Oleh-Oleh Banten 5 Yang Wajib Dibawa

oleh-oleh Banten ada 5 yang ayak dibawa.

Oleh-oleh Banten selama ini orang banyak yang hanya mengenal sate bandeng. Ini tak salah, meskipun kurang tepat. Cukup banyak sebenarnya oleh-oleh khas dan unik dari daerah ini, hanya belum terlalu dikenal.

Oleh-oleh Banten

Setiap daerah tentu memiliki keunikan yang berbeda dengan daerah lain. Begitu pula dengan Banten. Keunikan Banten bukan semata budaya debusnya yang terkenal itu. Banten juga memiliki buah tangan yang layak dibawa pulang.

Meskipun letaknya relatif tidak terlalu jauh dari Jakarta, bisa jadi masih banyak yang belum tahu jika Banten menyimpan sejumlah oleh-oleh yang unik. Ada makanan klasik yang dilestarikan dari masa silam sampai dengan batik yang pertama kali dipatenkan di Unesco. Beberapa 5 di antara oleh-oleh yang layak dibawa pulang.

oleh-oleh bandeng salah satunya Sate Bandeng yang khas
Sate Bandeng khas Banten. Foto: Dok. Shutterstock

Sate Bandeng

Dulu di daerah ini ikan bandeng hanya disajikan dalam setiap perayaan besar, kini telah menjadi jajanan khas Banten, terutama sate bandengnya. Meski dinamai sate, bukan berarti ikan itu dipotong kecil-kecil lantas ditusuk bambu seperti pada umumnya. Bentuk sate bandeng dijepit bilah bambu.

Daging dan tulang ikan diambil kemudian dicincang dan diberi bumbu sebagai penyedap. Cincangan daging dimasukkan kembali ke dalam tubuh ikan dan sisanya dagingnya dioleskan di bagian luarnya. Lalu dibungkus dengan daun pisang dan kemudian dipanggang.

Di Serang, banyak sekali yang menjajakan makanan ini. Harga
per tusuknya bervariasi, tergantung dari besar kecilnya ikan bandeng. Sate Bandeng Ibu Aliyah salah satu yang dikenal luas, dengan harga lebih tinggi dibanding produksi yang lain. Ada pilihan rasa yang disediakan, orisinal dan pedas.

Sate Bandeng Ibu Aliyah; Jalan Sama’un Bakri, Lopang Gede, Serang.

Emping Ceplis

HAMPIR semua orang pasti mengenal emping. Tapi di Banten, terutama di Kabupaten Pandeglang, emping yang dihasilkan konon berbeda dari daerah lain. Selain rasa yang renyah karena pengolahannya, faktor kondisi tanah daerah Pandeglang umumnya memiliki unsur hara yang tinggi sehingga menghasilkan

buah melinjo dengan kualitas baik. Kios oleh-oleh di Cikoromoy, Pandeglang, misalnya, menyediakan berbagai pilihan emping. Dari yang masih mentah hinga yang sudah siap santap. Pilihannya, rasa orisinal, pedas, dan manis. Harganya beragam sesuai dengan ukuran. Mulai Rp 35 ribu per bungkus. Ada juga kulit emping yang sudah digoreng dan hanya dihargai Rp 20 ribu per bungkus.

Kios Oleh-Oleh; Cikoromoy, Pandeglang, Banten

Batik Banten

Batik Banten memiliki proses sejarah panjang hingga akhirnya diakui di seluruh dunia dengan dipatenkan pada 2003. Bahkan, batik Banten menjadi batik pertama yang memiliki hak paten di Unesco. Penasaran dengan berita itu, kami menemui Uke Kurniawan, pelopor batik Banten sekaligus pemilik Griya Batik Banten di daerah Cipocok, Serang.

Selain sebagai ruang pamer, Griya Batik Banten juga dijadikan workshop. Ada sekitar 40 corak dan motif batik khas Banten yang memiliki ciri khas bercerita. Nama-namanya di- ambil dari toponim desa-desa kuna, nama gelar bangsawan atau sultan, dan nama tata ruang istana kerajaan Banten. Warnanya cenderung abu- abu muda.

Griya Batik Banten; Jl. Bhayangkara No. 5; Depan Masjid Kubil; Cipocok Jaya, Serang

Gipang

Makanan ringan ini merupakan salah satu penganan khas Banten yang banyak dijajakan sebagai oleh-oleh. Rasanya renyah, manis, sedikit lengket karena terbuat dari ketan yang dicampur dengan air gula. Kebanyakan gipang masih dibuat di industri-industri rumahan di kampung-kampung.

Untungnya, penganan klasik ”Si Renyah Manis” ini masih dapat dengan mudah ditemukan di perempatan Ciceri, gerbang jalan tol Serang Timur, dan Pasar Lama. Untuk sekantong gipang dibandrol dengan harga Rp 20 ribu-25 ribu saja.

Kios Oleh-Oleh. Ciceri, Serang

oleh-oleh Banten ada beberapa macam, salah satunya kue sagon.
Kue sagon khas Banten yang bisa dijadikan oleh-oleh. Foto: Dok. PD Sutra AS.

Kue Sagon

Kalau di Jakarta, khususnya pada masyarakat Betawi, camilan yang terbuat dari tepung sagu dan kelapa ini biasanya berbentuk bubuk. Namun, masyarakat Banten mengenal sagon dalam bentuk kepingan. Mirip sekali dengan kue kering yang pipih.

Setelah dicetak bulat pipih, sagon dimasak dengan cara dibakar. Tak mengherankan jika di permukaannya tertinggal jejak gosong. Namun justru inilah yang membuat aromanya tambah harum. Satu bungkus sagon bakar dibandrol Rp 15 ribu-20 ribu. Selain itu ada juga kue satu yang terbuat dari kacang hijau. Satu bungkusnya hanya Rp 15 ribu.

Warung Kang Hadi; Jl. Jendral Sudirman No. 17; Pasar Buah-Buahan; Serang

agendaIndonesia

*****

Sambal Bu Rudy, Sejak 95 Pedasnya Menyengat

Sambal Bu Rudy bermula dari masakan keluarga kini menjadi oleh-oleh kha Surabaya.

Sambal Bu Rudy Surabaya terus naik daun. Selain produk-produk seperti ragam jenis sambal dan sebagainya yang kini populer sebagai oleh-oleh khas Surabaya, bisnis kulinernya juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri di kota pahlawan itu.

Sambal Bu Rudy

Semua berawal dari seorang wanita bernama Lanny Siswadi, atau yang sehari-hari akrab dipanggil bu Rudy. Wanita kelahiran Madiun, 10 Oktober 1953 ini sejak kecil memang terbiasa untuk bekerja dan berjualan demi mengais rejeki.

Masa kecilnya dilalui dengan cukup berat. Ayahnya saat itu kerap sakit-sakitan dan sulit untuk bisa bekerja full-time. Sementara ibunya juga tak punya penghasilan serta minim kompetensi untuk mencari nafkah bagi keluarganya.

SItuasi diperparah dengan peristiwa G30S pada tahun 1965, dimana kondisi Madiun saat itu tidak kondusif dan mencekam. Maka sebagai anak sulung, ia sudah ikut bekerja mencari uang sejak dini.

Ia pun kerap pergi ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Dari menjadi tukang cuci piring hingga membantu tetangganya berjualan es dawet, semua dijalaninya demi membantu ekonomi keluarganya. Bahkan, ia mengaku putus sekolah sejak kelas 3 SD.

Selama satu dekade lebih ia harus bekerja serabutan, sampai akhirnya ia bertemu Rudy Siswadi, suaminya kini. Setelah menikah, mereka pun memutuskan untuk membuka usaha toko sepatu pada tahun 1983.

Toko sepatu tersebut terletak di Pasar Turi, dan menjadi mata pencaharian mereka selama sekitar 20 tahun. Hingga kini pun toko tersebut masih aktif berjualan, namun kini sudah dikelola oleh menantunya.

Kendati dirinya merasa tak begitu gemar dan jago memasak, namun beliau ternyata memiliki kecintaan tersendiri terhadap dunia kuliner. Tapi kisahnya berkecimpung di bisnis kuliner justru berawal dari usahanya bangkit dari kesulitan ekonomi lainnya.

Sambal BU Rudy awalnya disajikan dengan  udang yang digoreng kering.
Aneka sambal yang dikenal di Indonesia. Foto: Shutterstock

Pada awalnya, ia hanya senang memasak untuk teman-temannya kala mereka mampir datang ke rumahnya. Salah satu menu jagoannya adalah udang goreng beserta sambal bawang racikan sendiri. Tak disangka, ternyata teman-temannya begitu menyukai masakannya tersebut.

Mereka pun mulai mengusulkan kepadanya agar mencoba berjualan nasi dengan udang goreng dan sambalnya tersebut. Tadinya dia merasa tak yakin, tetapi ketika Pasar Turi sempat dilanda kebakaran dan tokonya turut ludes, ia akhirnya memberanikan diri agar dapat bangkit.

