobi sekaligus: radio control, videografi, dan fotografi,” kata dia. Bahkan, ia menambahkan, beberapa media massa sudah memanfaatkan drone ini.

Komunitas drone tumbuh untuk meningkatkan apresiasi dan kompetensi memanfaatkan pesawat nirawak.
Drone jenis Phantom. Foto: Dok. Unsplash

Pemanfaatan drone, kata Asha, tak lepas dari kemampuan yang dimilikinya. Drone lebih stabil, sehingga memungkinkan untuk mengabadikan gambar atau video. Pesawat yang dikendalikan melalui remote control dengan frekuensi 2,4 dan 5,8 Ghz juga mampu terbang setinggi 400 meter dan sejauh lebih dari 1,5 kilometer.

”DJI Phantom II bisa terbang selama 15-20 menit sekali terbang,” ia mengungkapkan sambil menyebut seri terbaru bisa terbang lebih tinggi dan durasi yang lebih lama.

Selain itu, drone dilengkapi dengan fasilitas GPS. Jika kehilangan jejak, fitur ini memungkinkan pesawat akan kembali ke titik keberangkatan semula. ”Tinggal diatur dan dikunci saja GPS-nya,” ujar Asha.

Tak jarang pesawat tersebut dijual sepaket dengan mounting (dudukan) action camera seperti GoPro yang didesain ringan, kompak, dan memiliki lensa lebar. Walhasil, tidak repot merakit perangkat tambahan lain.

Komunitas drone mengembangkan minat dan hobi sekaligus menjadi profesi yang menjanjikan.
Drone sedang mengudara. Foto: Dok. unsplash

Hasil foto ataupun video dengan drone ini mengagumkan. Sudut pandang aerial dengan perspektif menghadap ke bawah membuat foto ataupun video menjadi dramatis dan menakjubkan.

Lantas, berapa harga sebuah drone yang dinilai cocok buat pemula? Asha menyebut sekitar belasan juta untuk sebuah drone DJI Phantom 2. Itu belum termasuk action camera. Jika ingin sudah lengkap dengan kamera bisa mencapai Rp 20 juta lebih. Asha memperkirakan perkembangan drone akan semakin pesat di Tanah Air. ”Tahun 2015 mungkin dapat dibilang sebagai awal tahunnya drone,” ucapnya.

Aman dan Bertanggung Jawab

Kendati Phantom keluaran DJI Innovations termasuk paling mudah dikendalikan di kelasnya, namun Asha menyarankan pemula yang baru mencoba drone untuk berlatih di lapangan terbuka, bermain rendah, dan berlatih orientasi sesering mungkin sebelum terbang lebih tinggi.

”Jika terjadi crash, selain bisa merusak drone, bisa membahayakan orang lain di sekitarnya,” katanya. Oleh karena itu, komunitas drone DJI Phantom Indonesia menjunjung semboyan flysafe & fly responsible.

Komunitas drone yang didirikan pada 11 Mei 2014 itu merupakan wadah berkumpulnya pengguna drone buatan Da-Jiang Innovations Science and Technology Co, Ltd (DJI) Phantom asal Cina. Perusahaan ini didirikan Frank Wang pada 2006 di Shenzhen, Tiongkok.

Meski usia DJI Phantom Indonesia kurang dari setahun, anggotanya kian bertambah. Sampai tulisan ini diturunkan, setidaknya ada 600 anggota yang terdaftar dalam media sosial DJI Phantom Indonesia. “Anggota kami datang dari berbagai profesi. Mulai dari siswa SMP, kalangan media, penghobi, videografer, fotografer, dosen, DJ, hingga musikus,” katanya.

Asha mempersilakan siapa saja yang tertarik bergabung dengan DJI Phantom Indonesia. ”Silakan saja bergabung lewat media sosial Facebookkami. Tak perlu harus punya drone terlebih dulu,” kata dia.

Hal itu diakui oleh Agung Setiawan. Pria berusia 37 tahun yang berprofesi sebagai DJ ini mengaku awalnya mengenal drone berawal dari kebiasaan mendokumentasikan kegiatannya saat ia beraksi di luar kota. ”Namun setelah mempelajari lebih jauh, ternyata kamera yang saya gunakan bisa dipasangkan dengan drone. Sejak saat itu, saya langsung tertarik dengan drone. Hitung-hitung sekalian belajar jadi videografer,” ujarnya merendah.

agendaIndonesia/TL/Andry T.

*****

Istana Brillian Toko Oleh-Oleh Semarang

istana brilian

Istana Brillian toko oleh-oleh yang berada di kawasan Simpang Lima, Semarang. Toko ini menjajakan beragam jenis kue lapis mandarin yang dinamakan Brillian Super Cake.

Istana Brillian Toko Oleh-oleh

Istana Brillian toko oleh-oleh yang berada di kawasan Simpang Lima, Semarang. Toko ini menjajakan beragam jenis kue lapis mandarin yang dinamakan Brillian Super Cake.

Dinamakan demikian karena dengan kue ini dibungkus vacuum berlapis dan tanpa pengawet, ternyata mampu bertahan serta masih layak dikonsumsi hingga 60 hari, dan ini telah tercatat pula oleh MURI. Karena toko ini tidak membuka cabang dimana pun, kue-kue ini lantas menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang hanya bisa didapatkan di toko ini.

Awalnya toko ini bernama Luciana Cake Shop yang didirikan pada tahun 1980-an oleh sepasang suami istri. Pada saat itu toko ini hanya membuatkan kue tart berdasarkan pesanan, sekaligus menjadi bisnis sampingan supplier bahan-bahan roti. Sempat mengalami kesulitan dan stagnansi, mereka kemudian berfokus pada bisnis supplier margarin dan selai coklat di tahun 1990an.

Setelah bisnis mulai bangkit kembali, mereka mulai mencoba bereksperimen lagi dengan resep-resep kue dan akhirnya memutuskan untuk kembali membuka toko kue, yang kini dikenal sebagai Istana Brillian. Sempat berencana untuk membuka cabang, akhirnya rencana tersebut diurungkan karena mereka memilih untuk mempertahankan keunikan dan orisinalitas, serta keinginan agar kue ini menjadi salah satu ikon oleh-oleh khas Semarang.

Ada beberapa varian rasa yang tersedia, yaitu coklat, almond, keju, kismis, cappuccino, ovomaltine serta brauneo, sebuah varian yang dikembangkan dengan menggabungkan rasa coklat dengan rasa krim ala biskuit Oreo. Harganya sendiri berkisar antara Rp. 100.000,00 hingga Rp. 110.000,00. Toko ini buka setiap hari dari jam 7.30 pagi hingga jam 9 malam, hari libur pun tetap buka. Selain kue-kue, kini toko ini juga menjajakan beberapa penganan oleh-oleh lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi (024) 8456456.

Alamat: Jl, Simpang Lima no. 2, Semarang