Kelihaiannya mengolah udang menjadi masakan sedap ini bukan tanpa sebab. Rudy sang suami rupanya memiliki hobi memancing di waktu luangnya. Sebagai umpan pancingan, ia kerap menggunakan udang.

Sebagian udang-udang inilah yang kemudian dicoba diracik bu Rudy menjadi kuliner yang menggoda lidah. Udang tersebut pun digoreng menjadi begitu renyah, gurih dan nikmat sebagai teman makan nasi. Ikan-ikan hasil pancingan suaminya pun kerap ia masak pula.

Tetapi yang paling krusial adalah kemampuannya mengolah sambal. Menurut pengakuannya, orang Madiun memiliki kultur membuat serta makan sambal yang sangat kuat. Ibaratnya, sambal saja bahkan sudah cukup untuk jadi lauk makan nasi.

Berbekal resep tersebut, pada 1995 ia dan suaminya mulai berjualan nasi udang goreng dengan sambal bawangnya dari atas mobil pick up. Selain menu itu, mereka juga menyediakan nasi pecel Madiun.

Ternyata, masakan mereka pun digemari publik Surabaya, dan mulai meraih kepopuleran. Bahkan pada perkembangannya, sambal bawangnya justru yang menjadi primadona dan jadi buah bibir banyak orang karena sensasi rasa pedas dan gurihnya itu.

Melihat peluang bisnis ini, bu Rudy pun mulai menjajakan sambal tersebut secara terpisah. Awalnya ia sempat kewalahan karena permintaan yang membludak, sementara sambal buatannya alami tanpa pengawet dan dikhawatirkan tak mampu bertahan lama.

Namun kini, dengan dibantu oleh anak-anaknya, ia bisa menjual sambal tersebut dalam kemasan botol. Tak lupa, di botol tersebut terdapat logo khasnya, yaitu wajah dari bu Rudy sendiri. Jadilah produk Sambal Bu Rudy.

Sambal Bu Rudy Bukalapak
Sambal Bu Rudy varian sambal bawang yang paling awal dikenal publik.

Sebotol sambal dengan tutup berwarna kuning itu pun semakin hari semakin populer. Bu Rudy yang tadinya hanya berniat berjualan makanan, kini menjelma jadi pebisnis sambal. Sekarang tak kurang sekitar 1.500 hingga 2.000 botol sambal yang terjual tiap harinya.

Jenis produk sambal Bu Rudy pun semakin beragam. Selain sambal bawang yang tentunya menjadi favorit banyak orang, kini ada pula varian sambal lain seperti sambal teri, sambal bajak, sambal ijo, dan sambal petis.

Bahkan udang crispy resep andalannya itu pun juga dijual satuan. Kini pecinta kuliner bisa membeli udang tersebut dalam berbagai ukuran kemasan, serta sepaket dengan sambal bawang sesuai ciri khasnya.

Dari situ, peminat produk-produknya terus meningkat, tidak hanya warga Surabaya saja tetapi juga muncul permintaan dari luar kota. Banyak wisatawan dari luar kota yang mampir dan mencari sambal bu Rudy sebagai oleh-oleh.

Bahkan produk sambal bu Rudy kini sudah merambah ke negara-negara lain seperti Tiongkok dan Belanda. Kalangan Istana pun disebut menyukai sambal buatannya, dari era Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo sekarang.

Bisnis pun terus berkembang dengan munculnya produk-produk penganan baru lainnya. Ikan wader crispy, kering kentang dan tempe, teri kacang balado, ikan asin dan peyek layur adalah beberapa di antaranya.

Harga sebotol sambal tersebut berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 28 ribu, tergantung variannya. Sedangkan udang crispy satuan kemasan kecil dihargai Rp 38 ribu dan yang besar Rp 70 ribu. Adapun udang dan sambal sepaket dalam kemasan kecil Rp 63 ribu dan yang besar Rp 145 ribu.

Harga penganan lainnya pun termasuk terjangkau, seperti kering kentang dan tempe yang dihargai Rp 25 ribu. Atau ikan asin layur yang harganya Rp 30 ribu. Serta ikan wader crispy yang dijual Rp 26 ribu.

Sementara itu, bisnis kuliner bu Rudy pun kini beralih menjadi restoran yang dinamai Depot Bu Rudy. Setidaknya ada empat cabang yang beroperasi saat ini, yang juga sekaligus menjadi toko penyedia produk oleh-oleh mereka seperti sambal, udang serta penganan lainnya.

Depot Bu Rudy menawarkan menu-menu seperti nasi udang, nasi pecel Madiun, nasi campur, nasi bakar, nasi Madura, nasi penyet dan lain-lain. Harganya rata-rata berkisar dari Rp 28 ribu sampai Rp 33 ribu. Hingga kini, bu Rudy masih rajin memasak di depot-depot tersebut.

Depot pusatnya terletak di jalan Dharmahusada. Yang perlu dicatat, hanya depot pusat saja yang biasanya buka setiap hari dari jam 07.00 sampai jam 17.00. Di depot-depot lainnya, Depot Bu Rudy buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 21.00.

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi 081228839813, (031) 5456565, 081938621616, (031) 7349051, atau kunjungi situs-situs resmi di depotburudy.co.id dan depotburudy.com, serta akun resmi Instagram @burudy.surabaya.

Depot Sambal Bu Rudy

Jl. Dharmahusada no. 144, Surabaya

Jl. Anjasmoro no. 45, Surabaya

Pasar Atom Mall Lt. 4, Surabaya

Jl. Raya Kupang Indah no. 5, Surabaya

agendaIndonesia/Audha Alief P.

*****

Benteng Vredeburg, Wisata Ke Peninggalan Dari 1767

Benteng Vredeburg sudah banyak yang tahu ada di Yogyakarta. Tapi berapa banyak dari kita yang pernah menyempatkan diri mampir dan menikmati tempat yang bersejarah ini? Rasanya tak banyak, meskipun wisatawan yang berkunjung ke kota pelajar ini sudah mondar-mandir di kawasan Malioboro.

Beteng Vredeburg

Malioboro memang sering kali menjadi tempat tujuan utama wisatawan saat berlibur ke Yogyakarta. Banyak wisatawan mengaku telah bolak-balik ke kawasan belanja ini tanpa merasa bosan. Di musim liburan, tak jarang jalan ini mengalami kemacetan luar biasa karena wisatawan tumpah-ruah di sana.

Benteng Vredeburg merupakan peninggalan Belanda pada tahun 1767 di kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Kawasan Malioboro Yogyakarta, tempat Benteng Vredeburg berada. Foto: Dok. unsplash

Mereka memenuhi kawasan ini, tidak saja karena godaan wisata belanja, seperti di Pasar Beringharjo dan toko Mirota Batik, jalan ini juga dikepung sejumlah obyek wisata menarik. Ada kompleks Keraton Yogyakarta, Taman Pintar, dan benteng tua bernama Vredeburg. Namun, seperti disebut di muka, yang terakhir ini rasanya yang paling jarang disambangi.

Mungkin karena kesannya kuno. Mungkin pula dulu tempat ini belum mendapat sentuhan konservasi dan membuatnya lebih “bunyi” sebagai tempat bersejarah. Beberapa tahun terakhir ini, Vredeburg terus mempercantik diri sehingga makin menarik untuk dilirik.

Pagi itu, seorang teman yang pernah bersekolah di Yogya bernostalgia ke kawasan Malioboro. Ia sengaja berjalan kaki menyusuri Jalan Malioboro setelah sarapan di hotelnya di ujung utara jalan ini. Tujuan awalnya adalah ke keraton. Tapi menjelang ujung Maliooro, ia tertarik dengan Vredeburg—benteng peninggalan pemerintah kolonial yang terletak tak jauh dari Pasar Beringharjo.

Meskipun sudah pernah tinggal di Yogyakarta, hari itu adalah kunjungan pertamanya ke Vredeburg. Bagian depan benteng ini dijadikan tempat parkir kendaraan bermotor, sehingga pintu masuk yang kecil tersamarkan oleh deretan mobil dan minibus. Mungkin itu salah satu penyebab orang sering tidak tergoda untuk mampir.

Melintasi pintu gerbangnya, sekilas Vredeburg mengingatkan orang apada Benteng atau Fort Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. Ke duanya sama-sama benteng peninggalan Belanda dengan deretan bangunan tua berjendela besar dan halaman yang luas. Perbedaannya, Vredeburg lebih didominasi warna abu-abu, sedangkan Fort Rotterdam tampak ceria dengan warna bangunan merah dan kuning. Namun, yang menyenangkan, keduanya masih terawat dengan baik sampai sekarang, sehingga bisa menjadi sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda.

Di kawasan Benteng Vredeburg, tadinya terdapat kafe yang didesain cantik dengan atmosfer tempo dulu. Indische Koffie, namanya. Beroperasi sejak pertengahan 2012 di salah satu bangunan pada benteng tersebut, kafe ini memiliki ruangan indoor dan outdoor. Bagian luar cocok untuk meneguk secangkir kopi pagi hari sembari menikmati suasana benteng yang masih sepi. Sayangnya oase yang menarik ini kini sudah tutup.

Menurut catatan sejarah, sebelum dibangun benteng dengan bentuk arsitekturnya yang sekarang, pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan Hamengku Buwono I, di lokasi tersebut membangun sebuah benteng yang sangat sederhana. Bentuknya bujur sangkar. Pada ke empat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Oleh Sultan, ke empat sudut tersebut diberi nama masing-masing Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Menurut penuturan Nicolas Hartingh, Gubernur Jendral VOC untuk Jawa saat itu, benteng tersebut keadaannya masih sangat sederhana. Tembok dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap ilalang. Sewaktu W.H.Ossenberch menggantikan kedudukan Nicolas Hartingh, pada tahun 1765, diusulkan kepada sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin kemanan. Usul tersebut dikabulkan, selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan di bawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak.

Pada awal pembangunannya, status tanah tempat berdirinya benteng Vredeburg merupakan milik kasultanan. Tetapi dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC).

Lucunya, menurut penjelasan ahli sejarah, dahulu kala benteng yang awalnya bernama Rusternburg pada 1760-an, dibangun oleh Belanda justru untuk menghindari serangan dadakan dari pemimpin Keraton Yogyakarta saat itu. Letaknya yang memang tak jauh dari kompleks Keraton, hanya satu tembakan meriam, memudahkan Belanda mengawasi gerak-gerik lawan yang membahayakan posisi mereka. Itu sebabnya bangunan benteng ini berbentuk persegi dengan empat pos penjagaan atau bastion.

Selama kurun waktu dari 1770-an hingga saat ini, Vredeburg kerap kali berganti fungsi. Dari menjadi benteng pertahanan, markas militer untuk penjajah asing maupun tentara Republik Indonesia, hingga museum sejarah seperti saat ini. Beberapa bagian memang sempat dipugar, tapi kemudian dibangun kembali sesuai dengan bentuk aslinya.

Benteng Vredeburg kini menjadi museum dengan gambaran perjuangan bangsa Indonesia.
Ruang Diorama di dalam Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto: dok. unsplash

Di dalam Museum Benteng Vredeburg, terdapat beberapa diorama dengan total 1.200 patung diorama yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Selain itu, dipajang pula koleksi benda bersejarah, foto-foto, patung, dan lukisan tentang perjuangan.

Teman yang bercerita kunjungannya ke Vredeburg ini menilai, benteng ini sesungguhnya aset wisata yang luar biasa. Tentu semakin menarik jika ditambahi dengan atraksi-atraksi keren yang cocok dengan anak muda.

agendaIndonesia

*****

Ini 5 Jajanan Khas Bogor Layak Dicoba

Kacang Bogor salah satu dari 5 jajanan khas Bogor. Foto: shutterstcok

Ini 5 jajanan khas Bogor yang bisa menjadi pilihan tatkala berkunjung ke kota hujan tersebut. Kalau biasanya Bogor sudah dikenal dengan beberapa jajanan kuliner seperti asinan Bogor, apple pie, makaroni panggang, dan roti unyil, maka alternatif di bawah ini 5 jajanan khas Bogor kuliner yang mungkin belum banyak diketahui dan patut untuk dicoba.

Ini 5 jajanan khas Bogor yang bisa menjadi pilihan oleh-oleh saat dolan ke Bogor.
Tugu Kujang Bogor, salah satu ikon kota ini. Foto: Dok shutterstock

5 Jajanan Khas Bogor

  1. Bir kotjok

Ia boleh saja dinamakan bir, namun sejatinya minuman ini sama sekali tidak beralkohol. Terbuat dari bahan bahan seperti jahe, cengkeh, kayu manis, sereh, gula pasir dan gula aren, bir kotjok merupakan minuman tradisional yang justru menyehatkan bagi tubuh serta memiliki berbagai khasiat. Ia cocok untuk dikonsumsi kala badan sedang capek, pegal linu dan masuk angin. Selain itu, minuman ini juga diklaim dapat membantu melancarkan peredaran darah.

Bir kotjok disebut-sebut sudah beredar di area Bogor sejak 1965. Ia lantas meraih penggemar tersendiri, baik warga maupun pelancong karena terasa hangat di badan ketika dikonsumsi, cocok dengan iklim si kota hujan yang kerap terasa dingin. Nama bir kotjok sendiri berasal dari cara pembuatannya, yaitu mengocok olahan bahan rempahnya. Setelah dikocok, minuman terlihat berbuih di bagian atasnya, mirip seperti bir yang baru dituang ke gelas.

bir kotjok khas bogor Dok cookpadcom
Bir Kotjok Bogor adalah salah satu dari 5 jajanan khas Bogor. Foto: Dok milik cookpad.com

Konon, minuman 5 jajanan khas Bogor ini dulunya juga dikenal sebagai bir penganten. Pasalnya, ia merupakan minuman yang dihidangkan di kala acara pernikahan. Terinspirasi dengan gaya dan adat kaum Belanda yang dulu sering terlihat melakukan pesta atau perayaan sambil minum bir, warga lokal setempat kemudian juga berusaha menciptakan minuman yang mirip dengan bir, namun tidak beralkohol.

Kini, bir kotjok masih bisa ditemukan di beberapa area sekitaran Bogor. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Bir Kotjok si Abah yang berada di beberapa sudut jalan Suryakencana. Meski hanya berjualan dengan gerobak sederhana, Bir Kotjok si Abah masih cukup ramai dikunjungi pelanggan sehari-harinya. Di dalam gerobak tersebut, terdapat jejeran botol yang berisi olahan bahan bir kotjok yang siap untuk dihidangkan. Biasanya, satu botol tersebut bisa untuk menghidangkan tiga gelas bir kotjok. Segelas bir kotjok tersebut kemudian disajikan dengan es batu, seharga Rp 5 ribu saja.

  • Lapis Talas Bogor

Selain dikenal sebagai kota hujan, Bogor juga dikenal sebagai kota talas. Faktanya, talas adalah salah satu komoditas hasil bumi yang paling banyak ditemukan di sini. Oleh karenanya, tumbuhan umbi-umbian berwarna ungu tersebut kemudian kerap digunakan warga setempat sebagai bahan untuk membuat makanan, mulai dari gorengan hangat sampai es kolak.

Seiring perkembangan zaman, talas kemudian juga digunakan dalam mengembangkan berbagai jenis kuliner lainnya dan menjadi salah satu dari 5 jajanan khas Bogor. Salah satu yang dalam beberapa tahun belakangan mulai naik daun adalah kue lapis talas, yang kini dapat ditemui di berbagai toko oleh-oleh dengan beragam merek yang berbeda.

Pada dasarnya, lapis talas merupakan kue bolu atau sponge cake yang salah satu bahan utamanya adalah tepung talas. Oleh sebab itu, lapis talas memiliki beberapa karakteristik unik tersendiri, seperti warna dasar kuenya yang terlihat ungu, serta aroma dan cita rasa yang khas seperti talas.

Awalnya, merek yang mempopulerkan resep lapis talas ini adalah Lapis Bogor Sangkuriang. Sejak awal kemunculannya pada 2011, mereka mencoba menawarkan produk-produk penganan seperti kue lapis dan lain sebagainya dengan menggunakan talas sebagai salah satu bahan dasar pembuatnya. Harapannya, produk-produk mereka dapat menjadi salah satu ikon kuliner dan oleh-oleh khas Bogor.

Selain toko resmi mereka yang terletak di jalan Padjajaran Nomor 20i, kini mereka juga memiliki beberapa cabang lainnya di wilayah Bogor. Varian produknya pun beragam, mulai dari kue lapis talas original, talas susu, talas keju, dan lain lainnya. Harganya pun berkisar dari Rp 19 ribu sampai 37 ribu, tergantung jenis serta ukuran produknya.

Belakangan, muncul pula merek-merek lain yang menawarkan produk serupa seperti Talasia, Arasari, Boluamor dan lain lain. Harganya pun kurang lebih sama, di kisaran Rp 35 ribu, untuk produk kue lapis talas dengan beragam variannya. Secara varian dan rasanya pun bisa dikatakan sama enaknya.

  • Kacang Bogor

Meski dikenal sebagai kacang Bogor karena banyak dibudidayakan dan dijual di Bogor, nyatanya kacang Bogor tidak 100 persen berasal dari kota ini. Bernama asli Bambara Groundnut, kacang-kacangan ini aslinya berasal dari Afrika. Karena ia diketahui tumbuh subur di wilayah tropis, maka kemudian tanaman ini tersebar dan dibudidayakan di area tropis lainnya, termasuk Bogor.

Awalnya, ia masuk ke Indonesia pada awal abad 20 sebagai salah satu solusi sumber protein bagi masyarakat kala itu. Pada perkembangannya, tingkat produksinya yang terhitung rendah membuatnya tidak terlalu populer. Meski demikian, kacang Bogor tetap memiliki pesonanya sendiri dan belakangan menjadi salah satu opsi  dari 5 jajanan khas Bogor.

Kacang Bogor umumnya memiliki karakteristik seperti berbentuk cenderung bundar, berwarna keunguan dan bercita rasa gurih. Masa panennya diketahui antara bulan Februari sampai April, dan biasanya kemudian diolah dengan cara direbus maupun digoreng, dengan beragam pilihan rasa seperti original, keju, balado dan sebagainya.

Selain nikmat sebagai kudapan, kacang Bogor disebut amat berkhasiat bagi tubuh. Mengandung nutrisi seperti protein, kalsium, zat besi dan fosfor, ia diklaim dapat mengurangi potensi diabetes dan kanker, menjaga kesehatan jantung, serta menjaga kinerja tubuh dalam produksi hormon dan energi.

Umumnya kacang Bogor dapat ditemui di berbagai toko oleh-oleh. Beberapa di antaranya juga memiliki toko sendiri, seperti Kacang Bogor Istana yang berpusat di jalan Babakan Raya no. 37. Mereka menawarkan beragam jenis kacang Bogor yang tidak hanya digoreng seperti biasa, tetapi juga dimasak dengan teknik oven.

  • Mochi Bogor

Kue mochi, alias kue yang terbuat dari tepung beras ketan serta berbentuk bulat nan kenyal, mungkin tidak begitu asing lagi bagi khalayak luas. Namun, di Bogor kue mochi diolah menjadi kudapan unik yang memiliki cita rasa khas Bogor. Setidaknya, itulah yang coba ditawarkan oleh Mochibo, toko penjual Mochi ala Bogor ini. In juga salah satu ari 5 jajanan khas Bogor.

Memang, mereka juga menawarkan produk kue mochi pada umumnya, yang berisikan varian rasa seperti coklat, kacang dan keju. Namun, yang membuat produk mereka unik adalah kue mochi dengan varian rasa talas, pala, nanas dan strawberry. Keempat varian itu merupakan hasil panen dari tumbuhan dan buah-buahan lokal yang paling banyak terdapat di Bogor.

Buah-buahan yang digunakan tidak diolah lagi menjadi selai atau cream, bahkan notabene masih utuh. Ketika disantap, sensasi buah yang fresh dengan kenyalnya mochi menjadi cita rasa unik tersendiri. Buah yang digunakan betul-betul dipilih yang terbaik dan masih segar, serta pembuatan kue mochinya masih handmade, lewat proses berjam-jam dan tanpa bahan pengawet.

Sejak 2014, Mochibo yang toko dan pabriknya terletak di jalan Binamarga no. 13, mulai mencuri perhatian warga pecinta kudapan, serta turis yang mencari oleh-oleh. Harga satu kotaknya dihargai antara Rp 20 ribu hingga 25 ribu, dengan isi 10 butir kue mochi. Selain itu, produk-produk Mochibo kini juga tersebar di berbagai sentra oleh-oleh Bogor.

  • Bika Bogor

Mendengar kata bika atau bikang, mungkin yang terbayang adalah kudapan lembut dan manis khas kota Medan, Sumatra Utara. Tapi siapa sangka, ternyata Bogor juga punya bika versi sendiri, dengan keunikan serta cita rasa yang tak kalah menarik. Ini salah satu dari 5 jajanan khas Bogor.

Bika Bogor Talubi, begitu nama lengkapnya, sebenarnya tidak sebegitu berbeda dengan bika yang biasa kita kenal. Bentuknya ada yang memanjang persegi, ada pula yang membulat dengan ukuran lebih kecil. Varian rasanya pun bisa dikatakan serupa, seperti coklat, pandan, nangka, green tea dan sebagainya.

Bika Bogor Tallubi IG Tallubi
Bika Bogor. Foto: Dok IG Bika Bogor

Namun yang membedakan adalah bahan yang digunakan untuk membuatnya. Kalau bika di Medan dibuat menggunakan tepung terigu, maka bika Bogor menggunakan tepung talas serta olahan ubi Cilembu, yang juga cukup lazim ditemui di Bogor. Penggunaan bahan dasar tersebut diklaim membuatnya terasa lebih lembut dan bercita rasa unik.

Harga satu kemasan Bika Bogor Talubi berkisar antara Rp 29 ribu hingga 46 ribu. Salah satu tokonya terletak di jalan Padjajaran no. 20m. Sebagai catatan, Bika Bogor Talubi dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga dapat bertahan di suhu kamar selama 4 hari, dan di dalam kulkas selama sekitar seminggu.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Roti Unyil Venus, 55 Varian Unik Dari Bogor

Keliling Bogor pastikan beli roti unyil venus, oleh-oleh khas Bogor

Roti Unyil Venus mungkin sekitar 10-15 tahun terakhir menjadi salah satu oleh-oleh khas dari kota Bogor, Jawa Barat. Bentuknya yang mungil dengan rasa yang enak membuatnya menjadi klangenan mereka yang singgah ke kota hujan ini.

Roti Unyil Venus

Untuk warga Bogor dan Jakarta, mungkin roti Venus ini sesungguhnya tidak baru, menurut sejarahnya ia sudah ada sejak 1992. Meskipun produk dalam bentuknya yang mungil seperti sekarang ini baru sekitar tahun 1993-1994.

“Roti Unyil” sendiri adalah produksi Venus Bakery yang dikembangkan kakak beradik Hendra Saputra dan Herlianty. Mereka memulai usahanya dengan membuat roti-roti berukuran normal-normal saja, seperti roti tawar dan roti isi beraneka rasa. Awalya mereka berdua berjualan rotinya dengan menggunakan gerobak kecil di perumahan sekitar tempat tinggalnya.

Herliyanti yang pertama punya ide berdagang, Hendra, sang adik yang pertama mengusulkan agar mereka menjual roti. Hal itu karena ia pernah mengikuti kursus membuat roti. Hendra pun akhirnya membuat roti dengan resep sendiri. Roti mereka pada awalnya berukuran standar dan memiliki 10 rasa yang berbeda-beda.

Ide membuat varian roti dalam bentuk mungil tercetus ketika kedua kakak beradik tersebut ingin menyasar pasar anak-anak. Pertimbangannya, anak-anak mungkin tertarik dengan bentuknya yang mungil. Tentu, dengan kualitas dan rasa yang enak, anak-anak akan semakin menggemarinya.

Namun, ternyata keduanya “meleset”. Roti mungil mereka ternyata tak hanya digemari anak-anak. Pasar terbesar kemudian justru para orang tua dan orang dewasa. Mungkin dengan harganya yang lebih murah karena mungil, orang bisa sekaligus mencicipi beberapa varian rasa sekaligus. Jika dibandingkan dengan membeli satu jenis roti ukuran biasa.

Belakangan, roti-roti mungil ini justru yang cepat terserap konsumen. Akhirnya toko roti Venus hanya fokus pada produk roti-roti kecil ini. Pada saat itu memang belum ada roti yang berukuran kecil. Toko ini tetap memproduksi beberapa roti ukuran besar, namun tak lagi menjadi produk utama.

Tak jelas betul bagaimana kemudian produk roti-roti mungil ini kemudian disebut dengan nama “roti unyil”. Pada awalnya, baik Hendra maupun Herlianty tidak pernah mempopulerkan roti buatan mereka dengan nama roti unyil. Entah siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut hingga akhirnya roti-roti mungil ini dikenal oleh hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia dengan nama roti unyil.

Awalnya roti unyil ini hanya memiliki 10 varian rasa, seperti juga awal roti ukuran normalnya. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk berinovasi hingga variasi rasanya bertambah menjadi 25 rasa. Ini terus berkembang, hingga saat ini telah ada 55 varian rasa. Ada rasa manis, maupun rasa asin.

Isi dari roti ini bermacam-macam, mulai dari abon, keju, sosis, bakso, moka, cokelat, susu, jagung, kacang, nanas, pisang, kismis, stroberi, cokelat kacang, dan pisang cokelat. Atau kombinasi dari bermacam varian itu.

Keberadaan roti unyil lantas saja beredar dari mulut ke mulut. Setiap harinya, Venus Bakery tak pernah sepi pembeli, terutama di akhir pekan atau saat hari-hari libur. Para pembeli biasanya membeli roti yang dikemas dalam kotak berisi 10 hingga 60 buah. Konsumen dibebaskan untuk memilih lebih dari 50 varian yang tersedia di dalam etalase. Namun, dari semua varian, yang menjadi favorit para pembeli adalah daging asap keju dan jagung manis.

Outlet pertama toko roti Venus ada di sebuah komplek ruko di Jalan Sukasari, Bogor. Toko roti itu selalu ramai dikunjungi pengunjung. Banyak orang berdatangan terutama dari Jakarta yang membeli roti itu. Mau tidak mau kamu harus mengantri dengan sabar karena jumlah pengunjung yang membludak.

Ketika bisnis terus berkambang dan maju, toko roti ini kemudian sekarang berada di Jalan Padjadjaran, lokasinya cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari pintu masuk tol Jagorawi dan Terminal Baranang Siang. Di tengah banyaknya oleh-oleh dan kuliner yang tumbuh di Bogor, roti unyil kemudian menjadi salah satu pilihan.

Tak jarang, selain menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang hendak kembali ke Jakarta, Bandung, atau kota lainnya, roti Venus ini juga menjadi incaran para pelancong yang hendak berakhir pekan ke Puncak. Roti ini memang cocok dimakan ketika orang sedang bersantai bersama keluarga atau teman-teman. Roti ini juga bisa menjadi teman sarapan atau sekadar untuk pengganjal perut yang lapar.

Sudahkah Anda mencicipi roti unyil ini? Kalau belum, ayo segera agendakan.

AgendaIndonesia

Paramotor, Terbang Dengan Angin 7 Knot

Paramotor kegiatan dirgantara dengan mengandalkan angin, parasut dan motor

Paramotor mungkin belum seakrab paralayang atau gantole, atau pesawat ultra ringan bagi banyak pecinta kegiatan dirgantara di Indonesia. Olahraga ini memang lebih muda dari ketiganya. Bagi pecintanya, kegiatan ini tak kalah mengasyikan. Ini kisah sebelum masa pandemi terjadi.

Paramotor

Pukul 07.00, lapangan terbang perintis di atas pegunungan Mamberamo, Papua, masih dipenuhi kabut. Pada ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut, udara terasa sangat menusuk tulang. Mendengar akan ada atraksi terbang paramotor, warga sudah berkerumun memenuhi lapangan udara sejak pagi. Angin stabil searah jalur landasan dengan kecepatan sekitar 7 knot, setara 13 kilometer per jam, sangat ideal untuk terbang menggunakan paramotor.

Dengan 12 liter bensin di tangki, pagi itu, Didit Majalolo menggelar parasut, memanaskan mesin, dan bersiap-siap mengudara. Dibantu temannya yang mengosongkan area, ia pun beraksi. Saat mesin baling-baling menyala, ia menarik tali parasut melawan arah angin, menaikkan posisi parasut hingga di atas kepala. Dalam hitungan detik, ia berlari beberapa meter untuk menguatkan tarikan parasut, menggeber gas motor, dan hup…meloncat terbang.

paramotor adalah olahraga yang bisa dilakukan di mana-mana, sepanjang ada tempat terbuka untuk take off dan landing.
Seorang pegiat paramotor tengah bersiap untuk take off. Foto: Dok. Unsplash

Mula-mula ia memang hanya terbang beberapa meter di atas tanah. Namun setelah posisi nyaman, ia langsung menggeber gas motor hingga mencapai ketinggian 60 meter di atas tanah. Semua proses take off ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 detik. “Hmm, rasanya plong dan senang begitu sampai atas. Melihat pemandangan bawah yang hijau, bukit-bukit, dan aliran Sungai Mamberamo yang meliuk-liuk,” ujarnya, menceritakan pengalaman terbangnya.

Di atas, ia segera mengeluarkan kamera SLR, memotret keindahan lembah dan bukit Mamberamo dari ketinggian 60-100 meter di atas permukaan tanah. Didit gandrung melancong dengan menggunakan paramotor. Selama dua jam, ia mampu terbang hingga radius 60 kilometer di kawasan pegunungan Mamberamo. Memotret dari ketinggian menjadi sensasi yang ia cari. “Rasanya lain sekali antara memotret dari darat dan dari udara. Jauh lebih indah, dan terasa penuh adrenalin,” ujar petualang udara dan fotografer ini. Beberapa tahun terakhir, ia memang tergila-gila terbang dengan paramotor, setelah sebelumnya menekuni paralayang.

Bertualang di udara dengan paramotor lebih gampang dilakukan daripada menggunakan paralayang atau gantole, yang membutuhkan tempat tinggi untuk meloncat terbang. Aksi paramotor bisa dilakukan di mana saja, asalkan ada tempat terbuka seluas lapangan sepak bola sebagai landasan take-off dan landing. Didit bahkan lebih suka terbang di pantai. “Tempat ideal pantai, yang anginnya stabil dan pantainya luas. Saya setiap akhir pekan terbang di Pantai Parangtritis, Yogyakarta,” ia mengungkapkan.

Ia menambahkan, pantai tersebut sangat indah kalau dilihat dari ketinggian. “Pemandangan ombak besar, tebing-tebing karang, gumuk-gumuk pasir di Parangkusumo, hingga kerumunan wisatawan di sepanjang pantai,” ucap pria yang kemudian sering diminta oleh satuan penjaga keselamatan Pantai Parangtritis untuk memantau para turis dari atas ini.

Didit biasanya terbang pada ketinggian 100-300 meter di atas permukaan tanah, meski paramotor memiliki daya maksimum terbang hingga ketinggian 2.000 meter. Paramotor belum masuk dalam kategori pesawat udara ringan, sehingga tak banyak regulasi dan belum dibutuhkan lisensi sekolah pilot untuk bisa menerbangkannya. Siapa saja boleh menjajal paramotor, asalkan telah mengikuti pendidikan yang diketahui oleh asosiasi penghobi paramotor.

Didit kini membuka usaha jasa pendidikan, wisata, dan penjualan peralatan paramotor melalui Majalolo Paramotors Corp. Dia menawarkan program pendidikan selama tujuh hari dengan biaya Rp 12 Juta buat orang Indonesia, dan Rp 15 juta bagi warga asing, untuk dapat menjadi penerbang paramotor. “Syaratnya, sehat fisik dan tidak mempunyai penyakit jantung, itu saja. Kalau fobia ketinggian, itu bisa dilatih hingga hilang. Peralatan latihan juga harus milik sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyediakan jasa wisata tandem terbang dengan paramotor di sekitar Pantai Parangtritis, Yogyakarta, dengan biaya Rp 400 ribu untuk sekali terbang selama 15 menit. “Tapi seringnya saya malah diundang bupati, wali kota, atau tim SAR untuk terbang tandem melihat wilayah tugas mereka,” katanya sembari tertawa. Terbang dengan paramotor memang cocok untuk mengamati kawasan tertentu karena, pada ketinggian 100-200 meter, obyek di bawah kelihatan lebih dekat.

Paramotor dulu sering dipergunakan untuk memotret dari udara dengan ketinggian tak terlalu ekstrim.
Dua pegiat paramotor sedang mengudara. Foto: Dok. unsplash

Selain itu, laju paramotor lebih gampang diatur daripada pesawat udara. Radius terbang paramotor pun cukup luas, hingga 100 kilometer lebih, tergantung bahan bakar bensin yang ada. “Rekor saya terbang cross country menyusuri pantai selatan Jawa dari Pantai Parangtritis hingga Pantai Cilacap. Kini sedang mempersiapkan diri membuat rekor baru dari Parangtritis hingga Kuta, Bali,” tuturnya.

Harga peralatan yang mahal, sekitar Rp 100 juta untuk satu set lengkap parasut dan mesin, membuat peminat paramotor masih sedikit. Diperkirakan, belum sampai 50 orang di Indonesia yang menggeluti hobi ini. Di luar negeri paramotor sudah berkembang, sehingga Didit sering kebanjiran undangan untuk mewakili Indonesia dalam berbagai kegiatan festival paramotor mancanegara.

“Indonesia, yang luas, sangat ideal untuk terbang paramotor. Banyak yang mengusulkan agar ada kegiatan di Indonesia, tapi karena baru saya sendiri yang main, ya, berat sendirian kompetisi di sini. Makanya, saya senang jika ada yang berminat belajar paramotor,” ujar Didit, yang juga memegang lisensi sebagai juri perlombaan. Ia sudah sering main paramotor di Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Melalui Majalolo Paramotors Corp, Didit bahkan telah berhasil mengembangkan usaha karoseri paramotor, yang tidak hanya bisa merakit perlengkapan paramotor, tetapi juga sudah membuat baling-baling sendiri. “Bikinan tukang las di Yogyakarta, kualitasnya sangat bagus. Untuk mesin dan parasut masih impor,” ucapnya. Ia belakangan juga diminta melatih tim SAR (search and rescue) berbagai daerah untuk terbang dengan paramotor.

Lantas apa proyek Didit Majalolo ke depan? “Saya ingin terbang dengan paramotor ke seluruh wilayah Indonesia, ingin memotret keindahan Indonesia dari udara.” Selama ini, ia terbang dengan paramotor, selain Mamberamo dan Jayawijaya, di Morotai, Maluku Utara; Pulau Panjang, Kepulauan Seribu; Pulau Merah, Banyuwangi; Parangtritis-Cilacap, Jawa Tengah; Timbis, Bali; dan wilayah selatan Lampung. Ia mempunyai empat set paramotor, baik untuk terbang cross country sendiri, pelatihan, maupun terbang tandem. Ayo, kamu mau mencoba? Seru lo!

Wahyuana/TL/agendaIndonesia

*****

Jenang Kudus Mubarok, Dijajakan Mulai 1910

Jenang Kudus Mubarok menjadi salah satu ikon kota Kudus, Jawa Tengah.

Jenang Kudus Mubarok mungkin adalah satu dari empat hal yang popular tentang kota Kudus di Jawa Tengah. Pertama tentu Sunan Kudus sebagai salah satu dari Wali Sanga, sembilan wali yang yang melakukan syiar agama Islam di Jawa. Lalu ada Masjid Kudus beserta menaranya, ke tiga tentu industri rokok kretek.

Jenang Kudus Mubarok

Ke empat kalau bIcara soal Kudus, tentu soal jenangnya, khususnya Jenang Kudus Mubarok. Jenama ini telah berhasil membuat kota kretek itu begitu identik dengan kudapan tradisional yang mirip dodol ini. Lho, jenang atau dodol?

Buat yang belum tahu, ada beda antara ke duanya. Memang, seperti dodol, jenang juga dibuat dari bahan dasar seperti tepung ketan, gula dan santan. Bedanya, dodol biasanya cenderung bertekstur kering. Sedangkan jenang cenderung lebih basah dan licin.

Gerai Jenang Kudus Mubarok mubarokfood
Jenang Kudus Mubarok menjadi salah satu karakter kota Kudus, Jawa Tengah. Foto; Dok Jenang Mubarok

Itu disebabkan oleh beda jenis lemak yang terdapat di kedua makanan tersebut. Pada jenang, terkandung jenis lemak nabati yang membuatnya terasa lembut dan berminyak. Sedangkan dodol mengandung lemak hewani yang membuatnya lebih kering.

Tak banyak yang tahu secara pasti asal muasal terciptanya jenang di Kudus. Kebanyakan cerita yang berkembang biasanya berangkat dari mitos atau cerita rakyat. Seperti misalnya seorang murid Sunan Kudus yang mampu memakan bubur jenang dari gamping. Karena kejadian tersebut, Sunan Kudus bersabda suatu saat warga Kudus akan makmur dari usaha membuat jenang.

Ada pula versi yang menyebutkan bahwa Sunan Kudus dan muridnya tersebut memberi makan bubur jenang gamping kepada seorang anak yang diyakini diganggu roh jahat.

Lepas dari mitos dan cerita rakyat tersebut, jenang diyakini sudah jadi penganan asli Kudus sejak lebih dari 110 tahun yang lalu. Bahkan, setiap perayaan tahun baru Hijriyah pada tanggal 1 Muharam diadakan Kirab Jenang Tebokan sebagai simbol rasa syukur.

Namun, boleh dikatakan jenang Kudus mulai meraih kepopuleran setelah mulai dijajakan untuk umum pada sekitar tahun 1910. Sang perintis adalah Hj. Alawiyah, warga desa Kaliputu yang dipercaya sebagai daerah asal jenang Kudus pertama kali muncul.

Dulu, ia mencoba menjual jenang buatannya di area Pasar Kudus saat itu, yang sekarang beralih fungsi menjadi lahan parkir pengunjung Masjid Menara Kudus dan makam Sunan Kudus. Sehari-harinya ia dibantu suaminya, H. Mabruri dalam mengelola bisnis ini.

Selepas berpulangnya Hj. Alawiyah, bisnis kemudian dilanjutkan oleh sang anak H. Achmad Shochib. Saat itu, jenang buatan mereka dikenal dengan jenama Sinar Tiga Tiga. Dinamakan demikian karena alamat rumah produksi berada di jalan Sunan Muria nomor 33 pada saat itu.

Perlahan, jenang Kudus pun sudah mulai terkenal dan banyak jenama baru yang bermunculan. Kebanyakan pun meniru format jenang Sinar Tiga Tiga yang dibungkus plastik dan dikemas dalam kertas. Berat kemasan tersebut sekitar 0,25 kg, sehingga kerap dipanggil sebagai jenang prapatan. Prapatan dari kata seprapat yang artinya seperempat.

Untuk mengatasi persaingan yang makin ketat, pada 1975 Sinar Tiga Tiga meluncurkan tiga merk baru: Mabrur, Viva dan Mubarok. Ternyata, merek Mubarok yang melejit menjadi paling populer kala itu.

Mereka juga berinovasi dengan cara diversifikasi produk. Jenang rasa coklat dan melon pun diperkenalkan pada tahun yang sama. Lalu beberapa tahun setelahnya diluncurkan pula rasa mocca.

Pada 1992 bisnis jenang Kudus Mubarok dilanjutkan oleh anak H. Achmad Shochib, yakni H. Muhammad Hilmy yang menjadi generasi ketiga. Nama perusahaan pun berubah menjadi CV Mubarokfood Cipta Delicia, dengan Mubarok sebagai jenama utamanya.

Kendati sudah beralih dari bisnis UMKM menjadi perusahaan berskala besar, nyatanya Jenang Kudus Mubarok tetap mempertahankan cara pembuatan jenang secara tradisional. Adonan tepung ketan, santan dan gula yang digunakan untuk membuat jenang masih dimasak dengan kayu bakar.

Alasan tetap dipertahankannya cara tradisional ini agar adonan dapat dimasak secara lebih merata. Setelah dimasak selama lima jam, adonan kemudian didinginkan selama sehari agar tidak mengembun ketika dikemas dan lebih tahan lama.

Jenang Kudus Mubarok dijual dalam beberapa jenis kemasan, dari yang kecil, besar sampai yang di dalam toples. Jenang kemasan kecil dihargai Rp 22,5 ribu, sedangkan kemasan besar dan toples harganya Rp 45 ribu.

Jenang Kudus Mubarok Expo Dodol Jenang Mubarok com
Jenang Kudus Mubarok terus melakukan publikasi dan pemasaran meskipun sudah menguasai pasar. Foto: Jenang Mubarok

Uniknya, meski Mubarok sudah popular, jenama lama seperti Sinar TIga Tiga, Mabrur dan Viva juga masih tersedia. Bahkan pelancong masih bisa membeli jenang Sinar Tiga Tiga dengan kemasan dari kertas dan ukuran menyerupai aslinya, seharga Rp 10,5 ribu.

Tersedia pula jenama baru lainnya seperti Jawa Rasa, Baginda dan Semesta yang dikemas dalam plastik. Selain itu, terdapat berbagai pilihan rasa seperti coklat, susu, cocopandan, anggur, strawberry, durian, mocca, cappuccino, melon, nanas dan juga campuran dalam satu kemasan.

Selain produk jenang, mereka kini juga berinovasi dengan menawarkan ragam produk penganan lain seperti dodol dengan merek seperti Citra Persada dan Claszeto, serta kurma berlapis coklat Al Madina.

Dengan banyaknya pilihan produk yang tersedia, tak heran jika mereka menjadi penguasa pasar jenang dan menjadi ikon kota Kudus. Mereka menguasai produk jenang Kudus hingga 50 persen lebih. Produk-produk mereka pun sudah diekspor ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Jepang dan Hong Kong.

Museum Jenang Mubarok mubarokfood
Jenang Kudus Mubarok juga mendirikan Museum Jenang. Foto: Mubarokfood

Tak hanya itu, mereka kini juga mendirikan Museum Jenang Kudus sebagai salah satu spot wisata baru. Di sini pelancong dapat belajar tentang sejarah kota Kudus, serta sejarah produksi jenang dan rokok kretek yang menjadi simbol kota tersebut.

Museum ini terletak di rumah produksi dan gerai utama Jenang Mubarok. Tokonya sendiri buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 21.00. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi (0291) 432633, (0291) 432606 atau via email di info@mubarokfood.co.id, serta bisa mengakses situs resmi mubarokfood.co.id.

Jenang Mubarok & Museum Jenang Kudus

Jl. Sunan Muria no. 33, Kudus

agendaIndonesia/Audha Alief P

*****

Jalan-jalan Asyik 2 Hari di Sekitar Jakarta

jalan

Jalan-jalan asyik 2 Hari di sekitar Jakarta mungkin jarang dipikirkan orang. Jakarta? Apa asyiknya menikmati Jakarta selain mal dan beberapa tempat yang sudah dikenal sejak masa kanak-kanak: Taman Mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol, atau mal-mal yang bertebaran di seputar ibu kota Indonesia ini.

Jalan-jalan Asyik

Setiap tahunnya lebih dari 2 juta orang berkunjung ke Jakarta. Sebagian besar memang karena pekerjaan, tapi sering pula perjalanan bisnis atau tugas itu menyimpan waktu senggang yang sesungguhnya bisa dipakai untuk dinikmati kota metropolitan ini.

Bisa jadi, Jakarta dinilai tidak menarik dijelajahi. Padahal, dengan memperpanjang waktu tinggal semalam atau dua malam saja, ada agenda jalan-jalan yang bisa dicoba tanpa perlu menguras tenaga maupun kantong. Berikut pilihan jika punya waktu satu atau dua hari di Jakarta.

Hari Pertama: Pecinan dan Kota Tua

Jalan-jalan asyik di Jakarta salah satunya bisa dilakukan di kawasan kota tuanya.
Vihara Dharma Bakti di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta. Foto: Dok. shutterstock

Perjalanan bisa dimulai dari kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta Barat. Dari pusat Kota Jakarta, diperlukan butuh waktu kira-kira 30 menit untuk mencapainya. Jika berangkat pagi hari, di sini Anda bisa menyantap sarapan untuk menambah energi sebelum berwisata seharian. Salah satu pilihannya adalah Kedai Es Kopi Tak Kie di Gang Gloria.

Kopinya diracik berdasarkan resep turun-temurun sejak 1927. Menu andalan Kedai ini adalah kopi hitam pekat dengan cita rasa yang kuat atau kopi susu dan es kopi yang lebih ringan. Di sepanjang Gang Gloria juga bisa ditemukan aneka penganan khas Cina, seperti bakmi ayam, nasi ayam Hainan, cakwe, dan permen tempo dulu. Sebagian besar makanan di sini mengandung babi. Jadi, bagi kaum muslim, sebaiknya bertanya dulu sebelum mencicipi.

Persis di seberang Gang Gloria, ada gang lain yang merupakan bagian dari Pasar Petak Sembilan. Tersebar toko obat, rempah-rempah, dan bahan makanan serta rumah-rumah tua bergaya oriental milik warga Tionghoa di sana. Masih di kawasan yang sama, terdapat sebuah kompleks ibadat umat Buddha, yang terdiri atas tiga vihara, yakni Dharma Bhakti, Dharma Sakti, dan Hui Tek Bio.

Vihara Dharma Bhakti adalah yang terbesar di antara ketiganya. Vihara ini paling banyak dikunjungi umat yang ingin memohon berkat bagi usaha dan keluarganya. Untuk umat Nasrani, ada gereja unik yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari kompleks vihara, yakni Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Bangunan gereja ini bergaya arsitektur Cina. Di sekitarnya, tepatnya di Jalan Kemenangan, Anda bisa menemukan penjaja nasi ulam khas Betawi. Nasi ulam tersebut dijual di gerobak. Sayangnya, kedai yang dikenal luas, yakni Nasi Ulam Misjaya, baru buka sekitar pukul 16.00.

Perjalanan dapat dilanjutkan ke Kota Tua, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Glodok. Kota Tua adalah kompleks peninggalan Belanda yang sarat akan bangunan bersejarah dan museum. Bagi penggemar sejarah atau penghobi fotografi, tempat satu ini tidak boleh dilewatkan. Untuk pengalaman yang lebih berkesan, cobalah menyusuri Kota Tua sambil mengendarai sepeda ontel sewaan. Banyak sepeda dicat beraneka warna dan dijejerkan di sekitar Taman Fatahillah yang disewakan. Selain sepeda, penyewa mendapat sepasang topi ala sinyo dan noni Belanda.

jalan-jalan asyik di kota Tua Jakarta bisa menikmati sejumlah museum, di antaranya museum Wayang.
Museum Wayang di Kota Tua Jakarta memiliki koleksi wayang dari sejumlah daerah di Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Taman Fatahillah dikelilingi tiga museum: Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Masing-masing beroperasi dari Selasa hingga Minggu, pukul 09.00-15.00. Museum Sejarah Jakarta menjadi yang paling tersohor. Bukan hanya menampilkan sejarah Ibu Kota dari masa prasejarah hingga kini, melainkan juga menyimpan koleksi perabotan zaman Belanda, ketika gedungnya masih digunakan sebagai kantor Gubernur Jenderal VOC. Di halaman tengah, ada meriam Si Jagur, yang menurut mitos bisa memberikan kesuburan bagi keluarga yang belum memiliki anak.

Setelah puas menyusuri sejarah, Anda bisa mendinginkan tubuh sekaligus makan siang di Cafe Batavia, yang menempati gedung tertua kedua di Kota Tua setelah Museum Sejarah. Lokasinya berseberangan dengan Museum Sejarah Jakarta. Restoran ini menawarkan suasana masa pendudukan Belanda melalui koleksi foto-foto dan lukisan yang menghiasi dinding-dindingnya. Tersedia masakan Cina dan Barat, selain sajian khas Betawi, seperti gado-gado, nasi uduk, dan soto Betawi.

Setelah puas menikmati museum, Anda boleh mampir ke beberapa tempat lainnya, seperti Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, dan Toko Merah. Sebelum malam menjelang, jangan lupa singgah di Pelabuhan Sunda Kelapa, tempat berlabuhnya kapal nelayan dan kapal angkutan barang dari pulau-pulau sekitar Jakarta. Nikmatilah sore di tengah tiupan angin sambil berburu hidangan laut.

Hari Kedua: Monumen Nasional dan Setu Babakan

Jalan-jalan asyik di Jakarta tak lengkap jika tak mengunjungi Setu Babakan untuk belajar tentang budaya Betawi.
Setu Babakan atau yang dikenal sebagai Kampong Betawi merupakan tempat yang asyik dikunjungi. Foto: Dok. shutterstock

Ikon Ibu Kota, Monumen Nasional atau Monas, layak menjadi tujuan pertama hari ini. Anda bisa naik ke pelataran atas Monas untuk melihat pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian 132 meter atau masuk ke Museum Sejarah Nasional di pelataran bawahnya. Museum Sejarah Nasional berisi diorama peristiwa bersejarah di Indonesia sejak zaman kerajaan, perjuangan kemerdekaan, hingga Orde Baru. Dari Monas, jangan lewatkan kesempatan untuk mengabadikan masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Tepat di seberangnya, ada Gereja Katedral Jakarta, yang berarsitektur neo-gothic.

Jika masih punya cukup banyak waktu, dari Jakarta Pusat, Anda bisa menuju Kampung Budaya Betawi, Setu Babakan. Lokasinya di Jalan Muhammad Kahfi II, Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setu Babakan sesungguhnya adalah nama danau seluas 30 hektare yang menjadi pusat aktivitas warga setempat. Sepanjang jalan menuju danau, dapat ditemukan rumah-rumah adat Betawi dengan ciri khas ornamen ukir di kusen atap dan pintu.

Pada akhir pekan atau hari-hari besar, biasanya diselenggarakan berbagai acara di sini, seperti pertunjukan lenong, tari Betawi, atau gambang kromong. Setiap Rabu dan Minggu, sanggar seni dan bela diri lokal juga menggelar latihan di tempat ini.

 Jika tidak sempat melihat pertunjukannya, Anda bisa menikmati kerindangan pepohonan, mengitari danau sambil memancing, atau mencicipi kuliner khas Betawi. Tersedia beraneka penganan, semisal kerak telor, tauge goreng, kue cucur, es selendang mayang, dan bir pletok. Kawasan Setu Babakan dibuka hingga pukul 18.00. Jadi, Anda bisa melewati hari dengan bersantai di sini sampai mentari terbenam.

Yolanda F./Aditya N./TL/agendaIndonesia

*****

Bakpia Yogya, Oleh-oleh Khas Sejak 1940-an

Bakpia Yogya

Bakpia Yogya menjadi pilihan pertama jika orang ingin membawa oleh-oleh dari kota pelajar ini. Tentu saja selain gudeg.

Bakpia Yogya

Makanan tersebut merupakan oleh-oleh tradisional terpopuler dari Yogyakarta. Ada perasaan tidak komplit jika ke Yogyakarta tidak membeli bakpia. Hampir di setiap toko oleh-oleh di kota ini menyediakan makanan ini.

Bakpia sendiri adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu yang, awalnya hanya dengan diisi dengan kacang hijau biasa disebut kumbu dan belakangan muncul dengan sejumlah varian isi, yang dipanggang. Makanan yang dianggap menjadi ciri khas Yogya ini sejatinya berasal dari negeri Cina.

Dari laporan tirto.id yang mengutip penelitian Amelia Puspita Sari dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan judul Bakpia Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya Indonesia dan Tiongkok di Bidang Kuliner (Studi Kasus Bakpia 29), tertulis bakpia terbentuk dari pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Nama bakpia sendiri memang berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang secara harfiah bermakna kue atau roti berisi daging. Bakpia memang datang dari negeri Tiongkok dibawa para imigran Tionghoa pada awal abad 20. Bakpia masuk Indonesia sejak 1930-an. Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia.

Di Indonesia, nama makanan ini awalnya dikenal sebagai pia atau kue pia. Kemudian ia dibawa oleh keluarga-keluarga pedagang Tionghoa yang datang dan kemudian menetap di kota Yogya.

Bakpia awalnya dulu dibuat menggunakan isian daging dan minyak dari babi. Namun, kemudian melihat penduduk Yogya yang lebih banyak yang muslim, bakpia lantas dimodifikasi menjadi kue yang tidak lagi menggunakan minyak babi. Isiannya pun diganti dengan kacang hijau sehingga sepenuhnya menjadi makanan yang halal. Hasil adaptasi cita rasa bakpia ini juga disesuaikan dengan lidah masyarakat Yogyakarta.

Makanan ini pertama kali dibawa pendatang asal Tiongkok, Kwik Sun Kwok, pada 1940-an ke Yogyakarta. Pada saat itu Kwik menyewa sebidang tanah di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, milik seorang warga lokal bernama Niti Gurnito.

bakpia yogya di antaranya bakpia kukus tugu jogja

Pada awalnya, kue ini hanya menjadi camilan tradisional dalam keluarga. Namun dalam perkembangannya kemudian makanan ini mulai diperjualbelikan ke publik. Salah satu keturunan keluarga Tionghoa, Goei Gee Oee, kemudian memproduksi bakpia sebagai industri rumahan. Bakpia yang didirikannya bernama Bakpia Pathuk 55.

Langkah ini kemudian diikuti oleh Liem Yu Yen sekitar tahun 1948 yang diberi nama Bakpia Pathuk 75. Sampai 1970, praktis bakpia baru diproduksi oleh dua keluarga ini di Pathuk, Yogyakarta.

Pada 1980-an, bakpia semakin populer dan mulai muncul produsen-produsen rumahan bakpia di kawasan Pathuk. Para pembuat bakpia umumnya menggunakan menyulap dapur atau sebagian rumah mereka untuk membuat bakpia. Mereka kemudian membuka toko di rumah masing-masing untuk memasarkan bakpia buatannya. Bakpia dikemas menggunakan dus atau kertas karton. Bakpia-bakpia ini kemudian dikenal dengan sebutan Bakpia Pathuk.

Seperti dikutip dari Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja (Suryo Sukendro, 2009), pada masa itu, para produsen bakpia belum mengenal istilah merek dagang. Secara sederhana para produsennya menjual dengan merek dagang berupa nomer rumah pembuatnya, seperti Bakpia Pathuk 25, 75 dan masih banyak lagi.

Pelabelan Bakpia merek dagang nomor rumah tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan. Begitupun, beberapa tahun terakhir mulai ada yang yang menggunakan nama yang bukan nomor rumah.

Berjalannya waktu dan berkembangnya selera masyarakat, bakpia tak hanya berisi kacang hijau dan kumbu ketan hitam. Sejumlah varian isi mulai ditawarkan. Mulai dari coklat, keju, ubi ungu, susu, bahkan hingga tiramisu dan teh hijau. Cara memasakmya pun mulai bervariasi. Jika dulunya hanya dipanggang, belakangan –mungkin terinsprasi model brownis yang dikukus, bakpia muncul pula dengan model kukus.

Pusat-pusat produksi bakpia pun meluas, tidak lagi hanya terpusat di Pathuk. Kini, selain di Pathuk sentra produksi bakpia bisa dijumpai di daerah Glagahsari (selatan Kusumunegara); di daerah Wirobrajan; bahkan di kawasan Minomartani dan jalan Kaliurang di Utara Yogyakarta. Masing-masing dengan kekhasan rasa dan pelanggannya sendiri-sendiri.

Bakpia telah melewati sejumlah zaman dan tetap bertahan sebagai oleh-oleh khas Yogya nomor satu.

Beberapa sentra bakpia khas Yogya.

Bakpia Pathuk 75; Jalan AIP Jl. Karel Sasuit Tubun No.75, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Kurniasari; Jl. Glagahsari No.91, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164

Bakpiaku; Jl. Kaliurang No.81, Kocoran, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Bakpia Pathuk 25; Jalan AIP Karel Sasuit Tubun No.65, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55261

Bakpia Merlino; Jl. R. E. Martadinata B No.24, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55253

Bakpia Citra; Jl. Mataram, Suryatmajan, Kec. Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55213

Bakpia Kukus Tugu; Jl. Kaliurang KM.5,5 No.10A, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284

agendaIndonesia

*****

Ulos, Pernikahan, Kelahiran, Dan Kematian (2)

Ulos sibolang

Ulos dalam adat dan tradisi Batak bukan sekadar lembaran kain yang dipakai dalam upacara-upacara istiadat. Di dalamnya mengandung makna yang luar biasa dalam. Ia memiliki arti sejak perjodohan, kelahiran, hingga kematian.

Ulos, Jenis Dan Kegunaannya

Di dalam adat Batak, remaja yang baru belajar menenun memang hanya diperboleh membuatkan ulos parompa yang digunakan untuk menggendong anak. Tingkat kemahiran ditentukan oleh jumlah lidi yang digunakan. Pada tingkat mahir, penenun biasanya menggunakan tujuh buah lidi sekaligus. Itu yang disebut marsipitu lili. Pada level ini, mereka telah bisa membuat semua jenis kain ini. Dalam membuatnya, semakin banyak lidi yang digunakan, maka corak pun semakin beraneka.

Ulos Jugia. Disebut juga ulos naso ra pipot atau pinunsaan. Hanya untuk orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anak laki-laki dan perempuan. Nilainya tertinggi dan disimpan dalam parmonang-monangan (lemari).

Ragi Hidup. Rangkaian dua kata ini bermakna lambang kehidupan. Coraknya memberi kesan kainnya hidup. Muncul dalam warna hitam-putih. Memiliki nilai tinggi. bisa digunakan untuk kesempatan suka maupun duka. Pada saat pernikahan, kain ini diberikan orang tua pengantin wanita kepada ibu pengantin pria. Bila ada sesepuh meninggal, ulos ragi hidup dikenakan oleh si sulung. Jenis ini paling banyak ditemukan dalam upacara adat Batak.

Ragi Hotang. Diberikan kepada pengantin agar terjadi ikatan batin seperti rotan (hotang). Disebut juga sebagai ulos marjabu. Disampirkan ke bahu keduanya, ujung kanan dipegang pengantin pria dan kiri wanita, lalu diikat di tengahnya. Sedangkan saat kematian, digunakan untuk menutup jenasah atau membungkus tulang manakala penguburan untuk kedua.

Ulos Sadum. Memiliki warna ceria, dengan dominasi warna merah, sehingga banyak digunakan untuk upacara suka cinta. Meski bisa juga untuk suasana lara.

Ulos Runjat. Digunakan orang kaya dan digunakan sebagai ulos edang-edang yang digunakan untuk ke pesta pernikahan.  Diberikan juga kepada pengantin oleh keluarga terdekat.

Ulos Sibolang. Lebih banyak digunakan orang untuk acara duka cinta, namun sebenarnya bisa juga digunakan untuk suasana suka cita. Lazimnya pada saat berduka digunakan yang dominan hitam sedangkan saat suka lebih banyak warna putih. Yang putih ini pun digunakan dalam upacara pernikahan. Orang tua pengantin perempuan mangulosi ayah pengantin pria, untuk mabolang-bolangi (menghormatinya).

Suri-suri panjang. Coraknya berbentuk sisir memanjang dan dulu digunakan untuk hande-hande atau ampe-ampe. Lebih panjang dari yang biasanya,  hingga dua kalinya.

Mangiring.  Motifnya beriringan dan merupakan simbol dari kesuburan dan kesepakatan. Diberikan orang tua sebagai parompa kepada cucunya. Digunakan juga untuk pakaian sehari-hari dalam bentuk tali-tali oleh kaum Adam dan sebagai tudung oleh kaum Hawa.

Bintang Maratur. Memunculkan bintang-bintang yang beraturan sebagai lambang dari orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Bahkan juga dalam soal kekayaan dan kemuliaan, ditunjukkan berada dalam tingkatan yang sama. Corak ini juga menunjukkan harapan agar setelah anak pertama lahir anak-anak lainnya.

Sitoluntuho-bolean. Biasanya digunakan sebagai ikat kepala bagi pria atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna, kecuali diberikan kepada anak baru lahir sebagai parompa.

Jungkit. Ini jenis nanidondang atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari kain tersebut.

Lobu-lobu. Yang satu ini digunakan untuk keperluan khusus, terutama orang yang sering dirundung malam, misal kematian anak, karena itu dipesan langsung oleh yang memerlukannya.


Dua Ulos

(berdasar ukuran)

  1. Na Balga. Inilah jenis untuk kelompok masyarakat papan atas. Biasanya digunakan pada upacara adat saat mangulosi maupun digunakan sebagai pakaian resmi.
  2. Na Met-met. Jenis yang hanya digunakan sehari-hari. Ukurannya panjang dengan lebarnya jauh lebih kecil dari biasanya. Tidak digunakan dalam upacara adat.

Arti harfiah. Berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindungi dari  udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber panas bagi manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiganya, yang paling nyaman dan akrab dengan kehidupan tak lain kain tradisional ini.

Penggunaan. Kain ini digunakan bisa digunakan dari bagian tubuh atas hingga bawah. Dihadanghon bila disampirkan di bahu atau menjadi selendang. Untuk wanita disebut hoba-hoba  (bahu) atau ampe-ampe (selendang). Diabithon sebagai sarung atau saong. Dililithon ketika  dililitkan di kepala atau pinggang.  Pada pria disebut detar bila digunakan sebagai penutup kepala dan haen bila digunakan di bawah.

Uis atau Hiou. Suku Batak menyebut kain yang digunakan upacara adat dan sehari-hari adalah ulos. Suku Karo menamainya uis. Untuk jenisnya ada nama sendiri, seperti uis beka buluh, uis jungkit dilaki, uis nipeh padang rusak, uis nipes benang iring. Sedangkan suku Simalungun mengenalnya sebagai hiou. Muncul dengan motif yang berlainan juga, termasuk kekhasan pada penggunaannya sebagai penutup kepala.

Rita N./Toni H./Dok. TL